0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan111 halaman

Skripsi Junedi

Diunggah oleh

jusferadomontifiero
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan111 halaman

Skripsi Junedi

Diunggah oleh

jusferadomontifiero
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

FEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI


DESA SAMPULUNGAN KECAMATAN GALESONG UTARA
KABUPATEN TAKALAR

OLEH

JUNAEDI
20 402 001

Diajukan Sebagai Salah Salah Satu Syarat Akademik


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR MAKASSAR
2024
KATA PENGANTAR

Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua,


Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya dan Salam Kebajikan.
Segala puji dan syukur peneliti panjatkan hanya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas segala berkat dan rahmat-NYA, peneliti dapat menyelesaikan
proposal yang berjudul. EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN
EKONOMI MASYARAKAT DI DESA SAMPULUNGAN/KECAMATAN
GALESONGUTAR KABUPATEN/TAKALAR. Terimakasih Ya Tuhan atas
ridho, izin, ijabah beserta kehendak-Mu.
Adapun maksud daripada penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk menempuh ujian sarjana pada Jurusan Ilmu Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia Timur. Penulis
menyadari dalam penulisan proposal ini masih ada kemungkinan kekurangan
kekurangan karena keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu masukan yang
bersifat membangun Akan sangat membantu penulis untuk semakin membenahi
kekurangannya. Dalam kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan
terimah kasih dan rasa hormat yang mendalam kepada:
1. Dr. Abdul Rahman S.Pt., SE., MM, selaku Rektor Universitas Indonesia
Timur Makassar.
2. Dr. Nani Harlinda Nurdin, M. Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia Timur Makassar.
3. Dr. Andi Atrianingsi, S. IP, S.I. Kom, M. Si. selaku pembimbing I dan Iin
Ismayanti, S.AP., M. AP. selaku pembimbing II yang selalu membimbing
penulis dengan penuh cita-cita sehingga penulis bersemangat dalam
menyelesaikan Skripsi ini.
4. Seluruh dosen pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Indonesia Timur Makassar.
5. Kedua orang tua tercinta, Bapak Gempa sianan dan Ibu Dina T, yang telah
membesarkan penulis dari lahir sampai saat ini tanpa berharap pamrih.
Memberikan kasih sayang tiada henti dan dukungan juga senantiasa

iii
memberikan do’a motivasi sehingga mengantarkan peneliti meraih
keberkahan hidup menuju gerbang kesuksesan.
6. Adik-adik penulis, yang selalu menjadi pemacu semangat bagi penulis dan
member kesadaran sebagai kakak harus menberikan contoh baik untuk adik-
adiknya.
7. Kepada Seluruh Keluarga Besar Junaedi yang selalu memberikan do‟a serta
semangat bagi peneliti.
8. Sahabat-sahabat hebatku Yang selama menemani saya dalam suka duka
menyelesaikan proposal ini dan senantiasa mengingatkan saya di jalan yang
di berkahi oleh Tuhan yang maha esa saya merasa beruntung memiliki
sahabat hebat seperti kalian stay halal sahabat-sahabatku.
9. Teman satu kelas jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 yang saling
mendukung antar satu dengan yang lainnya sehingga memberikan motivasi
dan dorongan.
10. Semua pihak yang telah terlibat dan banyak membantu, yang kiranya mohon
maaf apabila penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu. Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan proposal ini masih memiliki banyak kekurangan
dan kelemahan. Hal ini karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan
penulis. Serta penulis yakin bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna
karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.

Akhir kata, peneliti mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang


telah membantu dan peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
kita semua dan dapat menjadi bahan referensi bagi siapa pun. Amin. Semoga
Tuhan membalas semuanya menjadi pahala yang besar, Amin.

Makassar, 08 Februari 2024

JUNAEDI

iii
ABSTRAK

EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI


MASYARAKAT DI DESA SAMPULUNGAN/ KECAMATAN GALESONG
UTARA KABUPATEN/ TAKALAR (JUNAEDI 20 402 001)

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas program pemberdayaan ekonomi


masyarakat di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten
Takalar, yang didanai melalui dana desa.
Efektivitas Program Pemberdayaan Ekonomi di Desa Sampulungan dapat dilihat
dari berbagai indikator keberhasilan. Program pemberdayaan ekonomi masyarakat
di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, menjadi
salah satu langkah penting dalam upaya mengatasi kemiskinan dan ketimpangan
ekonomi yang ada di daerah tersebut.
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana program
pembangunan infrastruktur dilaksanakan sesuai rencana dan mencapai tujuan,
yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, di Desa Sampulungan,
Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui
wawancara dengan informan yang berpotensi memberikan informasi tentang
efektivitas program pemberdayaan ekonomi Masyarakat desa. dalam pelaksanaan
program pembangunan di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara,
Kabupaten Takalar, serta melalui observasi dan dokumentasi hasil realisasi dana
desa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas program pemberdayaan
masyarakat desa, dalam pelaksanaan program pembangunan di Desa
Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar cukup efektif.
Program-program yang direalisasikan telah memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat desa, menunjukkan bahwa dana desa telah berdaya guna dan
berdampak positif.
Kata Kunci: Efektivitas, Pemberdayaan ekonomi masyarakat

iv
ABSTRACT

EFFECTIVENESS OF COMMUNITY ECONOMIC EMPOWERMENT


PROGRAM IN SAMPULUNGAN VILLAGE/NORTH GALESONG
DISTRICT, TAKALAR DISTRICT (JUNAEDI 20 402 001)

This research evaluates the effectiveness of the community economic


empowerment program in Sampulungan Village, North Galesong District, Takalar
Regency, which is funded through village funds. The effectiveness of the
Economic Empowerment Program in Sampulungan Village can be seen from
various success indicators.
The community economic empowerment program in Sampulungan Village,
North Galesong District, Takalar Regency, is an important step in efforts to
overcome poverty and economic inequality in the area.
This research aims to determine the extent to which the infrastructure
development program is implemented according to plan and achieves the goal,
namely improving the welfare of the village community in Sampulungan Village,
North Galesong District, Takalar Regency. This research uses a qualitative
descriptive approach, with data collection techniques through interviews with
informants who have the potential to provide information about the effectiveness
of the use of village funds in implementing development programs in
Sampulungan Village, North Galesong District, Takalar Regency, as well as
through observation and documentation of the results of the realization of village
funds.
The results of the research show that the effectiveness of using village funds
in implementing development programs in Sampulungan Village, North Galesong
District, Takalar Regency is quite effective. The programs that have been realized
have provided real benefits for village communities, showing that village funds
have effectiveness and have a positive impact.
Keywords: Effectiveness, Community economic empowerment

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i


HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii
ABSTRAK ....................................................................................................... iv
ABSTRACT ................................................................................................. ... v
DAFTAR ISI ................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................1
B. Rumusan Masalah .....................................................................................4
C. Tujuan Penelitian ......................................................................................4
D. Manfaat Penelitian ....................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................5
A. Teori dan Konsep ......................................................................................5
1. Konsep Efektifitas ..............................................................................6
2. Pengertian Desa ...............................................................................14
3. Kewenangan Pemerintah Daerah .....................................................16
4. Konsep Pemberdayaan Masyarakat .................................................18
B. Penelitian Terdahulu Yang Relevan .......................................................27
C. Kerangka Berfikir ...................................................................................28
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................30
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................30
1. Lokasi Penelitian ..............................................................................30
2. Waktu Penelitian ..............................................................................30
B. Pendekatan Penelitian ...........................................................................30
C. Sumber Data .........................................................................................31
D. Informan Penelitian ..............................................................................31
E. Teknik Pengumpulan data ....................................................................32

vi
F. Teknik Analisis Data .......................................................................... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 34
A. Deskripsi Lokasi Penelitian..................................................................... 34
1. Sejarah Singkat Kantor Desa Sampulungan..................................... 34
2. Visi Dan Misi ................................................................................... 35
3. Struktur Organisasi ........................................................................... 36
B. Hasil Penelitian ...................................................................................... 37
1. Keberhasilan Program ...................................................................... 38
2. Keberhasilan Sasaran…………………………………………….... 41
3. Kepuasan Terhadap Program…………………………………….... 60
C. Kendala yang Dihadapi Pemerintah Dalam Pemberdayaan Masyarakat
Desa Sampulungan……………………………………………….…… 60
1. Sumber Daya Manusia……………………………………….…… 60
2. Perang Tengkulak Dan Rentenir……………………………...….. 62
D. Pembahasan………………………………………………………..….. 63
BAB V PENUTUP ........................................................................................ 65
A. Kesimpulan ...................................................................................... 65
B. Saran ................................................................................................ 65
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 67

vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Informan Penelitian ............................................................................. 1

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir... ......................................................................... 1


Gambar 1 Dena desa sampulungan………………………………………...… 2
Gambar 2 Sruktur Organisasi …………………………………………...…… 3

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan upaya untuk
meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan ekonomi,
sehingga masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya dan peluang
usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Namun, untuk
menilai efektivitas program pemberdayaan ekonomi masyarakat,
diperlukan evaluasi yang mendalam terhadap berbagai aspek, seperti
keberlanjutan program, dampak sosial ekonomi yang dirasakan oleh
masyarakat, serta faktor-faktor penghambat dan pendukung keberhasilan
program.
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Sampulungan,
Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, merupakan salah satu
inisiatif strategis yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan
kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Desa Sampulungan, dengan
mayoritas penduduknya yang bergantung pada sektor pertanian dan
perikanan, menghadapi berbagai tantangan ekonomi seperti akses terbatas
terhadap modal, teknologi, dan pasar. Melalui program pemberdayaan ini,
pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan,
termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sektor swasta, untuk
memberikan pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan fasilitas
pendukung lainnya. Fokus utama dari program ini adalah untuk
meningkatkan kapasitas individu dan kelompok dalam mengelola usaha
ekonomi produktif, baik di bidang agribisnis maupun usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM).
Pelatihan keterampilan yang diberikan meliputi teknik pertanian
modern, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, serta manajemen
usaha. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para petani dan nelayan
mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil usaha mereka,

1
sehingga dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Selain itu, program ini
juga menyediakan akses permodalan melalui kemitraan dengan lembaga
keuangan, yang memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan usaha
mereka tanpa terbentur oleh keterbatasan dana. Pengadaan fasilitas
pendukung seperti peralatan pertanian, teknologi pengolahan hasil, dan
sarana pemasaran juga menjadi bagian integral dari program ini, guna
memastikan bahwa setiap aspek dari rantai produksi hingga pemasaran
dapat berjalan secara optimal.
Efektivitas program pemberdayaan ekonomi di Desa Sampulungan
dapat dilihat dari berbagai indikator keberhasilan, seperti peningkatan
pendapatan rumah tangga, diversifikasi sumber mata pencaharian, serta
penguatan kelembagaan masyarakat desa. Peningkatan pendapatan rumah
tangga menjadi salah satu indikator utama, karena mencerminkan adanya
peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari. Diversifikasi sumber mata pencaharian juga
menjadi penting, karena dapat mengurangi risiko ekonomi yang dihadapi
oleh masyarakat jika hanya bergantung pada satu sektor. Penguatan
kelembagaan masyarakat desa, seperti kelompok tani dan koperasi,
bertujuan untuk menciptakan sistem yang lebih terorganisir dan
berkelanjutan dalam pengelolaan usaha ekonomi.
Selain manfaat ekonomi langsung, program ini juga berupaya
memperkuat jaringan sosial dan ekonomi antarwarga, sehingga tercipta
sinergi yang mendukung keberlanjutan usaha ekonomi di tingkat lokal.
Dalam jangka panjang, diharapkan program ini mampu mengurangi
tingkat kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Desa
Sampulungan secara keseluruhan. Penilaian terhadap efektivitas program
ini penting untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-
benar mampu mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi
masyarakat dan memberikan manfaat jangka panjang bagi peningkatan
kesejahteraan mereka. Melalui evaluasi yang berkelanjutan, diharapkan
program ini dapat terus disempurnakan dan diperluas cakupannya,

2
sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya.
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Sampulungan,
Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, menjadi salah satu
langkah penting dalam upaya mengatasi kemiskinan dan ketimpangan
ekonomi yang ada di daerah tersebut. Mengingat desa ini memiliki
potensi sumber daya alam yang cukup besar, optimalisasi pemanfaatan
sumber daya tersebut melalui program pemberdayaan diharapkan dapat
membawa perubahan signifikan. Sektor pertanian dan perikanan, sebagai
tulang punggung perekonomian desa, menjadi fokus utama dari berbagai
inisiatif program, dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas, nilai
tambah, dan akses pasar bagi hasil-hasil pertanian dan perikanan.
Program ini dirancang dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat
setempat dalam setiap tahapannya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
hingga evaluasi. Pendekatan partisipatif ini bertujuan untuk memastikan
bahwa program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
lokal, serta memberikan rasa memiliki bagi masyarakat terhadap program
tersebut. Selain itu, program ini juga mendorong penerapan teknologi
tepat guna yang ramah lingkungan, guna mendukung keberlanjutan
sumber daya alam desa. Pengenalan dan penerapan teknologi baru
diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam
pengelolaan usaha ekonomi, serta mengurangi dampak negatif terhadap
lingkungan.
Hal ini, disebabkan para aktor yang mengurus pihak yang berwajib
yang nyatanya tanpa mempunyai kompetensi yang cukup untuk mengurus
dan memberdayakan masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan
banyak program pemberdayaan oleh pemerintah gagal dalam
melakukannya. Itulah sebabnya penulis mengangkat judul “Efektivitas
Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Desa Sampulungan
Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar”.

3
B. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan permasalahan dalam latar belakang diatas penulis
rumusan masalahnnya yakni:
Bagaimana efektivitas dan dampak kegiatan pemberdayaan ekonomi
masyarakat di Desa Sampulungan Kecamatan Galesong Utara Kabupaten
Takalar?

C. Tujuan Penelitian
Adapun dari tujuan penelitian yang hendak di capai adalah:
Untuk mengetahui dan menganalisis secara mendalam mengenai efektivitas,
serta dampak kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat di desa
sampulungan.kecamatan galesong utara kabupaten takalar.
Penelitian ini agar bisa menguraikan yang berkaitan kegiatan program
pemberdayaan ekonomi warga di Desa Sampulungan, dengan
memperhatikan aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya. Lewat
penelitian ini semoga bisa mengdeskripsikan yang jelas berkaitan dengan
keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam upaya pemberdayaan
ekonomi masyarakat di desa tersebut.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini, yakni :
1. Manfaat Akademis
a. Hasil dari penelitian ini semoga bisa membagi pengetahuan bagi
siapapun yang membutuhkan.
b. Diharapkan sebagai referensi bagi mereka yang ingin melakukan
penelitian lanjutan dalam studi kasus yang sama.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai masukan terhadap pemerintah pemerintahan Desa
Sampulungan dalam mengelolah dan memberdayakan masyarakat
Desa.
b. Sebagai bahan kajian bagi pihak berwajib yang ada di Desa Terkait
pemberdayaan masyarakat Desa.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Dan Konsep


1. Konsep Efektifitas
a. Pengertian Efektifitas
Kata efektif bahasa inggrisnya yakni effective yang
maknanya sebuah yang dilaksanakan berhasil secara baik.
Efektivitas mencakup taraf tercapainya sebuah tujuan. Sebuah
upaya dianggap efektif jika upaya itu bisa mewujudkan
tujuannya. Secara ideal efektivitas bisa dianggap dengan bentuk
yang agak pasti.
Efektif yakni hal yang bisa dikerjakan sesuatu dengan baik.
Efektivitas merujuk tentang tujuan disebabakan semakin dekat
organisasi kepada tujuannya, semakin efektif organisasi itu juga.
Keefektivan organisasi yakni keadaan yang sejauh mana suatu
organisasi tercapai kegiatan yang dilaksanakan dan keinginan
yang terwujud (Pratomo, 2023). Menurut dalam bukunya
Kurniawan (2020) Efektivitas yakni hal yang bisa dilaksanakan
tanggung jawab, manfaat (operasi aktivitas program atau misi)
daripada sebuah organisasi dan macamnya yang tanpa dorongan
atau yang ditengah-tengah pelakunya.
Dalam konteks program pemberdayaan ekonomi
masyarakat, efektivitas merujuk pada seberapa baik program
tersebut dapat memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkan,
seperti meningkatkan kesejahteraan ekonomi, memberdayakan
individu dan komunitas, serta menciptakan kemandirian
ekonomi. Efektivitas dapat dinilai melalui berbagai indikator,
seperti peningkatan pendapatan, peningkatan keterampilan dan
pengetahuan, serta kemampuan masyarakat untuk mengelola
usaha secara berkelanjutan.

5
b. Faktor Yang Mempengaruhi Efektifitas
Berdasarkan kerangka kerja yang telah disajikan
sebelumnya mengenai efektivitas, dampak yang menyebabkan
keberhasilannya dapat diringkas yakni:
1) Klarifikasi hal ingin dicapai yang tegas.
2) Penyusunan bentuk organisasi yang sesuai.
3) Dukungan dan partisipasi dari masyarakat atau pemangku
kepentingan.
4) Adopsi dan penerapan cara angka yang konsisten.
Organisasi mengarah atau menuju arah yang jelas ketika
memiliki tujuan yang terdefinisi dengan baik. Kehadiran tujuan
tersebut memberikan dorongan bagi anggota organisasi untuk
melaksanakan tanggung jawab mereka dengan semangat. Tujuan
organisasi berperan sebagai panduan yang menggambarkan
gambaran masa depan yang mau diwujudkan dan diupayakan
semua anggota. Struktur organisasi mempunyai faktor pada
tingkat efektivitasnya. Struktur yang efektif adalah struktur yang
memadukan keberagaman fungsi dengan kesederhanaan. Selain
itu, tanpa dukungan serta partisipasi aktif dari pihak-pihak terkait
dan adopsi sistem nilai yang melekat, mencapai efektivitas
organisasi akan menjadi tantangan yang besar. Oleh karena itu,
perhatian yang serius terhadap faktor-faktor yang memengaruhi
organisasi diperlukan untuk mewujudkan tingkat efektivitas yang
diinginkan.
Menurut Richard M. Steers (2019) sebagaimana yang
dikutip dalam buku yang disusun oleh Khaerul Umam (2022),
terdapat empat faktor yang memiliki dampak pada efektivitas
organisasi, yakni:
1. Karakteristik Organisasi, yakni:
a. Struktur
1) Departementalisasi

6
2) Spesialisasi
3) Formulasi
4) Ukuran kendali
5) Ukuran organisasi
b. Teknologi
1) Bentuk unit kerja
2) Operasi
3) Bahan
4) Pengetahuan
2. Karakteristik Pekerja
a. Terkait organisasi
b. Bakat
c. Stabilitas tanggung jawab
d. Keterkaitan
3. Kinerja Tanggung Jawab
a. Motivasi agar bisa diwujudkan tujuan dan transparansi
b. Kemampuan
c. Klarifikasi peran
4. Karakteristik Tempat Kerja
a. Faktor Eksternal
1) Konsistensi
2) Stabilitas
3) Tidak Stail
b. Faktor Internal
1) Khusus Tanggung Jawab
2) Loyalitas Pekerja
3) Orientasi pada sistem imbalan dan sanksi
4) Keamanan versus risiko
5) Keterbukaan versus pertahanan
5. Kebijakan dan Pelaksanaan Manajemen
a. Pengembangan strategis yang dicapai

7
b. Penemuan dan pengelolaan sumber daya
c. Pembangunan tempat kerjayang mendukung pencapaian
kinerja
d. Tahap berbicara berkiatan organisasi
e. Gaya kepemimpinan dan tahap berbicara keputusan
f. Inovasi dan kemampuan organisasi agar bisa beradaptasi

Ada 4 dampak yang berdampak di efektivitas, seperti


disajikan Steers (2019) dalam Umam (2022), diuraikan yakni:
1. Bentuk Organisasi meliputi struktur yang menetapkan pola
interaksi dan perilaku berorientasi tugas antara individu-
individu dalam organisasi.
2. Bentuk Tempat terdiri dari 2 aspek, yakni tempat eksternal
yang memengaruhi organisasi, khususnya pengambilan
keputusan dan tindakan. Dan juga lingkungan internal atau
iklim organisasi.
3. Karakteristik Pekerja yakni faktor kunci dalam efektivitas.
Kesadaran akan perbedaan individu menjadi penting dalam
integrasi tujuan individu dengan tujuan organisasi untuk
mencapai keberhasilan.
4. Karakteristik Manajemen melibatkan cara didesain agar
bisamengelola seluruh aspek pada organisasi dengan tujuan
mencapai efektivitas. Kebijakan dan pelaksanaan manajemen
digunakan oleh orang yang berwajib yang bisa memimpin
aktivitas organisasi menuju pencapaian yang diinginkan. Pada
implementasi kebijakan dan pelaksananaan manajemen,
perhatian terhadap faktor makhluk hidup sangat penting,
bukan cuman fokus pada cara kerja. Cara ini termasuk dalam
menyusun tujuan strategis, pengelolaan SDM, menciptakan
tempat yang mendukung kinerja, bebricara, orang yang
memimpin, memutuskan pembicaraan, dan juga

8
menyesuaikan pada tempat tinggal yang diganti dan inovasi
organisasi.

Berdasarkan uraian diatas, dapat diringkas yakni:


a. Organisasi ada berbagai aspek yang saling terkait; apabila
bagian dari aspek tidak tanpa kinerja baik, hal ini bisa
memengaruhi kemampuan semua organisasi.
b. Keefektifan organisasi memerlukan kesadaran serta
komunikasi yang sangat baik dengan sekitarnya.
c. Untuk menjaga kehidupannya, organisasi perlu melakukan
penggantian SDM dengan berkelanjutan. Sebuah organisasi
tanpa mengurus dampak yang bisa berdampak pada efektivitas
organisasi sehingga bisa sulit pada mewujudkan impiannya.
Namun, jika suatu perusahaan memfokuskan dampak ini,
pencapaian suatu hal menjadi lebih mudah karena efektivitas
bisa berdampak pada faktor-faktor itu.

c. Indikator Efektifitas
Budiani (2020) berpendapat pada agar bisa mengukur
efektifitas bisa dilaksanakan dengan memakai indikator, yakni:
1) Ketepatan Sasaran Program
Indikator ini mengukur sejauh mana program yang
dijalankan berhasil mencapai atau menyasar kelompok atau
individu yang menjadi target utama. Ketepatan sasaran program
menunjukkan bahwa program telah dirancang dan
diimplementasikan dengan memperhatikan kebutuhan serta
karakteristik dari target penerima manfaat. Dengan kata lain,
program yang tepat sasaran akan memberikan dampak positif
yang signifikan terhadap kelompok sasaran, sehingga tujuan
program dapat tercapai secara optimal. Penilaian ketepatan
sasaran program dapat dilakukan melalui survei, evaluasi

9
lapangan, atau analisis data yang terkait dengan penerima
manfaat program. (Makmur: 2020)
2) Sosialisasi Program
Indikator ini mengukur seberapa baik informasi mengenai
program tersebut disebarluaskan kepada masyarakat atau
kelompok sasaran. Sosialisasi yang efektif berarti bahwa seluruh
informasi penting tentang program, seperti tujuan, manfaat, cara
partisipasi, dan prosedur pelaksanaan, telah tersampaikan
dengan jelas dan mudah dipahami oleh seluruh pihak terkait.
Menurut Wilcox dalam Mardikonto (2023) Proses sosialisasi
yang baik akan meningkatkan kesadaran dan partisipasi
masyarakat, sehingga program dapat dijalankan dengan lebih
efektif dan efisien. Penilaian efektivitas sosialisasi dapat
dilakukan melalui survei kepuasan, wawancara, atau tingkat
partisipasi dalam program.
3) Tujuan Program
Indikator ini mengukur sejauh mana tujuan program yang
telah ditetapkan dapat tercapai. Tujuan program harus spesifik,
terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu (SMART).
Keberhasilan dalam mencapai tujuan program menunjukkan
bahwa program tersebut telah dirancang dengan baik dan
diimplementasikan secara efektif. Evaluasi terhadap pencapaian
tujuan program biasanya dilakukan dengan membandingkan
hasil aktual dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Metode penilaian dapat meliputi analisis data kinerja, laporan
kemajuan, dan evaluasi dampak program terhadap penerima
manfaat.
4) Pemantauan Program
Indikator ini mengukur seberapa baik proses pemantauan
dan evaluasi program dilakukan selama pelaksanaan.
Pemantauan program adalah proses berkelanjutan yang

10
melibatkan pengumpulan, analisis, dan penggunaan informasi
untuk menilai kinerja program dan membuat keputusan yang
diperlukan untuk meningkatkan pelaksanaan program.
Efektivitas diatas dapat diringkas, yakni pada mengukur
efektivitas sebuah aktifitas harus dilihat berbagai indikator,
berpatokan dengan segi pelayanan Program pemberdayaan
Ekonomi masyarakat adalah teori menurut Sutrisno Edy (2023)
yakni:
a) Pengetahuan tentang program
b) Titik pada sasaran
c) Displin
d) Terwujudnya tujuan
e) Diganti dengan yang baru
Sedangkan pendapat Subagyo (2020) yakni untuk
mengukur indikator keefektivitasan kegiatan pemberdayaan
masyarakat yakni:
1) Sesuai dengan penggunaan dana
2) Tingkat Terkembalinya dana
3) Pelatih
Sehingga efektifitas kegiatan bisa diproses dengan hal yang bisa
di opersional pada melakukan kegiatan tanggung jawab yang sesuai
dengan sebelumnya. Sesuai komprehensif, efektivitas yakni tingkat
kapasitas tanggung jawab sebuah lembaga agar bisa melakukan
seluruh tanggung jawab agar bisa mencapai sasaran yang ada.
Menurut Makmur (2020) indikator efektivitas ditinjau pada berbagai
kriteria efektivitas, yakni:
a. Ketepatan waktu
Ketepatan waktu mengukur sejauh mana program atau
proyek selesai sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Indikator ini penting karena keterlambatan dapat
mengakibatkan peningkatan biaya dan hilangnya peluang.
Program yang tepat waktu menunjukkan perencanaan dan

11
pelaksanaan yang efektif serta kemampuan mengelola
waktu dengan baik.
b. Ketepatan perhitungan biaya
Ketepatan perhitungan biaya mencerminkan kemampuan
untuk memperkirakan dan mengendalikan biaya program
sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan. Hal ini
penting untuk memastikan bahwa sumber daya digunakan
secara efisien dan tidak terjadi pemborosan. Program yang
efektif adalah yang dapat menyelesaikan kegiatannya tanpa
melebihi anggaran yang telah direncanakan.
c. Ketepatan dalam pengukuran
Ketetapan dalam pengukuran berarti kemampuan untuk
mengukur hasil dan kinerja program dengan akurat dan
konsisten. Pengukuran yang tepat diperlukan untuk menilai
kemajuan dan efektivitas program serta membuat
keputusan berbasis data. Indikator ini memastikan bahwa
evaluasi program didasarkan pada informasi yang benar
dan dapat dipercaya.
d. Ketepatan dalam menentukan pilihan.
Ketepatan dalam menentukan pilihan mengacu pada
kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat di antara
berbagai alternatif yang tersedia. Ini penting untuk
mengarahkan program ke arah yang benar dan mencapai
hasil yang diinginkan. Keputusan yang tepat berdasarkan
analisis yang komprehensif dan pertimbangan yang matang
meningkatkan efektivitas program.
e. Ketepatan berpikir
Ketepatan berpikir mengukur kemampuan untuk
menganalisis situasi dengan jernih dan logis serta
mengambil tindakan yang tepat. Pemikiran yang tepat dan
strategis sangat penting dalam mengidentifikasi masalah,

12
merancang solusi, dan mengantisipasi tantangan yang
mungkin muncul selama pelaksanaan program.
f. Ketepatan dalam melakukan perintah.
Ketepatan dalam melakukan perintah mencerminkan
kepatuhan dan ketelitian dalam menjalankan instruksi atau
rencana yang telah ditetapkan. Indikator ini penting untuk
memastikan bahwa setiap bagian dari program
dilaksanakan sesuai dengan arahan yang diberikan,
sehingga tujuan program dapat tercapai secara efektif.
g. Ketepatan dalam menentukan tujuan
Ketepatan dalam menentukan tujuan mengacu pada
kemampuan untuk menetapkan sasaran yang jelas, spesifik,
terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu
(SMART). Tujuan yang tepat memberikan arah dan fokus
bagi program, serta menjadi dasar untuk mengukur
keberhasilan dan efektivitas program tersebut.
h. Ketepatan sasaran
Ketepatan sasaran mengukur seberapa baik program
mencapai target atau kelompok sasaran yang dituju. Ini
penting untuk memastikan bahwa manfaat program
dirasakan oleh pihak yang benar-benar membutuhkan atau
dituju. Ketepatan sasaran menunjukkan bahwa program
dirancang dan dilaksanakan dengan memahami kebutuhan
dan karakteristik kelompok sasaran.
Menurut Dunn dan William (2023) mengartikan
efektivitas merupakan sebuah cara pelaksanaan untuk
mewujudkan akhir (dampak) yang diinginkan, atau
mewujudkan keinginan dari dilakukannya sebuah
pelaksanaan, menurut Bryant dan White (2019) berpendapat
berbagai jenis selain tujuan serta acuan agar bisa mengukur
efektivitas.

13
2. Pengertian Desa
Menurut Sunardjo (2019) pengertian desa yakni sebuah
wilayah administrasi terkecil di Indonesia yang menjadi tempat
tinggal dan beraktivitas sekelompok masyarakat dengan kehidupan
yang teratur, serta memiliki batas-batas geografis yang jelas. Desa
biasanya terdiri dari beberapa dusun atau kampung dan dikelola
oleh pemerintah desa yang dipimpin oleh kepala desa. Secara
tradisional, desa merupakan pusat kehidupan sosial, budaya, dan
ekonomi yang mandiri dengan sistem pemerintahan lokal yang
berbasis pada nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal. Dalam
konteks modern, desa tidak hanya dipandang sebagai entitas
geografis, tetapi juga sebagai unit pemerintahan terkecil yang
memiliki peran penting dalam pembangunan nasional.
Menurut berbagai undang-undang di Indonesia, definisi dan
pengaturan mengenai desa telah diatur secara rinci. Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa desa adalah
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang
diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Undang-undang ini memberikan desa status
sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi dalam pengelolaan
pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, yang didukung
oleh pendanaan dari pemerintah pusat melalui dana desa.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan
Desa, yang sudah tidak berlaku lagi, sebelumnya mengatur bahwa
desa adalah suatu wilayah yang dihuni oleh sejumlah penduduk
sebagai kesatuan masyarakat, termasuk di dalamnya desa tradisional
yang disebut desa adat. Pada masa itu, desa dianggap sebagai
perangkat administratif yang fungsinya lebih untuk mendukung

14
program-program pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005
tentang Desa, yang merupakan aturan pelaksanaan dari UU No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, juga memberikan
landasan bagi desa dalam mengatur pemerintahan sendiri. Peraturan
ini menegaskan bahwa desa memiliki hak untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat secara mandiri
berdasarkan adat istiadat dan kebiasaan setempat yang tetap berada
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Secara historis, konsep desa di Indonesia telah mengalami
perubahan seiring dengan perkembangan sosial, politik, dan
ekonomi. Pada masa kolonial, desa diatur melalui sistem
pemerintahan lokal yang dikuasai oleh kepala desa yang bertindak
sebagai perpanjangan tangan pemerintah kolonial. Setelah
kemerdekaan, pengaturan desa mengalami beberapa perubahan
yang signifikan, terutama dalam hal pemberian otonomi yang lebih
luas kepada desa untuk mengatur urusan pemerintahan dan
pembangunan secara mandiri.
Dalam perkembangan terbaru, Undang-Undang Nomor 6
Tahun 2014 tentang Desa menjadi tonggak penting dalam
penguatan peran desa. Undang-undang ini memberikan pengakuan
dan penghormatan terhadap keberagaman desa, baik dari segi adat,
budaya, maupun sistem pemerintahan lokal. Dengan demikian, desa
di Indonesia kini tidak hanya menjadi unit pemerintahan yang
berfungsi secara administratif, tetapi juga sebagai pusat kemandirian
masyarakat yang berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional.
Oleh karena itu, pengertian desa secara umum dan
berdasarkan berbagai undang-undang mencerminkan evolusi dari
entitas geografis yang sederhana menjadi unit pemerintahan yang
otonom dan dinamis, yang berperan penting dalam mendukung
keberlanjutan pembangunan nasional serta pelestarian nilai-nilai

15
lokal dan budaya.

3. Kewenangan Pemerintah Daerah


Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kewenangan
berasal dari kata wewenang yang berarti hak dan kekuasaan untuk
bertindak, kekuasaan membuat keputusan, kekuasaan memerintah,
kekuasaan yang melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain dan
fungsi yang boleh tidak dilaksanakan.Dalam pengertiannya, istilah
wewenang sering juga disamakan dengan istilah kata bahasa Belanda
“bevoegdheid”, yang berarti wewenang atau berkuasa.Wewenang
merupakan satu kesatuan yang sangat penting dalam Hukum Tata
Pemerintahan (Hukum Administrasi), hal ini di karenakan
pemerintahan baru dapat melaksanakan fungsinya atas dasar
wewenang yang dimilikinya.Tindakan sah pemerintah diukur
berdasarkan wewenang yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan.Menurut Marbun (1997: 154) wewenang merupakan
kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang
berlaku untuk melakukan hubungan dan perbuatan hukum.
Kewenangan dalam perihalnya dapat dilihat berdasarkan
Konstitusi Negara yang memberikan legitimasi kepada Badan Publik
dan Lembaga Negara dalam menjalankan fungsinya.Asas legalitas
merupakan bagian prinsip utama yang dijadikan dasar dalam setiap
penyelenggaraan pemerintah dan kenegaraan di berbagai negara
hukum.Kata lainnya, legitamasi harus dimiliki oleh setiap
penyelenggara pemerintahan dan kenegaraan, yaitu wewenang yang
diserahkan oleh undang-undang.Jadi dapat disimpulkan bahwa dasar
legalitas adalah wewenang yang berarti suatu kemampuan untuk
melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu.
Menurut H.D Van Wijk dan Willem Konijnenbelt (dalam
Ridwan, 2013: 101-102), mengatakan secara teoritik kewenangan

16
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat di peroleh
melalui 3 (tiga ) cara, yaitu:
a. Atribusi, pemberian wewenang pemerintahan oleh pembentuk
undang-undang kepada organ pemerintahan;
b. Delegasi, pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ
pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya;
c. Mandat, perizinan kewenangan dari suatu organ pemerintahan
kepada organ lainnya atas namaorgan pemberi perizinan.
Menurut Stronik dan Steenbek (dalam Ridwan, 2013: 99),
mengatakan kewenangan adalah konsep inti dalam hukum tata negara
dan hukum administrasi negara, karena kewenangan merupakan hak
menggunakan wewenang yang dimiliki seorang pejabat atau institusi
sesuai ketentuan yang berlaku, kewenangan juga menyangkut
kompetensi tindakan hukum yang dapat dilakukan berdasarkan nilai-
nilai formal. Dengan demikian kewenangan adalah kekuasaan formal
yang dimiliki oleh pejabat institusi dan oleh karena itu kewenangan
memiliki kedudukan yang penting dalam hukum tata negara dan
hukum administrasi.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Pasal 13 Ayat (4)
Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah daerah
memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Urusan pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah
kabupaten/kota;
b. Urusan pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah
kabupaten/kota;
c. Urusan pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya
dalam Daerah kabupaten/kota; dan/atau
d. Urusan pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih
efisien apabila dilakukan oleh Daerah kabupaten/kota.

17
Dalam pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah untuk
menyelenggarakan pemerintahannya dilakukan melalui suatu proses
yang disebut desentralisasi kepada daerah-daerah otonom atau yang di
kenal dengan sebutan otonomi daerah. Ada (2) dua bentuk
desentralisasi yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu
desentralisasi politik dan administratif.Desentralisasi politik adalah
wewenang dalam membuat keputusan dan melakukan kontrol tertentu
terhadap sumber daya yang diserahkan pada pemerintah lokal dan
regional.Desentralisasi administratif merupakam suatu penyerahan
wewenang dalam bidang administrasi oleh pemerintah pusat tanpa di
sertai dengan wewenang pengambilan keputusan lainnya.

4. Konsep Pemberdayaan masyarakat


a. Pengertian Pemberdayaan
Pengertian pemberdayaan Pemberdayaan asal katanya
“daya” yang mendapat awalan ber- dan jadi “berdaya”
makanyanya mempunyai daya. Daya yakni kekuatan, berdaya
yakni mempunyai kekuatan. Pemberdayaan yakni menciptakan
sebuah menjadi berdaya atau memiliki daya atau kekuatan.
Pemberdayaan di bahasa Indonesia yakni empowerment di bahasa
inggris. Pemberdayaan yakni empowerment sesuai dengan
Merrian Webster di Oxford English Dicteonary yakni 2 definisi,
“To give ability or enable to”, maknanya “membagi
kecakapan/kemampuan atau memungkinkan”. Dan “Togive power
of authority to”, maknanya “memberi kekuasaan”.
Hakikat dari konseptualisasi empowerment berasal dari
manusia dan kemanusiaan sebagai acuan normatif, struktural, dan
substansial. Pemberdayaan ini mempunyai tujuan 2 arah, yakni
“melepaskan belenggu kemiskinan” dan “memperkuat tempat
lapisan masyarakat pada bentuk kekuasaan”. Ke-2nya perlu
dijalankan dan dijadikan sasaran dari usaha pemberdayaan.

18
Konsep dari Pemberdayaan masyarakat adalah suatu pendekatan
yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas individu dan
kelompok dalam masyarakat untuk mempengaruhi perubahan dan
membuat keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka
sendiri (Sumodiningrat, 2009). Konsep ini melibatkan proses di
mana anggota masyarakat diberikan lebih banyak kontrol atas
sumber daya dan keputusan yang memengaruhi mereka, sehingga
mereka dapat mengatasi masalah yang dihadapi dan mencapai
tujuan yang diinginkan (Alfitri, 2021).
Secara umum, pemberdayaan masyarakat bertujuan agar
bisa menguatkan banyak masyarakat yang rentan dan kurang
mampu sehingga mereka mempunyai kekuatan atau keterampilan
yang cukup agar bisa memenuhi apa yang dibutuhkan. Kebutuhan
pokok yakni sandang, pangan, dan rumah. Selain dari itu, semoga
sesudah diberdayakan, warga mempunyai jalan menuju sumber
daya produktif yang bisa menambah pendapatan mereka dan
kemungkinan besar mereka agar bisa mendapatkan produk yang
bagus. Dalam konteks ini, semoga warga bisa aktif berbaur pada
tahap pembangunan dan pengambilan keputusan yang berdampak
kehidupan mereka (Suharto, 2020).
Pemberdayaan memiliki beberapa tujuan spesifik yang
saling terkait. Pertama, pemberdayaan bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan individu dan komunitas dengan
memberikan akses yang lebih besar terhadap sumber daya
ekonomi, seperti modal, teknologi, dan pasar. Ini memungkinkan
individu dan komunitas untuk meningkatkan pendapatan mereka
dan mencapai keberlanjutan ekonomi. Kedua, pemberdayaan
bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam proses
pengambilan keputusan. Dengan demikian, individu dan
komunitas memiliki suara dan kontrol yang lebih besar atas
kebijakan dan program yang memengaruhi kehidupan mereka,

19
baik di tingkat lokal maupun nasional. Ketiga, pemberdayaan
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu dalam hal
pendidikan dan keterampilan. Pendidikan yang lebih baik dan
peningkatan keterampilan akan membuka peluang yang lebih
besar bagi individu untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Keempat,
pemberdayaan bertujuan untuk memperkuat rasa percaya diri dan
harga diri individu. Dengan memiliki kendali lebih besar atas
kehidupan mereka, individu merasa lebih dihargai dan mampu
berkontribusi secara positif dalam masyarakat.
Selain itu, pemberdayaan juga bertujuan untuk memperkuat
komunitas dan jaringan sosial. Dengan memperkuat hubungan
sosial dan meningkatkan solidaritas, komunitas dapat bekerja
sama lebih efektif dalam menghadapi tantangan bersama dan
mencapai tujuan bersama. Pemberdayaan komunitas juga
melibatkan peningkatan kapasitas organisasi lokal dan lembaga
swadaya masyarakat (LSM) untuk memberikan dukungan yang
lebih efektif kepada anggotanya. Pemberdayaan juga berfokus
pada peningkatan kesetaraan gender dan inklusi sosial. Ini berarti
memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu,
terlepas dari jenis kelamin, etnis, agama, atau latar belakang
sosial-ekonomi mereka. Dengan demikian, pemberdayaan
membantu mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan
masyarakat yang lebih adil dan inklusif. Tujuan pemberdayaan
yang lainnya adalah untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak
dan tanggung jawab warga negara. Dengan memahami hak-hak
mereka, individu dapat menuntut perlakuan yang adil dan
berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi. Tanggung jawab
warga negara juga mencakup kontribusi terhadap kesejahteraan
komunitas dan negara secara keseluruhan (Hamid, 2019).
Ekonomi kreatif merujuk pada sektor ekonomi yang

20
berfokus pada produksi, distribusi, dan pemanfaatan kreativitas,
pengetahuan, dan budaya untuk menciptakan nilai ekonomi dan
sosial. Hal ini meliputi berbagai industri seperti seni dan
kerajinan, desain, musik, film, permainan video, arsitektur,
fashion, kuliner, dan lainnya. Ekonomi kreatif mencakup aktivitas
yang menghasilkan produk dan layanan yang memiliki nilai
tambah melalui ekspresi kreatif, inovasi, dan penggunaan
teknologi. Salah satu karakteristik utama ekonomi kreatif adalah
bahwa produk dan layanannya seringkali unik dan berbeda, serta
mencerminkan identitas budaya dan kreativitas individu atau
komunitas. Selain itu, ekonomi kreatif juga dikenal karena
kemampuannya untuk menciptakan lapangan kerja baru,
memperkaya kehidupan budaya, mempromosikan inklusi sosial,
dan meningkatkan daya saing suatu wilayah atau negara dalam
pasar global. Di era digital saat ini, ekonomi kreatif semakin
berkembang pesat karena adanya teknologi informasi dan
komunikasi yang memungkinkan distribusi konten digital,
kolaborasi lintas batas, dan pemasaran secara global. Hal ini
menciptakan peluang baru bagi para pelaku industri kreatif untuk
menghasilkan karya dan mendapatkan penghasilan dari kreativitas
mereka (Purnomo, 2022). Dengan demikian bidang ekonomi
kreatif yakni bagian dari pilihan terbaik pada usaha pemberdayaan
masyarakat.
Pemberdayaan menurut Friedman (2020) Pemberdayaan
masyarakat merupakan suatu proses yang bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan partisipasi aktif
masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi,
dan politik yang mereka hadapi. Definisi lain dari pemberdayaan
masyarakat mencakup upaya untuk memberikan akses kepada
masyarakat terhadap pengetahuan, keterampilan, sumber daya,
dan kekuatan untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan

21
dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan
mereka.
Pada sisi lain, Pemberdayaan masyarakat juga dapat
diartikan sebagai suatu proses transformasi sosial yang
memungkinkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan
mengeksploitasi potensi serta sumber daya yang dimilikinya guna
mencapai kesejahteraan dan kemajuan bersama. Dengan
demikian, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar tentang
pemberian bantuan atau bantuan dari luar, tetapi lebih pada
penguatan internal masyarakat itu sendiri agar mampu mengatasi
tantangan dan mencapai tujuan mereka dengan cara yang
berkelanjutan dan berkelanjutan. Menurut Riyadi (2020)
mengatakan bahwa Pembangunan adalah suatu proses yang
melibatkan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraan manusia secara menyeluruh, baik dari segi ekonomi,
sosial, maupun lingkungan. Definisi pembangunan juga mencakup
aspek pengembangan infrastruktur fisik, seperti jaringan
transportasi, perumahan, dan fasilitas publik lainnya, serta
peningkatan akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan,
kesehatan, dan air bersih. Sedangkan menurut Yuwono (2022)
pembangunan juga merujuk pada upaya untuk menciptakan
kondisi yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan
berkelanjutan, di mana seluruh lapisan masyarakat dapat turut
serta dalam proses pembangunan dan menikmati hasilnya secara
adil. Ini termasuk peningkatan lapangan kerja, pengentasan
kemiskinan, pemerataan pendapatan, dan perlindungan terhadap
hak-hak dasar manusia. Pembangunan menurut Nasution (2020)
Pembangunan juga dapat diartikan sebagai upaya untuk
memperbaiki dan memperkuat institusi-institusi sosial, politik, dan
ekonomi dalam suatu masyarakat, sehingga mampu menciptakan
lingkungan yang stabil, aman, dan berkelanjutan bagi

22
pertumbuhan dan perkembangan seluruh anggotanya. Dengan
demikian, pembangunan bukan hanya tentang pertumbuhan
ekonomi semata, tetapi juga tentang penciptaan kondisi yang
mendukung kesejahteraan dan kemajuan sosial seluruh
masyarakat.
Menurut Wahjudin (2021) pemberdayaan masyarakat
bukan sekadar tentang pemberian bantuan atau bantuan dari luar,
tetapi lebih pada penguatan internal masyarakat itu sendiri agar
mampu mengatasi tantangan dan mencapai tujuan mereka
dengan cara yang berkelanjutan dan berkelanjutan. Menurut
Noor (2021) Pemberdayaan masyarakat yakni cara menciptakan
ekonomi berdasarkan hakikat masyarakat agar menciptakan
pemikiran baru pada pembangunan yang bersifat participatory.

b. Prinsip Pemberdayaan Masyarakat


Adapun prinsip pemberdayaan masyarakat, yaitu:
1) Adanya kebutuhan
Prinsip ini menekankan bahwa program pemberdayaan harus
didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat. Ini berarti sebelum
melaksanakan program, perlu dilakukan analisis dan identifikasi
kebutuhan yang spesifik dan relevan dengan kondisi masyarakat
setempat.
2) Keikut sertaan
Keikutsertaan atau partisipasi aktif dari masyarakat merupakan kunci
dalam proses pemberdayaan. Masyarakat harus terlibat dalam setiap
tahap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program.
3) Kesesuaian tujuan
Program pemberdayaan harus memiliki tujuan yang sesuai dengan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Tujuan yang jelas dan terarah
akan memudahkan dalam mengukur keberhasilan program serta
memastikan bahwa hasil yang dicapai memang diinginkan dan
bermanfaat bagi masyarakat.

23
4) Koperatif
Prinsip koperatif menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi
antara berbagai pihak yang terlibat dalam pemberdayaan, termasuk
masyarakat, pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor
swasta.
Prinsip yang paling diutamakan pada memajukan konsep
pemberdayaan masyarakat menurut Ulumiyah, (2023) ada 5,
yakni:
1) Pendekatan dari bawah (buttom up approach). Pendekatan ini
menekankan bahwa inisiatif dan keputusan dalam program
pemberdayaan harus berasal dari masyarakat itu sendiri,
bukan dari pihak luar. Hal ini memastikan bahwa program
sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat,
sehingga lebih relevan dan efektif.
2) Partisipasi (participation), Partisipasi ini penting untuk
memastikan bahwa program benar-benar mencerminkan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat, serta untuk meningkatkan
rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap hasil program.
3) Konsep keberlanjutan yang merupakan Program dirancang
untuk memberikan manfaat jangka panjang, bukan hanya
solusi sementara. Keberlanjutan ini meliputi aspek ekonomi,
sosial, dan lingkungan, sehingga manfaat program dapat
dirasakan oleh generasi mendatang dan tidak merusak
keseimbangan ekosistem.
4) Keterpaduan, yaitu Koordinasi dan kerjasama antara berbagai
pihak terlibat.
5) Keuntungan sosial dan ekonomi: Program pemberdayaan
dirancang untuk memberikan manfaat kesejahteraan dan
peningkatan ekonomi bagi masyarakat. Keuntungan sosial
bisa berupa peningkatan kualitas hidup, pendidikan, dan
kesehatan, sementara keuntungan ekonomi bisa berupa

24
peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan pembangunan
infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi.

c. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat


Tujuan pemberdayaan masyarakat adalah untuk
meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat melalui
berbagai cara. Pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas dan keterampilan individu dan kelompok dalam
masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan, sehingga mereka
dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
yang diperlukan untuk menjadi mandiri dan berdaya saing.
Dengan pemberdayaan, masyarakat diharapkan mampu
menghadapi tantangan hidup dan mengembangkan potensi
mereka secara maksimal. Selain itu, pemberdayaan masyarakat
juga bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan
pelaksanaan program yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Dengan mendorong partisipasi aktif, masyarakat merasa
memiliki dan bertanggung jawab terhadap hasil program,
sehingga program tersebut lebih berkelanjutan dan sesuai dengan
kebutuhan lokal. Pemberdayaan juga bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan
menciptakan peluang ekonomi, memberikan akses terhadap
sumber daya, pembiayaan, dan pasar, serta mendukung usaha
kecil dan menengah yang berkelanjutan. Dengan demikian,
masyarakat dapat meningkatkan pendapatan dan standar hidup
mereka. Selain aspek ekonomi, pemberdayaan juga berfokus
pada memperkuat komunitas dengan membina solidaritas, kohesi
sosial, dan kerjasama antar anggota masyarakat. Ini penting
untuk membangun komunitas yang kuat dan resilien, yang
mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan

25
mengatasi masalah yang dihadapi. Melalui pendekatan yang
holistik dan inklusif, tujuan pemberdayaan masyarakat adalah
menciptakan masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan berdaya,
baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.
Selain itu, dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 22 Tahun 2023
melampirkan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2017 pasal
7, yakni Dana Desa dipakai agar bisa membayar aktivitas dan
kegiatan bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa mengarah agar
bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat desa
dengan mendayagunakan potensi dan sumber dayanya sendiri
sehingga desa bisa mebiayai dirinya sendiri.

d. Pemberdayaan Ekonomi
Konsep Pemberdayaan Ekonomi menururt Edi (2019)
secara konseptual, pemberdayaan atau pemberkuasaan
(empowerment), asalnya dari kata “power kekuasaan, atau
keberdayaan). Disebabkan, ide yang pertama pemberdayaan
berkaitan dengan kekuasaan. Menurut Abdul (2022)
Pemberdayaan ekonomi adalah upaya untuk meningkatkan
kapasitas ekonomi individu dan komunitas agar mereka dapat
mencapai kemandirian dan kesejahteraan. Tujuan utama
pemberdayaan ekonomi adalah untuk menciptakan peluang
ekonomi, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan.
Proses ini melibatkan berbagai strategi dan program yang
dirancang untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam
mengelola sumber daya ekonomi mereka sendiri,dimana di
antaranya adalah.
1. Keterlibatan / Partisipasi Masyarakat
Pemberdayaan ekonomi juga berarti memberikan kesempatan
kepada individu atau kelompok untuk berpartisipasi aktif dalam

26
pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan
ekonomi mereka, baik di tingkat rumah tangga, komunitas, atau
lebih luas lagi.
2. Peningkatan Keterampilan
Dimana Pemberdayaan ekonomi seringkali melibatkan pelatihan
keterampilan dan pendidikan untuk meningkatkan kemampuan
individu atau kelompok dalam mengelola usaha atau mencari
peluang ekonomi baru.
3. Akses Terhadap SDM
Pemberdayaan ekonomi berusaha untuk memberikan individu
atau kelompok akses yang lebih besar terhadap sumber daya
ekonomi, seperti Fasilitas, modal finansial, dan teknologi.
4. Keberlanjutan
Pemberdayaan ekonomi juga mencakup pembangunan
hubungan dan jaringan yang kuat, baik dengan konsumen,
pemasok, maupun pemangku kepentingan lainnya, yang dapat
mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan usaha.

B. Penelitian Terdahulu Yang Relevan


Secara khusus, belum pernah yang meneliti berkaitan
efektivitas program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di desa,
terutama di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara,
Kabupaten Takalar. Namun, ada penelitian yang memiliki tujuan
serupa dengan penelitian saya mengenai program pemberdayaan
ekonomi di wilayah lainnya. Salah satunya yakni karya Susi Eka
Prayamita dari Universitas Hasanuddin Makassar (2017) dengan
judul “Efektivitas Penggunaan Dana Desa dalam Pelaksanaan
Program Pembangunan Desa di Desa Sampulungan Kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar.” Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa pemakaian anggaran desa agar untuk
program pembangunan di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong

27
Utara, Kabupaten Takalar di 2023, memakai pendekatan sasaran
(goal approach) yang pendapat Martani dan Lubis (1987) dengan
meninjau aktivitas diluar, yakni realisasi program dan kegunaannya.
Hasilnya yakni program itu telah terlalu efektif.
Selain itu, karya ilmiah dengan judul “Efektivitas Dana Desa
untuk Pengembangan Potensi Ekonomi Berbasis Partisipasi
Masyarakat di Desa Bangunjiwo” ditulis oleh Muhammad Eko
Atmojo, Helen Dian Fridayani, Aulia Nur Kasiwi, dan Mardha Adhi
Pratama dari FISIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di
2023. Kesimpulan dari tulisan ini yakni pemakaian dana desa di
Desa Bangunjiwo sangat efektif, khusunya pengembangan ekonomi
desa agar bisa memberdayakan masyarakat, yang akhirnya
menolong meningkatkan ekonomi di Desa Bangunjiwo. Partisipasi
dan inisiatif pemerintah desa sangat penting pada pemberdayaan
masyarakat desa, disebabkan pemerintah desa mempunyai
wewenang utama dalam perencanaan. Dalam tahap perencanaan
pembangunan, masyarakat Desa Bangunjiwo sering berpartisipasi
sangat aktif, khusunya di aktivitas musrenbang, sehingga
pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seterusnya.

C. Kerangka Pikir
Teori Konseptual mencerminkan struktur pemikiran atau
elemen-elemen ide, terkait dengan sebuah situasi atau persoalan
tertentu yang menjadi materi pertimbangan bagi pembaca. Ini
mencakup beragam gagasan atau pandangan teoritis yang dapat
diterima atau ditolak oleh pembaca, memberikan masukan
tambahan untuk peneliti. Secara lapangan, terdapat beberapa
persoalan dan kebutuhan yang bebas.
Untuk mencegah adanya bias makna di penelitian, penting
bagi penelitian ini untuk mempunyai titik fokus yang jelas. Sesuai
dengan uraian tersebut, gambaran kerangka pemikiran penelitian ini

28
bisa dijelaskan sebagai berikut:

EFEKTIFITAS PROGRAM PEMBERDAYAAN


EKONOMI MASYARAKAT DI DESA
SAMPULUNGAN KECAMATAN GALESONG
UTARAKABUPATEN TAKALAR

INDIKATOR EFEKTIFITAS

Kepuasan
Keberhasilan Keberhasilan
terhadap
program sasaran
program

KEBERHASILAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT DALAM PROGRAM
PENGEMBANGAN DESA
SAMPULUNGAN SUDAH TERCAPAI

Gambar 2.1 Kerangka Pikir


(Chambers, 1998:47)

29
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Tempat penelitian di Kantor Desa Sampulungan. Waktu
penelitian dimulai sesudah dilaksanakan seminar proposal dengan
membutuhkan durasi waktu maksimal 1 bulan untuk proses
penelitian.
Desa Sampulungan yakni Desa yang ada di Utara Kabupaten
Takalar yang jaraknya ± 24 Km dari pusat Pemerintahan. Ada di
Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi
Selatan. Secara administratif batas– batas Desa Sampulungan yakni
Sebelah Utara: Desa Aeng Batu-Batu, Sebelah Selatan: Desa
Tamalate, Sebelah Barat: Laut, Sebelah Timur: Kelurahan Bonto
Lebang. Secara Administratif, wilayah Desa Sampulungan ada 4
Dusun yakni Sampulungan Lompo, Sampulungan Beru, Kale
Sampulungan, dan Sampulungan cadi.

2. Waktu Penelitian
Waktu penelitiannya yakni 2 bulan dari 27 februari – 27 April
2024.

B. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan macam
penelitian deskriptif. Menurut (Sugiyono, 2022) penelitian kualitatif yakni
macam penelitian yang dipakai agar bisa meneliti pada keadaan objek
alamiah dimana peneliti yakni instrument kunci. Menurut Bogman &
Taylor (2020) Penelitian Kualitatif yakni tahap penelitian yang
memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau kata-kata dari

30
responden yang diteliti. Atau penelitian kualitatif yakni memahami
kejadian yang ada pada subyek penelitian (contohnya tindakan, pemikiran,
dan sebagainya). Oleh karena itu, penelitian ini akan mengdeskripsikan
kejadian dan menguraikan keadaan dari objek penelitian sesuai dengan
kejadian yang ada dan mencari tahu kebenarannya sesuai dengan data yang
didapatkan Berdasarkan dengan judul penelitian ini yakni, Efektivitas
Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Desa Sampulungan
Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
Dikarenakan pentingnya fokus penelitian ini, maka yang dipakai untuk
titik fokus utama di penelitian ini yakni mengukur seberapa efektif kegiatan
pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Sampulungan dalam
meningkatkan kesejahteraan dan perkembangan ekonomi penduduk
setempat. Dimana peneliti akan lebih memperhatikan hanya efektivitas
program tersebut.
Studi kasus Case studies, makanya peneliti melaksanakan eksplorasi secara
lebih rinsi di kegiatan, kondisi, tahap, aktivitas pada lebih dari 1 orang. Sebuah
kejadian dengan waktu tertentu dan kegiatan lalu peneliti melaksanakan
pengumpulan data dengan lebih rinci memakai beberapa tahap pengumpulan data
dan pada waktu tertentu.

C. Sumber Data
Sumber data dipenelitian ini, yakni:
1. Data primer, data yang di peroleh dari hasil observasi dan wawancara
oleh penulis yang dilakukan di Kantor Desa sampulungan kabupaten
takalar kecamatan galesong utara.
2. Data sekunder, data pendukung yang diperoleh dari berbagai dokumen
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

D. Informan Penelitian
Informan merupakan orang-orang mempunyai berita berkaitan
objek yang diteliti. Informan atau narasumber yang akan di wawancarai

31
dalam penelitian ini merupakan orang yang diyakini memiliki
pengetahuan tentang. Efektivitas program pemberdayaan masyarakat
dalam konteks desentralisasi Pemerintah di Desa Sampulungan.

Tabel 3.1 Informan Penelit

No Nama Jabatan

1. H. Sangkala Sikki Kepala Desa

2. Muhammad Hasbi, S.Pdi Ketua BPD Desa

3. Ansar Sekertaris Desa

4. Muhammad Azwar, S.Kom Toko Masyarakat

5. Dg ngona Masyarakat

Total : 5 Informan

E. Teknik Pengumpulan Data


Pada pengumpulan data memakai teknik sampling (purpose
sampling), yakni teknik pengambilan data pada sampel-sampel sudah
dipilih berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan
penelitian.
Ada beberapa tektik pengumpulan data yang dipakai, yakni:
1. Observasi, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui
pengamatan peneliti terhadap objek penelitian.
2. Wawancara, teknik pengumpulan data yang dilaksanakan lewat proses
wawancara terhadap narasumber yang telah ditentukan sesuai
kebutuhan penelitian.
3. Dokumentasi, teknik pengumpulan data yang dilaksanakan melalui
pengumpulan data dari lokasi penelitian sebagai pendukung data hasil
observasi dan wawancara. (Sugiyono, 2011)

32
F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan tahap mengelolah data berdasarkan
variabel yang telah ditentukan sehingga data dapat diurai secara
sistematis dan mudah di pahami serta sebagai cara untuk menarik
kesimpulan dari data yang dianalisis. Menurut Miles & Huberman (1984),
menyebutkan 3 (tiga) proses terjadi pada analisis, yaitu:
1. Reduksi Data
Dalam memperoleh data dilapangan tentu totalnya lumayan, sehingga
harus ditulis dengan detail serta terperinci. Selanjutnya untuk
memperoleh data sesuai kebutuhan penelitian maka data yang di
peroleh akan masuk dalam tahap reduksi data yang merupakan proses
memilih, merangkum atau pemusata fokus yang sangat penting sesuai
kebutuhan penelitian, serta proses penyaluran data dengan catatan-
catatan dilapangan.
2. Penyajian data
Selanjutnya tahap reduksi data maka data kembali dapat disajikan
dalam bentuk uraian, diagram/bagan sesuai dengan kepentingan yang
telah ditentukan.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Tahap ini yakni tahap akhir pada mengolah data. Ringkasan pertama
disuguhkan tidak selamanya serta dapat terganti jika tanpa fakta mendasar.
Tetapi, jika data dalam ringkasan yang disuguhkan pada proses pertama
memiliki fakta yang mendasar, sehingga ringkasan yang ada yakni ringkasan
konkret.

33
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Sejarah Singkat Kantor Desa Sampulungan

Desa Sampulungan terletak di Kecamatan Galesong Utara, Desa


Sampulungan merupakan Desa pemekaran dari Desa Tamalate, dimana
historis Desa sampulungan sudah ada sebelum Desa tamalate terbentuk.
Karena pemerintahan di Desa Sampulungan sebelumnya dipimpin oleh
Lo’mo Sampulungan pada saat itu lo’mo sampulungan dipimpin oleh
Jaelani Daeng Ngitung, Hamja Daeng Gassing, dan Hasan Basri Daeng
Pasolong kemudian Lo’mo Sampulungan bergabung dengan gallarrang
soreang yang sebelumnya dipimpin oleh Sulaemana, Hasan Lulung, H.
Nanggong Daeng Nguju, dan Patahuddin Daeng Lesang.

Seiring dengan berjalannya waktu maka pada tahun 1966 dua


unsur pemerintahan ini akhirnya memiliki satu konsep kesefahaman
yang melahirkan sebuah kesepakatan bahwa unsur pemerintahan lo’mo
sampulungan dan gallarrang soreang tersebut digabungkan menjadi satu
sehingga lahirlah yang namanya Desa Sampulungan dan terbentuklah
sebuah tatanan pemerintahan yang baru dari penggabungan tersebut.

Desa sampulungan ini sebelumnya merupakan bagian dari desa


Tamalate, yang kemudian di mekarkan pada tahun 2011. Desa
Sampulungan memiliki Luas Wilayah 0,72 Kilometer Bujur
Sangkar, Dengan gambaran wilayah potensi desa meliputi areal
persawahan seluas 39,36 Ha, area pemukiman penduduk seluas 23,16
Ha, dan area jalan seluas sekitar 3,50 Ha.Penduduk Desa mayoritas
bekerja sebagai Nelayan dan Petani. Selain potensi hasil laut yang besar,
potensi hasil pertanian Desa Sampulungan juga cukup banyak, dengan
mayoriyas hasil pertanian berupa padi, jagung, ubi jalar, semangka, dan

34
sayur-sayuran.Desa ini terdiri dari 4 Dusun, yakni:
2. Dusun Sampulungan Lompo
3. Dusun Sampulungan Beru
4. Dusun Sampulungan Caddi dan
5. Dusun Sampulungan atau Kale Sampulungan.
Desa Sampulungan terletak disebelah Utara Kabupaten Takalar
Dengan Jarak 25,7 Km Dari Ibu Kota Kabupaten Takalar dan Kurang
Lebih 2,2 Km Dari Ibu Kota Kecamatan Galesong Utara.

Gambar 1 : Denah Desa Sampulungan


2. Visi dan Misi
Visi
Berdasarkan potensi, permasalahan, serta berbagai keterbatasan
yang dihadapi Desa Sampulungan sebagai desa pesisir pantai, maka
ditetapkan Visi pembangunan Desa Sampulungan Tahun 2022 – 2023,
yakni :
“Terwujudnya masyarakat desa Sampulungan yang mandiri,
unggul, tolerans, berbudaya, beretika dengan bernafaskan keagamaan
untuk peningkatan taraf hidup yang lebih maju”

35
Misi
Berdasarkan Visi pembangunan desa Sampulungan di tetapkan
misi pembangunan desa Sampulungan Tahun 2022 – 2023 sebagai
berikut:
1. Meningkatkan pemahaman keagamaan yang dimulai dari usia dini.
2. Membangun aparatur pemerintah desa yang amanah, tertib dan
berperestasi menuju pemimpin yang berwawasan.
3. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan
(baik dalam perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan dan
pengawasan).
4. Mengembangkan ekonomi masyarakat melalui pola swadaya dan
kemitraan menuju masyarakat yang sejahtera sebagai perwujudan
masyarakat yang mandiri.
5. Meningkatkan kemampuan SDM menuju pembangunan yang
seutuhnya dan mendorong peningkatan peranan wanita peran pemuda
swasta dalam pembangunan.
6. Terpeliharanya keharmonisan antara etnis dan toleransi antara agama
serta stabilitas keamanan guna mendukung pembangunan desa.
7. Memantapkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat guna
memacu percepatan pembangunan desa.

3. Sruktur Organisasi

Gambar 2 : Struktur Organisasi Kantor Desa sampulungan

36
Adapun Susunan Organisasi Kantor Desa Sampulungan Kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar adalalah sebagai berikut :
1. Kepala Desa: H. Sangkala Sikki
2. Sekertaris Desa: Ansar
3. Kasi Pemerintahan: Muh Arsin, S.Pdi
4. Kasi Pelayanan: Milda Rahman
5. Kasi Kesejahteraan: Syamsul Rijal
6. Kaur Perencanaan: Nasriah, SE
7. Kaur Keuangan: Hasbullah, SE
8. Kaur Umum: HJ. Ratna
9. Staf Kasi Pemerintahan: Muh Azwar, S.Kom
10. Staf Kasi Pelayanan: Sumanti Sri Wahyuni, Amd. Kes
11. Staf Kaur Perencanaan: Rahmatia, Amd. Kes
12. Staf Kaur Keuangan: Rahmawati
13. Staf Umum: Hasbuddin
14. Kepala Dusun Sampulungan: Patahuddin Dg Nai
15. Kepala Dusun Sampulungan Lompo: Asrianto Dg Timung
16. Kepala Dusun Sampulungan Ca’di: Hasanuddin Dg Nyau
17. Kepala Dusun Sampulungan Beru: Muh Naris Dg Nai

B. Hasil Penelitian

Indikator Efektivitas adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai


sejauh mana suatu program, kegiatan, atau organisasi berhasil mencapai
tujuan atau sasarannya. Indikator ini membantu dalam memahami apakah
sumber daya yang digunakan memberikan hasil yang diharapkan dan
apakah strategi yang diterapkan efektif.

Adapun untuk mengetahui dan menganalisis evektivitas program


pemberdayaan ekonomi Masyarakat desa Sampulungan kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar dilakukan dengan wawancara,
observasi dan telaah dokumen kemudian akan dipadukan dari masing-
masing sumber untuk melihat kecocokan atau persamaan informasi yang

37
diterima dan diperkuat dengan dokumentasi yang ada dilapangan agar
kemudian dapat ditarik kesimpulan. Maka peneliti menguraikan penelitian
pada penjelasan sebagai berikut:

1. Keberhasilan Program

Sebagian besar program pembangunan infrastruktur di Desa


Sampulungan pada tahun 2023 telah berhasil dengan baik,
menunjukkan efektivitas dalam pelaksanaannya.

Meskipun menghadapi beberapa kendala seperti sumber daya alam


untuk perintisan jalan baru, namun pemerintah desa berhasil
menyelesaikan seluruh program dengan baik.

Masyarakat desa juga aktif terlibat pemakaian dana desa melalui


pembentukan sampai pelaksanaan, dengan pemerintah desa
sepenuhnya memanfaatkan tenaga kerja lokal dan berkomunikasi
dengan supplier didalam desa agar bisa memenuhi kebutuhan untuk
pembuatan bangunan. Adapun bentuk keberhasilan program dari
pemberdayaan ekonomi Masyarakat di Desa Sampulungan salah
satunya adalah:

a. Perintisan Jalan Baru


Inisiasi pembangunan jalan baru di desa ini bagian
persawahaan yakni bagian dari program yang dijalankan oleh
pemerintah desa ditahun 2023. Pembangunan jalan baru ini agar bisa
warga desa gampang ke arah persawahan dan sebaliknya, dan juga
untuk memudahkan transportasi akhir dari pekerjaan pertanian. Jalan
yang baru dibuat, atau biasa disebut jalan tani dari penduduk disini,
telah dibuat dari beberapa tempat.
Dibawah ini hasil wawancara dengan warga tentang pembuatan
jalan baru:
Saya sangat bersyukur karena program ini telah terlaksana
dengan baik dan memberikan manfaat besar bagi saya dan rekan
petani lainnya. Dengan adanya jalan tani yang baru ini sangat

38
menolong kami agar bisa lebih mudah untuk menuju ke persawahan,
terutama pada saat kami bekerja. Dahulu, kami kesulitan besar untuk
membawa hasil panen padi dari sawah ke jalan yang dapat dilalui
mobil, namun sekarang beda. Mobil yang dipakai untuk pengepul
padi dapat langsung mengambil yang sudah saya panen." (Dg.
Ngona, 27 Februari 2024).

Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh salah seorang


ketua BPD Sampulungan:
"Orang-orang disini sangat tertolong disebabkan adanya
Program ini, pemerintah bisa membuat jalan tani didesa ini sehingga
sangat bermanfaat bagi semuanya terutama bagi tani. Sebelumnya,
pada menanam padi, petani perlu berusaha keras untuk mengangkut
hasilnya lewat jalan yang hanya bisa dilewati oleh mobil. Akan tetapi
saat ini, hasil panen dengan gampangnya dijemput yang ada di
sawah." (Muhammad Hasbi, 1 Maret 2024).

Sesuai dengan wawancara diatas, bisa disimpulkan bahwa


program pembangunan jalan tani ini, sudah berhasil direalisasikan
secara bagus, dan Masyarakat sudah merasakan perbedaan signifikan
sebelum dan setelah jalan tani itu dibangun.
Namun, seperti halnya dalam pelaksanaan setiap program,
terdapat kendala-kendala yang muncul yang kadang-kadang
menghambat jalannya kegiatan. Sekdes Sampulungan
mengungkapkan
“Kendala utama yang dihadapi terkait dengan masalah
pembebasan lahan. Beberapa pemilik lahan tidak memberikan izin
untuk mengalihkan sebagian lahan mereka menjadi jalan, meskipun
permintaan tersebut hanya sedikit, sekitar 1-2 meter saja. Akibatnya,
beberapa titik yang telah direncanakan untuk pembangunan jalan
tidak bisa dilakukan disebabkan masalah ini. Untuk memastikan uang

39
tetap bisa dimanfaatkan, mereka memutuskan untuk mengalihkan
dana tersebut ke proyek pembangunan lainnya.” (Ansar, 1 Maret
2024).

Ketua BPD Sampulungan, juga membenarkan masalah yang


sama yang diungkapkan oleh Sekdes. Dia menegaskan bahwa
“Masalah utama dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah
kesulitan dalam mendapatkan izin dari pemilik lahan. Meskipun
sudah berusaha maksimal, jika tidak ada izin yang diberikan, mereka
terpaksa mengalihkan anggaran program untuk kegiatan lain yang
terkait dengan pembangunan.” (Muhammad Hasbi, 1 Maret 2024)

Hasil wawancara menunjukkan bahwa salah satu tantangan


yang dihadapi adalah kesulitan dalam memperoleh izin dari pemilik
lahan untuk pembebasan lahan. Situasi ini dapat mengakibatkan
penundaan dalam melakukan proyek berdasarkan jadwal yang
dibuar. Jika tidak segera ditangani, hal ini bisa mengakibatkan
stagnasi dalam penggunaan dana yang akan melibatkan pada alokasi
anggaran selanjutnya. Maka dari itu, pemerintah desa secapatnya
untuk membuat kepurusan tentang dana untuk digunakan pada
program lain.
Harga tanah yang tinggi dijadikan alasan utama yang tidak
mudah warga desa untuk membagikan sebagian tanah mereka bagi
pembangunan jalan lagi. Kendala ini juga akan jadi tantangan untuk
orang yang mengelola dana disebabkan kurangnya dana bagi
pembebasan lahan. Ini merupakan hambatan utama dalam
pelaksanaan program pembuatan jalan baru. Meskipun begitu, di
2023, pemerintah desa disini berhasil melakukan program perintisan
jalan baru di 2 tempat, yaitu di dusun Sampulungan Beru, dengan
pembangunan jalan berkotak. Dengan demikian, kendala-kendala
semacam itu merupakan bagian dari proses pelaksanaan proyek

40
pembangunan, namun pemerintah desa tetap berupaya mengatasi
hambatan itu agar bisa dipastikan pemakaian dana desa yang efektif.

2. Keberhasilan Sasaran

Program pembangunan infrastruktur telah tepat pada sasarannya


yang signifikan bagi masyarakat, yakni pembuatan jalan berkotak,
pembuatan jalan baru, pembuatan talud, pembangunan drainase,
pengadaan tempat sampah, dan pemeliharaan lampu jalan.

Masyarakat sangat merasakan sasaran yang telah berhasil dari


fasilitas-fasilitas tersebut. Contohnya, jalan paving block meningkatkan
aksesibilitas, perintisan jalan baru memudahkan aktivitas bertani, dan
pembangunan drainase mengurangi risiko banjir.

Selain output fisik, partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan


program juga memberikan dampak yang signifikan dalam peningkatan
kesejahteraan dan kesadaran lingkungan. Adapun keberhasilan program
ini adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan Jalan Berbatu Cetak

Jalan Berbatu Cetak (Paving block) adalah material bangunan


yang terbuat dari campuran pasir dan semen PC yang dicetak
menjadi batu. Jalan paving block adalah jalan yang dibangun dengan
menggunakan batu paving block. Di wilayah desa Sampulungan,
jalan paving block dianggap cocok karena pemasangannya mudah
dan tidak memerlukan keterampilan khusus, dapat diproduksi secara
semuanya, gampang dalam pemeliharaan disebabkan bisa disusun
lagi, memiliki permukaan berpori yang mencegah perkumpulan air
dan gampang penyerapan air ke dalam tanah, serta tahan dengan
bentuk vertikal dan horizontal. Maka dari itu, jalan berbentuk block
perlu memiliki kekuatan yang cukup agar dapat ada terus menerus

41
dan tidak gampang lobang . Kualitas bahan serta teknik pemasangan
yang benar akan meningkatkan kekuatan jalan, terutama untuk jalan
yang sering dilalui kendaraan.
Salah satu program pembangunan jalan paving block di desa
Sampulungan yakni infrastruktur. Pada tahun 2023, pembangunan
jalan berkotak dilaksanakan pada 11 kegiatan pembangunan di Desa
Sampulungan, yang tersebar di beberapa dusun diantaranya adalah
Dusun Sampulungan Lompo, Dusun Sampulungan Caddi, dan Dusun
Sampulungan Beru. Dari jumlah tersebut, 3 kegiatan dibiayai oleh
Alokasi Dana Desa (ADD), 7 kegiatan menggunakan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APBD), dan 1 kegiatan pembangunan
didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pembangunan jalan berkotak ini fokus pada yang di lorong


desa. Seorang masyarakat desa mengungkapkan pengalamannya
terkait program ini dalam sebuah wawancara:
"Pembangunan jalan yakni salah satu program
yang telah dilaksanakan. Saya telah memanfaatkan,
karena jalan disini sebelumnya rusak dan sekarang
sangat baik untuk dilewati. Keadaan jalanan telah
baik dan tidak lagi rusak seperti dulu. Terlebih lagi,
tidak ada lagi masalah lumpur saat musim hujan."
(Dg. Ngona, 27 Februari 2024).

Ini sesuai dengan pernyataan Sekretaris Desa Sampulungan:


"Kebanyakan jalan di Desa ini telah jauh lebih
baik daripada sebelumnya pada saat belum ada dana.
Dahulu, daerah ini tidak ramai, karena banyak
penjual keliling tidak masuk pada Lorong
dikampung ini. Tetapi saat ini tidak lagi sepi
disebabkan penjual sudah banyak masuk

42
ke,kampung."(Ansar,27Pebruari.)
Kepala Desa ini juga menekankan manfaat pembangunan jalan
bekotak bagi penduduk desa:

"Ada jalanan berkotak didesa ini sangat parah


rusaknya, tergenang air dan juga becek sehingga
tidak bisa dilewati jalanan itu. Beberapa warga perlu
bikin pagar pada halaman rumahnya dikarenakan
jalan dianggap sebagai akses oleh warga. Sesudah
itu, pembangunan jalan berkotak selesai, orang-
orang yang disini sangat bersyukur disebabkan jalan
telah dipulihkan." (Sangkala Sikki, 27 Februari
2024).

Dari hasil wawancara tersebut, jelas bahwa dibuatnya jalan


berkotak merupakan hal yang utama di Desa Sampulungan karena
keadaan jalanan yang terlalu buruk bagi orang yang tinggal didesa
ini. Maka dari itu, pada tahun 2023 sendiri, pembuatan jalan berkotak
dilaksanakan di 11 titik. Saat ini, warga desa sudah merasakan
manfaatnya dengan adanya jalan yang baik dan layak.
Masyarakat berhak mendapatkan fasilitas umum, termasuk
jalan yang layak. Lewat program desa, pemerintah desa berusaha
memastikan bahwa fasilitas yang ada disini bisa dinikmati oleh
semua warga desa. Saat ini, orang disini memakai fasilitas tersebut.

b. Proyek Pengadaan dan Perawatan Penerangan Jalan

Tidak dapat diabaikan bahwa kebutuhan akan pencahayaan


jalan yang memadai sangatlah penting. Pencahayaan jalan merupakan
aspek krusial bagi semua pengguna jalan, yang harus memenuhi
standar tertentu untuk memberikan visibilitas yang memadai tanpa
menyebabkan silau berlebihan. Hal ini bertujuan agar bisa terasa

43
nyaman bagi pengemudi pada saat malam.

Lampu jalan yakni salah satu fasilitas publik yang wajib


diprioritaskan oleh pemerintah. Lewat alokasi uang desa, pemerintah
desa berupaya untuk terpenuhi keinginan tersebut dengan cara
merancang dan melakukan program pengadaan serta perawatan
lampu jalan di Desa ini.

Dibawah ini adalah kutipan wawancara peneliti dengan Kepala


Desa, terkait program dibauatnya lampu jalan dan cara merawatnya:

"Pada tahun 2023, program dibuatnya lampu


jalan telah berhasil dilaksanakan dengan baik di
Desa Sampulungan. Lampu jalan telah dipasang di
setiap jalan, memenuhi kebutuhan lama masyarakat
akan pencahayaan di malam hari. Kehadiran lampu
jalan disambut dengan sukacita oleh warga desa,"
(H. Sangkala Sikki, 1 Maret 2024).

Bapak Ketua BPD Desa juga mengungkapkan,

"Alhamdulillah, sekarang kami memiliki


lampu jalan di sini. Malam hari sudah menjadi
terang untuk berjalan kaki. Sebelumnya belum ada
lampu dijalan, ini terwujud saat ini. Aku dan warga
lainnya senang karena ada lampu jalan,"
(Muhammad Hasbi, 1 Maret 2024).

Sesuai dengan wawancara tersebut, Masyarakat di desa ini


merasa Bahagia dengan kehadiran lampu jalan yang digunakan untuk
pencahayaan pada saat malam. Sebelumnya, kondisi gelap pada
malam membuat orang yang jalan kaki merasa tidak aman. Kini,
kebutuhan pada pencahayaan jalan sudah ada, memungkinkan warga

44
desa merasakan keamanan pada beraktivitas di malam hari.

Namun demikian, perawatan fasilitas tersebut juga penting,


mengingat kemungkinan kerusakan atau masalah lain yang bisa
terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Kepala Desa:

"Terkadang lampunya cepat rusak disebabkan


angin atau tertimpa pohon di sekitar tiang lampu
jalan. Oleh karena itu, perlu perhatian dari
masyarakat untuk terus memelihara fasilitas yang
telah disediakan. Jika ada lampu yang rusak, segera
laporkan ke pemerintah desa untuk segera
diperbaiki," (Sangkala Sikki, 1 Maret 2024).

Dari pernyataan tersebut, tampak ada kendala yang berkaitan


dengan program ini yang dapat rusak dikarenakan berbagai alasan
seperti adanya angin kencang. Oleh karena itu, diharapkan bagi
warga yang dapat lampu jalanan rusak untuk segera melapor kepada
pihak berwajib agar bisa secepatnya diperbaiki. Ini adalah upaya
yang diingikan dari pihak yang berwajib sebagai sponsor pembuatan
lampu jalan, agar warga bisa menjaganya program tersebut yang baru
dibuat.

Program pengadaan dan perawatan lampu jalan telah berhasil


direalisasikan dan memberikan manfaat bagi warga desa.
Berdasarkan pengamatan penulis, lampu jalan ini ternyata tidak
dipasang pada tiang lampu jalan sendiri, melainkan menggunakan
tiang listrik yang ada. Dengan kata lain, lampu jalan dipasang pada
tiang listrik dengan jarak sekitar 100 meter.

Sekretaris Desa Sampulungan atau Pak Ansar mengonfirmasi


hal ini, menjelaskan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk
pengadaan lampu jalan sebanyak 25 Juta tanpa mencukupi agar bisa
pembelian tiang dari lampu jalan, mengingat harga alat tersebut yang

45
bagus dan beban pajak yang tinggi juga menjadi pertimbangan.
Meskipun lampu jalan ini menggunakan tiang listrik yang sudah ada,
namun hal ini tidak mengurangi kegunaan untuk warga. Warga tetap
bisa merasakan penerangan jalan diwaktu yang gelap.

c. Merawat Lapangan Sepak Bola

Menjaga program ini di desa Sampulungan dianggap penting


sebagai sarana olahraga yang juga memiliki dampak positif bagi
perkembangan ekonomi, pengembangan potensi pemuda, dan
sebagai alat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat
desa. Untuk memastikan pemeliharaan tersebut, pemerintah desa
mengalokasikan dana sebanyak 10 Juta agar bisa membangun
lapangan takraw pada bagian lapangan sepak bola.
Sebelumnya, lokasi tersebut tidak sangat bersih dan tidak
nyaman disebabkan untuk tempat sampah oleh masyarakat.
Banyaknya sampah dibuang ditempat itu, sehingga warga yang
tinggal ditempat tersebut merasa terganggu. Maka dari itu, yang
dulunya tempat sampah telah dibangun lapangan takraw dengan
lantai berkotak yang dapat digunakan secara multifungsi.
Lapangan takraw tersebut tidak hanya digunakan untuk
bermain takraw, tetapi juga digunakan sebagai lapangan bulu tangkis
pada malam hari dan tempat untuk menjemur hasil panen padi warga
pada siang hari. Sekretaris desa disini menjelaskan pembuatan
lapangan takraw yang bagian dari lapangan sepak bola sebagai
berikut:

“Bagian dari tindakan menjaga lapangan sepak


bola di sini yakni pembuatan lapangan sepak bola
tersebut. Ini dilakukan agar bisa membersihkan
lapangan yang banyak sampah. Pada masa
sebelumnya, orang yang di desa sering

46
menghamburkan banyak sampah di sana, yang
membuat bau disekitaran situ. Maka dari itu, upaya
dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terus-
menerus, dan inilah alasan dibangunnya lapangan
sepak bola yang memiliki fungsi ganda. Lapangan
ini digunakan untuk bermain sepak bola pada sore
hari. Dengan demikian, ini juga berdampak pada
menjaga kebersihan lapangan sepak bola itu
sendiri.” (Ansar, 5 Maret 2024).

Di desa tersebut, ada 1 lapangan sepak bola yang ada di depan


kantor desa. Meskipun kondisinya masih dapat digunakan untuk
berbagai kegiatan olahraga selain sepak bola, lapangan tersebut
masih memerlukan perbaikan. Seorang masyarakat desa memberikan
tanggapannya mengenai pemeliharaan lapangan tersebut.

"Kondisi lapangan sepak bola di sini cukup


memadai, meskipun belum sempurna, tapi
setidaknya masih dapat dimanfaatkan untuk
berolahraga oleh para pemuda di sini. Untuk
penjagaannya, terkadang melaksanakan kerja sama
sekali 1 minggu untuk memotong rumput yang ada
di lapangan." (Dg. Ngona, 5 Maret, 2024).

Tokoh Masyarakat juga menambahkan yang berkaitan kerja


sama agar membersihkan lapangan sepak bola.

"Berkeja sama agar membersihkan lapangan


terkadang dilaksanakan pada hari Minggu, terutama
dipagi hari. Semua orang yang ada di desa dipanggil
agar berkerja sama, walaupun mayoritas yang ada
adalah pemain sepak bola, orang yang muda, dan

47
petugas desa. Meskipun sebagian warga dapat hadir
karena memiliki kesibukan lain, namun kami tetap
bersyukur atas partisipasi mereka yang dapat
menyempatkan waktu untuk gotong royong ini."
(Muhammad Azwar, 5 Maret, 2024).

Kepala BPD Desa juga mengkonfirmasi bahwa bekerja sama


agar membersihkan lapangan adalah bagian dari cara untuk
memeliharanya.

"Lapangan sepak bola dibersihkan sekurang-


kurangnya 1 minggu sekali atau sesuai kebutuhan
lapangan. Semua warga dipanggil untuk berpartisipasi
dalam gotong royong, tetapi yang selalu terlibat adalah
anak muda dan petugas desa. Sebagian orang yang disini
mungkin sibuk dengan pekerjaan mereka yang lain.
Meskipun demikian, lapangan ini penting untuk kebutuhan
desa. Lapangan dapat dipakai untuk berbagai aktivitas."

Dari wawancara tersebut, terlihat program dalam penjagaan


lapangan tersebut dilaksanakan lewat berkerja sama yang diharapkan
dilaksanakan semua penduduk desa. Akan tetapi, banyak penduduk
desa yang tidak ikut disebabkan melakukan kepentingannya masing-
masing.
Orang yang menyukai olahraga, keberadaan lapangan yang
lumayan dipakai merupakan kewajiban yang perlu dilaksanakan oleh
pihak berwajib. Ketika program ini sudah dijalankan, pihak yang
berwajib dan penduduk semua memiliki tanggung jawab untuk
memelihara program yang baru dibangun. Akan tetapi, faktanya
budaya berkerja sama mulai memudar di kalangan penduduk desa
sekarang. Kebersamaan tetap satu, serta sikap yang rela berkorban

48
yakni bagian dari nilai-nilai Pancasila kurang ada di kalangan
masyarakat saat ini.

d. Pembangunan Sistem Pengeluaran Air

Drainase dari yang paling bawah permukaan sebuah tempat.


Tempat lewat drainase permukaan terkadang berbentuk parit yang
dirancang dengan kuat dan tegak untuk memastikan fungsinya yang
optimal. Manfaat drainase antara lain adalah mengalirkan air hujan
yang meresap dalam lingkungan pemukiman ke sungai, menjaga
kebersihan lingkungan dengan mencegah genangan dan genangan
air, dan juga meningkatkan bangunan di desa. Akan tetapi, manfaat
utama yang dirasakan adalah pencegahan banjir karena drainase
membantu mengalirkan air dengan lancar.

Di Desa Sampulungan, yang terletak di wilayah pesisir, telah


dilakukan program ini ada berbagai tempat yang berpotensi
tergenang air saat hujan datang. Seorang masyarakat desa,
menyampaikan pendapatnya tentang pembangunan drainase sebagai
berikut:

"Memang benar, di Sampulungan, khususnya


di Dusun Sampulungan Beru, telah dilakukan
pembangunan drainase. Wilayah tersebut selalu
tergenang air saat hujan datang. Tempat tinggal
orang didesa ini sering banjir dan ini juga
berdampak pada kondisi jalan di sana." (Dg. Ngona,
5 Maret 2024)

Pernyataan dari warga tersebut dikuatkan oleh Bapak sekretaris


desa Sampulungan, yang menyatakan:

"Bagian dari program yang diajukan pada


2023 yakni pembuatan drainase. Program tersebut

49
sudah diwujudkan di Dusun ini, di mana drainase
dibuat agar bisa menolong mengurangi dan juga
mengatasi tergenang air saat hujan datang." (Ansar,
5 Maret 2024)

Tokoh Masyarakat juga menyambut gembira pembangunan


drainase tersebut dengan mengatakan,
"Selain membantu mencegah banjir, drainase
juga membuat lingkungan lebih teratur. Saya merasa
senang dengan pembangunan drainase di lingkungan
kami karena ini menunjukkan bahwa warga kecil
seperti kami juga turut berperan dalam
pembangunan dan pemeliharaan fasilitas publik."
(Muhammad Azwar, 10 Maret 2024)

Sesuai dengan wawancara tersebut, bisa diringkas yakni


tanggapan warga terhadap pembangunan drainase sangat positif.
Selain membantu mengatasi genangan air yang selalu ada di tempat
tersebut, pembangunan drainase memberikan manfaat dalam
pembersihan lingkungan dan pemukiman Masyarakat dengan
menjadikannya lebih teratur dan tidak becek di sekitar permukiman.

Bapak Kepala Desa dan Sekretaris Desa juga menyatakan hal


yang serupa tentang manfaat pembangunan drainase di Dusun ini.
"Pembuatan drainase di Dusun ini memberikan
faktor yang positif bagi tempat di sana. Sebelumnya,
tempat di sana sering kali terkena banjir dan sangat
berlumpur, bahkan tergolong kumuh. Namun,
sekarang situasinya telah membaik secara signifikan.
Saluran air menjadi lebih baik dan tidak lagi kena
tempat tinggal masyarakat saat hujan. Masyarakat di

50
sana bersyukur disebabkan karena drainase." (H.
Sangkala Sikki & Ansar, 10 Maret 2024).

Pembangunan drainase di sekitar tempat tinggal masyarakat


yang gampang terkena genangan air, masalah banjir dapat
terselesaikan. Terbukti dengan tidak adanya genangan air di tempat
tinggal masyarakat pada saat hujan datang. Selain itu, tempat
mengalir air yang cepat juga membuat tempat tinggal masyarakat
akan teratur dan tidak kotor disebabkan tidak berlumpur dan becek
waktu dulu. Selanjutnya, pembangunan drainase mendapatkan
kesempatan bagi Masyarakat agar bisa ikut terlibat aktif pada saat
proses pembuatan. Masyarakat turut serta dalam pelaksanaan
aktivitas sekarang, sehingga semuanya merasa terlibat secara
langsung pada setiap inisiatif pemerintah. Sehingga merasakan
dampak positif untuk masyarakat.

e. Pembangunan Talaud
Pembangunan talud adalah proses konstruksi untuk
meningkatkan stabilitas tanah dengan menggunakan dinding
penahanan atau struktur yang dikenal sebagai talud. Talud dibuat dari
batu kali yang dipasang menggunakan campuran semen, pasir, dan
air sebagai penguat. Fungsi utama dari talud adalah untuk menahan
tekanan tanah dari bagian belakangnya, melindungi tanah di
depannya, serta mengatasi adanya risiko longsor.
Pembangunan talud di Talaud merupakan bagian dari inisiatif
yang berhasil direalisasikan di 2023 menggunakan anggarannya.
Dengan berhasilnya pelaksanaan kegiatan ini, pertanyaannya adalah
apakah orang desa dapat fungsinya secara efektif sehingga mencapai
tujuan dari alokasi dana desa tersebut.
Berikut adalah kutipan wawancara dengan Bapak Sekretaris
Desa Sampulungan, yang mengungkapkan yakni:

51
“Program pembangunan talud dilaksanakan di
beberapa lokasi, salah satunya di wilayah pertanian.
Dia menyatakan keyakinannya bahwa pembangunan
talud ini akan memberikan manfaat yang signifikan
untuk petani dan akan faktor positif pada hasil panen
desa.” (Ansar, 10 Maret 2024).

Sesuai dengan wawancara di atas, sehingga dapat dikatakan


yakni implementasi program pembuatan talud sudah berhasil.
Masyarakat, terutama para petani, sudah merasakan manfaatnya
secara langsung. Dengan berkurangnya serangan hama, hasil
pertanian warga meningkat, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan pendapatan keluarga dan keamanan di desa.
Orang yang berwajib diharapkan agar pembangunan talud ini
bisa memberikan sangat manfaat bagi orang di desa. Penting bagi
orang di desa agar bisa menggunakannya dengan baik serta
merawatnya. Secara keseluruhan, program dana desa telah berhasil
mengatasi sejumlah masalah di desa tersebut. Dana tersebut,
terutama yang dialokasikan untuk infrastruktur desa, telah
memberikan dampak positif bagi masyarakat desa dan mengarahkan
desa menuju perkembangan yang lebih baik, sehingga tidak lagi
tertinggal dalam hal kemajuan.

f. Pembuatan Tempat Sampah


Pembuatan tempat sampah di desa ini akan jadi suatu
kebutuhan penting disebabkan daerah ini yakni bagian dari tujuan
wisata di Kabupaten Takalar serta masih kurangnya sadar diri orang
di desa akan kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah
perlu adanya tempat sampah untuk public di tempat yang sehat.
Hampir setiap yang sudah berkeluarga di Desa ini membuang
sampah yang basah secara tidak tepat, umumnya mengalir di bawah

52
dapur rumah panggung tanpa tempat penampungan khusus.
Sementara itu, sampah padat seringkali dibuang di pinggir laut
atau bahkan melalui saluran air, menyebabkan rawan terjadinya tidak
sehat. Dengan tempat sampah di lokasi tersebut, diinginkan tempat
dapat tetap tidak kotor dan banyaknya faktor negatif dari sampah bisa
diatasi. Hal ini akan membuat warga dan pengunjung merasa
nyaman.
Menurut wawancara dengan Tokoh Masyarakat tentang
pembuatan tempat sampah di dusun ini, dia menyatakan:
"Pembuatan tempat sampah di sini telah
direalisasikan. Tempat sampah yang dibangun juga
berguna agar bisa penghabisan sampah. Tempat sampah
tersebut tidak ada penutup. Dengan demikian, sampah bisa
langsung di eksekusi setelah dibuang, oleh karena itu tidak
banyak sampah dan sangat harum." (Muhammad Azwar,
10 Maret 2024).

Salah seorang warga juga mengonfirmasi pembuatan tempat


sampah di berbagai tempat.

"Waktu dulu di sini tanpa tempat sampah


untuk publik, sehingga masyarakat sering kali
membuang sampah dimanapun. Namun saat ini telah
tersedia tempat sampah untuk publik, yang dapat
digunakan orang di desa agar bisa membakar
sampah supaya tidak banyak sampah. Banyak
sampah berasal dari rumah tangga, dan apabila
banyak sampah, akan menyebabkan tidak harum.
Oleh karena itu, orang di desa dihimbau agar bisa
membuang serta membakar sampah di tempat yang
sudah ada." (Dg. Ngona, 10 Maret 2024).

53
Dari wawancara tersebut dinyatakan yakni pembuatan tempat
sampah untuk public agar bisa menolong orang disini dalam
kebersihan tempat di desa. Apabila sebelumnya masyarakat
membuang serta membakar sampah di mana-mana, yang bisa
berdampak tidak baik untuk kesehatan serta kenyamanan hidup,
sekarang warga dapat melakukannya di tempat sampah yang
disediakan agar sampah tidak banyak dan tidak ada bau tidak sedap.

Kepala Desa memastikan bahwa kegiatan pembangunan tempat


sampah telah dieksekusi dengan baik.

"Pembuatan tempat sampah telah dilaksanakan


di 10 lokasi tersebar pada seluruh dusun. Salah
satunya berada di Dusun Sampulungan Beru, yang
ditempatkan di lapangan. Disebabkan lapangan
tersebut yakni tempat yang sering didatangi oleh
banyak Masyarakat dan juga seringkali buang
sampah di lokasi tersebut, maka kami membangun
tempat sampah untuk menjaga kebersihan. Ini
merupakan bagian dari tujuan dari pembangunan
tempat sampah untuk public ini, sehingga orang di
desa dapat terjaga kebersihan lingkungan."
(Sangkala Sikki, 10 Maret 2024).

Dari penjelasan tersebut, bisa dinyatakan yakni pembuatan


tempat sampah sudah berhasil serta bermanfaat untuk orang di desa.
Sebanyak 10 tempat sampah sudah dibangun di 2023, tersebar di
berbagai dusun tergantung luas dusunnya. Hal ini dengan tidak
langsung mendorong orang di desa agar bisa tetap bersih ditempat
dari banyaknya sampah yang bisa menyebabkan dampak negatif
untuk kesehatan dan keamanan hidup.
Lewat kegiatan pembuatan tempat sampah, orang didesa

54
diharapkan untuk agar bisa tetap bersih di lokasi dan hidup sehat
dengan membuang sampah atau sampah lainnya ditempat sampah
yang ada.
Sesuai dengan wawancara dan observasi yang dapat, semua
kegiatan yang diputuskan dalam Musrenbang dan dijadikan RKP-
Desa sudah berhasil direalisasikan. Orang di desa sudah merasakan
manfaat dari pembuatan ini. Kegiatan tersebut yakni aspirasi dari
orang didesa yang dianggap sebagai kebutuhan desa. Secara
keseluruhan, kegiatan yang sudah direalisasikan dianggap mampu
meningkatkan keamanan orang di desa, yang bagian dari tujuan
utama pembuatan didesa ini. Pembangunan jalan tani dan baru, dan
perbaikan jalan berkotak di jalanan kecil dinilai sangat bermanfaat
bagi warga desa karena mempermudah akses yang dibutuhkan.
Selain itu, orang yang berwajib di desa berupaya agar dapat
selalu ada orang di desa bagi pemakaian anggaran desa untuk
pembangunan infrastruktur. Pelaksanaan program diutamakan secara
swakelola dengan memakai sumber daya lokal serta memakai tenaga
kerja dari warga di sana. Beberapa toko lokal juga dijadikan mitra
yang ada bahan-bahan bagi proyek pembangunan. Ini dilaksanakan
untuk memastikan bahwa anggaran desa membagikan fungsi bagi
orang di desa, untuk berkerjasama antara orang yang berkepentingan
di desa dan warganya dalam berusaha bertambahnya pendapatan.
Seperti diungkapkan tokoh masyarakat:

“Saya membantu menyediakan semen, pasir,


serta lainnya untuk pembuatan fasilitas tersebut. Jika
bahan-bahan tidak tersedia di desa, saya akan
mengambilnya dari desa tetangga.” (Muhammad
Azwar, 10 Maret 2024).

Pernyataan tersebut disetujui oleh Sekretaris Desa

55
Sampulungan, yang menyatakan bahwa

“Pemerintah desa berusaha keras untuk


memastikan bahwa dana desa memberikan manfaat
yang nyata dengan melibatkan semua aspek orang di
desa. Mereka berupaya agar anggara tersebut tetap
ada di dalam desa dengan menjalin kerjasama
dengan warga yang memiliki akses ke penyedia
bahan yang diperlukan untuk pembangunan
infrastruktur.” (Ansar, 10 Maret 2024).

Sesuai dengan wawancara tersebut, dinyatakan yakni pihak yang


berwajib didesa sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa
berguna anggaran desa secara efektif. Mereka juga melibatkan
masyarakat desa dalam penyediaan bahan-bahan yang dibutuhkan
dalam pembangunan infrastruktur. Ini menunjukkan pihak berwajib
dan warga saling berkomunikasi sebagai mitra untuk bisa mencapai
tujuan pembangunan desa untuk kesejahteraan bersama.
Selain itu, pemerintah desa juga berusaha untuk melibatkan
warga lokal dalam pelaksanaan proyek-proyek pembangunan di desa.
Tujuannya adalah untuk anggara yang dipakai pembuatan
infrastruktur tetap memberikan manfaat dan terus ada di desa. Sesuai
penjelasan Kepala Desa:

“Warga desa terlibat dalam proyek-proyek


tersebut melalui pekerjaan borongan yang diberikan
kepada mereka. Hal ini dilakukan karena mayoritas
warga desa memiliki keterampilan yang cukup
dalam bidang konstruksi, sehingga pemerintah desa
merasa yakin agar membagikan pekerjaan tersebut
kepada warga. Dalam konteks pelaksanaan kegiatan
dari anggaran desa, swakelola dianggap sebagai

56
pendekatan yang tepat untuk dilakukan.” (Sangkala
Sikki, 10 Maret 2024).

Pernyataan Kepala Desa yang telah disampaikan di atas


diperkuat oleh Bapak Sekretaris Desa, yang mengakui program ini
yang menggunakan anggaran desa, pihak yang berwajib didesa
berusaha untuk melibatkan warga secara aktif dalam proses aktivitas
dilakukan.

"Uang desa ini ditujukan agar bisa kesejahteraan


orang di desa, oleh karena itu, untuk dikelola, kita
bertanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik.
Tujuan utama adalah agar seluruh lapisan masyarakat bisa
merasakan manfaat dari alokasi uang desa ini. Untuk
pembuatan jalan, drainase, dan infrastruktur lainnya, pihak
berwajib di desa memilih pekerja diluar desa agar
menangani pekerjaan tersebut. Semuanya adalah usaha
kami agar bisa memberikan lumayan sedikit bantuan
kepada perekonomian warga desa. Selain itu, banyak
warga yang memiliki keterampilan dalam bidang tersebut,
sehingga kami bisa mempercayakan mereka untuk
menyelesaikan proyek dengan baik." (Ansar, 10 Maret
2024)

Seorang masyarakat desa yang mengetahui tentang


pembangunan juga menyatakan hal yang serupa:
"Saya terlibat pada 1 proyek pembuatan sarana
dan prasarana di desa ini, khususnya dalam
pembuatan jalan berkotak. Hal ini membantu
meningkatkan penghasilan saya, terutama karena
saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Dengan proyek

57
ini, saya merasa sangat terbantu, dan saya juga
biasanya bekerja sebagai pekerja bangunan di luar
desa. Dengan proyek ini, saya dapat jalan ke tempat
tinggal saya agar bisa makan siang saat istirahat dan
menghemat biaya bensin yang harus saya keluarkan
setiap hari." (Dg. Ngona, 10 Maret 2024).

Dari wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa program


pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat telah terbukti
cukup efektif dalam membantu meningkatkan kesejahteraan irang
yang ada di desa. Walaupun secara tidak langsung memperoleh
produk, program tersebut berdampak positif pada keuangan orang
yang ada di desa, sehingga akhirnya meningkatkan kemakmuran
mereka.
Namun, masih terdapat aspek-aspek yang wajib diamati pada
pemakaian anggaran desa ini, sesuai yang disampaikan Bapak Dg.
Ngona. Bapak tersebut mengungkapkan meskipun pembuatan
infrastruktur desa telah berjalan lancar, akan tetapi tetap kurangnya
bantuan signifikan untuk para penjualan kayak dirinya. Mungkin,
pembangunan jalan telah meningkatkan pendapatannya karena lalu
lintas yang meningkat akibat jalanan yang lebih baik.

Pendapat Bapak Dg. Ngona juga seperti pendapat tokoh


Masyarakat di desa ini. Bapak ini mengungkapkan yakni:
“Program pembuatan jalan telah membawa
manfaat yang terlihat, terutama bagi usaha kecil-
kecilannya dalam penjualan kue dan gorengan.
Namun, hingga sekarang, tidak ada lagi kegiatan
secara khusus ditujukan agar mendukung para
pembisnis seperti dirinya. (Muhammad Azwar, 10
Maret 2024)

58
Program pembangunan infrastruktur desa Sampulungan telah
berhasil melaksanakan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa orang yang ada didesa telah
memakai fasilitas yang baru dibuat ini, walaupun tidak lagi
mencakup seluruh sektor di Desa ini. Meskipun demikian, program-
program yang telah dijalankan sudah memperoleh faktor positif
signifikan pada meningkatkan kesejahteraan orang yang ada di desa.
Program-program itu secara umum telah berkontribusi dalam upaya
peningkatan kesejahteraan dan sedikit membantu dalam mengurangi
kemiskinan. Melalui partisipasi masyarakat sebagai pekerja dalam
pembangunan infrastruktur, ekonomi warga telah sedikit terbantu.
Pembangunan infrastruktur juga berperan dalam meningkatkan
ketahanan pangan dan pemukiman, yang secara langsung
mempengaruhi perekonomian warga desa Sampulungan.
Meskipun tidak ada program khusus yang ditujukan untuk
meningkatkan gaya hidup manusia, pembuatan infrastruktur yakni
pembaharuan jalan telah memberikan faktor positif untuk orang yang
ada di desa. Untukk akses menuju sekolah dan lapangan yang tidak
buruk memiliki jalan yang bagus dapat bisa menambah kegiatan
olahraga didesa. Selanjutnya, pembangunan talud pada sektor
pertanian juga memberikan manfaat besar bagi pekataan orang yang
ada di desa. Dengan ada jalan tani sangat mudah orang yang bekerja
sebagai petani dalam memperoleh hasil panen mereka, sehingga
secara langsung meningkatkan pendapatan mereka. Drainase yang
dibangun juga membantu dalam mencegah banjir dan menjaga
kebersihan lingkungan.
Penggunaan dana desa yang tepat sasaran merupakan kunci
keberhasilan dalam mencapai tujuan pembangunan desa. Maka dari
itu, penting bagi pihak yang berwajib di desa dan orang yang ada
didesa sebagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan dan

59
pengawasan kegiatan untuk bekerja sama secara sinergis demi
mencapai tujuan pembangunan desa yang lebih baik.

3. Kepuasan Terhadap Program


Masyarakat desa menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi
terhadap program-program pembangunan infrastruktur tersebut, karena
manfaat yang nyata yang mereka rasakan.
Partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan program
meningkatkan rasa memiliki dan kepercayaan terhadap keberlanjutan
program-program ini.
Dengan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan program,
masyarakat juga merasa dihargai dan terlibat dalam proses pembangunan,
yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan dan kohesi sosial di
Desa Sampulungan. Seperti yang di ungkapkan oleh satu informan yang
saya wawancarai,ia mengatakan bahwa.
Setiap program-program yang ada saat ini, telah
memberikan dampak positif bagi para petani.serta
masyarakat yang lainya.bahwa program cukup
siknifikan.” (Muhammad Azwar, 10 Maret 2024).

C. Kendala Pemerintah dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa


Sampulungan
Permasalahan yang dilewati pihak yang berwajib di desa untuk upaya
pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Sampulungan ada beberapa
aspek. Berikut aspek, yakni:
1. Sumber Daya Manusia
Kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama
pemerintah, terutama dalam konteks pemberdayaan masyarakat pesisir.
Namun, ketahanan SDM akan jadi kendala serius pada meningkatkan
kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap program ini serta
pentingnya pengembangan daerah mereka. Sebagaimana diungkapkan

60
oleh Kepala Desa bahwa:
“Pemahaman masyarakat terhadap konsep-konsep
baru masih minim. Mereka cenderung bergantung pada
pengetahuan tradisional, seperti penafsiran cuaca dari
tanda-tanda alam oleh para nelayan. Namun, perubahan
gejala alam yang tidak terduga, seperti angin kencang
secara tiba-tiba atau hujan pada musim kemarau,
menunjukkan perlunya pengetahuan yang lebih luas
dan aktual.” (Sangkala Sikki, 10 Maret 2024).

Masyarakat pesisir, yang menjadi fokus pemberdayaan,


mempunyai tahap pendidikan dan gaji minim. Hal ini menjadikan
mereka lebih fokus pada kebutuhan dasar hidup, seperti mencari nafkah,
dan kurang memiliki kesempatan untuk memikirkan masalah yang lebih
luas. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Azwar, tokoh
masyarakat, bahwa masyarakat ini cenderung lebih fokus pada
pemenuhan kebutuhan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan
mencukupi kebutuhan pangan.

"Mereka mudah merasa puas, sehingga kurang


tertarik dengan berbagai peraturan, himbauan, dan hal
lainnya, sehingga kurang peduli terhadap program-
program pemberdayaan yang diselenggarakan
pemerintah" (Muhammad Azwar, 10 Maret 2024).

Keadaan ini berdampak yakni keterbatasan keuangan serta


pengaruh situasi alam yang berdampak terutama pelaut cenderung
memiliki kepuasan yang mudah dan kurang memperhatikan masa
depan. Akibatnya, bantuan yang diberikan tidak dimanfaatkan secara
maksimal. Ketahanan SDM di wilayah pinggiran pantai Desa
Sampulungan berdampak pada bidang pendidikan yang rendah, serta

61
keterbatasan pengetahuan masyarakat pesisir yang didasarkan pada
pengalaman yang mereka miliki dan aktivitas sudah orang desa
laksanakan.

2. Peran Tengkulak (Papalele) dan Rentenir


Papalele dan juga rentenir dalam keadaan sosial dan keuangan
orang yang tinggal dekat laut yang menjadi target kegiatan dan
diketahui banyak orang sehingga dipengaruhi oleh tradisi didesa yang
telah ada sangat lama. Tradisi tersebut mencakup ketergantungan pada
tengkulak dan rentenir. Tengkulak atau rentenir, yang jadi sponsor,
membagikan klien (masyarakat) bebas dalam menguruss SDM yang
dimiliki, namun dijadikan juga pengikat yang tidak mudah dilepaskan.
Kaitannya rentenir atau tengkulak dengan orang didesa yang dijadikan
pengurusan dalam bidang perikanan yakni sangat erat. Masyarakat
bergantung pada rentenir atau tengkulak untuk memenuhi kebutuhan
dalam usaha perikanan yang mereka lakukan. Seperti yang diungkapkan
oleh Ketua BPD Desa, bahwa:

“Hubungan antara tengkulak dan masyarakat


adalah sangat penting dan saling ketergantungan.
Masyarakat sangat bergantung pada tengkulak untuk
melaksanakan aktivitas mereka, sementara tengkulak
membutuhkan penghasilan dari masyarakat untuk
memenuhi kebutuhan mereka dan membayar layanan
yang telah diberikan kepada masyarakat.” (Muhammad
Hasbih, 10 Maret 2024).

Keterikatan masyarakat dengan rentenir atau tengkulak terlihat


sebagai suatu ikatan yang sulit diputus, membentuk suatu rangkaian
yang sulit dihentikan. Selain mengikat masyarakat secara ekonomi,
hubungan ini juga memberi kesan bahwa menerima bantuan dari
rentenir atau tengkulak tidak sulit dan lebih mudah pengurusan daripada

62
meminjam dibank atau pegadaian, yang memerlukan prosedur yang
lebih rumit. Seperti yang diungkapkan SS, seorang nelayan, yakni
mereka meminjam dari tengkulak disebabkan prosesnya tidak sulit dan
sederhana, mereka membayar pinjaman tersebut dengan hasil tangkapan
mereka, dan sisa hasil tangkapan tersebut digunakan untuk memenuhi
kebutuhan mereka.
Masyarakat sebenarnya sadar akan kelemahan saling
berkomunikasi, tetapi orang yang didesa merasa lebih gampang jadi
mereka terpaksa melaksanakannya. Cara pembayaran yang sederhana
tetapi menyiksa membuat masyarakat terjebak dalam lingkaran setan
ini, mereka harus bekerja keras untuk memperoleh hasil guna membayar
hutang mereka. Dikarenakan ini menunjukkan orang yang di desa
terpaksa bertanggung jawab.
Selain itu, kaitannya orang yang ada didesa dengan rentenir atau
tengkulak, pihak berwajib menghadapi hambatan dari pandangan
masyarakat yang menganggap bahwa segala bentuk bantuan yang
dibagikan yakni gratis serta tidak lagi kembali. Tradisi terdahulu ini
memandang pihak berwajib memiliki kewajiban untuk memberikan
bantuan. Padahal, tidak semua bantuan pemerintah dapat diberikan
secara cuma-cuma, seperti bantuan berupa dana Pemberdayaan
Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMDA). Sehingga berdampak minim
pendekatan yang tepat pada orang yang ada di desa. Ada perlu diatasi
pihak yang berwajib adalah mengganti pikiran orang yang ada di desa
terhadap yang diingin dilakukan dan disediakan oleh pemerintah.

D. Pembahasan

Sesuai dengan akhir dari penelitian yang dilaksanakan penulis


berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.di desa
sampulungan kecamatan galesong utara,kabupaten takalar. dalam
pelaksanaan kegiatan pembuatan Program di Desa Sampulungan,
Kabupaten Takalar di tahun 2023, sehingga penggunaan dana desa ini

63
sangat efektif, terutama ketika dilihat dari dua aspek utama: realisasi
program dan kemanfaatan program. Sehingga secara keseluruhan,
program-program pembangunan yang telah berhasil di Desa
Sampulungan ini menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi dan
membagikan kegunaan untuk orang yang ada di desa dengan nyata.
Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, pengelolaan dana desa dapat
efektif dan memiliki factor positif untuk pembuatan serta kesejahteraan
masyarakat desa.

Sementara kemanfaatan program dirasakan langsung oleh


masyarakat dalam bentuk peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan.
Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan anggaran desa yang
transparan, akuntabel, dan fokus pada kebutuhan masyarakat untuk
mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Keberlanjutan usaha yang dibangun atau dikembangkan melalui


program pemberdayaan menunjukkan bahwa program tersebut tidak
hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga membangun
kemandirian ekonomi jangka panjang.Tingginya tingkat partisipasi dan
keterlibatan aktif masyarakat dalam program pemberdayaan ekonomi
menunjukkan bahwa program tersebut relevan dan diterima dengan baik
oleh warga desa, Sehingga Secara umum, program pemberdayaan
ekonomi masyarakat di desa Sampulungan dapat dikatakan efektif.

64
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sesuai dengan akhir dari penelitian yang dilaksanakan penulis


berkaitan dengan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, dalam
pelaksanaan kegiatan pembuatan di Desa Sampulungan, Kabupaten
Takalar di 2023, sehingga disimpulkan bahwa:

1. Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Sampulungan


telah menunjukkan efektivitas yang cukup baik. Program-program
yang dilaksanakan berhasil meningkatkan keterampilan dan kapasitas
ekonomi masyarakat. Partisipasi aktif dari warga desa serta
pemanfaatan sumber daya lokal telah mendorong keberhasilan
program ini.

2. Dampak dari program pemberdayaan ekonomi terhadap kesejahteraan


masyarakat di Desa Sampulungan cukup signifikan. Masyarakat
merasakan peningkatan pendapatan, peluang kerja lebih banyak, dan
kualitas hidup yang lebih baik. Program ini tidak hanya membantu
dalam peningkatan ekonomi individu, tetapi juga memperkuat
ketahanan ekonomi desa secara keseluruhan.

B. Saran

Berdasarkan analisis di atas, penulis menguraikan saran yang agar


jadi masukan bagi Desa Sampulungan di Kecamatan Galesong Utara,
Kabupaten Takalar, untuk upaya meningkatkan pemakaian uang desa
secara terus menerus untuk program pembuatan bangunan desa.
1. Menyelenggarakan kegiatan yang berkomunikasi lebih dekat dengan
orang yang ada didesa untuk menolong menyebarkan berita dan
meningkatkan pemikiran yang berkaitan dengan fasilitas pembuatan yang
akan dilaksanakan. Hal ini diharapkan dapat mendorong

65
partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat pada pembuatan kegiatan
yang diselenggarakan oleh pihak berwajib di desa.
2. Tantangan dalam upaya pemberdayaan masyarakat sepatutnya direspons
oleh pemerintah daerah dan pemerintah desa dengan meningkatkan peran
mereka dalam menambah keaktifan orang yang di desa pada
pemberdayaan. Mereka juga seharusnya bisa mengakhiri selalu
bergantung dengan tengkulak dan rentenir.

66
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Majid. (2022). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosda Karya

Alfitri. (2021). Community Development: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:


Pustaka PelajarBryant and White LG. (2019). Manajemen Pembangunan
Untuk Negara Berkembang. Jakarta: LP3ES.

Bogdan dan Taylor. (2020). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja


Karya

Budiani, N. W. (2020). Efektivitas Program Penanggulangan Pengangguran.

Dunn, William N., (2023). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta,


Gajah Mada University

Edi, Suharto. (2019). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat (Kajian


Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial), PT.
Refika Aditama

Friedman, M. 2020. Buku Ajar Keperawatan keluarga: Riset, Teori, dan Praktek.
Edisi ke-5. Jakarta: EGC.

Galtung, Johan. (2021). "Peace by peaceful conflict transformation: The transcend


approach handbook of peace and conflict studies." (Routledge)

Hasan, Ali. (2019). Jurnal Indovisi; Pengaruh Citra Merek, Kualitas Produk dan
harga Terhadap Minat Beli Pakaian. Indonesoan Indovisi Institute, 1(Iii),
83–104. Diambil dari http://journal.dosenindonesia.org

Hendrawati Hamid. (2019). Manajemen Pemberdayaan Masyarakat. Makasar: De


La Macca

Ife, J. (2013). Human Rights and Social Work: Towards Rights-Based Practice
(3rd ed.). Cambridge University Press.

Khaerul, Umam. (2022). Manajemen Organisasi. Bandung: Pustaka Setia

67
Kurniawan, Agung. (2020). Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta:
Pembaharuan.

Makmur. (2020). Efektivitas Kebijakan Kelembagaan Pengawasan. Bandung:


Reflika Adimata.

Mardikanto, Totok dan Poerwoko Soebiato. (2023). Pemberdayaan Masyarakat


dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Moeljarto, Vidhandika dan A.M.W. Pranarka. (2019). “Pemberdayaan


(Empowerment)”, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta Hal 44-46

Nasution, S. (2020). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar,


(Jakarta: Bumi Aksara.

Nurmiyati, N. Wulandari, R. I., dan Harlita, H. (2020). Pengembangan Media


Pembelajaran Laboratorium Virtual Berbasis Discovery Learning Materi
Sistem Imun Kelas XI MIPA. Media Penelitian Pendidikan: Jurnal
Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Dan Pengajaran, 14(1), 61-70.
https://doi.org/10.26877/mpp.v14i1.5640

Noor, Juliansyah. (2021). Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, Dan


Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana.

Pranarka, A.M.W. dan Vidhandika Moeljarto. (2019). Pemberdayaan


(Empowerment): Konsep, Kebijakan dan Implementasi, CSIS, Jakarta Hal
44-46

Pratomo, F.E. (2023). Efektivitas Pendayagunaan Zakat Produktif Pada


Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (Studi Kasus Di Badanamil Zakat
Nasional/Baznas Kabupatenbanyumas). Skripsi thesis, IAIN Purwokerto.

Purnomo. A.R. (2022). Analisis Statistik Ekonomi dan Bisnis dengan SPSS.
Yogyakarta: Fadilatama

Riyadi Dan Bratakusumah. (2020). Peran Masyarakat dalam


Pembangunan, Multigrafika, Jakarta

68
Siagian, S.P. (2020). Filsafat Administrasi, Jakarta: Gunung Agung,

Steers, M Richard. (2019). Efektivitas Organisasi Perusahaan. Jakarta:


Erlangga.
Subagyo, Ahmad Wito. (2020). Efektivitas Program Penanggulangan
Kemiskinan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pendesaan.Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada
Sugiyono. (2022). Metodelogi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R&D.
Bandung: ALFABETA.
Suharto, Edi. (2020). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat,
Bandung: Refika Aditama.
Sunardjo, Unang. (2019). “Tinjauan Singkat tentang Pemerintahan Desa dan
kalurahan”, Bandung, Transito.
Sutrisno, Edy. (2023). Budaya Organisasi, Jakarta: Kencana.
Ulumiyah, I., Gani, A., Mindarti, L. (2023). Peran Pemerintah Desa Dalam
Memberdayakan Masyarakat Desa. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.
1, No. 5, Hal. 890-899.
Wahjudin, Sumpeno. (2021). Perencanaan Desa Terpadu. Banda Aceh: Read.
Yuwono, N.W. dan Afandie.R. (2022). Ilmu Kesuburan Tanah.
Kanisius.Yogyakarta. hal.84

UNDANG-UNDANG

Undang-Undang No. 22 Tahun 2023 Tentang Peraturan Menteri Desa,


Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 menjelaskan bahwa desa adalah


kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan

UU Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, yang merupakan aturan


pelaksanaan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, juga
memberikan landasan bagi desa dalam mengatur pemerintahan sendiri.

69
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, yang
sudah tidak berlaku lagi, sebelumnya mengatur bahwa desa adalah suatu wilayah
yang dihuni oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk di
dalamnya desa tradisional yang disebut desa adat.

Undang-Undang Nomor 23 Pasal 13 Ayat (4) Tahun 2014 Tentang


Pemerintahan Daerah

70
LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

PEDOMAN WAWANCARA

A. Tujuan
Untuk mengetahui dan menganalisis evektivitas program pemberdayaan
ekonomi Masyarakat desa Sampulungan kecamatan Galesong Utara
Kabupaten Takalar.
B. Pertanyaan Panduan
Kepala Desa Sampulungan
a. Identitas Diri
1) Nama : H.Sangkala Sikki
2) Jabatan : Kepala Desa
3) Waktu Wawancara : 3 Menit
4) Pendidikan Terakhir : SMA
5) Alamat : Dusun sampulungan beru,lorong 3
b. Pertanyaan Penelitian
1. Apa tujuan utama dari program pemberdayaan ekonomi yang
dilaksanakan di Desa Sampulungan? ?

2. Bagaimana program ini mempengaruhi kualitas hidup dan


kesejahteraan masyarakat desa? ?
3. Adakah perubahan signifikan dalam tingkat pengangguran atau
jenis usaha baru yang muncul di desa sejak program dimulai ?

4. Seberapa aktif masyarakat Desa Sampulungan dalam berpartisipasi


dalam program pemberdayaan ekonomi ?
PEDOMAN WAWANCARA

A. Tujuan
Untuk mengetahui Sejarah Singkat Kantor Desa Sampulungan
desa Sampulungan kecamatan Galesong Utara Kabupaten
Takalar.

B. Pertanyaan Panduan
Ketua BPD Desa
a. Identitas Diri

1. Nama : Muhammad Hasbi, S.Pdi


2. Jabatan : Ketua BPD Desa
3. Waktu Wawancara : 3 Menit
4. Pendidikan Terakhir : S1
5. Alamat : Dusun sampulungan beru,lorong 3

b. Pertanyaan Penelitian

1. Kapan Kantor Desa Sampulungan didirikan ?

2. Apa saja perubahan signifikan yang telah terjadi di Kantor


Desa Sampulungan dari waktu ke waktu?
3. Bagaimana kantor desa berkontribusi terhadap pengembangan
masyarakat Desa Sampulungan?
PEDOMAN WAWANCARA
A. Tujuan
Untuk mengetahui Kendala utama yang dihadapi terkait dengan masalah
pembebasan lahan oleh masyarakat di desa Sampulungan kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar.

B. Pertanyaan Panduan
Sekertaris desa
a. Identitas Diri

1. Nama : Ansar
2. Jabatan : Sekertaris desa
3. Waktu Wawancara : 3 Menit
4. Pendidikan Terakhir : S1
5. Alamat : Dusun sampulungan Cadi,lorong 1

b. Pertanyaan Penelitian
1. .Apa tujuan atau proyek yang menyebabkan perlunya pembebasan
lahan di Desa Sampulungan ?

2. Bagaimana kendala tersebut mempengaruhi masyarakat secara sosial


dan ekonomi?
3. Apakah terdapat konflik atau perselisihan antara masyarakat dan
pihak yang membutuhkan lahan ?
PEDOMAN WAWANCARA

A. Tujuan
Untuk mengetahui apa dampat dari keberhasilan program ini di desa
Sampulungan kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar.
B. Pertanyaan Panduan
Tokoh masyarakat
a. Identitas Diri
1. Nama : Muhammad Azwar, S.Kom
2. Jabatan : Tokoh masyarakat
3. Waktu Wawancara : 3 Menit
4. Pendidikan Terakhir : S1
5. Alamat : Dusun sampulungan kale, lorong 2
b. Pertanyaan Penelitian
1. Apakah program ini meningkatkan keterlibatan atau partisipasi
masyarakat dalam kegiatan desa?

2. Apa dampak keberhasilan program ini terhadap perekonomian


lokal di Desa Sampulungan?
3. Apakah ada peningkatan dalam pendapatan rumah tangga atau
peluang usaha baru akibat program in?
PEDOMAN WAWANCARA
A. Tujuan
Untuk mengetahui kepuasan masyrakat terhadap program serta keterlibatan
masyrakat dalam pelaksanaan program ini, di desa Sampulungan kecamatan
Galesong Utara Kabupaten Takalar.
B. Pertanyaan Panduan
Masyarakat
a. Identitas Diri
1. Nama : Dg. Ngona
2. Jabatan : Masyarakat
3. Waktu Wawancara : 3 Menit
4. Pendidikan Terakhir : SMA
5. Alamat : Dusun sampulungan kale,lorong 1
b. Pertanyaan Penelitian
1. Sejauh mana Anda merasa puas dengan hasil yang dicapai oleh
program ini di Desa Sampulungan?

2. Apakah ada bagian dari program ini yang menurut Anda kurang
memuaskan? Jika ya, apa dan mengapa?
3. Apakah Anda merasa bahwa manfaat dari program ini merata di
seluruh masyarakat?
LAMPIRAN 2

SURAT IZIN MENELITI


LAMPIRAN 3
DOKUMENTASI HASIL PENELITIAN

Wawancara Dengan Kepala Desa Wawancara Dengan Ketua BPD Desa

Wawancara Dengan Sekretaris Desa Wawancara Dengan Aparat Desa


Wawancara Dengan BPD Desa Wawancara dengan Masyarakat Desa

Wawancara Dengan Tokoh Masyarakat


CURRICULUM VITAE

Junaedi lahir pada tanggal 31 Desember 1998 di Mamuju, Sulawesi Barat. Penulis
merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Gempa dan Dina.
Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDN 1 Mamuju pada tahun
2012. Bersamaan dengan itu, penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Mamuju
dan lulus pada tahun 2015, kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMAN 1
Mamuju dan lulus pada tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis mendaftar sebagai
mahasiswa dan mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan, di Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Timur Makassar. Di akhir masa studinya,
ia berhasil menyelesaikan tesisnya yang berjudul “EFEKTIVITAS PROGRAM
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI DESA SAMPULUNGAN
KECAMATAN GALESONG UTARA KABUPATEN/TAKALAR.”
9

Anda mungkin juga menyukai