Anda di halaman 1dari 80

Pendahuluan

Kaidah Bilangan Bulat Aston Massa


atom isotop-isotop yg berbeda (dinyatakan
dlm skala massa atom 12C), nilainya mendekati
bil. bulat yg mewakili no. massa mereka
Hipotesis W. Prout Atom-atom dari
elemen-elemen yg berbeda terbentuk dari
atom-atom H dgn jumlah yg berbeda
Inkonsistensi dlm hipotesis Prout cont.,
khlorin & tembaga ternyata mempunyai berat
atom yg cukup berbeda dari nomor-nomor
bulat (35,45; 63,54)

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
3

Massa atom isotop hidrogen 1H (1.007825)


hampir bulat wajar utk mengasumsikan
bahwa inti atom dari sebuah isotop
bernomor massa A terbentuk dari inti
sejumlah A atom hidrogen bernomor massa
1 (1H) yang tak lain adalah proton-proton
Karena setiap proton membawa sebuah
satuan elektronik bermuatan positif (+e) hal
ini menjadikan muatan total dari protonproton A sama dengan +Ae

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
4

Namun, sesungguhnya muatan sebuah inti


atom = +Ze, dgn Z sbg no. atom (yg
biasanya < A) inti atom tdk dpt terbentuk
oleh proton-proton saja.
Diasumsikan bahwa selain proton-proton A, inti
mengandung
elektron-elektron
(A-Z),
masing-masingnya membawa muatan e
muatan total inti atom menjadi +Ze.
Banyak kekurangan pd hipotesis ini

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
5

Alasan2 mengapa elektron tdk dpt tetap


berada dlm inti

Prinsip
ketakpastian
Heisenberg:
ketakpastian momentum
p dari elektron dlm
34

10
p atom
akan
~ 14menjadi
10 20 kg.m / s
inti
x

10

20
3x108 x10 berorde
Sebuah elektron dgn
momentum
E c.p
20 Mev
13
1.6x10
sebesar ini akan mempunyai
energi

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
6

Tidak ada bukti eksperimental dari keberadaan


elektron-elektron berenergi tinggi seperti itu
didalam inti-inti dari atom-atom.

Dari tinjauan momentum sudut inti atom,


hipotesis proton-elektron akan menghadapi
kesulitan.
contoh: utk inti atom 14N (Z=7), jumlah proton &
elektronnya adalah 2A-Z = 28-7 = 21 (ganjil)
inti atom 14N harus mempunyai spin setengahintegral. Namun pengukuran memberikan l=1,
yg berlawanan dgn hipotesis proton-elektron

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
7

Partikel2 ber-spin intrinsik setengah-integral


(1/2, 3/2, 5/2 dst), fungsi-gelombangnya
antisimetris mematuhi statistik F-D
mereka disebut fermion (meliputi elektron,
proton & neutron)
Partikel2 ber-spin integral (0, 1, 2, dst), fungsigelombangnya simetris mematuhi statistik
(B-E) mereka disebut boson (meliputi foton
(S=1), meson (S=0), dsb)

Bukti2 tsb menunjukkan bahwa hipotesis protonelektron dari aturan inti tidak mungkin benar.

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
8

Hipotesis dari Rutherford (1920): Sebuah proton &


sebuah elektron didalam inti atom membentuk
sebuah partikel netral gabungan
Pengamatan James Chadwick (1932): emisi
sebuah partikel netral dari inti atom ternyata
partikel2 tsb mempunyai massa yg hampir
sama seperti proton, dan disebut neutron
Neutron sesungguhnya adalah sebuah jenis baru
dari partikel elementer & bukan gabungan dari
sebuah proton dan sebuah elektron. Spin dari
neutron adalah , karenanya ia adalah fermion.

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
9

W. Heisenberg (1932): inti atom terbentuk dari


proton & neutron (bukan dari proton &
elektron).
Sebuah inti dgn no. massa A & no. atom Z
tersusun dari Z proton dan N=AZ neutron
jumlah total partikel dlm inti = no. massanya
Massa proton & neutron hampir menyatu
massa
atomnya
akan
mendekati
no.
massanya menjelaskan Kaidah Bilangan
Bulat Aston

A. Aturan inti atom; hipotesis


neutron-proton
10

Dalam kasus inti atom 14N, jumlah total neutron &


proton = 14 (genap) spin l dari inti atom
haruslah
bulat,
(sesuai
dgn
pengamatanpengamatan).
Nukleon-nukleonnya adalah fermion-fermion
sebuah inti
dgn A genap harus mematuhi
statistik B-E
sebuah inti dgn A ganjil harus mematuhi statistik
F-D
Contoh: dalam kasus inti atom 14N, karena A
adalah genap, ia harus mematuhi statistik B-E.

B. Sifat-sifat gaya inti


11

Proton & neutron terikat sangat kuat dlm inti.


Sifat gaya yg mengikat proton & neutron pd
dasarnya berbeda dari tipe-tipe gaya yg lebih
familiar, misalnya gaya-gaya gravitasional atau
elektromagnetik.
Gaya gravitasional jauh << ikatan inti
contoh:
energi
potensial
dari
interaksi
gravitasional antara 2 nukleon dlm inti pd jarak 2
x 10-15m dari yg satu ke yg lainnya
adalah
32
Vg 5.75 10 MeV
ini<<energi ikat per nukleon (berorde beberapa
juta eV)

B. Sifat-sifat gaya inti


12

Tinjauan gaya elektromagnetik:


o

Proton-proton akan saling menolak karena muatannya


sama
Neutron tdk saling berinteraksi dgn sesama neutron
ataupun dgn proton karena ia netral

Kita perlu mengasumsikan sebuah tipe gaya lainnya:


Gaya ini menarik dgn sangat kuat s/d jarak max
tertentu (jangkauan gaya) diantara nukleonnukleon berorde + 2 fm
Diluar jarak tsb, gayanya dpt diabaikan. Hal ini
dikenal sebagai interaksi yang kuat.

13

C. Penemuan nuklidanuklida stabil

Dari sekitar 1000 nuklida yg diketahui ada, hanya


sekitar 25% yg stabil. Sisanya bersifat radioaktif
& pd dasarnya diproduksi secara artifisial.

Terkecuali beberapa nuklida peluruhan- yang


lebih berat, kebanyakan dari mereka adalah
peluruhan-.

Beberapa nuklida berat juga melangsungkan fisi


(pembelahan) spontan.

14

C. Penemuan nuklidanuklida stabil

Elemen-elemen
yg
ada
secara
alamiah
dpt
dikelompokkan dlm 2 kelas, yg mempunyai nilai Z
genap atau ganjil.
Elemen-elemen dgn Z ganjil biasanya mempunyai 1
atau 2 isotop stabil.
Elemen-elemen dgn Z genap umumnya mempunyai
isotop stabil dgn jumlah > elemen-elemen dgn Z ganjil.
contoh:
Ca (Z=20), Se (Z = 34), Kr (Z = 36), dsb 6 isotop stabil.
Zn (Z=30), Ge (Z=32), Zirconium (Z=40), dsb 5 isotop
stabil
Cadmium (Z=48) 8 isotop stabil
Tin (Z = 50) 10 isotop stabil (terbesar).

15

C. Penemuan nuklidanuklida stabil


Gbr 1. Grafik N vs Z utk Inti
atom inti atom Stabil

rasio N/Z utk nuklida2


stabil dibatasi dlm rentang
sempit di sekitar garis
tebal
mean
(garis
kestabilan).

Utk inti yg lebih ringan,


jumlah proton & neutron
hampir sama shg N/Z = 1.

Utk inti yg lebih berat,


jumlah
neutronnya
>
proton shg N/Z>1 utk Z yg
lebih tinggi.

C. Penemuan nuklidanuklida stabil


16

Isotop2 dari elemen2 yg berbeda (Z=konstan)


terletak pada garis2 vertikal yg berbeda.

Nuklida2 dgn Z yg berbeda, memp. No. massa


yg sama (A=konstan) terletak di sepanjang
garis miring dgn sudut 135o thd sumbu Z
(dikenal sbg isobar2).

Nuklida2 dgn jumlah neutron yg sama


(N=konstan) terletak di sepanjang garis2
horizontal yg berbeda (dikenal sbg isoton2).

C. Penemuan nuklidanuklida stabil

17

Isotop-isotop dari semua elemen dpt dibagi


dlm 4 kelompok:

Z
Z
Z
Z

genap N genap (e-e)


genap N ganjil (e-o)
ganjil N genap (o-e)
ganjil N ganjil (o-o).

Tabel 1
Jumlah isotop stabil
Eveneven
164

Even-odd

Odd-even

Odd-odd

Total

54

50

272

D. Model-model inti
atom

18

Untuk memahami sifat-sifat yang teramati dari


inti suatu atom diperlukan pengetahuan yang
memadai mengenai sifat interaksi internukleon.
Karena kesulitan2 dlm mengembangkan teori yg
memuaskan dari struktur inti, model2 yg berbeda
diajukan utk inti, masing2nya dpt menjelaskan
beberapa karakteristik berbeda dari inti atom.
Beragam model inti yg diajukan diantara:
Model tetes cairan
Model gas Fermi
Model2 kulit dgn tipe2 perangkai yg berbeda

E. Model Tetes Cairan


19

Sifat2 makroskopis inti sangat serupa dgn yg


ditemukan dlm sebuah tetes cairan (mis., kerapatan yg
konstan dari materi inti & energi ikat yg konstan per nukleon)

Model tetes cairan diusulkan oleh N. Bohr & F. Kalckar (1937)


& kemudian diterapkan oleh C.F. von Weizsacker & H. A. Bethe
utk mengembangkan formula semi-empirik utk energi ikat
inti.

Energi ikat EB dari sebuah inti secara linier proporsional thd


jumlah inti di dlmnya, shg binding fraction fB (i.e., binding
energy per nukleon) hampir konstan (~8, MeV) utk
kebanyakan inti.

Fakta ini menunjukkan sebuah kemiripan dari inti atom dgn


sebuah tetes cairan.

E. Model Tetes Cairan


20

Ada poin2 kemiripan lainnya antara inti


sebuah atom dan sebuah tetes cairan:
Gaya tarik didekat permukaan inti serupa dgn gaya
tegangan permukaan pd permukaan tetes cairan;
ii.Seperti dlm kasus sebuah tetes cairan, kerapatan
materi inti tdk bergantung dari volumenya. Kita
ketahui bahwa radius inti R~A1/3 , (A=no. massa)
volume inti V~A.
i.

Karena massa inti M~A kerapatan materi


inti m=M/V tdk bergantung dari A.
Hal ini juga menyarankan saturasi gaya inti;

E. Model Tetes Cairan


21

iii.

iii.

iii.

Tipe2 partikel yg berbeda (mis., neutron, proton,


deuteron, partikel- dsb) diemisikan selama
reaksi2 inti. Proses2 ini analog dgn emisi
molekul2 dari tetes cairan selama evaporasi
(penguapan);
Energi dalam dari inti adalah analog dgn energi
panas dlm tetes cairan;
Pembentukan sebuah inti majemuk berumur
pendek oleh absorpsi sebuah partikel nuklir (inti)
dlm sebuah inti atom ketika terjadi sebuah reaksi
nuklir, analog dgn proses kondensasi dari fase
uap ke cairan dlm kasus tetes cairan.

E. Model Tetes Cairan


22

Model tetes cairan tdk begitu sukses dlm


menjelaskan keadaan2 inti yg tereksitasi
di tingkat yg rendah.
Karena gerakan2 kolektif sejumlah besar
nukleon
dilibatkan,
model
ini
menyebabkan level2 energi yg ber-ruang
rapat. Namun begitu, sebenarnya level2
energi tsb didapati ber-ruang sangat
lebar pd energi2 eksitasi rendah.

F. Formula BetheWeizsacker

23

Formula semi-empirik utk massa nuklir (atau


nuclear binding energies) ini, menghubungkan
antara teori2 materi nuklir dgn informasi
eksperimental & didasarkan pd model tetes cairan
dari inti atom.

Jika M (A,Z) adalah massa atom dari isotop sebuah


elemen X dgn no. atom Z & no. massa A, maka

M ( A, Z ) ZM H NM n E B
EB = energi ikat inti;
MH=massa atom hidrogen (1H); Mn=massa neutron;
N=A-Z adalah jumlah neutron dlm inti

24

F. Formula BetheWeizsacker
Energi ikat EB dpt dinyatakan sbg
jumlah dari sejumlah suku yg
diberikan dibawah ini:
Ev a1 A
(i) Energi volume:
a1 = konstanta;
Ev = energi
volume;
volume nuklir sebanding dgn A

F. Formula BetheWeizsacker

25

(ii) Energi permukaan:


Karena inti diasumsikan menyerupai tetes cairan
bola dengan jari-jari R = ro A1 / 3, kita dapat
mengasumsikan bahwa sebuah gaya yg mirip
dengan tegangan permukaan dari cairan bekerja
pd nukleon2 didekat permukaan bebas dari
bidang nuklir
Gaya
permukaan
ini 2sebanding
dengan luas
2
2/3
4Ryang
4sama
ro A dengan
permukaan inti

Jadi kita dapat menulis energi


2 / 3 permukaan total
E s a2 A
sebagai:

F. Formula BetheWeizsacker

26

(iii) Energi Coulomb:


Tolakan
Coulomb antar proton dalam inti juga
cenderung melemahkan ikatan nuklir/inti
Karena energi potensial adalah negatif dari kerja yang
dilakukan, energi Coulomb dari bidang muatan adalah

3
( Ze) 2
Z2
Ec
a3 1/ 3
1/ 3
5 4 0 r0 A
A

Pers. Diatas utk energi Coulomb tidaklah tepat. Ia


memerlukan koreksi karena (a) ketakseragaman
distribusi muatan nuklir; (b) diperlukannya pengaturan
diskrit dari muatan2 proton; (c) pengaruh ketakpastian
dlm lokalisasi proton2; (d) ketakbulatan (bentuk) inti;
(e) koreksi thd posisi proton2

27

F. Formula BetheWeizsacker
(iv) Energi asimetri:
Dlm inti2 ringan (N = Z) konfigurasi paling stabil.
Utk inti2 yg lebih berat, peningkatan jumlah proton
cenderung melemahkan ikatan karena gaya tolakan
Coulomb diantara mereka.
Beberapa
neutron tambahan harus hadir utk
menyediakan
ikatan2
tambahan
n-n
sbg
kompensasinya. Namun, hal ini mengganggu kondisi
kesamaan Z & N utk membentuk konfigurasi yg
paling stabil ketika efek gaya Coulomb diabaikan.
Jadi karena keasimetrian dlm jumlah neutron proton,
energi asimetri dpt ditulis sbg:
( A 2Z ) 2

E a a4

28

F. Formula BetheWeizsacker
(v) Energi pemasangan:
Inti2 A ganjil terikat dgn lebih kuat drpd inti2 o-o
sementara ikatan mereka kurang kuat
dibandingkan dgn inti2 o-o.
Pengamatan2 ini menunjukkan bahwa kita mesti
menambahkan semacam energi pemasangan utk
EB yg muncul karena pemasangan nukleon2 dari
jenis yg sama dgn spin2 yg berlawanan.
Energi pemasangan (A, Z) bergantung hanya
pd A

a5 A 3 / 4

F. Formula BetheWeizsacker

29

Kita dapat menulis Energi ikat (binding


energy )sebagai:

E B ( A, Z ) Ev E s Ec E a
2
(
A

2
Z
)
2/3
2
1/ 3
E B ( A, Z ) a1 A a 2 A a3 Z / A a 4

Ini adalah rumus semi-empiris untuk


energi ikat nuklir dan dikenal sebagai
rumus Bethe-Weizsacker.

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


30

Peluruhan Alpha

A
Z

A 4
Z 2

Y He
4
2

Q M ( A, Z ) M ( A 4, Z 2) M ( He)
4

Q E B ( A 4, Z 2) E B ( 4 He) E B ( A, Z )

Q E B ( 4 He) 4a1 a2 A2 / 3 ( A 4) 2 / 3

Z2
( Z 2) 2
a3 1/ 3

1/ 3
( A 4)
A

1
1
a4 ( A 2 Z )

A A 4
2

2
8
4
a
Z
Z
4
a
(
A

2
Z
)

28.3 4a1 a2 A1/ 3 13/ 3 1


4
3
A
3A
A( A 4)

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


31

(B) Massa parabola: Stabilitas inti terhadap


peluruhan-
M ( A, Z ) f p Z qZ 2
A

f A A( M n a1 a 4 ) a 2 A 2 / 3
p 4a 4 ( M n M H )

1
2/3
q
( a3 A
4a 4 )
A

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


32

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


33

(C) Energi peluruhan- dari inti cermin


Dalam Ch. II kita telah membahas secara singkat
tentang metode inti cermin penentuan radius muatan
inti.
Inti cermin merupakan pasangan inti isobarik di mana
jumlah proton dan neutron dipertukarkan dan
dibedakan oleh satu satuan sehingga Z-N = 1, karena
Z + N = A, kita kemudian mendapatkan A = 2Z-1.
3
3
11
11
Contohnya pasangan2 ini: ( H , He) ( 7 Li , 7Be)
(
B
,
5
6 C)
1
2
3
4
(136C , 137N ) (157 N , 158O)

Anggota pasangan dengan Z lebih tinggi biasanya


ditemukan memancarkan + seperti:
11
6

C 11
B

v
5

34

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


Dengan menggunakan rumus massa semi-empiris,
kita dapat menulis untuk inti A ganjil ( = 0)

(2Z 1)
M ( A, Z ) M ( A, Z 1) M H M n a3
A1/ 3
Q M ( A, Z ) M ( A, Z 1) 2me
(2Z 1)
M H M n a3
2me
1/ 3
A
a3 A2 / 3 ( M n M H 2me )
a3 A2 / 3 1.804 MeV

G. Aplikasi Formula Semiempiris Energi Ikat


35

Fig. 9.4. Limits of stability of nuclei

H. Model Inti Gas Fermi


36

Model gas Fermi adalah sebuah model statistik yg


menggambarkan inti sbg suatu gas degenerasi dari
proton2 & neutron2 yg sangat mirip gas elektron bebas
dlm logam2.
Karena nukleon2 adalah partikel2 ber-spin maka mereka
adalah fermion.
Karenaya perilaku gas proton atau neutron akan
ditentukan oleh statistik F-D, seperti dlm kasus gas
elektron dlm logam.
Dlm gas yg demikian pd 0 K, semua level energi hingga
sebuah maksimum, dikenal sbg energi Fermi Ef , ditempati
oleh partikel2, tiap level ditempati oleh 2 partikel dgn
spin2 berlawanan

H. Model Inti Gas Fermi


37

Jika kita mengasumsikan bahwa N=A-Z, maka


energy Fermi utk masing2 gas dari kedua gas tsb
(proton and neutron)
sbg 2 / 3
2

Ef
2M

3 2
np
2

21 MeV

Dlm inti sesungguhnya, jumlah proton (Z) & neutron


(N = A -Z) tdk sama, N>Z
Ini berarti bahwa energi2 Fermi dari kedua tipe
nukleon adalah berbeda. karena N > Z, (Ef)n > (Ef)p.
Ini bermakna bahwa sumur2 potensial utk proton2 &
neutron2 mempunyai kedalaman yg berbeda,
dimana utk proton kedalamannya < neutron.

H. Model Inti Gas Fermi


38

kedalaman sumur potensial adalah sekitar VO = 21 +8 =


29 MeV, kedalaman neutron sedikit lebih besar dari
kedalaman proton.

H. Model Inti Gas Fermi


39

Model gas Fermi memiliki kegunaan yang


sangat terbatas. Dia gagal untuk menjelaskan
sifat-sifat keadaan inti pada tingkatan rendah.
Model ini berguna dalam menggambarkan
fenomena yang sensitif dengan bagian
momentum yang tinggi dari spektrum nukleon.
Transfer momentum yang kecil dalam
tumbukan nuklir tidak diizinkan dalam model
ini, karena semua keadaan rendah adalah
terisi.

I. Struktur Kulit Inti


40

Keadaan tereksitasi pada tingkatan rendah dalam


inti sebenarnya cukup luas, yang tidak dapat
dijelaskan oleh model tetes cairan.
Hal Ini dan sifat tertentu lainnya dari inti akan
mengharuskan kita untuk mempertimbangkan
gerakan nukleon individu dalam sebuah sumur
potensial yang akan menimbulkan adanya struktur
kulit nuklir, mirip dengan kulit elektronik dalam
atom.
Ada alasan kuat untuk percaya bahwa seperti
dalam kasus pengikatan elektron dalam atom,
nukleon dalam inti diatur dalam kulit diskrit
tertentu.

I. Struktur Kulit Inti


41

W.M. Elasser, tahun 1933, adalah yang pertama


menunjukkan ini, kemudia, Maria Gopert Meyer
(1948) dan O Haxel, J.H.D. Jensen and H.E.
Suess (1949) menunjukkan bahwa inti terisi
dengan jumlah proton and neutron dengan
stabilitas yang sangat tinggi:
Proton 2
8
20 28 50 82
Neutron 2
8
20 28 50 82 126
Angka-angka di atas dikenal sebagai nomor
ajaib dan analog dengan nomor atom dari gasgas inert.

I. Struktur Kulit Inti


42

Beberapa inti mengandung nomor ajaib


dari keduanya, proton-proton and
neutron-neutron. Contoh: 4He (Z = 2, N.=
2), 16O (Z = 8, N=. 8), 40Ca (Z = 20, N =
20), 48Ca (Z = 20, N= 28), 208Pb (Z = 82,
N = 126). Mereka ajaib ganda dan
memperlihatkan stabilitas yang cukup
tinggi.

I. Struktur Kulit Inti


43

Berikut ini adalah bukti utama untuk menunjukkan


adanya struktur kulit dalam inti atom.
a. Nuclei yang mengandung nomor ajaib proton
atau neutron menunjukkan stabilitas yang sangat
tinggi, dibandingkan dengan inti mengandung
satu nukleon lebih dari jenis yang sama.
b. Isotop alami, yang inti mengandung angka ajaib
neutron atau proton, memiliki kelimpahan relatif
umumnya lebih besar (> 60%).
c. Jumlah isotop stabil dari elemen yang berisi
angka ajaib proton biasanya besar dibandingkan
dengan mereka untuk elemen lainnya

I. Struktur Kulit Inti


44

(d) Jumlah isoton alami dengan nomor ajaib dari


neutron biasanya lebih besar dibandingkan
dengan yang ada di lingkungan terdekat.
(e) Produk akhir stabil dari semua tiga seret radioaktif
alami dijelaskan di Ch. II adalah tiga isotop timbal
(206Pb, 207Pb dan 208Pb) yang semua memiliki
angka Z ajaib = 82 proton dalam inti mereka.
(f) Nuclei dengan nomor ajaib neutron atau proton
memiliki keadaan tereksitasi pertama dengan
energi yang lebih tinggi daripada di kasus inti
terdekatnya

I. Struktur Kulit Inti


45

g.

Penangkapan neutron lintas-bagian dari inti


dengan nomor ajaib dari neutron biasanya
rendah.
h. Jika energi peluruhan -dari inti berat yang diplot
sebagai fungsi nomor massa A untuk Z yang
diberikan, maka biasanya variasi biasa diamati
sampai angka ajaib neutron N = 126 tercapai bila
ada diskontinuitas mendadak
i. diskontinuitas
serupa
teramati
diantara
pemancaran- pada jumlah ajaib neutron atau
proton.

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
46

Pemahaman teoritis tentang asal-usul struktur kulit nuklir


didasarkan pada asumsi adanya suatu pusat bidang yang
dominan berbentuk sebuah bola simetris yang mengatur
gerakan nukleon individu dalam inti atom.
Dalam
teori
untuk
dikembangkan
selanjutnya,
diasumsikan bahwa tidak ada interaksi sisa yang terjadi
antar nukleon.
Apapun mungkin menjadi asal dari gaya, jika kita
mengasumsikan bahwa potensial rata-rata pusat V(r)
menimbulkan gaya semacam itu, maka kemungkinan
untuk
mendapatkan
dari
persamaan
gelombang
Schrodinger yang mengatur gerak suatu nukleon individu
dalam bidang ini , membuat asumsi yang cocok
mengenai bentuk matematika dari potensi tersebut.

47

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti

Berbagai bentuk potensi telah digunakan untuk


perhitungan tingkat energi nuklir, yaitu sumur
potensial persegi, dan sumur osilator harmonik
dll
Akan diasumsikan bentuk potensial tiga dimensi
tak terbatas osilator harmonik:

V (r ) V0 1 / 2 M 2 r 2

disini, M adalah massa nukleon, Vo adalah


kedalaman sumur potensial dan adalah
frekuensi anguler osilasi harmonik sederhana
nukleon.

48

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti

49

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
1 d 2 dR1 2 M
l (l 1) 2
Rl 0
r
2 E V (r )
2
2
dr
r dr

2 Mr
dimana Rl (r) adalah fungsi radial

Bagian anguler dari fungsi gelombang harmonik


Yl m ( , )
bola
Total fungsi gelombang :
Jika disubtitusi:

nlm Rnl (r ) Yl ( , )
m

E ( 3 / 2)
2n l 2

n and l adalah 2 bilangan bulat: n = 1, 2, 3, and l = 0,


1, 2.... Maka dapat diasumsikan bernilai 0, 1, 2, 3

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
50

Garis putus-putus
diagonal
menghubungkan
tingkat dengan
kemungkinan
kombinasi yang
berbeda dari n
dan nilai-nilai l.

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
51

Bagian anguler dari fungsi-gelombang memiliki


degenerasi (2l + 1) untuk l diberikan dengan
bilangan kuantum magnetik m = l, 1, -1. . . , - L,
masing-masing tingkat dengan satu set tertentu
(n, l) nilai memiliki degenerasi (2l + 1).
Selanjutnya, setiap tingkat energi yang diberikan
(diberikan ) mengandung beberapa nilai-nilai
keadaan yang berbeda (n, l). Jadi degenerasi
keadaan sebenarnya adalah penjumlahan
2 (2 l + 1) atas nilai l yang berbeda mungkin
untuk diberikan. Faktor 2 adalah karena dua
orientasi spin yang mungkin pada neutron atau
proton.

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
52

Jumlah (2l + 1) degenerasi (penurunan) keadaan untuk energi


tertentu memiliki kombinasi yang berbeda dari n, l, ml dan nilainilai mS dalam menentukan sublevel energi yang diberikan.

Energy in

Degenerate states (n, l)

No. of nucleons

Total No. of

unit of

filling up the

nucleons

shell (2

for shell

(2l+1))

closure

3/2

(1, 0)

5/2

(1, 1)

7/2

(2, 0) (1, 2)

12

20

9/2

(2, 1) (1, 3)

20

40

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
53

Tingkat yang berbeda bilangan kuantum azimut l


ditunjukkan oleh simbol yang biasa digunakan dalam
sepectroscopy atom, seperti yang diberikan di bawah
ini:

l:
Simbol:

0
s

1
p

2
d

3
f

4
g

5
h

6
i

Tingkat energi terendah dari osilator harmonik adalah


tingkat 1s dengan n, = 1 l = 0, dengan energi 3/2
yang merupakan titik energi nol. Tingktan struktur
untuk neutron dan proton adalah sama.

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
54

Interaksi Spin-orbit:
Dalam rangka untuk menjelaskan perbedaan pendapat untuk nomor
ajaib tinggi, Mayer dan independen Haxel, Jensen dan Suess
menyarankan bahwa istilah interaksi spin-orbit harus ditambahkan
dengan potensi pusat V(r).
Kita berasumsi pasangan kuat antara spin dan momentum sudut
orbital dari setiap nukleon individu sehingga menimbulkan
momentum total sudut j untuk masing-masing sehingga kita dapat
menulis j = l + s.
Karena s = 1/2 untuk setiap nukleon, dua nilai yang mungkin
adalah j = l +1 / 2 dan j = l -1 / 2. Kedua level sekarang memiliki
energi yang berbeda karena pasangan spin-orbit yang kuat.

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti
55

Jumlah nukleon yang dibutuhkan untuk mengisi kulit adalah


jumlah dari nomor nukleon (2j + 1).
Jumlah total semua nukleon mengisi sampai sublevels berbeda
yang diberikan dari atas mulai dari kulit terendah .

J. Keadaan Partikel Tunggal


dalam Inti

56

Level terendah ( = 0)1s1/2 dengan j= 1/2 yang beisi (2 x


+ 1) atau 2 nukleon.
= 1 memiliki 2 sublevels 1 p3/2 and 1 p1/2 jumlah
maksimum nukleon yang dapat menempati sublevel ini
adalah masing-masing 4 dan 2, sehingga total jumlah
nukleon yang ada dalam kelompok sublevel ini (4 + 2) atau
6.

57

Urutan untuk level/tingkatan


nuklir berdasarkan model kulit
dengan memperhitungkan
interaksi orbit-spin.

Aplikasi dari Model Kulit


Partikel Tunggal Ekstrim.
58

a. Spin Nuklir
Salah satu aplikasi yang paling sukses dari model kulit
partikel tunggal adalah penjelasan tentang spin dan paritas
keadaan dasar dari inti A ganjil.
komponen nuklir 'spin' digunakan untuk menunjukkan
momentum sudut I dari inti yang merupakan penjumlahan
vektor
I=L+S
asumsi tambahan berikut: suatu jumlah genap dari nukleon
berjenis apapun dalam keadaan j yang sama akan selalu
bergabung untuk memberikan spin resultan 0 dan paritas
genap.

Aplikasi dari Model Kulit


Partikel Tunggal Ekstrim.
59

b. Momen magnetik nuklir:


Momen magnetik nuklir adalah penjumlahan vektor dari
momen magnetik spin dan momen magnetik orbital :

s L

Nilai-nilai momen magnetik nuklir di atas dikenal sebagai


nilai Schmidt, yang diplot sebagai fungsi dari I = j Grafik
tersebut dikenal sebagai diagram Schmidt.

Diagram Schmidt
60

Diagram
disamping
menunjukkan bahwa nilai-nilai
eksperimental
tidak
sesuai
secara umum dengan nilai
Schmidt.
Namun, nilai-nilai eksperimental
selalu terletak diantara dua
garis Schmidt yang membatasi,
untuk inti Z ganjil dan N ganjil.
Sedikit pengecualian adalah 3H,
3
He, 13C dan 15N dan dimana
nilai-nilai eksperimental berada
sedikit di atas atau di bawah
garis pembatas.
Garis Schmidt (a) kasus proton ganjil
(b) kasus neutron ganjil

Aplikasi dari Model Kulit


Partikel Tunggal Ekstrim.
61

c. kelompok isomerisme:
Waktu hidup relatif nuklir pada keadaan tereksitasi dikenal
sebagai keadaan isomerik pada beberapa inti
Hal ini terjadi ketika ada
perbedaan besar dalam
momentum sudut antara
keadaan tereksitasi dan
keadaan dasar, terutama
ketika perbedaan energi
antara kedua keadaan
relatif kecil.

Aplikasi dari Model Kulit


Partikel Tunggal Ekstrim.
62

d. Momen kuadrupol dari inti:


Nilai-nilai terukur Q untuk inti A ganjil dalam banyak
kasus jauh lebih tinggi daripada perkiraan yang
diberikan.
Selanjutnya ketika Q besar, Q
SP dan QSn mempunyai orde
yang sama besarnya.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa model kulit partikel
tunggal tidak dapat menjelaskan nilai-nilai Q yang sangat
besar dalam beberapa inti. Inti ini tampaknya
memperoleh deformasi permanen.

Model Kulit Partikel Tunggal.


63

Tidak seperti pada model partikel tunggal yang ekstrim, satu hal
yang harus dipertimbangkan tentang pemasangan dari momentum
sudut dari semua nukleon ganjil yang menduduki sublevel terakhir
di luar inti dari kulit tertutup
j

3/2
5/2
7/2

9/8

k
1
2
1
2
1
2
3
1
2
3
4
1
2
3
4
5

0
3/2
0, 2
5/2
0, 2, 4
3/2, 5/2, 9/2
7/2
0, 2, 4, 6
3/2, 5/2, 7/2, 9/2, 11/2, 15/2
0, 22, 42, 5, 6, 8
9/2
0, 2, 4, 6, 8
3/2, 5/2, 7/2, (9/2)2, 11/2, 13/2, 15/2, 17/2, 21/2
02, 22, 3, 43, 5, 63, 7, 82, 9, 10, 12
, 3/2, (5/2)2, (7/2)2, (9/2)3, (11/2)2, (13/2)2, (15/2)2, (17/2)2, 19/2, 21/2, 35/2

Model Kulit Partikel Tunggal.


64

aturan Nordheim.
Aturan kuat
Aturan lemah

: N = 0, I = jn - jp
: N = l, I adalah salah satu dari jn - jp, atau
jn + jp

Untuk dapat memprediksi nilai-nilai I dari inti ganjil-ganjil dengan


benar, penempatan proton dan neutron ganjil terakhir yang tepat
pada sublevel adalah penting. Ringkasan hasil dari model kulit
partikel tunggal sebagai berikut:
Untuk inti N genap Z genap, spin I = 0;
Untuk inti A ganjil, I ditentukan oleh nilai j dari nukleon ganjil
terakhir.
Untuk inti N ganjil Z ganjil, nilai I ditentukan oleh aturan
Nordheim yang diberikan di atas

Model Partikel Individu


65

Dalam model ini, juga dikenal sebagai model partikel bebas, semua
nukleon-nukleon A diasumsikan bergerak secara bebas satu sama lain
dalam medan potensial yang biasa.

Model
ini
dapat
pula
digunakan untuk memperoleh
fungsi gelombang dari sistem
yang pada dasarnya cukup
akurat,
meskipun
dalam
prakteknya ia bergantung pada
validitas aproksimasi model
kulit sampai batas tertentu.

52

1 2 ,3 2

6
MeV

52

52

72

12

32

72

12

32

2
0

12

32

Perhitungan

1 2 ,3 2

72

52

Li

Be

Eksperimen

Level dari Nuklida dengan A = 7

Model Kolektif (bersama).


66

J. Rainwater (1950) adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan


kegagalan dari model kulit dengan memperkenalkan gagasan
deformasi bentuk inti nuklir karena gerakan nukleon ganjil yang lepas
disebelah luar inti ganjil A.

Menurut dia, gerakan tersebut mengarah ke polarisasi inti ganjilganjil, yang dengan hal tersebut diasumsikan bentuk bulat.

Deformasi tersebut akan menyebabkan momentum kuadrupol lebih


tinggi daripada nilai partikel tunggal. Laju Transisi E2 juga meningkat.

Aage Bohr (putra Niels Bohr yang terkenal) dan B. Mottleson (1953)
merinci lebih lanjut model, menggabungkan partikel tunggal dan
gerakan kolektif menjadi model terpadu yang memberikan deskripsi
yang lebih lengkap dari inti terdeformasi.

Model Kolektif (bersama).


67

Dalam inti yang hampir bulat, pemasangan antara gerak kolektif


nukleon dalam inti dan gerakan nukleon yang lepas disebelah luar inti
adalah lemah.

Di sisi lain, untuk pemasangan yang kuat, permukaan terdistorsi dan


potensial yang dirasakan oleh partikel yang terlepas tidak simetris
berbentuk bola.

Partikel-partikel ini, bergerak dalam potensial model kulit non-speris


simetris, mempertahankan bentuk nuklir yang terdeformasi. Situasi
ini mirip dengan yang di molekul linear.

Kita dapat menulis total energi sebagai jumlah dari energi rotasi,
vibrasi dan energi nukleonik inti:

Etot = Erot + Evib + Enuc

Spektrum Vibrasi/Getaran.
68

Oleh Lord Rayleigh (1877).


Inti genap-genap yang menunjukkan keadaan vibrasi fonon
tunggal 2+ pada energi sekitar 0,5 MeV dan triplet 0+, 2+ dan 4+
dengan rata-rata pendekatan energi dua kali lipat dari keadaan
tereksitasi pertama.
Energi Fonon pada 0,5 MeV adalah jauh lebih rendah daripada
kebanyakan energi yang lebih besar (~ 10 MeV) terkait dengan
level osilator partikel tunggal yang mengadakan jarak pada
model kulit.
Eksitasi dari gelombang permukaan yang dibahas di atas tidak
melibatkan perubahan jumlah osilator partikel tunggal.

Getaran yang tetap didalam


inti yang terdeformasi
69

Ketika inti memiliki bentuk keseimbangan bola, akan lebih mudah


untuk menggunakan satu set koordinat yang berbeda.

dalam hal ini menggambarkan perubahan bentuk sehubungan


dengan set koordinat (x, y, z) yang tetap di ruang angkasa.

Jika (x', y', z') merupakan koordinat tetap dalam nukleus, maka
transformasi antara (x, y, z) dan (x', y', z') dapat dilakukan dengan
bantuan sudut Euler (1, 2, 3) pada sumbu utama inti
Transformasi antara sumbu bendatetap dan sumbu ruang-tetap pada
deformasi nukleus. 1, 2, 3 adalah
sudut Euler pada sumbu utama.
Gambar sebelah kanan menunjukkan
pemasangan momentum sudut pada
inti deformasi.

Rotasi Nuklir.
70

Bentuk energi kinetik rotasi dengan momen inersia.

1
1 3
2
2
2
T B ( ) I k k2
2
2 k 1

Karena kecil, sangat sedikit materi nuklir yang sebenarnya ikut


serta dalam rotasi. Rotasi dalam hal ini dapat dianggap sebagai
gelombang yang berjalan disekitar permukaan nuklir, yang
menyebabkan arus irrotational dari nukleon lepas

Materi nuklir di permukaan berputar sebagai sebuah gelombang. Gambar di tengah dan
di sebelah kanan berturut-turut berhubungan dengan irrotasional dan rotasi benda tegar.

71

Pemasangan Partikel dan


Gerak Kolektif

Untuk A ganjil, pada wilayah/daerah inti deformasi,


pemasangan dari gerak partikel-partikel ganjil dengan gerak
kolektif harus dipertimbangkan. Dalam hal ini, partikel tidak
lagi lebih panjang dalam potensial rata-rata yang sama dan
gerakan dari nukleon akan berubah.
Ketika gerakan partikel dan parameter kolektif berpengaruh
kuat satu sama lain, kita memiliki batas pemasangan kuat
Energi dari keadaan nuklir untuk inti yang secara aksial
simetris diberikan oleh
E JK

2
K
J ( J 1) K 2 K ,1 / 2 a (1) J 1 / 2 ( J 1 / 2)
2I

Momen Listrik Kuadrupol


untuk inti yang terdeformasi
kuat.

72

Besar momen kuadrupol listrik intrinsik Q0 dengan parameter


deformasi
3
4
2
2 R
Q0
Z R0 Z R0
5
R0
5
Dalam model pemasangan kuat, untuk keadaan dasar (K = 0)
besar momen kuadrupol listrik:
Q

I (2 I 1)Q0
( I 1)(2 I 3)

Untuk inti genap-genap deformasi dengan I = 0 ini


memberikan Q = 0, meskipun Q0 mungkin memiliki nilai
yang besar. Sebab I 0, Q < Q0

Model Terpadu Nilsson untuk


potensial Deformasi
73

S.G. Nilsson (1955) adalah orang pertama yang menghitung gerakan


partikel tunggal dalam medan gaya yang bukan bola- simetris.

Untuk deformasi yang sangat kuat, komponen l.s dan l2 dapat


dianggap kecil dibandingkan dengan potensial osilator anisotropik.

Untuk deformasi kecil dan moderat, elemen matriks non-diagonal


dari pemasangan orbit-spin dan komponen lt2 harus disimpan di mana
l digantikan oleh lt,

Operator momentum sudut orbital dibangun dengan bantuan dari


koordinat berdimensi dan momentum i

Karena kesimetrian sekitar sumbu-z, persamaan x dan y dapat


diperlakukan bersama-sama sementara persamaan-z diperlakukan
secara terpisah.

Model Super Fluida.


74

Menurut model ini, interaksi pasangan yang jangkauannya


sangat pendek dianggap berbeda dari hasil interaksi
internukleon, yang dipertimbangkan dalam model-model
sebelumnya.
Dalam sebuah inti genap-genap, gaya pasangan antara
nukleon identik dengan spin berlawanan yang mendorong
turunnya energi.
Untuk menghasilkan keadaan tereksitasi dalam inti, perlu
untuk memutuskan ikatan, sehingga nukleon tidak
berpasangan dapat melintasi celah energi yang relatif besar
diantara tingkat-tingkatan nukleon pasangan (keadaan dasar)
dan tingkat tereksitasi pertama.

Resonansi Raksasa.
75

Lebar dari resonansi raksasa terletak antara 3 sampai 8 MeV.


Di dekat inti kulit terluar, lebarnya lebih sempit, sedangkan
untuk inti yang mengalami deformasi mereka jauh lebih luas.
Untuk inti-inti yang terdeformasi, ada superposisi dari dua
resonansi raksasa, karena osilasi disepanjang kedua sumbu
pendek dan sepanjang sumbu yang panjang dari sebuah inti
yang bersumbu simetris.
Resonansi kuadrupol; neutron-neutron dan proton-proton
berosilasi dalam fase, sehingga tidak ada perubahan dalam
isospin (T = 0). Pada tipe yang lain, neutron-neutron dan
proton-proton berosilasi dalam fase yang berlawanan,
sehingga T = 1.

Penutup
76

Bab ini menjelaskan tentang model-model nuklir. Modelmodel tersebut dikembangkan oleh para ahli kimia untuk
memahami sifat-sifat yang teramati dari inti sebuah atom. Pada
awalnya, diasumsikan bahwa inti atom mengandung proton dan
elektron. Namun, hipotesis proton-elektron dari aturan inti ini
mempunyai banyak kekurangan. Pada 1932, Heisenberg
mengajukan gagasan bahwa inti-inti terbentuk dari protonproton dan neutron-neutron (bukan dari proton dan elektron).
Sebuah inti dari nomor massa A dan nomor atom Z
mengandung Z proton dan N = A Z neutron, sehingga jumlah
total partikel dalam inti sama dengan nomor massanya A.

Penutup
77

Proton-proton dan neutron-neutron terikat dengan sangat kuat


didalam inti. Sifat gaya yang mengikat mereka pada dasarnya
berbeda dari jenis-jenis gaya yang lebih familiar misalnya, gaya
gravitasional dan gaya elektromagnetik. Gaya gravitasional jauh
lebih kecil daripada gaya ikat inti. Sehingga ia jauh lebih kecil
daripada energi ikat per nukleon, yang berorde beberapa juta eV.
Dari sekitar 1000 nuklida yang dikenal, hanya sekitar 25%
yang stabil. Unsur-unsur dengan Z genap umumnya mempunyai
jumlah isotop stabil yang lebih besar daripada Z ganjil. Unsur-unsur
yang berbeda yang mempunyai nomor atom yang sama (Z =
konstan) disebut isotop. Nuklida-nuklida dengan Z yang berbeda
dan nomor massanya sama (A=konstan) dikenal sebagai isoton.
Isotop-isotop dari semua unsur dapat dibagi dalam 4 grup: (e-e); (eo); (o-e); (o-o).

Penutup
78

Ada beragam model yang telah diajukan untuk inti atom,


yakni model tetes cairan, model gas Fermi, model-model kulit
dengan tipe-tipe pemasangan yang berbeda. Selain itu, ada alasanalasan yang kuat untuk meyakini bahwa seperti dalam kasus
ikatan elektron-elektron dalam atom, nukleon-nukleon dalam inti
diatur dalam kulit-kulit diskrit tertentu. Beberapa teori bertujuan
membuktikan eksistensi struktur kulit inti adalah keadaankeadaan partikel tunggal dalam inti, model kulit partikel tunggal,
model partikel individual, dan model kolektif. Juga ada modelmodel yang membahas gerak nukleon-nukleon dalam inti, seperti
spektra getaran dan rotasi inti.

Penutup
79

Tidak satupun model-model diatas yang dapat


menjelaskan permasalahan berdasarkan interaksi-interaksi antara
nukleon-nukleon dalam kulit-kulit yang berbeda. Model-model ini
tidak mampu menjelaskan gap (celah) energi yang relatif besar
(~ 1 MeV) dalam visinitas keadaan dasar dari level-level
nonrotasional dari inti genap-genap, nilai yang kecil dari momen
inersia inti-inti e-e dan kerapatan yang lebih besar dari level-level
partikel tunggal dalam penguraian A inti-inti ganjil dibandingkan
dengan nilai yang dihitung dengan menggunakan potensial
Nilsson. Untuk menjelaskan hal-hal ini dan fitur-fitur lainnya,
telah diajukan sebuah model superfluida untuk inti.

SYUKRON