0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan35 halaman

Panduan Persalinan Normal dan Fase-Fasenya

Dokumen ini membahas tentang persalinan normal, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, faktor yang mempengaruhi persalinan, fase-fase persalinan, dan mekanisme persalinan. Persalinan normal terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa komplikasi, dengan proses pengeluaran bayi, plasenta, dan selaput ketuban. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses ini, seperti kekuatan kontraksi, jalan lahir, posisi janin, dan kesiapan penolong.

Diunggah oleh

firach
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan35 halaman

Panduan Persalinan Normal dan Fase-Fasenya

Dokumen ini membahas tentang persalinan normal, termasuk definisi, etiologi, manifestasi klinis, faktor yang mempengaruhi persalinan, fase-fase persalinan, dan mekanisme persalinan. Persalinan normal terjadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa komplikasi, dengan proses pengeluaran bayi, plasenta, dan selaput ketuban. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi proses ini, seperti kekuatan kontraksi, jalan lahir, posisi janin, dan kesiapan penolong.

Diunggah oleh

firach
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

STASE MATERNITAS
PERSALINAN NORMAL

DISUSUN OLEH :
NAMA : MAGFIRA M
NIM : 2414901130

INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN WIYATA HUSADA


SAMARINDA PROGRAM PROFESI NERS
2024/2025
PERSALINAN NORMAL

A. Konsep Teori
1. Definisi
Menurut Mitayani (2013) Intranatal merupakan suatu proses terjadinya
pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Menurut
WHO (2015) persalinan atau kelahiran dapat dikatakan normal apabila
usia kehamilan cukup bulan (37 - 40 minggu), persalinan terjadi secara
spontan, presentasi belakang kepala, berlangsung tidak lebih dari 18 jam,
tidak ada komplikasi pada ibu maupun janin.

Persalinan atau partus adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput
ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan di anggap normal apabila
prosesnya tejadi pada usia kehamilan cukup bulan tanpa disertai adanya
penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu dikatakan belum
inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks
(Damayanti, dkk, 2015).

Berdasarkan definisi menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa


persalinan normal merupakan suatu proses pengeluaran bayi, plasenta dan
selaput ketuban dari uterus ibu tanpa adanya komplikasi atau penyulit bagi
ibu dan bayi yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 40 minggu).

2. Etiologi
Sebab terjadinya persalinan sampai kini masih merupakan teori – teori
yang kompleks, faktor – faktor humoral, pengaruh prostaglandin, struktur
uterus, sirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi di sebut sebagai faktor-
faktor yang mengakibatkan persalinan mulai. Menurut Manuaba (2012)
mulai dan berlangsungnya persalinan, antara lain:
a. Teori penurunan hormone
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron yang terjadi kira–kira
1–2 minggu sebelum partus dimulai. Progesterone bekerja sebagai
penenang bagi otot–otot uterus dan akan menyebabkan kekejangan
pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.
b. Teori plasenta menjadi tua
Villi korialis mengalami perubahan–perubahan, sehingga kadar estrogen
dan progesterone menurun yang menyebabkan kekejangan pembuluh
darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c. Teori berkurangnya nutrisi pada janin
Jika nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera di
keluarkan.
d. Teori distensi Rahim
Keadaan uterus yang terus menerus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini mungkin merupakan
faktor yang dapat menggangu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta
menjadi degenerasi.
e. Teori iritasi mekanik
Tekanan pada ganglio servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak
di belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus akan
timbul.
f. Induksi partus (induction of labour)
Partus dapat di timbulkan dengan jalan:
1) Gagang laminaria: beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis
servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser.
2) Amniotomi: pemecahan ketuban.
3) Oksitosin drips: pemberian oksitosin menurut tetesan infus..

3. Manifestasi Klinis
a. Tanda persalinan sudah dekat
1) Terjadi lightening : Menjelang minggu ke 36 pada primigravida terjadi
penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas
panggul yang disebabkan :
a) Kontraksi Braxton hicks
b) Ketegangan dinding perut dan ketegangan ligamentum rotandum
c) Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah
2) Masuknya kepala bayi kepintu atas panggul dirasakan ibu hamil :
a) Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang
b) Dibagian bawah terasa sesak
c) Terjadi kesulitan saat berjalan
d) Sering miksi (sering BAK)
3) Terjadinya His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks dikemukan
sebagi keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu terjadi karena
perubahan keseimbangan estrogen,progesterone, dan memberikan
kesempatan rangsangan oksitosin. Dengan makin tua hamil,
pengeluaran estrogen dan progesterone makin berkurang sehingga
oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering sebagai his
palsu.
4) Sifat his permulaan (palsu)
a) Rasa nyeri ringan di bagian bawah
b) Datangnya tidak teratur
c) Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
d) Durasinya pendek
e) Tidak bertambah bila beraktifitas

b. Tanda Persalinan
1) Terjadinya His persalinan , His persalinan mempunyai sifat :
a) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan
b) Sifatnya teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya makin
besar
c) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
d) Makin beraktifitas (jalan) kekuatan makin bertambah
2) Pengeluaran Lendir dan darah (pembawa tanda), Dengan his persalinan
terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan :
a) Pendataran dan pembukaan
b) Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis
servikalis lepas
c) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
3) Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan
pengeluaran cairan. Sebagian ketuban baru pecah menjelang
pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan
berlangsung dalam waktu 24 jam.
4. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Menurut Mochtar (2003) faktor yang mempengaruhi persalinan diantaranya:
a. Power atau tenaga
Power utama pada persalinan adalah tenaga atau kekuatan yang dihasilkan
oleh kontraksi dan retraksi otot-otot Rahim. Geralan memendek dan
meneval otot-otot Rahim yang terjadi sementara waktu disebut kontraksi.
Kontraksi ini terjadi diluar sadar sedangkan retraksi mengejan adalah
tenaga kedua (otot-otot perut diafragma) digunakan dalam kala II
persalinan. Tenaga dipakai untuk mendorong bayi keluar dan merupakan
kekuatan eksplusi yang dihasilkan oleh otot-otot volunteer ibu.
b. Passage atau jalan lahir
Janin lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari rongga panggul,
dasar panggul, serviks dan vagina. Syarat agar janin dan plasenta dapat
melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus
normal.
c. Passanger
1) Janin: bagian yang paling besar dank eras adalah kepala janin. Posisi
dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan
2) Sikap (habitus): meunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan
sumbu janin, biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya
dalam sikap fleksi, dimana kepala, tulang punggung dan kaki dalam
keadaan fleksi serta lengan bersilang didada.
3) Letak janin: bagian sumbu panjang janin berada berhadapan sumbu
ibu, misalnya letak lintang dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu
panjang ibu
4) Presentasi: menentukan bagian janin yang ada di bagian bawah Rahim
yang dapar dijumpai pada [al[asi atau pemeriksaan dalam. Contoh:
presentasi kepala, bokong atau bahu
5) Posisi: indicator untuk menentukan arah bagian terbawah janin apakah
sebelah kanan, kiri, depan atauoun belakang.
6) Plasenta: harus melalui jalur lahir, yang menyertai janin namun
plasenta jarang menghambat pada persalinan normal
d. Psikologis
Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat itulah benar-
benar terjadi realistis kewanitaan sejati yaitu munculnya rasa bangga bisa
melahirkan anak. Mereka seolah-olah mendapatkan kepastian bahwa
kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu keadaan yang belum pasti
sekarang menjadi hal yang nyata.
e. Penolong
Mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu
dan janin. Proses tergantung dari kemampuan skill dan kesiapan penolong
dalam menghadapi proses persalinan.

5. Fase Persalinan
Menurut Bandiyah (2009) proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu:
a. Kala I
Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga
mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi
menjadi 2 fase yaitu :
1) Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap. Pembukaan serviks kurang dari 4
cm dan biasanya berlangsung dibawah 8 jam.
2) Fase aktif
Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi
dianggap adekuat/ memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu
10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Serviks membuka
dari 3 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih perjam dan
terjadi penurunan bagian terbawah janin. Dapat dibedakan menjadi tiga
fase :
a) Akselerasi : pembukaan dari 3 cm menjadi 4 cm yang
membutuhkan waktu 2 jam
b) Dilatasi maksimal : pembukaan dari 4 cm menjadi 9 cm dalam
waktu 2 jam
c) Deselarasi : pembukaan menjadi lambat, dari 9 menjadi 10 cm
dalam waktu 2 jam

Fase – fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun


terjadi demikian, akan tetapi pada fase laten, fase aktif deselerasi akan
terjadi lebih pendek. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara
pada primigravida dan multigravida. Pada premi osteum uteri internum
akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan
menipis baru kemudian osteum uteri eksternum membuka. Pada
multigravida osteum uteri internum sudah sedikit terbuka. Osteum uteri
internu dan eksternum serta penipisan dan pendataran terjadi dalam saat
yang sama.

b. Kala II
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10
cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua dikenal juga sebagai kala
pengeluaran. Ada beberapa tanda dan gejala kala dua persalinan :
1) Ibu merasakan keinginan meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi
2) Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau
vaginanya.
3) Perineum terlihat menonjol
4) Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka
5) Peningkatan pengeluaran lender dan darah
Diagnosis kala dua persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil
pemeriksaan dalam yang menunjukkan :
1) Pembukaan serviks telah lengkap
2) Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina\
c. Kala III
Kala tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta.
1) Fisiologi kala tiga
Otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus
secara tiba – tiba setelah lahinya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus
ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta.
Karena tempat implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran
plasenta tidak berubah maka plasenta akan menekuk, menebal
kemudian dilepaskan dari dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan
turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.
2) Tanda – tanda lepasnya plasenta
a) Perubahan ukuran dan bentuk uterus
b) Tali pusat memanjang
c) Semburan darah tiba – tiba
Kala III terdiri dari 2 fase :
1) Fase pelepasan uri
Cara lepasnya uri ada beberapa cara :
a) Schultze: lepasnya seperti kita menutup payung, cara ini paling
sering terjadi. Yang lepas duluan adalah bagian tengah lalu terjadi
retroplasental hematoma yang menolak uri mula-mula pada bagian
tengah kemudian seluruhnya. Menurut cara ini perdarahan ini
biasanya tidak ada sebelum uri lahir.
b) Duncan: lepasnya uri mulai dari pinggir, jadi pinggir uri lahir
duluan. Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Atau
serempak dari tengah dan pinggir plasenta.
2) Fase pengeluaran uri
a) Kustner: dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada/di atas
simfisis. Tali pusat diteganggangkan maka bila tali pusat masuk
artinya belum lepas, bila diam atau maju artinya sudah lepas.
b) Klein: sewaktu ada his, rahim kita dorong, bila tali pusat kembali
artinya belum lepas. Diam atau turun artinya lepas.
c) Strassman: tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali
pusat bergetar artinya belum lepas. Tak bergetar artinya sudah lepas.
3) Jika plasenta tidak keluar selama 30 menit setelah kelahiran bayi maka
dilakukan eksplorasi.
d. Kala IV
Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir
selama 2 jam. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena
perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi
yang dilakukan, antara lain :
1) Tingkat kesadaran ibu
2) Pemeriksaan TTV : tekanan darah, nadi, pernafasan
3) Kontraksi uterus
4) Terjadinya perdarahan : Perdarahan dianggap masih normal bila
jumlahnya tidak melebihi 400 – 500 cc
6. Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinan adalah gerakan posisi yang dilakukan janin untuk
menyesuaikan diri terhadap pelvis ibu. Terdapat delapan gerakan posisi dasar
yang terjdai ketika janin berada dalam presentasi vertex sefalik. Gerakan
tersebut, sebagai berikut:
1. Engagement
Terjadi ketika diameter biparietal kepala janin telah melalui pintu atas
panggul.
2. Penurunan Kepala
Penurunan kepala lengkap terjadi selama persalinan oleh karena itu
keduanya diperlukan untuk terjadi bersamaan dengan mekanisme lainya.
3. Fleksi Rotasi Internal
Hal yang sangat penting untuk penurunan lebih lanjut. Melalui penurunan
ini diameter Sub oksipitobregmantika yang lebih kecil digantikan dengan
diameter kepala janin tidak dalam keadaan fleksi sempurna, atau tidak
berada dalam sikap militer atau tidak dalam keadaan beberapa derajat
ekstensi.
4. Rotasi Internal
Menyebabkan diameter anteroposterior kepala janin menjadi sejajar
dengan diameter anteroposterior pelvis ibu. Paling biasa terjadi adalah
oksipot berotasi ke bagian anterior pelvis ibu, dibawah simfisis pubis.
5. Pelahiran Kepala
Pelahiran kepala berlangsung melalui ekstensi kepala untuk mengeluarkan
oksiputanterior. Dengan demikian kepala dilahirkan dengan ekstensi
seperti, oksiput, sutura sagitalis, fontanel anterior, alis, orbit, hidung,
mulut, dan dagu secara berurutan muncul dari perineum.
6. Restitusi
Rotasi kepala 450 baik kearah kanan maupun kiri, berantung pada arah
dari tempat kepala berotasi ke posisi oksiput-anterior.
7. Rotasi Eksternal
Terjadi pada saat bahu berotasi 450, menyebabkan diameter bisakromial
sejajar dengan diameter anteroposterior pada pnitu bawah panggul. Hal ini
menyebabkan kepala melakukan rotasi eksteral lain sebesar 450 ke posisi
LOT atau ROT, bergantung arah restuisi.
8. Pelahiran Bahu dan Tubuh dengan Fleksi Laterral melalui Sumbu Arcus.
Sumbu carcus adalah ujung keluar paling bawah pada pelvis. Bahu
anterior kemudian terlihat pada orifisum vulvovaginal, yang menyentuh di
bawah simfisis pubis, bahu posterior kemudian menggembugkan perineum
dan lahir dengan posisi ateral. Setelah bahu lahir, bagian badan yang
tersisa mengikuti sumbu Carus dan segera lahir (Varney, 2010).
7. Langkah-langkah Menolong Persalinan
58 langkah menolong persalinan menurut WHO (2013) diantaranya :
1. Langkah 1
Mendengarkan, melihat, dan memeriksa gejala serta tanda kala dua
sebagai berikut:
 Ibu merasakan dorongan kuat dan meneran;
 Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada rektum dan
vagina
 Perineum tampak menonjol
 Vulva dan sfingter ani membuka.
2. Langkah 2
Memastikan kelengkapan peralatan, bahan, dan obat-obatan esensial untuk
menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru
lahir. Untuk asfiksia, yaitu: tempat tidur datar dan keras, 2 kain dan 1
handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari
tubuh bayi.
 Menggelar kain di atas perut ibu, tempat resusitasi, dan mengganjal
bahu bayi
 Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di
dalam partus set.
3. Langkah 3
Mengenakan atau memakai celemek plastik.
4. Langkah 4
Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai, mencuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, kemudian mengeringkan
tangan dengan tisue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
5. Langkah 5
Memakai sarung tangan DTT untuk melakukan pemeriksaan dalam.
6. Langkah 6
Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (menggunakan tangan
yang memakai sarung tangan DTT dan steril, memastikan tidak
terkontaminasi pada alat suntik).
7. Langkah 7
Membersihkan vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari depan
ke belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang dibasahi air
DTT.
 Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,
membersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang
 Membuang kapas atau pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang
tersedia
 Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (mendekontaminasi,
melepaskan, dan merendam dalam larutan klorin 0,5%).
8. Langkah 8
 Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan lengkap
 Melakukan amniotomi bila selaput ketuban dalam belum pecah dan
pembukaan sudah lengkap.
9. Langkah 9
Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% kemudian
melepaskan dan merendam dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan setelah sarung tangan
dilepaskan.
10. Langkah 10
Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi/saat relaksasi
uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160
x/menit).
 Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
 Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan semua
hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
11. Langkah 11
 Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin baik, serta membantu ibu dalam menemukan posisi yang
nyaman dan sesuai dengan keinginannya
 Menunggu hingga timbul rasa ingin meneran, melanjutkan pemantauan
kondisi ibu dan janin, memantau kenyamanan ibu (mengikuti pedoman
penatalaksanaan fase aktif), dan mendokumentasikan sesuai temuan
yang ada
 Menjelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka
untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran
secara benar.
12. Langkah 12
Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran (jika ada rasa
ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, membantu ibu ke posisi
setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan memastikan ibu
merasa nyaman).
13. Langkah 13
Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasakan ada dorongan
kuat untuk meneran dengan cara sebagai berikut:
 Membimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif
 Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan memperbaiki
cara meneran apabila caranya tidak sesuai
 Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)
 Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi
 Menganjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu
 Memberikan cukup asupan cairan per-oral (minum)
 Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai
 Segera merujuk jika bayi belum atau tidak segera lahir setelah 120
menit atau 2 jam meneran pada primigravida, dan 60 menit atau 1 jam
meneran pada multigravida.
14. Langkah 14
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit.
15. Langkah 15
Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu jika
kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
16. Langkah 16
Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
17. Langkah 17
Membuka tutup partus set dan memerhatikan kembali kelengkapan alat
dan bahan.
18. Langkah 18
Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Langkah 19
Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka
melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih
dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi
defleksi dan membantu lahirnya kepala. Menganjurkan ibu untuk meneran
perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal.
20. Langkah 20
 Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan mengambil
tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi dan segera melanjutkan proses
kelahiran bayi.
 Jika tali pusat melilit leher secara longgar, melepaskan lewat bagian
atas kepala bayi
 Jika tali pusat melilit leher secara kuat, mengeklem tali pusat di dua
tempat dan memotong diantara klem tersebut.
21. Langkah 21
Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22. Langkah 22
Memegang secara biparietal setelah kepala melakukan putaran paksi luar.
Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Secara lembut
menggerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul
di bawah arkus pubis dan kemudian menggerakkan arah atas dan distal
untuk melahirkan bahu belakang.
23. Langkah 23
Menggeser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala,
lengan, dan siku sebelah bawah setelah kedua bahu lahir. Menggunakan
tangan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah
atas.
24. Langkah 24
Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong dan kaki. Memegang kedua mata kaki (memasukkan
telunjuk diantara kaki dan memegang masing-masing mata kaki dengan
ibu jari dan jari-jari lainnya).
25. Langkah 25
 Melakukan penilaian (selintas) sebagai berikut:
 Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernapas tanpa kesulitan?
 Apakah bayi bergerak dengan aktif?, Jika bayi tidak bernapas atau
megap-megap, segera melakukan tindakan resusitasi (Langkah 25 ini
berlanjut ke langkah-langkah prosedur resusitasi bayi baru lahir dengan
asfiksia).
26. Langkah 26
 Mengeringkan dan memosisikan tubuh bayi di atas perut ibu.
 Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya
(tanpa membersihkan verniks), kecuali bagian tangan
 Mengganti handuk basah dengan handuk kering
 Memastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu.
27. Langkah 27
Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi lain dalam
uterus (hamil tunggal).
28. Langkah 28
Memberitahu ibu bahwa penolong akan menyuntikkan oksitosin (agar
uterus berkontraksi baik).
29. Langkah 29
Menyuntikkan oksitosin 10 unit (intramuskular) di 1/3 paha atas bagian
distal lateral (melakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin) dalam
waktu satu menit setelah bayi lahir.
30. Langkah 30
Menjepit tali pusat dengan menggunakan klem (dua menit setelah bayi
lahir pada sekitar 3 cm dari pusar (umbilikus) bayi. Pada sisi luar klem
penjepit, mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan melakukan
penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Langkah 31
Memotong dan mengikat tali pusat dengan cara sebagai berikut:
 Mengangkat tali pusat yang telah dijepit dengan satu tangan kemudian
melakukan pengguntingan tali pusat (melindungi perut bayi) di antara
dua klem tersebut
 Mengikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi kemudian
melingkarkan kembali benang ke sisi berlawanan dan melakukan
ikatan kedua menggunakan benang dengan simpul kunci
 Melepaskan klem dan memasukkan dalam wadah yang telah tersedia.
32. Langkah 32
Melakukan persiapan inisiasi menyusui dini dengan cara sebagai berikut:
 Menempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi;
 Meletakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu
 Meluruskan bahu bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding
dada-perut ibu
 Mengusahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari puting payudara ibu.
33. Langkah 33
Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala
bayi.
34. Langkah 34
Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
35. Langkah 35
Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu yaitu pada tepi atas
simfisis untuk mendeteksi dan tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Langkah 36
Menegangkan tali pusat ke arah bawah setelah uterus berkontraksi, sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang-atas (dorso kranial)
secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Menghentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya
jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik kemudian mengulangi
prosedur di atas. Meminta ibu, suami atau anggota keluarga untuk
melakukan stimulasi puting susu jika uterus tidak segera berkontraksi.
37. Langkah 37
 Melakukan penegangan dan dorongan dorso kranial hingga plasenta
terlepas. Meminta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai kemudian ke arah atas mengikuti poros jalan
lahir (tetap lakukan tekanan dorso kranial).
 Jika tali pusat bertambah panjang memindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5-10 cm dari vulva dan melahirkan plasenta
 Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat
maka:
 Memberi dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
 Melakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh
 Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan;
 Mengulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
 Segera merujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi
lahir
 Melakukan plasenta manual jika terjadi perdarahan.
38. Langkah 38
Melahirkan plasenta dengan kedua tangan saat plasenta muncul di introitus
vagina. Memegang dan memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
kemudian melahirkan dan menempatkan plasenta pada wadah yang telah
disediakan. Jika selaput ketuban robek memakai sarung tangan DTT atau
steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian menggunakan
jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian
selaput yang tertinggal.
39. Langkah 39
Melakukan masase uterus segera setelah plasenta dan selaput ketuban
lahir. Meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan
gerakan melingkar secara lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
teraba keras). Melakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak
berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/ masase.
40. Langkah 40
Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan
memastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Memasukkan plasenta ke
dalam kantung plastik atau tempat khusus.
41. Langkah 41
Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Langkah 42
Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
43. Langkah 43
 Memberi cukup waktu untuk terjadi kontak kulit ibu dan bayi (di dada
ibu paling sedikit satu jam).
 Sebagian besar bayi berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam
waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-
15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu payudara;
 Membiarkan bayi berada di dada ibu selama satu jam walaupun bayi
sudah berhasil menyusu.
44. Langkah 44
Melakukan penimbangan/ pengukuran bayi, memberi tetes mata antibiotik
profilaksis, dan vitamin K1 1mg intramuskular di paha kiri anterolateral
setelah satu jam kontak kulit ibu dan bayi.
45. Langkah 45
 Memberikan suntikan imunisasi Hepatitis B (setelah satu jam
pemberian Vitamin K1) di paha kanan anterolateral
 Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa
disusukan
 Meletakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil
menyusu di dalam satu jam pertama dan membiarkan sampai bayi
berhasil menyusu.
46. Langkah 46
Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam
sebagai berikut:
 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan
 Setiap 15 menit pada satu jam pertama pascapersalinan
 Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan
 Melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri jika
uterus tidak berkontraksi dengan baik.
47. Langkah 47
Mengajarkan ibu dan keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi.
48. Langkah 48
Mengevaluasi dan mengestimasi jumlah kehilangan darah.
49. Langkah 49
 Memantau TTV ibu sebgai berikut:
 Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama
dua jam pertama persalinan
 Memeriksa temperatur ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama
pasca persalinan
 Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
50. Langkah 50
Memeriksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernapas
dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5–37,5ºCº).
51. Langkah 51
Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi selama 10 menit. Mencuci dan membilas peralatan
setelah didekontaminasi.
52. Langkah 52
Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
53. Langkah 53
Membersihkan badan ibu menggunakan air DTT kemudian membersihkan
sisa cairan ketuban, lendir, dan darah serta membantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.

54. Langkah 54
Memastikan ibu merasa nyaman, membantu ibu memberikan ASI, serta
menganjurkan keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang
diinginkannya.
55. Langkah 55
Mendekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
56. Langkah 56
Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalik
bagian dalam keluar, dan merendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit.
57. Langkah 57
Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian
mengeringkan dengan tisu atau handuk yang kering dan bersih.
58. Langkah 58
Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang), memeriksa tanda
vital, dan asuhan kala IV.

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb, HbSAg dan urinalisis serta
proteinurine)
b. Pemeriksaan ultrasonografi
c. Pemantauan janin dengan cardiotocography (CTG)
d. Amniosentesis dan kariotiping.
8. Komplikasi Persalinan
a. Ketuban Pecah Dini, yaitu ruptur korion dan amnion 1 jam atau lebih
sebelum persalinan. Usia gestasi janin dan perkiraan viabilitas janin
mempengaruhi penatalaksanaannya. Penyebab yang tepat dan faktor –
faktor predisposisi yang spesifik tidak diketahui.
b. Persalinan Preterm, yaitu persalinan yang dimulai setelah kehamilan 20
minggu dan sebelum kehamilan 37 minggu. Penyebab preterm meliputi
ketuban pecah dini, preeklampsia, plasenta previa, solusio plasenta, dan
lain-lain.
c. Vasa Previa, adalah gangguan perkembangan yang jarang. Keadaan ini
bisa disebabkan pertumbuhan plasenta yang tidak merata atau implantasi
blastosit yang abnormal.
d. Prolaps Tali Pusat, yaitu penurunan tali pusat ke dalam vagina mendahului
bagian terendah janin dan panggul ibu. Masalah ini sering terjadi pada
prematuritas, presentasi bahu atau bokong-kaki.
e. Kehamilan Postmatur, yaitu kehamilan lewat waktu yang melebihi 42
minggu usia gestasi, dimana insidennya kira – kira 10%. Penyebabnya
diperkirakan adalah defisiensi estrogen.
f. Persalinan Disfungsional, yaitu persalinan yang sulit, sakit, dan lama
karena faktor – faktor mekanik.
g. Distosia Bahu, dimana bahu anterior bayi tidak dapat lewat di bawah arkus
pubis ibu. Hal ini berhubungan dengan usia ibu yang sudah lanjut, obesitas
karena diabetes maternal, bayi besar, kehamilan lewat waktu, dan
multiparitas.
h. Ruptur Uterus, yaitu robekan pada uterus, dapat komplit atau inkomplit.
Hal ini bisa disebabkan karena cedera akibat instrumen obstetri, seperti
instrumen untuk memeriksa uterus atau kuretase yang digunakan dalam
abortus. Ruptur juga bisa akibat intervensi obstetri seperti tekanan fundus
yang berlebihan, kelahiran dengan forsep, upaya mengejan yang keras,
persalinan dengan gangguan, dan distosia bahu janin.
i. Plasenta Akreta, yaitu kondisi tidak lazim karena vili korionik melekat
pada miometrium. Hal ini disebabkan pembedahan uterus sebelumnya dan
plasenta previa.
j. Inversi Uterus, yaitu uterus membalik keluar seluruhnya atau sebagian, ini
terjadi segera setelah kelahiran plasenta atau dalam periode pascapartum
segera. Hal ini disebabkan oleh tarikan tali pusat yang berlebihan atau
pengeluaran plasenta secara manual yang kuat atau bekuan dari uterus
atonik.
k. Perdarahan Pascapartum Dini, yaitu kehilangan darah 500 ml atau lebih
selama 24 jam pertama setelah melahirkan. Perdarahan pascapartum
merupakan penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia dan penyebab
umum kehilangan darah yang berlebihan selama periode pascapartum dini.
Penyebab utama adalah atoni uterus; laserasi serviks, vagina atau
perineum; dan bagian plasenta yang tertinggal.
l. Masalah kesehatan ibu yang ada sebelumnya ( mis: anemia, hipertensi
yang diinduksi oleh kehamilan, dan diabetes ) mengontribusi banyak
terhadap komplikasi persalinan
9. Pathway Persalinan Normal

Kehamilan 36-40 mg

Penurunan kadar
progesteron & estrogen
Krisis Kontraksi
Ansietas situasional pada uterus
Tekanan hidrostatis air ketuban & Ketuban
tekanan intrauterin naik pecah dini

Serviks mendatar Risiko infeksi


& terbuka maternal

Pembuluh darah Kontraksi kuat Iskemia korpus uteri


pada kapiler & cepat
kanalis Saraf nyeri aferen serviks &
Pertukaran O2
servikalis pecah Kepala janin masuk
pada sirkulasi uterus masuk ke medula
rongga panggul
Bloody utero-plasenter spinalis melalui akar
show kurang posterior T10-L1
Pembukaan lengkap
Hipoksia janin
Penekanan pd Tekanan meningkat Nyeri akut
vena inferior pada otot dasar
Risiko cedera panggul
janin
Penurunan
Reflek mengedan
aliran balik
ke jantung Merangsang saraf
nyeri pudendus Kontraksi Pelebaran vulva &
melalui S2-S4 perineum menonjol
Curah Memasuki
jantung & kala 3
tekanan darah Nyeri akut Episiotomi
Tekanan pada fundus uterus pada primipara
menurun
meningkat akibat his
Energi Perubahan curah Plasenta lepas Bayi lahir Kerusakan
berkurang jantung dari dindingnya integritas
kulit
Kontraksi uterus setelah
Kelelahan plasenta lahir tidak
Perubahan
adekuat
proses
Risiko keluarga
perdarahan

Risiko kekurangan
volume cairan
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. KALA I (fase laten)
a. Pengkajian
 Integritas ego
Klien tampak tenang atau cemas
 Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi regular, terjadi peningkatan frekuensi durasi atau
keparahan
 Seksualitas
Servik dilatasi 0 - 4 cm mungkin ada lendir merah muda kecoklatan
atau terdiri dari flek lendir.

b. Diagnosa Keperawatan
 Ansietas b.d krisis situasi kebutuhan tidak terpenuhi.
 Defisiensi pengetahuan tentang kemajuan persalinan b.d kurang
mengingat informasi yang diberikan, kesalahan interpretasi
informasi.
 Risiko infeksi maternal
 Risiko kekurangan volume cairan

c. Intervensi
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Ansietas b.d krisis Setelah dilakukan asuhan 1. Orientasikan klien pada
situasional akibat keperawatan selama lingkungan, staf dan
proses persalinan ……..diharapkan ansietas prosedur
pasien berkurang dengan 2. Berikan informasi tentang
criteria hasil: perubahan psikologis dan
 TTV dbn fisiologis pada persalinan.
 Pasien dapat 3. Kaji tingkat dan penyebab
mengungkapkan ansietas.
perasaan cemasnya. 4. Pantau tekanan darah dan
 Lingkungan sekitar nadi sesuai indikasi.
pasien tenang dan 5. Anjurkan klien
kondusif mengungkapkan
perasaannya.
6. Berikan lingkungan yang
tenang dan nyaman untuk
pasien

2. Defisiensi Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji persiapan,tingkat


pengetahuan tentang keperawatan pengetahuan dan harapan
kemajuan persalinan selama….,pengetahuan klien
b.d kurang mengingat pasien tentang persalinan 2. Beri informasi dan
informasi yang meningkat dengan kriteria kemajuan persalinan
diberikan, kesalahan hasil: normal.
interpretasi informasi.  Pasien dapat 3. Demonstrasikan teknik
mendemonstrasikan pernapasan atau relaksasi
teknik pernafasan dan dengan tepat untuk setiap
posisi yang tepat untuk fase persalinan
fase persalinan
3. Risiko tinggi Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji latar belakang budaya
terhadap infeksi keperawatan klien.
maternal b.d selama….diharapkan 2. Kaji sekresi vagina,
pemeriksaan vagina infeksi maternal dapat pantau tanda-tanda vital.
berulang dan terkontrol dengan criteria 3. Tekankan pentingnya
kontaminasi fekal. hasil: mencuci tangan yang baik.
 TTV dbn 4. Gunakan teknik aseptic saat
 Tidak terdapat tanda- pemeriksaan vagina.
tanda infeksi 5. Lakukan perawatan
perineal setelah eliminasi.

2. KALA I (fase aktif)


a. Pengkajian
 Aktivitas istirahat
Klien tampak kelelahan.
 Integritas ego
Klien tampak serius dan tampak hanyut dalam persalinan ketakutan
tentang kemampuan mengendalikan pernafasan.
 Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi sedang, terjadi 2, 5-5 menit dan berakhir 30-40 detik.
 Keamanan
Irama jantung janin terdeteksi agak di bawah pusat, pada posisi
vertexs.
 Seksualitas
Dilatasi servik dan 4-8 cm (1, 5 cm/jam pada multipara dan 1,2/ jam
pada primipara).

b. Diagnosa Keperawatan
 Nyeri akut b.d tekanan mekanik dari bagian presentasi.
 Gangguan eliminasi urin b.d perubahan masukan dan kompresi
mekanik kandung kemih.
 Keletihan b.d peningkatan kebutuhan energi akibat peningkatan
metabolisme sekunder akibat nyeri selama persalinan
 Risiko cidera maternal
 Risiko kerusakan gas janin

c. Intervensi

DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji derajat
berhubungan keperawatan ketidaknyamanan secara
dengan tekanan selama…..,diharapkan verbal dan nonverbal
mekanik dari bagian nyeri terkontrol dengan 2. Pantau dilatasi servik
presentasi. criteria hasil: 3. Pantau tanda vital dan DJJ
 TTV dbn 4. Bantu penggunaan teknik
 Pasien dapat pernapasan dan relaksasi
mendemonstrasikan 5. Bantu tindakan
kontrol nyeri kenyamanan spt.
6. Gosok punggung, kaki
7. Anjurkan pasien berkemih
1-2 jam
8. Berikan informasi tentang
ketersediaan analgesic
9. Dukung keputusan klien
menggunakan obat-
obatan/tidak
10. Berikan lingkungan yang
tenang
2. Gangguan eliminasi Setelah dilakukan asuhan 1. Palpasi di atas simpisis
urin b.d perubahan keperawatan pubis
masukan dan selama….,diharapkan 2. Monitor masukan dan
kompresi mekanik eliminasi urine pasien haluaran
kandung kemih. normal dengan kriteria 3. Anjurkan upaya berkemih
hasil: sedikitnya 1-2 jam
 Cairan seimbang 4. Posisikan klien tegak dan
 Berkemih teratur cucurkan air hangat di
atas perineum
5. Ukur suhu dan nadi, kaji
adanya peningkatan
6. Kaji kekeringan kulit dan
membrane mukosa
3 Keletihan b.d Setelah diberikan asuhan 1. Kaji tanda – tanda vital
peningkatan keperawatan selama … yaitu nadi dan tekanan
kebutuhan energi diharapkan ibu tidak darah
akibat peningkatan mengalami keletihan 2. Anjurkan untuk relaksasi
metabolisme dengan kriteria hasili: dan istirahat di antara
sekunder akibat nyeri nadi:60-80x/menit(saat kontraksi
selama persalinan tidak ada his), ibu 3. Sarankan suami atau
menyatakan masih keluarga untuk
memiliki cukup tenaga mendampingi ibu
4. Sarankan keluarga untuk
menawarkan dan
memberikan minuman
atau makanan kepada
ibu

4. Risiko cidera Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau aktivitas uterus


maternal keperawatan secara manual
selama….,diharapkan 2. Lakukan tirah baring saat
cidera terkontrol dengan persalinan menjadi
kriteria hasil: intensif
 TTV dbn 3. Hindari meninggikan
 Aktivitas uterus baik klien tanpa perhatian
4. Tempatkan klien pada
 Posisi pasien nyaman posisi tegak, miring ke
kiri
5. Berikan perawatan
perineal selama 4 jam
6. Pantau suhu dan nadi
7. Kolaborasi pemberian
antibiotik (IV)
6 Risiko kerusakan gas Setelah asuhan 1. Kaji adanya kondisi yang
janin keperawatan menurunkan situasi uteri
selama….,diharapkan janin plasenta
dalam kondisi baik dengan 2. Pantau DJJ dengan segera
criteria hasil: bila pecah ketuban
o DJJ dbn 3. Instuksikan untuk tirah
o Presentasi kepala baring bila presentasi
(+) tidak masuk pelvis
o Kontraksi uterus 4. Pantau turunnya janin
teratur pada jalan lahir
5. Kaji perubahan DJJ
selama kontraksi

3. KALA II
a. Pengkajian
1. Aktivitas/ istirahat
 Melaporkan kelelahan
 Melaporkan ketidakmampuan melakukan dorongan sendiri /
teknik relaksasi
 Lingkaran hitam di bawah mata
2. Sirkulasi
Tekanan darah meningkat 5-10 mmHg
3. Integritas ego
Dapat merasakan kehilangan kontrol / sebaliknya
4. Eliminasi
Keinginan untuk defekasi, kemungkinan terjadi distensi kandung
kemih
5. Nyeri / ketidaknyamanan
 Dapat merintih / menangis selama kontraksi
 Melaporkan rasa terbakar / meregang pada perineum
 Kaki dapat gemetar selama upaya mendorong
 Kontraksi uterus kuat terjadi 1,5 – 2 menit
6. Pernafasan
Peningkatan frekwensi pernafasan
7. Seksualitas
 Servik dilatasi penuh (10 cm)
 Peningkatan perdarahan pervagina
 Membrane mungkin rupture, bila masih utuh
 Peningkatan pengeluaran cairan amnion selama kontraksi

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d tekanan mekanis pada bagian presentasi
2. Penurunan curah jantung b.d fluktasi aliran balik vena
3. Risiko kerusakan integritas kulit

c. Intervensi
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d tekanan Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi derajat
mekanis pada bagian keperawatan ketidaknyamanan
presentasi selama….,diharapkan 2. Berikan tanda/ tindakan
nyeri terkontrol dengan kenyamanan seperti
kriteria hasil: perawatan kulit, mulut,
 TTV dbn perineal dan alat-alat tenun
 Pasien dapat yang kering
mendemostrasikan 3. Bantu pasien memilih
nafas dalam dan teknik posisi yang nyaman untuk
mengedan mengedan
4. Pantau tanda vital ibu dan
DJJ
5. Kolaborasi pemasangan
kateter dan anastesi
2. Penurunan curah Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau tekanan darah dan
jantung b.d fluktuasi keperawatan nadi tiap 5 – 15 menit
aliran balik vena selama…..,diharapkan 2. Anjurkan pasien untuk
kondisi cardiovaskuler inhalasi dan ekhalasi
pasien membaik dengan selama upaya mengedan
kriteria hasil: 3. Anjurkan klien / pasangan
 TD dan nadi dbn memilih posisi persalinan
 Suplay O2 tersedia yang mengoptimalkan
sirkulasi.
3. Risiko kerusakan Setelah asuhan 1. Bantu klien dan pasangan
integritas kulit keperawatan pada posisi tepat
selama….,diharapkan 2. Bantu klien sesuai
integritas kulit terkontrol kebutuhan
dengan kriteria hasil: 3. Kolaborasi epiostomi garis
 Luka perineum tengah atau medic lateral
tertutup (epiostomi) 4. Kolaborasi terhadap
pemantauan kandung
kemih dan kateterisasi

4. KALA III
a. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
 Klien tampak senang dan keletihan
2. Sirkulasi
 Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat dan
kembali normal dengan cepat
 Hipotensi akibat analgetik dan anastesi
 Nadi melambat
3. Makan dan cairan
 Kehilangan darah normal 250 – 300 ml
4. Nyeri / ketidaknyamanan
 Dapat mengeluh tremor kaki dan menggigil
5. Seksualitas
 Darah berwarna hitam dari vagina terjadi saat plasenta lepas
 Tali pusat memanjang pada muara vagina

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d trauma jaringan setelah melahirkan
2. Risiko kekurangan volume cairan
3. Risiko cidera maternal

c. Intervensi
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1 Nyeri akut b.d trauma Setelah dilakukan asuhan 1. Bantu penggunaan teknik
jaringan setelah keperawatan pernapasan
melahirkan selama…,diharapkan nyeri 2. Berikan kompres es pada
terkontrol dengan criteria perineum setelah
hasil: melahirkan
 Pasien dapat control 3. Ganti pakaian dan liner
nyeri basah
4. Berikan selimut
penghangat
5. Kolaborasi perbaikan
episiotomy
2. Risiko kekurangan Setelah dilakukan asuhan 1. Instruksikan klien untuk
volume cairan keperawatan mendorong pada
selama….,diharapkan kontraksi
cairan seimbang denngan 2. Kaji tanda vital setelah
criteria hasil: pemberian oksitosin
 TTV dbn 3. Palpasi uterus
 Darah yang keluar ± 4. Kaji tanda dan gejala
200 – 300 cc shock
5. Massase uterus dengan
perlahan setelah
pengeluaran plasenta
6. Kolaborasi pemberian
cairan parentral

3. Risiko cedera Setelah dilakukan asuhan 1. Palpasi fundus uteri dan


maternal keperawatan massase dengan perlahan
selama….,diharapkan
cidera terkontrol dengan 2. Kaji irama pernafasan
criteria hasil: 3. Bersihkan vulva dan
 Plasenta keluar utuh perineum dengan air dan
 TTV dbn larutan antiseptic
4. Kaji perilaku klien dan
perubahan system saraf
pusat
5. Dapatkan sampel darah
tali pusat, kirim ke
laboratorium untuk
menentukan golongan
darah bayi
6. Kolaborasi pemberian
cairan parenteral

5. KALA IV
a. Pengkajian
1. Aktivitas
Dapat tampak berenergi atau kelelahan
2. Sirkulasi
Nadi biasanya lambat sampai (50-70x/menit) TD bervariasi,
mungkin lebih rendah pada respon terhadap analgesia/anastesia, atau
meningkat pada respon pemberian oksitisin atau HKK,edema,
kehilangan darah selama persalinan 400-500 ml untuk kelahiran
pervagina 600-800 ml untuk kelahiran saesaria
3. Integritas Ego
Kecewa, rasa takut mengenai kondisi bayi, bahagia
4. Eliminasi
Haemoroid, kandung kemih teraba di atas simfisis pubis
5. Makanan/cairan
Mengeluh haus, lapar atau mual
6. Neurosensori
Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya
anastesi spinal
7. Nyeri/ketidaknyamanan
Melaporkan nyeri, missal oleh karena trauma jaringan atau perbaikan
episiotomy, kandung kemih penuh, perasaan dingin atau otot tremor
8. Keamanan
Peningkatan suhu tubuh
9. Seksualitas
Fundus keras terkontraksi pada garis tengah terletak setinggi
umbilicus, perineum bebas dan kemerahan, edema, ekimosis, striae
mungkin pada abdomen, paha dan payudara.

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d efek hormone, trauma,edema jaringan, kelelahan fisik
dan psikologis, ansietas.
2. Penurunan koping keluarga b.d transisi/peningkatan anggota
keluarga
3. Resiko kekurangan volume cairan

c. Intervensi
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d efek Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji sifat dan derajat
hormone, keperawatan selama … ketidaknyamanan
trauma,edema diharapkan pasien dapat 2. Beri informasi yang tepat
jaringan, kelelahan mengontrol nyeri, nyeri tentang perawatan selama
fisik dan psikologis, berkurang dengan Kriteria periode pascapartum
ansietas hasil : 3. Lakukan tindakan
 Pasien melaporkan nyeri kenyamanan
berkurang 4. Anjurkan penggunaan
 Menunjukkan postur dan teknik relaksasi
ekspresi wajah rileks 5. Beri analgesic sesuai
 Pasien merasakan nyeri kemampuan
berkurang pada skala
nyeri (0-2)
3. Penurunan koping Setelah dilakukan asuhan 1. Anjurkan klien untuk
keluarga b.d keperawatan menggendong, menyentuh
transisi/peningkatan selama…..,diharapkan
anggota keluarga proses keluarga baik dengan bayi
kriteria hasil: 2. Observasi dan catat
o Ada kedekatan ibu interaksi bayi
dengan bayi 3. Anjurkan dan bantu
pemberian ASI,
tergantung pada pilihan
klien
2. Resiko kekurangan Setelah dilakukan asuhan 1. Tempatkan klien pada posisi
volume cairan keperawatan rekumben
selama….,diharapkan cairan 2. Kaji hal yang memperberat
simbang dengan criteria kejadian intrapartal
hasil: 3. Kaji masukan dan haluaran
 TD dbn 4. Perhatikan jenis persalinan
 Jumlah dan warna dan anastesi, kehilangan
lokhea dbn daripada persalinan
5. Kaji tekanan darah dan nadi
setiap 15 menit
6. Dengan perlahan massase
fundus bila lunak
7. Kaji jumlah, warna dan sifat
aliran lokhea
8. Kolaborasi pemberian
cairan parentral

DAFTAR PUSTAKA
Bandiyah. (2009). Kehamilan Persalinan Gangguan Kehamilan. Yogyakarta:
Nuha Medika
Bulechek, M.G dkk.(2013). Nursing Interventions Classification (NIC), 6th
Indonesian edition. Indonesia: Mocomedia
Damayanti, dkk. (2015). Panduan Lengkap Keterampilan Dasar Kebidanan II.
Yogyakarta: Deepublish.
Manuaba. (2012). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mitayani. (2013). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.
Mochtar. (2003). Sinopsis Obstruksi. Jakarta: EGC
Nanda. (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi
10 editor T Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta: EGC
Varney. (2010). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC.
WHO. 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dan Rujukan.
Jakarta : Kemenkes RI

Anda mungkin juga menyukai