0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan78 halaman

Training Basic K3

Diunggah oleh

Siska Yuni Fitria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
43 tayangan78 halaman

Training Basic K3

Diunggah oleh

Siska Yuni Fitria
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Training Kesehatan dan

Keselamatan Kerja
By : Hendri Anur, ST

Pengenalan & penerapan Dasar K3 ditempat kerja


PT.UAI 2023
TRAINER RESUME
Pengalaman Kerja
2019 ~ 2020 HSE Officer
PT. NUSA EKA ANDALAN
Project PT. Nissan Motor Indonesia.

2020 ~ 2020 HSE Officer


PT. Grand Principle Mandiri
Project PT. Khohler Manufacturing 2019 2020
Indonesia

2021 ~ 2021 HSE Manager


PT. Daek Yeong Plantec
Project PT. Hyundai Manufacturing
Indoensia

2022 ~ 2022 HSE Coodinator


PT. Centra Multi Elektrindo
Project PT. PLN GI kapal, tanah lot,
antosari
Hendri Anur, S.T
2022 ~ 2022 HSE Coodinator 2021 2022
SPV HSE & UTILITY PT.UAI PT. Enindo Orbitama
Project PT. PLN GI Krian Surabya

2022 ~ Sekarang SPV HSE & Utility


PT. Urban Asia Industri

2022 - Sekarang
SUMMERY PEMBAHASAN

1. SEJARAH K3 5. Metode pengendalian resiko 9. PAK

2. MAKNA LOGO K3 6. 5R & LOTO 10. Kekeselamatan kerja pekerja

3. TUJUAN K3 7. PENGENDALIAN RESIKO 11. Penerapan K3 ditempat Kerja

4. Inccident & Accident 8. FIRE PROTECTION 12. Pengolahan Limbah


SEJARAH K3
Sejarah K3
Sekitar tahun 8 M, Plinius seorang ahli ensiklopedi bangsa Roma
mensyaratkan agar para pekerja tambang diharuskan memakai
tutup hidung.

REVOLUSI INDUSTRI

Aktivitas
Pemanfaatan ilmu
Abad ke- 18 pengetahuan dan
Pekerjaan dilakukan teknologi
secara perorangan/ Terjadi peningkatan
Tahun 1450 Abad 18  Revolusi kelompok kecil angka kecelakaan
Industri Usaha pencegahan
Dominicoz Fontana kecelakaan tidak terlalu
diserahi tugas sulit
membangun obelisk
ditengah lapangan St.
Pieter Roma. Ia selalu
mensyaratkan agar para
pekerja memakai topi
baja.
Sejarah K3
• Tahun 1919 Amerika Serikat memberlakukan “Work
Compensation Law”
“….tidak memandang apakah kecelakaan tersebut terjadi
akibat kesalahan sikorban atau tidak, yang bersangkutan
akan mendapat ganti rugi jika terjadi dalam pekerjaan”
• Di Inggris  harus dibuktikan bahwa kecelakaan
tersebut bukanlah terjadi karena kesalahan si korban.
• H. W Heinrich  titik awal, keselamatan kerja yang terorganisir secara terarah,
prinsip-prinsip yang dikemukakan Heinrich di tahun 1931 di bukunya “Industrial
Accident Prevention”, merupakan unsur dasar bagi program keselamatan kerja
saat ini.
SEJARAH PERKEMBANGAN K3

ZAMAN PURBA INDUSTRIALISASI


 Abad 17 SM  Raja
Perkembangan K3
Hamurabi (Babilonia)
mengikuti penggunaan
 5 abad kmd  Zaman
teknologi (APD, safety
Mosai
device dan alat-alat
 Yunani & Romawi
pengaman)

 Revolusi listrik & mekanisasi


ABAD 18

 Revolusi Inggris
 Compensation Law (AS)
 Indonesia (Pemerintah Hindia
Belanda. ERA MANAJEMEN
 Perubahan sistem kerja - Heirich (1931), teori

TH 1931
Penggunaan tenaga mesin domino
Pengenalan metode baru pengolahan - Bird and German, teori
Loss
bahan baku
Causation Model
Pengorganisasian pekerjaan - ISO, SMK3 dll.
Muncul penyakit yg berhubungan
dgn pemajanan
LOGO K3

Arti ( Makna ) warna hijau Arti ( Makna) tanda palang


Selamat, sehat & sejah tera Bebas dari kecelakaan

Arti (Makna) Roda gigi


Bekerja dengan kesegaran
jasmani & rohani

Arti (Makna) 11 Gerigi roda


Sebalas BAB Undang-undang No.1
Tahun 1970 tentang keselamatan kerja Arti ( Makna) Warna putih
Bersih & suci

Logo K3 ( Kesehatan & keselamatan Kerja


Bentuk lambang berupa palang berwarna hijau dengan roda bergerigi sebelas dengan warna dasar putih
PENGERTIAN K3

Filosofi (Mangkunegara)
Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani
maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya
dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

Keilmuan
Semua ilmu dan penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit
akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.
TUJUAN K3
Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja

01 Melindungi
02 Menjamin
03 Mengingatkan
Melindungi dan menjamin
Menjamin setiap sumber produksi
keselamatan setiap tenaga kerja dan
dapat digunakan secara aman dan Meningkatkan kesejahteraan dan
orang lain di tempat kerja.
efisien. produktivitas Nasional.
Dasar Hukum Penerapan K3 ditempatkerja
A
• UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
1. Tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha.
2. Adanya tenaga kerja yang bekerja di sana.
3. Adanya bahaya kerja di tempat itu.

• Permenaker No 5 Tahun 1996 Tentang Sistem Manajemen K3


Setiap perusahaan yang memperkerjakan 100 tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung
D C potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat
mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit
akibat kerja (PAK).

• Permenaker No 4 Tahun 1987 Tentang Panitia Pembina Keselamatan

dan Kesehatan Kerja (P2K3)


1. Tempat kerja dimana pengusaha atau pengurus memperkerjakan 100 orang atau lebih.

B 2. Tempat kerja dimana pengusaha memperkerjakan kurang dari 100 orang tetapi menggunakan
bahan, proses dan instalasi yang memiliki resiko besar akan terjadinya peledakan, kebakaran,
keracunan dan pencemaran radio aktif.
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

• RUANG LINGKUP

Jenis-jenis usaha (tempat kerja) yang mempunyai


sumber bahaya, yg berkaitan dengan :
- Keadaan mesin,pesawat,alat kerja, peralatan
dan bahan
- Sifat pekerjaan
- Cara bekerja
- Lingkungan
- Proses produksi
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal. 3
• SYARAT-SYARAT K3
• Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat
syarat keselamatan kerja untuk :

Pengendalian berbagai bentuk sumber


bahaya
(18 butir)
POLA PENERAPAN K3

Pasal 4

Pemeriksaan/ Pemeriksaan/ Test


perhitungan pengujian
teknis Berkala

-Pemasangan - Pemakaian
-Pembuatan - Peredaran
Perencanaan - Pengangkutan
-dll

Pengesahan Termasuk
Termasukproduk
produk
Pengesahan dari Luar Negeri
gambar rencana Pemakaian dari Luar Negeri
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal 5 MENAKER
DIREKTUR

PEG. AHLI DOKTER


PENGA K3 PRSH P2K3
WAS

KANDEP LUAR - POLI PRSH Perusahaan


DEPNAKER - JASA KESEH

- INDUSTRI
PEMERINTAH SWASTA
- JASA ----PJIT
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

PENGAWSAN K3

PASAL 5 (1)

PEGAWAI PENGAWAS DAN AHLI KESELAMATAN KERJA


DITUGASKAN MENJALANKAN PENGAWASAN LANGSUNG
TERHADAP DITAATINYA UNDANG UNDANG INI DAN MEMBANTU
PELAKSANAANYA

Dituntut
Dituntut profesional
profesional dan
dan memiliki
memiliki kompetensi
kompetensi ::
•• memahami
memahami peraturan
peraturan dandan standar
standar teknik
teknik K3K3 yang
yang
luas,
luas,
•• ahli
ahli mengidentifikasi
mengidentifikasi sumber
sumber bahaya
bahaya dan
dan
•• ahli
ahli membuat
membuat rekomendasi
rekomendasi syarat
syarat K3
K3 sesuai
sesuai standar
standar
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal 6
Ketentuan banding bagi yang tidak memerima
keputusan direktur
Pasal 7
Pengusaha membayar retribusi yang diatur oleh
peraturan perundangan.
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

• KEWAJIBAN PENGURUS
• Pasal 8
 Pemeriksaan kesehatan badan,kondisi mental dan kemampuan
tenaga kerja :
• Baru
• Yang hendak dipindah ke tugas lain
(yang berpotensi bahaya)
• Berkala min satu tahun sekali
 Oleh Dokter perusahaan (yang dibenarkan oleh Menteri)
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 99 Pembinaan
Pembinaan

• Menjelaskan dan menunjukkan pada tenaga kerja baru :


 Kondisi dan bahaya di tempat kerja
 Semua pengaman dan alat perlindungan yang diharuskan
 Menyediakan APD
 Menjelaskan cara dan sikap bekerja aman
• Mempekerjakan setelah yakin memahami K3
• Melakukan pembinaan
 pencegahan kecelakaan
 pemberantasan kebakaran
 peningkatan K3
 pemberiaan P3K
• Wajib memenuhi dan mentaati syarat K3
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 10
10
P2K3
P2K3((PANTIA
PANTIAPEMBINA
PEMBINAKESELAMATAN
KESELAMATANDAN
DANKESEHATAN
KESEHATANKERJA)
KERJA)

 Fungsi
 Wadah kerjasama peningkatan bidang K3
antara :
- Pihak perusahaan (managemen)
- Pihak pekerja
 Susunan
 Diatur dan tetapkan oleh Menteri
 Peraturan pelaksana Permen No.
04/Men/1987
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 11
11
Kewajiban
Kewajibanmelaporkan
melaporkankecelakaan
kecelakaankerja
kerja

•• Pengurus
Penguruswajib
wajibmelaporkan
melaporkankecelakaan
kecelakaanyang
yangterjadi
terjadi
di
ditempat
tempat kerja
kerja
•• Tata
Tatacara
caraPelaporan
Pelaporandiatur
diaturoleh
olehPeraturan
Peraturan
Perundangan
PerundanganPermen
PermenNo.
No. 03/Men/1998
03/Men/1998
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 12
12
Kewajiban
Kewajiban dan
dan Hak
Hak Tenaga
Tenaga Kerja
Kerja

Kewajiban
Kewajiban Hak
Hak
•• Memberikan
Memberikanketerangan •• Meminta
keterangan Memintapengurus
pengurusuntuk
untuk
pada
padaPegawai
PegawaiPengawas
Pengawas melaksanakan
melaksanakanSyarat
SyaratK3
K3
•• Memakai
MemakaiAPD •• Menyatakan
APD Menyatakankeberatan,
keberatan,
•• Memenuhi
Memenuhidandanmentaati jika
mentaati jikasyarat
syaratK3
K3belum
belum
syarat
syaratK3
K3 terpenuhi
terpenuhi
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 13
13
Barang
Barang siapa
siapa akan
akan memasuki
memasuki tempat
tempat kerja
kerja diwajibkan
diwajibkan
mentaati
mentaati semua
semua petunjuk
petunjuk K3
K3 dan
dan memakai
memakai APD
APD yg
yg
diwajibkan
diwajibkan

Kewajiban
Kewajiban menggunakan
menggunakan
APD
APD yang
yang ditetapkan
ditetapkan
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Pasal
Pasal 14
14
Kewajiban
Kewajiban Pengurus
Pengurus

 Menempelkan UU No. 1 Tahun 1970


 Memasang gambar dan bahan pembinaan K3
 Menyediakan secara cuma-cuma APD dan petunjuk
K3 untuk tenaga kerja dan orang lain
UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

Obyek Pengawasan K3

1.Bangunan tempat kerja


2.Mesin
3.Pesawat
4.Instalasi
5.Alat kerja / perkakas kerja
6.Bahan
7.Lingkungan kerja
8.Sifat kerja
9.Cara kerja
10.Proses produksi
11.Lembaga
12.Tenaga kerja
PRINSIP DASAR PENCEGAHAN
KECELAKAAN KERJA

1. MENEMUKAN FAKTA/MASALAH
 Identifikasi Masalah
2. ANALISIS
 Penilaian Risiko  pemeringkatan risiko
3. PEMILIHAN / PENETAPAN ALTERNATIF /
PEMECAHAN
 Mengendalikan risiko
4. PELAKSANAAN
 Tindakan
5. PENGAWASAN
 Sejauh mana pelaksanaan  tdk menyimpang dari rencana
INCCIDENT & ACCIDENT

Pengertian
Kejadian yang berkaitan dengan pekerjaan dimana cedera,
penyakit akibat kerja (PAK) ataupun kefatalan (kematian)
dapat terjadi (termasuk insiden ialah keadaan darurat).

Nearmiss
Kecelakaan Kerja
Insiden yang menyebabkan cedera, penyakit akibat kerja
(PAK) ataupun kefatalan (kematian).

Nearmiss (hampir celaka)


Insiden yang tidak menyebabkan cedera, penyakit akibat
kerja (PAK) ataupun kefatalan (kematian).

Accident
Piramida Kecelakaan Kerja

Terjadi Setiap
1 Kecelakaan Fatal/Kematian

Di dalamnya terdapat
10 Kecelakaan Ringan Sebelumnya

Yang di dalamnya terdapat Insiden yang menimbulkan kerusakan


30 alat/bahan sebelumnya

Yang di dalamnya terdapat Nearmiss (hampir celaka) Sebelumnya


600
Penyebab Kecelakaan Kerja

Penyebab
Penyebab Penyebab Kecelakaan
Tidak Kerugian
Dasar Langsung Kerja
Langsung

1. Kurangnya 1. Faktor Pekerjaan. 1. Tindakan Tidak 1. Kontak Dengan 1. Manusia (Cedera,


Prosedur/Aturan. 2. Faktor Pribadi. Aman. Bahaya. Keracunan, Cacat,
2. Kurangnya Sarana. 2. Kondisi Tidak 2. Kegagalan Fungsi. Kematian, PAK).
3. Kurangnya Aman. 2. Mesin/Alat
Kesadaran. (Kerusakan
4. Kurangnya Mesin/Alat).
Kepatuhan. 3. Material/Bahan
(Tercemar, Rusak,
Produk Gagal).
4. Lingkungan
(Tercemar, Rusak,
Bencana Alam).

Teori Efek Domino – H.W. Heinrich


Kerugian Kecelakaan Kerja

Biaya Langsung

Rp. 1 Juta
{
1.
2.
Biaya Pengobatan & Perawatan.
Biaya Kompensasi (Asuransi).

Biaya Tidak Langsung


1. Kerusakan Bangunan.

{
2. Kerusakan Alat dan Mesin.
Teori Gunung Es Kecelakaan Kerja Rp. 5 – 50 Juta 3. Kerusakan Produk dan Bahan/Material.
(Biaya Kerusakan Aset 4. Gangguan/Terhentinya Produksi.
Yang Tidak Diasuransikan) 5. Biaya Administrasi.
6. Pengeluaran Sarana dan Prasarana Darurat.
7. Waktu untuk Investigasi.
8. Pembayaran Gaji untuk Waktu Hilang .

{
9. Biaya Perekrutan dan Pelatihan.
Rp. 5 – 3Juta 10. Biaya Lembur.
(Biaya Lain-lain 11. Biaya Ekstra Pengawas.
Yang Tidak Diasuransikan) 12. Waktu untuk Administrasi.
13. Penurunan Kemampuan Tenaga Kerja
yang Kembali karena Cedera.
14. Kerugian Bisnis dan Nama Baik.
Upaya Pencegahan
Kecelakaan Kerja

• Identifikasi dan Pengendalian Bahaya Di


Tempat Kerja
1. Pemantauan Kondisi Tidak Aman.
2. Pemantauan Tindakan Tidak Aman.

• Pembinaan dan Pengawasan


1. Pelatihan dan Pendidikan.
2. Konseling & Konsultasi.
3. Pengembangan Sumber Daya.

• Sistem Manajemen
1. Prosedur dan Aturan.
2. Penyediaan Sarana dan Prasarana.
3. Penghargaan dan Sanksi.
BAHAYA K3

Pengertian Faktor
1. Biologi (Bakteri, Virus, Jamur, Tanaman,
Semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang
Binatang).
berpotensi menimbulkan cedera dan atau penyakit
2. Kimia (Bahan/Material/Cairan/Gas/Uap/Debu
akibat kerja (PAK).
Beracun, Reaktif, Radioaktif, Mudah
Meledak/Terbakar, Iritan, Korosif).
Sumber 3. Fisik/Mekanik (Ketinggian, Konstruksi,
1. Manusia. Mesin/Alat/Kendaraan/Alat Berat, Ruang
2. Mesin. Terbatas, Tekanan, Kebisingan, Suhu, Cahaya,
3. Material. Listrik, Getaran, Radiasi).
4. Metode. 4. Biomekanik (Gerakan Berulang, Postur/Posisi
5. Lingkungan. Kerja, Pengangkutan Manual, Desain Tempat
Keja/Alat/Mesin).
5. Psikologi/Sosial (Stress, Kekerasan, Pelecehan,
Jenis Pengucilan, Lingkungan, Emosi Negatif).
6. Tindakan.
7. Kondisi.
PENILAIAN RESIKO K3

Pengertian Keparahan
Potensi kerugian yang bisa

Sedang
Ringan

Ringan
Sangat

Sangat
Berat

Berat
diakibatkan apabila terdapat kontak dengan
suatu bahaya (contoh : luka bakar, patah
tulang, kram, asbetosis, dsb). Sangat
Sedang Tinggi Tinggi Ekstrim Ekstrim
Sering
Penilaian dan Kategori Sering Sedang Sedang Tinggi Tinggi Ekstrim

Frekuensi
Perkalian antara nilai frekuensi dengan Sedang Rendah Sedang Sedang Tinggi Ekstrim
nilai keparahan suatu resiko.
Jarang Rendah Sedang Sedang Tinggi Tinggi
Sangat
Rendah Rendah Sedang Sedang Tinggi
Jarang
Rendah Perlu Aturan/Prosedur/Rambu

Sedang Perlu Tindakan Langsung

Tinggi Perlu Perencanaan Pengendalian

Ekstrim Perlu Perhatian Manajemen Atas


Pengendalian Resiko K3

Hirarki Pengendalian Resiko/Bahaya


Eliminasi Eliminasi Bahaya

Penggantian Tempat kerja /


Substitusi Alat/Mesin/Bahan/Tempat Kerja Pekerjaan Aman
yang Lebih Aman (Mengurangi
Bahaya)
Modifikasi Alat/Mesin/Tempat

PERLINDUNGAN
KEHANDALAN

Perancangan
Kerja yang Lebih Aman

Prosedur, Aturan, Pelatihan, Durasi


Administrasi Kerja, Tanda Bahaya, Rambu,
Tenaga Kerja Aman
Poster, Label
(Mengurangi
Paparan)
Menyediakan APD kepada Tenaga
Alat Pelindung Diri
Kerja
5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Eliminasi

Subtitusi

Rekayasa Engineering

PERLINDUNGAN
KEHANDALAN

Administrasi

600
APD
5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Eliminasi

Subtitusi

Rekayasa Teknis

Rekayasa Administrasi

Alat Pelindung Diri


5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Contoh :
 Mengganti bahan bentuk serbuk
dengan bentuk pasta
 Proses menyapu diganti dengan
Subtitusi vakum
 Bahan solvent diganti dengan bahan
deterjen
 Proses pengecatan spray diganti
dengan pencelupan
5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Contoh :
 Pemasangan alat
pelindung mesin
Rekayasa Teknis  Pemasangan general
dan local ventilation
 Pemasangan alat
sensor otomatis
5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Contoh :
 Pemisahan lokasi
Rekayasa
 Pergantian shift kerja
Administrasi
 Pembentukan sistem
kerja
 Pelatihan karyawan
5 Metode Pengendalian
Resiko K3

Contoh :
 Helmet
APD  Safety Shoes
 Ear plug/muff
 Safety goggles
Faktor-faktor yg mempengaruhi
kesehatan tenaga kerja
Beban Lingkungan
kerja kerja
-Fisik -Fisik
-Mental
-Kimia
-Biologi
-Ergonomi
-Psikologi
Kapasitas kerja
- Ketrampilan
- Kesegaran jasmani &
rohani
- Status kesehatan/gizi
- usia
- Jenis kelamin
- Ukuran tubuh
Langkah-Langkah
Penerapan 5R
Ringkas
1. Memilah barang yang diperlukan & yang tidak diperlukan.
2. Memilah barang yang sudah rusak dan barang yang masih dapat digunakan.
3. Memilah barang yang harus dibuang atau tidak.
4. Memilah barang yang sering digunakan atau jarang penggunaannya.

Rapi
5. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan alur proses kerja.
6. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan keseringan penggunaannya, keseragaman,
fungsi dan batas waktu.
7. Pengaturan tanda visual supaya peralatan/barang mudah ditemukan.

Resik
8. Membersihkan tempat kerja dari semua kotoran, debu dan sampah.
9. Menyediakan sarana dan prasarana kebersihan di tempat kerja.
10. Meminimalisir sumber-sumber sampah dan kotoran.
11. Memperbarui/memperbaiki tempat kerja yang sudah usang/rusak (peremajaan).

Rawat
Mempertahankan 3 kondisi di atas dari waktu ke waktu.
Penerapan Budaya 5R Di Tempat Kerja
Rajin
Mendisiplinkan diri untuk melakukan 4 hal di atas.
Makna Rambu Di Tempat Kerja

Tanda Larangan Tanda Bahaya

Tanda Sarana
Tanda Sarana Keselamatan, P3K
Darurat Kebakaran dan Evakuasi
Darurat
Label Kemasan Bahan
Beracun Dan Berbahaya (B3)

Mudah
Mudah Meledak Oksidator
Menyala/Terbakar

Korosif Beracun Mengganggu


Pernafasan, Pemicu
Kamker
Contoh Label Kemasan B3

Pencemar
Pemicu Iritasi
GHS (Globally Harmonized System) – UN (United Lingkungan
Nations)

Gas Bertekanan
Label Transportasi Bahan Beracun
Dan Berbahaya (B3)

Sumber : DOT (Department Of Transportation) Amerika


Pengertian
5R adalah cara/metode untuk mengatur/mengelola/mengorganisir tempat
kerja menjadi tempat kerja yang lebih baik secara berkelanjutan.

Budaya 5R Tujuan
Untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas tempat kerja.

Manfaat
1. Meningkatkan produktivitas karena pengaturan tempat kerja yang lebih
efisien.
2. Meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan luas.
3. Mengurangi bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang
bagus/baik.
4. Menambah penghematan karena menghilangkan pemborosan-pemborosan
di tempat kerja.
Makna Label Dan Warna Perpipaan

LABEL PIPA
Gas Bertekanan.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Bahan Mudah Terbakar.
LABEL PIPA
LABEL PIPA Air Yang Dapat Diminum, Air Pendingin, Air
LABEL PIPA Umpan Boiler.
LABEL PIPA Bahan Beracun & Korosif.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Media Pemadam Kebakaran.
LABEL PIPA
LABEL PIPA
Bahan Mudah Menyala.
LABEL PIPA
Sumber : ANSI (American National Standards Intitute) Amerika
Tanda Dan Makna Papan
Informasi Di Tempat Kerja

Petunjuk K3 Informasi Umum / Informasi Bahaya


Pengumuman

Pesan Umum Informasi Fasilitas Informasi Larangan


Radioaktif
Tanda, Makna Warna Dan
Label Di Tempat Kerja
LABEL Batas Area Kerja, Batas Jalur.

LABEL Produk Jadi, Sarana Umum.

LABEL Bahan Baku, Sarana P3K, Keselamatan, Darurat dan Evakuasi.

LABEL Barang Menunggu Diproses Lebih Lanjut (WIP).

LABEL Barang Inspeksi QC.

LABEL Barang Cacat, Barang Tidak Terpakai, Tanda Berhenti.

LABEL Inventaris, Identitas Laci Penyimpanan, Rak, Peralatan, dsj.

Area Terbatas Untuk Untuk Kepentingan Operasional.

Area Terbatas Untuk Untuk Kepentingan Keselamatan.

Zona Berbahaya.
LOTO (Lockout – Tagout)

Pengertian
Suatu prosedur untuk menjamin mesin/alat
berbahaya secara tepat telah dimatikan dan tidak
akan menyala kembali selama pekerjaan
berbahaya ataupun pekerjaan perbaikan dan
perawatan berlangsung sampai dengan pekerjaan
tersebut berakhir.

Prosedur Umum
1. Mengidentifikasi sumber energi.
Peralatan LOTO
2. Mengisolasi dan mematikan sumber energi.
3. Mengunci dan memberi tanda bahaya pada
sumber energi.
4. Memastikan keefektifan isolasi sumber energi.

Tanda LOTO Penerapan LOTO


Izin Pekerjaan Bahaya/Resiko Tinggi

Pekerjaan :
Panas (pengelasan,
gerinda, dsj).
2. Izin kerja
Ketinggian
bertujuan untuk
1. Izin kerja 3. Pengurusan izin (konstruksi/perbaikan
memastikan bahwa
diperlukan untuk kerja dilaksanakan di ketinggian di atas
semua
pekerjaan non-rutin oleh tenaga kerja 2 meter).
kegiatan/kondisi/loka
yang mengandung bersangkutan Listrik (arus besar).
si aman untuk
bahaya/resiko tinggi dengan petugas K3 Galian.
dilangsungkannya
di tempat kerja. Perusahaan. Penggunaan Alat Berat.
pekerjaan
Perbaikan Tangki.
berbahaya/resiko
Peraikan Perpipaan.
tinggi.
Ruang Terbatas.

Izin kerja clear Pengajuan Type pekerjaan


Alat Pelindung Diri (APD)

Kelengkapan wajib
yang digunakan
saat bekerja sesuai Pelindung Kepala Pelindung Mata dan Muka Pelindung Pendengaran

dengan bahaya dan


resiko kerja untuk
menjaga
keselamatan tenaga Pelindung Pernafasan Pelindung Tangan Pelindung Kaki

kerja itu sendiri


maupun orang lain
di tempat kerja. Rompi Nyala

Pelindung Jatuh
Pelampung

Jas Hujan
Pelindung Tubuh
Sabuk Keselamatan
Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Pengertian
Gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan dan atau
diperparah karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan dengan
pekerjaan.
Contoh
Anthrax, Silicosis, Asbestosis, Low Back Pain, White Finger Syndrom, dsb.
Faktor Penyebab
Biologi (Bakteri, Virus Jamur, Binatang, Tanaman) ; Kimia (Bahan Beracun dan
Berbahaya/Radioaktif) ; Fisik (Tekanan, Suhu, Kebisingan, Cahaya) ;
Biomekanik (Postur, Gerakan Berulang, Pengangkutan Manual) ; Psikologi
(Stress, dsb).
Pencegahan
1. Pemeriksaan Kesehatan Berkala.
2. Pemeriksaan Kesehatan Khusus.
3. Pelayanan Kesehatan.
4. Penyedian Sarana dan Prasarana.
Kesehatan Kerja

Pengertian
Penyelenggaraan dan pemeliharaan derajat yang
setinggi-tingginya dari kesehatan fisik, mental dan
sosial dari tenaga kerja pada semua pekerjaan,
pencegahan gangguan kesehatan pada tenaga kerja
yang disebabkan oleh kondisi kerjanya,
perlindungan tenaga kerja dari resiko akibat
faktor-faktor yang mengganggu kesehatan,
penempatan dan pemeliharaan tenaga kerja dalam
suatu lingkungan kerja yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikologisnya, dan sebagai
kesimpulannya merupakan penyesuaian pekerjaan
kepada manusia dan manusia kepada pekerjaanya.
Sumber : Joint ILO-WHO Committee 1995
Kesehatan Kerja (Lanjutan)

Dasar Hukum
1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 8.
2. Permenakertrans 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan
Keselamatan Kerja.
3. Permenakertrans 1/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
4. Permenakertrans 3/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
5. Kepmenaker 333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
6. Kepmenaker 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
7. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
8. Permenaker 1/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Tenaga Kerja
Dengan Manfaat Lebih Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
9. Surar Edaran Menakertrans 01/MEN/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Tempat Makan.
10. Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalam Tempat
Kerja.
Tanggap Darurat

Pengertian Keadaan Darurat Pelaksanaan Tanggap Darurat


Keadaan sulit yang tidak diduga yang
memerlukan penanggulangan segera supaya
Secara Umum
tidak terjadi kecelakaan. 1. Matikan/hentikan seluruh
proses/mesin/aktivitas produksi/kerja.
Ruang Lingkup 2. Segera menuju titik evakuasi dengan
1. Kebakaran yang gagal dipadamkan regu mengikuti jalur evakuasi darurat.
pemadam kebakaran Perusahaan. 3. Selamatkan aset yang memungkinkan untuk
2. Peledakan. diselamatkan.
3. Kebocoran gas/cairan/material berbahaya 4. Tetap tenang dan cepat bertindak.
yang tidak dapat diatasi dalam waktu singkat. 5. Informasikan kepada petugas Tanggap Darurat
4. Keracunan. apabila ada rekan yang masih
5. Bencana Alam. tertinggal/terperangkap/terluka.
6. Perampokan. 6. Tetap di area aman hingga ada instruksi
7. Ancaman Bom. lanjutan dari petugas berwenang.
8. Demonstrasi / Unjuk Rasa.
9. Huru-hara.
Api Dan Kebakaran

Pengertian Api
Api adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang
Panas
terbentuk dari 3 unsur (panas, oksigen dan bahan
mudah terbakar ) yang menghasilkan panas dan cahaya.

Pengertian Kebakaran
Nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi
Rantai
Reaksi dan waktu yang tidak dikehendaki yang bersifat
Bahan merugikan dan pada umumnya sulit dikendalikan.
Oksigen
Mudah
Terbakar

Segitiga Api
Tahap–tahap Kebakaran

Muncul
1. Reaksi 3 unsur api.
2. Padam dengan sendirinya apabila tidak dapat mencapai tahap selanjutnya.
3. Menentukan tindakan pemadaman/menyelamatkan diri.

Tumbuh
4. Api membakar bahan mudah terbakar sehingga panas meningkat.
5. Dapat terjadi flashover (ikut menyalanya bahan mudah terbakar lain di sekitar api karena panas).
6. Berpotensi menimbulkan korban terjebak, terluka/kematian bagi petugas pemadam.

Puncak
7. Semua bahan mudah terbakar menyala.
8. Nyala api paling panas dan paling berbahaya bagi siapa saja yang terperangkap di dalamnya.

Reda/Padam
9. Tahap kebakaran yang memakan waktu paling lama.
10. Penurunan kadar O2 atau bahan mudah terbakar secara signifikan yang menyebabkan padamnya
api.
Grafik Tahap-Tahap Kebakaran
11. Terdapatnya bahan mudah terbakar yang belum menyala berpotensi menimbulkan nyala api baru .
12. Berpotensi menimbulkan backdraft (ledakan yang terjadi akibat masuknya pasokan O2 secara
tiba-tiba dari kebakaran ruang tertutup yang dibuka saat kebakaran berlangsung) .
Metode Pemadaman Api

Pendinginan
1. Menghilangkan unsur panas.
2. Menggunakan media bahan dasar air.

Isolasi
3. Menutup permukaan benda yang terbakar untuk menghalangi unsur O2 menyalakan api.
4. Menggunakan media serbuk ataupun busa.

Dilusi
5. Meniupkan gas inert untuk menghalangi unsur O2 menyalakan api.
6. Menggunakan media gas CO2.

Pemisahan
7. Memisahkan bahan mudah terbakar dari unsur api.
8. Memindahkan bahan-bahan mudah terbakar jauh dari jangkauan api.

Pemutusan
9. Memutus rantai reaksi api dengan menggunakan bahan tertentu untuk mengikat radikal bebas
pemicu rantai reaksi api.
10. Menggunakan bahan dasar Halon (Penggunaan Halon sekarang dilarang karena menimbulkan
efek rumah kaca).
Klasifikasi Kebakaran

Kelas Kebakaran Media Pemadam

A Padat Non Logam Air, Uap Air, Serbuk Kimia, Busa

B Gas/Uap/Cairan Serbuk Kimia, CO2, Busa

C Aliran Listrik Serbuk Kimia, CO2, Uap Air

D Logam Serbuk Kimia Sorium Klorida, Grafit, dsj

E Bahan Radioaktif <Belum Diketahui Secara Spesifik>

K Bahan Masakan Cairan Kimia, Serbuk Kimia, CO2

Sumber : National Fire Protection Association (NFPA) Amerika


Tabung Pemadam / APAR
(Alat Pemadam Api Ringan)

Alat yang ringan serta mudah dilayani untuk satu orang


untuk memadamkan api pada mula terjadi kebakaran.
Tuas

Pin
Petunjuk Penggunaan :
Tanda Pemasangan APAR Manometer 1. Tarik pin pengunci tuas.
2. Arahkan selang ke pusat
Selang
api.
Nozzle / Corong 3. Tekan tuas pegangan
tabung pemadam.
4. Sapukan secara merata.

Pemasangan Tanda APAR Pada Tiang Bagian-Bagian APAR


Jenis-jenis Tabung Pemadam / APAR

Berdasarkan Kelas Kebakaran


1. APAR Kelas A (Kebakaran Padat Non-Logam).
2. APAR Kelas B (Kebakaran Gas & Cairan Mudah Terbakar).
3. APAR Kelas C (Kebakaran Listrik).
4. APAR Kelas D (Kebakaran Logam).
5. APAR Kelas K (Kebakaran Bahan Masakan).
6. APAR Kombinasi (ABC, AB, BC, BK).

Berdasarkan Media Pemadam


APAR Kartu Gas APAR Air, APAR Uap Air, APAR Busa, APAR Serbuk Kimia Kering, APAR Cairan Kimia, APAR Gas CO2,
APAR Halon.

Berdasarkan Konstruksi
7. APAR Kartu Gas (Menggunakan tabung gas bertekanan yang dipasang di luar tabung untuk mengeluarkan
isi tabung APAR).
8. APAR Tekanan Tetap (Gas bertekanan untuk mengeluarkan isi APAR dijadikan satu dengan tabung APAR) .

Berdasarkan Penempatan
APAR Gantung dan APAR Troli (dengan roda dorong).

Berdasarkan Kapasitas
APAR Tekanan Tetap
APAR 0.6 kg s.d 90kg.
Fire Protection Type Hydrant

Formasi Penggunaan Hidran

Perlengkapan Hidran Pilar Hidran Nozzle

Hidran digunakan untuk mengatasi kebakaran besar dengan


sistem serupa keran air dengan tekanan air yang tinggi.
Penggunaan hidran sebagai pemadaman kebakaran harus
memastikan bahwa aliran listrik dimatikan supaya tidak
membahayakan petugas pemadam.
Kewajiban Pengusaha (Pengurus)

1. Menulis dan memasang semua syarat keselamatan kerja yang


diwajibkan pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca
menurut petunjuk pegawai pengawas atau Ahli K3 di tempat kerja
yang dipimpinnya.
2. Memasang semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan
semua bahan pembinaan lainnya pada tempat-tempat yang mudah
dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau Ahli K3
di tempat kerja yang dipimpinnya.
Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang 3. Menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang diwajibkan pada tenaga
Keselamatan Kerja pasal 14
kerja yang dipimpin maupun orang lain yang memasuki tempat kerja
disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut pegawai pengawas
atau Ahli K3 di tempat kerja yang dipimpinnya.
Syarat Dasar K3

1. Mencegah & mengurangi kecelakaan kerja.


2. Mencegah, mengurangi & memadamkan kebakaran.
3. Mencegah & mengurangi bahaya peledakan.
4. Memberi jalur evakuasi keadaan darurat.
5. Memberi P3K.
Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja pasal 3
6. Memberi APD pada tenaga kerja.
7. Mencegah & mengendalikan timbulnya penyebaran suhu,
kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, radiasi,
kebisingan & getaran.
8. Mencegah dan mengendalikan Penyakit Akibat Kerja (PAK)
dan keracunan.
9. Penerangan yang cukup dan sesuai.
Syarat Dasar K3 (Selesai)

10. Suhu dan kelembaban udara yang baik.


11. Menyediakan ventilasi yang cukup.
12. Memelihara kebersihan, kesehatan & ketertiban.
13. Keserasian tenaga kerja, peralatan, lingkungan, cara & proses
kerja.
14. Mengamankan & memperlancar pengangkutan manusia,
binatang, tanaman & barang.
Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja pasal 3 15. Mengamankan & memelihara segala jenis bangunan.
16. Mengamankan & memperlancar bongkar muat, perlakuan &
penyimpanan barang.
17. Mencegah tekena aliran listrik berbahaya.
18. Menyesuaikan & menyempurnakan keselamatan pekerjaan yang
resikonya bertambah tinggi.
Program Training K3 & MCU Karyawan

Trainig 5R Trainig APAR Trainig Hydrant


PROGRAM MCU UNTUK KARYAWAN

Hasil MCU Karyawan


PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

Proses Pemusnahan limbah cair

Sesuai dengan UU No 32 Tahun 2009


tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No
50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Form Pemberitahuan Proses Pemusnahan
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
DIAGRAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

1. Collecting Tank
Fungsi Collecting Tank adalah untuk mengurangi beban sampah
yang terkandung di dalam air limbah
2. Oil Separation Tank
Fungsi Oil Separation Tank adalah untuk menge-trap (menjebak)
lemak yang terkandung di dalam air limbah sebelum dialirkan ke
bak selanjutnya
3. Oil Collecting Tank
Fungsi Oil Collecting Tank adalah untuk menampung sementara
lemak atau grease dari proses Oil Separation Tank

4. Equalisation Tank 1
Fungsi Equalisation Tank 1 adalah sebagai bak pengendapan zat
atau material, seperti : pasir
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

5. pH Adjustment Tank
Fungsi pH Adjustment Tank adalah sebagai bak untuk menetralkan
nilai pH air limbah
6. Equalisation Tank 2
Fungsi Equalisation Tank 2 adalah sebagai bak pengendapan zat atau
material serta menurunkan kandungan BOD (Biological Oxygen
Demand) dan TSS (Total suspended solid) pada air limbah

7. Sedimentation Tank
Fungsi Equalisation Tank 2 adalah sebagai bak pengendapan zat atau
material serta menurunkan kandungan BOD dan TSS pada air limbah

8. Unit Aeration Tank


Aeration Tank berfungsi sebagai pengolahan air limbah secara
biologis yaitu untuk melarutkan udara ke dalam air agar bakteri
aerob menjadi aktif
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

9. Clarifier Tank
Fungsi Clarifier Tank adalah sebagai bak pengendapan lumpur dari
aeration tank
10. Chlorination Tank
Klorinasi bertujuan untuk mengurangi dan membunuh
mikroorganisme patogen yang ada di dalam air limbah

11. Sedimentation Tank


Fungsi dari Sedimentation Tank adalah sebagai sistem pengendapan
zat atau material yang ada pada air limbah

12. Intermediate Tank


Intermediate Tank berfungsi sebagai penampungan sementara air
limbah sebelum dilakukan proses filter
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

13. Multi Media Filter


Multimedia Filter Air adalah jenis pengolahan air dengan proses
penyaringan menggunakan sand filter dan carbon filter

14. Final Tank


Berfungsi untuk menampung effluent hasil pengolahan IPAL

15. Sludge Stabilization Tank


Bak penampung lumpur aktif sementara

16. Sludge Holding Tank


Bak penampung lumpur sementara, yang nantinya akan dibuang
oleh mobil tinja
Proses Pengolahan Limbah Padat

PERJANJIAN KERJASAMA
PELAYANAN PENGELOLAAN DAN PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DI TEMPAT
PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) SAMTAKU DI KELURAHAN JIMBARAN
KECAMATAN KUTA SELATAN KABUPATEN BADUNG
ANTARA

PT . URBAN ASIA INDUSTRI

DAN

PT. RECIKI MANTAP JAYA

NOMOR : 497/UAI/PKS/TBN/III/ 2023

Pada hari ini Kamis tanggal 2 bulan Maret, tahun 2023 ( 2 - 02 - 2023), bertempat di Kabupaten
Tabanan kami yang bertanda tangan di bawah ini:

1. HENDRI ANUR : Supervisor HSE & Utility PT. URBAN ASIA


INDUSTRI, berkedudukan di Br. Pekilen
Desa Selan bawak, Kec. marga kab.
Tabanan bali. PIHAK KESATU.
2. I NYOMAN SUTARMA : Direktur Utama, berkedudukan di Jl. Celagi

Proses Pemusnahan limbah Padat Basur No. 1 Banjar Jerokuta Kelurahan


Jimbaran Kecamatan Kuta Selatan
Kabupaten Badung, dalam hal ini bertindak
untuk dan atas nama PT. RECIKI
MANTAP JAYA, untuk selanjutnya
disebut PIHAK KEDUA.
PIHAK KESATU dan PIHAK KEDUA secara bersama-sama selanjutnya disebut PARA PIHAK
sepakat untuk mengadakan kerjasama dengan terlebih dahulu menerangkan sebagai berikut:
Sesuai dengan UU No 32 Tahun 2009 1. Bahwa PIHAK KESATU, PT. URBAN ASIA INDUSTRI adalah Perusahan kosmetik terbesar
di Indonesia timur yang memproduksi produk-produk kecantikan, seperti scincare, bodylation,

tentang Perlindungan dan Pengelolaan ddl.


2. Bahwa PIHAK KEDUA, Direktur Utama PT Reciki Mantap Jaya adalah perusahaan yang akan
melaksanakan pelayanan pengolahan dan pemrosesan sampah domestik dari kegiatan industri dari
Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah No PT. URBAN ASIA INDUSTRI di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) SAMTAKU
Desa Mengwi, Kec Mengwitani di Kabupaten Badung.
3. Bahwa PIHAK KESATU sebagai pihak yang menghasilkan Sampah domestic dari kegiatan
50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem industi di area PT. URBAN ASIA INDUSTRI menunjuk PIHAK KEDUA sebagai pihak yang
memberikan pelayanan pengolahan dan pemrosesan sampah domestik di Tempat Pengelolaan

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Mengwi, Kec Mengwitani di Kabupaten Badung.
4. PARA PIHAK sepakat untuk mengikatkan dalam Perjanjian Kerjasama tentang Pelayanan
Pengelolaan dan Pemrosesan Sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan
Kerja. ketentuan sebagai berikut:

Pembuatan MOU PT. RECIKA MANTAP JAYA


Form Pemberitahuan
PENGOLAHAN LIMBAH NON B3

Bahan Baku Rijek Tempat timbang Proses Pengumpulan Hasil pemusnahan


PENGOLAHAN LIMBAH NON B3

Sampel bahan baku rijek Proses pengolahan


DEPT HSE & UTILITY
TERIMAKASIH BANYAK

Anda mungkin juga menyukai