Weda Bay Nickel Project
1 August 2023
•
Pengingat
Pelatihan
2
•
Dasar pemikiran pelaksanaan
pertemuan K3LH
Proses
Pelatihan Pengertian Pertemuan K3
Metode, Contoh, Topik Materi Pertemuan K3
3
Di akhir sesi ini, Anda akan dapat memahami tentang:
1. Memahami definisi safety meeting / pertemuan
K3
Tujuan 2. Memahami perbedaan istilah: Safety Talk / Tool
Pelatihan Box Meeting, P5M, General Safety Talk, Safety
Meeting
3. Mengetahui langkah-langkah pelaksanaan
pertemuan K3 berdasarkan waktu, pelaksanaan,
topik dan peserta /audience
4
DEFINISI ISTILAH DALAM SAFETY MEETING
Komunikasi HSE adalah segala pertukaran informasi yang terjadi antara pihak-pihak di lokasi proyek/pekerjaan yang
berhubungan dengan Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja dan Lingkungan.
P5M (Pembicaraan lima menit) adalah pertemuan singkat (sekitar 5-10 menit) yang dilakukan rutin antara supervisor / foreman
/ group leader dengan para pekerja atau karyawan pada setiap awal gilir kerja / shift untuk membicarakan hal-hal mengenai
pekerjaan, K3, lingkungan hidup
Safety talk (disebut juga safety morning talk atau toolbox meeting) adalah pertemuan yang dilakukan rutin sekali seminggu
antara supervisor dengan para pekerja atau karyawan untuk membicarakan hal-hal mengenai K3, entah tentang isu terbaru,
regulasi, prosedur kerja, alat pelindung diri, potensi bahaya, dll.
General Safety Talk adalah pertemuan yang dilakukan rutin sekali sebulan antara manajemen dengan seluruh karyawan untuk
membicarakan hal-hal mengenai K3, entah tentang isu terbaru, regulasi, prosedur kerja, dll.
HSE Commitee atau Rapat P2K3 ini adalah program pertemuan rutin bulanan dengan melibatkan manajemen dan semua lini
pengawasan yang sejalan dengan kegiatan proyek dengan membahas tentang pencapaian kinerja HSE dan upaya untuk
meningkatkan kinerja proyek.
Kick-Off Meeting adalah pertemuan semua pihak sebelum memulai kegiatan proyek Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk
mengembangkan koordinasi sebelum memulai pekerjaan. Dalam pertemuan ini, hal-hal berikut harus dibahas terkait dengan
persyaratan keselamatan yaitu: rencana keselamatan kerja dari suatu pekerjaan, peralatan dan bahan yang dibutuhkan, tugas
dan tanggung jawab masing-masing pekerja, prosedur dan administrasi HSE, system izin untuk bekerja, sistem tanggap darurat,
dan program HSE lain yang perlu dilaksanakan pada pekerjaan proyek.
TUJUAN PEMBUATAN PERTEMUAN K3
TUJUAN IBPR :
1. Mengidentifikasi tugas atau pekerjaan sehari-hari dari setiap team
pekerja tentang bahaya yang terkait pekerjaan dan tindakan
pencegahan yang diperlukan.
2. Me.
PERTEMUAN K3 / SAFETY MEETING
PEKERJA AKAN INGAT
• 10 % YANG MEREKA BACA
• 20 % YANG MEREKA DENGAR
• 30 % MEREKA LIHAT
• 50 % YANG MEREKA LIHAT
DAN DENGAR
• 70 % YANG MEREKA KATAKAN
DAN DISKUSIKAN
• 90 % YANG MEREKA KATAKAN DAN
LAKUKAN TENTANG SUATU HAL
PERTEMUAN K3 / SAFETY MEETING
METODA PERTEMUAN K3
1. CERAMAH
2. CERAMAH DAN DISKUSI
3. DISKUSI DAN TANYA JAWAB
4. PRO DAN KONTRA
5. DISKUSI KELOMPOK KECIL
PERTEMUAN K3 / SAFETY MEETING
AGENDA
• TOPIK
• WAKTU
• TEMPAT
PERTEMUAN K3 / SAFETY MEETING
TOPIK
• DIKUASAI
• HAL YANG AKTUAL (APA…..?)
• KECELAKAAN
• NEARMISS
• PERATURAN
• KEBIJAKAN
• REKOMENDASI RAPAT SEBELUMNYA
10
JENIS-JENIS PERTEMUAN DI LOKASI PROYEK-OPERASIONAL
• MANAEMENT ?
• PRODUKSI ?
• BULANAN ?
• ANGGARAN ?
• K3 – (SAFETY)….????? . . .
11
TIPE PERTEMUAN K3 / SAFETY MEETING TYPES
JENIS PERTEMUAN K3
P5M / PRE WORK SHIFT SAFETY TALK / TOOLBOX MEETING
GENERAL SAFETY TALK SAFETY COMMITTEE MEETING
A. PEMBICARAAN LIMA MENIT / P5M
Strategi Pelaksanaan P5M
Dalam melakukan pembicaraan K3 di awal pekerjaan, ada beberapa hal yang harus
kita lakukan agar para pekerja dapat menangkap pesan yang diberikan secara efektif:
1. Lakukanlah sesuai dengan situasi dan kondisi. Sesuaikan tema yang dipilih dengan bahaya
di pekerjaan dan karakter dari pekerja. Kita juga bisa memilih tema sesuai dengan situasi
yang terkini misalnya baru saja ada kecelakaan jatuh dari ketinggian, tentunya kita lebih
baik mengingatkan tentang bahaya jatuh dari ketinggian
2. Lakukan dengan singkat. Menurut health and safety executive, kebanyakan orang hanya
bisa menangkap 25% – 50% dari pembicaraan kita. Bila perlu, bahkan kita bisa menyiapkan
kartu untuk pekerja bawa agar dapat mengingat kembali apa yang dibicarakan.
3. Tetap positif. Bawa situasi dengan positif, jangan dilakukan dengan penuh ketegangan.
Hargai dan terbuka terhadap masukan yang diberikan oleh pekerja. Fokuslah kepada
bagaimana cara membuat tempat kerja aman dan bukan terhadap apa yang bisa membuat
kita celaka.
4. Sampaikan cerita bukan statistik. Angka-angka kecelakaan kerja memang sebuah statistik,
namun pekerja tidak mengingat statistik, mereka mengingat cerita. Sampaikan cerita yang
bisa mereka ambil pelajaran dan mereka akan mengingat itu dalam pekerjaan mereka
sehari-hari.
5. Umpan balik yang baik. Jangan jadikan pembicaraan Anda sebagai pembicaraan 1 arah,
buka kesempatan dan hargai jika ada diskusi. Anda juga bisa memeriksa tingkat
kepahaman para pekerja dengan memberikan pertanyaan terbuka karena pekerja akan
cenderung menjawab “ya” jika diberikan pertanyaan “Apakah Bapak-bapak paham?”,
berikanlah pertanyaan terbuka seperti “Apa yang Bapak paham tentang materi ini?”
B. SAFETY TALK / TOOL BOX MEETING
13 Poin Penting yang Harus Diketahui Supervisor Tentang Safety Talk
Agar pelaksanaan safety talk di perusahaan Anda berjalan lancar dan efektif, ada baiknya
setiap supervisor memahami 13 poin penting mengenai safety talk di bawah ini:
1. Seberapa sering kita harus melakukan safety talk?, Disarankan melakukan safety talk secara berkala, misalnya
seminggu sekali, sehingga pekerja menjadi terbiasa dan menjadikan pertemuan ini sebagai bagian dari rutinitas
kerja.
2. Dimana lokasi yang tepat melaksanakan safety talk?, Pilihlah tempat yang nyaman dan bebas dari gangguan.
Mungkin Anda tidak ingin para pekerja sulit berkonsentrasi dan melewatkan pesan keselamatan yang Anda
sampaikan karena lokasi yang bising, lokasi terlalu panas atau dingin. Jadi, pastikan di tempat yang Anda pilih,
semua pekerja yang hadir dapat mengikuti pertemuan dengan efektif.
3. Kapan waktu terbaik melaksanakan safety talk?, Pilihlah waktu yang tidak mengganggu aktivitas kerja dan
dimana pikiran serta konsentrasi pekerja masih segar dan fokus. Pagi hari sebelum memulai pekerjaan adalah
waktu yang tepat untuk melaksanakan safety talk.
4. Berapa lama waktu pelaksanaan safety talk?, “Keep It Short & Simple (KISS)” adalah moto yang harus Anda
pegang. Sampaikan pesan keselamatan dengan ringkas, padat, dan jelas. Durasi pelaksanaan safety talk idealnya
berlangsung antara 5-15 menit. Sebagian besar supervisor melaksanakannya dalam waktu 10 menit.
5. Materi atau topik keselamatan apa yang sebaiknya dibahas?, Sebaiknya Anda memilih topik yang berhubungan
dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Dalam menentukan topik safety talk, Anda dapat mempertimbangkan
beberapa hal berikut ini:
a. Potensi bahaya apa yang terkait pekerjaan yang akan dilakukan
b. Kecelakaan kerja atau near misses apa yang sering atau pernah terjadi terkait pekerjaan yang akan dilakukan
c. Pedoman kerja yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilakukan
d. Alat pelindung diri apa yang harus digunakan terkait pekerjaan yang akan dilakukan Isu atau informasi terbaru
mengenai K3 atau berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan juga bisa dijadikan bahan pertimbangan
dalam menentukan topik safety talk. Misalnya, ada regulasi terbaru mengenai bekerja di ketinggian, jika hal itu
berhubungan dengan pekerjaan yang akan Anda lakukan, Anda bisa menjadikan topik tersebut sebagai
materi safety talk. 14
B. SAFETY TALK / TOOL BOX MEETING
6. Apakah supervisor harus memilih satu topik pembahasan saja?, Ya, topik pembahasan safety talk harus
spesifik. Penyajian materi yang bertele-tele hanya akan membuat suasana pertemuan jadi membosankan. Misalnya,
Anda ingin membahas mengenai bahaya di tempat kerja, mungkin Anda bisa menentukan bahaya yang lebih
spesifik seperti terpeleset atau bahaya terkena jatuhan benda dari atas dan cara pengendaliannya.
7. Berapa lama persiapan yang harus supervisor lakukan untuk melakukan safety talk?, Tidak banyak, namun
bukan berarti Anda tidak mempersiapkannya sama sekali. Setelah memilih topik, pastikan Anda telah mengetahui
dan memahami pedoman K3 terkait topik yang diangkat dan buatlah catatan berupa poin-poin penting mengenai
materi safety talk. Anda bisa berdiskusi dengan supervisor lain untuk meminta saran tentang hal-hal apa saja yang
sebaiknya disertakan dalam catatan.
8. Apakah dalam penyampaian materi, supervisor hanya perlu membacakan poin-poin yang telah ia buat?,
Mungkin ini cara sederhana, namun bukan ide yang baik. Penyampaian materi dengan cara membacakan akan
membuat penyajian materi jadi membosankan dan tidak efektif. Cobalah sebisa mungkin untuk menyampaikan
materi dengan kata-kata Anda sendiri dengan menjadikan poin-poin yang telah Anda buat sebagai referensi saja.
Maka dari itu, sangat penting bagi seorang supervisor untuk memahami materi yang akan ia bahas pada safety talk.
9. Apakah menggunakan alat bantu visual dalam penyampaian materi dibolehkan?, Tentu saja. Alat bantu visual
dalam sebuah presentasi bisa menjadi sarana yang ampuh dan efektif untuk meningkatkan dampak atau pengaruh
terhadap audiensi (pekerja). Penggunaan kata dan visual yang sesuai bisa menguatkan pesan yang ingin
disampaikan dalam presentasi. Untuk safety talk, Anda dapat menggunakan alat bantu visual berupa gambar, grafik,
video, atau peralatan pendukung yang berhubungan dengan topik safety talk. Misalnya, jika Anda berbicara tentang
perkakas tangan yang rusak atau berbahaya, Anda bisa menunjukkan contohnya kepada pekerja. Jika topik
pertemuan membahas tentang cara mengoperasikan forklift, ada baiknya Anda menunjukkan bagaimana hal itu
harus dilakukan.
10. Apakah supervisor harus mengajak para pekerja terlibat dalam diskusi?, Ya, Anda harus mengajak para
pekerja untuk lebih aktif menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan dalam safety talk. Anda bisa
meminta pendapat mereka mengenai topik yang dibahas. Selalu respons setiap pertanyaan yang diajukan oleh
pekerja. Ini penting, bagaimanapun keaktifan pekerja dalam safety talk dapat mencerminkan kepedulian mereka
mengenai penerapan K3 di tempat kerjanya.
15
B. SAFETY TALK / TOOL BOX MEETING
11. Apa yang harus dilakukan supervisor untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan pekerja?, Jika pertanyaan yang mereka ajukan
relevan dengan topik yang dibahas dan Anda mengetahui jawabannya, berikanlah respons terbaik untuknya. Namun, jika Anda tidak
mengetahui jawabannya, katakan padanya bahwa Anda akan mencari tahu terkait pertanyaan tersebut dan akan memberikan jawaban
pada safety talk berikutnya. Lain halnya jika pertanyaan tidak relevan dengan topik bahasan, katakan pada pekerja tersebut bahwa Anda akan
membahas secara pribadi setelah safety talk selesai.
12. Haruskah supervisor mendokumentasikan pelaksanaan dan kehadiran pekerja?, Ya, setiap pekerja yang menghadiri pertemuan harus
menandatangani formulir safety talk yang telah disediakan. Anda sebagai supervisor juga harus membuat MOM (Minutes of Meeting) dari topik
yang didiskusikan, termasuk keluhan, permasalahan, dan saran dari audiensi, serta pastikan Anda menindaklanjutinya. Follow up pertanyaan
yang tidak bisa dijawab saat safety talk. Pastikan safety talk terdokumentasikan dengan baik, seperti foto pelaksanaan dan absensi pekerja
yang hadir. Dokumentasi pelaksanaan safety talk dapat digunakan sebagai bukti bahwa pekerja telah mendapatkan informasi keselamatan
secara spesifik, juga sebagai pedoman memberikan pelatihan kepada pekerja.
13. Adakah saran agar safety talk lebih efektif?, Berikut adalah teknik yang dapat digunakan supervisor agar pelaksanaan safety talk lebih
efektif, antara lain:
a. Prepare (Lakukan persiapan sebaik mungkin, cari referensi sebanyak-banyaknya dan pahami materi safety talk yang akan Anda sampaikan)
b. Pinpoint (Fokuslah pada tujuan dan tetaplah sederhana, berikan poin-poin kunci. Jangan membuat bosan audiensi dengan memberi
penjelasan yang menyeluruh dalam satu sesi. Fokus pada satu topik pembahasan)
c. Personalize (Jalin komunikasi dua arah antara supervisor dengan pekerja dan sesekali menggunakan humor. Ini akan menjadikan pertemuan
lebih akrab dan hangat serta menjaga audiensi tetap memperhatikan Anda. Hal ini juga memungkinkan mereka untuk lebih mengingat apa yang
telah dibahas)
d. Pictorialize (Sajikan materi safety talk tidak hanya secara lisan, namun dalam bentuk visual juga. Gunakan alat bantu visual, berupa gambar,
grafik, video, atau peralatan pendukung lainnya bila memungkinkan)
e. Prescribe (Pastikan Anda menyampaikan topik pembahasan secara tepat kepada audiensi tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya
dilakukan agar mereka dan rekan kerjanya bekerja dengan aman dan selamat)
Sebagai supervisor, pastikan Anda memahami poin-poin penting mengenai safety talk di atas. Meski hanya berlangsung dalam hitungan
menit, pelaksanaan safety talk harus dipersiapkan sebaik dan se-efektif mungkin. Pastikan para pekerja yang terlibat memahami
penjelasan Anda pada safety talk.
B. SAFETY TALK / TOOL BOX MEETING
CARA MENYAJIKAN “SAFETY TALK”
1. Supervisor / Foreman menyiapkan dan membawakan materi safety talk
2. Dilaksanakan oleh semua regu kerja setiap awal shift
3. Dihadiri oleh setiap orang yang akan bekerja pada gilir kerja / shift
tersebut
4. Wajib menetapkan topik pembicaraan
5. Penyiapan materi/topik berdasarkan kondisi lapangan
6. Pelaksanaan safety talk langsung di lokasi kerja
7. Buatlah ringkasan/point-point penting dari topik yang akan
disampaikan
8. Awali dengan pendahuluan yang menarik untuk menarik perhatian
peserta / audience
9. Menyampaikan dengan kata-kata sendiri jauh lebih baik disbanding
membaca materi
10. Waktu safety talk biasanya singkat kurang lebih 30 menit
11. Mengulangi pesan-pesan safety dan memberikan ringkasan diakhir
safety talk
12. Biasakan kontak mata dengan audience
13. Penyajian materi dengan menarik
14. Safety talk harus terecord.
3. PERTEMUAN P2K3 / SAFETY COMMITTEE MEETING
SAFETY COMMITTEE MEETING
1. TINGKAT PERUSAHAAN (LEVEL 1, LEVEL II)
2. TINGKAT DIVISI
3. TINGKAT DEPARTEMEN
4. TINGKAT BAGIAN / UNIT / SECTION
KOMITE KESELAMATAN PERTAMBANGAN / P2K3
KOMITE KESELAMATAN PERTAMBANGAN / KKP
(KEPDIRJEN MINERBA NO. 185.K/37.04/DJB/2019)
LAMPIRAN II, HALAMAN 356-357
1.Komite Keselamatan Pertambangan mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain:
a. Mengidentifikasi, menetapkan, dan mengesahkan tujuan, sasaran, dan program Keselamatan Pertambangan;
b. Memastikan pelaksanaan dan perkembangan tujuan, sasaran, dan program Keselamatan Pertambangan;
c. Memastikan diterbitkannya kebijakan, standar, dan prosedur Keselamatan Pertambangan;
d. Memastikan terselenggaranya audit Keselamatan Pertambangan secara berkala;
e. Memastikan terlaksananya tinjauan manajemen terhadap penerapan SMKP Minerba paling sedikit 1 ( satu) kali dalam
jangka waktu 1 (satu) tahun sesuai dengan jenjang dalam struktur organisasi pemegang IUP, IUJP;
f. Membahas masalah-rnasalah dan membuat program pencegahan mengenai Keselamatan Pertambangan yang dapat
mengakibatkan, antara lain terjadinya kondisi dan tindakan tidak aman, nyaris/hampir celaka, Kejadian Berbahaya,
kecelakaan, kejadian akibat penyakit tenaga kerja, Penyakit Akibat Kerja, dan wabah penyakit;
2. komite Keselamatan Pertambangan mengadakan pertemuan secara berkala atau terjadwal minimum 1 ( satu) kali dalam
treadway jangka waktu 1 (satu) bulan. Risalah pertemuan dibuat dan didistribusikan kepada pihak-pihak terkait dan
didokumentasikan;
3. Seluruh anggota Komite Keselamatan Pertambangan mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang disyaratkan sesuai dengan
kebutuhan.
MOM RAPAT K3 / SAFETY COMMITTEE MEETING
20
21