0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan61 halaman

Kegagalan Turap Beton di Singkawang

Diunggah oleh

look down
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan61 halaman

Kegagalan Turap Beton di Singkawang

Diunggah oleh

look down
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI KEGAGALAN STUKTUR TURAP DI TEPI SUNGAI

KOTA SINGKAWANG

Propasal Tugas Akhir


Program Studi Teknik Sipil
Jurusan Teknik Sipil

OLEH:

NABILA NUR RAIHAN


D10111201141

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2024
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI......................................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR........................................................................................................1
DAFTAR TABEL.............................................................................................................2
BAB I................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................6
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................................6
1.5 Pembatasan Masalah.......................................................................................6
1.6 Diagram Alir Penelitian.............................................................................................7
BAB II...............................................................................................................................9
TINJUAN PUSTAKA......................................................................................................9
2.1 Turap.................................................................................................................9
2.1.1 Fungsi Turap....................................................................................................9
2.1.2 Jenis-Jenis Turap.............................................................................................9
2.1.3 Tipe-tipe Dinding Turap...............................................................................12
2.3 Sifat Fisis Tanah...................................................................................................17
2.4 Sifat Mekanis Tanah.............................................................................................17
2.5 Kuat Geser............................................................................................................18
2.6 Tekanan Tanah.....................................................................................................20
2.6.1 Tekanan Tanah Aktif.....................................................................................20
2.6.2. Tekanan Tanah Pasif....................................................................................21
2.7 Cantilever Sheet Piling Penetrating Clay...........................................................23
2.7.1. Momen Lentur Maksimum..........................................................................25
BAB III.............................................................................................................................1
METODOLOGI PENELITIAN......................................................................................1
3.1 Lokasi Penelitian....................................................................................................1
3.2 Metode Pengumpulan Data.............................................................................1
3.3 Metode Analisis Data........................................................................................2
3.3 Pengambilan Sampel Tanah dan Penentuan Titik Pengukuran.........................3

i
3.4 Uji Sampel Tanah Asli............................................................................................6
3.5.2. Sketsa Model Turap......................................................................................32
BAB IV............................................................................................................................33
HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................................33
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian..................................................................33
4.2 Hasil Perhitungan.................................................................................................33
4.2.1 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Normal.................34
4.2.2 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Setelah Digali......36
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................44

ii
DAFTAR GAMBAR

1. Diagram Alir Penilitian


2. Klasifikasi Berdasarkan Tekstur oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat
(USDA)
3. Nilai-Nilai Batas Atterberg untuk Subkelompok Tanah
4. Grafik Plastisitas untuk Klasifikasi USCS
5. Grafik Plastisitas
6. Grafik Mohr Coulomb
7. Diagram Tekanan Tanah Akttif
8. Diagram Tekanan Tanah Pasif
9. Beberapa Bentuk Susunan Turap Kayu
10. Gambaran Bentuk Turap Beton
11. Tampak Atas Turap Baja
12. Denah Lokasi Pengambilan Sampel Tanah
13. Denah Lokasi Pengambilan Sampel Tanah

iii
DAFTAR TABEL

1. Proporsi Fraksi menurut Kelas Tekstur Tanah


2. Klasifikasi Tanah Berdasarkan AASHTO
3. Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sistem Unified (USCS)

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan infrastruktur di daerah perkotaan sering kali dihadapkan
pada tantangan geoteknik yang kompleks, terutama di daerah yang berdekatan
dengan badan air seperti sungai. Turap beton merupakan salah satu solusi yang
sering digunakan untuk memperkuat tepi sungai dan mencegah erosi. Fungsi
utama dari turap beton adalah memberikan kestabilan pada tanah di sekitar tepi
sungai dan melindungi infrastruktur yang ada di dekatnya. Namun, efektivitas
turap beton sangat tergantung pada perencanaan, konstruksi, dan pemeliharaannya
yang tepat.

Stabilitas dan daya dukung turap beton dipengaruhi oleh berbagai faktor,
termasuk kualitas bahan, metode konstruksi, dan kondisi lingkungan sekitar.
Dalam konteks perkotaan yang terus berkembang, pemeliharaan dan evaluasi
terhadap struktur turap beton menjadi sangat penting. Salah satu aspek penting
dalam menjaga kestabilan turap adalah pemahaman tentang parameter struktural
seperti nilai D (dimensi tertentu dari turap). Parameter ini sangat penting untuk
memastikan turap dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan mencegah
terjadinya keruntuhan yang dapat membahayakan keselamatan dan infrastruktur di
sekitarnya.

Penelitian ini berfokus pada salah satu kasus spesifik di dekat Pasar Jalan
Alianyang di Kota Singkawang. Kota Singkawang, sebagai salah satu kota yang
berkembang pesat di Kalimantan Barat, memiliki tantangan tersendiri terkait
dengan pengelolaan infrastruktur di sekitar wilayah sungainya. Turap beton di
area ini dirancang untuk melindungi tepi sungai dari erosi dan menjaga stabilitas
tanah. Namun, pada kenyataannya, banyak faktor yang dapat mempengaruhi
kestabilan turap beton, termasuk aktivitas manusia seperti pengerukan sungai.

Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian dan hasil Focus Group


Discussion (FGD) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA), diketahui bahwa keruntuhan turap tersebut terjadi akibat
pengerukan menggunakan ekskavator pada pinggir turap. Jangkauan ekskavator

iii
yang terbatas menyebabkan lumpur yang diambil berasal dari area yang sangat
dekat dengan struktur turap. Hal ini mengakibatkan turap kehilangan daya
dukungnya karena lumpur yang seharusnya menopang struktur tersebut
dihilangkan. Selain itu, lumpur hasil pengerukan kemudian diletakkan di atas
turap, menambah beban di atasnya secara signifikan. Beban tambahan ini
memperparah kondisi turap yang sudah melemah, sehingga turap tidak mampu
menahan beban tersebut dan akhirnya mengalami keruntuhan yang cukup parah
dengan panjang hampir 40 meter.

Keruntuhan turap ini menimbulkan perhatian serius, baik dari pemerintah


setempat maupun masyarakat. Selain berdampak pada kerusakan infrastruktur,
keruntuhan turap juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi di sekitar pasar dan
membahayakan keselamatan warga. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam
tentang faktor-faktor penyebab keruntuhan dan langkah-langkah pencegahan yang
tepat sangat diperlukan untuk menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemahaman dan evaluasi


terhadap nilai D pada turap beton. Nilai D, yang mencakup dimensi tertentu dari
turap, penting untuk menentukan kapasitas struktur dalam menahan beban.
Parameter ini adalah kunci dalam memastikan turap memiliki daya dukung yang
memadai dan tidak rentan terhadap keruntuhan.

Dalam penelitian ini, bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur nilai


D pada turap beton dalam kondisi normal di daerah sekitar Pasar Jalan Alianyang,
Kota Singkawang. Dengan mengetahui nilai-nilai ini, dapat dilakukan langkah-
langkah preventif yang tepat untuk mencegah keruntuhan serupa di masa
mendatang. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang tepat
untuk perencanaan dan pemeliharaan turap di wilayah tersebut, sehingga dapat
mengurangi risiko keruntuhan turap dan meningkatkan keamanan serta kestabilan
infrastruktur di sekitar tepi sungai di Kota Singkawang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa
rumusan masalah sebagai berikut:

iv
1. Bagaimana menentukan nilai D pada saat turap dalam kondisi normal?
2. Bagaimana menentukan nilai D pada saat turap dalam kondisi setelah
digali?
3. Bagaimana menentukan nilai D pada turap dimana terdapat beban (q)
di atas turap?

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui nilai D pada saat turap dalam kondisi normal.


2. Untuk mengetahui nilai D pada saat turap dalam kondisi setelah digali.
3. Untuk mengetahui nilai D pada turap dimana terdapat beban (q) di atas
turap.

1.4 Manfaat Penelitian


Penelitian ini memiliki manfaat yang penting dalam beberapa aspek.
Penelitian yang dilakukan, akan diuraikan manfaat-manfaat sebagai berikut:

1. Penelitian ini memberikan manfaat yang sangat signifikan dalam


memahami dan mengevaluasi kinerja turap dalam berbagai kondisi
operasional yang berbeda, yaitu kondisi normal, setelah penggalian, dan
ketika terdapat beban tambahan di atasnya. Pengetahuan yang diperoleh
dari penelitian ini sangat penting untuk memastikan bahwa turap tidak
hanya dirancang dan dipasang dengan benar sesuai dengan spesifikasi
teknis yang ditetapkan, tetapi juga dipelihara dengan baik sepanjang masa
penggunaannya. Dengan demikian, penelitian ini berperan penting dalam
menjamin bahwa turap dapat berfungsi secara optimal dan efisien, serta
mampu menjaga keselamatan dan stabilitas struktur dalam jangka panjang,
bahkan ketika menghadapi berbagai tantangan dan kondisi lingkungan
yang berbeda.

1.5 Pembatasan Masalah


Pembatasan masalah pada penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut:

iv
1. Penelitian ini akan berfokus pada Sungai Singkawang Jalan Alianyang,
yang terletak di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia, sebagai
lokasi utama penelitian.
2. Penelitian ini akan mengukur dan menganalisis satu parameter utama,
yaitu nilai D (dimensi tertentu dari turap) dalam kondisi normal, setelah
digali dan adanya beban. Parameter lain yang mungkin mempengaruhi
stabilitas turap tidak akan menjadi fokus utama penelitian ini.
3. Penelitian difokuskan pada turap beton dalam kondisi normal sebelum
terjadinya keruntuhan. Kondisi abnormal atau kerusakan lain yang tidak
terkait dengan pengerukan tidak akan dianalisis secara mendalam.

iv
1.6 Diagram Alir Penelitian

Persiapan

Identifikasi Masalah

Rumusan Masalah

Kajian Literatur

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder

1. Pengambilan sampel tanah 1. Data ACAD dari Badan Perencanaan


2. Uji Labolatorium Pembangunan Daerah (BAPPEDA)

Analisis Data

Uji Labolatorium
Perhitungan Manual
3. Sifat Fisis
4. Sifat Mekanis 1. Metode Rankine
- Uji Geser Langsung (Shear Test)
- Uji Unconfined Compressive Strength (UCS).

Hasil dan Pembahasan

Selesai

Gambar 1. Diagram Alir Penilitian

iv
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Turap
Turap adalah konstruksi yang dapat menahan tekanan tanah di
sekelilingnya, mencegah terjadinya kelongsoran dan biasanya terdiri dari
dinding turap dan penyangganya. Konstruksi dinding turap terdiri dari
beberapa lembaran turap yang dipancangkan ke dalam tanah, serta
membentuk formasi dinding menerus vertikal yang berguna untuk
menahan timbunan tanah atau tanah yang berlereng. Turap terdiri dari
bagian-bagian yang dibuat terlebih dahulu (pre- fabricated) atau dicetak
terlebih dahulu (pre-cast) (Sri Respati, 1995).
2.1.1 Fungsi Turap
Turap (Sheet Pile) sering digunakan dalam pekerjaan konstruksi
tanah untuk menjaga ke stabilan tanah dari keruntuhan. Baik itu karena
beban yang bekerja di sekitarnya, berat tanah itu sendiri ataupun akibat
beban air yang berada pada sekitar konstruksi turap seperti halnya dalam
pekerjaan konstruksi dermaga ataupun bendungan. Fungsi turap sebagai
berikut;
a. Struktur penahan tanah, misalnya pada tebing
jalan raya atau tebing sungai
b. Struktur penahan tanah pada galian
c. Struktur penahan tanah yang berlereng atau curam
agar tanah tersebut tidak longsor
d. Konstruksi bangunan yang ringan, saat kondisi
tanah kurang mampu untuk mendukung dinding
penahan tanah
2.1.2 Jenis-Jenis Turap
A. Turap Kayu
Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak
begitu tinggi, karena tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar.
Turap ini tidak cocok digunakan pada tanah berkerikil, karena turap
cenderung pecah bila dipancang. Bila turap kayu digunakan untuk

iv
bangunan permanen yang berada di atas muka air, maka perlu diberikan
lapisan pelindung agar tidak mudah lapuk. Turap kayu banyak digunakan
pada pekerjaaan-pekerjaan sementara, misalnya untuk penahan tebing
galian. Bentuk-bentuk susunan turap kayu dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 2.1 Turap Kayu

B. Turap Beton
Turap beton merupakan balok-balok yang telah di cetak sebelum
dipasang dengan bentuk tertentu. Balok-balok turap dibuat saling
mengkait satu sama lain. Masing-masing balok, kecuali dirancang kuat
menahan beban-beban yang bekerja pada turap, juga terhadap beban-
beban yang akan bekerja pada waktu pengangkatannya. Ujung bawah
turap biasanya dibentuk meruncing untuk memudahkan pemancangan.
Turap beton biasa digunakan pada bangunan permanen atau pada detail-
detail konstruksi yang agak sulit.

iv
C. Turap Baja
Turap baja adalah jenis paling umum yang digunakan, baik
digunakan untuk bangunan permanen atau ssementara karena beberapa
sifat- sifatnya sebagai berikut:
a. Tahan terhadap tegangan dorong tinggi yang dikembangkan
di dalam bahan keras atau bahan batuan
b. Mempunyai berat relatif yang tinggi
c. Dapat dipakai berulang-ulang
d. Umur pemakaiannya cukup panjang baik di atas maupun
di bawah air dengan perlindungan sederhana menurut NBS
(1962) yang meringkaskan data tentang sejumlah tiang
pancang yang diperiksa setelah pemakaian yang
berlangsung lama
e. Mudah menambah panjag tiang pancang dengan mengelas
maupun dengan memasang baut

f. Sambungan-sambungan sangat sedikit mengalami


deformasi bila di desak penuh dengan tanah dan batuan
selama pemancangan.

Gambar 2.3 Turap Baja

2.1.3 Tipe-tipe Dinding Turap


Terdapat 4 tipe dinding turap yaitu:

1. Dinding Turap Kantilever


Dinding turap kantilever merupakan turap yang dalam

iv
menahan beban lateral mengandalkan tahanan tanah didepan
dinding. Defleksi lateral yang terjadi relatif besar pada
pemakaian turap kantilever. Karena luas tampang bahan
turap yang dibutuhkan bertambah besar dengan ketinggian
tanah yang ditahan (akibat momen lentur yang timbul).
Turap kantilever hanya cocok untuk menahan tanah denga
ketinggian/kedalaman yang sedang.

Gambar 2.4 Dinding Turap Kantilever


2. Dinding Turap Diangker
Dinding turap diangker cocok untuk menahan tebing galian
yang dalam, tetapi masih juga bergantung pada kondisi
tanah. Dinding turap ini menahan beban lateral dengan
mengandalkan tahanan tanah pada bagian turap yang
terpancang kedalam tanah dengan dibantu oleh angker yang
dipasang pada bagian atasnya.

iv
Gambar 2.5 Dinding Turap Diangker

iv
3. Dinding Turap dengan Landasan (platform)
Dinding turap semacam ini dalam menahan tekanan tanah
lateral dibantu oleh tiang-tiang, dimana diatas tiang tiang-
tiang tersebut dibuat landasan untuk meletakkan bangunan
tertentu. Tiang-tiang pendukung landasan juga berfungsi
untuk mengurangi beban lateral pada turap. Dinding turap
ini dibuat bila di dekat lokasi dinding turap direncanakan
akan dibangun jalan kereta api, mesin derek atau bangunan-
bangunan berat lainnya.

4. Bendungan Elak Seluler


Bendungan elak seluler (celullar cofferdam) merupakan
turap yang berbentuk sel-sel yang diisi dengan pasir.
Dinding ini menahan tekanan tanah dengan mengandalkan
beratnya sendiri (Hary Christady Hardiyatmo, 2002).

iii
Gambar 2.7 Bendungan Elak Seluler

iv
2.3 Sifat Fisis Tanah
Akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai atau lemah
ikatan antarpartikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan.
Diantara partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-
pori (void space) yang berisi air dan/atau udara. Ikatan yang lemah antara
partikel-partikel tanah disebabkan oleh pengaruh karbonat atau oksida
yang tersenyawa di antara partikel-partikel tersebut, atau dapat juga
disebabkan oleh adanya material organik. Bila hasil dari pelapukan
tersebut di atas tetap berada pada tempat semula, maka bagian ini disebut
tanah sisa (residual soil). Hasil pelapukan yang terangkut ke tempat lain
dan mengendap di beberapa tempat yang berlainan disebut tanah bawaan
(transportation soil). Media pengangkut tanah berupa gaya gravitasi,
angin, air, dan glesyer. Pada saat berpindah tempat, ukuran dan bentuk
partikel-partikel dapat berubah dan terbagi dalam beberapa rentang
ukuran. (R.F Craig, 1989)
Untuk mendapatkan sifat-sifat fisik tanah, ada beberapa
ketentuan yang harus diketahui terlebih dahulu, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Kadar Air
2. Berat Volume
3. Analisa Saringan
4. Berat Jenis
5. Batas Atterberg
2.4 Sifat Mekanis Tanah
Sifat mekanis tanah merupakan sifat perilaku dari struktur massa
tanah pada dikenai suatu gaya atau tekanan yang dijelaskan secara teknis
mekanis. Sifat mekanis tanah juga dapat dilakukan dengan cara
mengambil tanah langsung ditempat dan menggantinya dengan material
granuler ditempat lain. Menurut lambe (1962), dalam Harry Cristady
Hardiyatmo (2010), stabilisasi mekanis merupakan suatu proses yang
menyangkut dua cara perubahan sifat – sifat tanah:

iii
a. Penyusunan kembali partikel – partikel tanah, seperti contohnya
pencampuran beberapa lapisan tanah, pembentukan kembali tanah
yang telah terganggu dan pemadatan.
b. Penambahan atau penyingkiran partikel-partikel tanah, sifat fisik tanah
tertentu dapat diubah dengan menambahkan dan memisahkan ini
umumnya sangat lebih rendah dibandingkan dengan metode stabilisasi
yang lain.

Dalam Penelitian ini, di lakukan pengujian Uji Geser Langsung


(Shear Test) dan Unconfined Compressive Strenght (UCS). Untuk
kekuatan geser tanah, yang menggambarkan kemampuan tanah untuk
menahan gaya geser sebelum terjadi pergeseran. Unconfined Compressive
Strength (UCS) memberikan gambaran tentang kekuatan tekan tanah saat
tidak ada konfinesi lateral yang diberikan pada sampel, memberikan
pemahaman tentang kemampuan tanah untuk menahan gaya tekan vertikal.
Dengan demikian, hasil dari kedua pengujian ini dapat memberikan
informasi yang penting dalam perencanaan dan desain struktur teknik yang
melibatkan interaksi dengan tanah.

2.5 Kuat Geser


Kuat Geser Tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-
butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Kekuatan geser tanah ditentukan
untuk mengukur kemampuan tanah menahan tekanan tanpa terjadi
keruntuhan. Seperti material teknik lainnya, tanah mengalami penyusutan
volume jika menderita tekanan merata disekelilingnya. Apabila menerima
tegangan geser, tanah akan mengalami distorsi dan apabila distorsi yang
terjadi cukup besar, maka partikel-partikelnya akan terpeleset satu sama
lain dan tanah akan dikatakan gagal dalam geser. Dalam hampir semua
jenis tanah daya dukungnya terhadap tegangan tarik sangat kecil atau
bahkan tidak mampu sama sekali. Parameter kuat geser tanah diperlukan
untuk analisa-analisa daya dukung tanah (bearing capacity), tegangan

iv
tanah terhadap dinding penahan (earth preassure) dan kestabilan lereng
(slope stability).
Kuat Geser Tanah Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang
dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan
dasar pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh
(Hardiyatmo, 2002): 1. Kohesi tanah yang bergantung pada jenis tanah dan
kepadatannya, tetapi tidak tergantung dari tegangan normal yang bekerja
pada bidang geser, 2.

Gambar 6. Grafik Mohr Coulomb

dengan: τ = kuat geser tanah (kN/m2) c = kohesi tanah φ = sudut


gesek dalam tanah atau sudut gesek intern (derajat) σ = tegangan
normal pada bidang runtuh (kN/m2 ) Ada beberapa cara untuk
menentukan kuat geser tanah, antara lain : 1. Pengujian geser langsung
(Direct shear test) 2. Pengujian tiaksial (Triaksial test) 3. Pengujian
tekan bebas (Unconfined compression test) Namun dalam penelitian ini
yang digunakan untuk menentukan kuat geser tanah adalah pengujian
geser langsung dan pengujian triaksial (Triaksial test). Pengujian kuat
geser ini dilakukan untuk mendapatkan parameter kuat geser yaitu
kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ)

iv
2.6 Tekanan Tanah
2.6.1 Tekanan Tanah Aktif
Menurut Hardiyatmo (2015) tekanan tanah aktif adalah tekanan
yang terjadi pada dinding penahan yang mengalami keluluhan atau
bergerak ke arah luar dari tanah urugan di belakangnya, sehingga
menyebabkan tanah urug akan bergerak longsor ke bawah dan menekan
dinding penahannya, sedangkan nilai banding Gambar 7 Diagram
Tekanan Tanah Aktif tekanan horisontal dan tekanan vertikal yang terjadi
didefinisikan sebagai koefisien tekanan tanah aktif atau Ka. Nilai tekanan
aktif lebih kecil dari nilai tekanan saat diam. Gerakan dinding tanah
menjauhi tanah urugan menghilangkan pertahanan di belakang dinding.
Jadi tekanan tanah aktif adalah gaya yang cenderung mengurangi
keseimbangan dinding penahan tanahnya seperti gambar dibawah ini.

Gambar 7. Diagram Tekanan Tanah Aktif (Sumber : Das, 2011)

Nilai tekanan tanah aktif untuk tanah lateral dihitung dengan


menggunakan teori Rankine yang dibagi menjadi nilai tekanan tanah aktif
untuk tanah datar dan nilai tekanan tanah aktif untuk tanah miring. Untuk
menghitung nilai koefisien tanah datar dan tanah miring pada tanah aktif
digunakan rumus seperti dibawah ini. Nilai Ka untuk tanah datar
dinyatakan dalam Persamaan sebagai berikut:

Ka = 1−𝑠𝑖𝑛𝜑 1+𝑠𝑖𝑛𝜑 = 𝑡𝑎𝑛2. (45° − 𝜑 2)

iv
Keterangan:
φ = Sudut geser tanah (o)
Ka = Koefisien tanah aktif
1. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah non kohesif Nilai Pa
untuk tanah non kohesif dinyatakan dalam Persamaan 3.2 berikut ini
Pa = 1 2 γ. 𝐻 2. 𝐾𝑎 (3.2)
2. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah kohesif Nilai Pa untuk
tanah kohesif dinyatakan dalam Persamaan berikut ini.
Pa = 1 2 γ. 𝐻 2. 𝐾𝑎 − 2𝑐√𝑘𝑎 (3.3)

Keterangan:

Pa = Tekanan tanah aktif (KN/m)


γ = Berat isi tanah (KN/m3)
H = Tinggi dinding (m)
c = Kohesi (KN/m2)
Ka = Koefisien tanah aktif

2.6.2. Tekanan Tanah Pasif


Tekanan Tanah Pasif Menurut Hardiyatmo (2002), tekanan tanah
pasif adalah tekanan tanah yang terjadi saat gaya mendorong dinding
penahan tanah kearah tanah urugannya, sedangkan nilai banding tekan
horisontal dan vertikal yang terjadi didefinisikan sebagai koefisien tekanan
tanah pasif atau kp. nilai tekanan pasif lebih besar dari nilai tekanan tanah
saat diam dan nilai tekanan aktif. Tekanan tanah pasif menunjukkan nilai
maksimum dari gaya yang dapat dikembangkan oleh tanah pada gerakan
struktur penahan terhadap tanah urugannya, yaitu tanah harus menahan
gerakan dinding penahan tanah sebelum mengalami keruntuhan seperti
gambar 8 dibawah ini.

iv
Gambar 8. Diagram Tekanan Tanah Pasif (Sumber : Das,2011)

Untuk nilai tekanan tanah pasif untuk tanah lateral dihitung dengan
cara yang sama pada tekanan tanah aktif menggunakan teori Rankine
yang dibagi menjadi nilai tekanan tanah pasif untuk tanah datar dan
nilai tekanan tanah pasif untuk tanah miring. Prosedur perhitungannya
digunakan metode Rankine seperti rumus dibawah ini.
Nilai Kp untuk tanah datar dinyatakan dalam Persamaan sebagai
berikut
Kp = 1+𝑠𝑖𝑛𝜑 1−𝑠𝑖𝑛𝜑 = 𝑡𝑎𝑛2. (45° + 𝜑 2)
Keterangan:
φ = Sudut geser tanah (o)
Kp = Koefisien tanah aktif

Perhitungan untuk tekanan tanah pasif dihitung menggunakan


Persamaan dibawah ini

1. Menghitung tekanan tanah pasif untuk tanah non kohesif Nilai Pp


untuk tanah non kohesif dinyatakan dalam Persamaan berikut ini:
Pp = 1 2 γ. 𝐻 2 .𝐾𝑝
2. Menghitung tekanan tanah pasif untuk tanah kohesif Nilai Pa untuk
tanah kohesif dinyatakan dalam persamaan berikut ini:
Pa = 1 2 γ. 𝐻 2. 𝐾𝑝 − 2𝑐√𝑘𝑝
Keterangan:
Pp = Tekanan tanah pasif (KN/m)
γ = Berat isi tanah (KN/m3)
H = Tinggi dinding (m)
c = Kohesi (KN/m2)
Kp = Koefisien tanah pasif

iv
2.7 Cantilever Sheet Piling Penetrating Clay
Turap kantilever harus dipancang ke dalam lapisan lempung yang
tidak terdrainase dengan kohesi c (p = 0). Gambar 10 menunjukkan
dinding turap kantilever yang dipancang ke dalam lempung dengan
timbunan tanah granuler di atas permukaan garis keruk. Muka air berada
pada kedalaman L di bawah bagian atas dinding. Seperti sebelumnya,
Persamaan σ 1 = γ.L1.Ka dan persamaan σ 2 = (γ.L1 + γ’.L2)Ka memberikan
intensitas tekanan netto dan diagram untuk distribusi tekanan di atas
permukaan garis keruk. Diagram untuk distribusi tekanan bersih di bawah
garis keruk sekarang dapat ditentukan sebagai berikut. Pada setiap
kedalaman yang lebih besar dari L, untuk c = 0, koefisien tekanan tanah
aktif Rankine K = 1. Demikian pula, untuk c = 0, koefisien tekanan tanah
pasif Rankine juga berlaku.

iv
Gambar 9. Cantilever sheet pile penetrating clay

Kp = 1. Jadi, tekanan aktif, dari kanan ke kiri adalah


(1)

Demikian pula, tekanan pasif dari kiri ke kanan dapat dinyakatan sebagai
berikut
(2)

Jadi, tekanan bersih adalah


(3)

Di bagian bawah turap, tekanan pasif dari kanan ke kiri adalah


(4)

Demikian pula, tekanan


aktif dari kiri ke kanan adalah
(5)

Dengan demikian, tekanan bersih adalah


(6)

Untuk analisis kesetimbangan ∑ F H =0; yaitu, luas diagram


tekanan ACDE dikurangi luas EFIB ditambah luas GIH = 0, atau

Dimana P1 = luas diagram tekanan ACDE.


Penyerderhanaan persamaan sebelumnya menghasilkan
(7)

iv
Sekarang, mengambil momen terhadap titik B (∑ M B=0 ¿ menghasilkan
(8)

Di mana z1 = jarak pusat tekanan dari diagram tekanan ACDE,


diukur dari level garis penggali. Menggabungkan persamaan (7) dan (8),

menghasilkan
(9)

Persamaan (9) dapat dipecahkan untuk mendapatkan D, kedalaman


teoritis penetrasi lapisan lempung oleh turap lembaran.

2.7.1. Momen Lentur Maksimum


Menurut Gambar 9, momen maksimum (nol geseran) akan
berada diantara L1+L2 < z < L1+L2+L3. Menggunakan sistem koordinat
baru z’ (dengan z’ = 0 di garis penggalian) untuk nol geseran memberikan

Atau (10)

Sekarang dapat diperoleh magnitudo momen maksimum:

(11)

Dengan mengetahui momen leter maksimum, kita menentukan


modulus bagian dari bagian turap lembaran dari persamaan.

iv
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di dekat pasar Jalan Alianyang di Kota
Singkawang. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian dan hasil tanya
jawab ( Focus Group Discussion ) kepada Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah ( BAPPEDA ) keruntuhan turap pada tepi sungai
tersebut terjadi di karenakan adanya upaya pengerukan menggunakan
ekskavator pada pingir turap. Namun jangkauan ekskavator sangat terbatas
sehingga lumpur yang di ambil yang berada di dekat stuktur turap berdiri.
Hal tersebut membuat turap kehilangan daya dukungnya dan hasil lumpur
yang di ambil di letakkan di atas turap. Sehingga beban yang ada di atas
turap bertambah dan turap melemah karena adanya pengerukan di tempat
turap itu berdiri. Maka turap tidak dapat bertahan yang pada akhirnya
terjadi keruntuhan yang cukup parah dengan panjang hampir 40 m.
Tampilkan gambar peta koordinat titik penelitian
3.2 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini metode pengumpulan data melibatkan
penggunaan data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung dari
sumber utama, serta data sekunder, yang diperoleh secara tidak langsung
karena telah ada sebelumnya. Kedua jenis data tersebut dimanfaatkan
dalam penelitian ini dan dijelaskan sebagai berikut:
 Data Primer
Jenis data ini diperoleh langsung oleh peneliti dari sumbernya,
diamati, dan dicatat pada setiap tahapan eksperimen. Dalam
konteks penelitian ini, data primer terkait dengan hasil
penelitian yang diperoleh dari setiap percobaan yang dilakukan.
Data primer yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Uji Lapangan

1
- Pengambilan sampel tanah asli ( Hand Boring ) pada 2
titik berbeda yang merupakan tanah undisturbed
sample
2. Pengujian Laboratorium
a) Uji Sifat Fisis
- Kadar Air
- Berat Volume
- Berat Jenis
- Analisa Saringan
- Batas Atterberg
b) Uji Sifat Mekanis
- Uji Geser Langsung (Shear Test)
- Uji Unconfined Compressive Strength (UCS).
 Data Sekunder
Data sekunder merujuk pada informasi yang sebelumnya
dikumpulkan atau dilaporkan oleh pihak lain atau individu di
luar lingkup penelitian itu sendiri. Jenis data ini bisa berasal
dari tinjauan literatur maupun hasil percobaan yang telah
dilakukan oleh lembaga atau individu lain. Data sekunder
dalam penelitian ini adalah data dari Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA), berupa gambar ACAD
proyek turap pada saat sebelum terjadi keruntuhan.
3.3 Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teori dan rumus Rankine mengenai
tekanan tanah aktif dan tekanan tanah pasif yang diperoleh dari beberapa
modul terkait turap kantilever. Data-data yang dikumpulkan dari hasil
laboratorium akan digunakan sebagai bahan dalam menganalisis kondisi
dan karakteristik tanah yang sedang diteliti. Dalam rangka memudahkan
perhitungan serta melengkapi kajian pustaka, analisis data akan dilakukan
menggunakan perangkat lunak seperti AutoCad dan Microsoft Word, serta
referensi dari beberapa literatur buku mekanika tanah yang relevan.

2
Pengumpulan data di lapangan harus dilakukan dengan seteliti
mungkin agar diperoleh data yang akurat dan memenuhi standar
penelitian. Data yang dibutuhkan untuk proses perhitungan akan langsung
diminta dari pihak Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA). Data ini mencakup beberapa hasil laboratorium mekanika
tanah serta hasil pengeboran (boring) yang dilakukan di lapangan. Setiap
informasi yang diperoleh akan dianalisis dengan cermat untuk memastikan
validitas dan keandalannya dalam konteks penelitian ini.
Dengan menggunakan metode dan alat bantu yang tepat,
diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang akurat dan
komprehensif mengenai tekanan tanah aktif dan pasif pada turap
kantilever, serta memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang
teknik sipil, khususnya dalam hal desain dan analisis struktur tanah.
3.3 Pengambilan Sampel Tanah dan Penentuan Titik Pengukuran
Pada pengambilan sampel tanah dan lokasi pengukuran dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Pengambilan Sampel Tanah
Pada tahap pelaksanaan pekerjaan lapangan, tindakan yang
dilakukan melibatkan serangkaian aktivitas terkait dengan
pengambilan sampel tanah. Prosedur ini terfokus pada area
tertentu, yakni daerah Jalan Alianyang di Kota Singkawang,
Kalimantan Barat, sebagai lokasi utama pengumpulan data.
Dalam konteks pengambilan sampel tanah, penekanan utama
adalah pada pemilihan tanah yang berada dalam kondisi tidak
terganggu oleh timbunan atau bersifat asli. Hal ini penting
untuk memastikan bahwa sampel yang diambil mencerminkan
kondisi alamiah dari daerah tersebut. Pengambilan sampel
dilakukan pada dua titik berbeda di daerah tersebut untuk
memperoleh representasi yang lebih luas dan memahami
variasi potensial dalam karakteristik tanah.

3
Tindakan ini mencerminkan upaya serius dalam memastikan
bahwa sampel tanah yang diambil adalah representatif dari
keadaan sebenarnya di lapangan, dan pengambilannya
dilakukan secara sistematis untuk memastikan akurasi dan
validitas data yang akan digunakan dalam proses analisis lebih
lanjut. Dengan demikian, tahapan ini menjadi langkah krusial
dalam memastikan kredibilitas hasil penelitian terkait dengan
karakteristik tanah di daerah Jalan Alianyang, Kota
Singkawang, Kalimantan Barat.

Gambar 3.1 Denah Lokasi Pengambilan Sampel Tanah


2. Penentuan Titik Pengukuran
Dalam penentuan titik pengukuran ini diambil beberapa
pengukuran untuk melengkapi data, seperti pengambilan
pengukuran lebar Sungai diambil tiga titik kerutuhan turap di
sepanjang turap yang runtuh. Menentukan tanah timbunan yang
berada di sekitar Sungai serta mengukur kedalaman Sungai di
dua titik turap yang runtuh. Selain itu pengukuran juga
dilakukan untuk turap yang tidak mengalami keruntuhan
sehingga bisa menjadi perbandingan. Dalam proses
menentukan titik pengukuran, sejumlah langkah tambahan

4
diimplementasikan untuk memperoleh data yang lebih lengkap
dan mendalam. Pengukuran lebar sungai diambil pada tiga titik
keruntuhan turap di sepanjang daerah turap yang mengalami
kerusakan. Tindakan ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran yang komprehensif tentang dimensi Sungai pada
lokasi-lokasi tertentu yang terdampak. Penentuan tanah
timbunan di sekitar sungai menjadi salah satu fokus tambahan,
dan pengukuran kedalaman Sungai diambil pada tiga titik turap
yang mengalami keruntuhan. Langkah ini dilakukan untuk
memahami karakteristik tanah timbunan di sekitar sungai dan
mengukur variabilitas kedalaman sungai pada titik-titik yang
terdampak oleh keruntuhan turap.
Pengukuran dilakukan pada turap yang tidak mengalami
keruntuhan, menciptakan perbandingan yang relevan dengan
titik-titik yang mengalami kerusakan. Pendekatan ini
dimaksudkan untuk menyajikan perbandingan yang jelas antara
kondisi turap yang stabil dan yang mengalami keruntuhan,
membantu dalam evaluasi perbedaan karakteristik dan potensi
faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan struktur turap.
Dengan implementasi langkah-langkah tambahan ini,
diharapkan data yang diperoleh menjadi lebih komprehensif
dan mendalam terkait dengan kondisi sungai, tanah timbunan,
dan struktur turap yang memungkinkan analisis yang lebih
akurat dalam upaya pemahaman dan penanganan potensi
kerusakan di wilayah tersebut.

5
Gambar 3.2 Denah Lokasi Pengambilan Sampel Tanah

3.4 Uji Sampel Tanah Asli


Dalam rangka menguji karakteristik tanah asli, sejumlah uji coba
dilaksanakan, yang melibatkan pengujian sifat fisis dan mekanis tanah.
Penelitian mengenai sifat fisis tanah bertujuan untuk mengidentifikasi
jenis tanah yang digunakan, termasuk klasifikasinya. Pada tahap ini, uji
coba sifat fisis dilakukan secara menyeluruh pada tanah asli untuk
memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai sifat-sifat dasar
tanah tersebut. Penelitian sifat mekanis tanah melibatkan dua pendekatan
utama, yaitu pengujian Geser Langsung (Shear Test) dan pengujian
Unconfined Compressive Strength (UCS). Melalui uji Geser Langsung,
penelitian bertujuan untuk memahami kemampuan tanah dalam menahan
gaya geser, sementara pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS)
ditujukan untuk menilai kekuatan tekan tanah. Hasil dari penelitian sifat
mekanis tanah asli akan dijadikan sebagai pembanding yang relevan
dengan hasil penelitian sifat mekanis tanah yang sedang diinvestigasi.
Dengan demikian, uji coba ini tidak hanya berfokus pada
pemahaman jenis dan klasifikasi tanah melalui penelitian sifat fisis, tetapi
juga mendalam ke dalam karakteristik mekanis tanah melalui uji Geser
Langsung (Shear Test) dan Unconfined Compressive Strength (UCS).
Pendekatan ini memberikan gambaran yang mendalam terkait dengan
sifat-sifat esensial tanah, memberikan dasar yang kokoh untuk analisis dan
penilaian terhadap tanah yang sedang diteliti.

6
3.5.2. Sketsa Model Turap

32
33
34
35
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di dekat pasar Jalan Alianyang di Kota
Singkawang. Hasil pengukuran di lokasi penelitian menunjukkan bahwa
lebar sungai di sana adalah 18 meter, dan turap yang runtuh sepanjang 40
meter. Lumpur hasil pengerukan dari dasar sungai telah diletakkan di atas
turap dan ditimbun setinggi 1 meter dengan lebar gundukan 1,87 meter.
Ukuran pile cap (penutup tiang pancang) di lokasi penelitian adalah 70 cm
dengan tinggi 24 cm. Kemiringan turap yang runtuh sebesar 2,10m dari
turap asli.
Gambar
4.2 Hasil Perhitungan
Menjelaskan rumusan masalah yang akan di hitung Penelitian ini
dilakukan di dekat pasar Jalan Alianyang di Kota Singkawang.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian dan hasil tanya jawab
( Focus Group Discussion ) kepada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah ( BAPPEDA ) keruntuhan turap pada tepi sungai tersebut terjadi di
karenakan adanya upaya pengerukan menggunakan ekskavator pada pingir
turap. Namun jangkauan ekskavator sangat terbatas sehingga lumpur yang
di ambil yang berada di dekat stuktur turap berdiri. Hal tersebut membuat
turap kehilangan daya dukungnya dan hasil lumpur yang di ambil di
letakkan di atas turap. Sehingga beban yang ada di atas turap bertambah
dan turap melemah karena adanya pengerukan di tempat turap itu berdiri.
Maka turap tidak dapat bertahan yang pada akhirnya terjadi keruntuhan
yang cukup parah dengan panjang hampir 40 m.

36
4.2.1 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Normal

Keterangan :
L1=1 , 34 m ( panjang turap )

L2=2 , 32 m ( panjang turap )

γ =14,52 kN /m 2 ( berat volume)


C = 21,35 kN /m 2 ( kohesi tanah clay )
P1 = T ekanan tanah aktif ( kN /m 2 )

z 1 = K edalaman dari permukaan tanah hingga lapisan

tanah liat ( m)

σ1 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

tertentu dari permukaan tanah atau air tertentu dari ( kN /m 2 )

36
σ2 = Tegangan total atau efektif pada titik lain yang berbeda

kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )

σ6 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

σ7 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

L3 = Panjang Embedment atau Penetrasi Turap di Tanah (m)

L4 = Jarak antara Titik Tekanan atau Jarak dari Garis Pengerukan

ke Titik Tekanan Tertentu (m)


'
z = Kedalaman Efektif di Bawah Garis Pengerukan (m)

G = Pengaruh gaya ( kN )

σ6 = Tekanan pasif dari kanan ke kiri ( kN /m 2 )

σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )

D = kedalaman penetrasi teoritis tanah liat ( m )

 Mencari nilai γ sat

( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1 .1 , 5 .9 ,81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 1 6 , 48 kN/m 2

 Mencari nilai γ '


'
γ =γ sat −γ w
¿ 1 6 , 48−9 , 81
¿ 6 , 67

 Mencari Nilai D

36
a) Koefisein Tekanan Tanah

Ka = tan2 45−( 2∅ )
= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429

a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×1.34 ×0,429
= 8,34 kN /m 2

b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =(γ x L1 +γ ' x L2 )K a
= ( 14,52 × 1,34 + 6.67 × 2,32 ) 0,429
¿ 14,98 kN/m 2

c) Menghitung Tekanan (P1)


1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 8,34 )( 1,34 ) + ( 8,34 ) (2,32 ) + ( 21,68 − 4,225 ) 2,32
2 2
¿ 5,587 + 19,348 + 20,247
¿ 45,18 kN /m 2

d) Menghitung nilai

z1 =
1
45,18
[5,587 2,32 +(1,34
2,32 ) + 19,348(2,32
1,34 )
+ 31,082 (
2,32 )
2,32
¿

= 1,78 m

e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[ '
]
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 − = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c

36
45,18 ( 45,18 +
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(1,34) + (6,67) . 2,32)]−2D(45,18 ) ] −
( 14,52 ) (1,34 ) +

= 2,09 m

f) Menghitung L4

L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
2,09 (40,468)−45,18
L4 =
4(21,35)
¿ 0,148 m

g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (1,34) + (6,67) . 2,32)
2
=40,468 kN / m

h) Menghitung σ6 dan σ7
' 2
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 ) = 40,468 kN / m
' 2
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 ) = 120,331kN / m

i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical

ᵙ 1,5 (2,09)

ᵙ 3,135 m

j) Menghitung z '

' P1 45,18
Z= = = 1,12 m
σ 6 40,468
2
σ6 z'
= P1 ( z + z1 ) -
' '
M max
2

36
2
( ) 40,468 (1,12)
M max = 45,18 1,12 + 1,78 -
2
= 131,02 − 25,38
= 105,64 kN -m/m

4.2.2 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Setelah di Gali

 Kondisi Turap yang Tidak Runtuh di Lokasi Penelitian

Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )

L2=1 , 27 m ( panjang turap )

γ =14,52 kN /m 2 ( berat volume)


C = 21,35 kN /m 2 ( kohesi tanah clay )
P1 = Tekanan tanah aktif ( kN /m 2 )

z 1 = K edalaman dari permukaan tanah hingga lapisan

tanah liat ( m)

36
σ1 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

tertentu dari permukaan tanah atau airtertentu dari ( kN /m 2 )

σ2 = Tegangan total atau efektif pada titik lain yang berbeda

kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )

σ6 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

σ7 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

L3 = Panjang Embedment atau Penetrasi Turap di Tanah (m )

L4 = Jarak antara Titik Tekanan atau Jarak dari Garis Pengeruka n

ke Titik Tekanan Tertentu (m )


'
z = Kedalaman Efektif di Bawah Garis Pengerukan (m )

G = Pengaruh gaya ( kN )

σ6 = Tekanan pasif dari kanan ke kiri ( kN /m 2 )

σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )

D = kedalaman penetrasi teoritis tanah liat ( m )

 Mencari nilai γ sat

( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1. 1, 5 .9 , 81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 16 , 48 kN/m2

 Mencari nilai γ '


'
γ =γ sat −γ w
¿ 1 6 , 48−9 , 81

36
¿ 6 , 67

 Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah

Ka = tan 45− ( 2∅ )
2

= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429

a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2

b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.27 ) 0,429
¿ 9,24 kN/m 2

c) Menghitung Tekanan (P1)


1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.27 ) + ( 9,24 − 5,60 ) 1,27
2 2
¿ 2,52 + 7,11 + 2,31
¿ 11,94 kN/m 2

d) Menghitung nilai z 1

z1 =
1
11,94 (
[2,52 1,27 +
0,9
1,27 ) + 7,11(1,27
0,9 ) + 2,31 (
1,27 )
1,27
¿

36
= 1,45 m

e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c

11,94 ( 11,94+ ( 1
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,27)]−2D(11,94 ) ] −
( 14,52 )( 0,9 ) + ( 6,

= 1,28 m

f) Menghitung L4

L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,28 (63,861)−11,94
L4 =
4(21,35)
= 0,816 m

g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,27)
2
=63,861 kN / m

h) Menghitung σ6 dan σ7
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )−¿
2
= 63,861 kN / m

'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 106,938 kN / m

i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical

36
ᵙ 1,5 (1,28)

ᵙ 1,92 m

j) Menghitung z '

' P1 11,94
z= = = 0,19 m
σ6 63,861
2
σ6 z'
M max = P1 ( z + z1 ) -
' '
2
2
63,861 (0,19)
M max = 11,94 ( 0,19 + 1,45 ) -
2
= 19,53 − 1,15
= 18,38 kN -m/m

 Kondisi Turap yang Runtuh di Lokasi Penelitian di Titik 1

36
Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )

L2=1 , 50 m ( panjang turap )

γ =14,52 kN /m 2 ( berat volume)


C = 21,35 kN /m 2 ( kohesi tanah clay )
P1 = Tekanan tanah aktif ( kN /m 2 )

z 1 = K edalaman dari permukaan tanah hingga lapisa n

tanah liat ( m)

σ1 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

tertentu dari permukaan tanah atau airtertentu dari ( kN /m 2 )

σ2 = Tegangan total atau efektif pada titik lain yang berbeda

kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )

σ6 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

σ7 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

L3 = Panjang Embedment atau Penetrasi Turap di Tanah (m )

L4 = Jarak antara Titik Tekanan atau Jarak dari Garis Pengeruka n

ke Titik Tekanan Tertentu (m )


'
z = Kedalaman Efektif di Bawah Garis Pengerukan (m )

G = Pengaruh gaya ( kN )

σ6 = Tekanan pasif dari kanan ke kiri ( kN /m 2 )

σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )

D = kedalaman penetrasi teoritis tanah liat ( m )

36
 Mencari nilai γ sat

( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1. 1, 5 .9 , 81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 16 , 48 kN/m2

 Mencari nilai γ '


'
γ =γ sat −γ w
¿ 1 6 , 48−9 , 81
¿ 6 , 67

 Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah

( 2∅ )
Ka = tan2 45−

= tan (45− )
223,5
2
= 0,429

a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2

b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.50 ) 0,429
¿ 9,89 kN/m 2

c) Menghitung Tekanan (P1)

36
1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.50 ) + ( 9,89 − 5,60 ) 1,50
2 2
¿ 2,52 + 8,4 + 3,217
¿ 14,137 kN /m 2

d) Menghitung nilai z 1

z1 =
1
14,137 (
[2,52 1,50+
0,9
1,50 ) + 8,4 (1,50
0,9 ) + 3,217 (
1,50 )
1,50
¿

= 1,59 m

e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c

14,137 (14,137
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,50)]−2D(14,137 ) ] −
( 14,52 ) ( 0,9 ) + ( 6

= 1,45 m

f) Menghitung L4

L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,45 (62,327)−14,137
L4 =
4(21,35)
= 0,892 m

g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,50) ]
2
=62,327 kN / m

h) Menghitung σ6 dan σ7

36
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
= ( 4 )( 21,35 ) -[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,50)
2
= 62,327 kN / m

'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 108,473 kN / m

i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical

ᵙ 1,5 (1,45)

ᵙ 2,18 m

j) Menghitung z '

' P1 14,137
z= = = 0,22 m
σ6 62,327
2
σ6 z'
M max = P1 ( z + z1 ) -
' '
2
2
62,327 (0,22)
M max = 14,137 ( 0,22 +1,59 ) -
2
= 25,16 − 1,50
= 23,66 kN-m/m

36
 Kondisi Turap yang Runtuh di Lokasi Penelitian di Titik 1

Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )

L2=1 , 27 m ( panjang turap )

γ =14,52 kN /m 2 ( berat volume)


C = 21,35 kN /m 2 ( kohesi tanah clay )
P1 = Tekanan tanah aktif ( kN /m 2 )

z 1 = K edalaman dari permukaan tanah hingga lapisan

tanah liat ( m)

σ1 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

tertentu dari permukaan tanah atau airtertentu dari ( kN /m 2 )

σ2 = Tegangan total atau efektif pada titik lain yang berbeda

kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )

σ6 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

36
σ7 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n

L3 = Panjang Embedment atau Penetrasi Turap di Tanah (m)

L4 = Jarak antara Titik Tekanan atau Jarak dari Garis Pengerukan

ke Titik Tekanan Tertentu (m)


'
z = Kedalaman Efektif di Bawah Garis Pengerukan (m)

G = Pengaruh gaya ( kN )

σ6 = Tekanan pasif dari kanan ke kiri ( kN /m 2 )

σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )

D = kedalaman penetrasi teoritis tanah liat ( m )

 Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah

( 2∅ )
Ka = tan2 45−

= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429

a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2

b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.60 ) 0,429
¿ 10,184 kN/m 2

c) Menghitung Tekanan (P1)

36
1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.60 ) + (10,184 − 5,60 ) 1,60
2 2
¿ 2,52 + 8,96 + 3,667
¿ 15,147 kN /m 2

d) Menghitung nilai z 1

z1 =
1
15,147
[2,52 1,60+ (
0,9
1,60 ) + 8,96(1,60
0,9 ) + 3,667 (
1,60 )
1,60
¿

= 1,65 m

e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c

15,147 (15,147
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,60)]−2D(15,147 ) ] −
( 14,52 ) ( 0,9 ) + ( 6

= 1,54 m

f) Menghitung L4

L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,54 (61,66)−15,147
L4 =
4(21,35)
= 0,934 m

g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,60) ]
2
=61,66 kN / m

36
h) Menghitung σ6 dan σ7
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
= ( 4 )( 21,35 ) -[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,60)
2
= 61,66 kN / m

'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 109,14 kN / m

i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical

ᵙ 1,5 (1,54)

ᵙ 2,31 m

j) Menghitung z '

' P1 15,147
z= = = 0,25 m
σ6 61,66
2
σ6 z'
= P1 ( z + z1 ) -
' '
M max
2
2
61,66 (0,25)
M max = 15,147 ( 0,25 + 1,65 ) -
2
= 28,77 − 1,92
= 26,85 kN-m/m

36
4.2.3 Menentukan Nilai Beban Hasil Galian Sungai yang Berada di Atas
Turap

- Menghitung Nilai q Ka
q Ka = γ. H. Ka
= 14,52 ×6,795 ×0,429
= 42,32 kN /m 2
- Menghitung Nilai Beban Luar (q)

h =1 m
ɤ timbunan =1,5 t/ m 3

q = ɤ .h = 1,5 ×1

= 1,5 t/ m 3 = 14,715 kN /m 2

36
- Hitung Kedalaman Turap (D)

qKa = tekanan tanah aktif (dalam kN/m²)


γ\gammaγ = berat satuan tanah (dalam
kN/m³),
 Ka= adalah koefisien tekanan tanah
aktif.
q Ka
D=
γ . Ka
42,32
D=
14,52 . 0,429
¿ 6 , 79 m

- Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical

ᵙ 1,5 (6,79)

ᵙ 10,185 m

a) Menghitung Tekanan di Tambah Beban di Atas Turap


1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2 +¿. H)]
2 2

1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.60 ) + (10,184 − 5,60 ) 1,60 +( 14,715 × 42,32 × 6
2 2
¿ 45,18 kN /m 2 + 4231,51 kN.m 2
¿ 45,18 kN /m 2 + 105,79 kN /m 2
¿ 150,97 kN /m 2

b) Menghitung nilai z 1

z1 =
1
15,147
[2,52 1,60+(0,9
1,60 ) +8,96(1,60
0,9 ) +3,667 (
1,60 )
1,60
¿

+ [( Beban Luar (q) . q Ka . H)]

¿ 1,65 m + (14,715 × 42,32 × 6,795)

=1,65 m + 4231,51kN/m 2

=1,65 m + 105,79 kN /m 2

36
=

Gs = 2,697
e = 32,045
γw = 9,81 kN/m3
S =1
w = 85,114 % = 0,851 (kadar air)
γ = 1,481 (Berat volume)
Gs = 2,697 (Berat jenis)

( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2,697.9 , 81+ 1.32,045.9 , 81)
γ sat =
1+32,045
¿ 10,313

Gs . γ w .(1+ w)
e= −1
γ
2,697.9 , 81 .(1+0,851)
¿ −1
1,482
¿ 32,045

'
γ =γ sat −γ w
¿ 10,313−9 , 81
¿ 0,503

36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
……………………………….
5.2 Saran
Pada hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa
…………………………………………………………….

36
DAFTAR PUSTAKA
Aprilia, I, S dan Zunggaval, L E. Peran Negara Terhadap Dampak Pencemaran Air
Sungai. 2019;2(1):17.

Craig, R. F., S., Budi Susilo., 1989. Mekanika Tanah, Edisi 4, Penerbit Erlangga,
Jakarta.

Das, B.M, 2011. Principles of Foundation Engineering, Seventh edition, PWS


Publishing Company

Das, Braja M., (1993), Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis)


Jilid I, Erlangga, Jakarta.

Das, Braja M., (1994), Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis)


Jilid II, Erlangga, Jakarta.

Hardiyatmo, H. C., (2017), Analisis dan Perancangan Fondasi I, Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.

Hardiyatmo, H. C., (2015), Analisis dan Perancangan Fondasi II, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

36
Hardiyatmo, H. C., (2002), Mekanika Tanah I, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Hardiyatmo, Hary Christady. (2012). Mekanika Tanah I. edisi. ke-6. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

Hardiyatmo, Hary Christady. (2010). Mekanika Tanah II. edisi. ke-5. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Soedarmo, G. Djatmiko dan Purnomo, S. J. Edy, (1997), Mekanika Tanah I,


Kansius, Yogyakarta.

Soedarmo, G. Djatmiko dan Purnomo, S. J. Edy, (1997), Mekanika Tanah II,


Kansius, Yogyakarta.

Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian, Jakarta, Rajawali Press 1983

Supirin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi Offset. Yogyakarta

Terzaghi, K. dan Peck, R. B., (1993), Mekanika Tanah dalam Praktik Rekayasa,
Erlangga, Jakarta.

Wesley, Laurence D., (2012), Mekanika Tanah untuk Tanah Endapan dan Residu,
Andi, Yogyakarta.

Zainal dan N, Sri Respati. 1995, Pondasi untuk Mahasiswa Politeknik Program
Studi Teknik Sipil, Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik,
Bandung.

36
37

Anda mungkin juga menyukai