0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan24 halaman

Bab III Fauzan Revisi 1

Dokumen ini membahas perspektif hukum adat Jawa dan hukum Islam terhadap praktik jual beli padi sistem tebasan. Jual beli ini dianggap sah dalam hukum adat selama memenuhi syarat dan kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat, serta tidak melanggar prinsip-prinsip syariah dalam Islam yang mengharuskan transaksi dilakukan dengan keridhaan dan tanpa unsur riba. Praktik ini melibatkan akad lisan dan dilakukan di lahan sawah sebelum panen, dengan penekanan pada pentingnya transparansi dan kejelasan objek jual beli.

Diunggah oleh

AndikWahyudi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan24 halaman

Bab III Fauzan Revisi 1

Dokumen ini membahas perspektif hukum adat Jawa dan hukum Islam terhadap praktik jual beli padi sistem tebasan. Jual beli ini dianggap sah dalam hukum adat selama memenuhi syarat dan kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat, serta tidak melanggar prinsip-prinsip syariah dalam Islam yang mengharuskan transaksi dilakukan dengan keridhaan dan tanpa unsur riba. Praktik ini melibatkan akad lisan dan dilakukan di lahan sawah sebelum panen, dengan penekanan pada pentingnya transparansi dan kejelasan objek jual beli.

Diunggah oleh

AndikWahyudi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perspektif Hukum Adat Jawa dan Hukum Islam Terhadap Praktik Jual

Beli Padi Sistem Tebasan

1. Perspektif Hukum Adat Jawa Terhadap Praktik Jual Beli Padi

Sistem Tebasan

Adah atau adat ini dalam bahasa Arab disebut dengan

arti‚ kebiasaan yang perilaku masyarakat yang selalu terjadi. Jadi‚ hukum

adat itu adalah hukum kebiasaan. Definisi dari hukum adat menurut Prof.

H. Hilman Hadikusuma adalah aturan kebiasaan manusia dalam hidup

bermasyarakat. Kehidupan manusia berawal dari berkeluarga dan mereka

telah mengatur dirinya dan anggotanya menurut kebiasaan, dan kebiasaan

itu akan dibawa dalam bermasyarakat dan negara.29

Hukum adat yang merupakan hukum tradisional masyarakat atau

bangsa Indonesia adalah perwujudan dari suatu kebutuhan hidup yang

nyata serta merupakan cara dan pandangan hidup yang secara

keseluruhannya merupakan kultur budaya masyarakat tempat hukum adat

berlaku. Menurut Djojodigoeno, hukum adat tidak mengenal perbedaan

yang tajam antara orang yang sama sekali tidak cakap melakukan

perbuatan dan cakap melakukan perbuatan hukum. peralihan dari tidak

cakap menjadi cakap dalam kenyataannya berlangsung sedikit demi sedikit

menurut keadaan. Pada umumnya menurut adat Jawa, seseorang


29
Rosdalina, 2017, Hukum Adat, Deepublish, Yogyakarta, hal. 33.

32
33

dinyatakan cakap penuh melakukan perbuatan hukum apabila sudah hidup

mandiri dan berkeluarga sendiri. Sebaliknya, tidak dapat dikatakan bahwa

seseorang yang belum sampai pada keadaan yang demikian itu tentu sama

sekali belum cakap melakukan hukum.30

Mereka beralih bahwa dilakukannya cara jual beli tersebut adalah

atas dasar tolong menolong dan saling menguntungkan. Diberlakukannya

cara jual beli seperti ini karena kebanyakan mereka cenderung merasa

lebih nyaman melakukan transaksi jual beli tersebut dari pada harus

meminjam uang kepada tetangga atau teman. Tradisi dalam bahasa latin

adalah traditio yang artinya diteruskan, menurut bahasa Indonesia adalah

sesuatu kebiasaan yang berkembang di masyarakat baik yang menjadi adat

kebiasaan, atau yang diasumsikan dengan ritual adat atau agama. Atau

dalam pengertian yang lain, sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama

dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya

dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Biasanya

tradisi ini berlaku secara turun temurun baik melalui informasi lisan

berupa cerita, atau informasi tulisan berupa kitab-kitab kuno atau juga

yang terdapat pada catatan prasasti-prasasti.

Tradisi merupakan sebuah persoalan yang bagaimana tradisi

tersebut terbentuk. Menurut Funk dan Wagnalls seperti yang dikutip oleh

muhaimin tentang istilah tradisi dimaknai sebagai pengetahuan, doktrin,

kebiasaan, praktek dan lain-lain yang dipahami sebagai pengetahuan yang

telah diwariskan secara turun-temurun termasuk cara penyampaian doktrin


30
Ibid.
34

dan praktek tersebut. Muhaimin mengatakan bahwa tradisi terkadang di

samakan dengan kata-kata adat yang dalam pandangan masyarakat awam

dipahami sebagai struktur yang sama.31

Jual beli merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Jual

beli jika ditinjau dari hukum adat merupakan kegiatan yang dibolehkan

selagi tidak keluar dari syarat dan hukum atau kebiasaan yang berlaku di

masyarakat setempat. Adapun jual beli yang sah menurut hukum adat

adalah sebagai berikut:

a. Pihak-pihak

Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian jual beli terdiri atas

penjual, pembeli dan pihak lain yang terlibat dalam perjanjian

tersebut. Pihak-pihak yang terkait pada perjanjian dalam penelitian ini

adalah petani dan penebas padi.

b. Objek

Objek yang terdiri atas benda yang berwujud maupun yang

tidak berwujud, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang

terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Objek dalam penelitian ini

adalah padi yang masih berada di sawah.

31
Erwin Owan Hermansyah Soetoto, 2021, Buku Ajar Hukum Adat, Madza Media, Malang,
hal. 134.
35

c. Kesepakatan

Dalam jual beli mengandung kesepakatan yang dibuat oleh

pihak-pihak yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

1) Kesepakatan dapat dilakukan dengan tulisan, lisan dan isyarat.

2) Kesepakatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan

harapan masing-masing pihak.

3) Ketika terjadi perubahan akad jual beli akibat perubahan harga,

maka akad terakhir yang dinyatakan berlaku.

Sedangkan dalam penelitian ini, kedua pihak hanya

menggunakan akad lisan, yaitu kesepakatan antara pihak petani dan

penebas padi. Menurut hasil penelitian tidak ada satupun petani

maupun penebas yang menggunakan akad tertulis.

d. Tempat dan syarat pelaksanaan

Syarat objek yang dijualbelikan menurut hukum adat, yaitu:

1) Barang yang dijualbelikan harus ada. Dalam penelitian ini barang

yang digunakan adalah padi.

2) Barang yang dijualbelikan harus dapat diserahkan. Padi yang

menjadi objek dalam penelitian ini dapat diserahkan.

3) Barang yang dijualbelikan harus berupa barang yang memiliki

nilai atau harga tertentu. Padi dalam jual beli merupakan barang

atau objek yang memiliki harga dan nilai tertentu.

4) Barang yang diperjualbelikan harus halal.

5) Barang yang diperjualbelikan harus diketahui oleh pembeli.


36

6) Sifat barang yang dapat diketahui secara langsung oleh pembeli

tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut

7) Barang yang dijualbelikan harus ditentukan secara pasti pada

waktu akad.

e. Syarat akad antara lain:

1) Masing-masing dari keduanya bersambung dengan yang lain

dalam satu majelis tanpa ada pemisah yang rusak diantara

keduanya.

2) Akad menggunakan ucapan atau perkataan dari penjual yang

hendak menjual padi dan perkataan dari pembeli yang hendak

membelinya.32

Sebagai suatu perjanjian harus dilafadzkan, artinya secara lisan

atau tulisan disampaikan kepada pihak lain. Dengan kata lain, lafadz

adalah ungkapan yang diucapkan oleh orang-orang yang melakukan akad

untuk menunjukkan keinginannya yang mengesankan bahwa akad itu

sudah berlangsung. seperti yang dilakukan oleh para penjual dan pembeli.

Jual beli sistem tebasan tidak melakukan akad secara tertulis. Akad oleh

kedua belah pihak pada praktik sistem tebas jual beli padi yang umum

dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur dilakukan secara lisan sehingga

tidak ada bukti hitam di atas putih (surat perjanjian).

32
Ibid.
37

2. Perspektif Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Padi Sistem

Tebasan

Manusia merupakan mahluk sosial yang hidup berdampingan

dengan sesama, yang membutuhkan bantuan antar manusia untuk

memenuhi kebutuhan hidup dalam bermasyarakat. Dalam hal seperti ini

dapat diartikan ada keterkaitan antara individu satu dengan yang lain, baik

didasari ataupun tidak didasari mereka bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya

dengan cara ber-muamalah seperti yang dilakukan masyarakat petani,

yaitu jual beli padi hasil pertanian sawah.

Jual beli merupakan kegiatan yang dilakukan manusia dalam

rangka tolong-menolong untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang

beraneka ragam. Jual beli dalam bahasa arab al-bai yang artinya menjual,

menukar atau mengganti sesuatu dengan yang lain. Pada dasarnya jual beli

merupakan suatu perjanjian tukar menukar barang atau benda yang

mempunyai manfaat yang didasari suka sama suka dan tidak ada unsur

paksaan diantara keduanya.

Islam telah mengatur hal-hal yang berkaitan dengan jual beli,

dalam Islam jual beli harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan

harus sesuai dengan hukum syara’ yang berlaku. Al-quran telah mengatur

yang berkaitan dengan jual beli, bahwasannya dalam jual beli harus

menghindari riba, gharar, dan penipuan, seperti halnya yang diatur dalam

firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 275 seperti berikut.


38

Artinya: “Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri


melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan
lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang
yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya
(terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba),
Maka, orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya.” (Q.S. Al Baqarah : 275)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah menghalalkan jual beli

dan mengharamkan adanya riba. Jual beli dengan sistem tebasan

merupakan jual beli yang sah karena dalam jual beli ini tidak adanya riba.

Pada ayat lain Allah juga menerangkan bahwa dalam jual beli harus

didasarkan suka sama suka dan melarang transaksi dengan cara yang batil.

Hal ini seperti dalam QS An-Nisa Ayat 29 yang berbunyi:


39

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling


memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka
di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu;
Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(Q.S. An-Nisa : 29)

Ayat di atas menjelaskan bahwa praktik jual beli hendaknya

didasari adanya keridhaan antara pelaku jual beli itu sendiri. Karena

apabila hilangnya unsur keridhaan dalam praktik jual beli, maka hal

tersebut menyebabkan timbulnya kebatilan dalam transaksi tersebut.

Menurut ayat tersebut, jika dihubungkan dengan jual beli padi dengan

sistem tebasan yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di

tanah Jawa, bahwa dalam praktiknya mereka yang berakad sudah

menunjukan adanya kerelaan. Kerelaan tersebut dapat dilihat dari kedua

belah pihak yang melakukan ijab dan qabul, namun sikap kerelaan setiap

orang tidak bisa dilihat secara langsung karena unsur kerelaan setiap

seseorang itu berasal dari hatinya. Adanya ijab dan qabul menunjukan

bahwa pemilik sawah dan penebas sudah saling rela dan ridho atas

terjadinya akad tersebut.

Selain peraturan di atas, Islam mengatur jual beli dan berkewajiban

memenuhi rukun dan syarat yang ada. Memenuhi rukun dan syarat

merupakan hal yang wajib untuk setiap orang yang melakukan transaksi.

Apabila dalam jual beli salah satu rukun atau syarat tidak terpenuhi, maka

jual beli tersebut dianggap batal. Jual beli padi menggunakan sistem

tebasan merupakan sebuah praktik atau proses jual beli menggunakan

sistem borongan tanpa ditimbang dan dihitung dahulu, sehingga dalam


40

prosesnya kesepakatan harga yang ada bersumber dari adanya perkiraan

saja, tanpa ada kepastian berat padi tersebut. Berapapun hasilnya setelah

dipanen nanti tidak akan mempengaruhi harga yang akan dibayarkan,

karena harga sudah disepakati diawal perjanjian.

Dilihat dari prosesnya jual beli seperti ini mirip dengan jual beli

sistem jizaf dimana istilah tersebut berasal dari bahasa Persia yang

diarabkan, yang memiliki makna jual beli suatu barang tanpa harus

ditimbang,ditakar, maupun dihitung. Kemudian dalam terminologi ilmu

fiqh, yaitu menjual barang yang dapat ditakar, ditimbang dan dihitung

secara dikira-kira tanpa harus ditakar, ditimbang dan dihitung lagi. Salah

satu syarat sahnya jual beli adalah objek jual beli itu harus diketahui, maka

materi objek, ukuran dan kriteria harus diketahui, sementara dalam akad

jual beli spekulatif ini tidak ada pengetahuan tentang besaran ukurannya.33

Jual beli merupakan imlementasi dari muamalah dalam hukum

Islam dimana dalam proses jual beli melibatkan beberapa orang untuk

saling melakukan perbuatan timbal balik antara penjual dan pembeli.

Adapun secara syariat jual beli adalah pertukaran harta dengan harta atas

dasar keridhaan antara keduanya atau mengalihkan kepemilikan barang

dengan kompensasi (pertukaran) sesuai dengan syariat.34

Adapun syarat dari jual beli adalah adanya akad. Akad yaitu ikatan

atara kedua belah pihak untuk berijab qobul sebagai tanda keridhaan,

Orang-orang yang berakat (subjek), yaitu meliputi penjual dan pembeli,


33
Dimyauddin Djuwaini, 2018, Pengantar Fikih Muamallah, Pustaka Belajar, Yogyakarta,
hal. 147.
34
Sulaiman Al-Faifi, 2017, Ringkasan Fikih Sunnah, Senja Media Utama, Depok, hal. 67.
41

ma’rud’alaih (objek akad) atau benda yang perjualbelikan, nilai tukar

pengganti barang, dapat menyimpan suatu nilai (store of value), memiliki

nilai (unit of account) dan dapat menjadi alat tukar yang senilai (medium

of exchange). Ini menjadi hal yang wajib dipenuhi dalam aturan proses

jual beli. Apabila salah satu dari rukun tidak terpenuhi, maka bisa

dikatakan cacat atau batal secara hukum. Kemudian yang menjadi banyak

kesalahan adalah soal akad dimana dalam melakukan akad atau perjanjian

terkadang pelaksanaannya tidak sesuai dengan perjanjian. Hal ini bisa

diajukan untuk pembatalan perjanjian jual beli.

Apabila kita melihat proses terjadinya jual beli padi di Jawa Timur

dimana dalam proses jual belinya dilakukan dengan sistem tebasan dimana

proses ini sangat berkaitan erat dengan adanya sebuah perjanjian jual beli

yang mengikat antara kedua belah pihak. Jual beli terjadi di saat padi

masih ditangkainya dan di lahan persawahan yang belum dipanen dan

kondisi padi baru mulai menguning sehingga masih memungkinkan

adanya penurunan harga gabah dan lain sebagainya, sehingga perjanjian

ini menjadi sangat penting dalam sistem tebasan (spekulatif) atau bisa

disebut juga jizaf.

Ulama fiqh yang bermazhab malikiyah membagi syarat jual beli

jizaf atau sistem tebas menjadi 7 untuk keabsahan jual beli jizaf dan

pendapat tersebut juga disampaikan oleh beberapa ulama madzab lainnya.

Syaratnya sebagai berikut35 :

35
Dimyauddin Djuwaini, Op.Cit., hal. 149-150.
42

a. Dalam melakukan transaksi barang atau objek akad harus kelihatan

sehingga dapat menghindari dari bagian jual beli gharar jahalah

(ketidaktahuan objek). Apabila kita melihat dari praktik jual beli

tebasan di Jawa Timur pada umumnya, salah satunya di Kabupaten

Bojonegoro dan sekitarnya, obyek akad jelas kelihatan karena proses

terjadinya kesepakatan atau akad dilaksanakan di sawah yang padinya

akan dibeli atau ditebas, dan kondisinya pada saat itu sudah terlihat

wujud biji padi dan mulai menguning, namun belum cukup umur

untuk dipanen.

b. Dalam melakukan proses jual beli, penjual maupun pembeli tidak

mengetahui kadar objek, baik dari segi takaran, timbangan dan

hitungan. Hal ini umumnya dilakukan di tanah Jawa, terutama di

Kabupaten Bojonegoro sekitarnya dimana dalam proses kesepakatan

jual beli si penjual dan pembeli tidak mengetahui secara pasti berat

padi yang akan dibeli atau dijadikan sebagai obyek akad. Dalam

menentukan harga, penebas umumnya hanya perpatokan dengan luas

wilayah atau dengan melangkahi keliling lahan persawahan untuk

mengira-kirakan harga yang akan diberikan.

c. Jual beli sistem tebasan boleh dilakukan untuk suatu yang dibelikan

secara partai, seperti biji-bijian dan sejenisnya yang tidak bisa dihitung

secara satuan. Jika benda bisa dihitung dengan mudah, maka tidak

boleh dijual dengan cara jizaf atau perkiraan seperti sistem tebasan dan

berlaku sebaliknya. Hal ini juga terpenuhi atau sejalan dengan padi
43

yang dijual dimana padi ini merupakan biji-bijian yang tidak mungkin

bisa dihitung dengan satuan.

d. Jual beli dengan sistem tebasan boleh dilakukan, apabila objek benda

dapat ditakar oleh orang yang berkompeten di bidang penafsiran benda

tersebut. Penakaran dilakukan penebas dengan melangkahi keliling

lahan untuk menentukan luas tanah dan melihat kondisi darai tanaman

itu sendiri, sehingga dapat diambil kesimpulan jumlah yang akan

didapatkan. Hal ini biasa dilakukan penebas dan penebas berani

melakukan proses tebasan apabila dia sudah menguasai atau hafal

tentang perkiraan berat padi dengan luas dan kondisi tertentu.

e. Objek benda tidak boleh terlalu banyak, sehingga sulit untuk ditafsir

namun juga tidak boleh terlalu sedikit, sehingga mudah diketahui

jumlahnya. Luas lahan pertanian yang umumnya ditebas biasanya

dikisaran luas seperempat hektar sampai satu hektar, sehingga masih

bisa dikira-kira dengan mudah oleh penebas.

f. Tanah tempat objek berada harus rata, sehingga penafsirannya akan

tepat, dan apabila tanah tidak rata atau menggunung dan landau, maka

kedua bisa memiliki hak khiar. Kondisi lahan pertanian di daerah Jawa

Timur cenderung rata, namun terbagi atas beberapa parit, yaitu setiap

seperempat hektar terdiri dari 2 kotak blok kedoan (orang setempat

menyebutnya).

g. Tidak boleh menggumpulkan barang yang tidak diketahui kadarnya

dengan jelas dalam satu akad. Karena dalam proses jual beli padi
44

hanya menjual atau menebaskan padinya, sehingga hal ini tidak

termasuk mengumpulkan barang yang tidak diketahui kadarnya.

Rukun jual beli harus dipenuhi supaya jual beli dinyatakan syara’.

Adapun rukunnya meliputi beberapa hal sebagai berikut36:

a. Akad, yaitu ikatan atara kedua belah pihak untuk ber-ijab qobul

sebagai tanda keridhaan. Ini menjadi penting karena dalam proses

mencapai sebuah perjanjian kesepakatan antara petani dan penebas.

Petani dan penebas melakukan ikrar akad lisan untuk menyampaikan

berbagai hal perjanjian untuk sama-sama terbuka dan tidak terjadi

kesalahpahaman kedepanya.

b. Orang-orang yang berakad (subjek) yaitu meliputi penjual dan

pembeli. Dalam subjek hal ini terpenuhi karena bisa kita lihat bahwa

jual beli padi sistem tebasan di Jawa Timur pada umumnya, subjeknya

adalah petani sebagai penjual dan penebas sebagai pembeli.

c. Ma’rud’alaih (objek akad) atau benda yang perjualbelikan. Obyek

dalam proses jual beli tersebut merupakan padi dan tidak ada yang

lainya.

d. Nilai tukar pengganti barang, dapat menyimpan suatu nilai (store of

value), menilliki nilai (unit of account) dan dapat menjadi alat tukar

yang senilai (medium of exchange). Dalam hal ini juga telah disepakati

bersama atara pihak penjual dan pembeli adalah sejumlah uang dengan

satuan rupiah atau alat tukar yang sah dimiliki Indonesia.

36
Sulaiman Al-Faifi, 2017, Op.Cit., hal. 92.
45

Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas, bahwa jual beli padi

dengan sistem tebas oleh masyarakat Jawa Timur sudah memenuhi rukun

dalam jual beli, sehingga jual beli padi dengan sistem tebas sudah sesuai

syariat Islam. Sedangkan syarat-syarat jual beli yang harus dipenuhi

sebagai berikut:

a. Syarat penjual dan pembeli

Penjual dan pembeli dapat dikatakan sah apabila yang berakad

berakal dan baligh, hal ini bertujuan apabila dalam melakukan

transaksi pihak penjual atau pembeli tidak bisa ditipu, karena orang

berakal bisa mengendalikan hartanya dengan baik. Berbeda apabila

transaksi tersebut dilakukan oleh anak yang belum baligh, maka jual

beli tersebut dinyatakan tidak sah, karena dapat merugikan salah satu

pihak.

Praktik jual beli padi dengan sistem tebasan oleh masyarakat

Jawa Timur menurut penulis sudah sesuai dengan syarat sebagai

penjual dan pembeli. Para pihak yang berakad merupakan orang-orang

yang sudah dewasa bahkan cenderung sudah tua yang terdiri dari laki-

laki. Selain itu, penulis melihat para pihak yang berakad juga berakal,

karena bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ketika melakukan akad pihak penjual dan pembeli sudah tahu bahwa

praktik jual beli padi yang mereka lakukan adalah menggunakan

sistem tebasan.
46

b. Syarat sah ijab dan qabul

Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan ijab

dan qabul. Penjual dan pembeli tak terpisahkan waktu yang cukup

lama. Penjual dan pembeli mempunyai makna yang sama, ijab dan

qabul tidak dibatasi waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan ijab dan

qabul dalam jual beli padi dengan sistem tebasan di masyarakat Jawa

Timur dilaksanakan ketika pembeli meninjau langsung padi milik

petani yang sudah nampak dan berwarna kuning. Pada pelaksanaan

ijab dan qabul berarti menunjukkan adanya keterkaitan atau perjanjian

antara pemilik sawah dan penebas. Ijab dan qabul secara umum

dilakukan bertatap muka secara langsung dan menyebutkan nominal

harga yang disepakati bersama yang dilafalkan secara lisan. Jadi, ijab

dan qabul yang dilakukan oleh pemilik padi dan penebas sudah

memenuhi syarat ijab dan qabul dalam syariat Islam.

Dapat dilihat dari keterangan di atas, bahwa ijab dan qabul

dalam jual beli padi dengan sistem tebasan yang dilakukan masyarakat

Jawa Timur secara umum sudah memenuhi syarat yang berlaku.

Seperti dalam praktiknya, ketika pembeli mengucap ijab penjual

langsung menjawab qabul, kemudian ada kesesuaian antara penjual

dan pembeli. Ungkapan ijab dan qabul dilakukan dengan cara lisan

dengan bertatap muka langsung dengan menyebutkan harga yang telah

disepakati bersama.
47

c. Syarat maq’ud alaih

Syarat objek atau barang yang diperjualbelikan harus sesuai

dengan syariat Islam agar jual beli dikatakan sah. Objek dalam praktik

jual beli padi dengan sistem tebas yang terjadi di masyarakat Jawa

Timur pada umumnya adalah padi yang berada di sawah. Adapun

syarat objek yang dilakukan yaitu barang yang milik sempurna, barang

suci tidak terkena najis, barang terlihat, barang bisa diserahterimakan

dan barang bisa dimanfaatkan.

Mengenai syarat maq’ud alaih dalam pelaksanaan jual beli padi

dengan sistem tebas dapat dijelaskan bahwa pelaksanaan jual beli padi

dengan sistem tebas menurut penulis sudah memenuhi syarat maq’ud

alaih. Objek yang digunakan dalam jual beli merupakan barang milik

sempurna, dimana dalam jual beli padi dengan sistem tebas, barang

tersebut dikuasai penuh oleh petani dan benar-benar milik petani.

Adapun objek yang diperjualbelikan dalam praktik ini

merupakan benda yang ada bentuknya dan bisa disucikan, karena

dalam praktiknya, padi sudah terkena sinar matahari sehingga najis

hilang dengan sendirinya. Benda-benda yang digolongkan najis, yaitu

khamr, bangkai darah dan lain-lain. Dalam jual beli ini sudah jelas

bahwa padi langsung dipanen dan dipetik setelah pembayaran selesai.

Kemudian mengenai barang yang diperjualbelikan penebas sudah

mengetahui bentuknya dan melihat secara langsung.


48

Namun yang menjadi perhatian khusus mengenai praktik jual beli

padi sistem tebasan di Jawa Timur, yaitu praktik pelaksanaan perjanjian

atau saat proses penyerahan obyek akad yang tidak sesuai dengan apa yang

disepakati diawal, sebagai contoh proses jual beli padi sistem tebasan yang

dilakukan oleh salah satu petani di salah satu daerah di Kabupaten

Bojonegoro, khususnya, dalam menjual padi dan penebas melakukan

kesepakatan perjanjian jual beli, dimana disepakati harga sekian juta,

namun dalam berjalannya waktu menunggu masa panen, penebas

menyampaikan alasan karena harga padi turun sehingga harga padi yang

diberikan juga ikut turun sekian ratus ribu dari harga awal yang telah

disepakati.

Berbeda dengan yang dialami salah satu petani lainnya di daerah

yang berbeda di Kabupaten Bojonegoro sebagai contoh, dimana dalam

proses jual belinya beliau mensyaratkan untuk proses pemotongan harus

menggunakan tenaga manual manusia dikarenakan beliau mengharapkan

jerami untuk dibawa pulang yang akan digunakan sebagai pakan ternak

dan beliau mengganggap bahwa penggunaan mesin ini akan merusak

tanahnya, sehingga akan merugi atau mengeluarkan biaya lebih dalam

pemulihannya. Akan tetapi, dalam proses pengambilan padi atau panen

menggunakan mesin combi dengan alasan akan lebih mahal harga

gabahnya dan akan merugi jika dipotong secara manual. Namun, petani

tersebut menolaknya karena tidak mau merugi, sehingga memilih untuk


49

merundingkan kembali perjanjian yang ada atau dalam Islam disebut hak

khiar.

Hal semacam ini mengakibatkan situasi yang memberatkan petani

dan seharusnya akad tersebut bisa dianggap batal, karena ada salah satu

pihak yang melakukan wanprestasi atau cidera janji. Dalam jual beli,

menurut agama Islam dibolehkan memilih, apakah akan melanjutkan atau

membatalkan suatu akad. Karena terjadi suatu hal yang tidak diinginkan,

hal ini disebut dengan khiar majelis, artinya antara penjual dan pembeli

dapat memilih untuk memutuskan apakah melanjutkan akad atau akan

membatalkan akadnya dengan syarat masih satu tempat (majelis). Khiar

majelis dalam berbagai jual beli dan apabila kedua belah pihak sudah

berpisah, maka khiar majelis tidak berlaku lagi.37

Dapat diketahui dari penjelasan di atas bahwa jual beli sudah

memenuhi syarat dan rukun yang berlaku, sehingga jual beli padi dengan

sistem tebasan di masyarakat Jawa Timur dikatakan sah menurut syarat

dan rukun. Sebelum beberapa hari terjadinya panen, pihak pembeli

(penebas) mendatangi petani pada saat padi sudah nampak dan

menguning dan mulai memasuki masa panen dengan pemberian uang

muka atau panjer sebesar 5% sebagai tanda jadi. Setelah transaksi,

penebas tidak langsung memanen biji padi tersebut, melainkan menunggu

beberapa hari hingga waktu padi siap dipanen.

37
Suhendi Hendi, 2016, Fikih Sunnah, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 83-84.
50

B. Pelaksanaan Praktik Jual Beli Padi dengan Sistem Tebasan

Praktik jual beli dengan sistem tebasan merupakan jual beli yang

dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur sejak lama dari zaman nenek moyang.

Masyarakat Jawa Timur dalam mengelola hasil pertanian maupun

perkebunan, biasanya dilakukan dengan cara borongan berawal dari seorang

petani yang ingin menjual panennya dan tidak bersusah payah mengeluarkan

uang yang banyak untuk memanennya. Kemudian, penebas mendatangi

petani (penjual) di rumah maupun perkebunan bermaksud ingin membeli

hasil panennya, dan membelinya secara keseluruhan yang kemudian bisa

disebut dengan borongan atau tebasan.

Jual beli tebasan dilakukan dengan mudah, sehingga masyarakat Jawa

Timur menerapkan sistem tersebut dengan alasan lebih praktis tidak

memakan banyak biaya, waktu maupun tenaga. Perjanjian tebasan terjadi

apabila seseorang menjual hasil tanamannya sesudah tanaman itu berbuah dan

sebentar lagi akan dipetik hasilnya. Perjanjian tebasan ini lazim terjadi pada

padi atau tanaman buah-buahan yang sudah tua dan sedang berada di sawah

ataupun di kebun. Di daerah-daerah tertentu, misalnya beberapa daerah

Sumatera Selatan, perjanjian tebasan merupakan perjanjian yang tidak lazim

terjadi dan ada kecenderungan bahwa perikatan dalam bentuk ini merupakan

perjanjian yang dilarang.38

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan banyaknya jumlah

penduduk yang berprofesi sebagai petani, maka terdapat banyak terjadi

transaksi jual beli yang beragam jenisnya. Salah satunya jual beli sistem tebas
38
Ibid.
51

ini, namun tidak sedikit juga dari petani yang memanen hasil pertaniannya

sendiri, tidak menjualnya secara tebasan. Praktik sistem tebas ini dilakukan

oleh kedua belah pihak yaitu penjual (petani) dan pembeli (penebas),

merupakan sistem pembelian padi yang sudah mulai menguning, masih di

sawah dan belum siap panen.

Jual beli ini dilakukan karena alasan yang beragam, mulai dari sistem

kekerabatan yang masih melekat, kepercayaan, dan juga karena adanya faktor

lain seperti, memudahkan penjual dalam menjual padinya karena tidak

memikirkan biaya pada saat memanen nantinya, dan lain sebagainya.

1. Subjek dan objek jual beli

Jual beli sistem tebasan dilakukan oleh petani dan penebas dengan

objek jual beli padi yang masih di sawah. Menurut masyarakat Jawa

Timur, jual beli sistem tebasan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu

penjual (petani) dan pembeli (penebas). Subjek jual beli padi dengan

sistem tebasan yang merupakan merupakan warga asli dalam satu daerah,

dimana penjual dan pembeli adalah orang yang sudah paham dan sering

melakukan jual beli sistem tebas ini.39

Jual beli yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur umumnya

dalam sistem tebas berupa padi dikenal dengan borongan. Obyeknya

adalah tanaman padi yang masih di sawah dan masih berada pada

batangnya. Biasanya tanaman padi tersebut sudah mulai menguning dan

belum siap panen.

2. Cara melakukan penaksiran


39
Ibid.
52

Menurut masyarakat Jawa Timur pada umumnya, dalam

melakukan penaksiran biasanya, pembeli langsung datang ke lokasi untuk

mensurvey atau melihat secara langsung padi yang akan dibeli dengan

beberapa teknik antara lain, melihat dan memegang daun serta batang

padi, mengitari sawah dan mengukur luas sawah. Kemudian, melakukan

negosiasi perihal harga.40

Dengan demikian, dalam jual beli padi dengan sistem tebasan ini

tidak menggunakan timbangan atau dihitung. Jual beli padi sistem tebas di

Jawa Timur, umumnya dilakukan dengan penaksiran atau perkiraan saja,

atau berdasarkan pada pengamatan saja. Baik penjual maupun pembeli

tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa jumlah yang akan

didapatkan nantinya.

Praktik jual beli padi dengan cara tebasan sudah biasa dilakukan

oleh para penjual dan pembeli di Provinsi Jawa Timur. Pada padi yang

masih di sawah dan belum siap panen dan menunggu beberapa minggu

untuk dipanen. Untuk mengetahui kualitas baik tidaknya padi, biasanya

pembeli memegang beberapa batang padi dan juga memencet bulir-bulir

padi dari satu petak sawah yang ditanami padi. Untuk menentukan harga

dari padi tersebut caranya adalah dengan melihat luas sawah yang

ditanami padi, kemudian penjual menawarkan harga padi sesuai dengan

perkiraan luas sawah yang ditanami padi, barulah terjadi tawar menawar

antara penjual dan pembeli sampai harga yang disepakati keduanya.

3. Sistem pembayaran
40
Ibid.
53

Dalam jual beli sistem tebasan padi biasanya sistem pembayaran

dilakukan secara langsung dengan menggunakan sistem DP (Down

Payment). DP adalah pembayaran uang muka di awal dalam presentase

tertentu dari harga total barang. Sistem pembayaran dengan menggunakan

DP ini dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli

sebagai tanda jadi diantara kedua belah pihak yang melakukan akad.41

Bagi penjual (petani), fungsi uang muka atau DP adalah sebagai

penjamin bahwa pembeli akan membayarkan sisa pembayaran nantinya

pada saat padi selesai dipanen. Selain itu, dengan adanya DP di awal,

proses jual beli dapat menghindarkan penjual dari tindak penipuan.

Sedangkan untuk pembeli, fungsi DP adalah pengikat, agar padi yang

masih di sawah tidak ditawarkan lagi kepada orang lain.

4. Sistem akad

Akad dalam jual beli merupakan hal yang sangat penting dalam

melakukan transaksi jual beli padi sistem tebas. Ijab kabul oleh kedua

belah pihak pada praktik sistem tebas jual beli padi dilakukan secara lisan

sehingga tidak ada bukti hitam di atas putih (surat perjanjian) yang bisa

dijadikan pegangan, jika dikemudian hari terdapat permasalahan. Tempat

melakukan ijab qabul sistem tebasan tidak menjadi permasalahan karena

yang dibutuhkan adalah kesepakatan mengenai padi atau objek yang akan

diperjualbelikan.42

41
Ibid.
42
Ibid.
54

Selain itu, akad juga dilakukan di sawah atau kadang-kadang juga

dilakukan di rumah penjual (petani) sesuai dengan kesepakatan kedua

belah pihak. Tidak jarang pembeli (penebas) akan membeli padi sesuai

dengan kondisi pada hasil panen yang dilakukan. Misalnya, padi

mengalami musibah kebanjiran atau rusak sebagian dikarenakan angin

atau hama, pembeli akan menegosiasikan kembali nominal harga yang

diinginkan untuk mencapai kesepakatan bersama. Namun dengan syarat,

ada kesepakatan jauh sebelum musibah tersebut terjadi. Namun, ada pula

pembeli yang mau menerima resiko jika ternyata hasil panen dari padi

yang telah disepakati sebelumnya, mengalami hal yang tidak diinginkan.43

Masyarakat Jawa Timur dalam melakukan jual beli hampir tidak

pernah terdapat konflik diantara kedua belah pihak yang berakad, bahkan

rata-rata dari mereka mengatakan bahwa jika dalam jual beli tidak sesuai

dengan yang diinginkan alias rugi, maka semuanya ikhlas karena memang

dalam jual beli ini tidak ada unsur paksaan melainkan suka sama suka. Selain

itu, jual beli juga memang kadang-kadang untung dan kadang-kadang juga

rugi, tergantung rejeki dari masing-masing. Kerugian yang dimaksud dapat

terjadi pada pihak penjual (petani), apabila harga padi yang disepakati kedua

belah pihak tidak sesuai dengan harga pasar, dalam artian jika padi dipanen

sendiri oleh petani mungkin saja padi bisa dijual lebih tinggi dari harga yang

disepakati saat menjual padi ke penebas. Hal ini bisa menyebabkan kerugian

kepada penjual. (Namun dari sebagian penjual mengatakan bahwa mereka

lebih memilih menjual padi yang masih di sawah karena memudahkan


43
Rosdalina, 2017, Op.Cit., hal. 76.
55

mereka dalam menjual padi. Selain itu mereka juga tidak memikirkan biaya

saat memanen padi nantinya).

Di sisi lain, kerugian juga dapat dialami oleh pembeli (penebas),

banyak kemungkinan yang dapat terjadi misalnya mengalami kerusakan atau

tidak sesuai dengan yang diharapkan setelah akad. Dikarenakan pada masa

pertumbuhan padi tidak dapat dipungkiri banyak kendala maupun kejadian

yang terjadi misalnya hama yang dapat merusak padi tersebut serta dimakan

oleh hewan-hewan seperti burung atau bahkan curah hujan tinggi dan padi

tersebut tiba-tiba terendam banjir. (Namun walau terjadi hal seperti itu,

pembeli hanya sabar dan juga menganggap jika kerusakan

diakibatkan/dimakan oleh hewan-hewan semoga saja dapat bernilai pahala).

Anda mungkin juga menyukai