0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan22 halaman

LP CKD Hemodialisa Revisi

Diunggah oleh

Putri Febrianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
253 tayangan22 halaman

LP CKD Hemodialisa Revisi

Diunggah oleh

Putri Febrianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIGNOSA MEDIS CKD

DI RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO


PERIODE PRAKTIK: 1 DESEMBER S/D 15 DESEMBER 2024

Disusun untuk memenuhi tugas laporan individu praktek profesi ners depertemen
keperawatan medikal bedah 2 di ruang Hemodialisa RSUD R.T Notopuro Sidoarjo

Oleh:

Nama : Selestina Vilmas Ngoranubun


NIM : 2413.14901.438

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2024
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DENGAN DIGNOSA MEDIS CKD


DI RSUD R.T NOTOPURO SIDOARJO
PERIODE PRAKTIK: 1 Desmebr S/D 15 Desember 2024

DISUSUN OLEH
SELESTINA VILMAS NGORANUBUN
2413.14901.438

Disetujui Oleh

Pembimbing Institusi Pembimbing Wahana Praktek

( ) ( )
A. DEFINISI
Chronic kidney disease (CKD) atau Gagal ginjal kronik adalah suatu proses
penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya pada suatu derajat
memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal
(Naryati & Nugrahandari, 2021). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan
sebagai kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat, progresif,
irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam
mempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi
uremia atau azotemia (Yustiana, 2020).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa CKD adalah penyakit
ginjal yang tidak dapat lagi pulih atau kembali sembuh secara total seperti sediakala.
CKD adalah penyakit ginjal tahap ahir yang dapat disebabakan oleh berbagai
hal.Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan
keseimbangan cairan elektrolit, yang menyebabkan uremia (Aprilianti et al., 2024).

B. ETIOLOGI
Gagal ginjal kronik dapat timbul dari hamper semua penyakit. Apapun sebabnya,
dapat menimbulkan perburukan fungsi ginjal secara progresif. Dibawah ini terdapat
beberapa penyebab gagal ginjal kronik.
1. Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan – perubahan
stuktur pada arteriol diseluruh tubuh, ditandai dengan fibrosis dan hialinisasi
(sklerosis) didinding pembuluh darah.Organ sasaran utama organ ini adalah
jantung, otak, ginjal dan mata. Pada ginjal adalah akibat aterosklerosis ginjal akibat
hipertensi lama menyebabkan nefrosklerosis begina.Gangguan ini merupakan
akibat langsung dari iskemia renal. Ginjal mengecil, biasanya simetris dan
permukaan berlubang – lubang dan berglanula.Secara histology lesi yang esensial
adalah sklerosis arteri arteri kecilserta arteriol yang paling nyata pada arteriol
eferen. Penyumbatan arteri dan arteriol akan menyebabkan kerusakan glomerulus
dan atrofi tubulus, sehingga seluruh nefron rusak (Rika Widianita, 2023).
2. Glomerulonefritis
Glomerulonefritis terjadi karena adanya peradangan pada glomerulus yang
diakibatkan karena adanya pengendapan kompleks antigen antibody.Reaksi
peradangan diglomerulus menyebabkan pengaktifan komplemen, sehingga terjadi
peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus dan
filtrasi glomerulus.Protein-protein plasma dan sel darah merah bocor melalui
glomerulus. Glomerulonefritis dibagi menjadi dua yaitu:
a) Gomerulonefritis Akut
Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak.
b) Glomerulonefritis Kronik
Glomerulonefritis kronik adalah pradangan yang lama dari sel-sel glomerulus
(Safitri & Sani, 2022).
3. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)
Nefritis lupus disbabkan oleh kompleks imun dalam sirkulasi yang terperangkap
dalam membrane basalis glomerulus dan menimbulkan kerusakan.Perubahan
yang paling dini sering kali hanya mengenai sebagian rumbai glomerulus atau
hanya mengenai beberapaglomerulus yang tersebar (Rika Widianita, 2023).
4. Penyakit Ginjal Polikistik
Penyakit ginjal polikistik (PKD) ditandai dengan kista-kista multiple, bilateral,dan
berekspansi yang lambat laun mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal
normal akibat penekanan. Semakin lama ginjal tidak mampu mempertahankan
fungsi ginjal, sehingga ginjal akan menjadi rusak (GGK) (Ruckle et al., 2020).
5. Pielonefritis
Pielonefritis adalah infeksi yang terjadi pada ginjal itu sendiri. Pielonefritis itu
sendiri dapat bersifat akut atau kronik. Pielonefritis akut juga bias terjadi melalui
infeksi hematogen. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang-ulang
dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau
repluks vesikoureter.
6. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyebab tunggal ESRD yang tersering, berjumlah 30%
hingga 40% dari semua kasus. Diabetes mellitus menyerang struktur dan fungsi
ginjal dalam bentuk. Nefropati diabetic adalah istilah yang mencakup semua lesi
yang terjadi diginjal pada diabetes mellitus (Alan & Edem, 2024). Riwayat
perjalanan nefropati diabetikum dari awitan hingga ESRD dapat dibagi menjadi
lima fase atau stadium:
a. tadium 1 (fase perubahan fungsional dini) ditandai dengan hifertropi dan
hiperfentilasi ginjal, pada stadium ini sering terjadi peningkatan GFR yang
disebabkan oleh banyak factor yaitu, kadar gula dalam darah yang tinggi,
glucagon yang abnormal hormone pertumbuhan, efek rennin, angiotensin II
danprostaglandin.
b. Stadium 2 (fase perubahan struktur dini) ditandai dengan penebalan
membrane basalis kapiler glomerulus dan penumpukan sedikit demi sedikit
penumpukan matriks mesangial.
- Stadium 3 (Nefropati insipient)
- Stadium 4 (nefropati klinis atau menetap)
- Stadium 5 (Insufisiensi atau gagal ginjal progresif)

C. PATHWAY

D. TANDA DAN GEJALA


1. Manifestasi klinik antara lain:
a) Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan
berkurang, mudah tersinggung, depresi
b) Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau
sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan,
pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
2. Manifestasi klinik menurut (Saputri & Rahayu, 2019) antara lain : hipertensi, (akibat
retensi cairan dan natrium dariaktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron),
gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan
perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia,
mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran,
tidak mampu berkonsentrasi).
3. Manifestasi klinik menurut (hidayat, 2017) adalah sebagai berikut:
a) Sistem kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac
dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan
edema.
b) Sistem Pernafasan
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kentaldan riak, suara krekels.
c) Sistem gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme
protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d) Sistem muskuloskeletal
Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ), burning
feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki ), tremor,
miopati ( kelemahan dan hipertropi otot –otot ekstremitas.
e) Sistem Integumen
Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat
penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
f) Sistem endokrin
Gangguan metabolic glukosa,gangguan metabolic lemak dan vitamin
g) Sistem Genital
Libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore.
h) Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asamdan basa
Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium
dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
i) System hematologi
Anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksieritopoetin, sehingga
rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang, hemolisis akibat
berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga
terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

E. KLASIFIKASI
1. Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
a) Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum
normal dan penderita asimptomatik.
b) Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak,
Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
c) Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia
2. K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat
penurunan LFG :
a) Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan
LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b) Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-
89 mL/menit/1,73 m2
c) Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2
d) Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2
e) Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal
terminal.

F. KOMPLIKASI
1. Hiperkalemia
Tingginya kandungan kalium di dalam darah. Dan tingginya kandungan kalium di
dalam darah dapat menimbulkan kematian mendadak, jika tidak ditangani dengan
serius.
2. Perikarditis,efusi pericardial
Akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi
4. Anemia
5. Penyakit tulang
Akibat kadar kalsium serum yang rendah, metabolisme vitamin D abnormal
6. Dehidrasi
7. Kulit : gatal gatal
8. Endokrin
- Laki laki : kehilangan libido, impotensi, dan penurunan jumlah serta motilitas
sperma
- Wanita : kehilangan libido, berkurangnya ovulasi, dan infertilisasi
- Anak anak: retardasi pertumbuhan
- Dewasa : kehilangan massa otot
9. Neurologis dan Pisikatri : kelelahan,kehilangan kesadaran, koma, iritasi neurologis
(tremor, ateriksis, agitasi, meningismus, peningkatan tonus otot kejang)
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium :
a) Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan
hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang
rendah.
b) Ureum dan kreatini : Meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan
kreatinin kurang lebih 20 : 1. Perbandingat meninggi akibat pendarahan
saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi
saluran kemih. Perbandingan ini berkurang ketika ureum lebih kecil dari
kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
c) Hiponatremi : Umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia : biasanya
terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunya dieresis
d) Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin
D3 pada GGK.
e) Phosphate alkaline : meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama
isoenzim fosfatase lindi tulang.
f) Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia : umunya disebabkan gangguan
metabolisme dan diet rendah protein.
g) Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolism karbohidrat pada gagal
ginjal ( resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer ).
h) Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan peninggian
hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
i) Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph yang
menurun, BE yang menurun, CO3 yang menurun, PCO2 yang menurun,
semuanya disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.
2. Radiology
Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal ( adanya batu atau
adanya suatu obstruksi ). Dehidrasi karena proses diagnostic akan memperburuk
keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
3. IIntra Vena Pielografi (IVP)
Untuk menilai system pelviokalisisdan ureter.
4. USG
Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim
ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
5. EKG
Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia).
H. PENATALAKSANAAN
1. Medis
a) Cairan yang diperbolehkan adalah 500 sampai 600 ml untuk 24 jam atau
dengan menjumlahkan urine yang keluar dalam 24 jam ditamnbah dengan IWL
500ml, maka air yang masuk harus sesuai dengan penjumlahan tersebut.
b) Pemberian vitamin untuk klien penting karena diet rendah protein tidak cukup
memberikan komplemen vitamin yang diperlukan.
c) Hiperfosfatemia dan hipokalemia ditangani dengan antasida mengandung
alumunium atau kalsium karbonat, keduanya harus diberikan dengan
makanan.
d) Hipertensi ditangani dengan berbagai medikasi antihipertensif dan control
volume intravaskuler.
e) Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tampa gejala dan tidak
memerlukan penanganan, namun demikian suplemen makanan karbonat atau
dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis metabolic jika kondisi
ini memerlukan gejala.
f) Hiperkalemia biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang adekuat
disertai pengambilan kalium dan pemantauan yang cermat terhadap
kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun intravena.Pasien harus
diet rendah kalium kadang – kadang kayexelate sesuai kebutuhan.
g) Anemia pada gagal ginjal kronis ditangani dengan epogen (eritropoetin
manusia rekombinan). Epogen diberikan secara intravena atau subkutan tiga
kali seminggu.
h) Transplantasi ginjal.
i) Hemodialisa
Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah
buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal
atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR) .
Haemodialysa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk
keracunan (Saputri & Rahayu, 2019). Hemodialisa adalah suatu prosedur
(Wisudayanti, 2024). Dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan
beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer. Prosedur ini
memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini,
maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula
arteriovenosa) melalui pembedahan.
j) Keperawatan
a) Hitung intake dan output yaitu cairan : 500 cc ditambah urine dan hilangnya
cairan dengan cara lain (kasat mata) dalam waktu 24 jam sebelumnya.
b) Elektrolit yang perlu diperhatikan yaitu natrium dan kalium.Natrium dapat
diberikan sampai 500 mg dalam waktu 24 jam.
c) Penyuluhan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah. Perawat sangat
berperan penting dalam penyuluhan pasien penyakit ginjal tahap
akhir.Terdapat sejumlah informasi yang harus dipahami pasien dan keluarga
tentang gagal ginjal dalam rangka untuk memelihara kesehatan dan
menghindari komplikasi yang berhubungan dengan gagal ginjal. Pasien dan
keluarga perlu mengetahui masalah yang harus dilaporkan pada tenaga
kesehatan: (1) perburukan tanda gagal ginjal (mual,muntah,penurunan
haluaran urin,napas bau amoni), dan (2) tanda hyperkalemia (kelemahan
otot,diare, kram abdominal) (Beno et al., 2022).
k) Penatalaksanaan diet
a) Kalori harus cukup : 2000 – 3000 kalori dalam waktu 24 jam.
b) Karbohidrat minimal 200 gr/hari untuk mencegah terjadinya katabolisme
protein
c) Lemak diberikan bebas.
d) Diet uremia dengan memberikan vitamin : tiamin, riboflavin, niasin dan asam
folat.
e) Diet rendah protein karena urea, asam urat dan asam organik, hasil
pemecahan makanan dan protein jaringan akan menumpuk secara cepat
dalam darah jika terdapat gagguan pada klirens ginjal. Protein yang diberikan
harus yang bernilai biologis tinggi seperti telur, daging sebanyak 0,3 – 0,5
mg/kg/hari.

I. FUNGSI GINJAL
Menurut Hall & Guyton (2018) menjelaskan fungsi ginjal antara lain sebagai berikut :
1. Ekskresi produk sisa metabolik dan bahan kimia asing
Ginjal berfungsi untuk membuang produk sisa metabolisme yang tidak diperlukan
lagi oleh tubuh. Produk-produk ini meliputi ureum (dari metabolisme asam amino),
kreatinin (dari kreatin otot), asam urat (dari asam nukleat), produk akhir
pemecahan hemoglobin (seperti bilirubin), dan metabolit berbagai hormon.
Produk-produk sisa ini harus dibersihkan dari tubuh secepat produksinya.
2. Pengaturan keseimbangan air dan elektrolit
Konsentrasi total solut cairan tubuh orang normal sangat konstan meskipun
fluktuasi asupan dan ekskresi cairan dan solut cukup besar. Kadar plasma dan
cairan tubuh dapat dipertahankan dalam batas-batas yang sempit melalui
pembentukan urine yang jauh lebih pekat atau lebih encer dibandingkan dengan
plasma dari mana urin dibentuk. Cairan yang banyak diminum menyebabkan
cairan tubuh menjadi lebih encer, urin menjadi encer dan kelebihan air akan
diekskresikan dengan cepat.
3. Pengaturan Tekanan Arteri
Ginjal berperan penting dalam mengatur tekanan arteri jangka panjang dengan
mengekskresikan sejumlah natrium dan air. Selain itu, ginjal turut mengatur
tekanan arteri jangka pendek dengan cara mengeluarkan hormon atau zat
vasoaktif misalnya renin yang menyebabkan pembentukan produk vasoaktif
contohnya angiotensin II.
4. Pengaturan keseimbangan asam- basa
Keseimbangan asam basa dalam tubuh manusia diatur oleh dua sistem yaitu paru-
paru dan ginjal. Ginjal bekerja dengan menyesuaikan jumlah karbondioksida
dalam darah. Ginjal menyekresikan atau menahan bikarbonat dan ion hidrogen
sebagai respon terhadap pH darah.
5. Pangaturan pembentukan eritrosit
Ginjal menyekresikan eritropoietin, yang merangsang pembentukan sel darah
merah dari sel induk hematopoietik di sumsum tulang. Pada manusia normal, ginjal
menghasilkan hampir semua eritropoietin yang disekresi ke dalam sirkulasi.

J. KEBUTUHAN NUTRISI
1. Makanan Sumber Natrium
Kelebihan konsumsi garam akan menyebkan pasien mudah merasa haus
sehingga banyak minumdan dapat mengakibatkan pembengkakan, sesak nafas,
tekanan darah meningkat, dan penyakit jantung. Bahan makanan tinggi natrium
yaitu makanan instan, keju, margarin, dan mentega. Bumbu yang mengandung
tinggi natrium juga harus diperhatikan, seperti garam, terasi, kecap, MSG, saos.
2. Makanan Tinggi Kalium
Asupan kalium dalam jumlah cukup dibutuhkan untuk menjaga agar jantung
berdetak dengan kecepatan normal. Namun apabila konsumsi kalium terlalu
berlebihan dapat berbahaya untuk jantung.
a. Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium < 100mg): misoa, beras,
roti putih, semangka, manggis, rambutan, blewah, sari apel, keju, es krim, kopi,
margarin, jam.
b. Bahan makanan yang diperbolehkan (kadar kalium 100-200mg) : bihun, beras
merah, terigu, makaroni, biskuit, roti bakar, telur ayam, tahu, ketimun, anggur,
apel hijau, jambu biji, jeruk, sawo, blimbing, melon, yoghurt.
c. Bahan makanan diperbolehkan maksimal 100gr/hari 9kadar kalium 200-300mg
: ubi putih, jagung, beras ketan, ikan, buncis, kol, wortel, tomat, selada, apel
merah, alpukat, duku, pepaya , salak, sirsak, klengkeng, madu.
d. Bahan makanan dibatasi maksimal 50gr/hari (kadar kalium 300-400 mg) :
kentang, havermout, singkong, ubi kuning, tepung tapioka, kapri, ikan mas,
udang, ayam, kembang kol, bit, seledri, nangka, santan.
e. Bahan makanan yang TIDAK dianjurkan (kadar kalium (> 400 mg) : sarden,
tongkol, kacang-kacangan kering (kacang hiaju, kacang kedelai, kacang
merah, kacang tanah, dll), pisang, durian, bayam, daun pepaya, coklat, teh,
kelapa, saos tomat.
3. Makanan Tinggi Fosfor
Pada pasien dengan hemodialisis biasanya akan mengalami hiperfosfatemia
(tingginya kadar fosfor dalam darah), maka dari itu makanan yang mengandung
tinggi fosfor sebaiknya dihindari seperti: produk susu, kacang-kacangan, cereal
berbahan gandum, dan minuman kemasan.
4. Makanan Sumber Kalsium
Pada pasien dengan hemodialisis, kebutuhan kalsium yang disarankan harus
tinggi karena apabila kalsium dan vit D rendah di dalam darah maka akan dilepas
dari tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pasien
dianjurkan untuk mengkonsumsi susu rendah fosfor setiap hari.
5. Makanan yang Mengandung Serat
Pasien dengan hemodialisis dianjurkan untuk mengkonsumsi serat dalam jumlah
yang cukup agar feses menjadi lembek dan tidak susah buang air besar. Makanan
yang dianjurkan yaitu, sayur, buah, kacang-kacangan, sereal, dan hasil olahannya
yang mengandung rendah fosfor.

K. RUMUS MENGHITUNG GFR


Glomerular Filtration Rate (GFR) disebut juga sebagai laju filtrasi glomerular,
yaitu rata rata kecepatan volume cairan yang filtrasi di glomerulus ginjal. GFR dapat
digunakan sebagai indikator untuk menilai derajat fungsi ginjal dan gangguan yang
terjadi pada ginjal. untuk menghitung GFR, diperlukan nilai kadar kreatinin darah yang
bisa didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium darah. Sehingga penurunan fungsi
ginjal dapat diketahui ketika pemeriksaan ditingkat pratama dilakukan.
Menghitung laju GFR dapat dilakukan dengan perhitungan berikut :
GFR laki laki = (140 - umur) x kgBB / (72 x serum kreatinin)
GFR perempuan = (140 - umur) x kgBB x 0,85 / (72 x serum kreatinin)

L. RUMUS BLANCE CAIRAN PASIEN CKD


1. Untuk Pasien Hemodialisa
Rumus : Intake = Out Put (produksi urine ) + IWL ( 500 CC )
Contoh : Jika Pasien produksi Urine 100 CC / 24 jam
100 CC + 500 CC = 600 CC / 24 jam
Jadi Px boleh minum maksimal 600 CC sehari semalam
2. Untuk pasien CAPD
Rumus : Intake = Out put Urin + IWL + Jumlah Air yang berhasil dikeluarkan dalam
setiap pergantian cairan, (Dalam setiap penyimpanan air dalam
ronggaperitoneum, normalnya bisa menyedot air dalam tubuh sebanyak minimal.
400 CC, jadi kalau dalam sehari pergantian 4X maka Air yg bisa dikeluarkan adalah
1600 CC )
Contoh : Produksi Urine = 200 CC , Out put Cairan CAPD = 1600
200 CC + 500 CC + 1600 CC = 2300 CC Jadi pasien boleh minum maksimal 2300
CC sehari semalam.

Kesimpulan : Dari contoh diatas maka asupan cairan PX CAPD disimpulkan


sepertiorang normal pada umumnya.

M. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Pengkajian dengan pasien gagal ginjal kronik, meliputi :

1. Identitas
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit saat ini
4. Riwayat Penyakit Dahulu
5. Riwayat Penyakit Keluarga
6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum dan Tanda-Tanda Vital
b. Pernafasan B1 (breath)
c. Kardiovaskuler B2 (blood)
d. Persyarafan B3 (brain)
e. Perkemihan B4 (bladder)
f. Pencernaan B5 (bowel)
g. Musculoskeletal/integument B6 (bone)

7. Diagnosa Keperawatan
1. Hipervolemia berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih
dan retensi cairan dan natrium.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane
alveolar-kapiler
3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai oksigen
ke jaringan menurun
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan volume
cairan di dalam tubuh.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa
mulut.
7. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic,
sirkulasi,sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum
dalam kulit.
8. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur.
9. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

8. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Hipervolemia  Electrolit and acid base  Manajemen elektrolit.


balance  Manajemen cairan.
Definsi: peningkatan retensi  Fluid balance  Monitoring cairan
cairan isotonic  Hydration  Manajemen hypervolemia
 Manajemen eliminasi urin
Batasan karakteristik:  Manajemen asam basa
Kriteria Hasil:
 Bunyi napas tambahan  Terapi hemodialisis
 Anasarka : pembengkakan  Keseimbangan elektrolit
 Monitoring TTV
umum/ edema berat dan asam basa
 Ansietas.  Keseimbangan cairan
 Azotemia  Fungsi ginjal
 Perubahan tekanan darah  Kelebihan cairan
 Perubahan pola respirasi
 Penurunan Ht, Hb
 Edema
 Ketidakseimbangan elektrolit
 Peningkatan tekanan vena
sentral
 Asupan melebihi haluaran
 Distensi vena jugularis.
 Oliguria
 Efusi pleura
 Perubahan tekanan arteri
pulmonal
 Pertambahan berat badan
dalam periode singkat

Faktor yang berhubungan


 Gangguan mekanisme
pengaturan
 Peningkatan intake cairan
2. Gangguan pertukaran gas  Respiratory status: gas  Buka jalan nafas
exchange  Posisikan pasien untuk
Definisi: Kelebihan atau deficit  Respiratory status: memaksimalkan ventilasi
pada oksigenasi dan / atau ventilation  Identifikasi pasien
eliminasi karbondioksida pada  Vital sign status perlunya pemasangan
membrane alveolar-kapiler alat jalan nafas buatan
Kriteria Hasil:
 Lakukan fisioterapi dada
Batasan Karakteristik:  Mendemonstrasikan  Auskultasi suara
peningkatan vebtilasi dan
• Gas daraharteri abnormal nafas,catat adanya suara
oksigenasi yang adekuat
• Pernafasan dan pH arteri tambahan
abnormal  Memelihara kebersihan  Terapi O2
paru dan bebas dari tanda-  Monitor respirasi dan
 Kebingungan tanda distress pernafasan, status O2
 Sianosis (hanya pada  Tanda-tanda vital dalam  Monitor hasil AGD
neonatus) rentang normal
 Diaphoresis
 Sesak nafas
 Sakit kepala saat bangun
 Hiperkapnia
 Hipoksemia
 Iritabilitas
 Gelisah
 Takikardia
3. Pola nafas tidak efektif NOC : Airway Management
Respiratory status :Ventilation
Definisi : Pertukaran udara Respiratory status : Airway  Buka jalan nafas, gunakan
inspirasi dan/atau ekspirasi patency teknik chin lift atau jaw
tidak adekuat. Vital sign Status thrust bila perlu
 Posisikan pasien untuk
Batasan karakteristik : memaksimalkan ventilasi
Kriteria Hasil :
 Identifikasi pasien
 Penurunan tekanan inspirasi  Mendemonstrasikan batuk perlunya pemasangan alat
/ ekspirasi efektif dan suara nafas yang jalan nafas buatan
 Penurunan pertukaran udara bersih, tidak ada sianosis  Lakukan fisioterapi dada
per menit dan dyspneu (mampu jika perlu
 Menggunakan otot per- mengeluarkan sputum,  Keluarkan sekret dengan
nafasan tambahan mampu bernafas dengan batuk atau suction
 Dyspnea mudah, tidak ada pursed lips)  Auskultasi suara nafas,
 Orthopnea  Menunjukkan jalan nafas catat adanya suara
 Perubahan penyimpangan yang paten tambahan
dada  Tanda-tanda vital dalam  Atur intake untuk cairan
 Nafas pendek rentang normal (tekanan mengoptimalkan
darah, nadi, pernafasan) keseimbangan.
Faktor yang berhubungan :  Monitor respirasi dan
status O2
 Hiperventilasi
 Deformitas tulang Oxygen Therapy
 Kelainan bentuk dinding
dada  Pertahankan jalan nafas
 Penurunan energi/kelelahan yang paten
 Perusakan/pelemahan  Atur peralatan oksigenasi
muskulo-skeletal  Monitor aliran oksigen
 Obesitas  Pertahankan posisi pasien
 Kelelahan otot pernafasan  Observasi adanya tanda
 Hipoventilasi sindrom tanda hipoventilasi
 Nyeri  Monitor adanya
 Kecemasan kecemasan pasien
 Kerusakan persepsi/kognitif terhadap oksigenasi
 Perlukaan pada jaringan
syaraf tulang belakang Vital sign Monitoring
 Imaturitas Neurologis
 Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
 Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor pola pernapasan
abnormal
 Monitor sianosis perifer
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

4. Ketidakefektifan perfusi Circulation status Peripheral sensation


jaringan perifer management (manajemen
Kriteria hasil : sensasi perifer)
Definisi: penurunan sirkulasi Mendemontrasikan status
darah perifer yang dapat sirkulasi yang ditandai  Monitor adanya daerah
mengganggu kesehatan. dengan: tertentu yang hanya peka
terhadap panas / dingin /
Batasan karakteristik: tajam/ tumpul
 Tidak ada nadi
 Perubahan fungsi motorik  Tekanan sistol dan diastole  Instruksikan keluarga untuk
 Perubahan karakteristik kulit dalam rentang yang mengobservasi kulit jika ada
 Perubanan TD di ekstremitas diharapkan lesi atau laserasi
 CRT>3 detik  Tidak ada ortostatik hipertensi  Batasi gerakan pada kepala,
 Penurunan nadi  Tidak ada tanda-tanda leher, dan punggung
 Edema peningkatan tekanan  Monitor kemampuan BAB
 Nyeri ekstremitas intracranial (tidak lebih 15  Monitor adanya
 Perestesia mmHg) tromboplebitis
 Warna kulit pucat saat elevasi Diskusikan mengenai
Faktor yang berhubungan: Mendemontrasikan penyebab perubahan
 Kurang pengetahuan tentang kemampuan kognitif yang sensasi
faktor pemberat ditandai dengan:  Monitor tanda - tanda vital
 Kurang pengetahuan tentang  Berkomunikasi dengan jelas
proses penyakit dan sesuai dengan
 DM kemampuan
 Hipertensi  Menunjukan perhatian
 Merokok konsentrasi dan orientasi
 Memproses informasi
 Membuat keputusan dengan
benar
5. Penurunan curah jantung  Circulation status Cardiac care
 Vital sign status  Evaluasi adanya nyeri
Definsi: tidak adekuatnya dada
Kriteria hasil:
pompa darah oleh jantung  Catat adanya tanda dan
 Tanda vital dalam rentang gejala penurunan cardiac
untuk memenuhi kebutuhan
normal output
nutrisi tubuh.
 Dapat mentoleransi  Monitor status
aktivitas, tidak ada kardiovaskuler
kelelahan  Monitor status pernafasan
Batasan karakteristik:
 Tidak ada edema yang menandakan gagal
- Aritmia
paru,perifer, dan asites jantung
- Bradikardi
- Perubahan EKG  Tidak ada peurunan  Monitor balance cairan
- Takikardi kesadaran  Monitor toleransi aktivitas
- Palpitasi pasien
 Anjurkan untuk
Perubahan preload mengurangi stress
- Penurunan tekanan vena  Monitor tanda-tanda vital
sentral (CVP)
 Catat adanya fluktuasi
- Penurunan tekanan arteri
tekanan darah
paru (PAWP)
 Monitor kualitas nadi
- Edema
 Monitor jumlah dan irama
- Peningkatan CVP dan
jantung
PAWP
 Monitor bunyi jantung
- Kelelahan
 Monitor frekuensi dan
- Vena jugularis distensi
irmama pernafasan
Perubahan afterload  Monitor pola pernafasan
abnormal
- Kulit lembab
 Monitor suhu, warna dan
- Penurunan resistensi
kelembapan kulit
vaskuler paru (PVR)
 Identifikasi penyebab
- Penurunan denyut nadi
perubahan vital sign
perifer
- Penurunan resistensi
vaskuler sistemik (SVR)
- Dipneu
- Meningkat PVR dan SVR
- Oliguri
- Perubahan warna kulit
- Variasi tekanan darah

Perubahan kontraksi
- Batuk
- Ortopnea
- Bunyi jantung S3,S4
- Cemas
- Kurang istirahat

Faktor yang berhubungan


- Perubahan afterload dan
preload
- Perubahan denyut jantung
- Perubahan ritme dan
volume sekuncup
6. Ketidakseimbangan nutrisi  Nutritional status: food and fluid Nutrition management
kurang dari kebutuhan intake  Kaji adanya alergi makanan
 Nutritional status: nutrient  Kolaborasi dengan ahli gizi
Definisi: asupan nutrisi tidak intake untuk menentukan jumlah
cukup untuk memenuhi  Weight control kalori dan nutrisi yang
kebutuhan metabolic dibutuhkan pasien
Kriteria hasil:  Anjurkan pasien untuk
Batasan karakterisktik:  Adanya peningkatan berat menigkatkan intake Fe
 Kram abdomen badan sesuai dengan tujuan  Berikan makanan terpilih
 Nyeri abdomen  BB ideal sesuai dengan TB yang telah dikonsultasikan
 Menghindari makanan  Mampu mengidentifikasi dengan ahli gizi
 Berat badan 20% atau lebih kebutuhan nutrisi  Monitor jumlah nutrisi dan
dibawah berat badan ideal  Tidak ada tanda malnutrisi kandungan kalori
 Kerapuhan kapiler  Menunjukan peningkatan
 Diare fungsi pengecapan dan Nutrition monitoring
 Bising usus hiperaktif menelan  Monitor adanya penurunan
 Kurang makanan BB
 Tidak terjadi penurunan berat
 Penurunan berat badan badan yang berarti  Monitor tipe dan jumlah
dengan asupan makanan aktivitas yang bisa dilakukan
adekuat  Monitor turgor kulit
 Membrane mukosa pucat  Monitor mual muntah
 Ketidakmampuan memakan  Monitor kadar albumin,
makanan protein total, Hb, dan kadar
 Tonus otot menurun Ht
 Monitor pertumbuhan dan
Faktor yang berhubungan: perkembangan
 Faktor biologis  Monitor pucat, kemerahan,
 Faktor ekonomi dan kekeringan jaringan
konjungtiva
 Ketidak mampuan untuk
mencerna makanan  Monitor kalori dan intake
nutrisi
 Ketiakmampuan menelan
makanan
 Faktor psikologis
7. Kerusakan integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Pressure Management
Mucous Membranes
Definisi: perubahan pada  Anjurkan pasien untuk
epidermis dan / atau dermis. Kriteria Hasil : menggunakan pakaian
 Integritas kulit yang baik bisa yang longgar
Batasan Karakteristik dipertahankan  Jaga kebersihan kulit agar
tetap bersih dan kering.
 Kerusakan pada lapisan  Tidak ada luka/lesi pada kulit
 Mobilisasi pasien (ubah
kulit  Perfusi jaringan baik posisi pasien) setiap dua
 Gangguan pada  Menunjukkan pemahaman jam sekali.
permukaan kulit dalam proses perbaikan kulit  Monitor kulit akan adanya
 Invasi / gangguan pada dan mencegah terjadinya kemerahan.
struktur tubuh cedera berulang  Oleskan lotion atau
minyak/baby oil pada derah
 Mampu melindungi kulit dan
Faktor yang Berhubungan yang tertekan
mempertahankan
Eksternal  Monitor aktivitas dan
kelembaban kulit dan mobilisasi pasien.
 Zat kimia
perawatan alami  Monitor status nutrisi
 Usia yang sudah tua
pasien
 Kelembapan
 Hipertermia
 Hipotermia
 Obat – obatan
 Immobilisasi fisik
 Radasi

Internal
 Perubahan pada status
cairan
 Perubahan pada
pigmentasi
 Perubahan pada turgor
 Faktor perkembangan
 Ketidakseimbangan status
nutrisi (seperti obesitas,
kurus kerempeng)
 Penurunan imunitas
 Kerusakan sirkulasi dan
status metabolisme
 Kerusakan sensasi

8. Intoleransi Aktivitas  Self Care : ADLs Terapi aktivitas


 Toleransi aktivitas  Promosi kineja tubuh
 Perawatan jantung:
Definisi : ketidakcukupan  Konservasi energi
rehabilitatif
energi secara fisiologis
 Manajemen energi
maupun psikologis untuk Kriteria Hasil :  Pengelolaan lingkungan
meneruskan atau  Berpartisipasi dalam
menyelesaikan aktivitas yang aktivitas fisik tanpa disertai Promosi Latihan: latihan
diminta atau aktivitas sehari- peningkatan tekanan kekuatan
hari.  Manajemen suasana hati
darah, nadi dan RR
 Bantuan perawatan diri
Batasan Karakteristik :  Mampu melakukan  Bantuan perawatan diri:
 Respon abnormal tekanan aktivitas sehari hari (ADLs) IADL
darah dan denyut jantung secara mandiri  Bantuan perawatan diri:
Transfer
terhadap aktifitas  Keseimbangan aktivitas  Peningkatan kualitas tidur
 Perubahan EKG yang dan istirahat
menunjukan aritmia dan
iskemia
 Adanya dispnea saat
beraktivitas
 Melaporkan secara verbal
adanya kelelahan dan
kelemahan

Faktor Resiko
 Tirah baring
 Kelemahan secara
menyeluruh
 Ketidakseimbangan antara
suplai oksigen dengan
kebutuhan
 Imobilisasi
9. Defisit pengetahuan Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process
Kowledge : health Behavior  Berikan penilaian tentang
Definisi : tingkat pengetahuan
Tidak adanya atau kurangnya Kriteria Hasil : pasien tentang proses
informasi kognitif sehubungan  Pasien dan keluarga penyakit yang spesifik
dengan topic spesifik. menyatakan pemahaman  Jelaskan patofisiologi dari
tentang penyakit, kondisi, penyakit dan bagaimana
Batasan karakteristik : prognosis dan program hal ini berhubungan
memverbalisasikan adanya pengobatan dengan anatomi dan
masalah, ketidakakuratan  Pasien dan keluarga fisiologi, dengan cara
mengikuti instruksi, perilaku mampu melaksanakan yang tepat.
tidak sesuai. prosedur yang dijelaskan  Gambarkan tanda dan
secara benar gejala serta proses
Faktor yang berhubungan :  Pasien dan keluarga penyakit, dengan cara
keterbatasan kognitif, mampu menjelaskan yang tepat
interpretasi terhadap informasi kembali apa yang dijelaskan  Sediakan informasi pada
yang salah, kurangnya perawat/tim kesehatan pasien tentang kondisi,
keinginan untuk mencari lainnya dengan cara yang tepat
informasi, tidak mengetahui  Hindari harapan yang
sumber-sumber informasi. kosong
 Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang

9. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien.Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit
dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan
perawatan yang muncul pada pasien.

10. Evaluasi Keperawatan


Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana
evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan
melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari
evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan
tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang.
DAFTAR PUSTAKA

Aprilianti, F. L., Listyarini, A. D., Charista, A., Safira, A. D., Muniroh, F. A., & Muntiari, L. (2024).
Terapi Spiritual Terhadap Kualitas Hidup Pasien Chronic Kidney Disease (Ckd). Jurnal
Kesehatan Dan Kedokteran, 3(1), 18–27. https://doi.org/10.56127/jukeke.v3i1.581

Beno, J., Silen, A. ., & Yanti, M. (2022). Terapi komplamenter pada pasien CKD dengan Sleep
Disorder. Braz Dent J., 33(1), 1–12.

Biomedika, ; A, Rachmawati, A., & Marfianti, E. (2020). Karakteristik Faktor Risiko Pasien
Chronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani Hemodialisa Di RS X Madiun. Biomedika,
12(1), 36–43. https://doi.org/10.23917/biomedika.v12i1.9597

HIDAYAT, R. (2017). Pengaruh Senam Terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes
Mellitus Tipe 2 Di Rsud Puri Husada Tembilahan Tahun 2016. Jurnal Ners, 1(1).
https://doi.org/10.31004/jn.v1i1.89

Kartika, M., Subakir, S., & Mirsiyanto, E. (2021). Faktor-Faktor Risiko Yang Berhubungan
Dengan Hipertensi. Jurnal Kesmas Jambi, 5(1), 1–9.

Maryani. (2003). Maryani, H. 2003. Tanaman Obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia
Lanjut. Agromedia Pustaka. Jakarta. 1(2), 98–104.

Naryati, N., & Nugrahandari, M. E. (2021). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Kepatuhan Diet Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Melalui Terapi Hemodialisis. Jurnal
Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing), 7(2), 256–265.
https://doi.org/10.33023/jikep.v7i2.799

Rika Widianita, D. (2023). Faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan CKD. AT-
TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, VIII(I), 1–19.

Ruckle, A. F., Maulana, A., & Ghinowara, T. (2020). Faktor Resiko Infeksi Saluran Kemih Pada
Pasien Dengan Batu Saluran Kemih. Biomedika, 12(2), 124–130.
https://doi.org/10.23917/biomedika.v12i2.10812

Safitri, L. N., & Sani, F. N. (2022). Diploma 3 Nursing Study Program STIKes Kusuma Husada
Surakarta 2019 NURSING CARE ON MRS. H WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) IN FULFILLMENT OF FLUID NEED. c.

Saputri, R., & Rahayu, D. A. (2019). Terapi Autogenik Terhadap Kondisi Psikologi Pasien Ckd
Yang Autogenic Therapy To Psychological Aspects of Ckd Patients Undergoing
Hemodialysis. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 2(3), 139–148.

WISUDAYANTI, E. A. (2024). Application of ankle pumping exercise in ckd patients with


edema.

Yustiana, innez. (2020). Penerapan Terapi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien
Saat Pemasangan Avshunt Diruang Instalasi Bedah Sentral. 15, 1–23.

Anda mungkin juga menyukai