LP CKD Hemodialisa Revisi
LP CKD Hemodialisa Revisi
Disusun untuk memenuhi tugas laporan individu praktek profesi ners depertemen
keperawatan medikal bedah 2 di ruang Hemodialisa RSUD R.T Notopuro Sidoarjo
Oleh:
DISUSUN OLEH
SELESTINA VILMAS NGORANUBUN
2413.14901.438
Disetujui Oleh
( ) ( )
A. DEFINISI
Chronic kidney disease (CKD) atau Gagal ginjal kronik adalah suatu proses
penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya pada suatu derajat
memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal
(Naryati & Nugrahandari, 2021). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan
sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat, progresif,
irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Yustiana, 2020).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa CKD adalah penyakit
ginjal yang tidak dapat lagi pulih atau kembali sembuh secara total seperti sediakala.
CKD adalah penyakit ginjal tahap ahir yang dapat disebabakan oleh berbagai
hal.Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan elektrolit, yang menyebabkan uremia (Aprilianti et al., 2024).
B. ETIOLOGI
Gagal ginjal kronik dapat timbul dari hamper semua penyakit. Apapun sebabnya,
dapat menimbulkan perburukan fungsi ginjal secara progresif. Dibawah ini terdapat
beberapa penyebab gagal ginjal kronik.
1. Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan – perubahan
stuktur pada arteriol diseluruh tubuh, ditandai dengan fibrosis dan hialinisasi
(sklerosis) didinding pembuluh darah.Organ sasaran utama organ ini adalah
jantung, otak, ginjal dan mata. Pada ginjal adalah akibat aterosklerosis ginjal akibat
hipertensi lama menyebabkan nefrosklerosis begina.Gangguan ini merupakan
akibat langsung dari iskemia renal. Ginjal mengecil, biasanya simetris dan
permukaan berlubang – lubang dan berglanula.Secara histology lesi yang esensial
adalah sklerosis arteri arteri kecilserta arteriol yang paling nyata pada arteriol
eferen. Penyumbatan arteri dan arteriol akan menyebabkan kerusakan glomerulus
dan atrofi tubulus, sehingga seluruh nefron rusak (Rika Widianita, 2023).
2. Glomerulonefritis
Glomerulonefritis terjadi karena adanya peradangan pada glomerulus yang
diakibatkan karena adanya pengendapan kompleks antigen antibody.Reaksi
peradangan diglomerulus menyebabkan pengaktifan komplemen, sehingga terjadi
peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus dan
filtrasi glomerulus.Protein-protein plasma dan sel darah merah bocor melalui
glomerulus. Glomerulonefritis dibagi menjadi dua yaitu:
a) Gomerulonefritis Akut
Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak.
b) Glomerulonefritis Kronik
Glomerulonefritis kronik adalah pradangan yang lama dari sel-sel glomerulus
(Safitri & Sani, 2022).
3. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)
Nefritis lupus disbabkan oleh kompleks imun dalam sirkulasi yang terperangkap
dalam membrane basalis glomerulus dan menimbulkan kerusakan.Perubahan
yang paling dini sering kali hanya mengenai sebagian rumbai glomerulus atau
hanya mengenai beberapaglomerulus yang tersebar (Rika Widianita, 2023).
4. Penyakit Ginjal Polikistik
Penyakit ginjal polikistik (PKD) ditandai dengan kista-kista multiple, bilateral,dan
berekspansi yang lambat laun mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal
normal akibat penekanan. Semakin lama ginjal tidak mampu mempertahankan
fungsi ginjal, sehingga ginjal akan menjadi rusak (GGK) (Ruckle et al., 2020).
5. Pielonefritis
Pielonefritis adalah infeksi yang terjadi pada ginjal itu sendiri. Pielonefritis itu
sendiri dapat bersifat akut atau kronik. Pielonefritis akut juga bias terjadi melalui
infeksi hematogen. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang-ulang
dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau
repluks vesikoureter.
6. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyebab tunggal ESRD yang tersering, berjumlah 30%
hingga 40% dari semua kasus. Diabetes mellitus menyerang struktur dan fungsi
ginjal dalam bentuk. Nefropati diabetic adalah istilah yang mencakup semua lesi
yang terjadi diginjal pada diabetes mellitus (Alan & Edem, 2024). Riwayat
perjalanan nefropati diabetikum dari awitan hingga ESRD dapat dibagi menjadi
lima fase atau stadium:
a. tadium 1 (fase perubahan fungsional dini) ditandai dengan hifertropi dan
hiperfentilasi ginjal, pada stadium ini sering terjadi peningkatan GFR yang
disebabkan oleh banyak factor yaitu, kadar gula dalam darah yang tinggi,
glucagon yang abnormal hormone pertumbuhan, efek rennin, angiotensin II
danprostaglandin.
b. Stadium 2 (fase perubahan struktur dini) ditandai dengan penebalan
membrane basalis kapiler glomerulus dan penumpukan sedikit demi sedikit
penumpukan matriks mesangial.
- Stadium 3 (Nefropati insipient)
- Stadium 4 (nefropati klinis atau menetap)
- Stadium 5 (Insufisiensi atau gagal ginjal progresif)
C. PATHWAY
E. KLASIFIKASI
1. Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
a) Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum
normal dan penderita asimptomatik.
b) Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak,
Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
c) Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia
2. K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat
penurunan LFG :
a) Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan
LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b) Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-
89 mL/menit/1,73 m2
c) Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2
d) Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2
e) Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal
terminal.
F. KOMPLIKASI
1. Hiperkalemia
Tingginya kandungan kalium di dalam darah. Dan tingginya kandungan kalium di
dalam darah dapat menimbulkan kematian mendadak, jika tidak ditangani dengan
serius.
2. Perikarditis,efusi pericardial
Akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi
4. Anemia
5. Penyakit tulang
Akibat kadar kalsium serum yang rendah, metabolisme vitamin D abnormal
6. Dehidrasi
7. Kulit : gatal gatal
8. Endokrin
- Laki laki : kehilangan libido, impotensi, dan penurunan jumlah serta motilitas
sperma
- Wanita : kehilangan libido, berkurangnya ovulasi, dan infertilisasi
- Anak anak: retardasi pertumbuhan
- Dewasa : kehilangan massa otot
9. Neurologis dan Pisikatri : kelelahan,kehilangan kesadaran, koma, iritasi neurologis
(tremor, ateriksis, agitasi, meningismus, peningkatan tonus otot kejang)
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium :
a) Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan
hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang
rendah.
b) Ureum dan kreatini : Meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan
kreatinin kurang lebih 20 : 1. Perbandingat meninggi akibat pendarahan
saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi
saluran kemih. Perbandingan ini berkurang ketika ureum lebih kecil dari
kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
c) Hiponatremi : Umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia : biasanya
terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunya dieresis
d) Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin
D3 pada GGK.
e) Phosphate alkaline : meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama
isoenzim fosfatase lindi tulang.
f) Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia : umunya disebabkan gangguan
metabolisme dan diet rendah protein.
g) Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolism karbohidrat pada gagal
ginjal ( resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer ).
h) Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan peninggian
hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
i) Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph yang
menurun, BE yang menurun, CO3 yang menurun, PCO2 yang menurun,
semuanya disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.
2. Radiology
Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal ( adanya batu atau
adanya suatu obstruksi ). Dehidrasi karena proses diagnostic akan memperburuk
keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
3. IIntra Vena Pielografi (IVP)
Untuk menilai system pelviokalisisdan ureter.
4. USG
Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim
ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
5. EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).
H. PENATALAKSANAAN
1. Medis
a) Cairan yang diperbolehkan adalah 500 sampai 600 ml untuk 24 jam atau
dengan menjumlahkan urine yang keluar dalam 24 jam ditamnbah dengan IWL
500ml, maka air yang masuk harus sesuai dengan penjumlahan tersebut.
b) Pemberian vitamin untuk klien penting karena diet rendah protein tidak cukup
memberikan komplemen vitamin yang diperlukan.
c) Hiperfosfatemia dan hipokalemia ditangani dengan antasida mengandung
alumunium atau kalsium karbonat, keduanya harus diberikan dengan
makanan.
d) Hipertensi ditangani dengan berbagai medikasi antihipertensif dan control
volume intravaskuler.
e) Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tampa gejala dan tidak
memerlukan penanganan, namun demikian suplemen makanan karbonat atau
dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis metabolic jika kondisi
ini memerlukan gejala.
f) Hiperkalemia biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang adekuat
disertai pengambilan kalium dan pemantauan yang cermat terhadap
kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun intravena.Pasien harus
diet rendah kalium kadang – kadang kayexelate sesuai kebutuhan.
g) Anemia pada gagal ginjal kronis ditangani dengan epogen (eritropoetin
manusia rekombinan). Epogen diberikan secara intravena atau subkutan tiga
kali seminggu.
h) Transplantasi ginjal.
i) Hemodialisa
Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah
buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal
atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR) .
Haemodialysa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk
keracunan (Saputri & Rahayu, 2019). Hemodialisa adalah suatu prosedur
(Wisudayanti, 2024). Dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan
beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer. Prosedur ini
memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini,
maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula
arteriovenosa) melalui pembedahan.
j) Keperawatan
a) Hitung intake dan output yaitu cairan : 500 cc ditambah urine dan hilangnya
cairan dengan cara lain (kasat mata) dalam waktu 24 jam sebelumnya.
b) Elektrolit yang perlu diperhatikan yaitu natrium dan kalium.Natrium dapat
diberikan sampai 500 mg dalam waktu 24 jam.
c) Penyuluhan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah. Perawat sangat
berperan penting dalam penyuluhan pasien penyakit ginjal tahap
akhir.Terdapat sejumlah informasi yang harus dipahami pasien dan keluarga
tentang gagal ginjal dalam rangka untuk memelihara kesehatan dan
menghindari komplikasi yang berhubungan dengan gagal ginjal. Pasien dan
keluarga perlu mengetahui masalah yang harus dilaporkan pada tenaga
kesehatan: (1) perburukan tanda gagal ginjal (mual,muntah,penurunan
haluaran urin,napas bau amoni), dan (2) tanda hyperkalemia (kelemahan
otot,diare, kram abdominal) (Beno et al., 2022).
k) Penatalaksanaan diet
a) Kalori harus cukup : 2000 – 3000 kalori dalam waktu 24 jam.
b) Karbohidrat minimal 200 gr/hari untuk mencegah terjadinya katabolisme
protein
c) Lemak diberikan bebas.
d) Diet uremia dengan memberikan vitamin : tiamin, riboflavin, niasin dan asam
folat.
e) Diet rendah protein karena urea, asam urat dan asam organik, hasil
pemecahan makanan dan protein jaringan akan menumpuk secara cepat
dalam darah jika terdapat gagguan pada klirens ginjal. Protein yang diberikan
harus yang bernilai biologis tinggi seperti telur, daging sebanyak 0,3 – 0,5
mg/kg/hari.
I. FUNGSI GINJAL
Menurut Hall & Guyton (2018) menjelaskan fungsi ginjal antara lain sebagai berikut :
1. Ekskresi produk sisa metabolik dan bahan kimia asing
Ginjal berfungsi untuk membuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan
lagi oleh tubuh. Produk-produk ini meliputi ureum (dari metabolisme asam amino),
kreatinin (dari kreatin otot), asam urat (dari asam nukleat), produk akhir
pemecahan hemoglobin (seperti bilirubin), dan metabolit berbagai hormon.
Produk-produk sisa ini harus dibersihkan dari tubuh secepat produksinya.
2. Pengaturan keseimbangan air dan elektrolit
Konsentrasi total solut cairan tubuh orang normal sangat konstan meskipun
fluktuasi asupan dan ekskresi cairan dan solut cukup besar. Kadar plasma dan
cairan tubuh dapat dipertahankan dalam batas-batas yang sempit melalui
pembentukan urine yang jauh lebih pekat atau lebih encer dibandingkan dengan
plasma dari mana urin dibentuk. Cairan yang banyak diminum menyebabkan
cairan tubuh menjadi lebih encer, urin menjadi encer dan kelebihan air akan
diekskresikan dengan cepat.
3. Pengaturan Tekanan Arteri
Ginjal berperan penting dalam mengatur tekanan arteri jangka panjang dengan
mengekskresikan sejumlah natrium dan air. Selain itu, ginjal turut mengatur
tekanan arteri jangka pendek dengan cara mengeluarkan hormon atau zat
vasoaktif misalnya renin yang menyebabkan pembentukan produk vasoaktif
contohnya angiotensin II.
4. Pengaturan keseimbangan asam- basa
Keseimbangan asam basa dalam tubuh manusia diatur oleh dua sistem yaitu paru-
paru dan ginjal. Ginjal bekerja dengan menyesuaikan jumlah karbondioksida
dalam darah. Ginjal menyekresikan atau menahan bikarbonat dan ion hidrogen
sebagai respon terhadap pH darah.
5. Pangaturan pembentukan eritrosit
Ginjal menyekresikan eritropoietin, yang merangsang pembentukan sel darah
merah dari sel induk hematopoietik di sumsum tulang. Pada manusia normal, ginjal
menghasilkan hampir semua eritropoietin yang disekresi ke dalam sirkulasi.
J. KEBUTUHAN NUTRISI
1. Makanan Sumber Natrium
Kelebihan konsumsi garam akan menyebkan pasien mudah merasa haus
sehingga banyak minumdan dapat mengakibatkan pembengkakan, sesak nafas,
tekanan darah meningkat, dan penyakit jantung. Bahan makanan tinggi natrium
yaitu makanan instan, keju, margarin, dan mentega. Bumbu yang mengandung
tinggi natrium juga harus diperhatikan, seperti garam, terasi, kecap, MSG, saos.
2. Makanan Tinggi Kalium
Asupan kalium dalam jumlah cukup dibutuhkan untuk menjaga agar jantung
berdetak dengan kecepatan normal. Namun apabila konsumsi kalium terlalu
berlebihan dapat berbahaya untuk jantung.
a. Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium < 100mg): misoa, beras,
roti putih, semangka, manggis, rambutan, blewah, sari apel, keju, es krim, kopi,
margarin, jam.
b. Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium 100-200mg) : bihun, beras
merah, terigu, makaroni, biskuit, roti bakar, telur ayam, tahu, ketimun, anggur,
apel hijau, jambu biji, jeruk, sawo, blimbing, melon, yoghurt.
c. Bahan makanan diperbolehkan maksimal 100gr/hari 9kadar kalium 200-300mg
: ubi putih, jagung, beras ketan, ikan, buncis, kol, wortel, tomat, selada, apel
merah, alpukat, duku, pepaya , salak, sirsak, klengkeng, madu.
d. Bahan makanan dibatasi maksimal 50gr/hari (kadar kalium 300-400 mg) :
kentang, havermout, singkong, ubi kuning, tepung tapioka, kapri, ikan mas,
udang, ayam, kembang kol, bit, seledri, nangka, santan.
e. Bahan makanan yang TIDAK dianjurkan (kadar kalium (> 400 mg) : sarden,
tongkol, kacang-kacangan kering (kacang hiaju, kacang kedelai, kacang
merah, kacang tanah, dll), pisang, durian, bayam, daun pepaya, coklat, teh,
kelapa, saos tomat.
3. Makanan Tinggi Fosfor
Pada pasien dengan hemodialisis biasanya akan mengalami hiperfosfatemia
(tingginya kadar fosfor dalam darah), maka dari itu makanan yang mengandung
tinggi fosfor sebaiknya dihindari seperti: produk susu, kacang-kacangan, cereal
berbahan gandum, dan minuman kemasan.
4. Makanan Sumber Kalsium
Pada pasien dengan hemodialisis, kebutuhan kalsium yang disarankan harus
tinggi karena apabila kalsium dan vit D rendah di dalam darah maka akan dilepas
dari tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pasien
dianjurkan untuk mengkonsumsi susu rendah fosfor setiap hari.
5. Makanan yang Mengandung Serat
Pasien dengan hemodialisis dianjurkan untuk mengkonsumsi serat dalam jumlah
yang cukup agar feses menjadi lembek dan tidak susah buang air besar. Makanan
yang dianjurkan yaitu, sayur, buah, kacang-kacangan, sereal, dan hasil olahannya
yang mengandung rendah fosfor.
M. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Identitas
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit saat ini
4. Riwayat Penyakit Dahulu
5. Riwayat Penyakit Keluarga
6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum dan Tanda-Tanda Vital
b. Pernafasan B1 (breath)
c. Kardiovaskuler B2 (blood)
d. Persyarafan B3 (brain)
e. Perkemihan B4 (bladder)
f. Pencernaan B5 (bowel)
g. Musculoskeletal/integument B6 (bone)
7. Diagnosa Keperawatan
1. Hipervolemia berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih
dan retensi cairan dan natrium.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane
alveolar-kapiler
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai oksigen
ke jaringan menurun
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume
cairan di dalam tubuh.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa
mulut.
7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic,
sirkulasi,sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum
dalam kulit.
8. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur.
9. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
8. Intervensi Keperawatan
Perubahan kontraksi
- Batuk
- Ortopnea
- Bunyi jantung S3,S4
- Cemas
- Kurang istirahat
Internal
Perubahan pada status
cairan
Perubahan pada
pigmentasi
Perubahan pada turgor
Faktor perkembangan
Ketidakseimbangan status
nutrisi (seperti obesitas,
kurus kerempeng)
Penurunan imunitas
Kerusakan sirkulasi dan
status metabolisme
Kerusakan sensasi
Faktor Resiko
Tirah baring
Kelemahan secara
menyeluruh
Ketidakseimbangan antara
suplai oksigen dengan
kebutuhan
Imobilisasi
9. Defisit pengetahuan Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process
Kowledge : health Behavior Berikan penilaian tentang
Definisi : tingkat pengetahuan
Tidak adanya atau kurangnya Kriteria Hasil : pasien tentang proses
informasi kognitif sehubungan Pasien dan keluarga penyakit yang spesifik
dengan topic spesifik. menyatakan pemahaman Jelaskan patofisiologi dari
tentang penyakit, kondisi, penyakit dan bagaimana
Batasan karakteristik : prognosis dan program hal ini berhubungan
memverbalisasikan adanya pengobatan dengan anatomi dan
masalah, ketidakakuratan Pasien dan keluarga fisiologi, dengan cara
mengikuti instruksi, perilaku mampu melaksanakan yang tepat.
tidak sesuai. prosedur yang dijelaskan Gambarkan tanda dan
secara benar gejala serta proses
Faktor yang berhubungan : Pasien dan keluarga penyakit, dengan cara
keterbatasan kognitif, mampu menjelaskan yang tepat
interpretasi terhadap informasi kembali apa yang dijelaskan Sediakan informasi pada
yang salah, kurangnya perawat/tim kesehatan pasien tentang kondisi,
keinginan untuk mencari lainnya dengan cara yang tepat
informasi, tidak mengetahui Hindari harapan yang
sumber-sumber informasi. kosong
Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
9. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien.Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit
dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan
perawatan yang muncul pada pasien.
Aprilianti, F. L., Listyarini, A. D., Charista, A., Safira, A. D., Muniroh, F. A., & Muntiari, L. (2024).
Terapi Spiritual Terhadap Kualitas Hidup Pasien Chronic Kidney Disease (Ckd). Jurnal
Kesehatan Dan Kedokteran, 3(1), 18–27. https://doi.org/10.56127/jukeke.v3i1.581
Beno, J., Silen, A. ., & Yanti, M. (2022). Terapi komplamenter pada pasien CKD dengan Sleep
Disorder. Braz Dent J., 33(1), 1–12.
Biomedika, ; A, Rachmawati, A., & Marfianti, E. (2020). Karakteristik Faktor Risiko Pasien
Chronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani Hemodialisa Di RS X Madiun. Biomedika,
12(1), 36–43. https://doi.org/10.23917/biomedika.v12i1.9597
HIDAYAT, R. (2017). Pengaruh Senam Terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2 Di Rsud Puri Husada Tembilahan Tahun 2016. Jurnal Ners, 1(1).
https://doi.org/10.31004/jn.v1i1.89
Kartika, M., Subakir, S., & Mirsiyanto, E. (2021). Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan
Dengan Hipertensi. Jurnal Kesmas Jambi, 5(1), 1–9.
Maryani. (2003). Maryani, H. 2003. Tanaman Obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia
Lanjut. Agromedia Pustaka. Jakarta. 1(2), 98–104.
Rika Widianita, D. (2023). Faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan CKD. AT-
TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, VIII(I), 1–19.
Ruckle, A. F., Maulana, A., & Ghinowara, T. (2020). Faktor Resiko Infeksi Saluran Kemih Pada
Pasien Dengan Batu Saluran Kemih. Biomedika, 12(2), 124–130.
https://doi.org/10.23917/biomedika.v12i2.10812
Safitri, L. N., & Sani, F. N. (2022). Diploma 3 Nursing Study Program STIKes Kusuma Husada
Surakarta 2019 NURSING CARE ON MRS. H WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) IN FULFILLMENT OF FLUID NEED. c.
Saputri, R., & Rahayu, D. A. (2019). Terapi Autogenik Terhadap Kondisi Psikologi Pasien Ckd
Yang Autogenic Therapy To Psychological Aspects of Ckd Patients Undergoing
Hemodialysis. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 2(3), 139–148.
Yustiana, innez. (2020). Penerapan Terapi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien
Saat Pemasangan Avshunt Diruang Instalasi Bedah Sentral. 15, 1–23.