0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

Efektivitas Laboratorium Virtual CK-12 dalam Pembelajaran Fisika

Diunggah oleh

Haifa Azhari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

Efektivitas Laboratorium Virtual CK-12 dalam Pembelajaran Fisika

Diunggah oleh

Haifa Azhari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama: Haifa Azhari

NIM: 3323000069
Mata Kuliah: Design Thinking (UTS)
Efektivitas Virtual Laboratorium terhadap Motivasi Belajar Peserta didik di SMA
Mekar Arum Bandung
Di banyak sekolah, terutama dengan sumber daya terbatas, ketersediaan laboratorium fisika
sering kali menjadi kendala utama dalam proses pembelajaran khususnya di SMA Mekar Arum
tempat kami melaksanakan PPL dalam rangkaian perkuliahan PPG Calon Guru Gelombang 2
tahun 2024. Fasilitas laboratorium yang tidak memadai membatasi kemampuan peserta didik
untuk melakukan eksperimen fisika secara langsung, yang sangat penting untuk memperkuat
pemahaman mereka terhadap konsep-konsep ilmiah. Ketidakhadiran laboratorium ini
mengakibatkan pembelajaran fisika lebih bersifat teoritis tanpa praktik yang memadai,
sehingga peserta didik sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak
(Nurhayati & Hidayat, 2020).
Untuk mengatasi masalah tersebut, laboratorium virtual menjadi alternatif yang efektif.
Laboratorium virtual menyediakan simulasi eksperimen yang realistis dan interaktif,
memungkinkan peserta didik untuk melakukan eksperimen layaknya di laboratorium fisik.
Penggunaan laboratorium virtual dalam pembelajaran fisika memberikan solusi terhadap
keterbatasan akses laboratorium konvensional dan dapat meningkatkan pemahaman peserta
didik terhadap materi yang kompleks (Santoso & Yulianto, 2021). Selain itu, laboratorium
virtual juga memungkinkan peserta didik untuk berlatih secara mandiri dan berulang tanpa
terkendala oleh waktu dan biaya yang biasanya diperlukan untuk pengadaan alat praktikum
(Kurniawati, 2022).
Penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang belajar dengan bantuan laboratorium virtual
mengalami peningkatan pemahaman konseptual dan motivasi belajar yang lebih tinggi.
Melalui visualisasi dan simulasi, laboratorium virtual membuat pembelajaran fisika lebih
menarik dan mudah dipahami, karena memungkinkan peserta didik untuk memanipulasi
variabel dan melihat hasilnya secara langsung (Handayani et al., 2021). Dengan demikian,
dalam kondisi ketiadaan laboratorium fisik, penggunaan laboratorium virtual menjadi solusi
yang relevan dan efektif untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran fisika. Di sisi lain, Dalam
kaitannya dengan usaha untuk mencapai Misi SMA Mekar Arum media pembelajaran menjadi
salah satu peran yang sangat penting agar bisa unggul di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi.
CK-12 adalah platform pembelajaran digital yang menyediakan berbagai sumber belajar
berbasis teknologi, termasuk simulasi, video, dan latihan interaktif. Dalam pembelajaran fisika,
CK-12 memiliki peran penting sebagai alat pendukung yang efektif karena mampu membantu
peserta didik memahami konsep-konsep abstrak melalui visualisasi interaktif yang menarik
(Rahmawati & Nugroho, 2021). Platform ini menyediakan simulasi fisika yang memungkinkan
peserta didik untuk melihat dan menguji konsep fisika secara langsung, seperti hukum Newton,
energi, dan gerak. Dengan simulasi ini, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman yang
lebih dalam tentang materi yang sering kali sulit dipahami jika hanya dipelajari secara teoritis
(Handayani, 2022). Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan CK-12 dapat meningkatkan
motivasi belajar dan pemahaman konsep peserta didik dalam fisika. Peserta didik yang
menggunakan CK-12 cenderung lebih aktif dalam belajar karena memiliki akses ke berbagai
materi dan simulasi interaktif yang membuat pembelajaran fisika lebih menarik dan relevan
(Maulana, 2022). Dengan demikian, CK-12 tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran
tambahan, tetapi juga sebagai alat yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan
pemahaman peserta didik dalam mempelajari fisika.
Berdasarkan ketiadaan laboratorium fisik di sekolah dan tuntutan teknologi digital dalam
menunjang pembelajaran fisika, penelitian ini menggunakan pendekatan design thinking
bertujuan untuk memahami dan menguji efektivitas laboratorium virtual CK-12 dari sudut
pandang peserta didik. Dengan metode double diamond, kami bertujuan untuk menggali
kebutuhan peserta didik dan menghasilkan solusi yang relevan dalam bentuk laboratorium
virtual yang dapat mendukung pemahaman konsep fisika mereka (Fitriana & Wijaya, 2021).
Metode ini terdiri dari empat tahap utama: Discover, Define, Develop, dan Deliver,
diintegrasikan dengan Diverge dan Converge yang dirancang untuk mengidentifikasi
permasalahan dan menciptakan solusi yang sesuai secara bertahap dan iteratif (Ridwan et al.,
2020).
Pada fase Discover, peneliti melakukan eksplorasi awal untuk mengumpulkan insight atau
wawasan mendalam mengenai pengguna, yang diperoleh melalui metode observasi,
wawancara mendalam, dan survei. Langkah ini bertujuan mengembangkan pemahaman empati
yang autentik terhadap pengalaman dan latar belakang pengguna. Dalam mengembangkan
empati, metode insight gathering berfungsi mengidentifikasi pain points atau titik masalah
yang dihadapi pengguna. Pain points adalah tantangan atau hambatan spesifik yang pengguna
alami, yang sering kali tidak disadari oleh mereka sendiri namun sangat mempengaruhi
pengalaman mereka. Diverge: Pada tahap ini, fase mengumpulkan data dan informasi sebanyak
mungkin dari berbagai sumber. Kita membuka pikiran selebar-lebarnya untuk memahami
masalah dari berbagai perspektif. Untuk melaksanakan tahap ini kami memilih metode In-
depth Interview (IDI) dan pengisian angket terhadap 10 sampel pada salah satu kelas Tingkat
kelas 11 IPA. Sebelumnya kami telah melaksanakan pembelajaran untuk mengenalkan CK-12
kepada peserta didik kelas 11 IPA 2, tujuan dilakukan IDI adalah untuk mengetahui umpan
balik peserta didik setelah menggunakan virtual laboratorium CK-12 dan mengidentifikasi pain
points yang dirasakan oleh peserta didik terkait penggunakan CK-12. Saat wawancara
dilakukan, kami membahas hasil temuan Bersama kelompok dari berbagai sudut pandang
seluas-luasnya untuk mendapatkan semua factor yang saling berkaitan satu sama lain terkait
pengalaman peserta didik.

Setelah data dikumpulkan, fase Define digunakan untuk memfokuskan temuan-temuan pada
inti masalah yang ingin diselesaikan. Melalui analisis dan sintesis hasil insight gathering,
peneliti kemudian menyusun problem statement yang jelas, yang merangkum pain points
utama pengguna. Ini memastikan bahwa solusi yang dikembangkan di fase selanjutnya akan
relevan dan benar-benar menyelesaikan permasalahan pengguna (Rahmawati & Nugroho,
2021). Kami melakukan fase empathize pada fase define.
Dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran mengamati respons saat menggunakan CK-
12. Kami mengerucutkan beberapa pain points yang dialami peserta didik yang terlampir pada
gambar di bawah ini
Gambar 1.1 Pain points

Ditemukan bahwa tidak semua peserta didik dapat mengakses virtual laboratorium
dikarenakan keterbatasan perangkat dan internet, tampilan tidak responsif di beberapa
perangkat sehingga ada bagian dari fitur yang tidak dapat difungsikan . Lalu sebagian
besar peserta didik merasa terfasilitasi untuk memahami konsep dengan v-lab namun
sebagian kecil masih merasa pembelajaran direct lebih disukai. Selain itu gambar yang
disesuaikan dengan handphone terlalu kecil untuk terbaca sehingga perlu di zoom tetapi
pada aplikasi tidak terdapat fitur untuk zoom-in.

Dalam fase Develop, peneliti mengembangkan ide dan prototype solusi yang sesuai
dengan kebutuhan dan pain points yang telah teridentifikasi. Tahap ini memungkinkan
iterasi dan pengujian untuk mengoptimalkan desain berdasarkan masukan pengguna.
Kami menentukan alternatif virtual laboratorium lain yang kemudian menjadi solusi
untuk mengatasi pain points. Lalu bersama uji coba terdapat beberapa prototype yaitu
mengguanakan CK-12 dengan skenario berbeda, PhET, atau Olabs. Lalu dengan
pertimbangan para anggota kelompok berdasarkan praktik di lapangan, kami
memutuskan untuk menggunakan PhET sebagai solusi pain points yang telah dibahas
sebelumnya.

Tahap terakhir, di fase Deliver, solusi akhir diuji dan diimplementasikan, dengan tujuan
untuk menyelesaikan pain points dan memenuhi kebutuhan pengguna secara maksimal
(Setiawan & Pratama, 2019). Dengan pendekatan empati melalui metode insight
gathering dan identifikasi pain points, metode design thinking double diamond
menawarkan pendekatan penelitian yang mendalam dan berpusat pada pengguna.
Proses ini tidak hanya memungkinkan peneliti untuk memahami permasalahan secara
lebih baik, tetapi juga membantu menciptakan solusi yang lebih efektif dan diterima
oleh pengguna. Pada pembelajaran selanjutnya, saya melakukan pembelajaran
terbimbing oleh guru pamong, tujuan penyusunan perencanaaan kini untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik untuk memilih media pembelajaran virtual laboratorium yang
tepat untuk membantu pemahaman peserta didik. Lalu selanjutnya saya membuat suatu
angket untuk peserta didik. Tujuan dari pemberian angket tersebut untuk mengetahui
keefektifan alternatif virtual laboratorium yang telah diberikan.

Gambar 1.2 Grafik Respon Peserta didik

hasil temuan menunjukkan nilai 3,24 dari skala 4. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian alternatif virtual laboratorium menunjukkan bahwa media pembelajaran
virtual laboratorium termasuk kategori “Sangat baik”. Media pembelajaran virtual
laboratorium efektif untuk digunakan sebagai motivasi belajar peserta didik. Mata
pelajaran yang disampaikan dapat dimengerti oleh peserta didik dengan kolaborasi
antara teks, animasi, gambar dan video. Peserta didik dapat melihat langsung
bagaimana bentuk fisis dari konsep elastisitas.

Pemilihan media pembelajaran virtual laboratorium dalam pendidikan fisika tidak


hanya berfokus pada peningkatan pemahaman peserta didik terhadap konsep sains,
tetapi juga penting untuk diselaraskan dengan prinsip Culturally Responsive Teaching
(CRT) dan Developmentally Appropriate Practice (DAP) yang telah di pelajari pada
Mata Kuliah Pemahaman Peserta didik dan Pembelajarannya. Dengan
mengintegrasikan pendekatan CRT dan DAP dalam penggunaan laboratorium virtual,
guru dapat memastikan bahwa pembelajaran menjadi lebih inklusif, relevan, dan sesuai
dengan tahap perkembangan peserta didik.

CRT atau Culturally Responsive Teaching adalah pendekatan pendidikan yang


memperhatikan konteks budaya dan latar belakang peserta didik sebagai komponen
penting dalam proses pembelajaran. Dengan menerapkan CRT, laboratorium virtual
dapat dirancang dan dipilih dengan mempertimbangkan variasi budaya peserta didik,
sehingga peserta didik dapat merasa lebih terhubung dengan materi yang mereka
pelajari. Misalnya, simulasi virtual dapat mencakup konteks-konteks budaya lokal atau
fenomena alam yang akrab bagi peserta didik, yang pada gilirannya membantu mereka
melihat relevansi fisika dalam kehidupan sehari-hari mereka (Ladson-Billings, 1995).
Dengan ini, penggunaan virtual laboratorium tidak hanya memperkaya pemahaman
sains, tetapi juga membangun hubungan antara pembelajaran dan identitas budaya
peserta didik, sehingga menginspirasi mereka untuk lebih berpartisipasi secara aktif.
Sementara itu, prinsip DAP (Developmentally Appropriate Practice)
menekankan pentingnya kesesuaian pembelajaran dengan tahap perkembangan
kognitif, sosial, dan emosional peserta didik. DAP memastikan bahwa media
pembelajaran, seperti laboratorium virtual, disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan
karakteristik perkembangan peserta didik, sehingga materi yang disajikan dalam bentuk
simulasi atau eksperimen sesuai dengan kemampuan mereka untuk memahami konsep
tersebut. Misalnya, simulasi pada virtual laboratorium bisa dimulai dari konsep yang
sederhana dan secara bertahap menuju konsep yang lebih kompleks, mengikuti tingkat
pemahaman peserta didik. Dengan demikian, virtual laboratorium yang selaras dengan
DAP memungkinkan peserta didik untuk mempelajari konsep-konsep fisika dengan
cara yang tidak membebani kognisi mereka, tetapi malah mendukung perkembangan
mereka.

Selain itu, pemilihan media yang mengadaptasikan teknologi digital masa kini sesuai
dengan yang telah dipelajari mata kuliah “Belajar di Era Digital” Dalam konteks mata
kuliah "Belajar di Era Digital," pemilihan media yang tepat perlu memperhatikan
keterhubungan teknologi dengan gaya belajar modern, seperti penggunaan video
interaktif, simulasi virtual, dan platform kolaboratif online yang mendorong partisipasi
aktif peserta didik. Teknologi ini memungkinkan pembelajaran yang lebih fleksibel, di
mana peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan mereka dan berkolaborasi
dalam waktu nyata atau melalui metode asinkron. Selain itu, penggunaan media
berbasis teknologi digital juga memungkinkan personalisasi, sehingga materi bisa
disesuaikan dengan kebutuhan dan minat setiap peserta didik. Dengan demikian, media
pembelajaran berbasis teknologi digital dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan
pemahaman peserta didik dalam pembelajaran, sekaligus mempersiapkan mereka untuk
menghadapi tantangan di dunia yang semakin digital.

Ketiadaan laboratorium fisik di SMA Mekar Arum telah mendorong pemanfaatan


laboratorium virtual sebagai alternatif yang efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa
penggunaan CK-12, didukung oleh pendekatan design thinking, dapat meningkatkan
pemahaman konsep peserta didik, motivasi belajar, dan relevansi pembelajaran.
Integrasi dengan prinsip-prinsip CRT dan DAP serta pemanfaatan teknologi digital
yang sesuai dengan era digital semakin memperkuat potensi virtual laboratorium dalam
meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian, masih diperlukan upaya
berkelanjutan untuk mengatasi tantangan yang ada dan mengembangkan pemanfaatan
virtual laboratorium secara lebih optimal
DAFTAR PUSTAKA
Handayani, S., Yuliana, R., & Wibowo, A. (2021). Pengaruh penggunaan laboratorium virtual
terhadap pemahaman konsep dan motivasi belajar peserta didik pada materi fisika. Jurnal
Pendidikan Fisika Indonesia, 14(2), 101-110.
Kurniawati, T. (2022). Pengembangan media virtual laboratory untuk meningkatkan
keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran fisika. Jurnal Teknologi Pendidikan, 11(1), 76-
85.
Nurhayati, L., & Hidayat, R. (2020). Analisis kendala fasilitas laboratorium fisika di sekolah
menengah. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sains, 8(3), 120-128.
Santoso, B., & Yulianto, D. (2021). Efektivitas laboratorium virtual sebagai pengganti
laboratorium fisika di sekolah menengah. Jurnal Pendidikan Sains, 13(2), 54-63.
Ridwan, R., Hadi, I., & Setiawan, T. (2020). Implementasi design thinking dalam pendidikan:
Metode double diamond sebagai pendekatan pengembangan kurikulum. Jurnal Pendidikan
Inovatif, 10(4), 129-137.
Maulana, I. (2022). Penggunaan CK-12 untuk meningkatkan pemahaman peserta didik dalam
pelajaran fisika. Jurnal Pendidikan Sains, 14(2), 55-64.
Rahmawati, D., & Nugroho, B. (2021). Pengaruh penggunaan CK-12 terhadap hasil belajar
fisika peserta didik SMA. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, 17(3), 189-197.

Anda mungkin juga menyukai