Karen Solihin
Karen Solihin
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
KAREN SOLIHIN
NIM: 109011000243
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah SWT. Sang kholiq yang
menciptakan bumi beserta isinya, yang maha berkuasa dan berkendak, pemilik
nikmat dan kebahagiaan dan yang selalu menyayangi setiap umat yang dekat
denganNya. Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan umatnya sampai akhir zaman.
Selama penulisan skripsi yang berjudul Nilai- Nilai Pendidikan Dalam
Surat Al- Ankabut ayat 16-24, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak sedikit
kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun berkat kerjas keras, doa dan
kesungguhan hati serta dukungan dari berbagai pihak untuk menyelesaikan skripsi
ini, semua dapat teratasi. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Prof. Dede Rosayada., Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. H. Abdul Majid Khon, M. Ag., Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam,
dan Hj. Marhamah Saleh Lc, MA, Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama
Islam beserta segenap dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta
bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga Allah SWT
membalas semua jasa-jasa beliau dan ilmu yang telah beliau berikan
mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
4. Abdul Ghofur, MA., Pembimbing Skripsi yang penuh keikhlasan dan
kebesaran hati dalam membagi waktu, tenaga dan pikiran beliau dalam upaya
memberikan bimbingan, petunjuk, serta mengarahkan penulis dalam proses
mengerjakan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
5. Ayahanda dan ibunda tercinta, yang menjadi penyemangat utama penulis,
yang tak pernah lelah mendoakan dan memberikan dukungan secara moril
dan materil serta selalu menyanyangi penulis dari kecil hingga dewasa ini.
v
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang tidak dapat terhitung dan
kasih sayang yang tak pernah putus yang diberikan untuk penulis.
6. Kakak dan adikku tersayang yang selalu memberikan doa dan menjadi obat
pelipur laraku.
7. Istriku tercinta Neneng Wasilah S.Pdi dan putri kecilku Calista Athifa Fatawa
yang selalu mendoa’kan dan menemani dalam suka dan duka penulis.
8. Sahabat-sahabat seperjuangan jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan
2009 khususnya kelas PAI F. Terima kasih atas bantuan, dukungan dan
kenangan terindah yang kita lalui bersama di kampus tercinta.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan yang bermanfaat bagi penulis demi terselesaikannya skripsi ini.
Tiada ucapan yang dapat penulis haturkan kecuali ucapan terima kasih
yang seluas-luasnya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian dan
menjadikannya kendaraan menuju surga Allah SWT.
Penulis mengharapkan masukan berupa saran dan kritik yang konstruktif
dari pembaca demi memperbaiki karya tulis ini, semoga dapat membawa manfaat
bagi para pengkaji/pembaca dan bagi penulis sendiri. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Penulis
vi
DAFTAR ISI
vii
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Tafsir Surat Al-Ankabut Ayat 16-24 ...................................... 27
B. Nilai-nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam Al-Qur’an Surat
Al-Ankabut Ayat 16-24............................................................ 49
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 65
B. Saran ......................................................................................... 66
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Yunus Hasan Abidu, Tafsir Al-Qur`an Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir,
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Cet. Ke-1, h. Viii.
1
2
4
Ahmad Tafsir, “Pendidikan Agama Islam di Sekolah Salah Paradigma”Media Indonesia
(Jum‟at, 03 Desember 2004), h. 3.
4
5
A. Syafi‟f Ma‟rif et.al, Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta
(Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1991), h 15.
6
H.A.R Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional, Tinjauan dari Perspektif
Postmodernisme dan Studi Kultural (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005), h 119.
5
terjadi adalah orang berpendidikan juga bisa melakukan tindakan kriminal yang
lebih kejam dibanding dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan, kasus
korupsi misalnya yang telah merugikan banyak orang.
Sebuah prinsip yang harus dipegang dalam pendidikan khususnya
pendidikan Islam adalah pengembangan belajar sebagai muslim baik bagi terdidik
maupun pendidik. Setiap rangkaian belajar mengajar seharusnya ditempatkan
sebagai pengkayaan pengalaman kebertuhanan. Pendidikan bukanlah sosialisasi
atau internalisasi pengetahuan dan keberagaman pendidik, tetapi bagaimana
peserta didik mengalami sendiri keber-Tuhanan-nya. Ketaqwaan dan
keshalehannya bukanlah sikap dan perilaku yang datang secara mendadak, tetapi
melalui sebuah tahap penyadaran yang harus dilakukan sepanjang hayat. Karena
itu, pendidikan tidak lain sebagai proses penyadaran diri dan realitas universum.7
Pandangan terhadap fenomena pendidikan di atas memberikan inspirasi
pada penulis untuk lebih jauh mengungkap kembali ayat-ayat Al-Qur‟an yang
membawa pada perbaikan akhlak manusia dan pikiran-pikiran para praktisi
pendidikan yang dituangkannya dalam beberapa buku dan artikel yang banyak
menyorot berbagai persoalan moralitas atau akhlakul karimah yang dilandaskan
pada kerangka kemanusiaan atau pemuliaan manusia yang didasarkan kepada
potensi yang dimilikinya, serta bagaimana cara menyikapi sebuah bentuk
pluralitas sebagai sebuah keniscayaan yang ada dalam masyarakat, diakui ataupun
tidak. Karenanya, penulis ingin meneliti lebih jauh tentang konsep pendidikan
akhlak yang mengembalikan kesadaran akan dirinya sebagai “khalifatu filardh.”
Jika kembali kepada pembahasan mendasar tentang sumber Pendidikan
Agama Islam maka sumbernya adalah mengacu kepada sumber Islam itu sendiri,
yaitu Al-Qur‟an8 dan Al-Hadits. Oleh karena Islam sebagai sistem kehidupan
kaum muslimin dan Al-Qur‟an merupakan pedoman hidup sehari-hari maka Al-
Qur‟an tidak pernah berhenti dari pengkajian akan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya, selalu ada upaya untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya
7
Abdul Munir Mulkhan, Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren; Religiusitas
IPTEK (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h.111-112.
8
M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur‟an Kitab Sastra Terbesar (Yogyakarta: eLSAQ, 2005),
h. 1.
6
dari berbagai sudut pandang. Dan ternyata Al-Qur‟an memang bisa didekati dari
berbagai sudut pandang yang berbeda, termasuk dari sisi kependidikan dan
kemanusiaan.
Berangkat dari sinilah, jika hendak berpikir ulang tentang pendidikan
Islam maka harus kembali mengacu kepada landasan yang telah diberikan Al-
Qur‟an. Dalam hal ini pembaharuan dalam pendidikan Islam harus dilakukan
sesuai dengan problematikanya, maka penulis memfokuskan kepada sisi akhlak
dan pendidikan Islam, atau dengan kata lain penulis berusaha menemukan konsep
akhlak pendidikan yang termuat dalam Al-Qur‟an.
Terbangunnya kembali konsep pendidikan yang berakhlakul karimah di
tengah sistem pendidikan nasional yang belum dapat sepenuhnya menunjukan
pendidikan yang berbasis pada akhlak serta pendidikan yang bercirikan pada
sosial planning dan setelah itu teraplikasi dalam praktek kehidupan yang bahagia
di dunia dan di akhirat, sehingga besar harapan langkah ini bisa memperbaiki
mutu pendidikan yang ada. Dengan adanya latar belakang di atas, penulis
mengambil judul pembahasan ini dengan: “Nilai-Nilai Pendidikan Yang
Terkandung Dalam Surat Al-Ankabut Ayat 16-24.”
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari uraian dan permasalahan tersebut di atas, penelitian ini
difokuskan dalam tiga topik permasalahan, yang dapat diasumsikan sebagai
problem akademik dan kemudian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Banyaknya kejadian atau tindakan penyimpangan terhadap masyarakat
berpendidikan karena minimnya pemahaman mereka tentang akhlak.
2. Pendidikan sekarang ini lebih memfokuskan pada kecerdasan kognitif
semata, kurang menyentuh masalah moralitas.
C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan skripsi ini terfokus, maka penulis membatasi kajian
skripsi ini pada pembahasan tentang Nilai-nilai pendidikan yang terkandung
dalam surat Al-Ankabut 16-24.
7
D. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan dalam perumusan masalah penulisan skripsi ini,
penulis bertitik tolak dari identifikasi masalah di atas. Maka penulis dapat
merumuskan masalah yaitu: “Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung
dalam surat Al-Ankabut ayat 16-24.”
E. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini, yang menjadi tujuan penulis pada wacana pendidikan
yang terkandung dalam surat Al-Ankabut adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui konsep nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada surat
Al-Ankabut ayat 16-24.
F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat baik
secara teoritis maupun praktis kepada berbagai pihak. Misalnya:
1. Bagi guru
Mengembangkan khazanah pengetahuan keislaman di lingkungan
institusi pendidikan tinggi Islam.
2. Bagi sekolah
Memberi sumbangsih pemikiran tentang konsep dan teoritis tentang
pendidikan dalam Al-Qur‟an, serta menambah khazanah kepustakaan
dalam meneliti dan memahami Al-Qur‟an sebagai petunjuk umat.
3. Bagi mahasiswa dan pembaca
Mengetahui bagaimana pandangan Al-Qur‟an terhadap nilai
pendidikan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Nilai-Nilai Pendidikan
1. Pengertian Nilai
Nilai adalah sesuatu yang abstrak sehingga sulit untuk dirumuskan ke
dalam suatu pengertian yang memuaskan. Nilai adalah substansi, esensi atau sifat-
sifat yang melekat pada sebuah hakikat atau objek. Nilai adalah sesuatu yang
bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya
persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan
penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Dan nilai juga merupakan
sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan
dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini).9
Nilai artinya sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi
kemanusiaan.10 Maksudnya kualitas yang memang membangkitkan respon
penghargaan.11 Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan
melembaga secara obyektif di dalam masyarakat.12 Jadi nilai adalah sesuatu yang
bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.
Nilai bukan semata-mata untuk memenuhi dorongan intelek dan keinginan
manusia, nilai justru berfungsi untuk membimbing dan membina manusia agar
menjadi lebih mulia, lebih matang sesuai dengan martabat human dignity dalam
arti tujuan dan cita-cita manusia.
Dari uraian di atas maka nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang
dianggap baik, berguna atau penting, dijadikan sebagai acuan dan melambangkan
kualitas yang kemudian diberi bobot baik oleh individu maupun kelompok
9
HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1996), h. 61.
10
W.JS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1999)
, h. 677.
11
H. Titus, M.S, et al, Persoalan-persoalan Filsafat, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), h.
122.
12
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda
Karya,1993), h. 61.
8
9
2. Macam-macam Nilai
Substansi nilai merupakan suatu hal yang komplek dan beragam, nilai
berdasarkan sumbernya dapat diklasifikasikan menjadi dua macam.14yaitu:
a. Nilai Ilahiyah (nash) yaitu nilai yang lahir dalam keyakinan (belief),
berupa petunjuk dari supernatural atau Tuhan.15Nilai yang diwahyukan
melalui rasul yang berbentuk iman, takwa, adil yang diabadikan dalam
Al-Qur‟an. Nilai ini merupakan nilai yang pertama dan paling utama
bagi para penganutnya dan akhirnya nilai tersebut dapat diaplikasikan
13
Chabib Thoha, dkk Kapita Selekta Pendidikan Islam, (yogyakarta : Pustaka Pelajar,
1996), cet.1, h. 78.
14
Muhaimin dan Abdul Muji, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 111.
15
Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001),
h. 98.
10
16
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 111.
17
Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001),
h. 99.
11
2. Nilai Intrinsik ialah nilai yang dianggap baik, tidak untuk sesuatu yang
lain melainkan di dalam dan dirinya sendiri.18
Nilai instrumental dapat juga dikatagorikan sebagai nilai yang bersifat
relatif dan subjektif, dan nilai intrinsik keduanya lebih tinggi dari pada nilai
instrumental.
Sedangkan nilai dilihat dari segi sifat nilai itu dapat dibagi menjadi tiga
macam yaitu:
a) Nilai subjektif adalah nilai yang merupakan reaksi subjek dan objek. Hal
ini sangat tergantung kepada masing-masing pengalaman subjek tersebut.
b) Nilai subjektif rasional (logis) yakni nilai-nilai yang merupakan esensi dari
objek secara logis yang dapat diketahui melalui akal sehat, seperti nilai
kemerdekaan, nilai kesehatan, nilai keselamatan, badan dan jiwa, nilai
perdamaian dan sebagainya.
c) Nilai yang bersifat objektif metafisik yaitu nilai yang ternyata mampu
menyusun kenyataan objektif seperti nilai-nilai agama.19
3. Pengertian Pendidikan
Konsep pendidikan dan pembelajaran baik secara umum maupun khusus
telah dibicarakan, dibahas dan didalogkan dalam berbagai buku-buku ilmiah,
maupun kegiatan-kegiatan tertentu seperti seminar, loka karya dan sebagainya
oleh para ahli yang berskala nasional maupun internasional. Dalam pembicaraan
itu tetap saja hadir berbagai konsep dan pemikiran mendasar dari mereka tentang
18
Mohammad Nor Syam, Pendidikan Filsafat dan Dasar Filasafat Pancasila, (Surabaya:
Usaha Nasional, 1986), h. 137.
19
Ibid, h. 137.
12
20
Rasyid Majid Pur, Membenahi Akhlaq Mewarisi Kasih Sayang, (Bogor: Cahaya, 2003),
Cet. I, h. 1.
21
Ibid, h.2.
13
dalam masyarakat luas dengan baik. Termasuk bertanggung jawab kepada diri
sendiri, orang lain, dan Tuhannya.22
Dalam kerangka pendidikan, istilah ta‟dib mengandung arti ilmu,
pengajaran dan penguasaan yang baik. Tidak ditemui unsur penguasaan atau
pemilikan terhadap objek atau anak didik, di samping tidak pula menimbulkan
interpretasi mendidik makhluk selain manusia, misalnya binatang dan tumbuh-
tumbuhan. Karena menurut konsep Islam yang bisa bahkan harus didik hanyalah
makhluk manusia. Dan akhirnya, Al-Attas menekankan pentingnya pembinaan
tata krama, sopan santun, adab dan semacamnya atau secara tegas “akhlak yang
terpuji” yang terdapat hanya dalam istilah ta‟dib. Dengan tidak dipakainya konsep
ta‟dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan, telah berakibat hilangnya adab
sehingga melunturkan citra keadilan dan kesucian. Menurut Al-Attas, keadaan
semacam itu bisa membingungkan kaum muslimin, sampai-sampai tak terasa
pikiran dan cara hidup sekuler telah menggeser berbagai konsep Islam di berbagai
segi kehidupan termasuk pendidikan.
Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba “pendidikan adalah bimbingan
atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan
rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama atau insan
kamil”23.
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan dari berbagai pandangan
yang telah dikemukakan bahwa pendidikan mempunyai pengertian sebagai upaya
yang sistematis, terarah, dan terukur dalam membimbing dan mengarahkan anak
didik agar dapat memahami dan mengajarkan ajaran Islam serta menjadikannya
sebagai pedoman hidup sehari-hari dalam bertindak, bersikap dan berfikir.
Disamping itu juga pendidikan merupakan aspek penting yang harus
dilakukan oleh individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah agar segala usaha
yang dilakukan itu dapat menjadi penggerak, pengendali serta pembimbing dalam
kehidupan anak-anak didik sehingga terbentuklah manusia yang sempurna (insan
kamil).
22
Hasan Hafidz, Dasar-dasar Pendidikan dan Ilmu Jiwa, (Solo: Ramadhani, 1989), h. 12.
23
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: PT Al-Ma‟rif, 1989), h.
cet,VIII, h. 19.
14
B. Akhlak
1. Pengertian Akhlak
Pendidikan akhlak ialah penanaman, pengembangan dan pembentukan
akhlak yang mulia dalam diri anak didik. Pendidikan akhlak tidak harus
merupakan suatu program atau pelajaran khusus, akan tetapi lebih merupakan
suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan.24
Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab, jama‟ dari khuluqun yang
berarti (sifat atau keadaan) dari perilaku yang konstan (tetap) dan meresap dalam
jiwa, dari padanya tumbuh perbuatan-perbuatan dengan mudah dan wajar tanpa
memerlukan pikiran dan pertimbangan.25 Berakar dari kata khalaqa yang berarti
menciptakan. Seakar dengan kata Khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan)
dan khalaq (penciptaan).
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak
tercangkup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan)
dengan perilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata perilaku
seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlak
yang hakiki manakala tindakan atau perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak
khaliq (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlak bukan saja
merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama
manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan
dan bahkan dengan alam semesta sekalipun.
Menurut Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih akhlak adalah suatu keadaan
atau bentuk gerakan jiwa yang tetap (konstan) yang melahirkan sikap atau
perbuatan-perbuatan secara wajar tanpa didahului oleh proses berfikir atau
rekayasa. Pengertian akhlak tersebut tidak memasukkan norma-norma/nilai-nilai
yang belum meresap kedalam jiwa sehingga dapat membentuk perilaku tanpa ada
status rekayasa. Sehingga apabila seseorang bertindak karena paksaan dari luar
24
M Sastraprtedja, Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, (Jakarta: Gramedia, 1993),
h. 3.
25
Abdul Kholiq et.al, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999),
h. 87.
15
dan belum meresap kedalam jiwa seseorang, seperti karena terpaksa dalam
berbuat, maka hal ini belum bisa dikatakan akhlaknya sudah terbentuk.
Selanjutnya Abudin Nata dalam bukunya bahwa ada lima ciri yang
terdapat dalam perbuatan akhlak:
Pertama, perbuatan akhlak tersebut sudah menjadi keperibadian yang
tertanam kuat dalam jiwa seseorang. Kedua, perbuatan akhlak merupakan
perbuatan yang dilakukan dengan acceptable dan tanpa pemikiran
(unthouhgt). Ketiga, perbuatan akhlak merupakan perbuatan tanpa paksaan.
Keempat, perbuatan dilakukan dengan sebenarnya tanpa ada unsur sandiwara.
Kelima, perbuatan akhlak dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.26
2. Macam-macam Akhlak
a. Akhlak Mahmudah/Fadilah
Akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik
(yang terpuji). Secara garis besar akhlak mahmudah dibagi menjadi tiga, yaitu: 1)
Akhlak terhadap Allah, 2) Akhlak terhadap diri sendiri, 3) Akhlak terhadap
sesama.27
Adapun akhlak atau sifat-sifat mahmudah sebagaimana yang dikemukakan
para ahli akhlak, antara lain:
1) Al-Amanah (setia, jujur, dapat dipercaya)
2) Al-Sidqu (benar, jujur)
3) Al-Adl (adil)
4) Al-Afwu (pemaaf)
5) Al-Wafa‟ (menepati janji)
6) Al-Ifafah (memelihara diri)
7) Al-Haya‟ (malu)
26
Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan dalam Persepektif Hadist, (Jakarta: UIN Jakarta
press, 2005), h. 274.
27
A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Setia, 1999), h. 197.
16
8) As-Syajaah (berani)
9) Al-Quwwah (kuat)
10) As-Sabru (sabar)
11) Ar-Rahmah (kasih sayang)
12) As-Sakha‟u (murah hati)
13) At-Ta‟awun (penolong/tolong menolong)
14) Al-Islah (damai)
15) Al-Ikha‟ (persaudaraan), dan lain sebagainya yang menunjukan kepada
sifat terpuji.28
Jadi manusia menyaksikan dan menyadari bahwa Allah telah
mengaruniakan kepadanya keutamaan yang tidak dapat terbilang dan karunia
nikmat yang tidak bisa dihitung banyaknya, semua itu perlu disyukuri dengan
berupa berzikir dengan hatinya. Sebaiknya dalam kehidupannya senantiasa
berlaku hidup sopan santun menjaga jiwanya agar selalu bersih, dapat terhindar
dari perbuatan dosa, maksiat, sebab jiwa adalah yang terpenting dan pertama yang
harus dijaga dan dipelihara dari hal-hal yang dapat mengotori dan merusaknya.
Karena manusia adalah makhluk sosial maka ia perlu menciptakan suasana yang
baik, satu dengan yang lainnya saling berakhlak yang baik.
b. Akhlak Mazmumah/Qabihah
Akhlak mazmumah (akhlak tercela) adalah sebagai lawan atau kebalikan
dari akhlak yang baik sebagaimana tersebut di atas. Dalam ajaran Islam tetap
membicarakan secara terperinci dengan tujuan agar dapat dipahami dengan benar,
dan dapat diketahui cara-cara menjauhinya. Berdasarkan petunjuk ajaran Islam
dijumpai berbagai macam akhlak yang tercela, di antaranya:
1) Ananiah (egois)
2) Al-Bagyu (lacur)
3) Al-Bukhl (pelit)
4) Al-Buhtan (dusta)
5) Al-Khmar (peminum khmar)
6) Al-Khianah (khianat)
28
Ibid, h. 198
17
7) Al-Jumu (aniaya)
8) Al-Gasysyu (curang)
9) Al-Fawahisy (dosa besar)
10) Al-Ghaddab (marah)
11) Al-Ghibah (mengumpat)
12) Al-Namumah (adu domba)
13) Al-Guyur (menipu, memperdaya)
14) Al-Hasad (dengki)
15) Al-Istikbar (sombong), dan lain sebagainya yang menunjukan sifat-
sifat yang tercela.29
Sebagaimana yang diuraikan di atas maka akhlak dalam wujud
pengamalannya dibedakan menjadi dua: akhlak terpuji dan akhlak tercela. Jika
sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya yang kemudian melahirkan
perbuatan yang baik, maka itulah yang dinamakan akhlak yang terpuji, sedangkan
jika ia sesuai dengan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya dan melahirkan
perbuatan-perbuatan yang buruk, maka itulah yang dinamakan akhlak yang
tercela. Namun di sini penulis hanya menitik beratkan kepada nilai-nilai akhlak
terpuji sebagai kajian yang perlu diamati dan didalami.
29
Ibid, h. 200.
18
kepada Tuhan sebagai sang khalik. Karena pada dasarnya manusia hidup
mempunyai beberapa kewajiban makhluk kepada khalik sesuai dengan
tujuan yang ditegaskan dalam firman Allah swt.,
Surat Adz-Zariyat ayat 56:
30
Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Termahnya, op. cit., h. 862.
31
Ibid, h. 473 .
19
32
Ibid, h. 473
33
Ibid, h. 399
20
34
Ibid, h. 231.
35
A. Mudjab Mahli, Pembinaan Moral di Mata Al-Ghzali, (Yoghyakarta: BFE, 1984), h.
257.
36
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 148.
21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penelitian
Dalam upaya mengungkap permasalahan yang dibahas, penulis
menggunakan pendekatan secara kualitatif, yaitu Penelitian yang menghasilkan
data deskriptif yang mendalam berupa kata-kata tertulis.37 Untuk memperoleh
data yang representatif, dalam pembahasan skripsi ini digunakan metode
penelitian kepustakaan (library research) yaitu dengan cara menelaah,
menganalisis, meneliti dari sumber rujukan atau literatur yang dapat di
pertanggung jawabkan tentang masalah yang berkaitan dengan pembahasaan
skripsi ini. Dimana sumber pokoknya (primer) adalah:
1. Al-Qur'an.
2. Empat buku Tafsir Al-Qur'an : Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-
Qur'an, karya M. Quraish Shihab. Tafsir al-Azhar, karya H. Abdullah Malik Karim
37
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Multidisipliner, (Jakarta,
2010), Cet. Ke- 2, h. 352.
24
25
Amarullah (Hamka), Tafsir Al-Maraghi, karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi, dan Shahih
Tafsir Ibnu Katsir, karya Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.
3. Hadits-hadits Nabi SAW.
Disamping hal tersebut, juga merujuk pada buku-buku pendukung
(sekunder) baik yang ada hubungan langsung maupun tidak langsung. Sumber-
sumber pendukung ini antara lain adalah:
1. Buku-buku Tafsir yang dianggap memadai dan mewakili.
2. Buku-buku yang berisikan ilmu-ilmu tentang Al-Qur`an, atau yang
dikenal dengan „Ulum Al-Qur‟an.
3. Kamus-kamus yang memuat daftar kata-kata Al-Qur`an, yang mana isinya
merupakan petunjuk praktis untuk menemukan ayat-ayat. Dan dipakai
pula kamus-kamus lain yang relevan dengan pembahasan.
4. Sumber-sumber lain yang relevan dengan pembahasan.
Adapun metode yang digunakan dalam menafsirkan ayat yang dibahas
dalam skripsi ini, peneliti menggunakan metode tafsir Tahlili yaitu dengan
berupaya mengkaji ayat-ayat Al-Qur‟an dari segala berbagai macam aspek
pengetahuan dan maknanya atau (dalam hal ini QS. Al-Ankabut 16-24) dengan
menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus atau tema sentral surah
tersebut,
C. Fokus Penelitian
Dalam membahas skripsi ini, penulis hanya fokus menelusuri kandungan
surah Al-Ankabut: 16-24, dengan melihat penafsirannya serta menganalisa dengan
merujuk kepada penafsiran para ulama untuk kemudian dijadikan sebagai
referensi dalam penelitian dan penulisan skripsi ini. Pemilihan ayat yang
terkandung dalam surat Al-Ankabut: 16-24 ini.
27
BAB IV
HASIL PENELITIAN
38
Ahsin w, Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur‟an, (Jakarta: Hamzah, 2006), Cet.2, h. 25-26.
39
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur‟an, (Jakarta:
Lentera Hati, 2002), h. 4.
27
28
1. Tafsir Ayat
Al-Ankabut Ayat 16
40
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, h. 218.
29
Al-Ankabut Ayat 17
َ ا وَّتَخّۡلُقُونَ إِفۡ ًكاۚ إِنَ ٱَلزِيهَ ّتَعۡ ُبذُوٞإِوَمَا ّتَعۡ ُبذُونَ مِه دُونِ ٱلّلًَِ أَوۡثَٰه
ن
َا فَٲبۡتَغُواْ عِىذَ ٱلّلًَِ ٱلشِصۡقٞمِه دُونِ ٱلّلًَِ لَا َيمّۡلِكُونَ لَ ُكمۡ سِصۡق
٦١ َوَٱعۡ ُبذُويُ وَٱشۡكُشُواْ لَ ًُۥٓۖ إِلَيًِۡ ّتُشۡجَعُون
Artinya: Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala,
dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak
mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan
sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan
dikembalikan. (QS. Al-Ankabut ayat 17).
Kata autsanan adalah bentuk jamak dari kata watsan, yaitu berhala
yang berupa batu atau dari kayu dan memiliki bentuk seperti manusia atau hewan
30
yang mereka pilih atau buat untuk disembah. Kata ini lebih khusus dari pada kata
ashnam, karena yang ini adalah berhala yang disembah walau hanya batu yang
tidak berbentuk.41
Kata autsanan dalam ayat ini berbentuk nakirah sehingga mengisyratkan
bahwa kepercayaan tentang ketuhanan berhala-berhala itu adalah kepercayaan
sesat yang tidak berdasar serta berupa kebohongan dan pemutar balikan fakta
karena berhala-berhala itu tidak mampu memberikan manfaat kepada
42
penyembahnya.
Ahmad Mushtafa al-Maraghi menegaskan bahwa pada ayat ini “Allah swt
memberitahukan kepada orang kafir bahwa apa yang mereka sembah selain Allah
swt itu tidak lain hanyalah berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan
mereka sendiri, dan mereka berdusta ketika menamakannya sebagai Tuhan serta
mengakuinya dapat memberikan syafaat bagi mereka di sisi Tuhan”.43
Dalam tafsir Fi Zhilal al-Qur‟an, dijelaskan bahwa nabi Ibrahim
menjelaskan kepada mereka kerusakan kepercayaan mereka selama ini ditinjau
dari beberapa segi. Pertama, mereka menyembah berhala-berhala selain Allah
swt, dan itu adalah penyembahan yang amat bodoh. Apalagi jika mereka
menghindar untuk menyembah Allah swt. Kedua, dengan penyembahan itu
mereka tidak bersandar pada dalil. Berhala itu hanyalah buatan mereka dengan
penuh misi dusta dan kebatilan mereka menciptakannya sebagai suatu ciptaan
yang tak ada cerita sebelumnya, karena mereka membuat sesuai dengan dorongan
diri mereka tanpa ada dasar dan kaidah yang menjadi pijakan mereka. Ketiga,
berhala-berhala ini tidak memberikan manfaat bagi mereka sedikitpun.44
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa yang mereka
sembah ini hanyalah berhala. Berhala itu adalah buatan tangan mereka sendiri,
lalu mereka beriman. Padahal berhala mereka terbuat dari batu atau dari kayu.
41
M. Quraish Syihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 461.
42
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an Dan Tafsirannya, (Jakarta: Departemen Agama RI,
2007), Cet I, h. 377.
43
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: Toha Putra.
1989), h. 218.
44
Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur‟an Di Bawah Naungan Al-Qur‟an, (Jakarta: Gema
Insani Press, 2004), h. 95.
31
Mereka membuatnya sendiri lalu kemudian mereka sembah dan mereka muliakan
dan mereka beri nama dan mereka Tuhankan, perbuatan mereka sudah nyata
dusta.
Kata rizqan terambil dari asal kata razaqa yarzuqu rizqon yang
Al-Ankabut Ayat 18
32
. Artinya: dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, Maka umat yang
sebelum kamu juga telah mendustakan. dan kewajiban Rasul itu, tidak lain
hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya." (QS. Al-
Ankabut ayat 18).
Ayat 18 di atas merupakan lanjutan nasihat nabi Ibrahim as kepada
kaumnya, setelah beliau melihat tanda-tanda penolakan mereka atau nasihat
tersebut beliau sampaikan sebelum beliau telah menyampaikan nasihat lalu
mereka menolak. Bisa juga ayat di atas adalah komentar sekaligus teguran dari
Allah swt kepada kaum musyrikin untuk memberikan penegasan bahwa tugas
Rasul hanyalah menyampaikan ajaran agama Allah dan mengajak kepada
kebeneran.
Ayat di atas dapat juga merupakan penjelasan tentang pendustaan dan
akibatnya yang akan dialami oleh mitra bicara yang menolak kehadiran rasul.
Seakan-akan menyatakan kepada kaum musyirikin bahwa keadaan kamu dalam
menolak ajaran rasul, serupa dengan keadaan umat-umat yang lalu. Mereka juga
mendustakan Rasulnya, sikap itu mengundang jatuhnya siksa Allah swt, mereka
tidak mampu menolaknya dan tidak juga ada yang menolong mereka.
Di dalam tafsir Fakhr al-Razi dikatakan dalam ayat ini terdapat dua khitab.
Pertama, menceritakan tentang kaum nabi Ibrahim as. Sebagaimana ibrahim
berkata kepada kaumnya “jika kamu mendustakan, maka umat-umat sebelum
kamu telah mendustakan”. Kedua, bahwasannya khitab itu adalah khitab terhadap
kaum nabi Muhammad dan penjelasannya, bahwasannya hikayat-hikayat yang
banyak itu untuk tujuan-tujuan tertentu. Tetapi hikayat itu merupakan hikayat
yang baik, oleh karena itu banyak sekali penghikayat mengatakan untuk apa aku
kehilangan hikayat ini. Nabi Muhamammad bermaksud memberi peringatan
kepada kaumnya mengenai umat-umat terdahulu, sehingga mereka mencegah
dirinya dari berbohong dan mereka menggigil karena takut siksaan, lalu Nabi
Muhammad bersabda pada pertengahan hikayatnya “hai kaumku, jika kamu
33
mendustakan aku maka aku takut akan datang sesuatu (siksaan) yang datang
kepada umat-umat sebelum kamu”.45
Menurut Quraish Shihab ayat tersebut di atas merupakan bentuk
pendustaan kaum Nabi Ibrahim as dan akibat dari pendustaan tersebut, yang
menyatakan:
Wahai kaum musyrikin dan pendurhaka, siapapun kamu membenarkan
tuntunan Allah swt maka itu adalah untuk keuntungan kamu dalam kehidupan
dunia dan akhirat, dan jika kamu terus menerus mendustakan ajaran Allah swt
yang disampaikan oleh para rasul, maka kamu merugikan diri kamu sendiri. Dan
cukuplah kamu ketahui bahwa umat-umat yang sebelum kamu seperti umat Nabi
Nuh as, Ad dan Tsamud telah mendustakan para rasul mereka, lalu Allah swt
membinasakan yang durhaka dan menyelamatkan yang taat. Demikian mereka
merugikan diri sendiri dan tidak sedikitpun merugikan Allah swt atau para rasul-
Nya.46
Nabi Ibrahim as kembali memperingatkan kaumnya bahwa jika mereka
membenarkan apa yang telah disampaikan kepada mereka, pasti mereka akan
bahagia. Sebaliknya, mereka akan mendapat mudarat dan kesengsaraan jika tetap
mendustakan seruan Nabi seperti yang dialami orang-orang sebelum mereka yang
mendustakan para utusan Allah swt. Seperti yang telah dialami umat Nabi Nuh,
Nabi Hud, dan Nabi Saleh. Mereka semua telah disiksa oleh Allah swt akibat
kedurhakaannya. Di sisi lain, Allah swt menyelamatkan orang-orang yang
beriman beserta para rasulnya.47
Al-Maraghi menjelaskan, “Jika kalian membenarkan aku, maka
sesungguhnya kalian telah beruntung memperoleh kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Maka sesungguhnya kalian tidak akan mendatangkan kemudharatan
pendustaan kalian itu, karena umat-umat sebelum kalian pernah mendustakan para
rasulnya, seperti kaum Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh. Lalu
45
Muhammad al-Razi Fakhruddin, Tafsir Fakhru al-Razi, … h. 46.
46
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, h. 462-
463.
47
Departemen Agama, Al-Qur‟an dan Tafsirannya, (Jakarta: Departemen Agama RI,
2007), Cet. 1, h. 378.
34
berlakulah apa yang telah menjadi sunah Allah swt pada makhluknya, yaitu
keselamatan orang-orang yang membenarkan para rasulnya”.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tugas rasul hanya
menyampaikan dakwah mengesakan Allah. Bila seseorang tidak mau beriman dan
tetap mendurhakai rasul, tidak akan mendatangkan kerugian kepada rasul itu,
tetapi justru menimbulkan kecelakaan bagi orang itu sendiri.
Kata yarau terambil dari kata “ra‟a yang dapat berarti melihat atau
memandang.48
Thaba‟thaba‟I sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab memahami kata
tersebut dalam arti melihat dengan mata hati atau memikirkan bukan melihat
dengan mata kepala, sedangkan Thahir Ibn Asyur memahami kata tersebut dalam
48
Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi, Kamus Arab Melayu, h. 222.
35
kedua makna di atas, yaitu melihat dengan mata kepala dan melihat dengan mata
hati.
Sebagian ulama memandang ayat ini ditunjukan kepada penduduk Mekkah
yang tidak mau beriman kepada Rasulullah. Tetapi Jumhur mufassir berpendapat
bahwa ayat ini masih merupakan rangkaian dari peringatan Nabi Ibrahim kepada
kaumnya.
Menurut Sayyid Quthb, “ini adalah khitab yang ditujukan kepada orang-
orang yang mengingkari Allah dan pertemuan dengan-Nya. Khitab melalui cara
Al-Qur‟an dalam menjadikan seluruhnya sebagai media pemaparan ayat-ayat
keimanan dan petunjuk-Nya dan lembaran yang terbuka bagi indra dan hati, yang
mencari ayat-ayat Allah di dalamnya, dan melihat bukti-bukti wujud-Nya dan
wihdaniyah-Nya. Maha benar janji dan ancamannya.”49
Di sini Allah menegaskan bila mana orang-orang kafir tetap tidak juga
percaya kepada Allah Yang Maha Esa seperti apa yang disampaikan oleh para
rasul-Nya, maka mereka diajak untuk melihat dan memikirkan tentang proses
kejadian dari mereka sendiri sejak dari permulaan sampai akhir. Allah
menciptakan manusia mulai dari proses di rahim ibu selama enam atau sembilan
bulan atau lebih. Setelah lahir manusia dilengkapi dengan kemampuan
pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran. Untuk menjamin kehidupannya, Allah
memudahkan sumber-sumber rizki guna menunjang kelestarian hidupnya. Apabila
telah datang takdir, Allah mewafatkannya melalui malaikat yang ditugaskan. Bagi
Allah membangkitkan manusia adalah mudah seperti mudahnya menciptakan
mereka.50
Kata yubdi‟u terambil dari kata bada‟a berkisar maknanya pada
memulai sesuatu. Dalam al-munjid kata bada‟a diartikan “iftahuhu qoddamuhu fil
amal atau memulai, mendahulukan dalam perbuatan”.51
49
Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur‟an Di Bawah Naungan Al-Qur‟an, h. 96.
50
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an Dan Tafsirannya, h. 380
51
Luis Ma‟luf, Al-Munjid, (Beirut, Dar el-Machreq, 1986), h. 28
36
Sementara ulama membatasi kata ( ) al-khalq pada ayat ini dalam
52
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur‟an, h. 464.
53
Muhammad Nasib al-Rifa‟I, Kemudahan Dari Allah: Riangkasan Tafsir Ibn Katsir,
Terj, Syihabuddin, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), cet ke-1, h. 723.
54
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan dan Kesan Keserasian al-Qur‟an, h. 465.
37
kejadian, pada ayat ini maksudnya Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw
untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik, jika mereka belum juga
mempercayai keterangan-keterangan di atas antara lain yang disampaikan oleh
leluhur mereka dan bapak para Nabi yakni Nabi Ibrahim, Allah menganjurkan
agar mereka berjalan mengunjungi tempat-tempat lain seraya memperhatikan dan
memikirkan betapa Allah kuasa menciptakan makhluk-Nya.
Al-Maraghi menafsirkan ayat ini “Berjalanlah dimuka bumi ini dan
saksikanlah langit-langit dengan segala bintangnya yang terang, baik bintang yang
tetap maupun yang beredar, saksikanlah pula bumi dengan segala isinya, seperti
gunung, tanah rata, gurun pasir dan padang tandus, pepohonan dan buah-buahan,
serta sungai-sungai dan lautan. Semua itu menjadi saksi atas kebaruannya sendiri
dan atas adanya pembuatan yang apabila berkata kepada sesuatu “jadilah”, maka
terjadilah ia”.55
Perintah berjalan kemudian dirangkai dengan perintah melihat seperti
firman-Nya (siiru fii al-ardhi fandhuru) ditemukan dalam al-Qur‟an sebanyak
tujuh kali, ini mengisyratkan perlunya melakukan apa yang diistilahkan dengan
wisata ziarah. Dengan perjalanan itu manusia dapat memperoleh suatu pelajaran
dan pengetahuan dalam jiwanya yang menjadikannya menjadi manusia terdidik
dan terbina, seperti dia menemui orang-orang terkemuka sehingga dapat
memperoleh manfaat dari pertemuannya dan yang lebih terpenting lagi ia dapat
menyaksikan aneka ragam ciptaan Allah.56
Dengan melakukan perjalanan di bumi seperti yang telah diperintahkan
dalam ayat ini, seseorang akan menemukan banyak pelajaran yang berharga baik
melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam maupun dari
peninggalan-peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingya.
Ayat di atas adalah pengarahan Allah untuk melakukan riset tentang asal
usul kehidupan lalu kemudian menjadikannya bukti. Sebagai tambahan
55
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, h. 222.
56
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan dan Kesan Keserasian al-Qur‟an, h. 468.
38
Artinya: Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).
mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah ayat 122).
Sungguh dalam Islam mereka yang tekun mencari ilmu lebih dihargai dari
pada mereka yang beribadah sepanjang masa. Kelebihan ahli ilmu dari pada ahli
ibadah adalah seperti kelebihan Muhammad saw atas orang Islam seluruhnya.
Dikalangan kaum muslimin hadist ini sangat populer sehingga mereka
memandang bahwa mencari ilmu merupakan bagian integral dari ibadah.
Dalam Islam nilai keutamaan dari pengetahuan keagamaan berikut
penyebarannya tidak pernah diragukan lagi. Nabi menjamin bahwa orang yang
berjuang dalam rangka menuntut ilmu akan diberikan banyak kemudahan oleh
Tuhan menuju surga. Para pengikut atau murid Nabi telah berhasil meneruskan
dan menerapkan ajaran tentang semangat menuntut ilmu. Motivasi religius ini
juga bisa ditemukan dalam tradisi Rihla. Suatu tradisi ulama yang disebut al-rihla
fi talab al-„ilm. Suatu perjalanan dalam rangka mencari ilmu adalah bukti
sedemikian besarnya rasa keingintahuan dikalangan para ulama.
39
Al-Ankabut Ayat 21
yang berarti membalik”. Hati manusia dinamai qolb karena ia sering kali berbolak
balik, al-Maraghi menafsirkan kata tuqlabun yaitu kalian dihidupkan kembali
setelah mati, maksudnya ialah sekalipun pengembalian itu ditangguhkan, namun
kalian jangan mengira bahwa Dia akan luput dari kalian.
57
Abdurrahman Mas‟ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, (Yogyakarta:
Gama Media, 2002), h.24-27.
40
58
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan dan Kesan Keserasian al-Qur‟an, h. 470.
41
tidak bertanggung jawab kepada manusia tetapi manusia yang wajib bertanggung
jawabkan perbuatannya kepada Allah.
Kemudian Ibn Katsir lebih lanjut mengatakan bahwa “Allah mengazab
siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-
Nya. Dia tidak berkehendak kecuali berdasarkan keadilan. Maka Dia tidak berbuat
zalim seberat dzarrah pun, karena kezaliman itu diharamkan atas diri-Nya sendiri
juga dalam pergaulan di antara kita. Dan hanya kepada-Nyalah kamu akan
dikembalikan pada hari kiamat”.59
Azab dan rahmat mengikuti kehendak Allah. Karena dia telah menjelaskan
jalan petunjuk dan jalan kesesatan, serta menciptakan kesiapan dalam diri manusia
untuk memilih. Allah juga memudahkan baginya untuk memilih salah satu dari
dua jalan, dan manusia setelah itu menanggung konsekuensi atas apa yang dia
pilih. Namun, jika ia memilih jalan kepada Allah untuk berharap dan
mendapatkan petunjuk-Nya, maka kedua hal itu akan mengantarkannya kepada
pertolongan Allah baginya. Sementara itu, “jika ia berpaling dari dalil-dalil
petunjuk dan menghalangi orang dari petunjuk-Nya, niscaya perbuatannya itu
akan mengantarkannya kepada keterputusan dan kesesatan. Dan dari situlah
ditentukan apakah ia mendapatkan rahmat atau azab.”60
Dari beberapa penjelasan sebegaimana yang telah dikemukakan di atas,
dapat dipahami bahwa Allah menciptakan permulaan hidup dalam segala sesuatu
adalah semata-mata atas kekuasaan-Nya, niscaya Allah pun akan menjatuhkan
azab dan siksaan-Nya terhadap orang yang Dia kehendaki-Nya. Demikian pula
ketika Dia menurunkan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dia
terletak di antara dua jalan, yaitu jalan yang diberi petunjuk dan jalan yang
tersesat. Manusia diberi alat buat menempuh jalan itu, yaitu akal dan pikirannya.
Hingga jalan mana yang akan ia tempuh, akan tetapi Allah selalu menganjurkan,
memanggil dan membujuk agar jalan yang ia tempuh ialah jalan yang benar-benar
di ridhoi Allah, dan Allah berjanji akan menolongnya. Sebagaimana firman Allah
dalam surat Al-An‟am ayat 12 :
59
Muhammad Nasib al-Rifa‟I, Kemudahan Dari Allah: Riangkasan Tafsir Ibn Katsir,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1999), Cet. 1, h. 723.
60
Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur‟an DI Bawah Naungan Al-Qur‟an, h. 98.
42
Al-Ankabut Ayat 22
Artinya: “Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab
Allah) di bumi dan tidak (pula) di langit dan sekali-kali Tiadalah bagimu
pelindung dan penolong selain Allah. (QS. Al-Ankabut ayat 22).
berarti lemah, dalam kamus al-Qur‟an kata Mu‟jizin diartikan: yang melepaskan
43
61
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, h. 223.
62
Sayyid Quthb, Tafsir Zilalil Qur‟an, h.99.
44
diancam oleh sesuatu bahaya. Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat
mencari seorang penolong yang akan melepaskannya dari azab dan siksaan Allah,
baik di langit maupun di bumi.
Penyebutan kata fi as-samaa‟I atau di langit pada ayat di atas
Al-Ankabut Ayat 23
Kata artinya mereka putus asa dari rahmatku
(Allah). Terambil dari kata “al-ya‟su yang bermakna ketiadaan ambisi atau putus
asa”.63 Sedangkan menurut Quraish Shihab kata “() dipahami dalam arti
surga”. Dalam al-Qur‟an sering kali kata rahmat digunakan untuk menunjuk surga
Seperti dalam QS. Al-Jatsiah: 45 dan QS. AL-Insan: 31. Penamaannya
demikian sangat wajar, karena memang surga adalah tempat memperoleh ganjaran
Ilahi sekaligus rahmat-Nya sebagaimana neraka tempat penyiksaan dan siksa-Nya.
Di sisi lain keputus asaan mereka itu dapat dipahami dalam arti “mereka
mengingkari keniscayaan kiamat” atas dasar pada hari kiamat akan ada surga dan
ada juga neraka, siapa yang tidak mempercayai adanya kiamat, maka dia pada
hakikatnya tidak percaya dan telah memutuskan harapannya untuk memperoleh
surga. Bisa juga penggalan ayat itu dipahami sebagai ketetapan Allah atas mereka,
yakni mereka tidak akan masuk surga, dan dengan adanya ketetapan tersebut,
mereka menjadi orang-orang yang berputus asa.
Ayat yang lalu memupuskan harapan kaum musyrikin untuk memperoleh
dan perlindungan dari siksa Allah. Kini melalui ayat di atas dipupuskan pula
harapan mereka untuk memperoleh surga.
Al-Marghi menafsirkan ayat tersebut:
“Dan orang-orang yang kafir kepada bukti-bukti yang telah ditegakan
Allah pada alam ini sebagai dalil atas ketauhidan-Nya dan bukti-bukti yang
diturunkan-Nya kepada para rasul-Nya yang menunjuk kepada keesaan-Nya itu,
serta mengingkari pertemuaan dengan-Nya dan kembali kepada-Nya pada hari
kiamat, maka mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengharapkan rahmat-
Nya, karena mereka tidak takut kepada siksa-Nya, tidak pula mengharapkan
pahala-Nya dan mereka tidak akan menerima azab yang pedih di dunia dan di
akhirat.”64
63
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirannya, h. 379
64
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi, h. 224
46
yakni kepada Nabi Muhammad SAW sendiri, bukan bentuk jamak seperti
ulaa‟ikum. Pernyataan Allah secara langsung dengan menyebutkan kata rahmat-
Ku mengisyaratkan bahwa surga adalah hak prerogratif Allah SWT. Dia sendiri
yang berwenang menentukan siapa yang wajar mendapatkannya, sekaligus
mengisyaratkan bahwa penganugerahannya semata-mata adalah berkat rahmat
Allah, bukan hak yang dapat dituntut oleh hamba-hamba Allah seberapa
banyakpun amal salehnya.
Kemudian Hamka lebih lanjut menyatakan bahwa dan orang-orang yang
kafir dengan ayat-ayat Allah, ialah yang telah bertemu dengan tanda-tanda dan
bukti adanya Allah itu, namun dia masih saja tidak mau percaya bahwa Allah ada
atau diakuinya bahwa Allah ada, tetapi dia tidak mau percaya bahwa Allah Maha
Kuasa sendiri-Nya, tiada bersekutu yang lain dengan Dia. Dan dari hal yang akan
47
bertemu dengan Dia”, artinya dia tidak percaya akan hari kiamat; “Itulah orang
yang telah berputus asa dari RahmatKu. “artinya tidak ada harapan lagi baginya
dengan mendapat rahmat Ilahi yang Dia telah mewajibkan atas diri-Nya akan
memberikan itu. Barulah keputusan itu akan hilang, jika orang itu mengubah
pendirian, “dan orang-orang itu, bagi mereka adalah azab yang pedih.”65
Kemudian Ibn Katsir menafsirkan potongan ayat di atas yaitu, dan orang-
orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, yakni ingkar
terhadap ayat-ayat Allah dan kafir terhadap hari kiamat, mereka putus asa dari
rahmat-Ku, mereka tidak memperoleh bagian dari rahmat itu, dan mereka itu
mendapat azab yang pedih.
Ditujukan ayat ini langsung kepada nabi Muhammad saw. Bertujuan untuk
mengukuhkan hati beliau serta untuk menghindarkan para pendurhaka mendengar
langsung firman ini karena mereka adalah orang-orang yang tidak beriman,
demikian tulis Thaba‟thaba‟i.
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari berbagai penjelasan di atas ialah
Allah mengancam orang kafir yang tidak mau membenarkan keterangan-
keterangan-Nya di atas bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah,
sehingga mereka berputus asa. Karena mengingkari keesaan Allah, mendustakan
para rasul yang diutus untuk mereka, serta tidak percaya akan adanya hari
kebangkitan. Berarti mereka tidak takut akan ancaman azab Allah dan tidak
mengharapkan balasan yang baik dari sisi-Nya. Oleh karena itu, wajar jika mereka
diancam dengan azab yang pedih di dunia maupun di akhirat.
Hal itu karena seseorang manusia tak merasa putus asa dari rahmat Allah
kecuali ketika hatinya kafir, dan terputus antara dirinya dan Rabnya. Demikian
juga ia tak kafir kecuali ketika ia telah berputus asa dari tersambungnya hatinya
dengan Allah, dan telah kering hatinya itu, sehingga tak lagi mempunyai jalan
menuju rahmat Allah. Dan akibat yang diterimanya yaitu “mereka itu mendapat
azab yang pedih.
65
Hamka, Tafsri Al-Azhar, (Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, 1982) Juzz XX, h. 168.
48
Al-Ankabut Ayat 24
66
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirannya, h. 383
49
1. Pendidikan ibadah
Terambil dari kata u‟buduu dari ayat yang akan diteliti, yang berasal dari
kata abada-ya‟budu yang artinya menyembah, bahwasannya ibadah merupakan
hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dengan ibadah
seseorang berinteraksi langsung dengan Tuhannya dan karena dengan ibadah pula
seseorang mendapatkan langsung martabat kesempurnaan di hadapan Tuhannya.
Ibadah adalah suatu wujud perbuatan yang dilandasi rasa pengabdian
kepada Allah swt.67 Ibadah juga merupakan kewajiban agama Islam yang tidak
67
Aswil Rony, dkk, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, (Padang:
Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat, 1999), h.18
51
68
Ibid, h. 60
69
Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirannya, h.492
52
Jika ditinjau lebih lanjut ibadah pada dasarnya terdiri dari dua macam
yaitu: pertama ; Ibadah „Am yaitu seluruh perbuatan yang dilakukan oleh setiap
muslim dilandasi dengan niat karena Allah swt ta‟ala. Kedua; Ibadah Khas yaitu
suatu perbuatan yang dilakukan berdasarkan perintah dari Allah swt dan rasul-
Nya. Contoh dari ibadah ini adalah:
1. Mengucap dua kalimat syahadat
Dua kalimat syahadat terdiri daru dua kalimat yaitu kalimat pertama
merupakan hubungan vertikal kepada Allah swt. Sedangkan kalimat
kedua merupakan hubungan horizontal antar setiap manusia.
2. Mendirikan Shalat
Shalat adalah komunikasi langsung dengan Allah swt, sesuai dengan
cara yang telah ditetapkan dan dengan syarat-syarat tertentu.
3. Puasa Ramadhan
Puasa adalah menahan diri dari segala yang dapat membukakan atau
melepaskannya satu hari lamanya, mulai dari subuh sampai terbenam
matahari.
4. Membayar zakat
Zakat adalah bagian harta kekayaan yang diberikan kepada yang
berhak menerimanya dengan beberapa syarat.
5. Naik haji ke Baitullah
Ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan sesuai dengan rukun Islam
ke 5 yaitu dengan mengunjungi Baitullah di Mekkah, dan ibadah ini
hanya dilakukan bagi orang yang mampu.70
Kelima ibadah khas di atas adalah bentuk pengabdian hamba terhadap
Tuhannya secara langsung berdasarkan aturan-aturan, ketetapan dan syarat-
syaratnya. Setiap guru atau pendidik di sekolah mestilah menanamkan nilai-nilai
ibadah tersebut kepada anak didiknya agar anak didik tersebut dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
70
Aswil Rony, dkk, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, (Padang:
Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat, 1999), h. 26-31
53
Ibadah tersebut memiliki pengaruh yang luar biasa dalam diri anak, pada
saat anak melakukan salah satu ibadah, secara tidak langsung akan ada dorongan
kekuatan yang terjadi dalam jiwa anak tersebut. Jika anak tersebut tidak
melakukan ibadah seperti biasa yang ia lakukan maka dia merasa ada suatu
kekurangan yang terjadi dalam jiwa anak tersebut, hal ini dilatar belakangi oleh
kebiasaan yang dilakukan anak. Untuk itu setiap orang tua di rumah harus
mengusahakan dan membiasakan agar anaknya dapat melaksanakan ibadah shalat
atau ibadah lainnya setiap hari.
71
Ahsin, op. cit., h. 257.
72
M. Quraish Shihab, op. cit., h. 593.
54
73
Rif`at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur`ani, (Jakarta: Amzah, 2011), Cet. I, h. 74.
74
M. Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern Membangun Karakter Generasi Muda,
(Bandung: Marja, 2012), Cet. I, h. 74.
55
Yahya bin Abi Katsir pernah berkata,”Ilmu tidak akan pernah didapat
dengan banyak mengistirahatkan badan.” Seseorang yang menuntut ilmu
seringkali mendapatkan gangguan dan halangan, baik yang berasal dari dalam
dirinya maupun dari luar dirinya. Maka diperlukan kesabaran dan ketegaran dalam
menuntut ilmu agar tidak mogok ditengah jalan.
75
Ibid.,h. 73.
56
ini, kita akan mampu menyingkap pusparagam misteri yang selama ini belum
terpecahkan. Seringkali kita putus asa, malas, cemas, dan ragu-ragu. Pada titik ini,
kita jelas membutuhkan sifat dan karakter diri yang mampu meneguhkan diri agar
mampu menjadi manusia berkarakter sempurna dan paripurna. Hal ini pula yang
harus dimiliki seorang guru. Sebabnya, tidak lain karena para anak didik memiliki
karakter dan kepribadian masing-masing. Tidak semua anak didik adalah pribadi
yang rajin, tekun, dan memperhatikan pelajaran. Tidak sedikit yang justru kerap
kali menampilkan aksi-aksi negatif, semisal mengganggu temannya, usil dalam
proses belajar-mengajar, tidak memperhatikan pelajaran guru, dan malas belajar.76
Disamping itu, guru juga menghadapi akal yang bervariasi dalam hal daya paham,
cara pandang, penerimaan materi dan lain sebagainya. Atau bisa jadi guru
dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan “iseng” atau yang bukan pada tempatnya
serta dikejutkan ditengah-tengah penyampaianya bahwa salah seorang siswanya
tidur atau tersenyum sendiri dan seterusnya.77
Menyikapi keadaan ini, tentu kesabaran menjadi sebuah pelita, sebuah
cahaya yang tidak akan pernah redup, apalagi padam. Kesabaran akan
membingkai semua tutur kata dan jalinan sikap seorang guru agar selalu dalam
kebajikan. Kesabaran menjadi obat dalam pusparagam “kenakalan” yang
ditampilkan anak-anak didik.78 Karena dengan kesabaran tersebut, ia akan
senantiasa terbimbing oleh sang maha pembimbing yang sempurna yaitu, Allah
Swt.
76
Asef Umar Fakhruddin, op. cit., h. 100.
77
Fu`ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, op. cit., h .41.
78
Asef Umar Fakhruddin, op. cit., h. 101.
57
3. Pendidikan Mensyukuri
Terambil dari ayat di atas yang bertujuan untuk diteliti yaitu kata
“wasykuru” yang berasal dari kata syakara-yaskuru yang bermakna “membuka”.
Kata ini dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai rasa terima kasih
kepada Allah dan untunglah (menyatakan lega, senang dan sebagainya). Ini berarti
bersyukur adalah menampakkan nikmat yang Allah Swt berikan kepada kita, baik
dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
Dalam kamus Al-Qur`an, syukur menurut bahasa adalah berterima kasih.
Adapun menurut istilah adalah merasa gembira dan puas serta berterima kasih atas
segala nikmat dan anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Oleh karena itu
syukur merupakan cara hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Sang Khaliq,
berapapun yang didapat, bagaimanapun hasilnya itu merupakan sebuah anugrah
yang mesti dan patut disyukuri sebagai makhluk Allah.
Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan tertentu, seperti
anugrah-Nya. Setiap anugrah ini, keimanan, kesehatan, dan segala bentuk ciptaan-
Nya merupakan anugrah untuk manusia agar mensyukuri karuni-Nya. Begitu juga
halnya dengan seorang guru pertama-tama harus bersyukur kepada Allah Swt,
Tuhan yang Maha Esa, atas semua nikmat yang telah Dia anugerahkan. Posisi,
jabatan dan status sosialnya di masyarakat sebagai guru merupakan karunia Allah
yang sangat besar. Ini mengingat jarang sekali ada orang yang secara sadar ingin
mengabdikan diri kepada Allah melalui profesi guru. Allah telah menunjuk dan
mempercayakan peran itu kepadanya, oleh karena itu dia wajib mensyukurinya.
79
Hamka Abdul Aziz, op. cit., h.101.
58
Rasa bersyukur merupakan ibadah dan juga cara untuk melindungi kita
dari “penyimpangan”. Tidak bersyukur berarti melangkah menuju kerusakan dan
kejahatan, merupakan kelemahan-kelemahan, dan menjadi takbabur ketika mereka
semakin kaya dan berkuasa. Mereka yang menunjukan rasa syukurnya kepada
Allah swt disertai ilmu bahwa semua yang mereka capai adalah pemberian dari
Allah, berarti mereka mengetahui bahwasannya mereka bertanggung jawab
menggunakan semua rahmat ini dijalan Allah seperti kehendak-Nya. Itulah rasa
syukur kepada Allah yang didasari kerendahan hati dan kedewasaan para Rasul.
Ar-Raghib Al-Asfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa
Al-Qur‟an menulis dalam al-mufradat fi gharib Al-Qur‟an, bahwa kata “syukur”
mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya
kepermukaan”.
Syukur dapat dikualifikasikan menjadi tiga macam:
a. Syukur dengan hati, yaitu dengan merenungkan nikmat sendiri.
b. Syukur melalui lisan, yaitu dengan memuji dan menyanjung sang
pemberi nikmat.
c. Syukur dengan anggota badan, yaitu dengan membalas nikmat
(karunia) yang diterimanya sesuai dengan kemampuan dan etika
bersyukur.
Jika ditelisik lebih dalam tentang makna syukur dari sudut pandang
komunikasi dua arah antara yang bersyukur dengan yang disyukuri, maka katagori
syukur dibedakan menjadi tiga macam. “Pertama, syukur seseorang kepada
atasannya (yang keduanya lebih tinggi) notabene Allah dengan cara berbakti,
memuji dan berbakti kepadanya. Kedua, syukur seseorang kepada sesamanya
(yang sepadan) dengan cara membalas kembali pemberiannya sesuai dengan
kondisi dan kemampuan yang ada pada dirinya. Ketiga, syukur seseorang kepada
orang yang kedudukannya lebih rendah dari padanya, yaitu berupa pemberian
imbalan yang sepantasnya”80
80
Abdullah bin Jarullah, Fenomena Syukur, Berzikir dan Berfikir, h. 41-42
59
81
Abdul A‟la AL-Maududi, Esensi Al-Qur‟an, Filsafat Politik Ekonomi Etika, (Jakarta:
Mizan), h. 20.
60
Beriman kepada hidup sesudah mati adalah ajaran pokok agama Islam
yang terkahir. Perkataan yang biasa digunakan oleh al-Qur‟an untuk menyatakan
hidup sesudah mati ialah al-akhirat, kata akhir adalah lawan kata awal
(permulaan). Jadi kata akhir adalah bermakna kesudahan. Selain kata al-akhirat,
digunakan pula kata yaumul akhir artinya hari akhir, kadang-kadang digunakan
pula darul akhirah artinya tempat tinggal terakhir.
Jika masih ada orang yang ragu tentang berulangnya kehidupan manusia
sesudah mati, hendaklah ia meneliti periode-periode dalam hidupnya. Dia pasti
akan melihat gejala-gejala kekuasaan Ilahi yang Maha Kuasa dan pencipta segala
sesuatu yang sangat menakjubkan. Dan pastilah pula keindahan ciptaan Allah di
atas bumi yang luas terhampar.82
Banyak redaksi yang digunakan Al-Qur‟an untuk menguraikan hari akhir,
misalnya yaum al-ba‟ts s (hari kebangkitan), yaum al-qiamah (hari kiamat), yaum
al-fashl (hari pemisah antara pelaku kebaikan dan kejahatan). Al-Qur‟an
menguraikan masalah kebangkitan secara panjang lebar, kata al-yaum al-akhir
saja terulang sebanyak 24 kali, di samping kata akhirat yang terulang sebanyak
115 kali. Ini menunjukan betapa besar perhatian Al-Qur‟an dan betapa penting
permasalahan ini. Banyak juga sisi dari “hari” tersebut yang diuraikan Al-Qur‟an,
dan uraian itu yang tidak jarang berbeda informasinya; bahkan berlawanan
diletakkan dalam berbagai surat. Seakan-akan Al-Qur‟an bermaksud untuk
memantapkan keyakinan tersebut bagian demi bagian serta fasal demi fasal dalam
jiwa pemeluknya. Di sisi lain, banyak pula cara yang ditempuh Al-Qur‟an ketika
menguraikna masalah tersebut serta banyak pula pembuktiannya.83
Allah telah berfirman (Q.S Al-Haqqah :13-16)
82
Anshori Umar Sitanggal, Islam Membina Masyarakat Adil Makmur, (tt: Pustaka Dian,
1984), cet. I, h, 88
83
Qurais Shihab, wawasan Al-Qur‟an Tafsir Maudhi‟I atas Pelbagai Permasalahan
Umat, (Bandung: Mizan, 1996), cet II, h. 81
62
pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari
itu langit menjadi lemah.
Maksudnya: ialah tiupan yang pertama yang pada waktu itu alam semesta
menjadi hancur.
Kata iqra‟ terambil dari kata qara‟a yang pada mulanya berarti menghimpun.
Apa bila kita merangkai huruf kemudian mengucapkan rangkaian tersebut maka
kita sudah menghimpunnya yakni membacanya.84
Dengan demikian, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu
teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar
oleh orang lain. Karena dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata
tersebut. Antara lain: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti,
mengetahui ciri-ciri sesuatu dan lain sebagainya.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ketika Nabi saw diperintahkan untuk
membaca iqra‟ oleh malaikat Jibril, Nabi saw bertanya ma Aqra‟? tetapi malaikat
Jibril tidak menjawabnya. Ada yang berpendapat pertanyaan itu tidak dijawab,
karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama
bacaan tersebut Bismi Rabbika, dalam arti bermanfaat untuk manusia dan dirinya
dunia dan akhirat. Demikian Allah memberikan stimulus kepada manusia, agar
senantiasa mengerahkan segala daya dan upayanya dalam menuntut ilmu.
Syekh Abdul Halim Mahmud sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab beliau
menulis dalam bukunya al-Qur‟an Fi Syahr al-Qur‟an: “dengan kalimat iqra‟
bismi Rabbika, al-Qur‟an tidak hanya sekedar menyuruh membaca, tetapi
membaca adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang
sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan semangatnya
ingin menyatakan “bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu,
bekerjalah demi Tuhanmu”. Demikian juga ketika kita berhenti melakukan
aktifitas hendaklah didasari pada bismi Rabbikai sehingga akhirnya ayat itu berarti
“jadilah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuanmu, kesemuanya
demi karena Allah semata”.
Segala potensi yang dimiliki manusia sebagai jalan untuk mengetahui sesuatu
baik berupa isyarat yang jelas (tampak) maupun yang tersembunyi yang hanya
mampu ditangkap dengan indra yang abstrak merupakan cara Allah mendidik
manusia.
84
M. Quraish Shihab, Tafisr Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 392.
64
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk mengakhiri uraian dari bab-bab sebelumnya dalam pembahasan
skiripsi ini, maka pada bab penutup ini dapat penulis simpulkan hal-hal sebagai
berikut:
Nilai pendidikan yang diajarkan dalam surat Al-Ankabut ayat 16 sampai
ayat 24 adalah:
1. Ibadah: adalah suatu wujud perbuatan yang dilandasi rasa pengabdian
kepada Allah swt, yang juga merupakan kewajiban agama Islam yang
tidak bisa dipisahkan dari aspek keimanan. Keimanan merupakan
pundamen, sedangkan ibadah merupakan manifestasi dari keimanan
tersebut.
2. Sabar: adalah dapat menahan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan
hukum Islam, baik dalam keadaan lapang maupun sulit, mampu
mengendalikan nafsu yang dapat mengguncang iman, demi mencapai
sesuatu yang baik atau lebih baik, dengan sabar akan menjadikan orang
memiliki sikap tawadlu, rendah hati, tidak sombong dan selalu bersyukur
atas cobaan yang menimpanya.
3. Syukur adalah proses kejiwaan dan ungkapan batin atas apa yang
diperolehnya. Sikap dan sifat syukur ditunjukan dalam meningkatkan amal
ibadah dan ikhtiar yang semuanya itu dilakukan karena Allah dan untuk
Allah, yang disertai dengan kesungguhan untuk terus memperbaiki segala
amalnya.
4. Keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan keimanan kepada hari
kemudian (kehidupan setelah mati), keimanan kepada Allah tidak
sempurna kecuali dengan keimanan kepada hari akhir, dengan beriman
kepada hari akhir manusia akan sadar bahwa ada kehidupan setelah
kematian, yang di dalamnya terdapat balasan ketika manusia hidup di
dunia.
65
66
B. Saran
Berdasarkan pada kesimpulan sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka
penulis memberikan saran-saran berikut:
1. Orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga serta pendidik pada
umumnya berkewajiban menanamkan nilai-nilai pendidikan agama yang
bersumber pada Al-Quran dan Hadis, sebagai upaya untuk membentuk
kepribadian muslim yang diharapkan.
2. Orang tua hendaknya mengajarkan ibadah sebagai pendidikan yang paling
utama kepada anak, karena pada dasarnya pendidikan ibadah merupakan
hal yang paling sentral dalam membentuk kepribadiaanya yang lebih baik.
3. Orang tua hendaknya menanamkan pendidikan sabar kepada anak, yang
bertujuan agar tertanam di dalam diri anak sifat tersebut yang dapat
membawa dampak positif terhadap perkembangan anak itu sendiri.
4. Orang tua hendaknya menanamkan pendidikan syukur, karena bersyukur
atas nikmat dan karunia Allah akan membantu jiwa, mendekatkan kepada
Tuhannya dan mendorongnya untuk menggunakan nikmat-nikmat itu
sebaik-baiknya sesuai dengan pedoman Allah dan Rasulnya.
5. Orang tua hendaknya menanamkan pendidikan iman kepada hari
kebangkitan, agar anak ingat akan adanya kehidupan sesudah mati dan
balasannya, dengan adanya keimanan kepada hari kebangkitan dan
adanya hari pembalasan di akhirat atas perbuatan yang pernah dilakukan
seseorang di dunia sesuai dengan kelakuan masing-masing, akan
memelihara anak dari kejahatan dan akan mengarahkannya untuk berbuat
baik.
67
DAFTAR PUSTAKA
Abidu, Yunus Hasan. Tafsir Al-Qur`an Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir,
Jakarta: GayaMedia Pratama, 2007.
Hafidz, Hasan, Dasar-dasar Pendidikan dan Ilmu Jiwa, Solo: Ramadhani, 1989.
Ma‟rif, A. Syafi‟f et.al, Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta,
Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1991.
Nata , Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.
Nata, Abudin dan Fauzan, Pendidikan dalam Persepektif Hadist, Jakarta: UIN
Jakarta press, 2005.
Pur, Rasyid Majid, Membenahi Akhlaq Mewarisi Kasih Sayang, Bogor: Cahaya,
2003.
Rony, Aswil, dkk, Alat Ibadah Muslim Koleksi Museum Adhityawarman, Padang:
Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Sumatera Barat, 1999.
Sitanggal, Anshori Umar, Islam Membina Masyarakat Adil Makmur, tt: Pustaka
Dian, 1984.
BAB I PENDAHULUAN
Yunus Hasan Abi&t, Tafsir Al-Qur'an Sejarah 1 1
+
(Bandung: Mizan,2000), Cet. 10. h. 12.
+
-t
Rosihun Anwar, Samudera AI-Qu'ran, 3 2
(Bandung: PustakaSetia, 2001), Cetke- I, h.
173.
4. Ahmad Tafsir, "Pendidikan Agama Islam di 4 3<
Sekolah Salah Paradigma"Media Indonesia
(Jum'at, 03 Desember 2004), h. 3.
5. A. Syafi'fMa'rif et.al, Pendidikan Islam di 5 4
Indonesia antaraCitadanFakta (Yogyakarta
PT. Tiara Wacana, l99l), h 15. >
6. H.A.R Tilaar, Manifesto P endi dikanNas ional, 6 4
Ti nj au a n dc r i P e rsp d e rn is me dan S tu d
ektifP o s tmo
iKulhtral (Jakarta: PenerbitBukuKompas,
20os), h 119.
7. Abdul
Reko n st rul<s
Religiusiras IPTEK
MunirMulkhan,
i P en di dikan d anTr a di s i P es ant ren ;
<_ (
!
8. M. NurKholisSetiaw an, Al-Qur' an Kitabsastra 8 5
'--b----.-.
Terbesar (Y ogyakarta: eLSAQ, 2005), h. 1.
s b)
TINDAKAN
9. HM. ChabibThoha, KapitaSelektaPendidikan 1 9 +--
Islam, (Yogyakarta: PustakaPelajar,l996), h.
61.
10. W.JS. Purwadarminta, KamusUmum Bahasa 2 e<
Indonesia, (Jakarta :BalaiPustaka, 1999) , h.
677.
1l H. Titus, M.S, et dl, Persoalan- 9
persoalanFilsafat, (Jakarta :BulanBintang,
1984),h. 122.
12. Muhaimindan Abdul Mujib, 4 9
PemilciranPendidikan Islam, (Bandung:
TrisendaKarya.l993), h. 61.
13. ChabibThoha, dldcKapitaSelektaPendidikan 5 10
>.\
-- (
14.
Islam, (yogyakarta :PustakaPelajar, 1996),
cet.l. h. 78.
Muhaimindan Abdul Muji, 6 t0
r-
PemikiranPendidikan Islam'.
K aj i an F i lo s ofi s dan K e r an gkaD asa r Op e ra s i o ntt I
nya, (Bandung: TrigendaKarya, 1993), h. 111.
15. Mansur Isna, DiskursusPendidikan Islam, l i0 <--<f:>
I
'T=
18 16
PendidikandalamPersepektifiIadisr, (Jakarta:
27.
28.
UIN Jakarla pres s.2005), h.27 4.
A. Mustafa, AkhlakTasawuf, (Jakarta:
Pustakasetia, 1999), h. 197.
A. Mustafa, AkhlakTasawuf, (Jakarta:
19
20
16!
17
rF
-----\:)
F
PustakaSetia, 1999), h. 198.
29. A. Mustafa, AkhlakTasaywf, (Jakarta: 2t 17
F-F
PustakaSetia, 1999), h. 200.
30. Departemen Agama, Al-Qur'an danTerntahnya, 22 1,9
oo. cit., h. 862.
<T=----.
+
31. Departemen Agama, Al-Qur'an danTermahnya, 23 20
op. cit., h.473.
.F
32. Departemen Agama, Al-Qur'an danTermahnya, 24 20
op. cit., h. 473.
13. Departemen Agamq Al-Qur'an danTermahnya, 25 21
14.
35.
op. cit., h. 399.
Departemen Agamq Al-Qur'an
op. cit., h.231.
A. MudjabMahli, Pembinaan Moral di
Al-Ghzali, (Yoshyakarta: BFE, 1984), h. 257.
danTermahnya,
Mata
26
2'7
2t
22
P
.u
36. Abudin Nata, AkhlakTasawuf, (Jakarta: PT. 28 22 ::-\*
Raia GrafindoPersada, 1996), h. 148.
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN
Abuddin Nata, Ilmupendidikai lstam
DenganPendekatanMultidisipliner, (Jakarta,
2010), Cet.Ke- 2, h. 352.
52.
Departemen Agama
,t^t^:-^---,-
-rup^.,,^t
trto,,.orn Al-Our'an- h- 96
I 'L9/l
Luis Ma'luf, Al-Munjid, (tserrut, Dar
R'I, Al-Qur'an Dan
el-
t4
15
35
35
=F
__ \a_,
r\,r^^L-6a IOCK\ h ,R I
QuraishShihab, IdJstr At- 16 35
53. M.
u
MisbahPesanKesandanKeserasian al-Qur'an,
'a
h.464.
54. Muhammad Nasib al-Rifa'I, Kemudahan l)art
t7 36
I Marashi,h.223.
63. I SayyidQuthb' TafsirZilalil Qur-an' h'9e'
26 43
:
.:s
64. I)epartemen Agallra D' Y ,.. 27 45
1 d .r-:------^-.- 1.11O
agnlulttt utttly.t,
65 Ahmad Mustafa al-Maraghi, Teriemahla|str at-
n r^-^-L; h ,) /-
28 45 i:------J
\ S>
66 n^rtk^. f"ftrl Al-Azhar' (Jakarta: PT
PustakaPanji Mas, 1982) Juzz XX, h' 168'
29 47
b-
\
I
------
70. Departemen Agama F.I, Al-Qu r' an
danTafsirannya, h.492
33
--q2\------
71. AswilRony, dkk, Alatlbadah Muslim Koleksi 52
Mus eum Adhityaw arman, (Padang:
BagianProyekPembinaanPermuseuman
Sumatera Barat, 1999), h. 26-31
77.
18.
Fu'ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub, op. cit., h
.41.
Asefumar Fakhruddin, ap. cil., h. 101.
41 56
56<
F-
79. HamkaAbdul Aziz, op. cit., h.101. 43 57 _t>
80.
81.
Abdullah bin Jarullah, FenomenaSyukur,
B erzikirdanBerlikir, h. 4 I -42
Abdul A'la Al-Maududi, Esensi Al-Qur'an,
F ilsafatPolitikEkonomi Etika, (Jakarta: Mizan),
44
45
59
59
+_
h.20.
82. Anshori Umar Sitarggal, Islam 46 61 --.-14)_
Anshori Umar Sitarggal, Islam
M emb in a Masy ar akotA d ilM akmur, (tt: Pustaka
Menyetujui,
NrP. 19681208199703r003
DEPARTEMEN AGAMA No. Dokumen: FITK-FR-AKD-081
UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 5 Januari 2009
FoRM (FR) No- Revisi: : 00
FITK
Jl. k. H. .lr.n<!a Uo 6 Cip,lal 15412 lndonesia Hal 1t'l
SURAT BIMBINGAN SKRIPSI
Kepada Yth.
Bpk Abdul Ghofur, MA
Pembimbing Shipsi
Fakultas Ilmu Tar.biyah dan Keguruan
IJIN Syarif Hitlayatullah
Jakarta-
Judul tersebut telah disetujui oleh Jurusan yang bersangkutan pada tanggal 15 Februari
2013 , abstaksi/o utline tt:ilunpir. Saudara dapat melakukan perubahan redaksional pada
judul tersebut. Apabila perutahan substansial diaoggap perlu, mohon pembimbing
menghubungi Jurusan terlebih dahulu.
Bimbingaa skripsi ini diharapkan selesai dalam waktu 6 (enam) bulan, dan dapat
diperpanjang selama 6 (enam) bulan berikutnya tanpa surat petpanjangan.
Atas perhatian drt kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.
a.n. Dekan
Sekjur