0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan4 halaman

Hukum Pidana

materil and formil

Diunggah oleh

emirfaizal8
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan4 halaman

Hukum Pidana

materil and formil

Diunggah oleh

emirfaizal8
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUKUM PIDANA.

Hukum yang mengatur tentang kaidah dalam beracara di seluruh proses peradilan pidana,
sejak tingkat penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di depan persidangan,
pengambilan keputusan oleh pengadilan, upaya hukum dan pelaksanaan penetapan atau
putusan pengadilan di dalam upaya mencari dan menemukan kebenaran materiil.
MATERIL DAN FORMIL.
Dalam konteks hukum acara pidana, hukum materil dan hukum formil merupakan dua
komponen penting yang saling melengkapi dalam sistem peradilan pidana. Hukum materil
adalah kumpulan aturan yang mengatur tentang perbuatan apa saja yang dianggap sebagai
tindak pidana serta sanksi apa yang dikenakan kepada pelaku. Dengan kata lain, hukum
materil menetapkan "apa" yang dilarang dan "bagaimana" pelakunya dihukum. Contohnya
bisa ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang menjelaskan
tentang jenis-jenis kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, atau penggelapan.
Sementara itu, hukum formil (atau disebut juga hukum acara pidana) adalah aturan yang
mengatur tentang cara menegakkan hukum materil. Artinya, hukum formil mengatur
prosedur-prosedur seperti bagaimana penyelidikan dilakukan, bagaimana penangkapan dan
penahanan dilaksanakan, proses persidangan, pembuktian, hingga bagaimana putusan
dijalankan. Hukum ini tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP). Jadi, meskipun seseorang sudah terbukti melakukan tindak pidana menurut
hukum materil, proses penindakannya harus tetap mengikuti prosedur yang diatur oleh
hukum formil.
Hubungan antara keduanya tidak bisa dipisahkan—ibarat isi dan wadah. Hukum materil
memberikan dasar tentang apa yang harus ditegakkan, sedangkan hukum formil memberi
jalur dan mekanisme untuk menegakkannya secara sah dan adil. Tanpa hukum formil,
penegakan hukum materil bisa menjadi sewenang-wenang. Sebaliknya, tanpa hukum materil,
hukum formil tidak punya objek untuk ditegakkan. Maka, pemahaman terhadap kedua jenis
hukum ini sangat penting dalam menjalankan sistem peradilan pidana yang benar dan
berkeadilan.
PENYELIDIK DAN PENYIDIK.
penyidik dan penyelidik adalah dua peran yang berbeda dalam proses penegakan hukum
pidana, meskipun keduanya sama-sama bagian dari aparat penegak hukum dan memiliki
kaitan erat dalam tahap awal penanganan perkara pidana. Perbedaan utama terletak pada
tugas dan kewenangan masing-masing, sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Penyelidik adalah pejabat kepolisian yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk
melakukan serangkaian tindakan guna mencari dan menemukan suatu peristiwa yang
diduga sebagai tindak pidana, untuk menentukan apakah peristiwa tersebut bisa dilanjutkan
ke tahap penyidikan atau tidak. Jadi, tugas penyelidik adalah bekerja pada tahap paling awal
dari proses penegakan hukum. Mereka mengumpulkan informasi awal, menerima laporan
masyarakat, dan mengamati indikasi adanya dugaan tindak pidana. Hasil dari penyelidikan
ini akan menentukan apakah kasus tersebut naik ke tahap penyidikan.
Sementara itu, penyidik adalah pejabat polisi (atau dalam beberapa kasus, pejabat dari
instansi lain yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang) yang bertugas melakukan
penyidikan, yaitu serangkaian tindakan untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang sah
guna membuat terang suatu tindak pidana dan menemukan tersangkanya. Penyidik memiliki
kewenangan lebih luas daripada penyelidik, seperti melakukan pemeriksaan saksi dan
tersangka, melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan. Dengan kata
lain, penyidik menangani perkara setelah diyakini ada dugaan kuat telah terjadi tindak pidana.
Jadi, perbedaan mendasar antara penyelidik dan penyidik adalah tingkat kewenangan dan
tahapan dalam proses hukum. Penyelidik bekerja untuk menemukan peristiwa pidana,
sedangkan penyidik bekerja untuk membuktikan dan memproses hukum terhadap pelaku
tindak pidana. Keduanya punya peran penting dalam menjamin bahwa proses penegakan
hukum berjalan sesuai prosedur dan tidak melanggar hak asasi siapa pun.
ASAS.
Asas legalitas
Asas difrensiasi fungsional
Asas lex scripta
Asas stricta
Beberapa Asas dalam Hukum Acara Pidana.
1) Asas Legalitas dalam Upaya Paksa (perintah tertulis dari
yang berwenang).
2) Asas Legal Assistance (tersangka dan terdakwa berhak
mendapat bantuan hukum).
3) Asas Pemeriksaan Hakim yang Langsung dan Lisan.
4) Asas Praduga Tidak Bersalah (Presumption of innocence).
5) Asas Remedy and Rehabilitation (pemberian ganti rugi dan
rehabilitasi atas salah tangkap, salah tahan dan salah tuntut).
6) Asas Fair, Impartial, Impersonal, and Objective (peradilan
yang cepat, sederhana, dan biaya ringan, serta bebas, jujur,
dan tidak memihak).
7) Asas Keterbukaan (sidang/pemeriksaan pengadilan terbuka
untuk umum).
8) Asas Pengawasan.
9) Asas equality before the law/asas Isonamia/asas persamaan di
muka hukum.
10) Asas Presentasi (hadirnya terdakwa).
11) Asas “Miranda Rule”.
12) Asas Oportunitas.
13) Asas Akusator dan Inkisitor (Accusator dan Inquisitoir).
Asas Legalitas dan Due Process of Law.
Hukum acara pidana Indonesia berpijak pada asas legalitas, yaitu bahwa setiap
tindakan dalam proses pidana harus didasarkan pada undang-undang. Ini berarti
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan hanya bisa dilakukan apabila
diatur oleh hukum yang berlaku, serta tidak bisa dilakukan secara sewenang-wenang.
Bersamaan dengan asas legalitas adalah asas due process of law yang mengutamakan proses
hukum yang adil dan sesuai prosedur, memastikan setiap individu memiliki hak atas
pembelaan diri, praduga tak bersalah, dan proses peradilan yang transparan.
2. sinkronisasi substansial (substantial syncronization) yaitu keserempakan
dan keselarasan yang bersifat vertikal dan horizontal dalam kaitannya
dengan hukum positif.
3. sinkronisasi kultural (cultural syncronization) yaitu keserempakan dan
keselarasan dalam menghayati pandangan-pandangan, sikap-sikap, dan
falsafah yang secara menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan
pidana.

1. Tersangka atau Terdakwa Pengertian dari tersangka tertuang dalam Pasal 1


angka 14 KUHAP yang berbunyi.
“Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaaannya, berdasarkan
bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana”. Sedangkan pengertian
terdakwa tertuang dalam Pasal 1 angka 15 KUHAP yang berbunyi “Terdakwa adalah
seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan”.

1) Sub sistem yang ada dalam sistem peradilan Indonesia yang diatur dalam
KUHAP adalah Kepolisian, Advokat, Kejaksaan, dan Hakim.
Tertangkap Tangan.

Menurut KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). adalah kondisi di mana
seseorang yang diduga melakukan tindak pidana tertangkap saat sedang melakukan tindak
pidana atau sesaat setelahnya. Pasal 1 angka 19 KUHAP menjelaskan bahwa seseorang dapat
dikatakan tertangkap tangan jika ia sedang melakukan tindak pidana, tertangkap sesaat
setelah tindak pidana dilakukan, atau ditemukan dengan barang bukti yang menunjukkan ia
pelaku tindak pidana tersebut.

Status tertangkap tangan sangat penting dalam proses penyidikan karena memberikan
kewenangan yang lebih luas kepada penyidik dalam melakukan pemeriksaan dan tindakan
lebih lanjut. Dalam kasus tertangkap tangan, pembuktian menjadi lebih mudah karena
tindak pidana tersebut baru saja terjadi, sehingga barang bukti dan saksi yang ada masih
segar. Selain itu, proses penyidikan dalam kasus ini dapat dilakukan lebih cepat, dengan
beberapa kelonggaran terkait hak asasi manusia, mengingat bahwa tindak pidana baru saja
terjadi dan keadaan masih dapat dikenali dengan jelas.

Anda mungkin juga menyukai