Training Basic K3
Training Basic K3
Keselamatan Kerja
By : Hendri Anur, ST
2022 - Sekarang
SUMMERY PEMBAHASAN
REVOLUSI INDUSTRI
Aktivitas
Pemanfaatan ilmu
Abad ke- 18 pengetahuan dan
Pekerjaan dilakukan teknologi
secara perorangan/ Terjadi peningkatan
Tahun 1450 Abad 18 Revolusi kelompok kecil angka kecelakaan
Industri Usaha pencegahan
Dominicoz Fontana kecelakaan tidak terlalu
diserahi tugas sulit
membangun obelisk
ditengah lapangan St.
Pieter Roma. Ia selalu
mensyaratkan agar para
pekerja memakai topi
baja.
Sejarah K3
• Tahun 1919 Amerika Serikat memberlakukan “Work
Compensation Law”
“….tidak memandang apakah kecelakaan tersebut terjadi
akibat kesalahan sikorban atau tidak, yang bersangkutan
akan mendapat ganti rugi jika terjadi dalam pekerjaan”
• Di Inggris harus dibuktikan bahwa kecelakaan
tersebut bukanlah terjadi karena kesalahan si korban.
• H. W Heinrich titik awal, keselamatan kerja yang terorganisir secara terarah,
prinsip-prinsip yang dikemukakan Heinrich di tahun 1931 di bukunya “Industrial
Accident Prevention”, merupakan unsur dasar bagi program keselamatan kerja
saat ini.
SEJARAH PERKEMBANGAN K3
Revolusi Inggris
Compensation Law (AS)
Indonesia (Pemerintah Hindia
Belanda. ERA MANAJEMEN
Perubahan sistem kerja - Heirich (1931), teori
TH 1931
Penggunaan tenaga mesin domino
Pengenalan metode baru pengolahan - Bird and German, teori
Loss
bahan baku
Causation Model
Pengorganisasian pekerjaan - ISO, SMK3 dll.
Muncul penyakit yg berhubungan
dgn pemajanan
LOGO K3
Filosofi (Mangkunegara)
Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani
maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya
dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
Keilmuan
Semua ilmu dan penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit
akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.
TUJUAN K3
Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja
01 Melindungi
02 Menjamin
03 Mengingatkan
Melindungi dan menjamin
Menjamin setiap sumber produksi
keselamatan setiap tenaga kerja dan
dapat digunakan secara aman dan Meningkatkan kesejahteraan dan
orang lain di tempat kerja.
efisien. produktivitas Nasional.
Dasar Hukum Penerapan K3 ditempatkerja
A
• UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.
B 2. Tempat kerja dimana pengusaha memperkerjakan kurang dari 100 orang tetapi menggunakan
bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran,
keracunan dan pencemaran radio aktif.
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
• RUANG LINGKUP
Pasal. 3
• SYARAT-SYARAT K3
• Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat
syarat keselamatan kerja untuk :
Pasal 4
-Pemasangan - Pemakaian
-Pembuatan - Peredaran
Perencanaan - Pengangkutan
-dll
Pengesahan Termasuk
Termasukproduk
produk
Pengesahan dari Luar Negeri
gambar rencana Pemakaian dari Luar Negeri
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal 5 MENAKER
DIREKTUR
- INDUSTRI
PEMERINTAH SWASTA
- JASA ----PJIT
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
PENGAWSAN K3
PASAL 5 (1)
Dituntut
Dituntut profesional
profesional dan
dan memiliki
memiliki kompetensi
kompetensi ::
•• memahami
memahami peraturan
peraturan dandan standar
standar teknik
teknik K3K3 yang
yang
luas,
luas,
•• ahli
ahli mengidentifikasi
mengidentifikasi sumber
sumber bahaya
bahaya dan
dan
•• ahli
ahli membuat
membuat rekomendasi
rekomendasi syarat
syarat K3
K3 sesuai
sesuai standar
standar
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal 6
Ketentuan banding bagi yang tidak memerima
keputusan direktur
Pasal 7
Pengusaha membayar retribusi yang diatur oleh
peraturan perundangan.
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
• KEWAJIBAN PENGURUS
• Pasal 8
Pemeriksaan kesehatan badan,kondisi mental dan kemampuan
tenaga kerja :
• Baru
• Yang hendak dipindah ke tugas lain
(yang berpotensi bahaya)
• Berkala min satu tahun sekali
Oleh Dokter perusahaan (yang dibenarkan oleh Menteri)
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal
Pasal 99 Pembinaan
Pembinaan
Pasal
Pasal 10
10
P2K3
P2K3((PANTIA
PANTIAPEMBINA
PEMBINAKESELAMATAN
KESELAMATANDAN
DANKESEHATAN
KESEHATANKERJA)
KERJA)
Fungsi
Wadah kerjasama peningkatan bidang K3
antara :
- Pihak perusahaan (managemen)
- Pihak pekerja
Susunan
Diatur dan tetapkan oleh Menteri
Peraturan pelaksana Permen No.
04/Men/1987
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal
Pasal 11
11
Kewajiban
Kewajibanmelaporkan
melaporkankecelakaan
kecelakaankerja
kerja
•• Pengurus
Penguruswajib
wajibmelaporkan
melaporkankecelakaan
kecelakaanyang
yangterjadi
terjadi
di
ditempat
tempat kerja
kerja
•• Tata
Tatacara
caraPelaporan
Pelaporandiatur
diaturoleh
olehPeraturan
Peraturan
Perundangan
PerundanganPermen
PermenNo.
No. 03/Men/1998
03/Men/1998
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal
Pasal 12
12
Kewajiban
Kewajiban dan
dan Hak
Hak Tenaga
Tenaga Kerja
Kerja
Kewajiban
Kewajiban Hak
Hak
•• Memberikan
Memberikanketerangan •• Meminta
keterangan Memintapengurus
pengurusuntuk
untuk
pada
padaPegawai
PegawaiPengawas
Pengawas melaksanakan
melaksanakanSyarat
SyaratK3
K3
•• Memakai
MemakaiAPD •• Menyatakan
APD Menyatakankeberatan,
keberatan,
•• Memenuhi
Memenuhidandanmentaati jika
mentaati jikasyarat
syaratK3
K3belum
belum
syarat
syaratK3
K3 terpenuhi
terpenuhi
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal
Pasal 13
13
Barang
Barang siapa
siapa akan
akan memasuki
memasuki tempat
tempat kerja
kerja diwajibkan
diwajibkan
mentaati
mentaati semua
semua petunjuk
petunjuk K3
K3 dan
dan memakai
memakai APD
APD yg
yg
diwajibkan
diwajibkan
Kewajiban
Kewajiban menggunakan
menggunakan
APD
APD yang
yang ditetapkan
ditetapkan
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
Pasal
Pasal 14
14
Kewajiban
Kewajiban Pengurus
Pengurus
Obyek Pengawasan K3
1. MENEMUKAN FAKTA/MASALAH
Identifikasi Masalah
2. ANALISIS
Penilaian Risiko pemeringkatan risiko
3. PEMILIHAN / PENETAPAN ALTERNATIF /
PEMECAHAN
Mengendalikan risiko
4. PELAKSANAAN
Tindakan
5. PENGAWASAN
Sejauh mana pelaksanaan tdk menyimpang dari rencana
INCCIDENT & ACCIDENT
Pengertian
Kejadian yang berkaitan dengan pekerjaan dimana cedera,
penyakit akibat kerja (PAK) ataupun kefatalan (kematian)
dapat terjadi (termasuk insiden ialah keadaan darurat).
Nearmiss
Kecelakaan Kerja
Insiden yang menyebabkan cedera, penyakit akibat kerja
(PAK) ataupun kefatalan (kematian).
Accident
Piramida Kecelakaan Kerja
Terjadi Setiap
1 Kecelakaan Fatal/Kematian
Di dalamnya terdapat
10 Kecelakaan Ringan Sebelumnya
Penyebab
Penyebab Penyebab Kecelakaan
Tidak Kerugian
Dasar Langsung Kerja
Langsung
Biaya Langsung
Rp. 1 Juta
{
1.
2.
Biaya Pengobatan & Perawatan.
Biaya Kompensasi (Asuransi).
{
2. Kerusakan Alat dan Mesin.
Teori Gunung Es Kecelakaan Kerja Rp. 5 – 50 Juta 3. Kerusakan Produk dan Bahan/Material.
(Biaya Kerusakan Aset 4. Gangguan/Terhentinya Produksi.
Yang Tidak Diasuransikan) 5. Biaya Administrasi.
6. Pengeluaran Sarana dan Prasarana Darurat.
7. Waktu untuk Investigasi.
8. Pembayaran Gaji untuk Waktu Hilang .
{
9. Biaya Perekrutan dan Pelatihan.
Rp. 5 – 3Juta 10. Biaya Lembur.
(Biaya Lain-lain 11. Biaya Ekstra Pengawas.
Yang Tidak Diasuransikan) 12. Waktu untuk Administrasi.
13. Penurunan Kemampuan Tenaga Kerja
yang Kembali karena Cedera.
14. Kerugian Bisnis dan Nama Baik.
Upaya Pencegahan
Kecelakaan Kerja
• Sistem Manajemen
1. Prosedur dan Aturan.
2. Penyediaan Sarana dan Prasarana.
3. Penghargaan dan Sanksi.
BAHAYA K3
Pengertian Faktor
1. Biologi (Bakteri, Virus, Jamur, Tanaman,
Semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang
Binatang).
berpotensi menimbulkan cedera dan atau penyakit
2. Kimia (Bahan/Material/Cairan/Gas/Uap/Debu
akibat kerja (PAK).
Beracun, Reaktif, Radioaktif, Mudah
Meledak/Terbakar, Iritan, Korosif).
Sumber 3. Fisik/Mekanik (Ketinggian, Konstruksi,
1. Manusia. Mesin/Alat/Kendaraan/Alat Berat, Ruang
2. Mesin. Terbatas, Tekanan, Kebisingan, Suhu, Cahaya,
3. Material. Listrik, Getaran, Radiasi).
4. Metode. 4. Biomekanik (Gerakan Berulang, Postur/Posisi
5. Lingkungan. Kerja, Pengangkutan Manual, Desain Tempat
Keja/Alat/Mesin).
5. Psikologi/Sosial (Stress, Kekerasan, Pelecehan,
Jenis Pengucilan, Lingkungan, Emosi Negatif).
6. Tindakan.
7. Kondisi.
PENILAIAN RESIKO K3
Pengertian Keparahan
Potensi kerugian yang bisa
Sedang
Ringan
Ringan
Sangat
Sangat
Berat
Berat
diakibatkan apabila terdapat kontak dengan
suatu bahaya (contoh : luka bakar, patah
tulang, kram, asbetosis, dsb). Sangat
Sedang Tinggi Tinggi Ekstrim Ekstrim
Sering
Penilaian dan Kategori Sering Sedang Sedang Tinggi Tinggi Ekstrim
Frekuensi
Perkalian antara nilai frekuensi dengan Sedang Rendah Sedang Sedang Tinggi Ekstrim
nilai keparahan suatu resiko.
Jarang Rendah Sedang Sedang Tinggi Tinggi
Sangat
Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi
Jarang
Rendah Perlu Aturan/Prosedur/Rambu
PERLINDUNGAN
KEHANDALAN
Perancangan
Kerja yang Lebih Aman
Eliminasi
Subtitusi
Rekayasa Engineering
PERLINDUNGAN
KEHANDALAN
Administrasi
600
APD
5 Metode Pengendalian
Resiko K3
Eliminasi
Subtitusi
Rekayasa Teknis
Rekayasa Administrasi
Contoh :
Mengganti bahan bentuk serbuk
dengan bentuk pasta
Proses menyapu diganti dengan
Subtitusi vakum
Bahan solvent diganti dengan bahan
deterjen
Proses pengecatan spray diganti
dengan pencelupan
5 Metode Pengendalian
Resiko K3
Contoh :
Pemasangan alat
pelindung mesin
Rekayasa Teknis Pemasangan general
dan local ventilation
Pemasangan alat
sensor otomatis
5 Metode Pengendalian
Resiko K3
Contoh :
Pemisahan lokasi
Rekayasa
Pergantian shift kerja
Administrasi
Pembentukan sistem
kerja
Pelatihan karyawan
5 Metode Pengendalian
Resiko K3
Contoh :
Helmet
APD Safety Shoes
Ear plug/muff
Safety goggles
Faktor-faktor yg mempengaruhi
kesehatan tenaga kerja
Beban Lingkungan
kerja kerja
-Fisik -Fisik
-Mental
-Kimia
-Biologi
-Ergonomi
-Psikologi
Kapasitas kerja
- Ketrampilan
- Kesegaran jasmani &
rohani
- Status kesehatan/gizi
- usia
- Jenis kelamin
- Ukuran tubuh
Langkah-Langkah
Penerapan 5R
Ringkas
1. Memilah barang yang diperlukan & yang tidak diperlukan.
2. Memilah barang yang sudah rusak dan barang yang masih dapat digunakan.
3. Memilah barang yang harus dibuang atau tidak.
4. Memilah barang yang sering digunakan atau jarang penggunaannya.
Rapi
5. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan alur proses kerja.
6. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan keseringan penggunaannya, keseragaman,
fungsi dan batas waktu.
7. Pengaturan tanda visual supaya peralatan/barang mudah ditemukan.
Resik
8. Membersihkan tempat kerja dari semua kotoran, debu dan sampah.
9. Menyediakan sarana dan prasarana kebersihan di tempat kerja.
10. Meminimalisir sumber-sumber sampah dan kotoran.
11. Memperbarui/memperbaiki tempat kerja yang sudah usang/rusak (peremajaan).
Rawat
Mempertahankan 3 kondisi di atas dari waktu ke waktu.
Penerapan Budaya 5R Di Tempat Kerja
Rajin
Mendisiplinkan diri untuk melakukan 4 hal di atas.
Makna Rambu Di Tempat Kerja
Tanda Sarana
Tanda Sarana Keselamatan, P3K
Darurat Kebakaran dan Evakuasi
Darurat
Label Kemasan Bahan
Beracun Dan Berbahaya (B3)
Mudah
Mudah Meledak Oksidator
Menyala/Terbakar
Pencemar
Pemicu Iritasi
GHS (Globally Harmonized System) – UN (United Lingkungan
Nations)
Gas Bertekanan
Label Transportasi Bahan Beracun
Dan Berbahaya (B3)
Budaya 5R Tujuan
Untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas tempat kerja.
Manfaat
1. Meningkatkan produktivitas karena pengaturan tempat kerja yang lebih
efisien.
2. Meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan luas.
3. Mengurangi bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang
bagus/baik.
4. Menambah penghematan karena menghilangkan pemborosan-pemborosan
di tempat kerja.
Makna Label Dan Warna Perpipaan
LABEL PIPA
Gas Bertekanan.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Bahan Mudah Terbakar.
LABEL PIPA
LABEL PIPA Air Yang Dapat Diminum, Air Pendingin, Air
LABEL PIPA Umpan Boiler.
LABEL PIPA Bahan Beracun & Korosif.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Media Pemadam Kebakaran.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Bahan Mudah Menyala.
LABEL PIPA
Sumber : ANSI (American National Standards Intitute) Amerika
Tanda Dan Makna Papan
Informasi Di Tempat Kerja
Zona Berbahaya.
LOTO (Lockout – Tagout)
Pengertian
Suatu prosedur untuk menjamin mesin/alat
berbahaya secara tepat telah dimatikan dan tidak
akan menyala kembali selama pekerjaan
berbahaya ataupun pekerjaan perbaikan dan
perawatan berlangsung sampai dengan pekerjaan
tersebut berakhir.
Prosedur Umum
1. Mengidentifikasi sumber energi.
Peralatan LOTO
2. Mengisolasi dan mematikan sumber energi.
3. Mengunci dan memberi tanda bahaya pada
sumber energi.
4. Memastikan keefektifan isolasi sumber energi.
Pekerjaan :
Panas (pengelasan,
gerinda, dsj).
2. Izin kerja
Ketinggian
bertujuan untuk
1. Izin kerja 3. Pengurusan izin (konstruksi/perbaikan
memastikan bahwa
diperlukan untuk kerja dilaksanakan di ketinggian di atas
semua
pekerjaan non-rutin oleh tenaga kerja 2 meter).
kegiatan/kondisi/loka
yang mengandung bersangkutan Listrik (arus besar).
si aman untuk
bahaya/resiko tinggi dengan petugas K3 Galian.
dilangsungkannya
di tempat kerja. Perusahaan. Penggunaan Alat Berat.
pekerjaan
Perbaikan Tangki.
berbahaya/resiko
Peraikan Perpipaan.
tinggi.
Ruang Terbatas.
Kelengkapan wajib
yang digunakan
saat bekerja sesuai Pelindung Kepala Pelindung Mata dan Muka Pelindung Pendengaran
Pelindung Jatuh
Pelampung
Jas Hujan
Pelindung Tubuh
Sabuk Keselamatan
Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Pengertian
Gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan dan atau
diperparah karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan dengan
pekerjaan.
Contoh
Anthrax, Silicosis, Asbestosis, Low Back Pain, White Finger Syndrom, dsb.
Faktor Penyebab
Biologi (Bakteri, Virus Jamur, Binatang, Tanaman) ; Kimia (Bahan Beracun dan
Berbahaya/Radioaktif) ; Fisik (Tekanan, Suhu, Kebisingan, Cahaya) ;
Biomekanik (Postur, Gerakan Berulang, Pengangkutan Manual) ; Psikologi
(Stress, dsb).
Pencegahan
1. Pemeriksaan Kesehatan Berkala.
2. Pemeriksaan Kesehatan Khusus.
3. Pelayanan Kesehatan.
4. Penyedian Sarana dan Prasarana.
Kesehatan Kerja
Pengertian
Penyelenggaraan dan pemeliharaan derajat yang
setinggi-tingginya dari kesehatan fisik, mental dan
sosial dari tenaga kerja pada semua pekerjaan,
pencegahan gangguan kesehatan pada tenaga kerja
yang disebabkan oleh kondisi kerjanya,
perlindungan tenaga kerja dari resiko akibat
faktor-faktor yang mengganggu kesehatan,
penempatan dan pemeliharaan tenaga kerja dalam
suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikologisnya, dan sebagai
kesimpulannya merupakan penyesuaian pekerjaan
kepada manusia dan manusia kepada pekerjaanya.
Sumber : Joint ILO-WHO Committee 1995
Kesehatan Kerja (Lanjutan)
Dasar Hukum
1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 8.
2. Permenakertrans 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan
Keselamatan Kerja.
3. Permenakertrans 1/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
4. Permenakertrans 3/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
5. Kepmenaker 333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
6. Kepmenaker 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
7. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
8. Permenaker 1/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Tenaga Kerja
Dengan Manfaat Lebih Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
9. Surar Edaran Menakertrans 01/MEN/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Tempat Makan.
10. Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat
Kerja.
Tanggap Darurat
Pengertian Api
Api adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang
Panas
terbentuk dari 3 unsur (panas, oksigen dan bahan
mudah terbakar ) yang menghasilkan panas dan cahaya.
Pengertian Kebakaran
Nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi
Rantai
Reaksi dan waktu yang tidak dikehendaki yang bersifat
Bahan merugikan dan pada umumnya sulit dikendalikan.
Oksigen
Mudah
Terbakar
Segitiga Api
Tahap–tahap Kebakaran
Muncul
1. Reaksi 3 unsur api.
2. Padam dengan sendirinya apabila tidak dapat mencapai tahap selanjutnya.
3. Menentukan tindakan pemadaman/menyelamatkan diri.
Tumbuh
4. Api membakar bahan mudah terbakar sehingga panas meningkat.
5. Dapat terjadi flashover (ikut menyalanya bahan mudah terbakar lain di sekitar api karena panas).
6. Berpotensi menimbulkan korban terjebak, terluka/kematian bagi petugas pemadam.
Puncak
7. Semua bahan mudah terbakar menyala.
8. Nyala api paling panas dan paling berbahaya bagi siapa saja yang terperangkap di dalamnya.
Reda/Padam
9. Tahap kebakaran yang memakan waktu paling lama.
10. Penurunan kadar O2 atau bahan mudah terbakar secara signifikan yang menyebabkan padamnya
api.
Grafik Tahap-Tahap Kebakaran
11. Terdapatnya bahan mudah terbakar yang belum menyala berpotensi menimbulkan nyala api baru .
12. Berpotensi menimbulkan backdraft (ledakan yang terjadi akibat masuknya pasokan O2 secara
tiba-tiba dari kebakaran ruang tertutup yang dibuka saat kebakaran berlangsung) .
Metode Pemadaman Api
Pendinginan
1. Menghilangkan unsur panas.
2. Menggunakan media bahan dasar air.
Isolasi
3. Menutup permukaan benda yang terbakar untuk menghalangi unsur O2 menyalakan api.
4. Menggunakan media serbuk ataupun busa.
Dilusi
5. Meniupkan gas inert untuk menghalangi unsur O2 menyalakan api.
6. Menggunakan media gas CO2.
Pemisahan
7. Memisahkan bahan mudah terbakar dari unsur api.
8. Memindahkan bahan-bahan mudah terbakar jauh dari jangkauan api.
Pemutusan
9. Memutus rantai reaksi api dengan menggunakan bahan tertentu untuk mengikat radikal bebas
pemicu rantai reaksi api.
10. Menggunakan bahan dasar Halon (Penggunaan Halon sekarang dilarang karena menimbulkan
efek rumah kaca).
Klasifikasi Kebakaran
Pin
Petunjuk Penggunaan :
Tanda Pemasangan APAR Manometer 1. Tarik pin pengunci tuas.
2. Arahkan selang ke pusat
Selang
api.
Nozzle / Corong 3. Tekan tuas pegangan
tabung pemadam.
4. Sapukan secara merata.
Berdasarkan Konstruksi
7. APAR Kartu Gas (Menggunakan tabung gas bertekanan yang dipasang di luar tabung untuk mengeluarkan
isi tabung APAR).
8. APAR Tekanan Tetap (Gas bertekanan untuk mengeluarkan isi APAR dijadikan satu dengan tabung APAR) .
Berdasarkan Penempatan
APAR Gantung dan APAR Troli (dengan roda dorong).
Berdasarkan Kapasitas
APAR Tekanan Tetap
APAR 0.6 kg s.d 90kg.
Fire Protection Type Hydrant
1. Collecting Tank
Fungsi Collecting Tank adalah untuk mengurangi beban sampah
yang terkandung di dalam air limbah
2. Oil Separation Tank
Fungsi Oil Separation Tank adalah untuk menge-trap (menjebak)
lemak yang terkandung di dalam air limbah sebelum dialirkan ke
bak selanjutnya
3. Oil Collecting Tank
Fungsi Oil Collecting Tank adalah untuk menampung sementara
lemak atau grease dari proses Oil Separation Tank
4. Equalisation Tank 1
Fungsi Equalisation Tank 1 adalah sebagai bak pengendapan zat
atau material, seperti : pasir
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
5. pH Adjustment Tank
Fungsi pH Adjustment Tank adalah sebagai bak untuk menetralkan
nilai pH air limbah
6. Equalisation Tank 2
Fungsi Equalisation Tank 2 adalah sebagai bak pengendapan zat atau
material serta menurunkan kandungan BOD (Biological Oxygen
Demand) dan TSS (Total suspended solid) pada air limbah
7. Sedimentation Tank
Fungsi Equalisation Tank 2 adalah sebagai bak pengendapan zat atau
material serta menurunkan kandungan BOD dan TSS pada air limbah
9. Clarifier Tank
Fungsi Clarifier Tank adalah sebagai bak pengendapan lumpur dari
aeration tank
10. Chlorination Tank
Klorinasi bertujuan untuk mengurangi dan membunuh
mikroorganisme patogen yang ada di dalam air limbah
PERJANJIAN KERJASAMA
PELAYANAN PENGELOLAAN DAN PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DI TEMPAT
PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) SAMTAKU DI KELURAHAN JIMBARAN
KECAMATAN KUTA SELATAN KABUPATEN BADUNG
ANTARA
DAN
Pada hari ini Kamis tanggal 2 bulan Maret, tahun 2023 ( 2 - 02 - 2023), bertempat di Kabupaten
Tabanan kami yang bertanda tangan di bawah ini:
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Mengwi, Kec Mengwitani di Kabupaten Badung.
4. PARA PIHAK sepakat untuk mengikatkan dalam Perjanjian Kerjasama tentang Pelayanan
Pengelolaan dan Pemrosesan Sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan
Kerja. ketentuan sebagai berikut: