Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

DERMATOMIOSITIS

Oleh:
Irma Nur Rizka Hanifah I4061172008

Pembimbing
dr. Teguh Alyansyah, Sp. KK, M.KED

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNTAN
RSUD DOKTER ABDUL AZIS
SINGKAWANG
2018
BAB I
Pendahuluan

Dermatomiositis adalah miopati inflamasi idiopatik dengan karakteristik


temuan kulit yang terjadi pada anak-anak dan orang dewasa.
Gangguan sistemik ini paling sering mempengaruhi kulit dan otot tetapi juga
dapat mempengaruhi sendi; esofagus; paru-paru; dan, lebih jarang, jantung.
Kalsinosis dystropik dapat mempersulit dermatomiositis dan paling sering diamati
pada anak-anak dan remaja.
Prognosis dermatomiositis tergantung pada tingkat keparahan miopati,
adanya keganasan, dan / atau kehadiran keterlibatan esophageal dan / atau
cardiopulmonary. Kelemahan residual sering terjadi, bahkan pada pasien yang
sepenuhnya pulih.
BAB II
Tinjauan Pustaka

Definisi Klasifikasi Klasifikasi


• Dermatomiositis (DM) merupakan penyakit Bohan dan Peter menggolongkan miopati inflamasi
inflamasi pada kulit, otot, dan pembuluh darah idiopatik sebagai berikut:3,4
dengan gejala erupsi kulit yang karakteristik I – Polimyositis idiopatik primer
disertai kelemahan atau atrofi otot ekstremitas II – Dermatomyositis idiopatik primer
proksimal. III – Polymyositis atau dermatomyositis
berhubungan dengan malignansi
• Polimiositis IV – Polymyositis atau dermatomyositis anak-
anak
• DM sine myositosis atau clinically amyopathic V – Polymyositis atau dermatomyositis
DM.1 berhubungan dengan penyakit jaringan ikat lainnya
VI – Inclusion body myositis
VII – Lain-lain (misal eosinophilicmyositis,
myositis ossificans, focal myositis, giant cell
myositis)
Epidemologi Etiologi
Penyakit ini tergolong jarang bila Penyebab dermatomiositis tidak
dibandingkan dengan lupus eritematosus diketahui. Namun ada bebrapa hal yang
(LE). Lebih sering mengenai perempuan, telibat seperti
dengan 2 periode awitan tersering yaitu 1. Faktor genetik,
awitan remaja / anak dan dewasa (dekade 4- 2. Imunologi,
6). 3. Infeksi,
Di poliklinik kulit dan kelamin RSCM 4. Lingkungan,
pada tahun 2012-2013 ditemukan 2 kasus 5. Induksi obat.
baru.1
Patogenesis Gejala Klinis

Penyakit idiopatik ini diduga terjadi 1. Tanda heliotrope/ reddish purple


melalui beberapa fase: 2. Poikiloderma → ‘V sign’, ‘shawl sign’.
(1) fase suseptibilitas genetik; 3. Papul gottron
(2) fase induksi yang menyebabkan hilangnya 4. Kalsinosis kutis
toleransi terhadap self-antigen kulit dan otot 5. Poikiloderma non-scaring Alopecia
lurik yang dipicu stimulus lingkungan,
contohnya: ultraviolet, infeksi, dll; Kelemahan timbul simetris bilateral
(3) fase ekspansi autoimun; dan pada otot ektremitas proksimal. Gejala ini
(4) fase kerusakan jaringan akibat mekanisme biasanya muncul setelah erupsi kulit.
efektor imunologis.
Gambar 1.1 Heliotrope/ reddish purple

Gambar 1.2 Pada DM ditemukan‘V sign’ dan ‘shawl sign’

Gambar 1.3 Ditemukan Gottron’sign

Gambar 1.5 Poikiloderma pada scalp


dan non-scaring alopecia

Gambar 1.4 Kalsinosis kutis


Diagnosis Banding Diagnosis
a. Ananmnesis Dan Pemeriksaan Fisik
Manifestasi kulit DM dapat menyerupai LE
Dermatomiositis sering muncul dengan
(tipe akut dan subakut), liken planus,
penyakit kulit sebagai salah satu manifestasi awal,
dermatitis seboroik, dermatitis kontak,
dan mungkin manifestasi satu-satunya pada onset
psoriasis, dermatitis atopik, dan erupsi
di mungkin sebanyak 40% dari individu
obat alergik.
Penyakit otot dapat terjadi secara
bersamaan, dapat mendahului penyakit kulit, atau
mungkin mengikuti penyakit kulit selama beberapa
minggu hingga bertahun-tahun.
Diagnosis Talaksanaan
Diagnosis
Pemeriksaan laboratorium • Kortikosteroid

1. Peningkatan CK serum • Antihistamin • Tabir surya

2. Peningkatan lactate dehydrogenase (LDH). . • Vitamin D

3. Kadar LED, SGOT, SGPT, CRP dan ANA


Pemeriksaan penunjang
1. MRI Prognosis
2. Ultrsonografi Talaksanaan
Prognosis tergantung pada jenis
3. Biopsi
kelamin, usia, tingkat keparahan
4. CDASI
miopati, keganasan.
BAB I
Penutup

Dermatomiositis adalah miopati inflamasi idiopatik dengan karakteristik


temuan kulit yang terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Penyebab
dermatomiositis tidak diketahui. Namun, faktor genetik, imunologi, infeksi, dan
lingkungan telah terlibat. Diagnosa dapat dilakukan dengan penggalian anamnesis
serta temua klinis kulit pada pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Pengobatan pada DM ini dapt dilakukan pemberian kortikosteroid sesuai
dosis dan pemberian tabir surya. Prognosis dermatomiositis tergantung pada tingkat
keparahan miopati, adanya keganasan, dan / atau kehadiran keterlibatan esophageal
dan / atau cardiopulmonary. Kelemahan residual sering terjadi, bahkan pada pasien
yang sepenuhnya pulih.
Daftar Pustaka
1. Unandar Budimulja. Mikosis: dalam Prof.Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
5. Jakarta : FKUI.2008
2. Bogdanov I, Kazandjieva J, Darlenski R, Tsankov N. Dermatomyositis: Current concepts. Clin Dermatol.
36 (4):450-458. 2008
3. Callen JP, Wortmann RL. Dermatomyositis. Clin Dermatol. (5):363-73. 2006
4. Kasteler JS, Callen JP. Scalp involvement in dermatomyositis. Often overlooked or misdiagnosed.
JAMA.. 272(24):1939-41.1994
5. Werth VP, Callen JP, Ang G, Sullivan KE. Associations of tumor necrosis factor alpha and HLA
polymorphisms with adult dermatomyositis: implications for a unique pathogenesis. J Invest Dermatol.
119(3):617-20. 2002
6. Pachman LM, Veis A, Stock S, et al. Composition of calcifications in children with juvenile
dermatomyositis: association with chronic cutaneous inflammation. Arthritis Rheum. 54(10):3345-
50.2006
TERIMA KASIH