FARMAKOTERAPI 3
KASUS C
(ISK, SEPSIS DAN AMELOBLASTOMA)
SI FARMASI 6B (B2)
Jeni Krisma Dwi Pamungkasih (180105046)
Mella Saptaningtyas (180105064)
Monika Maeristela Turnip (180105065)
Norma Devita Arbi Permata Suci (180105072)
Nurul Fitri Alfathani (180105075)
PATOFISIOLOGI ISK Infeksi saluran kemih
Escherichia coli
Saluran kemih
Kandung kemih
Sistitis
inflamasi
nokturia
edema disuria
Obstreuksi saluran kemih
Nyeri akut
Retensi urine
2
Gangguan eliminasi urine
PATOFISIOLOGI SEPSIS
Stimulus mikrobiologi (bakteri,
Risiko terjadinya infeksi
jamur, parasite, virus)
Menghasilkan endotoksin Endotoksin berikatan dengan lipo-polysaccharide biding protein
Kompleks hasil ikatan mengaktivasi makrofag, monosit,neurotrofil,
sel dendrit dan sel T
Menghasilkan sitokin proinflamasi : IL1, IL6, IL8, TNF alfa
Kaskade inflamasi oleh endotel dan
sistem komplemen: PGE2, Tromboksan Kerusakan endotel
A2,PAF,Bradikinin,angiotensin,histamin,s
erotonin
Kerusakan mikro sirkulasi
Kegagalan homeostatis
Respon inflamasi sirkulasi sistemik
Respon hiper inflamasi general
SEPSIS
3
SIRS
PATOFISIOLOGI AMELOBLASTOMA
Ameloblastoma
Konvensional Solid/multiksit Unikistik Periferal/ekstraosseous
90% mandibula pada regioposterior Mukosa alveolar
85% terjadi pada mandibula 15%
maksila
Kista Menginfiltrasi
Asimtomatik jaringan
Pertumbuhan sel meluas ke jaringan
Lesi, pembengkakan dan
Eksisi lokal
ekspansi rahang Penurunan neurologi dan kemampuan
menelan Resiko Infeksi
Masa yang masif
Gangguan nutrisi kurang dari
Nyeri kebutuhan tubuh
Gangguan pola tidur 4
Kerusakan komunikasi verbal
GEJALA ISK BAWAH
ALGORITMA
Terjadi hematuria, prokinuria
terdapat epitel pada urin, nafsu
makan berkurang, sedikit
kencing WBC naik
Terjadi sepsis Pemberian antibiotik
Diberikan albumin - Levofloxacin
- Ciprofloxacin
Suhu meningkat
Diberikan metamizole dan paracetamol
Terapi non farmakologi
5
PTO – 1. SUBJEKTIF
A. IDENTITAS PASIEN
TANGGAL MRS : 18/10 TGL LAHIR / UMUR : 65 tahun
NAMA : Tn. UB BB/TB/LPT : / /
NO. RM :- JENIS KELAMIN : (Laki-laki / Perempuan)
R. RAWAT : - ALERGI OBAT :-
NAMA DPJP :- TANGGAL KRS :-
KONDISI KHUSUS :
a. Hamil/Menyusui b. Gangguan Ginjal c. Gangguan Hati d. ………………
KELUHAN UTAMA :
Nafsu makan turun, BB turun, sedikit kencing, benjolan di pipi kanan.
DIAGNOSIS DOKTER:
ISK + sepsis + ameloblastoma
6
II. RIWAYAT PASIEN
Riwayat Penyakit
Riwayat Pengobatan
Riwayat Keluarga
7
PTO – 2. OBJEKTIF
INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN
A. DATA PEMERIKSAAN KLINIK (TTV)
KLINIK :
Tanggal
Pemeriksaa 1. Dari data klinik pada tanggal 18 pasien
Nilai Normal
n 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10 mengalami peningkatan suhu sebesar 38,6oC,
0 peningkatan nadi pada tanggal 18 dan tanggal
Suhu (37 C±0,5) 38,6↑ 37,5 36,8 37,8 36,5
19 sebesar 112 dan 116, peningkatan RR pada
tanggal 18,19,20,21,22,23 sebesar
Nadi 60-100 beats/min 112↑ 116↑ 80 88 93 80
32,28,24,32,28,24, dan mengalami penurunan
tekanan darah pada tanggal 19,20,21 sebesar
110/60,100/60,100/60 kemudian mengalami
TD 120/80mmHg 120/60 110/60 100/60 100/60 120/80 130/80 ↑ peningkatan pada tanggal 23 sebesar 130/80 hal
ini di karenakan adanya sepsis atau SIRS yang
disertai adanya infeksi (Diana, 2018).
RR 12-20 32↑ 28↑ 24↑ 32↑ 28↑ 24↑
KU Lemah Lemah Lemah Lemah Sedang Sedang
GCS 456 446 456 446
8
B. DATA PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal
INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN LAB :
Pemeriksaan Nilai normal 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10
3
WBC (4,3-10,3x10 ) 7.200 11.100 9.150
Hb (11,4-15,1) 12,2 11,9 12,9
1. Pada tanggal 21/10 pasien mengalami kenaikan White Blood Cell
Hct (37,7-53,7) 34,2 35,5 37,0
RBC (4,04-6,13) 3,91 3,84 4,1 (WBC) sebesar 11.100, hal ini menunjukkan adanya infeksi pada
3
Trombosit (142-424x10 ) 69000 113.000 169.000 saluran kemih (Pagana, 2019).
SGOT (10-36 U/L) 37 77
2. Pada tanggal 18/10, 21/10 dan 22/10 pasien mengalami penurunan
SGPT (10-40 U/L) 25 56 kadar Hematokrit (Hct) sebesar 34,2 ; 35,5 ; 37 dan pada tanggal
BUN (6-20 mg/dl) 25,5 41,8 28,5
18/10 dan 21/10 pasien juga mengalami penurunan Red Blood Cell
Creatinin (0,5-1,5 mg/dl) 1,3 1,4 1,2
GDA 164 114 144 (RBC) sebesar 3,91 dan 3,84, karena nilai Hct sangat mencerminkan
Total Protein (6,6-8,8) 6,8 nilai RBC, hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami anemia
Asam Urat (3,4-5,7) 4,9 4,5 (berkurangnya sel darah merah) (Pagana, 2019).
Albumin (3,5-5,2 g/dl) 2,8 2,5 3. Pada tanggal 18/10 dan 21/10 pasien mengalami penurunan
Na (136-144) 132 132
K (3,8-5,0) 4,04 3,9
trombosit yaitu 69.000 dan 113.000, hal ini menunjukan pasien
Cl (97-103) 103,3 103 mengalami trombositopenia. Penyebab trombositopenia (penurunan
Urin :
jumlah trombosit) termasuk berkurangnya produksi trombosit
Glukosa (-) -
Blood (-) 1+ (Pagana, 2019). Perubahan morfologi dan indeks trombosit bisa
pH 5,5 menjadi penanda untuk deteksi dini ISK (Alaaraji et al.,2020).
9
Protein (-) 3+
Leukosit (-) -
Epitel 2-3 5-7
INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN LAB :
Tanggal
Pemeriksaan Nilai normal 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10
WBC (4,3-10,3x10 )
3
7.200 11.100 9.150 4. Pada tanggal 21/10 dan 22/10 pasien mengalami penurunan kadar
Hb (11,4-15,1) 12,2 11,9 12,9
albumin masing-masing sebesar 2,8 dan 2,5. Hal ini dikarenakan
Hct (37,7-53,7) 34,2 35,5 37,0
RBC (4,04-6,13) 3,91 3,84 4,1 pasien mengeluh nafsu makan turun yang mana dapat mengakibatkan
3
Trombosit (142-424x10 ) 69000 113.000 169.000 malnutrisi, dimana malnutrisi memiliki dampak yang cukup besar
SGOT (10-36 U/L) 37 77
untuk penurunan kadar albumin (Pagana, 2019).
SGPT (10-40 U/L) 25 56 5. Pada tanggal 18/10 dan 22/10 pasien mengalami kenaikan SGOT
BUN (6-20 mg/dl) 25,5 41,8 28,5
sebesar 37 dan 77 dan pada tanggal 22/10 pasien juga mengalami
Creatinin (0,5-1,5 mg/dl) 1,3 1,4 1,2
GDA 164 114 144 kenaikan SGPT sebesar 56, hal ini merupakan salah satu manifestasi
Total Protein (6,6-8,8) 6,8 dari disfungsi hati akibat sepsis yaitu kolestasis yang diinduksi oleh
Asam Urat (3,4-5,7) 4,9 4,5 sepsis dan kadar SGOT, SGPT yang meningkat. Sepsis dapat
Albumin (3,5-5,2 g/dl) 2,8 2,5 menyebabkan disfungsi organ multipel dan salah satu organ yang
Na (136-144) 132 132
K (3,8-5,0) 4,04 3,9
terkena adalah hati. Kerusakan hati akibat sepsis disebabkan oleh
Cl (97-103) 103,3 103 sitokin inflamasi yang akan mengakibatkan perubahan transkipsi gen
Urin :
pada sel hati (Kuswoyo & Natadidjaja.,2019).
Glukosa (-) -
Blood (-) 1+ 6. Pada tanggal 18/10, 21/10 dan 22/10 pasien mengalami peningkatan
pH 5,5 BUN, hal ini bisa terjadi karena pasien mengalami sepsis dan
10
Protein (-) 3+
Leukosit (-) -
dehidrasi (Pagana, 2019).
Epitel 2-3 5-7
INTERPRETASI DATA PEMERIKSAAN LAB :
Tanggal
Pemeriksaan Nilai normal 18/10 19/10 20/10 21/10 22/10 23/10
3
WBC (4,3-10,3x10 ) 7.200 11.100 9.150
Hb (11,4-15,1) 12,2 11,9 12,9 7. Pada tanggal 21/10 dan 22/10 pasien mengalami penurunan kadar
Hct (37,7-53,7) 34,2 35,5 37,0
Na sebesar 132, kadar natrium akan semakin berkurang jika asupan
RBC (4,04-6,13) 3,91 3,84 4,1
Trombosit (142-424x10 )
3
69000 113.000 169.000 dibatasi oleh kurangnya nafsu makan, penurunan kadar natrium akan
mengganggu fungsi ginjal (Tambajong dkk.,2016).
SGOT (10-36 U/L) 37 77
SGPT (10-40 U/L) 25 56
8. Pada tanggal 21/10 pasien mengalami sedikit peningkatan kadar Cl
BUN (6-20 mg/dl) 25,5 41,8 28,5 sebesar 103,3, hal ini bisa menandakan pasien mengalami dehidrasi
Creatinin (0,5-1,5 mg/dl) 1,3 1,4 1,2
dan anemia, tanda dan gejala hiperkloremia yaitu pasien mengalami
GDA 164 114 144
Total Protein (6,6-8,8) 6,8 lesu dan kelemahan (Pagana, 2019).
9. Pada tanggal 18/10 pemeriksaan lab urin terhadap darah sebesar (1+)
Asam Urat (3,4-5,7) 4,9 4,5
Albumin (3,5-5,2 g/dl) 2,8 2,5 yang mana menandakan pasien mangalami hematuria, dan protein
Na (136-144) 132 132 sebsear (3+) yang menandakan pasien mengalami proteinuria serta
K (3,8-5,0) 4,04 3,9
Cl (97-103) 103,3 103
terdapat epitel sebanyak 5-7, yang mana hematuria, proteinuria dan
Urin : kehadiran lima atau lebih epitel di urin menunjukkan ISK yang
Glukosa (-) -
melibatkan kandung kemih, ginjal, atau keduanya (Pagana, 2019).
Blood (-) 1+
pH 5,5
11
Protein (-) 3+
Leukosit (-) -
Epitel 2-3 5-7
DATA PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENDUKUNG SPESIFIK
(CT-SCAN, FOTO THORAX, DAN LAIN SEBAGAINYA)
12
PTO – 3. ASSESSMENT
A. PROFIL PENGGUNAAN OBAT
JENIS OBAT TanggalPemberianObat (Mulai MRS)
19/10 20/10 21/10 22/10 23/10
Regimen
No Rute
Nama Dagang/Generik Dosis
1. RD5 1500 cc/hr √ RD5 : PZ RD5 : PZ RD5 : PZ RD5 : PZ PZ 14
= 1:1 = 1:1 = 1:1 = 1:1 tts/mnt
Iv
2. Levofloxacin 1x500 mg √ //
Iv drip
3. Ciprofloxacin 2x200mg √ √ √ √ √
Iv
4. Ranitidin 2x1 ampul √ √ √ √ √ √
Iv
5. Parasetamol 3x500mg k/p √ //
Po
6. Metamizol 3x1 ampul k/p √ //
Iv
7. Albumin 25 % 100 cc ad √ //
Alb≥3 g/dl Iv
8.
13
9.
10.
A. MASALAH KLINIK &DRUG RELATED PROBLEM
1. UNTREATED INDICATION, IMPROPER DRUG SELECTION & MEDICATION USE WITHOUT INDICATION
IndikasipadaPasiendanPemilihanObat
14
15
16
17
LANJUTAN DRPS
18
2. SUBTHERAPEUTIC DOSAGE & OVERDOSAGE
Analisis Kesesuaian Dosis
Nama Obat Dosisdari literature Dosispemberian Rekomendasi/Saran
RD5 500mg 1500 -
Levofloxacin 500mg/100ml 1 x 500mg
Ciprofloxacin 200mg/ tiap 12 jam 2 x 200mg
Ranitidin 50mg 2 x ampul
Parasetamol 3-4 x 500mg 3 x 500mg
Metamizol 500mg (max sehari 3x) 3 x 1 ampul
Albumin 25 % 1-2 ml per menit 100 cc ad Alb≥3
g/dl
19
3. FAILURE TO RECEIVE MEDICATION
Obat Yang Gagal Diterima Pasien
Nama Obat Dosis Indikasi Rekomendasi/Sa
ran
levofloxacin 500mg/100ml cotrimoxasol
ciprofloxacin 200mg/ tiap 12 jam Fosfomicyn
2
0
ADVERSE DRUG REACTIONS
Nama Obat EfekSampingPotensial EfekSamping Yang Timbul Rekomendasi/Saran
RD5
Levofloxacin Mual, muntah, anoreksia, -
cemas, konstipasi, nyeri
abdomen, kembung,
diare,vaginitis, kulit
kemerahan, dyspepsia,
tremor, sakit kepala.
Ciprofloxacin Mual, muntah, diae, letih
dyspepsia, nyeri abdominal,
anoreksia, pusing, sakit
kepala, letih, insomnia,
tremor, anemia
Ranitidin Sakit kepala, hematologic, -
endokrin
Parasetamol Reaksi hipersensitivitas, -
penggunaan jangka lama
dengan dosis besar
menyebabkan kerusakan hati
Metamizol Pusing, mual, muntah, nyeri hipotensi
dada, detak jantung tidak
teratur, hipotensi
21
Albumin 25 % -
DRUG INTERACTIONS
OBAT A OBAT B EFEK MEKANISME INTERAKSI MANAJEMEN
INTERAKSI FARMAKOKINETIK FARMAKODINAMIK INTERAKSI
Ranitidin dapat
Ranitidin Paracetamol Minor menghambat enzim
glucoronyltransferase
sehingga parasetamol
tidak bisa di
metabolisme
di hati (Lestari,2021).
22
PTO – 4. PLAN
MONITORING HASIL TERAPI OBAT
Parameter Monitoring EvaluasiHasil yang
Indikasi pada Pasien Nama Obat Dosis
(Data Lab, Data Klinik) diperoleh
ISK ( Infeksi Saluran Cotrimoxasol 2x2 tab suhu , Denyut nadi, -
Kemih ) + Sepsis leukosit dan RR
ISK ( Infeksi Saluran Fosfomicyn 3 x 1 tab suhu , Denyut nadi, -
Kemih ) + Sepsis leukosit dan RR
ISK ( Infeksi Saluran albumin dewasa suhu , Denyut nadi, -
Kemih ) + Sepsis 50- 75 g leukosit dan RR
ISK ( Infeksi Saluran Metamizole (Antrain) 500 mg Suhu -
Kemih ) + Sepsis tiap 6-8
jam
ISK ( Infeksi Saluran Paracetamol (Pamol) 3-4x Suhu -
Kemih ) + Sepsis sehsri
23
TERAPI NON FARMAKOLOGI
ISK :
Terapi non-farmakologi yang diusulkan untuk pencegahan ISK seperti asupan
jus cranberry dalam volume besar telah dikaitkan dengan penurunan jumlah
ISK selama periode satu tahun pada pasien dengan rekuren ISK dalam uji coba
randomized control. Efikasi tidak pasti pada populasi umum dan dengan
volume asupan yang lebih kecil. Probiotik seperti Lactobacillus spp. telah
digunakan untuk menurunkan pH vagina pada wanita dan berpotensi
mengurangi pertumbuhan bakteri patogen. Terapi penggantian estrogen topikal
secara signifikan menurunkan kejadian ISK pada wanita pascamenopause
dibandingkan dengan placebo (Rose dan Matthias, 2013).
Ameloblastoma :
- Hindari trauma fisik pada muka dan rahang
- Menjaga oral hygiene
- Diet lunak (Lutfianto, 2019)
2
4
THANKS
25