NAMA : Farah Fitria
NIM : 202315008
LAPORAN PENDAHULUAN
FINGER TIP INJURY
1. Definisi
Finger tip injury adalah cedera pada jari yang terletak pada area sebelah distal dari
insersi tendon flexor dan ekstensor. Cedera dapat mencakup kerusakan pada kulit dan
jaringan lunak, tulang (phalanx distal), atau kuku, merupakan kasus yang tersering
terjadi pada cedera tangan. Fingertip merupakan suatu organ peraba yang sangat
penting sebagai salah satu fungsi tangan. Dalam penanganan FTI, tidak ada satupun
teknik yang tepat untuk semua kasus, masing-masing teknik memiliki indikasi yang
spesifik pada tipe cedera tertentu.
Tujuan penanganan FTI adalah untuk mengembalikan sensasi yang adekuat, nyeri
yang minimal, pergerakan sendi yang maksimal dan kosmetik yang baik. Dalam
mencapai tujuan tersebut, perlu diperhatikan juga usaha untuk mempertahankan
ukuran dari ujung jari.
2. Etiologi
Secara Anatomi, kompleks kuku atau perionikium meliputi nail plate, nail bed (terdiri
dari matriks steril dan germinal), dan jaringan lunak sekitarnya. Kulit permukaan
volar yang menutupi ujung jari sangat sensitif dan memiliki epidermis yang tebal.
Kulit yang tebal di bawah ujung distal bebas dari kuku pada perbatasan antara nail
bed dan kulit disebut hiponikium. Pulp terdiri atas jaringan fibrofatty yang distabilkan
dengan septa fibrosa sepanjang dermis sampai periosteumdistal falang. Septa fibrosa
menautkankulitpada tulang, sehingga menghasilkan stabilitas pada saat
menggenggam. Eponikium atau kutikel terdapat pada dinding kuku hingga kenail
plate dorsalis. Paronikium terdapat pada sisi lateral sepanjang kuku dan eponikium.
Nail bed menyatu dengan periosteum yang sangat tipis melebihi 2/3 distal falang dan
terdiri atas matriks-matriks steril dan germinal. Matriks germinal terletak pada daerah
proksimal dan membentuk dinding ventral lipatan kuku. Batas distalnya merupakan
area semisirkular putih dekat dengan dasar kuku, disebut lunula. Matriks steril adalah
bagian nail bed yang terletak distal dari lunula, menyatu dengan nail plate dan
berkontribusi sedikit pada ketebalannya. Kulit bagian dorsal di atas lipatan kuku
disebut dinding kuku. Jaringan matriks yang membentuk atap dorsal lipatan kuku
menyebabkan nail plate mengkilap.
3. Patofiologi
Fraktur pada tulang biasanya disebabkan pada trauma gangguan adanya gaya dalam
tubuh yaitu steres, gangguan fisik, gangguan metabolik patologik, kemampuan otot
mendukung tulang turun, baik yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh
darah akan mengakibatkan perdarahan, maka volume darah menurun. COP (Cardiac
Output) menurun maka terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma akan
mengeksudasi plasma dan poliferasi menjadi edem lokal maka penumpukan didalam
tubuh. Fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat
menimbulkan gangguan rasa nyaman nyeri. Selain itu, dapat mengenai tulang dan
terjadi neurovaskuler yang menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik
terganggu (Zainal, Mardiana 2020).
4. Pathway
Tindakan pembedahan
Debridement
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik menurut Istianah (2017):
1) Foto rontgen (X-ray) untuk menentukan lokasi dan luasnya fraktur.
2) Scan tulang, temogram, atau scan CT/MRIB untuk memperlihatkan fraktur lebih
jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3) Anteriogram dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4) Hitung darah lengkap, hemokonsentrasi mungkin meningkat atau menurun pada
perdarahan selain itu peningkatan leukosit mungkin terjadi sebagai respon
terhadap peradangan.
6. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1) Identitas klien
2) Keluhan utama : Biasanya keluhannya adalah nyeri. Nyeri itu bisa akut atau
kronik tergantung dari lamanya serangan. Menggunakan PQRST.
3) Riwayat penyakit sekarang : Menentukan penyebab fraktur sehingga
membantu dalam membuat rencana tindakan pada klien.
4) Riwayat penyakit terdahulu : Menemukan adanya penyakit-penyakit yang
mempengaruhi penyembuhan tulang seperti osteo porosis maupun kanker
tulang.
5) Riwayat penyakit keluarga.
6) Riwayat psikososial : Merupakan respon emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat.
7) Pola fungsi kesehatan
- Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat. Ketidak adekuatan akan
terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan
kesehatan untuk membantu penyembuhan tulang.
- Pola nutrisi dan metabolik. Perlunya mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-hari seperti kalsium, zat besi, protein, vit.C dan lainnya
untuk membentu proses penyembuhan tulang.
- Pola eliminasi. Umumnya tidak terjadi kelainan.
- Pola istirahat tidur. Kesulitan tidur akibat nyeri dan ketidak nyamanan
akibat pemasangan bidai ataupun alat bantu lainnya.
- Pola aktivitas. Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, mungkin akan
mengganggu semua aktivitas.
- Pola hubungan peran. Ganguan peran akbat perawatan.
- Pola persepsi dan konsep diri. Timbul ketidak adekuatan akan kecacatan
akibat frakturnya, rasa cemas, ketidak nyamanan, ketidak mampuan
beraktivitas, dan gangguan body image.
- Pola sensori dan kognitif. Kemampuan raba berkurang terutama pada
bagian dista dari bagian yang fraktur.
- Pola reproduksi seksual. Kehilangan libido ataupun kemampuan akibat
kelemahan fisik maupun ketidak nyamanan akibat nyeri.
- Pola penanggulangan stress. Timbul rasa cemas pada dirinya. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
- Pola tata nilai dan keyakinan.
b. Pemeriksaan fisik
1) Gambaran umum: meliputi keadaan umum, kesadaran, nyeri, tanda vital.
Secara sistemik: kepala sampai kaki.
2) Keadaan lokal. Perlu diperhitungkan keadaan paroksimal serta bagian distal
terutama mengenai status neurovaskuler 5P yaitu Pain, Palor, Parestesia,
Pulse, Pergerakan.
c. Pemeriksaan Diagnosis
1) Radiologi.
2) Pemeriksaan laboratorium.
3) Pemeriksaan lain-lain
4) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas, didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
5) Biopsi tulang dan otot.
6) Elektromyografi.
7) Arthroscopy.
8) Indium imaging.
9) MRI.
d. Diagnosa Keperawatan
PREOPERASI
1) Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.
2) Ansietas berhubungan dengan diagnosa, pengobatan dan prognosis.
3) Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan kehilangan bagian
tubuh dan disfungsi tubuh.
INTRA OPERASI
1) Resiko cidera berhubungan dengan pajanan alat, penggunaan electro surgical.
2) Resiko cidera berhubungan dengan pajanan lingkungan, peralatan,
penggunaaan tehnik aseptik yang kurang tepat.
POST OPERASI
1) Resiko bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan
fungsi saluran pernapasan.
2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan efek anastesi.
e. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan implementasi intervensi
dilaksanakan sesuai rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan kemampuan
interpersonal, intelektual, dan teknikal, intervensi harus dilakukan dengan cermat
dan ifisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan fisiologi dilindungi dan
didokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan.
f. Evaluasi
Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan
yang diberikan. hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan dan
kualitas data, teratasi atu tidak masalah pasien, mencapai tujuan serta ketepatan
intervensi keperawatan. menentukan evaluasi hasil dibagi 5 komponen yaitu:
1) Menentukan kritera, standar dan pertanyaan evaluasi.
2) Mengumpulkan data mengenai keadaan pasien terbaru.
3) Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dari standar.
4) Merangkum hasil dan membuat kesimpulan.
5) Melaksanakan tindakan sesuai berdasarkan kesimpulan.
Daftar Pustaka
Calandrucio JH. Amputations of the hands: fingertip amputations. Dalam: Canale ST, Beaty
JH, editor. Campbell’soperative orthopaedics. Edisi ke-12. Maryland Heights: Mosby;
2013.
Istianah, Umi. (2017). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Zainal, Mardiana. 2020. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Pre Operasi Fraktur Digiti Pedis
Dextra Dengan Gangguan Nyeri Akut Di Ruang Marjan Atas Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Slamet Garut.