62 117 1 SM
62 117 1 SM
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui model cooperative learning
dengan teknik make a match siswa kelas IV SDN Tiron 02 Kecamatan/Kabupaten Madiun.Penentuan
sampel di dalam penelitian ini menggunakan sampel total yaitu seluruh siswa kelas IV SDN Tiron 02
Madiun tahun pelajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa 12 orang. Pengumpulan data menggunakan
metode observasi, wawancara dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis
deskriptif persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan model cooperative
learning teknik make a match dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas
IV SDN Tiron 02. Nilai rata-rata hasil belajar pada pembelajaran IPS dengan teknik make a match
yakni pra siklus = 61,7, siklus I = 72,5, siklus II = 83,3. Persentase ketuntasan yang diperoleh pada
setiap siklus juga mengalami peningkatan. Pada pra siklus sebesar 41,67%, yaitu sebanyak 5 siswa,
siklus I sebesar 66,67%, atau sebanyak 8 siswa dan siklus II sebesar 91,67% atau sebanyak 11 siswa.
Kinerja guru juga mengalami peningkatan. Pada siklus I rata-rata kinerja guru mencapai 3,1 dengan
kriteria tinggi. Pada siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 3,9 dan masuk kriteria sangat tinggi.
Keaktifan belajar siswa pada siklus I adalah 66,52% dengan kriteria aktif. Keaktifan siklus II
meningkat menjadi 82,14% dengan kriteria sangat aktif. Simpulan dalam penelitian ini adalah
pembelajaran IPS melalui model cooperative learning teknik make a match dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
Kata kunci: Hasil Belajar, IPS, Model Cooperative Learning, Teknik Make AMatch.
Selain itu ketika ada siswa yang mencoba dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan
untuk menjawab pertanyaan guru, siswa memungkinkan siswa belajar aktif.
lainnya tidak memperhatikan temannya yang Kelebihan/keunggulan teknik make a
sedang menjawab. Ketika diberi pertanyaan match menarik bagi siswa karena dapat
pun, sebagian besar siswa tidak berani untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan.
menjawab. Setelah memperhatikan kodisi Rusman (2011: 223) berpendapat bahwa salah
kelas tersebut, maka perlu ada upaya satu keunggulan teknik ini adalah siswa
bagaimana cara menyampaikan pelajaran IPS mencari pasangan sambil belajar mengenai
yang tepat sehingga dapat menumbuhkan suatu konsep atau topik, dalam suasana yang
motivasi belajar siswa dan meningkatkan menyenangkan. Sependapat dengan hal ini
hasil belajar siswa. Salah satu caranya dengan Lie (dalam Isjoni, 2010: 77) juga menyatakan
pemilihan model yang tepat dapat bahwa salah satu keunggulan teknik ini
menghantarkan pada tujuan dari pembelajaran adalah siswa mencari pasangan sambil belajar
yang diharapkan. mengenai suatu konsep atau topik dalam
Model cooperative learning sebagai salah suasana yang menyenangkan. Metode ini bisa
satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan
digunakan untuk menjawab permasalahan untuk semua tingkatan usia.
yang telah disampaikan. Pembelajaran
kooperatif merupakan sebuah strategi Metode Penelitian
pembelajaran yang melibatkan peran aktif Jenis penelitian yang digunakan dalam
siswa dalam kerjasama kelompok untuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
mencapai tujuan bersama. Siswa yang belajar Kelas. Penelitian tindakan kelas yaitu sebuah
menggunakan model pembelajaran kooperatif kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas.
akan memiliki motivasi yang tinggi karena Penelitian tindakan kelas diartikan sebagai
didorong dan didukung dari rekan sebaya. upaya yang ditujukan untuk memperbaiki
Pembelajaran kooperatif memiliki proses pembelajaran atau memecahkan
beberapa variasi tipe yang dapat digunakan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran
dan salah satu teknik yang dianggap dapat (Mulyasa, 2011: 34).
meningkatkan hasil belajar siswa adalah make Prosedur penelitian untuk melaksanakan
a match. Pembelajaran dengan teknik ini tindakan penelitian kelas ini berdasarkan pada
memungkinkan guru dapat memberikan prosedur penelitian tindakan kelas yang
perhatian kepada siswa serta akan terjalin dikemukakan Arikunto, dkk (2006: 16),
hubungan yang lebih akrab antara guru dimana tahap-tahapnya digambarkan sebagai
dengan siswa. Ada kalanya siswa lebih mudah berikut:
belajar karena mengajari temannya. Salah
satu unsur penting terwujudnya suasana
pembelajaran kooperatif adalah terciptanya
iklim belajar yang kondusif, yakni murid
terbebas dari rasa was-was, cemas dan ragu-
ragu dalam mengekspresikan ide-ide yang
terdapat dalam pikirannya. Untuk
menciptakan suasana tersebut, peran guru
sangat diutamakan yakni berupaya
semaksimal mungkin agar jarak antara guru
dan siswa diminimalkan. Pembelajaran IPS
melalui model pembelajaran ini diharapkan
Perencanaan
Pengamatan
Perencanaan
Pengamatan
Tabel 1. Perbandingan Hasil belajar IPS siswa pada Pra siklus dan Sikls I.
No Hasil belajar Pra siklus Siklus I
1 Nilai tertinggi 80 90
2 Nilai terendah 40 50
3 Rata-rata 61,7 72,5
4 Persentase ketuntasan 41,67% 66,67%
Dari tabel 1. diatas dapat diketahui bahwa mengalami peningkatan dibanding dengan
pada siklus I rata-rata nilai tes siswa kondisi awal. Nilai rata-rata mencapai 72,5
dan jumlah siswa yang tuntas belajar juga siswa dalam mengerjakan tugas dan diskusi
mengalami peningkatan yaitu 8 siswa dari 12 sebesar 75%, partisipasi siswa menjawab
siswa atau sekitar 66,67%. Meskipun hasil pertanyaan dalam diskusi sebesar 50%, dan
belajar siswa mengalami peningkatan akan kesesuaian jawaban dengan materi yang
tetapi belum mencapai indikator yang dibahas sebesar 90,67%. Rata-rata keaktifan
diharapkan, yaitu minimal 85% siswa siswa dalam proses pembelajaran selama
mencapai KKM, sehingga perlu adanya siklus I sebesar 66,52% dan kategori untuk
perbaikan atau tindakan berikutnya. tingkat keaktifan siswa pada siklus I adalah
Kinerja guru mendapat skor 40 dengan aktif.
rata-rata 3,1 dan persentase kinerja 78% Siklus II
termasuk dalam tingkat kinerja kriteria tinggi. Hasil belajar siswa pada siklus II sudah
Dalam pengamatan ketrampilan guru mencapai indikator yang diharapkan. Jumlah
ditemukan bahwa pembelajaran dilaksanakan siswa yang tuntas belajar adalah sebanyak 11
sesuai dengan perencanaan yang telah disusun siswa atau sebesar 91,67 % dimana indikator
dalam RPP. pencapaian ketuntasan belajar siswa secara
Prosentase keaktifan siswa dalam klasikal apabila 85% dari semua jumlah siswa
pembelajaran IPS dengan teknik make a dalam satu kelas mendapat nilai ≥ 70
match pada masing-masing aspek dapat (indikator ketuntasan belajar individu).
didiskripsikan sebagai berikut: Keaktifan Berdasarkan hasil tes pada siklus II,
siswa dalam penerapan teknik make a match ketuntasan belajar mencapai 91,67% dan
66,67 %, partisipasi siswa menjawab dalam 8,33% belum mencapai KKM. Jika
diskusi kelompok sebesar 83,33%, tanggung dibandingkan dengan data awal hasil belajar
jawab siswa dalam kelompok sebesar 58,33%, (pra siklus) dan siklus I, pada siklus II
partisipasi siswa dalam memecahkan masalah terdapat peningkatan hasil belajar siswa.
kelompok sebesar 41,67%, tanggung jawab
Tabel 2. Perbandingan Hasil belajar IPS siswa pada Prasiklus dan Siklus I dan siklus II.
No Hasil belajar Pra siklus Siklus I Siklus II
1 Nilai tertinggi 80 90 `100
2 Nilai terendah 40 50 60
3 Rata-rata 61,7 72,5 83,3
4 Persentase ketuntasan 41,67% 66,675% 91,67%
Dari tabel 2. diatas dapat diketahui bahwa bahwa pembelajaran dilaksanakan sesuai
pada siklus II rata-rata nilai tes siswa dengan perencanaan yang telah disusun dalam
mengalami peningkatan yang cukup RPP. Pada kegiatan awal guru mengucapkan
signifikan dibanding dengan siklus I. Nilai salam dan doa dengan baik yaitu guru
rata-rata mencapai 83,3 dan jumlah siswa mengawali pembelajaran dengan salam dan
yang tuntas belajar juga mengalami doa. Dalam mengkondisikan keadaan siswa
peningkatan yaitu 11 siswa dari 12 siswa atau dalam kelas, guru sudah dapat
sekitar 91,67%. Dengan demikian pada siklus mengkondisikannya dengan sangat baik
II ini telah tercapai indikator ketuntasan dengan menanyakan kesehatan siswa,
klasikal yang diharapkan, yaitu minimal 85% sehingga siswa dapat tertib dan pembelajaran
siswa mencapai KKM, sehingga tidak perlu dapat dimulai.
adanya perbaikan atau tindakan berikutnya. Persentase keaktifan siswa dalam
Kinerja guru mendapat skor 51 dengan pembelajaran IPS dengan teknik make a
rata-rata 3,9 dan dengan persentase kinerja match pada masing-masing aspek dapat
98% termasuk dalam kriteria sangat tinggi. didiskripsikan sebagai berikut: Keaktifan
Dalam pengamatan kinerja guru ditemukan siswa dalam penerapan teknik make a
Tabel 3. Perbandingan Hasil Belajar IPS Siswa Pada Prasiklus, Siklus I Dan Siklus II.
No Hasil belajar Prasiklus Siklus I Siklus II
1 Nilai tertinggi 80 90 `100
2 Nilai terendah 40 50 60
3 Rata-rata 61,7 72,5 83,3
4 Siswa yang belum tuntas 58,33% 33,33% 8,33%
belajar (7 siswa) (4 siswa) (1 siswa)
5 Siswa yang sudah tuntas 41,67% 66,67% 91,67%
belajar (5 siswa) (8 siswa) (11 siswa)
Dari tabel 3. diatas dapat diketahui pada pra siklus = 80, siklus I = 90, dan siklus
bahwa pada siklus II rata-rata nilai tes siswa II = 100. Rata-rata pada pra siklus = 61,7,
mengalami peningkatan yang cukup siklus I =72,5, dan siklus II = 83,3. Siswa
signifikan dibanding dengan siklus I. Nilai yang tuntas belajar pada pra siklus sebesar
rata-rata mencapai 83,3 dan jumlah siswa 41,67%, yaitu sebanyak 5 siswa, siklus I
yang tuntas belajar juga mengalami sebesar 66,67% atau sebanyak 8 siswa, dan
peningkatan yaitu 11 siswa dari 12 siswa atau siklus II sebesar 91,67% atau sebanyak 11
sekitar 91,67%. Dengan demikian pada siklus siswa. Hal ini menunjukkan adanya
II ini telah tercapai indikator ketuntasan peningkatan hasil belajar dan pembelajaran
klasikal yang diharapkan, yaitu minimal 85% yang dilaksanakan telah berhasil. Lebih
siswa mencapai KKM, sehingga tidak perlu jelasnya peningkatan data hasil belajar siswa
adanya perbaikan atau tindakan berikutnya. dari pra siklus sampai dengan siklus II dapat
Berdasarkan tabel 3, menunjukkan dilihat pada diagram batang berikut ini:
peningkatan hasil belajar yaitu nilai tertinggi
100
100 90
80 83,3
80 72,5 Nilai
61,7 60 tertinggi
60 50
40
Nilai
40
terendah
20 11
7 5 4 8 1
0
Pra siklus Siklus I Siklus II
Gambar 2. Diagram batang Hasil belajar (Pra siklus, siklus I, Siklus II)
Kinerja guru pada penelitian tidakan yang mengalami peningkatan seperti pada tabel
dilakukan pada siklus I ke siklus II juga berikut:
Tabel 4. Perbandingan Hasil Kinerja Guru Pada Siklus I Dan Siklus II.
No Pencapaian Siklus I Siklus II
1. Rata-rata skor kinerja guru 3,1 3,9
2. Persentase 78% 98%
Berikut ini profil skor keaktifan belajar make a matchsecara sinci pada siklus I dan
siswa dalam pembelajaran dengan teknik siklus II :
dengan sangat baik. Semua siswa mengikuti model cooperative learning teknik make a
evaluasi dan mengerjakannya sampai selesai match telah menunjukkan adanya peningkatan
sesuai batas waktu yang ditentukan. Hal ini pada kinerja guru, aktivitas siswa dan hasil
menunjukkan adanya peningkatan dari belajar. Hal ini dapat membuktikan bahwa
pembelajaran sebelumnya. Hasil analisis teknik make a match mampu meningkatkan
penelitian yang dilakukan di kelas IV SDN kualitas pembelajaran IPS. Peningkatan data
Tiron 02 Kecamatan Madiun Kabupaten aktivitas siswa pada tiap siklus dapat dilihat
Madiun dalam pembelajaran IPS melalui pada diagram batang di berikut ini:
100 82,14
66,52
80
60 Rata-rata
keaktifan belajar
40 siswa
20
0
Siklus I Siklus II
Daftar Pustaka
Solihatin, E. dan Raharjo. (2012).
Cooperative Learning: Analisis Model
Pembelajaran IPS. Jakarta: PT Bumi
Aksara.