100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
101 tayangan50 halaman

Tata Cara Pendirian Apotik di Indonesia

1. Dokumen tersebut membahas tentang peraturan yang mengatur tentang apoteker dan apotik 2. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan mengucapkan sumpah, sedangkan apotik adalah tempat pelayanan kefarmasian dan penyaluran obat 3. Dokumen ini menjelaskan syarat-syarat pendirian apotik dan menjadi apoteker beserta payung hukum dan peraturan terkaitnya

Diunggah oleh

Arista Rizki
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
101 tayangan50 halaman

Tata Cara Pendirian Apotik di Indonesia

1. Dokumen tersebut membahas tentang peraturan yang mengatur tentang apoteker dan apotik 2. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan mengucapkan sumpah, sedangkan apotik adalah tempat pelayanan kefarmasian dan penyaluran obat 3. Dokumen ini menjelaskan syarat-syarat pendirian apotik dan menjadi apoteker beserta payung hukum dan peraturan terkaitnya

Diunggah oleh

Arista Rizki
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

APOTIK

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TATA CARA PENDIRIAN APOTIK
STANDAR PELAYANAN APOTIK
Adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker
dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
Permenkes No.889/MENKES/PER/V/2011

Mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan


yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia sebagai Apoteker.
Permenkes No. 922/MENKES/PER/X/1993
APOTEKER
Sarjana Farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak
melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai
Apoteker.
SK MENKES No. 1332 /MENKES/SK/ /X/2002
Sarjana Farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan
telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perUU
yang berlaku dan berhak melaku kan pekerjaan
kefarmasian di Indonesia sebagai Apoteker.
KEPMENKES RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004

APOTEKER Mereka yang sesuai dengan peraturan yang berlaku


mempunyai wewenang untuk menjalankan praktIk
peracikan obat di Indonesia sebagai seorang Apoteker
sambil memimpin sebuah Apotik.
UU Obat Keras (St.1949 No.419) UU Obat keras (St.1937
No. 541)
Suatu tempat tertentu dimana dilakukan usaha-usaha
dalam bidang farmasi dan pekerjaan kefarmasian, PP. 26
tahun 1965

Suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan


APOTIK kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.
PP 25 Tahun 1980

Suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan


kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi kepada
masyarakat. Permenkes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993
Suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan
kefarmasian dan penyaluran Sediaan Farmasi, perbekalan
Kesehatan lainnya kepada masyarakat.
APOTIK Kepmenkes RI No. 1332/MENKES/SK/X/2002

Suatu tempat ttt, tempat dilakukan pekerjaan


kefarmasian dan penyaluran Sediaan Farmasi, perbekalan
Kesehatan lainnya kpd masyarakat.
Kepmenkes RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004
Suatu tempat ttt, tempat dilakukan pekerjaan
APOTIK kefarmasian dan penyaluran Sediaan Farmasi, perbekalan
Kesehatan lainnya kpd masyarakat.
Kepmenkes RI No.1027/MENKES/SK/IX/2004

adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem


pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada
INSTALASI pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu,
FARMASI RS termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi
semua lapisan masyarakat.
Kepmenkes no. 1197/Menkes/SK/IX/2004)

1. Keduanya tempat melakukan pelayanan kefarmasian


2. Keduanya dikelola oleh Apoteker
PERSAMAAN 3. Keduanya Melayani keperluan masyarakat
PERBEDAAN

APOTIK INSTALASI
FARMASI RS
IJIN DINKES KAB/KOTA DINKES PROPINSI
PELAYANAN MASYARAKAT PASIEN RS
STANDAR KEPMENKES NO. KEPMENKES
1027/MENKES/SK/IX/2004 NO.1197/MENKES/SK/IX/2004
PELAYANAN
TANGGUNG APOTEKER DIREKTUR RS
JAWAB
STAKE APOTEKER, PSA, dan/atau BADAN HUKUM/
HOLDER BADAN HUKUM PERORANGAN
TEMPAT DIMANAPUN BISA, BAHKAN HANYA DI DALAM RS
DI DALAM RS
DASAR Permenkes 922 tahun 93 Tata Cara Pendirian RS, UU
HUKUM/ CARA Kepmenkes 1332 tahun 2002 No. 44 thn 2009
PENDIRIAN PP 51 tahun 2009 PP 51 tahun 2009
PAYUNG HUKUM

1. UU RI No. 36 TAHUN 2009 Tentang KESEHATAN


2. UU No. 8 tahun 1999 ttg Perlindungan Konsumen
3. PP No. 51 tahun 2009 ttg Pekerjaan Kefarmasian
4. Kepmenkes No. 244/Menkes/SK/V/1990 ttg Ketentuan dan
APOTIK Tatacara Pemberian Izin Apotik.
5. Permenkes No. 922/Menkes/Per/X/1993 ttg Ketentuan dan
Tatacara Pemberian Izin apotik.
6. Permenkes 889/Menkes/Per/V/2011 ttg Registrasi, ijin
praktik dan ijin kerja
7. Kepmenkes No.1332/Menkes/SK/X/2002 ttg Perubahan
Permenkes 922/Menkes/Per/X/ 1993 ttg ketentuan dan
tatacara Pemberian Izin Apotik
8. Kepmenkes No.1027/Menkes/SK/IX/2004 ttg Standar
Pelayanan Kefarmasian di apotik
9. SKB Kapolri dg Badan POM,No. POL: Kep/20/VIII/2002,
APOTIK No.: HK.00.04072.02578, ttg Peningkatan Hubungan
Kerja sama dalam rangka Pengawasan dan Penyidikan
tindakan Pidana di bidang Obat dan Makanan
1. Salinan/Fc SIK atau SP
2. Salinan/Fc KTP dan surat Pernyataan tempat tinggal
secara nyata.
3. Salinan/Fc denah bangunan surat yg menyatakan
SYARAT status bangunan dalam bentuk akte hak
PENDIRIAN milik/sewa/kontrak
APOTIK 4. Datar AA dg mencantumkan nama,alamat, tgl lulus
dan SIK.
5. Asli dan salinan/Fc daftar terperinci alat perlengkapan
apotik
6. Surat Pernyataan APA tidak bekerja pada perusahaan
farmasi dan tidak menjadi APA di Apotik lain
7. Asli dan Salinan/Fc Surat Izin atas bagi PNS,anggota
ABRI dan pegawai instansi pemerintah lainnya.
8. Akte Perjanjian kerjasama APA dan PSA
SYARAT 9. Surat Pernyataan PSA tidak terlibat pelanggaran Per
PENDIRIAN UU farmasi
APOTIK 10. NPWP
11. Rekomnedasi IAI
Apoteker
Komp/STRA
Rekomendasi IAI

Kadinkes kab/kota
6 hari Pemeriksaan tdk ada Pemeriksaan
Siap melakukan kegiatan
Tim Dinkes Kab/Kota

6 hari Pelaporan
Kadinkes kab/kota

Blm memenuhi syarat memenuhi syarat Tdk memenuhi syarat

Surat Penundaan Surat Ijin Apotik Waktu 12 hari

Melengkapi 1 Bulan Surat Penolakan

Surat Ijin Apotik


1. Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen
Kesehatan
2. Telah mengucapkan Sumpah/ janji sebagai Apoteker
SYARAT 3. Memiliki Surat Ijin Kerja dari menteri (SP)
APOTEKER 4. Memenuhi syarat-syarat kesehatan fisik dan mental
untuk melaksanakan tugasnya sebagai Apoteker
5. Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi atau tidak
menjadi Apoteker Pengelola Apotik di Apotik lain.
(1) Apoteker dapat mendirikan Apotik dengan modal sendiri
dan/atau Pemilik Modal baik perorangan maupun
perusahaan.

APOTIK (2) Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotik bekerja


sama dg PM maka pekerjaan kefarmasian harus tetap
dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yg bersangkutan.

(3) Ketentuan mengenai kepemilikan Apotik dilaksanakan


sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
1) Dalam hal Apoteker menggunakan Sarana pihak lain,
maka penggunaan sarana dimaksud wajib didasarkan
SYARAT atas Perjanjian kerjasama antara Apoteker dengan
APOEKER Pemilik Modal.
PENGELOLA 2) Pemilik Modal harus memenuhi persyaratan tidak
& PEMILIK
pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan
MODAL perundang-undangan di bidang obat dinyatakan dalam
surat pernyataan yang bersangkutan
Sahnya suatu perikatan/perjanjian ada 4
syarat ;

1. Sepakat yang mengikatkan dirinya


SYAHNYA
PERJANJIAN/ 2. Kecakapan untuk membuat suatu
PERIKATAN
perikatan
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal.
Tiada sepakat yang sah apabila sepakat
SEPAKAT
itu diberikan karena kekhilafan, atau
diperolehnya dengan paksaan atau
penipuan
Setiap orang adalah cakap untuk
membuat
perikatan-perikatan, jika ia oleh Undang-
CAKAP
undang
tidak dinyatakan tak cakap.
Orang-orang yang belum dewasa;
Mereka yang ditaruh di bawah
pengampuan;
Orang-orang perempuan, dalam hal
YG TAK CAKAP
yang ditetapkan oleh Undang-undang
dan pada umumnya semua orang
kepada siapa undang-undang telah
melarang membuat perjanjian-
perjanjian tertentu
1.Berumur 21 tahun dan/atau orang sudah
menikah (UU no. 1 tahun 1974 tentang
DEWASA perkawinan).
2.Anak belum berumur 18 tahun (UU
perlindungan anak)
Orang yang dalam hal tindakan hukum
DI BAWAH
harus diwakili oleh seorang wali, atau
PENGAMPUAN orang yang berkepentingan terhadapnya
secara hukum.
Seorang istri memerlukan ijin tertulis
PEREMPUAN dari suaminya untuk membuat suatu
perjanjian.
tidak adanya wewenang seorang istri untuk melakukan
perbuatan hukum dan untuk menghadap di pengadilan tanpa
ijin atau tanpa bantuan suaminya, tidak berlaku lagi (SE MA.
No. 3 th 1963).

Wanita yang telah dewasa dan/atau telah menikah berhak untuk


melakukan perbuatan hukum sendiri, kecuali ditentukan lain
oleh hukum agamanya(UU RI No. 39 th 1999 ttg HAM).
Hanya barang-barang yg dapat
diperdagangkan saja dapat menjadi
pokok suatu perjanjian.

Suatu perjanjian harus mempunyai


SUATU HAL sebagai pokok suatu barang yang
TERTENTU paling sedikit ditentukan jenisnya.
Tidaklah menjadi halangan bahwa
jumlah barang tidak tentu, asal jumlah
itu dikemudian dapat ditentukan atau
dihitung.
Suatu perjanjian tanpa sebab,atau
yang telah dibuat karena sesuatu sebab
yang palsu atau terlarang, tidak
mempunyai kekuatan dan

SEBAB YANG Jika tidak dinyatakan sesuatu sebab,


HALAL
tetapi ada suatu sebab yang halal,
ataupun jika ada suatu sebab lain,
daripada yang dinyatakan,
perjanjiannya namun demikian adalah
sah.
1. Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sbg UU

2. Perjanjian tidak dpt ditarik kembali selain dg sepakat ke


dua belah pihak, atau karena oleh UU dinyatakan cukup
untuk itu.

3. Perjanjian harus dilaksanakan dengan etikad baik

4. Perjanjian hanya mengikat hal yg dg tegas dinyatakan di


dlmnya, tetapi jg untuk sesuatu yg menurut sifat perjanjian,
diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
Pelayanan Kefarmasian di Apotik, puskesmas atau
ifrs hanya dapat dilakukan oleh Apoteker.

Apoteker dapat:

1.Mengangkat Aping yang memiliki SIPA


HAK 2.mengganti obat merek dagang dg obat generik yg sama
komponen aktifnya/obat merek dagang lain ataspersetu
juan dokter dan/atau pasien;
3.menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika
kepada masyarakat atas resep dari dokter sesuai dg
ketentuan per UU.
Pasal 19 (Permenkes 922/1993)
 
1.Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pd jam
buka apotik, APA dapat menunjuk Aping.
2.Aping harus memenuhi Pasal 5.
Pasal 5
SYARAT Untuk APA harus memenuhi syarat sbg berikut :
APOEKER 1.Ijazahnya telah terdaftar pada Departemen
PENDAMPING kesehatan
2.Telah mengucapkan Sumpah/Janji Apoteker
3.Memiliki Suarat Izin Kerja dari Menteri
4.Memenuhi syarat kesehatan fisik dan mental untuk
melaksanakan tugasnya sbg Apoteker.
5.Tidak bekerja di suatu perusahaan farmasi dan
tidak menjadi Apoteker Pengelola di Apotik lain.
Pasal 19 (SK Menkes 1332/2002)
1.Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada
jam buka Apotik, APA harus menunjuk Apoteker
Pendamping.
2.Apabila APA & Aping karena hal-hal tertentu
SYARAT berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk
APOEKER Apoteker Pengganti.
PENDAMPING 3.Penunjukan harus dilaporkan kepada Kadinkes Kota/
Kabupaten dengan tembusan kepada Kadinkes Propinsi;
4.Apoteker Pendamping dan Apoteker pengganti wajib
memenuhi persyaratan dimaksud dalam Pasal 5;
SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas
pelayanan kefarmasian atau SIKA hanya diberikan untuk 1
(satu) tempat fasilitas kefarmasian.

Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan


HAK kefarmasian berupa puskesmas dapat menjadi Apoteker
pendamping di luar jam kerja.

SIPA bagi Apoteker pendamping dapat diberikan untuk


paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas pelayanan
kefarmasian.
SE Dirjen POM DepKes RI
No. 336/E/SE/77

Apotik dilarang melayani salinan resep yang


mengandung narkotika, walaupun resep tersebut
baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama
sekali.
Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian
atau belum dilayani sama sekali, Apotik boleh
membuat salinan resep, tetapi salinan resep
tersebut hanya boleh dilayani di Apotik yang
menyimpan resep aslinya.
Salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan
iter tidak boleh dilayani sama sekali
Penyerahan Narkotika oleh dokter

Hanya dapat dilaksanakan dalam hal :


– Menjalankan praktik dokter dan diberikan
melalui suntikan;
– Menolong orang sakit dalam keadaan darurat
atau
– Menjalankan tugas di daerah terpencil yang
tidak ada apotik

Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah


tertentu yang diserahkan dokter hanya dapat
diperoleh di apotik
SANKSI
KEPMENKES No. 1332/Menkes/SK/X/2002

1) Kadinkes Kabupaten/kota dapat mencabut ijin bila ;


a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang dimaksud pada
Pasal 5 dan/atau;
b. tidak memenuhi kewajiban dimaksud dalam pasal 12 dan Pasal 15
ayat (2) dan/atau;
c. APA terkena ketentuan dimaksud dalam Pasal 19 ayat 5) dan/atau;
d. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan perUU, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 dan/atau;
e. SIK APA dicabut dan/atau;
f. PSA terbukti terlibat dalam pelanggaran perUU bidang obat
dan/atau;
g. Apotik tidak lagi memenuhi persyaratan dimaksud dalam Pasal 6
2) Kadinkes kabupaten/kota sebelum melakukan pencabutan berkoordinasi
dengan kepala Balai POM setempat.
SANKSI
KEPMENKES No. 1332/Menkes/SK/X/2002
Pasal 11 ayat (1);
Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan di dalam KUHP dan
perUU lain, maka terhadap kesehatan dapat dilakukan tindakan-
tindakan administrati di dalam hal sebagai berikut;
1. Melalaikan kewajiban
2. Melakukan suatu hal yang seharusnya tidak boleh
diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan, baik
mengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah
sebagai tenaga kesehatan;
3. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh
tenaga kesehatan;
4. Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau
berdasarkan UU ini.
STANDAR PELAYANAN
KEFARMASIAN DI APOTIK
KEPMENKES No. 1027/Menkes/SK/IX/2004
LATAR BELAKANG
pharmaceutical care
OBAT PASIEN

Farmasis dituntut untuk;


Meningkatkan pengetahuan
Ketrampilan dan
Perilaku dlm berinteraksi dg pasien
Penulisan resep yang tepat dan rasional dalam
farmakoterapi berorientasi pada :

– Dengan dosis yang tepat


– Dalam bentuk sediaaan yang sesuai
– Pada waktu yang tepat
– Kepada Pasien yang tepat dengan semua parameter
yang harus diperhitungkan
– Waspada terhadap efek samping
Bentuk Interaksi

Melaksanakan pemberian informasi


Monitoring penggunaan obat dan
Mengetahui tujuan akhir sesuai dg harapan yg
terdokumentasi
TUJUAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN
di APOTIK

Sebagai Standar praktik Farmasis dlm menjalankan profesi


Melindungi masyarakat dr pelayanan yg tidak profesional
Melindungi profesi dlm menjalankan praktik kefarmasian
FARMASIS di APOTIK

Memiliki kemampuan menyediakan dan


memberikan pelayanan yang baik
Mengambil keputusan yang tepat
Kemampuan berkomunikasi antar profesi
Menempatkan diri sbg pimpinan dlm situasi
multidisipliner
Kemampuan mengelola SDM secara efektif
Selalu belajar sepanjang karier dan
Membantu memberikan pendidikan & memberi
peluang untuk meningkatkan pengetahuan
SARANA & PRASARANA APOTIK

Mudah dikenali masyarakat


Terdapat papan petunjuk yg jelas tertulis kata
Apotik
Mudah diakses oleh masyarakat
Pelayanan Produk kefarmasian diberikan pada
tempat yg terpisah dr aktivitas pelayanan &
penjualan produk lainnya.
Dijaga kebesihannya
Bebas dr hewan pengerat,serangga/pestisida
Memiliki suplai listrik yg konstan terutama untuk
lemari pendingin.
APOTIK HARUS MEMILIKI
Ruang tunggu yg nyaman bagi pasien
Tempat mendisplai informasi,brosur bagi pasien
Ruang tertutup untuk konseling, dilengkapi meja,
kursi dan almari untuk menyimpan catatan medik
pasien.
Ruang peracikan.
Keranjang sampah.
Rak-rak penyimpan obat
PENGELOLAAN SEDIAAN FARMASI &
PERBEKALAN KESEHATAN LAINNYA
PERENCANAAN
Pola Penyakit
Kemampuan &
Budaya masyarakat
PENGADAAN
Jalur resmi
PENYIMPANAN
Administrasi umum
Administrasi pelayanan
PELAYANAN di APOTIK
1. Pelayanan Resep
1.1. Skrining resep
1.1.1. Persyaratan administrasi
Nama,SIP & alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/ paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur,jenis kelamin, & berat
badan Pasien
Nama obat, potensi,dosis, jumlah yang diminta
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
1.1.2. Kesesuaian farmasetik
bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas-inkompabilitas,cara &
lama pemberian
1.1.3. Pertimbangan klinis
Adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian ( dosis,
durasi,jumlah obat dll.)

Jika ada keraguan konsultasi pada dokter penulis


resep dg memberikan pertimbangan dan
alternatif seperlunya, bila perlu menggunakan
persetujuan setelah pemberitahuan
PELAYANAN DI APOTIK
Pelayanan Resep
1.2. Penyiapan Obat
1.2.1. Peracikan
1.2.2. Etiket
1.2.3. Kemasan obat yang diserahkan
1.2.4. Penyerahan obat
1.2.5. Informasi obat
1.2.6. Konseling
1.2.7. monitoring penggunaan obat
EVALUASI MUTU PELAYANAN

Indikator yang digunakan untuk mengevaluasi


mutu pelayanan adalah :
1. Tingkat kepuasan konsumen : dilakukan dg survey berupa angket
atau wawancara langsung.
2. Dimensi waktu : lama pelayanan diukur dg waktu

(yg telah ditetapkan)


3. Prosedur Tetap : Untuk menjamin mutu pelayanan
sesuai standar yg telah ditetapkan.
FUNGSI PROTAP LAINNYA :
• Memastikan bahwa praktik yang baik dapat tercapai setiap saat;
• Adanya pembagian tugas dan wewenang;
• Memberikan pertimbangan dan panduan untuk tenaga kesehatan lain yang
bekerja di Apotik;
• Dapat digunakan sebagai alat untuk melatih staf baru;
• Membantu proses audit.

Anda mungkin juga menyukai