0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan7 halaman

Jenis-Jenis Interpretasi Purposive Hukum

Interpretasi dan Penalaran huku merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses mengaktualisasikan hukum dalam kehidupan sehari-hari

Diunggah oleh

Terimaniat Zebua
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan7 halaman

Jenis-Jenis Interpretasi Purposive Hukum

Interpretasi dan Penalaran huku merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses mengaktualisasikan hukum dalam kehidupan sehari-hari

Diunggah oleh

Terimaniat Zebua
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Sebutkan jenis-jenis interpretasi purposive kemudian jelaskan secara


singkat!

Jenis intepretasi konstitusi yang diperkenalkan oleh Hobbit dimana menurut Albert
H.Y Chen adalah termasuk dalam ruang lingkup interpretasi purposive,
diantaranya ada :

 Penafsiran Etikal, yang merupakan metode penafsiran konstitusi dengan


pendekatan filsafati, moral atau aspirasi. Contohnya yang sering dilakukan
oleh Hakim Frank Caprio dalam channel videonya. Hakim Frank sering
mengatasnamakan norma konstitusi negaranya dengan mendekatkan
kepentingan pelanggar lalu lintas yang sedang mengalami kesulitan
financial, kegawatdaruratan, bahkan secara psikologis terganggu karena
sedang menjalani persidangan perceraian misalnya;

 Penafsiran structural, adalah metode penafsiran suatu undang-undang


dengan konstitusi yang derajat normanya lebih luas. Tekstual dalam UU
tidak serta merta diterapkan secara langsung, akan tetapi mempertimbangkan
nilai yang ada dalam konstitusi. Misalnya, dalam kasus Ustad Baasyir yang
dimungkinkan untuk mendapatkan pembebasan bersyarat dengan alasan
pertimbangan Presiden yang mendalih kan perlakuan khusus bagi lansia
yang terdapat dalam konstitusi dan kewenangan atribusi Presiden
memungkinkan untuk melakukan putusan atau kebijaksanaan. Akan tetapi
kasus ini tidak diteruskan oleh sebab Ustad Baasyir menolak untuk
menandatangani dokumen setia kepada Pancasila.
 Penafsiran hitoris, adalah metode penafsiran original intent yang
didasarkan pada sejarah pembahasan dan pembentukan konstitusi atau
undang-undang. Contoh adalah kasus Jones Vs Menara Boot Co. yang
kasusnya oleh pengadilan tingkat kota ditafsirkan berbeda oleh Hakim
Pengadilan Banding. Para hakim menggunakan pendakatan purposive
dengan memeriksa peristiwa hukum ini adalah terkait dengan konteks
perselisihan dalam pekerjaan bukan semata delik kekerasan fisik yang
dialami oleh warga kulit hitam. Hakim mempertimbangkan bahwa sewaktu
UU tentang Ketenagakerjaan dibuat memang dilatarbelakangi sejarah
diskriminasi terhadap pekerja kulit hitam.

 PENAFSIRAN LITERAL

Penafsiran Literal adalah metode menafsirkan hukum berdasarkan tekstual


yang tertulis dalam undang-undang. Oleh Sartjipto Raharjo, metode literal
ini adalah bagian dari semangat yang mengharuskan idealnya setiap kalimat
pasal dalam undang-undang sudah jelas (scripta).

Kritik terberat untuk metode literal adalah karena pembuat undang-undang


dalam menyusun norma pasal tidak mempertimbangkan bagaimana nantinya
para hakim memeriksa dan mengadili perkara hukum yang timbul karena
adanya Undang-undang itu. Sebagian menyatakan metode literal jika
dipaksakan dapat menjadikan kebebasan hakim dalam memeriksa dan
melakukan pertimbangan dapat menjadi terbatas, atau telah dibatasi oleh
pembuat Undang-undang.

Contohnya : Pengadilan Negeri Kota Pangkalpinang, mengadili terdakwa yang


dijerat dengan Undang-Undang Darurat karena membawa senjata tajam, akan
tetapi pembela hukum mempertanyakan tidak adanya barang bukti senjata tajam
(Linggis) yang dibawakan dalam persidangan sekalipun dalam keterangan saksi-
saksi juga terdakwa mengaku dirinya memegang linggis. Karena tekstual UU
Darurat adalah mengenai benda tajam, maka dalam pertimbangannya hakim
mengabaikan Pasal UU Darurat, dan memvonisnya berdasarkan pasal mengenai
penganiayaan.

2. Jelaskan tahapan dalam interpretasi kontekstual

Secara etimologi, kata kontekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris yaitu
context yang menjadi istilah dalam bahasa Indonesia dengan kata ‘konteks’ yang
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini setidaknya memiliki dua arti, 1)
Bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan
makna, 2) Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.

Interpretasi yang yang menurut teks, rumusan atau kata-kata dalam produk hukum
harus dipahami sebagaimana yang mungkin dimaksudkan oleh penutur (publik).
Konstruksi sebuah teks hukum dimaksudkan sebagai upaya membangun unsur-
unsur dasar makna sebuah teks hukum, dan bukan berupa pemaksaan suatu materi
luar ke dalam teks. Guna mengungkap makna sesungguhnya sebuah teks hukum,
konstruksi hukum secara cermat dan tepat diperlukan.

Interpretasi ini menggunakan pendekatan kontekstual yang berargumen bahwa


seorang penafsir harus mengetahui konteks sosial, politik, dan budaya saat konteks
terjadi .
Gramatika berarti tata bahasa, dan konteks berarti hubungan kata-kata. Artinya
bahwa, menggunakan makna kalimat tidak hanya cukup dengan mengetahui arti
kata, tetapi konteks gramatikanya misalnya hubungan antara konteks yang sudah
ditentukan dengan aturan gramatika. Contohnya adalah hubungan antara subjek
dan predikat, objek dan predikat, kata keterangan dan kata benda, preposisi dan
kata benda. Mari kita amati bagaimana konteks ramalan raja Kediri, Jayabaya, atau
yang sering disebut sebagai Jangka Jayabaya, di sana tertulis baris kalimat yang
kurang lebih mengandung gramatika yang harus dilekatkan dengan konteksnya
karena tidak bisa berdiri sendiri,

kata-kata harus dipahami sebagaimana yang mungkin dimaksudkan oleh penutur.


Dalam kasus-kasus yang meragukan, kita memahami pengertiannya yang lazim,
dan bukan pengertian menurut tata bahasa atau pengertian etimologisnya –verba
artis ex arte; sebagaimana pengungkapannya.

1. Secara umum kata-kata dipahami dalam pengertiannya yang paling sesuai


dengan karakter teks maupun karakter penuturnya.

2. Suatu kalimat atau bentuk kata-kata, hanya bisa memiliki satu makna yang
benar.

3. Diperlukan adanya pertimbangan atas keseluruhan teks atau wacana, agar kita
bisa melakukan konstruksi secara tepat dan benar.

4. Semaki besar peran serta teks dalam suatu kesepakatan yang tertata dan resmi,
maka semakin cermat pula seharusnya konstruksinya.

5. Penting untuk kita pastikan apakah kata-kata yang digunakan memiliki karakter
terbatas, mutlak, dan bermakna khusus, atau memiliki karakter umum, relatif, atau
ekspansif.
6. Suatu teks yang menekankan pelaksanaan mengekspresikan segisegi yang
bersifat minimum, jika pelaksanaan tersebut membebani si pelaksana, dan
maksimum, jika hal itu melibatkan pembebanan atau penderitaan di pihak lain.

7. Konstruksi harus sesuai dengan substansi dan semangat umum teks.

8. Efek-efek yang berasal dari kosntruksi tertentu bisa menuntun kita untuk
memutuskan konstruksi mana yang perlu kita ambil.

9. Semakin tua sebuah hukum atau teks yang memuat peraturan mengenai tindakan
kita, meskipun digariskan pada waktu yang telah silam, akan semkin luas pula
cakupan konstruksinya dalam kasuskasus tertentu.

10. Di atas segalanya, upayakan untuk bersikap tepat dalam semua konstruksi.
Konstruksi terwujud sebagai upaya membangun unsurunsur dasar, dan bukan
berupa pemaksaan suatu materi luar ke dalam teks

3.Jelaskan pengertian besera hermeneutika hukum urgensinya!

Secara etimologis, kata hermeneutika (Inggris hermenutics) berasal dari kata kerja
Yunani hermēneuein yang berarti “menafsirkan” dan kata benda hermēneia yang
berarti “interpretasi” atau “penafsiran.”Tetapi kedua kata tersebut pun memiliki
pengertian: ‘menerjemahkan’ dan ‘bertindak sebagai penafsir’ . Palmer lebih jauh
menunjukkan tiga makna dasar istilah hermēneuein dan hermēneia yakni:

(1) mengungkapkan dengan kata-kata, “to say”;

(2) menjelaskan, seperti menjelaskan sebuah situasi;

(3) menerjemahkan, seperti menterjemahkan bahasa asing .


Ketiga makna istilah ini dapat dipadatkan dengan kata “menginterpretasi” (“to
interpret”). Interpretasi melibatkan: pemahaman dan penjelasan yang masuk akal,
pengucapan dengan kata-kata sehingga dapat dipahami, dan penerjemahan dari
satu bahasa ke bahasa lain.

Tetapi secara historis, istilah hermeneutika atau hermēneuein selalu dikaitkan


dengan tokoh Hermes dalam mitologi Yunani kuno yang bertugas menafsirkan
kehendak dewata (orakel) dengan bantuan kata-kata manusia. Hermes dianggap
sebagai pembawa pesan, atau tepatnya mengungkapkan pesan dewata dalam
bentuk kata-kata sehingga dapat dipahami. Dalam perkembangannya kemudian,
istilah itu dikaitkan dengan penafsiran kehendak Tuhan sebagaimana terkandung
dalam ayat-ayat kitab suci. Maka dalam konteks itu istilah hermeneutika lalu
memiliki pengertian: pedoman atau kaidah dalam memahami dan menafsirkan
teks-teks yang bersifat otoritatif seperti dogma dan kitab suci.

Urgensi hermeneutika hukum adalah penafsiran yang digunakan untuk


mebebaskan kajian-kajian hukum dari otoritarianisme para yuris positif. Prinsip
hermeneutika adalah sebagai upaya menemukan dan menyajikan makna yang
sebenarnya dari tanda-tanda apapun yang digunakan untuk menyampaikan ide-ide.
Urgensi lain dari hermeneutika adalah untuk mengkaji dan menggali maupu
meneliti makna-makna teks baik dari perspektif pengguna atau pembaca. Apabila
dikaitkan dengan keilmuan hukum adalah urgensi hermeneutika adalah agar para
pengkaji hukum dapat menggali dan meneliti makna-makna hukum baik dari
perspektif pembaca maupun dari pencari keadilan. Untuk mengkaji, meneliti dan
menggali makna-makna yang terkandung dalam teks hukum maka digunakan
metode interpretasi yang dalam keilmuan filsafat dikenal dengan hermeneutika
hukum.
4.Sebutkan enam langkah utama hermeneutika hukum?

Hermeneutika berkembang dalam enam (6) tahap, yakni:

1) hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel,

2) hermeneutika sebagai metodologi filologis,

3) hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik,

4) hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi Geisteswissenschaften,

5) hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial, dan

6) hermeneutika sebagai sistem interpretasi (menemukan makna versus


ikonoklasme).

Sumber referensi :

https://ayoksinau.teknosentrik.com/pengertian-interpretasi/

http://annasrolli.blogspot.com/2017/01/metodologi-interpretasi-
kontekstual.html

Anda mungkin juga menyukai