100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan40 halaman

Pengertian dan Metode Depresiasi Aset

Dokumen tersebut membahas tentang depresiasi dan penyusutan aktiva tetap. Depresiasi adalah alokasi sistematis untuk mengurangi nilai aset selama masa manfaatnya, sedangkan penyusutan aktiva tetap adalah perlakuan akuntansi untuk mengalokasikan biaya aset tetap selama masa penggunaannya. Dokumen ini juga menjelaskan beberapa metode penyusutan seperti metode garis lurus dan metode beban menurun.

Diunggah oleh

punto bayu aji
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan40 halaman

Pengertian dan Metode Depresiasi Aset

Dokumen tersebut membahas tentang depresiasi dan penyusutan aktiva tetap. Depresiasi adalah alokasi sistematis untuk mengurangi nilai aset selama masa manfaatnya, sedangkan penyusutan aktiva tetap adalah perlakuan akuntansi untuk mengalokasikan biaya aset tetap selama masa penggunaannya. Dokumen ini juga menjelaskan beberapa metode penyusutan seperti metode garis lurus dan metode beban menurun.

Diunggah oleh

punto bayu aji
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEPRESIASI

EKONOMI TEKNIK
Pengertian Depresiasi

 Pengertian Depresiasi adalah alokasi yang dibuat


secara sistematis untuk menyusutkan atau
mengurangi jumlah suatu aset selama umur
manfaatnya.
 Secara umum penerapan depresiasi atau
penyusutan aktiva tetap pada keuangan
perusahaan dapat mempengaruhi laporan
keuangannya dan juga perubahan pajak
penghasilan perusahaan.
Penyusutan Aktiva Tetap

 Aset Tetap diperoleh berupa aset tetap akan


digunakan perusahaan untuk kegiatan operasional
dan produksi.
 Dalam fase ini, perlakuan akuntansi terhadap
aktiva tetap ada beberapa perlakuan, salah satu
perlakuan akuntansinya adalah PENYUSUTAN
AKTIVA TETAP.
 Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan
konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana
aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi.
 Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menyatakan penyusutan
adalah jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap
periode akuntansi selama masa manfaat aset tetap
menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis.
 Apapun metode penyusutan yang digunakan, didalam dunia
akuntansi diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak
berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak
ataupun tingkat keuntungan perusahaan.
1. Sofyan Harahap
 Menurut Sofyan Harahap pengertian depresiasi adalah
pengalokasian harga pokok aktiva tetap selama masa
penggunaanya atau dapat juga kita sebut sebagai biaya
dibebankan terhadap produksi akibat pengunaan aktiva
tetap itu dalam proses produksi.
2. Kleso, Weygant dan Warfield
 Menurut Kleso, Weygant dan Warfield pengertian
depresiasi adalah proses akuntansi untuk mengalokasikan
biaya aset berwujud menjadi biaya secara sistematis dan
nasional terhadap periode yang diharapkan dapat
memanfaatkan penggunaan aset tersebut.
3. Zaki Baridwan
 Menurut Zaki Baridwan, definisi depresiasi adalah
sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang
secara sistematis dialokasikan menjadi biaya stiap
periode akuntansi.
4. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
 Menurut PSAK No. 17 pengertian depresiasi adalah
alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan
sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan
untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan
baik secara langsung maupun tidak langsung
Metode Penyusutan Aset Tetap
(Depreciation Method)
 Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu
metode garis lurus, metode pembebanan yang
menurun yang terdiri dari metode jumlah angka
tahun dan metode saldo menurun atau metode
saldo menurun berganda.
 Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu
metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.
 Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria
lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok,
metode analisis, metode sistem persediaan.
Karakteristik Penyusutan (Depresiasi)

 Penyusutan atau Depresiasi adalah penurunan nilai aset tetap (kecuali


tanah). Penurunan nilai aset bersifat permanen. Setelah dikurangi, itu
tidak dapat dikembalikan ke nilai aslinya.
 Penyusutan atau Depresiasi adalah proses bertahap dan
berkesinambungan yang berkurangnya nilai aset, baik dengan
penggunaan aset atau karena berakhirnya waktu.
 Penyusutan bukan proses penilaian aset tetapi adalah proses
mengalokasikan biaya suatu aset untuk masa penggunaan efektifnya
 Penyusutan atau Depresiasi mengurangi nilai buku dan bukan nilai
pasar aset.
 Penyusutan digunakan hanya untuk aktiva tetap berwujud saja.
Penyusutan ini tidak digunakan untuk aset tidak berwujud atau
perlengkpan yang sekali pakai.
Faktor yang Mempengaruhi
Penyusutan Aktiva Tetap
1. Biaya Perolehan (Acquisition Cost); Biaya akuisisi atau
total biaya aset adalah faktor utama untuk menentukan
jumlah penyusutan. Beban penyusutan ini dihitung
berdasarkan total biaya suatu aset yang harus
dikeluarkan hingga aset tetap tersebut siap digunakan.
Biaya ini termasuk:
 Harga pembelian suatu aset
 Biaya transportasi atau pengiriman
 Biaya pemasangan
 Bea masuk
 Biaya pemasangan
2. Perkiraan Umur Ekonomis Aktiva (Estimate Economical
Life Time of Asset)
Yang harus dipertimbangkan saat menghitung
biaya penyusutan atau depresiasi adalah umur
ekonomis suatu aset.
Jumlah penyusutan yang lebih kecil dibebankan
untuk aset dengan masa manfaat yang lebih
lama dan sebaliknya.
Umur ekonomis ini dapat dinyatakan dalam
jumlah unit yang diproduksi atau jangka waktu
seperti minggu, bulan atau tahun
3. Perkiraan Nilai Residu Aset (Estimated Residual
Value Of Asset) : Nilai sisa Aset atau Nilai Residu
Aset adalah nilai yang dapat direalisasikan ketika
aset dijual atau tidak dipakai lagi pada akhir
perkiraan masa manfaatnya. Apabila perusahaan
menggunakan aset tersebut hingga usang dan sama
sekali tidak memberikan manfaatnya lagi, maka
aset atau aktiva tersebut dapat dikatakan sudah
tidak memiliki nilai residu atau nilai sisa lagi.
Namun bila perusahaan menggantikan aktiva
setelah periode penggunaan relatif singkat dan
aset yang bersangkutan masih dapat dimanfaatkan
lagi, maka nilai residu atau nilai sisa aset tersebut
akan relatif masih tinggi.
Metode Garis Lurus
(Straight-Line Method)
Metode ini disebut juga Straight-Line Method dan
merupakan metode yang paling sering digunakan
untuk menghitung beban penyusutan.
Metode penyusutan garis lurus merupakan
sebuah metode yang sangat sederhana, dan
paling banyak diterapkan oleh perusahaan-
perusahaan perdagangan maupun jasa.
Metode ini fokus pada penyusutan sebagai fungsi
dari waktu dan bukan dari fungsi penggunaan.
Penerapan metode ini pada perusahaan dilandasi atau
didasarkan pada beberapa anggapan, setidaknya ada 3
asumsi yang memastikan perusahaan menerapkan metode ini:
1. Biaya yang muncul tidak dipengaruhi oleh produktivitas
atau penyimpangan efisiensi.
2. Adanya biaya pemeliharaan dan perbaikan untuk setiap
masa priode dengan jumlah yang relatif stabil.
3. Kegunaan ekonomis dari aktiva menurun merupakan
proposonal setiap periode.
Pada metode garis lurus, penyusutan merupakan biaya yang
sama atau tetap setiap periode berjalan. Metode ini sangat
cocok digunakan untuk menghitung jenis aktiva tetap yang
dipengaruhi perjalanan waktu, atau bukan dipengaruhi oleh
tingkat pemakaian.
Contoh dari aktiva tetap ; adalah berupa penyusutan gedung,
peralatan kantor dan lain sebagainya.
Jumlah penyusutan tahunan :

Contoh :
Pembelian sebuah unit mesin pada awal tahun dengan harga
Rp.50.000.000, dengan nilai sisa sebesar RP.5.000.000, dan
umur ekonomis dari mesin tersebut adalah selama 5 tahun.
Akhir Biaya Akumulasi
Nilai Buku
Tahun Ke Penyusutan Penyusutan
50.000.000
1 9.000.000 9.000.000 41.000.000
2 9.000.000 18.000.000 32.000.000
3 9.000.000 27.000.000 23.000.000
4 9.000.000 36.000.000 14.000.000
5 9.000.000 45.000.000 5.000.000
45.000.000
Metode Beban Menurun
(Decreasing Charge Method)
 Metode ini merupakan metode penyusutan
dipercepat dimana menyediakan biaya penyusutan
lebih tinggi pada tahun awal dan beban rendah
pada periode selanjutnya.
 Fokus utama pada metode ini adalah beban
penyusutan lebih banyak pada tahun awal karena
aktiva mengalami penurunan pada tahun tersebut.
Metode Jumlah Angka Tahun

 Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah


angka tahun juga merupakan metode penyusutan
yang dipercepat dengan pertimbangan bahwa
biaya pemeliharaan dan perbaikan asset tetap
akan cenderung meningkat dengan bertambahnya
usia aset tetap.
 Oleh karena itu, berkurangnya jumlah penyusutan
pada tahun-tahun berikutnya dalam metode ini
akan diimbangi dengan peningkatan beban
pemeliharaan dan perbaikan
Angka penyebut dalam pecahan digunakan untuk menentukan
beban penyusutan adalah jumlah angka tahun selama masa
manfaat aset. Sebagai contoh, aset tetap dengan masa
kegunaan 4 tahun akan memiliki angka penyebut 10 (4 + 3 + 2
+ 1).
Angka pembilang dalam pecahan adalah jumlah tahun sisa
masa manfaat pada tiap tahun bersangkutan. Tahun pertama
angka pembilangnya adalah 4, pada tahun kedua angka
pembilangnya adalah 3, pada tahun ketiga angka
pembilangnya adalah 2, dan pada tahun keempat angka
pembilangnya adalah 1.
Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki masa
manfaat selama empat tahun. Nilai perolehan aset sebesar Rp
10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun kempat sebesar Rp 1
juta. Maka depreciable cost atau biaya perolehan aset tetap
yang dapat disusutkan adalah sebesar Rp 9 juta.
Perhitungan penyusutannya menggunakan pecahan dengan
pembilang angka tahun (5+4+3+2+1=15) dan jumlah
tahunnya menjadi penyebut. Pada metode ini, pembilang
menurun tahun demi tahun dan penyebut tetap konstan
(5/15, 4/15, 3/15, 2/15 dan 1/15).

Beban Akumulasi Nilai Buku


Harga Perolehan Pecahan
Tahun Penyusutan Penyusutan Akhir Tahun
(Rp) Penyusutan
(Rp) (Rp) (Rp)
1 450.000.000 Mei-15 150.000.000 150.000.000 300.000.000
2 450.000.000 Apr-15 120.000.000 270.000.000 180.000.000
3 450.000.000 Mar-15 90.000.000 360.000.000 90.000.000
4 450.000.000 Feb-15 60.000.000 420.000.000 30.000.000
5 450.000.000 Jan-15 30.000.000 450.000.000 0
Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki
masa manfaat selama empat tahun. Nilai perolehan aset
sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun
kempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau
biaya perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah
sebesar Rp 9 juta.
Biaya Akumulasi
Perolehan Tingkat Penyusutan Nilai Buku pada
Th Penyusutan
Dikurangi Penyusutan pada Akhir Akhir Tahun
Nilai Sisa Tahun
1 9.000.000 04-Okt 3.600.000 3.600.000 6.400.000
2 9.000.000 03-Okt 2.700.000 6.300.000 3.700.000
3 9.000.000 02-Okt 1.800.000 8.100.000 1.900.000
4 9.000.000 01-Okt 900.000 9.000.000 1.000.000
Sebagai ilustrasi, diasumsikan aset tetap pada contoh di atas
diperoleh pada awal bulan April
Biaya Akumulasi
Nilai Buku
Perolehan Tingkat Jumlah Penyusuta Penyusutan
Th pada Akhir
Dikurangi Penyusutan Bulan n pada Akhir
Tahun
Nilai Sisa Tahun
1 9.000.000 04-Okt 09-Des 2.700.000 2.700.000 7.300.000
04-Okt 03-Des 900.000
9.000.000
2 03-Okt 09-Des 2.025.000 2.925.000 4.375.000
03-Okt 03-Des 675.000
9.000.000
3 02-Okt 09-Des 1.350.000 2.025.000 2.350.000
02-Okt 03-Des 450.000
9.000.000
4 01-Okt 09-Des 675.000 1.125.000 1.225.000
5 9.000.000 01-Okt 03-Des 225.000 225.000 1.000.000

Namun metode ini jarang digunskan karena undang-undang


perpajakan membatasi penggunaannya untuk keperluan pajak.
Beban penyusutan ditentukan dengan mengalikan biaya perolehan
awal aset dikurangi estimasi nilai sisa dengan pecahan yang lebih
kecil setiap tahunnya.
Metode Saldo Menurun

 Metode saldo menurun menggunakan biaya


penyusutan (dalam persentase) berupa beberapa
kelipatan dari metode garis lurus. Misalnya, tarif
saldo menurun berganda untuk aktiva 10 tahun
akan menjadi 20% (dua kali biaya garis lurus,
yaitu 1/10 atau 10%). Berikut ilustrasinya:
Nilai Buku Akumulasi Nilai Buku
Harga Penyusutan
Tahun Awal Tahun Tarif Penyusutan Akhir Tahun
Perolehan (Rp) (Rp)
(Rp) (Rp) (Rp)
1 500.000.000 500.000.000 40% 200.000.000 200.000.000 300.000.000
2 500.000.000 300.000.000 40% 120.000.000 380.000.000 180.000.000
3 500.000.000 180.000.000 40% 72.000.000 428.000.000 108.000.000
4 500.000.000 108.000.000 40% 43.200.000 456.800.000 64.800.000
Metode Saldo Menurun
 Dalam metode saldo menurun, perhitungan biaya
penyusutan dilakukan dengan cara mengalikan
persentasi tarif dengan nilai buku satu aktiva. Dimana
nilai buku pada setiap akhir tahun akan mengalami
penurunan sehingga hal ini menimbulkan beban
penurunan beban penyusutan.
Perhitungan tarif pada metode saldo menurun ini dapat
dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Contoh, pembelian suatu aktiva pada awal tahun senilai
Rp.50.000.000,- dengan nilai sisa Rp.5.000.000,- dan
perkiraan umur ekonomis aktiva tersebut adalah 5 tahun.

= 0,369 atau 36,9 %

Akhir Tahun Akumulasi


Biaya Penyusutan Nilai Buku
Ke Penyusutan
50000000
1 36,9 % x 50.000.000 = 18.450.000 18.450.000 31.550.000
2 36,9 % x 31.550.000 = 11.641.950 30.091.950 19.908.050
3 36,9 % x 19.908.050 = 7.346.071 37.438.021 12.561.979
4 36,9 % x 12.561.979 = 4.635.370 42.073.391 7.926.609
5 36,9 % x 7.926.600 = 2.924.919 44.998.310 5.001.690
44.998.310
Metode saldo menurun menggunakan biaya penyusutan
(dalam persentase) berupa beberapa kelipatan dari metode
garis lurus. Misalnya, tarif saldo menurun berganda untuk
aktiva 10 tahun akan menjadi 20% (dua kali biaya garis
lurus, yaitu 1/10 atau 10%). Berikut ilustrasinya:
Nilai Buku Akumulasi Nilai Buku
Harga Penyusutan
Tahun Awal Tahun Tarif Penyusutan Akhir Tahun
Perolehan (Rp) (Rp)
(Rp) (Rp) (Rp)
1 500.000.000 500.000.000 40% 200.000.000 200.000.000 300.000.000
2 500.000.000 300.000.000 40% 120.000.000 380.000.000 180.000.000
3 500.000.000 180.000.000 40% 72.000.000 428.000.000 108.000.000
4 500.000.000 108.000.000 40% 43.200.000 456.800.000 64.800.000

Dalam hal ini, karena penyusutan merupakan sebuah taksiran


beban, maka tarif diatas dapat dibulatkan. Sehingga hal ini
akan mempermudah dalam perhitungannya, sedangakan
selilih biaya yang terjadi tidaklah menjadi beban atau tidak
terlalu penting.
Metode Saldo Menurun Ganda

 Beban penyusutan yang terjadi setiap tahun pada


sebuah aktiva akan dihitung berdasarkan persentase
depresiasi metode garis lurus.
 Selanjutnya persentase ini akan dikalikan dua, dan
setiap tahun akan dikalikan dengan nilai buku aktiva
tetap.
 Oleh karena nilai buku suatu aktiva selalu menurun
maka beban depresiasi juga akan selalu mengalami
penurunan.
Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining
balance method) menghasilkan perhitungan beban penyusutan
periodik yang semakin menurun selama estimasi masa
manfaat aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo
menurun ganda dihitung dengan menggandakan tingkat
penyusutan metode garis lurus.

Sebagai ilustrasi, diasumsikan sebuah aset tetap memiliki


masa manfaat selama empat tahun. Nilai perolehan aset
sebesar Rp 10 juta dengan nilai sisa pada akhir tahun
kempat sebesar Rp 1 juta. Maka depreciable cost atau biaya
perolehan aset tetap yang dapat disusutkan adalah sebesar
Rp 9 juta.
Tingkat penyusutan per tahun :
Tingkat penyusutan metode saldo menurun ganda
= tingkat penyusutan metode garis lurus X 2
= (1/4) X 2
= 25% X 2
= 50%
Untuk tahun pertama, biaya penyusutan diperoleh dengan menghitung biaya
perolehan aset tetap dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun
ganda. Contoh biaya penyusutan tahun pertama adalah sebesar Rp 10 juta
dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta.
Setelah tahun pertama, biaya penyusutan per tahun diperoleh dengan
menghitung nilai buku aset tetap, yaitu biaya perolehan aset tetap dikurangi
akumulasi penyusutan tahun bersangkutan, untuk kemudian dikalikan dengan
tingkat penyusutan saldo menurun ganda.
Contoh biaya penyusutan tahun kedua adalah sebesar (Rp 10 juta – Rp 5
juta) dikalikan 50%, atau sebesar Rp 5 juta dikalikan 50% atau sama
dengan Rp 2,5 juta.
Akumulasi Tingkat
Nilai Buku Nilai Buku
Biaya Penyusutan Saldo
Th pada Awal Penyusutan pada Akhir
Perolehan pada Awal Menurun
Tahun Tahun
Tahun Ganda
1 10.000.000 0 10.000.000 50% 5.000.000 5.000.000
2 10.000.000 5.000.000 5.000.000 50% 2.500.000 2.500.000
3 10.000.000 7.500.000 2.500.000 50% 1.250.000 1.250.000
4 10.000.000 8.750.000 1.250.000 – 250.000 1.000.000
Berbeda dengan cara perhitungan metode garis lurus, pada proses
perhitungan biaya penyusutan menggunakan metode saldo menurun ganda,
nilai sisa tidak diperhitungkan. Jadi biaya penyusutan tahun pertama adalah
Rp 10 juta X 50%, bukan (Rp 10 juta – Rp 1 juta) X 50%.
Akan tetapi, pada tahun akhir, aset tetap tidak perlu disusutkan di bawah
nilai sisa. Dalam contoh di atas, penyusutan tahun keempat adalah Rp
250.000 (nilai buku pada awal tahun – nilai sisa = Rp 1.250.000 – Rp
1.000.000 = Rp 250.000), bukan Rp 625.000 (Rp 1.250.000 X 50% = Rp
625.000).
Dalam contoh sebelumnya, asumsi sederhana yang digunakan
adalah bahwa aset tetap tersebut diperoleh dan digunakan
mulai awal tahun pertama (1/Jan).
Contoh, diasumsikan bahwa aset tetap mulai diperoleh pada
1/April :
Akumulasi Tingkat
Nilai Buku Nilai Buku
Biaya Penyusutan Saldo
Th pada Awal Penyusutan pada Akhir
Perolehan pada Awal Menurun
Tahun Tahun
Tahun Ganda
1 (9/12) 10.000.000 0 10.000.000 50% 3.750.000 6.250.000
2 10.000.000 3.750.000 6.250.000 50% 3.125.000 3.125.000
3 10.000.000 6.875.000 3.125.000 50% 1.562.500 1.562.500
4 10.000.000 8.437.500 1.562.500 – 562.500 1.000.000
5 (3/12) 10.000.000 9.000.000 1.000.000 – – 1.000.000

Metode penyusutan saldo menurun ganda (double declining balance method)


menghasilkan perhitungan beban penyusutan periodik yang semakin menurun
selama estimasi masa manfaat aset tetap. Tingkat penyusutan metode saldo
menurun ganda dihitung dengan menggandakan tingkat penyusutan metode
garis lurus.
Contoh, misalnya pembelian suatu aktiva pada awal tahun
bernilai Rp.50.000.000,- dengan nilai sisa pertahun
Rp.5.000.000,- dan taksiran umur ekonomis aktiva tersebut 5
tahun.
Penyelesaian
Tarif Penyusunan : 100 % : 5 = 20 %; 20 x 2 = 40 %.
Akhir Tahun Akumulasi
Biaya Penyusutan Nilai Buku
Ke Penyusutan
50.000.000
1 40 % x 50.000.000 = 20.000.000 20.000.000 30.000.000
2 40 % x 30.000.000 = 12.000.000 32.000.000 18.000.000
3 40 % x 18.000.000 = 7.200.000 39.000.000 10.800.000
4 40 % x 10.000.000 = 4.320.000 43.320.000 6.480.000
5 40 % x 6.480.000 = 2.592.000 45.912.000 3.888.000
46.112.000

Berdasarkan hasil perhitungan pada gambar diatas,


terdapat perbedaan selisih sebesar Rp.1.112.000
(5.000.000 – 3.888.000).
Metode Aktivitas
(Unit Penggunaan atau Produksi)
 Pada metode ini mengansumsikan penyusutan sebagai fungsi
dari produktivitas atau penggunaan dan bukan dari segi
berlalunya waktu. Dengan gambaran diatas, penentuan umur
penyusutan mesin produsiks tidak memiliki masalah tertentu
karena penggunaan relatif mudah diukur.
 Misalkan mesin produksi digunakan 4.000 jam di tahun
pertama, maka beban penyusutannya dapat dihitung sebagai
berikut:
 Beban penyusutan = [(Rp 500 juta – Rp 50 juta) x 4.000]:
30 ribu = Rp60 juta.
 Namun metode ini memiliki keterbatasan karena tidak tepat
digunakan pada situasi penyusutan berdasarkan waktu dan
bukan aktivitas.
Dalam penyusutan aktiva tetap dengan metode satuan hasil
produksi, beban penyusutan ditetapkan berdasarkan jumlah
output yang dihasilkan oleh sebuah aktiva pada periode
berjalan. Beban penyusutan dihitung berdasarkan satuan hasil
produksi, sehingga beban penyusutan tiap periode akan
berfluktuasi mengikuti jumlah produksi yang dihasilkan.
Alokasi biaya penyusutan berdasar atas proporsi pemakaian
aset tetap yang sebenarnya, hasil produksi sebagai dasar
acuan dalam mengalokasi beban penyusutan aktiva untuk
setiap periode akuntansi.
Beban penyusutan diperlakukan sebagai beban variable sesuai
dengan unit output yang dihasilkan aset tetap tiap periode.
Metode ini memandang beban penyusutan sejalan dengan
tingkat pemakaiannya. Idealnya, metode satuan hasil produksi
diterapkan pada jenis aset tetap mesin produksi.
Asumsi penyusutan metode hasil produksi :
 Nilai aset tetap menurun karena penggunaan, bukan karena
faktor waktu
 Kerusakan serta ke-aus-an fisik aset adalah faktor penting,
sedangkan tingkat Ke-usang-an bukan hal penting,
 Biaya maintenance dan perbaikan sifatnya proporsional
terhadap penggunaan,
 Tingkat efesiensi operasi bersifat proporsional terhadap
pemakaian aset, contohnya bahan bakar yang jumlahnya
berfluktuasi.
 Pendapatan bersifat proporsional terhadap penggunaan
aset tetap.
 Umur ekonomis aset tetap dinyatakan dalam satuan unit
produksi, bukan berdasarkan tahun.
 Tarif Penyusutan/Unit : (Harga Perolehan - Nilai Sisa) /
Taksiran Jumlah Produksi
 Penyusutan : Produksi 1 tahun X Tarif Penyusutan/Unit
Contoh Penyusutan Metode Hasil Produksi
PT Foraz pada bulan januari 2014 membeli Sebuah mesin
pabrik dengan harga perolehannya senilai Rp 125.000.000,,-
dan diprediksi memiliki masa manfaat hingga 5 tahun kedepan
dengan nilai sisa/residu sebesar Rp 5.000.000,,-
Diperkirakan mesin tersebut bisa berproduksi dan menghasilkan
jumlah unit sebagai berikut:
• Tahun Ke-1 = 15.000 unit
• Tahun Ke-2 = 13.500 unit
• Tahun Ke-3 = 12.000 unit
• Tahun Ke-4 = 11.500 unit
• Tahun Ke-5 = 8.000 unit
Pertama hitung taksiran jumlah produksi :
Tahun ke 1 = 15.000 unit
Tahun ke 2 = 13.500 unit
Tahun ke 3 = 12.000 unit
Tahun ke 4 = 11.000 unit
Tahun ke 5 = 8.000 unit(+)
Total = 60.000 unit
Tarif penyusutan per unit = 125.000.000 - 5.000.000
60.000
= 2.000
Unit
Tahun Tarif Penyusutan
Produksi
2014 15.000 2.000 30.000.000
2015 13.500 2.000 27.000.000
2016 12.000 2.000 24.000.000
2017 11.500 2.000 23.000.000
2018 8.000 2.000 16.000.000
Metode Depresiasi Khusus

Depresiasi bertujuan adalah untuk mengetahui


penyusutan manfaat aset perusahaan. Namun pada


beberapa kasus, perusahaan tidak bisa memilih
salah satu metode depresiasi diatas karena aktiva
yang terlibat memiliki karakteristik yang unik atau
membutuhkan penerapan khusus. Ada dua metode
khusus yang bisa Anda terapkan pada kasus
tersebut yaitu:
Metode kelompok dan gabungan; sering digunakan
pada aktiva yang cukup homogen dan memiliki
fungsi yang hampir sama.
Metode campuran dan kombinasi; diterapkan
sesuai dengan keinginan akuntan.
Terima kasih
JAKARTA

Anda mungkin juga menyukai