LAPORAN PENDAHULUAN COLIC ABDOMEN
1.Definisi
Collic abdomen merupakan istilah umum untuk setiap gejala penyakit
yang mempengaruhi daerah antara dada dan panggul (dinding perut atau organ
di perut) tergantung pada tingkat keparahan, durasi dan lokasi nyeri (Al-
masawabe & Abu-naser, 2021).
Collic abdomen adalah suatu gejala yang paling utama dari akut
abdomen yang terjadi secara tiba-tiba dan spesifik. Akut abdomen adalah
istilah yang sering digunakan untuk tanda dan gejala dari nyeri abdomen dan
nyeri tekan yang tidak spesifik namun tanda dan gejala tersebut sering
terjadi pada penderita dengan keadaan intra abdominal yang berbahaya
(Maryana, 2021)
Collic abdomen adalah nyeri perut yang kadang timbul secara tiba-tiba
dankadang hilang dan merupakan variasi kondisi dariyang sangat ringan
sampai yang bersifat fatal ( Wijaya & Putri, 2013).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Collic
abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus
intestina yang menyebabkan nyeri perut yang kadang timbul secara tiba-tiba
dankadang hilang dan merupakan variasi kondisi dariyang sangat ringan
sampai yang bersifat fatal
2. Anantomi fisologi
Gambar 2.1 Anatomi fisiologi pencernaan.
Menurut Syaifuddin (2015) anatomi fisiologi system pencernaan
adalah sebagai berikut :
A. Mulut
Mulut (oris) merupakan organ yang pertama dari saluran pencernaan
yang meluas dari bibir sampai keistmusfausium yaitu perbatasan antara mulut
dengan faring Organ kelengkapan mulut :
1. Bibir
Bagian eksternal ditutupi oleh kulit dan bagian internal dilapisi oleh
jaringan kapitel yang mengandung mukosa, bagian ini kaya pembuluh darah
dan banyak terdapat ujung-ujung saraf sensorik.
2. Gigi
Alat bantu yang berfungsi untuk mengunyah dan berbicara.
3. Lidah
Lidah terdapat dalam kavumoris,merupakan susunan otot serat lintang yang
kasar dilengkapi dengan mukosa.
4. Kelenjar lidah (saliva).
Saliva merupakan kelenjar yang menyekresikan larutan mucus kedalam
mulut, membasahi dan melumas partikel makan sebelum ditelan.
5. Faring
a) Nasofaring (pars nasalis )
Bagian superior yang menghubungkan hidung dengan faring, bagian
samping terdapat muara apertura tuba auditorius (eustachi) yang
menghubungkan nasofaring dengan telingah tengah bagian belakang
ditemukan bentuk lekuk fossa oksipitalis.
b) Orofaring( parsoralis )
Bagian media yang menghubungkan rongga mulut dengan faring, pada
bagian samping ditemukan jaringan limfoid (tonsillar palatina) tersembunyi
dalam lekuk fossa tonsilaris.
c) Laringofaring( parslaringis )
Bagian inferior yang menghubungkan laring dengan faring,bagian paling
bawah laring berhubungan dengan faring, terbentang antara hyoid sampai
esophagus.
B. Esofagus
Esophagus (kerongkongan) merupakan saluran pencernaan setelah
mulut dan faring. Panjangnya kira-kira 25 cm, posisi vertical dimulai dari
bagian tengah leher bawah faring sampai ujung bawah rongga dada
dibelakang trachea. Pada bagian dalam belakang jantung menembus
diafragma sampai rongga dada, fundus lambung melewati persimpangan
sebelah kiri diagfragma.
Sekresi esophagus bersifat mucoid, berfungsi memberikan pelumas
untuk pergerakkan makanan melalui esofagus, pada permulaan, esophagus
banyak terdapat kelenjar mukosa komposita, bagian badan utama dibatasi
oleh banyak kelenjar mukosa simpleks, untuk mencegah erosi mukosa oleh
makanan yang baru masuk, kelenjar komposita pada perbatasan esophagus
dengan lambung melindungi dinding esophagus dari pencernaan getah
lambung.
Lapisan mukosa dinding esophagus dari dalam keluar :
1) Lapisan selaput lender (mukosa).
2) Lapisan submucosa.
3) Lapisan otot melingkar (M.sirkuler)
4) Lapisan otot memanjang (M.longitudinal).
C. Lambung
Lambung (ventriculus) merupakan sebuah kantong muskuler yang
letaknya antar esofagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen, dibawah
diagfragma bagian depan pancreas dan limpa. Lambung merupakan saluran
yang dapat menggembang karena adanya Gerakan peristaltic terutama
didaerah epigaster.
Fungsi lambung sebagai berikut :
1) Fungsi penampung makanan yang masuk melalui esofagus,
menghancurkan makanan dan menghaluskan makanan dengan gerakan
peristaltic lambung dan getah lambung.
2) Fungsi bakteri sid : oleh asam lambung.
3) Membantu proses pembentukkan eritrosit: lambung menghasilkan zat
factor intrinsic bersama dengan factor ekstrinsik dari makanan, membentuk
zat yang disebut anti-anemik yang berguna untuk pertukaran eritrosit yang
disimpan dalam hati.
D. Usus Halus
Usus halus (intestinum minor) merupakan bagian dari system
pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada
sekum. Panjangnya kira-kira 6 meter, merupakan saluran pencernaan yang
paling Panjang dari tempat proses pencernaan dan absorpsi pencernaan.
Bagian usus halus :
1. Duodenum
Bentuknya melengkung seperti kuku kuda, pada lengkungan ini terdapat
pancreas. Bagian kanan dari duodenum terdapat bagian tempat bermuaranya
saluran empedu (ductus pankreatikus) dan saluran pancreas (ductus
pankreatikus) yang dinamakan papilla vateri. dinding duodenum
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar brunner
yang memproduksi getah intestinum.
2. Jejunum
Panjangnya kira-kira 2-3 meter berkelok-kelok terdapat sebelah kiri atas
dari intestinum minor dengan perantaraan lipatan peritonium, berbentuk
kipas (mesenterium). Pembuluh limfe dan saraf keruang antara lapisan
peritonium yang membentuk mesenterium panampang jejunum lebih lebar,
dindingnya lebih tebal dan banyak mengandung pembuluh darah.
3. Ileum
Ujung batas antara jejunum dan ileum tidak jelas, panjangnya kira-
kira4-5 meter, ileum merupakan usus halus yang terletak sebelah kanan
bawah berhubungan dengan sekum.
Fungsi usus halus :
1) Menyekresikan cairan usus : untuk menyempurnakan pengolahan zat
makanan di usus halus.
2) Menerima cairan empedu dan pancreas melalui ductus khole dukus dan
ductus pankreatikus.
3) Mencerna makanan : getah usus dan pancreas mengandung enzim
pengubah protein menjadi asam amino, karbohidrat menjadi glukosa, lemak
menjadi asam lemak dan gliserol, dengan bantuan garam empedu nutrisi
masuk ke duodenum.
4) Mengabsorpsi air garam dan vitamin, protein dalam bentuk asam amino,
karbohidrat dalam bentuk monoksida.
E. Usus Besar
Usus besar (intestinum mayor) merupakan saluran pencernaan berupa usus
berpenampang luas atau berdiameter besar dengan Panjang kira-kira 1,5-1,7
meter dan penampang 5-5 cm, lanjutan dari usus halus yang tersusun seperti
huruf U terbalik mengelilingi usus halus terbentang dari valvula ilio sekalis
sampai ke anus.
Fungsi usus besar :
1) Menyerap air dan elektrolit, untuk kemudian sisa masa membentuk
massa yang lembek yang disebut feses.
2) Menyimpan bahan feses, sampai saat defekasi, feses ini terdiri sisa
makanan, serat-serat selulosa, sel-selepitel, bahan sisa sekresi (lambung,
kelenjar intestine, hati pancreas ) magnesium fosfat dan Fe.
3) Tempat tinggal bakteri coli, sebagian dari kolon berhubungan dengan
fungsi pencernaan dan sebagian lagi berhubungan dengan penyimpanan.
Untuk kedua fungsi ini tidak diperlukan gerakan yang kuat cukup dengan
penggerakkan lemah.
F. Rektum Dan Anus
Rectum merupakan lanjutan dari kolon sigmoid yang menghubungkan
intestinum mayor dengan anus sepanjang 12 cm, dimulai dari pertengahan
sacrum dan berakhir pada kanalis anus. Rectum terletak dalam rongga
pelvis, didepan ossakrum dan oskoksigis
Rektum terdiri dari dua bagian :
1) Rektum propia : bagian yang melebar disebut ampularekti. Jika
ampularekti terisi makanan akan timbul hasrat defekasi.
2) Pars analisrekti : sebelah bawah ditutupi oleh serat-serat otot polos
(M.sfingter ani eksternus) dan serabut otot lurik (M.sfingter ani eksternus).
Kedua otot ini berperan pada waktu defekasi tunika mukosa rectum banyak
mengandung pembuluh darah. Jaringan mukosa dan jaringan otot
membentuk lipatan disebut kolum narektalis. Bagian bawah kolum
narektalis terdapat pembuluh darah V. Rektalis (V.hemoroidalis superior,
V hemoroidalis inferior). Sering terjadi pelebaran atau varises yang disebut
hemoroid (wasir).
Bagian dari saluran pencernaan dengan dunia luar terletak didasar pelvis
dan dindingnya diperkuat oleh sfingter ani yang terdiri dari :
a) Sfingter ani internus, sebelah dalam bekerja tidak menurut kehendak.
b) Sfingter levator ani, bagian tengah bekerja tidak menurut kehendak
c)Sfingter ani eksternus, sebelah luar bekerja menurut kehendak.
Defekasi adalah hasil refles apabila bahan feses masuk kedalam rectum.
Dinding rectum akan meregang menimbulkan impuls aferens yang
disalurkan melalui pleksus mesen terikus dan menimbulkan gelombang
peristaltik pada kolon desendens. Kolon sigmoid mendorong feses kearah
anus.
3.Etiologi
Menurut wijaya & Putri (2013) etiologi colic abdomen yaitu
1. Inflamasi peritoneum parietal : perforasi peritonitis, opendisitis, diverti
kulitis, pankreanitis, kolesistitis.
2. Kelainan mukosa viseral : tukak peptik, inflamatory bowel disease, kulitis
infeksi, esofagitis.
3. Obstrukti viseral : ileus obstruksi, kolik bilier atau renal karena batu.
4. Regangan kopsula organ : hepatitis kista ovarium, pilelonefritis
5. Gangguan vaskuler : iskemia atau infark intestinal.
6. Gangguan motilitas : irritable bowel syndrome, dispepsia fungsional.
7. Ekstra abdominal : hespes trauma muskuloskeletal, infark miokard dan paru
dan lainnya.
4. Manefestasi klinik
Menurut wijaya & Putri (2013) Adapun tanda dan gejala kolik abdomen dapat
di lihat sebagai berikut :
a. Mekanika sederhana – usus halus atas Nyeri pada abdomen pertengahan
sampai ke atas, distensi, muntah empedu awal, peningkatan bising usus
(bunyi gemerincing bernada tinggi terdengar pada interval singkat), nyeri
tekan difus minimal.
b. Mekanika sederhana – usus halus bawah Nyeri signifikan midabdomen,
distensi berat,muntah – sedikit atau tidak ada – kemudian mempunyai ampas,
bising usus dan bunyi “hush” meningkat, nyeri tekan difus minimal.
c. Mekanika sederhana – kolon Nyeri (abdomen tengah sampai bawah),
distensi yang muncul terakhir, kemudian terjadi muntah (fekulen),
peningkatan bising usus, nyeri tekan difus minimal.
d. Obstruksi mekanik parsial Dapat terjadi bersama granulomatosa usus pada
penyakit Crohn.Gejalanya kram, nyeri abdomen, distensi ringan dan diare.
e. Strangulasi Gejala berkembang dengan cepat; nyeri parah, terus menerus
danterlokalisir; distensi sedang; muntah persisten; biasanya bising usus
menurun dan nyeri tekan terlokalisir hebat. Feses atau vomitus menjadi
berwarna gelap atau berdarah atau mengandung darah samar (Reeves, 2019)
5. Patofisiologi
Akut abdomen terjadi karena nyeri abdomen yang timbul tiba – tiba atau
sudah berlangsung lama. Nyeri yang dirasakan dapat ditentukan atau tidak oleh
pasien tergantung pada nyeri itu sendiri. Nyeri abdomen dapat berasal dari
organ dalam abdomen termasuk nyeri viseral, dari otot, lapisan dari dinding
perut (nyeri somatic). Nyeri viseral biasanya nyeri yang ditimbulkan
terlokalisasi dan berbentuk khas, sehingga nyeri yang berasal dari viseral dan
berlangsung akut biasanya menyebabkan tekanan darah dan denyut jantung
berubah, pucat dan berkeringat dan disertai fenomena viseral yaitu muntah dan
diare. Lokasi dari nyeri abdomen bisa mengarah pada lokasi organ yang
menjadi penyebab nyeri tersebut. Walaupun sebagian nyeri yang dirasakan
merupakan penjalaran dari tempat lain. Oleh karena itu nyeri yang dirasakan
bisa merupakan lokasi dari nyeri tersebut atau sekunder dari tempat lain.
(Wijaya & Putri, 2013)
6.Komplikasi
Menurut wijaya & Putri (2013) komplikasi pada colic abdomen yaitu
1. Usus buntu (peradangan appnedix)
2. Penyumbatan atau obstruksi usus
3. Kolesistitis (radang kandung empedu) dengan atau tanpa batu empedu
4. Sembelit kronis
5. Diseksi Aneurisma Aorta Abdominal
6. Divertikulitis
7. Keracunan makanan (salmonella, shigella) atau virus gastroenteritis (flu
perut)
7. Pemeriksaan penunjang
Menurut Griffiths et al. (2019), pemeriksaan penunjang pada colic
abdominal meliputi :
a.Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah tepi dapat mengetahui berbagai penyakit infeksi atau
perdarahan. Hampir 75% pasien dengan dugaan apendisitis memiliki
leukositosis dan peningkatan C-reactive protein (CRP). Pemeriksaan fungsi hati
perlu dilakukan pada pasien dengan nyeri kuadaran kanan atas abdomen.
Pemeriksaan amilase dan lipase direkomendasikan untuk pasien dengan nyeri
gastrium dengan dugaan pankreatitis akut. Pada pasien wanita usia reproduksi,
pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan untuk mengekslusi kehamilan.
b.Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen sering dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan.
Gambaran free air pada foto polos abdomen posisi tegak dapat mendeteksi
perforasi saluran cerna. Gambaran kalifikasi dapat mengidentifikasi adanya batu
pada salura genitourinaria. Pada pasien-pasien hamil, pemeriksaan foto polos
harus dihindari sehingga pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen atau
transvaginal menjadi pilihan yang tepat. Pemeriksaan USG transvaginal
dilakukan pada kelainan genekologi seperti tumor ovarium, torsio ovarium,
dan abses tubo-ovarium.
c.Pemeriksaan Kolonoskopi
Kolonoskopi adalah pemeriksaan terbaik untuk menetukan sumber perdarahan
sekaligus untuk menyingkirkan penyakit lain seperti keganasan.
Kolonoskopi sebaiknya dilakukan dalam 12 jam setelah perawatan untuk
mendapatkan diagnosis dan data laksana yang optimal
8. Penatalaksanaan
Menurut Glory (2014) penatalaksanaan pada colic badomen yaitu:
a. Koreksi ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
b. implementasikan pengobatannya untuk syok dan peritonitis
c. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defesiensi protein karena obstruksi kronik,
ileus paralitik atau infeksi
d. Reseksi dengan anastomosis dari ujung ke ujung
e. Ostomi barrel ganda jika anastomisis dari ujung ke ujung terlalu beresiko
f. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi
usus yang di lakukan sebagai prosedur kedua.
Sedangkan penatalaksanaan secara farmakologi yaitu :
a) Terapi Na + K + komponen darah
b) Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan
c) Dekstrose dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler
d) Dekompresi selang nasoenternal yamg panjang dari proksimal usus ke area
penyumbatan selang dapat dimasukkan sengan lenih efektif dengan pasien
berbaring miring ke kanan
e) Antasid ( obat yang melawan keasaman )
Konsep Asuhan keperawatan
Pengkajian
Proses keperawatan adalah penerapan pemecahan masalah
keperawatan secara ilmiah yang digunakan untuk mengidentifikasi
masalah- masalah pasien, merencanakan secara sistematis dan
melaksanakannya serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang
telah dilaksanakan (Nurarif, 2015)
1. Pengkajian
a. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab) Nama, umur, jenis
kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua,
dan pekerjaan orang tua.
b. Keluhan utama Keluhan yang dirasakan klien sebelum MRS dan saat
MRS. Biasanya klien mengeluh nyeri perut, defans muskular, muntah
dan lain-lain.
c. Riwayat kesehatan
-Riwayat kesehatan sekarang
Bagaimana serangan itu timbul, lokasi, kualitas, dan faktor yang
mempengaruhi dan memperberat keluhan sehingga dibawa ke Rumah
Sakit.
Riwayat kesehatan dahulu
Mengkaji apakah klien pernah sakit seperti yang dirasakan sekarang
dan apakah pernah menderita HT atau penyakit keturunan lainnya
yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan klien.
- Riwayat kesehatan keluarga
Gambaran mengenai kesehatan keluarga dan adakah penyakit
keturunan atau menular.
d. Pemeriksaan Fisik
1. Nyeri dan kenyamanan
Gejala : Nyeri pada daerah abdomen atau di tekan
Tanda : Wajah meringis, respon menarik pada rangsangan nyeri yang
hebat, gelisah, tidak bisa tidur.
2. Aktivitas dan istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak tidur
semalaman karena diare, merasa gelisah dan ansietas,pembatasan
aktivitas/kerja sehubungan dengan efek proses penyakit.
Tanda : perubahan kesadaran, penurunan kekuatan tahana keterbatasan
rentang gerak, perubahan aktifitas
3. Integritas ego
Tanda : gelisah, penyempitan continue perhatian, tangisan meledak, otot
muka tegang, peningkatan pola bicara.
Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas,
4. Sistem pengelihatan
Tanda : Ikterik, Jaundice
Gejala : pengelihatan normal
5. Sistem penciuman
Tanda : tidak ada pembengkakan, kebersihan bersih
Gejala : fungsi penciuman baik
6. Sistem Respirasi
Tanda : dada ka/ki terlihat simetris, pergerakan otot dada (-)
Gejala : Tidak ada pembesaran abnormal, iktus kordis teraba.
7. Sistem Kardiovaskuler
Tanda : keadaan umum terlihat baik
Gejala: Tidak ada pelebaran pembuluh darah dan pembesaran jantung.
8. Sistem Gastrointestinal
Gejala : Tidak nafsu makan, porsi makan tidak habis, mual muntah
Tanda : Membran mukosa kering, perut terlihat membuncit karena
terdapat asites. terdapat nyeri tekan pada perut kuadran kanan atas
9. Sistem eliminasi
Tanda : Tekstur feses bervariasi dari bentuk sampai bau dan berair.
Episode diare berdarah tak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering tak
dapat dikontrol ( sebanyak 20-30 kali defekasi/hari ); perasaan
dorong/kram ( tenesmus ); defekasi berperdarahan per rektal.
Gejala : Menurunnya bising usus, tidak adanya peristaltik ataw adanya
peristaltuk yang dapat dilihat.
10. Sistem Reproduksi
Tanda : payudara simetris, tidak ada riwayat kista
Gejala : tidak ada gangguan pada reproduksi
11. Sistem Neurologi
Gejala : Biasanya pada diperiksa tingkat kesadaran, bila pada ensefalopati
hepatikum akan terjadi penururnan kesadaran
Tanda : Sangat sensitif terhadap sentuhan
12. Sistem Muskuloskletal
Tanda : takut gerak, ROM baik, Kekuatan otot lemah
Gejala : keseimbangan dalam berjalan baik, aktifitas lemah
13. Sistem Integumen
Tanda : Teraba hangat, integeritas kulit merunun
Gejala : mukosa bibir kering
2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri Akut berhubungan b.d agent cedera biologis
2) Defisit Nutrisi dengan gangguan absorbsi nutrisi dan gangguan
hipermetabolik ditandai dengan penurunan berat badan, anoreksia, mual
muntah
3) Hipovolemia berhubungan dengan kurangnya intake cairan dalam tubuh
ditandai dengan mukosa bibir kering, turgor kulit jelek
4) Intoleran aktivitas b.d kelemahan ditandai dengan kelelahan, malaise,
cepat lelah,
5) Ansietas berhubungan dengan ancaman konsep diri dan perubahan status
kesehatan ditandai dengan wajah tampak tegang, dan ketakutan
3. Intervensi Keperawatan
Berdasarkan SDKI & SLKI rencana keperawatan pada pasien
tyapoid yaitu pada tabel dibawah ini
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi SIKI
Keperawatan Hasil (SLKI)
1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan Manajemen nyeri
cidera fisiologis tindakan keparawatan Tindakan
3x 24 jam diharapakan Observasi
nyeri akut Membaik - lokasi, karakteristik, durasi,
dengan kriteria hasil : frekuensi, kualitas, intensitas
- Frekuensi nadi nyeri
- Pola napas - Identifikasi skala nyeri
- Keluhan nyeri - Identifikasi respon nyeri non
- Meringis verbal
- Gelisah - Identifikasi faktor yang
memperberat dan
memperingan nyer
- Identifikasi pengetahuan dan
keyakinan tentang nyeri
- Identifikasi pengaruh budaya
terhadap respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri
pada kualitas hidup
- Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
- Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis, akupresur,
terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aroma terapi,
teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
- Control lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis.
Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
- Fasilitasi istirahat dan tidur
- Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan
nyeri
- Anjurkan memonitor nyri
secara mandiri
- Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
- Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2. Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
dengan gangguan tindakan keperawatan Tindakan
absorbsi nutrisi dan selama 1x24 jam Defisit Observasi
gangguan nutrisi Membaik- Identifikasi status nutrisi
hipermetabolik dengan Kriteria Hasil: - Identifikasi alergi dan
ditandai dengan - Porsi makan yang intoleransi makanan
penurunan berat dihabiskan - Identifikasi makanan yang
badan, anoreksia, - Kekuatan otot disukai
mual muntah penguyah - Identifikasi kebutuhan kalori
- Kekuatan otot dan jenis nutrient
menelan - Identifikasi perlunya
- Serum albumin penggunaan selang
- Verbalisasi keinginan nasogastrik
untuk menigkatkan- Monitor asupan makanan
nutrisi - Monitor berat badan
- Pengetahuan tentang- Monitor hasil pemeriksaan
pilihan makan yang laboratorium
sehat
- Pengetahuan tentang
standar asupan nutrisTerapeutik
yang tepat - Lakukan oral hygiene sebelum
- Penyiapan dan makan, jika perlu
penyimpanan - Fasilitasi menentukan
makanan pedoman diet (mis. Piramida
- Sikap terhadap makanan)
makanan/minuman - Sajikan makanan secara
sesuai dengan tujuan menarik dan suhu yang
Kesehatan sesuais
- Perasaan cepat- Berikan makan tinggi serat
kenyang untuk mencegah konstipasi
- Nyeri abdomen - Berikan makanan tinggi kalori
- Sariawan dan tinggi protein
- Rambut rontok - Berikan suplemen makanan,
- Diaere jika perlu
- Berat badan atau- Hentikan pemberian makan
IMT melalui selang nasigastrik jika
- Nafsu makan asupan oral dapat ditoleransi
- Bising usus
- Tebali lipatan kulitEdukasi
trisep - Anjurkan posisi duduk, jika
- Membrane mukosa mampu
- Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
(mis. Pereda nyeri,
antiemetik), jika perlu
- Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutrient yang
dibutuhkan
3. Hipovolemia Setelah dilakukan MANAJEMEN CAIRAN
berhubungan tindakan keperawatan Tindakan
dengan kurangnya selama 1x24 jam Observasi
intake cairan dalam Hipovelemi Membaik Asupan cairan
tubuh ditandai dengan Kriteria Hasil : - Monitor status hidrasi ( mis,
dengan mukosa - Status Cairan frek nadi, kekuatan nadi, akral,
bibir kering, turgor - Intergeritas kulit pengisian kapiler, kelembapan
kulit jelek dan jaringan mukosa, turgor kulit, tekanan
- Keseimbangan asam darah)
basa - Monitor berat badan harian
- Keseimbangan - Monitor hasil pemeriksaan
cairan laboratorium (mis. Hematokrit,
- Penyembuhan luka Na, K, Cl, berat jenis urin ,
- Perfusi perifer BUN)
- Status nutrisi - Monitor status hemodinamik
- Termoregulasi ( Mis. MAP, CVP, PCWP jika
- Tingkat pendarahan tersedia)
Terapeutik
- Catat intake output dan hitung
balans cairan dalam 24 jam
- Berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan
- Berikan cairan intravena bila
perlu
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
diuretik, jika perlu
4. Intoleran aktivitas Setelah dilakukanManajemen Energi
b.d kelemahan tindakan keperawatanTindakan
ditandai dengan selama 1x24 jamObservasi
kelelahan, malaise, toleransi aktivita- Identifkasi gangguan fungsi
cepat lelah, Meningkat dengan tubuh yang mengakibatkan
Kriteria Hasil: kelelahan
Frekuensi nadi - Monitor kelelahan fisik dan
- Saturasi oksigen emosional
- Kemudahan - Monitor pola dan jam tidur
melakukan aktivitas- Monitor lokasi dan
sehari-hari - ketidaknyamanan selama
- Kecepatan berjalan melakukan aktivitas
- Jarak berjalan Terapeutik
- Kekuatan tubuh- Sediakan lingkungan nyaman
bagian atas dan bawah dan rendah stimulus (mis.
- Toleransi dalam Cahaya, suara, kunjungan)
menaiki tangga - Lakukan rentang gerak pasif
- Keluhan lelah dan/atau aktif
- Dispnea saat aktivitas - Berikan aktivitas distraksi
- Perasaan lemah yang menyenangkan
- Aritmia saat aktivitas - Fasilitas duduk di sisi tempat
- Aritmia stelah tidur, jika tidak dapat
aktivitas berpindah atau berjalan
- Sianosis Edukasi
- Warna kulit - Anjurkan tirah baring
- Tekanan - Anjurkan melakukan
darah aktivitas secara bertahap
- Frekuensi napas - Anjurkan menghubungi
- EKG Iskemia perawat jika tanda dan gejala
kelelahan tidak berkurang
- Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan
Terapi Aktivitas
Tindakan
Observasi
- Identifikasi deficit tingkat
aktivitas
- Identifikasi kemampuan
berpartisipasi dalam aktivitas
tertentu
- Identifikasi sumber daya
untuk aktivitas yang
diinginkan
- Identifikasi strategi
meningkatkan partisipasi
dalam aktivitas
- Identifikasi makna aktivitas
rutin (mis. Bekerja) dan
waktu luang
- Monitor respon emosional,
fisik, social, dan spiritual
terhadap aktivitas
Terapeutik
- Fasilitasi focus pada
kemampuan, bukan deficit
yang dialami
- Sepakati komitmen untuk
meningkatkan frekuensi
danrentang aktivitas
- Fasilitasi memilih aktivitas
dan tetapkan tujuan aktivitas
yang konsisten sesuai
kemampuan fisik, psikologis,
dan social
- Koordinasikan pemilihan
aktivitas sesuai usia
- Fasilitasi makna aktivitas
yang dipilih
- Fasilitasi transportasi untuk
menghadiri aktivitas, jika
sesuai
- Fasilitasi pasien dan keluarga
dalam menyesuaikan
lingkungan untuk
mengakomodasikan aktivitas
yang dipilih
- Fasilitasi aktivitas fisik rutin
(mis. Ambulansi, mobilisasi,
dan perawatan diri), sesuai
kebutuhan
- Fasilitasi aktivitas pengganti
saat mengalami keterbatasan
waktu, energy, atau gerak
- Fasilitasi akvitas motorik
kasar untuk pasien hiperaktif
- Tingkatkan aktivitas fisik
untuk memelihara berat
badan, jika sesuai
- Fasilitasi aktivitas motorik
untuk merelaksasi otot
- Fasilitasi aktivitas dengan
komponen memori implicit
dan emosional (mis. Kegitan
keagamaan khusu) untuk
pasien dimensia, jika sesaui
- Libatkan dalam permaianan
kelompok yang tidak
kompetitif, terstruktur, dan
aktif
- Tingkatkan keterlibatan
dalam aktivotasrekreasi dan
diversifikasi untuk
menurunkan kecemasan
5. Ansietas Setelah dilakukan Terapi Relaksasi
berhubungan tindakan keperawatan Observasi
dengan ancaman selama 1x24 jam 1.Identifikasi penurunan tingkat
konsep diri dan Ansietas menurun energy, ketidakmampuan
perubahan status dengan Kriteria Hasil: berkonsentrasi, atau gejala lain
kesehatan ditandai Frekuensi nadi mengganggu kemampuan
dengan wajah - Verbalisasi kognitif
tampak tegang, dan kebingungan 2. Identifikasi teknik relaksasi
ketakutan menurun yang pernah efektif digunakan
- Verbalisasi 3. Identifikasi kesediaan,
khawatir akibat kemampuan, dan penggunaan
kondisi yang teknik sebelumnya
dihadapi menurun 4. Periksa ketegangan otot,
- Perilaku gelisah frekkuensi nadi, tekanan darah,
menurun dan suhu sebelum dan sesudah
- Perilaku tegang latihan
menurun 5. Monitor respons terhadap
- Keluhan pusing terapi relaksasi
menurun Terapeutik
- Anoreksia menurun 1. Ciptakan lingkungan tenang
- Palpitasi menurun dan tanpa gangguan dengan
- Diaforesis menurun pencahayaan dan suhu ruang
- Tremor menurun nyaman, jika memungkinkan
- Pucat menurun 2. Berikan informasi tertulis
- Konsentrasi tentang persiapan dan prosedur
membaik teknik relaksasi
- Pola tidur membaik 3. Gunakan pakaian longgar
- Frekuensi 4. Gunakan nada suara lembut
pernapasan dengan irama lambat dan
membaik berirama
- Frekeunsi nadi 5. Gunakan relaksasi sebagai
membaik strategi penunjang dengan
- Tekanan darah analgetik atau tindakan medis
membaik lain, jika sesuai
- Kontak mata Edukasi
membaik 1. Jelaskan tujuan, manfaat,
- Pola berkemih batasan
membaik dan jenis relaksasi yang tersedia
- Orientasi membai (mis, music, meditasi, napas
dalam, relaksasi otot progresif)
2. Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang dipilih
3. Anjurkan mengambil posisi
nyaman
4. Anjurkan sering mengulangi
atau melatih teknik yang dipilih
5. Demonstrasikan dan latih
teknik relaksasi (mis, napas
dalam, peregangan, atau
imajinasi terbimbing)
DAFTAR PUSTAKA
Al-masawabe, & Abu-naser (2021). Expert System for Short-term Abdominal
Pain ( Stomach Pain ) Diagnosis and Treatment. 5(5), 37–56.
Gilroy, John. 2014. Basic Neurology. Singapore: McGraw Hill Inc
Griffiths, M., Makmun, D., & Pribadi, R. (2019). Crash Course Sistem
Gastrointestinal, Hepatobilier dan Pankreas- 1st Indonesian Edition (D.
Makmun & R. Pribadi (eds.); 1st ed.). Elseiver Health Scienes.
Maryana, D. (2021). Asuhan Keperawatan Pasien Abdominal Pain Dengan Kolik
Abdomen Dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Dan Nyaman.
47(4), 124–134. https://doi.org/10.31857/s013116462104007x
Nurarif, A.H., Kusuma, H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnose Medis Dan Nanda ( North American Nursing Diagnosis
Association) NIC-NOC, Jilid 1. Medi Action: Jogjakart
Syaifuddin. 2015. Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Komptensi. Jakarta :
EGC
TIM POKJA SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (edisi
1). Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
TIM POKJA SIKI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi
dan Tindakan Keperawatan (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
TIM POKJA SLKI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi
dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Wijaya, Andra Saferi & Putri, Yessie Mariza. 2013. Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta : Nuha Medika.