0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Sejarah dan Fungsi DPR RI dari 1945-2017

Menjelaskan Badan Negara DPR RI menurut salah seorang ahli hukum

Diunggah oleh

rcclawoffice8519
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan11 halaman

Sejarah dan Fungsi DPR RI dari 1945-2017

Menjelaskan Badan Negara DPR RI menurut salah seorang ahli hukum

Diunggah oleh

rcclawoffice8519
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mata Kuliah - Badan Negara dan Pemerintahan

BADAN NEGARA
DPR RI
Khalid Akbar
5222221027
SEJARAH SINGKAT Masa DPR Sementara (1950–1956)
Pada tanggal 14 Agustus 1950, DPR dan Senat RIS menyetujui
Rancangan UUDS NKRI (UU No. 7/1950, LN No. 56/1950). Pada
tanggal 15 Agustus 1950, DPR dan Senat RIS mengadakan rapat di
Masa awal kemerdekaan (1945–1949) mana dibacakan piagam pernyataan terbentuknya NKRI yang
Pada awal kemerdekaan, lembaga-lembaga negara yang diamanatkan UUD 1945 bertujuan: 1. Pembubaran secara resmi negara RIS yang berbentuk
belum dibentuk. Dengan demikian, Sesuai dengan pasal 4 aturan peralihan dalam federasi; 2. Pembentukan NKRI yang meliputi seluruh daerah
UUD 1945, dibentuklah Komite Nasional Pusat (KNIP). Komite ini merupakan Indonesia dengan UUDS yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus
cikal bakal badan legislatif di Indonesia. 1950.
Sesuai isi Pasal 77 UUDS, ditetapkan jumlah anggota DPRS adalah
Anggota KNIP tersebut berjumlah 60 orang tetapi sumber yang lain menyatakan 236 orang, yaitu 148 anggota dari DPR RIS, 29 anggota dari Senat
terdapat 103 anggota KNIP. KNIP sebagai MPR sempat bersidang sebanyak 6 kali, RIS, 46 anggota dari Badan Pekerja Komite Nasional Pusat, dan 13
dalam melakukan kerja DPR dibentuk Badan Pekerja Komite Nasional Pusat, anggota dari DPA RI Yogyakarta.
Badan Pekerja tersebut berhasil menyetujui 133 RUU di samping pengajuan mosi,
resolusi, usul dan lain-lain.
Masa DPR hasil pemilu 1955 (1956–1959)
Masa Republik Indonesia Serikat (1949–1950) DPR ini adalah hasil pemilu 1955 yang jumlah anggota yang dipilih
sebanyak 272 orang. Pemilu 1955 juga memilih 542 orang anggota
Badan legislatif pada masa Republik Indonesia Serikat terbagi menjadi dua majelis konstituante.
, yaitu Senat yang beranggotakan 32 orang, dan Dewan Perwakilan Rakyat yang Tugas dan wewenang DPR hasil pemilu 1955 sama dengan posisi
beranggotakan 146 orang (dimana 49 orang adalah perwakilan Republik DPRS secara keseluruhan, karena landasan hukum yang berlaku
Indonesia-Yogyakarta). Hak yang dimiliki DPR adalah hak budget, inisiatif, dan adalah UUDS. Banyaknya jumlah fraksi di DPR serta tidak adanya
amendemen, serta wewenang untuk menyusun RUU bersama pemerintah. Selain satu dua partai yang kuat, telah memberi bayangan bahwa pemerintah
itu DPR juga memiliki hak bertanya, hak interpelasi dan hak angket, namun tidak merupakan hasil koalisi. Dalam masa ini terdapat 3 kabinet yaitu
memiliki hak untuk menjatuhkan kabinet.[3] Dalam masa kerja yang amat singkat kabinet Burhanuddin Harahap, kabinet Ali Sastroamidjojo, dan
itu, kurang lebih setahun, berhasil diselesaikan 7 buah undang-undang, yang di kabinet Djuanda
antaranya adalah UU No. 7 tahun 1950 tentang perubahan Konstitusi Sementara
RIS menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia; diajukan 16
mosi, dan 1 interpelasi, baik oleh Senat maupun DPR. Masa DPR hasil Dekrit Presiden 1959 berdasarkan
UUD 1945 (1959–1965)
Masa DPR Sementara (1950–1956)
Jumlah anggota sebanyak 262 orang kembali aktif setelah mengangkat sumpah. Berdasarkan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, yang kemudian
Dalam DPR terdapat 19 fraksi, didominasi PNI, Masjumi, NU, dan PKI. Dengan dikukuhkan dalam UU No. 10/1966, maka DPR-GR Masa Orde Baru
Penpres No. 3 tahun 1960, Presiden membubarkan DPR karena DPR hanya memulai kerjanya dengan menyesuaikan diri dari Orde Lama ke Orde
menyetujui 36 miliar rupiah APBN dari 44 miliar yang diajukan. Sehubungan Baru. Kedudukan, tugas dan wewenang DPRGR 1966–1971 yang
dengan hal tersebut, presiden mengeluarkan Penpres No. 4 tahun 1960 yang bertanggung jawab dan berwewenang untuk menjalankan tugas-tugas
mengatur Susunan DPR-GR. DPR-GR beranggotakan 283 orang yang semuanya utama sebagai berikut:
diangkat oleh Presiden dengan Keppres No. 156 tahun 1960. Adapun salah satu
kewajiban pimpinan DPR-GR adalah memberikan laporan kepada Presiden pada
waktu-waktu tertentu, yang mana menyimpang dari pasal 5, 20, 21 UUD 1945. 1. Bersama-sama dengan pemerintah menetapkan APBN
Selama 1960-1965, DPR-GR menghasilkan 117 UU dan 26 usul pernyataan sesuai dengan pasal 23 ayat 1 UUD 1945
pendapat. beserta penjelasannya.
2.Bersama-sama dengan pemerintah membentuk UU
sesuai dengan pasal 5 ayat 1, pasal 20, pasal 21 ayat 1
dan pasal 22 UUD 1945 beserta penjelasannya.
3.Melakukan pengawasan atas tindakan-tindakan
pemerintah sesuai dengan UUD 1945 dan penjelasannya
Masa DPR Gotong Royong tanpa PKI (1949–1950) , khususnya penjelasan bab 7.

Setelah peristiwa G.30.S/PKI, DPR-GR membekukan sementara 62 orang Selama masa orde baru DPR dianggap sebagai "tukang stempel"
anggota DPR-GR eks PKI dan ormas-ormasnya. DPR-GR tanpa PKI dalam masa kebijakan pemerintah yang berkuasa karena DPR dikuasai oleh Golkar
kerjanya 1 tahun, telah mengalami 4 kali perubahan komposisi pimpinan, yaitu: a. yang merupakan pendukung pemerintah.
Periode 15 November 1965 – 26 Februari 1966. b. Periode 26 Februari 1966 – 2
Mei 1966. c. Periode 2 Mei 1966 – 16 Mei 1966. d. Periode 17 Mei 1966 – 19
November 1966. Secara hukum, kedudukan pimpinan DPR-GR masih berstatus
Masa DPR Sementara (1950–1956)
sebagai pembantu Presiden sepanjang Peraturan Presiden No. 32 tahun 1964 Banyaknya skandal korupsi, penyuapan dan kasus pelecehan seksual
belum dicabut. Dalam rangka menanggapi situasi masa transisi, DPR-GR merupakan bentuk nyata bahwa DPR tidak lebih baik dibandingkan dengan
memutuskan untuk membentuk 2 buah panitia: a. Panitia politik, berfungsi yang sebelumnya. Mantan ketua MPR RI 1999–2004, Amien Rais, bahkan
mengikuti perkembangan dalam berbagai masalah bidang politik. b. Panitia mengatakan DPR yang sekarang hanya merupakan stempel dari
ekonomi, keuangan dan pembangunan, bertugas memonitor situasi ekonomi dan pemerintah karena tidak bisa melakukan fungsi pengawasannya demi
keuangan serta membuat konsepsi tentang pokok-pokok pemikiran ke arah membela kepentingan rakyat.
pemecahannya.
BAGAN NEGARA
DPR RI
Sebelum Reformasi MPR merupakan lembaga tertingggi negara, sedangkan pasca amandemen DPR menjadi lembaga tinggi negara yang setara
(hubungan horizontal) dengan lembaga eksekutif dan yudikatif yang ada di Indonesia.

A. Sebelum Amandemen B. Setelah Amandemen


TUJUH KOMPONEN
LOGEMANN

Logemann mengatakan terdapat 7 (tujuh) objek kajian HTN, yaitu:


1.Jabatan apa yang terdapat dalam susunan negara?
2.Siapa yang mengadakan jabatan?
3.Bagaimana cara pengisian jabatan?
4.Apa tugas jabatan?
5.Apa wewenang jabatan?
6.Hubungan antar jabatan; dan
7.Batas dari tugas organisasi negara.
PENJELASAN KOMPONEN
LOGEMANN PADA BADAN NEGARA
DPR RI
A. Jabatan Pada Susunan Negara Republik Indonesia
Lembaga Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif
Lembaga ini bertugas membuat dan mengesahkan undang-undang serta mengawasi kinerja pemerintah. Lembaga legislatif terdiri dari Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). MPR merupakan lembaga tertinggi yang memiliki wewenang mengubah Undang-Undang
Dasar 1945. DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang memiliki hak inisiatif dalam pembuatan undang-undang. DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang
memiliki fungsi memberikan pertimbangan kepada DPR dalam hal-hal yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran
daerah, serta pengelolaan sumber daya alam.

B. Bagaimana Cara Jabatan DPR RI


Pasal 22E UUD 1945 yang mengatur bahwa:
“Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah”.
Selanjutnya pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, Pasal 1angka 1, yang mengatur:

“Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota
Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dilaksanakan secara
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.”

Syarat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menurut UU No 7 tahun 2017 tentang Pemilu, syarat calon anggota Dewan
Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagai berikut:
1.telah berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih;
2.bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3.bertempat tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4.dapat berbicara, membaca, dan/atau menulis dalam bahasa Indonesia;
5.berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah
lain yang sederajat;
6.setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
Bhinneka Tunggal Ika;
7.tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan
mantan terpidana;
8.sehat jasmani, rohani, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika;
9.terdaftar sebagai pemilih;
10.bersedia bekerja penuh waktu;
11. Mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, aparatur sipil negara, anggota Tentara Nasional
Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada
badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah, atau badan lain yang anggarannya bersumber
dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali;
12. Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat, notaris, pejabat pembuat akta tanah, atau
tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan
lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPR, DPRD
Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
13. Bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan
karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah serta badan lain yanganggarannyaa
bersumber dari keuangan negara;
14. Menjadi anggota Partai Politik Peserta Pemilu;
15. Dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan; dan
16. Dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan.

3. Siapa yang mengadakan Jabatan DPR RI


Pasal 19 dan 20 UUD NRI Tahun 1945, UU No. 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum
4. Apa Tugas dan Wewenang DPR RI
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD menerangkan bahwa DPR RI mempunyai fungsi,
yaitu: a. Legislasi; b. Anggaran; dan c. Pengawasan.
Tugas dan wewenang dalam menjalankan fungsi Legislasi, yaitu:

•Menyusun Program Legislasi Nasional (Prolegnas)


•Menyusun dan membahas Rancangan Undang-Undang (RUU)
•Menerima RUU yang diajukan oleh DPD (terkait otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan,
pemekaran dan penggabungan daerah; pengelolaan SDA dan SDE lainnya; serta perimbangan keuangan pusat
dan daerah)
•Membahas RUU yang diusulkan oleh Presiden ataupun DPD
•Menetapkan UU bersama dengan Presiden
•Menyetujui atau tidak menyetujui peraturan pemerintah pengganti UU (yang diajukan Presiden) untuk
ditetapkan menjadi UU
Tugas dan wewenang dalam menjalankan fungsi Anggaran, yaitu :

• Memberikan persetujuan atas RUU tentang APBN (yang diajukan Presiden)


• Memperhatikan pertimbangan DPD atas RUU tentang APBN dan RUU terkait pajak, pendidikan dan agama
• Menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang disampaikan
oleh BPK
• Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara maupun terhadap perjanjian yang
berdampak luas bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara
Tugas dan wewenang dalam menjalankan fungsi Pengawasan, yaitu
•Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU, APBN dan kebijakan pemerintah
•Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD (terkait pelaksanaan UU mengenai
otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, pengelolaan SDA dan SDE lainnya, pelaksanaan
APBN, pajak, pendidikan dan agama)
Tugas dan wewenang DPR lainnya, antara lain:
•Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi rakyat
•Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk: (1) menyatakan perang ataupun membuat perdamaian dengan Negara lain; (2) mengangkat dan
memberhentikan anggota Komisi Yudisial.
•Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal: (1) pemberian amnesti dan abolisi; (2) mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta
besar lain
•Memilih Anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD
•Memberikan persetujuan kepada Komisi Yudisial terkait calon hakim agung yang akan ditetapkan menjadi hakim agung oleh Presiden
•Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi untuk selanjutnya diajukan ke Presiden

5. Apa Hubungan Antar Jabatan DPR RI ?


Hubungaan Antar Lembaga Negara Pasca Amandemen UUD 1945, antara lain:
•Hubungan yang bersifat Fungsional
•Hubungan yang bersifat Pengawasan
•Hubungan yang berkaitan dengan Penyelesaian Sengketa
•Hubungan yang bersifat Pelaporan atau Pertanggungjawaba
Hubungan antara kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif bersifat horizontal sehingga melahirkan sistem pemerintahan campuran antara
Parlementer dan Presidensial karena kesemuanya adalah lembaga tinggi negara.
6. Batas Dari Tugas DPR
Sebagaimana diatur pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD mengatur bahwa: baik anggota DPR, DPRD
provinsi, maupun DPRD kabupaten/kota dilarang merangkap jabatan sebagai:
a.pejabat negara lainnya;
b.hakim pada badan peradilan;
c.pegawai negeri sipil;
d.anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia;
e.pegawai pada badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan lain yang anggarannya bersumber dari
APBN/APBD.
f.pejabat struktural pada lembaga pendidikan swasta;
g.akuntan publik;
h.konsultan;
i.advokat atau pengacara;
j.notaris; dan
k.pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan wewenang dan tugas DPR/DPRD provinsi/DPRD kabupaten/kota serta
hak sebagai anggota DPR/DPRD provinsi/DPRD kabupaten/kota.
Dan dalam menjalankan tugas-tugasnya DPR tidak boleh menjalankan fungsi-fungsi dari lembaga tinggi negara, yang melampaui kewenangannya
lainnya kecuali yang sudah tercantum pada UUD NRI Tahun 1945 dan Undang-Undang.

Terimakasih

Anda mungkin juga menyukai