PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
LAPORAN HASIL OBSERVASI DI SD NEGERI 3 MENYALI
Dosen Pengampu:
Dr. Komang Sujendra Diputra, S.Pd.,M.Pd.
Oleh:
Ni Made Mia Wulandari (2311031227)
Putu Aurelia Amanda Hartanti ( 2311031305)
Ni Ketut Puji Anggriyani (2311031314)
Ni Luh Putu Adinda Prameswari S. (2311031323)
Ni Wayan Arimas Oktaviani Tresnaningsi (2311031253)
I Kadek Deddy Wira Atmaja (2311031155)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
TAHUN 2024
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
HASIL OBSERVASI
1. Tabel Hasil Observasi
2. Deskripsi Hasil Observasi
HASIL WAWANCARA
1. Deskripsi Hasil Wawancara
ANALISIS KEBUTUHAN
1. Interpretasi Data
2. Identifikasi Kebutuhan
PENUTUP
1. Kesimpulan
LAMPIRAN
HASIL OBSERVASI
1. TABEL HASIL OBSERVASI
Tabel 1.1 Penerapan Teori Belajar Matematika
PENILAIAN
NO. PENGAMATAN
1 2 3 4 5
Guru menerapkan konsep teori belajar yang
1. √
sesuai dalam pengajaran.
Siswa menunjukkan pemahaman atas materi
2. √
yang diajarkan.
Guru menyediakan umpan balik yang
3. √
memperkuat proses pembelajaran siswa.
Aktivitas pembelajaran dirancang untuk
4. √
mengakmodasi berbagai gaya belajar siswa.
Guru mengadopsi pendekatan yang fleksibel
5. untuk menyesuaikan dengan kebutuhan belajar √
siswa yang berbeda.
Tabel 1.2 Penggunaan PMRI
PENILAIAN
NO. PENGAMATAN
1 2 3 4 5
Guru menggunakan konteks nyata dalam
1. √
pengajaran matematika.
Siswa aktif berpatisipasi dalam pembelajaran
2. √
yang berbasis realitas.
Guru mengintegrasikan pertanyaan yang memicu
3. √
siswa untuk berpikir secara kritis.
Siswa dapat menerapkan konsep matematika
4. √
yang dipelajari ke situasi nyata.
Pembelajaran dilakukan dengan cara yang
5. √
meningkatkan keterlibatan siswa.
Tabel 1.3 Integrasi Etnomatematika
PENILAIAN
NO. PENGAMATAN
1 2 3 4 5
Materi pembelajaran mengintegrasikan unsur
1. √
budaya lokal.
Interaksi antara siswa dan guru menunjukkan
2. √
pemahaman yang baik tentang etnomatematika.
Etnomatematika digunakan untuk menjelaskan
3. √
konsep matematika secara lebih mendalam.
Siswa menunjukkan minat dan apresiasi terhadap
4. √
penggunaan etnomatematika.
Guru secara efektif menggunakan
5. etnomatematika sebagai alat untuk mengajar √
matematika.
Tabel 1.4 Masalah dan Pemecahan Masalah Matematika
PENILAIAN
NO. PENGAMATAN
1 2 3 4 5
Jenis masalah yang diajukan memicu pemikiran
1. √
kritis siswa.
Strategi pemecahan masalah oleh siswa efektif
2. √
dan kreatif.
Guru memberikan dukungan yang memadai saat
3. √
siswa menghadapi kesulitan.
Ada variasi dalam jenis masalah yang diajukan
4. √
untuk menguji berbagai keterampilan.
Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan
5. √
solusi mereka sendiri.
Tabel 1.5 Efektivitas Media Pembelajaran Matematika
PENILAIAN
NO. PENGAMATAN
1 2 3 4 5
Media pembelajaran mendukung pemahaman
1. √
konsep matematika.
Media pembelajaran menarik dan mudah diakses
2. √
oleh siswa.
Penggunaan alat peraga efektif dalam
3. √
menggambarkan konsep-konsep matematika.
Penggunaan platform teknologi meningkatkan
4. √
interaksi dan pembelajaran.
Media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan
5. √
dan karakteristik siswa.
2. DESKRIPSI HASIL OBSERVASI
Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan di SD Negeri 3 Menyali, berikut
deskripsi dari indikator yang terdapat pada tabel pengamatan.
❖ Penerapan Teori Belajar Matematika
Pada pembelajaran Matematika di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali, guru
menerapkan teori belajar yang sangat baik sesuai dengan minat dan kebutuhan dari
siswanya. Pada kegiatan pembelajaran, guru menerapkan teori belajar
Konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky,
khususnya dalam pendekatan Pembelajaran Berbasis Permainan (Game-Based
Learning). Teori Konstruktivisme adalah teori yang menyatakan bahwa siswa
membangun pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman
langsung dan interaksi dengan lingkungan. Dalam observasi yang telah dilakukan,
siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga aktif terlibat dalam
proses pembelajaran melalui interaksi dengan alat bantu Wordwall. Dengan
menggunakan alat bantu ini dalam pembelajaran, siswa terdorong untuk
berpartisipasi aktif, meningkatkan semangat belajar, serta membantu siswa
memahami konsep matematika secara kontekstual dan menyenangkan. Melalui
kegiatan ini, secara tidak langsung juga dapat menambah motivasi siswa dalam
pembelajaran matematika, yang awalnya merasa membosankan dan sulit berubah
menjadi menyenangkan dan mudah dipahami karena banyak latihan soal yang
diberikan oleh guru kepada siswa.
Pada kegiatan pembelajaran ini, guru sangat menyesuaikan dengan
kebutuhan yang dimiliki oleh siswanya. Pada kegiatan observasi yang telah
dilakukan, guru juga memberikan soal tambahan di papan untuk mengukur seberapa
jauh pemahaman siswa mengenai materi yang sudah diajarkan. Selain itu, pada
pembelajaran ini guru juga menerapkan teori Behavioristik Dengan menggunakan
latihan berulang atau pengulangan untuk memastikan konsep-konsep matematika
dapat dikuasai oleh siswa serta memberikan umpan balik yang langsung dan jelas
untuk membantu siswa mengetahui bagian mana yang benar atau perlu diperbaiki
dalam pemecahan masalah matematika. Pada kelas ini juga diterapkan dengan
memberikan penguatan positif atau reward ketika siswa berhasil menyelesaikan
soal atau menunjukkan kemajuan dalam memahami materi. Siswa diberikan poin
tambahan dan pujian dari guru dan seluruh siswa dikelas.
❖ Penggunaan PMRI
Penggunaan pendekatan PMRI dalam pengajaran bilangan desimal dan
pecahan di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali kurang terealisasi. Wali kelas 6 lebih
sering menggunakan pendekatan open ended dalam proses pembelajaran yang
mampu menarik perhatian siswa dengan memberi siswa soal soal mambuat siswa
merasa tertantang untuk memecahkannya sehingga membuat siswa aktif selama
proses pembelajaran berlangsung dan diikuti dengan penggunaan media
pembelajaran Wordwall yang membuat siswa semakin bersemangat karena proses
pembelajaran tidak membosankan. Dalam kegiatan pembelajaran guru menjelaskan
terlebih dahulu tentang bilangan desimal dan juga pecahan namun dalam
penjelasannya penggunaan pendekatan PMRI atau pendekatan berbasis pengalaman
sehari hari masih minim digunakan, saat memberi contoh soal beberapa kali guru
menggunakan kejadian sehari hari untuk menjelaskan agar siswa lebih paham
dengan apa yang dijelaskannya, lalu guru memberi latihan soal yang harus
dikerjakan oleh siswa. Sesuai yang sudah dijelaskan di atas, penerapan pendekatan
PMRI masih kurang penggunaannya dalam mengajarkan materi bilangan desimal
dan pecahan di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali.
❖ Integrasi Etnomatematika
Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, guru kelas 6 SD di SDN 3
Menyali sebelumnya belum pernah mengenal dan menerapkan konsep pembelajaran
etnomatematika dalam kegiatan belajar mengajar matematika di kelas mereka,
sehingga pengintegrasian etnomatematika di dalam kelas kurang. Namun, setelah
kelompok kami mengadakan sosialisasi dan menjelaskan mengenai pentingnya
etnomatematika dalam pembelajaran, guru menunjukkan ketertarikan dan akan
mencoba menerapkan metode pembelajaran etnomatematika ini. guru mulai
memahami dan menyadari bahwa mengintegrasikan pembelajaran matematika
dengan unsur-unsur budaya lokal yang ada di sekitar lingkungan sekolah dapat
memberikan dampak positif ganda - yaitu membuat siswa lebih mudah memahami
konsep-konsep matematika yang diajarkan, sekaligus menumbuhkan kecintaan dan
penghargaan mereka terhadap kearifan budaya daerah mereka sendiri.
❖ Masalah dan Pemecahan Masalah Matematika
Di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali, pembelajaran pemecahan masalah
matematika mendapat penilaian yang beragam berdasarkan beberapa aspek penting.
Jenis masalah yang diberikan guru mendapat penilaian baik karena mampu memicu
pemikiran kritis siswa. Soal-soal ini dirancang untuk mendorong siswa berpikir
secara mendalam, bukan hanya menyelesaikan soal secara mekanis, sehingga siswa
terbantu dalam mengembangkan kemampuan analisis dan memahami konsep-
konsep matematika. Selain itu, strategi pemecahan masalah yang diterapkan siswa
juga mendapat nilai baik, menunjukkan bahwa siswa cukup terlatih dalam teknik-
teknik pemecahan masalah yang efektif. Namun, dukungan guru saat siswa
mengalami kesulitan hanya mendapat nilai cukup, menandakan bahwa mungkin
perlu ada peningkatan dalam memberikan bantuan atau umpan balik agar siswa
dapat mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Demikian pula, variasi jenis soal
yang diberikan masih dinilai cukup, yang menunjukkan bahwa variasi ini dapat
memperkuat untuk membantu siswa menemukan cara pemecahan yang sesuai
dengan gaya belajar mereka. Terakhir, siswa diberi kesempatan untuk
mengembangkan solusi mereka sendiri, tetapi hal ini juga hanya mendapat nilai
cukup. Dengan kesempatan yang lebih luas dan arahan tambahan, siswa diharapkan
bisa lebih percaya diri dan terbiasa mengungkapkan proses berpikir mereka dalam
menemukan solusi. Secara keseluruhan, peningkatan pada beberapa aspek ini
diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan
keterampilan mereka dalam memecahkan masalah.
❖ Efektivitas Media Pembelajaran Matematika
Penggunaan media pembelajaran di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali sangat
efektif dalam meningkatkan semangat dan pemahaman siswa. Dengan media spin
wheel melalui platform Wordwall, proses belajar menjadi lebih menarik dan
menyenangkan, sehingga siswa tidak mudah terdistraksi atau bercanda selama
pelajaran berlangsung. Mereka menjadi lebih fokus dan bersemangat mengikuti
pelajaran karena konsep spin wheel ini menghadirkan unsur kejutan yang membuat
mereka penasaran. Spin wheel ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
maju ke depan kelas secara bergiliran dan menjawab berbagai pertanyaan yang
muncul. Setiap kali roda berputar, muncul pertanyaan yang berbeda namun masih
dalam satu topik yang sedang dibahas. Variasi pertanyaan ini membuat siswa harus
benar-benar memahami keseluruhan materi, bukan hanya menghafal bagian tertentu
saja. Dengan adanya pertanyaan yang berbeda dalam satu materi yang dibahas,
siswa jadi lebih aktif berpikir dan memahami materi dari berbagai sudut. Hal ini
tidak hanya membuat suasana kelas lebih hidup dan penuh antusias, tetapi juga
membantu mereka dalam mengingat materi yang dipelajari. Karena setiap
pertanyaan dilakukan berulang kali dengan variasi yang berbeda, siswa secara alami
menjadi lebih hafal. Mereka dapat memahami materi dengan lebih baik karena terus
memperhatikan dan menyerap informasi yang disampaikan di depan.
HASIL WAWANCARA
1. DESKRIPSI HASIL WAWANCARA
Berdasarkan kegiatan wawancara yang telah dilakukan, dapat dirangkum bahwa
wawancara ini memberikan wawasan tentang bagaimana teori pembelajaran,
pendekatan budaya, dan teknologi digabungkan untuk menciptakan pengajaran
matematika yang bermakna di kelas rendah SD. Guru berupaya untuk memastikan
pembelajaran relevan, mendalam, dan inklusif, meskipun tantangan tetap ada dalam
implementasinya. Pandangan dan praktik mereka dalam pengajaran matematika di
kelas rendah Sekolah Dasar (SD):
Mengintegrasikan Teori Belajar dalam Pengajaran Matematika
Guru ini menerapkan teori Konstruktivisme dan Behaviorisme. Mereka
percaya bahwa siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung
dan interaksi.
a. Contoh Dari Penerapan Teori Konstruktivisme:
1. Pembelajaran Berbasis Masalah
Dilakukan dengan menggunakan situasi kehidupan nyata untuk
medorong siswa berpikir kritis.
2. Diskusi Kelompok
Siswa didorong untuk berbagi ide, yang membantu mereka
memahami konsep lebih dalam.
3. Pembelajaran Berpusat Pada Siswa
Guru menciptakan peluang bagi siswa untuk mengeksplorasi konsep
matematika sendiri.
b. Contoh Dari Penerapan Teori Behaviorisme:
1. Penguatan Positif
Memberikan pujian atau hadiah untuk mendorong perilaku belajar
yang baik.
2. Latihan Berulang
Membantu siswa menguasai materi melalui pengulangan.
3. Umpan Balik Langsung
Memberi siswa petunjuk yang jelas untuk memperbaiki pemahaman
mereka.
Contoh dari penerapan ini yaitu guru menggunakan penguatan positif,
seperti memberikan pujian atau stiker saat siswa menunjukkan kemajuan,
untuk meningkatkan motivasi mereka.
Motivasi Menggunakan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
(PMRI)
Guru menjelaskan bahwa PMRI menarik karena menghubungkan
matematika dengan kehidupan sehari-hari, memotivasi siswa melalui konteks
yang relevan. PMRI juga mendorong:
a. Pemikiran kritis dan kreatif, siswa menghadapi masalah terbuka yang
membutuhkan berbagai strategi penyelesaian.
b. Pembelajaran berpusat pada siswa, guru berperan sebagai fasilitator,
sementara siswa aktif dalam pembelajaran.
c. Peningkatan kemampuan sosial, siswa belajar bekerja sama dalam
kelompok, yang memperkuat keterampilan sosial.
Guru menilai PMRI sebagai efektif karena pendekatan ini mengutamakan
pemahaman konsep secara mendalam, bukan hanya hafalan prosedur.
Integrasi Etnomatematika dalam Pembelajaran
Guru belum menggunakan etnomatematika untuk menghubungkan pelajaran
matematika dengan budaya lokal. Namun pendekatan ini mudah diterapkan
dalam memahami materi yang ingin disampaikan karena berbuhubungan
langsung dengan kehidupan sehari-hari siwa. Penerapan pendekatan ini
mencakup:
a. Memahami latar belakang budaya siswa. Siswa diajak mengenal sistem
tradisional seperti hitungan atau pola dalam seni lokal.
b. Penggunaan matematika kontekstual. Siswa diajarkan geometri melalui
seni seperti batik atau arsitektur tradisional.
c. Pendekatan berbasis masalah. Dapat dilakukan dengan mengunakan
masalah yang terkait dengan budaya, seperti pola pertanian atau desain
rumah adat.
Tantangan yang dihadapi yaitu guru menghadapi keterbatasan dalam
sumber daya dan materi pembelajaran, serta kesulitan menyeimbangkan
budaya lokal dengan kurikulum formal. Beberapa siswa atau orang tua juga
mungkin tidak terbiasa dengan pendekatan berbasis budaya ini.
Merancang Masalah Matematika untuk Pemecahan Masalah
Guru merancang masalah dengan mempertimbangkan relevansi dan tingkat
kesulitan yang sesuai. Masalah diberikan dalam konteks yang dekat dengan
kehidupan siswa untuk mendorong pemikiran kreatif dan kerja kelompok.
a. Pendekatan untuk Mengatasi Kesulitan
1. Memahami kesulitan siswa dengan cara mendengarkan dan
mengidentifikasi di mana siswa merasa kesulitan.
2. Pemecahan bertahap. Dilakukan dengan memberikan instruksi
langkah demi langkah.
3. Menggunakan contoh konkret. Guru memberikan model masalah
untuk membantu siswa memahami.
Guru mengajarkan strategi seperti analisis informasi, membuat
perkiraan, dan melihat pola. Mereka juga menciptakan lingkungan yang
mendukung, mendorong kolaborasi, dan memberikan umpan balik positif
Penggunaan Media Pembelajaran
Guru menemukan bahwa media seperti Wordwall efektif karena interaktif
dan dapat disesuaikan dengan berbagai gaya belajar siswa. Media ini juga
dilengkapi elemen visual dan suara untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan.
a. Langkah Aksesibilitas
1. Media dibuat fleksibel, dengan aktivitas yang menarik dan tingkat
kesulitan yang disesuaikan.
2. Guru menyediakan panduan yang jelas dan meminta umpan balik
siswa untuk terus memperbaiki metode pembelajaran.
ANALISIS KEBUTUHAN
1. INTERPRETASI DATA
Dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika di kelas 6 SD Negeri 3 Menyali,
terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki agar pembelajaran menjadi lebih efektif
dan menarik. Salah satunya adalah mengintegrasikan konteks matematika dengan
budaya lokal. Penting bagi guru untuk memahami budaya dan kearifan lokal yang
relevan bagi siswa, termasuk berbagai tradisi dan praktik matematis yang ada dalam
masyarakat sekitar. Hal ini bertujuan agar konsep-konsep matematika yang diajarkan
lebih mudah dipahami, karena dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari siswa. Guru
dapat menggunakan berbagai contoh dari budaya lokal untuk menjelaskan konsep
matematika. Misalnya, dengan menggunakan motif kain tradisional, permainan daerah,
pola arsitektur, atau tradisi setempat, guru dapat menjadikan pembelajaran lebih
relevan dan menarik bagi siswa. Pendekatan ini membantu siswa melihat bagaimana
matematika diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga mereka lebih termotivasi
untuk belajar. Selain itu, guru juga perlu meningkatkan kolaborasi antar siswa dengan
membentuk kelompok belajar. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa dapat belajar
untuk saling memberi dan menerima pendapat serta belajar memahami sudut pandang
yang berbeda dari teman-teman mereka. Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman
mereka terhadap konsep matematika tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial
dan komunikasi yang penting.
.
2. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN
Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di dalam kelas, sangat penting
memilih media pembelajaran yang interaktif, relevan dengan kehidupan sehari-hari,
serta mendukung gaya belajar yang beragam. Media pembelajaran sebaiknya mampu
menarik perhatian siswa dengan visual yang menarik dan mudah dipahami, serta
memberikan pengalaman langsung melalui praktik atau simulasi. Berikut beberapa
pilihan media yang efektif:
a. Alat Peraga Manipulatif
Misalnya, fraction strips atau fraction circles membantu siswa
memvisualisasikan pecahan dengan membandingkan bagian-bagian dari satuan.
Ini berguna untuk mengenalkan konsep pecahan yang berbeda dan
membandingkannya secara langsung. Untuk bilangan desimal, bisa digunakan
blok base ten (seperti blok satuan, puluhan, ratusan) agar siswa dapat melihat
perbandingan antara satuan dan desimal.
b. Permainan Interaktif atau Digital
Menggunakan berbagai macam platform pembelajaran seperti Kahoot,
Quizizz, atau permainan digital lainnya memungkinkan siswa belajar sambil
bermain. Game yang berhubungan dengan pecahan dan desimal bisa sangat efektif
untuk memperkuat konsep secara menyenangkan, terutama untuk latihan soal
perbandingan atau konversi antara pecahan dan desimal.
c. Benda Sehari-hari (Media Konkret)
Menggunakan benda-benda nyata, seperti kue, cokelat batangan, atau uang
koin, dapat memperjelas konsep pecahan dan desimal. Siswa bisa memotong atau
membagi benda ini menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga mereka bisa
mengamati langsung bagaimana pecahan atau desimal bekerja dalam kehidupan
sehari-hari.
Dengan kombinasi berbagai jenis media yang sesuai dengan karakteristik
siswa, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan menarik,
meningkatkan motivasi, serta memperdalam pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran. Dengan memilih media yang mendukung interaksi dan partisipasi siswa,
diharapkan pembelajaran di dalam kelas akan menjadi lebih efektif serta dapat
mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Guru di SD Negeri 3 Menyali menggunakan pendekatan konstruktivisme dan
behaviorisme. Dalam konstruktivisme, siswa terlibat aktif melalui permainan dan alat
bantu seperti wordwall, yang membuat pembelajaran lebih interaktif dan
menyenangkan. Behaviorisme diterapkan melalui latihan berulang dan penguatan
positif, seperti memberikan pujian, yang dapat memperkuat pemahaman siswa
terhadap materi. Ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang memadukan teori
belajar untuk menjaga motivasi siswa. Penggunaan Pendekatan Pendidikan
Matematika Realistik Indonesia ini minim diterapkan pada topik tertentu, seperti
bilangan desimal dan pecahan, dengan fokus lebih pada pendekatan soal terbuka.
Pendekatan PMRI yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari perlu dikembangkan
agar siswa dapat lebih memahami konsep dengan konteks nyata, yang membantu
mereka mengaitkan matematika dengan pengalaman sehari-hari. Integrasi unsur
budaya lokal belum dilakukan, namun setelah sosialisasi, guru menunjukkan
ketertarikan. Penggunaan etnomatematika berpotensi membantu siswa memahami
matematika dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka, serta
menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Guru juga merancang soal-soal untuk
mengasah pemikiran kritis, namun dukungan saat siswa kesulitan masih perlu
ditingkatkan. Guru disarankan untuk memberikan variasi soal dan kesempatan bagi
siswa untuk menemukan solusi mereka sendiri, yang akan meningkatkan keterampilan
analisis dan kreativitas mereka. Penggunaan media seperti spin wheel di Wordwall
terbukti efektif dalam membuat siswa lebih fokus dan antusias. Media pembelajaran
yang interaktif dapat memperdalam pemahaman siswa terhadap materi dengan
mengintegrasikan unsur visual dan partisipasi langsung.
Temuan-temuan ini mengimplikasikan pentingnya pendekatan yang beragam dan
kontekstual dalam pengajaran matematika, seperti mengadopsi pendekatan berbasis
budaya dan kontekstual untuk memperkuat relevansi dan pemahaman siswa.
Menggunakan media pembelajaran interaktif yang tidak hanya membantu pemahaman
konsep, tetapi juga menjaga minat dan keterlibatan siswa. Hal ini digunakan untuk
memastikan dukungan dan bimbingan yang konsisten dalam pemecahan masalah untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Implementasi strategi ini berpotensi
menciptakan pembelajaran matematika yang lebih inklusif, efektif, dan relevan bagi
siswa.
LAMPIRAN
Lampiran 1.1
NO. GAMBAR KETERANGAN
1.
Gambar guru
menerangkan materi
kepada siswa.
Gambar 1.1
2.
Guru menggunakan
Wordwall dalam
memberikan soal,
supaya pembelajaran
tidak membosankan dan
lebih membantu siswa
dalam memahami konsep
pecahan.
Gambar 1.2
3.
Guru menjelaskan kembali
di papan tulis terkait materi
yang belum dimengerti oleh
siswa.
Gambar 1.3
4.
Guru memberikan latihan
permasalahan yang sudah
dijelaskan untuk mengukur
pemahaman siswa.
Gambar 1.4
5.
Siswa mengumpulkan tugas
yang diberikan oleh guru
untuk dinilai.
Gambar 1.5
6.
Guru memberikan ice
breaking supaya siswa tidak
jenuh belajar.
Gambar 1.6
7.
Pelaksanaan wawancara
dengan guru kelas 6 terkait
dengan kegiatan
pembelajaran.
Gambar 1.6
Gambar 1.7
8.
Dokumentasi bersama
Gambar 1.8
dengan guru dan siswa
kelas 6.
Gambar 1.9