Anda di halaman 1dari 60

Case Report

Asma dan Hepatitis


Pada Kehamilan

Pratika Lawrence Sasube


1865050050
BAB I Pendahuluan

– Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia berdasarkan SKDI survei tahun 2007
sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.

– Secara distribusi persentase penyumbang AKI secara berturut-turut adalah


sebagai berikut: perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), abortus (5%),
persalinan tidak maju (5%), emboli osbtruktif (3%), dan lain-lain.1

– Asma dalam kehamilan merupakan salah satu keadaan yang dapat


meningkatkan morbiditas serta mortalitas ibu hamil bila tidak ditangani dengan
baik
– Selain Asma pada kehamilan, Tedapat juga Infeksi Virus Hepatitis B. Infeksi VHB pada
wanita hamil dapat ditularkan secara tranplasental dan 20 % dari anak yang terinfeksi
melalui jalur ini akan berkembang menjadi kanker hati primer atau sirosis hepatis
pada usia dewasa
BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

– Nama : Ny. E
– Umur : 37 tahun
– Jenis Kelamin : Perempuan
– Agama : Islam
– Alamat : Jl. Duren Bangka RT 002 RW 002
– Suku/bangsa : Betawi/Indonesia
– Pendidikan Terakhir : SLTA
– Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
– Status pernikahan : Menikah
ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 20
Mei 2019 di Ruang 6007 Bangsal Lavender 1, Lantai 6 RSUD Pasar Minggu.

– Keluhan Utama : Sesak Nafas


– Riwayat Penyakit Sekarang
– Pasien G2P1A0 hamil 37-38 minggu datang ke Poli Kebidanan RSUD Pasar Minggu, pasien mupakan
rujukan dari PKM Pancoran dengan keluhan sesak nafas sejak 2 minggu SMRS, serta HbSAg (+).
– HPHT pasien 20/ 09/ 2018. Tafsiran Partus tanggal 27/06/2019. Test pack (+) pada pertengahan bulan
oktober. Pasien rutin ANC di PKM Pancoran dirujuk untuk melakukan USG di RSUD Pasar Minggu. USG
pertama kali saat usia kehamilan pasien 12 minggu
– Pasien mengeluhkan sesak sudah sejak usia kehamilan 12 minggu, sesak terjadi setidakanya >2x dalam
seminggu, bahkan saat sesak terjadi dapat mengganggu aktivitas pasien. saat itu pasien sempat
dirawat dengan keluhan sesak nafas yang makin sering. Saat Ini, pasien hanya mengeluhkan sesak
dalam seminggu sesak terjadi 1-2 x. Mules (+) tetapi jarang, gerak janin aktif (+), Keluar air dari jalan
lahir (-), darah (-).
– Riwayat Penyakit Dahulu.
– Riwayat Asma (+) sejak kehamilan ke 2 (saat ini)
– Hepatitis B (+) baru diketahui ketika pasien hamil.
– Alergi Antibiotik (+) Ceftriaxon
– Riwayat Penyakit Keluarga
– Riwayat asma : disangkal.
– Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal.
– Riwayat DM : disangkal
– Riwayat Sosial Ekonomi
– Pasien seorang IRT, merokok (-), alkohol (-)
– Suami pasien seorang pekerja lepas, merokok (+), alkohol (+)

– Riwayat Menstruasi
– Haid pertama usia : 13 tahun
– Siklus haid : teratur, siklus 28 hari ±7 hari
– Lama haid : 10 hari, 3-4x ganti pembalut
– Nyeri haid : (+)
– Riwayat Pernikahan
– Status pernikahan : menikah 1x, lama pernikahan 20 tahun, usia saat menikah 17 tahun
– Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Jenis
Tahun Lahir Jenis Kelamin BBL ASI
Persalinan
1999 Laki-laki 2800 g Normal ASI 2 th

– Riwayat Kontrasepsi
– KB Suntik pada saat anak pertama berumur 3 tahun

PEMERIKSAAN FISIK

– Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 20 Mei 2019


– Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
– Kesadaran : Compos Mentis
– GCS : E4M6V5
– Vital sign
– Tekanan darah : 110/70 mmHg
– Nadi : 70 x/menit isi cukup kuat angkat
– Pernapasan : 20x/menit
– Suhu : 36.5˚C
– Status gizi : Kesan gizi cukup
PEMERIKSAAN FISIK
Pulmo :
Inspeksi : pergerkan dinding dada
simetris.
– Status generalis Palpasi : vokal fremitus simetri
– Mata : Konjungtiva anemis (-/-), pupil isokor Perkusi : sonor/sonor
diameter 2mm/2mm. RCL +/+ RCTL +/+ Auskultasi : suara dasar
– Hidung : Terpasang Nasal kanul vesikuler ekspirasi memanjang +/+, Rhonki -/-,
dengan O2 2 lpm Wheezing +/+.
– Telinga : dalam batas normal
– Mulut : dalam batas normal Abdomen:
– Leher : deviasi (-), pembesaran KGB Inspeksi : perut tampak membucit sesuai usia
(-), pembesaran tiroid (-) kehamilan
– Thorax : Auskultasi : Bising Usus Sulit dinilai
– Cor : Perkusi : pekak
– Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat. Palpasi : supel, NT (-)
– Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea
midclavicularis sinistra, Ekstremitas
– Perkusi : pekak Superior : akral hangat (+/+), edema
– Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan. kedua tangan (-/-)
Inferior : akral hangat (+/+), edema
kedua kaki (-/-)
PEMERIKSAAN FISIK
Status Obstetri
Abdomen : Membuncit sesuai usia
kehamilan
TFU : 35 cm
Leopold I : teraba Bokong
Leopold II : teraba Punggung Kanan
Leopold III : teraba Kepala
Leopold IV : teraba konvergen
His : (-)
Denyut jantung janin : (+) 145x/i, regular
TBJ : 3565 gr

Pemeriksaan Dalam :

Inspeksi : Vulva/uretra tenang


Vaginal Toche : Portio kenyal, arah posterio,
pembukaan (-), ketuban (-)
– PEMERIKSAAN PENUNJANG – PT : 12.40 detik
– Hasil lab 18/05/2019 – APTT : 27.50 detik
– Hb : 10,9 g/dl (L) – LED : 12 mm/ jam
– Ht : 34% (L) – HBsAg Rapid : Reaktif IU/mL
– Leukosit : 8800 /ul – Anti HIV I : Non Reaktif
– Trombosit : 401.000/ ul – Anti HIV II : Non Reaktif
– Eritrosit : 4.620.000 /ul – Anti HIV III : Non Reaktif
– MCV : 75 fl
– MCH : 28 pg
– MCHC : 32 g/dl
– DIAGNOSIS – PENATALAKSANAAN
– G1P2A0 Hamil 37-38 Minggu JPKTH + Asma + – Penatalaksanaan di RSUD Pasar Minggu (VK)
HbsAg Reaktif – Diet TKTP
– – Vaginal Hygiene
– Rencana Sectio Caesarea tanggal 21/05/19
– Konsul Anesthesi
– Konsul Paru
– Seretide 500/50
– OBH 3 x 1
– Kapsul Sesal 3x 1 (Theophilin 100 mg /
Salbutamol 1 mg)
– Inhalasi (Konfirmasi ulang dengan Sp.Paru)
FOLLOW UP
PASIEN
Senin, 20 Mei 2019
S O A P
Pasien mengatakan – Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang G1P2A0 Hamil – IVFD : RL + Proterin 8 tpm
mules (+), Batuk (+), – Kesadaran : Compos Mentis 37-38 Minggu – OBH 3X1 (PO)
Sesak (-) Gerak janin – GCS : 15 JPKTH + – Nifedipine 3 x 10 mg
aktif. – TD : 110/70 mmHg Asma + (PO)
– FN : 77 x/m HbsAg Reaktif – Kapsul Sesak 3x1 (PO)
– RR : 24x/menit Terpasang Nasal kanul – Seretide 5/500
dengan O2 3 lpm – Inhalasi Ventolin extra
– S : 36.5˚C – Inhalasi Combivent 14
– SpO2 : 100% jam
– Status generalis : DBN – Metilprednisolon 3 x 0,5
– Pulmo : (IV) Pre op
– Aus: suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -/-,
Wheezing -/-.
– Status Obstetrik :
– TFU : 35 Cm
– Leopold I :Bokong
– HIS : +
– Leopold II : Punggung Kanan
– DJJ : 143x/m
– Leopold III : Kepala
– CTG : Kategori
– Leopold IV : Konvergen 5/5
– Hasil USG 18/05/19 : – Hasil Lab Tanggal 20/05/19
– JPKTH, DJJ (+), JK Laki-laki :
– Air Ketuban : Cukup – Hemoglobin : 11.7 g/dL

– Plasenta : Corpus Anterior – Hematokrit : 37 %

– TBJ : 3565 gram – Leukosit : 9200 /uL

– TP : 07/06/2019 – Trombosit : 389000 /uL


– Eritrosit : 4820000 / uL
– MCV : 76 fl L (80-100)
– MCH : 24 pg L (26-34)
– MCHC : 32 g/dL (32-36)
Selasa, 21 Mei 2019
S O A P
/ Pasien mengatakan perut - KU: TSS G1P2A0 Hamil 37-38 – IVFD : RL + Proterin 8 tpm
terasa mulas (+) disertai - Kesadaran : Compos Mentis Minggu JPKTH + Asma – OBH 3X1 (PO)
kencang-kencang. Belum - TD: 120/70 mmHg + HbsAg Reaktif – Nifedipine 3 x 10 mg (PO)
keluar darah, lender, dan air - Nadi : 78 x/mt – Kapsul Sesak 3x1
dari jalan lahir. Batuk (+), - FN : 23 x/ Terpasang Nasal kanul (Theophilin 100mg/
sesak semakin berat (+), dengan O2 3 lpm salbutamol 1 mg) (PO)
demam (+) - Suhu : 37.5˚C – Seretide 500/50
- SpO2 : 98% – Inhalasi Ventolin extra 2x1
- Status generalis : DBN – Inhalasi Combivent / 4 jam
– Metilprednisolon 3 x
- Pulmo : 125mg (IV) Pre op
- suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -
/-, Wheezing +/+. Reschedule Sectio Caesarea
- Status Obstetrik: tanggal 23/05/19 ec. Pasien batal
- TFU : 35 Cm puasa + Batuk dan sesak semakin
- HIS :+ memberat
- DJJ : 150x/m Konsul Paru.
- CTG : Kategori 1
- Leopold I : Bokong
- Leopold II : Punggung
Kanan
- Leopold III : Kepala
- Leopold IV : Konvergen
Rabu, 22 Mei 2019
S O A P
Pasien mengeluhkan badan - KU: TSS G1P2A0 Hamil 37-38 Minggu – Diet TKTP
terasa hangat, Batuk (+), Pilek - Keadaan umum : Tampak Sakit Sedang JPKTH + Asma + HbsAg – CTG Lapor hasil, jika baik,
(+), Sesak (-), Mules (-), Flek (-) - Kesadaran : Compos Mentis Reaktif BLPL
- Tekanan darah : 120/70 mmHg – Amoxicilin 3 x 500mg (PO)
- Nadi : 80 x/menit isi cukup – Ambroxol 3xmg
kuat angkat – TTD 1x1
- Pernapasan : 20 x/menit terpasang – Mm / Nifedipine 2 x 10 mg
Nasal Canul O2 3 lpm (PO)
- Suhu : 36.8˚C – Vaginal Hygiene
- SpO2 : 99% – Rencana SC 21/05/19 ditunda,
- Status generalis : DBN Kamis 23/05/19 -
- Thorax : reschedule tanggal 28 Mei
- Cor : DBN 2019
- Pulmo : – Konsul dr. , Sp.P (+)
- Inspeksi : pergerkan dinding dada simetris, – Seretide 500/50
retraksi (-). – OBH 3x1
- Palpasi : Vokal fremitus simetris . – Kapsul sesak 3x1 (Theophilin
- Perkusi : sonor/sonor 100mg/Salbutamol 1mg)
- Auskultasi : suara dasar vesikuler – Inhalasi  konfirmasi ulang
+/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-. dr., Sp.P
o Status Obstetrik :
o TFU : 35 Cm
o HIS : +
o DJJ : 143x/m
o Leopold I :Bokong
o Leopold II : Punggung Kanan
o Leopold III : Kepala
o CTG : Kategori
o Leopold IV : Konvergen 5/5
Kamis, 23 Mei 2019
S O A P
Pasien merasa badan - KU : TSS G1P2A0 Hamil 37-38 – BLPL
hangat (+), Batuk (+), Pilek - Kes : CM Minggu JPKTH + Asma – Kontrol Poli Rabu, 29 Mei
(+) - TD : 110/70 mmHg + HbsAg Reaktif 2019
- FN : 75 x/m – Rencana Reschedule SC Hari
- RR: 22 x/menit Jumat tgl 31 Mei 2019
- Suhu : 36.7˚C – Obat-obat lain sesuai ts. paru
- SpO2 : 99%
- Status generalis : DBN
- Thorax :suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -/-,
Wheezing -/-.
- TFU : 35 Cm
- HIS : +
- DJJ : 143x/m
- CTG : Kategori
- Leopold I :Bokong
- Leopold II : Punggung Kanan
- Leopold III : Kepala
- Leopold IV : Konvergen 5/5
Jumat, 31 Mei 2019
S O A P
Pasien mengatakan sesak - KU : TSS P2A0 Partus Maturus Methergin 3 x 1 mg (IV)
napas berkurang. Nyeri luka - Kes : CM dengan SC + Asam Tranexamat 3x1 mg (IV)
operasi VAS 5-6. - TD : 120/80 mmHg Miomektomi a.i. letak Cefotaxime 2 x 1 mg (IV)
AaPerdarahan pervaginam - FN : 75 x/m oblique + Riwayat Asam Mefenamat 3 x 500 mg (PO)
(+), Flatus (+), BAB (-), ASI - RR: 22 x/menit Asma + Mioma Uteri Cefadroxil 2 x 500mg (PO)
(+/+) - Suhu : 36.7˚C Subserosa + HBsAg (+)
- SpO2 : 99%
- Status generalis : DBN
- Thorax :suara dasar vesikuler +/+, Rhonki -/-,
Wheezing -/-.
- TFU : 35 Cm
- HIS : +
- DJJ : 143x/m
- CTG : Kategori I
- Leopold I :Bokong
- Leopold II : Punggung Kanan
- Leopold III : Kepala
- Leopold IV : Konvergen 5/5
- Pemeriksaan obstetri post SC :
- TFU : 2 jari dibawah umbilicus
- Kontraksi uterus baik
- Luka operasi tertutup kassa, rembesan (-)
- Perdarahan pervaginam (+)
Laporan Operasi
Jumat, 31 Mei 2019
11.07 –11.57

– Pasien Ny. E terlentang diatas meja operasi dalam anastesi spinal


– A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya
– Insisi Pfannenstiel
– Setelah peritoneum dibuka tampak uterus gravidus terlihat agak membesar
– SBU disayat tajam, ditembus tumpul dan dilebarkan secara tajam berbentuk semilunar
– Pkl 11.11 lahir bayi laki-laki, lilitan tali pusat 1x dileher, 3100 gram, 49 cm, AS 8/9. Air ketuban jernih, cukup
– Plasenta berimplantasi di fundus, dengan tarikan ringan pada tali pusat plasenta lahir lengkap
– Kedua ujung SBU dijahit hemostasis, SBU dijahit jelujur 2 lapis, lapis 1 dengan PGA No. 1, lapis 2 dengan
Chromic 2-0
– Pada eksplorasi tampak massa ukuran +/- 7x6x5 cm pada parametrium dan
beberapa ukuran diameter 0,1-0,3 cm pada corpus anterior +/- 0,3x0,3 cm
pada corpus posterior
– Dilakukan tindakan miomektomi; tidak dilakukan pemeriksaan PA
– Miometrium dijahit berlapis-lapis dengan safil No.1 dan kemudian dijahit
dengan teknik baseball stitch
– Eksplorasi: Kedua tuba dan ovarium dalam batas normal
– Setelah diyakini tidak ada perdarahan, alat dan kassa lengkap, dinding
abdomen ditutup lapis demi lapis
– Perdarahan intraoperative 500cc
BAB III TINJAUAN
PUSTAKA
Asma adalah suatu kelainan berupa proses
inflamasi kronik saluran napas yang
menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap
berbagain rangsangan yang ditandai dengan
gejala episodik berulang berupa mengi, batuk,
sesak napas dan rasa berat di dada terutama
pada malam hari atau dini hari yang umumnya
bersifat reversibel baik dengan atau tanpa
pengobatan
EPIDEMIOLOGI ASMA

Di Indonesia prevalensi asma berkisar diantara


5%-6% dari populasi penduduk di Indonesia,
dengan prevalensi asma pada kehamilan berkisar diantara
3,7%-4%. Hal ini mengarah kepada tingkat kejadian asma
yang banyak dijumpai pada kehamilan.
Patofisiologi
Asma
Klasifikasi Asma
Efek Asma Pada Kehamilan

– Gluck dan Gluck (2006) 1 : 3 kasus mengalami perberatan penyakit, sepertiga


kasus lainnya mengalami menifestasi klinis yang lebih ringan dibandingkan
sebelum kehamilan, dan sepertiga terakhir tidak mengalami perubahan
manifestasi klinis asma sebelum dan sesudah kehamilan.

– Hendler et al (2006) melaporkan bahwa wanita dengan tingkat keparahan asma


yang lebih berat memiliki kemungkinan eksaserbasi asma yang lebih besar
dalam kehamilan.3
EFEK ASMA

Pada Kehamilan Pada Janin


– Dalam sebagian besar penelitian, – alkalosis pada ibu dapat
asma berat : menyebabkan hipoksemia janin

– insidensi preeklampsia, persalinan


preterm
– bayi berat lahir rendah
– mortalitas perinatal
SERANGAN PENGOBATAN TEMPAT PENGOBATAN
RINGAN
Tata
Aktivitas Normal Inhalasi Agonis B-2 Di rumah/praktek dokter/ klinik/ puskesmas
Berbicara satu kalimat dalam satu Alternatif :Kombinasi oral agonis B-2
laks
napas
Nadi <100
dan theofilin

ana
APE > 80%

Asm
SEDANG
Aktivitas berlebih yg menimbulkan Nebulasi Agonis B-2tiap 4 jam IGD, puskemas
a berbicara 1 kata dalam 1 nafas
gejala Alternatif : agonis B2 subkutan
Nadi 100-120 Aminofilin IV
APE 60-80% Adrenalin 1/1000 0.3mL SK
BERAT Nebulasi Agonis B-2 tiap 4 jam. IGD
Sesak saat istirahat. Alternatif:
Berbicara kata perkata dalam satu - Agonis B-2 SK/IV
napas - Adrenalin 1/1000 0,3 mL SK
Nadi > 120
APE < 60% atau 100 l/dtk - Aminofilin bolus dilanjutkan drip
- Oksigen
- Kortiksteroid
HEPATITIS B PADA
KEHAMILAN
DEFINISI

– Hepatitis B merupakan penyakit infeksi virus pada hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis B.4,5 Virus hepatitis B menyerang hati, masuk melalui darah
ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV
Ukuran :42 nm “Partikel Dene”
Lapisan Luar : HBsAg
Inti : DNA VHB Polimerase
Partikel inti : HBcAg (HepB core antigen)
HBeAg (Hep B e Antigen)

Inkubasi 45-80 hari,


Rata-rata 80-90 hari
Penularan VHB

yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari


seorang pengidap virus hepatitis B kepada orang
lain disekitarnya
Horizontal

yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu


yang HBsAg positif kepada anak yang dilahirkan
Vertikal Intra Uterin dan Perinatal (95%)
Post Natal (ASI)
Manifestasi Klinik

Fase Praikterik (Prodormal) Fase Ikterik Fase Konvalesen


malaise umum, mialgia, Ikterus muncul setelah 5-10 menghilangnya ikterus dan
atralgia dan mudah lelah, hari kelainan lain, tetapi
gejala saluran napas atas dan hepatomegali dan
anoreksia. Nyeri abdomen Terjadi hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati
biasanya ringan dan menetap splenomegali.5 tetap ada
di kuadran kanan atas atau
epigastrium, kadang
diperberat dengan aktivitas
– Pemeriksaan HBsAg berguna untuk diagnosa infeksi virus hepatitis B, baik
untuk keperluan klinis maupun epidemiologik, skrining darah di unit-unit
transfusi darah, serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis.
Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk menetapkan bahwa hepatitis akut
yang diderita disebabkan oleh virus B atau superinfeksi dengan virus lain.
– HBsAg + dengan IgM anti HBc + HBeAg +  infeksi virus hepatitis B akut.
– HBsAg + dengan IgG anti HBc + HBeAg +  infeksi virus hepatitis B kronis
dengan replikasi aktif.
– HBsAg + dengan IgG anti HBc + anti-HBe +  infeksi virus hepatitis B kronis
dengan replikasi rendah.
Diagnosis

– HBsAg
– mengandung protein yang dibuat oleh sel-sel hati yang terinfesksi VHB. Jika hasil tes
HBsAg (+), artinya individu tersebut terinfeksi VHB, karier VHB, menderita hepatatitis
B akut ataupun kronis . RIA (Radio Immunno Assay), ELISA (Enzym Linked Immuno
Sorbent Assay), RPHA (Reverse Passibe Hemaglutination)
Mioma Uteri
DEFINISI

Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-
sel jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen.

Leiomyoma = Leio (smooth) + myo (muscle) + oma (tumor)

Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang paling umum dan sering
dialami oleh wanita.

Mioma uteri disebut juga dengan leimioma uteri atau fibromioma uteri
mengandung kolagen dan elastin ekstraseluler yang lebih tinggi.
EPIDEMIOLOGI

Wanita usia reproduktif (20-25%).

Wanita sebelum menarche (-)

Hormonal responsive => Usia Subur (+)

Menopause => 10% mioma yang masih tumbuh

Indonesia 2,39%-11,7% penderita ginekologi


KLASIFIKASI

– Mioma submukosum
– Mioma intramural
– Mioma subserosum
Etiologi

– Miller dan Lipschultz  Sel-sel otot imatur


pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat
dirangsang terus menerus oleh hormon
estrogen.
– Faktor resiko:
– Wanita usia 35-45 tahun
– Hamil pada usia muda
– Genetik

Faktor pencetus  Sel yang imatur.


GEJALA KLINIS
Perdarahan • 30% pasien mioma uteri =>
abnormal Defisiensi besi

• Tidak khas => Gangguan sirkulasi


Nyeri darah pada mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan

Gejala • Kandung kemih, uretra, ureter,


rektum, pembuluh darah dan
Penekanan pembuluh limfe
Patofisiologi Mioma Uteri
Penurunan konversi
estradiol ke estrone
Overekspresi Peningkatan konversi
growth factors androgen ke estrogen

Kadar estradiol
meningkat
Peningkatan sintesis Kadar estrogen
DNA dan matriks didalam serum
ekstraselular meningkat Up regulasi
estrogen dan
progesteron

Hiperploriferasi otot
Peningkatan
polos dan matrix estrogen
ekstraselular

MIOMA UTERI
BAB IV
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN

– Pasien datang ke Poli Kebidanan RSUD Pasar Minggu atas rujukan dari PKM
Pancoran, dengan keluhan sesak nafas yang hilang timbul dikarenakan riwayat
penyakit Asma sejak usia kehamilan 12 minggu pasien juga datang untuk kontrol
dan berkonsultasi tentang kehamilannya karena pasien mengaku mengidap
penyakit hepatitis B yang diketahui ketika dilakukan pemeriksaan Hep B pada
saat kehamilan yang kedua saat itu pemeriksaan dilakukan di PKM Pancoran.
Pasien sedang hamil anak kedua. Pasien tidak mengeluhan nyeri pada bawah
perut, dari jalan lahir tidak keluar air-air, keluar darah tidak ada, dan Gerakan
janin masih dirasakan ibu.
– Pilihan persalinan pada kasus ini adalah seksio sesaria karena untuk menghidari
terjadinya infeksi vertical dari ibu ke bayi akibat dari proses persalinan karena
sebagian besar (95%) terjadi saat persalinan, hanya sebagian kecil saja (5%)
selama bayi didalam kandungan.

– Segera setelah lahir neonates di beri immunoglobulin hepatitis B dan Vaksin


Hepatitis 0 guna mencegah infeksi hepatitis dan membentuk imunitas aktif dari
virus hepatitis.
– Pada pasien ini dijumpai keluhan berupa sesak napas yang dialaminya karena pasien
mengaku keluhan tersebut tidak mengganggu aktivitas sehari-hari os dan keluhan
hanya timbul sesekali (1-2 kali sebulan) ketika pasien baru bangun tidur.

– Menurut berat ringannya gejala, asma pasien digolongkan sebagai asma intermitten
ringan, yaitu gejala intermitten (kurang dari sekali seminggu), serangan singkat
(beberapa jam sampai beberapa hari), gejala asma pada malam hari kurang dari 2
kali sebulan, diantara serangan pasien bebas gejala dan gunsi paru normal, nilai APE
dan KVP1 > 80% dari hasil prediksi, variabilitas < 20%.
KESIMPULAN

– Pasien Ny. E datang ke poli, rujukan dari PKM Pancoran, datang dengan keluhan
riwayat asma (+) serta HBsAg (+), pasien diobservasi diruang VK dan diberikan
penatalaksaan sesuai follow up. Serta dilakukan rencana operasi SC a.i Riwayat
Asma dan HBsAg Reaktif (+).

– Operasi sempat ditunda, guna perbaikan KU pasien yang saat itu mengalami
batuk dan sesak yang semakin sering, pasien juga dikonsulkan ke Paru untuk
tatalaksana
– Pasien sedang hamil anak kedua keluhan nyeri bawah perut, keluar air-air,
keluar darah tidak ada. Gerakan janin masih dirasakan ibu. Hasil pemerkasaan
laboratorium HBs Ag Rapid reaktif (+)
– Pilihan persalinan pada pasien ini adalah seksio sesaria. Hal itu bertujuan untuk
meminimalisir risiko infeksi vertical dari ibu ke bayi. Selain itu hal-hal yang
harus diperhatikan oleh pasien tsb adalah :
– Pada saat operasi berlangsung
– Pada eksplorasi tampak massa ukuran +/- 7x6x5 cm pada parametrium dan
beberapa ukuran diameter 0,1-0,3 cm pada corpus anterior +/- 0,3x0,3 cm pada
corpus posterior

– Dilakukan tindakan miomektomi; tidak dilakukan pemeriksaan PA


Saran

– Memberikan informasi pada ahli anak, kebidanan dan laboratorium bahwa


dirinya penderita hepatitis B carier.
– Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir, vaksin hepatitis B dalam 1
minggu setelah lahir, 1 bulan dan 6 bulan kemudian.
– Konsul teratur kedokter
– Periksa fungsi hati.
DAFTAR PUSTAKA

– 1.http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-ibu.pdf?opwvc=1

– 2. From the Global Strategy for Asthma Management and Prevention, Global Initiative for Asthma (GINA) 2014. Available from:
http://www.ginasthma.org/. [Accessed 2019, Mei 23].
– 3. Cunningham FG et al. Asma Dalam Kehamilan. Dalam: Obstetri Wiilliams Volume II. Edisi XXI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG
– 4. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC. GastroIntestinal Disorders. Viral hepatitis. Williams ´Obstetric. 23rd Ed. Mc.Graw Hill Publishing
Division New York, 2010
– 5. Decherney AH, Pernoll ML. General Medical Disorders During Pregnancy. Viral Hepatitis. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and
treatment. 10th ed. USA.2007;479-480.
– 6. Putu Surya IG. Infeksi Virus Heptitis Pada Kehamilan. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Ed.perdana. Himpunan Kedokteran Fetomaternal
POGI.2004
– 7. Prawirohardjo S & Hanifa W. Asma Dalam Kehamilan. Dalam: Ilmu Kandungan. Edisi II. 2005. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo.
– 8. Moechtar R. Asma Dalam Kehamilan. Dalam: Sinopsis Obstetri. Jilid II. Edisi II. 1998. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.