Kegagalan Turap Beton di Singkawang
Kegagalan Turap Beton di Singkawang
KOTA SINGKAWANG
OLEH:
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2024
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI......................................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR........................................................................................................1
DAFTAR TABEL.............................................................................................................2
BAB I................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................5
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................6
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................................6
1.5 Pembatasan Masalah.......................................................................................6
1.6 Diagram Alir Penelitian.............................................................................................7
BAB II...............................................................................................................................9
TINJUAN PUSTAKA......................................................................................................9
2.1 Turap.................................................................................................................9
2.1.1 Fungsi Turap....................................................................................................9
2.1.2 Jenis-Jenis Turap.............................................................................................9
2.1.3 Tipe-tipe Dinding Turap...............................................................................12
2.3 Sifat Fisis Tanah...................................................................................................17
2.4 Sifat Mekanis Tanah.............................................................................................17
2.5 Kuat Geser............................................................................................................18
2.6 Tekanan Tanah.....................................................................................................20
2.6.1 Tekanan Tanah Aktif.....................................................................................20
2.6.2. Tekanan Tanah Pasif....................................................................................21
2.7 Cantilever Sheet Piling Penetrating Clay...........................................................23
2.7.1. Momen Lentur Maksimum..........................................................................25
BAB III.............................................................................................................................1
METODOLOGI PENELITIAN......................................................................................1
3.1 Lokasi Penelitian....................................................................................................1
3.2 Metode Pengumpulan Data.............................................................................1
3.3 Metode Analisis Data........................................................................................2
3.3 Pengambilan Sampel Tanah dan Penentuan Titik Pengukuran.........................3
i
3.4 Uji Sampel Tanah Asli............................................................................................6
3.5.2. Sketsa Model Turap......................................................................................32
BAB IV............................................................................................................................33
HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................................33
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian..................................................................33
4.2 Hasil Perhitungan.................................................................................................33
4.2.1 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Normal.................34
4.2.2 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Setelah Digali......36
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................44
ii
DAFTAR GAMBAR
iii
DAFTAR TABEL
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan infrastruktur di daerah perkotaan sering kali dihadapkan
pada tantangan geoteknik yang kompleks, terutama di daerah yang berdekatan
dengan badan air seperti sungai. Turap beton merupakan salah satu solusi yang
sering digunakan untuk memperkuat tepi sungai dan mencegah erosi. Fungsi
utama dari turap beton adalah memberikan kestabilan pada tanah di sekitar tepi
sungai dan melindungi infrastruktur yang ada di dekatnya. Namun, efektivitas
turap beton sangat tergantung pada perencanaan, konstruksi, dan pemeliharaannya
yang tepat.
Stabilitas dan daya dukung turap beton dipengaruhi oleh berbagai faktor,
termasuk kualitas bahan, metode konstruksi, dan kondisi lingkungan sekitar.
Dalam konteks perkotaan yang terus berkembang, pemeliharaan dan evaluasi
terhadap struktur turap beton menjadi sangat penting. Salah satu aspek penting
dalam menjaga kestabilan turap adalah pemahaman tentang parameter struktural
seperti nilai D (dimensi tertentu dari turap). Parameter ini sangat penting untuk
memastikan turap dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan mencegah
terjadinya keruntuhan yang dapat membahayakan keselamatan dan infrastruktur di
sekitarnya.
Penelitian ini berfokus pada salah satu kasus spesifik di dekat Pasar Jalan
Alianyang di Kota Singkawang. Kota Singkawang, sebagai salah satu kota yang
berkembang pesat di Kalimantan Barat, memiliki tantangan tersendiri terkait
dengan pengelolaan infrastruktur di sekitar wilayah sungainya. Turap beton di
area ini dirancang untuk melindungi tepi sungai dari erosi dan menjaga stabilitas
tanah. Namun, pada kenyataannya, banyak faktor yang dapat mempengaruhi
kestabilan turap beton, termasuk aktivitas manusia seperti pengerukan sungai.
iii
yang terbatas menyebabkan lumpur yang diambil berasal dari area yang sangat
dekat dengan struktur turap. Hal ini mengakibatkan turap kehilangan daya
dukungnya karena lumpur yang seharusnya menopang struktur tersebut
dihilangkan. Selain itu, lumpur hasil pengerukan kemudian diletakkan di atas
turap, menambah beban di atasnya secara signifikan. Beban tambahan ini
memperparah kondisi turap yang sudah melemah, sehingga turap tidak mampu
menahan beban tersebut dan akhirnya mengalami keruntuhan yang cukup parah
dengan panjang hampir 40 meter.
iv
1. Bagaimana menentukan nilai D pada saat turap dalam kondisi normal?
2. Bagaimana menentukan nilai D pada saat turap dalam kondisi setelah
digali?
3. Bagaimana menentukan nilai D pada turap dimana terdapat beban (q)
di atas turap?
iv
1. Penelitian ini akan berfokus pada Sungai Singkawang Jalan Alianyang,
yang terletak di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia, sebagai
lokasi utama penelitian.
2. Penelitian ini akan mengukur dan menganalisis satu parameter utama,
yaitu nilai D (dimensi tertentu dari turap) dalam kondisi normal, setelah
digali dan adanya beban. Parameter lain yang mungkin mempengaruhi
stabilitas turap tidak akan menjadi fokus utama penelitian ini.
3. Penelitian difokuskan pada turap beton dalam kondisi normal sebelum
terjadinya keruntuhan. Kondisi abnormal atau kerusakan lain yang tidak
terkait dengan pengerukan tidak akan dianalisis secara mendalam.
iv
1.6 Diagram Alir Penelitian
Persiapan
Identifikasi Masalah
Rumusan Masalah
Kajian Literatur
Pengumpulan Data
Analisis Data
Uji Labolatorium
Perhitungan Manual
3. Sifat Fisis
4. Sifat Mekanis 1. Metode Rankine
- Uji Geser Langsung (Shear Test)
- Uji Unconfined Compressive Strength (UCS).
Selesai
iv
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Turap
Turap adalah konstruksi yang dapat menahan tekanan tanah di
sekelilingnya, mencegah terjadinya kelongsoran dan biasanya terdiri dari
dinding turap dan penyangganya. Konstruksi dinding turap terdiri dari
beberapa lembaran turap yang dipancangkan ke dalam tanah, serta
membentuk formasi dinding menerus vertikal yang berguna untuk
menahan timbunan tanah atau tanah yang berlereng. Turap terdiri dari
bagian-bagian yang dibuat terlebih dahulu (pre- fabricated) atau dicetak
terlebih dahulu (pre-cast) (Sri Respati, 1995).
2.1.1 Fungsi Turap
Turap (Sheet Pile) sering digunakan dalam pekerjaan konstruksi
tanah untuk menjaga ke stabilan tanah dari keruntuhan. Baik itu karena
beban yang bekerja di sekitarnya, berat tanah itu sendiri ataupun akibat
beban air yang berada pada sekitar konstruksi turap seperti halnya dalam
pekerjaan konstruksi dermaga ataupun bendungan. Fungsi turap sebagai
berikut;
a. Struktur penahan tanah, misalnya pada tebing
jalan raya atau tebing sungai
b. Struktur penahan tanah pada galian
c. Struktur penahan tanah yang berlereng atau curam
agar tanah tersebut tidak longsor
d. Konstruksi bangunan yang ringan, saat kondisi
tanah kurang mampu untuk mendukung dinding
penahan tanah
2.1.2 Jenis-Jenis Turap
A. Turap Kayu
Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak
begitu tinggi, karena tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar.
Turap ini tidak cocok digunakan pada tanah berkerikil, karena turap
cenderung pecah bila dipancang. Bila turap kayu digunakan untuk
iv
bangunan permanen yang berada di atas muka air, maka perlu diberikan
lapisan pelindung agar tidak mudah lapuk. Turap kayu banyak digunakan
pada pekerjaaan-pekerjaan sementara, misalnya untuk penahan tebing
galian. Bentuk-bentuk susunan turap kayu dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.
B. Turap Beton
Turap beton merupakan balok-balok yang telah di cetak sebelum
dipasang dengan bentuk tertentu. Balok-balok turap dibuat saling
mengkait satu sama lain. Masing-masing balok, kecuali dirancang kuat
menahan beban-beban yang bekerja pada turap, juga terhadap beban-
beban yang akan bekerja pada waktu pengangkatannya. Ujung bawah
turap biasanya dibentuk meruncing untuk memudahkan pemancangan.
Turap beton biasa digunakan pada bangunan permanen atau pada detail-
detail konstruksi yang agak sulit.
iv
C. Turap Baja
Turap baja adalah jenis paling umum yang digunakan, baik
digunakan untuk bangunan permanen atau ssementara karena beberapa
sifat- sifatnya sebagai berikut:
a. Tahan terhadap tegangan dorong tinggi yang dikembangkan
di dalam bahan keras atau bahan batuan
b. Mempunyai berat relatif yang tinggi
c. Dapat dipakai berulang-ulang
d. Umur pemakaiannya cukup panjang baik di atas maupun
di bawah air dengan perlindungan sederhana menurut NBS
(1962) yang meringkaskan data tentang sejumlah tiang
pancang yang diperiksa setelah pemakaian yang
berlangsung lama
e. Mudah menambah panjag tiang pancang dengan mengelas
maupun dengan memasang baut
iv
menahan beban lateral mengandalkan tahanan tanah didepan
dinding. Defleksi lateral yang terjadi relatif besar pada
pemakaian turap kantilever. Karena luas tampang bahan
turap yang dibutuhkan bertambah besar dengan ketinggian
tanah yang ditahan (akibat momen lentur yang timbul).
Turap kantilever hanya cocok untuk menahan tanah denga
ketinggian/kedalaman yang sedang.
iv
Gambar 2.5 Dinding Turap Diangker
iv
3. Dinding Turap dengan Landasan (platform)
Dinding turap semacam ini dalam menahan tekanan tanah
lateral dibantu oleh tiang-tiang, dimana diatas tiang tiang-
tiang tersebut dibuat landasan untuk meletakkan bangunan
tertentu. Tiang-tiang pendukung landasan juga berfungsi
untuk mengurangi beban lateral pada turap. Dinding turap
ini dibuat bila di dekat lokasi dinding turap direncanakan
akan dibangun jalan kereta api, mesin derek atau bangunan-
bangunan berat lainnya.
iii
Gambar 2.7 Bendungan Elak Seluler
iv
2.3 Sifat Fisis Tanah
Akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai atau lemah
ikatan antarpartikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan.
Diantara partikel-partikel tanah terdapat ruang kosong yang disebut pori-
pori (void space) yang berisi air dan/atau udara. Ikatan yang lemah antara
partikel-partikel tanah disebabkan oleh pengaruh karbonat atau oksida
yang tersenyawa di antara partikel-partikel tersebut, atau dapat juga
disebabkan oleh adanya material organik. Bila hasil dari pelapukan
tersebut di atas tetap berada pada tempat semula, maka bagian ini disebut
tanah sisa (residual soil). Hasil pelapukan yang terangkut ke tempat lain
dan mengendap di beberapa tempat yang berlainan disebut tanah bawaan
(transportation soil). Media pengangkut tanah berupa gaya gravitasi,
angin, air, dan glesyer. Pada saat berpindah tempat, ukuran dan bentuk
partikel-partikel dapat berubah dan terbagi dalam beberapa rentang
ukuran. (R.F Craig, 1989)
Untuk mendapatkan sifat-sifat fisik tanah, ada beberapa
ketentuan yang harus diketahui terlebih dahulu, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Kadar Air
2. Berat Volume
3. Analisa Saringan
4. Berat Jenis
5. Batas Atterberg
2.4 Sifat Mekanis Tanah
Sifat mekanis tanah merupakan sifat perilaku dari struktur massa
tanah pada dikenai suatu gaya atau tekanan yang dijelaskan secara teknis
mekanis. Sifat mekanis tanah juga dapat dilakukan dengan cara
mengambil tanah langsung ditempat dan menggantinya dengan material
granuler ditempat lain. Menurut lambe (1962), dalam Harry Cristady
Hardiyatmo (2010), stabilisasi mekanis merupakan suatu proses yang
menyangkut dua cara perubahan sifat – sifat tanah:
iii
a. Penyusunan kembali partikel – partikel tanah, seperti contohnya
pencampuran beberapa lapisan tanah, pembentukan kembali tanah
yang telah terganggu dan pemadatan.
b. Penambahan atau penyingkiran partikel-partikel tanah, sifat fisik tanah
tertentu dapat diubah dengan menambahkan dan memisahkan ini
umumnya sangat lebih rendah dibandingkan dengan metode stabilisasi
yang lain.
iv
tanah terhadap dinding penahan (earth preassure) dan kestabilan lereng
(slope stability).
Kuat Geser Tanah Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang
dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan
dasar pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh
(Hardiyatmo, 2002): 1. Kohesi tanah yang bergantung pada jenis tanah dan
kepadatannya, tetapi tidak tergantung dari tegangan normal yang bekerja
pada bidang geser, 2.
iv
2.6 Tekanan Tanah
2.6.1 Tekanan Tanah Aktif
Menurut Hardiyatmo (2015) tekanan tanah aktif adalah tekanan
yang terjadi pada dinding penahan yang mengalami keluluhan atau
bergerak ke arah luar dari tanah urugan di belakangnya, sehingga
menyebabkan tanah urug akan bergerak longsor ke bawah dan menekan
dinding penahannya, sedangkan nilai banding Gambar 7 Diagram
Tekanan Tanah Aktif tekanan horisontal dan tekanan vertikal yang terjadi
didefinisikan sebagai koefisien tekanan tanah aktif atau Ka. Nilai tekanan
aktif lebih kecil dari nilai tekanan saat diam. Gerakan dinding tanah
menjauhi tanah urugan menghilangkan pertahanan di belakang dinding.
Jadi tekanan tanah aktif adalah gaya yang cenderung mengurangi
keseimbangan dinding penahan tanahnya seperti gambar dibawah ini.
iv
Keterangan:
φ = Sudut geser tanah (o)
Ka = Koefisien tanah aktif
1. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah non kohesif Nilai Pa
untuk tanah non kohesif dinyatakan dalam Persamaan 3.2 berikut ini
Pa = 1 2 γ. 𝐻 2. 𝐾𝑎 (3.2)
2. Menghitung tekanan tanah aktif untuk tanah kohesif Nilai Pa untuk
tanah kohesif dinyatakan dalam Persamaan berikut ini.
Pa = 1 2 γ. 𝐻 2. 𝐾𝑎 − 2𝑐√𝑘𝑎 (3.3)
Keterangan:
iv
Gambar 8. Diagram Tekanan Tanah Pasif (Sumber : Das,2011)
Untuk nilai tekanan tanah pasif untuk tanah lateral dihitung dengan
cara yang sama pada tekanan tanah aktif menggunakan teori Rankine
yang dibagi menjadi nilai tekanan tanah pasif untuk tanah datar dan
nilai tekanan tanah pasif untuk tanah miring. Prosedur perhitungannya
digunakan metode Rankine seperti rumus dibawah ini.
Nilai Kp untuk tanah datar dinyatakan dalam Persamaan sebagai
berikut
Kp = 1+𝑠𝑖𝑛𝜑 1−𝑠𝑖𝑛𝜑 = 𝑡𝑎𝑛2. (45° + 𝜑 2)
Keterangan:
φ = Sudut geser tanah (o)
Kp = Koefisien tanah aktif
iv
2.7 Cantilever Sheet Piling Penetrating Clay
Turap kantilever harus dipancang ke dalam lapisan lempung yang
tidak terdrainase dengan kohesi c (p = 0). Gambar 10 menunjukkan
dinding turap kantilever yang dipancang ke dalam lempung dengan
timbunan tanah granuler di atas permukaan garis keruk. Muka air berada
pada kedalaman L di bawah bagian atas dinding. Seperti sebelumnya,
Persamaan σ 1 = γ.L1.Ka dan persamaan σ 2 = (γ.L1 + γ’.L2)Ka memberikan
intensitas tekanan netto dan diagram untuk distribusi tekanan di atas
permukaan garis keruk. Diagram untuk distribusi tekanan bersih di bawah
garis keruk sekarang dapat ditentukan sebagai berikut. Pada setiap
kedalaman yang lebih besar dari L, untuk c = 0, koefisien tekanan tanah
aktif Rankine K = 1. Demikian pula, untuk c = 0, koefisien tekanan tanah
pasif Rankine juga berlaku.
iv
Gambar 9. Cantilever sheet pile penetrating clay
Demikian pula, tekanan pasif dari kiri ke kanan dapat dinyakatan sebagai
berikut
(2)
iv
Sekarang, mengambil momen terhadap titik B (∑ M B=0 ¿ menghasilkan
(8)
menghasilkan
(9)
Atau (10)
(11)
iv
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1
- Pengambilan sampel tanah asli ( Hand Boring ) pada 2
titik berbeda yang merupakan tanah undisturbed
sample
2. Pengujian Laboratorium
a) Uji Sifat Fisis
- Kadar Air
- Berat Volume
- Berat Jenis
- Analisa Saringan
- Batas Atterberg
b) Uji Sifat Mekanis
- Uji Geser Langsung (Shear Test)
- Uji Unconfined Compressive Strength (UCS).
Data Sekunder
Data sekunder merujuk pada informasi yang sebelumnya
dikumpulkan atau dilaporkan oleh pihak lain atau individu di
luar lingkup penelitian itu sendiri. Jenis data ini bisa berasal
dari tinjauan literatur maupun hasil percobaan yang telah
dilakukan oleh lembaga atau individu lain. Data sekunder
dalam penelitian ini adalah data dari Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA), berupa gambar ACAD
proyek turap pada saat sebelum terjadi keruntuhan.
3.3 Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teori dan rumus Rankine mengenai
tekanan tanah aktif dan tekanan tanah pasif yang diperoleh dari beberapa
modul terkait turap kantilever. Data-data yang dikumpulkan dari hasil
laboratorium akan digunakan sebagai bahan dalam menganalisis kondisi
dan karakteristik tanah yang sedang diteliti. Dalam rangka memudahkan
perhitungan serta melengkapi kajian pustaka, analisis data akan dilakukan
menggunakan perangkat lunak seperti AutoCad dan Microsoft Word, serta
referensi dari beberapa literatur buku mekanika tanah yang relevan.
2
Pengumpulan data di lapangan harus dilakukan dengan seteliti
mungkin agar diperoleh data yang akurat dan memenuhi standar
penelitian. Data yang dibutuhkan untuk proses perhitungan akan langsung
diminta dari pihak Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA). Data ini mencakup beberapa hasil laboratorium mekanika
tanah serta hasil pengeboran (boring) yang dilakukan di lapangan. Setiap
informasi yang diperoleh akan dianalisis dengan cermat untuk memastikan
validitas dan keandalannya dalam konteks penelitian ini.
Dengan menggunakan metode dan alat bantu yang tepat,
diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang akurat dan
komprehensif mengenai tekanan tanah aktif dan pasif pada turap
kantilever, serta memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang
teknik sipil, khususnya dalam hal desain dan analisis struktur tanah.
3.3 Pengambilan Sampel Tanah dan Penentuan Titik Pengukuran
Pada pengambilan sampel tanah dan lokasi pengukuran dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Pengambilan Sampel Tanah
Pada tahap pelaksanaan pekerjaan lapangan, tindakan yang
dilakukan melibatkan serangkaian aktivitas terkait dengan
pengambilan sampel tanah. Prosedur ini terfokus pada area
tertentu, yakni daerah Jalan Alianyang di Kota Singkawang,
Kalimantan Barat, sebagai lokasi utama pengumpulan data.
Dalam konteks pengambilan sampel tanah, penekanan utama
adalah pada pemilihan tanah yang berada dalam kondisi tidak
terganggu oleh timbunan atau bersifat asli. Hal ini penting
untuk memastikan bahwa sampel yang diambil mencerminkan
kondisi alamiah dari daerah tersebut. Pengambilan sampel
dilakukan pada dua titik berbeda di daerah tersebut untuk
memperoleh representasi yang lebih luas dan memahami
variasi potensial dalam karakteristik tanah.
3
Tindakan ini mencerminkan upaya serius dalam memastikan
bahwa sampel tanah yang diambil adalah representatif dari
keadaan sebenarnya di lapangan, dan pengambilannya
dilakukan secara sistematis untuk memastikan akurasi dan
validitas data yang akan digunakan dalam proses analisis lebih
lanjut. Dengan demikian, tahapan ini menjadi langkah krusial
dalam memastikan kredibilitas hasil penelitian terkait dengan
karakteristik tanah di daerah Jalan Alianyang, Kota
Singkawang, Kalimantan Barat.
4
diimplementasikan untuk memperoleh data yang lebih lengkap
dan mendalam. Pengukuran lebar sungai diambil pada tiga titik
keruntuhan turap di sepanjang daerah turap yang mengalami
kerusakan. Tindakan ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran yang komprehensif tentang dimensi Sungai pada
lokasi-lokasi tertentu yang terdampak. Penentuan tanah
timbunan di sekitar sungai menjadi salah satu fokus tambahan,
dan pengukuran kedalaman Sungai diambil pada tiga titik turap
yang mengalami keruntuhan. Langkah ini dilakukan untuk
memahami karakteristik tanah timbunan di sekitar sungai dan
mengukur variabilitas kedalaman sungai pada titik-titik yang
terdampak oleh keruntuhan turap.
Pengukuran dilakukan pada turap yang tidak mengalami
keruntuhan, menciptakan perbandingan yang relevan dengan
titik-titik yang mengalami kerusakan. Pendekatan ini
dimaksudkan untuk menyajikan perbandingan yang jelas antara
kondisi turap yang stabil dan yang mengalami keruntuhan,
membantu dalam evaluasi perbedaan karakteristik dan potensi
faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan struktur turap.
Dengan implementasi langkah-langkah tambahan ini,
diharapkan data yang diperoleh menjadi lebih komprehensif
dan mendalam terkait dengan kondisi sungai, tanah timbunan,
dan struktur turap yang memungkinkan analisis yang lebih
akurat dalam upaya pemahaman dan penanganan potensi
kerusakan di wilayah tersebut.
5
Gambar 3.2 Denah Lokasi Pengambilan Sampel Tanah
6
3.5.2. Sketsa Model Turap
32
33
34
35
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di dekat pasar Jalan Alianyang di Kota
Singkawang. Hasil pengukuran di lokasi penelitian menunjukkan bahwa
lebar sungai di sana adalah 18 meter, dan turap yang runtuh sepanjang 40
meter. Lumpur hasil pengerukan dari dasar sungai telah diletakkan di atas
turap dan ditimbun setinggi 1 meter dengan lebar gundukan 1,87 meter.
Ukuran pile cap (penutup tiang pancang) di lokasi penelitian adalah 70 cm
dengan tinggi 24 cm. Kemiringan turap yang runtuh sebesar 2,10m dari
turap asli.
Gambar
4.2 Hasil Perhitungan
Menjelaskan rumusan masalah yang akan di hitung Penelitian ini
dilakukan di dekat pasar Jalan Alianyang di Kota Singkawang.
Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian dan hasil tanya jawab
( Focus Group Discussion ) kepada Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah ( BAPPEDA ) keruntuhan turap pada tepi sungai tersebut terjadi di
karenakan adanya upaya pengerukan menggunakan ekskavator pada pingir
turap. Namun jangkauan ekskavator sangat terbatas sehingga lumpur yang
di ambil yang berada di dekat stuktur turap berdiri. Hal tersebut membuat
turap kehilangan daya dukungnya dan hasil lumpur yang di ambil di
letakkan di atas turap. Sehingga beban yang ada di atas turap bertambah
dan turap melemah karena adanya pengerukan di tempat turap itu berdiri.
Maka turap tidak dapat bertahan yang pada akhirnya terjadi keruntuhan
yang cukup parah dengan panjang hampir 40 m.
36
4.2.1 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Normal
Keterangan :
L1=1 , 34 m ( panjang turap )
tanah liat ( m)
36
σ2 = Tegangan total atau efektif pada titik lain yang berbeda
kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )
G = Pengaruh gaya ( kN )
σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )
( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1 .1 , 5 .9 ,81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 1 6 , 48 kN/m 2
Mencari Nilai D
36
a) Koefisein Tekanan Tanah
Ka = tan2 45−( 2∅ )
= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429
a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×1.34 ×0,429
= 8,34 kN /m 2
b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =(γ x L1 +γ ' x L2 )K a
= ( 14,52 × 1,34 + 6.67 × 2,32 ) 0,429
¿ 14,98 kN/m 2
d) Menghitung nilai
z1 =
1
45,18
[5,587 2,32 +(1,34
2,32 ) + 19,348(2,32
1,34 )
+ 31,082 (
2,32 )
2,32
¿
= 1,78 m
e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[ '
]
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 − = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c
36
45,18 ( 45,18 +
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(1,34) + (6,67) . 2,32)]−2D(45,18 ) ] −
( 14,52 ) (1,34 ) +
= 2,09 m
f) Menghitung L4
L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
2,09 (40,468)−45,18
L4 =
4(21,35)
¿ 0,148 m
g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (1,34) + (6,67) . 2,32)
2
=40,468 kN / m
h) Menghitung σ6 dan σ7
' 2
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 ) = 40,468 kN / m
' 2
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 ) = 120,331kN / m
i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical
ᵙ 1,5 (2,09)
ᵙ 3,135 m
j) Menghitung z '
' P1 45,18
Z= = = 1,12 m
σ 6 40,468
2
σ6 z'
= P1 ( z + z1 ) -
' '
M max
2
36
2
( ) 40,468 (1,12)
M max = 45,18 1,12 + 1,78 -
2
= 131,02 − 25,38
= 105,64 kN -m/m
4.2.2 Menentukan Nilai D Pada Saat Turap Dalam Kondisi Setelah di Gali
Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )
tanah liat ( m)
36
σ1 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n
kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )
G = Pengaruh gaya ( kN )
σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )
( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1. 1, 5 .9 , 81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 16 , 48 kN/m2
36
¿ 6 , 67
Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah
Ka = tan 45− ( 2∅ )
2
= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429
a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2
b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.27 ) 0,429
¿ 9,24 kN/m 2
d) Menghitung nilai z 1
z1 =
1
11,94 (
[2,52 1,27 +
0,9
1,27 ) + 7,11(1,27
0,9 ) + 2,31 (
1,27 )
1,27
¿
36
= 1,45 m
e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c
11,94 ( 11,94+ ( 1
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,27)]−2D(11,94 ) ] −
( 14,52 )( 0,9 ) + ( 6,
= 1,28 m
f) Menghitung L4
L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,28 (63,861)−11,94
L4 =
4(21,35)
= 0,816 m
g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,27)
2
=63,861 kN / m
h) Menghitung σ6 dan σ7
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )−¿
2
= 63,861 kN / m
'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 106,938 kN / m
i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical
36
ᵙ 1,5 (1,28)
ᵙ 1,92 m
j) Menghitung z '
' P1 11,94
z= = = 0,19 m
σ6 63,861
2
σ6 z'
M max = P1 ( z + z1 ) -
' '
2
2
63,861 (0,19)
M max = 11,94 ( 0,19 + 1,45 ) -
2
= 19,53 − 1,15
= 18,38 kN -m/m
36
Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )
tanah liat ( m)
kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )
G = Pengaruh gaya ( kN )
σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )
36
Mencari nilai γ sat
( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2 ,7 .9 , 81+1. 1, 5 .9 , 81)
γ sat =
1+1 ,5
3
¿ 1 , 68t /m
¿ 16 , 48 kN/m2
Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah
( 2∅ )
Ka = tan2 45−
= tan (45− )
223,5
2
= 0,429
a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2
b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.50 ) 0,429
¿ 9,89 kN/m 2
36
1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.50 ) + ( 9,89 − 5,60 ) 1,50
2 2
¿ 2,52 + 8,4 + 3,217
¿ 14,137 kN /m 2
d) Menghitung nilai z 1
z1 =
1
14,137 (
[2,52 1,50+
0,9
1,50 ) + 8,4 (1,50
0,9 ) + 3,217 (
1,50 )
1,50
¿
= 1,59 m
e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c
14,137 (14,137
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,50)]−2D(14,137 ) ] −
( 14,52 ) ( 0,9 ) + ( 6
= 1,45 m
f) Menghitung L4
L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,45 (62,327)−14,137
L4 =
4(21,35)
= 0,892 m
g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,50) ]
2
=62,327 kN / m
h) Menghitung σ6 dan σ7
36
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
= ( 4 )( 21,35 ) -[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,50)
2
= 62,327 kN / m
'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 108,473 kN / m
i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical
ᵙ 1,5 (1,45)
ᵙ 2,18 m
j) Menghitung z '
' P1 14,137
z= = = 0,22 m
σ6 62,327
2
σ6 z'
M max = P1 ( z + z1 ) -
' '
2
2
62,327 (0,22)
M max = 14,137 ( 0,22 +1,59 ) -
2
= 25,16 − 1,50
= 23,66 kN-m/m
36
Kondisi Turap yang Runtuh di Lokasi Penelitian di Titik 1
Keterangan :
L1=0 , 9 m ( panjang turap )
tanah liat ( m)
kedalamannya dari σ1 ( kN /m 2 )
36
σ7 = Tegangan total atau efektif pada titik di kedalama n
G = Pengaruh gaya ( kN )
σ7 = Tekanan total ( kN /m 2 )
Mencari Nilai D
a) Koefisein Tekanan Tanah
( 2∅ )
Ka = tan2 45−
= tan (45− )
2 23,5
2
= 0,429
a) Menghitung Tekanan (σ 1)
σ1 =γ . L1 . K a
=14,52 ×0,9 ×0,429
= 5,60 kN /m 2
b) Menghitung Tekanan (σ 2)
σ2 =( γ x L1 +γ x L2)K a
= ( 14,52 × 0,9 + 6.67 × 1.60 ) 0,429
¿ 10,184 kN/m 2
36
1 1
P1 = σ1 L1 + σ1 L2 + ( σ2−σ 1) L2
2 2
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.60 ) + (10,184 − 5,60 ) 1,60
2 2
¿ 2,52 + 8,96 + 3,667
¿ 15,147 kN /m 2
d) Menghitung nilai z 1
z1 =
1
15,147
[2,52 1,60+ (
0,9
1,60 ) + 8,96(1,60
0,9 ) + 3,667 (
1,60 )
1,60
¿
= 1,65 m
e) Menghitung D
P1 ( P1 + 12 cz1 )
2
[
D 4C− ( γ L1 + γ L2 ) −2DP 1 −
'
] = 0
( γ L1 + γ ' L 2) + 2c
15,147 (15,147
D2 [ (4)(21,35)−( (14,52) .(0,9) + (6,67) . 1,60)]−2D(15,147 ) ] −
( 14,52 ) ( 0,9 ) + ( 6
= 1,54 m
f) Menghitung L4
L4 =
[
D 4C−( γ L1 + γ L2 ) - P1
'
]
4c
1,54 (61,66)−15,147
L4 =
4(21,35)
= 0,934 m
g) Menghitung L4
4C−( γ L1 + γ ' L2 )
= ( 4 )( 21,35 )−[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,60) ]
2
=61,66 kN / m
36
h) Menghitung σ6 dan σ7
'
σ6 = 4c −(γ L1 + γ L2 )
= ( 4 )( 21,35 ) -[(14,52). (0,9) + (6,67) . 1,60)
2
= 61,66 kN / m
'
σ7 = 4c + (γ L1 + γ L2 )
¿ ( 4 ) ( 21 ,35 )+¿
2
= 109,14 kN / m
i) Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical
ᵙ 1,5 (1,54)
ᵙ 2,31 m
j) Menghitung z '
' P1 15,147
z= = = 0,25 m
σ6 61,66
2
σ6 z'
= P1 ( z + z1 ) -
' '
M max
2
2
61,66 (0,25)
M max = 15,147 ( 0,25 + 1,65 ) -
2
= 28,77 − 1,92
= 26,85 kN-m/m
36
4.2.3 Menentukan Nilai Beban Hasil Galian Sungai yang Berada di Atas
Turap
- Menghitung Nilai q Ka
q Ka = γ. H. Ka
= 14,52 ×6,795 ×0,429
= 42,32 kN /m 2
- Menghitung Nilai Beban Luar (q)
h =1 m
ɤ timbunan =1,5 t/ m 3
q = ɤ .h = 1,5 ×1
= 1,5 t/ m 3 = 14,715 kN /m 2
36
- Hitung Kedalaman Turap (D)
- Menghitung Dtheoretical
Dactual ᵙ Dtheoretical
ᵙ 1,5 (6,79)
ᵙ 10,185 m
1 1
¿ ( 5,60 ) ( 0,9 ) + ( 5,60 )( 1.60 ) + (10,184 − 5,60 ) 1,60 +( 14,715 × 42,32 × 6
2 2
¿ 45,18 kN /m 2 + 4231,51 kN.m 2
¿ 45,18 kN /m 2 + 105,79 kN /m 2
¿ 150,97 kN /m 2
b) Menghitung nilai z 1
z1 =
1
15,147
[2,52 1,60+(0,9
1,60 ) +8,96(1,60
0,9 ) +3,667 (
1,60 )
1,60
¿
=1,65 m + 4231,51kN/m 2
=1,65 m + 105,79 kN /m 2
36
=
Gs = 2,697
e = 32,045
γw = 9,81 kN/m3
S =1
w = 85,114 % = 0,851 (kadar air)
γ = 1,481 (Berat volume)
Gs = 2,697 (Berat jenis)
( G s . γ w +S . e . γ w )
γ sat =
1+e
(2,697.9 , 81+ 1.32,045.9 , 81)
γ sat =
1+32,045
¿ 10,313
Gs . γ w .(1+ w)
e= −1
γ
2,697.9 , 81 .(1+0,851)
¿ −1
1,482
¿ 32,045
'
γ =γ sat −γ w
¿ 10,313−9 , 81
¿ 0,503
36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
……………………………….
5.2 Saran
Pada hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa
…………………………………………………………….
36
DAFTAR PUSTAKA
Aprilia, I, S dan Zunggaval, L E. Peran Negara Terhadap Dampak Pencemaran Air
Sungai. 2019;2(1):17.
Craig, R. F., S., Budi Susilo., 1989. Mekanika Tanah, Edisi 4, Penerbit Erlangga,
Jakarta.
Hardiyatmo, H. C., (2015), Analisis dan Perancangan Fondasi II, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
36
Hardiyatmo, H. C., (2002), Mekanika Tanah I, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Hardiyatmo, Hary Christady. (2010). Mekanika Tanah II. edisi. ke-5. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Supirin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi Offset. Yogyakarta
Terzaghi, K. dan Peck, R. B., (1993), Mekanika Tanah dalam Praktik Rekayasa,
Erlangga, Jakarta.
Wesley, Laurence D., (2012), Mekanika Tanah untuk Tanah Endapan dan Residu,
Andi, Yogyakarta.
Zainal dan N, Sri Respati. 1995, Pondasi untuk Mahasiswa Politeknik Program
Studi Teknik Sipil, Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik,
Bandung.
36
37