0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan26 halaman

Bab Viii Baruuu

Dokumen ini membahas perlindungan lingkungan dan keselamatan dalam aktivitas pertambangan oleh PT Mitra Andesit Utama, termasuk dampak lingkungan dari setiap tahap penambangan dan rencana pengelolaan serta pemantauan lingkungan. Selain itu, juga dijelaskan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk memastikan kesejahteraan pekerja dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Rencana pascatambang mencakup reklamasi lahan untuk mengembalikan fungsi lingkungan dan sosial setelah kegiatan penambangan selesai.

Diunggah oleh

gamersking474
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan26 halaman

Bab Viii Baruuu

Dokumen ini membahas perlindungan lingkungan dan keselamatan dalam aktivitas pertambangan oleh PT Mitra Andesit Utama, termasuk dampak lingkungan dari setiap tahap penambangan dan rencana pengelolaan serta pemantauan lingkungan. Selain itu, juga dijelaskan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk memastikan kesejahteraan pekerja dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Rencana pascatambang mencakup reklamasi lahan untuk mengembalikan fungsi lingkungan dan sosial setelah kegiatan penambangan selesai.

Diunggah oleh

gamersking474
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB VIII

LINGKUNGAN DAN KESELAMATAN PERTAMBANGAN


8.1 Perlindungan Lingkungan
Aktivitas penambangan memiliki dampak yang signifikan terhadap
lingkungan, baik positif maupun negatif. Oleh arena itu, peting untuk melibatkan
aktivitas yang bertujuan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam
rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mengelola dampak dari
aktivitas penambangan, dilakukanlah studi lingkungan hidup yang kemudian
diwujudkan dalam dokumen Upaya Pengelolaa Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup.
Sebagai salah satu sumber daya alam yang paling berpotensi di Sumatera
Barat, PT Mitra Andesit Utama merupakan salah satu perusahahan yang berdiri
sebagai penghasil batu andesit yang menjaga ligkungan hidup dan menghasilkan
nilai tambah yang optimal baik untuk produk tambangnya maupun untuk nilai
tambah dari berkembangnya berbagai kegiatan yang terkait. Selain menghasilkan
manfaat positif penambangan dan pengolahan batuan andesit juga memiliki efek
negatif lainnya, yaitu dapat berupa mengubah elemen lingkungan hidup sekitar,
terutama perubahan bentang alam dan morfologi wilayah, serta aspek sosial dan
budaya yang terkait dengan aktivitas tambang yang harus diperhatikan.
8.1.1 Dampak Kegiatan
PT Mitra Andesit Utama memiliki dampak lingkungan hidup yang
besar dalam menambang dan mengolah batu andesit di wilayah kecamatan
suliki, Dampak ini mencakup 4 (empat) tahap, yaitu:
1. Tahap Pra-Konstruksi
Pada tahap ini, terdapat 2(dua) jenis kegiatan yang diperkirakan akan
berdampak pada lingkungan hidup, yaitu penyiapan lahan dan kompensasi
penggunaan lahan.
2. Tahap Konstruksi
Pada tahap ini, terdapat beberapa jenis kegiatan yang mungkin berdampak
pada lingkungan hidup, seperti mobilisasi dan demobilisasi peralatan,
pembangunan dan peningkatan infrastruktur penunjang, pembangunan
area pengolahan
3. Tahap Operasi Produksi
Pada tahap operasi produksi batu andesit memiliki banyak dampak
lingkungan yang sangat berpengaruh aseperti ketika dilakukan blasting
batuan andesit yaitu berpengaruh pada iklim dan debu daerah sekitar,
pada saat produksi batu andesit yaitu tahap kegiatan hauling batu andesit
dari PIT menuju crushing plant (hopper) dan tahap terakhir dampak
negatif pada operasi produksi adalah air asam tambang dan bahan beracun
dan berbahaya (B3).
4. Tahap Pasca Operasi
Dampak lingkungan pada tahap pasca operasi kegiatan adalah dampak
sosial dan ekonomi yaitu pemutusan hubungan kerja karyawan, dampak
lingkungan yaitu demobilisasi dan mobilisasi alat pasca tambang

No Sumber Dampak Dampak Penting Hipotenik


Tahap Pra-Konstruksi
1. Persiapan lahan • Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat (positif atau negatif)
• Terjaina konflik sosial
2. Konpensasi Penggunaan • Munculnya Sikap dan Persepsi
Lahan masyarakat (positif atau negatif)
• Terjadinya konflik sosial
• Berubahnya bentang alam
Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi dan Demobilisasi • Peningktan Kebisingan
Peralatan • Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat (positif atau negatif)
2. Pembangunan dan • Peningktan Kebisingan
Peningkatan Infrastruktu • Peningkatan Debu
Penunjang • Peningkatan Resiko Kecelakaan
• Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat (positif atau negatif)
3. Pembukaan Lahan • Penurunan kualitas udara
(peningkatan CO,SO2,NO2)
• Terjadinya erosi dan sedimentasi
• Peningkatan Potensi kecelakaan
• Peningkatan kebisingan
4. Pembangunan area • Peningktan Kebisingan
Pengolahan • Peningkatan Debu
• Peningkatan Resiko Kecelakaan
• Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat (positif atau negatif)
Tahap Operasi Produksi
1. Kegiatan Hauling Batu • Peningktan Kebisingan
Andesit dari PIT Menuju • Peningkatan Debu
Crushing Plant (Hopper) • Peninkatan Resiko Kecelakaan
2. Air Asam Tambang dan Bahan • Menurunnya kualitas pH air
Beracun dan Berbahaya (B3) • Peningkatan kadar logam terlarut
• Terganggunya ekosistem mahluk
hidup sekitarnya
• Turunnya muka air tanah atau
debit sungai
• Meningkatnya Kekeruhan Air
• Penurunan kualitas tanah jika
melanggar aturan pengolahan
limbah
Tahap Pasca Operasi
1. Pemutusan Hubungan Kerja • Keresahan dan Potensi Konflik
Karyawan • Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat
2. Pembongkaran, Pemindahan • Munculnya Sikap dan Persepsi
atau Peralian Pemanfaatan masyarakat
Bangunan atau Infrastruktur • Keresahan dan potensi konflik
yang ada • Penurunan kualitas udara
• Peningktan Kebisingan
3. Demobilisasi dan Mobilisasi • Peningktan Kebisingan
Alat Pasca Tambang • Munculnya Sikap dan Persepsi
masyarakat

8.1.2 Pengolahan Lingkungan


Rencana pengelolaan lingkungan dibgi menjadi beberapa sector yaitu:
A. Bentang Alam
Perubahan yang di sebabkan oleh kegiatan Penambangan, penataan
lahan dan fasilitas pendukung.
Rencana Pengelolaan:
1. Membuat rencana penataan lahan berdasarkan prinsip
konservasi mineral dan lingkungan.
2. Meminimalkan pembukaan lahan pada luasan lahan yang
diperlukan untuk kegiatan penambangan dan melakukan
penataan kembali lahan sesegera mungkin.
B. Limpasan Air Permukaan
Perubahan yang di sebabkan dari dampak Pembukaan lahan,
kegiatan penambangan dan penimbunan.
Rencana Pengelolaan:
1. Meminimalkan pembukaan lahan pada luasan lahan yang
diperlukan untuk kegiatan penambangan dan melakukan
penataan kembali lahan sesegera mungkin.
2. Melakukan rehabilitasi lahan yang sudah tidak dimanfaatkan
sesegera mungkin.
3. Membuat perimeter drainase sebagai struktur pengendali erosi.
4. Membangun fasilitas penyaliran
C. Perubahan Kualitas Air Permukaan
Yang disebabkan oleh Pembukaan lahan, kegiatan penambangan
dan penimbunan.
Rencana Pengelolaan:
1. Melakukan rehabilitasi lahan yang sudah tidak dimanfaatkan
sesegera mungkin untuk meminimalkan laju erosi dan
sedimentasi.
2. Membangun fasilitas sediment control sesuai kebutuhan
3. Mengelola limpasan aliran permukaan pada lokasi penempatan
tanah penutup dan tambang aktif dengan pembangunan saluran
drainase dan mengalirkan air limpasan permukaan ke dalam
kolam-kolam sedimentasi
D. Kualitas Udara
Perubahan yang disebabkan oleh kegiatan penambangan,
pengolahan, peledakan, dan pengangkutan bahan galian batuan
andesit.
Rencana Pengelolaan:
1. Areal disekeliling fasilitas/sarana prasarana pendukung
kegiatan penambangan dilakukan Rehabilitasi dan penghijauan
untuk menciptakan kelembaban mikro pada lahan terbuka
sehingga pembentukan debu terbang dapat ditekan.
2. Melakukan penyiraman dengan air apabila pendebuan
berlebihan.
E. Perubahan Stabilitas Lahan
Retakan akibat terjadinya perubahan karakteristik tanah serta
getaran yang diakibatkan oleh kegiatan peledakan serta alat
penambangan dan pengolahan yang bekerja secara terus menerus.
Rencana Pengelolaan:
1. Diusahakan bahwa debit mata air tidak mengalami perubahan
yang drastis.
2. Dibuatkan drainase yang baik, sesuai dengan kondisi alam
sekitar, sebelum mengalami gangguan oleh kegiatan
penambangan.
F. Flora dan Fauna
Perubahan yang disebabkan oleh pembukaan lahan dan kegiatan
penambangan.
Rencana Pengelolaan:
1. Melakukan survei vegetasi dan inventarisasi pada beberapa
lokasi plot. Inventarisasi ditujukan sebagai referensi pemilihan
spesies untuk rehabilitasi lahan.
2. Pembangunan fasilitas pembibitan (nursery) perusahaan untuk
digunakan dalam kegiatan reklamasi, serta bekerja sama dengan
masyarakat setempat untuk pengembangan secara swadaya.
G. Biodiversitas
Perubahan yang disebabakan oleh pembukaan lahan dan kegiatan
penambangan.
Rencana Pengelolaan:
1. Rehabilitasi habitat dengan melakukan rehabilitasi dan
revegetasi tumbuhan pada area yang terbuka dengan menanam
tanaman endemik dan local.
2. Melakukan upaya konservasi fauna dengan bekerja sama
dengan pemerintah dan organisasi non pemerintah.
3. Menyediakan lahan sebagai referensi rona awal untuk dijadikan
rujukan kegiatan penghijauan dan sebagai bank bibit dan fauna
alami.
8.1.3 Pemantauan Lingkungan
A. Bentang Alam
• Parameter dampak penting yang dipantau: Perubahan bentang
alam.
• Rencana pemantauan:
1. Melakukan pemantauan visual, survei pengukuran langsung
dan interpretasi satelit.
2. Melakukan analisis komparasi rona awal dan setelah
kegiatan operasi pada periode minimal 6 bulan sekali
B. Limpasan Air Permukaan
• Parameter dampak penting yang dipantau: Laju aliran air
permukaan
• Rencana pemantauan:
1. Pengukuran tinggi muka air tanah
2. Analisis komparasi debit pada kondisi rona awal dan pasca
operasi
C. Kualitas Air Permukaan
• Parameter dampak penting yang dipantau: TSS, pH, suhu,
konduktivitas, DO, BOD, Total krom, dan Logam terlarut dan
komponen terkait sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
No. 9 Tahun 2006
• Rencana pemantauan:
1. Pengukuran pH, suhu, dan konduktivitas secara rutin sesuai
kebutuhan
2. Mengumpulkan dan menganalisis sampel air berdasarkan
kepada SNI
D. Kualitas Udara
• Parameter dampak penting yang dipantau: Kualitas udara yang
berasal dari dispersi TSP, Karbon dioksida (CO2) dan Timbal
(Pb)
• Rencana pemantauan:
1. Melakukan pemantauan secara berkala sepeti pengukuran
kandungan gas beracun
2. Pengukuran kandungan debu
E. Perubahan Stabilitas Lahan
• Parameter dampak penting yang dipantau: gerakan tanah pada
lokasi di atas, yaitu semua fenomena yang menunjukkan gejala
akan adanya gerakan tanah, seperti terbentuknya retakan pada
tanah.
• Rencana pemantauan:
1. Melakukan pemantauan terhadap perubahan karakteristik
fisik dan mekanika tanah.
F. Flora dan Fauna
• Parameter dampak penting yang dipantau: Jumlah area yang
telah dibuka dan direklamasi, jenis dan jumlah spesies, jenis
tanaman yang digunakan untuk reklamasi, jumlah benih yang
ditanam, dan tingkat pertumbuhan tanaman.
• Rencana pemantauan:
1. Membuat plot-plot pemantauan secara acak di lokasi
reklamasi
2. Mengukur tinggi dan diameter tanaman yang terdapat pada
plot-plot pemantauan
3. Menentukan tingkat kelulusan hidup tanaman yang ditanam
G. Biodiversitas
• Parameter dampak penting yang dipantau: Jumlah area yang
telah dibuka dan direklamasi, jenis dan jumlah, spesies, jenis
jenis tanaman yang digunakan untuk reklamasi, jumlah benih
yang ditanam, dan tingkat pertumbuhan tanaman
• Rencana pemantauan:
1. Membuat plot-plot pemantauan secara acak di lokasi
reklamasi
2. Mengukur tinggi dan diameter tanaman yang terdapat pada
plot-plot pemantauan
3. Menentukan tingkat kelulusan hidup tanaman yang ditanam
8.1.4 Kegiatan Pascatambang
kegiatan reklamasi bertujuan untuk penataan kembali lahan serta
memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial yang sesuai dengan
kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan yang aman, stabil, dan
produktif. kegiatan pascatambang adalah kegiatan yang direncanakan,
sistematis, dan berlanjut setelah sebagian atau seluruh kegiatan penambangan
selesai.
8.1.4.1 Pemanfaatan Lahan Pascatambang
Wilayah tambang yang telah selesai dieksploitasi kemudian
akan dilakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi lahan menjadi
kawasan Perkebunan dan ternak ikan dengan rincian seperti berikut:
1. Lahan Bekas Tambang
2. Jalan Tambang
3. Kolam Pengendapan
4. Stockpile
5. Stockroom
6. Fasilitas Penunjang

8.1.4.2 Jadwal Pelaksaan Pascatambang


8.1.4.3 Rencana Biaya Pascatambang
8.2 Keslamatan Pascatambang

Keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk


memastikan bahwa karyawan di tempat kerja mereka selalu
dalam kondisi sehat, nyaman, dan aman, dan terutama bekerja
secara produktif untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan
meningkatkan kesejahteraan umum pekerja perusahaan.
Selain diharuskan untuk menghasilkan produktivitas kerja
yang tinggi, para pekerja juga diharuskan untuk taat dan
melaksanakan ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan kemauan dan kerja sama
antara perusahaan dan karyawan untuk menjunjung tinggi
peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang dimaksudkan
untuk menjaga kesejahteraan perusahaan dan kesejahteraan
keluarganya. Untuk melakukan ini, para pekerja diharuskan
untuk mengikuti aturan tersebut.
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang
terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan
manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek.
Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan
lingkungan kerja. K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga
pekerja, konsumen, dan orang lain yang juga mungkin
terpengaruh kondisi lingkungan kerja. Di Indonesia, terdapat
beberapa undangundang yang mengatur masalah K3 dan
Ketenagakerjaan, di antaranya:

• Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


Undangundang ini mengatur tentang kewajiban KTT selaku pimpinan
tempat kerja dan pekerja dalam melaksanakan keselamatan kerja.

• Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. UndangUndang


ini menyatakan bahwa perusahaan berkewajiban memeriksakan kesehatan
badan, kondisi mental dan kemampuan fisik pekerja yang baru maupun
yang akan dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifatsifat
pekerjaan yang diberikan kepada pekerja, serta pemeriksaan kesehatan
secara berkala. Sebaliknya para pekerja juga berkewajiban memakai alat
pelindung diri (APD) dengan tepat dan benar serta mematuhi semua syarat
keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.

• Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


Undangundang ini mengatur mengenai segala hal yang berhubungan
dengan ketenagakerjaan mulai dari upah kerja, jam kerja, hak maternal,
cuti sampai dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

• Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor


555.K/26/M.PE/1995tentang keselamatan dan kesehatan kerja
pertambangan umum. Bagian keselamatan kerja dipimpin oleh seorang
Kepala Teknik yang membawahi bagian – bagian / unit tertentu, baik dari
unit ekplorasi, unit tambang, unit pengangkutan & pengolahan dan unit
mekanik. Unit – unit tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Teknik
Tambang serta membawahi langsung para pekerja tambang.

8.2.1 Manajemen Resiko keslamatan Pascatambang


Pengendalian risiko penting dilakukan untuk dapat meningkatkan
keamanan dan keselamatan pekerja dari risiko bahaya yang mungkin terjadi
di lokasi kerja. Manajemen risiko dilakukan dengan tiga tahap pengelolaan
risiko, yaitu :
a. Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya adalah upaya untuk mengetahui, mengenal, dan
memperkirakan bahaya pada sistem seperti peralatan, tempat kerja, proses
kerja, dan prosedur dan lain-lain, serta proses mengendalikan keberadaan
bahaya di bidang pekerjaan dan karakteristiknya. Ini dimulai dengan
mengidentifikasi seluruh area ruang kerja. Identifikasi bahaya dalam K3
juga dilakukan pada proses kerja dalam kondisi seperti kondisi normal,
abnormal, dan darurat.
b. Penilaian Risiko
Analisis risiko adalah upaya untuk mengetahui seberapa besar risiko
yang mungkin ditimbulkan oleh bahaya yang tidak diinginkan.
Kemudian risiko dikategorikan menjadi beberapa kategori, seperti
risiko yang dapat dihindari dan risiko yang dapat dipindahkan ke pihak
lain, dan kemudian menyiapkan konsekuensi ketika risiko tersebut
terjadi.
c. Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko adalah upaya menentukan langkah yang tepat
untuk mengurangi dan mengendalikan risiko, kemudian melakukan
manajemen kontrol agar proses pengendalian risiko dapat terawasi
dengan baik.
8.2.2 Pengelolaan kesehatan dan Keselamatan kerja Pertambangan
Program Keselamatan dan Kesehatan kerja dilakukan oleh perusahaan
dalam menjalankan semua kegiatan operasinya. Adapun Program K3 dari PT
Andesit Sukses Persada dirancang dengan tujuan untuk :
1. Sumber daya manusia yang kompeten, sadar, dan peduli akan
keselamatan kerja.
2. Perencanaan dan evaluasi sistem dan teknis pekerjaan untuk
mengurangi potensi bahaya dan risiko keselamatan kerja.
3. Pencegahan dan penanggulangan terhadap semua hal yang berpotensi
menyebabkan bahaya dan kecelakaan kerja
4. Melakukan pengawasan kegiatan dengan integritas
8.2.2.1 Pengelolaan Keselamatan Kerja
Program Keselamatan Kerja Pertambangan meliputi:
1. Melakukan kegiatan inspeksi secara rutin di lingkungan kerja
2. Melaksanakan pertemuan rutin bulanan dengan seluruh
karyawan
3. Melaksanakan Kampanye K3 secara intensif
4. Melaksanakan evaluasi program dan performa K3 secara rutin
5. Melaksanakan tindak lanjut hasil evaluasi K3
6. Menyelenggarakan Basic Safety Training
7. Menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerja
8. Melakukan perbaikan rambu lalu lintas dan aspek-aspek
keamanan lainnya
9. Melakukan identifikasi dan sosialisasi bahaya pada tiap-tiap
lokasi kerja
10. Membuat dan menerapkan Peraturan sanksi pelanggaran alat
pelindung diri termasuk jenis-jenis pelanggaran dan sanksi
yang akan diterima
8.2.2.2 Pengelolaan kesehatan Kerja
Program Kesehatan Kerja Pertambangan meliputi:
1. Melaksanakan Medical check up tahunan dan preemployment
medical check up
2. Memantau kesehatan kerja
3. Menerapkan sistem rekomendasi fit to work dari rumah sakit
atau klinik
4. Melaksanakan program rehabilitasi bagi karyawan yang tidak
dapat melaksanakan pekerjaan dikarenakan menderita suatu
penyakit
5. Melakukan identifikasi bahaya ergonomis dan kontrol yang
dapat dilakukan
6. Menyediakan fasilitas klinik dan obat-obatan
7. Mengadakan sosialisasi pola hidup sehat kepada karyawan
8. Mengadakan sosialisasi HIV-AIDS kepada karyawan
8.2.2.3 Pengelolaan Lingkungan Kerja
Program Lingkungan Kerja Pertambangan meliputi:
1. Melaksanakan program pemantauan rutin paparan bahaya
kesehatan kerja
2. Melaksanakan program pemetaan paparan lingkungan kerja
3. Melaksanakan program sosialisasi dan pelatihan yang
berkaitan dengan kesehatan kerja
4. Membeli dan melakukan kalibrasi peralatan pemantauan
kesehatan lingkungan
8.2.3 Sistem Manajemen Keslamatan Pertambangan
Sistem manajemen keselamatan pertambangan adalah bagian dari
sistem manajemen perusahaan dan digunakan untuk mengendalikan risiko
keselamatan pertambangan yang terdiri dari K3 dan keselamatan operasional
pertambangan (KO Pertambangan)
8.2.4 Pengelolaan Keselamatan Operasi Penambangan
Keselamatan Operasi Pertambangan (KO Pertambangan) adalah semua
tindakan yang dilakukan untuk melindungi dan menjamin kegiatan operasional
tambang yang aman, efektif, dan produktif, termasuk pengelolaan sistem dan proses
pemeliharaan. fasilitas, prasarana, instalasi, dan perlengkapan pertambangan;
pengamanan instalasi; kelayakan fasilitas, prasarana, instalasi, dan perlengkapan
pertambangan; kompetensi tenaga kerja; dan pelajari kajian teknis pertambangan.
8.2.4.1 Sistem Dan Pelaksanaan Pemeliharaan/Perawatan Sarana
Prasarana, Instalasi Dan Peralatan Pertambangan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi: Sarana (yang


bergerak) Lingkungan Kerja, Prasarana (tidak bergerak), Instalasi
Keselamatan Pengelolaan Sistem dan Pelaksanaan Perawatan
Pemeliharaan/Perawatan SPIP (terpasang pada peralatan utama), Peralatan
Pengamanan Instalasi (pencarian bahan galian, penambangan/penggalian,
Keselamatan Tenaga Teknis Pertambangan yang pemuatan, pengangkutan,
Operasional (KO) Berkompeten pengolahan/pemurnian dan pengangkatan)
Kelayakan SPIP.

Evaluasi Laporan Hasil Kajian Teknis Pertambangan Pengelolaan


Sistem dan Pelaksanaan Pemeliharaan/Perawatan Sarana, Prasarana, Instalasi
dan Peralatan Pertambangan (SPIP):
1. Membuat daftar sarana, prasarana, instalasi, dan/atau
peralatan
2. Mengidentifikasi jenis dan karakteristik atas pemeliharaan
atau perawatan
3. Menyusun dan menetapkan prosedur pemeliharaan atau
perawatan
4. Merencanakan program dan jadwal pemeliharaan atau
perawatan
5. Melaksanakan program pemeliharaan/perawatan
6. Melakukan evaluasi hasil pelaksanaan
7. Melaksanakan tindak lanjut hasil pemeliharaan atau
perawatan evaluasi dan peningkatan kinerja
pemeliharaan/perawatan
8.2.4.2 Pengamanan Instalasi
Perusahaan perlu untuk membuat suatu prosedur berkaitan
dengan pengamanan dari instalasi-instalasi vital seperti instalasi
kelistrikan, 86 instalasi air, instalasi komunikasi, instalasi hidrolik,
instalasi bahan bakar cair, dan instalasi proteksi kebakaran.
Berdasarkan Kepdirjen 185 Th 2019, Hal. 78, Pemegang
IUP, IUPK, dan IUP Operasi Produksi khusus untuk Pengolahan
dan/atau Pemurnian melaksanakan pengamanan instalasi dengan paling
sedikit melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Membuat daftar instalasi;


2. Mengidentifikasi kebutuhan pengaman atas instalasi;
3. Menyusun dan menetapkan prosedur pengamanan
instalasi;
4. Menyusun dan menetapkan desain pengamanan
instalasi;
5. Menyusun dan menetapkan prosedur proses pemasangan
instalasi;
6. Menyusun dan menetapkan prosedur pemeliharaan
pengamanan instalasi; dan
7. Menerapkan, memantau dan mengevaluasi sistem
pengamanan instalasi oleh Tenaga Teknis Pertambangan
yang Berkompeten di bidang Keselamatan Operasi;
8.2.4.3 Kompetensi Tenaga Teknik
Perusahaan harus menunjuk tenaga teknis untuk melakukan
proses pemeliharaan dan perawatan serta membuat dan mengambil
keputusan sesuai prosedur fasilitas, prasarana, instalasi, dan
perlengkapan pertambangan, dan melakukan evaluasi dan menyimpan
catatan tentang hasilnya.

8.2.4.4 Evaluasi Laporan Hasil Kajian Teknis Pertambangan

Perusahaan ini harus melakukan analisis teknis untuk setiap


aktivitas awal atau baru sebelum memulai aktivitas pertambangan.
Mereka juga harus melakukan analisis teknis untuk setiap perubahan
atau perbaikan yang dilakukan mengubah sistem, fasilitas, prasarana,
instalasi, dan peralatan pertambangan.

Kajian teknis dilakukan pada saat awal kegiatan atau sebelum


dimulainya kegiatan pertambangan. Apabila terjadi perubahan atau
modifikasi terhadap proses, sarana, prasarana, instalasi, dan peralatan
pertambangan maka hasil evaluasinya disampaikan kepada KaIT /
Kepala Dinas atas nama KaIT
8.2.5 Organisasi dan Personil Keselamatan Pertambangan
Dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja memiliki struktur
organisasi untuk menangani keselamatan dan Kesehatan kerja para pekerja di
Perusahaan.
Gambar 8. Struktur Organisasi K3 Perusahaan
Agar kegiatan penanganan K3 Perusahaan dapat maksimal maka
perusahaan membentuk komite keselamatan dan kesehatan kerja (Komite
K3). Komite K3 memiliki tugas pokok yaitu:
1. Membina kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja di
kalangan pekerja
2. Menjamin ditaatinya semua peraturan K3 oleh seluruh pekerja.
3. Melakukan pengkajian secara menyeluruh terhadap setiap
kecelakaan kerja yang terjadi dan membuat saran-saran
perbaikan
4. Menjadi panutan dalam pelaksanaan K3 bagi pekerja.
Tugas Pengawas Operasional:
1. Bertanggung jawab kepada Kepala Teknik Tambang terhadap
keselamatan semua pekerja tambang yang menjadi bawahannya
2. Bertanggung jawab atas keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan dari setiap pekerja yang ditugaskan kepadanya.
3. Melaksanakan inspeksi, pemeriksaan dan pengujian
4. Membuat dan menandatangan laporan-laporan
inspeksi, pemeriksaan dan pengujian.
Tugas Pengawas Teknis:
1. Bertanggung jawab kepada Kepala Teknik Tambang untuk
keselamatan pemasangan peralatan pekerjaan serta pemeliharaan
dari semua peralatan yang menjadi tugasnya.
2. Mengawasi dan memeriksa semua permesinan dan kelistrikan
peralatan yang menjadi tugasnya
3. Menjamin terlaksanakannya penyelidikan, pemeriksaan dan
pengujian dari permesinan dan kelistrikan peralatan
4. Merencanakan penyelidikan dan pengujian sema permesinan
dan kelistrikan peralatan sebelum digunakan, selesai digunakan
atau diperbaiki
5. Merencanakan dan menekankan dilaksanakannya pemeliharaan
semua peralatan sesuai jadwal yang telah direncanakan
6. Membuat dan menandatangani laporan penyelidikan,
pemeriksaan dan Penguian
8.2.6 Rencana Penggunaan dan Pengamanan Bahan Peledak dan Bahan
Berbahaya Lainnya

8.2.6.1 Definisi
Adapun definisi dari rencana penggunaan dan pengamanan
bahan peledak dan bahan berbahaya lainnya yaitu sebagai berikut:

a. Bahan peledak adalah semua senyawa kimia, campuran, atau alat


yang dibuat, dibuat, atau digunakan untuk membuat bahan peledak
melalui reaksi kimia yang berkelanjutan di dalam bahan. Beberapa
contoh bahan peledak termasuk, tetapi tidak terbatas pada,
ammonium nitrat, gelatin, dinamit, sumbu ledak, sumbu bakar,
detonator, dan bahan ramuan lainnya.
b. Detonator adalah suatu benda yang dipenuhi dengan bahan
peledak yang digunakan untuk memulai ledakan.
c. Juru Ledak, juga dikenal sebagai blaster, adalah seseorang yang
ditunjuk oleh perusahaan atau Kepala Teknik Tambang untuk
melakukan pekerjaan peledakan dan memiliki Kartu Izin
Meledakkan (KIM).
8.2.6.2 Tanggung Jawab
Adapun Penanggung Jawab terhadap kegiatan peledakan
menurut masing- masing jabatan adalah sebagai berikut :

1. Kepala Teknik Tambang


a. Menjamin bahwa semua tindakan penanganan bahan peledak dan
peledakan telah dilakukan sesuai dengan prosedur dan perundang-
undangan yang berlaku.
b. Memastikan bahwa identifikasi bahaya dan penilaian resiko yang
terkait dengan pekerjaan penanganan bahan peledak dan
peledakan telah dilakukan melalui Risk Management untuk
mengidentifikasi dan menentukan tindakan pengendalian yang
sesuai dengan tingkat pengendalian atau hierarchi pengendalian.
c. Memastikan bahwa pengendalian bahaya dan resiko yang terkait
dengan penanganan bahan peledak dan peledakan telah dilakukan
dengan cara yang sesuai dengan struktur kontrol.
2. Drill And Blast Engginer
a. Membuat design peledakan dan peta peledakan
b. Menghitung kebutuhan bahan peledak
c. Mengevaluasi dan membuat laporan hasil peledakan
3. Spv Drill and Blast
a. Membuat permintaan bahan peledak sesuai hasil perhitungan dari
Drill & Blast Engginer
b. Melaksanakan pekerjaan peledakan sesuai dengan prosedur dan
peraturan perundangan yang berlaku.
c. Mengisi dan mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan
dalam prosedur ini termasuk mengisi Checklist peledakan.
4. Petugas Administrasi Bahan Peledak
a. Mengeluarkan bahan peledak dari gudang bahan peledak dengan
memberikan prioritas stock bahan peledak yang lama dan sesuai
dengan jumlah yang diminta oleh Drill & Blast Spv.
b. Mencatat pengeluaran bahan peledak dalam buku catatan berisi
data pengeluaran dan pemasukan bahan peledak.
c. Mencatat dan menanda tangani berita acara pengembalian sisa
bahan peledak yang tidak dipergunakan.
d. Menjaga kebersihan didalam dan diluar gudang bahan peledak.
5. Operation Superintendent/ Spv
a. Sesuai dengan peta peledakan yang dibuat oleh Engineer Drill &
Blast, mengawasi proses evakuasi unit dan individu yang berada
di bawah tanggung jawabnya menuju lokasi aman yang telah
ditentukan.
b. Memastikan keamanan setiap alat dan individu yang berada di
wilayah tanggung jawabnya yang mungkin terkena dampak
peledakan dan telah dievakuasi sesuai dengan peta peledakan
yang dibuat oleh ahli bor dan peledakan.
6. Juru Ledak (Blaster)
a. Melakukan pengawasan terhadap bahan peledak yangakan
digunakan dan kegiatan loading bahan peledak.
b. Memeriksa hasil rangkaian bahan peledak sebelum dilakukan
peledakan.
c. Melakukan peledakan.
d. Memeriksa hasil peledakan dan menginformasikan kepada Drill
&BlastSpv.
7. OSHE Officer
a. Memastikan pekerjaan penanganan bahan peledak dan peledakan
yang dilakukan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang
berlaku.
b. Membantu Drill & Blast Supevisor dalam mempersiapkan
peralatan keselamatan kerja yang dibutuhkan termasuk rambu –
rambu yang sesuai dengan kegiatan peledakan.
8.2.6.3 Langkah Kerja

a. Drill & Blast Engineer memeriksa lubang bor dan lokasi


blasting meliputi: Bench, Slope, patahan, longsoran (Ground
Disturbance).
b. Setiap area peledakan harus dipasang rambu – rambu yang
sesuai tidak terbatas pada: Demarkasi disekitar area
peledakan, Rambu “dilarang masuk bagi yang tidak
berkepentingan’’, Rambu “dilarang merokok atau
menyalakan api serta penggunaan radio komunikasi” oleh
Spv/Forman Drill & Blast.
c. Drill & Blast Engineer akan membuat rencana blasting yang
disesuaikan dengan lokasi dan lubang bor yang telah tersedia
sesuai dengan kedalaman dan diameternya.
d. Pengeluaran dan Pengangkutan Bahan Peledak :
 Pengisian formulir permintaan bahan peledak hanya bisa
dibuat oleh Drill & Blast Engineer / Spv. Drill & Blast
dengan mencantumkan: Drill & Blast design, Blasting
map.
 Pembuatan permintaan bahan peledak harus berdasarkan
perhitungan penggunaan bahan peledak yang dibuat oleh
Drill & Blast Engineer.
 Setiap pengeluaran bahan peledak harus dicatat dengan
jelas oleh petugas gudang bahan peledak.
 Bahan peledak yang dikeluarkan harus mengikuti urutan
waktu penerimaan (sitem First In – First Out).
 Dilarang membawa / menggunakan radio
komunikasi/ponsel di dalam area gudang bahan peledak.

 Pengangkutan bahan peledak hanya dapat dilakukan


dengan menggunakan mobil / kendaraan sarana yang
telah dirancang khusus untuk mengangkut bahan Peledak
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
 Setiap pengangkutan bahan peledak dari gudang bahan
peledak ke tambang harus mendapat pengawalan dari
petugas keamanan yang ditunjuk.
 Di dalam mobil pengangkut bahan peledak tidak boleh
menyalakan radio mobil, HT, rokok, korek api, hand
phone.
 Bahan peledak (Ammonium Nitrat) harus diangkut secara
terpisah dari Explosive accessories serta terpisah dengan
angkutan manusia.
 Untuk Explosives Accessories (Detonator) harus
ditempatkan/ diletakkan pada tempat yang beralas kayu.
 Pengangkutan bahan peledak harus memperhatikan
Kepmen No. 555K/26/M.PE/1995 pasal 7.
e. Sebelum memulai kegiatan peledakan harus dilakukan
komunikasi/ memberikan informasi terhadap seluruh
karyawan tentang rencana peledakan dengan cara :
 Mengkomunikasikan melalui papan informasi peledakan
yang di pasang pada tempat / pintu masuk area tambang
dan informasi papan peledakan yang ditaruh dia area
satpam pintu masuk area tambang lengkap dengan
bendera warna merah.
 Tujuan untuk dilakukan dan pemasangan papan di area
pintu masuk tambang agar karyawan didaerah tambang
akan mengetahui akan diadakan peledakan pada jam
yang telah ditentukan oleh kepala teknik tambang.
 Tujuan pemasangan papan di area pintu masuk satpam,
untuk memberitahukan kepada tamu yang akan
berkunjung ke area tambang PT. Andesit Sukses Persada
akan diadakan peledakan pada jam yang telah ditentukan
oleh Kepala Teknik Tambang.
f. Pengisisan Bahan Peledak
 Sebelum dilakukan pengisian bahan peledak harus
dipastikan lokasi pengisian harus diberi barikade dan
bebas dari lalu lintas alat produksi.
 Kedalaman lobang harus diukur dan hasilnya dicatat.
 Tempatkan primer disisi lubang dari baris terdepan dan
sebuah nonel down line, bila menggunakan nonel.
 Bila menggunakan detonating cord, ikatkan det. cord ke
primer dan turunkan ke dasar lobang kemudian tarik
keatassetinggi 1 m, ikatkan ujung det cord ke sekililing
batu agar tidak jatuh ke dalam lubang.
 Jika lobang berair, maka digunakan plastik liner/kondom
yang diisi ANFO dan diusahakan agar penempatan
Primer didalam plastik liner paling bawah.
 Lakukan penekanan terhadap plastik liner/kondom
dengan menggunakan stick agar plastik tersebut dapat
menyentuh dasar lobang (bottom).
 Untuk kondisi lobang berair maka stemming yang
digunakan adalah: Cutting yang dimasukkan ke dalam
plastik kondom, Memasukkan bongkahan tanah dengan
diameter 5 - 10 cm untuk memperkuat pengekangan
energi bahan peledak di dalam lobang.
 Saat pengisian dan perangkaian bahan peledak dilarang
menggunakan radio mobil / HT di dalam lokasi
peledakan.
 Jika pengisian dan perangkaian telah selesai
dilaksanakan maka lobang ditutup dengan menggunakan
cangkul/sekop hingga lobang tertutup sampai rata
permukaan.
g. Perangkaian Bahan Peledak
 Detonating Cord dihubungkan antar lobang sepanjang
baris/row disesuaikan dengan kondisi dan lokasi.
 Diantara baris dengan baris dihubungkan Delay
Connector.
 Penarikan kabel dilakukan bila sudah diyakinkan bahwa
jalur kabel tersebut tidak akan dilintasi alat berat
kemudian ujung yang satu di conect dan ujung yang lain
diperiksa tahanannya dengan menggunakan ohm meter
pada tiap – tiap roll.
 Kabel yang digunakan harus kabel tunggal dan tidak
boleh menggunakan kabel serabut.
 Semua sambungan kabel harus disambung dengan baik
dan dibungkus dengan isolasi.
 Pemasangan detonator listrik hanya dilakukan pada saat
manusia dan unit telah dipastikan
dievakuasi/dipindahkan ke daerah yang benar – benar
aman.
 Kegiatan Perangkaian ini hanya boleh dilakukan oleh
orang yang memiliki sertifikat juru ledak dan beberapa
orang pembantu yang berada dalam pengawasan penuh
dari orang yang memiliki sertifikat juru ledak tersebut.
 Tidak boleh ada pemakaian kembali (Re - Use) untuk
100 m kabel paling depan dari peledakan sebelumnya.
 Kabel yang digunakan harus dilakukan pemeriksaan
secara fisik dan dengan mengunakan ohm meter, jika
terdapat kerusakan maka kabel tidak boleh dipergunakan.
 Pada saat memasukkan kabel kedalam blasting machine
maka harus dipastikan: kabel tidak ada yang terbuka dan
memungkinkan tersentuh oleh tangan. Jika peledakan
dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu
detonator maka harus dihubungkan dengan cara seri dan
sambungan kabel harus kuat dan terisolasi dengan baik.
h. Pengosongan dan Pemblokiran Area
 Sebelum peledakan dilaksanakan harus dilakukan
Evakuasi terhadap unit dan manusia hingga berada pada
jarak/radius yang aman sesuai dengan peta peledakan
yang telah dibuat (jarak minimal 300 meter untuk alat
dan 500 meter untuk manusia).
 Pada saat unit travel untuk evakuasi (biasanya 15 menit
sebelum peledakan) dibunyikan sirine panjang (1 x
selama 1 menit), dan daerah peledakan sudah mulai di
blokir atau ditutup.
 Pemblokiran terhadap radius aman peledakan harus
dilakukan untuk mencegah agar tidak ada orang / unit
yang tidak mendapat informasi peledakan masuk
kedalam daerah peledakan.
 Pada saat mulai evakuasi maka untuk penggunaan
channel radio harus dikosongkan (Silence Signal) dari
pengguna yang tidak berkepentingan dengan peledakan.
 Drill & Blasting Spv. harus mempersiapkan dan mengisi
checklist persiapan peledakan, bila ditemuakan deviasi
maka harus segera dihentikan dan dilakukan perbaikan.
 Drill & BlastingSpv. harus memegang peta daerah
peledakan yang sudah tergambar radius aman untuk
daerah pemblokiran.
 Untuk detonator listrik spare / sisa harus disimpan pada
mobil tanpa radio mobil / HT jika tidak ada maka
diletakkan 10 meter dari shelter (alat pelindung diri).
 Dilakukan pengarahan (briefing) terhadap blastguard
tentang cara -cara pemblokiran.
 Harus dipastikan posisi shelter di luar radius 300 m, bila
di bawah radius 300 maka harus digambar dengan jelas
di peta peledakan (blast map) untuk diajukan ke Kepala
Teknik Tambang untuk mendapatkan izin.
 Fungsi shelter tidak boleh digantikan oleh unit / DT /
Mobil sarana atau bentuk lain yang tidak mengikuti
standard keselamatan kerja.
i. Pelaksanaan Peledakan
 Peledakan dapat dilakukan jika semua persyaratan
persiapan peledakan telah dipenuhi sesuai dengan
checklist yang tersedia.
 Komunikasi dalam kegiatan peledakan harus
mengguankan radio dengan channel khusus dimana tidak
diperbolehkan orang lain menggunakan channel tersebut
selain untuk komunikasi yang berkaitan dengan kegiatan
peledakan.
 Setelah diyakinkan terhadap para Blastguard bahwa
lokasi sudah aman maka Spv. Drill & Blast memberikan
informasi/komando untuk membunyikan sirine 3 x
pertanda peledakan siap untuk dilaksanakan.
 Aba–aba / hitungan peledakan akan dilakukan oleh Drill
& BlastSpv. yang diakhiri dengan kata “Tembak” atau
kata lain yang disepakati.
j. Pemeriksaan Lokasi dan Gasil Peledakan
 Lima belas (15) menit setelah peledakan terlaksana,
maka Blaster harus melakukan pemeriksaan lokasi
peledakan terhadap kemungkinan terjadinya gagal
meledak (Misfire).
 Lokasi peledakan harus diperiksa dengan hati-hati
dengan memberikan perhatian khusus terhadap hasil
ledakan pada setiap lobang ledak.
 Sebelum ada informasi "Clear" dari Blaster semua
aktifitas, jalur/acces masuk menuju ke lokasi peledakan
tetap diblokir.
 Jika hasil pemeriksaan oleh Blaster menemukan adanya
Misfire maka seluruh karyawan yang terlibat dalam
kegiatan peledakan harus mengikuti SOP tentang
Penanganan Misfire yang telah dibuat.
 Selama proses penanganan misfire tersebut seluruh
aktifitas tidak diperbolehkan kecuali diluar radius 300
meter.
 Setelah diyakinkan bahwa tidak ada misfire maka blaster
memberi informasi kepada Drill & Blast Spv. bahwa
peledakan dinyatakan aman. Kemudian Drill & Blast
Spv., membunyikan sirine panjang (1 x selama 1 menit)
menandakan bahwa lokasi peledakan dinyatakan aman
dan setiap Blastguard dapat membuka jalur blokir dan
seluruh aktivitas tambang dapat dimulai kembali.
k. Pengembalian Bahan Peledak
 Sisa Bahan peledak yang tidak digunakan harus
dikembalikan kedalam gudang bahan peledak.
 Drill & Blast Spv. dan penjaga gudang bahan peledak
mengisi formulir pengembalian bahan peledak, membuat
dan menanda tangani berita acara pengembalian bahan
peledak.

Anda mungkin juga menyukai