BAB I Proposal Irma
BAB I Proposal Irma
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru secara terprogram dalam
disain intruksional yang menciptakan proses interaksi antara sesama peserta didik, guru
dengan peserta didik dan dengan sumber belajar. Pembelajaran bertujaun untuk menciptakan
perubahan secara terus-menerus dalam perilaku dan pemikiran siswa pada suatu lingkungan
belajar.
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman berahlak mulia, berilmu kreaif, mandiri dan menjadi warga negara yang demogratis
dengan parah pendidik serta berbagai sumbeer pendidikan. Interaksi antara peserta didik dan
mengajar, latihan serta bimbingan. Proses pendidikan yang terarah pada penguasaan
1
pengetahuan, kemampuan, keterampilan, pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rrangka
Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang megkaji berbagai disiplin
ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yan dikemas secara ilmiah dalam
rangka memberi wawasan dan pemahamn lebih mendalam kepada peserta didik .
berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan
memberikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga Negara yang baik dan bertanggung
jawab terhadap bangsa dan negaranya. . Etin Solihatin (2007:15) menyatakan tujuan dari
pendidikan IPS adalah untuk memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk
mengembangkan diri sesuai dengan minat, bakat, kemampuan dan lingkungannya, serta
Hasan dalam Sapriya, dkk., (2006:5) tujuan pendidikan IPS dapat dikelompokkan
ke dalam tiga kategori, yaitu pengembangan intelektual siswa, pengembangan dan rasa
tanggunga jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri siswa
sebagai probadi. Pendidikan IPS di sekolah dasar merupakan bidang studi yang mempelajari
Oleh kerana itu peran guru sangat menunjang keberhasilan siswa dalam proses
pembelajaran IPS, dalam meningkatkan belajar siswa. Strategi belajar mengajar, penggunaan
metode pengajaran maupun sikap dan perilaku guru dalam mengelolah proses belajar
mengajar sangat diharapkan dalam proses pembelajaran IPS. Hal ini dilakukan untuk
masih bersifat kogrit atau nyata. Guru kelas lebih sering menggunakan metode ceramah,
tugas kelompok dan tidak pernah menggunakan media dalam pembelajaran, sehingga siswa
2
tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa tidak pernah menjawab pertanyaan dari guru
karena merasa takut dan malu, siswa juga tidak pernah mengungkapkan pendapatnya setiap
diminta oleh guru. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi hal yang akan mereka capai
dalam belajar.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi pada
saat magang 1, dan juga pada saat mengikuti KKN karena peneliti langsung mengamati
kegiatan pembelajaran IPS guru kelas V SDN 144 Inpres Salubarani, Kab. Tana Toraja. Dari
hasil observasi tersebut peneliti melihat masi banyak kendala yang dihadapi guru maupun
siswa. Salah satunya, guru hanya menggunakan buku sebagai sumber belajar dan
menggunakan metode ceramah, guru tidak menggunakan alat peraga sehingga siswa.
Hanya sebagai pendengar saja tanpa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran,
guru kurang terampil dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai
dengan materi pembelajaran yang akan dipaparkan, guru hanya menggunakan metode
ceramah dan menghafal materi yang diajarkan bukan siswa diajak untuk berpikir kritis atau
antusias, serta kurang semangat dalam belajar, perhatian peserta didik pada mata pelajaran
IPS kurang dan hasil belajarnya rendah. Oleh karena itu masi banyak siswa yang belum
mencapai standar KKM (kriteria ketuntasan minimum). Yang ditetapkan oleh sekolah yaitu :
67% dari 20 siswa, sebanyak 12 siswa yang belum mencapai KKM dan 8 siswa yang sudah
mencapai KKM. Nilai siswa yang masi rendah sehingga dibutuhkan suatu media
belajar siswa. Salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang
3
memungkinkan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran di kelas. Salah satu model yang
tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari
guru setalah mereka mempelajari materi pokok. Kegiatan ini diulang terus-menerus sampai
semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru, siswa akan
termotivasi untuk meningkatkan proses belajarnya karena selalu ada dalam dirinya bahwa dia
akan mendapat giliran memegang tongkat dan harus menjawab pertanyaan yang diberikan
oleh guru.
karena menekankan pada keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Pembelajaran
dapat dilaksanakan oleh guru dengan berbagai pendekatan. Untuk meningkatkan hasil belajar
siswa, guru menggunakan media tongkat sebagi alat bantu dalam pelaksanaan talking stick.
Setelah guru menjelaskan materi pelajaran, guru meminta siswa untuk melakukan
penghafalan materi dengan terlebih dahulu menetapkan waktu yang akan dibutuhkan sampai
Setelah itu di lakukan, maka guru dan siswa melakukan talking stick (tongkat
berbicara). Dalam penerapan metode talking stick ini, guru membagi siswa menjadi
Guru terlebih dahulu memberikan tongkat kepada salah satu kelompok secara acak,
selain itu guru dan siswa secara bersamaan menyanyikan lagu sambil menyerahkan tongkat
dari siswa pertama ke siswa lainnya, hingga lagu dinyatakan berhenti, oleh guru dengan
tanda-tanda tertentu yang telah disepakati bersama. Setelah lagu dinyatakan berhenti, maka
4
siswa yang memegang tongkat pada saat itu, diberikan pertanyaan oleh guru dan siswa harus
menjawab pertanyaan tersebut begitu seterusnya sampai semua kelompok mendapat bagian.
Berdasarkan masalah diatas, maka calon peneliti tertarik untuk melakukan suatu
penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul: “Penerapan model pembelajaran talking stick
untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ Kab. Tana
Toraja.
1. Rumusan masalah
masalah pada penelitian ini adalah “Apakah Penerapan Model Talking Stick dapat
meningkatkan hasil Belajar IPS siswa Kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ Kab. Tana Toraja.
Alasan saya mengambil judul ini karena pada saat pembelajaran berlangsung,
siswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran dimana awalnya siswa disuru membaca
bukunya kembali setelah materi selesai, tongkat akan menuntut siswa untuk berani berbicara
dengan mengemukakan pendapatnya. Bertujuan agar siswa terbiasa serta mudah untuk
2. Pemecahan masalah
menggunakan model pembelajaran Talking Stick. Model pembelajaran ini dipilih karena
diharapkan agar dapat meningkatkan belajar siswa dalam pembelajaran IPS dapat meningkat.
Karena model ini merupakan model pembelajaran yang menyenangkan karena disertai
permainan, dapat menguji kesiapan siswa dan melatih siswa berbicara mengeluarkan
5
C. Tujuan Penelitian
meningkatkan hasil belajar IPS melalui penggunaan model pembelajaran talking stick pada
Tujuan yang diharapkan peneliti dari penelitian ini adalah menjadi masukan para guru
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran talking
1. Manfaat teoritis
ilmu pengetahuan tentang manfaat model pembelajaran talking stick sebagai acuan dalam
pengembangan proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran IPS di sekolah dasar.
2. Manfaat praktis
a) Bagi siswa
Dengan adanya model pembelajaran yang baru akan menigkatkan motivasi siswa untuk
belajar IPS.
b) Bagi guru
sebagai sarana informasi bagi guru untuk meningkatkan kinerjanya dalam proses
pembelajaran yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
6
c) Bagi peneliti
sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada saat mengajar
di SD.
d) Bagi sekolah
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
TINDAKAN
A. Kajian Pustaka
1. Model Pembelajaran
7
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu polah yang digunakan
buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain, (Joyce dalam Trianto, 2011:5).
Joice & Weil (dalam Isjoni, 2013:50) model pembelajaran adalah suatu polah rencana yang
sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur
materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelasnya. Sedangkan Istarani
(2011:1) model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi
segalah aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segalah
fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses
belajar.
kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib
menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya
kegiatan tersebut diulang terus menerus sampai semia kelompok mendapat giliran untuk
menjawab pertanyaan dari guru. Dalam penerapan model pembelajaran talking stick, guru
dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, kecerdasan, atau minat yang berbeda. (Carol
8
Menurut Rahayu (2013) bahwa dalam proses belajar mengajar di kelas berorientasi
pada terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa ke
siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan
pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa yang memegang tongkat
akan menjawab pertanyaan dari guru. Hal ini dilakukan hingga semua siswa mendapat
menggunakan alat berupa tongkat sebagai alat bantu bagi guru untuk mengajukan pertanyaan
kepada siswa dengan menimbilkan suasana yang menyenangkan. Tongkat tersebut digilirkan
pada siswa dan bagi siswa mendapat tongkat sesuai dengan aba-aba dari guru, maka siswa
Medel ini dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih aktif dalam
memahami dan menemukan konsep, sehingga siswa mampu menghubungkan soal dengan
teori yang ada, misalnya pada bagian contoh soal yang merupakan bagian dari bahan belajar
siswa dapat digunakan untuk menggambarkan teori, konsep dari materi pembelajaran yang
4) Setelah siswa membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan
9
5) Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa, setalah itu guru
memberi pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya.
Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab
6) Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisah
menjawab pertantanyaan.
keterampilan mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat, dan
Menurut Suprijino dalam Rajapatni (2014) dan Sri Widayati, kelebihan dan kekurangan
1. Kelebihan :
e) Dapat menciptakan susasana yang menyenangkan, sehingga siswa tidak tegang dan bisa
belajar dengan baik, sehingga siswa merasa termotivasi dan senagng untuk dapat
2. Kekurangan :
10
a) Siswa cenderung individu
e) Model pembelajaran ini tidak efektif jika siswa tidak bisa bernyanyi
3. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Hakikat belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses, artinya dalam belajar akan
menyimak, dan latihan. Itu sebabnya dalam proses belajar, guru harus membimbing dan
memfasilitai siswa supaya siswa dapat melakukan proses-proses tersebut (Anitah dkk. 2007).
Manusia dalam usahanya selalu menginginkan sesuatu hal yang lebih baik dari
sebelumnya. Demikian pulah dalam proses pembelajaran, tiap manusia menginginkan hasil
belajar yang lebih baik. Konsekuensi dari keinginan tersebut terdiri dari dua hal yaitu berhasil
atau tidak berhasil. Anitah (2007:2.7) hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
dalam diri seseorang (internal factor) maupun dari diri seseorang (eksternal factor) sehingga
hasil yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi dari kedua faktor tersebut. Adapun
11
b. Faktor psikologis, yakni terdiri dari kecerdasan dan bakat, sikap, kebiasaan, minat,
a. Faktor sosial yang terdiri atas : lingkungan keluarga, lingungan sekolah dan
lingkungan masyarakat.
b. Faktor adat istiadat yaitu adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan pengetahuan.
bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari
materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh hasil tes mengenal
sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana, yang dimakasud dengan hasil belajar
siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang
berhasil dalam belajar adalah anak yang berhasil mencapai tujuan-tujian pembelajaran.
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu
proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku
Hasil belajar siswa merupakan hasil dari suatu proses yang didalamnya terlibat
sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tinggi rendah hasil belajar siswa dipengaruhi
oleh faktor-faktor tersebut. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak
a) Faktor internal, merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang
memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi kecerdasan, minat dan
b) Faktor eksternal, yang merupkan faktor yang berasal dari luar diri peserta didik
12
yang memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Menurut Zuraik dalam Djahiri (1984), hakikat IPS adalah harapan untuk mampu
membina suatu masyarakat yang baik dimana para anggotanya benar-benar berkembang
sebagai insan sosial yang rasional dan penuh tanggung jawab. Hakikat IPS disekolah dasar
memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan bagi siswa sebagai
warga negara sedini mungkin. Ilmu pengetahuan sosial tidak hanya memberikan ilmu
penetahuan, tetapi berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, sikap dan
masyarakat.
sosial budaya yang ada dilingkungan siswa, sehingga dengan ini akan dapat membina warga
negara yang baik dan mampu memahami secara kritis kehidupan sosial disekitarnya, serta
a) Pengertian IPS
IPS adalah bidang studi yang mempelajari, menelah, menganalisis, gejalah dan
masalah sosial dimasyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu
perpaduan.
Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai disiplin
ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam
rangak memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik, khususnya
di tingkat dasar dan menengah. Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang
13
beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, budaya, sejarah, maupun politik
Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, IPS adalah salah satu
mata pelajaran yang mengajarkan pada siswa SD agar mereka kelak mengenal fenomena
alam dan fenomena sosial melalui dari lingkungan dekat sampai pada lingkungan yang lebih
jauh (dunia). IPS merupakan bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala
dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau
perpaduan.
manusia dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya dalam masyarakat. Dengan
demikian, peranan IPS sangat penting untuk mendidik siswa mengembangkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan agar dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan kelak
sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang baik (Susanto, 2012:145).
pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia
dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkunagan sosialnya dan bahannya diambil
dari berbagai ilmu sosial. Dengan memperlajari IPS ini sudah semestinya siswa mendapat
bekal pengetahuan yang berharga dalam memhami dirinya sendiri dan orang lain dalam
lingkungan masyarakat yang berbedah tempat maupun waktu, baik individu maupun
kelompok, untuk menemukan kepentingan yang akhirnya dapat terbentuk suatu masyarakat
Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tahun 2006, mata pelajaran IPS
14
1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
2) Memilih kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, ingkuiri,
Setiap bidang studi yang tercantum dalam kurikulum sekolah, telah dijiwai oleh
tujuan yang harus dicapai oleh pelaksanaan proses belajar mengajar. Tujuan korikuler yang
dimaksud adalah tujuan pendidikan IPS. Secara keseluruhan tujuan pendidikan IPS di SD
1) Membekali anak didik dengen pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelah
dimasyarakat.
4) Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif dan keterampilan
terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan tersebut.
keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehiduapan masyarakat, ilmu pengetahuan dan
teknologi.
15
1) Dapat mengetahui cara dalam berinteraksi dengan sesama manusia lainnya, baik
2) Memudahkan manusia untuk hidup dalam suatu kelompok dengan mengetahui tradisi
5. Materi Aja
Pada tanggal 16 agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta diamankan oleh para pemudah
di wilayah Redas Dengklok, di Karawang, jawa Barat. Hal itu dilakukan untuk menjauhkan
Penyususnan naskak proklamasi dilakukan oleh Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan
Ahmad Subarjo membantu menuangkan ide-idenya secara lisan. Setelah naskah proklamasi
disususn, selanjutnya Sukarni mengusulkan agar teks proklamasi ditandatangani oleh Ir.
16
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merpakan puncak perjuangan bangsa Indonesia. Tepat
pada pukul 10.00 WIB, acara dimulai. Bung Karno berpidato dan membacakan teks
dengan pengibaran bendera merah putih dan diiringi lagu Indonesia Raya
1. Ir. Soekarno
4. Ahmad Subardjo
B. Kerangka Pikir
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima
mempunyai peranan yang sangkat penting dalam proses pembelajaran karena akan memberi
sebuah informasi kepada guru tentang kemajuan siswa melalui proses belajara mengajar.
17
Materi pelajaran IPS siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ masih sulit
dipahami siswa karena dalam pembelajaran IPS guru hanya menyampaikan materi dengan
metode cerama, dan kurang aktif dalam menerapkan metode pembelajaran pada materi
“Peristiwa Penting Menjelang Proklamasi”,sehingga kurang aktif dan siswa merasa bosan
dalam belajar.
Untuk memberikan ketertarikan siswa dalam mengikuti pelajaran, maka salah satu
cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran talking stick.
Melalui model pembelajaran talking stick, siswa dituntut untuk memahami dan menguasai
materi pelajaran karena akan digunakan sebagai jawaban atas diajukan pertanyaan oleh guru.
Dalam penerapan model pembelajaran talking stick diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir penelitian dapat
awal
Faktor guru :
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka hipotesis tindakan
penelitian ini adalah : “jika dalam penerapan model pembelajaran talking stick dilaksanakan
secara optimal dan sesuai dengan langkah-langkahnya, maka dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas V 144 Inpres Salubarani Kabupaten Tana
Toraja”.
19
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Pendekatan penelitian
Kualitatif adalah data yang berupah informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran
tentang ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran.
Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam proses
pembelajaran. Adapun alasan penelitian menggunakan pendekatan ini dengan tujuan utnuk
mengungkap secara menyeleruh dan sesuai dengan konteks melalui pengumpulan data yang
diperoleh secara langsung dari sumber yang bersangkutan yang dilakukan oleh peneliti
sendiri.
20
2. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan ialah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian
tindakan kelas menyangkut perbaikian yang dilakukan secara bertahap terus-menerus, selama
kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri
dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran dalam kelas, sehingga hasil
PTK akan mengkaji dan merefleksi secara kritis suatu implementasi pembelajaran
IPS disekolah dasar dengan menggunakan model pemebelajaran talking stick . Dua kata
kunci pada setiap kegiatan action research, yaitu pemecahan masalah dan peningkatan hasil
belajar siswa.
B. Fokus Penelitian
menggunakan model pembelajaran Talking Stick tentang materi peristiwa Ranges Dengklokp
stick. Adapun aspek fokus hasil, yaitu, aspek kognitif mengenai ketetapan dalam menjawab
soal atau pertanyaan setelah siswa mengikuti pelajaran dengan menggunakan model talking
stick.
21
C. Setting Dan Subjek Penelitian
1. Setting penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 126 Inpres Garampa’ Kecamatan Sangalla,
Kabupaten Tana Toraja. Tempat tersebut dipilih karena sebelumnya disekolah tersebut belum
pernah menggunakan model pembelajaran talking stick, sudah dapat persetujuan dari sekolah
dan mendapat dukungan dari guru kelas maupun guru-guru untuk menerapkan model
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 126 Inpres Garampa’ yang
berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan.
Model penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah model PTK menurut
Kemmis dan Mc Taggart dalam Hermawan (2010:14). Pada model PTK menurut Kemmis
dan Mc Taggart terdapat dua siklus dimana siklus 1 terdiri 4 (empat) tahapan sebagai berikut
1. Perencanaan (plan)
2. Tindakan (action)
3. Pengamatan (observasi)
4. Refleksi (refleksi)
22
PERENCANAAN
PELAKSANAAN
SIKLUS I
REFLEKSI OBSERVASI
TINDAKAN
PERENCANAAN
SIKLUS II PELAKSANAAN
REFLEKSI OBSERVASI
HASIL
Gambar 2.2 Skema alur PTK yang diadaptasi Kemmis dan Taggart
1. Siklus 1
a) Perencanaan
23
1) Menyusun satuan pembelajaran yang sesuai dengan penelitian.
b) Tindakan
ini untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan menggunakan model
c) Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara hati-hati dan cermat, terhadap apa yang dilakukan
siswa selama proses belajr mengajar. Pengamatan dilakukan dengan cara test, pada
pengataman ini aktivitas siswa dicatat oleh peneliti selama mengikuti kegiatan belajar
apakah siswa mengalami kesulitan atau tidak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
d) Refleksi
Dalam tahap ini, bersama guru melihat, mengkaji, dan mempertimbangkan hasil-
hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan dan telah diamati pada tahap sebelumnya. Melalui
tahap ini dapat ditarik kesimpulan mengenai dampak dari tindakan yang dilaksanakan.
Apakah calon peneliti sudah mencapai tujuan atau individu keberhasilan atau tidak. Apabila
belum berhasil maka perlu dilaksanakan siklus II sebagai langkah perbaikan dari siklus I.
2. Siklus II
Tahap-tahap yang dilakukan pada siklus II dalam proses belajar mengajar merupakan
perbaikan dari kegiatan yang dilakukan pada siklus I. Dimana pada tahap rencana siklus II
24
E. Teknik Dan Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka digunakan
a. Angket
Angket dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengukur motivasi belajar. Angket
ini dilakukan dalam penelitian ditinjau kepada siswa untuk memperoleh data mengenai
motivasi belajarnya. Angket diberikan setiap selesai satu siklus kepasa siswa
b. Tes
Tes adalah untuk mengukur hasil belajar IPS diperoleh dengan menggunakan tes pada
setiap akhir siklus. Hasil belajar siswa diperoleh melalui nilai tes formatif pada setiap siklus.
Tes yang digunakan adalah tes tertulis soal uraian. Nilai perolehan tes tes dijadikan ukuran
c. Observasi
seberapa jauh tindakan yang telah dicapai. Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk
mengamati aktivitas guru dan siswa selam kegiatan pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan lembar observasi guru dan siswa. Observasi dilakukan selama proses
pembelajaran berlangsung yaitu dari awal sampai akhir pembelajaran. Pada kegiatan
observasi ini, guru dibantu oleh wali kelas V dan teman sejawat dengan menggunakn lembar
observasi.
25
d. Wawancara
Wawancara, dilakukan untuk memperoleh onformasi serta tanggapan guru dan siswa
setelah belajar IPS secara lisan. Wawancara dilakukan untuk melengkapi data yang diambil
melalui teknik observas. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan siswa dan
guru terhadap penerapan model pembelajaran talking stick dengan menggunakan pedoaman
wawancara.
e. Dokumentasi
selama proses pembelajar. Foto-foto ini digunakan sebagai alat bantu untuk menggambarkan
mengetahui masalah yang dihadapi guru san siswa dalam proses pembelajaran.
Adapun prosedur dalam pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas adalah:
a. Data hasil belajar IPS pada pembelajaran,cara pengambilan datanya itu, dengan
b. Data tentang situasi pembelajaran pada saat pelaksanaan tindakan di peroleh melalui
observasi diamati selam proses pembelajaran baik siklus maupun pada siklus II.
26
F. Teknik Analisis dan Indikator Keberhasilan
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data, aspek guru dengan
aspek. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan
oleh Miles dan Humberman dalam hermawan (2010:124) yang terdiri dari tiga Tahap
kegiatan yaitu :
a. Meredeuksi Data
b. Menyajikan Data
Data yang dianalisi disajikan dalam bentuk deskriptif atau kata-kata sehingga mudah
c. Menarik kesimpulan
Penarikan kesimpulan yaitu salah satu cara yang dilakukan untuk memberikan
penilaian berdasarkan data yang akan dilakukan. Dari kesimpulan, tersebut dapat
diketahui apakah tujuan dari pembelajaran sudah tercapai makna data keteraturan dan
pengelolaan data.
Analisis data adalah merangkum secara akurat data dengan benar. Data yang
dugunakan untuk menjelaskan hasil-hasil tindakan yang mengarah pada keaktifan siswa
selama proses belajar mengajar. Adapun cara pengumpulan data yang dilakukan dalam
27
Nilai/skor dalam penelitian ini dihitung berdasarkan bobot soal, dimana bobot ditentukan
menurut tingkat kesulitan soal. Untuk menentukan nilai/skor yang diperoleh siswa
𝑇
KB = 𝑥 100 %
𝑇𝑡
Keterangan :
KB = Ketuntasan Belajar
28
Sedangkan data proses pelaksanaan dapat ditafsirkan teknik analisis data:
a). Menelah data : menelah data ini dimulai saat pelaksanaan proses belajar mengajar.
Dimana berdasarkan hasil observasi dilapangan data yang terkumpul dikelompokkan sesuai
dengan masalah penelitian, bagi hasil yang kurang dari 67% dikumpulkan untuk diajukan
b). Mereduksi data : kegiatan ini dilaksanakan secra komprehensif yang berkaitan dengan
observasi, dan refleksi, data di telah kemudian diseleksi. Data yang sudah relevan
c). Penyajian data : data yang sudah direduksi dalam suatu peristiwa dihubungkan dengan
masalah penelitian. Penyajian data ini berkaitan dengan erat dengan masalah-masalah yang
timbul di kelas V SDN 144 Inpres Salubarani Kecamatan Gandangbatu Sillanan Kabupaten
Tana Toraja, dimana penggunaan model talking stick diterapkan untuk menyelesaikan
d). Penarikan kesimpulan : hasil tindakan penggunaan model talking stick dalam
meningkatkan hasil belajar siswa dalam bidang studi IPS kelas V SDN 144 Inpres
29
2. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi indikator proses
dan indikator hasil dalam penerapan model pembelajaran talking stick dalam meningkatkan
dengan menggunakan model taling stick terlaksana 75% sesuai dengan rencana pelaksanaan
b) Indikator hasil adalah nilai yang diperoleh melalui penerapan model pembelajaran
talking stick mengalami peningkatan, atau dengan kata lain minimal 75% siswa dari jumlah
30
G. JADWAL PENELITIAN
Bulan
No Kegiatan Maret April Mei Juni Juli Agustus
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Observasi awal
kesekolah
2. Konsultasi judul
skripsi dengan
dosen
pembimbing
3. Penyusunan
proposal
4. Seminar
proposal
5. Konsultasi hasil
seminar dengan
dosen
pembimbing
6. Pengangambilan
surat izin
penelitian
7. Penelitian dan
pengambilan
data
8. Penyusunan dan
konsultasi hasil
penelitian
9. Ujian skripsi
31
DAFATAR PUSTAKA
Sardjiyo, Sugandi, Ischak, 2007. Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Universitas Terbuka,
Anita, Sri W,. Dkk. 2007. Strategi pembelajaran di SD. Jakarta Universitas Terbuka.
Joyce. Dalam Trianto 2011. Mendesain model pembelajaran innovetive praggresif. Jakarta
kencana
Suryaningsih, Diah, 2015. Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Dan MI. Solo:KTSP
Supriatna, Nana, dkk. 2009. Pendidikan IPS SD. Bandung: UPI PRESS
32