0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan32 halaman

BAB I Proposal Irma

Dokumen tersebut membahas latar belakang permasalahan rendahnya hasil belajar IPS siswa SD akibat kurangnya aktivitas siswa dan penggunaan metode ceramah oleh guru. Peneliti berniat meningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran talking stick yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah model talking stick dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan32 halaman

BAB I Proposal Irma

Dokumen tersebut membahas latar belakang permasalahan rendahnya hasil belajar IPS siswa SD akibat kurangnya aktivitas siswa dan penggunaan metode ceramah oleh guru. Peneliti berniat meningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran talking stick yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah model talking stick dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru secara terprogram dalam

disain intruksional yang menciptakan proses interaksi antara sesama peserta didik, guru

dengan peserta didik dan dengan sumber belajar. Pembelajaran bertujaun untuk menciptakan

perubahan secara terus-menerus dalam perilaku dan pemikiran siswa pada suatu lingkungan

belajar.

Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan

bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman berahlak mulia, berilmu kreaif, mandiri dan menjadi warga negara yang demogratis

dan bertanggung jawab. Untuk mengembangkan fungsi tersebut, pemerintah

menyelenggarakan suatu sytem pendidikan nasional sebagai mana tercantum di dalam

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional.

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berinteraksi antara peserta didik

dengan parah pendidik serta berbagai sumbeer pendidikan. Interaksi antara peserta didik dan

sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi pergaulan (pendidikan),

mengajar, latihan serta bimbingan. Proses pendidikan yang terarah pada penguasaan

1
pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rrangka

pembentukan dan pengembangan diri peserta didik.

Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang megkaji berbagai disiplin

ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yan dikemas secara ilmiah dalam

rangka memberi wawasan dan pemahamn lebih mendalam kepada peserta didik .

Pada hakikatnya, IPS adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang

berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan

memberikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga Negara yang baik dan bertanggung

jawab terhadap bangsa dan negaranya. . Etin Solihatin (2007:15) menyatakan tujuan dari

pendidikan IPS adalah untuk memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk

mengembangkan diri sesuai dengan minat, bakat, kemampuan dan lingkungannya, serta

berbagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjeng yang lebih tinggi.

Hasan dalam Sapriya, dkk., (2006:5) tujuan pendidikan IPS dapat dikelompokkan

ke dalam tiga kategori, yaitu pengembangan intelektual siswa, pengembangan dan rasa

tanggunga jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri siswa

sebagai probadi. Pendidikan IPS di sekolah dasar merupakan bidang studi yang mempelajari

semua aspek kehidupan dan interaksinya dalam masyarakat

Oleh kerana itu peran guru sangat menunjang keberhasilan siswa dalam proses

pembelajaran IPS, dalam meningkatkan belajar siswa. Strategi belajar mengajar, penggunaan

metode pengajaran maupun sikap dan perilaku guru dalam mengelolah proses belajar

mengajar sangat diharapkan dalam proses pembelajaran IPS. Hal ini dilakukan untuk

mempermudah siswa memahami pelajaran yang diberikan oleh guru.

Namun guru kadang-kadang kurang menyadari bahwa siswa SD pola pemikirannya

masih bersifat kogrit atau nyata. Guru kelas lebih sering menggunakan metode ceramah,

tugas kelompok dan tidak pernah menggunakan media dalam pembelajaran, sehingga siswa

2
tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa tidak pernah menjawab pertanyaan dari guru

karena merasa takut dan malu, siswa juga tidak pernah mengungkapkan pendapatnya setiap

diminta oleh guru. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi hal yang akan mereka capai

dalam belajar.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi pada

saat magang 1, dan juga pada saat mengikuti KKN karena peneliti langsung mengamati

kegiatan pembelajaran IPS guru kelas V SDN 144 Inpres Salubarani, Kab. Tana Toraja. Dari

hasil observasi tersebut peneliti melihat masi banyak kendala yang dihadapi guru maupun

siswa. Salah satunya, guru hanya menggunakan buku sebagai sumber belajar dan

menggunakan metode ceramah, guru tidak menggunakan alat peraga sehingga siswa.

Hanya sebagai pendengar saja tanpa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran,

guru kurang terampil dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai

dengan materi pembelajaran yang akan dipaparkan, guru hanya menggunakan metode

ceramah dan menghafal materi yang diajarkan bukan siswa diajak untuk berpikir kritis atau

langsung memanfaatkan lingkungan sekitar untuk dijadikan sebagai media pembelajaran.

Sehingga pada saat pembelajaran berlangsung banyak peserta didik kurang

antusias, serta kurang semangat dalam belajar, perhatian peserta didik pada mata pelajaran

IPS kurang dan hasil belajarnya rendah. Oleh karena itu masi banyak siswa yang belum

mencapai standar KKM (kriteria ketuntasan minimum). Yang ditetapkan oleh sekolah yaitu :

67% dari 20 siswa, sebanyak 12 siswa yang belum mencapai KKM dan 8 siswa yang sudah

mencapai KKM. Nilai siswa yang masi rendah sehingga dibutuhkan suatu media

pembelajaran yang menarik untuk mengatasi masalah ini.

Melihat kenyataan tersebut dibutuhkan suatu usaha untuk meningkatan hasil

belajar siswa. Salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang

3
memungkinkan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran di kelas. Salah satu model yang

dimaksud adalah model pembelajaran talking stick.

Model talking stick merupakan metode pembelajaran kelompok dengan bantuan

tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari

guru setalah mereka mempelajari materi pokok. Kegiatan ini diulang terus-menerus sampai

semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru, siswa akan

termotivasi untuk meningkatkan proses belajarnya karena selalu ada dalam dirinya bahwa dia

akan mendapat giliran memegang tongkat dan harus menjawab pertanyaan yang diberikan

oleh guru.

Pada prinsipnya, model talking stick merupakan model pembelajaran interaktif

karena menekankan pada keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Pembelajaran

dapat dilaksanakan oleh guru dengan berbagai pendekatan. Untuk meningkatkan hasil belajar

siswa, guru menggunakan media tongkat sebagi alat bantu dalam pelaksanaan talking stick.

Setelah guru menjelaskan materi pelajaran, guru meminta siswa untuk melakukan

penghafalan materi dengan terlebih dahulu menetapkan waktu yang akan dibutuhkan sampai

taliking stick akan dilaksanakan.

Setelah itu di lakukan, maka guru dan siswa melakukan talking stick (tongkat

berbicara). Dalam penerapan metode talking stick ini, guru membagi siswa menjadi

kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Kelompok dibentuk

dengan mempertimbangkan keakraban, kecerdasan, persahabatan, yang pintar digabungkan

dengan siswa yang masi kurang pengetahuannya.

Guru terlebih dahulu memberikan tongkat kepada salah satu kelompok secara acak,

selain itu guru dan siswa secara bersamaan menyanyikan lagu sambil menyerahkan tongkat

dari siswa pertama ke siswa lainnya, hingga lagu dinyatakan berhenti, oleh guru dengan

tanda-tanda tertentu yang telah disepakati bersama. Setelah lagu dinyatakan berhenti, maka

4
siswa yang memegang tongkat pada saat itu, diberikan pertanyaan oleh guru dan siswa harus

menjawab pertanyaan tersebut begitu seterusnya sampai semua kelompok mendapat bagian.

Berdasarkan masalah diatas, maka calon peneliti tertarik untuk melakukan suatu

penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul: “Penerapan model pembelajaran talking stick

untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ Kab. Tana

Toraja.

B. Rumusan Masalah dan Pemecahan

1. Rumusan masalah

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan pada latar belakang maka rumusan

masalah pada penelitian ini adalah “Apakah Penerapan Model Talking Stick dapat

meningkatkan hasil Belajar IPS siswa Kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ Kab. Tana Toraja.

Alasan saya mengambil judul ini karena pada saat pembelajaran berlangsung,

siswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran dimana awalnya siswa disuru membaca

bukunya kembali setelah materi selesai, tongkat akan menuntut siswa untuk berani berbicara

dengan mengemukakan pendapatnya. Bertujuan agar siswa terbiasa serta mudah untuk

mengingat pelajaran yang telah diberikan.

2. Pemecahan masalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dilakukan pemecahan masalah

menggunakan model pembelajaran Talking Stick. Model pembelajaran ini dipilih karena

diharapkan agar dapat meningkatkan belajar siswa dalam pembelajaran IPS dapat meningkat.

Karena model ini merupakan model pembelajaran yang menyenangkan karena disertai

permainan, dapat menguji kesiapan siswa dan melatih siswa berbicara mengeluarkan

pendapatnya saat pembelajaran dikelas.

5
C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian adalah untuk

meningkatkan hasil belajar IPS melalui penggunaan model pembelajaran talking stick pada

siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ Kab. Tana Toraja

Tujuan yang diharapkan peneliti dari penelitian ini adalah menjadi masukan para guru

untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran talking

stick. (tongkat berbicara).

D. Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat teoritis

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan konstribusi pada pengembangan

ilmu pengetahuan tentang manfaat model pembelajaran talking stick sebagai acuan dalam

pengembangan proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran IPS di sekolah dasar.

2. Manfaat praktis

a) Bagi siswa

Dengan adanya model pembelajaran yang baru akan menigkatkan motivasi siswa untuk

belajar IPS.

b) Bagi guru

sebagai sarana informasi bagi guru untuk meningkatkan kinerjanya dalam proses

pembelajaran yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.

6
c) Bagi peneliti

Mendapatkan pengalaman yang nyata melalui pemanfaatan lingkungannya sekitar

sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada saat mengajar

di SD.

d) Bagi sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi inovasi pengembangan pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar.

e) Pemerintah manfaat bagi pemerintah adalah sebagai pertimbangan bagi pemerintah

untuk mengambil kebijakan dalam dunia pendidikan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

1. Model Pembelajaran

7
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu polah yang digunakan

sebagai pedoman dalam menrencanakan pembelajaran di kelas atau peembelajaran dalam

tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya

buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain, (Joyce dalam Trianto, 2011:5).

Menurut Arends dalam Suprijono (2013:46), model pembelajaran mengacu pada

pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajran, tahap-tahap

dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Menurut

Joice & Weil (dalam Isjoni, 2013:50) model pembelajaran adalah suatu polah rencana yang

sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur

materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelasnya. Sedangkan Istarani

(2011:1) model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi

segalah aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segalah

fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses

belajar.

2. Model Pembelajaran Talking Stick

Model pembelajaran talking stick (tongkat berbicara) adalah model pembelajaran

kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib

menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya

kegiatan tersebut diulang terus menerus sampai semia kelompok mendapat giliran untuk

menjawab pertanyaan dari guru. Dalam penerapan model pembelajaran talking stick, guru

membentuk kelompok yang anggotanya 5 sampai 6 orang secara heterogen. Kelompok

dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, kecerdasan, atau minat yang berbeda. (Carol

Locust 2006 dalam Christian Hogan, 2007:2).

8
Menurut Rahayu (2013) bahwa dalam proses belajar mengajar di kelas berorientasi

pada terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa ke

siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan

pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa yang memegang tongkat

akan menjawab pertanyaan dari guru. Hal ini dilakukan hingga semua siswa mendapat

giliran menjawab pertanyaan dari guru.

Model pembelajaran talking stick merupakan model pembelajaran yang

menggunakan alat berupa tongkat sebagai alat bantu bagi guru untuk mengajukan pertanyaan

kepada siswa dengan menimbilkan suasana yang menyenangkan. Tongkat tersebut digilirkan

pada siswa dan bagi siswa mendapat tongkat sesuai dengan aba-aba dari guru, maka siswa

diberi pertanyaan oleh guru dan harus dijawab (Sudjana, 2002:10).

Medel ini dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih aktif dalam

memahami dan menemukan konsep, sehingga siswa mampu menghubungkan soal dengan

teori yang ada, misalnya pada bagian contoh soal yang merupakan bagian dari bahan belajar

siswa dapat digunakan untuk menggambarkan teori, konsep dari materi pembelajaran yang

dibahas dalam diskusi antara siswa dengan guru (Setyawati, 2011:4).

Adapun langkah-langkah model pembelajaran talking stick menurut Carol Locust

(2006) dalam Chistian Hogan (2007:209) adalah :

1) Guru menyiapakan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm

2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan

kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.

3) Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana

4) Setelah siswa membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan

siswa untuk menutup isi bacaan.

9
5) Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa, setalah itu guru

memberi pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya.

Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab

setiap pertanyaan dari guru.

6) Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisah

menjawab pertantanyaan.

7) Guru memberikan kesimpulan

8) Guru melakukan evaluasi/ penilaian, baik secara kelompok maupun individu.

9) Guru menutup pembelajaran

Metode ini bermanfaat karena ia mampu menguji kesiapan siswa, melatih

keterampilan mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat, dan

mengajak mereka untuk terus siap dalam situasi apa pun.

Menurut Suprijino dalam Rajapatni (2014) dan Sri Widayati, kelebihan dan kekurangan

dari model pembelajaran talking stick, yaitu :

1. Kelebihan :

a) Siswa terlibat langsung dalam kegiatan belajar

b) Terdapat interaksi antara guru dan siswa

c) Siswa lebih menjadi mandiri

d) Kegiatan belajar lebih menyenangkan

e) Dapat menciptakan susasana yang menyenangkan, sehingga siswa tidak tegang dan bisa

belajar dengan baik, sehingga siswa merasa termotivasi dan senagng untuk dapat

mengikiti pelajaran serta dapat menguasai materi pelajaran

f) Siswa menjadi termotivasi untuk kreatif dalam berbagai macam lagu.

2. Kekurangan :

10
a) Siswa cenderung individu

b) Materi yang diserap kurang

c) Guru kesulitan melakukan pengawasan

d) Ketenangan kelas kurang terjaga

e) Model pembelajaran ini tidak efektif jika siswa tidak bisa bernyanyi

f) Pemberian sanksi yang kurang pas akan menghambat proses pembelajaran.

g) Membutuhkan waktu yang agak lama.

3. Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar

Hakikat belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses, artinya dalam belajar akan

terjadi proses melihat, membuat, mengamati, menyelesaikan masalah atau persoalan,

menyimak, dan latihan. Itu sebabnya dalam proses belajar, guru harus membimbing dan

memfasilitai siswa supaya siswa dapat melakukan proses-proses tersebut (Anitah dkk. 2007).

b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar:

Manusia dalam usahanya selalu menginginkan sesuatu hal yang lebih baik dari

sebelumnya. Demikian pulah dalam proses pembelajaran, tiap manusia menginginkan hasil

belajar yang lebih baik. Konsekuensi dari keinginan tersebut terdiri dari dua hal yaitu berhasil

atau tidak berhasil. Anitah (2007:2.7) hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik

dalam diri seseorang (internal factor) maupun dari diri seseorang (eksternal factor) sehingga

hasil yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi dari kedua faktor tersebut. Adapun

penjelasan dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal factor), yaitu :

a. Faktor jasmani baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh.

11
b. Faktor psikologis, yakni terdiri dari kecerdasan dan bakat, sikap, kebiasaan, minat,

motivasi, emosi dan penyesuaian diri.

c. Faktor kematangan fisik dan psikis,

2. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal factor), yaitu :

a. Faktor sosial yang terdiri atas : lingkungan keluarga, lingungan sekolah dan

lingkungan masyarakat.

b. Faktor adat istiadat yaitu adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan pengetahuan.

Menurut Nawawi dalam K. Brahim pada 2007:39 (dalam Susanto 2015:5)mengatakan

bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari

materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh hasil tes mengenal

sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimakasud dengan hasil belajar

siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang

berhasil dalam belajar adalah anak yang berhasil mencapai tujuan-tujian pembelajaran.

Sedangkan menurut Susanto (2013:2) hasil belajar adalah kemampuan yang

diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu

proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku

yang relatif menetap.

Hasil belajar siswa merupakan hasil dari suatu proses yang didalamnya terlibat

sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tinggi rendah hasil belajar siswa dipengaruhi

oleh faktor-faktor tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak

menurut Waslima (2006:156), yaitu :

a) Faktor internal, merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang

memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi kecerdasan, minat dan

perhatian, motivasi belajar, ketekunan sikap,

b) Faktor eksternal, yang merupkan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik

12
yang memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

4. Hakikat Ilmu Pengetahuan sosial IPS

Menurut Zuraik dalam Djahiri (1984), hakikat IPS adalah harapan untuk mampu

membina suatu masyarakat yang baik dimana para anggotanya benar-benar berkembang

sebagai insan sosial yang rasional dan penuh tanggung jawab. Hakikat IPS disekolah dasar

memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan bagi siswa sebagai

warga negara sedini mungkin. Ilmu pengetahuan sosial tidak hanya memberikan ilmu

penetahuan, tetapi berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, sikap dan

kecakapan-kecakapan dasar siswa yang berpijak pada kenyataan kehidupan sosial

kemasyarakatan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan sosial siswa di

masyarakat.

Hakikat pendidikan IPS itu hendaknya dikembangkan berdasarkan realita kondisi

sosial budaya yang ada dilingkungan siswa, sehingga dengan ini akan dapat membina warga

negara yang baik dan mampu memahami secara kritis kehidupan sosial disekitarnya, serta

mampu secara aktif berpastisipasi dalam lingkungan kehidupan (Susanto, 2012:139).

a) Pengertian IPS

IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelah, menganalisis, gejalah dan

masalah sosial dimasyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu

perpaduan.

Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin

ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam

rangak memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik, khususnya

di tingkat dasar dan menengah. Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang

13
beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, budaya, sejarah, maupun politik

semuanya dipelajari dalam ilmu sosial, (Susanto, 2012:137).

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, IPS adalah salah satu

mata pelajaran yang mengajarkan pada siswa SD agar mereka kelak mengenal fenomena

alam dan fenomena sosial melalui dari lingkungan dekat sampai pada lingkungan yang lebih

jauh (dunia). IPS merupakan bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala

dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau

perpaduan.

Pendidikan IPS disekolah dasar merupakan bidang studi yang mempelajari

manusia dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya dalam masyarakat. Dengan

demikian, peranan IPS sangat penting untuk mendidik siswa mengembangkan pengetahuan,

sikap dan keterampilan agar dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan kelak

sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik (Susanto, 2012:145).

Buchori Alma (2003:148) mengemukakan pengertian IPS sebagai suatu program

pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia

dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkunagan sosialnya dan bahannya diambil

dari berbagai ilmu sosial. Dengan memperlajari IPS ini sudah semestinya siswa mendapat

bekal pengetahuan yang berharga dalam memhami dirinya sendiri dan orang lain dalam

lingkungan masyarakat yang berbedah tempat maupun waktu, baik individu maupun

kelompok, untuk menemukan kepentingan yang akhirnya dapat terbentuk suatu masyarakat

yang baik dan harmonis.

b.Tujuan Pembelajaran IPS

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, mata pelajaran IPS

bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

14
1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.

2) Memilih kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, ingkuiri,

memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial

3) Memilih komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetensi dalam

masyarakat yang majemuk, di tinkgat lokal, nasional, dan global.

Setiap bidang studi yang tercantum dalam kurikulum sekolah, telah dijiwai oleh

tujuan yang harus dicapai oleh pelaksanaan proses belajar mengajar. Tujuan korikuler yang

dimaksud adalah tujuan pendidikan IPS. Secara keseluruhan tujuan pendidikan IPS di SD

adalah sebagai berikut :

1) Membekali anak didik dengen pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelah

dimasyarakat.

2) Membekali anak didik dengan kemampuan mengidentifikasi menganalisis dan menyusun

alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat

3) Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga

masyarakat dan berbagai bidang keilmuan serta bidang keahlian.

4) Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan

terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.

5) Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dalam

keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehiduapan masyarakat, ilmu pengetahuan dan

teknologi.

c. Manfaat Pembelajaran IPS

Manfaat mempelajari IPS yaitu :

15
1) Dapat mengetahui cara dalam berinteraksi dengan sesama manusia lainnya, baik

interaksi dalam kelompok. Kecil ataupun kelompok besar.

2) Memudahkan manusia untuk hidup dalam suatu kelompok dengan mengetahui tradisi

yang ada pada kelompok tersebut.

3) Membantu untuk memperkuat nilai-nilai agama dalam aspek sosial beragama.

4) Membantu dalam mengenali, mempelajari, dan menyusun suatu alternatif untuk

memecahkan permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.

5) Dapat membantu manusia dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas dan

membagikan ilmu yang didapatkan.

5. Materi Aja

a). Peristiwa penting menjelang proklasi

Bebrapa peristiwa-peristiwa di sekitar proklamasi kemerdekaan, yaitu :

1). Peristiwa Ranges Dengklok

Pada tanggal 16 agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta diamankan oleh para pemudah

di wilayah Redas Dengklok, di Karawang, jawa Barat. Hal itu dilakukan untuk menjauhkan

Bung Karni dan Bung Hatta dari pengaruh jepang.

2). Penyususnan teks proklamasi kemerdekaan indonesia

Penyususnan naskak proklamasi dilakukan oleh Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan

Ahmad Subarjo membantu menuangkan ide-idenya secara lisan. Setelah naskah proklamasi

disususn, selanjutnya Sukarni mengusulkan agar teks proklamasi ditandatangani oleh Ir.

Soekarno dan Drs. Muhammad hatta atas nama bangsa indonesia.

b). Detik-detik Proklamasi kemerdekaan Indosenia

16
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merpakan puncak perjuangan bangsa Indonesia. Tepat

pada pukul 10.00 WIB, acara dimulai. Bung Karno berpidato dan membacakan teks

proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelak teks proklamasi dibacakan, acara dilanjutkan

dengan pengibaran bendera merah putih dan diiringi lagu Indonesia Raya

a. Tokoh Penting Peristiwa Proklamasi

1. Ir. Soekarno

2. Ibu Fatmawati Soekarno

3. Drs. Muhammad Hatta

4. Ahmad Subardjo

B. Kerangka Pikir

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima

pengalaman pembelajaran. Sejumlah pengalaman yang diterima siswa, mencakup rana

kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Hasil belajar

mempunyai peranan yang sangkat penting dalam proses pembelajaran karena akan memberi

sebuah informasi kepada guru tentang kemajuan siswa melalui proses belajara mengajar.

17
Materi pelajaran IPS siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ masih sulit

dipahami siswa karena dalam pembelajaran IPS guru hanya menyampaikan materi dengan

metode cerama, dan kurang aktif dalam menerapkan metode pembelajaran pada materi

“Peristiwa Penting Menjelang Proklamasi”,sehingga kurang aktif dan siswa merasa bosan

dalam belajar.

Untuk memberikan ketertarikan siswa dalam mengikuti pelajaran, maka salah satu

cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran talking stick.

Melalui model pembelajaran talking stick, siswa dituntut untuk memahami dan menguasai

materi pelajaran karena akan digunakan sebagai jawaban atas diajukan pertanyaan oleh guru.

Dalam penerapan model pembelajaran talking stick diharapkan dapat meningkatkan hasil

belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir penelitian dapat

dilihat pada gambar 2.1

Kondisi Hasil belajar IPS rendah

awal
Faktor guru :

1. Pembelajaran berpusat pada guru


2. Lebih banyak menggunakan metode ceramah
3. Tidak menggunakan model pembelajaran yang bisah
menarik perhatian siswa untuk belakar
Faktor siswa :
1. Keaktifan siswa rendah
2. Kurangmya Kerajinan siswa dalam belajar
3. Kuragnya motivasi siswa dalam belajar

Tindakan Model pembelajaran talking


stick
18
Langkah-langkah model pembelajaran talking stick :

1. Menyiapkan sebuah tongkat


2. Menyampaiakn materi pokok yang akan dipelajari
3. Siswa berdiskusi
4. Guru mengambil tongkat dan diberikan kepada siswa
5. Siswa yang memegang tongkat diberikan pertanyaan
oleh guru dan menjawabnya
6. Guru memberi kesimpulan
7. Melakukan evaluasi
8. Menutup pelajaran

Kondisi akhir Hasil belajar siswa meningkat

Gambar 2.1 Kerangka Pikir.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka hipotesis tindakan

penelitian ini adalah : “jika dalam penerapan model pembelajaran talking stick dilaksanakan

secara optimal dan sesuai dengan langkah-langkahnya, maka dapat meningkatkan hasil

belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas V 144 Inpres Salubarani Kabupaten Tana

Toraja”.

19
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

1. Pendekatan penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.

Kualitatif adalah data yang berupah informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran

tentang ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran.

Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam proses

pembelajaran. Adapun alasan penelitian menggunakan pendekatan ini dengan tujuan utnuk

mengungkap secara menyeleruh dan sesuai dengan konteks melalui pengumpulan data yang

diperoleh secara langsung dari sumber yang bersangkutan yang dilakukan oleh peneliti

sendiri.

20
2. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan ialah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian

tindakan kelas menyangkut perbaikian yang dilakukan secara bertahap terus-menerus, selama

kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri

dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran dalam kelas, sehingga hasil

belajar siswa dapat ditingkatkan.

PTK akan mengkaji dan merefleksi secara kritis suatu implementasi pembelajaran

IPS disekolah dasar dengan menggunakan model pemebelajaran talking stick . Dua kata

kunci pada setiap kegiatan action research, yaitu pemecahan masalah dan peningkatan hasil

belajar siswa.

B. Fokus Penelitian

Fokus dari pelaksanaan penelitian ini adalah :

1). Fokus proses

Fokus dalam penelitian ini adalah tingkat keterlaksanaan pembelajaran yang

menggunakan model pembelajaran Talking Stick tentang materi peristiwa Ranges Dengklokp

pada siswa kelas V 126 Inpres Garampa’.

2). Fokus hasil

Fokus hasil merupakan tingkat keberhasilan siswa memahami pembelajaran IPS

materi proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran talking

stick. Adapun aspek fokus hasil, yaitu, aspek kognitif mengenai ketetapan dalam menjawab

soal atau pertanyaan setelah siswa mengikuti pelajaran dengan menggunakan model talking

stick.

21
C. Setting Dan Subjek Penelitian

1. Setting penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 126 Inpres Garampa’ Kecamatan Sangalla,

Kabupaten Tana Toraja. Tempat tersebut dipilih karena sebelumnya disekolah tersebut belum

pernah menggunakan model pembelajaran talking stick, sudah dapat persetujuan dari sekolah

dan mendapat dukungan dari guru kelas maupun guru-guru untuk menerapkan model

pembelajaran talking stick.

2. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ yang

berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan.

D. Prosedur dan Desain Penelitian

Model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah model PTK menurut

Kemmis dan Mc Taggart dalam Hermawan (2010:14). Pada model PTK menurut Kemmis

dan Mc Taggart terdapat dua siklus dimana siklus 1 terdiri 4 (empat) tahapan sebagai berikut

1. Perencanaan (plan)

2. Tindakan (action)

3. Pengamatan (observasi)

4. Refleksi (refleksi)

22
PERENCANAAN

PELAKSANAAN
SIKLUS I

REFLEKSI OBSERVASI

TINDAKAN

PERENCANAAN

SIKLUS II PELAKSANAAN

REFLEKSI OBSERVASI

HASIL

Gambar 2.2 Skema alur PTK yang diadaptasi Kemmis dan Taggart

1. Siklus 1

a) Perencanaan

Pada siklus 1 perlu disiapkan :

23
1) Menyusun satuan pembelajaran yang sesuai dengan penelitian.

2) Menyusun rancangan tindakan dalam bentuk rencana pembelajaran (RPP)

3) Menuyusun rancangan evaluasi yang meliputi tes dan non tes.

b) Tindakan

Tindakan ang dilakukan disesuaikan dengan perencanaan pada proses pembelajaran.

Siswa memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru, dilanjutkan guru memberikan

contoh. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung, tindakan

ini untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajara talking stick.

c) Pengamatan

Pengamatan dilakukan secara hati-hati dan cermat, terhadap apa yang dilakukan

siswa selama proses belajr mengajar. Pengamatan dilakukan dengan cara test, pada

pengataman ini aktivitas siswa dicatat oleh peneliti selama mengikuti kegiatan belajar

mengajar. Peneliti mengadakan pengamatan mengenai keaktifan serta partisipasi siswa,

apakah siswa mengalami kesulitan atau tidak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

d) Refleksi

Dalam tahap ini, bersama guru melihat, mengkaji, dan mempertimbangkan hasil-

hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan dan telah diamati pada tahap sebelumnya. Melalui

tahap ini dapat ditarik kesimpulan mengenai dampak dari tindakan yang dilaksanakan.

Apakah calon peneliti sudah mencapai tujuan atau individu keberhasilan atau tidak. Apabila

belum berhasil maka perlu dilaksanakan siklus II sebagai langkah perbaikan dari siklus I.

2. Siklus II

Tahap-tahap yang dilakukan pada siklus II dalam proses belajar mengajar merupakan

perbaikan dari kegiatan yang dilakukan pada siklus I. Dimana pada tahap rencana siklus II

disusun berdasarkan hasil tahap refleksi siklus 1.

24
E. Teknik Dan Prosedur Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka digunakan

alat pengumpulan data berupa :

a. Angket

Angket dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengukur motivasi belajar. Angket

ini dilakukan dalam penelitian ditinjau kepada siswa untuk memperoleh data mengenai

motivasi belajarnya. Angket diberikan setiap selesai satu siklus kepasa siswa

b. Tes

Tes adalah untuk mengukur hasil belajar IPS diperoleh dengan menggunakan tes pada

setiap akhir siklus. Hasil belajar siswa diperoleh melalui nilai tes formatif pada setiap siklus.

Tes yang digunakan adalah tes tertulis soal uraian. Nilai perolehan tes tes dijadikan ukuran

untuk mengetahui hasil belajar IPS yang dicapai siswa

c. Observasi

Observasi adalah kegiatan pengamatan atau pengambilan data untuk mengetahui

seberapa jauh tindakan yang telah dicapai. Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk

mengamati aktivitas guru dan siswa selam kegiatan pembelajaran berlangsung dengan

menggunakan lembar observasi guru dan siswa. Observasi dilakukan selama proses

pembelajaran berlangsung yaitu dari awal sampai akhir pembelajaran. Pada kegiatan

observasi ini, guru dibantu oleh wali kelas V dan teman sejawat dengan menggunakn lembar

observasi.

25
d. Wawancara

Wawancara, dilakukan untuk memperoleh onformasi serta tanggapan guru dan siswa

setelah belajar IPS secara lisan. Wawancara dilakukan untuk melengkapi data yang diambil

melalui teknik observas. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan siswa dan

guru terhadap penerapan model pembelajaran talking stick dengan menggunakan pedoaman

wawancara.

e. Dokumentasi

Dokumentasi, berupa gambaran-gambaran yang terdiri dari foto-foto kegiatan siswa

selama proses pembelajar. Foto-foto ini digunakan sebagai alat bantu untuk menggambarkan

apa yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung .

1. Prosedur pengumpulan data

Proses pengumpulan data pada penelitian dimulai dari prapenelitian untuk

mengetahui masalah yang dihadapi guru san siswa dalam proses pembelajaran.

Adapun prosedur dalam pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas adalah:

a. Data hasil belajar IPS pada pembelajaran,cara pengambilan datanya itu, dengan

memberikan tes pada siswa pada setiap akhir semester.

b. Data tentang situasi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan di peroleh melalui

observasi diamati selam proses pembelajaran baik siklus maupun pada siklus II.

26
F. Teknik Analisis dan Indikator Keberhasilan

1. Teknik Analisis data

Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data, aspek guru dengan

aspek. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan

oleh Miles dan Humberman dalam hermawan (2010:124) yang terdiri dari tiga Tahap

kegiatan yaitu :

a. Meredeuksi Data

Mereduksi data merupakan proses menyeleks, menentukan fokus penyederhanaan,

meringkas data yang didapatkan dari hasil observasi dilapangan.

b. Menyajikan Data

Data yang dianalisi disajikan dalam bentuk deskriptif atau kata-kata sehingga mudah

dibaca dan dipahami

c. Menarik kesimpulan

Penarikan kesimpulan yaitu salah satu cara yang dilakukan untuk memberikan

penilaian berdasarkan data yang akan dilakukan. Dari kesimpulan, tersebut dapat

diketahui apakah tujuan dari pembelajaran sudah tercapai makna data keteraturan dan

pengelolaan data.

Analisis data adalah merangkum secara akurat data dengan benar. Data yang

dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis statistik kualitatif. Analisis kualitatif

dugunakan untuk menjelaskan hasil-hasil tindakan yang mengarah pada keaktifan siswa

selama proses belajar mengajar. Adapun cara pengumpulan data yang dilakukan dalam

penelitian ini adalah :

a). Teknik tes

27
Nilai/skor dalam penelitian ini dihitung berdasarkan bobot soal, dimana bobot ditentukan

menurut tingkat kesulitan soal. Untuk menentukan nilai/skor yang diperoleh siswa

berdasarkan bobot, digunakan rumus:

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛


𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖/𝑠𝑘𝑜𝑟 = 𝑥 100
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡

Penilaian untuk Ketuntasan Belajar:

𝑇
KB = 𝑥 100 %
𝑇𝑡

Keterangan :

KB = Ketuntasan Belajar

T = Jumlah skor yang diperoleh siswa

Tt = Jumlah skor total

Kriteria Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa dalam % :

Tabel 1.1 Skala presentif Aktifitas Siswa

Taraf Keberhasilan Kualitatif

85%-100% Sangat Baik (SB)

70%-84% Baik (B)

55%-69% Cukup (C)

46%-54% Kurang (K)

0%-45% Sangat Kurang (SK)

Sumber : Abdul Khalik (2009:38)

28
Sedangkan data proses pelaksanaan dapat ditafsirkan teknik analisis data:

a). Menelah data : menelah data ini dimulai saat pelaksanaan proses belajar mengajar.

Dimana berdasarkan hasil observasi dilapangan data yang terkumpul dikelompokkan sesuai

dengan masalah penelitian, bagi hasil yang kurang dari 67% dikumpulkan untuk diajukan

pada siklus berikutnya.

b). Mereduksi data : kegiatan ini dilaksanakan secra komprehensif yang berkaitan dengan

penggunaan model pembelajaran talking stick melalui tahap perencanaan, pelaksanaan,

observasi, dan refleksi, data di telah kemudian diseleksi. Data yang sudah relevan

perencanaan dipisah lalu dibuatkan tindak lanjut.

c). Penyajian data : data yang sudah direduksi dalam suatu peristiwa dihubungkan dengan

masalah penelitian. Penyajian data ini berkaitan dengan erat dengan masalah-masalah yang

timbul di kelas V SDN 144 Inpres Salubarani Kecamatan Gandangbatu Sillanan Kabupaten

Tana Toraja, dimana penggunaan model talking stick diterapkan untuk menyelesaikan

masalah yang timbul.

d). Penarikan kesimpulan : hasil tindakan penggunaan model talking stick dalam

meningkatkan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPS kelas V SDN 144 Inpres

Salubarani Kecamatan Gandangbatu Kabupaten Tana Toraja.

29
2. Indikator keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi indikator proses

dan indikator hasil dalam penerapan model pembelajaran talking stick dalam meningkatkan

hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

a) Penelitian ini dikatakan telah berhasil apabilah tingkat keterlaksanaan pembelajaran

dengan menggunakan model taling stick terlaksana 75% sesuai dengan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP). Keterlaksanaan pembelajaran diperoleh dari hasil observasi aktifitas

siswa dan guru dalam proses pembelajaran.

b) Indikator hasil adalah nilai yang diperoleh melalui penerapan model pembelajaran

talking stick mengalami peningkatan, atau dengan kata lain minimal 75% siswa dari jumlah

siswa yang ada di keas yang menapai nilai ≥67.

30
G. JADWAL PENELITIAN

Bulan
No Kegiatan Maret April Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Observasi awal
kesekolah
2. Konsultasi judul
skripsi dengan
dosen
pembimbing
3. Penyusunan
proposal
4. Seminar
proposal
5. Konsultasi hasil
seminar dengan
dosen
pembimbing
6. Pengangambilan
surat izin
penelitian
7. Penelitian dan
pengambilan
data
8. Penyusunan dan
konsultasi hasil
penelitian
9. Ujian skripsi

31
DAFATAR PUSTAKA

Huda, Mithaful. 2013. Model-model pengajaran dan pembelajaran. Malang


Pustaka Belajar

Sardjiyo, Sugandi, Ischak, 2007. Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Universitas Terbuka,

Anita, Sri W,. Dkk. 2007. Strategi pembelajaran di SD. Jakarta Universitas Terbuka.

Joyce. Dalam Trianto 2011. Mendesain model pembelajaran innovetive praggresif. Jakarta
kencana

Suryaningsih, Diah, 2015. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Dan MI. Solo:KTSP

Agus, Suprijono. 2013. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM


Yogyakarta:Pustaka belajar.

Supriatna, Nana, dkk. 2009. Pendidikan IPS SD. Bandung: UPI PRESS

Arikunto, Suharsimi. dkk. 2011. Penelitian Tindakan Kelas: Bumi Aksara.

32

Anda mungkin juga menyukai