BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian
RSU Gladish Medical Center Pesawaran terletak di Jl. Ahmad Yani No.
36, Desa Taman Sari, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran,
Lampung, menyediakan berbagai kelas pelayanan untuk pasien, mulai dari
VVIP/Super VIP sebanyak 2 tempat tidur (TT), hingga kelas III dengan 30
TT. Fasilitas lain termasuk ICU dengan ventilator (5 TT), ICU tanpa ventilator
(1 TT), HCU (4 TT), NICU tanpa ventilator (1 TT), PICU tanpa ventilator (1
TT), dan ruang perinatologi (3 TT). Terdapat pula 16 TT ruang isolasi, namun
belum tersedia ICU atau isolasi bertekanan negatif.
B. Hasil Penelitian
1. Hasil Analisa Univariat
Analisa ini bertujan untuk mendeskripsikan masing-masing variabel
penelitian.
a. Distribusi frekuensi pola makan pada penderita diabetes mellitus
tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi pola makan pada penderita diabetes mellitus tipe 2
di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Pola makan Total
N Presentase (%)
Baik 13 37
Tidak Baik 22 63
Total 35 100
1
2
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 35 Pasien
DM Tipe 2 sebagian besar memiliki pola makan tidak baik
sebanyak 22 (63%) dan yang terendah memiliki pola makan baik
sebanyak 13 (37%).
b. Distribusi frekuensi kadar glukosa darah pada penderita diabetes
mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi kadar glukosa darah pada penderita diabetes
mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Kadar glukosa Total
N Presentase (%)
Terkontrol 16 46
Tidak terkontrol 19 54
Total 35 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 35 Pasien
DM Tipe 2 sebagian besar memiliki kadar glukosa tidak terkontrol
sebanyak 19 responden (54%) dan yang terendah kadar glukosa
terkontrol sebanyak 16 responden (46%).
2. Bivariat
a. Hubungan antara pola makan dengan kadar glukosa darah pada
penderita diabetes mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center
Pesawaran
Tabel 4.3
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Diit Renda
h Gula Pada Pasien DM Tipe 2 Di Posbindu Desa
Negara Nabung Kecamatan Sukadana
Kabupaten Lampung Timur
3
Kadar Gula Darah P-Value:
Terkontrol Tidak Terkontrol 0,001
Pola makan N % N %
Baik 17 49 5 14
Tidak baik 2 6 11 31
Total 19 54 16 45
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar pasien
DM memiliki pola makan yang baik memiliki kadar gula darah
terkontrol sebanyak 17 responden (49%) dan pasien DM memiliki
pola makan yang tidak baik memiliki kadar gula darah tidak
terkontrol sebanyak 11 responden (31%). Dan di dapatkan hasil Uji
analisis Chi Square P-Value: 0,001 yang mana terdapat hubungan
antara pola makan dengan kadar glukosa darah pada penderita
diabetes mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran.
C. Pembahasan
1. Hasil Analisa Univariat
a. Distribusi frekuensi pola makan pada penderita diabetes mellitus
tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 35
Pasien DM Tipe 2 sebagian besar pola makan tidak baik sebanyak 22
(63%) dan yang terendah memiliki pola makan baik sebanyak 13
(37%).
Hasil ini sejalan dengan penelitian Septi et all (2020) tentang
“Pola Makan Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes
4
Melitus Tipe 2” diketahui bahwa pola makan responden mayoritas ber
ada pada kategori tidak baik yakni sebanyak 90 responden (75%).
Hasil ini sejalan dengan penelitian Damianus (2021) tentang “Hubung
an Antara Pola Makan Dan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pada Pend
erita Diabetes Melitus Tipe Dua” Sebagian besar berada pada kategori
tidak baik yakni sebanyak 36 responden (72%).
Pola makan merupakan suatu cara dalam mengatur jumlah dan
jenis asupan makanan dengan tujuan mempertahankan kesehatan,
status gizi, serta mencegah dan membantu proses penyembuhan
(Depkes, 2019 dalam Susanti, 2020). Pada penderita diabetes mellitus,
pengaturan pola makan menjadi faktor penting yang tidak hanya
bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan gizi, tetapi juga
untuk mengontrol kadar gula darah yang cenderung meningkat.
Pengaturan diet yang tepat dapat membantu penderita diabetes dalam
mencapai kontrol glukosa darah yang lebih baik, mengurangi
komplikasi jangka panjang, serta memperbaiki kualitas hidup
(Kemenkes, 2022).
Intervensi diet pada penderita diabetes mellitus bertujuan
untuk mengoreksi obesitas, mengoptimalkan pengendalian glukosa
darah, mengendalikan dislipidemia, hipertensi, serta mencegah
kerusakan ginjal (nefropati). Salah satu cara untuk mencapai tujuan
tersebut adalah dengan mengurangi konsumsi garam dan protein
berlebih, yang dapat mempengaruhi kesehatan ginjal. Seorang
5
penderita diabetes juga akan memperoleh manfaat kesehatan yang
signifikan melalui pengelolaan berat badan yang tepat, pemantauan
kadar glukosa darah, kontrol kadar lemak darah, serta penggunaan
insulin yang berfungsi sebagai hormon pengatur kadar glukosa darah
(Astutisari, 2022).
Pentingnya intervensi diet pada penderita diabetes mellitus tipe
2 juga diungkapkan oleh Perkeni (2020), yang menyatakan bahwa
penatalaksanaan diabetes mellitus tipe II salah satunya dilakukan
melalui terapi nutrisi medis. Keberhasilan dalam terapi nutrisi medis
pada penderita diabetes mellitus tipe 2 tidak hanya bergantung pada
pengaturan pola makan yang tepat, tetapi juga memerlukan
keterlibatan tim kesehatan secara menyeluruh, yang mencakup dokter,
ahli gizi, petugas kesehatan lainnya, serta pasien dan keluarganya.
Kerjasama yang baik antara pasien dan tenaga medis sangat penting
untuk memastikan bahwa terapi nutrisi dapat dilaksanakan dengan
efektif.
Menurut asumsi peneliti, hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 35 pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2, sebagian besar memiliki
tingkat pengetahuan yang kurang, yaitu sebanyak 22 pasien (52%).
Hal ini dapat mengindikasikan kurangnya pemahaman pasien tentang
pengelolaan penyakit dan pentingnya perubahan gaya hidup untuk
mengontrol kadar gula darah. Selain itu, mayoritas pasien DM tipe 2
juga menunjukkan pola makan yang tidak baik, yakni sebanyak 22
6
pasien (63%), yang berpotensi memperburuk kondisi penyakit
mereka. Hanya 13 pasien (37%) yang memiliki pola makan yang baik,
yang menunjukkan bahwa sebagian kecil pasien telah menerapkan
pola makan yang sesuai untuk mendukung pengelolaan diabetes
mereka. Kondisi ini menyoroti pentingnya edukasi dan perubahan
pola makan sebagai bagian dari intervensi dalam manajemen DM tipe
2.
b. Distribusi frekuensi kadar glukosa darah pada penderita diabetes
mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 35
Pasien DM Tipe 2 sebagian besar memiliki kadar glukosa tidak
terkontrol sebanyak 19 responden (54%) dan yang terendah kadar
glukosa terkontrol sebanyak 16 responden (46%).
Hasil ini sejalan dengan penelitian Warni dkk (2020) tentang
“Pola Makan Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes
Melitus Tipe” diketahui bahwa mayoritas Kadar Glukosa Darah respo
nden berada pada kategori tidak terkendali yakni sebanyak 105 respon
den (87,5%). Penelitian Pratiwi (2022) tentang “Distribusi frekuensi k
adar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2” didapatkan
hasil yaitu dari 63 orang pasien DM terdapat 43 orang (68,3%) memili
ki kadar GDS yang tinggi.
Kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2
mencerminkan kemampuan tubuh dalam mengatur kadar gula darah
7
melalui mekanisme fisiologis yang melibatkan hormon insulin. Pada
diabetes mellitus tipe 2, terjadi resistensi terhadap insulin, yang
menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif
untuk mengatur glukosa darah. Akibatnya, glukosa menumpuk dalam
darah, menyebabkan hiperglikemia. Pada awalnya, pankreas mencoba
untuk menghasilkan lebih banyak insulin, namun seiring waktu
kapasitas ini menurun, memperburuk kontrol glukosa darah. Kadar
glukosa darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai
komplikasi jangka panjang, termasuk kerusakan pada organ seperti
ginjal, mata, dan saraf (Setyabudi, 2024).
Menurut asumsi peneliti, dari 35 pasien diabetes mellitus
(DM) tipe 2, sebagian besar memiliki kadar glukosa yang terkontrol,
yakni sebanyak 19 responden (54%). Hal ini menunjukkan bahwa
lebih dari setengah pasien berhasil mengelola kadar gula darah mereka
dengan baik, kemungkinan melalui pengobatan yang tepat, perubahan
pola makan, dan pemantauan rutin. Namun, ada juga 16 responden
(46%) yang memiliki kadar glukosa tidak terkontrol, yang
mengindikasikan adanya kesulitan dalam pengelolaan diabetes
mereka. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti
kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan, pola makan yang tidak
terkontrol, atau faktor lain yang mempengaruhi pengelolaan diabetes,
yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut dalam upaya peningkatan
kontrol glukosa pada pasien DM tipe 2.
8
2. Bivariat
a. Hubungan antara pola makan dengan kadar glukosa darah pada
penderita diabetes mellitus tipe 2 di RSU Gladish Medical Center
Pesawaran
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar
pasien DM memiliki pola makan yang baik memiliki kadar gula darah
terkontrol sebanyak 17 responden (49%) dan pasien DM memiliki pola
makan yang tidak baik memiliki kadar gula darah tidak terkontrol
sebanyak 11 responden (31%). Dan di dapatkan hasil Uji analisis Chi
Square P-Value: 0,001 yang mana terdapat hubungan antara pola
makan dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus
tipe 2 di RSU Gladish Medical Center Pesawaran.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Anggaini (2022), didapatkan
adanya hubungan antara pola makan dengan kadar gula darah pada pen
derita diabetes melitus tipe 2 dengan P Value 0,000. Penelitian lainnya
dilakukan oleh Astutisari (2022), didapatkan hasil nilai P value sebesa
r 0,038 adanya Hubungan Pola Makan Dan Aktivitas Fisik Dengan Ka
dar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas M
anggis I
Hubungan antara pola makan dengan kadar glukosa darah pada
penderita diabetes mellitus tipe 2 sangat erat, karena pola makan yang
9
baik dapat membantu mengatur kadar glukosa darah dan mencegah
fluktuasi yang berlebihan. Penderita diabetes tipe 2 sering kali
mengalami resistensi insulin, di mana tubuh tidak dapat menggunakan
insulin dengan efektif, sehingga kontrol glukosa darah menjadi
terganggu. Pola makan yang tepat, yang mengutamakan konsumsi
makanan yang rendah indeks glikemik, seimbang antara karbohidrat,
protein, dan lemak, serta kaya akan serat, dapat memperlambat
penyerapan glukosa dan mencegah lonjakan gula darah setelah makan
(Anggraini, 2022). Selain itu, pembatasan konsumsi makanan yang
tinggi gula dan karbohidrat sederhana sangat penting untuk menjaga
kestabilan kadar glukosa darah. Mengatur waktu makan juga penting
untuk membantu menjaga keseimbangan energi tubuh dan
mengoptimalkan respons insulin. Dengan demikian, pola makan yang
sehat dan teratur sangat berperan dalam pengelolaan kadar glukosa
darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2, yang pada gilirannya
dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang yang terkait
dengan penyakit ini (Astutisari, 2022).
Peneliti berasumsikan bahwa sebagian besar pasien diabetes
mellitus (DM) tipe 2 dengan pola makan yang baik memiliki kadar
gula darah terkontrol, yaitu sebanyak 17 responden (49%). Sebaliknya,
pasien DM yang memiliki pola makan yang tidak baik cenderung
memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol, yakni sebanyak 11
responden (31%). Hasil analisis uji Chi Square dengan P-Value
10
sebesar 0,001 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
pola makan dengan kadar glukosa darah pada penderita DM tipe 2 di
RSU Gladish Medical Center Pesawaran. Hal ini mengindikasikan
bahwa pola makan yang baik berperan penting dalam mengontrol
kadar glukosa darah pada pasien diabetes, dan perubahan pola makan
menjadi salah satu intervensi kunci dalam pengelolaan penyakit ini.
11
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan penelitan dan pembahasan terhadap 35 responden
Hubungan Pola Makan Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2 Di RSU Gladish Medical Center Pesawaran dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Distribusi pola makan sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kurang
sebanyak 22 Pasien DM Tipe 2 (52%), Pasien DM Tipe 2 memiliki pola
makan tidak baik sebanyak 22 (63%) dan yang terendah memiliki pola
makan baik sebanyak 13 (37%).
2. Distribusi kadar glukosa menunjukkan bahwa dari 35 Pasien DM Tipe 2
sebagian besar memiliki kadar glukosa terkontrol sebanyak 19 responden
(54%) dan yang terendah kadar glukosa tidak terkontrol sebanyak 16
responden (46%).
3. Di dapatkan hasil Uji analisis Chi Square P-Value: 0,001 yang mana
terdapat hubungan Pola Makan Dengan Kadar Glukosa Darah Pada
Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di RSU Gladish Medical Center
Pesawaran.
B. Saran
1. Bagi responden
Responden diharapkan untuk lebih memperhatikan pola makan dan rutin
mengonsumsi makanan yang seimbang sesuai dengan anjuran gizi, guna
12
mengontrol kadar glukosa darah dengan baik. Menghindari makanan yang
tinggi gula dan karbohidrat sederhana sangat penting untuk menjaga
kestabilan glukosa darah.
2. Bagi RSU Gladish Medical Center Pesawaran
RSU Gladish Medical Center Pesawaran disarankan untuk terus meningka
tkan program edukasi tentang pentingnya pola makan yang sehat bagi pasi
en diabetes mellitus tipe 2, termasuk penyuluhan mengenai jenis makanan
yang baik dan buruk, serta jadwal makan yang tepat.
3. Bagi Universitas Aisyah Pringsewu
Universitas Aisyah Pringsewu disarankan untuk mengintegrasikan pendid
ikan kesehatan dan gizi dalam kurikulum bagi mahasiswa kesehatan, khus
usnya mengenai pengelolaan diabetes mellitus tipe 2 dan pola makan yan
g tepat untuk pasien diabetes.
DAFTAR PUSTAKA
Anggaini, A. (2022). Hubungan antara pola makan dengan kadar gula darah pada
penderita diabetes melitus tipe 2. Jurnal Penelitian Kesehatan, 30(1), 45-51.
Astutisari, A. (2022). Hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar gula
darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Manggis I. Jurnal
Kesehatan Indonesia, 19(2), 120-125.
Damianus, D. (2021). Hubungan antara pola makan dan kadar glukosa darah
sewaktu pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jurnal Kesehatan dan Gizi,
27(3), 80-84.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes). (2019). Pedoman gizi
seimbang dan pengaturan pola makan untuk penderita diabetes mellitus
(dalam Susanti, E., 2020). Jurnal Nutrisi dan Kesehatan, 16(1), 90-95.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). (2022). Panduan
pengelolaan diabetes melitus tipe 2. Kemenkes RI.
Perkeni. (2020). Pedoman pengelolaan diabetes melitus tipe 2. Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia.
Septi, S., Rahma, A., & Andi, S. (2020). Pola makan dengan kadar glukosa darah
pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 28(3),
215-220.
Setyabudi, M. (2024). Patofisiologi diabetes melitus tipe 2 dan dampaknya
terhadap kadar glukosa darah. Jurnal Endokrinologi Indonesia, 12(1), 99-
103.
Warni, W., Fitriani, R., & Syamsul, D. (2020). Pola makan dengan kadar glukosa
darah pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jurnal Endokrinologi dan
Metabolisme, 13(2), 110-115.
Tabulasi Data
Sampel Pola Makan Kadar Gula Darah
Sampel 1 Baik Terkontrol
Sampel 2 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 3 Tidak Baik Terkontrol
Sampel 4 Baik Tidak Terkontrol
Sampel 5 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 6 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 7 Baik Terkontrol
Sampel 8 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 9 Tidak Baik Terkontrol
Sampel 10 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 11 Baik Terkontrol
Sampel 12 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 13 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 14 Tidak Baik Terkontrol
Sampel 15 Baik Terkontrol
Sampel 16 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 17 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 18 Baik Terkontrol
Sampel 19 Baik Terkontrol
Sampel 20 Baik Terkontrol
Sampel 21 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 22 Tidak Baik Terkontrol
Sampel 23 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 24 Baik Terkontrol
Sampel 25 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 26 Tidak Baik Terkontrol
Sampel 27 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 28 Baik Terkontrol
Sampel 29 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 30 Baik Tidak Terkontrol
Sampel 31 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 32 Baik Terkontrol
Sampel 33 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Sampel 34 Baik Terkontrol
Sampel 35 Tidak Baik Tidak Terkontrol
Coding
Sampel Pola makan Kadar gula darah
Sampel 1 2 2
Sampel 2 1 1
Sampel 3 1 2
Sampel 4 2 1
Sampel 5 1 1
Sampel 6 1 1
Sampel 7 2 2
Sampel 8 1 1
Sampel 9 1 2
Sampel 10 1 1
Sampel 11 2 2
Sampel 12 1 1
Sampel 13 1 1
Sampel 14 1 2
Sampel 15 2 2
Sampel 16 1 1
Sampel 17 1 1
Sampel 18 2 2
Sampel 19 2 2
Sampel 20 2 2
Sampel 21 1 1
Sampel 22 1 2
Sampel 23 1 1
Sampel 24 2 2
Sampel 25 1 1
Sampel 26 1 2
Sampel 27 1 1
Sampel 28 2 2
Sampel 29 1 1
Sampel 30 2 1
Sampel 31 1 1
Sampel 32 2 2
Sampel 33 1 1
Sampel 34 2 2
Sampel 35 1 1
Output SPSS
SAVE OUTFILE='C:\Users\Documents\Tabulasi Merti.sav'
/COMPRESSED.
CROSSTABS
/TABLES=PM BY KGD
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT
/COUNT ROUND CELL.
Crosstabs
Notes
Output Created 14-NOV-2024 20:23:29
Comments
Input Data C:\Users\\Documents\Tabul
asi Merti.sav
Active Dataset DataSet1
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data 35
File
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values
are treated as missing.
Cases Used Statistics for each table are b
ased on all the cases with val
id data in the specified range
(s) for all variables in each t
able.
Syntax CROSSTABS
/TABLES=PM BY KGD
/FORMAT=AVALUE TA
BLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT
/COUNT ROUND CELL.
Resources Processor Time 00:00:00,03
Elapsed Time 00:00:00,02
Dimensions Requested 2
Cells Available 349496
[DataSet1] C:\Users\WAHYU\Documents\Tabulasi Merti.sav
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pola makan * Kadar gula 35 100.0% 0 0.0% 35 100.0%
darah
Pola makan * Kadar gula darah Crosstabulation
Count
Kadar gula darah
Tidak Terkontro
l Terkontrol Total
Pola makan Tidak Baik 17 5 22
Baik 2 11 13
Total 19 16 35
Chi-Square Tests
Asymptotic Si
gnificance (2- Exact Sig. (2-s Exact Sig. (1-s
Value df sided) ided) ided)
Pearson Chi-Square 12.612a 1 .000
Continuity Correctionb 10.241 1 .001
Likelihood Ratio 13.518 1 .000
Fisher's Exact Test .001 .001
Linear-by-Linear Associ 12.251 1 .000
ation
N of Valid Cases 35
a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.94.
b. Computed only for a 2x2 table
Dokumentasi