Anda di halaman 1dari 67

PENYUSUNAN

ANGGARAN
Kerangka Aktivitas Organisasi
Kerangka Aktivitas Organisasi (Cont’d)

• Strategi : dituangkan dalam sebuah visi dan misi tersebut


 diterjemahkan dalam tujuan-tujuan yang bersifat rinci
untuk dicapai dalam jangka waktu satu tahun.
• Tujuan : tujuan organisasi diformulasikan dalam
pernyataan-pernyataan kualitatif.
• Anggaran : dibuat untuk menyatakan tujuan-tujuan tersebut
dalam sebuah pernyataan kualitatif.
• Aktivitas : dibuat berdasarkan tujuan dan anggaran yang
telah dibuat.
Kerangka Logis Penyusunan Program

Tahapan Penyusunan
Penetapan Strategi Organisasi (Visi dan
Misi)

Pembuatan Tujuan

Penetapan Aktivitas

Evaluasi dan Pengambilan Keputusan


1. Penetapan Strategi Organisasi
(visi dan misi)
 Visi dan misi  cara pandang yang jauh ke depan yang memberi
gambaran tentang suatu kondisi yang harus dicapai oleh sebuah
organisasi.
 Dari sudut pandang lain, visi dan misi organisasi harus dapat:
– Mencerminkan apa yang ingin dicapai;
– Memberikan arah dan fokus strategi yang jelas;
– Menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis;
– Memiliki orientasi masa depan;
– Menumbuhkan seluruh unsur organisasi; dan
– Menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi.
2. Pembuatan Tujuan

Tujuan  Hal yang akan dicapai dalam kurun waktu satu tahun 
Tujuan Operasional

Tujuan Operasional  turunan visi dan misi  dasar alokasi


sumber daya untuk aktivitas harian serta pemberian reward and
punishment
Tujuan Operasional
• Karakteristik:
– Merepresentasikan hasil akhir (true ends/outcome) bukan
keluaran (output).
– Dapat diukur untuk menentukan apakah hasil akhir
(outcome) yang diharapkan telah dicapai.
– Dapat diukur dalam jangka pendek agar  tindakan
koreksi (corrective action).
– Harus tepat, artinya tujuan tersebut memberikan peluang
kecil untuk menimbulkan interpretasi individu.
3. Penetapan Aktivitas

Menjadi dasar penyusunan anggaran  terutama dalam


pendekatan PPBS

Aktivitas dipilih berdasarkan strategi organisasi dan tujuan


operasional yang telah ditetapkan
4. Evaluasi dan Pengambilan Keputusan

Melibatkan reviu dan penentuan ranking.

Penentuan kriteria ranking  berdasarkan standar baku


organisasi atau kebebasan masing-masing unit.
Agenda

1 Proses Penyusunan APBN

2 Pelaksanaan Pertanggungjawaban

3 Diskusi
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara

PEMERINTAH

Hak Kewajiban

RENCANA YANG MENJADI


PEDOMAN
Untuk setiap kegiatan termasuk
keuangan
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara

• Memuat rencana penerimaan dan belanja atau


pengeluaran dalam satu tahun.
• Penyusuanannya melibatkan banyak pihak:
– Departemen
– Lembaga
– DPR  otoritas pengawas arus keluar dana APBN
Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara

UUD 1945  APBN diwujudkan dalam bentuk Undang-


Undang.

Presiden berkewajiban:
• Menyusun; dan
• Mengajukan RAPBN kepada DPR

RAPBN memuat:
• Asumsi umum yang mendasari penyusunan APBN
• Perkiraan penerimaan dan pengeluaran
• Transfer
• Defisit/ Surplus
• Pembiayaan defisit
• Kebijakan pemerintah
Ruang Lingkup APBN

Pengeluaran

Penerimaan

Bendaharawan Umum Negara


(BUN) rekening di BI
Ruang Lingkup APBN
• Saat pertanggungjawaban APBN, seluruh realisasi penerimaan
dan pengeluaran dalam rekening harus dikonsolidasikan ke
dalam rekening BUN.

• Semua penerimaan dan pengeluaran yang telah dimasukkan


dalam rekening BUN  penerimaan dan pengeluaran “on
budget”
Perkiraan APBN

penerimaan pengeluaran

transfer surplus/defisit pembiayaan


Sejarah Format APBN

• TA 1969/70 sampai dengan 1999/2000 APBN  T-


account.
• Kelemahan T-account:
– tidak memberikan informasi yang jelas mengenai
pengendalian defisit ; dan
– kurang transparan.
• Mulai TA 2000 format APBN  I-account, disesuaikan
dengan Government Finance Statistics (GFS)
Tujuan Perubahan Format APBN

–Meningkatkan transparansi ;
–Mempermudah analisis, pemantauan, dan pengendalian
dalam pelaksanaan dan pengelolaan APBN;
–Mempermudah analisis komparasi (perbandingan); dan
–Mempermudah perhitungan dana perimbangan yang lebih
transparan yang didistribusikan oleh pemeritah pusat ke
pemerintah daerah  UU No.25/1999 tentang Perimbangan
Keuangan Pusat Daerah.
T-Account
• Penerimaan dan pengeluaran dipisahkan di kolom yang
berbeda.
• Mengikuti anggaran dan format anggaran yang berimbang
dan dinamis.
• Berimbang dan dinamis:
– Penerimaan = Pengeluaran
– Jika Pengeluaran > Penerimaan  pembiayaan dari
dalam atau luar negeri.
T-Account (Cont’d)
Pemda Tidak menunjukkan
Pengeluaran APBN komposisi anggaran yang
dikelola Pemda dan Pusat
Pusat  Anggaran terpusat

Pinjaman luar negeri  penerimaan pembangunan


Pembayaran cicilan pinjaman luar negeri  pengeluaran rutin
I-Account
• Penerimaan dan pengeluaran dalam satu kolom.
• Menerapkan anggaran defisit/surplus:
– Perubahan – perubahan itu dengan jelasnya digambarkan oleh
posisi overall balance

Defisit/Surplus  Selisih Penerimaan + Hibah dengan Pengeluaran

Defisit  Pengeluaran > Penerimaan + Hibah

Pembiayaan dari dalam dan luar negeri

Surplus  Pengeluaran < Penerimaan + Hibah


I-Account (Cont’d)

Pemda
Menunjukkan komposisi
Pengeluaran APBN pengeluaran yang dikelola
Pusat Pemda

Pinjaman luar negeri dan cicilan  pembiayaan anggaran 


utang  jumlahnya harus sekecil mungkin
Format I-Account APBN
A. Pendapatan dan Hibah
I. Penerimaan Dalam Negeri
1. Penerimaan Pajak
2. Penerimaan Bukan Pajak
II. Hibah
B. Belanja Negara
I. Anggaran Belanja Pemerintah Pusat
1. Pengeluaran Rutin
2. Pengeluaran Pembangunan
II. Dana Perimbangan
III. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang
C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B)
E. Pembiayaan
I. Dalam Negeri
II. Luar Negeri
APBN 2007 – 2013
Komposisi APBN
Penerimaan

PPh PPN PBB

Non Pajak (misal:


Cukai dan Pajak
BPHTB penerimaan SDA
Lainnya
dan Laba BUMN)
Komposisi APBN
Pengeluaran

Target yang tidak boleh dilampaui.

Pengeluaran yang dilakukan pada suatu tahun anggaran harus


ditutup dengan penerimaan pada tahun anggaran yang sama.

Tahapan proses terjadinya:


1. Kewenangan Anggaran
2. Pelimpahan Kewenangan Anggaran
3. Kewajiban
4. Relasisasi Pengeluaran (outlays)
Komposisi APBN
Dana Perimbangan

Merupakan transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah


daerah dalam rangka program desentralisasi

Dana Bagi Hasil Penerimaan

Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Khusus


Komposisi APBN
Dana Otonomi Khusus

Diberikan kepada daerah yang memiliki karakteristik khusus


yang membedakan dengan daerah lain

Tujuan  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya


dan mengurangi ketertinggalan dari propinsi lainnya.
Komposisi APBN
Defisit dan Surplus

Merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran

Pegeluaran > Penerimaan  Defisit


Pegeluaran < Penerimaan  Surplus
Penjelasan Komposisi APBN
Keseimbangan

Keseimbangan Primer  total penerimaan dikurangi


belanja tidak termasuk pembayaran bunga

Defisit Anggaran

Keseimbangan Umum  total penerimaan dikurangi


total pengeluaran termasuk pembayaran bunga
Komposisi APBN
Pembiayaan

Untuk menutup defisit anggaran

Pembiayaan DN  obligasi, panjualan aset, privatisasi

Pembiayaan LN  meliputi pinjaman proyek, pembayaran


kembali utang, pinjaman program dan penjadwalan kembali
utang
Proses Penyusunan APBN
Penyusunan APBN
Atas nama Presiden

Badan
Menteri Keuangan Perencanaan
Nasional

Mengkoordinasikan penyusunan APBN

Menteri Keuangan  Bappenas dan Menteri


Mengkoordinasikan Keuangan 
penyusunan konsep anggaran Mengkoordinasikan
belanja rutin penyusunan anggaran belanja
pembangunan
Penyusunan APBN

• Pembicaraan pendahuluan antara pemerintah


dan DPR

• Pengajuan, pembahasan, dan penetapan APBN


Penyusunan APBN
Pembicaraan Pendahuluan

Pembahasan antara pemerintah dan DPR 


mekanisme dan jadwal pembahasan APBN

Persiapan rancangan APBN oleh


pemerintah

Finalisasi penyusunan RAPBN oleh


pemerintah
Penyusunan APBN
Pengajuan, Pembahasan, dan Penetapan APBN

• Dilakukan oleh:
– Menteri Keuangan dengan Panitia Anggaran
– Komisi dengan Departemen
• Hasil  UU APBN yang memuat alokasi dana
per satuan
Penyusunan APBN
Pengajuan, Pembahasan, dan Penetapan APBN (Cont’d)

Satuan 3 (alokasi dana per departemen/lembaga, sektor, sub


sektor, program dan kegiatan)

Dirjen Anggaran dan Menteri membahas detail pengeluaran


rutin

Pengeluaran pembangunan  Dirjen Anggaran, Bappenas, dan


Menteri teknis membahas detail pengeluaran untuk setiap
kegiatan
Penyusunan APBN
Pengajuan, Pembahasan, dan Penetapan APBN (Cont’d)

Jika DPR menolak RAPBN yang diajukan  Pemerintah


menggunakan APBN tahun sebelumnya

Pengeluaran tahun ini maksimal sama dengan pengeluaran


tahun lalu
Penyusunan APBN
Pengajuan, Pembahasan, dan Penetapan APBN (Cont’d)
Hasil pembahasan didokumentasikan dalam:
• Daftar Isian Kegiatan  otorisasi pengeluaran rutin unit
organisasi.

• Daftar Isian Proyek  otorisasi pengeluaran pembangunan


proyek pada unit organisasi.

• Surat Pengesahan Alokasi Anggaran Rutin (SPAAR)  besaran


alokasi anggaran rutin untuk setiap kantor/satuan kerja di daerah
 dibahas oleh Kantor Wilayah DJA dan Instansi Vertikal
Departemen/ Lembaga  DIK.
Penyusunan APBN
– Surat Pengesahan Alokasi Anggaran Pembangunan (SPAAP)
 menetapkan besaran alokasi anggaran pembangunan
untuk setiap proyek/bagian proyek  dibahas oleh Kantor
wilayah DJA dengan instansi vertikal/dinas  DIP.

• Surat Keputusan Otorisasi (SKO)  otorisasi untuk


penyediaan dana kepada departemen/lembaga/
pemerintah daerah dan pihak lain yang berhak baik untuk
rutin maupun pembangunan.
Peraturan Pelaksanaan

• PP No. 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP)


• PP No. 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-KL) Tahun 2005
• PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
• PMK Nomor 571/PMK.06/2004 tentang Petunjuk Teknis
Penyelesaian Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
• PMK Nomor 606/PMK.06/2004 tentang Pedoman Pembayaran
dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun 2005
• PMK Nomor 54/PMK. 02/2005 tentang Petunjuk Teknis
Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL
Perubahan Format Anggaran Belanja
Pemerintah Pusat

• Penerapan sistem penganggaran terpadu (unified


budged)  penyatuan anggaran belanja rutin dan
anggaran belanja pembangunan; dan

• Reklasifikasi rincian belanja negara menurut


organisasi, fungsi dan jenis belanja.
Sasaran Perubahan
Format Anggaran Belanja Negara

 Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas


pengelolaan belanja negara, melalui:

a. Minimalisasi duplikasi rencana kerja dan


penganggaran dalam belanja negara

b. Meningkatkan keterkaitan antara keluaran (output)


dan hasil (outcomes) yang dicapai dengan
penganggaran organisasi

 Penyesuaian dengan klasifikasi internasional


Penyusunan RKA-KL dan DIPA
• Kementerian Keuangan cq. DJAPK menelaah kesesuaian RKA-
KL dengan pagu sementara, standar biaya, dan prakiraan maju;
dan
• Bappenas menelaah sinkronisasi program dalam RKA-KL dengan
RKP.
• Kementerian Keuangan cq DJPbn menelaah kesesuaian antara
DIPA dengan Keppres tentang Rincian APBN
• Penelaahan RKA-KL oleh Kementerian Keuangan (cq DJAPK)
dan Bappenas
• Penerbitan Keppres tentang Rincian APBN
• Pengajuan konsep DIPA oleh kementerian/lembaga
• Kementerian Keuangan cq Direktur Jenderal Perbendaharaan
menelaah kesesuaian antara konsep DIPA oleh
kementerian/lembaga dengan Keppres tentang Rincian APBN
• Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
• Pelaksanaan APBN
Reformasi Penganggaran

• Unifikasi anggaran konsolidasi pengeluaran rutin dan


pengeluaran pembangunan;

• Penerapan kerangka pengeluaran jangka menengah


(medium term expediture framework/MTEF) 
mempererat perencanaan dan penganggaran serta
meningkatkan derajat prediksi kemampuan anggaran
jangka menengah; dan

• Penerapan penganggaran berbasis kinerja 


meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan
pemerintah.
APBD
Dasar Perundangan APBD Berbasis Kinerja

UU No. 22/99 ttg


Pemerintahan Daerah

UU No. 25/99 ttg


Perimbangan Keuangan Anggaran
Pusat dan Daerah
Berbasis
PP 105/2000 ttg Kinerja
pengelolaan dan
pertanggungjawaban
keuangan daerah

KepMen DN
No.29/2000 ttg
keuangan daerah&
APBD
Perubahan Penganggaran
Line Item Performance
Budgeting Budgeting

 Tidak dapat dinilai  Mengaitkan setiap


efisiensi dan efektifitas pengeluaran dengan
program manfaatnya
 Berorientasi jangka  dapat dinilai efisiensi dan
pendek efektifitas program
 Belum mengaitkan setiap  Berorientasi jangka
pengeluaran dengan panjang
manfaatnya
Penyusunan Anggaran
PROSES PENYUSUNAN APBD
Kinerja
1. Kegiatan Penetapan strategi organisasi
Pendahuluan (visi dan misi)

2. Arah dan
Kebijakan Umum
APBD
Penetapan Aktivitas
3. Strategi &
Prioritas APBD
4. Rencana
Anggaran Satuan
Kerja (RASK)
5. Evaluasi dan Pembuatan
seleksi RASK Tujuan operasional

6. Pembahasan
RAPBD
•Review dan Ranking

APBD
Proses Penyusunan APBD

• Langkah penyusunan APBD dilakukan dengan


berdasar pada Rencana Strategis Daerah
(RENSTRADA)  dokumen strategi jangka panjang
(strategic planning) yang dimiliki Pemda
• Siklus RENSTRADA biasanya lima tahunan  yang
akan dijabarkan dalam bentuk tujuan operasional
yang bersifat tahunan
1. Kegiatan Pendahuluan
• Penjaringan aspirasi masyarakat sebagai
bentuk partisipasi masyarakat dalam
mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
publik
• Evaluasi kinerja tahun lalu untuk mendapat
feedback bagi penyusunan APBD sekarang
• Hasil penjaringan masyarakat dan feedback
dan penjabaran Renstrada sebagai dasar
penentuan arah dan kebijakan umum APBD
2. Arah dan Kebijakan Umum APBD

Kebijakan RENSTRADA
Pemerintah
Pusat
MASYARAK
AT
Evaluasi (Tokoh,LSM,
kinerja Ormas, dll
masa lalu Pokok
pikiran
DPRD

PEMDA DPRD
(eksekutif) (Legislatif)
Arah dan
Kebijakan umum
APBD

Kesepakatan
2. Arah dan Kebijakan Umum APBD (cont’d)

Arah dan kebijakan umum APBD dapat disusun berdasarkan


kriteria sebagai berikut :
– Sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran dan kebijakan yang
ditetapkan dalam Rencana Strategis Daerah dan dokumen
perencanaan lainnya.
– Sesuai aspirasi masyarakat dan mempertimbangkan kondisi dan
kemampuan daerah.
– Memuat arah yang diinginkan dan kebijakan umum yang sebagai
pedoman penyusunan strategi dan prioritas APBD serta
penyusunan rancangan APBD dalam satu tahun anggaran.
– Disusun dan disepakati bersama antara DPRD dengan Pemerintah
Daerah.
3. Strategi & Prioritas APBD

• Merupakan penjabaran lebih lanjut dari arah dan kebijakan


umum
• Merupakan strategi operasional jangka pendek, sedangkan
RENSTRADA merupakan strategi jangka panjang
• Strategi dan prioritas APBD adalah pendekatan (metode) yang
diprioritaskan dalam rangka pemanfaatan sumber daya yang
dimiliki pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan
3. Strategi & Prioritas APBD (cont’d)
Contoh arah dan kebijakan umum APBD:
- Peningkatan rasio guru dengan siswa menjadi 1:30
- Peningkatan jumlah guru berkeahlian pada tingkat pencapaian
10%
Contoh Strategi dan Prioritas APBD:
- Pengangkatan dan penempatan guru
- Pembinaan dan pengembangan karier guru
4. Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK)

• Aktivitas dalam penyusunan APBD dijelaskan


dalam RASK
• RASK dibuat oleh unit-unit kerja pemerintah,
sehingga sifatnya usulan yang akan dibahas
dan dibuat penetapan oleh panitia anggaran
yang dibentuk oleh Kepala Daerah bersama
DPRD
4. Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) (cont’d)

• RASK dibagi menjadi 3, yaitu :


S.1 : berisi tentang pernyataan strategi organisasi (visi,
misi, tujuan, dsb)
S.2 : berisi tentang rincian program dan kegiatan
S.3 : berisi tentang anggaran atas program dan
kegiatam yang direncanakan

Contoh untuk “program pembinaan dan


pengembangan karier guru”:
- Seminar tentang psikologi pengajaran
- Pelatihan teknik-teknik pengajaran yang diadakan
setiap 3 bulan
5. Evaluasi dan seleksi RASK
• Usulan dalam RASK dibahas dan direview oleh
Pemerintah (belum melibatkan DPRD).
• Hasilnya adalah Dokumen RAPBD yang
diajukan ke DPRD untuk dibahas bersama
6. Pembahasan dan Penetapan APBD

• Hasil pembahasan Pemerintah dengan DPRD


 APBD yang dituangkan dalam Perda untuk
dilaksanakan Pemda
RENCANA STRATEGIS UNIT DINAS KESEHATAN
DAERAH X

VISI

MENJADI PENGGERAK DAN PENDORONG TERCIPTANYA MASYARAKAT DAN


LINGKUNGAN YANG SEHAT

MISI

Kesehatan MENINGKATKAN SARANA DAN PRASANA KESEHATAN

Restrukturisasi
Organisasi MENCIPTAKAN STRUKTUR BIROKRASI YANG EFISIEN DAN EFEKTIF
Restrukturisasi
Kesehatan
Organisasi

Perspektif Masyarakat
Meningkatkan
Kuantitas dan Meningkatkan
Kualitas Tenaga Kepuasan
Medis Masyarakat

Perspektif Keuangan

Perspektif Internal Proses


Meningkatkan
Produktivitas Meningkatkan
Kerja kualitas layanan

Perspektif Tumbuh dan Belajar


Meningkatkan Meningkatkan
Pengetahuan Kesejahteraan
Manajemen Pegawai
TRANSLASI RENSTRA UNIT DINAS KESEHATAN DAERAH X
VISI MISI INDIKATOR TARGET TUJUAN INDIKATOR TARG
DAMPAK MANFAAT ET

MENJADI M.1. KESEHATAN INDEX 75 T.1. Meningkatkan Index Kualitas 80


PENGGERAK DAN KESEHATAN Kualitas Pelayanan
PENDORONG MASYARAKAT Pelayanan Kesehatan
TERCIPTANYA Kesehatan
MASYARKAT DAN
T.2.Meningkatkan Index 80
LINGKUNGAN
Lingkungan Lingkungan
YANG SEHAT
Sehat & Bersih Sehat & Bersih

TUJUAN PROGRAM INDIKATOR TAR KEGIATAN INDIKATOR KELUARAN TAR


HASIL GET GET
T.1. P.1. Tingkat 80 K.1. Jumlah Tenaga Medis / 5
Meningkatkan Peningkatan Kepuasan Penambahan Tenaga puskesmas
Kualitas Sarana dan Masyarakat Medis
Pelayanan Prasarana
K.2. Tingkat Keahlian 8
Kesehatan Kesehatan
Pelatihan Tenaga
Medis
K.3. Jumlah puskesmas / 1
Bantuan Penyediaan kecamatan
Fasilitas Kesehatan
T.2. P.1. Tingkat 70 K.1. Jumlah Kehadiran KK / 60
Meningkatkan Pembinaan Kesadaran Sosialisasi Sosialisasi
Lingkungan Kebersihan Kebersihan Pentingnya
Sehat dan Lingkungan Lingkungan Limgkungan Sehat
Bersih dan Bersih
INDEX NO INDIKATOR BOBOT CAPAIAN SCORE
KESEHATAN INDEX KUALITAS PELAYANAN 70
1 25 % 17.5
SEBELUM KESEHATAN
ANGGARAN 2 INDEX AIR BERSIH 25 % 50 12.5

INDEX KUALITAS GIZI BAGI


3 25 % 60 15
BAYI DAN BALITA
INDEX LINGKUNGAN SEHAT
4 25 % 60 15
DAN BERSIH

INDEX KESEHATAN 60

INDEX KUALITAS NO INDIKATOR BOBOT CAPAIAN SCORE


PELAYANAN 1 TINGKAT PASIEN SELAMAT 30 % 70 21
KESEHATAN
TINGKAT EFEKTIVITAS DAN
SEBELUM 2
EFISIENSI PELAYANAN
40 % 70 28
ANGGARAN
TINGKATKEPUASAN 70
3 30 % 21
MASYARAKAT

INDEX KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN 70

TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT


1
SEBELUM ANGGARAN
70
PENYUSUNAN ANGGARAN KEGIATAN

Unit Kerja : DINAS KESEHATAN DAERAH X

Program : Peningkatan Sarana dan Prasarana Kesehatan

Kegiatan : Penambahan Tenaga Medis

INDIKATOR TOLOK UKUR TARGET

Masukan : Jumlah Dana Anggaran Kegiatan Rp. 70,000,000


Keluar : Jumlah Tenaga Medis / Puskesmas 5
Hasil : Tingkat Kepuasan Masyarakat 80
Manfaat : Index Kualitas Pelayanan Kesehatan 80
Dampak : Index Kesehatan 75
NO INDIKATOR BOBOT CAPAIAN SCORE
INDEX INDEX KUALITAS PELAYANAN 80
1 25 % 20
KESEHATAN KESEHATAN

2 INDEX AIR BERSIH 25 % 70 17.5

INDEX KUALITAS GIZI BAGI


3 25 % 70 17.5
BAYI DAN BALITA
INDEX LINGKUNGAN SEHAT
4 25 % 90 22.5
DAN BERSIH

INDEX KESEHATAN 77.5


NO INDIKATOR BOBOT CAPAIAN SCORE
INDEX KUALITAS
1 TINGKAT PASIEN SELAMAT 30 % 75 22.5
PELAYANAN
KESEHATAN TINGKAT EFEKTIVITAS DAN
2 40 % 80 32
EFISIENSI PELAYANAN
TINGKATKEPUASAN 85
3 30 % 25.5
MASYARAKAT

INDEX KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN 80

1 TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT 85


INDEX
KESEHATAN
SCORE SCORE SCORE
NO INDIKATOR TARGET
SEBELUM SESUDAH KINERJA
INDEX KUALITAS PELAYANAN
1 17.5 20 20 100 %
KESEHATAN
2 INDEX AIR BERSIH 12.5 17.5 17.5 100 %
INDEX KUALITAS GIZI BAGI BAYI DAN
3 15 17.5 17.5 100 %
BALITA
4 INDEX LINGKUNGAN SEHAT DAN BERSIH 15 22.5 20 112.5 %

INDEX KESEHATAN 60 77.5 75 103.33%

INDEX KUALITAS PELAYANAN


KESEHATAN
SCORE
SCORE SCORE KINERJA
NO INDIKATOR TARGET
SEBELUM SESUDAH

1 TINGKAT PASIEN SELAMAT 21 22.5 24 93.75 %


TINGKAT EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI
2 28 32 32 100 %
PELAYANAN
3 TINGKATKEPUASAN MASYARAKAT 21 25.5 24 106.25 %

INDEX KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN 70 80 80 100 %


Dwi Martani - 081318227080
martani@ui.ac.id atau dwimartani@yahoo.com
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/ 67