Pembahasan 1
1. Tindak pidana korupsi kategori korupsi suap menyuap dalam Undang-Undang Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) diatur dalam
Pasal 5 ayat (1) huruf a, yang berbunyi sebagai berikut:
"Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain, menyuap atau menerima suap, baik langsung
maupun tidak langsung, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan atau pekerjaannya, yang bertentangan
dengan kewajiban dan tugasnya, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah)."
Dalam konteks korupsi suap menyuap, tindak pidana korupsi ini dapat diartikan sebagai berikut:
Korupsi Suap Menyuap: Tindakan menyuap atau menerima suap dalam bentuk uang, barang, atau jasa, dengan tujuan untuk
mempengaruhi keputusan atau tindakan seseorang dalam jabatan atau pekerjaannya.
Kategori Korupsi: Tindak pidana korupsi suap menyuap termasuk dalam kategori korupsi yang paling sering terjadi dan memiliki
dampak yang signifikan terhadap perekonomian dan kepercayaan masyarakat.
Unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi Suap Menyuap:
1. Unsur kesengajaan: Pelaku harus memiliki niat untuk melakukan tindak pidana korupsi suap menyuap.
2. Unsur perbuatan: Pelaku harus melakukan perbuatan menyuap atau menerima suap.
3. Unsur tujuan: Tujuan pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain.
4. Unsur jabatan atau pekerjaan: Tindak pidana korupsi suap menyuap harus dilakukan dalam jabatan atau pekerjaan.
Pengaturan lebih lanjut tentang tindak pidana korupsi suap menyuap dapat ditemukan dalam:
1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Sanksi Pidana: Pelaku tindak pidana korupsi suap menyuap dapat dikenakan sanksi pidana sebagai berikut:
1. Pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.
2. Denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dengan demikian, tindak pidana korupsi suap menyuap dalam Undang-Undang Tipikor merupakan suatu tindakan yang dilarang
dan dapat dikenakan sanksi pidana yang berat.
2. Unsur-unsur tindak pidana korupsi suap menyuap dalam Undang-Undang Tipikor adalah sebagai berikut:
1. Unsur Kesengajaan: Pelaku harus memiliki niat untuk melakukan tindak pidana korupsi suap menyuap. Unsur kesengajaan ini
harus dibuktikan dengan adanya bukti-bukti yang cukup.
2. Unsur Perbuatan: Pelaku harus melakukan perbuatan menyuap atau menerima suap. Perbuatan ini dapat berupa: •
Menyerahkan uang atau barang kepada pejabat atau pegawai negeri • Menerima uang atau barang dari pejabat atau pegawai
negeri • Menjanjikan atau menawarkan uang atau barang kepada pejabat atau pegawai negeri
3. Unsur Tujuan: Tujuan pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Tujuan ini dapat berupa:
•Mendapatkan keuntungan finansial •Mendapatkan keuntungan politik •Mendapatkan keuntungan lainnya
4. Unsur Jabatan atau Pekerjaan: Tindak pidana korupsi suap menyuap harus dilakukan dalam jabatan atau pekerjaan. Jabatan
atau pekerjaan ini dapat berupa: •Pejabat atau pegawai negeri •Pejabat atau pegawai swasta •Pejabat atau pegawai lembaga
negara
5. Unsur Suap: Suap adalah uang, barang, atau jasa yang diberikan atau diterima dengan tujuan untuk mempengaruhi
keputusan atau tindakan seseorang dalam jabatan atau pekerjaannya. Suap dapat berupa: •Uang tunai •Barang-barang
berharga •Jasa-jasa tertentu
6. Unsur Penerimaan atau Penyerahan: Penerimaan atau penyerahan suap harus dilakukan dengan tujuan untuk
mempengaruhi keputusan atau tindakan seseorang dalam jabatan atau pekerjaannya. Dengan demikian, unsur-unsur tindak
pidana korupsi suap menyuap dalam Undang-Undang Tipikor harus dipenuhi agar dapat dikategorikan sebagai tindak pidana
korupsi.
3. Tindak suap menyuap dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) memiliki beberapa
perbedaan dengan tindak suap menyuap dalam pasal lainnya. Berikut adalah beberapa perbedaan tersebut:
Perbedaan Tindak Suap Menyuap dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dengan Pasal Lainnya
1. Objek Suap: Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang objeknya adalah
uang, barang, atau jasa. Sementara itu, Pasal 12 Undang-Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang objeknya
adalah promosi atau peningkatan jabatan.
2. Tujuan Suap: Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang tujuannya adalah
untuk mempengaruhi keputusan atau tindakan seseorang dalam jabatan atau pekerjaannya. Sementara itu, Pasal 11 Undang-
Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan atau
kepentingan.
3. Subjek Suap: Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang subjeknya adalah
pejabat atau pegawai negeri. Sementara itu, Pasal 13 Undang-Undang Tipikor mengatur tentang tindak suap menyuap yang
subjeknya adalah orang lain yang memiliki jabatan atau kekuasaan.
4. Sanksi Pidana: Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor mengatur tentang sanksi pidana yang lebih berat untuk tindak
suap menyuap, yaitu pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, serta denda paling
sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Sementara itu,
Pasal 12 Undang-Undang Tipikor mengatur tentang sanksi pidana yang lebih ringan untuk tindak suap menyuap, yaitu pidana
penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun, serta denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Dengan demikian, tindak suap menyuap dalam Pasal
5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Tipikor memiliki beberapa perbedaan dengan tindak suap menyuap dalam pasal lainnya,
terutama dalam hal objek suap, tujuan suap, subjek suap, dan sanksi pidana.
4. Berikut adalah contoh-contoh pengaturan tindak pidana suap menyuap dalam Undang-Undang Tipikor:
Contoh Pengaturan Tindak Pidana Suap Menyuap dalam Undang-Undang Tipikor
1. Pasal 5 ayat (1) huruf a: Suap Menyuap untuk Mempengaruhi Keputusan atau Tindakan
Contoh: Seorang pejabat negeri menerima suap dari seorang pengusaha untuk memberikan kontrak proyek kepada pengusaha
tersebut.
2. Pasal 12: Suap Menyuap untuk Promosi atau Peningkatan Jabatan
Contoh: Seorang pegawai negeri memberikan suap kepada atasannya untuk mendapatkan promosi jabatan.
3. Pasal 11: Suap Menyuap untuk Memperoleh Keuntungan atau Kepentingan
Contoh: Seorang pengusaha memberikan suap kepada seorang pejabat negeri untuk mendapatkan izin usaha yang tidak sah.
4. Pasal 13: Suap Menyuap oleh Orang Lain yang Memiliki Jabatan atau Kekuasaan
Contoh: Seorang komisaris perusahaan memberikan suap kepada seorang pejabat negeri untuk mendapatkan kontrak proyek.
5. Pasal 15: Suap Menyuap yang Dilakukan oleh Badan Hukum
Contoh: Sebuah perusahaan memberikan suap kepada seorang pejabat negeri untuk mendapatkan kontrak proyek.
6. Pasal 16: Suap Menyuap yang Dilakukan oleh Orang yang Memiliki Kekuasaan atau Pengaruh
Contoh: Seorang anggota DPR memberikan suap kepada seorang pejabat negeri untuk mendapatkan proyek yang
menguntungkan. Dengan demikian, contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pengaturan tindak pidana suap menyuap dalam
Undang-Undang Tipikor sangat luas dan mencakup berbagai jenis tindakan yang dapat dianggap sebagai suap menyuap.
Pembahasan 2
1. Suap merupakan suatu bentuk tindakan pidana, bahkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang mengubah
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU Tipikor“) praktek penyuapan
termasuk perbuatan tindak pidana korupsi. Untuk mencegahnya, pemerintah Indonesia sudah membuat sejumlah kebijakan
anti penyuapan.
Berikut adalah beberapa ketentuan terkait suap menyuap dalam UU Nomor 20 Tahun 2001:
• Pasal 12B ayat (1) mengatur bahwa setiap gratifikasi yang diberikan kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dianggap sebagai pemberian suap jika berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya;
• Jika nilai gratifikasinya Rp 10 juta atau lebih, maka penerima gratifikasi harus membuktikan bahwa gratifikasi tersebut bukan
suap;
• Jika nilai gratifikasinya kurang dari Rp 10 juta, maka penuntut umum yang harus membuktikan bahwa gratifikasi tersebut
merupakan suap;
• Pasal 606 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang berbunyi “Pegawai negeri atau penyelenggara
negara yang menerima hadiah atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
tahun dan pidana denda paling banyak kategori IV.”
Jenis dan Definisi Penyuapan
Penyuapan dapat didefinisikan sebagai tindakan memberikan atau menerima suap dengan tujuan mempengaruhi tindakan atau
keputusan seseorang yang memiliki kewenangan atau pengaruh, contohnya adalah pejabat. Tindakan penyuapan secara hukum
bertentangan dengan prinsip keadilan, integritas, dan etika dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis, politik, dan
sektor publik.
Penyuapan secara umum dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu:
• Penyuapan Aktif: Penyuapan aktif terjadi ketika seseorang memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada pejabat publik yang
berwenang agar mempengaruhi tindakan atau keputusan yang akan diambil. Contoh daripada tindakan ini adalah ketika
seorang pengusaha memberikan uang terhadap pejabat berwenang agar memenangkan tender proyek;
• Penyuapan Pasif: Penyuapan pasif terjadi ketika pejabat publik yang berwenang menerima hadiah, uang, atau imbalan untuk
mempengaruhi tindakan atau keputusannya. Orang yang memberikan suap terhadap pejabat publik yang berwenang memiliki
tujuan agar pejabat terkait melakukan atau tidak melakukan sesuatu sebagaimana kompetensi dan kapasitas jabatannya.
Contoh daripada tindakan ini adalah ketika seorang pejabat publik menerima uang dari pengusaha agar mempercepat proses
penerbitan izin usaha milik pengusaha;
• Suap-suap: Suap-suap terjadi ketika pemberian atau penerimaan suap dilakukan secara rutin agar mendapatkan keuntungan
tertentu secara terus-menerus. Contohnya, pengusaha membayar rutin kepada petugas pajak agar terhindar dari pemeriksaan
atau sanksi.
2. Tindakan Suap dalam berbagai bentuk, banyak dilakukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bentuk suap tersebut
antara lain dapat berupa pemberian barang, uang sogok dan lain sebagainya. Adapaun tujuan suap adalah untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan dari orang atau pegawai atau pejabat yang disuap. Pengertian suap disebut juga
dengan sogok atau memberi uang pelican. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), suap diartikan sebagai pemberian
dalam bentuk uang atau uang sogok kepada pegawai negeri. Suap dalam arti lebih luas tidak hanya dalam bentuk uang saja,
tetapi dapat berupa pemberian barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan,
perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri atau pejabat negara
yang pemberian tersebut dianggap ada hubungan dengan jabatanya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya sebagai
pegawai negeri atau pejabat negara. Pengertian Tindak Pidana Suap berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1980
Tentang Tindak Pidana Suap (UU Tindak Pidana Suap), yaitu tindakan memberikan uang dan barang atau bentuk lain dari
pemberi suap kepada penerima suap yang dilakukan untuk mengubah sikap penerima atas kepentingan/minat si pemberi,
walaupun sikap tersebut berlawanan dengan penerima. Dalam kasus penyuapan, biasanya melibatkan tiga unsur, yaitu
pemberi suap, penerima suap dan barang atau nilai yang diserah terimakan. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan
dalam suatu kasus suap juga melibatkan pihak ketiga sebagai broker atau perantara antara pemberi dan penerima suap.
a) Penyuap: Penyuap adalah orang yang memberi suap. yaitu, orang yang menyerahkan harta atau uang atau jasa untuk
mencapai tujuan. Sebuah tindakan dikategorikan penyuapan jika seseorang memberikan sesuatu atau janji kepada pihak
dengan maksud untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan jabatannya. Penyuap dapat diartikan juga sebagai pemberi
suap, dalam ketentuan pasal 5 undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 31 tahun
1999 tentang tindak pidana korupsi (“UU Tipikor”), yang berbunyi:“Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (tahun) dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00(lima puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 250.000.000,00(dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang :
• Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai
negeri atau penyelengara negara tersebut berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajiban ; atau
• Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang
bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya”.
Terdapat dua jenis penyuap yakni penyuap aktif dan penyuap pasif.
∆ Penyuap Aktif adalah salah satu plhak yang menjanjikan atau memberikan sesuatu, berupa barang atau uang. Pemberian
suatu janji atau hadiah, berarti subjek dalam hukumnya mampu mengetahui motif apa yang akan dilakukan atau diinginkan,
yang didasari oleh suatu kepentingan pribadi agar pejabat negara yang diberi hadiah mampu melakukan sesuatu yang
bertentangan dengan kewenangannya.
∆ Penyuap Pasif adalah penyuapan yang dilakukan untuk pihak yang menerima suap baik barang atau uang. Apabilah perbuatan
ini dilakukan di dalam korporasi negara, makarumusan delik dapat dikenakan terhadap anggota komisaris, direksi ataupun
pejabat yang berada dalam lingkungan korporasi negara contohnya yaitu dalam lingkungan Badan Usaha Milik Negara yang
diatur dalam UU Tipikor.
b) Penerima Suap: Penerima suap disebut juga yaitu orang yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut
diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.
Sebenarnya perbuatan tersebut melanggar atau bertentangan dengan kewajibannya yang diberikan dikarenakan kewenangan
atau kekuasaan yang memiliki hubungan dengan kekuasaan atau jabatannya
c) Barang Atau Jasa Digunakan Dalam Melakukan Suap: Dalam hal ini adalah jasa atau uang atau bahkan harta yang diberikan
untuk dapat memperoleh sesuatu yang diinginkan. Salah satu contohnya yaitu memberikan diskon terhadap jasa tertentu
kepada seorang pejabat yang memiliki wewenang dalam kaitan kepentingan pemberi diskon tersebut.
3. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, tindak pidana suap diatur dalam beberapa pasal, terutama
dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang kemudian diubah
dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. Pasal-pasal tersebut membedakan tindak suap dalam berbagai konteks dan pelaku
yang terlibat.
1. Pasal 1 UU No. 31 Tahun 1999 (sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001) mengatur tentang definisi suap. Di sini,
tindak pidana suap dijelaskan sebagai pemberian atau janji sesuatu yang bersifat tidak sah oleh seseorang kepada pejabat
publik untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Ini mencakup penerimaan dan
pemberian suap yang melibatkan pejabat negara atau pihak yang memiliki kewenangan.
2. Pasal 2 mengatur tentang penyalahgunaan wewenang oleh pejabat yang menerima suap, dan memberikan sanksi bagi
pejabat yang melakukan korupsi dengan cara menerima suap atau janji terkait dengan pekerjaan yang mereka lakukan.
3. Pasal 3 mengatur tentang pemberian suap kepada pihak tertentu (misalnya, pejabat atau orang yang bertugas di institusi
negara) yang mengarah pada niat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau untuk kepentingan kelompok tertentu. Hal ini
mengatur tindak pidana korupsi yang tidak hanya menguntungkan pihak pemberi suap tetapi juga merugikan kepentingan
publik. Secara umum, yang membedakan antara pasal-pasal ini adalah konteks siapa yang terlibat dalam suap, jenis suap, dan
sanksi yang dikenakan pada masing-masing pelaku. Pasal 1 lebih berfokus pada definisi dasar tindak pidana suap, sementara
pasal lainnya lebih fokus pada bentuk tindak pidana suap dalam hubungan antara pejabat dan pihak swasta atau pihak tertentu,
serta akibat hukum yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut.
4. Contoh setiap pengaturan tindak pidana suap menyuap dalam uu
Dalam Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi, terdapat beberapa pasal yang mengatur tindak pidana suap. Berikut adalah contoh pengaturan tindak
pidana suap berdasarkan pasal-pasal yang ada:
1. Pasal 1 (Definisi Tindak Pidana Suap): Pasal ini memberikan definisi tindak pidana suap. Suap terjadi ketika seseorang
memberikan sesuatu yang tidak sah kepada seorang pejabat negara atau orang yang bertugas di instansi negara untuk tujuan
agar pejabat tersebut melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Contoh: Seorang
pengusaha memberikan sejumlah uang kepada pejabat pemerintah yang bertanggung jawab dalam proses pengadaan barang
dan jasa, dengan tujuan agar pejabat tersebut memenangkan perusahaannya dalam tender meskipun harga yang diajukan lebih
tinggi dari pesaing.
2. Pasal 2 (Penyalahgunaan Wewenang oleh Pejabat): Pasal ini mengatur tentang pejabat negara yang menerima suap dalam
rangka melakukan penyalahgunaan wewenang atau tidak sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Contoh: Seorang kepala
daerah menerima uang suap dari seorang kontraktor dengan tujuan agar kontraktor tersebut mendapatkan proyek pemerintah,
meskipun proyek tersebut seharusnya diberikan kepada pihak lain yang lebih memenuhi syarat.
3. Pasal 3 (Korupsi dalam Bentuk Pemberian Suap): Pasal ini mengatur tindak pidana korupsi yang melibatkan pemberian suap.
Hal ini bisa dilakukan oleh individu atau perusahaan kepada pejabat publik atau orang yang bekerja di lembaga negara dengan
tujuan untuk mempengaruhi keputusan yang menguntungkan pemberi suap. Contoh: Seorang pengusaha memberikan uang
kepada seorang pejabat pajak dengan tujuan agar pengusaha tersebut tidak dikenakan pajak yang sesuai, atau agar pengusaha
mendapatkan fasilitas pajak khusus yang tidak berlaku bagi pengusaha lainnya.
4. Pasal 5 (Memberi atau Menawarkan Suap): Pasal ini mengatur mengenai tindak pidana memberi atau menawarkan suap
kepada pejabat negara atau pihak yang berwenang. Contoh: Seorang calon kepala desa menawarkan sejumlah uang kepada
panitia pemilihan untuk menjamin kemenangannya dalam pemilihan kepala desa, dengan harapan agar panitia memberikan
suara untuknya meskipun secara tidak sah.
5. Pasal 12 (Pemberi dan Penerima Suap): Pasal ini mengatur tentang pemberian hukuman kepada pihak yang memberi dan
menerima suap. Baik pemberi maupun penerima suap dapat dikenakan sanksi pidana. Contoh: Seorang pejabat yang menerima
suap untuk memudahkan proses perizinan suatu proyek, serta pengusaha yang memberi suap tersebut untuk mendapatkan izin
yang dipercepat, keduanya dapat dikenakan hukuman sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.
6. Pasal 13 (Penyelenggara Negara yang Menerima Suap): Pasal ini mengatur tindak pidana suap bagi penyelenggara negara
yang menerima suap dalam bentuk uang atau janji lainnya. Contoh: Seorang pejabat negara menerima suap dari seorang
pengusaha yang ingin mendapatkan proyek pemerintah. Pejabat tersebut memanfaatkan posisinya untuk memastikan
pengusaha tersebut mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut. Secara keseluruhan, pasal-pasal ini berfungsi untuk
mencegah dan menindak tegas tindak pidana suap yang melibatkan pejabat negara dan pihak swasta. Baik pemberi maupun
penerima suap dapat dikenakan sanksi pidana yang berat, sesuai dengan hukum yang berlaku.