Anda di halaman 1dari 38

SEJARAH SINGKAT PERJUANGAN PARA WALIDAN ULAMA

Karya tulis ini disusun guna memenuhi tugas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu oleh Ibu Ningsih

Disusun oleh: 1. 2. 3. 4. 5. Lilin Mungazza Millata S Madina Futia Aziz A Maulatul Izza Mita Pravita Sari Nur Hidayah

SMP TAKHASUS AL-QURAN KALIBEBER MOJOTENGAH WONOSOBO TAHUN AJARAN 2012/2013

PENGESAHAN

Karya tulis yang berjudul Sejarah Perjuangan Para Wali dan Ulama ini disetujui dan disahkan pada:

Hari Tanggal Tempat

: : :

Wonosobo,

Januari 2013

Mengetahui,

Pembimbing

Wali Kelas

KHOLID HASAN, ST

SLAMET RIYONO

Kepala Sekolah

M. NGAFAN MASTUR, S.S

ii

MOTTO

1. Kesempatan datangnya seperti awan, akan cepat berlaku dan hilang. Oleh karena itu pergunakanlah selagi tampak di hadapanmu. 2. Janganlah engkau menyesal terhadap kegagalan adalah awal dari kesuksesan. 3. Sebaik-baiknya anak ialah anak yang mau mendoakan orang tua dan kerabatnya. 4. Kejujuran akan membawa kita ke dalam kemakmuran. 5. Ziarah mengigatkan kita akan kehidupan sesudah mati.

iii

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini penulis persembahkan kepada: 1. Kedua orang tua kami yang sangat kami sayangi. 2. Bapak Kepala Sekolah, Bapak Ibu Guru serta Karyawan yang telah menyelenggarakan kegiatan Ziarah ke Makam Walisongo serta pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kegiatan yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. 3. Bapak Slamet Riyono, selaku wali kelas IX D. 4. Teman-teman seperjuangan yang kami banggakan. 5. Adik kelas yang tercinta. 6. Pembaca yang budiman.

iv

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Segala puja dan puji syukur kita panjatkan atas ke hadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah kegiatan ZIARAH WALISANGA ini tanpa suatu halangan apapun. Dalam penyusunan karya ilmiah ini, kami berusaha agar dapat menyajikan sesempuma mungkin, namun keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki maka penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan kami terima dengan lapang dada demi menuju kesempumaan karya ilmiah ini. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besamya kepada semua pihak yang telah bersedia membantu dalam penulisan karya ilmiah ini yang mana ucapan terima kasih ini kami sampaikan kepada :
1. 2.

Orang tua yang sangat kami sayangi. Bapak M. Ngafan Mastur, S.S., selaku Kepala Sekolah SMP Takhassus AlQuran.

3. 4.

Bapak dan Ibu Guru serta Karyawan SMP Takhassus A1-Quran. Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan karya ini. Harapan kami semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi

kami semuanya khususnya dan pembaca pada umumnya. Amiin. Wassalamuialaikum Wr. Wb

Kalibeber, ......... Januari 2013

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ HALAMAN MOTTO ............................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................ KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... A. Latar Belakang ....................................................................... B. Tujuan .................................................................................... C. Metode ................................................................................... BAB II PEMBAHASAN ....................................................................... A. Sejarah Singkat Perjuangan Para Wali dan Ulama ............... 1. Almaghfurllah Syekh KH. Muntaha Al-Hafidz 2. Sulatan Demak (Raden Patah) ........................................ 3. Sunan Kalijaga ................................................................ 4. Sunan Kudus .................................................................... 5. Sunan Muria .................................................................... 6. Sunan Bonang ................................................................. 7. Sunan Drajad .................................................................. 8. Sunan Giri ....................................................................... 9. Sunan Gresik .................................................................. 10. Sunan Ampel .................................................................. 11. K.H. Muhammad Kholil ................................................. 12. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ............................. B. Pengaruh Peninggalan Para Wali dan Ulama bagi Masyarakat 1. Pengaruh bersifat fisik .................................................... 2. Pengaruh bersifat non fisik .......................................... C. Sifat dan sikap para wali dan ulama yang patut diteladani Dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan Bernegara ............................................................................. BAB III PENUTUP ............................................................................... A. Kesimpulan ............................................................................ B. Saran ...................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. BIODATA PENYUSUN ....................................................................... i ii iii iv v vi 1 1 1 1 3 3 4 5

6 7 9 10 11 12

14 14

15 16 16 16 17

vi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berdasarkan hasil keputusan dan Rapat Dewan Guru SMP Takhassus Al-Quran, bahwasanya pada tanggal 16 sampai 18 Desember 2013 akan diadakan ziarah ke makam para wali dan ulama yang merupakan Program Tahunan sekolah yang diharap bisa diikuti oleh semua para siswa dan siswi dalam membuat karya ilmiah yang merupakan salah satu Ujian Praktek Bahasa Indonesia. Maka dari itu kami berusaha sebaik mungkin menyelesaikan tugas ini. Dengan disusunnya karya ilmiah ini, penulis harap juga dapat sedikit menjelaskan dan mengulas tentang peijuangan para wali dan ulama dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa ini pada khususnya dan di seluruh Nusantara pada umumnya. Agar dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis khususnya maupun bagi pembaca, dengan ini juga penulis ingin mewujudkan angan-angan dan cita-cita.

B. Tujuan Karya ilmiah ini disusun sebagai salah satu Ujian Praktek Bahasa Indonesia dan sebagai penambah wawasan bagi pembaca.

C. Metode Dalam penulisan karya ilmiah ini, kami menggunakan metode sebagai berikut: 1. Metode Pustaka Kami memperoleh bahan ini dengan membaca beberapa buku, di antaranya : Kisah Perjuangan Hidup Walisongo Biografi K.H. Muntaha Al-Hafidz

vii

2.

Metode Observasi Selain membaca buku kami juga datang ke makam-makam para wali secara langsung

viii

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat Perjuangan Para Wali Dan Ulama 1. Syekh KH. Muntaha Alh K.H. Muntaha Al-Hafidz atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Mun adalah seorang ulama legendaris dan kharismatik, lahir pada tanggal 9 Juli 1912 dari pasangan K.H. Asyari dan Nyai Hj. Safinah. Berdasarkan informasi dari berbagai pihak, K.H. Muntaha Al-Hafidz bukan keturunan keluarga biasa, beliau adalah keturunan keluarga bangsawan, yaitu keturunan dari Raden Wijaya, yang mana Raden Wijaya adalah salah satu seorang pengawal dari Pangeran Diponegoro yang berhasil meloloskan diri dari kejaran tentara Belanda di Magelang Jawa Tengah. Pertama kali Mbah Mun Al-Hafidz memperoleh pendidikan adalah tidak lain dari ibunya sendiri. Beliau belajar Al-Quran pertama kali kepada ibunya sampai fasih membaca Al-Quran. Di samping memperoleh pendidikan dari ibunya, beliau juga memperoleh pelajaran agama Islam dari sang ayah, K.H. Asyari. Setelah usianya menginjak remaja, beliau dikirim untuk belajar di Madrasah Darul Maarif, Banjamegara. Madrasah Darul Maarif pada masa itu merupakan lembaga pendidikan Islam modern yang diasuh oleh K.H. Fadlulloh, seorang ulama yang berasal dari Singapura. Menurut penuturan dari K.H. Khabibullah Idris, belakangan diketahui bahwa K.H. Fadlulloh adalah masih satu rumpun keturunan dari K.H. Nida Muhammad, akan tetapi pada masa nyantri di Banjamegara tersebut belum diketahui bahwa antara guru dan murid ada hubungan keturunan. Selepas dari Banjamegara, K.H. Muntaha Al-Hafidz melanjutkan pendidikan Tahfidzul Quran di Pondok Pesantren Kauman Kaliwungu, Kendal kepada K.H. Utsman. Di Pesantren Kaliwungu inilah K.H. Muntaha Al-Hafidz dapat menyelesaikan hafalan Al-Qurannya. Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal adalah merupakan pondok pesantren besar di ix

wilayah Kabupaten Kendal, yang lebih menitikberatkan pada ilmu pengetahuan dan pengkajian Kitab Kuning dan A1-Quran. Selepas belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu, K.H. Muntaha meneruskan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Di Krapyak, K.H. Muntaha belajar mengenai llmu-ilmu keA4- Quran-a kepada K.H. Munawwir. K.H. Munawwir adalah seorang ulama, yang dikenal alim dalam bidang Al-Quran. Untuk

menyempumakan pengetahuan dan ilmu-ilmu agama, K.H. Muntaha melanjutkan pendidikannya di Termas, Pacitan, Jawa Timur. Di Pesantren Termas, K.H. Muntaha belajar ilmu-ilmu agama, kepada K.H. Dimyati. Sebagaimana diketahui, Pondok Pesantren Termas merupakan pondok pesantren besar di wilayah Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1950, K.H. Muntaha pulang kampung, untuk mengembangkan pesantren keluarganya di Kalibeber. Dengan latar belakang dan pengalaman pendidikan yang cukup beraneka ragam, K.H. Muntaha berkeinginan untuk memadukan berbagai pengalaman di antara lembaga pendidikan yang pemah dipelajarinya. Salah satu hal menarik dari pemikiran K.H. Muntaha Al-Hafidz adalah perpaduan antara pendidikan keagamaan dengan pendidikan formal, yang di beberapa pondok belum sepenuhnya diterima. Tetapi ternyata, K.H. Muntaha mampu mengembangkan sistem pendidikan ini, seperti diketahui bahwa lembaga pendidikan seperti SMP, SMA, SMK adalah lembaga pendidikan formal di Pondok Pesantren Al-Asyariyyah yang menekankan ketakhassusan Al-Quran dan juga pengetahuan modem. Tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan baik agama maupun umum sampai kepada kunjungan beliau ke beberapa negara yang kaya akan ilmu pengetahuan, seperti Istambul (Turki) di Cina. Kunjungan beliau ke negara Cina adalah sebagai bukti keingintahuan beliau terhadap

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negeri itu. Beliau mengatakan bahwa Nabi pemah bersabda : Carilah ilmu sampai ke negeri

Cina (Al-Hadits). Dari Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa umat Islam agar selalu mencari ilmu, sekalipun tempatnya itu jauh. Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang kekal, kodrat manusia adalah kembali kepada-Nya, begitu juga dengan K.H. Muntaha. Setelah melakukan perjuangan yang cukup lama akhimya pada hari Rabu, 29 Desember 2004, beliau mendapatkan ketenangan abadi di sisi Allah SWT, dan jasadnya sekarang dimakamkan di Dero, Mojotengah, Wonosobo. 2. Sultan Demak (Raden Patah) Raden Patah adalah pendiri dan raja pertama di Demak. Pada masa pemerintahan Raden Patah, Demak megalami perkembangan pesat dengan bantuan para Wali. Atas perintah Sunan Ampel, Raden Patah ditugaskan mengajarkan agama Islam serta membuka pesantren di Desa Glagah Wangi. Sekitar tahun 1475 M, Raden Patah mulai melaksanakan perintah gurunya dengan membuka madrasah atau pondok pesantren. Rupanya Raden Patah menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Lama kelamaan Desa Glagah Wangi ramai dikunjungi orang bahkan menjadi pusat perdagangan dan akhimya menjadi pusat Kerajaan Islam pertama di Jawa. Dalam perkembangannya, Desa Glagah Wangi dijadikan ibukota negara dengan nama Bintoro Demak. Mengenai nama Bintoro ini terdapat berbagai pendapat yang berbeda-beda, di antaranya : a. Menurut keterangan Dr. R.M. Soetjipto Wirjosoeparto Demak berasal dari bahasa Kawi yang artinya ialah pegangan (pemberian) dan kata Bintoro yang rupanya berhubungan dengan perkataan Betoro yang merupakan gelar dari Dewa Syiwa. b. Menurut Prof. Dr. R. Ng. Berbatjara Menurut bahasa Jawa Kuno, Demak itu artinya hadiah, sedangkan menurut pendapat Hamka, Demak itu berasal dari bahasa Arab, yaitu Dama yang artinya air mata.

xi

c.

Menurut H. Oemar Hoesin Demak berasal dari bahasa Arab Dimyak, yaitu suatu kota di Mesir, karena pada zaman Khalifah Fatimiyah, guru-guru agama banyak yang datang ke Indonesia adalah dari sana. Akan tetapi, menurut pendapat penulis, Demak berasal dari bahasa

Arab yang artinya Rawa. Hal itu terbukti dari sebagian wilayah Demak berupa rawa-rawa. Dan kerajaan Islam pertama di Jawa yang berdiri sekitar tahun 1478 M, hal ini didasarkan atas jatuhnya Kerajaan Majapahit yang diberi tanda Candrasengkala. Akan tetapi ada pula yang mengatakan, bahwa Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1518 M. Adapun alasannya ialah karena pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya II, yang kalah perang dengan tentara Raden Patah dari Demak. Banyak para ahli sejarah yang berselisih mengenai pendapat tentang tahun berdirinya Kerajaan Demak. Mungkin pada waktu itu Kerjaan Demak berdiri pada tahun 1478 M akan tetapi baru diakui sah berdirinya oleh para ahli sejarah pada tahun 1518 M. Berdirinya Masjid Agung Demak Berdirinya Masjid Agung Demak adalah berhubungan rapat dengan berdirinya sejarah kerajaannya. Demak merupakan dari kegiatan para Wali dalam mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di Jawa. Setelah riwayat mengatakan, bahwa Masjid Agung Demak itu didirikan pada hari Kamis Kliwon malam Jumat bertepatan dengan tanggal 1 Dzulqodah tahun Jawa 1428. Akan tetapi di samping itu ada pula pendapat lain tentang berdirinya Masjid Agung Demak. a. Pendapat yang mengatakan bahwa Masjid Agung Demak itu didirikan pada tahun Saka 1388, berdasarkan (angka Sengkala X) Naga Salira Wani, yaitu pengambilan dari gambar petir yang ada di pintu tengah.

xii

b.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa Masjid Agung Demak itu didirikan pada tahun Saka 1410, berdasarkan gambar bulus yang terdapat di penginapan masjid. Menurut kepercayaan setempat, Masjid Agung Demak memang

didirikan para Wali Wasa dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dengan menjadikan Demak sebagai pusatnya. 3. Sunan Kalijaga R.M. Syahid atau yang kemudian bergelar Sunan Kalijaga adalah putra dari Ki Tumenggung Wilatika, Bupati Tuban. Adapun yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah R. Sahur Tumenggung Wilatikta. Dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga memperoleh 3 orang putra, yaitu : a. R. Umar Said (Sunan Muria) b. Dewi Rukayah, dan c. Dewi Sofiah Di antara para Walisongo, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, beliau juga terhitung seorang "Reizende Muballigh" i Muballigh Keliling). Kaum cendekiawan dan bangsawan amat simpatik kepada beliau karena caranya beliau dalam menyebarkan agama Islam yang disesuaikan dengan aliran zaman. Beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Karena masih banyak yang suka kepada pertunjukan wayang, gemar akan gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya. Sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah satu muballigh. Sunan Kalijaga hingga saat ini namanya masih tetap harum sebagai pujangga, beliau telah banyak mengarang cerita-cerita. Di samping itupun beliau berjasa bagi perkembangan dan kehidupan wayang kulit yang sekarang ini. xiii

Sunan Kalijaga adalah pengarang dan kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta diberi jiwa agama. Pada waktu itu para Walisongo belum menemukan cara yang tepat dalam menyebarkan agama Islam. Namun Sunan Kalijaga adalah seorang yang berjiwa besar dan berwawasan luas, serta mampu menentukan cara yang tepat dalam menyebarkan agama Islam. 4. Sunan Kudus Beliau terlahir sebagai putra R. Usman Haji yang mempunyai sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Beliau adalah Jafar Shodiq atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Dalam sejarah kita kenal pula seorang wali yang terkenal di Iran, yang hidup dalam abad VIII yang namanya Jafar Shodiq, seorang imam Syiah yang keenam. Semasa hidupnya beliau mengajarkan agama Islam di daerah Kudus, khususnya Jawa Tengah pesisir utara umumnya. Beliau adalah ulama besar yang terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama, terutama dalam fak-fak ilmu tauhid, usul, hadits, sastra mantiq dan lebihlebih di dalam ilmu fiqih, oleh karena itu beliau diberi gelar Waliyyul Ilmi. Beliau juga termasuk pujangga yang berinisiatif mengarang ceritacerita pendek yang berfilsafat serta berjiwa agama. Di antara buah citaannya yang dikenal ialah Gending Maskumambang dan Mijil. Di Iran beliau juga terkenal dalam soal hukum maupun ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Jafar Shodiq yang kita kenal di Iran sebagai Wali, seorang imam dari golongan Syiah yang amat dipuja kiranya bukanlah Jafar Shodiq yang kita kenal sebagai Sunan Kudus. Di antara peninggalan beliau yang paling terkenal adalah Masjid Menara Kudus, karena di halamannya terdapat sebuah menara kuno yang indah. Menurut cerita adalah dahulu Sunan Kudus pergi haji sambil menuntut ilmu di tanah Arab. Kemudian beliau juga mengajar di sana. Kemudian di Tanah Arab terjangkit wabah penyakit yang membahayakan. Kemudian penyakit tersebut reda berkat Sunan Kudus. Maka seorang Amir berkenan xiv

memberikan hadiah, namun beliau menolak hanya meminta kenangkenangan sebuah batu. Konon batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis/Jerussalem. Maka sebagai peringatan kepada kita di mana Jafar Shodiq hidup, kemudian diberi nama Kudus. Bahkan menara yang terdapat di depan masjid itu juga diberi nama Menara Kudus. Adapun mengenai nama Kudus (Al-Kudus) ini di dalam buku Encyclopedia Islam yaitu sebagai berikut: Al-Kudus, the usual arabic name for Jerussalem in later times to older writers call in commonly Bait al-Makdis (according to soma: Mukaddas) with really meant the temple (of Solomon) a translation of the Hebre Bethamikdath, but is because applited to the whole town. Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidaklah berbeda dengan para Wali lainnya, yaitu senantiasa dipakai jalan kebijaksanaan. Dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat diajak memeluk agama Islam. 5. Sunan Muria Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga, nama aslinya yaitu Raden Umar Said. Sunan Muria adalah seorang Wali yang menciptakan Gending Sinom dan Kinanthi yang tetap mempertahankan sebagai alat kesenian Jawa yang bisa diwamai dengan unsur-unsur Islam sebagai sarana berdakwah. Pada saat itu Sunan Muria sedang menyebarkan agama Islam di Malang Selatan. Pada saat itu orang-orang Malang Selatan banyak yang mengakui Islam KTP, misalnya kalau ada orang yang meninggal dunia mereka akan mengadakan selamatan dan menyediakan sesajen untuk si mati. Selamatan tersebut sering disebut kenduri atau kenduren. Ada upacara selamatan yang dilakukan menjelang jenazah si mati

xv

diberangkatkan ke kuburan, ada yang dilaksanakan sesudah penguburan mayat. Jaman dulu (Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme) kalau ada orang mati, pihak keluarga di rumah menyediakan sesaji untuk si mati. Pihak keluarga di rumah akan menyediakan sesaji di kuburan. Ada yang dilaksanakan sesudah penguburan mayat. Jaman dulu (Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme) kalau ada orang mati, pihak keluarga akan menyediakan sesaji di kuburan. Ada istilah selamatan ngesor tanah (kenduren setelah mengubur mayat), ada istilah nelong dinani (kenduren setelah tiga hari mengubur mayat), ada istilah mitung dinani (kenduren setelah tuju hari mengubur mayat), ada istilah matang puluh, nyatus dina, mendak pisan, mendak pindo dan istilah nyewu atau seribu hari kematian si mayit. Adat istiadat tersebut sangat sukar dihilangkan begitu saja. Maka Sunan Muria memberi wama Islam. Dengan demikian tidak teijadi kontradiksi di dalam masyarakat. Wama Islam yang dimaksud adalah upacara yang sekarang disebut tahlil, yaitu niatnya bersedekah untuk si mayit dengan cara memberikan kalimat tayyibah serta ayat-ayat AlQuran. Ini dimaksudkan untuk menggantikan doa mantra yang biasa diucapkan para pendeta. Sedang pahalanya diberikan kepada orang yang mati. Kalau upacara selamatan itu langsung dihilangkan atau diberantas, rakyat pasti akan marah karena masih belum mengerti dengan dalam syariat dan aqidah Islam yang sesungguhnya. Maka selamatan boleh tetap diadakan namun upacara pembakaran kemenyan dan membuat sesajen dihilangkan, diganti dengan bacaan dzikir dan ayat-ayat Al-Quran serta salawat Nabi. Demikian pula adat selamatan bila si ibu mengandung maupun melahirkan bayi. Hal itu diberi warna Islam, biasanya dengan cara membaca salawat Nabi. Demikian perjuangan Sunan Muria di Malang Selatan.

xvi

6. Sunan Bonang Sunan Bonang adalah putra dari Sunan Ampel. Beliau memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau salah seorang besar yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki daerah Minangkabau dan berpangkat Makdum. Beliau rupanya Makdum Islam yang datang ke Malaka pada abad XV ketika Malaka mencapai puncak kejayaan. Selain sebagai Putra Sunan Ampel, beliau juga sebagai muridnya. Adapun daerah operasinya di Jawa Timur. Di sanalah beliau mulai berjuang menyebarkan agama Islam. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, seorang putra dari Arya Teja, salah seorang Tumenggung Majapahit yang berkuasa di Tuban. Menurut prediksi, Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M, dan wafat pada tahun 1525 M. Maulana Makdum Ibrahim, semasa hidupnya giat sekali

menyebarkan agama Islam di sekitar Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitamya. Sebagaimana halnya ayahnya, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantren di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. Beliau ini juga yang menciptakan Gending Dharma, setelah berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan orang Hindu, serta namanama Dewa diganti dengan nama-nama Malaikat dan Nabi-nabi. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang kenal dan masuk Islam. Menurut filsafat Ketuhanannya adalah : Adapun pendirian saya ialah bahwa iman, taubid/makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempuma. Sekiranya orang hanya mengenak makrifat saja, maka belumlah cukup sebab ia masih insaf akan itu. Maksud saya ialah, bahwa kesempumaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi pada Tuhan. Seseorang itu tidak mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tidak mempunyai kemauan. Dan seseorang itu diumpamakan Buta, Tuli, Bisu. Segala gerakannya itu datang dari Allah. xvii

Ada juga kitab yang disebut Suluk Sunan Bonang yang berbahasa prosa Jawa Tengahan, namun terpengaruh dengan bahasa Arab. Isinya adalah ajaran Islam, kemungkinan besar adalah pelajaran yang diajarkan kepada murid-muridnya. Pada masa hidupnya Sunan Bonang pemah pergi belajar ke Pasai. Dan sepulangnya ia memasukkan ajaran Islam ke kalangan bangsawan Keraton Majapahit serta mempergunakan Demak sebagai tempat berkumpul murid-muridnya. Siasat Sunan Bonang ialah memberi didikan Islam kepada Raden Patah putra dari Brawijaya VI di Kerajaan Majapahit. Rupanya Sunan Bonang berhasil mendirikan Kerajaan Islam di Demak. Hanya sayang sekali harapan beliau agar supaya Demak dapat menjadi pusat agama Islam untuk selama-lamanya kiranya tidak berhasil. 7. Sunan Drajad Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Qosim, dan ada juga yang menyebut Raden Syarifudin. Beliau adalah putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati yang lahir di Surabaya. Raden Qosim ditugaskan ayahnya berdakwah di sebelah barat Surabaya, tepatnya di daerah Drajad sehingga terkenal dengan sebutan Sunan Drajad. Beliau berangkat dengan menaiki perahu melalui Gresik menuju ke arah Barat. Dalam perjalanan melalui laut itu, perahu yang dinaiki Raden Qosim diserang badai sehingga hancur dan karam. Dalam keadaan kritis tersebut, Raden Qosim ditolong Ikan Talang. Dengan naik punggung ikan itu beliau dapat selamat dari keganasan ombak laut. Ikan itu membawa beliau ke tepi pantai di Dusun Jelag Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Di sana beliau membuka sebuah pesantren, karena cara dakwah yang lunak, tutur kata dan budi bahasa yang halus, serta sikap yang sopan dan ramah-tamah, maka banyak orang-orang yang berdatangan untuk berguru kepada beliau. Selama satu tahun di Jelag, Raden Qosim mendapat petunjuk agar menuju ke selatan. Di sana beliau mendirikan langgar untuk berdakwah. xviii

Lalu tiga tahun kemudian, beliau mendapat petunjuk dari Allah agar mencari tempat strategis untuk berdakwah, yaitu sebuah bukit yang kemudian dinamakan Dalem Duwur. Sekarang di tempat itu didirikan museum yang cukup megah. Letak museum itu tidak jauh dari makam beliau. Di tempat yang disebut Dalem Duwur itu, para pengikut Raden Qosim semakin banyak, karena cara menyiarkan agama Islam yang dilakukan dengan cara damai. Orang dikumpulkan dengan cara menambah seperangkat gamelan, kemudian baru diberi ceramah agama Islam. Makin hari nama Raden Qosim semakin terkenal. Orang-orang semakin menaruh hormat kepadanya, derajatnya makin tinggi, lagi pula beliau tinggal di tempat yang tinggi (bukit) maka masyarakat sekitar kemudian menyebutkan Sunan Drajad. Di antara terjemahan ajaran Sunan Drajad yang terkenal untuk menganjurkan masyarakat agar berjiwa sosial adalah : a. b. c. d. Berikanlah tongkat kepada orang yang buta. Berikanlah makan kepada orang yang lapar. Berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang. Berikanlah tempat berteduh kepada orang yang kehujanan. Itulah ajaran Sunan Drajad yang terkenal di kalangan rakyat. Sunan Drajad dikenal sebagai salah seorang anggota Walisongo, dan ikut mendirikan Kerajaan Islam Demak. Makam beliau terletak di Desa Drajad Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. 8. Sunan Giri Jaka Samudra, Prabu Sakmaka yang berjiwa seni adalah sebutan dari Sunan Giri. Beliau adalah putra Syekh Maulana Ishaq atas perkawinannya dengan Dewi Sekardadu, putri dari Prabu Menak Sembayu, raja dari Negeri Blambangan. Waktu itu Negeri Blambangan sedang dilanda musibah, yaitu berupa wabah penyakit yang menyerang

xix

rakyat dan Dewi Sekardadu. Wabah itu dapat dihentikan oleh Syekh Maulana Ishaq. Putri Raja Blambangan atau Dewi Sekardadu dapat disembuhkan, raja dan permaisuri sangat gembira. Akhimya seluruh rakyat Blambangan masuk Islam dan Syekh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardadu. Ketika Dewi Sekardadu hamil 7 bulan, Syekh Maulana Ishaq berpamitan akan pergi ke Negeri Pasai. Syekh Maulana Ishaq berpesan jika lahir anak laki-laki diberi nama Raden Paku. Patih Banjul menyebar fitnah kepada Prabu Menak Sembayu bahwa wabah penyakit dayang kembali akibat anak yang dikandung oleh Dewi Sekardadu dan menghasut Raja Blambangan untuk menyingkirkan bayinya. Akhimya Raja Blambangan mengutus prajurit memasukkan bayi yang baru beberapa hari itu ke dalam peti dan dibuangnya ke laut. Setelah kejadian itu Dewi Sekardadu jatuh sakit dan akhimya meninggal. Telah cukup umur, akhimya Jaka Samudra dititipkan oleh Sunan Ampel dan menatap di pesantren Sunan Ampel. Keajaiban pun terjadi pada diri Jaka Samudra, pada waktu tertidur terlihat cahaya yang memancar pada diri seorang santri Sunan Ampel yang tidak lain adalah Jaka Samudra. Sunan Ampel semakin memberi perhatian khusus kepada Jaka Samudra. Atas pertemuan itu akhirnya diketahui bahwa Jaka Samudra adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq. Sesuai apa yang diwasiatkan oleh Syekh Maulana Ishaq kepada Sunan Ampel maka nama Jaka Samudra diubah menjadi Raden Paku. 9. Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim) Menurut dari beberapa sumber sejarah, bahwasanya Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Gujarat, ada yang mengatakan dari Iran serta ada juga yang mengatakan dari Arab dan Turki. Beliau masih keturunan Zainal Abidin bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a.

xx

Pada tahun 1404 M, beliau menyiarkan agama Islam ke Pulau Jawa tepatnya di Kota Gresik, Jawa Timur. Pada saat itu juga Jawa masih dikuasai Kerajaan Majapahit. Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut juga Kakek Bantal karena seorang tokoh ahli tata negara. Pada saat itu masyarakat Jawa mayoritas masih beragama Hindu dan Budha, maka tentu saja untuk menyampaikan agama Islam kepada mereka harus

membutuhkan pengalaman yang cukup dan bijaksana serta kesabaran. Agama dan adat istiadat mereka tidak ditentang dengan begitu saja. Beliau memperkenalkan budi pekerti yang diajarkan Islam dan juga secara langsung beliau memberi contoh dalam masyarakat akan tutur kata yang sopan, lemah lembut, dan santun pada fakir miskin, menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi yang muda, sehingga dikatakan rakyat, beliau tersohor sebagai orang yang baik budinya dan dermawan. Syekh Maulana Malik Ibrahim dan para pengikutnya menyebarkan Islam di daerah Gresik dan sekitarnya sampai wafatnya beliau. Beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal tahun 822 H atau 1419 M. Beliau dimakamkan di Gresik. Dan pada batu nisan beliau tertulis dengan tulisan Arab yang terdiri dari : a. Surat Al-Baqarah ayat 255 b. Surat Al-Imron ayat 185 c. Surat Ar-Rahman ayat 26 dan 27 d. Surat At-Taubah ayat 21 dan 22 10. Sunan Ampel Nama asli Sunan Ampel adalah Sayyid Ali Rahmatullah atau biasa dikenal Raden Rahmat. Beliau lahir di Campa pada tahun 1401. Ayahnya bernama Syekh Ibrahim As-Samarqandi dan ibunya bernama Dewi Candrawulan, putri Raja Campa. Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat pada tahun 1919, para wali kebingungan untuk mencari penggantinya. Atas usul Syekh Maulana Ishaq, Raden Rahmat didatangkan untuk menggantikan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Raden Rahmat sudah berkali-kali mengajak Prabu xxi

Brawijaya masuk Islam, namun Prabu Brawijaya enggan menerima Islam sebagai agamanya, karena ia ingin menjadi raja Budha yang terakhir di Majapahit. Kendati sang prabu tidak menghalangi agama Islam masuk ke negaranya. Prabu Wijaya merasa senang dan suka kepada Raden Rahmat karena tutur katanya yang ramah dan lemah lembut. Raden Rahmat disuruh memilih sekian bayu putri di Majapahit untuk dijadikan istrinya, ternyata Raden Rahmat memilih Dewi Cendrawati sebagai istrinya dan Prabu Wijaya pun memberi tanah kepada Raden Rahmat yang terletak di Desa Ampel Denta. Di situlah Raden Rahmat mendirikan pesantren, murid-muridnya kebanyakan dari bangsawan dan putra adipati kerajaan. Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Raden B antara Katong (Adipati Ponorogo yang pertama), Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 1478. 11. KH. Muhammad Kholil (Bangkalan Madura) Bangkalan, ujung barat Pulau Madura pada tahun 1820 (11 Jumadil Akhir 1235 H). K.H. Cholil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya bernama K.H. Abdul Latif. Beliau masih mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Pendidikan agama diperoleh langsung dari keluarganya. Menjelang dewasa ia dikirim ke pesantren. Ketika usianya menjelang 30 tahun sekitar tahun 1850, K.H. Cholil belajar kepada K. Muh. Nur di Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur. Dari Langitan pindah ke Cangan Bangil Pasuruan, kemudian pindah lagi ke Pesantren Kebon Candi. Pada tahun 1855, K.H. Cholil melanjutkan studinya ke Mekkah, di sana beliau bertemu dengan Syekh Nawai Banten, Syekh Ahmad Khatib Minangkamau, Syekh M. Yasin Padang. K.H. Cholil terkenal dengan ahli fiqih dan tauhid. Setelah kepulangannya dari Mekkah, kemudian K.H. Cholil dipandang berhasil memadukan dua disiplin ilmu tersebut, yang satu sama lain cenderung dianggap saling bertentangan menurut kalangan Islam tradisionalis. Untuk menggabungkan pengetahuan keislaman yang xxii

diperoleh, K.H. Cholil mendirikan pesantren di Cengkuban sekitar 1 kilometer barat laut, yang kemudian diserahkan kepada menantunya Kyai Muntaha. Adapun beliau kembali ke pesantren di pusat kota 200 meter sebelah alun-alun Kota Bangkalan. Sebagai tokoh yang hidup di masa kolonial, K.H. Cholil dari keterlibatan penjajah. Tentu saja K.H. Cholil tidak terjun langsung, melainkan lebih banyak berperan di balik layar sebagai tokoh kharismatik. Selain itu, K.H. Cholil banyak mencetak kader-kader pemimpin umat, di antara mereka yang kemudian menjadi pemimpin dan tokoh agama terkemuka adalah: a. K.H. Hasyim Asyari (Pendiri PP Tebu Ireng, Jombang dan Pendiri NU) b. c. d. K.H. Bisri Syamsuri (Pendiri PP Denanyar, Jombang) K.H. Bisri Mustofa (Pendiri PP Rembang) K.H. Asad Samsul Arifin (Pengasuh PP Asem Bagus, Situbondo) K.H.M. Cholil wafat tahun 1925 (29 Ramadhan 1343 H) dalam usia yang sangat lanjut, 108 tahun dan dimakamkan di Bangkalan, Madura. 12. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Abdurrahman Addakhil, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, Addakhil berarti Sang Penakluk, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata Addakhil tidak cukup dikenal dan diganti nama Wahid, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati abang atau mas. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan darah biru. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asyari, pendiri jamiyah xxiii

Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama

Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami

kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana

xxiv

tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia. Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asyari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Quran. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca alQuran. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik. Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya xxv

wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Masum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul The Story of Civilazation. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin What is To Be Done . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah xxvi

mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheranheran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburanhiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus xxvii

Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh bukubuku yang dikehendaki. Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas. Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid alBaghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh. Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam xxviii

bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik. Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note. Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi xxix

nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES. Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap menyimpang-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987. Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-aqdi yang diketuai K.H. Asad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, kenyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid. Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur xxx

menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum elit Islam tersebut dengan organisasi sektarian. Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami. Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat

humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Mashum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan. \Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan xxxi

membetuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri. Penghargaan Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000) Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000) Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000) Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000) Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000) Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000) Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002) Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003) Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003) Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003) Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991) Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993) Bapak Tionghoa Indonesia (2004) Pejuang Kebebasan Pers

xxxii

B. Pengaruh Peninggalan Para Wali dan Ulama 1. Pengaruh yang Bersifat Fisik Seperti yang telah kita ketahui bahwa peninggalan para Wali dan Ulama tidaklah sedikit jumlahnya. Banyak peninggalan-peninggalan dari Wali dan Ulama yang sangat berpengaruh bagi masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu contoh yaitu julukan yang diberikan kepada Kota Demak sebagai Kota Wali. Di antara lainnya, penggunaan salah satu nama dari Walisongo yang digunakan sebagai salah satu nama Universitas di Indonesia, dijadikannya tempat-tempat sejarah para Wali sebagai obyek wisata. para Wali dan Ulama pun juga meninggalkan beberapa tempattempat ibadah, Masjid Agung Demak sebagai salah satu contoh. Selain itu, adanya alat-alat kesenian tradisional yang ada di Jawa seperti alat-alat musik (gamelan), wayang kulit, dan tembang-tembang dolanan yang merupakan karya seni dari para Wali. Berkembangnya upacara-upacara adat Jawa sama dengan ajaran Islam yang disebarkan oleh para Wali. Dalam bentuk lain juga ada pesantren- pesantren yang sampai saat ini juga masih digunakan untuk memproduksi generasi-generasi penerus Islam, yang nantinya akan menggantikan peran dari para Walisongo dan ulama itu. 2. Pengaruh yang Bersifat Non-Fisik Dalam segi non fisik, pengaruh para Wali dan Ulama bagi masyarakat Indonesia juga tidak sedikit jumlahnya. Salah satunya yaitu mulai hilangnya adat istiadat lain dari masyarakat Indonesia. Selain itu pengaruh para penganut Hindu-Budha di Indonesia sedikit demi sedikit mulai menurun dan ajaran Islam mulai menyebar hampir ke seluruh tanah air Indonesia. Dan mulai tumbuhnya rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan dan masyarakat Indonesia untuk mempertahankan tanah kelahiran dari penjajah bangsa lain. Tidak luput pula bahwa bertambahnya para penganut agama Islam juga dikarenakan peranan para Wali dan Ulama.

xxxiii

C. Sifat dan Sikap Para Wali dan Ulama yang Patut Diteladani dalam Kehidupan Beragama, Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Dalam kehidupan beragama, mereka tidak pemah bersikap semenamena terhadap adat istiadat lama, termasuk agama yang sudah datang lebih dahulu ke Indonesia. Bahkan mereka dapat membina tali persaudaraan yang erat kepada para penganut agama lainnya. Hal inilah yang menjadikan agama Islam dengan cepatnya tersebar luas ke seluruh Indonesia. Di dalam kehidupan bermasyarakat mereka dapat bergaul dengan masyarakat luas untuk mewujudkan tentang kemuliaan dan keistimewaan ajaran bersedia dan mengikuti mereka ke dalam ajaran agama Islam. Bahkan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mereka selalu membina persatuan dan kesatuan untuk membuat bangsa dan negara kita ini menjadi adil, makmur dan sejahtera. Dan dapat hidup aman, tenteram dan bahagia.

xxxiv

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari beberapa sejarah Walisongo dan Ulama yang tertuang dalam karya ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa, perjuangan Walisongo dan Ulama tidaklah mudah. Mereka harus berpikir keras untuk dapat menarik simpati masyarakat atau mau masuk dan mengikuti ajaran Islam. Seperti Sunan Gunung jati bersama R. Fatahillah yang memerangi dan yang berhasil mengusir Portugis di daerah Sunda Kelapa dan K.H. Muntaha, Alh. yang berusaha keras menarik simpati masyarakat dengan cara mendirikan beberapa lembaga pendidikan, SMP, SMA, SMK dan IIQ yang sekarang menjadi UNSIQ. Dan perlu diketahui bahwa Walisongo dan Ulama memiliki siasat dan taktik tersendiri untuk menyebarkan agama Islam, seperti Sunan Kudus yang menempuh jalan kebijaksanaan. Sunan Bonang yang menggunakan kesenian dan juga Sunan Drajad yang membuka sebuah pesantren dan masih banyak lagi sunan-sunan yang lainnya. B. Saran dan Kesan 1. Saran Setelah membaca sejarah singkat Walisongo dan Ulama dalam karya ini, kami berharap agar pembaca yang budiman dapat meneladani dan memetik hikmah dari kisah-kisah tersebut. Marilah kita bersama-sama sedikit demi sedikit belajar meniru sikap para wali dan ulama yang pastinya akan membawa kita kepada sikap dan perilaku yang terpuji, seperti yang telah dicontohkan Sunan Gresik kepada masyarakat yang langsung beliau praktekkan dengan tutur kata yang sopan, lemah lembut, santun kepada fakir miskin, menghormati yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda, sehingga di kalangan rakyat, beliau tersohor sebagai orang yang baik budinya dan dermawan. Selain bersikap baik, kita juga dapat memiliki jiwa seni. Seperti Sunan Bonang yang menciptakan sebuah gending darma setelah berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial serta nama-nama dewa kepercayaan orang Hindu diganti dengan nama-nama Malaikat dan Nabi. Hal ini

xxxv

dimaksudkan agar orang kenal dan masuk Islam serta masih banyak lagi teladan yang perlu kita tiru. 2. Kesan Setelah terselesainya kegiatan ziarah ini, kami jadi lebih mengerti dan lebih bisa mendalami tentang bagaimana sejarah para Walisongo dalam menyebarkan Islam terutama di Tanah Jawa. Terlebih kita juga bersyukur bisa mendatangi dimana tempat-tempat asal perjuangannya, kegigihannya serta semangat yang berkobar menjadi modal utama para wali dalam berperang melawan yang batil dan membela yang haq. Ternyata perjuangan mereka tidak semudah yang kita bayangkan. Mereka rela mengorbankan segalanya demi agama Allah. Subhanallah ........

xxxvi

DAFTAR PUSTAKA Fairus, Muhammad. 2005. Koleksi Kisah Walisongo dan Karamahnya. Surabaya : Pustaka Media. Khalid, M.A., Abu. 2005. Kisah Walisongo. Surabaya : Karya Ilmu. Salam, Solichin. 1960. Sekitar Walisongo. Kudus : Menara Kudus. Syamsudi. Baidlowi. 1995. Kisah Walisongo. Surabaya : Apollo. Wahyudi, Asnan. 1996. Kisah Bergambar Walisongo. Surabaya : Karya Ilmu. Yasin, Drs., Sulchan. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Amanah. sumber: http://wiwitfatur.wordpress.com/2009/04/21/biografiabdurrahman-wahid/

xxxvii

BIOGRAFI PENULIS 1. Nama TTL Alamat Motto : Lin Mungazza Millata S : Wonosobo, 07 Juni 1998 : Jambean, Mojotengah, Wonosobo : Berolahraga dapat menyehatkan badan

2.

Nama TTL Alamat Motto

: Madina Futia Aziz A : Wonosobo, 26 Januari 1998 : Kota Baru, Banjar Masin, Kalimantan Selatan : Man Jadda wa Jadda

3.

Nama TTL Alamat Motto

: Maulatul Izza : Pekalongan, 18 September 1998 : Kertijayan, Buaran, Pekalongan : Pupuklah ilmu dan selalu berfikiran positif agar cita-cita dapat diraih.

4.

Nama TTL Alamat Motto

: Mita Pravita Sari : Semarang, 11 Juni 1998 : Kupang Jetis, Ambarawa, Semarang : Janganlah mudah menyerah sebelum mencobanya mudah.

5.

Nama TTL Alamat Motto

: Nur Hidayat : Banjar negara, 04 April 1998 : Pekasiran, Batur, Banjar negara : Janganlah berjalan mengikuti sungai karena sungai hanya mengikuti arusnya. Berjalanlah seperti langit yang indah.

xxxviii