1.2 Rancangan Aktualisasi Muhammad Akmal Andriawan
1.2 Rancangan Aktualisasi Muhammad Akmal Andriawan
RANCANGAN AKTUALISASI
JABATAN PERAWAT AHLI PERTAMA
Oleh :
Ns. Muhammad Akmal Andriawan
NIP. 19950313 202504 1 003
NDH. 16
Menyetujui:
2
KATA PENGANTAR
3
8. Seluruh keluarga penulis, khususnya kedua orang tua bapak H.
Wawan Ridwan, ibu Hj. Eva Pariana dan Annisa Resa Nur Afni,
S.Kep., Ns sebagai istri yang selalu memberikan do’a, dukungan, dan
motivasi dalam penyusunan Laporan Pelaksanaan Aktualisasi
Kegiatan ini.
9. Seluruh kawan-kawan peserta LATSAR CPNS Kab. Kotabaru
Angkatan 4 yang telah memberikan banyak pelajaran, semangat dan
keceriaan selama ini.
4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................3
BAB I............................................................................................................ 6
PENDAHULUAN.......................................................................................... 6
A. Latar Belakang........................................................................................6
B. Tujuan dan Manfaat................................................................................8
1. Tujuan.......................................................................................................8
2. Manfaat.....................................................................................................8
C. Isu Aktualisasi........................................................................................9
1. Identifikasi & Dekskripsi Isu......................................................................9
2. Memilah/Menipis Isu...............................................................................11
3. Mendalami/Analisis Isu...........................................................................13
D. Ruang Lingkup.....................................................................................15
BAB II......................................................................................................... 16
GAMBARAN KEADAAN INSTANSI..........................................................16
A. Profil Puskesmas..................................................................................16
1. Gambaran Pelayanan.............................................................................17
2. Struktur Organisasi.................................................................................19
B. Visi, Misi dan Nilai-Nilai Organisasi....................................................19
1. Visi dan Misi............................................................................................19
2. Tujuan Puskesmas.................................................................................20
C. Tugas dan Fungsi.................................................................................20
1. Organisasi...............................................................................................20
2. Unit Kerja................................................................................................21
3. Pegawai..................................................................................................22
D. Sasaran Kinerja Pegawai.....................................................................23
BAB III........................................................................................................ 26
RANCANGAN AKTUALISASI...................................................................26
A. Landasan Teori.....................................................................................26
1. Nilai-nilai BerAKHLAK............................................................................26
2. SMART ASN dan MANAJEMEN ASN....................................................33
5
3. Substansif Kinerja Pegawai.....................................................................39
B. Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Habituasi................................42
C. RANCANGAN PENJADWALAN KEGIATAN AKTUALISASI DAN
HABITUASI................................................................................................ 50
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa
Indonesia sebagaimana dimaksud dalamPancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Terutama yang terdapat
pada Pasal 28 H ayat 1, kesehatan merupakan hak asasi manusia dan
investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa, untuk itu perlu
diselenggarakan pembangunan kesehatan secara menyeluruh agar
terwujud masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan.
Di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, pada pasal 2 dan 3 dinyatakan bahwa pembangunan
kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan,
keseimbangan, manfaat, perlindungan dan penghormatan terhadap hak
dan kewajiban, keadilan, gender dan non diskriminatif serta norma-norma
agama. Selain itu di dalam pasal 5 ayat (2) bahwa setiap orang
mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu dan terjangkau.
Kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional,
yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap warga negara Indonesia. Salah satu upaya
pemerintah dalam pembangunan kesehatan adalah melaksanakan
pelayanan kesehatan melalui Puskesmas. Puskesmas sebagai ujung
tombak pelayanan kesehatan masyarakat telah berkiprah sejak tahun
6
1970, dan telah memberi kontribusi yang besar pada pembangunan
kesehatan di Indonesia.
Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab terhadap pembangunan
kesehatan di wilayah kerjanya, Puskesmas berperan menyelenggarakan
upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat
kesehatan yang optimal, dengan demikian Puskesmas berfungsi sebagai
pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat
pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta pusat pelayanan
kesehatan tingkat pertama.
Sejalan dengan perkembangan global dan nasional, terdapat
kebijakan pemerintah yang mendasar yaitu otonomi daerah, hal ini
memberi perubahan yang mendasar pula pada sistem pelayanan
kesehatan di Kabupaten/kota. Di era otonomi terjadi perbedaan
kemampuan pemerintah kabupaten/kota dalam hal pelayanan kesehatan
dasar, yang menyebabkan banyaknya variasi kemampuan pelayanan
kesehatan di Puskesmas. Puskesmas Mekarpura meruapakan pusat
pelayanan kesehatan tingkat pertama di penugasan pedesaan dengan
sistim non rawat inap.
Sistem pelayanan kesehatan yang optimal membutuhkan
mekanisme rujukan yang efektif dan efisien untuk memastikan pasien
menerima pelayanan sesuai dengan tingkat kebutuhan medisnya. Di
Indonesia, proses rujukan sering menghadapi berbagai kendala, seperti
keterlambatan informasi, kesalahan administrasi, dan kurangnya
koordinasi antar fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes). Kondisi ini
dapat memperburuk keadaan pasien dan menurunkan kualitas pelayanan
kesehatan (Kemenkes RI, 2019).
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia mengembangkan Sistem Informasi
Rujukan Terintegrasi (SISRUTE), yaitu sebuah sistem teknologi informasi
yang memungkinkan pertukaran data rujukan pasien secara daring dan
7
real-time antar Fasyankes (Kementerian Kesehatan, 2020). Sistem ini
bertujuan untuk mempercepat proses rujukan, meningkatkan efisiensi
pelayanan, serta memperkuat jejaring komunikasi antara fasilitas
kesehatan primer dan sekunder.
Melalui implementasi SISRUTE, diharapkan tenaga kesehatan dapat
menyampaikan informasi rujukan secara lengkap, akurat, dan cepat
kepada fasilitas rujukan yang dituju. Hal ini dapat meningkatkan kesiapan
rumah sakit penerima dalam menangani pasien dan menghindari
penolakan atau keterlambatan penanganan medis. Selain itu, SISRUTE
juga mendukung upaya digitalisasi layanan kesehatan yang sejalan
dengan visi transformasi sistem kesehatan Indonesia (Kemenkes RI,
2021).
2. Manfaat
Adapun manfaat aktualisasi nilai-nilai dasar profesi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) yang penulis lakukan agar bisa berguna bagi:
8
a. Diri sendiri sehingga mampu menjadi aparatur sipil negara (ASN)
yang terampil dan professional di bidangnya
b. Pimpinan sehingga mampu menjalankan perintah sesuai dengan
kaidah yang berlaku dan berdaya guna.
c. Rekan-rekan kerja sehingga mampu menciptakan lingkungan kerja
yang harmonis dan dapat bekerja sama dengan baik.
d. Lingkungan masyarakat sehingga mampu menciptakan pelayanan
yang optimal dan berdaya guna bagi masyarakat, sehingga mampu
menjadi abdi Negara yang bekerja dengan sepenuh hati demi
terciptanya negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang
berdaulat, adil dan makmur.
C. Isu Aktualisasi
1. Identifikasi & Dekskripsi Isu
Adapun beberapa isu di Puskesmas Mekarpura adalah sebagai berikut :
a. Belum Optimalnya Pengelolaan Layanan Keperawatan Antar Unit
Kesehatan Dengan Menggunakan Rujukan Digital Aplikasi Sistim
Rujukan Terintegritas (SISRUTE) Di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama Di Puskesmas Mekarpura
Penyebab utama petugas sepenuhnya masih belum memahami
pentingnya digitalisasi dalam hal pelayanan rujukan dan kemajuan teknologi,
sehingga dalam hal pelayanan rujukan masih menggunakan kertas.
Alur layanan rujukan terintegrasi belum tersedia di unit kerja sehingga
pengetahuan petugas btentang rujukan digital masih terbatas dan belum
terlaksana secara optimal, yang ditandai dengan minimnya Tingkat
pengetahuan petugas terhadap system rujukan digital. Hal ini berdampak
langsung pada kualitas pelayanan pasien, dan pengambilan keputusan
medis.
Dampak dari masalah ini jika tidak diselesaikan yaitu tidak terjalinnya
kesinergian antar unit Kesehatan di Kab. Kotabaru maupun dari luar
kabupaten, sehingga kurang optimalnya pelayanan kesehatanan kepada
masyarakat.
9
b. Belum optimalnya upaya peningkatan kepatuhan kewaspadaan
standar pada pasien/petugas/ pengunjung sebagai upaya
pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
Penyebab utamanya ketidak optimalan upaya peningkatan
kepatuhan kewaspadaan standar pada pasien/petugas/ pengunjung
sebagai upaya pencegahan infeksi dikarenakan pasien dan
pengunjung sering kali tidak mengetahui atau tidak diberi
pemahaman mengenai peran mereka dalam mencegah penyebaran
infeksi—misalnya melalui cuci tangan, penggunaan masker, atau
pembatasan akses area tertentu
Dampak dari ketidak optimalan upaya peningkatan kepatuhan
kewaspadaan standar pada pasien/petugas/ pengunjung sebagai
upaya pencegahan infeksi adalah tingkat kejadian infeksi nosokomial
di fasilitas kesehatan Indonesia masih cukup tinggi, yang sebagian
besar berkaitan dengan rendahnya kepatuhan terhadap
kewaspadaan standar. Padahal, sebagian besar HAIs dapat dicegah
melalui penerapan prinsip dasar PPI yang baik.
c. Belum optimalnya melakukan tindakan keperawatan pada
kondisi gawat darurat/bencana/ kritikal di fasilitas kesehatan
tingkat pertama di Puskesmas Mekarpura
Penyebab utama tidak optimalnya melakukan tindakan
keperawatan pada kondisi gawat darurat/bencana/ kritikal yaitu
Tenaga medis atau perawat belum Kurangnya sistem komunikasi
cepat antar tim saat kondisi darurat atau bencana.
Dampak dari masalah ini adalah kegagalan memberikan intervensi
keperawatan dalam waktu emas (golden period) berisiko
memperburuk kondisi pasien atau bahkan menyebabkan kematian.
d. Belum optimalnya memfasilitasi adaptasi dalam hospitalisasi
pada individu di fasilitas kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
10
Penyebab utama tidak optimalnya memfasilitasi adaptasi dalam
hospitalisasi pada individu yaitu petugas belum dibekali keterampilan
komunikasi terapeutik dan pendekatan psikososial yang baik.
Dampak dari masalah ini adalah pasien menolak tindakan medis
atau tidak mengikuti instruksi karena tidak nyaman.
e. Belum optimalnya melakukan pengkajian keperawatan dasar
pada masyarakat di fasilitas kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
Penyebab utama tidak optimalnya melakukan pengkajian
keperawatan dasar pada masyarakat yaitu Masyarakat kurang
kooperatif atau tidak terbuka saat dilakukan pengkajian karena tidak
paham tujuannya.
Dampak dari masalah ini adalah masalah yang tidak teridentifikasi
sejak awal menyebabkan pasien kembali dengan keluhan berulang.
2. Memilah/Menipis Isu
Proses penetapan isu yang krusial dapat dilakukan memakai
alat bantu tapisan. Alat bantu tersebut sangat banyak jenisnya 2
diantaranya yaitu kriteria:
a. Metode APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Layak)
Tabel 1. Pemilihan Isu melalui kriteria APKL
No. Isu A P K L Jumlah Rangking
1. Belum Optimalnya Pengelolaan 5 4 4 5 18 I
Layanan Keperawatan Antar Unit
Kesehatan Dengan Menggunakan
Rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan
Terintegritas (SISRUTE) Di Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama Di
Puskesmas Mekarpura
2. Belum optimalnya upaya peningkatan 5 4 3 4 16 II
kepatuhan kewaspadaan standar pada
pasien/petugas/ pengunjung sebagai
upaya pencegahan infeksi di fasilitas
kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
3. Belum optimalnya melakukan tindakan 4 4 3 4 15 III
keperawatan pada kondisi gawat
darurat/bencana/ kritikal di fasilitas
kesehatan tingkat pertama di
11
Puskesmas Mekarpura
4. Belum optimalnya melakukan 4 2 2 3 11 V
pengkajian keperawatan dasar pada
masyarakat di fasilitas kesehatan
tingkat pertama di Puskesmas
Mekarpura
5. Belum optimalnya memfasilitasi 4 3 3 4 14 IV
adaptasi dalam hospitalisasi pada
individu di fasilitas kesehatan tingkat
pertama di Puskesmas Mekarpura
Keterangan Nilai AKPL:
Skala Likker Nilai 1-5: (1: Sangat Kurang, 2: Kurang, 3: Sedang, 4:Besar, 5:
Sangat Besar)
A: Aktual (sedang hangat dibicarakan)
K: Kekhalayakan (Menyangkut Orang Banyak)
P: Problematika (menyimpang dari harapan yang menimbulkan
kegelisahan)
12
2 di bawah ini:
Tabel 2. Pemilihan Isu melalui kriteria USG
No. Isu U S G Jumlah Prioritas
1. Belum Optimalnya Pengelolaan 5 5 4 14 I
Layanan Keperawatan Antar Unit
Kesehatan Dengan Menggunakan
Rujukan Digital Aplikasi Sistim
Rujukan Terintegritas (SISRUTE) Di
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
Di Puskesmas Mekarpura
2. Belum optimalnya upaya peningkatan 4 3 4 11 II
kepatuhan kewaspadaan standar
pada pasien/petugas/ pengunjung
sebagai upaya pencegahan infeksi di
fasilitas kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
3. Belum optimalnya melakukan 4 3 3 10 III
tindakan keperawatan pada kondisi
gawat darurat/bencana/ kritikal di
fasilitas kesehatan tingkat pertama di
Puskesmas Mekarpura
Keterangan Nilai USG:
U (Urgency) S(Seriousness) G(Growth)
5 = Sangat mendesak 5 = Sangat serius 5 = Sangat tinggi
4 = Mendesak 4 = Serius 4 = Tinggi
3 = Cukup 3 = Cukup 3 = Cukup
2 = Kurang 2 = Kurang 2 = Kurang
1 = Sangat kurang 1 = Sangat kurang 1 = Sangat kurang
13
- Kesulitan dalam koordinasi antar fasilitas kesehatan Biaya
perawatan lebih tinggi
- RS rujukan menolak pasien karena belum ada konfirmasi
melalui SISRUTE atau rujukan tidak sesuai prosedur.
3. Mendalami/Analisis Isu
Setelah dilakukan penapisan analisis menggunakan metode
APKL dan USG, diperoleh isu prioritas berupa belum optimalnya
Pengelolaan Layanan Keperawatan Antar Unit Kesehatan Dengan
Menggunakan Rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan Terintegritas
(SISRUTE) Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Di Puskesmas
Mekarpura. Berdasarkan analisis lebih lanjut dengan metode
fishbone, ditemukan beberapa faktor penyebab yang berkontribusi
terhadap permasalahan tersebut.
Dari sejumlah isu yang telah dianalisis melalui teknik tapisan dengan
bantuan kriteria USG, selanjutnya dilakukan analisis dengan Teknik
Fishbone. Analisis tersebut digambarkan pada diagram berikut ini :
14
Gambar 1.1: Fish Bone
Berdasarkan data lapangan selama saya bekerja Puskesmas
Mekarpura saat ini belum menjalankan rujukan digital karena belum
adanya panduan dan masih rendahnya pemahaman petugas dalam
melakukan pengisian rujukan digital. Untuk itu, solusi yang diusulkan
guna mengatasi belum optimalnya pengelolaan layanan keperawatan
antar unit kesehatan dengan menggunakan rujukan digital aplikasi
sistim rujukan terintegritas (SISRUTE) Di Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama Di Puskesmas Mekarpura. Upaya yang dilakukan meliputi
pembuatan alur layanan dan sosialisasi kepada petugas tentang
penggunaan aplikasi sistim rujukan terintegritas (SISRUTE).
D. Ruang Lingkup
Dalam kegiatan implementasi aktualisasi nilai-nilai dasar Pegawai Negeri
Sipil (PNS), penulis fokus pada kegiatan tupoksi Perawat Ahli Pertama.
Kegiatan aktualisasi oleh penulis akan dilaksanakan ini dilaksanakan di
Puskesmas Mekarpura pada tanggal 6 Agustus 2025 sampai dengan 22
September 2025 dengan berfokus pada peningkatan kemampuan petugas.
Adapun kegiatan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Mengkoordinasikan dengan atasan terkait Melakukan rapat dengan at
asan terkait alur layanan rujukan secara digital (SISRUTE)
2. Pembuatan alur rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan Terintegritas
(SISRUTE)
3. Mengkaji tingkat Pengetahuan Alur Rujukan Digital Aplikasi Sistim Ruj
ukan Terintegritas (SISRUTE)
4. Melakukan sosialisasi dengan teman sejawat mengenai Alur Rujukan
Digital Aplikasi Sistim Rujukan Terintegritas (SISRUTE)
5. Mengevaluasi tingkat Pengetahuan Alur Rujukan Digital Aplikasi Sisti
m Rujukan Terintegritas (SISRUTE) setelah di lakukan sosialisasi
15
BAB II
A. Profil Puskesmas
16
Puskesmas Mekarpura terletak di JL. Raya Tanjung Serdang
Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah Kabupaten
Kotabaru Kalimantan Selatan, Indonesia, Kode Pos 72156. Pada
Tahun 2005 Puskesmas mekarpura didirikan dan berlokasi di Jl. Tj.
Serdang- Sei. Pasir km. 1,5 desa Salino Kec. Pulau laut tengah, Kab.
Kotabaru, Prov. Kalimantan Selatan, Indonesia, Kode Pos 72151
pada tahun 2021 pukesmas mekarpura di pindahkan ke di Jl. Raya
Tanjung Serdang Desa Mekarpura Kecamatan Pulau Laut Tengah
Kabupaten Kotabaru, Prov. Kalimantan Selatan, Indonesia, Kode Pos
72156, Puskesmas Mekarpura termasuk dalam kategori puskesmas
non rawat inap dan kategori pedesaan melalui Surat Keputusan
Bupati Kotabaru nomor: 188.45/155/KOM/2023 tentang Perubahan
atas keputusan bupati kotabaru no 188.45/259/KUM/2021 tentang
izin operasional pusat kesehatan masyarakat di wilayah kabupaten
kotabaru
Saat ini, jumlah tenaga Puskesmas Mekarpura secara
keseluruhan pada tahun 2024 tercatat berjumlah 65 orang.
1. Gambaran Pelayanan
a) Luas Wilayah
Secara geografis Puskesmas Mekarpura terletak di
kecamatan Pulau Laut Tengah kabupaten Kotabaru yang
berjarak 45 km dari Ibukota Kabupaten, dan berjarak 275 km
dari Ibukota Propinsi. Luass wilayah Puskesmas Mekarpura
adalah 337,64 km2 yang dibatasi oleh :
- Sebelah Utara : Kecamatan Pulau Laut Utara
- Sebelah Selatan : Kecamatan Pulau Laut Barat
- Sebelah Timur : Kecamatan Pulau Laut Timur
- Sebelah Barat : Selat Laut
b) Administrasi wilayah
Secara administrasi, wilayah kerja Puskesmas Mekarpura
terdiri dari 7 desa, berikut desa yang ada di wilayah kerja
17
puskesmas Mekarpura :
No Desa Luas Wilayah
Wilayah RW RT
(km2)
1 Pantai Baru 28,65 3 8
2 Sungup Kanan 47,50 0 3
3 Selaru 33,15 2 6
4 Mekarpura 33,98 2 7
5 Salino 76,63 2 7
6 Sungai Pasir 116,01 2 17
7 Semisir 1,64 1 4
Total 337,64 12 52
c) Data Ketenagaan
Berikut daftar ketenagaan di Puskesmas Mekarpura
No Jenis Ketenagaan/Profesi StatusKepegawaian Jumlah
PNS/ TUGS NS TH TK TN (orang)
CPNS US L S P
1. Dokter Umum 1 1 2
2. Dokter Gigi 1 1
3. Asisten Apoteker 1 1
4. Apoteker 1 1 2
5. SarjanaKesehatan/SKM 3 2 5
6. Tenaga S1 Gizi 1 2 3
7. Tenaga D3 Gizi 2 2
8. TenagaKeperawatan
a. SPK
b. D3 Perawat 8 1 1 10
c. D4/S1 Keperawatan 1 1 1 3
Ners
18
16. Tenaga D3 Rekam Medis 2 2
17. Tenaga S1 Pelaksana 1 1
18. Administrator Keuangan 1 1
(D3)
19. Administrator Keuangan 1 1
(S1)
20. SMA 1 2 3
Total 44 17 2 1 1 65
2. Struktur Organisasi
19
Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, maka ditetapkanlah
misi Puskesmas Mekarpura:
a) Memberikan layanan kesehatan yang bermutu secara merata
dan terjangkau oleh masyarakat.
b) Meningkatkan peran aktif masyarakat melalui pembinaan dan
pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.
c) Meningkatkan tata kelola puskesmas yang baik melalui
perbaikan manajemen secara professional, efektif, efisien,
transparan dan akuntabel.
d) Meningkatkan dan mengembangkan kerjasama semua lini ke
dalam peningkatan kesehatan masyarakat.
2. Tujuan Puskesmas
Tujuan dari Puskesmas Mekarpura, antara lain:
a) Menjadi puskesmas pilihan masyarakat melalui pemberian
layanan kesehatan yang
b) berorientasi pada kepuasan pelanggan.
c) Mewujudkan tata kelola puskesmas yang professional, efektif,
transpran dan akuntabel.
C. Tugas dan Fungsi
1. Organisasi
Menurut peraturan mentri kesehatan nomor 19 tahun 2024
tentang penyelenggaraan pusat kesehatan, yang disebut alat
yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
kepada perseorangan ataupun masyarakat dengan pendekatan,
promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif yang
dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat. Puskesmas mempunyai tugas memberikan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, dan
menjalankan fungsi:
a) Menyelenggarakan dan mengoordinasikan Pelayanan
Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau
20
paliatif dengan mengutamakan promotif dan preventif di
wilayah kerjanya.
b) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan primer di wilayah
kerjanya.
c) Pemenuhan kebutuhan kesehatan dalam setiap fase
kehidupan
d) Perbaikan determinan kesehatan atau faktor yang
mempengaruhi kesehatan
e) Penguatan kesehatan perseorangan, keluarga, dan
masyarakat
f) Penguatan kesehatan perseorangan, keluarga, dan
masyarakat
2. Unit Kerja
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 19 tahun 2024 tentang penyelenggaraan
layanan kesehatan masyarakat sebagai berikut :
a) klaster pelayanan manajemen
klaster pelayanan manajemen bertugas memastikan
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan berjalan
dengan baik, sumber daya yang dimiliki Puskesmas
direncanakan dan dipenuhi sesuai dengan standar untuk
mendukung Pelayanan Kesehatan berjalan sesuai dengan
standar mutu, dengan berbagai tugas yaitu :
1) Manajemen Inti Puskesmas
(a) penyusunan rencana usulan kegiatan dan rencana
pelaksanaan kegiatan klaster
(b) penggerakan dan pelaksanaan melalui rapat
koordinasi dan lokakarya mini bulanan ataupun
triwulanan
(c) pengendalian, pengawasan, dan penilaian kinerja
2) Manajemen Arsip
21
meliputi pengelolaan arsip termasuk arsip keuangan
3) Manajemen Sumber Daya Manusia
perencanaan kebutuhan, pemenuhan, peningkatan
kompetensi, dan pengelolaan kinerja sumber daya
manusia.
4) Manajemen Sarana, Prasarana, Dan Perbekalan
Kesehatan
perencanaan kebutuhan, pemenuhan, pemeliharaan serta
pencatatan sarana, prasarana, dan perbekalan kesehatan.
5) manajemen mutu pelayanan
pengelolaan mutu Pelayanan Kesehatan yang diberikan
sesuai dengan standar, penjaminan keamanan bagi
petugas ataupun pasien, serta penilaian mutu secara
berkala.
6) manajemen keuangan dan aset atau barang milik daerah
pengelolaan berbagai sumber keuangan dan pencatatan
barang milik daerah secara akuntabel.
7) manajemen sistem informasi digital
pengelolaan sistem informasi, pencatatan dan pelaporan
secara tepat waktu, dan analisis data untuk digunakan
sebagai perencanaan kegiatan dan intervensi.
8) manajemen jejaring
koordinasi dan kolaborasi penyelenggaraan sistem
jejaring pelayanan kesehatan primer di wilayah kerjanya.
9) manajemen pemberdayaan masyarakat
pengorganisasian, penggerakan, dan edukasi masyarakat,
dukungan komitmen pemangku kepentingan, serta
partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Upaya
Kesehatan.
3. Pegawai
Pegawai di Puskesmas Mekarpura mempunyai tugas
dengan jabatan yang dimilikinya, dimana jabatan di di Puskesmas
22
Mekarpura dari Kepala Puskesmas dan Kepala Klaster dengan
uraian tugas sebagai berikut:
a) Tugas Kepala Puskesmas
(a) penyusunan rencana, program, dan anggaran;
(b) pengelolaan klaster;
(c) koordinasi jejaring Pelayanan Kesehatan primer di
(d) wilayah kerja Puskesmas;
(e) pengelolaan data dan sistem informasi;
(f) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan Puskesmas;
(g) pelaksanaan urusan administrasi Puskesmas.
23
4. memberikan konsultasi data pengkajian keperawatan dasar/lanjut;
5. melakukan komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan
keperawatan;
6. melaksanakan manajemen surveilans hais sebagai upaya pengawasan
risiko infeksi dalam upaya preventif dalam pelayanan keperawatan;
7. melakukan upaya peningkatan kepatuhan kewaspadaan standar pada
pasien/petugas/ pengunjung sebagai upaya pencegahan infeksi;
8. melakukan investigasi dan deteksi dini kejadian luar biasa yang
berdampak pada pelayanan kesehatan;
9. mengajarkan teknik kontrol infeksi pada keluarga dengan penyakit
menular;
10. merumuskan diagnosis keperawatan pada individu;
11. membuat prioritas diagnosis keperawatan dan masalah keperawatan;
12. menyusun rencana tindakan keperawatan pada individu
(merumuskan, menetapkan tindakan);
13. menyusun rencana tindakan keperawatan pada keluarga
(merumuskan, menetapkan tindakan);
14. melakukan tindakan keperawatan pada kondisi gawat
darurat/bencana/ kritikal;
15. melakukan tindakan terapi komplementer/ holistik;
16. melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan intervensi
pembedahan pada tahap pre/intra/post operasi;
17. memberikan dukungan/fasilitasi kebutuhan spiritual pada kondisi
kehilangan/berduka/ menjelang ajal dalam pelayanan keperawatan;
18. melakukan tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi;
19. melakukan tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan eliminasi;
20. melakukan tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan mobilisasi;
21. melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur;
22. melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri;
23. melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman dan
pengaturan suhu tubuh;
24. melakukan stimulasi tumbuh kembang pada individu;
24
25. memfasilitasi adaptasi dalam hospitalisasi pada individu;
26. melaksanakan case finding/ deteksi dini/ penemuan kasus baru pada
individu;
27. melakukan support kepatuhan terhadap intervensi kesehatan pada
individu;
28. melakukan pendidikan kesehatan pada individu pasien;
29. melakukan pendidikan kesehatan pada kelompok;
30. melakukan peningkatan/penguatan kemampuan sukarelawan dalam
meningkatkan masalah kesehatan masyarakat;
31. melakukan pendidikan kesehatan pada masyarakat;
32. melakukan pemenuhan kebutuhan oksigenisasi kompleks;
33. melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi;
34. melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi sensorik;
35. melakukan komunikasi dengan klien yang mengalami hambatan
komunikasi;
36. melakukan intervensi keperawatan spesifik yang kompleks pada area
medikal bedah;
37. melakukan intervensi keperawatan spesifik yang kompleks di area
anak;
38. melakukan intervensi keperawatan spesifik yang kompleks di area
maternitas;
39. melakukan intervensi keperawatan spesifik yang kompleks di area
komunitas;
40. melakukan intervensi keperawatan spesifik yang kompleks di area
jiwa;
41. melakukan perawatan luka;
42. melakukan pemantauan atau penilaian kondisi pasien selama
dilakukan tindakan keperawatan spesifik sesuai kasus dan kondisi pasien;
43. melakukan konsultasi keperawatan dan kolaborasi dengan dokter;
44. melakukan rehabilitasi mental spiritual pada individu;
45. melakukan penatalaksanaan manajemen gejala;
46. melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada individu;
25
47. melaksanakan fungsi pengarahan pelaksanaan pelayanan
keperawatan sebagai ketua tim/perawat primer;
48. melakukan pendokumentasian tindakan keperawatan;
49. melakukan pengorganisasian pelayanan keperawatan antar
shift/unit/fasilitas kesehatan;
50. melakukan pemberian penugasan perawat dalam rangka melakukan
fungsi ketenagaan perawat;
51. melakukan preseptorship dan mentorship;
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI
A. Landasan Teori
1. Nilai-nilai BerAKHLAK
Rangkaian dan tahapan kegiatan dalam rancangan tersebut di atas
memiliki keterkaitan dengan Nilai-Nilai Dasar PNS sebagai berikut:
a. Berorientasi Pelayanan
Definisi dari pelayanan publik sebagaimana tercantum dalam UU,
Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik. Asas penyelenggaraan pelayanan
publik seperti yang tercantum dalam Pasal 4 UU Pelayanan Publik,
yaitu: kepentingan umum; kepastian hukum, kesamaan hak,
26
keseimbangan hak dan kewajiban, keprofesionalan, partisipatif,
persamaan perlakuan/tidak diskriminatif, keterbukaan; akuntabilitas,
fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, ketepatan
waktu, dan kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan.
Mengenai panduan perilaku/kode etik dari nilai Berorientasi
Pelayanan sebagai pedoman bagi para ASN dalam pelaksanaan
tugas sehari-hari, yaitu:
1) Memahami dan Memenuhi Kebutuhan Masyarakat
Nilai Dasar ASN yang dapat diwujudkan dengan panduan perilaku
Berorientasi Pelayanan yang pertama ini diantaranya:
a) Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
b) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
c) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian; dan
d) Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerja sama.
27
2) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai.
b. Akuntabel
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk betanggung jawab kepada
seseorang/organisasi yang memberikan amanat. Dalam konteks
ASN, Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
mempertanggungjawabkan segala tindakan dan tanduknya sebagai
pelayanan publik kepada atasan, lembaga Pembina, dan lebih
luasnya kepada publik (Matsiliza dan Zonke, 2017). Akuntabilitas
merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi
untuk memenuhi tanggung jawab dari amanah yang dipercayakan
kepadanya. Jadi secara sederhana definisi Akuntabel adalah
bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan.
Amanah seorang menurut SE Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021 adalah
menjamin terwujudnya perilaku yang sesuai dengan Core Values
ASN BerAKHLAK. Dalam konteks Akuntabilitas, perilaku tersebut
adalah :
1) Kemampuan melaksanaan tugas dengan jujur,bertanggung jawab,
cermat, disiplin dan berintegritas tinggi;
2) Kemampuan menggunakan kekayaan dan barang milik negara
secara bertanggung jawab, efektif, dan efisien;
3) Kemampuan menggunakan kewenangan jabatannya dengan
berintegritas tinggi.
Indikator nilai-nilai dasar akuntabilitas diantaranya:
a) Kepemimpinan
b) Transparansi
c) Integritas
d) Tanggung jawab (Responsibilitas)
e) Keadilan
f) Kepercayaan
g) Keseimbangan
28
h) Kejelasan
Konsisten Panduan perilaku akuntabel yaitu:
a) Melaksanakan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, cermat,
disiplin, dan berintegritas tinggi;
b) Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
tanggung jawab, efektif, dan efisien;
c) Tidak menyalahgunakan kewenangan jabatan.
c. Kompeten
Terkait dengan perwujudan kompetensi ASN dapat
diperhatikan dalam Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 20 Tahun
2021 dalam poin 4, antara lain, disebutkan bahwa panduan perilaku
(kode etik) kompeten yaitu:
1) Meningkatkan kompetensi diri
a) Meningkatkan kompetensi diri untuk menjawab tantangan yang
selalu berubah adalah keniscayaan;
b) Pendekatan pengembangan mandiri ini disebut dengan
Heutagogi atau disebut juga sebagai teori “net-centric”,
merupakan pengembangan berbasis pada sumber
pembelajaran utama dari internet;
c) Perilaku lain ASN pembelajar yaitu melakukan konektivitas
dalam basis online network;
d) Sumber pembelajaran lain bagi ASN dapat memanfaatkan
sumber keahlian para pakar/konsultan, yang mungkin dimiliki
unit kerja atau instansi ASN bekerja atau tempat lain.
e) Pengetahuan juga dihasilkan oleh jejaring informal (Network),
yang mengatur diri sendiri dalam interaksi dengan pegawai
dalam organisasi dan atau luar organisasi.
2) Membantu orang lain belajar
a) Sosialisasi dan percakapan di ruang istirahat atau di kafetaria
kantor termasuk morning tea / coffee sering kali menjadi ajang
transfer pengetahuan.
29
b) Perilaku berbagi pengetahuan bagi ASN pembelajar yaitu aktif
dalam “pasar pengetahuan” atau forum terbuka (Knowledge
Fairs and Open Forums).
c) Mengambil dan mengembangkan pengetahuan yang
terkandung dalam dokumen kerja seperti laporan, presentasi,
artikel, dan sebagainya dan memasukkannya ke dalam
repository di mana ia dapat dengan mudah disimpan dan
diambil (Knowledge Repositories).
d) Aktif untuk akses dan transfer pengetahuan (Knowledge Acces
and Transfer), dalam bentuk pengembangan jaringan ahli
(Expert Network), pendokumentasian
pengalamannya/pengetahuannya, dan mencatat pengetahuan
bersumber dari refleksi pengalaman (lesson learned).
3) Melaksanakan tugas dengan kualitas terbaik
a) Pengetahuan menjadi karya: sejalan dengan kecenderungan
setiap organisasi baik instansi pemerintah maupun swasta,
bersifat dinamis, hidup dan berkembang melalui berbagai
perubahan lingkungan dan karya manusia.
b) Pentingnya berkarya terbaik dalam pekerjaan selayaknya tidak
dilepaskan dengan apa yang menjadi terpenting dalam hidup
seseorang.
d. Harmonis
Arti kata harmoni secara umum adalah keselarasan,
kesesuaian, kecocokan dan keseimbangan. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) Kemendikbud, harmoni berarti pernyataan
rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian. Dalam
bidang filsafat, harmoni atau harmonis adalah kerja sama antara
berbagai faktor dengan sedemikian rupa hingga faktor-faktor tersebut
dapat menghasilkan suatu kesatuan yang luhur. Unsur-unsur yang
dapat ditarik dari perumusan pengertian harmonisasi, antara lain:
1) Adanya hal-hal ketegangan yang berlebihan.
30
2) Menyelaraskan kedua rencana dengan menggunakan bagian
masing-masing agar membentuk suatu system.
3) Suatu proses atau suatu upaya untuk merealisasikan
keselarasan, kesesuaian, kecocokan dan keseimbangan.
4) Kerja sama antara berbagai faktor yang sedemikian rupa, hingga
faktor-faktor tersebut menghasilkan kesatuan yang luhur.
5) Berakar dari Semboyan Negara Indonesia yakni Bhineka Tunggal
Ika, yang berarti “Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua”, seorang
pelayan publik harus dapat menciptakan dan membangun
lingkungan kerja yang kondusif. Karena dengan kenyamanan
lingkungan kerja, ASN diyakini dapat lebih produktif.
e. Loyal
Secara etimologis, “loyal” diadaptasi dari bahasa Prancis yaitu
“Loial” yang artinys mutu dari sikap setia. Secara harfiah loyal berarti
setia, atau suatu kesetiaan. Kesetiaan ini timbul tanpa adanya
paksaan, tetapi timbul dari kesadaran sendiri pada masa lalu. Bagi
seorang Pegawai Negeri Sipil, kata loyal dapat dimaknai sebagai
kesetiaan, paling tidak terhadap cita-cita organisasi, dan lebih-lebih
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Loyalitas merupakan suatu hal yang bersifat emosional. Untuk
bisa mendapatkan sikap loyal seseorang, terdapat banyak faktor yang
akan mempengaruhi. Terdapat beberapa ciri/karakteristik yang dapat
digunakan oleh organisasi untuk mengukur loyalitas pegawainya,
antara lain:
1) Taat pada peraturan
2) Bekerja dengan integritas
3) Tanggung jawab pada organisasi
4) Kemauan untuk bekerja sama
5) Rasa memiliki yang tinggi
6) Hubungan antar pribadi
7) Kesukaan terhadap pekerjaan
8) Keberanian mengutarakan ketidaksetujuan
31
9) Menjadi teladan bagi pegawai lain
Loyal merupakan salah satu nilai yang terdapat dalam Core
Values ASN yang dimaknai bahwa setiap ASN harus berdedikasi dan
mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, dengan kata kunci
komitmen, dedikasi, kontribusi, nasionalisme, dan pengabdian, serta
dengan adanya panduan perilaku:
1) Memegang teguh Ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia tahun 1945, setia kepada NKRI dan
pemerintahan yang sah;
2) Menjaga nama baik sesame ASN; serta
3) Menjaga rahasia jabatan dan negara.
f. Adaptif
Adaptif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
bermakna menyesuaikan (diri) dengan keadaan. Adaptif berarti terus
berinovasi dan antusias dalam menggerakkan ataupun menghadapi
perubahan. Adaptif merupakan salah satu karakter penting yang
dibutuhkan oleh individu maupun organisasi untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Terdapat alasan mengapa nilai-nilai adaptif
perlu diaktualisasikan dalam pelaksanaan tugas-tugas jabatan di
sektor publik, seperti diantaranya perubahan lingkungan strategis,
kompetisi yang terjadi antar instansi pemerintahan, perubahan iklim,
perkembangan teknologi dan lain sebagainya. Adaptif memiliki kata
kunci inovasi, antusias terhadap perubahan, dan proaktif.
Adaptasi merupakan kemampuan alamiah makhluk hidup.
Organisasi dan individu di dalamnya memiliki kebutuhan beradaptasi
selayaknya makhluk hidup, untuk mempertahankan keberlangsungan
hidupnya. Kemampuan beradaptasi juga memerlukan adanya inovasi
dan kreativitas yang ditumbuhkembangkan dalam diri individu maupun
organisasi. Di dalamnya dibedakan mengenai bagaimana individu
dalam organisasi dapat berpikir kritis versus berpikir kreatif. Pada
level organisasi, karakter adaptif diperlukan untuk memastikan
keberlangsungan organisasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
32
Penerapan budaya adaptif dalam organisasi memerlukan beberapa
hal, seperti diantaranya tujuan organisasi, tingkat kepercayaan,
perilaku tanggung jawab, unsur kepemimpinan dan lainnya.budaya
adaptif sebagai budaya ASN merupakan kampanye untuk
membangun karakter adaptif pada diri ASN sebagai individu yang
menggerakkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Diharapkan
setiap ASN nantinya menanamkan nilai adaptif sehingga setiap ASN
akan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, terus berinovasi
dan mengembangkan kreatifitas, serta selalu bertindak proaktif pada
setiap perubahan.
g. Kolaboratif
Kolaboratif merupakan proses partisipasi beberapa orang,
kelompok dan organisasi yang bekerja sama untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Kolaborasi menyelesaikan visi bersama, mencapai
hasil positif bagi khalayak yang dilayani, dan membangun system
yang saling terkait untuk mengatasi masalah dan peluang. Kolaborasi
juga melibatkan berbagai sumber daya dan tanggung jawab untuk
secara bersama merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi
program-program untuk mencapai tujuan bersama. Jika dikaitkan
dengan ASN, kolaboratif sangat diperlukan dalam sebuah organisasi.
Seorang ASN harus bersedia untuk berbagi visi, misi, kekuatan,
sumber daya dan tujuan. Seorang ASN yang profesional dalam
menyelesaikan tugas-tugasnya harus mampu berkolaborasi dengan
berbagai elemen yang ada di tempatnya bekerja sehingga akan
tercipta suatu kerja sama yang sinergis yang dapat memaksimalkan
hasil dari tugas yang dilaksanakannya. Kata kunci dari kolaboratif
yang perlu dipegang oleh seorang ASN adalah:
1) Kesediaan bekerja sama.
2) Sinergi untuk hasil yang lebih baik.
Dalam melakukan kolaboratif seorang ASN harus
memperhatikan beberapa kode etik yaitu:
1) Memberi kesempatan berbagai pihak untuk berkontribusi.
33
2) Terbuka dalam bekerja sama untuk menghasilkan nilai tambah.
3) Menggerakkan berbagai pemanfaatan berbagai sumber daya
untuk tujuan bekerja sama.
34
penggunaan aplikasi, dan penggunaan infrastruktur digital.
Pemerintah digital meliputi regulasi, kebijakan, dan pengendalian
sistem digital. Sementara itu, ekonomi digital meliputi aspek
SDM digital, teknologi penunjang, dan riset inovasi digital.
Indikator yang dipakai dalam menentukan keberhasilan
terwujudnya Indonesia Digital Nation melalui peta jalan literasi
digital diantaranya yaitu dari ITU, IMD, dan Katadata.
International Telecommunication Union (ITU) → ICT
Development Index Institute of International Management
Development (IMD) → IMD Digital Competitiveness Ranking
Katadata Insight Center → Status Literasi Digital Indonesia
Survei di 34 Provinsi.
Peta Jalan Literasi Digital 2021-2024 yang disusun oleh
Kominfo, Siberkreasi, dan Deloitte pada tahun 2020 menjadi
panduan fundamental untuk mengatasi persoalan terkait
percepatan transformasi digital dalam konteks literasi digital.
Dalam peta jalan ini, dirumuskan kurikulum literasi digital yang
terbagi atas empat area kompetensi yaitu: kecakapan digital
(digital skills), budaya digital (digital culture), etika digital (digital
ethics) dan keamanan digital (digital safety)
Telah disusun pula 4 modul yang dibuat untuk menunjang
percepatan transformasi digital yaitu:
a) Cakap Bermedia Digital
b) Budaya Bermedia Digital
c) Etis Bermedia Digital
d) Aman Bermedia Digital
3) Lingkup Literasi Digital
Dalam mencapai target program literasi digital, perlu
diperhitungkan estimasi jumlah masyarakat Indonesia yang telah
mendapatkan akses internet berdasarkan data dari APJII dan
BPS. Identifikasi Target User dan Total Serviceable Market
35
penting untuk menentukan target spesifik program literasi digital.
Saat ini, tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 73,7%.
4) Tantangan Kesenjangan Digital
Kesenjangan digital ini berfokus pada kemampuan
memiliki (ekonomi) dan mengoperasikan perangkat digital
(komputer) dan akses (Internet).
Digital immigrant kurang mengapresiasi kecakapan
digital seperti halnya digital native. Karakteristik yang umum
dijumpai pada digital immigrant adalah gagap dengan teknologi.
Di satu sisi, mereka senang akan inovasi teknologi. Tetap,
kompetensi digital tidak dimiliki, dipelajari, dan diaplikasikan
dengan baik, sehingga masih diperlukan penguatan literasi
digital oleh berbagai pihak.
5) Penguatan Literasi Digital
Di Indonesia, sejak lama sudah dilakukan upaya
penguatan literasi digital. Pada Kurikulum 2006, mata pelajaran
TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sempat menjadi
bagian penting di bangku sekolah menengah dan atas. Namun
dihapus pada Kurikulum 2013, untuk kemudian direstorasi di
Kurikulum 2013 terbaru. Namun, penguatan literasi digital tidak
hanya datang dari Kemendikbud selaku otoritas pendidikan
beberapa lembaga pemerintah, akademisi, dan nonpemerintah
Sehingga lingkup literasi digital berfokus pada pengurangan
kesenjangan digital (digital divide) dan penguatan literasi digital.
Kedua hal ini terkait erat dengan peta penguatan literasi digital
dari Presiden dan Gerakan Literasi Digital dari Kominfo.
6) Implementasi Literasi Digital
Sejalan dengan perkembangan ICT (Information,
Communication and Technology), muncul berbagai model
pembelajaran secara daring. Selanjutnya, muncul pula istilah
sekolah berbasis web (web-school). Bermula dari kedua istilah
tersebut, muncullah berbagai istilah baru dalam pembelajaran
36
yang menggunakan internet, seperti online learning, distance
learning, web-based learning, dan elearning (Kuntarto dan
Asyhar, 2016). Gerakan Literasi Nasional dalam Materi
Pendukung Literasi Digital dari Kemendikbud 2017
(Kemendikbud, 2017) juga telah menggariskan beberapa
indikator terkait penguatan literasi digital di basis sekolah,
masyarakat dan keluarga.
b. Managemen ASN
1) Kedudukan ASN
Secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk
menduduki jabatan pemerintahan, memiliki nomor induk pegawai
secara nasional.
Sedangkan PPPK adalah warga Negara Indonesia yang
memenuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan
kebutuhan Instansi Pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam
rangka melaksanakan tugas pemerintahan.
2) Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka Pegawai ASN
berfungsi sebagai berikut:
a) Melaksanakan kebijakan yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
37
b) Memberikan pelayanan public yang professional dan
berkualitas, dan
c) Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan
Republik Indonesia
Tabel 3.1 : Fungsi dan Tugas ASN
Pelaksana Kebijakan Publik Pelayan Publik Perekat dan Pemersatu
Bangsa
“Melaksanakan kebijakan “Memberikan pelayanan “Mempererat persatuan
yang dibuat oleh Pejabat publik yang professional dan kesatuan Negara
Pembina Kepegawaian sesuai dan berkualitas” Kesatuan Republik
dengan ketentuan peraturan Indonesia”
perundangundangan”
38
3) Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat
pemerintah yang berwenang
4) Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan
5) Melaksanakan Tugas Kedinasan dengan Penuh
Pengabdian, Kejujuran, Kesadaran, danTanggung Jawab
6) Menunjukkan Integritas dan Keteladanan Dalam Sikap,
Perilaku, Ucapan Dan TindakanKepada Setiap Orang, Baik
di Dalam Maupun di Luar Kedinasan
7) Menyimpan Rahasia Jabatan Dan Hanya Dapat
Mengemukakan Rahasia Jabatan SesuaiDengan Ketentuan
Peraturan Perundang-undangan
8) Bersedia ditempatkan di Seluruh Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia
c) Kode Etik dan Kode Prilaku ASN
1) melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggungjawab,
dan berintegritas tinggi
2) melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin
3) melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan
4) melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan etika pemerintahan.
5) tidak menyalahgunakan informasi intern Negara, tugas,
status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau
mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk
orang lain.
6) Memberika informas secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukaninformasi terkait
kepentingan kedinasanMemberika informas secara benar dan
tidak menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan
informasi terkait kepentingan kedinasan
7) Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya
39
8) Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
9) Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
10)Tidak menyalahgunakan informasi intern Negara, tugas,
status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau
mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk
orang lain;
11)Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga
reputasi dan integritas ASN, dan
12)Melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan
mengenai disiplin Pegawai ASN.
40
yang terstruktur antara fasilitas pengirim dan penerima rujukan,
Setiap proses rujukan terdokumentasi secara digital dan dapat
dipantau oleh dinas kesehatan atau pihak terkait dan Pasien
mendapatkan pelayanan yang tepat, cepat, dan sesuai kebutuhan
medis berdasarkan alur rujukan berjenjang.
b. Sistem Rujukan Terintegritas
Sistem rujukan terintegritas adalah aplikasi berbasis
teknologi informasi yang digunakan untuk menghubungkan antar
fasilitas pelayanan kesehatan dalam proses rujukan pasien, baik
secara horizontal (antar fasilitas setara) maupun vertikal (antar
jenjang layanan), secara real-time, cepat, dan terdokumentasi
(Kemenkes RI, 2019). Dalam rangka meningkatkan kualitas
pelayanan fasilitas kesehatan agar lebih efektif dan efisien, maka
dikembangkan penataan sistem rujukan secara nasional berbasis
kompetensi. sehingga alur rujukan pasien tidak terpaku pada kelas
rumah sakit melainkan pada kompetensi fasillitas pelayanan
kesehatan terhadap pelayanan kesehatan suatu penyakit. Penataan
tersebut diharapkan akan memberikan dukungan yang signifikan
bagi berjalannya implementasi kebijakan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN)
. Untuk meningkat akses dan kualitas layanan rujukan
digunakan aplikasi sistem informasi rujukan yang berbasis online
yaitu aplikasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE).
Aplikasi SISRUTE merupakan sarana komunikasi proses rujukan
yang dapat memberikan informasi rujukan pelayanan kesehatan
perorangan. Aplikasi SISRUTE telah diimplementasikan secara
nasional pada akhir tahun 2016 untuk digunakan dalam melakukan
rujukan pasien antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes)
dengan kasus terbatas, yaitu kasus gawat darurat, implementasi
rujukan berbasis kompetensi dengan aplikasi sisrute diharapkan
dapat dilakukan secara cepat, tepat, efektif dan efisien sehingga
41
dapat meningkatkan kualitas rujukan pelayanan kesehatan
perorangan.
42
B. Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Habituasi
Isu prioritas yaitu Belum optimalnya Pengelolaan Layanan Keperawatan Antar Unit Kesehatan Dengan Menggunakan
Rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan Terintegritas (SISRUTE) Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Di Puskesmas
Mekarpura. Pemecahan masalah isu ini merupakan sarana implementasi prinsip pelayanan publik (partisipative, reflective,
efektif, tidak diskriminatif, dapat dipertanggung jawabkan dan berkeadilan), manajemen ASN (mengutamakan kewajiban
dalam melaksanakan kebijakan publik dan memberikan pelayanan) dan Whole of Government (berkordinasi dengan kepala
ruangan dan tim Sasaran Keselamatan Pasien).
Tabel 3.5 Identifikasi Rencana Aktualisasi
Nama : Ns. Muhammad Akmal Andriawan, S.Kep
43
4. Melakukan sosialisasi dengan teman sejawat mengenai Alur Rujukan Digital Aplikasi
Sistim Rujukan Terintegritas (SISRUTE)
5. Mengevaluasi tingkat Pengetahuan Alur Rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan
Terintegritas (SISRUTE) setelah di lakukan sosialisasi
44
Tabel 3.6 Rancangan Aktualisasi
45
diskusi tanpa
memanipulasi
kegiatan.
Akuntabel: Dapat
dipercaya
2. Membuat alur 1. Melakukan Alur Layanan 1. Pembuatan alur Visi: Penguatan nilai Tidak -
rujukan diskusi Rujukan layanan rujukan “Menjadi pusat organisasi
Digital dengan kepala terintegrasi terintegrasi dilakukan layanan kesehatan dalam kegiatan
Aplikasi Ruangan dengan diskusi masyarakat yang ini adalah
Sistim tentang bersama mentor. bermutu dan knowledge,
Rujukan rencana Kolaboratif: berorientasi pada yaitu
Terintegritas usulan draft Membangun kerja kebutuhan memberikan
(SISRUTE) alur layanan sama yang sinergis masyarakat.” kesempatan
rujukan 2. Diskusi bersama Misi ke-3: untuk Membuat
terintegrasi mentor dilakukan Meningkatkan tata alur layanan
2. Menyusun dengan sikap. kelola puskesmas rujukan
draft alur Harmonis yang baik melalui terintegrasi
layanan 3. alur layanan rujukan perbaikan
rujukan terintegrasi yang manajemen secara
terintegrasi disusun harus bisa professional, efektif,
dengan dipertanggungjawabk efisien, transparan
cermat dan an dan dalam dan akuntabel.
teliti penyusunannya
3. Mengkonsulka harus cermat dan
n draft alur teliti serta sistematis
layanan mulai dari pasien
rujukan datang sampai
terintegrasi pasien pulang.
4. Mengusulkan Akuntabel:
rancangan Tanggung Jawab
susunan alur dan Kejelasan
46
layanan 4. alur layanan rujukan
rujukan terintegrasi dibuat
terintegrasi ringkas dan
5. Dokumentasi mencakup segala
kegiatan yang dibutuhkan
agar efektif dan
efisien
Loyal: Berdedikasi
dan mengutamakan
kepentingan
bangsa dan negara
3 Mengkaji 1. Menyiapakan Pembagian 1. Melakukan Visi: Penguatan nilai ya Adanya petugas
tingkat alat ukur link soal koordinasi dengan “Menjadi pusat organisasi dala yang tidak
Pengetahuan pengetahuan tentang alur teman sejawat layanan kesehatan m kegiatan ini a bersedia
Alur Rujukan tentang Alur layanan Kolaboratif masyarakat yang dalah knowledg dengan keluhan
Digital Rujukan digital terintegrasi 2. Melakukan bermutu dan e, yaitu memberi Jaringan
Aplikasi menggunakan ke petugas koordinasi berorientasi pada kan kesempatan internet bisa
Sistim googel form menggunakan kebutuhan untuk Membuat kurang
Rujukan 2. Melakukan komunikasi yang masyarakat.” Misi alur layanan ruju mendukung, jadi
Terintegritas pembagian link efektif dan ke-1: Memberikan kan terintegrasi kita bisa
(SISRUTE) soal tentang memperhatikan layanan kesehatan menyiapkan
alur layanan sopan santun. yang bermutu jaringan yang
rujukan Harmonis secara merata dan bisa membantu
terintegrasi 3. Menghargai pendap terjangkau oleh petugas dalam
3. Meminta at sejawat yang me masyarakat. pengisian link
feedback atau mberikan feedback
mengevaluasi mengandung nilai
tindakan untuk Harmonis
menjamin
pelaksanaan
sesuai dengan
47
yang
diharapkan
4. Dokumentasi
kegiatan
4. Melakukan 1. Membuat Sosialisasi 1. Melakukan Visi: Penguatan nilai Tidak -
sosialisasi perencanaan Alur Rujukan koordinasi dengan “Menjadi pusat organisasi dala
dengan yang matang Digital teman sejawat layanan kesehatan m kegiatan ini a
teman Melakukan Aplikasi Kolaboratif masyarakat yang dalah knowledg
sejawat koordinasi Sistim 2. Melakukan bermutu dan e, yaitu memberi
mengenai dengan teman Rujukan koordinasi kan kesempatan
berorientasi pada
Alur Rujukan sejawat Terintegritas menggunakan untuk Membuat
Digital mengenai Alur (SISRUTE) komunikasi yang
kebutuhan alur layanan ruju
Aplikasi Rujukan Digital efektif dan masyarakat.” Misi kan terintegrasi
Sistim Aplikasi Sistim memperhatikan ke-3:
Rujukan Rujukan sopan santun. Meningkatkan tata
Terintegritas Terintegritas Harmonis kelola puskesmas
(SISRUTE) (SISRUTE)den 3. Dalam melakukan yang baik melalui
gan sosialisasi Alur perbaikan
menggunakan Rujukan Digital manajemen secara
komukasi yang Aplikasi Sistim professional,
efektif, dengan Rujukan efektif, efisien,
memperhatika Terintegritas
transparan dan
n sikap sopan (SISRUTE)
dan santun Berorientasi
akuntabel..
2. Menyiapakan Pelayanan
alat dan 4. Menghargai pendap
barang yang at sejawat yang me
diperlukan mberikan feedback
untuk mengandung nilai
Sosialisasi Harmonis
Alur Rujukan 5.
48
Digital Aplikasi
Sistim Rujukan
Terintegritas
(SISRUTE)
3. Melakukan
Sosialisasi
Alur Rujukan
Digital Aplikasi
Sistim Rujukan
Terintegritas
(SISRUTE)
4. Meminta
feedback atau
mengevaluasi
tindakan untuk
menjamin
pelaksanaan
sesuai dengan
yang
diharapkan
5. Dokumentasi
kegiatan
5. Mengevaluas 1. Menyiapakan Pembagian 4. Melakukan Visi: Penguatan nilai ya Adanya petugas
tingkat alat ukur link soal koordinasi dengan “Menjadi pusat organisasi dala yang tidak
Pengetahua pengetahuan tentang alur teman sejawat layanan kesehatan m kegiatan ini a bersedia
n Alur tentang Alur layanan Kolaboratif masyarakat yang dalah knowledg dengan keluhan
Rujukan Rujukan digital terintegrasi 5. Melakukan bermutu dan e, yaitu memberi Jaringan
Digital menggunakan ke petugas koordinasi berorientasi pada kan kesempatan internet bisa
Aplikasi googel form menggunakan kebutuhan untuk Membuat kurang
Sistim 2. Melakukan komunikasi yang masyarakat.” Misi alur layanan ruju mendukung, jadi
Rujukan pembagian link efektif dan ke-1: Memberikan kan terintegrasi kita bisa
49
Terintegritas soal tentang memperhatikan layanan kesehatan menyiapkan
(SISRUTE) alur layanan sopan santun. yang bermutu jaringan yang
setelah rujukan Harmonis secara merata dan bisa membantu
dilakukan terintegrasi 6. Menghargai pendap terjangkau oleh petugas dalam
sosialisasi 3. Meminta at sejawat yang me masyarakat. pengisian link
feedback atau mberikan feedback
mengevaluasi mengandung nilai
tindakan untuk Harmonis
menjamin
pelaksanaan
sesuai dengan
yang
diharapkan
4. Dokumentasi
kegiatan
50
C. RANCANGAN PENJADWALAN KEGIATAN AKTUALISASI DAN HABITUASI
Tabel 3.7 Jadwal Rencana Kegiatan
No Kegiatan Pelaksanaan Tempat
.
1 Mengkoordinasikan dengan atasan terkait Di Puskesmas Mekarpura
Melakukan rapat dengan atasan terkait
alur layanan rujukan secara digital
(SISRUTE)
2 Membuat alur rujukan Digital Aplikasi Di Puskesmas Mekarpura
Sistim Rujukan Terintegritas (SISRUTE)
3. Mengkaji tingkat Pengetahuan Alur Di Puskesmas Mekarpura
Rujukan Digital Aplikasi Sistim Rujukan
Terintegritas (SISRUTE)
51
Tabel 3.8 Matrik Rencana Pelaksanaan Aktualisasi Mingguan
No. KEGIATAN BULAN
JULI AGUSTUS SEPTEMBE
R
I II III IV I II III IV I II III IV
PERSIAPAN
1. Konsultasi atau koordinasi dengan coach dan
mentor
PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Mengkoordinasikan dengan atasan terkait
Melakukan rapat dengan atasan terkait alur
layanan rujukan secara digital (SISRUTE)
2. Membuat alur rujukan Digital Aplikasi Sistim
Rujukan Terintegritas (SISRUTE)
3. Mengkaji tingkat Pengetahuan Alur Rujukan
Digital Aplikasi Sistim Rujukan Terintegritas
(SISRUTE)
52
EVALUASI
1. Penyusunan laporan
2. Seminar hasil
53
54