P. 1
Laporan Lima Tahun DPR RI 2004 2009

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004 2009

|Views: 342|Likes:
Dipublikasikan oleh ariesunandar
laporan
laporan

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: ariesunandar on Jun 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2015

pdf

text

original

Sections

Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
bekerja sama dengan UNDP dan AusAID

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

II

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Cover:

Mosaic Digital Imaging;
Dokumentasi Humas
DPR RI, 2004-2009

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009:
Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Sekretariat DPR RI dan UNDP;
VIII + 241 halaman; 30 cm x 20 cm

ISBN 978-979-19757-4-2

Cetakan Pertama
Oktober 2009

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
(All Rights Reserved)

Penerbit:
Sekretariat Jenderal
Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia (DPR RI)
Jalan Jenderal Gatot Subroto
Jakarta, 10270
www.dpr.go.id

III

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

H.R. Agung Laksono

Ketua DPR RI, 2004-2009

H. Soetardjo Soerjogoeritno, B. Sc

Wakil Ketua DPR RI, 2004-2009

Koordinator Bidang Politik, Ekonomi, dan Keuangan

Drs. A. Muhaimin Iskandar, M. Si

Wakil Ketua DPR RI, 2004-2009

Koordinator Bidang Industri, Perdagangan dan Pembangunan

Zainal Ma’arif, S.H., M.A.

Wakil Ketua DPR RI, 2004-2009

Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

IV

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KATA PeNGANTAR

Ketua - DPR RI

Saya bersyukur dengan terbitnya buku yang diberi judul, Buku Laporan Lima Tahun DPR RI
2004-2009: Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat
. Buku ini diterbitkan untuk memenuhi
dua hal pokok. Pertama, sebagai salah satu upaya pemenuhan informasi bagi publik tentang
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR)
dalam lima tahun pengabdiannya. Kedua, sebagai wacana yang memperkaya kepustakaan
tentang kegiatan lembaga negara di Indonesia.

Peran DPR telah berubah dibandingkan 10 tahun lalu. Pada saat amandemen Undang-Undang
Dasar 1945 pertama dilakukan pada tahun 1999, DPR merupakan lembaga yang menjadi fokus
perhatian. Sebelum amandemen UUD 1945, eksekutif memiliki kekuasaan yang sangat besar,
sehingga salah satu target amandemen adalah menjadi penyeimbang dalam relasi politik
yang diatur dalam konstitusi. Sejak adanya perubahan struktural di tingkat konstitusi itu,
DPR mengalami perubahan secara perlahan. Banyak hal yang sudah dilakukan sejak anggota
DPR pasca-Orde Baru terpilih pertama kali pada tahun 1999. Mulai dari perubahan dalam
konstelasi partai politik yang berwujud secara formal dalam bentuk fraksi, sampai dengan
lahirnya ‘lembaga baru’ di dalam DPR yaitu Badan Legislasi.

Dalam bidang pembuatan undang-undang, terjadi pergeseran hak pembentukan undang-
undang dari Presiden kepada DPR. Sedangkan dalam bidang pengawasan, amandemen telah
mengurangi kemutlakan penggunaan hak prerogatif Presiden dengan melibatkan, meminta
pertimbangan dan konsultasi dengan DPR, seperti halnya dalam pengangkatan duta besar,
menerima penempatan duta besar negara lain, dan pemberian amnesti dan abolisi. Penataan
hubungan ketatanegaraan ini dilakukan berdasarkan suatu kesadaran bahwa salah satu
kelemahan utama yang mengakibatkan kurang bekerjanya mekanisme kenegaraan dan
pemerintahan yang demokratis adalah bersumber dari tidak proporsionalnya pengaturan hak-
hak antar lembaga negara.

Pergeseran dan peningkatan kewenangan dan kekuasaan DPR tersebut meningkatkan beban
dan tanggung jawab DPR, sekaligus menunjukkan semakin signifkannya peran DPR di sistem
ketatanegaraan dalam upaya menyalurkan aspirasi masyarakat. Hal ini dilakukan dengan
memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.

Tingginya penghargaan terhadap kebebasan mengemukakan pendapat menjadikan pekerjaan
DPR dalam era reformasi menjadi penuh dinamika. Periode ini saya sebut sebagai periode
revolusi akan tingginya harapan (revolution of rising expectations) yang tertuju kepada DPR
yang merupakan simpul strategis dalam proses transisi dan konsolidasi demokrasi menuju
terciptanya sistem politik yang ideal.

V

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Buku ini berupaya mendeskripsikan, menguraikan dan menginformasikan kepada publik
akan berbagai realitas dan dinamika keparlemenan dalam alur parliamentary reform policy.
Menurut hemat saya, buku ini akan sangat berguna, tidak hanya bagi anggota DPR baru,
tetapi juga masyarakat luas sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban politik kepada
masyarakat, sesuai dengan amanat undang-undang. Buku ini juga bermanfaat bagi praktisi
dan pengamat politik dan pemerintahan yang memerlukan literatur tentang penyelenggaraan
negara, khususnya dinamika politik dan proses pembuatan kebijakan di DPR. Buku ini
mengajak kita untuk memahami berbagai persoalan yang dihadapi DPR dalam merespon
persoalan masyarakat, bagaimana DPR menganalisa permasalahan, serta mengambil sikap
yang tepat untuk mengatasinya bersama-sama. Hal ini penting, karena tidak hanya terkait
dengan persoalan internal kita sendiri, melainkan lebih jauh ke kompleksitas persoalan bangsa
di tengah-tengah dinamika global.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat dan penghargaan atas jerih payah semua pihak yang
terlibat dalam menerbitkan buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.

KeTUA,

H.R. AGUNG LAKSONO

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

VI

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KATA PeNGANTAR

Sekretaris Jenderal - DPR RI

Terbitnya buku ini menambah lagi satu akses bagi masyarakat luas, terutama pihak-pihak yang
berkepentingan dengan DPR, untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai berbagai
kegiatan yang dilakukan oleh DPR dan Sekretariat Jenderal DPR RI (Setjen DPR RI).

Berbeda dengan buku laporan tahunan yang selama ini diterbitkan oleh Setjen DPR RI, yang
merupakan dokumentasi lengkap seluruh rapat dan kegiatan DPR, buku laporan lima tahun
ini disusun dalam tampilan dan bahasa yang lebih populer, disertai sejumlah foto dan desain
yang lebih menarik.

Diharapkan buku laporan ini melengkapi buku laporan tahunan yang sudah ada dan memberi
inspirasi bagi laporan tahunan selanjutnya untuk meningkatkan layanan pemberian informasi
kepada masyarakat. Oleh karena itu, saya menyambut gembira penerbitan buku laporan lima
tahun ini.

Untuk mendukung seluruh kegiatan DPR secara maksimal, Setjen DPR RI terus-menerus
meningkatkan kinerjanya, terutama dengan meningkatkan kemampuan staf dari bidang-
bidang dan biro-bironya. Setjen DPR RI telah menyelenggarakan berbagai pendidikan dan
pelatihan kepada staf, baik pelatihan yang bersifat strategis, administratif, teknis, serta mental
(keagamaan).

Di masa mendatang, Setjen DPR RI menghadapi berbagai tantangan besar sebagai pendukung
tugas DPR. Di era keterbukaan dan transparansi ini, Setjen DPR RI dituntut mampu menjalankan
tugas dengan cepat, tepat dan cermat.

Masyarakat yang makin kritis meningkatkan partisipasi masyarakat melalui kedatangan
delegasi atau pengaduan ke DPR, sehingga diperlukan mekanisme penanganan dan pelayanan
secara maksimal untuk menjembatani masyarakat dan anggota Dewan.

Tantangan lain termasuk krisis ekonomi yang melebar hingga menjadi krisis kepercayaan
terhadap kinerja pemerintah yang berpengaruh pada kinerja Setjen DPR RI. Setjen DPR RI
diharapkan mampu menjalankan misi, tugas dan fungsinya sebagai elemen penunjang tugas-
tugas Dewan.

Kami senantiasa mengembangkan diri untuk menjawab tuntutan yang ada, mulai dari
penyediaan rumusan tugas dan rincian tugas bagi tenaga fungsional khusus perancang
undang-undang, perencana/analis kebijakan, peneliti, pranata komputer, maupun pegawai.
Itu semua merupakan tanggungjawab yang harus dipikul demi kelancaran tugas Dewan.

VII

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Salah satu tantangan lain terkait pembentukan citra positif DPR melalui informasi,
pengetahuan, dan pendidikan yang disampaikan kepada publik. Penerbitan buku laporan lima
tahun ini bertujuan menampilkan wajah DPR yang transparan dan dinamis, serta seobyektif
mungkin menjadi bentuk tanggung jawab Dewan dalam mengemban amanat dan aspirasi
rakyat. Publik dapat mencermati cara DPR bekerja, mulai dari membuat undang-undang,
menyusun anggaran, mengawasi jalannya pemerintahan hingga melakukan aksi sosial dan
humanis lainnya.

Buku ini diharapkan menerbitkan inspirasi bagi semua pihak yang peduli dengan kinerja
lembaga legislatif ini untuk maju dan berkembang. Akhirnya, kami berharap buku ini bisa
memberi manfaat pada upaya tranparansi dan peningkatan kinerja DPR.

Kami akui bahwa masih ada bagian dari laporan yang tidak sempurna, namun kami bertekad
untuk terus belajar dan memperbaiki hal tersebut dalam mendukung kinerja Dewan secara
maksimal.

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dalam penulisan
buku ini, baik dengan meluangkan waktu kepada tim penulis untuk melakukan wawancara,
maupun dengan menyumbangkan gagasan dalam proses penulisan, diskusi kelompok,
lokakarya, dan penyempurnaan laporan.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada UNDP yang mendukung Setjen DPR RI melalui
program PROPeR serta tim penyusun buku yang membantu penerbitan laporan.

SeKReTARIS JeNDeRAL,

DRA. NINING INDRA SHALeH, M.Si
NIP. 195504131981032001

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

VIII

IV

VI

VIII

1

5

10

20

24

31

38

45

53

59

65

72

79

83

87

92

97

105

111

120

129

135

139

141

148

158

170

182

190

197

218

223

KATA PeNGANTAR Ketua - DPR RI

KATA PeNGANTAR Sekretaris Jenderal - DPR RI

DAfTAR ISI

A. Pendahuluan

B. Sekilas Tentang DPR

C. Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat

Rakyat

D. Laporan Pelaksanaan Tugas Alat

Kelengkapan Dewan

e. KOMISI-KOMISI

1. Komisi I - Bidang Pertahanan dan Intelijen,

Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika,

dan Telekomunikasi

2. Komisi II - Bidang Pemerintahan Dalam

Negeri, Otonomi Daerah, Aparatur Negara,

dan Agraria

3. Komisi III - Bidang Hukum dan

Perundang-undangan, HAM, dan

Keamanan

4. Komisi IV - Bidang Pertanian, Perkebunan,

Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan

Pangan

5. Komisi V - Bidang Perhubungan,

Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan

Pembangunan Daerah Tertinggal

6. Komisi VI - Bidang Perindustrian,

Perdagangan, Koperasi, UKM, Investasi,

Persaingan Usaha, Standarisasi, dan BUMN.

7. Komisi VII - Bidang eSDM, Lingkungan

Hidup, dan Riset dan Teknologi

8. Komisi VIII - Bidang Sosial, Agama,

Pemberdayaan Perempuan, dan

Perlindungan Anak

9. Komisi IX - Bidang Kesehatan, Tenaga

Kerja dan Transmigrasi, Kependudukan,

dan BPOM

10. Komisi X - Bidang Pendidikan Nasional,

Pemuda dan Olah Raga, Pariwisata, dan

Perpustakaan Nasional

11. Komisi XI - Bidang Perencanaan

Pembangunan Nasional dan BPS,

Keuangan, Perbankan, dan Lembaga

Keuangan Bukan Bank

f. PANITIA-PANITIA

1. Panitia Anggaran

2. Panitia Khusus

G. BADAN-BADAN

1. Badan Legislasi

2. Badan Kerja Sama Antar Parlemen

3. Badan Musyawarah

4. Badan Kehormatan

5. Badan Urusan Rumah Tangga

H. PIMPINAN DPR

I. Partisipasi Publik dan Pembinaan

Hubungan Dewan dengan Publik

J. Aktivitas Lainnya

K. Sekretariat Jenderal DPR RI

L. Pengelolaan Anggaran DPR RI

M. Tantangan DPR RI

LAMPIRAN

1. Daftar Singkatan

2. Daftar Nama Anggota DPR RI 2004-2009

3. Daftar Daerah Pemilihan – Pemilu 2004

4. Daftar Inventarisasi RUU yang Telah

Disahkan DPR RI 2004-2009

DAfTAR ISI

Mengemban Amanat
dan Aspirasi Rakyat

1

Keberadaan FTNI/POLRI pada periode sebelumnya merupakan warisan
dari pemerintahan Orde Baru yang meniadakan hak ikut serta dalam Pemilu
bagi anggota TNI dan Polri. Oleh karena itu, TNI/POLRI langsung diberi
jatah sejumlah kursi dalam DPR untuk mewakili kepentingan kedua institusi
tersebut. Sejak reformasi, jumlah anggota FTNI/POLRI dalam DPR mulai
dikurangi dan akhirnya dihapus sama sekali pada Periode 2004-2009.

1

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

A. Pendahuluan

Di alam demokrasi Indonesia saat ini, tuntutan
masyarakat terhadap keterbukaan informasi
semakin besar. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
sebagai sebuah lembaga negara tidak lepas dari
tuntutan tersebut termasuk dalam menyajikan
laporan yang komprehensif bagi publik. Oleh
karena itu, diterbitkanlah laporan lima tahun
ini dalam format yang mempermudah kalangan
internal DPR, masyarakat luas, maupun
kalangan akademisi serta pihak terkait lainnya
untuk mencerna dan memahami dinamika
dan seluk-beluk DPR Periode 2004-2009.
Selain memiliki unsur informatif, laporan ini
diharapkan juga memiliki unsur edukatif.

Buku laporan lima tahun DPR ini mengusung
tema “Mengemban Amanat dan Aspirasi
Rakyat” yang sejatinya merupakan esensi dari
implementasi fungsi DPR sebagai lembaga
representasi rakyat. Tema ini sangat tepat
menggambarkan maksud, keberadaan, dan
fungsi DPR sebagai lembaga negara. Buku ini
bertujuan melaporkan dan menampilkan sisi
apa adanya tentang DPR selama periode lima
tahun yang terkait dengan implementasi tiga
fungsi DPR yaitu fungsi legislasi, anggaran,
dan pengawasan. Ketiga fungsi Dewan
tersebut diimplementasikan dalam kerangka
representasi atau perwakilan rakyat.

Informasi dan materi di dalam buku laporan
lima tahun ini disusun dari berbagai sumber
dan dokumentasi resmi DPR terutama Buku
Laporan Tahunan DPR RI tahun 2004-2005,
2005-2006, 2006-2007, dan 2007-2008. Saat
buku laporan ini ditulis, Laporan Tahunan 2008-
2009 masih dalam penyusunan. Pembaca yang
tidak menemukan pokok bahasan dalam buku
laporan lima tahun ini, disarankan merujuk ke
Laporan Tahunan DPR atau Risalah Sidang.
Dokumen-dokumen tersebut, termasuk laporan
lima tahun ini, tersedia di kantor Sekretariat
Jenderal DPR RI (Setjen) dan bisa dilihat di
situs www.dpr.go.id.

Dinamika DPR periode ini merupakan kelanjutan
dari DPR pada awal reformasi Periode 1999-

2004. Dalam hal keanggotaan, berbeda
dengan periode sebelumnya yang komposisi
keanggotaannya berasal dari 22 partai politik
(parpol) dan membentuk sembilan fraksi, maka
pada Periode 2004-2009 diisi oleh 16 parpol
dan membentuk 10 fraksi. Selain itu, jumlah
anggota DPR periode ini meningkat menjadi 550
orang dari 500 orang pada periode sebelumnya.
Hal penting lainnya dari ini adalah tidak adanya
Fraksi Tentara Nasional Indonesia (TNI)/
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang para
anggotanya diangkat langsung tanpa melalui
proses pemilihan umum (pemilu).1

Keanggotaan DPR berisikan 72,36 persen
wajah baru di awal periode, kemudian
mengalami perubahan dengan Penggantian
Antar Waktu (PAW) yang antara lain karena
anggota meninggal dunia, mengundurkan
diri atau ditarik atas usul parpol yang
bersangkutan. Namun, penggantian anggota
itu tidak mengubah komposisi fraksi-fraksi.

Perubahan lain juga terjadi pada kursi pimpinan
di Periode 2004–2009 ini, tepatnya di tahun
ketiga, dengan adanya PAW terhadap anggota
DPR dari Fraksi Partai Bintang Reformasi
(FPBR), Zaenal Ma’arif, yang menjabat Wakil
Ketua DPR RI/Koordinator Bidang Kesra
(Korkesra), karena yang bersangkutan ditarik
keanggotaannya di DPR oleh partainya. Sampai
dengan Tahun Sidang 2006-2007, posisi
tersebut belum diisi, menunggu kesepakatan
fraksi-fraksi untuk menetapkan mekanisme
terbaik dalam mengisi jabatan tersebut. Hingga
tahun kelima, posisi ini tetap dikosongkan dan
jabatan Korkesra dirangkap Ketua DPR RI.

Dalam pelaksanaan kegiatan legislasi, selama
kurun waktu lima tahun ini, DPR berhasil
menuntaskan pembahasan 173 rancangan
undang-undang (RUU) untuk disahkan

2

Data per 8 September 2009

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

2

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

menjadi undang-undang (UU) dari 284 UU
yang semula direncanakan dalam Program
Legislasi Nasional (Prolegnas) lima tahun.2
Hal ini disebabkan sebagian RUU yang terdapat
dalam Prolegnas ternyata hanya berupa
gagasan awal yang pengerjaannya harus
dimulai dari nol. Beberapa hambatan dalam
proses penyelesaian sejumlah RUU ini antara
lain karena keterbatasan tenaga ahli yang ada
di DPR dan keterbatasan waktu dan padatnya
jadwal rapat anggota DPR.

Beberapa UU yang disahkan dan memiliki
signifkansi dengan kehidupan warga
negara pada periode ini antara lain Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan; Undang-Undang Nomor
13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi
dan Korban; Undang-Undang Nomor 21 Tahun

2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang; Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (KIP); Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM); dan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik.

Dalam pelaksanaan tugas pengawasan,
selain melakukan rapat kerja dengan
Pemerintah, Dewan juga menggunakan hak-
hak kelembagaannya yaitu hak interpelasi
soal Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah
bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk
Kepentingan Umum, serta dukungan Resolusi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor
1747 soal perluasan sanksi terhadap Iran.
Dewan juga mengusulkan penggunaan hak

Pimpinan DPR RI

Periode 2004-

2009 yang dilantik

pada 2004 siap

mengemban amanat

dan aspirasi rakyat

Pendahuluan

3

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

angket untuk menyelidiki skandal korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) kredit macet
Bank Mandiri dan kasus impor beras
walaupun kedua hak angket ini tidak dapat
ditindaklanjuti menjadi hak angket DPR.
Dewan juga menggunakan hak angket untuk
kasus penjualan tanker Pertamina serta
penyelidikan atas Daftar Pemilih Tetap (DPT)
Pemilu 2009. Selain penggunaan hak-hak,
DPR juga telah menyetujui dan mengangkat
sejumlah pejabat publik melalui mekanisme
fit and proper test.

Sedangkan dalam melaksanakan tugas
di bidang anggaran, DPR setiap tahun
mengadakan pembicaraan pendahuluan
dengan Pemerintah dan Bank Indonesia
(BI) dalam rangka menyusun Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(RAPBN). Pembahasan dan penetapan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) didahului dengan penyampaian
Rancangan

Undang-Undang

tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
beserta nota keuangannya oleh Presiden.
Selain itu DPR juga melakukan pembahasan
tentang Laporan Realisasi Semester I dan
prognosis enam bulan berikutnya untuk APBN
serta pertanggungjawaban Pemerintah atas
pengelolaan keuangan negara.

Pada tahun 2006, DPR membentuk Tim
Kajian Peningkatan Kinerja DPR RI yang
beranggotakan 21 orang berdasarkan
Keputusan Pimpinan DPR RI Nomor 12/
PIMP/III/2005-2006 tanggal 16 Februari 2006
tentang Pembentukan Tim Kajian Peningkatan
Kinerja DPR RI. Tim ini bertugas mengkaji,
menganalisa, serta mengevaluasi kondisi
dan masalah, kemudian mencari solusi dan
merumuskan rekomendasi. Tindak lanjut dari
tim ini adalah dibentuknya Tim Peningkatan
Kinerja DPR RI yang dipimpin langsung oleh
Ketua DPR RI dan beranggotakan 31 orang.

Inti dari buku laporan lima tahun ini
adalah laporan kegiatan sidang-sidang
Alat Kelengkapan Dewan (AKD) serta unit-
unit pendukungnya. Selain itu, dipaparkan
juga kegiatan DPR membina hubungan dan
berinteraksi dengan publik dan pemangku
kepentingan (stakeholders) lainnya, upaya
DPR mengusung transparansi dengan
melaporkan laporan keuangan yang sudah
diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK), serta kinerja Setjen.

Semoga buku laporan ini memenuhi harapan
masyarakat luas tentang keterbukaan
informasi mengenai DPR meskipun masih
terdapat kekurangan, baik yang bersifat
substantif maupun teknis. Dan semoga buku

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009:
Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat
ini
bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat
dan dapat menjadi pegangan bagi anggota
DPR Periode 2009-2014.

Pendahuluan

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

4

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Gedung DPR RI

tempat para wakil

rakyat menjalankan

fungsi legislasi,

pengawasan dan

anggaran untuk

kepentingan bangsa

dan negara

DPR adalah lembaga negara yang terdiri dari
anggota parpol peserta pemilu yang dipilih
berdasarkan hasil pemilu. Sebagai lembaga
perwakilan rakyat, DPR memiliki kekuasaaan
membentuk UU bersama-sama dengan
Presiden sebagai mitra kerja yang sejajar.

DPR adalah salah satu dari tiga pilar penting
demokrasi di Indonesia yang berkuasa
membentuk UU. Pilar lainnya adalah lembaga
eksekutif yaitu Presiden sebagai pemegang
kekuasaan pemerintahan, dan lembaga
yudikatif yaitu Mahkamah Agung (MA) dan
Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai pemegang
kekuasaan kehakiman.

Sejarah DPR

Cikal bakal DPR sudah muncul pada masa
kolonial Belanda, yaitu Volksraad atau Dewan
Rakyat (1918-1942). Pada era kemerdekaan
(1945-1949), dibentuklah lembaga legislatif
yang diberi nama Komite Nasional Indonesia
Pusat (KNIP) dan beranggotakan 60 orang.
KNIP menjalankan fungsi sebagai Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) merangkap
badan legislasi melalui Badan Pekerja KNIP.

Ketika akhirnya terjadi perubahan bentuk
negara Republik Indonesia dari negara
kesatuan menjadi negara serikat, maka badan
legislatif negara Republik Indonesia Serikat
(RIS) dibagi menjadi dua kamar, yaitu Senat dan
DPR (1949-1950). Jumlah anggota DPR pada
masa itu sebanyak 146 orang yang mewakili
negara-negara bagian, sedangkan anggota
Senat adalah 32 orang, masing-masing dua
orang dari tiap negara bagian.

Setelah pengakuan resmi kemerdekaan
Republik Indonesia oleh Belanda pada
27 Desember 1949, DPR dan Senat RIS
membubarkan negara RIS berdasarkan
Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS)
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
dan membentuk NKRI, serta membentuk

Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS),
yang beranggotakan 236 orang. Hak yang
dimiliki anggota DPRS pun sudah makin
menyerupai hak dan anggota DPR saat ini,
antara lain, hak amandemen terhadap UU
yang diajukan Pemerintah, hak bertanya, hak
interpelasi, dan hak angket.

Dari pemilu pertama tahun 1955 yang diikuti 100
partai terbentuklah DPR yang beranggotakan
272 orang. Anggota DPR tersebut merupakan
anggota DPR pertama hasil pemilu yang
demokratis di era kemerdekaan. DPR hasil
Pemilu 1955 merupakan gambaran beragam
wajah dan kepentingan yang ada pada bangsa
Indonesia dalam usianya yang baru 10 tahun.

Namun, DPR hasil Pemilu 1955 ini kemudian
dibubarkan Presiden Soekarno pada 1960
melalui Penetapan Presiden Nomor 3 tanggal
5 Maret 1960 dengan alasan negara dalam
keadaan darurat. Presiden Soekarno kemudian
membentuk DPR Gotong-Royong (DPR GR),
yang semua anggotanya diangkat langsung oleh
Presiden. Sejak saat itu pihak eksekutif semakin
berperan dalam menentukan keanggotaan dan
pelaksanaan wewenang DPR.

Setelah berakhirnya pemerintahan Soekarno
(Orde Lama), peran eksekutif dalam
menentukan keanggotaan dan pelaksanaan
wewenang DPR berlanjut pada era transisi
menuju pemerintahan Orde Baru. Dalam masa
transisi ini, 62 anggota DPR GR dari Partai
Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi masa
yang diidentikkan dengan PKI digusur dari
keanggotaan mereka di DPR GR. Ketika Era
Orde Baru berkuasa, peran pihak eksekutif
di DPR terus berlanjut hingga Pemilu 1971,
1977, 1982, 1992 dan 1997. Dominannya peran
Pemerintah dalam penyelenggaraan negara
membuat peran DPR dalam era Orde Baru
tidak maksimal, sehingga lembaga legislatif
ini dinilai tidak kritis atas kebijakan-kebijakan
Pemerintah. Dalam tubuh DPR sendiri
sejak Pemilu 1977 hanya ada tiga kekuatan
politik, yaitu Partai Persatuan Pembangunan

5

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

B. Sekilas Tentang DPR

(PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan
Golongan Karya (Golkar) serta anggota yang
diangkat dari Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ABRI).1

Hal ini sontak berubah ketika angin reformasi
berembus pada 1998. Pelaksanaan pemilu
yang digelar pada 1999 menghasilkan Anggota
Dewan yang mewakili 19 parpol yang dipilih
rakyat, ditambah sejumlah anggota yang
diangkat sebagai perwakilan TNI/POLRI.
Namun seiring dengan tuntutan reformasi,
jumlah anggota FTNI/POLRI di DPR hasil
Pemilu 1999 berkurang dari 75 orang menjadi
35 orang, sementara partai-partai politik
memperebutkan 465 kursi.

Sebagai unsur kelembagaan MPR, DPR
Periode 1999-2004 ini memiliki andil dalam
upaya menata sistem ketatanegaraan. Pada
periode itu, MPR melakukan empat tahap
amandemen Undang-Undang Dasar 1945
(UUD 1945), yang kemudian antara lain
membentuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD),
melaksanakan sistem pemilihan Presiden
(pilpres) secara langsung, dan membentuk MK.
Secara total, jumlah UU yang dihasilkan pada
periode ini mencapai 175 UU. Salah satu UU
yang disahkan DPR periode ini adalah Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang
menjadi landasan hukum berdirinya Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK).

Proses transisi ini kemudian ditransformasikan
ke DPR Periode 2004-2009. Setelah lima tahun
masa reformasi, kedudukan DPR semakin

1

Bila pada pemilu 1971 masih terdapat 10 partai peserta pemilu, maka sejak
terbitnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan
Golongan Karya, jumlah peserta pemilu hanya tinggal tiga kekuatan politik,
yakni PPP, PDI, dan Golkar. Kedua partai politik tersebut merupakan hasil
penggabungan (fusi) dari sejumlah parpol yang ada.

Partai Pemenang Pemilu 2004

Partai Politik

Perolehan Kursi DPR

Persentase

Partai Golongan Karya

127

23,1

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

109

19,8

Partai Persatuan Pembangunan

58

10,5

Partai Demokrat

56

10,2

Partai Amanat Nasional

53

9,6

Partai Kebangkitan Bangsa

52

9,5

Partai Keadilan Sejahtera

45

8,2

Partai Bintang Reformasi

14

2,5

Partai Damai Sejahtera

13

2,4

Partai Bulan Bintang

11

2.0

Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan

4

0,7

Partai Pelopor

3

0,5

Partai Karya Peduli Bangsa

2

0,4

Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia

1

0,2

Partai Penegak Demokrasi Indonesia

1

0,2

PNI Marhaen

1

0,2

TOTAL

550

100

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

6

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Sekilas Tentang DPR

2

Sali Susiana, Affirmatif Action dan Keterwakilan Politik Perempuan:
Analisis Hasil Pemilu 2004 dan Proyeksi Pemilu 2009 dalam Pemilu 2009 dan
Konsolidasi Demokrasi; Kajian P3DI Sekjen DPR RI: 2008

seimbang dengan Pemerintah sehingga DPR
dapat melaksanakan tugas pengawasan secara
optimal.

Perempuan di Parlemen

Keterwakilan perempuan di DPR hasil pemilu
2004 mencapai 65 orang (11,82 persen) dari
total 550 anggota. Sebelumnya, dalam Pemilu
1999, perempuan yang duduk di Parlemen
berjumlah 44 anggota, atau 8,9 persen. Dari data
tersebut, terlihat adanya peningkatan jumlah
perempuan yang menjadi anggota Parlemen.
Upaya untuk meningkatkan jumlah perempuan
yang duduk di DPR terlihat dari beberapa UU
yang mencerminkan keberpihakan kepada
perempuan, di antaranya Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan
Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang
Partai Politik.

Pencalonan perempuan anggota legislatif
sudah diatur dengan kuota 30 persen melalui
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003
tentang Pemilihan Umum, yaitu dalam pasal
65 ayat 1 yang berbunyi ”Setiap parpol peserta

pemilu dapat mengajukan calon anggota
DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/
Kota untuk setiap Daerah Pemilihan dengan
memperhatikan keterwakilan perempuan
sekurang-kurangnya 30 persen”.

Rupanya pasal ini dinilai tidak mewajibkan
adanya keterwakilan 30 persen dari calon
legislatif perempuan dan juga sanksi bagi partai
yang tidak menjalankan ketentuan tersebut.
Sehingga, dalam Pemilu 2004, tidak semua
parpol peserta pemilu memenuhi aturan
tersebut. Dari 24 parpol, hanya 14 parpol yang
memenuhi sekurang-kurangnya 30 persen
keterwakilan perempuan yang tercermin
dari calon legislatifnya yaitu Partai Amanat
Nasional (PAN), Partai Bintang Reformasi
(PBR), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD),
Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan
(PDK), Partai Perhimpunan Indonesia Baru
(PIB), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),
Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI),
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai
Merdeka, Partai Nahdlatul Ummah Indonesia
(PNUI), Partai Persatuan Daerah (PPD), Partai
Penegak Demokrasi Indonesia, dan Partai
Sarikat Indonesia (PSI).

Soal kuota perempuan 30 persen ini kemudian
diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun
2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR,

7

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Anggota Parlemen

perempuan hadir

dalam sebuah

pertemuan

internasional

tentang Millenium

Development Goals

(MDGs) di Ulan Bator,

Mongolia, 2006

Sekilas Tentang DPR

DPD, dan DPRD. Berbeda dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2003, rumusan
tentang keterwakilan perempuan terdapat
dalam pasal 53 yang berbunyi ”Daftar bakal
calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52
memuat paling sedikit 30 persen (tiga puluh
perseratus) keterwakilan perempuan”.

Selain syarat 30 persen, UU ini juga mengadopsi
sistem selang-seling (zipper) yaitu bahwa
dalam setiap tiga orang bakal calon terdapat
sekurang-kurangnya satu orang perempuan.
Meski demikian, UU ini tidak mengatur sanksi
bagi parpol yang tidak menerapkan aturan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) hanya akan
mengembalikan Daftar Calon Sementara
(DCS) kepada parpol untuk diperbaiki. Satu-
satunya sanksi adalah sanksi moral saat KPU
mengumumkan DCS dan Daftar Calon Tetap
(DCT) di media massa.

Sistem zipper yang diberlakukan dalam
Pemilu 2009 itu rupanya dinilai kurang
efektif dalam mengakomodasi keterwakilan
perempuan, apalagi dengan adanya parpol yang

menerapkan aturan suara terbanyak untuk
menentukan calon legislasi (caleg) terpilih. Hal
ini diperkuat lagi dengan putusan sidang MK
tanggal 23 Desember 2008 yang melakukan
uji materi atas Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2008 yang meniadakan aturan nomor
urut dan memberlakukan penerapan sistem
suara terbanyak dalam Pemilu 2009. Dengan
demikian untuk periode ke depan, upaya untuk
meningkatkan keterwakilan perempuan di
Parlemen masih perlu ditingkatkan, setidaknya
hingga mencapai kuota 30 persen.

Organisasi DPR

Dalam tata tertib (tatib) DPR dijelaskan bahwa
DPR terdiri atas fraksi dan AKD. Sementara
untuk mendukung kerja anggota, DPR memiliki
Sekretaris Jendral (Sekjen). Paparan berikut ini
menjelaskan hal tersebut.

Fraksi

Peraturan tatib DPR menyatakan bahwa setiap
anggota harus menjadi anggota salah satu fraksi,

Anggota Perempuan Yang Terpilih di DPR Hasil Pemilu 2004

Partai Politik

Jumlah Anggota
Perempuan

Persentase dari
total anggota DPR
(%)

Persentase
dari total
jumlah anggota
perempuan di DPR
(%)

Partai Golongan Karya

19

3,4

29,2

PDI Perjuangan

12

2,1

18,4

Partai Persatuan Pembangunan

3

0,5

4,6

Partai Amanat Nasional

7

1,2

10,7

Partai Demokrat

8

1,4

12,3

Partai Kebangkitan Bangsa

7

1,2

10,7

Partai Keadilan Sejahtera

5

0,9

7,6

Partai Bintang Reformasi

2

0,3

3,0

Partai Damai Sejahtera

2

0,3

3,0

JUMLAH

65

11,8

100

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

8

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Sekilas Tentang DPR

yang merupakan pengelompokan berdasarkan
konfgurasi parpol hasil pemilu. Oleh karena
tatib DPR menetapkan bahwa fraksi mempunyai
anggota sekurang-kurangnya 13 orang, maka
parpol yang jumlah kursinya tidak mencukupi
untuk membentuk satu fraksi harus bergabung
dengan parpol lain. (Lihat diagram)

Fraksi bertugas melakukan koordinasi atas
semua kegiatan para anggotanya dalam
melaksanakan tugas dan wewenang DPR,
termasuk

meningkatkan

kemampuan
anggota dan kedisiplinan dalam kehadiran
serta menerapkan langkah dan pola kerja
anggota secara efektif dan efsien. Fraksi
hanya bertanggung jawab kepada parpol
atau gabungan parpol yang membentuk
fraksi tersebut. Sementara pimpinan fraksi
ditetapkan oleh anggota fraksi itu sendiri.
DPR menyediakan sarana dan anggaran guna
kelancaran pelaksanaan tugas fraksi dengan
besaran sesuai jumlah anggota tiap-tiap fraksi.

Alat Kelengkapan Dewan

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,

DPR memiliki AKD, baik yang bersifat tetap
maupun sementara. AKD yang bersifat tetap
adalah Komisi, Pimpinan Dewan, Badan
Musyawarah (Bamus), Badan Legislasi (Baleg),
Panitia Anggaran (Panggar), Badan Urusan
Rumah Tangga (BURT), Badan Kerja Sama Antar
Parlemen (BKSAP), dan Badan Kehormatan
(BK). Sedangkan AKD yang bersifat sementara
adalah Panitia Khusus (Pansus) yang dibentuk
untuk tugas tertentu dan dalam jangka waktu
tertentu. Sementara itu, bila perlu, AKD dapat
membentuk Panitia Kerja (Panja) dengan tugas
tertentu dan jangka waktu tertentu pula.

Sekretariat Jenderal DPR RI

Setjen merupakan elemen penting pendukung
kelancaran tugas DPR. Setjen dipimpin Sekjen
dengan seorang Wakil Sekjen dan empat
Deputi yaitu Bidang Perundang-Undangan,
Bidang Anggaran dan Pengawasan, Bidang
Persidangan dan Kerja Sama Antar Parlemen
(KSAP), dan Bidang Administrasi yang
kesemuanya diangkat oleh Presiden atas usul
Pimpinan DPR.

Komposisi dan jumlah kursi fraksi DPR 2004-2009

FPG

129

FPDIP 109

FPPP

58

FPD

57

FPAN

53

FPKB

52

FPKS

45

FPBR

14

FPDS

13

FBPD

20

9

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

FBPD
4%

FPDS
2%

FPBR
3%

FPD
10%

FPKS
8%

FPPP
11%

FPKB
9%

FPDIP
20%

FPAN
10%

FPG
23%

Sekilas Tentang DPR

C. Dinamika Lima Tahun Mengemban
Amanat Rakyat

Jenis-Jenis Rapat di DPR

Rapat Paripurna

Rapat Paripurna Luar Biasa

Rapat Fraksi

Rapat Pimpinan

Rapat Badan Musyawarah

Rapat Komisi

Rapat Gabungan Komisi

Rapat Badan Legislasi

Rapat Panitia Anggaran

Rapat BURT

Rapat BKSAP

Rapat Badan Kehormatan

Rapat Panitia Khusus

Rapat Panitia Kerja

Rapat Kerja

Rapat Dengar Pendapat

Rapat Dengar Pendapat Umum

1

Keputusan Pertemuan Konsultasi Pimpinan DPR dengan Pimpinan Fraksi-
Fraksi/Pengganti rapat Bamus tanggal 9 November 2004

Sebagai lembaga legislatif, DPR dituntut
menghasilkan UU melalui sebuah mekanisme
yang sudah ditetapkan, mulai dari pengusulan,
pembahasan, dan persetujuan bersama
antara DPR dan Presiden di Rapat Paripurna.
Tak jarang, pembahasan bisa melalui
proses yang melibatkan adu argumentasi
dan perdebatan pemikiran antar fraksi atau
anggota. Bagaimanapun, proses ini merupakan
konsekuensi demokrasi yang harus dijunjung
tinggi dan dihargai.

Dalam situasi seperti itulah DPR menjalankan
peranannya sebagai pengemban amanat dan
aspirasi rakyat pemilihnya. Sesuai mekanisme
kerja DPR, para anggota menjalankan perannya

melalui tiga fungsi utama, yaitu legislasi,
anggaran, dan pengawasan. Pelaksanaan tugas
DPR dilakukan melalui AKD yang memiliki
bidang kerja dan tugas masing-masing. Komisi
dan AKD ini kemudian menggelar rapat untuk
membahas suatu masalah. Di DPR sendiri
dikenal ada 17 jenis rapat yang digelar AKD.
(Lihat tabel)

Alokasi Rapat Paripurna disesuaikan dengan
kebutuhan, tugas, dan wewenang konstitusional
Dewan antara lain merancang RUU, menyetujui
pencalonan jabatan tertentu dan menggunakan
hak-hak Dewan. Rapat Paripurna Luar Biasa
adalah Rapat Paripurna yang diadakan
dalam masa reses apabila diminta Presiden
dengan persetujuan pimpinan atau diminta
oleh pimpinan dengan persetujuan Bamus
dan diusulkan sekurang-kurangnya 13 orang
anggota dengan persetujuan Bamus. Pimpinan
DPR bisa juga mengundang anggota untuk
menghadiri rapat Paripurna Luar Biasa.

Untuk memudahkan proses persidangan
dan pengelolaan waktu anggota, DPR
mengalokasikan rapat-rapat secara khusus.1
Rapat Fraksi dilakukan setiap Jumat; Rapat
Komisi, Pansus, dan Baleg setiap Senin sampai
Kamis; Rapat BURT, BKSAP, Bamus, dan BK
setiap Kamis; Rapat Panggar menyesuaikan
jadwal Komisi; dan Rapat Paripurna diusahakan
pada hari Selasa atau disesuaikan dengan
kebutuhan.

Rapat Paripurna memiliki agenda beragam,
antara lain mendengarkan pidato kenegaraan
Presiden, persetujuan atas RUU, hingga
persetujuan pelaksanaan hak DPR dalam
bentuk hak angket dan hak interpelasi, serta
pengesahan APBN.

Berikut ini adalah sejumlah Rapat Paripurna
beserta agendanya dalam Periode 2004-
2009 yang mendapat banyak perhatian dari
masyarakat.

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

10

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Tanggal

Agenda

Keterangan

27 Oktober 2004

Mulai muncul usulan Interpelasi

terkait penggantian Panglima TNI

sebagaimana diusulkan Jenderal

Endriartono Sutarto selaku Panglima

Masalah ini selama tahun itu belum

mencapai kata sepakat.

8 Februari 2005

Lanjutan usulan Interpelasi pergantian

Panglima TNI

Usulan Interpelasi ditolak. Panglima

TNI pengganti Jenderal Sutarto adalah

Marsekal TNI Djoko Suyanto setelah

melalui fit and proper test di Komisi I.

24 Januari 2006

Membahas Impor Beras

Munculnya berbagai “interupsi” usai

pembacaan pendapat fraksi soal usul

hak angket dan interpelasi mengenai

kebijakan Pemerintah tentang impor

beras.

12 Juli 2006

Pengesahan RUU Kewarganegaraan

Dianggap sebagai UU yang progresif

karena merupakan langkah tegas

mengenai status anak-anak hasil

perkawinan campur.

5 Juni 2007

Jawaban Pemerintah atas Hak

Interpelasi tentang Resolusi Dewan

Keamanan (DK) Persatuan Bangsa-

Bangsa (PBB) mengenai nuklir Iran

Rapat Paripurna diwarnai sejumlah

interupsi terkait ketidakhadiran

Presiden dalam rapat.

12 Februari 2008

Jawaban Pemerintah atas Hak

Interpelasi DPR soal kasus Bantuan

Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)

Sedikitnya 20 anggota DPR langsung

melakukan interupsi secara

bergantian. Mereka mempertanyakan

ketidakhadiran Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono secara langsung

untuk menyampaikan jawaban

Pemerintah. Seorang anggota

melakukan aksi walk out.

30 Oktober 2008

UU Pornograf

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia

Perjuangan (FPDIP) dan Fraksi Partai

Damai Sejahtera (FPDS) melakukan

aksi walk out saat Sidang Paripurna.

26 Mei 2009

Pengambilan keputusan penggunaan

Hak Angket kasus DPT dalam Pemilu

Legislatif 2009

Penggunaan hak angket disetujui.

Sejumlah Rapat Paripurna Periode 2004 - 2009 yang Mendapat Perhatian Masyarakat

11

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

Pembentukan
Undang-Undang

Dalam proses pembentukan UU, wewenang
DPR bersumber dari Pasal 21 UUD 1945 yang
menyebutkan bahwa DPR berhak mengajukan
usulan RUU. Selain DPR, terdapat dua
lembaga negara lainnya yang juga memiliki
hak mengajukan usulan RUU, yaitu Presiden
dan DPD. Namun DPD hanya bisa mengajukan
RUU di bidang tertentu, dan hanya bisa
berpartisipasi dalam diskusi tentang RUU
tanpa dapat menetapkan RUU.

Wewenang Presiden mengajukan RUU
bersumber dari Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 yang
menyatakan Presiden berhak mengajukan RUU
untuk dibahas oleh DPR dan Presiden sehingga
mencapai persetujuan bersama. Sedangkan
wewenang DPD bersumber pada Pasal 22D ayat
(1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa DPD
dapat mengajukan kepada DPR tentang RUU
yang terkait otonomi daerah, hubungan pusat
dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah.

Berikut adalah proses pembentukan UU:

Perencanaan

Dalam merencanakan penyusunan UU, DPR
berpedoman pada ketentuan Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan

Perundang-undangan

yang
menyatakan bahwa perencanaan penyusunan
UU dilakukan dalam Prolegnas lima tahun. Di
dalam Prolegnas itulah ditetapkan skala prioritas
- baik lima tahun maupun satu tahun - sesuai
perkembangan dan kebutuhan hukum dari
masyarakat. Prolegnas itu sendiri merupakan
hasil rumusan atau kesepakatan bersama
antara Pemerintah dan DPR. Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004,
penyusunan Prolegnas di DPR dikoordinasikan
oleh Baleg, sedangkan di pihak Pemerintah
dikoordinasikan Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia (Menkum HAM). Koordinasi
penyusunan legislasi nasional antara pihak
DPR dan Pemerintah dilakukan oleh Baleg.
Pada Periode 2004-2009, Prolegnas disepakati
sebanyak 284 RUU. Mekanisme penyusunannya
dimulai dari inventarisasi masukan dari fraksi,
komisi, DPD dan masyarakat. Baleg kemudian
berkonsultasi dengan Pemerintah dan hasil
tersebut berupa Prolegnas lima tahun dan
Prolegnas prioritas tahunan yang dilaporkan
dalam Rapat Paripurna untuk ditetapkan
dengan keputusan Dewan. RUU yang diajukan
DPR, Presiden, atau DPD disusun berdasarkan
Prolegnas. Namun hanya DPR dan Presiden
yang bisa mengajukan RUU di luar Prolegnas.

Penyusunan dan Pengajuan RUU
yang Diusulkan DPR

Sekurang-kurangnya 13 anggota DPR,
Baleg, Komisi atau gabungan Komisi dapat
mengajukan usul inisiatif RUU yang harus
diharmonisasi lebih dulu oleh Baleg sebelum
diajukan ke Pimpinan DPR untuk kemudian
diumumkan dalam Rapat Paripurna Dewan.
Selanjutnya, Bamus menjadwalkan Rapat
Paripurna untuk pengambilan keputusan
terhadap RUU usul inisiatif tersebut. Rapat
Paripurna kemudian mendengar pandangan
fraksi-fraksi dan memutuskan untuk

Perencanaan

Pembahasan

Pengenalan/Sosialisasi dan Evaluasi

Penyusunan
dan
Pengajuan

Pengesahan
dan
Pengundangan

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

12

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

menyetujui dengan atau tanpa penyempurnaan
atau menolak RUU tersebut sebagai RUU
usulan DPR. Bamus kemudian memutuskan
AKD yang akan menangani pembahasan RUU
usulan DPR dimaksud.

Pembahasan

Pembahasan RUU di DPR dilakukan oleh
Komisi, Baleg, atau Pansus melalui dua tingkat
pembicaraan, yakni Tingkat I dan Tingkat II.
Pembicaraan Tingkat I mencakup, antara lain,
pemberian pandangan serta pendapat fraksi-
fraksi terhadap RUU dari Pemerintah, bila
RUU tersebut diajukan oleh Pemerintah. Untuk
RUU yang diajukan Pemerintah, pembicaraan
Tingkat I juga melibatkan dan memasukkan
pandangan dan pendapat DPD. Proses
selanjutnya adalah memberikan kesempatan
kepada Pemerintah sebagai pengusul RUU
untuk memberikan tanggapan atas pandangan
dan pendapat fraksi-fraksi, atau pandangan dan
pendapat fraksi dan DPD atas RUU tertentu.

Bila RUU bersumber dari inisiatif DPR maka
Pembicaraan Tingkat I ini memberikan
kesempatan kepada Pemerintah untuk
memberikan pandangan dan pendapat terhadap
RUU dari DPR tersebut, atau pandangan
dan pendapat Pemerintah dan DPD. Proses
selanjutnya adalah kesempatan DPR untuk
memberikan tanggapan atas pandangan dan
pendapat dari Pemerintah, atau pandangan
dari Pemerintah dan DPD untuk RUU tertentu.

Dalam Pembicaraan Tingkat I ini DPR dapat
mengadakan rapat intern, rapat kerja (raker)
dengan Pemerintah, Rapat Dengar Pendapat
(RDP), dan Rapat Dengar Pendapat Umum
(RDPU) dengan masyarakat untuk mencari
masukan atau menjaring aspirasi masyarakat.
Pembicaraan

Tingkat

II/Pengambilan
Keputusan diadakan dalam Rapat Paripurna
yang berisi penyampaian laporan hasil
pembicaraan Tingkat I, pendapat akhir dari
fraksi-fraksi dan pendapat akhir Pemerintah.
Kegiatan dalam Rapat Paripurna ini memuncak
pada pengambilan keputusan.

Pengesahan dan Pengundangan

Setelah Rapat Paripurna menyetujui suatu
RUU maka Pimpinan DPR menyampaikan RUU
tersebut kepada Presiden untuk ditandatangani
dan disahkan. Apabila dalam waktu 15 hari
kerja RUU tersebut belum disahkan Presiden,
maka DPR mengirim surat kepada Presiden
untuk meminta penjelasan. Apabila setelah
menerima surat tersebut Presiden belum juga
mengesahkan RUU, maka RUU tersebut sah
menjadi UU dalam waktu 30 hari sejak RUU
tersebut disetujui DPR.

Sosialisasi dan Evaluasi

Setelah disahkan dan diterbitkan dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia, UU
tersebut segera disosialisasikan ke masyarakat
oleh Pemerintah. Dalam sosialisasi tersebut,
Pemerintah memberikan informasi kepada
masyarakat tentang UU. Masyarakat luas pun
dapat memperoleh informasi mengenai UU
tersebut melalui situs DPR RI (www.dpr.go.id)
dan Global Legal Information Network (www.
glin.gov). Dalam proses evaluasi DPR dapat
memantau apakah UU tersebut efektif dalam
pelaksanaannya atau mengalami hambatan.
Apabila suatu UU mengalami hambatan dalam
penerapannya, maka DPR dapat mengajukan
usulan untuk melakukan perubahan terhadap
UU tersebut. Namun apabila penerapan suatu UU
tidak efektif karena peraturan pelaksanaannya
belum lengkap maka DPR melalui Komisi

13

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Lobi-lobi dalam

pengambilan

keputusan atas suatu

RUU atau hal lain

juga sering dilakukan

pimpinan dan anggota

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

dapat mengingatkan Pemerintah untuk segera
melengkapi peraturan pelaksanaannya.

Secara ringkas mekanisme pembentukan UU
ini bisa digambarkan dalam skema di atas.

Jumlah RUU Prioritas tahunan ditambah
dengan jumlah RUU Kumulatif terbuka selama
2005-2009 ada 335 RUU. Dalam praktiknya
RUU yang dibahas DPR tidak seluruhnya
berasal dari prioritas tahunan, namun dari
RUU yang dianggap penting di luar RUU yang
masuk dalam Prolegnas 2005-2009.

RUU DARI PRESIDEN

RUU TERTENTU DARI DPD

RUU DARI DPR

DUA TINGKAT PEMBICARAAN DI DPR

DISETUJUI DPR

DITANDATANGANI PRESIDEN

UNDANG-UNDANG

ALUR PEMBUATAN UNDANG-UNDANG

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

14

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Pengusul RUU

Jumlah UU yang Disahkan

DPR

87

DPD

0

Presiden

86

JUMLAH

173

Sedangkan pengusul RUU selama Periode 2004-
2009 ini bisa dilihat dari data di bawah ini.

* Per 8 September 2009

Tahun

Prioritas
RUU +
Kumulatif
Terbuka

DisetujuiPersentase

2005

55

14

25,45

2006

45

39

86,66

2007

80

40

50,00

2008

79

61

77,21

2009

76

19*

21.05

TOTAL

335

173

50,75

DPD beberapa kali mengajukan usul RUU,
namun ketika RUU tersebut disampaikan ke
DPR, DPR telah terlebih dahulu mengajukan
usul inisiatif atau telah menerima RUU dari
Pemerintah misalnya Rancangan Undang-
Undang tentang Keistimewaan Yogyakarta
dan Rancangan Undang-Undang tentang
Lingkungan Hidup.

Tim Kuasa Hukum DPR

Sejak dibentuk MK, sebagai satu-satunya
lembaga negara tempat menguji produk
legislasi, permohonan uji materiil (judicial
review
) atas UU yang diajukan ke MK terus
mengalir. Hal ini menambah kegiatan DPR.
Selain menjalankan kegiatan konstitusional,
DPR juga menghadiri dan mengikuti
persidangan untuk menyampaikan keterangan
di hadapan sidang MK.

Untuk menghadapi dan menangani permohonan
uji materiil tersebut, DPR telah membentuk Tim

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

15

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Suasana sidang

kadang memanas

seperti saat

pembahasan soal

BBM pada 2008

2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional;
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan
dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD;
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang
Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden;
serta Gugatan Perkara Perdata terhadap DPR
yang mengajukan Usul Rancangan Undang-
Undang tentang Anti Pornograf dan Pornoaksi.

Pembahasan
Anggaran Negara

Presiden mengajukan Rancangan Undang-
Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara untuk dibahas bersama DPR dengan
memperhatikan pertimbangan DPD sebagaimana
dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan
MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Sedangkan Undang-
Undang tentang Keuangan Negara dan Peraturan
Tata Tertib, khususnya Pasal 144 Peraturan Tata
Tertib, menguraikan pelaksanaan tugas DPR
untuk membahas anggaran negara yang antara
lain meliputi pembicaraan pendahuluan dengan
Pemerintah dan BI dalam rangka menyusun
RAPBN, yang disusul dengan pembahasan dan
penetapan APBN. Selain itu, DPR juga membahas
dan menetapkan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,
serta membahas dan menetapkan Rancangan
Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.

Pasca-amandemen UUD 1945, tugas di bidang
anggaran tidak hanya sebatas pembahasan
dan penetapan APBN namun mempunyai
korelasi dengan hal keuangan negara. Dasar
hukum dari perluasan tugas ini berasal dari
beberapa UU yang berhubungan dengan
APBN, seperti Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

Kuasa Hukum. Tim ini dapat melibatkan anggota
DPR dari AKD apabila terkait dengan RUU yang
pernah dibahasnya dan didampingi Tim Asistensi.
Selain menugaskan Tim Kuasa Hukum untuk
menghadapi persidangan di MK, Pimpinan DPR
juga menugaskan sejumlah anggota Komisi
III DPR sebagai Tim Kuasa Hukum DPR untuk
mewakili DPR dalam penanganan perkara
perdata di lingkungan peradilan umum. Dalam
melaksanakan tugasnya, Tim Kuasa Hukum
DPR yang menangani perkara di peradilan umum
dapat memberikan kuasa substitusi kepada
Bagian Hukum Biro Hukum dan pemantauan
pelaksanaan UU Setjen DPR RI untuk mewakili
DPR dalam persidangan di pengadilan negeri.

Secara umum, pada Periode 2004-2009,
Tim Kuasa Hukum lebih banyak menangani
perkara permohonan uji materiil. Hasilnya,
beberapa permohonan dikabulkan MK. Pada
sidang 15 Februari 2005 MK mengabulkan
permohonan bahwa Pasal 36 Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 2004 tentang Mahkamah
Agung tidak memiliki kekuatan hukum tetap.
Selain itu, pada tahun 2005 itu juga dikabulkan
sejumlah permohonan uji materiil antara lain
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Pada tahun-tahun selanjutnya, Tim Kuasa
Hukum tetap menghadapi sejumlah kasus
permohonan uji materiil atas UU yang telah
disahkan. Dalam kasus-kasus peradilan,
tim ini lebih banyak memberikan keterangan
tertulis atas beberapa perkara, termasuk di
antaranya Undang-Undang Nomor 40 Tahun

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

16

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Tahun

Jumlah

Keterangan

2005

3

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2005
2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2005 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2004 Tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2005
3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2006

2006

4

1. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2006 tentang Perhitungan Anggaran Negara
Tahun Anggaran 2003
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2006
3. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara
4. Undang-Undang Nomor 22 tahun 2006 tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2004

2007

3

1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2007
2. Undang-Undang Nomor 45 tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2008
3. Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2007 tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2005

2008

3

1. Undang-Undang Nomor 16 tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2008
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2009
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2009 tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2006

2009

2

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007

2. Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun
2008 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009

TOTAL

15

Daftar RUU tentang APBN

Negara. Pelaksanaan fungsi anggaran DPR
dilakukan oleh AKD, termasuk Komisi-Komisi
dan Panggar. Hingga Agustus 2009, DPR telah
mengesahkan 15 RUU tentang APBN.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharan Negara; dan Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

17

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Pengawasan

Dalam hal pelaksanaan fungsi pengawasan,
DPR mengawasi eksekutif dalam menjalankan
atau melaksanakan UU dan APBN serta
pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah,
dengan mengadakan raker Komisi dengan
pasangan kerja masing-masing atau rapat
gabungan komisi, kunjungan kerja, dan
membentuk kepanitiaan seperti Pansus dan
Panja untuk menanggapi permasalahan yang
berkembang di masyarakat.

Penggunaan Hak-Hak DPR

Termasuk dalam pengawasan ini adalah

penggunaan hak-hak DPR dan hak-hak anggota
secara perorangan. Beberapa hak yang dimiliki
DPR sehubungan dengan tugas pengawasan
ini adalah hak interpelasi, hak angket, dan hak
menyatakan pendapat. Dalam Periode 2004-
2009, sejumlah hak interpelasi dan hak angket
yang diusulkan oleh para anggota DPR dapat
bergulir ke Rapat Paripurna.

Selain itu, pasca-amandemen UUD 1945,
DPR berwenang memberikan pertimbangan
kepada presiden dalam hal pengangkatan dan
penerimaan duta negara lain (Pasal 13 ayat 2
dan 3 amandemen UUD 1945), serta dalam hal
pemberian amnesti dan abolisi (Pasal 14 ayat 2
amandemen pertama UUD 1945).

Tanggal

Kasus

Keterangan

22 Maret
2005

Masalah Kebijakan

Pemerintah

Menaikkan Harga

Bahan Bakar

Minyak (BBM)

Angket BBM pertama terjadi pada 22 Maret 2005, menyusul

kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 29 persen

(28 Februari 2005), namun ditolak. Angket BBM kedua pada 24

Januari 2006 setelah BBM kembali dinaikkan Pemerintah sebesar

128 persen (1 Oktober 2005). Pemerintah menaikkan lagi harga

BBM sebesar 28,7 persen (24 Mei 2008) yang diikuti usul hak

angket DPR pada 3 Juni 2008.

24 Maret
2005

Kasus Penjualan

Tanker Pertamina

Sebanyak 23 anggota DPR dari 10 fraksi mengajukan hak

angket atau penyelidikan penjualan dua unit kapal tanker

milik Pertamina pada pemerintahan Presiden Megawati

Soekarnoputri pada 2004. Dua partai pendukung pemerintahan

Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, Partai Golkar dan

Partai Demokrat, melalui fraksinya di DPR, mendominasi

pengusul hak angket ini.

19 Mei
2005

Kasus Skandal

Kredit Macet Bank

Mandiri

Sebanyak 88 anggota DPR dari 10 fraksi mengajukan usul

penggunaan hak angket untuk mengungkap dan mendorong

pengungkapan kasus kredit macet Bank Mandiri. Fraksi

pengusul antara lain Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN),

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP), FPDIP, FPDS,

FPBR, serta Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (FBPD).

31 Mei
2005

Lelang Gula Ilegal

Dalam Rapat Paripurna, usulan untuk angket Lelang Gula Ilegal

ditolak. Fraksi yang menolak: Fraksi Golongan Karya (FPG),

Fraksi Partai Demokrat (FPD), Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

(FPKS), FBPD, FPPP, dan FPBR. Fraksi yang menerima: FPDIP,

Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), dan FPDS. Fraksi yang

abstain: FPAN

Penggunaan Hak Angket

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

18

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

24
Januari
2006

Masalah Kebijakan

Impor Beras

Sejumlah anggota DPR mengajukan hak menyelidiki dan

mempertanyakan kebijakan Pemerintah soal impor beras

melalui penggunaan hak angket dan interpelasi. Namun usulan

ini kandas di Rapat Paripurna karena tidak didukung mayoritas

anggota DPR. Dari 452 Anggota Dewan, 184 orang menolak hak

angket dan interpelasi, 151 orang mendukung hak angket, dan

107 orang setuju dengan hak interpelasi.

26 Mei
2009

Masalah

Pelanggaran Hak

Konstitusional

Warga Negara

(Angket DPT)

Kekisruhan DPT Pemilu Legislatif 2009 mendorong digelarnya

voting penggunaan hak angket. Sebanyak 129 Anggota Dewan

menyetujui hak angket dan 73 menolak dan satu suara abstain.

Jumlah anggota DPR yang mengikuti voting 203 orang dari 550

anggota DPR. Fraksi yang setuju: FPG, FPDIP, FPPP dan FPAN.

Fraksi yang menolak: FPD, FPKS dan FPDS. Sedangkan FPKB

terbelah menjadi 3 kelompok: 16 orang setuju, satu menolak dan

satu abstain.

Penggunaan Hak Angket (lanjutan)

Kasus

Keterangan

Masalah Kebijakan Impor Beras

oleh Pemerintah

Ditolak Rapat Paripurna

Masalah Persetujuan Pemerintah

RI atas Resolusi Dewan Keamanan

PBB Nomor 1747

Presiden mengutus menteri untuk memberi penjelasan

Masalah Penyelesaian Kasus

Lumpur Sidoarjo

Pembentukan Tim Pengawas Lumpur Sidoarjo

Penggunaan Hak Interpelasi

Pengangkatan Pejabat Publik

Tugas lain yang dilakukan DPR adalah
pengangkatan pejabat publik. Apabila suatu
peraturan perundang-undangan menentukan
agar

DPR

mengajukan/menganjurkan
atau memberikan persetujuan atas calon
untuk mengisi suatu jabatan, maka Rapat
Paripurna menugaskan kepada Bamus
untuk menjadwalkan dan menugaskan
pembahasannya kepada Komisi terkait.

Secara umum peranan DPR dalam proses
pengangkatan pejabat publik dapat dikategorikan
menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok
pejabat publik yang dalam pengangkatannya
diusulkan oleh DPR, dengan persetujuan DPR,
dan dipilih oleh DPR. Kelompok pejabat ini
dalam proses pencalonannya memerlukan
persetujuan melalui Paripurna DPR sebelum
disampaikan kepada Presiden untuk diproses
lebih lanjut. Kedua, kelompok pejabat publik yang
dalam pengangkatannya harus mendapatkan

Tanggal

Kasus

Keterangan

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

19

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Persetujuan DPR terhadap:

• Pencalonan anggota Dewan Pengawas Televisi

Republik Indonesia (TVRI)

• Pencalonan anggota Komisi Penyiaran Indonesia

Pusat (KPIP) Periode 2007-2010

• Pencalonan Hakim Agung

• Pencalonan anggota Komisi Nasional Hak Asasi

Manusia (Komnas HAM) Periode 2007-2012

• Pencalonan anggota dan Ketua Komite Badan

Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas)

masa jabatan 2007-2011

• Pencalonan anggota Komisi Perlindungan Anak

Indonesia (KPAI) masa jabatan 2007-2010

• Pencalonan Deputi Gubernur BI

• Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk memeriksa

pengelolaan dan tanggung jawab keuangan

tahunan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

• Calon anggota BPK (dari 7 menjadi 9 orang)

• Pencalonan Deputi Gubernur BI

• Pencalonan anggota KPU

• Pencalonan Pimpinan KPK

• Pemberhentian dan pengangkatan Panglima

TNI

• Penggantian Hakim Konstitusi

• Kantor Akuntan Publik untuk memeriksa

pengelolaan dan tanggung jawab keuangan

tahunan BPK

• Calon Gubernur BI

• Calon Deputi Gubernur BI

Pertimbangan DPR terhadap:

• Usul calon anggota Komisi Pengawas Persaingan

Usaha (KPPU) Periode 2006-2011

• Pemberian amnesti dan abolisi kepada semua

orang yang terlibat dalam Gerakan Aceh

Merdeka (GAM)

• 25 calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa

Penuh RI

• Calon anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan

Korban (LPSK)

• Calon anggota Badan Pengawas Pemilu

(Bawaslu)

• Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak

dan Gas Bumi (BP Migas)

Penolakan DPR terhadap:

• Calon Gubernur BI

Pengangkatan pejabat

publik merupakan

salah satu tugas

yang diemban oleh

DPR RI seperti saat

pencalonan anggota

KPU oleh Komisi II,

Maret 2006

pertimbangan dari DPR atau dikonsultasikan
dengan DPR. Untuk kelompok ini, proses
pencalonannya tidak memerlukan persetujuan
Rapat Paripurna DPR. Hasil pertimbangan dari
AKD yang ditugaskan akan langsung dikirim
kepada Presiden untuk diproses lebih lanjut.

Pada Periode 2004-2009 ini beberapa kegiatan
yang termasuk dalam kategori pengangkatan
pejabat publik yang cukup menonjol antara lain:

Dinamika Lima Tahun Mengemban Amanat Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

20

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

D. Laporan Pelaksanaan Tugas
Alat Kelengkapan Dewan

DPR memiliki sejumlah AKD sebagai alat
melaksanakan tugas dan wewenangnya untuk
meraih tujuan utamanya sebagai lembaga
legislatif. Bagian ini melaporkan kegiatan
masing-masing AKD selama periode lima
tahun terakhir.

Komisi

DPR memiliki komisi yang bersifat tetap dan
dibedakan berdasarkan bidang tugas yang
diemban. Tugas setiap komisi diarahkan untuk
menjadi spesialis kebijakan di bidangnya
masing-masing, termasuk menjadi pengawas
kebijakan Pemerintah, anggaran, maupun
RUU yang dibuat.

Di bidang legislasi, tugas komisi DPR adalah
sebagai berikut:
• Menyiapkan, membahas, dan
menyempurnakan RUU;
• Menyusun RAPBN bersama
Pemerintah;
- Membahas dan memberikan usulan
penyempurnaan
- Melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan UU, APBN, kebijakan
Pemerintah
- Menindaklanjuti hasil pemeriksaan
BPK

- Membahas dan menindaklanjuti usulan

DPD

Untuk menjalankan tugas tersebut, komisi
bisa mengadakan raker dengan Presiden,
menteri, RDPU dengan pejabat dan instansi
Pemerintah serta melakukan kunjungan
kerja dan kunjungan lapangan terkait
permasalahan yang menjadi pokok perhatian
dan bahasannya.

Susunan dan keanggotaan komisi ditetapkan
dalam Rapat Paripurna DPR pada permulaan
masa keanggotaan DPR dan permulaan Tahun
Sidang sesuai perimbangan dan pemerataan
jumlah anggota tiap-tiap fraksi. Selama

Periode 2004-2009, jumlah komisi yang ada
di DPR ditetapkan sebanyak 11 komisi sesuai
keputusan Rapat Paripurna pada 15 Oktober
2004 termasuk pembagian bidang tugas dan
mitra kerja masing-masing. Jumlah rata-rata
anggota tiap komisi adalah 50 orang.

Pembagian bidang tugas dan mitra kerja DPR
selama lima tahun adalah sebagai berikut:

Pimpinan masing-masing komisi tersebut
merupakan satu kesatuan pimpinan yang
bersifat kolektif, yang terdiri dari satu ketua
dan empat wakil ketua, yang dipilih dari dan
oleh anggota masing-masing komisi secara
musyawarah dan proporsional menurut
perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi
di DPR. Pimpinan komisi dapat berubah setiap
tahunnya bila dikehendaki masing-masing
fraksi, dan penggantian pimpinan diusulkan
oleh fraksi dan ditetapkan dalam rapat komisi.
Para anggota komisi harus memiliki keahlian
yang sesuai dengan bidang masing-masing
komisi tempat mereka bekerja.

Suasana di salah satu

Rapat Paripurna DPR

21

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Komisi

Bidang

Mitra Kerja

I

• Pertahanan

• Luar Negeri

• Komunikasi dan

Informatika

• Intelijen

• Telekomunikasi

• Departemen Pertahanan (Dephan)

• Departemen Luar Negeri (Deplu)

• TNI

• Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo)

• Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas)

• Badan Intelijen Negara (BIN)

• Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg)

• Lembaga Informasi Nasional (LIN)

• Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas)

• Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (LKBN Antara)

• Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

II

• Pemerintahan Dalam

Negeri

• Otonomi Daerah

• Aparatur Negara

• Agraria

• Departemen Dalam Negeri (Depdagri)

• Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara

(Kemeneg PAN)

• Kementerian Sekretaris Negara (Mensekneg)

• Sekretariat Kabinet (Setkab)

• Lembaga Administrasi Negara (LAN)

• Badan Kepegawaian Negara (BKN)

• Badan Pertanahan Nasional (BPN)

• Arsip Nasional RI (ANRI)

• KPU

III

• Hukum dan

Perundang-

undangan

• Hak Asasi Manusia

• Keamanan

• Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkum HAM)

• Kejaksaan Agung (Kejakgung)

• Polri

• KPK

• KON

• Komisi Hukum Nasional (KHN)

• Komnas HAM

• Komisi Yudisial (KY)

• Setjen MA

• Setjen MK

• Setjen MPR

• Setjen DPD

• Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

• Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN)

Pembagian Bidang Tugas dan Mitra Kerja Komisi DPR RI

Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan Dewan

IV

• Pertanian

• Perkebunan

• Kehutanan

• Kelautan

• Perikanan

• Pangan

• Departemen Pertanian (Deptan)

• Departemen Kehutanan (Dephut)

• Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)

• Badan Urusan Logistik (Bulog)

• Dewan Maritim Nasional (DMN)

V

• Perhubungan

• Pekerjaan Umum

• Perumahan Rakyat

• Pembangunan

Pedesaan dan

Kawasan Tertinggal

• Departemen Pekerjaan Umum (PU)

• Departemen Perhubungan (Dephub)

• Kementerian Negara Perumahan Rakyat (Kemenegpera)

• Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal

(Kemeneg PDT)

• Badan Meteorologi dan Geofsika (BMG)

• Badan SAR Nasional (Basarnas)

VI

• Perdagangan

• Perindustrian

• Investasi

• Koperasi, UKM dan

BUMN

• Persaingan Usaha

• Standarisasi

• Departemen Perindustrian (Deperin)

• Departemen Perdagangan (Deperdag)

• Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

(Kemenegkop UKM)

• Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

• Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

• Badan Standarisasi Nasional (BSN)

• Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)

• KPPU

VII

• Energi dan Sumber

Daya Mineral

• Riset dan Teknologi

• Lingkungan Hidup

• Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

• Kementerian Negara Lingkungan Hidup (Kemeneg LH)

• Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemeneg Ristek)

• Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

• Dewan Riset Nasional (DRN)

• Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

• Badan Tenaga Nuklir (Batan)

• Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapetan)

• Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional

(Bakorsurtanal)

• Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

• BPH Migas

• BP Migas

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

22

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Komisi

Bidang

Mitra Kerja

Pembagian Bidang Tugas dan Mitra Kerja Komisi DPR RI (lanjutan)

Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan Dewan

VIII

• Agama

• Sosial

• Pemberdayaan

Perempuan

• Perlindungan Anak

• Departemen Sosial (Depsos)

• Departemen Agama (Depag)

• Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (Kemeneg PP)

• KPAI

• Badan Nasional Penanggulangan Bencana

IX

• Kependudukan

• Kesehatan

• Obat dan Makanan

• Tenaga Kerja dan

Transmigrasi

• Departemen Kesehatan (Depkes)

• Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans)

• Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

• Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

X

• Pendidikan

• Pemuda dan Olah

Raga

• Pariwisata

• Perpustakaan

Nasional

• Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)

• Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kenbudpar)

• Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora)

• Perpustakaan Nasional (Perpusnas)

XI

• Keuangan

• Perencanaan

Pembangunan

Nasional

• Badan Pusat

Statistik

• Perbankan dan

Lembaga Keuangan

Bukan Bank

• Departemen Keuangan (Depkeu)

• Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala

Bappenas

• BI

• Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB)

• Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

• Badan Pusat Statistik (BPS)

• Sekretariat Jenderal BPK

23

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Komisi

Bidang

Mitra Kerja

Pembagian Bidang Tugas dan Mitra Kerja Komisi DPR RI (lanjutan)

Laporan Pelaksanaan Tugas Alat Kelengkapan Dewan

1. Komisi I

Bidang Pertahanan dan Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan
Informatika, dan Telekomunikasi

RUU

Inisiator

Status

Pengesahan Kovenan Internasional

tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan

Budaya (International Covenant on

Economic, Social, and Cultural Rights)

Pemerintah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang

Pengesahan Kovenan Internasional tentang

Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya

Pengesahan Konvensi Internasional

tentang Hak-Hak Sipil dan Politik

(International Convention on Civil and

Political Rights)

PemerintahUndang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang

Pengesahan Kovenan Internasional Tentang

Hak-Hak Sipil dan Politik

Pengesahan Konvensi Internasional

Pemberantasan Pengeboman oleh

Teroris, 1997

PemerintahUndang-Undang Nomor 5 Tahun 2006

tentang Pengesahan Konvensi Internasional

Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris, 1997

Pengesahan Konvensi Internasional

Pemberantasan Pendanaan Terorisme,

1999

PemerintahUndang-Undang Nomor 6 Tahun 2006

tentang Pengesahan Konvensi Internasional

Pemberantasan Pendanaan Terorisme, 1999

Pengesahan Konvensi Pelarangan

Penggunaan, Penimbunan, Produksi,

dan Transfer Ranjau Darat Anti Personel

dan Pemusnahannya (Convention on

the Prohibition of the Use, Stockpiling,

Production and Transfer of Anti Personnel

Mines and on Their Destruction)

PemerintahUndang-Undang Nomor 20 Tahun 2006 tentang

Pengesahan Konvensi Pelarangan Penggunaan,

Penimbunan, Produksi, dan Transfer Ranjau

Darat Anti Personel dan Pemusnahannya

Pengesahan Persetujuan antara

Pemerintah Republik Indonesia

dan Pemerintah Republik India

tentang Kegiatan Kerja Sama Bidang

Pertahanan

PemerintahUndang-Undang Nomor 21 Tahun 2006 tentang

Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah

Republik Indonesia dan Pemerintah Republik

India tentang Kegiatan Kerja Sama Bidang

Pertahanan

Pengesahan Persetujuan antara

Pemerintah Republik Indonesia dan

Pemerintah Republik Sosialis Vietnam

tentang Penetapan Batas Landas

Kontinen, 2003

PemerintahUndang-Undang Nomor 18 Tahun 2007 tentang

Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah

Republik Indonesia dan Pemerintah Republik

Sosialis Vietnam tentang Penetapan Batas

Landas Kontinen, 2003

Pengesahan Perjanjian antara

Pemerintah Republik Indonesia dan

Australia tentang Kerangka Kerja Sama

Keamanan

PemerintahUndang-Undang Nomor 47 Tahun 2007 tentang

Pengesahan Perjanjian antara Pemerintah

Republik Indonesia dan Australia tentang

Kerangka Kerja Sama Keamanan

Pada Periode 2004-2009, Komisi I menyelesaikan
10 RUU, masing-masing merupakan RUU
inisiatif DPR, RUU usulan Pemerintah, dan

RUU yang merupakan ratifkasi konvensi
internasional. Berikut ini daftar RUU tersebut:

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

24

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

E. KOMISI-KOMISI

RUU

Inisiator

Status

Kebebasan Memperoleh Informasi

Publik

DPR

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik

Pengesahan Konvensi PBB Menentang

Tindak Pidana Transnasional yang

Terorganisasi

Pemerintah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang

Konvensi PBB Menentang Tindak Pidana

Transnasional yang Terorganisasi

dan disinkronisasikan dengan Undang-Undang
tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Komisi I mengadakan RDPU dengan sejumlah
pakar/akademisi guna mendapatkan masukan
untuk RUU tersebut pada 26 Mei 2008, disusul
raker dengan Pemerintah pada 28 Mei 2008.
Dalam Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2008-
2009, pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Rahasia Negara telah selesai di tingkat
raker dan telah terbentuk Panja. Panja dalam
reses Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2008-
2009 melaksanakan kunjungan kerja teknis ke
Hungaria dan Thailand untuk perbandingan
dengan Rancangan Undang-Undang tentang
Rahasia Negara di negara yang bersangkutan.

Dari sisi anggaran, Komisi I lebih menekankan
pentingnya transparansi kepada para mitra kerja
dan juga pemanfaatan sumber-sumber daya
dan keuangan dari dalam negeri. Komisi I juga
menekankan agar mitra kerja menggunakan
anggaran secara efsien, efektif, dan profesional
serta menghindari tumpang-tindih dalam
pengadaan barang.

Dari rangkaian pertemuan dengan mitra kerjanya,
selain membahas anggaran rutin dalam RAPBN
serta perubahan yang ada dan membahas
program kerja mitra setiap tahun, ada beberapa
hal dan kebijakan yang dinilai menonjol terkait
bidang pertahanan di Komisi I, antara lain:
• Anggaran

bidang

pertahanan

dan
TNI diprioritaskan untuk peningkatan
profesionalisme TNI, pemeliharaan dan
perawatan alutsista, dan peningkatan
kesejahteraan prajurit;
• Pengiriman 850 pasukan pemelihara

Di bidang anggaran, Komisi I menetapkan
besaran Rencana Kerja Anggaran Kementerian/
Lembaga (RKA-K/L) para mitra kerja, termasuk
pembahasan pengajuan RAPBN untuk setiap
tahunnya, perubahan realisasi anggaran yang
telah dipergunakan untuk setiap tahun berjalan
(Semester I dan Semester II), serta pembahasan
pengajuan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Perubahan (APBN-P) untuk setiap tahun
anggaran dalam perubahan terhadap anggaran
yang sedang berjalan.

Sedangkan untuk bidang pengawasan, Komisi I
memberi perhatian antara lain pada kedaulatan
dan keutuhan wilayah RI, daerah perbatasan,
pencegahan upaya internasionalisasi konfik di
dalam negeri, profesionalisme TNI, bisnis TNI,
dan alat utama sistem pertahanan (alutsista),
serta terorisme.

Pertahanan dan Intelijen

Dari sisi legislasi bidang pertahanan, Komisi
I baru membahas satu RUU yang diusulkan
Pemerintah, yaitu RUU Rahasia Negara
pada Tahun Sidang 2006-2007. Akan tetapi,
pembahasannya tidak segera bisa dilakukan
karena Komisi I memutuskan memprioritaskan
penyelesaian Rancangan Undang-Undang
tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Rahasia Negara baru bisa dilakukan
pada Tahun Sidang 2007-2008. Sejak awal
Komisi I bersikap bahwa RUU ini harus mengacu
pada semangat dan ketentuan Undang-Undang
tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pada
bulan Mei 2009, Komisi I mengembalikan RUU
tersebut kepada Pemerintah untuk diperbaiki

25

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

perdamaian ke Lebanon untuk memenuhi
undangan United Nations Interim Force in
Lebanon
(UNIFIL) yang bernilai positif bagi
Indonesia;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006, meyakinkan
pihak Dephan agar menetapkan harga 32
Panser Vehicle Avant Blinde (VAB) buatan
Renault Trucks, Perancis, pada kisaran
harga yang wajar dan melakukan transaksi
pembelian secara transparan. Hasilnya,
harga panser dapat ditekan dari semula
ditawarkan 700.000 euro per unit menjadi
500.000 euro per unit atau menghemat
200.000 euro;
• Mengenai pemanfaatan fasilitas kredit
ekspor untuk memenuhi kebutuhan alutsista
TNI, Komisi I dalam raker dengan Dephan
pada 17 Juli 2007 meminta kredit ekspor
digunakan bila pembiayaan dan dana dalam
negeri betul-betul sudah tidak mampu
memenuhi kebutuhan alutsista TNI dan
sedapat mungkin sumber alutsista berasal
dari industri strategis dalam negeri dengan
tetap mengutamakan kualitas dan efsiensi;
• Di bidang intelijen, terkait rincian program
dan kegiatan BIN dalam Tahun Anggaran
2007, Komisi I meminta BIN untuk menyusun
cetak biru (blue print) besaran kebutuhan
minimal dan peta anggaran;
• Untuk menghindari tumpang-tindih dalam
pengadaan barang, diperlukan koordinasi
bersama yang mencerminkan kebijakan
satu pintu. Dalam hal ini, Lemhanas dan
Wantanas perlu menyusun anggaran yang
harus dihubungkan dengan kinerja program
yang tangible dan intangible.

Terkait tugas pengawasan di bidang ini, selama
periode lima tahun, Komisi I memberi perhatian
penuh antara lain pada soal kedaulatan NKRI,
pengawasan perbatasan dan daerah rawan, dan
pencegahan internasionalisasi konfik dalam
negeri dan profesionalisme TNI terutama terkait
bisnis. Selama lima tahun terakhir, kegiatan
pengawasan Komisi I yang cukup menonjol di
bidang pertahanan mencakup antara lain:
• TNI-AL agar memprioritaskan kepentingan

di daerah-daerah perbatasan, pulau-
pulau terpencil, dan daerah-daerah rawan
konfik dalam upaya membangun alutsista,
meningkatkan

pengamanan

wilayah
perbatasan laut antara Indonesia dengan
Malaysia, Singapura, dan Filipina yang
sangat rawan terhadap pencurian ikan,
penyelundupan barang, dan imigran gelap;
• Pemerintah agar membahas atau meninjau
ulang masalah Flight Information Region
(FIR) yang sampai sekarang otoritasnya
dipegang oleh Singapura;
• Pemerintah untuk berpegang teguh pada
prinsip NKRI, Otonomi Khusus, pelucutan
senjata dan pembubaran GAM untuk
menciptakan perdamaian di Aceh melalui
Perundingan Helsinki;
• Terkait internasionalisasi sejumlah konfik
di Indonesia dan perkembangan kasus
Ambalat, BIN diminta meningkatkan
analisis dan upaya/kontra intelijen dan terus
melakukan koordinasi dengan instansi lain
seperti Menteri Koordinator Politik, Hukum,
dan Keamanan (Menkopolhukam), Deplu,
Polri, dan TNI, serta melaksanakan operasi
intelijen yang lebih intensif untuk mencegah
berkembangnya kasus tersebut;
• Meminta Pemerintah memperbaiki substansi
perjanjian Defense Cooperation Agreement
(DCA) dengan Singapura yang dinilai lebih
menguntungkan Singapura, dan menolak
DCA tersebut apabila tidak diperbaiki;
• Terkait masalah implementasi Undang-
Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang
Tentara Nasional Indonesia, pada
Tahun Sidang 2004-2005 meminta TNI
menertibkan sejumlah bisnisnya dengan
cara mengevaluasi bisnis-bisnis terkait
TNI, dan menyusun rencana komprehensif
tentang penghapusan bisnis TNI;
• Dalam hal keamanan dalam negeri, meminta
Polri dan jajaran intelijen mengungkap
jaringan terorisme yang masih bergerak di
Indonesia serta meningkatkan kewaspadaan
seiring makin seringnya terjadi kebocoran
rahasia negara di instansi dalam maupun
luar negeri.

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

26

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Kegiatan lain termasuk kajian kesejahteraan
prajurit, penyelesaian permasalahan aset tanah
dan rumah dinas di lingkungan Dephan/TNI,
pendidikan kewarganegaraan, serta pemetaan
terhadap adanya aksi yang terkait Suku, Agama,
Ras, dan Antar golongan (SARA) di berbagai
daerah di Indonesia.

Luar Negeri

Di bidang luar negeri, Komisi I selama lima tahun
terakhir melaksanakan tugas legislasi, terutama
ratifkasi RUU antara lain Rancangan Undang-
Undang tentang Pengesahan Persetujuan antara
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah
Republik Sosialis Vietnam tentang Penetapan
Batas Landas Kontinen, 2003; Rancangan
Undang-Undang tentang Pengesahan Konvensi
Internasional Pemberantasan Pengeboman oleh
Teroris, 1997; dan Rancangan Undang-Undang
tentang Pengesahan Konvensi Internasional
Pemberantasan Pendanaan Terrorisme, 1999.

Di bidang anggaran, komisi ini terus menekankan
perlunya efsiensi anggaran. Komisi I mendesak
mitra kerjanya untuk meningkatkan kinerja
dengan mencari solusi yang tepat di tengah
keterbatasan anggaran. Peningkatan diplomasi
Indonesia dan perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (TKI) di luar negeri tetap mengemuka
sebagaimana tercermin dalam desakan Komisi
I kepada Deplu, misalnya:

• Perlunya pengkajian ulang tentang
perwakilan luar negeri yang akan ditutup,
dibuka, dan dimerjer dalam rangka efsiensi
anggaran;
• Perlunya Deplu memanfaatkan secara
optimal anggaran dari alokasi Pendapatan
Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk
meningkatkan peran diplomasi Indonesia
serta melakukan peningkatan pelayanan dan
perlindungan hukum bagi TKI di luar negeri;
• Dalam hal perlindungan Warga Negara
Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia
di Luar Negeri, Komisi I meminta Deplu terus
meningkatkan pelayanan terhadap WNI dan
Badan Hukum Indonesia di Luar Negeri dan
menjamin perlindungan mereka.

Selain itu, hubungan bilateral antara Indonesia
dengan pihak asing, misalnya Singapura,
Malaysia, Amerika Serikat (AS), dan Australia
juga mendapat perhatian besar. Prihatin
terhadap kedaulatan bangsa dan keutuhan
NKRI, Komisi I dalam menjalankan tugas
pengawasannya, menggelar sejumlah rapat
dengan para mitranya dan menggarisbawahi
sejumlah hal, termasuk:
• Mendesak Pemerintah pada Tahun Sidang
2004-2005 agar dalam perundingan
perjanjian ekstradisi dengan Singapura
memberikan tenggat waktu perundingan
sesegera mungkin agar Singapura tidak
mengulur-ulur waktu;

27

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Anggota Komisi

I mendapatkan

penjelasan dari

Bupati Sanggau,

Kalimantan Barat

saat melakukan

kunjungan kerja 2005

KOMISI-KOMISI

• Menolak bentuk dan rumusan DCA
dan mengharuskan Pemerintah terus
memperjuangkan perbaikan substansi
perjanjian itu; dalam perkembangan
selanjutnya, karena Singapura tidak
bersedia memperbaiki substansi DCA,
maka Komisi I menolak DCA tersebut;
• Mendesak dan menegaskan agar
pelaksanaan perundingan Indonesia-
Malaysia tidak mengurangi yuridiksi
Indonesia atas Blok Ambalat;
• Meminta Menteri Luar Negri (Menlu)
melakukan diplomasi total dengan
meningkatkan lobi ke Pemerintah, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), pakar, dan
Kongres AS serta negara-negara lain untuk
meredam gerakan separatis di Provinsi
Papua;
• Mendesak Pemerintah agar meminta
komitmen Australia untuk menghormati
kedaulatan RI dan tidak mendesakkan
pemisahan Papua dari NKRI termasuk
menyelidiki 42 WNI asal Papua yang
meminta suaka;
• Meminta

Pemerintah

memperbaiki
perjanjian kerja sama RI-AS tentang Naval

Medical Research Unit Two (NAMRU-2)
agar memberi manfaat optimal bagi
Indonesia dan terfokus pada penelitian
penyakit menular.

Secara umum, catatan Komisi I terhadap
Deplu, lebih banyak merupakan desakan,
saran, dan himbauan untuk memperjuangkan
kedaulatan NKRI, diplomasi luar negeri yang
lebih aktif, dan juga keterlibatan aktif Indonesia
dalam percaturan politik global seperti kasus
Myanmar, krisis Timur Tengah, dan penyelesaian
krisis antarnegara tetangga. Selain itu Komisi
I juga memberikan pertimbangan terhadap
pengangkatan Duta Besar Indonesia di luar
negeri dan penerimaan Duta Besar negara
sahabat untuk Indonesia.

Komunikasi dan Informatika, dan
Telekomunikasi

Hal yang perlu dicatat dari kegiatan legislasi
Komisi I terkait bidang komunikasi dan
informatika adalah pembahasan Rancangan
Undang-Undang

tentang

Kebebasan
Memperoleh Informasi Publik yang diusulkan

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

28

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Anggota Komisi I DPR

meninjau peralatan

pertahanan RI di

tahun 2005

KOMISI-KOMISI

komisi ini. Mengingat substansi RUU ini
cukup banyak mendapat sorotan dan memiliki
kandungan yang dekat dengan kepentingan
publik, jelas terlihat desakan untuk
menuntaskan RUU. Dalam Periode 2004-2009,
RUU ini termasuk yang paling mendalam
dibahas dan diperdebatkan, khususnya sejak
awal inisiatif pada Tahun Sidang 2005-2006
hingga pengesahannya dengan nama ”baru”
yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008
tentang Keterbukaan Informasi Publik. Total
waktu yang dibutuhkan adalah 22 bulan.
Proses yang cepat ini merupakan hasil
permintaan Komisi I kepada Pemerintah agar
memberi prioritas pada pembahasan RUU
tersebut. Menteri Komunikasi dan Informasi
(Menkominfo) bertindak mewakili Pemerintah,
sedangkan DPR diwakili oleh Komisi I dalam
membahas RUU ini. Undang-Undang tentang
Keterbukaan Informasi Publik mulai berlaku
pada 2010.

Hal-hal yang krusial dalam pembahasan
Undang-Undang

tentang

Keterbukaan
Informasi Publik ini adalah pembahasan
tentang defnisi badan publik dimana BUMN,
LSM masuk di dalamnya, karena pada intinya
setiap institusi yang menggunakan dana rakyat
melalui APBN dan juga mendapat bantuan/
dana dari luar negeri termasuk badan publik.
Dengan berlakunya prinsip MALE (Maximum
Acces Limited Exemption
), maka segala
informasi pada prinsipnya terbuka luas untuk
publik kecuali informasi terkait keamanan
nasional, pertahanan, intelijen, dan privasi
seseorang.

Rancangan Undang-Undang tentang Perposan
yang berasal dari DPR 1999-2004 tetap masuk
dalam Prolegnas 2004-2009. Dalam rapat-rapat
dengan Dirjen Pos dan Telekomunikasi dan
Direktur Utama PT Pos, Komisi I mendukung
dan mempercepat proses pembuatan Undang-
Undang tentang Perposan. Dalam proses
pembahasannya, Komisi I membentuk Tim
Penyempurnaan terhadap RUU tersebut dan
sudah mengadakan rapat beberapa kali.

Namun hingga buku laporan ini disusun, RUU
ini belum disahkan.

Dari segi anggaran, selain menyusun dan
menetapkan anggaran untuk mitra kerja setiap
tahun, Komisi I secara umum menegaskan
agar mitra kerja berkomitmen menjaga aset
lembaga negara di bidang informasi dan
memperluas pembangunan sarana komunikasi
ke daerah-daerah yang kurang tersentuh
pembangunan. Oleh karena itu, Komisi I
mendorong lembaga negara untuk mencari
jalan guna menjamin keberlangsungan
operasionalnya. Dorongan tersebut nampak
dalam raker yang dilaksanakan Panggar dan
Kelompok Kerja (Pokja) dengan mitra-mitra
Komisi I.

Beberapa hal yang mencuat antara lain:
• Mendorong agar TVRI, Radio Republik
Indonesia (RRI), dan LKBN Antara
memaksimalkan tambahan dana dari luar
APBN melalui kerja sama dengan pihak
lain sepanjang tidak bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan;
• Mendesak Depkominfo agar melaksanakan
program Universal Service Obligation
(USO) secara efektif dan efsien dengan
memaksimalkan anggaran PNBP USO,
sehingga seluruh wilayah Indonesia dapat
terjangkau telekomunikasi;
• Meminta Pemerintah mensinergikan
program-programnya dengan program
USO guna menyeimbangkan ketimpangan
ekonomi serta membuka akses ke berbagai
daerah;
• Meminta Pemerintah mengembangkan
teknologi informasi dan komunikasi nasional
baik piranti keras maupun lunak termasuk
kebijakan yang mendorong industri nasional
tersebut;
• Pada 2006-2007, menolak kenaikan tarif
telepon yang memberatkan masyarakat
dan meminta Pemerintah menemukan
formulasi yang mampu menurunkan
tarif telekomunikasi dengan cara adopsi
teknologi baru;

29

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

• Meminta Pemerintah membuat regulasi
soal Short Message Service (SMS) premium
berhadiah yang dianggap membodohi
rakyat;
• Meminta lembaga penyiaran publik
seperti TVRI, RRI, dan LKBN Antara
mempertahankan independensinya.

Dari sisi pengawasan, Komisi I senantiasa
berpegang pada prinsip kepentingan bangsa
dan negara, termasuk dalam menetapkan dan
menerapkan regulasi yang tegas di industri
komunikasi dalam negeri. Beberapa hal
menonjol terkait pengawasan Komisi I antara
lain:
• Pemerintah agar menuntaskan semua
pelanggaran keuangan yang ditemukan
BPK di lingkungan Departemen Komunikasi
dan Informasi (Depkominfo) pada 2004-2005
agar tidak menjadi kasus korupsi;
• Pemerintah agar memberdayakan KPI
dengan menegaskan bahwa kewenangan
pemberian izin lembaga penyiaran berada
pada KPI;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Pemerintah mempertimbangkan untuk
mengambil alih kembali (buy back) PT
Indosat karena divestasi Indosat dinilai
sebagai kekeliruan mendasar;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Pemerintah mengalokasikan frekuensi
dengan efektif, efsien, dan tepat bagi
kepentingan publik.

Penyerapan Aspirasi

Untuk menjalankan fungsinya, Komisi
I melakukan kegiatan untuk menyerap
aspirasi masyarakat melalui antara lain
RDPU, kunjungan kerja, kunjungan lapangan,
penerimaan delegasi masyarakat, dan
pengaduan masyarakat. Beberapa kegiatan
yang terkait penyerapan aspirasi ini antara
lain:
• Menerima tokoh-tokoh masyarakat Papua
pada 2004;
• RDPU dengan Koalisi untuk Kebebasan
Memperoleh Informasi pada 2005 terkait

Rancangan Undang-Undang tentang
Keterbukaan Informasi Publik;
• Menerima perwakilan Serikat Karyawan PT
Telkom Tbk pada 2005;
• Menerima perwakilan Komisi Untuk Orang
Hilang dan Korban Tindak Kekerasan
(Kontras) mengenai masalah pembebasan
sandera WNI di Filipina pada 13 Mei 2005;
• Untuk kunjungan ke daerah, Komisi I
Periode 2004-2009 telah melakukan
kunjungan kerja ke perbatasan, pulau-
pulau terdepan dan kunjungan ke pos-pos
TNI di wilayah perbatasan. Dari kunjungan
tersebut, Komisi I meminta Pemerintah
untuk:
- Meningkatkan dukungan anggaran
pertahanan khususnya peningkatan
sarana dan prasarana pos-pos di
wilayah perbatasan;
- Perlunya pemberian insentif/tunjangan
kemahalan untuk Prajurit TNI yang
bertugas di wilayah perbatasan dan
pulau-pulau terdepan;
- Perlunya dilakukan rotasi minimal 3
bulan sekali untuk prajurit TNI yang
ditempatkan di wilayah perbatasan dan
pulau-pulau terdepan;
- Perlunya dukungan sarana komunikasi
di wilayah perbatasan dan pulau-pulau
terdepan;
- Peningkatan

pembangunan,
perekonomian, dan pemberdayaan
masyarakat di wilayah perbatasan
oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan
Pemerintah Pusat melalui departemen
terkait.

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

30

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Komisi II berhasil mengesahkan 66 RUU
menjadi UU pada Periode 2004-2009. Sebagian
besar RUU yang dibahas dan disahkan
Rapat Paripurna terkait pembentukan
daerah sesuai bidang Otonomi Daerah.
Selain soal pembentukan daerah, Komisi
II juga menitikberatkan pada pembahasan

2. Komisi II

Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, Otonomi Daerah,
Aparatur Negara, dan Agraria

sesuai bidang tugasnya. Pada saat buku ini
dalam proses pencetakan, Komisi II sedang
melakukan pembahasan Rancangan Undang-
Undang tentang Keistimewaan Yogyakarta.
Berikut ini RUU yang diselesaikan Komisi II
selama 2004-2009:

RUU

Inisiator

Status

57 RUU pembentukan daerah

DPR

Menyetujui 57 UU tentang pembentukan
daerah

Administrasi Kependudukan

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006
tentang Administrasi Kependudukan

Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah

DPR

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah

Penetapan Peraturan Penganti Undang-
Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2006
tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang
Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD
menjadi Undang-Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2006
tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun
2006 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003
tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan
DPRD menjadi Undang-Undang

Pelayanan Publik

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik

Perubahan Ketiga Atas Undang-
Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Kabupaten Pelalawan,
Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten
Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten
Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten
Kuantan Singingi, dan Kota Batam

DPR

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2008
tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-
Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Kabupaten Pelalawan,
Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten
Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten
Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten
Kuantan Singingi, dan Kota Batam

Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi
Undang-Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008
tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun
2008 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua
Menjadi Undang-Undang

KOMISI-KOMISI

31

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2009
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu
Anggota DPR, DPD, dan DPRD Menjadi
Undang-Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2009
tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun
2009 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD
Menjadi Undang-Undang

Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun
2005 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-
Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun
2005 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-
Undang

Kearsipan Nasional

Pemerintah

Undang-Undang Kearsipan Nasional

Untuk pembahasan anggaran selama
Periode 2004-2009, Komisi II menetapkan
besaran RKA-K/L para mitra kerja, termasuk
pembahasan pengajuan RAPBN untuk setiap
tahunnya, perubahan realisasi anggaran yang
telah dipergunakan untuk setiap tahun berjalan
(Semester I dan Semester II), pembahasan
pengajuan APBN-P untuk setiap tahun
anggaran dalam perubahan terhadap anggaran
yang sedang berjalan. Dalam pembahasan
anggaran tersebut, Komisi II menekankan
pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan
optimalisasi penggunaan anggaran.

Ketika melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan UU oleh pihak eksekutif dan
jalannya pemerintahan, Komisi II antara lain
mengadakan sejumlah raker, RDP, RDPU, dan
kunjungan kerja, serta kunjungan lapangan
pada masa reses. Dalam menjalankan tugas
pengawasan ini, Komisi II menegaskan
keprihatinan dan keberpihakannya pada
masyarakat termasuk di daerah bencana,
daerah tertinggal dan perbatasan, masyarakat
kelas bawah, dan prinsip transparansi dan
antikorupsi.

Selain berurusan dengan pemerintahan,
aparatur negara dan otonomi daerah, Komisi II
juga membidangi masalah politik dalam negeri

dan bermitra kerja dengan KPU dan Bawaslu.
Sejak pemilihan kepala daerah (pilkada) secara
langsung diselenggarakan di negeri ini tahun
2005, banyak masalah yang bermunculan
pasca pilkada. Untuk melaksanakan
fungsi pengawasan, Komisi II secara rutin
mengadakan raker dengan KPU dan Bawaslu,
baik untuk mengawasi pelaksanaan tahapan
pilkada maupun membahas penyelesaian
kasus-kasus yang terjadi.

Dalam penyelenggaraan pemilu anggota DPR,
DPD, dan DPRD tahun 2009 dan Pilpres 2009
juga muncul banyak masalah. Masalah itu
selain bersumber dari faktor produk peraturan
perundang-undangan yang banyak dibatalkan
oleh MK dan MA serta masalah teknis lain,
juga disebabkan oleh kekurangmampuan KPU
dalam mengelola penyelenggaraan pemilu.
Puncak dari persoalan yang terjadi, adalah
berkenaan dengan DPT yang berujung dengan
dibentuknya Panitia Angket tentang DPT.

Pemerintahan Dalam Negeri dan
Otonomi Daerah

Masalah administrasi kependudukan, otonomi
daerah, dan pemekaran wilayah merupakan
permasalahan yang menuntut perhatian
Komisi II. Berikut ini adalah beberapa RUU

RUU

Inisiator

Status

KOMISI-KOMISI

32

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

yang berhasil dituntaskan pembahasannya
oleh Komisi II:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Administrasi Kependudukan

Berawal dari keputusan Bamus tanggal 22
September 2005 yang menugaskan Komisi
II untuk memproses pembicaraan Tingkat
I terhadap Rancangan Undang-Undang
tentang Administrasi Kependudukan, Komisi
II melakukan berbagai proses pembicaraan
Tingkat I, yang diawali dengan melakukan
pengkajian dan penelitian serta mengadakan
RDP dan RDPU untuk mendapat masukan.

Substansi yang perlu dirumuskan lebih
hati-hati adalah menyangkut penghayat
kepercayaan

terkait

administrasi
kependudukan. Dalam hal ini, Tim Perumus
(Timus) Komisi II mengadakan rapat dengan
sejumlah instansi Pemerintah untuk
perumusan yang tepat. Kemudian, untuk
memastikan agar RUU yang dirumuskan
dapat diterima oleh masyarakat, Komisi
II mengadakan Uji Publik RUU dengan
mengadakan RDP antara lain bersama
Dirjen Peraturan Perundang-undangan,
Dirjen Penghayat Kepercayaan, Majelis
Ulama Indonesia (MUI), Parisada Hindu
Dharma, Perwakilan Umat Budha Indonesia
(Walubi), Konferensi Wali Gereja Indonesia,
dan Majelis Tinggi Agama Konghucu
Indonesia (Matakin).

Keputusan untuk tetap mencantumkan
kolom agama dan kepercayaan pada
kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu

keluarga (KK) menyulut pro dan kontra di
antara anggota komisi. Pihak pendukung
menyatakan bahwa kolom agama di KTP dan
KK tetap dicantumkan karena penghayat
kepercayaan menganggap bahwa aliran
kepercayaan bukanlah agama. Selain
itu, hak-hak administrasi kependudukan
penghayat kepercayaan tetap diakomodasi
dengan mencatat setiap peristiwa penting
dan peristiwa kependudukan para
penghayat kepercayaan. Sedangkan, pihak
penentang menyatakan bahwa RUU tentang
Administrasi Kependudukan masih bersifat
diskriminatif terhadap kelompok penghayat
aliran kepercayaan.

Setelah serangkaian proses pada bulan
Desember, akhirnya pada 8 Desember
2006 Rancangan Undang-Undang tentang
Administrasi Kependudukan disetujui
menjadi UU dengan satu Fraksi (FPPP) yang
mengajukan minderheid nota.

Selain itu, permasalahan yang menghadang
Komisi II di bidang pemerintahan dalam
negeri adalah terjadinya tsunami tanggal 26
Desember 2004 di Aceh dan Nias yang menjadi
bencana nasional terdahsyat dalam beberapa
tahun terakhir dan menghambat administrasi
pemerintahan di daerah tersebut.

Dalam era reformasi yang terus bergulir,
permasalahan otonomi daerah dan pemekaran
wilayah semakin membutuhkan payung hukum
yang jelas dalam bentuk UU. Oleh karena itu,
sebagian besar RUU yang dibahas Komisi
II pada Periode 2004-2009 merupakan RUU

KOMISI-KOMISI

33

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Komisi II saat

melakukan salah satu

kunjungan lapangan

pada September 2008

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

tentang pembentukan daerah-daerah otonom
baru dengan pembentukan provinsi, kota, dan
kabupaten seperti terlihat dari banyaknya RUU
yang sudah disahkan menjadi UU.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Perubahan Kedua Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah

Dari sisi legislasi, salah satu pembahasan
RUU yang diselesaikan Komisi II dalam
periode ini adalah Rancangan Undang-
Undang tentang Perubahan Kedua Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Mitra Pemerintah dalam pembahasan RUU
ini adalah Menteri Dalam Negri (Mendagri)
dan Menteri Hukum dan HAM (Menkum
HAM). Alasan mengubah Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tersebut adalah
untuk menanggapi Putusan MK Nomor 5/
PUU-V/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang
calon perseorangan, yaitu calon yang tidak
terkait dan tidak didukung oleh partai
politik.

Walaupun tidak ada fraksi DPR yang
menentang calon perseorangan dalam
pembahasan di Komisi II, namun terjadi tarik-
menarik mengenai persyaratan dukungan
minimal yaitu ketika sejumlah anggota
menginginkan jumlah dukungan minimal
bagi calon perseorangan lebih ringan, antara
2 persen dari jumlah penduduk untuk pilkada
provinsi dan 3 persen dari jumlah penduduk
untuk pilkada kabupaten/kota. Sementara
anggota lain menginginkan jumlah dukungan
yang lebih tinggi.

Dalam pembahasan dengan Pemerintah
terjadi perbedaan pendapat mengenai
persyaratan dana deposit bagi calon
perseorangan. Sejumlah anggota Komisi
II berpendapat bahwa persyaratan dana
deposit antara Rp 200 juta hingga Rp 1,4
miliar untuk calon gubernur/wakil gubernur
dan Rp 50 – Rp 350 juta bagi calon bupati/
wakil bupati, walikota/wakil walikota
sangat penting, namun pihak Pemerintah
menyatakan bahwa calon perseorangan
tidak perlu dibebani persyaratan dana
deposit tersebut.

Setelah melalui proses pembahasan yang
panjang dan melibatkan banyak pihak dalam
RDP, Komisi II dan Pemerintah sepakat
untuk menyetujui Rancangan Undang-
Undang Perubahan Kedua Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah pada 27 Maret 2008. RUU yang
sudah disepakati tersebut menghilangkan
sejumlah ketentuan yang mempersulit dan
membatasi calon perseorangan, antara lain
dihapuskannya syarat dana deposit dalam
bentuk escrow account, dan dihapuskannya
ketentuan harmonisasi jumlah calon
perseorangan terhadap calon parpol.
Terobosan penting lainnya dalam RUU
tersebut adalah pengalihan kewenangan
memutus sengketa pilkada dari MA ke MK.
Akhirnya, Rapat Paripurna DPR tanggal
1 April 2008 menyetujui RUU Perubahan
Kedua Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah untuk
disahkan menjadi UU.

KOMISI-KOMISI

34

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Kunjungan kerja

Komisi II DPR

ke Pulau Buton,

Sulawesi Tenggara,

Maret 2009

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Terkait masalah anggaran untuk bidang
pemerintahan dalam negeri, Komisi II
menekankan pentingnya transparansi dan
akuntabilitas penggunaan anggaran. Desakan
ini tercermin dalam raker dan RDP dengan
Mendagri dan Sekjen KPU antara lain:
• Terkait penyelenggaraan pilkada, meminta
Mendagri dalam raker pada Tahun Sidang
2004-2005 agar segera membuat rincian
alokasi anggaran per daerah secara
proporsional dan sesuai rumusan dan
kriteria yang telah disepakati, berdasarkan
pagu anggaran pilkada dari Panggar;
• Meminta Sekjen KPU membuat rincian
kegiatan dan penggunaan anggaran pos per
pos secara jelas dan transparan.

Untuk tugas pengawasan, Komisi II
menunjukkan keberpihakannya pada korban
bencana alam, korban kekerasan, dan mereka
yang tinggal di daerah perbatasan melalui
antara lain, desakan kepada Pemerintah untuk
melakukan sejumlah hal:
• Terkait bencana tsunami di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan
Kabupaten Nias, pada Tahun Sidang 2004-
2005 meminta Mendagri meningkatkan
peran dalam upaya melakukan rehabilitasi
dan rekonstruksi di kedua daerah tersebut
dengan memperhatikan rekomendasi
Komisi II;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Pemerintah melalui Mendagri mengajukan
konsep terpadu tentang pengelolaan wilayah
perbatasan, sambil menunggu penyelesaian
draft Rancangan Undang-Undang tentang
Perbatasan;
• Menyikapi kekerasan yang terjadi di Institut
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), pada 8
Mei 2007 sepakat membentuk Panja IPDN
setelah melakukan kunjungan lapangan.
Setelah serangkaian RDP dengan berbagai
pihak, Panja IPDN Komisi II menyampaikan
rekomendasi antara lain, IPDN tidak boleh
lagi menerima Praja baru sampai dengan
selesainya format pendidikan kedinasan;
Depdagri dan pimpinan sementara IPDN

harus melakukan pembenahan dengan
antara lain, menghilangkan budaya
kekerasan, memperbarui kurikulum
pendidikan, dan mengubah manajemen
kepemimpinan.

Pendayagunaan Aparatur Negara

Salah satu pencapaian penting Komisi II
dalam menjalankan tugas legislasi di bidang
Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN)
adalah berhasil menyetujui keluarnya Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik. Rapat Bamus tanggal 27
Oktober 2005 menugaskan Komisi II untuk
membahas Rancangan Undang-Undang
tentang Pelayanan Publik. Berikut ini adalah
sekilas pembahasannya:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Pelayanan Publik

Pembahasan RUU ini berlangsung lama
karena Komisi II sangat hati-hati melakukan
pembahasan dan perumusannya karena
terkait dengan peraturan perundangan
lainnya. Pengambilan keputusan tingkat I
dilaksanakan dalam raker dengan Meneg
PAN dan Menkum HAM pada tanggal 17 Juni
2009. Akhirnya, pada 23 Juni 2009 Rancangan
Undang-Undang tentang Pelayanan Publik
ini disetujui untuk disahkan dalam Rapat
Paripurna DPR.

RUU ini didesain untuk mengubah watak
negara dan pejabat negara dari penguasa
rakyat menjadi pelayan rakyat, memberi
kejelasan dan pengaturan tentang
pelayanan publik dalam rangka pemenuhan
hak dasar setiap penduduk dan warga
negara atas suatu barang, jasa, dan/atau
pelayanan administrasi yang disediakan
oleh penyelenggara pelayanan publik di
berbagai lembaga negara dan korporasi.

Terkait pembahasan mengenai anggaran,
Komisi II menekankan pentingnya penggunaan
anggaran yang sejalan dengan arah kebijakan
dan prioritas para mitranya. Salah satu contoh

KOMISI-KOMISI

35

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

dari penekanan tersebut tampak jelas misalnya
saat Komisi II menugaskan Panggar dan Tim
Kerja Aparatur Negara Komisi II untuk mengkaji
secara lebih mendalam, termasuk menentukan
arah kebijakan dan penentuan prioritas 2008
dalam pembahasan Pagu Indikatif Tahun 2008
untuk Kemeneg PAN, BKN, LAN, dan ANRI.

Di bidang pengawasan, masalah kependudukan
dan pengangkatan calon Pegawai Negeri Sipil
(PNS) mendapat perhatian besar dari Komisi II.
Kebijakan penggunaan kartu identitas tunggal
bagi penduduk dirasa semakin penting untuk
tertib administrasi kependudukan, sementara
permasalahan terkait penerimaan calon PNS
kadang mengabaikan orang-orang yang sudah
lama mengabdi sebagai tenaga honorer namun
tidak memenuhi persyaratan pendidikan
untuk menjadi PNS. Posisi Komisi II dalam
permasalahan ini tampak dalam desakannya
sebagai berikut:
• Dalam pengelolaan penduduk sebagai
sumber daya manusia (SDM), pada
Tahun Sidang 2004-2005 meminta Meneg
PAN menuntaskan rencana kebijakan
penggunaan kartu identitas tunggal dengan
tetap berkoordinasi dengan instansi lain
yang mempunyai kewenangan di bidang
kependudukan terutama dengan Depdagri;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Meneg PAN tetap berpegang pada prinsip
netralitas, obyektivitas, akuntabilitas
yang bebas dari KKN dalam pelaksanaan
pengadaan calon PNS;
• Kepedulian terhadap nasib orang kecil
berijazah yang menjadi tenaga honorer
sebagai guru bantu mendorong Komisi
II pada Tahun Sidang 2006-2007 untuk
meminta Meneg PAN agar mereka yang
berijazah Sekolah Dasar (SD) atau tidak
memenuhi syarat sebagai guru tetap
mendapatkan haknya untuk diangkat
menjadi PNS sebagai tenaga administrasi.

Agraria

Di bidang agraria, Komisi II terus
mempertanyakan perkembangan penyusunan

revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
kepada Pemerintah dan telah secara resmi
merekomendasikan revisi mendasar. Keluarnya
penetapan Perpres Nomor 36 Tahun 2005
menjadi dasar keluarnya rekomendasi Komisi
II yang memandang bahwa Perpres tersebut
melemahkan posisi rakyat sebagai pemegang
hak atas tanah di hadapan kekuasaan.

Selain itu, Komisi II juga mendukung
penyusunan sejumlah RUU seperti Rancangan
Undang-Undang tentang Hak Atas Tanah,
Rancangan

Undang-Undang

tentang
Pendaftaran Tanah, Rancangan Undang-
Undang tentang Pendaftaran Hak Guna Ruang
Atas Tanah/Hak Guna Ruang Bawah Tanah,
dan Rancangan Undang-Undang Kadastral
Kelautan usulan BPN untuk diproses melalui
Baleg DPR sehingga diagendakan pada 2007
sesuai prioritas.

Keprihatinan terhadap optimalisasi dan
transparansi realisasi anggaran oleh mitra
kerjanya juga selalu ditunjukkan oleh
Komisi II dalam pembahasan anggaran.
Salah satu contohnya adalah ketika Komisi
II mengadakan rapat dengan BPN guna
membahas alokasi anggaran 2009 dengan
melakukan pembintangan yang ditujukan
pada anggaran kegiatan yang dianggap
belum mendesak, performa dari satuan kerja
(satker) yang bersangkutan, dan efektiftas dari
program/kegiatan yang dianggarkan dengan
memperhatikan realisasi/tingkat pencapaian
target pada tahun sebelumnya.

Di bidang pengawasan, Komisi II menaruh
perhatian besar pada pemulihan kepemilikan
tanah bagi korban tsunami di Provinsi NAD,
pelayanan administrasi pertanahan yang
bersih dari penyelewengan, dan pelaksanaan
reformasi agraria.

Dalam konteks agraria ini Komisi II
menyampaikan beberapa catatan kepada
Pemerintah:

KOMISI-KOMISI

36

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Pada Tahun Sidang 2004-2005, untuk
penentuan kembali batas bidang-bidang
tanah yang telah rusak dan hilang,
menemukan kembali pemilik tanah di
Provinsi NAD, dan penetapan tata ruang
baru, BPN diminta berkoordinasi dengan
pihak Bappenas dan Pemda dengan
memperhatikan kultur dan aspirasi
masyarakat;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006, untuk
memberikan kepastian, jaminan, dan
perlindungan hukum terhadap hak atas
tanah kepada masyarakat, termasuk kasus-
kasus tanah di daerah-daerah, BPN diminta
meningkatkan pelayanan pertanahan yang
mudah, murah, tepat waktu, dan bebas KKN
dengan membangun sistem kinerja yang
terukur, juga mendukung penyelesaian atas
kasus-kasus pertanahan tersebut hingga ke
tingkat Pemerintah Pusat;
• Untuk mewujudkan pemerintahan yang
bersih, pada Tahun Sidang 2006-2007, BPN
diminta menetapkan besaran jumlah biaya
pengurusan administrasi pertanahan yang
disosialisasikan sampai ke tingkat kelurahan
dan desa di seluruh Indonesia untuk
menghindari penyimpangan pelayanan
administrasi pertanahan yang berkaitan
dengan biaya pengurusan administrasi
pertanahan di daerah-daerah;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, Kepala BPN
diminta mensosialisasikan pelaksanaan
program Reforma Agraria kepada jajarannya
sampai ke tingkat bawah di daerah agar
program tersebut berhasil mencapai
tujuan.

Penyerapan Aspirasi

Selain rapat-rapat kerja dengan mitra kerja,
Komisi II juga menyerap aspirasi masyarakat
antara lain melalui RDPU, kunjungan kerja
ke sejumlah provinsi, kunjungan lapangan,
penerimaan delegasi masyarakat dan
pengaduan masyarakat. Berikut ini adalah
sejumlah kegiatan Komisi II untuk berinteraksi
langsung dengan masyarakat:

• Menanggapi keinginan masyarakat dan
Pemda untuk membentuk Daerah Otonom,
Komisi II pada saat reses dalam Masa
Persidangan I-IV Tahun Sidang 2006-2007
mengunjungi 16 daerah yang diusulkan
untuk dimekarkan. Beberapa di antaranya
adalah Kabupaten Bandung Barat,
Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten
Memberamo Raya, Kabupaten Minahasa
Tenggara, Kota Subulussalam NAD, dan
Kabupaten Pidie Jaya;
• Guna menanggapi keinginan masyarakat
dan Pemda untuk membentuk Daerah
Otonom, pada Masa Sidang I-IV Tahun
Sidang 2007-2008, DPR mengadakan
kunjungan lapangan ke 27 daerah yang
diusulkan untuk dimekarkan. Beberapa
di antaranya adalah Kabupaten Padang
Lawas, Kabupaten Angkola Sipirok,
Kabupaten Meranti, Kabupaten Mandau,
dan Kabupaten Manggarai Timur;

• Untuk

menindaklanjuti

pengaduan
masyarakat, Tim Kerja Pertanahan
melakukan beberapa kunjungan lapangan
antara lain pada 21 Februari 2007
berkunjung ke Kelurahan Kapuk Muara,
Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara
untuk mendapatkan masukan tentang
permasalahan antara PT Mandara Permai
dengan ahli waris Almarhum Hamim
Rachmat.

Komisi II juga mendapat masukan dari berbagai
elemen masyarakat melalui surat pengaduan
masyarakat. Selama 2004-2009, Komisi ini
menerima sekitar 2.332 surat pengaduan
dengan masalah pertanahan sebagai kasus
yang paling banyak.

KOMISI-KOMISI

37

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

3. Komisi III

Bidang Hukum dan Perundang-Undangan, HAM, dan
Keamanan

RUU

Inisiator

Status

Pembentukan Pengadilan Tinggi
Agama Banten

DPR

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2005 tentang
Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Banten

Pembentukan Pengadilan Tinggi
Agama Bangka Belitung

DPR

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2005 tentang
Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Bangka
Belitung

Pembentukan Pengadilan Tinggi
Agama Gorontalo

DPR

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2005 tentang
Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama
Gorontalo

Pembentukan Pengadilan Tinggi
Agama Maluku Utara

DPR

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2005 tentang
Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Maluku
Utara

Bantuan Timbal Balik dalam
Masalah Pidana

DPR

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang
Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana

Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1989 tentang
Peradilan Agama

DPR

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1989 tentang Peradilan Agama

Pengesahan Konvensi PBB Anti
Korupsi 2003

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang
Pengesahan Konvensi PBB Anti Korupsi 2003

Pengesahan Perjanjian antara
Republik Indonesia dan Republik
Rakyat Cina Mengenai Bantuan
Timbal Balik dalam Masalah Pidana

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Pengesahan Perjanjian antara Republik
Indonesia dan Republik Rakyat Cina Mengenai
Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana

Perlindungan Saksi dan Korban

DPR

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban

Ombudsman

DPR

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang
Ombudsman

Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor
14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung

Komisi III menyelesaikan pengesahan 11 UU
selama 2004-2009 dari 16 RUU yang dibahas.

Berikut adalah daftar RUU yang sudah disetujui
dalam Rapat Paripurna DPR untuk menjadi UU:

KOMISI-KOMISI

38

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Di sisi anggaran, Komisi III secara umum
berhasil meningkatkan jumlah anggaran para
mitra kerjanya, antara lain anggaran untuk
instansi berikut:

Tahun Anggaran

2006

Tahun Anggaran

2009

Polri: Rp 16,6 triliun

Polri: Rp 24,8 triliun

Kejaksaan Agung: Rp
1,51 triliun

Kejaksaan Agung:
Rp 1,91 triliun

KPK: Rp 284,3 miliar

KPK: Rp 315,23 miliar

kepada KON untuk melakukan investigasi atas
prakarsa sendiri. KON juga diberi wewenang
mengumumkan temuan, kesimpulan dan
rekomendasi agar memiliki peran lebih
strategis dalam meningkatkan pelayanan
publik.

Saat pembahasan, selain melakukan
raker dengan Menkum HAM, Komisi III
juga melakukan RDPU antara lain dengan
pakar hukum tata negara Prof. Dr. Romly
Atmasasmita, Prof. Dr. Miftah Toha, dan H.
Zain Badjeber. Komisi III juga melakukan
kunjungan kerja dalam rangka studi banding
ke Swedia pada tanggal 19-25 Maret 2007
dan Yunani pada 26-31 Maret 2007.

Pendukung RUU ini berpendapat bahwa UU
Ombudsman dibutuhkan untuk memperkuat
sistem hukum nasional dan meningkatkan
kinerja lembaga yang melayani masyarakat.
Namun, pihak yang menyangsikan efektiftas
RUU tersebut mengingatkan masih adanya
sejumlah pasal karet terutama pasal soal
kewenangan Ombudsman yang dalam
RUU sekedar mengajukan rekomendasi
untuk ditindaklanjuti instansi terkait.
Akhirnya disepakati bahwa Ombudsman
berwenang

membuat

rekomendasi

mengenai

penyelesaian

laporan,
mengumumkan temuan, kesimpulan dan
rekomendasi. Ombudsman juga diberi
wewenang menyampaikan saran kepada
Presiden, kepala daerah atau pimpinan
penyelenggara negara lainnya guna
perbaikan dan penyempurnaan organisasi
dan/atau prosedur pelayanan publik. Dalam
Rapat Paripurna tanggal 9 September 2008,
semua fraksi setuju Rancangan Undang-
Undang tentang Ombudsman ini disahkan
menjadi UU.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Perlindungan Saksi dan Korban

RUU ini merupakan peninggalan DPR
Periode 1999-2004, yang kemudian pada
Rapat Paripurna DPR tanggal 14 Juni 2005

Sedangkan dalam melaksanakan tugas
pengawasan, Komisi III menegaskan
keprihatinan atas berbagai kasus korupsi,
terorisme, pelanggaran HAM, dan kriminalitas
yang terjadi di tanah air. Oleh karena itu, desakan
Komisi III pada mitra kerjanya selalu diarahkan
pada penuntasan kasus-kasus tersebut demi
kepentingan bangsa dan negara.

Hukum, Perundang-Undangan
dan HAM

Dalam pelaksanaan tugas di bidang hukum
dan perundang-undangan, Komisi III berhasil
menuntaskan sejumlah RUU inisiatif DPR, dua
di antaranya merupakan langkah maju dalam
pemberantasan KKN dan penyalahgunaan
wewenang lainnya. Berikut adalah sekilas
pembahasan kedua RUU tersebut.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Ombudsman

Rancangan

Undang-Undang

tentang
Ombudsman merupakan peninggalan DPR
Periode 1999-2004 yang disepakati untuk
diusulkan sebagai RUU inisiatif DPR pada
14 Juni 2005. Pembahasan RUU tersebut
dimulai Komisi III sejak Februari 2007. Salah
satu substansi penting pembahasan RUU
tersebut adalah perluasan kewenangan
Ombudsman, yang memberikan kewenangan

KOMISI-KOMISI

39

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

disepakati untuk menjadi RUU inisiatif
DPR. Proses pembahasan yang tertutup
sempat dipertanyakan sejumlah kalangan
masyarakat. DPR berpendapat bahwa
pembahasan yang dilakukan Panja tidak
mungkin dilakukan secara terbuka karena
bertentangan dengan tatib DPR. Selain
itu, sebelum RUU diajukan sebagai usul
inisiatif, DPR telah melakukan RDP dengan
kelompok masyarakat seperti Lembaga
Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam),
Indonesian Corruption Watch (ICW), Komnas
Perempuan, Komisi Hukum Nasional (KHN),
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(WALHI), Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi
Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-
APIK), Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
Kontras, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Jakarta, LBH Pers, Mitra Perempuan, dan
Solidaritas Perempuan.

Mengenai susbtansi, kalangan DPR
berpendapat masih terdapat beberapa
aturan dalam RUU yang perlu diperbaiki,
antara lain istilah ancaman kekerasan,
defnisi bentuk-bentuk ancaman, defnisi
perlindungan sementara, dan defnisi
program perlindungan. Sementara kalangan
masyarakat di luar DPR berpendapat,
antara lain, bahwa RUU tersebut tidak
mengakomodsasi kepentingan dari saksi

pelapor karena yang dilindungi hanya
saksi, bukan pelapor. Selain itu, imbalan
bagi saksi yang juga sekaligus tersangka
dianggap kurang memadai karena hanya
berupa keringanan pidana.

Namun, kalangan pendukung RUU
tersebut di DPR berpendapat bahwa
perlindungan hukum yang diberikan
kepada saksi, korban, dan pelapor sudah
sangat tegas diatur dalam Rancangan
Undang-Undang tentang Perlindungan
Saksi dan Korban tersebut, yaitu dengan
tidak dapat dituntutnya mereka secara
hukum, kecuali mereka memberikan
kesaksian palsu. Selain itu, RUU ini juga
dipandang akan memperkuat landasan
hukum bagi perlindungan saksi dan korban,
sehingga diharapkan memberi keberanian
masyarakat untuk berpartisipasi sebagai
saksi. Akhirnya, dalam Rapat Paripurna
DPR tanggal 18 Juli 2006, 10 fraksi
menyatakan mendukung RUU tersebut
untuk disahkan menjadi UU.

Terkait legislasi, Komisi III menerima kritik
tajam dari publik terhadap orientasi UU yang
tidak pro-rakyat, namun 10 UU yang dihasilkan
Komisi III justru dinilai mencerminkan
penguatan hak-hak rakyat. Selain itu, Undang-
Undang tentang Mahkamah Agung juga

40

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Anggota Komisi III

mengunjungi Lapas

Wanita Tangerang

Banten, November

2006

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

sempat kontroversial. Setelah gagal dicapai
kesepakatan dalam Pansus, pasal tentang usia
pensiun Hakim Agung juga gagal divotingkan
dalam paripurna sehingga sempat dipersoalkan
oleh ICW baik melalui mekanisme melaporkan
ke BK maupun ke MK.

Di sisi anggaran, meski secara keseluruhan
berhasil meningkatkan jumlah anggaran
para mitra kerjanya, namun Komisi III tetap
menekankan agar penggunaan anggaran
diarahkan pada peningkatan kinerja yang
terukur, sesuai dengan bidang tugas, dan
memperhatikan efsiensi anggaran. Berikut
adalah kegiatan anggaran Komisi III di
sepanjang Periode 2004-2009:
• Dengan naiknya pagu anggaran 2006 untuk
Depkum HAM sebesar 111 persen dari
anggaran 2005 atau Rp 3,20 triliun, Depkum
HAM diminta meningkatkan kinerjanya
sehingga lebih baik dan terukur;
• Pada APBN 2006, memutuskan untuk tidak
memperjuangkan penambahan anggaran
bagi Kejaksaan Agung (Kejakgung) atas
dasar penyusunan rencana anggaran yang
tidak memenuhi standar;
• Dalam raker dengan Kejakgung pada
Tahun Sidang 2006-2007, terkait realisasi
pelaksanaan APBN Kejakgung tahun 2006
yang hingga bulan Juli sudah mencapai
46,76 persen, diminta agar sisa anggaran
digunakan sesuai program yang telah
ditetapkan disertai peningkatan kinerja di
lingkungan Kejakgung;
• Dalam raker dengan Menkum HAM pada
Tahun Sidang 2006-2007, terkait realisasi
pelaksanaan APBN Depkum HAM tahun
2006 sampai bulan Agustus yang mencapai
52,98 persen, diminta agar sisa anggaran
digunakan sesuai program yang telah
ditetapkan;
• Dalam raker dengan Kejakgung pada
Tahun Sidang 2007-2008, terkait adanya
penghematan anggaran kementerian/
lembaga negara sebesar 15 persen
dari total alokasi pagu anggaran, Jaksa
Agung diminta merevisi anggaran 2008

secara cermat sehingga penghematan
tersebut tidak sampai menghambat upaya
peningkatan kinerja Kejakgung;
• Dalam raker dengan Kejakgung pada
Tahun Sidang 2008-2009, terkait rendahnya
realisasi anggaran Kejakgung hingga
Triwulan Kedua Tahun 2008 yang baru
mencapai 34,23 persen, Komisi III meminta
Jaksa Agung meningkatkan realisasi
anggaran dengan tetap memperhatikan dan
berpedoman pada penggunaan anggaran
yang berbasis kinerja sehingga penggunaan
anggaran dapat dinilai kemanfaatan dan
kegunaannya oleh masyarakat.

Di sisi pengawasan, Komisi III menjaga dan
mengawasi agar pelaksanaan penegakan
hukum sesuai dengan prinsip-prinsip hukum;
menjaga dan mengawasi agar tertib hukum
dapat terwujud dalam penyelenggaraan negara
yang dilakukan para pejabat administrasi
negara, terutama aparat penegak hukum.
Dalam menjalankan pengawasan ini, Komisi
III menegaskan keprihatinannya atas berbagai
kasus korupsi, terorisme, pelanggaran HAM,
dan kriminalitas di tanah air.

Berikut adalah desakan-desakan Komisi III
kepada para mitra kerjanya dalam berbagai
raker selama Periode 2004-2009:
• Sehubungan dengan menumpuknya
perkara korupsi yang belum lengkap
untuk dilimpahkan ke pengadilan, pada
Tahun Sidang 2004-2005 Jaksa Agung
diminta untuk terus berkoordinasi secara
sungguh-sungguh dengan Polri dan KPK
untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi;
• Pada Tahun 2004-2005 Jaksa Agung diminta
secara serius, transparan dan terus-
menerus sesuai peraturan perundangan
yang berlaku untuk menyelesaikan proses
hukum terhadap dugaan pelanggaran HAM
berat seperti pelanggaran HAM Timor
Timur, peristiwa Tanjung Priok, peristiwa
Abepura, kasus Trisakti, kasus Semanggi I
dan Semanggi II, dan kasus kerusuhan Mei
1998;

41

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Berkaitan dengan Peraturan Pemerintah
(PP) No. 110/2000 tentang Susunan
dan Kedudukan Keuangan Dewan
Perwakilan Pemerintah Daerah (DPRD),
Komisi III memunculkan dalam raker
terkait terbitnya SE Jaksa Agung No
520/F/F.2.1/08/2003 yang isinya agar PP
No. 110/2000 tidak digunakan lagi dalam
penyidikan. Menyusul hal tersebut, Ketua
MA kemudian menerbitkan SE MA No.
1/2006 yang membatalkan PP tersebut;
• Dalam raker dengan Menkum HAM
pada Tahun Sidang 2006-2007, menteri
didesak untuk mempercepat pembahasan
penyelesaian perjanjian ekstradisi antara
RI dan Singapura dan mencari langkah
penyelesaian terhadap hal-hal yang
menjadi kendala perjanjian ekstradisi
tersebut;
• Dalam raker dengan Kejakgung pada Tahun
Sidang 2007-2008, Jaksa Agung diminta
antara lain untuk:
- Mengusut kasus dugaan tindak pidana
korupsi secara tegas, tuntas, menyeluruh,
dan transparan demi tegaknya kepastian
hukum;
- Melakukan pemeriksaan internal
terhadap adanya dugaan keterlibatan
aparat kejaksaan lainnya dalam kasus
jaksa Urip Tri Gunawan yang sedang
diusut KPK.
• Dalam raker dengan Kejakgung pada
Tahun Sidang 2008-2009, Kejakgung
didorong agar mempercepat pembenahan
internal dan meningkatkan kinerja dalam
pemberantasan korupsi sehingga dapat
mengembalikan kepercayaan masyarakat
terhadap Kejaksaan sebagai ujung tombak
pemberantasan tindak pidana korupsi;
• Dalam raker dengan KPK pada tahun
2009, Komisi III dan KPK akan meneliti
kemungkinan adanya kesalahan prosedur
atau pelanggaran hukum dalam rencana
penambahan anggaran sebesar Rp 90 miliar
untuk pembangunan gedung kantor KPK.

Terkait tugas pengawasan dan representasi,
pada tahun 2006 Komisi III mendapat
penghargaan dari Serikat Buruh BUMN atas
kesungguhannya dalam membela hak buruh
Perseroan Terbatas (PT) Iglas Surabaya yang
dikriminalisasi di tengah upaya membongkar
korupsi dalam PT tersebut. Namun Komisi
III belum berhasil membela kelompok petani
dalam kasus konfik tanah melawan PT Arara
Abadi di Riau meski sudah beberapa kali
diadakan pertemuan mediasi. Pemihakan
aparat terhadap perusahaan dinilai menyulitkan
upaya Komisi III memberikan perlindungan
kepada petani.

Keamanan

Dalam membahas anggaran dengan
mitra kerjanya, Komisi III berulang-ulang
menekankan penggunaan anggaran secara
optimal, disiplin, dan mengarah pada
peningkatan kinerja, serta transparansi
dalam menindaklanjuti temuan BPK. Berikut
ini adalah sejumlah desakan Komisi III yang
mencerminkan keprihatinannya dalam
pembahasan anggaran:
• Berdasarkan alokasi APBN Polri Tahun
Anggaran 2005, yang naik sebesar Rp
1,99 triliun, Polri diminta melakukan
optimalisasi

penggunaan

anggaran
dengan tetap melakukan evaluasi dalam
penggunaannya dan memprioritaskan
peningkatan kinerja dan tugas pokok
Polri;
• Meminta PPATK untuk menggunakan
seluruh anggaran yang ada pada 2005
dan rancangan kebutuhan anggaran 2005
secara efsien, cermat dan tepat sesuai
program yang telah ditetapkan, khususnya
dalam melakukan pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana pencucian
uang;
• Berkaitan dengan alokasi APBN Polri Tahun
Anggaran 2006 sebesar Rp 14,38 triliun,
Kepala Kepolisian RI (Kapolri) diminta
menggunakan anggaran secara disiplin,
efsien dan efektif dengan tetap melakukan

42

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

evaluasi dalam penggunaannya;

• Meminta

Kapolri

untuk

segera
menindaklanjuti hasil temuan/audit BPK
dari hasil pemeriksaan dan perhitungan
Tahun Anggaran 2005 semester I secara
tuntas dan transparan;
• Berkenaan dengan alokasi anggaran
pendidikan dan latihan Polri Tahun Anggaran
2006 yang mencapai 2,98 persen dari
anggaran Polri, Kapolri diminta menyusun
rencana kebutuhan tambahan anggaran
yang diperlukan untuk melaksanakan
sistem dan kurikulum pendidikan yang
tepat, agar dapat melahirkan personel
Polri yang profesional;
• Beberapa anggota Komisi III perempuan
menyesalkan belum diwujudkannya
komitmen Polri untuk merekrut lebih
banyak polisi wanita sehingga tercapai
komposisi 30%, walau hal tersebut tertuang
dalam kesepakatan rapat di bidang
anggaran setiap tahun sejak pembahasan
APBN 2006;
• Meminta Kapolri pada Tahun Sidang 2008-
2009 untuk terus-menerus meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas publik di
sektor keuangan.

Dalam menjalankan pengawasan di
bidang keamanan, Komisi III menunjukkan

keprihatinannya pada masalah kejahatan,
terorisme, illegal logging, korupsi, dan narkoba
hingga masalah keamanan di Poso dan Papua
dan kerukunan hidup umat beragama. Berikut
ini adalah desakan-desakan Komisi III kepada
mitra kerjanya dalam berbagai raker:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 meminta
Kapolri, antara lain, memfokuskan
penanganan dan menuntaskan sejumlah
masalah kejahatan seperti kasus
meninggalnya Munir, kasus terorisme
dalam peristiwa bom di Jl. HR. Rasuna
Said, Jakarta, kasus illegal logging,
perdagangan orang, pembajakan hak cipta,
narkoba dan psikotropika, kasus korupsi,
kasus Poso dan Papua;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Kapolri

melakukan

penyelidikan,
penyidikan, dan penangkapan/penahanan
secara cermat dan konsisten sesuai
prosedur yang ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta
Kapolri, antara lain, memberikan
perlindungan terhadap setiap warganegara
untuk menjalankan kebebasan beribadah
sesuai keyakinan dan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
• Meminta Kapolri pada Tahun Sidang
2007-2008 terus berkoordinasi secara

43

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Pimpinan Komisi III

DPR dan Menkum

HAM menandatangani

pengesahan

Rancangan Undang-

Undang Perubahan

Kedua atas Undang-

Undang Nomor 14

Tahun 1985 tentang

Mahkamah Agung,

Desember 2008

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

maksimal dengan pihak terkait dalam
rangka mengungkap dan memutus
jaringan perdagangan dan peredaran gelap
narkoba;
• Meminta Kapolri pada Tahun Sidang 2008-
2009 untuk mengevaluasi secara berkala
kinerja Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda)
dalam mengimplementasikan program
akselerasi transformasi Polri menuju Polri
yang mandiri, profesional, humanis, dan
dipercaya masyarakat;
• Menanggapi pengaduan masyarakat
adanya kecenderungan pelapor tindak
pidana korupsi dilaporkan kembali oleh
terlapor menggunakan delik pencemaran
nama baik, Komisi III berhasil mendorong
Kapolri untuk mengingatkan para penyidik
polisi untuk mendahulukan penanganan
kasus korupsi daripada pencemaran nama
baik atas pelapor.

Dalam menjalankan tugas pengawasan, Komisi
III juga secara sendiri atau bersama dengan
komisi lainnya membentuk Panja atau Tim,
antara lain Panja Alat Komunikasi dan Jaringan
Komunikasi di Polri, Panja Keimigrasian
terkait dengan pembuatan paspor dengan
sistem foto terpadu berbasis biometrik, Panja
Penegakan Hukum dan Pemerintahan Daerah
(bersama Komisi II), dan Tim Investigasi untuk
berkunjung ke Provinsi Sumatera Utara terkait
peristiwa unjuk rasa di DPRD Provinsi Sumatera
Utara yang mengakibatkan meninggalnya
Ketua DPRD setempat, dan ke Riau terkait
dikeluarkannya Surat Perintah Penghentian
Penyidikan (SP3) terhadap 13 kasus illegal
logging
oleh Kepolisian Daerah Riau.

Penyerapan Aspirasi

Komisi III juga menyerap aspirasi masyarakat
antara lain melalui RDPU, kunjungan kerja,
kunjungan lapangan, penerimaan delegasi
masyarakat, penerimaan pengaduan masyarakat
diantaranya adalah sebagai berikut:
• RDPU dengan ICW, Transparency
International Indonesia (TII), dan lembaga
Propatria dengan agenda menerima

masukan tentang pemerintahan yang
bersih dan bebas KKN pada tanggal 3
November 2004;
• RDPU dengan Imparsial dan Kontras untuk
menerima masukan terhadap sebab-
sebab meninggalnya Munir pada tanggal
22 November 2004;
• Menerima delegasi Paguyuban Pedagang
Senen Raya Jakarta terkait sewa tanah
dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
(RSPAD) pada tanggal 4 November 2005;
• Menerima delegasi Solidaritas Nasional
untuk Papua mengenai pengaduan adanya
kekerasan senjata oleh oknum Brigade
Mobil (Brimob) di Gunung Mulia, Puncak
Jaya, Papua, tanggal 24 November 2005;
• Menerima penyampaian aspirasi dalam
RDPU dengan, antara lain:
- Tim Pembela Muslim, tanggal 15 Agustus
2008;
- Anggota DPRD Kabupaten Hulu Sungai
Tengah dan para karyawan PT PAN Gas
Nusantara, tanggal 9 September 2008;
- Himpunan Falungong Indonesia, tanggal
21 April 2009;
- Forum Silahturahmi Dekan Perguruan
Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi
Swasta, tanggal 19 Mei 2009;
- Masyarakat Kampung Taroy Teluk
Bintuni, Papua; Koordinator Perjuangan
Bersama Warga Sukolilo Surabaya; dan
Aliansi Pemudan dan Mahasiswa Peduli
Cagar Budaya, tanggal 23 Juni 2009.

Selain itu, Komisi III juga melakukan kunjungan
kerja teknis luar negeri untuk mendapatkan
masukan terkait bidangnya, antara lain ke
Amerika Serikat pada tanggal 21-27 Oktober
2007 dan ke Hongaria pada tanggal 22-28
Oktober 2007.

44

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

terciptanya kepastian hukum bagi pengusaha
kehutanan dalam mengembangkan Hutan
Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Tanaman
Rakyat (HTR).

Pertanian

Di bidang pertanian, Komisi IV berhasil
menuntaskan pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan yang kemudian disahkan
dalam Rapat Paripurna tanggal 12 Mei 2009
untuk menjadi Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan. Hingga buku laporan ini disusun, Komisi
IV masih membahas Rancangan Undang-
Undang tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan yang merupakan usul

4.Komisi IV

Bidang Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan,
Perikanan, dan Pangan

Dalam Periode 2004-2009, Komisi IV
menyelesaikan pembahasan empat RUU yang
kemudian disahkan oleh Rapat Paripurna DPR
untuk menjadi UU. Berikut adalah empat UU
tersebut:

RUU

Inisiator

Status

Pengesahan Perjanjian Mengenai Sumber
Daya Genetik Tanaman untuk Pangan
dan Pertanian (International Treaty on
Plant Genetic Resources for Food and
Agriculture
)

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006

tentang Pengesahan Perjanjian Mengenai

Sumber Daya Genetik Tanaman untuk

Pangan dan Pertanian

Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan,
dan Kehutanan

DPR

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006

tentang Sistem Penyuluhan Pertanian,

Perikanan, dan Kehutanan

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007

tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan

Pulau-Pulau Kecil

Peternakan dan Kesehatan Hewan

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009

tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan

Dari sisi anggaran, Komisi IV mengarahkan
penggunaan anggaran untuk menyejahterakan
rakyat di daerah produsen pangan, kawasan
hutan, dan pesisir untuk menciptakan
ketahanan pangan. Arah kebijakan anggaran
Komisi IV ini tampak dalam desakan kepada
para mitra kerjanya untuk mengalokasikan
dana untuk subsidi pupuk, subsidi kredit/bunga,
dan menggerakkan perekonomian masyarakat
di sekitar hutan dan pesisir. Selain itu, Komisi IV
terus mendorong pembelian beras oleh Bulog
dari sumber-sumber dalam negeri.

Dari segi pengawasan, Komisi IV
mempertegas keberpihakannya pada petani,
terutama korban bencana, dengan melakukan
desakan-desakan kepada mitranya demi

kepentingan masyarakat petani. Searah
dengan keberpihakan ini, Komisi IV mendesak
mitranya agar penggunaan areal perkebunan
selalu melibatkan masyarakat sekitar. Namun,
Komisi IV juga memberi perhatian pada

45

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Di sisi anggaran untuk bidang pertanian, Komisi
IV menekankan pentingnya menggerakkan
perekonomian di tingkat petani untuk
ketahanan pangan dalam bentuk swasembada
beras. Pemerintah didesak menyediakan dana
untuk keperluan subsidi pupuk dan benih,
serta subsidi untuk petani. Berikut ini adalah
desakan-desakan Komisi IV kepada mitranya:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006, meminta
Deptan

lebih

konsentrasi

dalam
meningkatkan efektiftas berbagai program
yang secara langsung menyentuh tingkat
kesejahteraan petani, antara lain Penguatan
Modal

Usaha;

Kelompok/Koperasi,
Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan, dan
Kredit Ketahanan Pangan;
• Didorong keprihatinan atas rendahnya
penyerapan APBN Tahun 2006 pada
Tahun Sidang 2006-2007, Deptan didesak
meningkatkan penyerapan anggaran APBN
2006 agar pergerakan perekonomian rakyat
dapat berkembang;
• Meminta kepada Deptan agar dalam
penyusunan RKA-K/L Tahun Anggaran
2007 secara jelas mencerminkan program
dan kegiatan yang bermakna revitalisasi
pertanian baik secara kuantitatif maupun
kualitatif;
• Meminta Menteri Pertanian (Mentan) untuk
segera mempersiapkan Rencana Kerja

DPR. Berikut ini adalah sekilas pembahasan
RUU oleh komisi IV:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan

RUU ini merupakan inisiatif Pemerintah
yang disampaikan ke DPR tanggal 13
Februari 2007 lewat surat Presiden RI.
Alasan utama pembahasan RUU ini adalah
untuk mengakomodasi perkembangan
jaman. RUU ini merupakan dasar
pelaksanaan revitalisasi sektor peternakan
untuk mencapai swasembada pangan
dalam hal protein hewani. RUU ini juga
melindungi ternak dari berbagai penyakit,
sekaligus melindungi peternak dan usaha
peternakan rakyat, serta memasukkan
substansi baru berupa sanksi administratif
hingga sanksi pidana terhadap pelanggaran
ketentuan peternakan di Indonesia. Namun,
sejumlah pihak memandang UU ini
menghilangkan potensi peternakan rakyat
karena dianggap lebih mengakomodasi
kepentingan perusahaan penanaman
modal asing dalam usaha perunggasan
nasional. Akhirnya, Rapat Paripurna DPR
mengesahkan Rancangan Undang-Undang
tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
untuk menjadi Undang-Undang pada 12
Mei 2009.

Kunjungan Kerja

Komisi IV ke lokasi

penangkapan ikan di

Bengkulu 2006

46

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Anggaran Belanja Tambahan untuk berbagai
program yang mendukung suksesnya target
Pemerintah dalam meningkatkan produksi
beras dua juta ton pada APBN-P 2007;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, meminta
Pemerintah

mengalokasikan

dana
sekurang-kurangnya Rp 21 triliun untuk
subsidi pupuk, subsidi benih, dan subsidi
bunga melalui program Kredit Ketahanan
Pangan dan Energi (KKPE), Kredit Usaha
Rakyat (KUR), dan Kredit Pengembangan
Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan
(KPEN-RP);
• Menyetujui pengajuan tambahan anggaran
dalam APBN-P 2008 untuk mencukupi
kebutuhan pupuk bersubsidi hingga
Desember 2008 sebesar Rp 7,48 triliun;
terdiri dari Revitalisasi Kakao Rp 1 triliun;
DAK Rp 1,49 triliun; subsidi pupuk Rp 17,4
triliun dan subsidi benih Rp 1,3 triliun;
• Kebijakan anggaran tahun 2008-2009 di
bidang pertanian meminta Pemerintah
mengalokasikan anggaran untuk subsidi
pupuk, subsidi Bantuan Langsung
Benih Unggul (BLBU), Lembaga Mandiri
yang Mengakar di Masyarakat (LM3),
Pengembangan

Usaha

Agrobisnis
Perdesaan (PUAP) dan usaha peternakan
di dalam negeri.

Dari sisi pengawasan, nasib petani korban
bencana tsunami maupun semburan lumpur
di Sidoarjo menjadi keprihatinan yang terus
mengemuka di sejumlah raker, RDP dan
RDPU yang dilaksanakan Komisi IV dengan
mitra kerja dan anggota masyarakat. Berikut
ini adalah sejumlah desakan Komisi IV kepada
mitranya:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005, mendorong
Deptan agar mempercepat program
pemulihan pasca tsunami di Provinsi NAD
dan Nias berupa rehabilitasi SDM di bidang
pertanian, rehabilitasi lahan pertanian,
pengadaan sarana dan permodalan,
dukungan program, serta optimalisasi
produksi pertanian;
• Mengusulkan Asosiasi Produsen Pupuk

Indonesia pada Tahun Sidang 2004-2005
agar lebih meningkatkan pelayanan
pupuk kepada masyarakat petani untuk
meningkatkan produksi pertanian;
• Meminta Mentan segera menuntaskan
berbagai persoalan yang timbul akibat
serangan fu burung, termasuk mengenai
transparansi dan akuntabilitas penggunaan
dana kompensasi yang dikucurkan sejak
Tahun Anggaran 2003 hingga 2005;
• Dalam rapat dengan Badan Litbang
Departemen Pertanian (BLDP) pada Tahun
Sidang 2005-2006, Komisi IV mengharapkan
BLDP lebih memfokuskan penelitian
yang tepat guna dan secara nyata dapat
mendukung usaha peningkatan pendapatan
petani;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Deptan segera membentuk Tim Terpadu
untuk mengurangi dampak negatif lumpur
Sidoarjo terhadap kehidupan petani dan
kegiatan usaha tani secara keseluruhan;

• Pada

Tahun

Sidang

2006-2007
mengharapkan Deptan memberi bantuan/
subsidi pupuk organik untuk memperbaiki
struktur fsik dan kimia tanah lahan
pertanian;

• Pada

Tahun

Sidang

2007-2008

merekomendasikan

agar

Deptan
melanjutkan program pengadaan benih
bersubsidi, Skim Pelayanan Pembiayaan
Pertanian (SP3), LM3, dan Lembaga Usaha
Ekonomi Pedesaan (LUEP);
• Meminta agar distribusi pupuk bersubsidi
ditetapkan Mentan dan bukan Menteri
Perdagangan (Mendag) karena pupuk
bersubsidi bukan komoditas perdagangan;
• Meminta Pemerintah menyiapkan anggaran
ganti rugi biaya produksi bagi petani
yang produksinya dinyatakan puso oleh
Pemerintah;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 meminta
Pemerintah melaksanakan kebijakan
yang lebih berpihak pada petani melalui
peningkatan volume pupuk bersubsidi baik
pupuk organik maupun non-organik dan
pengawasan lebih ketat terhadap distribusi

47

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

pupuk bersubsidi;
• Meminta Pemerintah dan pemangku
kepentingan yang terkait penyaluran dan
pengguna pupuk bersubsidi untuk segera
memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi
secara nasional, melakukan operasi pasar,
menindak tegas pelaku penyelewengan
pupuk bersubsidi, dan mengevaluasi
kebijakan perpupukan nasional, termasuk
usulan perlunya peninjauan pengalihan
subsidi secara langsung ke petani;
• Mendukung pelaksanaan sistem distribusi
pupuk secara tertutup namun Deptan
masih perlu mengevaluasi dan mengkaji
secara komprehensif pengadaan dan
sistem distribusi yang mengoptimalkan
peran kelembagaan petani;
• Meminta Pemerintah segera melakukan
revitalisasi industri pupuk;
• Meminta Pemerintah melindungi peternak
sapi perah khususnya peternak kecil dalam
negeri;
• Meminta

Pemerintah

mempercepat
penyiapan sarana pendukung percepatan
realisasi

Undang-Undang

tentang
Penyuluhan, khususnya tenaga penyuluh di
setiap desa yang pengadaannya disesuaikan
dengan perundangan yang berlaku;
• Meminta Pemerintah memerhatikan
usaha-usaha pengolahan produksi kakao
dan kelapa sawit (Crude Palm Oil, CPO)
sebagai produk primer menjadi produk
sekunder, sehingga petani lebih menikmati
keuntungan dari peningkatan nilai tambah
program dari program pengolahan produksi
tersebut.

Kehutanan

Masalah kehutanan mendapat perhatian besar
dari Komisi IV, terutama hal-hal terkait dengan
kelestarian hutan. Hingga laporan ini disusun,
Komisi IV membahas sejumlah RUU terkait
dengan masalah ini, antara lain Rancangan
Undang-Undang tentang Pemberantasan dan
Pencegahan Pembalakan Liar yang merupakan
inisiatif DPR, dan Rancangan Undang-Undang
tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Penebangan Pohon di Dalam Hutan Secara
Ilegal yang merupakan inisiatif Pemerintah.

Di sisi anggaran, Komisi IV mengarahkan pada
pemberdayaan rakyat, pembangunan ekonomi
rakyat, dan peningkatan kesejahteraan rakyat
di sekitar atau di dalam hutan. Berikut ini
adalah sejumlah kegiatan Komisi IV di bidang
kehutanan:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Dephut segera mencari solusi upaya
percepatan reboisasi di kawasan hutan
lindung khususnya di Jawa. Selain itu,
meminta Dephut memprioritaskan program-
program yang menyangkut peningkatan
kesejahteraan rakyat dan rehabilitasi hutan
dan lahan secara terukur;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendorong
Dephut meningkatkan penyerapan anggaran
APBN tahun 2006 agar perekonomian rakyat
dapat berkembang dan sungguh-sungguh
memprioritaskan kegiatan yang menyangkut
rehabilitasi lahan kritis, pencegahan dan
penanggulangan kebakaran hutan, serta
mengatasi permasalahan di hutan lindung;
• Memutuskan bahwa dalam rangka
perlindungan hutan dan konservasi sumber
daya alam (SDA), perlu dialokasikan
anggaran yang memadai untuk kelengkapan
perangkat pengamanan dan penyuluh
kehutanan serta program peningkatan
ekonomi masyarakat desa di sekitar dan di
dalam hutan dengan menggunakan PNBP
tahun 2006;

Kunjungan kerja

Komisi IV untuk

melihat program

irigasi di Bengkulu,

2006

48

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Pada Tahun Sidang 2007-2008 menyetujui
kegiatan RKA-K/L APBN-P Tahun Anggaran
2007 yang alokasinya antara lain untuk
pembangunan hutan rakyat dan kegiatan
pencegahan, penanggulangan kebakaran
hutan, dan program perlindungan hutan
lainnya;
• Mendorong

Dephut

meningkatkan
penyerapan anggaran APBN tahun
2008 dengan meningkatkan sosialisasi
program HTR dari Badan Layanan Umum
(BLU), kegiatan prioritas strategis Dirjen
Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam (PHKA) serta perawatan sarana dan
prasarana pendukung Biro Umum Dephut;
• Meminta Pemerintah mengalokasikan
sekurang-kurangnya Rp 2,3 triliun antara
lain untuk kegiatan Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) di
kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,
Bekasi, Cianjur, dan Dieng-Muria;
rehabilitasi lahan gambut; percepatan
pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan
(KPH), perlindungan hutan dan konservasi
alam, penyuluhan kehutanan, dukungan
untuk Debt for Nature Swap (DNS);
• Menyetujui usulan Dephut mengalihkan
dana pembangunan Sistem Komunikasi
Radio Terpadu (SKRT) sebesar Rp 170,46
miliar untuk membiayai kegiatan Gerhan
2008 dan Rp 94,939 miliar untuk membiayai
kegiatan penanaman dan pemeliharaan
reboisasi pada wilayah BUMN dan kegiatan
reboisasi di Provinsi Daerah Istimewa (DI)
Yogyakarta dan Lampung. Dana selebihnya
dialokasikan untuk Hutan Rakyat Pola
Block Grant dan di luar kawasan. Sisa dana
sebesar Rp 133,64 miliar disetujui untuk
dialokasikan menjadi tambahan pagu
APBN-P tahun 2009 untuk kegiatan Gerhan
dan kegiatan strategis lainnya;
• Menyetujui alokasi APBNP tahun 2009
untuk kegiatan prioritas dan strategis di
lingkup Dirjen PHKA, perawatan sarana dan
prasarana serta dana Gerhan yang belum
terserap, kemudian dana hibah Australian
Center for International Agricultural

Research (ACIAR) untuk kegiatan Reduces
Emissions from Deforestation and
Degradation
(REDD).

Dari sisi pengawasan, Komisi IV memberikan
perhatian besar pada transparansi dan
akuntabilitas. Komisi IV mendesak Pemerintah
untuk bersikap tegas terhadap pengusaha
perkebunan yang menelantarkan lahan atau
yang bermasalah, dan juga kepada pelaku
pembalakan liar. Berikut beberapa kegiatan
pengawasan Komisi IV:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 meminta
Menteri Kehutanan (Menhut) dan Menteri
Keuangan (Menkeu) menjelaskan alokasi
penggunaan Dana Reboisasi (DR) 60 persen
pusat dan 40 persen daerah, termasuk total
DR sampai Mei 2005, secara proporsional
dan transparan;
• Audit terhadap Gerhan tahun 2003-2004
perlu dilakukan oleh BPK;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Menhut agar areal yang sudah dilepas untuk
perkebunan tetapi ditelantarkan untuk
dicabut dan diberikan kepada pemohon baru
dengan lebih memperhatikan keterlibatan
masyarakat;
• Meminta Dephut memperluas program
hutan rakyat terkait Program Hutan Rakyat
pada Tahun Sidang 2006-2007;
• Mendesak Pemerintah menyelesaikan
kasus-kasus pembalakan liar dan
pembakaran

hutan/lahan

secara

konsisten;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta
Dephut mengevaluasi/mengkaji ulang izin
perusahaan HTI yang bermasalah, dan
segera menyelesaikan persoalan sengketa
lahan dengan masyarakat secara bijak
dan berkeadilan sesuai peraturan dan
perundangan yang berlaku;
• Meminta Pemerintah memberi ketegasan
dan kepastian hukum, kemanfaatan dan
keadilan kepada dunia usaha kehutanan;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 meminta
Pemerintah

segera

menyelesaikan
persoalan Rencana Tata Ruang Wilayah

49

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

masyarakat pesisir, di samping menekankan
pentingnya

peningkatan

pengawasan,
rehabilitasi cadangan SDA, dan keutuhan
wilayah NKRI. Berikut ini adalah sejumlah
kegiatan anggaran yang dilaksanakan oleh
Komisi IV:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 menyetujui
pagu anggaran untuk RKA-K/L DKP
dengan program antara lain peningkatan
pengawasan dan akuntabilitas negara dan
rehabilitasi pemulihan cadangan SDA;
• Mendorong DKP agar mengoptimalkan
realisasi Daftar Isian Pelaksanaan
Anggaran (DIPA) APBN dan APBN-P 2005
sebagai upaya pemantapan program DKP
dalam rangka mendorong kesejahteraan
masyarakat, khususnya nelayan dan
pembudidaya ikan;
• Mendukung

upaya

DKP

dalam
menuntaskan pendataan dan penamaan
pulau-pulau kecil, khususnya penanganan
dan pengembangan terhadap pulau-pulau
terluar, dan mendesak Pemerintah untuk
mengalokasikan anggaran dalam Dana
Alokasi Khusus;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendorong
DKP meningkatkan penyerapan anggaran
APBN agar perekonomian rakyat dapat
berkembang;
• Dalam perencanaan alokasi anggaran
APBN tahun 2008, meminta DKP untuk
meningkatkan komposisi alokasi anggaran
yang lebih ditujukan untuk meningkatkan
kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan,
pengolah ikan, dan masyarakat pesisir;
• Meminta DKP lebih mengutamakan
peningkatan belanja modal yang bermanfaat
langsung bagi nelayan/pembudidaya ikan
sesuai kebutuhan dan aspirasi daerah,
baik untuk belanja APBN-P 2007 maupun
RAPBN 2008;
• Menyetujui pagu defnitif APBN 2008 untuk
DKP dan meminta rincian APBN 2008
dirancang kembali agar berfokus pada
penurunan tingkat kemiskinan, perluasan
lapangan kerja, dan peningkatan produksi;
• Mempertahankan anggaran Direktorat

Provinsi (RTRWP) sesuai peraturan
perundangan

sehingga

akselerasi

pembangunan daerah tidak terhambat;
• Meminta Pemerintah lebih memprioritaskan
program-program yang berorientasi pada
pengentasan kemiskinan masyarakat di
dalam dan sekitar hutan;
• Meminta Pemerintah agar kegiatan
perlindungan hutan, pengelolaan kawasan
konservasi, dan peningkatan hasil jasa
lingkungan menjadi perhatian prioritas
sehingga kelestarian hutan dapat terjaga.

Kelautan dan Perikanan

Komisi IV membahas sejumlah RUU dalam
bidang kelautan dan perikanan, yakni Rancangan
Undang-Undang tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir, Rancangan Undang-Undang tentang
Kelautan, dan Rancangan Undang-Undang
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil. Dari ketiga RUU tersebut,
Rancangan Undang-Undang tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil telah disetujui oleh Rapat Paripurna
DPR untuk menjadi Undang-Undang Nomor
27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Dalam proses
pembahasan RUU ini, konsep baru yang
masuk antara lain adalah penambahan frasa
pulau-pulau kecil, hak pengusahaan perairan
pesisir, mitigasi bencana, kawasan strategis
nasional tertentu, dan pengawasan serta
pengendalian. Dalam rangka penyusunan
RUU ini, sebagian anggota Komisi IV juga
melakukan kunjungan kerja ke luar negeri,
antara lain ke Maladewa, pada 12-18 Maret
2007 terkait Hak Pengelolaan Perairan Pesisir
(HP3), ke Filipina pada 12-15 Maret 2007 untuk
mekanisme pengelolaan perairan dan pesisir,
dan ke Kanada pada 21-27 Maret 2007 untuk
sistem yang dilakukan terkait pengaturan
kewenangan Pemerintah federal dan provinsi
serta mekanisme pengelolaan perairan dan
prosedur penangkapan ikan.

Pembahasan anggaran difokuskan pada nasib
nelayan, pembudidaya dan pengelola ikan, serta

KOMISI-KOMISI

50

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Jendral (Ditjen) Perikanan Tangkap dan
Ditjen Pengawasan dan Pengendalian
Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
untuk Tahun Anggaran 2008 dengan
permintaan, antara lain agar Pemerintah
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
nelayan serta memberikan pembinaan dan
bantuan, peningkatan kualitas dan mutu
alat tangkap, serta fasilitas pelabuhan
perikanan;
• Meminta DKP meningkatkan penyerapan
anggaran APBN tahun 2008 dengan
meningkatkan kinerja guna mencapai
realisasi APBN, Pinjaman/Hibah Luar
Negri (PHLN), dan PNBP sesuai rencana;
• Meminta Pemerintah dalam kebijakan
anggaran 2008-2009 mengalokasikan
anggaran untuk kegiatan peningkatan
kesejahteraan nelayan dan pembudidaya
ikan;
• Menyetujui usulan tambahan pagu PHLN
tahun 2008 untuk pembangunan kelautan
dan perikanan sebesar Rp 25 miliar untuk
50 hari operasi kapal pengawas dalam
rangka peningkatan penanggulangan
illegal fishing;
• Mendukung kegiatan Sistem Kapal Inspeksi
Perikanan Indonesia (SKIPI) melalui PHLN
pada tahun 2009;
• Menyetujui usulan tambahan pagu PHLN
sebesar Rp 57 miliar untuk kegiatan

Fisheries Training Development in Indonesia

(FTDI), sedangkan sisanya Rp 26,3 miliar
untuk alokasi tahun 2009.

Dalam menjalankan tugas pengawasannya,
Komisi IV memberi perhatian besar pada
peningkatan perekonomian masyarakat pesisir
dan pulau-pulau kecil. Kegiatan pengawasan
difokuskan pada hal-hal berikut ini:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendorong
Ditjen Perikanan Tangkap untuk
penanggulangan kemiskinan melalui
cara antara lain percepatan pendirian
dan optimalisasi solar packed dealer
untuk nelayan (SPDN) melalui koordinasi
dengan PT Pertamina, pengembangan

mata pencaharian alternatif rumah tangga
nelayan, dan peningkatan teknologi
penangkapan dan proftabilitas usaha
perikanan tangkap;
• Mendorong Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil di DKP untuk mengelola pulau-
pulau kecil sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat pesisir;
• Merekomendasikan DKP agar melakukan
penyederhanaan birokrasi dan penyaluran
Pemanfaatan

Dana

Pemberdayaan
Ekonomi Masyarakat Pesisir pada Tahun
Sidang 2005-2006;
• Mendorong DKP segera membentuk
Tim Terpadu untuk mengurangi dampak
limbah lumpur panas di Sidoarjo terhadap
kehidupan petambak, nelayan, dan aktivitas
usaha perikanan secara keseluruhan dan
mengatasi pencurian ikan pada Tahun
Sidang 2006-2007;
• Meminta Pemerintah memprioritaskan
pembangunan kelautan dan perikanan
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
nelayan dan pembudidaya ikan;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 meminta
Pemerintah meningkatkan kinerja terutama
dalam meningkatkan ekonomi nelayan dan
masyarakat pesisir, pembudidaya ikan
serta memperkuat pengawasan dalam
penanggulangan illegal fishing;
• Meminta Pemerintah menegaskan kembali
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang
berbatasan dengan negara lain dalam
rangka penegasan kedaulatan NKRI.

Pangan

Pembahasan RUU yang dilakukan Komisi IV
di bidang pertanian, perkebunan dan kelautan
merupakan upaya meraih swasembada di
bidang pangan. Sementara pembahasan
anggaran untuk sektor pangan difokuskan,
antara lain untuk memenuhi kebutuhan beras
bagi masyarakat miskin. Oleh karena itu
pembelian beras dari sumber-sumber dalam
negeri mendapat perhatian penting dari Komisi
IV dalam raker dengan para mitra kerjanya.

KOMISI-KOMISI

51

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Berikut ini adalah sejumlah kegiatan anggaran
yang dilakukan Komisi IV:
• Pada Tahun Anggaran 2005-2006 menerima
usulan Perum Bulog untuk RAPBN 2006
dan RAPBN 2007 yang bertujuan, antara
lain memperbaiki penyediaan beras untuk
masyarakat miskin (raskin);
• Pada Tahun Anggaran 2006-2007 mendorong
Bulog meningkatkan penyerapan anggaran
APBN tahun 2006 agar perekonomian
rakyat dapat berkembang;
• Menyetujui APBN-P Tahun Anggaran 2006
Perum Bulog sebesar Rp 396 miliar untuk
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang
sepenuhnya dibeli dari pengadaan beras
dalam negeri;
• Meminta Pemerintah mengalokasikan
tambahan anggaran subsidi Raskin untuk
memenuhi 12 bulan dalam APBN-P Tahun
2008 berikutnya;
• Pada Tahun Anggaran 2008-2009 digunakan
untuk subsidi Raskin, Public Service Obligation
(PSO) yaitu CBP, pendukung PSO dan kajian
infrastruktur, serta untuk meninjau Harga
Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras
tahun 2009.

Raskin dan impor beras baik oleh Perum Bulog
maupun oleh pihak swasta mengemuka dalam
kegiatan pengawasan Komisi IV. Berikut ini
sejumlah rekomendasi dan permintaan yang
diutarakan kepada mitra kerja:
• Merekomendasikan Pemerintah pada
Tahun Sidang 2004-2005 melalui Perum
Bulog untuk menetapkan pihak yang
berhak mendapatkan raskin agar tidak
terjadi kerancuan tentang penerima beras
tersebut;
• Meminta Pemerintah pada Tahun Sidang
2005-2006 agar izin impor beras yang
diberikan kepada perusahaan umum
(perum) Bulog/swasta mempertimbangkan
situasi harga beras/gabah dalam negeri
dan cadangan beras nasional yang dikelola
perum Bulog untuk menstabilkan harga
beras/gabah di dalam negeri bila keran
impor dibuka. Komisi IV juga meminta

perum Bulog agar mendistribusikan beras
hasil impor hanya untuk memenuhi stok
pangan di daerah yang kekurangan beras
dan tidak untuk keperluan pasar;
• Menyikapi temuan dari hasil audit BPK
atas Pemeriksaan Semester I Tahun 2006,
antara lain mengenai penggelapan raskin
di beberapa provinsi, Komisi IV pada Tahun
Sidang 2006-2007 merekomendasikan
perum Bulog agar segera menindaklanjuti
temuan/saran BPK;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta agar
pengadaan subsidi Raskin dan penyediaan
CBP mengoptimalkan pengadaan dari
sumber petani domestik;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 meminta
Pemerintah mengantisipasi kemungkinan
naiknya

angka

kemiskinan

dan
pengangguran sebagai dampak krisis
fnansial global dengan memerhatikan
CBP dan raskin, serta meminta Pemerintah
meninjau HPP gabah dan beras tahun
2009.

Penyerapan Aspirasi

Komisi IV pada Tahun Sidang 2004-2009 juga
menyerap aspirasi masyarakat antara lain
melalui kunjungan kerja ke berbagai provinsi,
antara lain pada Tahun Sidang 2005-2006
ke Provinsi Papua Barat, Jambi, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan,
Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Barat. Pada
Tahun Sidang 2007-2008 ke Provinsi Sumatera
Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Barat,
Jambi, Kalimantan Timur, dan Papua untuk
mendapatkan informasi mengenai berbagai
permasalahan, seperti pupuk bersubsidi,
pemberian PUAP, BLBU, pembalakan liar,
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi/
Kabupaten (RTRWP/K), Gerhan, pencurian ikan
(illegal fshing), serta masyarakat penerima
raskin. Sejumlah kunjungan tersebut menjadi
masukan untuk pemberian rekomendasi oleh
Komisi IV kepada Pemerintah.

KOMISI-KOMISI

52

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

baik pada para mitra kerjanya sehingga bisa
meningkatkan layanan di bidangnya masing-
masing misalnya layanan terkait transportasi.
Pada periode ini, terjadi peningkatan anggaran
yang signifkan dari tahun ke tahun, namun
demikian belum dapat memenuhi target
anggaran yang diusulkan masing-masing mitra
kerja. Hal utama yang menjadi perhatian adalah
bahwa anggaran masing-masing mitra kerja,
pada dasarnya berpedoman pada pagu indikatif
yang ditetapkan oleh Menkeu, sehingga kalau
ada pagu sementara yang meningkat, bahkan
pagu defnitif sekalipun, pada dasarnya adalah
hasil tata kelola yang dihasilkan oleh Panggar
DPR.

Dalam melakukan pengawasan, Komisi V

Komisi V menuntaskan pembahasan lima RUU
yang kemudian disahkan oleh Rapat Paripurna
DPR menjadi UU.

Di sisi anggaran, selain pembahasan rutin
anggaran tahunan para mitra kerja, Komisi V
merekomendasikan peningkatan penyerapan
anggaran, dan melakukan tata kelola yang

5. Komisi V

Bidang Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat
dan Pembangunan Daerah Tertinggal

RUU

Inisiator

Status

Revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992
tentang Perkeretaapian

PemerintahUndang-Undang Nomor 32 Tahun 2007
tentang Perkeretaapian

Revisi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992
tentang Pelayaran

PemerintahUndang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran

Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992
tentang Penerbangan

PemerintahUndang-Undang Nomor 1 Tahun 2009
tentang Penerbangan

Revisi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992
tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan

PemerintahUndang-Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan

Meteorologi, Klimatologi dan Geofsika

PemerintahUndang-Undang tentang Meteorologi,
Klimatologi dan Geofsika

memberi perhatian pada penanggulangan
kecelakaan yang sering terjadi pada berbagai
moda angkutan. Pengawasan juga diberikan
pada pembangunan infrastruktur di wilayah-
wilayah perbatasan. Benang merah dari semua
kegiatan pengawasan adalah mendorong
terjadinya transparansi dan akuntabilitas bagi
para mitra kerjanya.

Perhubungan

Dalam Periode 2004-2009, Komisi V
merampungkan pembahasan lima RUU
terkait sektor perhubungan yang dirasa sangat
mendesak mengingat terjadinya serangkaian
kecelakaan di darat, laut dan udara. Berikut
adalah sekilas pembahasan tiga RUU terkait
sektor perhubungan tersebut:

• Revisi Undang-Undang Nomor 13
Tahun 1992 Tentang Perkeretaapian

Setelah DPR menerima draf Rancangan
Undang-Undang tentang Perkeretaapian
dari Pemerintah, Komisi V membentuk
Panja pada 28 September 2006. Panja
tersebut membahas secara mendalam
RUU dan melibatkan masukan berbagai

53

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Komisi V dalam sebuah

kunjungan kerja di

Kabupaten Alor, Nusa

Tenggara Timur, Juli

2009

institusi yang memiliki keterkaitan dengan
penyelenggaraan perkeretaapian.

Materi yang banyak mendapat perhatian
dalam RUU ini adalah terbukanya peluang
bagi pihak swasta dan Pemda untuk terlibat
dalam penyelenggaaraan perkeretaapian
dan penerapan PSO. Di Komisi V, RUU ini
merupakan yang pertama diselesaikan
pembahasannya. Rapat Paripurna DPR
menyetujui RUU ini untuk disahkan menjadi
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007
tentang Perkeretaapian.

• Revisi Undang-Undang Nomor 21
Tahun 1992 tentang Pelayaran

Salah satu materi yang disoroti dalam RUU
ini antara lain tentang penyelenggaraan
pelabuhan,

pembentukan

Otoritas
Pelabuhan pada pelabuhan komersial,
dan Unit Penyelenggara Pelabuhan
pada pelabuhan yang belum diusahakan
secara komersial. Dalam pembahasan,
Pemerintah diwakili Menteri Perhubungan
(Menhub). Untuk mencari masukan, Komisi
V melakukan kunjungan kerja teknis luar
negeri ke Belanda, Jerman, dan Perancis
untuk bertemu dan berdiskusi dengan
pejabat perhubungan di negara-negara

tersebut. Rapat Paripurna DPR menyetujui
Revisi Undang-Undang Nomor 21 Tahun
1992 tentang Pelayaran disahkan menjadi
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran.

• Revisi Undang-Undang Nomor 15
Tahun 1992 tentang Penerbangan

Pembahasan Revisi UU ini diwarnai
antara lain oleh keputusan Uni Eropa yang
memberlakukan larangan terbang terhadap
maskapai penerbangan Indonesia ke
negara kawasan Uni Eropa dengan alasan
keamanan. Pembahasan UU ini melibatkan
sejumlah pemangku kepentingan antara
lain Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II,
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI), operator penerbangan seperti Lion
Air, Batavia Air, Mandala Air, Sriwijaya Air,
PT Garuda Maintenance Facility, Federasi
Pilot Indonesia, serta pakar penerbangan.
Sekitar 70 persen isi RUU terkait keamanan
dan keselamatan penerbangan. Untuk
mencari masukan dalam pembahasan
RUU ini, Komisi V melakukan kunjungan
ke Belanda, Jerman, dan Perancis untuk
bertemu dan berdiskusi dengan para pejabat
perhubungan di negara-negara tersebut.

54

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

Dari sisi anggaran, Komisi V mendorong mitra
kerjanya memikirkan kebutuhan masyarakat
akan layanan transportasi yang aman baik di
darat, laut, dan udara. Oleh karena itu muncul
rekomendasi untuk peningkatan anggaran
dalam rangka pemenuhan kebutuhan
masyarakat, antara lain kebutuhan akan
transportasi dan kebutuhan masyarakat di
daerah bencana, seperti di Provinsi NAD dan
Nias. Selain itu, Komisi V juga menyuarakan
tuntutan rakyat untuk terciptanya tata kelola
yang baik (good governance) pada mitra
kerjanya.

Berikut adalah sejumlah kegiatan anggaran
Komisi V:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006, walaupun
menyatakan memahami sementara rincian
usulan APBN-P 2006 Dephub, namun
Dephub diminta melakukan antara lain
realokasi dana untuk memenuhi kebutuhan
transportasi masyarakat dan membuat
skala prioritas pada program mendesak
untuk meningkatkan keselamatan dan
tanggap darurat akibat tsunami di Provinsi
NAD dan Nias yang belum terselesaikan;
• Pada periode yang sama, Komisi V sependapat
dengan BMG untuk membicarakan RAPBN
2007 lebih lanjut agar terdapat peningkatan
anggaran sebesar Rp 1,4 triliun dengan
memperhatikan kriteria antara lain
program yang sesuai tuntutan/kebutuhan
masyarakat dan penambahan jaringan
pengamatan;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Dephub dan Departemen PU untuk
melakukan Penyusunan RKA-K/L RAPBN
2007 dengan memperhatikan antara lain
Rencana Strategis (renstra) Dephub,
keseimbangan pusat dan daerah, dan
keseimbangan pembangunan kawasan
barat dan timur;
• Meminta agar BMG menerapkan antara
lain e-procurement dan e-auction untuk
meningkatkan efsiensi dan efektiftas
pengelolaan anggaran dan mewujudkan
tata kelola yang baik dan bersih.

• Pada Tahun Sidang 2007-2008, bersama
Menhub menyepakati tambahan alokasi
anggaran pada APBN-P 2008 untuk Dephub
dengan prioritas antara lain pada lanjutan
pembangunan Bandara Kualanamu,
Medan, peningkatan SDM, pengembangan
pelayanan perintis, peningkatan pelayanan
dan keselamatan transportasi darat, laut,
udara, dan kereta api.

Dari sisi pengawasan, Komisi V banyak menyoroti
seringnya kecelakaan yang melibatkan moda
transportasi darat, laut, dan udara. Oleh
karena itu, Komisi V juga mendorong terjadinya
audit transparan dan modernisasi peralatan,
selain menyikapi masalah cyber crime. Berikut
adalah kegiatan pengawasan Komisi V:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005, sepakat
dengan BMG untuk modernisasi peralatan
BMG sehingga mampu memproduksi dan
menyebarkan data serta informasi hingga
ke tingkat kabupaten, terutama daerah
rawan bencana alam dan bandara rawan
perubahan cuaca;
• Mendorong

Pemerintah

secepatnya
mengeluarkan peraturan perundangan
yang berkaitan dengan cyber crime;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 mendorong
Dephub

secepatnya

menerapkan
e-procurement dan e-auction untuk
meningkatkan kualitas proses pengadaan
dan pelelangan dalam upaya mewujudkan
tata kelola yang baik dan bersih;
• Seiring seringnya kecelakaan kereta api dan
pesawat udara pada Tahun Sidang 2005-
2006, Komisi V sepakat dengan Dephub
akan perlunya audit investigatif terhadap
PT Kereta Api Indonesia (KAI), meminta
Pemerintah secepatnya menyelesaikan
kasus-kasus kecelakaan pesawat udara
dengan memberikan perlakuan yang sama,
transparan, dan akuntabel terhadap semua
maskapai, dan melakukan langkah-langkah
intensif untuk menghindari terjadinya
kecelakaan;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 kembali
mendesak Menhub segera melakukan

55

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

audit keselamatan menyeluruh dan
independen pada semua moda transportasi
yang meliputi aspek regulasi, SDM, sarana
prasarana, teknologi, dan manajemen
untuk mewujudkan pelayanan transportasi
yang berpijak pada prinsip keselamatan
dan keamanan;
• Membentuk

Panja

Keselamatan
Transportasi untuk melakukan pengawasan
menyeluruh pada seluruh moda transportasi
terkait berbagai kecelakaan beruntun;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta
Dephub lebih fokus mengimplementasikan
Road Map to Zero Accidents yang telah
menjadi kebijakan Dephub setahun
terakhir;
• Mendesak Pemerintah Pusat dan Daerah
meningkatkan pelayanan transportasi
massal sebagai moda transportasi utama,
melakukan pembangunan sarana dan
prasarana transportasi secara bertahap
dan tidak menimbulkan masalah baru.

Pekerjaan Umum

Dalam bidang PU, Komisi V lebih memfokuskan
pada masalah anggaran dan pengawasan.
Masalah penyerapan anggaran dan pembuatan
skala prioritas menjadi salah satu perhatian
utama Komisi V, ditambah keprihatinan pada
keseimbangan pembangunan antara pusat
dan daerah, kawasan barat dan timur. Berikut
adalah pelaksanaan kegiatan anggaran Komisi
V:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Departemen PU meningkatkan penyerapan
anggaran pada 2006 dengan melaksanakan
program kegiatan 2006 secara konsisten,
efektif, efsien, dan optimal;
• Meminta Departemen PU lebih realistis
dalam melakukan realokasi anggaran
karena keterbatasan kondisi keuangan
negara, dan membuat skala prioritas
pada program yang mendesak antara lain
dalam rangka meningkatkan penyediaan
infrastruktur bagi masyarakat;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Departemen PU menyusun RKA-K/L RAPBN

2007 dengan memperhatikan, antara lain,
renstra Departemen PU, kesimbangan
program antara pusat dan daerah, serta
pembangunan kawasan barat dan timur;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, bersama
Menteri PU sepakat atas tambahan
alokasi pada APBN-P Tahun 2008 untuk
Departemen PU yang diprioritaskan pada
rehabilitasi pascabencana;

Dalam hal pengawasan, Komisi V
menunjukkan

keprihatinannya

pada
pembangunan infrastruktur di berbagai
wilayah, termasuk wilayah-wilayah perbatasan
demi mempertahankan NKRI, sementara tetap
memberi perhatian pada transparansi dan
akuntabilitas, serta masyarakat kecil.

Berikut ini adalah kegiatan pengawasan Komisi
V:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005, bersama
Menteri PU sepakat mengarahkan program
pembangunan pada wilayah-wilayah
perbatasan untuk memperkokoh dan
memperkuat keutuhan NKRI;

• Pada

Tahun

Sidang

2005-2006
menghendaki APBN-P 2006 dan APBN 2007
mengalokasikan anggaran, antara lain,
untuk Trans bagian barat Sumatera, Trans
bagian selatan Jawa, Trans Kalimantan
(bagian selatan, tengah dan utara), Trans
Sulawesi, Trans Flores, dan Trans Maluku;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Pemerintah mendesak PT Lapindo Brantas
segera membayar Rp 1,3 triliun dana
tanggap darurat dan Rp 2,5 triliun dana
ganti rugi kepada masyarakat korban
lumpur di Sidoarjo;
• Terkait penanganan banjir di Jakarta,
mendesak

Pemerintah

merelokasi
penduduk dari bantaran sungai di Daerah
Khusus Ibukota (DKI) Jakarta ke Rumah
Susun Sederhana Sewa (Rusunawa);
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 mendorong
Departemen PU memperbaiki status opini
penilaian BPK dengan memperbaiki sistem
pengendalian internal dengan merancang

KOMISI-KOMISI

56

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

berbagai rencana kerja berupa antara lain
bimbingan teknis, asistensi, dan monitoring
dan evaluasi.

Perumahan Rakyat dan PDT

Dari sisi legislasi, Komisi V selama Periode
2004-2009 membahas sejumlah RUU terkait
bidang perumahan rakyat dan pembangunan
daerah tertinggal bersama Menteri Negara
Perumahan Rakyat (Menegpera) dan Meneg
Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT).

Dari sisi anggaran, selain mendorong mitra
kerja untuk meningkatkan daya serap anggaran,
Komisi V menitikberatkan pembangunan di
daerah pedesaan dan daerah tertinggal. Berikut
ini adalah pelaksanaan fungsi anggaran oleh
Komisi V:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 mendorong
Kementerian Negara Perumahan Rakyat
(Kemenegpera) meningkatkan kinerja dan
daya serap anggaran, serta memprioritaskan
penanggulangan kemiskinan, mitigasi dan
penanggulan bencana, dan percepatan
pembangunan infrastruktur;

• Meminta

Kemeneg

PDT

untuk
mengalokasikan ulang program kegiatan,
khususnya terkait rencana penambahan
alokasi anggaran sebesar Rp 20 miliar,

untuk

memprioritaskan

program-
program yang terkait langsung dengan
pembangunan daerah tertinggal, antara
lain program pengembangan ekonomi lokal
dan pengembangan daerah khusus;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 sepakat
mengupayakan kenaikan pagu sementara
anggaran 2007 pada Kemeneg PDT
mengingat

pentingnya

percepatan
pembangunan untuk daerah-daerah
tertinggal;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 sepakat
memperjuangkan

alokasi

anggaran
tambahan bagi Kemeneg PDT untuk
Program Penyediaan Pembangkit Listrik
Alternatif untuk minimal 64 kabupaten di
27 provinsi yang tercakup dalam Program
Percepatan Pembangunan Infrastruktur
Pedesaan (P2IP).

Dari sisi pengawasan, penyediaan perumahan
yang layak dengan harga terjangkau
merupakan salah satu fokus pelaksanaan
tugas pengawasan Komisi V. Pelaksanaan
tugas Komisi V di bidang ini antara lain:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendorong
Menegpera berkoordinasi dengan pihak-
pihak terkait agar lebih bersinergi dalam
upaya penyediaan rumah bagi masyarakat

Komisi V saat

melakukan kunjungan

lapangan ke sebuah

proyek Rumah Susun

Sederhana Milik

(Rusunami), Oktober

2007

KOMISI-KOMISI

57

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

terutama golongan menengah ke bawah;

• Pada

Tahun

Sidang

2005-2006

merekomendasikan

Kemeneg

PDT
dan/atau Departemen PU menindak
penyimpangan pada pelaksanaan Program
Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan
Bakar Minyak – Infrastruktur Pedesaan
(PKPS BBM-IP);
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendukung
pembangunan Rumah Susun Sederhana
Milik (Rusunami) di kota-kota besar sesuai
program 1.000 menara Rumah Susun
Sederhana (Rusuna) dan memandang
perlu penyederhanaan izin lokasi dan
pengurangan biaya Izin Mandirikan
Bangunan (IMB), serta tanggungan
Pemerintah untuk biaya Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) dan Biaya Perolehan Hak Tanah
dan Bangunan (BPHTB) untuk Rusunami;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 mendorong
Kementerian Negara PDT untuk segera
menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK
Semester I Tahun 2007 dan meningkatkan
status opini BPK ke arah yang lebih
baik demi mewujudkan tata kelola
penyelenggaraan pemerintahan yang baik
dan akuntabel;
• Meminta Pemerintah melalui Menpera
agar BI dapat menyediakan pendanaan
murah bagi upaya pembebasan tanah untuk
Rusunami.

Penyerapan Aspirasi

Selain rapat-rapat kerja dengan mitra kerja,
Komisi V pada Tahun Sidang 2004-2009 juga
menyerap aspirasi masyarakat antara lain
melalui kunjungan lapangan dan kunjungan
kerja ke berbagai tempat seperti Stasiun
Manggarai, Tol Cipularang, dan Stasiun
Gambir di Jakarta, serta ke berbagai provinsi,
antara lain ke Provinsi NAD, Provinsi DI
Yogyakarta, Provinsi Kalimantan Tengah,
dan Provinsi Bengkulu, termasuk kunjungan
lapangan. Berikut ini adalah sejumlah
kegiatan tersebut:

• Kunjungan

Lapangan

Musibah
Tenggelamnya KM. Tri Star ke Provinsi
Palembang pada Tahun Sidang 2006-2007;
• Kunjungan Lapangan Bencana Longsor di
Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Tahun
Sidang 2006-2007;
• Kunjungan Lapangan ke Kawasan Pluit
Mas, Pantai Indah Kapuk untuk meninjau
penyebab terjadinya banjir pada Tahun
Sidang 2007-2008;
• Kunjungan Lapangan untuk meninjau
kerusakan publik, khususnya jalan raya,
pada Tahun Sidang 2007- 2008.

Sementara dalam rangka mendapatkan
data dan informasi empiris mengenai bidang
Perhubungan, PU, Perum, PDT, Badan
Meteorologi dan Geofsika, serta Badan Search
and Rescue
Nasional (Basarnas), Komisi V
melakukan kunjungan kerja teknis luar negeri
antara lain ke Uni Emirat Arab, Perancis, dan
Afrika Selatan pada Tahun Sidang 2006-2007.

KOMISI-KOMISI

58

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Dari sisi anggaran, Komisi VI menekankan
pentingnya transparansi dalam penggunaan
dan realisasi anggaran oleh para mitra
kerjanya. Selain itu, Komisi VI mendesak
mitra kerja untuk mengoptimalkan daya serap
anggaran mereka.

Dalam menjalankan tugas pengawasan,
Komisi VI memberi perhatian pada penciptaan
iklim yang mendukung dunia usaha, termasuk
pelaku di sektor Industri Kecil Menengah (IKM)
dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Meski
mendorong investasi di dalam negeri, namun
Komisi VI tetap mengingatkan para mitra
kerjanya akan penguasaan industri strategis
dalam negeri oleh investor asing.

6. Komisi VI

Bidang Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, UKM, Investasi,
Persaingan Usaha, Standarisasi, dan BUMN

Komisi VI menyelesaikan pembahasan empat
RUU yang kemudian disahkan menjadi UU
dalam Rapat Paripurna DPR. Berikut ini adalah
daftar RUU yang diselesaikan Komisi VI.

RUU

Inisiator

Status

Sistem Resi Gudang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang
Sistem Resi Gudang

Penanaman Modal Asing

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal

Penetapan Perpu Nomor 1
Tahun 2007 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2000 tentang Kawasan
Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Menjadi
Undang-Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang
Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2007 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor36
Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-
Undang

Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM)

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

pembahasan dua RUU, yakni Rancangan
Undang-Undang tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah, dan Rancangan Undang-
Undang tentang Penetapan Perpu Nomor 1
Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang
Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan
Bebas. Berikut adalah kegiatan Komisi V
dalam membahas Rancangan Undang-
Undang tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

RUU ini diajukan Pemerintah melalui
Surat Presiden tanggal 30 April 2007

Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi dan UKM

Di bidang perindustrian, perdagangan,
koperasi, dan UKM, Komisi V menyelesaikan

KOMISI-KOMISI

59

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

yang menunjuk Menteri Koperasi/Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah (Menkop /
UMKM) sebagai wakil Pemerintah dalam
pembahasan RUU ini. Komisi VI melakukan
sejumlah raker dengan, antara lain, Menkop/
UMKM, Kamar Dagang dan Industri (KADIN)
Indonesia, dan RDPU antara lain bersama
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(HIPMI), Kerukunan Usahawan Kecil dan
Menengah Indonesia (KUKMI), dan Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo). RUU ini
disetujui secara aklamasi oleh semua fraksi
di DPR dalam Rapat Paripurna DPR untuk
disahkan menjadi Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah.

Dalam pembahasan anggaran dengan
para mitra kerja, Komisi VI mengarahkan
alokasi anggaran untuk pembinaan dan
pengembangan IKM dan UKM, ketersediaan
kredit yang terjangkau bagi IKM dan UKM, dan
daya serap anggaran oleh para mitra kerjanya.
Berikut ini pelaksanaan tugas Komisi VI di
bidang anggaran:
• Dalam RDP dengan Sekjen Deperin pada
Tahun Sidang 2004-2005 untuk membahas
RAPBN 2006, Komisi VI antara lain
mendorong agar implementasi program

pengembangan dan pembinaan IKM
dilakukan dengan memperhatikan struktur
industrinya, pengembangan teknologinya,
penguatan manajemennya serta perluasan
pasar untuk produknya sedemikian rupa
sehingga mendukung klaster-klaster
industri dan berorientasi ekspor;
• Mendesak Deperin agar menelaah kembali
rencana penetapan anggaran program
pembinaan IKM yang kecil pada Tahun
Anggaran 2005 berjalan dan prognosa
RAPBN 2006;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Kementerian Koperasi dan UKM
(Kemenkop UKM) untuk mengoptimalkan
pelaksanaan seluruh kegiatan yang telah
disusun pada Tahun Anggaran 2006
mengingat rendahnya realisasi serapan
anggaran Kemenkop UKM pada tahun
berjalan;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 mendorong
Deperdag

melakukan

optimalisasi
penggunaan anggaran mengingat realisasi
pelaksanaan anggaran Deperdag baru
mencapai Rp 219,20 miliar atau 14,81
persen dari pagu anggaran pada akhir Mei
2008;
• Mengusulkan

Pemerintah

agar
mengalokasikan anggaran subsidi bunga

Kunjungan langsung

Komisi VI ke salah satu

pabrik pengolahan

kayu di Kalimantan

Selatan, Maret 2006

KOMISI-KOMISI

60

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

kepada Usaha Mikro dalam satu paket
dengan program KUR sehingga bunganya
maksimal 12 persen per tahun untuk
meningkatkan daya saing pelaku usaha
mikro.

Dalam menjalankan tugas pengawasan di
bidang ini, Komisi VI menekankan pentingnya
rencana strategis pengembangan IKM,
mengatasi ekonomi biaya tinggi, penyerapan
tenaga kerja, dan meningkatkan ketahanan
dan keberadaan pasar tradisional. Berikut
ini adalah pelaksanaan tugas pengawasan
Komisi VI:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 menyatakan
perlunya membuat renstra bidang industri
yang perlu dikembangkan antara lain
industri manufaktur yang berdasarkan
pada aspek penyerapan tenaga kerja yang
luas, memenuhi kebutuhan dasar dalam
negeri, mampu mengolah pertanian dalam
arti luas dan SDA lainnya dari dalam negeri,
dan memiliki potensi pengembangan
ekspor;
• Mengharapkan

Pemerintah

segera
mengeluarkan Perpu Anti-Penyelundupan
dan menekan biaya ekonomi tinggi, antara
lain melalui penyederhanaan perizinan dan
penghapusan Peraturan Dearah (Perda)
yang kurang mendukung pengurangan
ekonomi biaya tinggi;
• Menyatakan perlunya dibuat konsep dana
bergulir guna mendukung program-
program pemberdayaan koperasi dan
UKM, termasuk pengembangan pasar
tradisional;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Kemenkop UKM untuk berkoordinasi
dengan Depkeu dan BI agar proses
hapus tagih tunggakan Kredit Usaha Tani
(KUT) Tahun Penyediaan 1998/1999 tetap
dilaksanakan secara transparan dan
selektif bagi petani yang benar-benar tidak
mampu mengembalikan kredit;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendesak
Deperin mengoptimalkan penggunaan
anggaran agar sasaran akhir tahun 2006

antara lain tingkat pertumbuhan industri
sebesar 7,7 persen, penyerapan tenaga
kerja 500,000 orang, dan penyerapan
investasi sebesar Rp 40-50 triliun dapat
terlaksana;
• Mendesak Deperdag untuk memberdayakan
pedagang pasar tradisional dalam
menghadapi persaingan melawan pemodal
besar/modern yang memiliki jaringan luas
dari sektor hulu ke sektor hilir;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 mendesak
Kemenkop UKM agar meningkatkan kerja
sama dengan instansi-instansi terkait
untuk memperkecil dampak kenaikan
harga BBM bagi pertumbuhan UMKM
berkaitan dengan kenaikan harga BBM.

Investasi Persaingan Usaha,
Standarisasi

Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Penanaman Modal Asing berjalan
cukup alot dan menggambarkan dinamika
yang terjadi di DPR. Berikut adalah kegiatan
pembahasan RUU tersebut:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Penanaman Modal Asing

RUU ini termasuk salah satu RUU yang
banyak mendapat sorotan masyarakat
di sepanjang proses pembahasannya.
Komisi VI mulai membahas RUU ini
sejak Tahun Sidang 2005-2006 dengan
melakukan serangkaian raker dengan
pihak-pihak terkait, antara lain, Mendag,
Menperin, Menteri Koordinator (Menko)
Perekonomian, dan sejumlah RDPU,
antara lain, bersama Asosiasi Pemerintah
Provinsi Seluruh Indonesia, KADIN
Indonesia, Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan
Asosiasi Emiten Indonesia.

Materi yang mendapat sorotan dari
sejumlah anggota antara lain adalah
pasal 22 mengenai fasilitas kemudahan
perpanjangan hak guna usaha, hak
guna bangunan, dan hak pakai. Karena

KOMISI-KOMISI

61

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

menganggap fasilitas tersebut tidak
berdasar hukum maka FPDIP melakukan
tindakan keluar ruang sidang (walkout),
sedangkan FPKB meminta penundaan
pengesahan RUU dan menyatakan tidak
bertanggung jawab atas pasal tersebut.

Dalam rangka pembahasan RUU ini,
Komisi VI melakukan kunjungan kerja
luar negeri ke Belanda, Cina, Thailand,
Amerika Serikat, dan Jepang. Di negara-
negara tersebut mereka bertemu dan
berdiskusi dengan instansi yang relevan
untuk mendapatkan masukan bagi RUU
tersebut.

Dari sisi anggaran, Komisi VI tidak saja
mendukung peningkatan anggaran sejumlah
mitra kerjanya untuk meraih kinerja yang
maksimal, tetapi juga mendorong para mitra
kerja untuk mengoptimalkan daya serap
anggaran. Berikut ini beberapa kegiatan
anggaran Komisi VI:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005, melalui
Panggar, mendorong upaya-upaya BKPM
dalam meningkatkan anggaran biaya
promosi pada tahun-tahun anggaran
mendatang, mengingat nilai investasi yang
terealisasi masih sangat rendah;

• Mendukung usulan kenaikan anggaran
tahun 2006 dari KPPU di atas pagu yang
telah ditetapkan bagi Deperdag mengingat
peran KPPU masih sangat diperlukan bagi
penciptaan iklim persaingan usaha yang
sehat;
• Melihat rendahnya realisasi penggunaan
anggaran BSN dan KPPU pada Tahun
Sidang 2005-2006, BSN dan KPPU didesak
untuk segera mengimplementasikan
langkah-langkah untuk mengoptimalkan
pelaksanaan kegiatan untuk Tahun
Anggaran 2006 dengan mengacu kepada
Indikator Kinerja Keberhasilan yang telah
ditetapkan;
• Mendukung pelaksanaan program-program
BSN pada Tahun Anggaran 2007, terutama
yang

memprioritaskan

peningkatan
kesempatan kerja, investasi dan ekspor,
akreditasi, dan pengendalian mutu;
• Mendorong BKPM melakukan optimalisasi
penggunaan anggaran karena realisasi
pelaksanaan anggaran BKPM hingga 19
Juni 2008 baru mencapai 27,19 persen
dari pagu anggaran;
• Mendesak KPPU meningkatkan kinerja
sesuai kebijakan, program dan kegiatan
serta target pencapaian mengingat
realisasi pelaksanaan anggaran KPPU

Sejumlah anggota

Komisi VI DPR tengah

mengamati proses

penenunan tradisional

di salah satu industri

kecil, Desember 2005

KOMISI-KOMISI

62

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

hingga akhir Mei 2008 baru mencapai
17,66 persen dari pagu anggaran.

Terciptanya kepastian iklim investasi,
kepastian status lembaga pengawas
persaingan usaha yang sangat diperlukan
untuk menciptakan aturan main yang sehat
bagi kalangan usaha, dan kejelasan aturan
standarisasi produk menjadi beberapa hal
yang disoroti Komisi VI dalam rapat-rapat
kerja dengan sejumlah mitra kerja. Berikut
adalah kegiatan Komisi VI dalam menjalankan
fungsi pengawasannya:
• Pada

Tahun

Sidang

2004-2005

mengharapkan

Pemerintah

segera

menyerahkan

Rancangan

Undang-
Undang tentang Penanaman Modal yang
naskahnya telah disusun sejak sembilan
tahun sebelumnya;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 mendesak
BSN agar segera melakukan program
pengembangan

sistem

informasi
Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk
menciptakan standarisasi produk pangan
dan energi;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendesak
Pemerintah segera memperjelas status
kelembagaan KPPU;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendesak
KPPU agar menyelidiki dan memberi
saran kebijakan terhadap dugaan praktek
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat
yang melanggar Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat terkait dugaan penyalahgunaan
posisi dominan beberapa perusahaan
asing di industri telekomunikasi;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 mendorong
Kepala BKPM mempercepat penyelesaian
Peraturan Pelaksana terkait pelayanan
terpadu satu pintu, fasilitas penanaman
modal, dan regulasi untuk mengatasi
hambatan investasi.

Badan Usaha Milik Negara

Dalam bidang legislasi, Komisi VI tidak

membahas RUU yang secara spesifk terkait
dengan BUMN pada Periode 2004-2009.
Dari sisi anggaran, salah satu fokus penting
dalam kegiatan pelaksanaan fungsi anggaran
Komisi VI adalah terjadinya transparansi di
pihak mitra kerjanya, yang akan menciptakan
kinerja efsien dan efektif. Berikut adalah
pelaksanaan fungsi anggaran Komisi VI di
bidang BUMN:
• Mengacu pada catatan dari BPK seperti
ketidaksesuaian standar audit laporan
keuangan BUMN dan hambatan akses
untuk memeriksa BUMN, pada Tahun
Sidang 2004-2005 Kemeneg BUMN didesak
membuat standar prosedur operasional
untuk pelaporan keuangan;
• Pada tahun sidang berikutnya, Komisi VI
mengharap pemberian PSO dilaksanakan
sebaik-baiknya, efsien, dan efektif
sehingga masyarakat dapat menerima
manfaat sebesar-besarnya, dengan tetap
mempertimbangkan keberlangsungan dan
pengembangan usaha BUMN.

Penguasaan oleh pihak asing terhadap industri
strategis dalam negeri menjadi perhatian
Komisi VI, begitu juga masalah pekerja di
BUMN, serta akuntabilitas manajemen
BUMN. Berikut ini adalah sikap Komisi VI
dalam berbagai permasalahan dalam rapat-
rapat dengan para mitra kerjanya:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 meminta
Pemerintah mempertahankan mayoritas
kepemilikan saham Pemerintah pada PT
Semen Gresik Tbk minimal sebesar 51
persen dan tidak melakukan spin off unit
Tuban I, II dan III dari PT Semen Gresik
Tbk;
• Terhadap permasalahan yang disampaikan
Forum Serikat Pekerja Pertamina Bersatu
terkait Surat Keputusan Direksi Pertamina
yang memberhentikan secara sepihak
4.015 orang Pekerja Waktu Tertentu, pada
Tahun Sidang 2005-2006 Meneg BUMN
diminta memeriksa dan meneliti seluruh
proses sehingga sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan;

KOMISI-KOMISI

63

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Mendesak Kemeneg BUMN agar
memeriksa masalah special audit oleh
konsultan keuangan Pricewaterhouse
Coopers terhadap PT Semen Padang
tahun operasi 2002 yang diduga melanggar
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995
tentang Perseroan Terbatas dan Keputusan
Menkeu Nomor 423/KMK.06/2002 tentang
Jasa Akuntan Publik;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendesak
Kemeneg BUMN mengarahkan kebijakan,
program dan aktivitasnya dengan
mengacu pada tiga fokus Pemerintah,
yaitu peningkatan kesempatan kerja,
pengurangan kemiskinan, dan peningkatan
kesejahteraan;
• Pada Tahun Sidang yang sama Kemeneg
BUMN diminta menerapkan sistem reward
and punishment
bagi para direksi dan
komisaris BUMN.

Penyerapan Aspirasi

Selain rapat-rapat kerja dengan mitra kerja,
Komisi VI pada Tahun Sidang 2004-2009 juga
menyerap aspirasi masyarakat antara lain
melalui kunjungan lapangan dan kunjungan
kerja ke berbagai provinsi dan tempat,
seperti Pasar Pondok Gede, Bekasi dan PTPN
VIII, Garut, Jawa Barat, dan RDPU dengan
berbagai instansi dan serikat pekerja seperti
Serikat Pekerja BUMN, Asosiasi Pengrajin
Rotan Indonesia, dan Asosiasi Produsen
Synthetic Fiber Indonesia. Sejumlah kegiatan
penyerapan aspirasi tersebut antara lain:
• Audiensi dengan Forum Komunikasi Petani
Tebu Rakyat Indonesia dengan agenda
“Masalah Penentuan Harga Gula Nasional
dan Nasib Petani Tebu Rakyat Ke Depan”
di Tahun Sidang 2005-2006;
• Audiensi dengan Lingkar Studi Mahasiswa
Jakarta dengan agenda penyampaian
permasalahan politisasi yang ada di tubuh
BUMN di Tahun Sidang 2005-2006;
• Audiensi dengan DPRD Provinsi Jawa Barat
dan Serikat Pekerja Forum Komunikasi
Karyawan PT Dirgantara Indonesia dengan
agenda “Penyampaian Permasalahan

Karyawan PT Dirgantara Indonesia” pada
Tahun Sidang 2006-2007;
• Audiensi dengan Sekretariat Bersama
Pedagang Tanah Abang dengan agenda
mendengarkan keresahan para pedagang
seiring meningkatnya tekanan yang
dilakukan jajaran Pemda DKI Jakarta,
pada Tahun Sidang 2006-2007;
• Audiensi dengan Pegawai P.N. PPD dengan
agenda “Masalah Hak Pensiunan” pada
Tahun Sidang 2006-2007.

Komisi VI juga melakukan kunjungan kerja
teknis luar negeri ke Jepang, Rusia, Selandia
Baru, Finlandia, dan Estonia dalam rangka
pembahasan RUU selama Periode 2004-
2009.

KOMISI-KOMISI

64

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Dalam membahas anggaran dengan para mitra
kerjanya untuk setiap tahun anggaran, Komisi
VII menekankan penggunaan anggaran yang
efektif serta alokasi anggaran dan subsidi yang
tepat sasaran.

Dari sisi pengawasan, Komisi VII memberi
perhatian antara lain pada masalah korupsi,
pemenuhan kewajiban dari para kontraktor di
sektor minyak dan gas (migas), dan penegakan
hukum bagi perusahaan yang merusak
lingkungan.

Energi dan Sumber Daya Mineral

Komisi VII menyelesaikan pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang Energi.
Sementara hingga laporan ini disusun,
Rancangan

Undang-Undang

tentang

Ketenagalistrikan sedang dibahas.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Energi

Rancangan Undang-Undang tentang
Energi merupakan inisiatif DPR. Proses
pembahasannya dimulai sejak Tahun
Sidang 2005-2006 dan melibatkan berbagai

Komisi VII menyelesaikan empat RUU yang
kemudian disahkan dalam Rapat Paripurna
DPR. Berikut ini adalah daftar RUU yang
diselesaikan Komisi VII.

7. Komisi VII

Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Lingkungan
Hidup, dan Riset dan Teknologi

(PERHAPI), Universitas Gadjah Mada
(UGM), Institut Pertanian Bogor, dan Institut
Teknologi Bandung. Dalam pembahasan
RUU ini, pihak Pemerintah diwakili oleh
Menteri ESDM.

Dalam proses pembahasan hingga
pengesahan, RUU ini mendapat masukan
dari berbagai pihak. RUU yang terdiri
dari 10 Bab dan 34 Pasal ini merupakan
dasar bagi pengembangan manajemen
pengelolaan sektor energi yang lebih
efektif dan komprehensif. Sejumlah materi
pokok RUU ini antara lain kemandirian
pengelolaan energi; tersedianya energi
untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri,
pemenuhan kebutuhan bahan baku industri
dalam negeri, dan peningkatan devisa
negara; terjaminnya pengelolaan sumber
daya energi secara optimal, terpadu, dan
berkelanjutan; peningkatan akses terhadap
energi bagi masyarakat tidak mampu atau di
daerah terpencil; terciptanya lapangan kerja;
dan terjaganya kelestarian fungsi lingkungan
hidup. RUU ini disetujui semua fraksi secara
aklamasi untuk menjadi Undang-Undang

pemangku kepentingan, baik dari kalangan
asosiasi profesi, swasta, LSM, yayasan
maupun perguruan tinggi, seperti Kadin,
YLKI, Persatuan Ahli Tambang Indonesia

RUU

Inisiator

Status

Energi

DPR

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007
tentang Energi

Pengesahan Konvensi Stockholm
tentang Bahan Pencemar Organik
yang Persisten (Stockholm
Convention
on Persistent Organic
Pollutants
)

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009 tentang
Ratifkasi Konvensi Stockholm tentang Bahan
Pencemar Organik yang Persisten

Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup

DPR

Undang-Undang tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup

Ketenagalistrikan

Pemerintah

Undang-Undang tentang Ketenagalistrikan

KOMISI-KOMISI

65

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi dalam
Rapat Paripurna DPR pada 17 Juli 2007.

Di sisi anggaran, Komisi VII antara lain
memberi perhatian pada pentingnya
peningkatan

penyerapan

anggaran,
optimalisasi penggunaan anggaran, termasuk
pengawasan alokasi subsidi BBM, subsidi listrik
dan tarif listrik, volume dan lifting migas, dan
konversi minyak tanah ke Liquifed Petroleum
Gas (LPG). Hasilnya tampak dalam tingkat
penyerapan anggaran Departemen ESDM yang
terus mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Bila pada Tahun Anggaran 2005 tingkat
penyerapan anggaran oleh Departemen ini
masih relatif kecil, yaitu 61,92 persen dari total
anggaran belanja senilai Rp 6.163,9 miliar,
maka pada tahun 2008 tingkat penyerapan
anggaran belanjanya meningkat menjadi 92,21
persen dari total anggaran senilai Rp 5.903,2
miliar.

Berikut adalah sikap Komisi VII dalam rapat
dengan para mitra kerjanya di sepanjang
Periode 2004-2009:
• Dalam pembahasan APBN-P 2005
(Perubahan Kedua) dengan Departemen
ESDM, bersama Departemen ESDM
menyepakati jumlah konsumsi BBM
tahun 2005 sebesar 59,63 juta kilo liter
dengan catatan bahwa jumlah BBM yang
telah menggunakan harga pasar tidak
dimasukkan lagi dalam jumlah konsumsi
tersebut. Kemudian, kedua pihak sepakat
untuk meninjau konsep subsidi BBM, yaitu

bukan produk BBM yang disubsidi melainkan
subsidi langsung kepada konsumen yang
benar-benar membutuhkan;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, selain
menyepakati besaran subsidi tahun 2008
senilai Rp 61,01 triliun, Komisi VII juga
memutuskan tidak adanya kenaikan tarif
dasar listrik (TDL). Selain penetapan subsidi
BBM, yang terdiri dari premium, solar, dan
minyak tanah, Komisi VII juga menyepakati
adanya subsidi LPG yang digunakan dalam
program konversi minyak tanah ke LPG;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 disepakati
adanya subsidi Bahan Bakar Nabati (BBN).
Alokasi subsidi BBN untuk tahun 2009
adalah Rp 1.000 per liter atau sebesar Rp
831,43 miliar bila harga BBN lebih tinggi
dari harga BBM. Pemberian subsidi BBN
dimaksudkan untuk mendorong perluasan
pemanfaatan sumber energi tersebut.

Dari sisi pengawasan, Komisi VII menekankan
optimalisasi pelaksanaan program-program
Pemerintah,

implementasi

perundang-
undangan, termasuk alokasi subsidi energi untuk
sampai kepada konsumen dengan tepat. Komisi
VII juga memberi perhatian khusus pada rencana
kenaikan harga BBM bersubsidi dan perbaikan
distribusi minyak tanah dengan sistem tertutup
melalui penggunaan kartu kendali. Selain itu,
Komisi VII juga mengawasi kewajiban para
kontraktor di sektor migas dan pertambangan
umum, mengingat dampaknya yang sangat
besar bagi keuangan negara dan perkembangan
sektor migas, mineral batubara, dan panas bumi,

Anggota Komisi VII

meninjau fasilitas

pengolahan limbah,

April 2007

KOMISI-KOMISI

66

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

serta listrik dan pemanfaatan energi. Komisi ini
selain meminta menunda kenaikan harga BBM
kepada Pemerintah, juga meminta mempercepat
kenaikan harga BBM tertentu.

Komisi VII juga berperan dalam proses
pemilihan Kepala BP Migas, BPH Migas, dan
Dewan Energi Nasional termasuk memberi
pertimbangan terhadap pimpinan BP Migas
serta pemberian rekomendasi pemberhentian
Kepala BP Migas kepada Presiden.

Berikut ini adalah posisi Komisi VII dalam
sejumlah rapat dengan para mitra kerjanya:
• Di sektor migas, pada Tahun Sidang 2004-
2005, menyatakan keberatan atas rencana
Pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM
dengan menaikkan harga BBM, sebelum:
1) Pemerintah menjamin keberhasilan
program kompensasi tepat sasaran pada
penanggulangan kemiskinan secara terukur
mengenai besaran, jumlah orang, lokasi
dan sebagainya; serta 2) Pemerintah siap
dengan kebijakan penanggulangan dampak
kenaikan harga BBM berupa kenaikan harga
kebutuhan pokok dan jasa serta kenaikan
tingkat infasi. Perlu dicatat bahwa pada
tahun sidang ini, Pemerintah menaikkan
harga BBM sebanyak dua kali;
• Meminta Pemerintah pada Tahun Sidang
2005-2006 untuk mengutamakan percepatan
realisasi produk migas di Blok Cepu demi
kemandirian bangsa di masa depan dan
manfaatnya bagi rakyat banyak;
• Meminta PT Pertamina pada Tahun Sidang
2007-2008 mengoptimalkan produksi di
sumur-sumur tua untuk meningkatkan
produksi minyak bumi di dalam negeri
dengan memberi kesempatan kepada pihak
ketiga. Komisi VII juga meminta Pemerintah
dan BP Migas untuk mempercepat
pemanfaatan sumur-sumur tua tersebut;
• Terkait menurunnya harga minyak mentah
dunia pada Tahun Sidang 2008-2009,
Pemerintah diminta menurunkan harga
BBM dan mengkaji kembali sistem subsidi
BBM tertentu agar di masa mendatang

besaran komponen subsidi BBM dalam
APBN menjadi lebih realistis;
• Di sektor Pertambangan Umum, Menteri
ESDM pada Tahun Sidang 2004-2005 diminta
mengkaji serta mempelajari kontrak
karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara (PKP2B) antara
Pemerintah dan kontraktor dalam
perpanjangan kontrak, dengan melibatkan
Pemda agar kontrak karya dan PKP2B
memberikan pendapatan yang sebesar-
besarnya untuk Negara;
• Meminta Pemerintah pada Tahun Sidang
2005-2006 untuk meningkatkan penerimaan
negara dari sektor pertambangan mineral
dan batubara serta mempercepat peraturan
perundang-undangan di bawah UU untuk
menertibkan pertambangan emas tanpa
izin;
• Meminta Pemerintah pada Tahun Sidang
2006-2007 agar mengambil tindakan tegas
terhadap PT Newmont Nusa Tenggara
(NNT) sehingga perusahaan tersebut
merealisasikan divestasi sahamnya sebesar
3 persen kepada Pemerintah Kabupaten
Sumbawa Barat dan 7 persen kepada
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB) selambat-lambatnya pada 7 Desember
2007;
• Meminta Departemen ESDM pada Tahun
Sidang 2008-2009 untuk berkoordinasi
dengan Depkeu terkait percepatan revisi
Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun
2006 tentang PNBP, yang mengakibatkan
tertundanya realisasi alokasi dana
pengadaan batubara dalam bentuk in-kind
(batubara yang merupakan hasil pembayaran
royalti dalam bentuk barang) untuk PT PLN
(Persero);
• Di sektor ketenagalistrikan dan pemanfaatan
energi, pada Tahun Sidang 2005-2006
berpendapat TDL tahun 2006 tidak perlu
dinaikkan. Untuk memenuhi kekurangan
biaya pengadaan tenaga listrik sesuai audit
BPK, Komisi VII meminta Panggar dan
Pemerintah untuk menambah subsidi Tahun
Anggaran 2006 sebesar Rp 5 triliun;

KOMISI-KOMISI

67

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Pada Tahun Sidang 2007-2008 menyetujui
PT PLN (Persero) melakukan penghematan
pemakaian listrik.

Lingkungan Hidup

Di bidang Lingkungan Hidup (LH), Komisi VII
menyelesaikan Rancangan Undang-Undang
tentang Pengesahan Stockholm Convention on
Persistent Organic Pollutants yang disahkan
menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009
tentang Pengesahan Stockholm Convention on
Persistent Organic Pollutants. Hingga laporan
ini disusun, Rancangan Undang-Undang
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup sedang
dibahas.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Pengesahan Konvensi Stockholm
tentang Bahan Pencemar Organik yang
Persisten

Indonesia bersama 150 negara telah
menandatangani kesepakatan tentang
Persistent Organic Pollutants (POPs)
tanggal 23 Mei 2001. Tujuh tahun kemudian,
pada 10 April 2008, Pemerintah mengajukan
pengesahan kesepakatan tentang POPs
tersebut kepada Pimpinan DPR, yang
memutuskan untuk membahas lebih lanjut
dalam Bamus. Rapat Bamus tanggal 15
Mei 2008 memutuskan untuk menyerahkan
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Pengesahan Konvensi Stockholm
tentang Bahan Pencemar Organik yang
Persisten kepada Komisi VII.

Dalam pembahasannya, Komisi VII
melibatkan berbagai pemangku kepentingan
dari perguruan tinggi, LSM, asosiasi profesi
dan instansi Pemerintah terkait, antara
lain Meneg Riset dan Teknologi (Ristek),
Menteri Meneg PAN, Menteri Kesehatan
(Menkes), Mendag, Menperin, Kepala BPPT,
dan Kepala BPOM. Sebagian besar para
pemangku kepentingan mendukung perlunya
pengesahan ratifkasi Konvensi Stockholm
tersebut, namun penentangan datang dari
sektor industri besi dan baja, yang proses

produksinya menghasilkan dioksin dan
furan yang masuk kategori POPs. Akhirnya
disepakati bahwa pelaksanaan kewajiban
pengurangan dioksin dan furan sesuai
dengan Konvensi Stockholm dilakukan
secara bertahap sesuai kondisi dan teknologi
yang tersedia dan dapat diterapkan. Dengan
demikian, Rapat Paripurna tanggal 12 Mei
2009 mengesahkan Rancangan Undang-
Undang tentang Pengesahan Konvensi
Stockholm tentang Bahan Pencemar
Organik yang Persisten.

Dari sisi anggaran, penyerapan anggaran
terendah dalam waktu lima tahun terakhir
terjadi di tahun 2005 ketika anggaran Kemeneg
LH sebesar Rp 276,89 miliar terserap 85,08
persen. Sedangkan untuk Tahun Anggaran 2009,
dari APBN Kementerian LH sebesar Rp 376,40
miliar, hingga awal Juni 2009 baru terealisasi
30,41 persen. Ke depan, Komisi VII berpendapat
Kemeneg LH perlu mengoptimalkan penggunaan
anggaran dengan memprioritaskan kegiatan-
kegiatan yang berhubungan langsung atau dapat
dirasakan langsung oleh masyarakat sesuai
aturan perundang-undangan yang berlaku.

Di bidang pengawasan, Komisi VII menekankan
pentingnya penegakan hukum terhadap
perusahaan, terutama yang menimbulkan
bencana lingkungan. Berikut adalah posisi
komisi ini terkait pengawasan selama Periode
2004-2009:
• Berkaitan dengan impor limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3) baik yang
dilakukan secara illegal atau dengan
pemalsuan dokumen, upaya Kemeneg LH
untuk melakukan ekspor ulang limbah B3
ke negara asal, yaitu Singapura, Jerman,
dan Korea Selatan dengan pengawasan
yang ketat didukung Komisi VII. Di samping
itu, Pemerintah didesak menyelesaikan
masalah impor limbah B3 tersebut secara
diplomatis melalui Sekretariat Konvensi
Basel, serta mengambil langkah hukum
pidana maupun perdata, termasuk tuntutan
ganti rugi atas pelanggaran hukum yang

KOMISI-KOMISI

68

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

terjadi dengan melimpahkan kasus tersebut
ke Kejakgung dan Kapolri. Pada saat yang
sama, Presiden diminta menindak tegas
aparat birokrasi yang terlibat;
• Dengan terjadinya tingkat degradasi
lingkungan pada taraf yang sangat
memprihatinkan, Kemeneg LH diminta
bertindak cepat dan tegas menetapkan
status quo (penghentian kegiatan)
atas proyek-proyek yang dinilai dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan
dan/atau merugikan program pelestarian
lingkungan hidup, antara lain pembangunan
jalan Ladia Galaska dan reklamasi Pantura
Jawa. Selain itu, mendukung Kemeneg
LH untuk memberlakukan kebijakan
Moratorium Penebangan Hutan, serta
meminta perhatian serius terhadap
pengelolaan limbah rumah sakit;
• Dalam rangka penguatan dan sosialisasi
program, Kemeneg LH diminta menyusun
cetak biru rencana lingkungan hidup
hingga tahun 2020; mensosialisasikan dan
mengimplementasikan hasil Conferences
of the Parties
(COP) ke-13 United Nations
Framework Convention on Climate Change

(UNFCCC), terutama yang berkaitan dengan
agenda mitigasi dan adaptasi dalam rangka
perubahan iklim.

Riset dan Teknologi

Komisi VII pada Periode 2004-2009 tidak
memiliki agenda pembahasan RUU yang

berkaitan dengan bidang ristek. Namun dalam
sejumlah bidang yang berkenaan dengan ruang
lingkup Kemeneg Ristek, Komisi VII mendukung
Kemeneg Ristek untuk berpartisipasi aktif
dalam pembahasan RUU tentang Pengelolaan
Bencana, yang sekarang sudah disahkan
menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Bencana dan Rancangan
Undang-Undang tentang Pengelolaan Ruang
Udara Nasional, terutama yang menyangkut
aspek Pengaturan FIR yang menjadi salah
satu program kegiatan Lembaga Antariksa dan
Penerbangan Nasional.

Dari aspek anggaran, secara umum alokasi
dan realisasi penyerapan anggaran Kemeneg
Ristek serta Lembaga Pemerintah Non
Departemen (LPND) Ristek setiap tahunnya
terus mengalami peningkatan, yakni dari pagu
Anggaran Tahun 2005 sebesar Rp 1,51 triliun
dengan realisasi penyerapan anggaran sebesar
86,2 persen menjadi Rp 2,50 triliun dengan
realisasi penyerapan anggaran sebesar 94,5
persen pada Tahun Anggaran 2008.

Dalam menjalankan tugas anggarannya di
sepanjang Periode 2004-2009, Komisi VII
mendukung pengajuan anggaran oleh Kemeneg
Ristek dan LPND, terutama berkenaan dengan
anggaran program kegiatan yang strategis,
antara lain:
• Mendukung anggaran pengadaan peralatan
survei seismik yang diajukan BPPT untuk

Anggota Komisi VII saat

berkunjung ke Sarawak

Energy terkait isu

tentang sumber daya

energi, Januari 2009

KOMISI-KOMISI

69

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

pemetaan potensi energi di perairan
Indonesia dan pendataan batas landas
kontinen dalam APBN-P 2006 dan APBN
2007;
• Mendukung anggaran Bakosurtanal, BPPT,
dan LIPI untuk mempercepat pembuatan
peta detil wilayah Indonesia, terutama untuk
pendataan pulau-pulau terluar, bangunan-
bangunan penanda batas wilayah terluar,
pendataan instalasi bawah permukaan pada
daerah-daerah terluar, dan pemetaan batas
landas kontinen, dengan memasukkan
anggaran pembiayaannya dalam APBN
2007;
• Mendukung penambahan anggaran yang
memadai untuk LAPAN guna mempercepat
realisasi program prioritas LAPAN dalam
pengembangan teknologi antariksa,
terutama teknologi peluncuran roket dan
satelit, yang diperuntukkan bagi tugas
penyediaan peta dasar nasional.

Pada aspek pengawasan, Komisi VII
menekankan sejumlah hal yang sangat
mendasar kepada Kemeneg Ristek serta LPND
Ristek, yaitu koordinasi pelaksanaan kegiatan
antardepartemen dan LPND, dan diseminasi
hasil penelitian kepada masyarakat, Pemda,
dan kalangan industri. Berikut adalah sikap
Komisi VII dalam berbagai permasalahan di
sektor ristek sepanjang Periode 2004-2009:
• Meminta Kemeneg Ristek agar RAPBN Tahun
2006 diarahkan pada program-program
prioritas untuk meningkatkan kemampuan
serta kemandirian bangsa dalam bidang
teknologi yang sangat dibutuhkan untuk
pangan, energi, informasi dan komunikasi,
transportasi, pertahanan, kesehatan, dan
penumbuhan serta pemanfaatan aspek
keunggulan lokal di daerah;
• Meminta Kemeneg Ristek untuk
meningkatkan pengawasan penggunaan
anggaran dan mengkaji perlunya unit
pengawasan internal. Untuk Kemeneg
Ristek diminta meningkatkan koordinasi
dan konsolidasi program baik antara
LPND maupun internal lembaga sehingga

meminimalkan tumpang-tindih program
• Mendesak Kemeneg Ristek untuk
mengintensifkan riset energi alternatif
seperti biodiesel dan gasohol, serta
membuat terobosan teknologi agar dapat
bersaing dengan harga BBM;
• Meminta Meneg Ristek untuk meningkatkan
kontribusi ristek dalam memberikan solusi
terhadap berbagai tantangan bidang
pertahanan dan keamanan maupun
stabilitas sosial politik, khususnya
berkenaan dengan pengamanan batas-
batas negara serta penanganan konfik dan
gejolak sosial yang mengancam keutuhan
bangsa dan negara;
• Meminta

BATAN

mempercepat
pemanfaatan energi nuklir untuk reaktor
energi dan melakukan berbagai studi
yang komprehensif untuk pemanfaatan
uranium alam Indonesia dan studi limbah
nuklir, serta mempersiapkan SDM yang
berkompeten untuk operasional dan
sosialisasi Pusat Listrik Tenaga Nuklir.

Penyerapan Aspirasi

Selain raker dengan mitra kerja, Komisi VII
mengadakan sejumlah kunjungan kerja dan
kunjungan lapangan ke sejumlah provinsi,
kunjungan kerja teknis ke luar negeri, dan
audiensi dengan masyarakat di sepanjang
Periode 2004-2009.

Kunjungan kerja dan kunjungan lapangan
yang dilakukan Komisi VII, antara lain ke:
• Kalimantan Timur, Jambi, dan Sumatera
Utara untuk pembahasan Rancangan
Undang-Undang

tentang

Ratifkasi
Perjanjian ASEAN mengenai Transboundary
Haze Pollutants
;
• Bali dan Batam untuk pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang
Pengelolaan Sampah;
• Riau untuk meninjau dampak lingkungan
akibat pembalakan liar;
• Sidoarjo untuk meninjau perkembangan
penanganan dampak semburan lumpur
panas di Porong, Sidoarjo;

KOMISI-KOMISI

70

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Cikarang dan Bekasi untuk meninjau lokasi
pembuangan limbah B3 milik PT Dong Woo
di sekitar wilayah permukiman penduduk.

Kunjungan kerja teknis luar negeri yang
dilakukan antara lain ke:
• Jerman dan Cina, dalam rangka
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Pengelolaan Sampah;
• Jepang dan Norwegia, dalam rangka
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Energi;
• Amerika Serikat dan Kanada, dalam rangka
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Ketenagalistrikan;
• Brazil dan Chili, dalam rangka pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara;
• Jerman, dalam rangka memenuhi undangan
Parlemen Jerman untuk bersidang
bersama guna membahas kerja sama
bidang pendidikan dan riset, khususnya
terkait kerja sama Indonesia-Jerman pada
program Tsunami Early Warning System
dan Teknologi Satelit Mikro;
• Russia, dalam rangka mempererat kerja
sama antarparlemen untuk mendukung
rencana kerja sama pengembangan sumber
daya energi baru dan terbarukan, teknologi
antariksa, dan energi nuklir untuk tujuan
perdamaian.

Komisi VII mengadakan audiensi dan menerima
aspirasi dari berbagai kalangan, antara lain
yang meliputi permasalahan di bidang:
• Kuota, distribusi, dan harga BBM, menerima
antara lain:
- Koalisi Penyelamat Bangsa tentang
penolakan harga BBM;
- DPRD Kabupaten Belitung Timur
tentang penambahan kuota BBM,
khususnya minyak tanah untuk wilayah
pemekaran Kabupaten Belitung Timur;
- DPRD dan Gubernur Provinsi Jambi
tentang permintaan penambahan
kuota BBM dan pembangunan depot
tambahan.

• Energi dan Ketenagalistrikan, menerima
antara lain:
- Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang
menolak rencana PT PLN (Persero) untuk
melakukan unbundling (pemisahan
badan usaha sesuai fungsi usaha);
- Himpunan

Rintihan

Masyarakat
Desa Tanjung, Kabupaten Kampar,
Riau, tentang ganti rugi lahan akibat
pembangunan PLTA Kota Panjang;
- Komisi C DPRD Jawa Timur tentang
Implementasi

Peraturan

Daerah
Pengelolaan Energi Panas Bumi di Jawa
Timur oleh Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD).

• Konfik Pertambangan Migas, menerima
antara lain:
- DPRD Kabupaten Blora, tentang dampak
dan kontribusi kegiatan pertambangan
gas bumi di Kabupaten Blora;
- Forum Koordinasi Penanggulangan
Korban Lumpur dan Gas Karang Desa
Bendo tentang dampak semburan
lumpur Sidoarjo;
- DPRD Bontang tentang implementasi
bagi hasil pertambangan migas dan
mineral antara daerah dan pusat yang
belum terealisasi dengan baik.

• Degradasi Fungsi Lingkungan Hidup,
menerima antara lain:
- Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh
tentang permasalahan konfik lingkungan
antara PT Semen Andalas Indonesia
dengan masyarakat Lhok Nga dan
Leupung, NAD;
- Masyarakat Menolak Limbah Tambang
Sulawesi Utara;
- Yayasan Suara Nurani dan Aliansi
Masyarakat Menolak Limbah Tambang
tentang dampak kegiatan pertambangan
PT Meares Soputan Mining dan PT
Tambang Tondano Nusa Jaya.

KOMISI-KOMISI

71

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

KOMISI-KOMISI

72

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Selama Periode 2004-2009, Komisi VIII berhasil
menuntaskan pembahasan RUU tentang
Kesejahteraan Sosial yang kemudian disahkan
oleh Rapat Paripurna untuk menjadi UU.

8. Komisi VIII

Bidang Sosial, Agama, Pemberdayaan Perempuan, dan
Perlindungan Anak

Dalam membahas anggaran dengan para
mitra kerjanya, Komisi VIII mencermati dan
memperhatikan kecukupan anggaran untuk
pelaksanaan program dari mitra kerja, dengan
tetap menekankan sistem pengawasan yang
intensif. Sedangkan dari sisi pengawasan,
Komisi VIII menyoroti sejumlah program
penyaluran bantuan, penyimpangan dana, dan
masalah seputar kesejahteraan perempuan
dan anak.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Kesejahteraan Sosial

Di bidang legislasi, Komisi VIII
menyelesaikan pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Kesejahteraan
Sosial yang kemudian menjadi Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Kesejahteraan Sosial. Berikut ini adalah
sekilas pembahasannya:

RUU ini merupakan inisiatif Komisi VIII. Rapat
Bamus tanggal 15 Mei 2008 menugaskan
Komisi VIII untuk melanjutkan pembahasan
RUU tersebut dengan Pemerintah. Surat
Presiden No. LG.01/3736/DPR RI/2008
kepada Pimpinan DPR menyampaikan
bahwa Menteri Sosial (Mensos) dan Menkum
HAM ditunjuk menjadi wakil Pemerintah
dalam pembahasan RUU tersebut. Komisi
VIII telah melakukan serangkaian raker
bersama wakil Pemerintah untuk membahas

RUU

Inisiator

Status

Kesejahteraan Sosial

DPR

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang
Kesejahteraan Sosial

Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan
Tengah.

Terdapat tiga masalah aktual terkait
perubahan fundamental sebagai pondasi
dalam pembangunan kesejahteraan sosial di
dalam Rancangan Undang-Undang tentang
Kesejahteraan Sosial, yakni, pertama,
Undang-Undang tentang Kesejahteraan
Sosial merupakan implementasi dan
manifestasi Pasal 34 UUD 1945 yang dibangun
atas konsep dasar welfare pluralism atau
pembangunan kesejahteraan sosial yang
tetap berakar dari nilai-nilai budaya bangsa
yang majemuk; kedua, terjadi perubahan
paradigmatik dalam pelayanan sosial,
antara lain, dari bentuk respons bantuan
sosial menjadi pelayanan yang berdasarkan
manajemen kesejahteraan sosial, pelayanan
charity berubah menjadi pelayanan yang
memberdayakan, membangkitkan, dan
memecahkan masalah kesejahteraan
sosial; dan ketiga, semangat dan roh yang
terkandung dalam Undang-Undang tentang
Kesejahteraan Sosial adalah melakukan
transformasi pendekatan pembangunan
kesejahteraan sosial yang ditandai dengan
menguatnya pendekatan penyelenggaraan
kesejahteraan sosial yang berbasis hak-hak
manusia. Akhirnya, Rapat Paripurna DPR
pada bulan Februari 2009 mengesahkan

RUU, RDP dengan sejumlah lembaga yang
peduli dan bekerja di bidang kesejahteraan
sosial, dan uji publik ke delapan provinsi,
yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan,

Anggota Komisi VIII

yang membidangi

masalah sosial dalam

sebuah kunjungan

lapangan sedang

meninjau bengkel kerja

pembuatan kaki palsu

untuk penyandang

cacat, Juli 2007

KOMISI-KOMISI

73

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Rancangan Undang-Undang tentang
kesejahteraan Sosial untuk menjadi
Undang-Undang.

Dalam membahas masalah anggaran, Komisi
VIII mencermati apakah besaran anggaran
yang diajukan oleh mitra kerja sungguh-
sungguh mencukupi untuk menjalankan
program masing-masing. Sekali lagi, tekanan
ada pada pemberdayaan masyarakat yang
tidak saja berdiam di daerah tertinggal, namun
juga mereka yang tertinggal dan dipinggirkan
masyarakat, termasuk orang lanjut usia (lansia)
dan korban penyalahgunaan narkotika.

Berikut adalah pendapat Komisi VIII:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005, Komisi
VIII berpendapat bahwa kenaikan pagu
sementara Depsos Tahun Anggaran 2006
terlalu rendah, hanya naik 0,69 persen
menjadi Rp 2,03 triliun dibanding alokasi
anggaran tahun 2005 sebesar Rp 2,02
triliun. Untuk itu Komisi VIII mengusulkan
agar Depsos membangun opini dengan
menampilkan potret permasalahan sosial
yang aktual secara luas;
• Pada saat yang sama, Komisi VIII juga
menganggap Depsos perlu menyusun
program bagi pemberdayaan masyarakat
di daerah-daerah terpencil dan perbatasan
negara dengan dukungan kriteria

tingkat keberhasilan. Peningkatan aspek
kesejahteraan di daerah terpencil dan
wilayah perbatasan diharapkan dapat
menjadi perekat dalam menjaga persatuan,
kesatuan, dan keutuhan negara;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 Komisi VIII
menyetujui dan menerima penjelasan
tentang penggunaan alokasi anggaran
Depsos Tahun Anggaran 2007 secara
kumulatif sebesar Rp 2, 38 triliun;
• Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) agar
dipertimbangkan dalam bentuk voucher
serta peningkatan program Asuransi
Kesejahteraan Sosial (ASKESSOS) ;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 Depsos
didorong terus meningkatkan daya serap
Anggaran Tahun 2007 dengan tetap
berpedoman pada peraturan penggunaan
Anggaran Negara;
• Sependapat dengan Depsos bahwa kebijakan
Pemerintah atas penghematan anggaran
Depsos sebesar 15 persen dan keharusan
Depsos mengeluarkan Dana Reintegrasi
Aceh (DRA) sebesar Rp 450 miliar akan
membebani Depsos. Oleh karena itu Komisi
VIII mendukung agar Depsos dikecualikan
dari penghematan sebesar 15 persen
itu, dan agar DRA Tahap I dialokasikan
melalui DIPA Depsos Tahun 2008 sebesar
Rp 250 miliar. Komisi VIII mengusulkan

KOMISI-KOMISI

74

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

agar DRA selanjutnya dibebankan secara
sektoral kepada kementerian terkait
untuk mengurangi beban Depsos yang
anggarannya sangat minim;
• Memandang perlunya perhatian khusus
terkait kecenderungan meningkatnya
persoalan sosial, antara lain penyalahgunaan
narkotika, psikotropika, dan zat adiktif
lainnya (NAPZA), meningkatnya penduduk
lansia dan penyandang ketunaan;
• Mengharapkan Depsos agar dalam RKA-
K/L tahun 2007 memberikan rincian
alokasi anggaran untuk tiap program,
dan menyusun kegiatan dengan prioritas
program sebagai berikut:
- Program

Pemberdayaan

Fakir
Miskin, Komunitas Adat Terpencil dan
Penyandang Masalah Kesejahteraan
Sosial (PMKS) lainnya;
- Program Bantuan dan Jaminan
Kesejahteraan Sosial;
- Program penguatan kelembagaan
pengarusutamaan gender dan anak.
• Dalam Program Tahun Sidang 2008-2009,
memberikan perhatian serius atas kebijakan
Pemerintah tentang Kebutuhan Anggaran
BLT bagi rumah tangga sasaran (RTS), yang
terdiri dari Rumah Tangga Sangat Miskin,
Rumah Tangga Miskin, Rumah Tangga
Hampir Miskin, yang berjumlah 19,1 juta
RTS. Namun demikian, tetap mencermati
dan

memperhatikan

rekomendasi
Menkeu sebagaimana tertuang dalam
surat Nomor S-396-MK.02/2008 tentang
perlunya pelaksanaan program BLT
mengikutsertakan kementerian/lembaga
teknis untuk pengelolaan dana BLT sebesar
Rp 14,1 triliun.

Pengawasan penyaluran bantuan kepada yang
membutuhkan, termasuk bentuk bantuan
tersebut, misalnya BLT, mendapat sorotan dari
Komisi VIII dalam pelaksanaan pengawasan.
Berikut adalah posisi Komisi VIII dalam
sejumlah rapat dengan para mitra kerjanya:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendorong
Mensos untuk meningkatkan pengawasan

dalam memberi bantuan bagi korban bencana
alam agar tepat waktu dan sasaran;
• Setelah memperhatikan ekses yang
timbul sebagai akibat pemberian BLT
pada masyarakat miskin, pada Tahun
Sidang 2005-2006, Komisi VIII mendorong
Pemerintah mengubah strategi pemberian
BLT dengan mengalihkan anggaran
sekurang-kurangnya Rp 2 triliun ke program
dana bergulir dalam bentuk bantuan kredit
mikro untuk membiayai pemberdayaan
ekonomi keluarga miskin;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 meminta
Depsos untuk terus-menerus berkoordinasi
dengan sektor terkait untuk mengurangi
dampak sosial yang ditimbulkan berbagai
persoalan pembangunan, antara lain
pengangguran, bencana, dan kemiskinan;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta
Depsos melanjutkan pelibatan dunia usaha
untuk pengembangan komunitas melalui
program corporate social responsibility
(CSR);
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 menemukan
bahwa pelaksaan program dan kegiatan
yang didanai APBN di beberapa daerah
masih mengalami beberapa kendala, baik
kendala teknis pelaksanaan program dan
anggaran maupun prosedur pelaporannya;
• Perlunya meningkatkan pembangunan
kesejahteraan sosial didukung adanya
database

penganggulangan

PMKS,
potensi sumber kesejahteraan sosial, dan
peningkatan kerja sama dengan mitra kerja,
LSM serta organisasi sosial di masyarakat.

Agama

Dari sisi legislasi, selama Periode 2004-2009
Komisi VIII membahas Rancangan Undang-
Undang tentang Jaminan Produk Halal, yang
merupakan inisiatif Pemerintah. Hingga saat
penulisan buku laporan ini, RUU tersebut masih
dibahas dalam Panja, namun tetap diharapkan
dapat disahkan menjadi UU pada tahun 2009.
Substansi dan masalah yang dibicarakan dalam
RUU tersebut antara lain:
• Kelembagaan penjaminan produk halal

Komisi VIII sedang

melakukan kunjungan

kerja terkait dengan

urusan penyediaan

fasilitas bagi jamaah

haji Indonesia di Arab

Saudi, Januari 2007

KOMISI-KOMISI

75

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

berbentuk struktural Depag atau Badan
Layanan Umum;
• Pembagian kewenangan antara Pemerintah
dan MUI, mengingat MUI melalui LPPOK
MUI sudah menangani sertifkasi halal sejak
tahun 1989;
• Jaminan produk halal wajib atau tidak wajib;
• Pembiayaan sertifkasi halal harus dapat
ditekan menjadi lebih murah.

Komisi VIII juga membahas Rancangan
Undang-Undang tentang Pengelolaan Zakat
sebagai amandemen atas Undang-Undang
Nomor 38 Tahun 1999. RUU ini merupakan
usul inisiatif DPR, dan telah dimasukkan dalam
Prolegnas tahun 2008. Hingga akhir Juni 2009,
RUU tersebut belum disinkronisasikan.

Di sisi anggaran, Komisi VIII antara lain:
• Memberi apresiasi pada Tahun Sidang 2004-
2005 atas meningkatnya anggaran fungsi
pendidikan sebesar Rp 4,2 triliun atau 62,79
persen dari keseluruhan anggaran Depag
sebesar Rp 6,69 triliun, dan mengharapkan
anggaran tersebut akan meningkatkan
lembaga pendidikan keagamaan, khususnya
dalam rangka pencapaian target pendidikan
dasar sembilan tahun pada tahun 2009;
namun menilai rasio anggaran pendidikan
tersebut masih belum sesuai harapan,
khususnya rendahnya Unit Cost Madrasah

di lingkungan Depag dibandingkan Unit Cost
Sekolah Umum di lingkungan Depdiknas;
• Mengenai program dan anggaran Dirjen
Pendidikan Islam Tahun Anggaran 2007
dengan program sementara Rp 3,71 triliun
di luar gaji guru atau naik sebesar Rp 643
miliar dibanding Tahun Anggaran 2006,
Komisi VIII pada Tahun Sidang 2006-2007
memandang anggaran tersebut belum
memadai bila dibandingkan dengan
kebutuhan riil pendidikan Islam, dan masih
belum sesuai dengan keputusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 062/PUU-III/2006 tanggal
22 Maret 2006 yang menegaskan bahwa
anggaran pendidikan sekurang-kurangnya
20 persen dari APBN/APBD;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, disepakati
bahwa pemberian tunjangan fungsional
bagi guru non-PNS sebesar Rp 200.000
untuk 501.831 orang guru mulai tahun
2007 dan seterusnya hendaknya dibayarkan
secara langsung melalui rekening guru
yang bersangkutan. Selanjutnya Komisi VIII
sepakat untuk memasukkan kekurangan
anggaran tunjangan fungsional guru non-
PNS sebesar Rp 322,286 miliar untuk
diperjuangkan dalam APBN-P Tahun 2008;
• Memberi saran pada Tahun Sidang 2008-
2009 untuk penyempurnaan RKA-K/L
Depag Tahun 2009, sebagai berikut:
- Depag perlu melakukan optimalisasi

KOMISI-KOMISI

76

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

pendidikan agama dan keagamaan baik
dari segi kualitas maupun kuantitas;
- Mengingat proporsi fungsi pendidikan
dibandingkan keseluruhan anggaran
Depag, Depag didorong untuk lebih
cermat dalam menyusun RKA-K/L
fungsi pendidikan, khususnya dengan
memperhatikan penambahan alokasi
anggaran pendidikan bagi lembaga
pendidikan swasta, termasuk anggaran
kesejahteraan guru.

Dari sisi pengawasan, Komisi VIII menyoroti
berbagai hal terkait pembangunan bidang
pendidikan dan penyelenggaraan ibadah haji.
Dalam melakukan tugas pengawasan tersebut,
Komisi VIII mengadakan raker dengan Menteri
Agama (Menag), RDP dengan jajaran Eselon I
Depag, kunjungan kerja ke seluruh provinsi di
Indonesia yang dilaksanakan setiap akhir masa
persidangan, dan RDPU dengan masyarakat
dan/atau pemangku kepentingan. Berikut ini
adalah pengawasan oleh Komisi VIII terhadap
mitra kerjanya:
• Dalam pengawasan lintas Eselon I pada
Tahun Sidang 2004-2005, Depag didesak
melakukan pengawasan terhadap Dana
Abadi Umat (DAU), biaya pendidikan agama,
penyelenggaraan haji;
• Pada tahun sidang yang sama, disepakati
bahwa Surat Keputusan Bersama (SKB)
Tiga Menteri sangat penting bagi kehidupan
umat beragama di Indonesia, karena itu,
jika memungkinkan, SKB Tiga Menteri
ditingkatkan statusnya menjadi UU agar
memiliki kekuatan hukum lebih tinggi;
• Dalam bidang penyelenggaraan ibadah
haji, masih ditemui pemalsuan paspor haji
sehingga memungkinkan persoalan jemaah
haji yang melanggar aturan dan over stay di
Arab Saudi;
• Dalam rangka pemberantasan korupsi
dan penegakan good governance
dalam pengelolaan keuangan negara di
lingkungan Depag, Komisi VIII menekankan
pentingnya pembaruan dan perbaikan
sistem Pelaporan Keuangan Depag melalui

koordinasi dengan Depkeu agar tidak terjadi
penyimpangan laporan keuangan karena
kesalahan administratif pelaporan;
• Terkait penyelenggaraan ibadah haji, pada
Tahun Sidang 2005-2006 bersama Menag
disepakati untuk mencabut Surat Nomor
Dt.I.IV/1/Hj.02/1738/2000 tertanggal 12 Mei
2006 perihal Baju Seragam Jemaah Haji
Indonesia, dengan alasan surat tersebut
bertentangan dengan Undang-Undang
tentang Persaingan Usaha, karena ternyata
surat tersebut menyebutkan merek tertentu;
• Mengenai pengelolaan DAU yang dipandang
bermasalah karena tidak transparan dan
kurang memenuhi asas akutabilitas publik,
dibentuk Panja DAU yang beranggotakan
15 anggota Komisi VIII dan mewakili
fraksi-fraksi di DPR. Panja DAU bertugas
meneliti dan mengkaji DAU sebagaimana
diamanatkan Undang-Undang Nomor
17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan
Ibadah Haji;
• Atas tragedi kelaparan jemaah haji
di Arafah-Mina (Armina) tahun 1427
H/2006 Masehi, pada Tahun Sidang 2006-
2007 Depag didesak merombak sistem
penyelenggaraan ibadah haji. Dalam
reformasi manajemen penyelenggaraan
ibadah haji, khusus katering di Madinah
dan Armina tidak boleh dimonopoli pihak
tertentu, melainkan harus melalui tender
terbuka;
• Terkait Keputusan Bersama Menteri Agama,
Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri
Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2008
Nomor KEP-033/A/JA/6/2008, dan Nomor
199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan
Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/
atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah
Indonesia dan Warga Masyarakat, Komisi VIII
pada Tahun Sidang 2007-2008 memahami
penjelasan Menag, Jaksa Agung, dan
Mendagri serta mendorong Pemerintah
mengawasi pelaksanaan keputusan
bersama tersebut;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 mendorong
agar kehidupan dan kerukunan antarumat

KOMISI-KOMISI

77

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

beragama memperoleh perhatian serius
dari Pemerintah, sehingga tercipta
kehidupan yang kondusif bagi umat
beragama dalam rangka mendukung
pembangunan nasional;
• Mengenai penyelenggaraan ibadah haji,
Komisi VIII menjadi leading sector dalam
pembahasan Hak Angket DPR tentang Kasus
Kelaparan Haji di Armina tahun 1427 H/2006
Masehi, dan Pemondokan dan Transportasi
bagi Jemaah Haji di Mekkah yang
pemondokannya jauh dari Masjidil Haram.

Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak

Komisi VIII tidak membahas RUU yang khusus
untuk bidang ini di sepanjang Periode 2004-
2009. Dari sisi anggaran, selain memberi
rekomendasi tentang perlunya dana alokasi
khusus untuk pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak, Komisi VIII juga mencermati
besaran RAPBN dari mitra kerjanya, yang tidak
sebanding dengan tugas dan tanggung jawab
mitra tersebut. Berikut adalah posisi Komisi
VIII terkait dengan anggaran:
• Pada

Tahun

Sidang

2005-2006
merekomendasikan Kementerian Negara
Pemberdayaan Perempuan (Kemeneg PP)
agar melakukan langkah-langkah khusus
sehingga APBN 2007 mendapatkan Dana
Alokasi Khusus (DAK) untuk pemberdayaan
perempuan dan perlindungan anak
bagi setiap kabupaten/kota dan proses
pembangunan pemberdayaan perempuan
serta anak dapat dipercepat;
• Memandang RAPBN Tahun 2008 untuk
Kemeneg PP belum sebanding dengan
tugas dan tanggung jawab kementerian
tersebut. Untuk itu Pemerintah bersama
Panggar perlu mengupayakan peningkatan
alokasi anggaran KPP tahun 2008;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 memberi
apresiasi atas penjelasan Meneg PP tentang
rincian pagu indikatif dan RKA-K/L Tahun
2008 dan RAPBN Tahun 2008 sebesar Rp
204,62 miilar dan agar anggaran Kemeneg

PP yang berasal dari hibah luar negeri,
yakni Korea International Cooperation
Agency (KOICA) sebesar Rp 37,14 miliar
yang belum jelas realisasinya, dapat diganti
mata uang rupiah;
• Pada tahun sidang yang sama, Komisi VIII
menerima penjelasan Meneg PP atas hasil
perubahan Rencana Kerja dan Anggaran
Tahun 2008 yang disesuaikan dengan
pemotongan 10 persen atas pagu anggaran
Kemeneg PP Tahun 2008, dengan formulasi
pemotongan anggaran sebesar Rp 20,48
miliar dari total anggaran Kemeneg PP,
tidak termasuk alokasi anggaran sebesar
Rp 10,02 miliar untuk KPAI;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 memahami
penjelasan Sekretaris Menteri Negara
(Sesmeneg) PP tentang Rincian Pagu
Sementara dan RKA-K/L Kemeneg PP
Tahun 2009 sebesar Rp 121,74 miliar,
sekaligus menyatakan akan mengupayakan
penambahan anggaran sesuai usulan
Kemeneg PP sebesar Rp 212,2 miliar.

Kesejahteraan perempuan dan anak, termasuk
permasalahan tenaga kerja wanita (TKW),
pekerja seks komersial (PSK), dan anak jalanan
merupakan salah satu fokus Komisi VIII dalam
melaksanakan tugas pengawasannya yang
dilakukan melalui beberapa hal berikut:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendesak
Kemeneg PP agar segera merumuskan
problem anak Indonesia dengan paradigma
baru yang menempatkan anak sebagai
subyek. Selain itu juga mengharapkan
penanganan masalah PSK dan anak jalanan
secara serius;
• Pada tahun sidang yang sama, KPAI didesak
segera menyusun mekanisme kerja
penelaahan, pemantauan, pengawasan,
evaluasi, mekanisme pengaduan, dan
sistem

informasi

penyelenggaraan

perlindungan anak;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006, KPP diminta
berkoordinasi dengan Depnakertrans
dalam rangka menangani TKW bermasalah
di Arab Saudi dan negara-negara lainnya;

KOMISI-KOMISI

78

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Pada tahun sidang berikutnya, Kemeneg
PP diharapkan lebih memprioritaskan
implementasi Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT)
dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007
tentang Pemberantasan Tindak Pindana
Perdagangan Orang (PTPPO);
• Pada Tahun Sidang 2007-2008, Meneg
PP diminta meningkatkan pengawasan
internal dan melakukan tertib administrasi
serta tertib pengelolaan terhadap aset
milik negara dan mencegah terjadinya
penyimpangan;
• Dalam rangka meningkatkan kinerja
Kemeneg PP, pada tahun sidang yang
sama, Kemeneg PP diminta merumuskan
kebijakan yang mampu mendorong
percepatan pemberdayaan perempuan,
kesejahteraan, dan perlindungan anak;
• Pada Tahun Sidang 2008-2009 Kemeneg PP
didorong memprioritaskan anggaran yang
ada untuk menangani berbagai persoalan
pembangunan pemberdayaan perempuan
dan kesejahteraan serta perlindungan
anak yang telah teridentifkasi pada tahun
2008, antara lain: (a) masih rendahnya
kualitas hidup dan peran perempuan
dibandingkan laki-laki; (b) masih tingginya
tindak kekerasan terhadap perempuan
dan anak; (c) masih rendahnya peran
perempuan dalam proses politik dan
jabatan politik; (e) masih banyaknya hukum
dan peraturan perundang-undangan
yang bias gender, diskriminatif terhadap
perempuan dan belum peduli anak; dan (f)
masih lemahnya kelembagaan dan jaringan
pengarusutamaan gender dan anak,
termasuk partisipasi masyarakat;
• Di bidang perlindungan anak, pada tahun
sidang yang sama, Komisi VIII turut merasa
prihatin dengan pembentukan KPAI yang
tidak sesuai tugas pokok dan fungsi KPAI;
oleh karena itu Komisi VIII mendorong
terbentuknya perwakilan KPAI di daerah-
daerah sesuai Keputusan Presiden
(Keppres). Pengawasan terhadap hal ini

akan dilanjutkan hingga Periode 2009-
2014.

Penyerapan Aspirasi

Selain raker dengan mitra kerja, Komisi VIII
mengadakan sejumlah RDPU dengan berbagai
lembaga swasta maupun perseorangan,
menerima pengaduan dari kelompok maupun
perseorangan, serta melakukan kunjungan
kerja ke berbagai provinsi dan ke luar negeri
di sepanjang Periode 2004-2009. RDPU antara
lain dilakukan dengan Komnas Perempuan,
KPAI, Forum Komunikasi Masyarakat Katholik,
dan Konferensi Wali Gereja Indonesia dengan
agenda Pembahasan mengenai Relasi
dan Intervensi Negara terhadap Agama
dan Kebebasan Berkeyakinan serta Hidup
Beragama; Yayasan Putri Indonesia dan Miss
Club Indonesia untuk membahas kontroversi
pengiriman Putri Indonesia ke ajang Miss
Universe.

Audiensi antara lain dilakukan dengan: Forum
Komunikasi Kristiani Indonesia; Masyarakat/
Warga Anti Gusuran Paksa di daerah
Tanjung Priok, Jakarta Utara mengenai
penggusuran rumah untuk dijadikan lintasan
kereta api; Guru Sukarelawan Depag yang
mengharapkan guru bantu didanai APBN/
APBD dan tenaga kontrak dapat diangkat
sebagai calon PNS; Delegasi PT Rumah Sakit
Haji Jakarta tentang manajemen Rumah
Sakit Haji yang memiliki dua kepemimpinan,
yaitu Depag dan Gubernur DKI.

Sedangkan kunjungan kerja teknis luar negeri
antara lain dilakukan ke Arab Saudi untuk
mengawasi pelaksanaan kesepakatan antara
Pemerintah dan DPR menyangkut pengelolaan
haji; Selandia Baru dalam rangka mencari
model penanganan kesejahteraan sosial,
pemberdayaan perempuan, dan perlindungan
anak; serta Maroko untuk mencari masukan
berkaitan kebijakan kehidupan beragama,
mekanisme sertifkasi produk halal dan
penanggulangan kemiskinan/sosial.

KOMISI-KOMISI

79

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Di bidang legislasi, Komisi IX menuntaskan
pembahasan dua RUU yang kemudian
disahkan dalam Rapat Paripurna DPR untuk
menjadi UU.

9. Komisi IX

Bidang Kesehatan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Kependudukan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan

Dari sisi anggaran, selain membahas anggaran
tahunan untuk para mitra kerja, Komisi
IX senantiasa mendorong mitranya untuk
mengoptimalkan penggunaan anggaran,
sekaligus meminta penundaan efsiensi
anggaran.

Dalam hal pengawasan, Komisi IX antara lain
menaruh perhatian terhadap beredarnya obat
kadaluwarsa, dan mendorong adanya jaminan
kesehatan bagi masyarakat miskin. Masalah
lain yang mendapat perhatian Komisi IX adalah
penanggulangan pengangguran, pengiriman
tenaga kerja ke luar negeri, transmigrasi, dan
ledakan penduduk.

Kesehatan

Komisi IX menyerahkan RUU tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Hingga
penulisan buku laporan ini, pembahasan
RUU inisiatif DPR tersebut sudah sampai

RUU

Inisiator

Status

Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2005
tentang Penangguhan Mulai Berlakunya
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004
tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial Menjadi Undang-
Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 2 tahun 2005
tentang Penetapan Perpu Nomor 1
Tahun 2005 tentang Penangguhan Mulai
Berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2004 tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial Menjadi Undang-
Undang

Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 1997 tentang
Ketransmigrasian

Pemerintah

Undang-Undang tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997
tentang Ketransmigrasian

pada tingkat Tim Sinkronisasi (Timsin) dan
direncanakan disahkan pada September 2009.
Sementara RUU lain yang masih dibahas adalah

Rancangan Undang-Undang tentang Rumah
Sakit yang merupakan usulan Pemerintah.

Di sisi anggaran, optimalisasi anggaran
merupakan keprihatinan Komisi IX. Selain itu,
keberpihakan kepada kaum ekonomi lemah
dalam bentuk penyediaan asuransi merupakan
salah satu poin penting yang ditekankan Komisi
IX. Berikut adalah sikap Komisi IX:
• Di bidang kesehatan, meningkatkan
anggaran Depkes dari Rp 15 triliun pada
Tahun Anggaran 2005 menjadi Rp 21
triliun pada Tahun Anggaran 2009, dengan
senantiasa mendorong mitra kerja untuk
penggunaan anggaran yang berlandaskan
pada keberpihakan terhadap masyarakat
miskin/kurang mampu;
• Pada Tahun Anggaran 2005-2006,
mendukung sepenuhnya alokasi anggaran
dari hasil optimalisasi APBN Tahun 2006
untuk Depkes sebesar Rp 1,7 triliun untuk
mendukung promosi kesehatan, lingkungan

80

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

sehat, UKM, Usaha Kesehatan Perorangan
(UKP), pencegahan dan bantuan proyek
perbaikan gizi dan sumber daya kesehatan;
• Mulai Tahun Anggaran 2007-2009 berupaya
menyediakan anggaran Tugas Pembantuan
(TP) bagi rumah sakit umum daerah (RSUD)
dalam rangka pelayanan kesehatan bagi
pasien rawat inap kelas III dan pengadaan
alat kesehatan;
• Mendesak Depkes untuk meningkatkan
anggaran Asuransi Kesehatan Masyarakat
Miskin (Askeskin) tahun 2008 mengingat
kekurangan tahun sebelumnya senilai Rp
1,17 triliun;
• Di bidang pengawasan obat dan makanan
(POM), sikap Pemerintah yang belum
memberi perhatian signifkan terhadap
anggaran BPOM disesalkan Komisi IX.
Hingga tahun 2009, anggaran BPOM baru
mencapai Rp 600 miliar.

Di sisi pengawasan, beberapa masalah yang
mendapat perhatian adalah peredaran obat
kadaluwarsa, harga obat yang terjangkau dan
jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Hal tersebut dapat dilihat dari sikap Komisi IX
sebagai berikut:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendukung
komitmen Depkes untuk menciptakan
clean government dan menghargai upaya
Depkes menurunkan harga obat generik
serta mendorong rumah sakit Pemerintah
untuk menggunakan obat generik minimal
50 persen;
• Pada tahun sidang yang sama, Depkes
diminta melakukan crash program
penerimaan calon PNS untuk memenuhi
kebutuhan PNS medis dan paramedis di
Provinsi NAD dan Sumatera Utara;
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 Depkes
didesak menindaklanjuti hasil pertemuan
lintas sektoral tentang beredarnya jamu
kimia karena membahayakan kesehatan
masyarakat;
• Pada tahun sidang yang sama, BPOM diminta
meningkatkan pengawasan terhadap
makanan dan minuman kadaluwarsa, baik

dari dalam maupun luar negeri;
• Pada Tahun Sidang 2007-2008 membentuk
Panja Askeskin yang merekomendasikan
agar Depkes bertanggung jawab
atas pelaksanaan jaminan kesehatan
masyarakat miskin. Oleh karena itu Depkes
harus memperhatikan kesehatan keuangan
pemberi pelayanan kesehatan (provider)
agar tetap dapat melayani peserta yang
membawa kartu kepesertaan dan Surat
Keterangan Tanda Miskin (SKTM).

Kependudukan, Tenaga Kerja
dan Transmigrasi

Komisi IX membahas Rancangan Undang-
Undang tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang
Perkembangan

Kependudukan

dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera. RUU
tersebut merupakan usul inisiatif Komisi IX,
yang diberi nama Rancangan Undang-Undang
tentang Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga. Sekarang, pembahasan RUU ini
berada di tingkat Pansus.

Dari sisi anggaran, Komisi IX meningkatkan
anggaran BKKBN yang pada Tahun Anggaran
2009 berhasil mencapai Rp 1,2 triliun dari
Rp 689,8 miliar pada Tahun Anggaran 2006.
Berikut ini adalah upaya Komisi IX di bidang
anggaran:
• Kependudukan:
- Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendukung
sepenuhnya alokasi anggaran dari hasil
optimalisasi APBN Tahun 2006 untuk
BKKBN senilai Rp 51 miliar
- Pada tahun sidang berikutnya
mendukung Rancangan Usulan Program
dan Pagu Anggaran BKKBN Tahun 2007
senilai Rp 1,086 triliun dengan tidak
menutup kemungkinan untuk melakukan
penyempurnaan program dan perubahan
alokasi anggaran dari hasil optimalisasi
- Mengesahkan RKA-K/L dan “Satuan 3”
Tahun 2007 BKKBN senilai Rp 77,661
miliar

KOMISI-KOMISI

Komisi IX mengamati

perahu karet untuk

menunjang kegiatan

petugas kesehatan,

April 2007.

81

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

- Mengharapkan adanya penundaan
efsiensi anggaran BKKBN yang akan
memangkas Pagu Anggaran Tahun 2008
senilai Rp 1,6 triliun.
• Tenaga Kerja dan Transmigrasi:
- Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendukung
usulan

Depnakertrans

mengenai
Anggaran Belanja Tahun 2005 sebesar
Rp 387,521 miliar dan Rancangan APBN
2005 senilai Rp 1,882 triliun;
- Pada tahun sidang berikutnya, Komisi
IX mendukung sepenuhnya alokasi
anggaran dari hasil optimalisasi APBN
Tahun 2006 untuk Depnakertrans senilai
Rp 215,478 miliar;
- Mendukung Rancangan Usulan Program
dan Anggaran Depnakertrans Tahun 2008
sebesar Rp 8,632 triliun untuk memenuhi
sasaran dalam Renstra 2005-2009;
- Pada Tahun Sidang 2007-2008 meminta
Panggar DPR agar memperhatikan usulan
Depnakertrans mengenai pergeseran
dana antar program APBN-P 2008 senilai
Rp 60 miliar untuk mengembangkan
konsep kota terpadu mandiri.

Masalah lain yang menjadi menjadi fokus
pelaksanaan fungsi pengawasan komisi ini
adalah: program pengendalian pertumbuhan
penduduk, pemberantasan kemiskinan, dan
perlindungan terhadap TKI. Berikut ini adalah

upaya Komisi IX terkait masalah-masalah
tersebut selama Periode 2004-2009:
• Kependudukan
- Pada

Tahun

Sidang

2004-

2005, BKKBN

diharap

terus
mengupayakan efektiftas penggunaan
berbagai metode kontrasepsi;
- Terkait bencana tsunami, pada tahun
sidang yang sama, Kepala BKKBN
didesak untuk memberi perhatian khusus
terhadap karyawan dan keluarganya yang
menjadi korban gempa dan tsunami di
NAD dan Nias;
- Pada Tahun 2006 mendukung BKKBN
memperjuangkan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) tentang Urusan
Pemerintah Pusat, Provinsi, dan
Kabupaten/Kota serta RPP tentang
Organisasi Pemerintah Daerah untuk
segera disahkan dan menjadi acuan
dalam pembentukan kelembagaan
Keluarga Berencana (KB) di daerah
berupa organisasi yang berbentuk Dinas.
• Tenaga Kerja dan Transmigrasi
- Peningkatan pengawasan TKI di luar
negeri dengan melakukan kunjungan
kerja teknis luar negeri ke negara-
negara tempat TKI bekerja;
- Penanganan TKI yang bermasalah di luar
negeri;
- Penertiban terminal kedatangan dan

KOMISI-KOMISI

Komisi IX meninjau

pasien di RSUD

Tangerang, 2008

82

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

pemberangkatan TKI di Bandara
Soekarno Hatta;
- Revitalisasi Balai Latihan Kerja di seluruh
daerah di Indonesia;
- Mengupayakan keharmonisan antara
Depnakertrans dan Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia (BNP2TKI);
- Penyelesaian masalah pemutusan
hubungan kerja (PHK) di BUMN dan
swasta, antara lain PT Great River, PT
Dirgantara Indonesia, PT Timah, PT
Damri, dan PT Texmaco;
- Mengingat masih banyaknya perusahaan
yang

tidak

mengikutsertakan
karyawannya dalam program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek),
Depnakertrans didesak untuk memberi
teguran terhadap perusahaan tersebut.

Penyerapan Aspirasi

Untuk mendapat masukan tentang berbagai
permasalahan yang menjadi bidang kerjanya,
Komisi IX melakukan sejumlah kunjungan
lapangan di sepanjang Periode 2004-2009,
antara lain ke PT Wastra Indah, Kota Batu,
Malang, Jawa Timur dan ke PT Texmaco
Group di Kabupaten Karawang, Jawa Barat
untuk menindaklanjuti pengaduan tentang

penyelesaian pesangon karyawan dalam PHK
massal; ke Pasar Obat Pramuka dan Unit Cuci
Darah Yayasan Ginjal Diatrans di Rumah Sakit
Pusat TNI- Angkatan Udara (AU) Halim Perdana
Kusuma, Jakarta Timur, untuk melihat secara
langsung peredaran obat murah dan apotik
rakyat, serta lokasi perebutan unit pencucian
darah antara Yayasan Ginjal Diatran dan pihak
RSP TNI-AU; ke PT Great River Cibinong, Bogor
guna melihat secara langsung dan berdialog
dengan para pekerja yang belum mendapatkan
hak dan gaji mereka; juga ke Lokasi Gempa di
Bengkulu; ke PT Kimia Farma di Pulo Gadung,
Jakarta, dan PT Kalbe Farma di Cibitung;
Terminal II dan IV Bandara Sukarno-Hatta,
Cengkareng, Banten; serta Ruang Tahanan
Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya.

Adapun kunjungan luar negeri antara lain
dilakukan ke Hong Kong dan Korea Selatan
dalam rangka kunjungan kerja teknis ke
negara-negara tempat TKI bekerja; ke Kuba dan
Yordania; serta ke Mesir dan Cina dalam rangka
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera.

KOMISI-KOMISI

RUU

Inisiator

Status

Sistem Keolahragaan
Nasional

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem
Keolahragaan Nasional

Guru dan Dosen

DPR

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Perpustakaan

DPR

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

Badan Hukum
Pendidikan (BHP)

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum
Pendidikan

Kepariwisataan

DPR

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

Bendera, Bahasa,
Lambang Negara, dan
Lagu Kebangsaan

DPR

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera,
Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan

Perflman

DPR

Undang-Undang tentang Perflman

83

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

10. Komisi X

Bidang Pendidikan Nasional, Pemuda dan Olah Raga,
Pariwisata, dan Perpustakaan Nasional

Di bidang legislasi, selama Periode 2004-2009,
Komisi X menyelesaikan pembahasan tujuh RUU
yang kemudian disahkan dalam Rapat Paripurna
DPR untuk menjadi UU. Berikut adalah daftar RUU
yang ditangani Komisi X dan sudah disahkan.

Hingga laporan ini disusun sedang dibahas
Rancangan

Undang-Undang

tentang
Kepemudaan dan Rancangan Undang-Undang
tentang Perflman. Sedangkan yang sudah
diselesaikan draftnya adalah Rancangan Undang-
Undang tentang Kebudayaan dan Rancangan
Undang-Undang tentang Pendidikan Kedokteran.
Rancangan Undang-Undang tentang Gerakan
Pramuka, yang merupakan usul DPR, sedang
disusun komisi.

Dari sisi anggaran, terjadinya bencana alam
yang merusak sejumlah gedung sekolah dan
pelaksanaan program wajib belajar mendapat
perhatian Komisi X di samping penekanan pada
transparansi dan efsiensi sistem pembelanjaan
anggaran.

Dari sisi pengawasan, keberpihakan kepada
kalangan yang kurang mampu merupakan
benang merah yang mewarnai sebagian besar

Pendidikan Nasional, Pemuda
dan Olah Raga

Dalam bidang ini, Komisi X menyelesaikan empat
RUU yang kemudian disahkan menjadi UU, yaitu
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Sistem Keolahragaan Nasional, Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang
Perpustakaan, dan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan.
Berikut adalah sekilas tentang pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang BHP:

• RUU Tentang Badan Hukum Pendidikan

RUU ini merupakan salah satu RUU usulan
Pemerintah yang mulai dibahas di Komisi
X pada Tahun Sidang 2006-2007. Meski
termasuk salah satu RUU yang mendapat
sorotan masyarakat, proses pembahasan
berlangsung cukup cepat, sehingga pada
Tahun Sidang 2007-2008, pembahasan RUU ini

kegiatan pengawasan oleh Komisi X, baik dalam
bidang pendidikan maupun pembangunan
kepariwisataan.

KOMISI-KOMISI

Kunjungan kerja

Komisi X yang

membidangi

pendidikan

mengunjungi sebuah

Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) di

Polewali Sulawesi

Barat, Desember 2007

84

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

sudah sampai pada tingkat Timus dan Timsin.
Proses pembahasan Rancangan Undang-
Undang tentang Badan Hukum Pendidikan
melibatkan uji publik dan penyerapan aspirasi
para pemangku kepentingan di bidang
pendidikan.

Proses pengesahan RUU ini hampir tertunda
setelah Komisi X menolak usulan Menteri
Pendidikan Nasional (Mendiknas) dalam
salah satu raker pada bulan Desember
2008. Usulan yang ditolak adalah usulan
perubahan pasal mengenai tata kelola BHP.
Meski demikian, Sidang Paripurna pada
17 Desember 2008 akhirnya menyetujui
disahkannya Rancangan Undang-Undang
tentang Badan Hukum Pendidikan menjadi
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang
Badan Hukum Pendidikan.

Di sisi anggaran, rasionalitas perhitungan
besaran anggaran dan mendesaknya rehabilitasi
gedung sekolah pascagempa serta pelaksanaan
program wajib belajar pendidikan dasar sembilan
tahun tanpa dipungut biaya mendapat perhatian
besar Komisi X. Selain itu, masalah kebocoran
dan penyalahgunaan anggaran juga mendapat
perhatian khusus.

Berikut adalah sikap Komisi X:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 sepakat
mengirimkan surat melalui Pimpinan DPR
kepada Presiden guna meminta ketegasan
sikap dalam merealisasikan alokasi anggaran
pendidikan tahun 2006 minimal 12 persen dari
Anggaran Belanja Pusat senilai Rp 375 triliun

(Rp 45 triliun), sesuai kesepakatan DPR dan
Pemerintah. Dalam kesepakatan tersebut,
Pemerintah menyetujui untuk secara
bertahap mencapai anggaran pendidikan 20
persen dari APBN;
• Terkait dengan disepakatinya dana block
grant
langsung ke Pemerintah Provinsi dan
kabupaten/kota, pada tahun sidang yang
sama Komisi X mendesak Pemerintah untuk
segera menuntaskan rehabilitasi gedung
sekolah pascagempa di DI Yogyakarta dan
Jawa Tengah;
• Meminta Inspektur Jenderal (Irjen) Depdiknas
untuk menyesuaikan kembali rasionalitas
perhitungan anggaran yang mencerminkan
prinsip rasional, efsien, dan efektif;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 mendesak
Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah (Mandikdasmen) untuk
memprioritaskan program/kegiatan wajib
belajar pendidikan dasar sembilan tahun
tanpa dipungut biaya;
• Dalam pembahasan RKA-K/L Tahun Anggaran
2008, meminta Inspektorat Jenderal (Itjen)
Depdiknas untuk memperhatikan hal-hal
berikut:
- Mencegah kebocoran di lingkungan
Depdiknas;
- Memulai pengawasan pada saat
perencanaan;
- Mengaudit seluruh Perguruan Tinggi
Negeri berstatus Badan Hukum Milik
Negara (BHMN).
• Terkait penyalahgunaan dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS), meminta
Pemerintah untuk memberi sanksi bagi

KOMISI-KOMISI

85

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

pelaku; pelaku telah dijatuhi sanksi baik
pidana maupun administratif di beberapa
daerah;
• Mempertanyakan

fokus

kegiatan
Kemenegpora karena banyak program
prioritas tetapi jumlah anggaran kecil;
• Mengingat alokasi Rancangan APBN 2007
untuk Kemenegpora masih kurang, Komisi
X meminta agar program sinergi dengan
Depdiknas lebih konkret di bidang pemuda,
pelajar, dan pengembangan atlet;
• Alokasi anggaran untuk BOS di Depdiknas 50
persen dari total anggaran.

Dalam melaksanakan pengawasan, keberpihakan
kepada pelajar/mahasiswa dari kalangan kurang
mampu dan beasiswa untuk atlet berprestasi
merupakan hal yang menonjol. Sementara itu,
efsiensi dan transparansi penggunaan anggaran
tetap menjadi fokus pengawasan. Berikut adalah
posisi Komisi X dalam berbagai permasalahan
terkait dengan pendidikan, pemuda, dan
olahraga:
• Pada Tahun Sidang 2004-2005 mendesak
Pemerintah untuk menetapkan Kurikulum
2004 agar buku teks yang digunakan sebagai
acuan tidak berubah-ubah dan memberatkan
orang tua murid;
• Pada tahun sidang berikutnya, Tim Pengawas
menemukan adanya program dan kegiatan
yang belum mencerminkan prinsip efsiensi
dan efektivitas, serta target pencapaian yang
tidak realistis;
• Berpendapat bahwa Program Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) belum sepenuhnya
dirasakan oleh masyarakat luas, terutama
mereka yang keadaan sosial ekonominya
masih kurang;
• Meminta Pemerintah agar seluruh
penerimaan PT BHMN dan non-PT BHMN
dikelola menggunakan azas subsidi silang
melalui Sumbangan Pelaksanaan Pendidikan
(SPP) mahasiswa untuk membantu
mahasiswa yang kurang mampu. Oleh karena
itu Tim Pengawas Komisi X memandang perlu
melakukan investigasi terhadap seluruh
penerimaan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)

dalam pembiayaan pendidikan;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 menyetujui
inisiatif Menteri Negara Pemuda dan Olah
Raga (Menegpora) untuk membentuk Tim
Monitoring guna memantau anggaran
yang dialokasikan untuk Komite Olahraga
Nasional Indonesia (KONI) dan menjamin
akuntabilitasnya;
• Masih pada tahun sidang yang sama,
dalam pembahasan tentang Asian Games
di Doha, Qatar, Menegpora diminta lebih
aktif melakukan sinergi program dengan
Depdiknas, khususnya mengenai pemberian
bea siswa bagi atlet berprestasi untuk studi
ke luar negeri;
• Mendukung upaya Menegpora untuk
mengimplementasikan fungsi olahraga dari
fungsi budaya dan pariwisata menjadi fungsi
pendidikan;
• Mendesak agar Sekretaris Kemenegpora
membuat panduan mengenai standarisasi
harga satuan dalam pengadaan barang dan
jasa;
• Pada

Tahun

Sidang

2007-2008
menginventarisasi sejumlah masalah yang
perlu disikapi ke depan, antara lain:
- Penyelesaian Peraturan Pemerintah
tentang Guru dan Dosen, Tenaga
Kependidikan, serta pendanaan Guru dan
Dosen;
- Keputusan MA yang menetapkan bahwa
gaji guru masuk dalam anggaran
pendidikan;
- Guru bantu, honor, dan tenaga
kependidikan

terkait

dengan
pengangkatan calon pegawai negeri sipil
(CPNS).
• Pada tahun Sidang 2008-2009 kegiatan
pengawasan yang menonjol antara lain
tentang sertifkasi guru dan tunjangan
profesi, Ujian Nasional /Ujian Akhir Sekolah
Berstandar Nasional (UN/UASBN), Teknologi
Informasi

dan

Komunikasi/Jejaring
Pendidikan Nasional (TIK/Jardiknas), block
grant
, pendidikan kedokteran, program wajib
belajar pendidikan dasar 9 tahun, cetak
biru pendidikan non-formal dan informal,

KOMISI-KOMISI

Anggota Komisi X

berdialog dengan

murid sekolah dalam

sebuah kunjungan

kerja terkait

pendidikan, Maret 2009

86

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dan PNBP.

Pariwisata dan Perpustakaan
Nasional

Di bidang legislasi, Komisi X berhasil menuntaskan
pembahasan RUU bidang pariwisata yang
kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Berikut
sekilas mengenai pembahasan RUU ini:

• Rancangan Undang-Undang tentang
Kepariwisataan

Panja Rancangan Undang-Undang tentang
Pariwisata dari Komisi X menyelesaikan
naskah akademik dan draft RUU ini pada
6 Juni 2006. Pembahasan RUU juga
melibatkan uji publik yang dilaksanakan
pada 1-4 Juli 2008. RUU ini merupakan salah
satu RUU yang mendapatkan sorotan publik,
terutama para pelaku di bidang pariwisata.
Dalam pembahasannya, sempat terjadi
perbedaan pendapat antara para anggota
Panja Rancangan Undang-Undang tentang
Kepariwisataan Komisi X dengan jajaran
pimpinan Depbudpar ketika membahas
pasal-pasal yang mengatur Badan Promosi
Pariwisata. Meski demikian, pada 17
Desember 2008, Rapat Paripurna menyetujui
pengesahan Rancangan Undang-Undang
tentang Kepariwisataan menjadi UU.

Di bidang anggaran, sistem pembelanjaan
anggaran dan transparansi dalam proses
penentuan harga menjadi perhatian Komisi X.
Hal itu selalu ditekankan dalam rapat dengan
mitra kerjanya, misalnya pada Tahun Sidang
2006-2007 mendesak Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata (Menbudpar) agar segera menyusun
panduan penetapan harga barang dan jasa
sebagai standar dalam menentukan harga
barang dan jasa masing-masing satuan kerja.
Kebijakan anggaran Depbudpar diarahkan pada
pos profesionalitas antara kebudayaan dan
pariwisata, sehingga anggaran kebudayaan dan
pariwisata berimbang.

Sedangkan dari sisi pengawasan, sikap Komisi X
dapat dilihat dari beberapa hal berikut:
• Pada Tahun Sidang 2005-2006 meminta
Pemerintah mengaitkan program
pengembangan pariwisata dan upaya
pemberantasan kemiskinan. Oleh karena itu
bidang pariwisata harus menjadi bagian dari
pembangunan bidang investasi sosial dan
SDM;
• Pada tahun sidang berikutnya mendesak
Pemerintah untuk lebih memperhatikan
dunia flm yang saat ini sudah mulai
berkembang dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan;
• Menginventarisasi sejumlah masalah di
bidang pariwisata yang perlu disikapi ke
depan, antara lain: pengembangan destinasi
unggulan; target dan realisasi pemasaran
pariwisata; program Visit Indonesia Year
2009, dan destinasi unggulan world heritage
seperti pengembangan Pulau Komodo.

Penyerapan Aspirasi

Komisi X mengadakan sejumlah RDPU
dengan berbagai lembaga swasta maupun
perseorangan serta menerima pengaduan dari
kelompok maupun perseorangan; melakukan
kunjungan kerja ke berbagai provinsi, termasuk
ke Riau dalam rangka Rancangan Undang-
Undang tentang Perflman; Sulawesi Utara,
Bangka Belitung, Papua, Sumatera Barat, dan
Kepulauan Riau dalam rangka kunjungan kerja
dan kunjungan lapangan.

Sementara kunjungan teknis ke luar negeri
dilakukan ke beberapa negara seperti Cina,
Belanda, Korea Selatan, Spanyol, Yunani, dan
Italia.

KOMISI-KOMISI

87

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Di bidang legislasi, Komisi XI menyelesaikan
pembahasan lima RUU yang kemudian
disahkan menjadi UU. Berikut adalah daftar
RUU yang sudah disahkan.

11. Komisi XI

Bidang Perencanaan Pembangunan Nasional dan BPS,
Keuangan, Perbankan, dan Lembaga Keuangan Bukan Bank

Dari sisi anggaran, Komisi XI tetap memberi
perhatian pada transparansi fskal, penyusunan/
penyerapan anggaran, dan akuntabilitas
yang ditekankan pada pembahasan anggaran
dengan para mitra kerjanya. Transparansi
dan akuntabilitas ini pada akhirnya akan
menghasilkan akuntabilitas publik.
Dari sisi pengawasan, pengurangan porsi
utang, pengelolaan kekayaan negara, proses
privatisasi BUMN, pengawasan pelaksanaan
program dan sasaran KUR, pengawasan
perbankan yang merugikan nasabah, dan
kepemilikan tunggal bank menjadi sorotan
Komisi XI dalam sejumlah raker dengan para
mitra kerjanya.

RUU

Inisiator

Status

Surat Berharga Syariah Negara

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Surat Berharga Syariah Negara

Perbankan Syariah

DPR

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah

Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia Menjadi
Undang-Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang
Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor
23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia Menjadi
Undang-Undang

Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun
2008 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang
Lembaga Penjaminan Simpanan

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009 tentang
Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun 2008 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2004 tentang Lembaga Penjaminan
Simpanan

Penetapan Perpu Nomor 5 Tahun 2008
tentang Perubahan Keempat atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan Menjadi Undang-
Undang

Pemerintah

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009
tentang Penetapan Perpu Nomor 5 Tahun
2008 tentang Perubahan Keempat atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Menjadi Undang-Undang

Perencanaan Pembangunan
Nasional dan BPS

Komisi XI tidak membahas RUU yang spesifk

terkait bidang perencanaan pembangunan dan
BPS dalam Periode 2004-2009.

Dari sisi anggaran, Komisi XI berpendapat
bahwa subsidi harga BBM harus dipersiapkan
sungguh-sungguh sehingga bermanfaat bagi
masyarakat penerima subsidi. Selain itu,
Komisi XI juga menyoroti masalah kemiskinan
dan pengangguran dalam Rencana Kerja
Pemerintah (RKP), kesejahteraan pegawai,
pembangunan sistem manajemen kinerja yang
menjamin transparansi dan akuntabilitias.
Berikut ini adalah posisi Komisi XI dalam
sejumlah rapat dengan mitra kerjanya.

KOMISI-KOMISI

Anggota Komisi XI

ketika mengadakan

pertemuan dengan

pejabat perbankan

Indonesia, April 2008

88

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Dalam RDP dengan BPS pada Tahun
Sidang 2005-2006, BPS diminta mendata
seakurat mungkin seluruh rumah tangga
miskin yang berhak menerima kompensasi
subsidi harga BBM;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007 menyetujui
usulan Kemeneg PPN/Bappenas untuk
penambahan anggaran RKA-K/L dalam
penetapan pagu anggaran defnitif tahun
anggaran 2007 sebesar Rp 61,619 miliar
dengan catatan kesejahteraan pegawai
harus ditingkatkan;
• Dalam rapat dengan Kemeneg PPN/
Bappenas yang membahas Pagu Indikatif
Tahun Anggaran 2009, dinyatakan akan
mendalami lebih lanjut usulan penerapan
tunjangan kerja pegawai Bappenas Tahun
2009 dalam upaya penerapan sistem
manajemen kinerja yang menjamin
keadilan, transparansi dan akuntabilitas
serta membangun budaya organisasi yang
berorientasi pada peningkatan kinerja.

Dalam melakukan pengawasan, Komisi XI
memberi perhatian besar pada bencana
tsunami di Propinsi NAD dan Nias, serta
menekankan perlunya penanganan bencana
tersebut oleh suatu badan pelaksana guna
menjamin keberhasilannya. Sementara di
bidang perencanaan pembangunan, diperlukan
strategi utang luar negeri yang bermuara
pada pengurangan jumlah keseluruhan utang
tersebut dengan tetap mendorong pertumbuhan
ekonomi nasional. Selain itu, proses privatisasi

sejumlah BUMN yang diusulkan dirasa perlu
dilanjutkan. Beberapa sikap Komisi XI dalam
rapat-rapat dengan mitra kerjanya adalah
sebagai berikut:
• Dalam rapat mengenai rehabilitasi dan
rekonstruksi wilayah NAD dan Nias dengan
Meneg PPN/Kepala Bappenas pada Tahun
Sidang 2004-2005, Pemerintah diminta
membentuk Badan Pelaksana yang
bertanggung jawab secara keseluruhan
atas keberhasilan pelaksanaan rencana
rehabilitasi dan rekonstruksi kedua wilayah
tersebut. Badan Pelaksana tersebut adalah
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR)
Aceh dan Nias;
• Mengenai strategi utang luar negeri, pada
Tahun Sidang 2005-2006 disepakati dengan
Meneg PPN/Kepala Bappenas bahwa
adanya perubahan kebijakan fskal antara
sebelum krisis moneter dan pascakrisis,
Pemerintah tetap harus berupaya
menurunkan jumlah keseluruhan utang
luar negeri dan memperbaiki struktur
APBN dalam rangka menjaga kebijakan
fskal yang prudent dan sustainable;
• Dalam raker dengan Meneg PPN/Kepala
Bappenas pada Tahun Sidang 2006-
2007, Pemerintah diminta agar kebijakan
ekonomi makro pada tahun 2007 diarahkan
untuk tetap mendorong pertumbuhan
ekonomi agar dapat memecahkan masalah
sosial mendasar terutama pengangguran;
• Dalam raker dengan Menkeu dan Meneg
BUMN pada Tahun Sidang 2007-2008,

KOMISI-KOMISI

89

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Komisi XI dan Pemerintah sepakat pada
akhir tahun 2007 akan melanjutkan proses
privatisasi terhadap perusahaan BUMN
yang pernah diusulkan, antara lain PT
Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia.
Hal ini masih dibahas dalam Tim Privatisasi
DPR yang dipimpin Ketua DPR.

Keuangan, Perbankan, dan
Lembaga Keuangan Bukan Bank

Komisi XI menyelesaikan dua RUU yang
kemudian disahkan pada Rapat Paripurna
untuk menjadi UU. Berikut adalah sekilas
tentang pembahasan RUU tersebut.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Surat Berharga Syariah Negara

Komisi XI telah melakukan serangkaian
raker dengan wakil Pemerintah, yaitu
Menkeu dan Menkum HAM, RDP dengan
Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Dirjen
Peraturan Perundang-Undangan Depkum
HAM, serta Deputi Gubernur BI dalam
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) pada bulan Februari dan Juli 2007.

Pihak pendukung, terutama dari kalangan
perbankan dan Pemerintah, beranggapan
bahwa Undang-Undang tentang Surat
Berharga Syariah Negara sangat
dibutuhkan sebagai instrumen investasi
bagi perbankan dan keuangan syariah.
Selain itu, SBSN sendiri juga dibutuhkan
untuk mendukung APBN. Sementara pihak
penentang beranggapan bahwa Undang-
Undang tentang Surat Berharga Syariah
Negara sangat mengancam keutuhan NKRI
karena didasarkan pada suatu syariah
agama tertentu.

Pada Tanggal 9 April 2008, Rapat Paripurna
DPR mengesahkan Rancangan Undang-
Undang tentang Surat Berharga Syariah
Negara menjadi Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah

Negara meskipun terjadi penolakan oleh
Fraksi PDS yang tidak menginginkan adanya
UU yang didasarkan pada agama tertentu.

• Rancangan Undang-Undang tentang
Perbankan Syariah

Berdasarkan keputusan Bamus tanggal
27 Oktober 2005, Komisi XI ditugaskan
membahas Rancangan Undang-Undang
tentang Perbankan Syariah. Pada Tahun
Sidang 2006-2007, draft RUU yang telah
disempurnakan dikirim kepada Presiden,
yang kemudian menunjuk wakil Pemerintah
dalam pembahasan RUU tersebut,
yakni Menkeu, Menag, dan Menkum
HAM. Untuk mendapatkan masukan
dan materi pembanding tentang praktek
penyelenggaraan perbankan syariah di
negara lain, Panja Perbankan Syariah
Komisi XI melakukan kunjungan kerja ke
Mesir dan Qatar pada 29 April - 4 Mei 2008.
Di Mesir, Komisi XI bertemu United Bank
Mesir; Komisi Agama, Sosial dan Wakaf,
Parlemen Mesir; serta Komisi Fatwa Al-
Azhar. Sedangkan di Qatar, tim bertemu
Al-Safa Islamic Banking Services, Qatar
Islamic Bank (QIB), Al-Watany Al-Islamy
Qatar National Bank (QNB), Sheik Ali
Muhyiddin Al-Qurahalaghi, Central Bank of
Qatar (QCB) dan Majelis Shura Qatar.

Salah satu permasalahan yang menjadi
sumber perdebatan adalah pembentukan
Komite Perbankan Syariah (KPS) yang
diamanatkan Rancangan Undang-Undang
tentang Perbankan Syariah. Dewan Syariah
Nasional (DSN) MUI menentang adanya
pasal yang mengamanatkan pembentukan
KPS dengan pendapat bahwa soal penetapan
fatwa adalah otoritas MUI bukan KPS.

Pada proses pembahasan dalam Panja,
Timus, dan Timsin, FPDS yang menolak
pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Perbankan Syariah tersebut
tetap menugaskan dua anggotanya untuk
terus berada di dalam Panja. Pada 17

KOMISI-KOMISI

90

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Juni 2008, Rapat Paripurna DPR akhirnya
mengesahkan RUU Inisiatif DPR tentang
Perbankan Syariah menjadi Undang-
Undang No. 21 Tahun 2008 meskipun Fraksi
PDS tetap menolaknya.

Hingga buku laporan ini disusun, Komisi XI
masih menyelesaikan pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Jaring Pengaman
Sektor Keuangan (JPSK) dan Rancangan
Undang-Undang tentang Perubahan atas
Perpu Nomor 49 Tahun 1960 tentang Panitia
Urusan Piutang Negara.

Dari sisi anggaran, hal-hal yang memperoleh
perhatian besar dari Komisi XI dalam rapat-
rapat dengan mitra kerjanya adalah good
governance
, transparansi fskal, penyerapan
anggaran, audit kinerja, dan audit investigasi.
Berikut adalah posisi Komisi XI dalam rapat-
rapat tersebut:
• Dalam RDP dengan Sekjen BPK pada
Tahun Sidang 2005-2006, BPK diminta
meningkatkan audit pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan negara
guna meningkatkan transparansi fskal
pada departemen/lembaga baik di tingkat
pusat maupun daerah yang strategis bagi
perekonomian;
• Pada Tahun Sidang 2006-2007, Depkeu
diminta menyusun Laporan Realisasi
Pelaksanaan APBN 2006 dan Realisasi
Pelaksanaan APBN 2007 (sampai bulan
Mei 2007) menurut rincian program dan
kegiatan;
• Dalam membahas anggaran operasional
BI dengan Gubernur BI pada tahun
sidang yang sama, disetujui arah dan
strategi Manajemen SDM BI untuk 2007
yang terfokus pada strategi organisasi
berdasarkan prinsip good governance
didukung oleh knowledge management
(organisasi berbasis pengetahuan);
• Dalam RDP dengan Sekjen BPK pada
Tahun Sidang 2006-2007, dipandang perlu
mengajukan anggaran untuk Audit Kinerja,
di samping Audit Keuangan, dalam rangka

meningkatkan kinerja keuangan negara
di seluruh kementerian/lembaga negara
maupun Pemda dan BUMN serta Anggaran
Audit Investigasi dalam rangka investigasi
lebih lanjut tentang pengelolaan keuangan
negara dengan memperhatikan skala
prioritas;
• Dalam rapat dengan BPKP pada Tahun
Sidang 2006-2007, dipahami usulan BPKP
untuk penambahan anggaran Satuan
Tiga dalam penetapan pagu anggaran
defnitif Tahun Anggaran 2007, yang
akan dipergunakan untuk memfasilitasi
percepatan

terselenggaranya

good
governance
, pelayanan publik dan
pemberantasan KKN di sektor Pemerintah
maupun BUMN.

Komisi XI menganggap perlu pengawasan yang
baik pada kementerian dan lembaga negara,
terutama melalui audit, untuk menekan
tingkat kebocoran dan kerugian negara. Dalam
kebijakan perbankan, perlu adanya kebijakan
yang berpihak kepada UKM. Berikut ini
pendapat Komisi XI dalam rapat-rapat dengan
mitra kerjanya:
• Dalam RDP dengan Sekjen BPK pada
Tahun Sidang 2004-2005, Sekjen BPK
diminta menyusun konsep dan strategi
yang komprehensif dan sistematis dalam
mengungkapkan permasalahan yang
berindikasi tindak pidana korupsi melalui
Audit Investigatif dan Fraud Audit;
• Dalam RDP dengan BPKP pada Tahun
Sidang 2004-2005, terkait masih tingginya
angka kebocoran dan kerugian negara,
BPKP diharapkan lebih meningkatkan
kinerja dan kualitas pengawasan internal
Pemerintah;
• Dalam Raker dengan Menkeu pada
Tahun Sidang 2005-2006, dalam rangka
percepatan pengembalian uang negara
melalui penjualan aset-aset dalam
pengelolaan PT Perusahan Pengelola Aset
(PPA), Menkeu diminta membuat strategi
penjualan yang optimal dalam kurun
waktu yang tepat dan cepat sehingga dapat

KOMISI-KOMISI

Anggota Komisi XI

ketika mengadakan

pertemuan dengan

Perbanas dan kalangan

perbankan, Mei 2006

91

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

memberi dampak sosial dan ekonomi bagi
bangsa;
• Dalam raker dengan Gubernur BI pada
Tahun Sidang 2005-2006, melalui kebijakan
perbankan, BI diminta terus mendorong
keberpihakan perbankan pada UMKM
melalui program-program yang tercakup
dalam Asitektur Perbankan Indonesia
(API);
• Dalam Raker dengan Gubernur BI pada
Tahun Sidang 2006-2007, disepakati
Kebijakan Kepemilikan Tunggal yang
bertujuan mendorong konsolidasi dalam
strategi usaha perbankan, sekaligus
menata aspek persaingan usaha di sektor
perbankan;
• Dalam RDP dengan BPKP pada Tahun
Sidang 2006-2007, BPKP diminta
menyusun draft payung hukum yang dapat
mengoptimalkan fungsi BPKP dalam
rangka melakukan Audit Internal terhadap
instansi-instansi pusat dan daerah serta
BUMN/BUMN Daerah;
• Dalam RDP bersama Menkeu, Meneg
PPN/Kepala Bappenas, Gubernur BI, dan
Kepala BPS pada Tahun Sidang 2007-2008,
Pemerintah dan BI diminta mengambil
langkah-langkah strategis dalam kebijakan
fskal dan moneter untuk mengurangi
dampak negatif kenaikan harga minyak
dunia terhadap APBN-P Tahun 2007.

Penyerapan Aspirasi

Komisi XI melakukan beberapa audiensi di
sepanjang Periode 2004-2009, antara lain:
• Audiensi dengan 10 anggota dan perwakilan
forum nasabah Bank Negara Indonesia
(BNI) Securitas pada Tahun Sidang 2005-
2006 dengan arah pembicaraan mengenai
masalah reksadana tanggal 28 Juni 2006;
• Audiensi dengan Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia
pada Tahun Sidang 2005-2006 yang
menyampaikan aspirasi mengenai masalah
TDL tanggal 17 Februari 2006;
• Audiensi Pokja Keuangan dengan Koalisi
Anti Utang pada Tahun Sidang 2005-2006,
terkait wacana untuk mengembalikan
pinjaman dari International Monetary Fund
(IMF) tanggal 8 Juni 2006;
• Audiensi dengan Gabungan Pengusaha
Penilai Indonesia (GPPI) pada Tahun Sidang
2006-2007 terkait dampak pemberlakuan
Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No.
406/KMK.06/2006 tentang Usaha Jasa
Penilai Berbentuk Perseroan Terbatas;
• Audiensi dengan Tim Indonesia Bangkit
pada Tahun Sidang 2006-2007 dengan
agenda penyampaian hasil analisa Tim
Indonesia Bangkit tentang ”menuntut
kredibilitas dan independensi BPS” tanggal
28 Mei 2007;
• Audiensi dengan DPRD Payakumbuh
tanggal 6 Agustus 2009 mengenai masalah
PP Nomor 37 Tahun 2006 yang diubah
dengan PP Nomor 21 tahun 2007.

Selain itu, Komisi XI juga melakukan kunjungan
kerja teknis luar negeri untuk mendapatkan
masukan terkait bidang kerjanya antara lain
ke Selandia Baru, tanggal 29 April-5 Mei 2007
pada Tahun Sidang 2006-2007; Australia,
tanggal 5-11 Agustus 2007 pada Tahun Sidang
2006-2007; Qatar, Jerman, Spanyol, dan
Amerika Serikat, tanggal 28 April – 4 Mei 2008
pada Tahun Sidang 2008-2009 terkait antara
lain pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan.

KOMISI-KOMISI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

92

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

1. Panitia Anggaran

Panggar DPR bertugas untuk melaksanakan
hak anggaran, yaitu menyusun dan
menetapkan APBN bersama Presiden dengan
memperhatikan pertimbangan DPD.

Susunan keanggotaan Panggar ditetapkan
berdasarkan perimbangan dan pemerataan
jumlah anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan
masa keanggotaan DPR dan pada permulaan
Tahun Sidang. Pimpinan Panggar terdiri dari
Ketua dan empat Wakil Ketua yang masing-
masing bisa berganti setiap tahun sesuai
kebutuhan dan ditetapkan oleh Rapat Panitia.

Adapun tugas utama Panggar adalah
membahas APBN. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, Panggar dapat mengadakan kegiatan
sebagai berikut:
• Pembicaraan

pendahuluan

dengan
Pemerintah dan BI dalam rangka
penyusunan RAPBN;
• Pembahasan realisasi Semester I dan
Prognosis Semester II;
• Pembahasan penyesuaian APBN dengan
perkembangan dan/atau perubahan dalam
rangka penyusunan prakiraan perubahan
APBN Tahun Anggaran yang bersangkutan;
• Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan RUU
tentang APBN-P;
• Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang
Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara.

Untuk melaksanakan tugas tersebut, Panggar
melakukan sejumlah kegiatan, antara lain
raker dengan Presiden yang dapat diwakili
Menteri; RDP dan RDPU, baik atas permintaan
Panggar maupun pihak lain; konsultasi
dengan DPD; kunjungan teknis luar negeri;
membentuk Panja atau Tim; melakukan tugas
atas keputusan Rapat Paripurna DPR dan/atau
Bamus; mengusulkan pada Bamus tentang
hal yang dipandang perlu dimasukkan dalam
acara DPR; menginventarisasi masalah pada

akhir masa keanggotaan DPR, baik yang sudah
maupun yang belum terselesaikan untuk dapat
dipergunakan sebagai bahan oleh Panggar
pada masa keanggotaan berikutnya; menyusun
rancangan anggaran sesuai kebutuhan
dalam rangka melaksanakan tugasnya, yang
selanjutnya disampaikan kepada BURT; serta
membahas hasil pembicaraan pendahuluan
RAPBN yang dibahas oleh komisi-komisi.

Pelaksanaan Tugas

Kegiatan-kegiatan Panggar pada tahun sidang
2004-2005 antara lain:
• Pelaksanaan pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Perhitungan
Anggaran Negara (PAN) Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran
2003, yang melibatkan raker dengan
Menkeu tanggal 18 Januari 2005, dan Rapat
Konsultasi dengan BPK pada 20 Januari
2005 untuk mengetahui hasil pemeriksaan
BPK atas PAN Tahun Anggaran 2003. Pada
saat itu, BPK menemukan perbedaan antara
PAN yang disampaikan Presiden tanggal
9 Juli 2004 dengan PAN yang disampaikan
Dirjen Perbendaharaan Depkeu, sehingga
Panggar menunda pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Perhitungan
Anggaran Negara Anggaran Pendapaan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2003.
Namun, karena BPK tetap tidak dapat
menyatakan pendapat atas PAN Tahun
Anggaran 2003 dan tidak melakukan koreksi
terhadap angka PAN Tahun Anggaran 2003
tersebut, maka Pemerintah meminta DPR
untuk melanjutkan pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Perhitungan
Anggaran Negara Anggaran Pendapaan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2003.
Dalam raker dengan Menkeu pada 11 Mei
2005, Panggar dan Menkeu akhirnya sepakat
untuk menunda pembahasan PAN Tahun
Anggaran 2003 sampai BPK menyelesaikan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu;

F. PANITIA-PANITIA

93

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Pembicaraan

Tingkat

I/Pembahasan

Rancangan

Undang-Undang

tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2004 tentang Anggaran Pendapatan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2005 untuk
menanggapi permintaan Pemerintah kepada
Panggar. Pengajuan Rancangan Undang-
Undang tentang Anggaran Pendapatan
Belanja Negara-Perubahan 2005 ini lebih
cepat dari siklus APBN karena terjadinya
perubahan yang mendasar yang diakibatkan,
antara lain oleh bencana tsunami di Provinsi
NAD dan Pulau Nias, dan perubahan harga
minyak mentah di pasar dunia. Karena
permintaan ini diajukan sebelum Laporan
Semester I dan Prognosa Semester II APBN
2005, maka Panggar dan Pemerintah sepakat
untuk membahas hanya mengenai penyebab
pengajuan RUU tersebut, sedangkan
pembahasan Rancangan Undang-undang
tentang Perubahan Anggaran Pendapatan
Belanja Negara 2005 secara menyeluruh
akan dilakukan setelah penyampaian Laporan
Semester I APBN 2005. Panggar berhasil
menyelesaikan Pembicaraan Tingkat I dan
meneruskannya ke Rapat Paripurna yang
menyetujui Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan Anggaran Pendapatan
Belanja Negara 2005 untuk disahkan menjadi
UU;
• Pembahasan Pembicaraan Pendahuluan
Penyusunan RAPBN 2006 dengan
kesepakatan, antara lain kebijakan perbaikan
pendapatan aparatur negara dalam tahun
2006 melalui kenaikan gaji pokok, dan
mempertahankan pemberian gaji ke-13.
Menyangkut kebijakan subsidi dalam RAPBN
2006 tersebut, Panggar akan membahas lebih
lanjut setelah Pemerintah menyampaikan
Nota Keuangan dan Rancangan APBN 2006
kepada DPR;
• Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2004 tentang Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran
2005, yaitu Perubahan yang cukup signifkan
pada berbagai indikator ekonomi makro yang

berpengaruh pada pokok kebijakan fskal
dan pelaksanaan APBN 2005. Panggar telah
menyelesaikan Pembicaraan Tingkat I, dan
kemudian RUU ini disahkan Rapat Paripurna
menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2005 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang
Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2005.

Kemudian, pada Tahun Sidang 2005-2006,
kegiatan yang menonjol dari Panggar antara
lain:
• Lanjutan Pembahasan Rancangan Undang-
Undang tentang Perhitungan Anggaran
Negara Tahun 2003 yang kemudian diteruskan
dalam Rapat Paripurna 21 Februari 2006, yang
akhirnya menyetujui Rancangan Undang-
Undang tentang Perhitungan Anggaran
Negara Tahun Anggaran 2003 untuk disahkan
menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2006 tentang Perhitungan Anggaran Negara
Tahun Anggaran 2003;
• Pembahasan pembicaraan pendahuluan
penyusunan RAPBN 2007, yang intinya
kebijakan penerimaan dan pengeluaran
yang akan digunakan dalam Rancangan
APBN 2007 adalah sama, dan melanjutkan
kebijakan tahun sebelumnya. Beberapa hal
yang cukup menonjol antara lain:
- Arah kebijakan fskal yang akan diambil
oleh Pemerintah adalah mensinergikan
langkah-langkah konsolidasi fskal untuk
mewujudkan kesinambungan fskal
dengan menstimulasi perekonomian
dan kualitas pertumbuhan ekonomi; dan
penciptaan lapangan pekerjaan serta
penanggulangan kemiskinan. Dalam
hal pengelolaan utang, diupayakan
penurunan beban utang, pembiayaan
yang efsien dan menjaga kredibilitas
pasar modal;
- Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat
diarahkan pada: (i) perbaikan pendapatan
dan kesejahteraan aparatur negara dan
pensiunan; (ii) pemenuhan kewajiban
pembayaran bunga utang; (iii) peningkatan

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

94

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

kualitas pelayanan dan operasional
pemerintahan, serta pemeliharaan aset
negara; (iv) investasi Pemerintah di
bidang infrastruktur untuk mendukung
kegiatan ekonomi nasional; (v) pemberian
subsidi untuk membantu menstabilkan
harga barang dan jasa yang berdampak
luas ke masyarakat; (vi) peningkatan
anggaran pendidikan sejalan dengan
amanat UUD 1945 dan Keputusan MK;
(vii) kesinambungan bantuan langsung
ke masyarakat di bidang pendidikan dan
kesehatan;
- Menyepakati kebijakan perbaikan
pendapatan aparatur negara dan
pensiunan dalam tahun 2006 melalui
tambahan anggaran untuk gaji PNS
baru yang menjadi beban APBN, serta
peningkatan sharing pensiun dari
82,5 persen:17,5 persen menjadi 85,5
persen:14,5 persen;
- Kebijakan belanja barang ditekankan
pada tahun 2007 diarahkan untuk: (i)
mempertahankan fungsi pelayanan
publik setiap instansi Pemerintah; (ii)
meningkatkan efsiensi dan efektiftas
pengadaan barang dan jasa, perjalanan
dinas, dan perbaikan pemeliharaan
aset negara; (iii) mendukung kegiatan
pemerintahan, baik operasional maupun
non-operasional;
- Kebijakan subsidi dalam Rancangan
APBN 2007 menggunakan pola PSO
sebagai pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi dan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik
Negara;
- Mengalokasikan anggaran pendidikan
sebesar 20 persen dari APBN;
- Rasio defsit dalam Rancangan APBN
2007 adalah 0,7 persen - 0,9 persen dari
Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk
menutup defsit tersebut, Pemerintah
akan meningkatkan sumber pembiayaan
yang berasal dari sumber pembiayaan
dalam dan luar negeri.

• Pembahasan Laporan Semester I
Pelaksanaan APBN Tahun 2006 dan Prognosis
Semester II APBN Tahun 2006. Pelaksanaan
APBN Semester I Tahun 2006 sangat
dipengaruhi oleh: (i) perkembangan kondisi
ekonomi makro yang masih menghadapi
tantangan cukup berat, faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia
dalam Semester I tahun 2006; (ii) berbagai
langkah kebijakan di bidang perpajakan dan
PNBP, Belanja Negara, maupun pembiayaan
anggaran, yang telah ditempuh dalam tahun
2005 dan selama periode Januari-Juni 2006;
• Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan Undang-Undang Nomor
13 Tahun 2005 tentang Anggaran Pendapatan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2006 telah
diteruskan dalam Rapat Paripurna tanggal
12 September 2006 untuk dilanjutkan
dalam Pengambilan Keputusan dalam
Rapat Paripurna dan menyetujui RUU untuk
disahkan menjadi Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2005 tentang
Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2006;
• Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Rancangan Anggaran Pendapatan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2007
yang diteruskan dan disetujui dalam Rapat
Paripurna untuk disahkan menjadi Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2006 tentang
Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja
Negara Tahun 2007 pada tanggal 15 November
2006.

Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan
pada Tahun Sidang 2006-2007 antara lain:
• Pembahasan permohonan persetujuan
penggunaan anggaran yang disampaikan
Menkeu kepada DPR, yaitu pengunaan dana
pascabencana yang bersumber dari Bagian
Anggaran 69 yang antara lain untuk dana
pascabencana, serta penggunaan dana
cadangan umum sosial keamanan yang
bersumber dari Bagian Anggaran 62;
• Pembahasan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang

PANITIA-PANITIA

95

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara 2006, yang
kemudian disetujui menjadi Undang-Undang
dalam Rapat Paripurna dan diundangkan
menjadi Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2006 tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2005 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara 2006;
• Pembahasan dan pengesahan dalam Rapat
Paripurna atas Rancangan Undang-Undang
tentang Anggaran Pendapatan Belanja
Negara 2007 menjadi Undang-undang Nomor
18 Tahun 2006 tentang Rancangan Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Tahun 2007
tanggal 15 November 2006;
• Pembahasan dan pengesahan dalam
Rapat Paripurna atas Rancangan Undang-
Undang tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2004 menjadi
Undang-Undang No. 14 Tahun 2006 tentang
Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2004. Hal yang perlu dicatat di
sini adalah bahwa RUU ini merupakan RUU
pertama yang menyajikan laporan keuangan
yang komprehensif walaupun masih belum
sempurna. Laporan ini dinilai sebagai awal
babak baru pengelolaan keuangan negara,
sekaligus menandai kesetaraan dengan
organisasi pemerintahan modern lainnya di
bidang pertanggungjawaban keuangan. Pihak
BPK menghargai keberhasilan Pemerintah
Pusat dalam menyajikan Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) 2004 ini, namun
mengingat masih terdapat berbagai hal
yang masih perlu disempurnakan, BPK
menyatakan ”tidak menyatakan pendapat
atas LKPP Tahun 2004”;
• Pembicaraan

Tingkat

I/Pembahasan

Rancangan

Undang-Undang

tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007.
Hasil raker Panggar dengan Pemerintah
yang diwakili Menkeu dan Gubernur BI pada
tanggal 12 Juli 2007 menyetujui RUU menjadi

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2007;
• Pembentukan empat Panja terkait RKP
Tahun 2008 dan Pembicaraan Pendahuluan
Penyusunan

Rancangan

Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran
2008, yaitu Panja Asumsi Dasar, Pendapatan,
Defsit dan Pembiayaan; Panja RKP 2008
dan Skala Prioritas 2008; Panja Kebijakan
Belanja Pemerintah Pusat; dan Panja
Kebijakan Belanja Daerah. Hasil pembahasan
tersebut dirumuskan dalam kesimpulan
yang diputuskan dalam raker Panggar DPR
dengan Pemerintah yang diwakili Menteri
Negara PPN/Kepala Bappenas, Menkeu,
serta Gubernur BI.

Pada Tahun Sidang 2007-2008, kegiatan-
kegiatan Panggar antara lain:
• Pengajuan Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan Rancangan Undang-
Undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang rutin diajukan setelah
disampaikan Laporan Semester I dan
Prognosa Semester II pelaksanaan APBN
berjalan, pada 2008 ini diajukan lebih awal
oleh Pemerintah. Hal ini dilakukan karena
beberapa faktor, antara lain perkiraan
perlambatan kondisi perekonomian global,
kecenderungan naiknya harga minyak
mentah di pasar dunia, kecenderungan
meningkatnya harga komoditas pangan
dunia, kecenderungan melemahnya nilai
tukar rupiah terhadap dolar AS, perkiraan
penurunan lifting minyak tanah dari APBN,
serta peluncuran Paket Kebijakan Stabilitas
Harga Pangan (PKSH);
• Persetujuan terhadap masalah penggunaan
anggaran yang diajukan Menkeu terkait
penggunaan dana pascabencana, bantuan
operasional Dewan Koperasi Indonesia
(Dekopin) yang bersumber dari Bagian
Anggaran 69, dan penggunaan Dana
Tanggap Darurat Sosial Keamanan yang
bersumber dari Bagian Anggaran 62.

Kegiatan yang dilaksanakan Panggar pada Tahun
Sidang 2008-2009 adalah rapat pembahasan

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

96

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

tahunan tentang APBN, termasuk antara lain:
• Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Tahun 2009 dengan Menkeu dan Gubernur
BI serta persetujuan dalam Rapat Paripurna
untuk pengesahan menjadi Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran
Pendapatan Belanja Negara Tahun 2009
tanggal 19 November 2008;
• Pembicaraan

Tingkat

I/Pembahasan

Rancangan

Undang-Undang

tentang
Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara
Tahun 2006 dengan Menkeu, persetujuan
Rapat Paripurna atas Rancangan Undang-
Undang tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja
Negara Tahun 2006 untuk diundangkan
menjadi Undang-Undang No 8 Tahun
2009 tentang Pertanggungjawaban atas
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belaja
Negara Tahun 2006 tanggal 13 Januari 2009;
• Persetujuan

terhadap

masalah
penggunaan anggaran yang diajukan
Menkeu, yaitu permohonan usulan
penanganan pascabencana tahun 2008
yang dibebankan pada Bagian Anggaran 69
Pos Penanggulangan Bencana;
• Persetujuan usulan rencana penerusan
hibah dari Jepang kepada Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta;
• Pembahasan usulan Pemerintah yang
diwakili Menkeu, Meneg PPN/Kepala
Bappenas, dan Gubernur BI mengenai
upaya mengatasi dampak krisis global
pada perekonomian nasional melalui
Program Stimulus Fiskal APBN Tahun
2009, melakukan perubahan terhadap
beberapa asumsi makro yang sudah tidak
realistis, dan penyesuaian besaran belanja
negara, belanja, defsit dan pembiayaan
dengan tujuan mempertahankan dan/
atau meningkatkan daya beli masyarakat;
mencegah PHK dan meningkatkan
daya tahan dan daya saing usaha, serta
menangani dampak PHK dan mengurangi

tingkat pengangguran;
• Besaran stimulus fskal APBN 2009 adalah
Rp 73,3 triliun, yang terdiri dari Stimulus
Perpajakan dan Kepabeanan sebesar Rp 56,3
triliun yang berasal dari penurunan tarif Pajak
Penghasilan (PPh), kenaikan Pendapatan
Tidak Kena Pajak (PTKP), PPN Ditanggung
Pemerintah, Bea Masuk Ditanggung
Pemerintah, Fasilitas PPh pasal 21 dan
PPh Panas Bumi. Stimulus Belanja Negara
sebesar Rp 17,0 triliun. Dari total stimulus
belanja negara tersebut, terdapat stimulus
belanja infrastruktur sebesar Rp 12,2 triliun.

Kunjungan Kerja Teknis Luar
Negeri

Panggar melakukan kunjungan kerja ke
luar negeri dalam rangka memperoleh
masukan mengenai sistem dan mekanisme
penganggaran, antara lain:
• Kunjungan ke Republik Polandia pada
22-28 April 2007 oleh 13 anggota dengan
kegiatan/pertemuan yang dilakukan antara
lain dengan Duta Besar RI di Warsawa,
Kementerian Keuangan, Public Finance
Committee
, dan National Economic
Committee-Senate
;
• Kunjungan ke Republik Federal Jerman
pada 24-28 April 2007 oleh 13 anggota
dengan kegiatan/pertemuan yang dilakukan
antara lain dengan Kedutaan Besar Republik
Indonesia (KBRI) di Berlin, Komisi Anggaran
(Haushaltausschuss Bundestag), Komisi
Keuangan (Finanzausschus Bundestag),
dan Kementerian Keuangan;
• Kunjungan ke Republik Argentina pada 28
April-4 Mei 2007 oleh 12 anggota dengan
kegiatan/pertemuan yang dilakukan
antara lain dengan KBRI di Buenos
Aires, Majelis Tinggi Komisi Anggaran
dan Keuangan, Majelis Rendah Komisi
Anggaran dan Keuangan, Komisi Pertanian
dan Peternakan Majelis Rendah, dan
peninjauan langsung Sekolah Republik
Indonesia (Sekolah Dasar dan Sekolah
Lanjutan Pertama) di Buenos Aires.

PANITIA-PANITIA

97

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

2. Panitia Khusus

Dalam situasi tertentu ketika satu masalah
memerlukan pembahasan secara khusus, Rapat
Paripurna DPR bisa membentuk Pansus yang
memiliki tugas khusus dan dalam jangka waktu
tertentu pula. Dengan kata lain, keberadaan
Pansus bersifat sementara dan akan berakhir
setelah menyelesaikan tugasnya.

Keanggotaan Pansus berasal dari fraksi-
fraksi yang ditetapkan secara proporsional
oleh Rapat Paripurna dengan jumlah antara
25-50 anggota. Pansus dipimpin satu ketua
dan empat wakil ketua yang dipilih secara
musyawarah untuk mufakat dan proporsional.

Sepanjang Periode 2004-2009, hingga 23 Juni
2009, Pansus DPR sudah menyelesaikan 40
RUU dan menjalankan tugas pengawasan DPR
seperti Angket. Dalam periode tersebut Rapat
Paripurna telah membentuk Pansus untuk
membahas sejumlah RUU dan Pansus Non
RUU untuk pelaksanaan tugas pengawasan
DPR termasuk hak penyelidikan.

Pansus untuk Pembahasan RUU

Selama Periode 2004-2009, sejumlah Pansus
RUU mendapat perhatian besar dari media
dan masyarakat luas. Bahkan ada RUU yang
cenderung kontroversial. Berikut ini beberapa
di antaranya:

• Pansus Rancangan Undang-Undang
tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras dan Etnis

RUU ini sebenarnya diusulkan anggota
DPR Periode 1999-2004 terdorong berbagai
peristiwa, antara lain kerusuhan Mei 1998 dan
bentrokan etnis di beberapa daerah. Rapat
Paripurna DPR tanggal 13 September 2005
pada Tahun Sidang 2005-2006 memutuskan
membentuk Pansus Rancangan Undang-
Undang tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras dan Etnis. Namun, pembahasan RUU ini
sempat terhenti selama setahun di tingkat
Panja karena tidak ada kesepakatan mengenai
bab tentang ketentuan pidana. Pihak yang
menentang berpendapat bahwa RUU tersebut
tumpang-tindih dengan UU yang sudah ada,
yakni Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang
Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan

International Convention on the Elimination of
All Forms of Racial Discrimination
1965, dan
instrumen internasional tentang HAM lainnya
yang telah diratifkasi. Pihak pendukung
menekankan fakta kemajemukan bangsa dan
mempertegas komitmen bangsa Indonesia
untuk menghormati HAM.

Setelah melalui serangkaian pembahasan
oleh Pansus maka Rancangan Undang-
Undang tentang Penghapusan Diskriminasi
Ras dan Etnis akhirnya disahkan oleh Rapat
Paripurna pada 28 Oktober 2008 menjadi
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008.

• Pansus Rancangan Undang-Undang
tentang Anti Pornograf dan Pornoaksi

Rancangan Undang-Undang tentang
Anti Pornograf dan Pornoaksi adalah
salah satu RUU yang cukup kontroversial
di masyarakat. Sebenarnya RUU ini
merupakan peninggalan DPR periode
sebelumnya yang kemudian dimasukkan
menjadi prioritas Prolegnas oleh DPR
Periode 2004-2009. Pada 27 September

Penandatanganan

Rancangan Undang-

Undang tentang

Penghapusan

Diskriminasi Ras dan

Etnis yang merupakan

RUU usul DPR, 2008

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

98

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

2005 terbentuklah Pansus Rancangan
Undang-Undang tentang Anti Pornograf
dan Pornoaksi. Dalam pembahasan RUU,
pihak Pemerintah diwakili Menag, Menkum
HAM, Menkominfo, dan Meneg PP.

Pembahasan di dalam Pansus berlangsung
alot dengan perdebatan antara pihak yang
menentang dan mendukung RUU ini. Di
luar gedung DPR, berbagai demonstrasi
dilakukan kedua pihak. Pihak yang
mendukung menganggap RUU tersebut
sangat dibutuhkan untuk melindungi
bangsa dari dampak pornograf, sedangkan
pihak yang menentang menganggap bahwa
RUU tidak diperlukan karena masalah
pornograf sudah diatur dalam Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran,
dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP). Para penentang justru memandang
bahwa RUU tersebut akan membahayakan
keutuhan dan kemajemukan bangsa.

Beberapa anggota melakukan kunjungan
dalam negeri untuk bertemu dengan Pemda,
tokoh masyarakat, media elektronik, dan
surat kabar untuk mendapatkan masukan.
Kunjungan dilakukan antara lain ke Provinsi
Batam, Bali, dan Papua pada tanggal 3-5
Maret 2007 untuk memberikan informasi
mengenai RUU tersebut atau sosialisasi
pertama, serta Provinsi Kalimantan
Selatan, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta
untuk sosialisasi kedua.

Kunjungan Teknis Luar Negeri dilakukan ke
Turki yang dilaksanakan pada tanggal 12-
18 Maret 2007 untuk bertemu Duta Besar
RI di Istanbul, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Menteri Pariwisata, Majelis
Ulama dan media elektronik. Kunjungan
juga dilakukan ke Amerika Serikat pada 23-
29 Maret 2007 untuk bertemu Kongres AS,
kejaksaan dan pengadilan AS, serta LSM
tentang anak.

Setelah melalui proses pembahasan di
DPR, defnisi pornograf pun mengalami
perumusan ulang begitu juga dengan
sejumlah substansi RUU tersebut, bahkan
nama Rancangan Undang-Undang tentang
Anti Pornograf dan Pornoaksi pun berubah
menjadi Rancangan Undang-Undang
tentang Pornograf sesuai keputusan Rapat
Pansus tanggal 24 Januari 2007.

Pansus Rancangan Undang-Undang tentang
Pornograf akhirnya menyetujui draft RUU
pada 28 Oktober 2008 untuk diteruskan
ke Bamus, yang akan mengagendakan
pengesahannya dalam Rapat Paripurna DPR.
Hanya FPDIP yang mengambil keputusan
keluar ruang sidang (walkout) dalam
pengambilan keputusan di tingkat Pansus
tersebut. Pada 30 Oktober 2008, Rancangan
Undang-Undang tentang Pornograf ini
disahkan menjadi UU, yakni Undang-
Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang
Pornograf. Namun, pengesahan ini masih
diwarnai tindakan walkout oleh dua fraksi,
yakni FPDIP dan FPDS. Bahkan proses uji
materi ke MK telah diajukan oleh sebagian
kelompok masyarakat dan proses uji materi
tersebut masih terus berlangsung.

• Pansus Rancangan Undang-Undang
tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia

Pansus RUU ini dibentuk 28 Juni 2005,
setelah 10 fraksi menyetujui bahwa
Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958
tentang Kewarganegaraan perlu direvisi,
karena UU tersebut sudah lama dibentuk
dan pemberlakuannya hanya ditujukan
untuk kebutuhan saat itu saja. Sejumlah
hal substansial yang mendapat perhatian
besar dari para anggota Pansus selama
pembahasan RUU antara lain:
- Pertanyaan mengenai siapa yang
menjadi warga negara Indonesia sesuai
dengan Undang-Undang Nomor 62
Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan;
- Hak perempuan Indonesia yang menikah

PANITIA-PANITIA

99

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

dengan warga negara asing untuk
mempertahankan kewarganegaraannya.
Bila

dalam

Undang-Undang
Kewarganegaraan yang lama, wanita
Indonesia yang menikah dengan warga
negara asing akan otomatis mengikuti
kewarganegaraan suaminya, maka
dalam Pasal 26 Rancangan Undang-
Undang tentang Kewarganegaraan
yang baru, perempuan Indonesia dapat
mempertahankan kewarganegaraannya
dengan membuat pernyataan;
- Kewarganegaraan ganda terbatas. Bila
sebelumnya anak hasil perkawinan
antara

perempuan

Indonesia
dengan pria asing akan mengikuti
kewarganegaraan ayahnya, maka
dalam Rancangan Undang-Undang
tentang

Kewarganegaraan

yang
baru, anak tersebut akan memiliki
kewarganegaraan ganda sampai
berusia 18 tahun. Setelah itu sang anak
harus menentukan pilihan mengenai
kewarganegaraannya.

Pihak pendukung RUU ini berpendapat bahwa
RUU tersebut merupakan ikhtiar DPR untuk
menghapus praktik-praktik diskriminasi
berdasarkan ras dan gender dalam masalah
kewarganegaraan. Namun ada sejumlah
pihak yang beranggapan bahwa RUU tersebut
seharusnya ditunda karena masih diskriminatif
terhadap perempuan karena perempuan warga

negara Indonesia yang menikah dengan pria
warga negara asing masih dimungkinkan untuk
kehilangan kewarganegaraannya. Walaupun
masih ada pihak-pihak yang menginginkan
penundaan pengesahan RUU, pada 11 Juli 2006
Rapat Paripurna DPR akhirnya menyetujui RUU
ini menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2006 tentang Kewarganegaraan.

• Pansus Rancangan Undang-Undang
tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE)

Rancangan Undang-Undang tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik
merupakan RUU peninggalan DPR periode
sebelumnya. Setelah menerima surat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
tanggal 5 September 2005 yang disertai
naskah Rancangan Undang-Undang
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,
maka DPR membentuk Pansus Rancangan
Undang-Undang tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik. Draft RUU tersebut
berasal dari Depkominfo.

Dalam proses pembahasan, Pansus juga
menampung banyak pendapat dan aspirasi
masyarakat. Pihak pendukung mengatakan,
Rancangan Undang-Undang tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik memberikan
manfaat, menjamin kepastian hukum bagi
masyarakat yang melakukan transaksi
elektronik dan mendorong pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Selain itu, jika diundangkan
RUU ini bisa mencegah terjadinya kejahatan
berbasis teknologi informasi, dan melindungi
masyarakat dan pengguna jasa yang
memanfaatkan teknologi informasi.

Namun, pihak penentang berpendapat bahwa
RUU ini dapat membahayakan kebebasan
berekspresi, berpendapat serta kebebasan
pers. Mereka berpandangan bahwa ada
pasal yang berbahaya bagi kebebasan pers,
yakni Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi “Setiap
orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan

Penandatanganan

Rancangan Undang-

Undang tentang

Informasi dan

Transaksi Elektronik,

2008

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

100

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

dan/atau membuat dapat diaksesnya
informasi dan/atau dokumen yang memiliki
muatan penghinaan dan/atau pencemaran
nama baik...” Pasal ini memuat sanksi yang
cukup berat, yakni maksimal hukuman
penjara selama-lamanya enam tahun atau
denda sebesar-besarnya Rp 1 miliar.

Sejumlah materi yang tercakup dalam
Rancangan Undang-Undang tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik
termasuk relatif baru bagi masyarakat
Indonesia. Materi tersebut mencakup,
antara lain, pornograf, judi online,
kejahatan antarnegara yang memanfaatkan
teknologi informasi sebagai alat, hacking,
dan cyber squating. Selain itu, RUU
tersebut memberikan terobosan penting,
yakni tanda tangan elektronik diakui
memiliki kekuatan hukum yang sama
dengan tanda tangan konvensional, alat
bukti elektronik diakui sebagai alat bukti
lainnya sebagaimana diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP).

Pada 19 Maret 2008, Pansus dalam raker
dengan Menkominfo membawa RUU ini
ke Rapat Paripurna DPR untuk disahkan
menjadi UU. Kemudian, pada Rapat
Paripurna, 25 Maret 2008, DPR secara
aklamasi menyetujui Rancangan Undang-
Undang tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik untuk disahkan menjadi UU,
yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.

• Pansus Rancangan Undang-Undang
tentang Perseroan Terbatas

Rancangan Undang-Undang tentang
Perseroan Terbatas termasuk dalam daftar
Prolegnas 2005-2009 dan diprioritaskan
untuk dibahas dan diundangkan. Draft
RUU ini disiapkan dan diajukan oleh
Pemerintah ke DPR pada 12 Oktober
2005. Alasan Pemerintah antara lain

adalah bahwa Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
sudah tidak mampu lagi mengakomodasi
perkembangan bisnis yang kian pesat.
Rapat Paripurna membentuk Pansus
Rancangan Undang-Undang tentang
Perseroan Terbatas pada tanggal 22
November 2005 setelah menerima surat
dan draft RUU tersebut.

Sejumlah materi yang dibahas oleh
Pansus antara lain tata cara pendirian,
pendaftaran, perubahan anggaran dasar,
mekanisme pengumuman PT dan modal
minimal pendirian PT. Namun, dalam
perkembangannya ada satu pasal, yakni
Pasal 74, yang menciptakan pro dan kontra
di masyarakat yaitu bahwa perseroan yang
menjalankan usahanya di bidang dan/
atau berkaitan dengan sumber daya alam
wajib melaksanakan tanggung jawab
sosial dan lingkungan. Pelanggarnya akan
mendapatkan sanksi. Pansus berpendapat
masuknya pasal mengenai tanggung jawab
sosial dan lingkungan ini diperlukan karena
terjadinya kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh industri pertambangan
di berbagai daerah di Indonesia. Ternyata
dalam proses pembahasan, pasal tersebut
disetujui oleh Pemerintah. Namun, pihak
yang menentang masuknya Pasal 74
tersebut berpendapat bahwa isi pasal
tersebut bertentangan dengan konsep
tentang tanggung jawab sosial perusahaan
yang sebenarnya.

Pansus juga melakukan kunjungan kerja
teknis luar negeri ke dua negara yaitu
Republik Rakyat Cina (13-18 Mei 2007) dan
Thailand (8-13 Mei 2007) untuk mengetahui,
mempelajari, mendapatkan data dan
informasi, serta memperoleh penjelasan
secara langsung mengenai pengaturan
PT dan penegakan aturan serta mencari
masukan-masukan yang berkaitan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan.

PANITIA-PANITIA

101

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Setelah melalui sejumlah raker dan
RDP dengan berbagai pihak, Pansus PT
berhasil menghantar Rancangan Undang-
Undang tentang Perseroan Terbatas ke
dalam Rapat Paripurna DPR pada 20 Juli
2007. Dalam Rapat Paripurna tersebut, 10
fraksi sepakat bulat menyetujui RUU untuk
disahkan menjadi UU, yakni Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas.

• Perubahan Ketiga atas Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan;
• Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta
Sebagai Ibukota Negara Kesatuan RI
(Usul DPR);
• Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;
• Perseroan Terbatas;
• Pengesahan Perjanjian Ekstradisi
antara Republik Indonesia dan
Republik Korea (Treaty on Extradition
between The Republic of Indonesia
and The Republic of Korea
);
• Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2007
tentang Penanganan Permasalahan
Hukum Dalam Rangka Pelaksanaan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah
dan Kehidupan Masyarakat Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan
Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera
Utara menjadi Undang-Undang;
• Partai Politik;
• Pengesahan Konvensi ILO no 158
mengenai Konvensi Perubahan
Dokumen Identitas Pelaut, 1958;
• Penggunaan Bahan Kimia dan
Larangan Penggunaan Bahan Kimia
Sebagai Senjata Kimia;
• Pemilu Anggota DPR, DPD, dan
DPRD;
• Informasi dan Transaksi Elektronik;
• Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaran Ibadah Haji Judul
menjadi Penyelenggaraan Ibadah Haji;
• Pengesahan Perjanjian tentang
Bantuan Timbal Balik dalam Masalah
Pidana (Treaty on Mutual Legal
Assistance in Criminal Matters
);
• Pengelolaan Sampah;
• Perubahan Keempat atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan;

Undang-Undang yang Dibahas
Melalui Pansus

• Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun
2005 tentang Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan
Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam dan Kepulauan Nias
Provinsi Sumatera Utara menjadi
Undang-Undang;
• Bantuan Timbal Balik dalam Masalah
Pidana;
• Pemerintahan Aceh;
• Kewarganegaraan Republik Indonesia
(Usul DPR);
• Badan Pemeriksa Keuangan (Usul
DPR);
• Perubahan atas Undang-undang
Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan;
• Dewan Pertimbangan Presiden (Usul
DPR);
• Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional 2005-2025;
• Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang (Usul DPR);
• Penyelenggaraan Pemilu yang
disahkan menjadi Undang-Undang
pada 19 April 2007, yaitu Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang
Penyelenggara Pemilihan Umum (Usul
DPR);
• Penataan Ruang;
• Penanggulangan Bencana (Usul
DPR);

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

102

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

• Kementerian Negara (Usul DPR);
• Pengesahan Piagam Perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara
(ASEAN);
• Wilayah Negara (Usul DPR);
• Penghapusan Diskriminasi Ras dan
Etnis (Usul DPR);
• Pemilu Presiden dan Wakil Presiden;
• Pornograf (Usul DPR);
• Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia;
• Pertambangan Mineral dan Batubara;
• Pengesahan Protokol Mencegah,
Menindak, dan Menghukum
Perdagangan Orang, Terutama
Perempuan dan Anak-anak
Melengkapi Konvensi PBB Menentang
Tindak Pidana Transnasional yang
Terorganisasi;
• Pengesahan Protokol Menentang
Penyelundupan Migran Melalui Darat,
Laut, dan Udara Melengkapi Konvensi
PBB Menentang Tindak Pidana
Transnasional yang Terorganisasi;
• Persetujuan untuk Melaksanakan
Ketentuan-ketentuan dari Konvensi
PBB tentang Hukum Laut Tanggal
10 Desember 1982 yang Berkaitan
dengan Konservasi dan Pengelolaan
Sediaan Ikan yang Beruaya Terbatas
dan Sediaan Ikan yang Beruaya Jauh;
• Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 17 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Rancangan Undang-
Undang tentang Gelar, Tanda Jasa,
dan Tanda Kehormatan;
• MPR, DPR, DPD, DPRD
• Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

• Panitia Angket Tentang Kasus
Penjualan Tanker Milik Pertamina

Kasus ini bergulir pada Tahun Sidang
2004-2005, tepatnya pada 7 Juni 2005.
Sebelumnya, Komisi VIII DPR Periode 1999-
2004 telah menolak penjualan dua tanker
berbobot 260 ribu ton yang dipesan dari
Hyundai Heavy Industries, Korea Selatan,
sebesar US$130,8 juta karena kedua tanker
tersebut telah dijual ke pihak Frontine Ltd,
Swedia, seharga US$184 juta.

Setelah bekerja beberapa waktu, Pansus
Hak Angket menyatakan telah terjadi
ketidakwajaran dalam penjualan kedua
tanker milik Pertamina. Sementara
Pertamina mengaku bahwa kedua tanker
tersebut dijual karena Pertamina sedang
mengalami krisis keuangan, hasil audit
BPK setahun sebelum penjualan tersebut
menyatakan keuangan Pertamina dalam
keadaan sehat. Oleh karena itu Pansus
menyimpulkan telah terjadi indikasi
kerugian negara atas penjualan dua tanker
milik Pertamina tersebut, dan dengan
demikian Pansus memberikan sejumlah
rekomendasi berikut:
- Pemerintah agar mengambil langkah
cepat untuk menyelamatkan aset
negara. Peluang ini masih terbuka
karena masih belum dilakukan
pelunasan atas penjualan dua buah
tanker tersebut. Pemerintah juga perlu

Penandatanganan

RUU tentang

Pemberantasan

Tindak Pidana

Perdagangan Orang

yang merupakan usul

DPR, 2007

PANITIA-PANITIA

Pansus Non Rancangan Undang-
Undang

Selama Periode 2004-2009 DPR membentuk
Pansus Non RUU yang cukup menjadi perhatian
masyarakat antara lain:

103

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

mengawasi dan memastikan bahwa
Pertamina benar-benar melaksanakan
keputusan KPPU yang telah dikuatkan
oleh keputusan MA;
- KPK atau Kejakgung agar segera
mengusut tuntas pihak-pihak yang
diduga terkait kasus penjualan kedua
tanker tersebut;
- Meminta Pimpinan DPR untuk menugaskan
Komisi III DPR supaya mendesak KPK atau
Kejakgung untuk segera menuntaskan
kasus tersebut.

Setelah hampir satu tahun sidang, pada Rapat
Paripurna 16 Januari 2007, DPR menyetujui
rekomendasi Pansus Hak Angket tentang
Penyelidikan Kasus Penjualan Tanker Milik
Pertamina. Namun, setelah melalui proses
pengadilan, hingga ke pengadilan tingkat
banding di MA, dinyatakan bahwa tidak ada
pelanggaran dalam penjualan kedua kapal tanker
tersebut. Akhirnya, Kejakgung pada Februari
2009 menghentikan penyidikan kasus dugaan
korupsi penjualan dua tanker milik Pertamina
yang melibatkan mantan Menteri Negara BUMN
Laksamana Sukardi karena tidak terjadi kerugian
negara dalam kasus tersebut.

• Panitia Angket Tentang Kebijakan
Pemerintah Menaikkan Harga Bahan
Bakar Minyak

Rapat Paripurna pada 1 Juli 2008
membentuk Pansus Hak Angket Kenaikan
Harga BBM setelah dalam Rapat Paripurna
sebelumnya tanggal 24 Juni 2008
terjadi voting dengan hasil 233 anggota
menyatakan setuju atas penggunaan hak
angket, sedangkan 127 lainnya menolak.
Alasan pendukung Pansus Kenaikan Harga
BBM adalah bahwa DPR perlu menyelidiki
kebijakan strategis kenaikan harga BBM
yang diduga bertentangan dengan aturan
perundang-undangan. Sementara pihak
penentang menolak hak angket karena
konsisten dengan sikap partai mereka yang
mendukung kebijakan Pemerintah.

Dalam perjalanannya, upaya membubarkan
Pansus ini terus terjadi. Fraksi pendukung
Pemerintah menganggap keberadaan
Pansus Kenaikan Harga BBM tidak relevan
lagi karena Pemerintah telah menurunkan
harga BBM sebanyak tiga kali. Namun,
fraksi lainnya yang mendukung Pansus
hak angket beranggapan bahwa Pansus
tidak bisa dibubarkan begitu saja di tengah
jalan sebab Pansus belum menyelesaikan
tugasnya. Bahkan mereka menyatakan
bahwa membubarkan Pansus berarti
membubarkan lembaga DPR itu sendiri.
Hingga laporan ini disusun, Pansus masih
melaksanakan tugasnya.

• Pansus Penyelidikan Peristiwa
Penghilangan Orang Secara Paksa
Periode 1997-1998

Pansus disahkan dalam Rapat Paripurna
DPR tanggal 27 Februari 2007 dan telah
melakukan raker dengan Pemerintah, RDP
dengan lembaga yang menangani masalah
HAM, serta RDPU dengan para korban dan
keluarga korban. Pansus telah melaporkan
kegiatannya kepada Presiden melalui
Pimpinan DPR dan meminta tambahan
materi sebagai bahan rekomendasi. Saat
ini Pansus ini terus bekerja dan berupaya
menghadirkan sejumlah pihak seperti
Menkopolhutkam, Kapolri, Kepala BIN,
Jaksa Agung, Panglima TNI, dan Menkum
HAM.

• Panitia Angket tentang Pelanggaran
Hak Konstitusional Warga Negara
untuk Memilih

Rapat Paripurna DPR tanggal 26 Mei 2009
secara resmi menyetujui penggunaan hak
angket untuk menyelidiki hal-hal terkait
pelanggaran hak konstitusional warga
negara untuk memilih, atau yang dikenal
sebagai hak angket DPT. Keputusan
menggunakan hak angket DPT ini diambil
melalui voting, yang diikuti oleh 203
orang dari 550 anggota DPR. Hasilnya,
129 anggota menyatakan setuju, dan 73

PANITIA-PANITIA

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

104

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

menolak. Menindaklanjuti keputusan itu,
dibentuklah Pansus DPT pada 2 Juni 2009
dalam Rapat Paripurna DPR. Hingga saat
penulisan Buku Laporan ini, Pansus DPT
telah mengadakan pertemuan dengan
18 Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)
Kabupaten/Kota dan Provinsi, serta masih
melaksanakan tugasnya.

• Panitia Angket tentang Pelaksanaan
Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun
1429 H/2008 M

Pembentukan Pansus ini terkait buruknya
pelaksanaan ibadah haji tahun 2008,
khususnya mengenai pemondokan yang jauh
dari Masjidil Haram dan sistem transportasi
yang tidak memadai sehingga sangat
merugikan jemaah dalam melaksanakan
ibadah. Dalam perkembangan pembahasan,
Pansus juga menyoroti terjadinya kasus
kelaparan di Arafna pada penyelenggaraan
haji tahun 2006. Hingga laporan ini disusun,
Pansus masih melaksanakan tugasnya.

Kunjungan Kerja Teknis Luar
Negeri

Pansus memerlukan masukan dari berbagai
pihak, termasuk masukan dari parlemen luar
negeri. Dalam kaitan ini, untuk pembahasan
RUU maupun Non RUU, Pansus melakukan
beberapa kunjungan kerja teknis luar
negeri. Sebagai contoh, untuk pembahasan
Rancangan Undang-Undang tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025, selain melakukan rapat
pembahasan, lokakarya ke provinsi atau
universitas, Pansus juga melakukan kunjungan
kerja teknis luar negeri ke Jerman dan India.
Juga dalam Rancangan Undang-Undang tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, Pansus
melakukan kunjungan teknis ke Korea Selatan
dan Spanyol. Untuk pembahasan Rancangan
Undang-Undang tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, Pansus berkunjung ke India.
Sedangkan untuk pembahasan Rancangan

Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah,
Pansus berkunjung ke Republik Rakyat Cina
dan Jerman.

Sedangkan Pansus Non RUU seperti Pansus
hak angket Penyelenggaraan Ibadah Haji
melakukan kunjungan kerja teknis luar negeri
ke Arab Saudi pada 2009 untuk mendapatkan
konfrmasi terkait kasus penyelenggaraan haji.

PANITIA-PANITIA

1. Badan Legislasi

Baleg merupakan AKD yang bersifat tetap.
Keanggotaan Baleg ditetapkan secara
proporsional menurut perimbangan jumlah
fraksi, pada permulaan masa keanggotaan
DPR dan pada permulaan Tahun Sidang. Baleg
berisi 50 anggota. Penetapan susunan dan
keanggotaan Baleg diputuskan dalam Rapat
Paripurna DPR. Pimpinan Baleg terdiri dari
1 pimpinan dan 4 wakil ketua yang ditunjuk
menurut perimbangan jumlah anggota tiap-
tiap fraksi.

Tugas utama Baleg terkait pembentukan
UU yaitu antara lain menyusun Prolegnas
baik lima tahun maupun prioritas tahunan;
menyiapkan RUU inisiatif DPR; melakukan
pengharmonisasian,

pembulatan,

dan
pemantapan konsepsi RUU yang diajukan
anggota, komisi, atau gabungan komisi;
memberikan pertimbangan terhadap RUU yang
diajukan anggota, komisi, dan gabungan komisi
di luar Prolegnas; melakukan pembahasan,
perubahan/penyempurnaan

RUU

yang
secara khusus ditugaskan oleh Bamus; serta
menyebarluaskan RUU yang sedang dibahas
untuk memperoleh masukan dan mengevaluasi
materi RUU melalui koordinasi dengan
komisi; memberi masukan kepada pimpinan
DPR atas RUU usul DPD; serta memberi
pertimbangan terhadap RUU yang sedang
dibahas DPR. Dalam melaksanakan tugas ini,

G. BADAN-BADAN

Baleg senantiasa berkoordinasi dengan komisi
dan AKD lain termasuk dengan DPD yang
menangani legislasi. Termasuk dalam tugas
ini adalah melakukan raker, RDP, dan RDPU
dengan masyarakat, serta membentuk Panja
atau tim.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan Baleg
yang cukup menonjol selama Periode 2004-
2009.

Perubahan Tata Tertib DPR

Pada Periode 2004-2009, Baleg mendapat
tugas dari Dewan melalui Rapat Paripurna DPR
untuk melakukan perubahan tata tertib (tatib)
karena adanya kebutuhan tentang pengaturan
yang belum diatur dalam tatib sebelumnya.
Perubahan tersebut telah diselesaikan pada
tahun 2005. Penugasan tersebut sesuai dengan
prosedur yang diatur dalam tatib. Perubahan
Tatib dapat juga diusulkan oleh sekurang-
kurangnya 13 anggota atau AKD.

Perubahan pada tatib antara lain mengenai
jumlah keanggotaan fraksi yang disesuaikan
menjadi 13 orang; mengenai Pimpinan DPR,
khususnya jumlah Pimpinan DPR yang
disesuaikan dengan Undang-Undang tentang
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan
DPRD (Susduk) sehingga Pimpinan terdiri dari
satu Ketua dan tiga Wakil Ketua; perubahan
terhadap Dewan Kehormatan menjadi Badan
Kehormatan yang juga dijadikan sebagai AKD
yang bersifat tetap; dan pengaturan ketentuan
mengenai RUU yang berasal dari DPD, khususnya
RUU yang terkait dengan otonomi daerah, yang
diatur untuk langsung diserahkan ke AKD yang
ditunjuk untuk membahasnya sehingga tidak ada
proses pengambilan keputusan untuk menerima
atau menolak RUU yang berasal dari DPD;
masalah terkait dengan penetapan APBN hingga
pengaturan mengenai impeachment terhadap
Presiden.

105

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Anggota Badan

Legislasi DPR saat

melakukan sosialisasi

draft RUU tentang

Demokrasi Ekonomi

ke Kalimantan Timur,

Desember 2008

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2004-2005

Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Banten

Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara

Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama Bangka Belitung

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer

Kewarganegaraan

Dewan Penasihat Presiden

Kementerian Negara

Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia

Badan Pemeriksa Keuangan

Mata Uang

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2005-2006

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan

Negara

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial

Tenaga Kerja

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2006-2007

Wilayah Negara

Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2007-2008

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah

Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Mahkamah

Konstitusi

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah

Agung

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial

Pencabutan atas Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan

Kehakiman

Prolegnas

Terkait dengan Prolegnas, Baleg bersama
Pemerintah, dalam hal ini BPHN, menetapkan
sebanyak 284 RUU untuk Prolegnas 2005-
2009. Untuk per tahunnya, Baleg dan
Pemerintah menetapkan sejumlah RUU yang

pembahasannya merupakan prioritas tahunan.

Selain itu, Baleg juga menyiapkan dan
menyelesaikan sejumlah RUU yang menjadi
RUU inisiatif Baleg dan disampaikan pada
Pimpinan DPR, antara lain:

BADAN-BADAN

106

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2007-2008

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah

dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebgaimana telah diubah

dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah

dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2008-2009

Pembangunan Perdesaan

Demokrasi Ekonomi

Harmonisasi RUU

Dalam Periode 2004-2009, Baleg telah
melakukan pengharmonisasian, pembulatan,
dan pemantapan konsepsi sejumlah RUU yang

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2005-2006

Pembentukan Kabupaten Dogiyai di Papua

Pembentukan Kabupaten Puncak di Papua

Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara

Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

Pembentukan Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Angkola Sipirok dan

Kabupaten Batubara di Provinsi Sumatera Utara

Pembentukan Kepulauan Meranti dan Kabupaten Mandau di Provinsi Riau

Pembentukan Kabupaten Memberamo Raya di Provinsi Papua

Pembentukan Kabupaten Buton Utara dan Kabupaten Konawe Utara di Provinsi

Sulawesi Tenggara

Pembentukan Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya di

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pembentukan Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur

diajukan ke Baleg dari berbagai komisi. Berikut
adalah sejumlah RUU tersebut:

BADAN-BADAN

107

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2005-2006

Pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kota Kotamobago,

Kabupaten Kepulauan Sitaro, dan Kabupaten Minahasa Tenggara di Provinsi

Sulawesi Utara

Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara di Provinsi Gorontalo

Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku

Pembentukan Kabupaten Nduga, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Yalimo, dan

Kabupaten Memberamo Tengah di Provinsi Papua

Pembentukan Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya di Provinsi

Kalimantan Barat

Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat

Pembentukan Kabupaten Tana Tidung di Provinsi Kalimantan Timur

Pembentukan Kota Subulussalam dan Kabupaten Pidie Jaya di Provinsi NAD

Pembentukan Kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung

Pembentukan Kota Serang di Provinsi Banten

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2006-2007

Perpustakaan Nasional

Rancangan Undang-Undang tentang Kepariwisataan

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2007-2008

Perposan

Kesejahteraan Sosial

Tahun Sidang

Rancangan Undang-Undang tentang

2008-2009

Perflman

Lingkungan Hidup

Panitia Urusan Piutang Negara

BADAN-BADAN

108

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Kajian Baleg

Selain tugas-tugas pokok yang diatur dalam
tatib, Baleg pada Periode 2004-2009 diberi
tugas melakukan sejumlah kajian terhadap
permasalahan-permasalahan yang dihadapi
Dewan. Kajian-kajian tersebut antara lain:
• Kajian mengenai mekanisme pemberian
pertimbangan terhadap calon Duta Besar
Negara Sahabat untuk Indonesia;
• Kajian terhadap mekanisme pencalonan
anggota BPK berdasarkan Undang-Undang

Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan;
• Kajian terhadap Rancangan Undang-
Undang tentang Susunan dan Kedudukan
MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang diusulkan
DPD;
• Kajian terhadap Rancangan Undang-
Undang tentang Keuangan Mikro yang
diusulkan DPD;
• Kajian terhadap Penggabungan Rancangan
Undang-Undang Narkotika dengan Substansi
Undang-Undang tentang Psikotropika;

BADAN-BADAN

109

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Kajian atas Tindak Lanjut Penanganan
Rancangan Undang-Undang tentang
Pengesahan Asean Agreement on
Transboundary Haze Pollution;

• Kajian terhadap pandangan/pendapat
Presiden mengenai Rancangan Undang-
Undang tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara;
• Kajian terhadap Keputusan DPD Nomor 6/
DPD/2009 mengenai Rancangan Undang-
Undang tentang Lingkungan Hidup yang
diusulkan oleh DPD;
• Kajian terhadap penggunaan lambang/logo
DPR.

Kunjungan Kerja

Baleg melakukan berbagai kunjungan
kerja dalam Periode 2004-2009 untuk
menyebarluaskan RUU yang sedang disiapkan
dan dibahas untuk mengumpulkan data
dan masukan dari masyarakat/pemangku
kepentingan lainnya guna penyempurnaan
RUU yang diajukan ke Baleg oleh anggota DPR,
komisi/gabungan komisi DPR.

Kunjungan dilakukan ke provinsi-provinsi untuk
bertemu dengan Pemda, civitas akademika,
LSM dan berbagai unsur masyarakat lainnya
yang terkait dengan substansi RUU. Selama
Periode 2004-2009, Baleg telah melakukan

sejumlah kunjungan ke provinsi-provinsi dan
kabupaten-kabupaten di Indonesia. Dalam
setiap masa reses, Baleg mengirimkan rata-
rata tiga delegasi yang terdiri dari delapan
orang anggota untuk berkunjung ke tiga daerah
yang berbeda.

Misalnya, pada tahun 2007, Baleg mengadakan
kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara
guna mendapatkan masukan untuk Rancangan
Undang-Undang tentang Perubahan Undang-
Undang tentang Komisi Yudisial. Baleg bertemu
dengan Pemda Provinsi Sumatera Utara, dan
Civitas Akademika Universitas Sumatera Utara,
Universitas HKBP Nommensen, dan Universitas
Islam Sumatera Utara. Masukan yang didapat
untuk Rancangan Undang-Undang tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial dalam
serangkaian pertemuan tersebut antara lain:
• Pengawasan perilaku hakim dibatasi
pada hal-hal yang bersifat non-teknis,
harus berkoordinasi dengan MA dalam
pelaksanaan pengawasan terhadap perilaku
hakim. Kewenangan pengawasan terhadap
hakim bukan berarti kewenangan untuk
menjatuhkan sanksi;
• Pengawasan secara langsung dan tak
langsung terhadap perilaku dan kinerja
hakim secara periodik disertai tindak
lanjut terhadap hakim yang diduga (telah)
melakukan pelanggaran berdasarkan
pengaduan masyarakat;
• Pengawasan hakim oleh KY meliputi
pengawasan terhadap hakim MA dan MK;
• Kode etik perilaku hakim hendaknya dirumuskan
oleh KY setelah mendapatkan masukan baik
dari MA maupun MK.

Selain masukan untuk Rancangan Undang-
Undang Perubahan Undang-Undang Nomor
22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Baleg
juga mendapatkan masukan untuk Rancangan
Undang-Undang Perubahan Kedua Undang-
undang tentang Mahkamah Agung, antara lain:
• Pengawasan terhadap hakim yang
menyangkut teknis penyelenggaraan

Anggota Badan

Legislasi DPR saat

melakukan sosialisasi

RUU tentang

Pembangunan

Perdesaan dengan

civitas akademika

Unidar Ambon, Juli

2008

BADAN-BADAN

110

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

peradilan (tugas yudisial, administratif, dan
keuangan) dilakukan oleh MA.
• Substansi pengawasan eksternal dan
pengawasan internal harus diatur secara
jelas batasannya.
• Syarat calon Hakim Agung dari unsur
non-karir diusulkan sekurang-kurangnya
berusia 45 tahun.

Sedangkan masukan untuk Rancangan
Undang-Undang tentang Perubahan Undang-
Undang tentang Mahkamah Konstitusi, antara
lain:
• KY dapat melakukan pengawasan terhadap
Hakim MK dalam hal yang menyangkut
perilaku;
• Hukum acara dalam MK perlu diatur lebih
terperinci terutama dalam hal pembatasan
kewenangan MK;
• Perlu ada hukum acara tersendiri/terpisah
untuk judicial review, sengketa lembaga,
hasil pemilu dan pembubaran parpol.

Kunjungan Kerja Teknis Luar
Negeri

Selain kunjungan kerja ke provinsi-provinsi di
tanah air, Baleg juga melakukan kunjungan
kerja teknis ke luar negeri dalam rangka
mendapatkan masukan mengenai sistem,
cara kerja badan sejenis di luar negeri, dan
masukan untuk penyusunan RUU.

Kunjungan itu dilakukan antara lain ke
Amerika Serikat, Argentina, Brazil, India,
Rusia, Spanyol, Polandia, Selandia Baru, dan
Yordania dengan tujuan yang relatif bervariasi,
antara lain:
• Melihat proses legislasi;
• Mencari masukan Rancangan Undang-
Undang tentang Wilayah Negara;
Rancangan Undang-Undang tentang Gelar,
Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan; dan
tiga RUU Perubahan di bidang kekuasan
kehakiman (Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi

Yudisial, Rancangan Undang-Undang
tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang MA,
dan Rancangan Undang-undang tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2003 tentang MK);
• Kunjungan Kerja Teknis Luar Negeri
terhadap sistem kekuasaan kehakiman;
• Pelaksanaan dan konsistensi proses legislasi
dengan Konstitusi dan Hukum Islam;
• Pandangan

Yordania

terhadap
perkembangan hukum internasional dan
mekanisme ratifkasi di sana.

Penerimaan Tamu

Selain melakukan berbagai rapat dan
kunjungan kerja dalam dan luar negeri, Baleg
juga menerima sejumlah tamu dari berbagai
daerah dan negara, antara lain DPRD dari
berbagai daerah; parlemen negara-negara
sahabat, misalnya Vietnam dan Amerika
Serikat; LSM/NGO; perguruan tinggi; dan
lembaga internasional lain, misalnya Senior
Centre for International Legal Cooperation
(CILC) dari Belanda dan House Democratic
Assistance Commission
dari Kongres Amerika
Serikat.

Pokok pembicaraan di setiap kunjungan
bervariasi, antara lain tentang Program
Legislasi Daerah (Prolegda), pembentukan
dan mekanisme kerja Panitia Legislasi DPRD,
dan masukan untuk penyusunan Perda;
amandemen Undang-Undang tentang Komisi
Yudisial; penyusunan RUU dengan pendekatan
gender; kerja sama Pendidikan dan Latihan
(Diklat) Penyusunan Peraturan Pengganti
UU di dalam dan luar negeri; dan konsultasi
mengenai Penyusunan Peraturan Tata Tertib,
Pembentukan dan Penyusunan Prolegnas.

BADAN-BADAN

111

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

BKSAP bertugas membina, mengembangkan,
dan meningkatkan hubungan persahabatan
dan kerja sama antara DPR dengan parlemen
negara lain, baik secara bilateral maupun
multilateral, termasuk organisasi internasional
yang menghimpun parlemen-parlemen dan/
atau anggota-anggota parlemen.

Tujuan kegiatan BKSAP adalah terciptanya
saling pengertian antar negara dan
terwujudnya demokrasi yang baik dan kuat di
semua negara. Tanpa demokrasi yang baik dan
kuat, fungsi parlemen tidak akan efektif dan,
dengan demikian, tujuan BKSAP tidak akan
tercapai. Dalam Periode 2004-2009, BKSAP
telah mengukir sejumlah prestasi penting
dalam menjalankan tugasnya atas nama DPR.
Berikut ini adalah sejumlah kegiatan BKSAP
selama Periode 2004-2009.

Pembentukan GKSB

Hingga semester I 2009, BKSAP telah
membentuk 38 Grup Kerja Sama Bilateral
(GKSB). Keberadaan GKSB ini sangat penting
dalam menunjang tujuan keseluruhan BKSAP,
karena GKSB ini menjadi jembatan untuk
mempererat hubungan dengan parlemen
negara-negara sahabat.

Dengan kata lain, pembentukan GKSB
merupakan bagian dari kegiatan BKSAP dalam
rangka meningkatkan hubungan bilateral
antarparlemen dimana anggota DPR secara
aktif menjalin hubungan dengan parlemen
negara-negara sahabat. GKSB DPR dibentuk
untuk merespon pembentukan grup serupa di
negara-negara sahabat.

GKSB memiliki peran penting dalam menjalankan
diplomasi demi kepentingan bangsa karena
hubungan antarnegara saat ini tidak hanya
dilakukan pihak Pemerintah. Dalam konsep
diplomasi total, GKSB berperan melakukan

diplomasi dengan parlemen negara lain. Melalui
jalur parlemen, GKSB juga dapat mendorong
proyek kerja sama ataupun perjanjian kedua
negara agar dapat terealisasi dengan baik.

Pengiriman Delegasi DPR ke Luar
Negeri

Dalam Periode 2004-2009, BKSAP telah
melakukan kegiatan pengiriman delegasi
DPR ke luar negeri baik dalam konteks
kunjungan bilateral (delegasi muhibah dan
teknis bilateral) maupun delegasi teknis
multilateral yakni menghadiri berbagai sidang
regional/internasional, terutama terkait dunia
keparlemenan. Berikut adalah sejumlah
pengiriman delegasi DPR ke luar negeri selama
5 tahun terakhir.

• Delegasi Muhibah

Sepanjang 2005-2009, DPR mengirimkan
Delegasi Muhibah ke Jepang, Thailand,
Polandia, Turki, Cina, Iran, Kamboja,
Malaysia, Brunei Darussalam, Korea
Selatan, Finlandia, Aljazair, Selandia Baru,
Arab Saudi, Mesir, Rumania, Uzbekistan,
Polandia, Portugal, Chili, Brazil, Argentina,
Australia, India, Korea Utara, Rusia, dan
Vietnam.

• Delegasi Teknis Bilateral

Sepanjang 2004-2009, DPR mengirimkan
Delegasi Teknis BKSAP dan GKSB
berkunjung ke Tunisia, Swiss, Amerika
Serikat, Malaysia, Meksiko, Turki, Rumania,
Afrika Selatan, Jerman, Suriah, Chili, Cina,
Korea Utara, Venezuela, Perancis, Rusia,
Italia, Belgia, Inggris, Australia, Selandia
Baru, Hongaria, Arab Saudi, Korea Selatan,
Slowakia, Iran, Serbia, Kuba, Kroasia,
Yunani, Bulgaria, Jepang, India, Portugal,
Bangladesh, Polandia, Kanada, dan
Azerbaijan.

2. Badan Kerja Sama Antar Parlemen

BADAN-BADAN

112

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Delegasi Teknis Multilateral

Sepanjang 2004-2009, delegasi DPR telah
berpartisipasi dalam berbagai sidang atau

Tahun

Acara

2004

Parliamentary Hearing Sidang Majelis Umum PBB ke-59 di New York, Amerika Serikat,

19-20 Oktober 2004

Konferensi Internasional bertema Strengthening Legislature in Response to Globalization

and International Security Issues di Manila, Filipina, 2-3 Desember 2004

The 5th General Assembly of the Association of Asian Parliaments for Peace (AAPP) di

Islamabad, Pakistan, 29 November 2004-3 Desember 2004

2005

The 13th Annual Meeting of the Asia-Pacific Parliamentary Forum (APPF) di Ha Long City,

Vietnam, 9-14 Januari 2005

The 7th Council Parliamentary Union of OIC Member States (PUOICM) di Beirut, Lebanon,

8-9 Februari 2005

The 4th AIPO Fact Finding Committee (AIFOCOM) Meeting to Combat The Drug Menace,

di Luang Prabang, Laos, 9-13 Maret 2005

The 112th Assembly Inter-Parliamentary Union (IPU) di Manila, Filipina, 2-8 April 2005

ASEAN Parliamentarians Seminars on the Spread of Avian Influenza di Bangkok, Thailand,

19-20 April 2005

Pertemuan Group ASEAN + 3 di Tokyo, Jepang, 18-23 April 2005

Global Young Political Leaders Session – 2005 Future Summit di Melbourne, Australia,

5-7 Mei 2005

AIPO Study Committee Meeting on the Possibility of Establishing an ASEAN Parliament di

Chiang Mai, Thailand, 13-16 Mei 2005

Asia Pacific Parliamentary Conference on Renewable Energy di Gifu, Jepang, 4 Juni

2005

AIPO Ad-Hoc Committee Meeting to Study Means to Promote Cultural and Eco-Tourism

in the ASEAN Region di Siem Rap, Kamboja, 13-17 Juli 2005

The 2nd Meeting of AIPO Study Committee on the Possibility of Establishing an ASEAN

Parliament di Bangkok, Thailand 7-10 Agustus 2005

Executive Council Meeting of AAPP di Islamabad, Pakistan, 22-23 Agustus 2005

Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC) Young Parliamentarians Forum

(YPF) di Singapura, 22 – 24 Agustus 2005

Sidang Umum AIPO ke-26 di Vientiane, Laos, 18-23 September 2005

Sidang Umum AAPP ke-6 di Pattaya, Thailand, 19-24 November 2005

Assembly ke-113 IPU di Jenewa, Swiss, 17-19 Oktober 2005

6th Annual Conference of the Parliamentary Network on the World Bank (PnoWB), di

Helsinki, Finlandia (disponsori World Bank), 21-23 Oktober 2005

seminar regional/internasional sebagai
berikut:

BADAN-BADAN

113

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun

Acara

2005

Parliamentary Hearing at the United Nations (UN), di tengah Sidang Umum PBB ke-60 di

New York, Amerika Serikat, 31 Oktober-2 November 2005

Hong Kong Session of the Parliamentary Conference on the World Trade Organization

(WTO), ditengah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO ke-6 di Hong

Kong, Cina, 12-15 Desember 2005

2006

Pertemuan Tahunan ke-14 APPF di Jakarta, 15-20 Januari 2006

The First Meeting of AIPO Ad Hoc Committee on the Transformation of AIPO into a more

Effective and Closely Integrated Institution di Bali, Indonesia, 22-26 Maret 2006

The 12th General Assembly of the Asia-Pacific Parliamentarians’ Conference on

Environment and Development (APPCED) di Whistler, Kanada, 18-21 April 2006

The Fourth Asia-Europe Parliamentary Partnership (ASEP) di Helsinki, Finlandia, 4-5 Mei

2006

AIPO Technical Working Group (TWG) Meeting di Jakarta, Indonesia, 28 Mei-1 Juni 2006

Meeting on Legal Cooperation to Combat Trafficking in Women and Minors di Ho Chi Minh

City, Vietnam, 2-5 Juli 2006

The Second Meeting of AIPO Ad Hoc Committee on the Transformation of AIPO into a more

Effective and Closely Integrated Institution di Jakarta, 26-30 Juli 2006

Regional Seminar on Development Protective Framework for Children: the Rule of

Parliament di Hanoi, Vietnam, 15-17 Februari 2006

Sidang Council ke-8 dan Konferensi ke-4 Parliamentary Union of the OIC Member States

(PUIC) di Istambul, Turki, 10-13 April 2006

Fourth International Conference of Support for Palestine di Teheran, Iran, 14-16 April

2006

Assembly ke-114 IPU di Nairobi, Kenya, 7-12 Mei 2006

Seminar Regional Security Sector Reform in the National and Regional Contexts di

Phuket, Thailand, 1-2 September 2006

The First APPCED Parliamentarians Workshop: Millenium Development Goals and the

International Development Cooperation in Asia-Pacific Region di Seoul, Korea Selatan,

1-4 September 2006

Seminar Law and Justice: The Case for Parliamentary Scrutiny di Jenewa, Swiss, 25-27

September 2006

Assembly ke-115 IPU di Jenewa, Swiss, 16-18 Oktober 2006

Executive Council Meeting and The 7th General Assembly of AAPP di Teheran, Iran, 10-

14 November 2006. Di sini AAPP berubah nama menjadi Asian Parliamentary Assembly

(APA) dan Sidang Umum ke-7 AAPP adalah merupakan Sidang Pertama APA

Annual Session Parliamentary Hearing UN di New York, Amerika Serikat, 13-14 November

2006

Annual Session of Parliamentary Conference on WTO di Jenewa, Swiss, 1-2 Desember

2006

BADAN-BADAN

114

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun

Acara

2007

The 15th APPF di Moscow, Federasi Rusia, 21-26 Januari 2007

The 2007 Parliamentary Hearing at the UN during the 62th Session of the General

Assembly di New York, Amerika Serikat, 15-16 Februari 2007

The 13th General Assembly of APPCED di Islamabad, Pakistan, 26 Februari-3 Maret

2007

The 6th Asia-Europe Young Parliamentarians Meeting (AEYPM 6) di Den Haag, Belanda,

26 Februari-3 Maret 2007

The 5th General Assembly of the International Parliamentarians Association for

Information Technology (IPAIT) di Helsinki, Finlandia, 15-18 Januari 2007

The 9th Session of the Council of the PUOICM di Kuala Lumpur, Malaysia, 15-16 Februari

2007

Assembly ke-116 IPU di Nusa Dua, Bali, Indonesia, 29 April-4 Mei 2007

The Third Conference of the International Union of the Parliamentarians for Defense of

Palestinian Cause di Beirut, Lebanon, 11-12 Juni 2007

Parliamentary Events on the Occasion of the 7th Global Forum on Reinventing Government

di Wina, Austria, 25-29 Juni 2007. Sidang ini menghasilkan Deklarasi “Vienna Declaration”,

mencakup meningkatkan kerja sama dan dialog antara Utara-Selatan dan Selatan-

Selatan

The 3rd Inter-Parliamentary for Social Service (IPSS) General Assembly di Seoul, Korea

Selatan, 22-25 Agustus 2007

Sidang Umum ke-28 ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) di Kuala Lumpur,

Malaysia, 18-24 Agustus 2007

Parliamentary Panel within the Framework of the WTO Public Forum 2007 di Jenewa,

Swiss, 4–5 September 2007

The First Meeting of the Executive Council of the APA di Teheran, Iran, 9-11 September

2007

The 7th Session of the United Nations of the Convention to Combat Desertification

(UNCCD) Forum for Parliamentarians di Madrid, Spanyol, 12-13 September 2007

Assembly ke-117 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Jenewa, Swiss, 8-10 Oktober 2007

Seminar for Members of Parliamentary Committees on Human Rights and other

Committees Addressing Migration Issues di Jenewa, Swiss, 24-26 Oktober 2007

2008

The Second Meeting of the Executive Council of the APA dan the Second Plenary Session

of APA di Teheran, Iran, 17-21 November 2007

Regional Seminar for the Parliament of the Asia Pacific States; Global Capacity – Building

Initiative for Parliament on Sustainable Development di Vientin, Laos, 26-28 November

2007

The 29th Parliamentarians for Global Action (PGA) Annual Forum di Abuja, Nigeria, 12-13

November 2007

BADAN-BADAN

115

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun

Acara

2008

AIPA di Tokyo, Jepang, 14-18 Januari 2008

The 16th APPF di Auckland, Selandia Baru, 19-25 Januari 2008

Konferensi ke-5 dan Sidang Council ke-10 PUOICM di Kairo, Mesir, 27-31 Januari 2008

Parliamentary Meeting on the Occasion of the Vienna Forum to Fight Human Trafficking

di Wina, Austria, 12-15 Februari 2008

Parliamentary Meeting on the Occasion of the 52nd Session of the Commission on the

Status of Women di New York, Amerika Serikat, 27 Februari 2008

The First Meeting of the Asia Pasific Group (APG) Working Group di Ottawa, Kanada, 14

Maret 2008

Second Extraordinary Session of the PUOICM Council di Istambul, Turki, 24 Maret 2008

Konferensi ke-118 IPU di Cape Town, Afrika Selatan, 12-18 April 2008

International Leader Forum atas undangan dari National Democratic Institute (NDI) di

Denver, Colorado, 23-29 Agustus 2008

Annual 2008 Session of the Parliamentary Conference on the WTO, 11–12 September

2008 di Jenewa, Swiss

Meeting of the APG Working Group di Vancouver, Kanada, 20 September 2008

The 119th Assembly of the IPU di Jenewa, Swiss), 13 – 15 Oktober 2008

Seminar HAM yang bertema “The Universal Declaration of Human Rights Sixty Years on

Achievements And Challenges” di Jenewa, Swiss, 3-5 November 2008

The Third Global Conference of Parliamentarians Against Corruption (GOPAC) di Kuwait,

17-20 November 2008

The 2008 Parliamentary Hearing at the UN during the 63rd Session of the General

Assembly, di New York, Amerika Serikat, 20-21 November 2008

Parliamentary Conference on Maternal and New Born Health and Survival, di Den Haag,

Belanda, 26-28 November 2008

The 29th General Assembly of AIPA di Singapura, 19-24 Agustus 2008

Workshop on Public Participation and Reconciliation di Bangkok, Thailand, 24-28

September 2008

APA Sub Committee Meetings dan The First Meeting of APA Executive Council di Teheran,

Iran, 6-9 Oktober 2008

The Third Plenary Session of APA di Jakarta, 26-29 November 2008

AIPA Seminar on Enhancing Parliamentary Cooperation di Ho Chi Minh City, Vietnam, 30

November-3 Desember 2008

BADAN-BADAN

116

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Tahun

Acara

2009

First Open-Ended Extraordinary Meeting of the Executive Committee of the PUIC di

Istanbul, Turki, 13-15 Januari 2009

Extra-ordinary Session of the Executive Committee of the IPU di Jenewa, Swiss, 29- 30

Januari 2009

Sidang Council ke-11 PUIC di Niamey, Nigeria, 17-19 Februari 2009

The Meeting of the Commission on the Status of Women (CSW) “The Role of Parliaments

in Promoting Equal Sharing of Responsibilities between Women and Men” di New York,

Amerika Serikat, 4 Maret 2009

Regional Seminar on the Role of Parliaments in Promoting Peaceful and Sustainable

Societies in South East Asia di Phnom Penh, Kamboja, 9-11 Maret 2009

Meeting of the APG Working Group di Beijing, Cina, 20 Maret 2009

Assembly IPU ke-120 di Addis Ababa, Ethiopia, 5-10 April 2009

Parliamentary Conference on the Global Economic Crisis di Jenewa, Swiss, 7-8 Mei

2009

Training Seminar for New Officials of Asian National Commissions for UNESCO di

Colombo, Sri Lanka, 22-25 Juni 2009

IPU Preparatory Committee Meeting of the Third Conference of the Speakers of

Parliaments di Jenewa, Swiss, 16-17 Juli 2009

APA Troika Mission ke Syria, Lebanon dan Jordan 7-10 Januari 2009

The 17th Annual Meeting of APPF di Vientiane, Laos, 10-16 Januari 2009

APA Sub Committee Meeting on Global Financial Crisis di Kuala Lumpur, Malaysia, 23-24

Februari 2009

AIPA Preparatory Meeting and the Informal Meeting with the ASEAN Heads of Government

di Cha-am, Phetchaburi, Thailand, 26 Februari-1 Maret 2009

International Conference “Supporting Palestine, Symbol of the Resistance – Gaza, Victim

of Atrocities” di Teheran, Iran, 4-5 Maret 2009

The First AIPA Caucus di Kuala Lumpur, Malaysia, 26-29 April 2009

The 6th Meeting of AIFOCOM di Chiangrai, Thailand, 10-14 Mei 2009

The Second APA Sub Committee Meeting on Global Financial Crisis di Amman, Yordania,

27-28 Mei 2009

APA Sub Committee on Combating Corruption and Challenges and Opportunities of

Globalization di Jakarta, 18-19 Juni 2009

APA Sub Committee on Cultural Diversity and Achieving Health Equity di Teheran, Iran,

28-30 Juni 2009

APA Sub Committee on Environmental Issues di Seoul, Korea Selatan, 30 Juni-2 Juli

2009

APA Sub Committee on Alleviating Poverty in Asia di Siem Reap, Kamboja, 27-28 Juli

2009

BADAN-BADAN

117

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Penerimaan Delegasi Tamu Luar
Negeri

Sepanjang Periode 2004–2009, DPR menerima
kunjungan sejumlah delegasi parlemen
negara sahabat, baik atas undangan resmi
DPR maupun inisiatif parlemen negara
yang bersangkutan. BKSAP turut menerima
delegasi-delegasi tersebut dalam sebuah
pertemuan persahabatan (friendly-talk).
Delegasi tamu dari negara-negara sahabat
yang telah berkunjung ke DPR antara lain:
• Delegasi Parlemen Republik Korea,
membicarakan

kunjungan

Delegasi
Republik Korea ke sekolah milik Pemerintah
Republik Korea di Jakarta;
• Delegasi Komisi Pertahanan dan Keamanan
Dewan Federasi Majelis Federal Federasi
Rusia, membicarakan antara lain upaya
peningkatan kerja sama di bidang pertahanan
dan keamanan antara kedua negara,
terutama terkait persenjataan militer;
• Delegasi Parlemen Singapura, membicarakan
antara lain masalah pasir laut, pipa gas dan
air dari Kepulauan Natuna dan Riau;
• Delegasi Parlemen Sudan, mengucapkan
terima kasih atas bantuan kemanusiaan
Indonesia;
• Delegasi Majelis Nasional Kamboja,
menyampaikan

pembentukan

Grup
Persahabatan Indonesia-Kamboja, dan
meminta Indonesia membentuk grup yang
sama;
• Delegasi Parlemen Thailand, membahas

hubungan bilateral kedua negara;
• Delegasi Parlemen Cheko, membahas
hubungan perdagangan kedua negara;
• Delegasi Majelis As Shura Arab Saudi,
membahas hukum dan kerja sama di
berbagai bidang;
• Delegasi Majelis Nasional Turki, membahas
masalah politik;
• Delegasi Parlemen Kamboja, membahas
masalah perundang-undangan dan politik;
• Delegasi Staf Kongres Amerika Serikat,
membahas demokrasi;
• Delegasi Parlemen Cina, membahas
masalah lingkungan hidup;
• Delegasi Majelis Nasional Vietnam,
membahas perkembangan AIPO;
• Delegasi Parlemen Swedia, membahas
masalah kebudayaan;
• Delegasi House Democracy Assistance
Commission
(HDAC) Amerika Serikat,
membahas masalah demokrasi;
• Delegasi Parlemen Kuwait, membahas
masalah bantuan luar negeri;
• Delegasi Majelis Shoraye Eslami Republik
Islam Iran, membahas hubungan bilateral
kedua negara;
• Delegasi Parlemen Australia, membahas
hubungan bilateral kedua negara;
• Delegasi Parlemen Eropa, membahas
perkembangan politik di Indonesia dan
perdamaian di Aceh;
• Delegasi Parlemen Portugal, membahas
hubungan bilateral kedua negara;
• Delegasi Parlemen Hongaria, membahas
MoU kedua negara;
• Delegasi Parlemen Pakistan, membahas
hubungan Pakistan-Indonesia untuk
masalah Kashmir;
• Delegasi Majelis Nasional Laos, membahas
peningkatan perdagangan serta pertukaran
budaya dan pendidikan;
• Delegasi Parlemen Australia, membahas
hubungan bilateral kedua negara;
• Delegasi Parlemen Timor Leste, membahas
hubungan bilateral kedua negara;
• Delegasi Dewan Etnis Majelis Nasional
Vietnam, dalam rangka tukar informasi

Ketua DPR dan

Pimpinan BKSAP

menerima kunjungan

Presiden Palestina

BADAN-BADAN

118

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

tentang parlemen kedua negara;
• Menteri Luar Negeri Serbia, membahas
situasi di Kosovo;
• Menteri Luar Negeri Rumania, membahas
hubungan bilateral kedua negara;
• Komisi Urusan Penanganan Proposal &
Usul Majelis Permusyawaratan Politik
Republik Rakyat Cina, membahas hubungan
perdagangan kedua negara;
• Delegasi Parlemen Australia, membicarakan
usaha-usaha untuk mengatasi krisis ekonomi
yang saat ini sedang melanda dunia.

Penyelenggaraan Sidang
Regional/Internasional

Selama Periode 2004-2009, DPR yang dimotori
BKSAP sukses menyelenggarakan beberapa
sidang antar parlemen baik tingkat regional
maupun internasional, yaitu:
• Pertemuan Tahunan ke-14 APPF di Jakarta,
15-20 Januari 2006
The First Meeting of AIPO Ad Hoc Committee
on the Transformation of AIPO Into a More
Effective and Closely Integrated Institution

di Bali, 22-26 Maret 2006
The Second Meeting of AIPO Ad Hoc
Committee on the Transformation of AIPO
Into a More Effective and Closely Integrated
Institution
di Jakarta, 26-30 Juli 2006
• Sidang ke-116 IPU di Nusa Dua, Bali, 27
April-4 Mei 2007

APA Sub Committee Meeting on Alleviating
Poverty in Asia
di Jakarta, 12-13 Juni 2008
• Sidang Pleno ke-3 APA di Jakarta, 26-29
November 2008
The First Forum of Asia-Pacific
Parliamantary for Education
(FASPPED)
Executive Bureau Meeting di Jakarta, 9 Juni
2009
APA Sub Committee Meeting on
Combating Corruption and Challenges and
Opportunities of Globalization
di Jakarta,
18-19 Juni 2009
• Sidang Executive Council APA di Jakarta,
11-12 Agustus 2009

Keberhasilan di IPU

BKSAP memberi sumbangsih penting kepada
Organisasi Parlemen Sedunia, atau IPU, dengan
keberhasilan penyelenggaraan Sidang IPU ke-116
di Bali, 29 April-4 Mei 2007. Indonesia mencatat
sejarah karena berhasil menangani dua sidang
IPU dalam tujuh tahun. Sidang IPU sebelumnya
diadakan pada tanggal 15-20 Oktober 2000 di
Jakarta.

Melalui kerja BKSAP, lembaga legislatif Indonesia
mendapat pengakuan dari IPU dengan terpilihnya
Ketua BKSAP, Abdillah Thoha, sebagai Wakil
Presiden Komite Eksekutif IPU pada 18 April
2008 dalam sidang ke-118 IPU di Cape Town,
Afrika Selatan. Disamping itu, beberapa anggota

Sidang APPF di

Gedung DPR, 15

Januari 2006

BADAN-BADAN

119

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

BKSAP dipercaya menduduki beberapa jabatan
di IPU: Simon Patrice Morin sebagai Wakil
Komisi Perdamaian dan Keamanan IPU, Aisyah
Hamid Baidlowi sebagai Ketua Komisi Koordinasi
Wanita IPU, Luthf Hasan Ishaaq menjadi Anggota
Komisi Timur Tengah dan Wila Chandrawila
Supriadi sebagai Anggota Kehormatan Hukum
Internasional. Terpilihnya Ketua dan beberapa
anggota BKSAP ini merupakan penghargaan
dan pengakuan IPU atas peran aktif dan
kepemimpinan BKSAP di IPU.

Keberhasilan di AIPA

DPR Periode 2004-2009 mencatat keberhasilan
dalam memperjuangkan gagasan untuk
melakukan transformasi organisasi Asean Inter-
Parliamentary Organization (AIPO) menjadi Asean
Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) sebagai
tahapan awal menuju pembentukan Parlemen
ASEAN. Transformasi tersebut dilakukan agar
organisasi menjadi lebih efektif dan integratif.
Langkah-langkah kongkrit yang dilakukan
untuk mewujudkan tujuan tersebut antara lain
dengan mengubah Statuta AIPO, mengadakan
pertemuan rutin antara Pemimpin AIPA dengan
ASEAN serta mengangkat Sekretaris Jenderal
AIPA dari kalangan profesional.

Keberhasilan di APA

Pada Sidang Pleno ke-3 APA yang diselenggarakan

di Jakarta tanggal 26-29 November 2008, selain
mengukuhkan Ketua DPR sebagai Presiden
APA untuk periode 2008-2010, sidang juga
mengesahkan Jakarta Declaration on the Urgency
for the Establishment of a New Global Financial
Architecture
yang merupakan usulan Indonesia.
Deklarasi ini menyatakan adanya tantangan
dalam mewujudkan lingkungan fnansial yang
stabil akibat krisis global yang melanda dunia,
sehingga diperlukan langkah-langkah kolektif
untuk mengatasi krisis termasuk pembentukan
suatu sistem fnansial global yang baru.

Keberhasilan di Forum Asia
Pasifk

Pada tanggal 24-25 Oktober 2008, UNESCO
bekerja sama dengan Depdiknas untuk
menyelenggarakan

The

Parliamantarian
Conference for Education in the Asia Pacific Region

yang menghasilkan keputusan membentuk
FASPPED dan menetapkan Ketua DPR sebagai
Presiden FASPPED untuk periode 2008-2012.
Forum ini bertujuan menggalang kemitraan
antar anggota legislatif di kawasan Asia Pasifk
untuk meningkatkan program pendidikan dalam
rangka mencapai tujuan pembangunan milenium
(MDGs) dan program Education For All (EFA).

Diplomasi Penghapusan
Embargo Senjata AS

Pemerintah Indonesia mengalami embargo
senjata dari Amerika Serikat sejak dituduh
melakukan pelanggaran HAM setelah tragedi
Santa Cruz di Timor Timur tahun 1992. BKSAP
telah melakukan diplomasi antarparlemen dan
diplomasi parlemen ke eksekutif dalam upaya
pencabutan embargo senjata Amerika Serikat
ini. Dalam diplomasi antarparlemen, BKSAP
melobi Parlemen Amerika Serikat, sementara
dalam diplomasi parlemen ke eksekutif, BKSAP
melobi Pemerintah Amerika Serikat. Kegiatan
lobi BKSAP turut berperan dalam pencabutan
embargo senjata dari Pemerintah Amerika
Serikat ke Indonesia pada bulan November
2005.

Pimpinan BKSAP

dalam sebuah

pertemuan sidang

APA

BADAN-BADAN

120

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

3. Badan Musyawarah

Bamus dibentuk oleh DPR pada masa
permulaan keanggotaan DPR. Jumlah anggota
Bamus adalah sepersepuluh dari jumlah
anggota DPR atau 55 orang. Susunan dan
keanggotaan Bamus ditetapkan oleh Rapat
Paripurna DPR berdasarkan perimbangan
jumlah anggota di tiap-tiap fraksi. Anggota
Bamus ditentukan oleh masing-masing fraksi,
dan untuk jabatan Pimpinan Bamus dipegang
oleh Pimpinan DPR, sedangkan anggota
Bamus terdiri dari pimpinan-pimpinan fraksi.

Bamus bertugas menetapkan jadwal rapat
DPR untuk satu Tahun Sidang, satu Masa
Persidangan, atau sebagian dari Masa
Persidangan. Dalam setiap Tahun Sidang atau
sebagian dari Masa Persidangan tersebut,
Bamus menetapkan antara lain:
• Penanganan RUU oleh alat kelengkapan,
baik yang berasal dari usul inisiatif DPR,
termasuk dari komisi dan AKD lainnya
seperti Baleg, maupun dari Pemerintah;
• Memproses penggunaan hak-hak anggota
DPR, misalnya hak interpelasi, Hak Angket,
dan hak menyatakan pendapat;
• Menugaskan AKD untuk membahas dan
menetapkan mekanisme pengangkatan
pejabat publik;
• Mengagendakan usul inisiatif anggota DPR
yang ditandatangani minimal 13 anggota
baik untuk RUU, hak interpelasi, Hak
Angket, dan hak menyatakan pendapat;
• Bamus juga mengagendakan pembentukan
Tim DPR atas usul pimpinan DPR, pimpinan
fraksi-fraksi maupun perorangan.

Penugasan Penanganan RUU

Tahun Sidang 2004-2005 merupakan tahun
peralihan dari DPR Periode 1999-2004
ke DPR Periode 2004-2009. Oleh karena
itulah Bamus masih harus menjadwalkan
penanganan sejumlah RUU yang belum tuntas
pembahasannya oleh DPR periode sebelumnya.

Dengan demikian, penanganan RUU baru
masih terbatas. Beberapa RUU penting yang
ditangani prosesnya oleh Bamus selama Tahun
Sidang 2004-2005 antara lain:
• 61 RUU peninggalan DPR 1999-2004
DPR mengembalikan 11 RUU dari
Pemerintah, dan Pemerintah dapat
mengajukan kembali RUU tersebut ke
DPR. DPR juga menarik kembali 27
RUU Inisiatif DPR 1999-2004 yang telah
disampaikan ke Pemerintah. RUU-RUU
tersebut akan disampaikan kembali ke
Pemerintah walaupun sedang dalam proses
pembahasan
• Rancangan Undang-Undang tentang
Perlindungan Saksi dan Korban
• Rancangan Undang-Undang tentang
Ombudsman
• Rancangan Undang-Undang tentang
Kewarganegaraan

Pada tahun peralihan anggota DPR Periode
1999-2004 ke Periode 2004-2009, Bamus
tidak menjadwalkan semua RUU yang belum
tuntas pembahasannya oleh DPR pada periode
sebelumnya. Hal ini dikarenakan semua RUU
yang tidak selesai pada periode sebelumnya
dianggap gugur. Namun, apabila diperlukan
kembali untuk kepentingan bangsa dan negara,
maka beberapa RUU dapat diajukan kembali
pada periode berikutnya.

Pada tahun 2005 Bamus membahas
penanganan berbagai RUU, baik dari DPR
maupun dari Pemerintah. Beberapa RUU
yang sudah disahkan menjadi UU, antara lain
mengenai:
• Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun 2005
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah Menjadi Undang-Undang
• Guru dan Dosen
• Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2005
tentang Penundaan Mulai Berlakunya

BADAN-BADAN

121

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004
tentang

Penyelesaian

Perselisihan
Hubungan Industrial Menjadi Undang-
Undang
• Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2005
tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi
NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera
Utara Menjadi Undang-Undang

Pada tahun 2006, secara garis besar, kegiatan
Bamus dalam menjadwalkan RUU mencakup
penetapan jadwal acara pembahasan berbagai
RUU, termasuk mengalokasikan pembahasannya
dalam Rapat Paripurna DPR, Rapat Komisi,
dan Rapat Pansus. Sejumlah RUU yang
pembahasannya sudah selesai dan disahkan oleh
Rapat Paripurna DPR adalah RUU tentang:
• Pengesahan

Konvensi

Internasional
Pemberantasan Pengeboman oleh Teroris,
1997
• Pengesahan Konvensi PBB Anti Korupsi,
2003
• Perlindungan Saksi dan Korban
• Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan
dan Kehutanan
• Penetapan PERPU Nomor 1 Tahun 2006
tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang
Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD
• Pemerintahan Aceh
• Kewarganegaraan Republik Indonesia
• Badan Pemeriksa Keuangan

• Dewan Pertimbangan dan Penasehat
Presiden

Sementara pada tahun 2007, Bamus kembali
menjadwalkan penanganan sejumlah RUU.
Beberapa di antara RUU tersebut sangat mendesak
dalam rangka pembangunan bangsa, misalnya
dalam hal keamanan, ekonomi, hukum, pangan,
dan sosial. Bamus menugaskan AKD untuk
menangani beberapa RUU pada 2007 mengenai:
• Perubahan atas Undang-Undang No.13
Tahun 1992 tentang Perkeretaapian,
berubah judul menjadi Perkeretaapian
• Penanaman Modal
• Perubahan Ketiga atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan
• Penyelenggaraan Pemilu
• Penataan Ruang
• Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah
Republik Indonesia dan Pemerintah Republik
Filipina tentang Kegiatan Kerjasama Bidang
Pertahanan dan Keamanan
• Perseroan Terbatas
• Partai Politik
• Penetapan Perpu Nomor 2 Tahun 2007
tentang Penanganan Permasalahan Hukum
dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan
Masyarakat di Provinsi NAD dan Kepulauan
Nias Provinsi Sumut Menjadi Undang-Undang

Hingga tahun 2008 Bamus menugaskan AKD
untuk membahas beberapa RUU antara lain
RUU tentang:
• Penggunaan Bahan Kimia dan Larangan
Penggunaan Bahan Kimia Sebagai Senjata
Kimia
• Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan
DPRD
• Informasi dan Transaksi Elektronik
• Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
• Perubahan Undang-Undang Nomor 17 Tahun
1999 tentang Penyelenggaran Ibadah Haji
• Keterbukaan Informasi Publik

Konferensi pers

terkait RUU

Penyelenggaraan

Pemilu, 12 Maret

2007. Bamus

menjadwalkan

penanganan sejumlah

RUU termasuk RUU

yang mendesak

untuk diselesaikan

seperti RUU tentang

Penyelenggaraan

Pemilu ini

BADAN-BADAN

122

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

• Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21
tahun 1992 tentang Pelayaran
• Pengelolaan Sampah
• Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi
Undang-Undang
• Perubahan Keempat atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan
• Kementerian Negara
• Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden
• Wilayah Negara
• Pornograf
• Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
• Badan Hukum Pendidikan
• Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah
Agung

Sedangkan pada tahun 2009, Bamus
menugaskan AKD untuk membahas RUU
tentang:
• Pengesahan Protokol Mencegah, Menindak,
dan Menghukum Perdagangan Orang
Terutama Perempuan dan Anak-anak
Melengkapi Konvensi PBB Menentang Tindak

Pidana Transnasional Yang Terorganisasi
• Penetapan Perpu Nomor 5 Tahun 2008
tentang Perubahan Keempat atas Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Menjadi Undang-Undang
• Penetapan Perpu Nomor 1 tahun 2009
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu
Anggota DPR, DPD, dan DPRD Menjadi
Undang-Undang
• Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
• Pelayanan Publik

Penanganan Hak-hak Anggota
DPR

Masa peralihan dari DPR Periode 1999-
2004 ke DPR Periode 2004-2009 mewarnai
sejumlah kegiatan Bamus dalam penjadwalan
penanganan hak-hak anggota DPR, seperti
hak interpelasi, Hak Angket, hak menyatakan
pendapat, dan hak mengajukan pertanyaan.
Seiring berjalannya pemerintahan, Bamus pun
mulai sibuk menjadwalkan sejumlah usulan
hak-hak anggota DPR terkait mekanisme kerja
Pemerintah dengan DPR hingga kebijakan
kenaikan BBM oleh Pemerintah.

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Interpelasi

1

Hak Interpelasi atas Penarikan Surat Presiden

Nomor R.41/Pres/10/2004 tanggal 25 Oktober

2004 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan

Panglima TNI

Paripurna 8 Februari memutuskan menolak

hak interpelasi.

Proses sudah selesai.

2

Hak Interpelasi atas Surat Seswapres tentang

Hubungan Kerja Pemerintah dengan DPR yang

substansinya dibuat berdasarkan risalah atas

arahan Wapres

Pimpinan DPR mengirimkan surat yang intinya

meminta Presiden menarik dan membatalkan

surat Seswapres tersebut.

Proses sudah selesai.

Tahun Sidang 2004-2005

BADAN-BADAN

123

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Angket

1

Hak Angket tentang Kebijakan Pemerintah

Menaikkan Harga BBM

• Rapat Bamus 19 Februari 2005 memutuskan

hal tersebut ditangani Panggar DPR

Proses sudah selesai.

2

Hak Angket tentang Kasus Lelang Gula Ilegal • Rapat Bamus 19 Januari 2006 memutuskan

untuk ditangani Komisi III dan IV DPR

• Laporan Komisi III dan IV tentang Kasus

lelang Gula Ilegal dalam Rapat Paripurna

12 September 2006

Proses sudah selesai.

3

Hak Angket tentang Penyelidikan Kasus

Penjualan Tanker Milik Pertamina

• Paripurna 7 Juni 2005 menyetujui menjadi

Hak Angket dan membentuk Panitia

Angket

• Rapat Paripurna 16 Januari 2007 menyetujui

laporan Panitia Angket untuk disampaikan

kepada Presiden RI.

Proses sudah selesai.

4

Hak Angket tentang Penyelidikan terhadap

Skandal KKN Kredit Macet Bank Mandiri

Paripurna 17 Januari 2006 memutuskan tidak

dapat menerima Hak Angket tersebut dan

menyerahkan kepada AKD yang membidangi

untuk membahas lebih lanjut.

Hak Menyatakan Pendapat

1

Hak Mengajukan Usul dan Pendapat tentang

Penggantian Panglima TNI

Telah ditindaklanjuti dengan meneruskan surat

kepada Presiden RI.

Hak Mengajukan Pertanyaan

1

Hak Mengajukan Pertanyaan terhadap

keluarnya Surat Wakil Presiden/Ketua

Bakornas Penanggulangan Bencana dan

Penanganan Pengungsi Nomor 01/2004 tentang

Pembentukan Tim Nasional Penanganan

Bencana Aceh

Pimpinan DPR telah menyampaikan surat

kepada Presiden perihal Penyampaian Hak

Mengajukan Pertanyaan dari 15 Anggota DPR.

Tahun Sidang 2005-2006 merupakan tahun
yang padat bagi Bamus. Selain jumlah
rapat yang meningkat dibandingkan tahun
sebelumnya, materi rapat juga makin beragam

seiring proses demokrasi yang bergulir di DPR
dan masyarakat Indonesia, termasuk soal
penanganan hak anggota.

BADAN-BADAN
BADAN-BADAN

124

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Interpelasi

1

Hak Interpelasi atas Masalah Busung Lapar

dan Wabah Polio

Pada Rapat Paripurna 7 Maret 2006 telah

disampaikan Keterangan Pemerintah atas

Interpelasi DPR mengenai Masalah Busung Lapar

dan Wabah Polio, yang diwakili Menteri Koordinator

Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dan Menkes.

Proses sudah selesai

2

Hak Interpelasi atas Rapat Kabinet dipimpin

dari Amerika Serikat dalam Hubungan Kerja

Pemerintah antara Presiden dan Wakil

Presiden RI

Dari 20 anggota pengusul, 8 mengundurkan diri.

Rapat Paripurna pada 30 September 2005 memberi

kesempatan kepada para pengusul untuk melengkapi

jumlah penandatangan dan penyempurnaan

substansi.

3

Hak Interpelasi terhadap Rencana Pelaksanaan

Impor Beras oleh Pemerintah

Dalam Rapat Paripurna tanggal 24 Januari 2006

dilakukan voting dengan hasil menolak hak

angket dan menolak hak interpelasi.

Proses sudah selesai

Hak Angket

1

Hak Angket tentang Impor Beras oleh

Pemerintah

Rapat Paripurna 24 Januari 2006 melakukan voting

dengan hasil menolak hak angket dan menolak hak

interpelasi.

Proses sudah selesai

2

Hak Angket terhadap Penunjukan Exxon Mo-

bil Ltd sebagai Pimpinan Operator Lapangan

Minyak Blok Cepu

Rapat Paripurna 30 Mei 2006 dilaksanakan dan

memutuskan menolak angket tersebut.

Proses sudah selesai

Hak Mengajukan Pertanyaan

1

Hak Mengajukan Pertanyaan Masalah Harga

Minyak Tanah dan Kenaikan Harga Sembako

yang Tidak Terkendali

Proses sudah selesai

2

Hak Mengajukan Pertanyaan dan Hak

Menyampaikan Usul dan Pendapat dari Anggota

DPR RI tentang Penyelamatan Penanganan

Musibah Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh dan

Sumatera Utara

Proses sudah selesai

3

Hak Mengajukan Pertanyaan Perihal

Konsistensi Pemerintah dalam Penegakan

Hukum terhadap Kepala Daerah Yang

Berstatus Terdakwa dalam Perkara Korupsi,

Kasus Bupati Drs. Lukman Abunawas, S.H.,

M.Si.

Proses sudah selesai

Tahun Sidang 2005-2006

BADAN-BADAN
BADAN-BADAN

125

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Selama Tahun Sidang 2006-2007, jumlah
hak anggota DPR yang ditangani Bamus
tidak sebanyak tahun sebelumnya. Beberapa
permasalahan yang diangkat menjadi usulan

hak interpelasi adalah rencana impor beras,
persetujuan Pemerintah RI terhadap Resolusi
Dewan Kemanan PBB Nomor 1747, dan
penyelesaian lumpur Sidoarjo.

Tahun Sidang 2006-2007

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Interpelasi

1

Hak Interpelasi terhadap Kebijakan Impor Beras

oleh Pemerintah

Paripurna tanggal 17 Oktober 2006 menolak

pengajuan usul interpelasi

2

Hak Interpelasi Anggota DPR terhadap

Persetujuan Pemerintah Republik Indonesia

atas Resolusi Dewan Keamanan PBB No.1747

- Disetujui menjadi Hak Angket DPR dalam

Paripurna tanggal 15 Mei 2007

- Telah dilakukan Pertemuan Konsultasi

antara Pimpinan DPR dengan Presiden

tanggal 18 Juni 2007

- Telah dilakukan Pertemuan Konsultasi antara

Presiden dengan Pimpinan DPR, Pimpinan

fraksi-fraksi dan Pimpinan Komisi I dan

BKSAP pada tanggal 3 Juli 2007

- Dalam Rapat Paripurna tanggal 10 Juli

2007 dilaksanakan Keterangan Presiden

terhadap Interpelasi DPR dan memutuskan

menyetujui Keterangan Presiden terhadap

DPR tentang Persetujuan Pemerintah

RI atas Resolusi Dewan Keamanan PBB

Nomor 1747

3

Usul penggunaan Hak Interpelasi anggota DPR

terhadap Penyelesaian Kasus Lumpur Sidoarjo

Disetujui menjadi Hak Interpelasi DPR

tanggal 21 Agustus 2007 dan pembentukan

Tim Pengawas Penyelesaian Kasus Lumpur

Sidoarjo sebanyak 28 orang anggota

BADAN-BADAN

126

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Pada Tahun Sidang 2007-2008, sejumlah
permasalahan baru diangkat oleh anggota
DPR menjadi usulan hak interpelasi, hak
menyatakan pendapat dan Hak Angket.

Sejumlah hak interpelasi dan hak angket yang
diajukan ternyata memiliki substansi yang
sama dan akhirnya harus disatukan.

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Interpelasi

1

Usul Penggunaan Hak Interpelasi Angota

DPR RI terhadap Penyelesaian Kasus Kredit

Likuidasi Bank Indonesia (KLBI) dan BLBI

– Dalam Rapat Paripurna 12 Februari 2008,

Menko Ekonomi, Keuangan, dan Industri

(Menko Ekuin) menyampaikan Keterangan

Presiden terhadap Interpelasi DPR tentang

Penyelesaian Kasus KLBI dan BLBI

– Pada Rapat Paripurna 1 April 2008 telah

dibacarakan Jawaban Presiden atas Pendapat

Pengusul dan Anggota yang lain terhadap

Keterangan Presiden atas Interpelasi DPR RI

tentang Penyelesaian Kasus KLBI dan BLBI

Proses sudah selesai

2

Usul Hak Interpelasi terhadap Kebijakan

Antisipasi Pemerintah atas Kenaikan Harga

Bahan Pokok untuk Menjamin Ketersediaan

Kebutuhan Pokok yang Murah dan Terjangkau

Bagi Masyarakat

– Disetujui menjadi hak interpelasi DPR pada

Rapat Paripurna 10 Juni 2008

– Pada Rapat Paripurna 1 Juli 2008, Pemerintah

melalui menterinya telah memberi keterangan

mengenai interpelasi ini. Diputuskan untuk

memberi kesempatan kepada Pemerintah

agar menyempurnakan kembali dan memberi

jawaban tertulis pada para anggota DPR

3

Usul Hak Interpelasi terhadap Kenaikan Harga

BBM Terhitung sejak 24 Mei 2008

Rapat Paripurna pada 24 Mei 2008 memutuskan

menolak usul interpelasi tersebut

Proses sudah selesai

Hak Angket

1

Hak Angket tentang Penyelesaikan Kasus KLBI

dan BLBI

– Dalam Rapat Paripurna 10 Juni 2008 disetujui

pembentukan Tim Pengawas Penyelesaian

Kasus KLBI dan BLBI sebagai tindaklanjut

usul hak angket

– Pada 12 Juni 2008 Bamus menyetujui Tim

Pengawas Penyelesaian Kasus KLBI dan

BLBI berjumlah 28 orang dengan prioritas

anggota dari Komisi III dan Komisi XI DPR

RI, dipimpin Wakil Ketua DPR RI/Koordinator

Politik Ekonomi, dan Keuangan (Korpolekku)

Masih dalam Proses

Tahun Sidang 2007-2008

BADAN-BADAN

127

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Interpelasi

2

Hak Angket terhadap Transfer Pricing PT Adaro

Indonesia

Rapat Paripurna pada 17 Juni 2008 menolak

Usul Penggunaan Hak Angket ini

Proses sudah selesai

3

Hak Angket terhadap Kebijakan Pemerintah

Menaikkan Harga BBM

Rapat Paripurna pada 1 Juli 2008 mengesahkan

terbentuknya Panitia Angket tentang Kebijakan

Pemerintah Menaikkan Harga BBM.

Masih dalam Proses

Hak Menyatakan Pendapat

1

Hak Menyatakan Pendapat tentang Penyelesaian

KLBI dan BLBI

Rapat Bamus pada 29 Mei 2008 memutuskan

agar usul itu ditarik dan substansinya disatukan

dengan hak angket terhadap Penyelesaian

Kasus KLBI dan BLBI

2

Usul Hak Menyatakan Pendapat tentang

Kebijakan Antisipatif Pemerintah atas Kenaikan

Harga Pokok yang Murah dan Terjangkau Bagi

Masyakarat

Rapat Bamus pada 23 September 2008

memutuskan bahwa fraksi-fraksi menyetujui Usul

Menyatakan Pendapat tersebut dianggap sudah

selesai dan telah diumumkan pada Paripurna

tanggal 24 September 2008

Proses sudah selesai

Hak Mengajukan Pertanyaan

1

Hak Mengajukan Pertanyaan Perihal Polemik

Hukum Pengangkatan Gubernur Lampung

Proses sudah selesai

Pada Tahun Sidang 2008-2009, hak DPR yang
digunakan adalah hak angket dan hak menyatakan
pendapat terkait antara lain Hak Angket atas
Pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun

1429 H/2008 M dan usulan Hak Menyatakan
Pendapat tentang Presiden telah Melakukan
Pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor
41 Tahun 2008 tentang APBN 2009.

Tahun Sidang 2008-2009

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Angket

1

Hak Angket terhadap Dugaan Terjadinya

Pengabaian dan Pelanggaran atas Kewenangan

Konstitusional KPU dengan diterbitkannya

Keppres Nomor 85/P tanggal 27 September

tentang Pengangkatan Gubernur dan Wakil

Gubernur Maluku Utara

Rapat Pimpinan Dewan pada 15 Desember 2008

memutuskan menunda Penyampaian Keterangan

Pengusulan atas Penggunaan Hak Angket DPR RI

tersebut yang seharusnya direncanakan pada 16

Desember 2008

Masih dalam Proses

2

Hak Angket atas Pelaksanaan Penyelenggaraan

Ibadah Haji Tahun 1429 H/2008 M (Kasus

Pemondokan dan Transportasi Jemaah Haji

Indonesia di Arab Saudi)

Rapat Paripurna pada 12 Maret 2009 telah disahkan

pembentukan Panitia Angket DPR tentang

Pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun

1429 H / 2008 M.

Masih dalam Proses

BADAN-BADAN

128

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

No.

Uraian Tugas

Keterangan Singkat

Hak Angket

3

Hak Angket atas Pelanggaran Hak Konstitusional

Warga Negara untuk Memilih

Rapat Paripurna 26 Mei 2009 telah mengesahkan

pembentukan Panitia Angket tentang Pelanggaran

Hak Konstitusional Warga Negara untuk Memilih

setelah sebelumnya dilaksanakan voting yang

menyetujui hal ini sebagai hak angket DPR

Masih dalam Proses

Hak Menyatakan Pendapat

1

Usulan Hak Menyatakan Pendapat tentang

Presiden telah Melakukan Pelanggaran terhadap

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tentang

APBN 2009

– Rapat Paripurna 23 Juni 2009 telah

melaksanakan acara Pandangan Fraksi-

Fraksi atas Usul Penggunaan Hak

Menyatakan Pendapat tersebut

– Pertemuan Konsultasi pada 2 Juli

menyepakati bahwa Jawaban Pengusul

Hak Menyatakan Pendapat akan diacarakan

kembali pada masa sidang akan datang

Masih dalam Proses

Penanganan Mekanisme
Pengangkatan Pejabat Publik

Sebagai bentuk pelaksanaan tugas dalam bidang
pengawasan, DPR menyelenggarakan sistem Uji
Kepantasan dan Kepatutan (fit and proper test).
Dalam pelaksanaannya Bamus menugaskan
AKD untuk menangani usulan pencalonan,
pemberhentian dan pengangkatan sejumlah
pejabat publik. Dalam Periode 2004-2009,
Bamus menugaskan AKD untuk menangani
sejumlah usulan di antaranya adalah:
• Pencalonan Anggota Dewan Pengawas RRI
• Pencalonan Anggota KY
• Pemberhentian dan Pengangkatan Kapolri
• Pencalonan Kepala BP Migas
• Pencalonan Deputi Gubernur BI
• Pencalonan Anggota Dewan Pengawas
TVRI
• Pencalonan Hakim Agung RI
• Pencalonan Ketua dan Anggota Komite BPH
Migas 2007-2011

• Pencalonan Anggota Komnas HAM 2007-
2012
• Pengangkatan

dan

Pemberhentian

Panglima TNI
• Seleksi calon Pimpinan KPK
• Penggantian Kepala BP Migas
• Calon Anggota Dewan Energi Nasional
(DEN) dari Pemangku Kepentingan Periode
2008-2013
• Calon Hakim Konstitusi
• Calon Anggota Unsur Pengarah Badan
Nasional Penanggulangan Bencana dari
Masyarakat Profesional
• Calon Deputi Gubernur Senior BI
• Pencalonan Anggota KIP 2009-2013

BADAN-BADAN

129

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

4. Badan Kehormatan

BK merupakan salah satu AKD yang bersifat
tetap dan dibentuk berdasarkan amanat Pasal
98 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPRD, dan DPD, dan keputusan DPR
Nomor 08/DPR RI/2005-2006 tentang Peraturan
Tata Tertib DPR RI (Pasal 56-63) yang ditetapkan
tanggal 27 September 2005.

Berdasarkan Pasal 57 Peraturan Tata Tertib DPR,
Dewan menetapkan susunan dan keanggotaan
BK menurut perimbangan dan pemerataan
jumlah anggota tiap-tiap fraksi, pada permulaan
masa keanggotaan DPR dan permulaan Tahun
Sidang dengan jumlah anggota 13 orang, yang
terdiri dari tiga orang Pimpinan dan 10 anggota.

Tugas dan wewenang BK sebagaimana tercantum
dalam Pasal 59 ayat (1) adalah sebagai berikut:
a. Melakukan penyelidikan dan verifkasi
atas pengaduan terhadap anggota karena
tidak dapat melaksanakan tugas secara
berkelanjutan atau berhalangan tetap
sebagai anggota; tidak lagi memenuhi
syarat-syarat calon anggota sebagaimana

dimaksud dalam UU tentang pemilihan
umum; melanggar sumpah/janji, kode etik,
dan/atau tidak melaksanakan kewajiban
sebagai anggota; melanggar peraturan
larangan rangkap jabatan sebagaimana
diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. Menetapkan keputusan hasil penyelidikan
dan verifkasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a
c. Melanggar keputusan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b kepada Pimpinan DPR.

BK berwewenang memanggil anggota yang
bersangkutan untuk memberikan penjelasan
dan pembelaan terhadap dugaan pelanggaran
yang dilakukan; memanggil pelapor, saksi, dan/
atau pihak-pihak terkait lainnya untuk dimintai
keterangan, termasuk dokumen atau bukti lain.

Selain Peraturan Tata Tertib DPR RI, dalam
menjalankan tugasnya BK juga berpegang pada
peraturan DPR RI Nomor 01/DPR RI/IV/2007-
2008 tentang Tata Beracara Pelaksanaan Tugas
dan Wewenang Badan Kehormatan DPR RI, yang

Sumber: Lampiran Peraturan DPR RI No. 01/DPR RI/IV/2007-2008 tanggal 10 Juni 2008

Pengaduan

Sekretariat
BK

Rapat
BK

Rapat
BK

Rapat
BK

Rapat
BK

Sidang
Verifkasi

Data Tidak Lengkap

Data Lengkap

Pengaduan dari :

1. Pimpinan DPR-RI
a. Aspirasi
masyarakat
b. Aspirasi
anggota DPR-RI
c. Perkembangan
dalam masyarakat
2. Dari masyarakat /
pemilih

Verifkasi:
a. Sekretariat BK
- Aduan
- Absensi kehadiran
anggota dalam
rapat (tanpa aduan)
b. Tenaga Ahli BK
- Analisa materi
aduan
c. Hasil:
a. Lengkap:
diajukan Rapat BK
b. Belum lengkap:
lengkapi
c. Tidak lengkap:
tidak diregistrasi

1. Bahas:
a. Aduan
b. Ketidakhadiran
anggota dalam
rapat
2. Hasil/Keputusan
Rapat BK:
a. Bahan lengkap :
- Sidang verifkasi
- Beritahu teradu
b. Bahan belum
lengkap
- Panggil pengadu
c. Bahan tidak
lengkap:
- Drop

1. Verifkasi dengan
pengadu
2. Hasil/Keputusan
Rapat BK
a. Data lengkap:
- Sidang verifkasi
- Beritahu teradu
b. Data belum
lengkap:
- BK adalah rapat-
rapat lanjutan untuk
mendapatkan data
c. Data tidak lengkap:
- Drop

Verifkasi:
- Pengaduan
(+ ketidakhadiran
anggota dalam
rapat
- Pembuktian
- Pembelaan

1. Pengambilan
keputusan
a. Tidak terbukti
- Rehabilitasi
b. Terbukti
- Sanksi:
1. Teguran lisan
2. Teguran tertulis
3. Pindah
penugasan
4. Pemberhentian
dari jabatan
5. Pemberhentian
dari anggota

BADAN-BADAN

130

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

disahkan tanggal 10 Juni 2008. Tata Beracara
tersebut berisikan hukum materil yang mengatur
mekanisme pengaduan, sanksi, dan keputusan.

Pengaduan

Mekanisme dan tata cara pengaduan ke BK
diatur dalam Pasal 3 Tata Beracara Pelaksanaan
Tugas dan Wewenang Badan Kehormatan DPR
RI sebagai berikut:
1. Pengaduan kepada BK disampaikan
Pimpinan DPR, masyarakat dan/atau
pemilih
2. Dalam hal pengaduan disampaikan oleh
Pimpinan DPR kepada BK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), berupa dugaan
pelanggaran yang dilakukan oleh anggota
DPR, berasal dari (a) masyarakat, (b)
anggota DPR, dan/atau (c) perkembangan
yang telah diketahui secara luas dalam
masyarakat.

Pengaduan disampaikan kepada Sekretariat
BK secara tertulis dan dilengkapi identitas yang
sah. Sekretariat kemudian melakukan verifkasi
terhadap unsur administrasi dan materi
aduan dengan dibantu tenaga ahli. Seketariat
BK melakukan verifkasi terhadap unsur
administratif, sedangkan tenaga ahli melakukan
verifkasi terhadap unsur materi aduan.

Pengaduan-pengaduan

yang

Masuk ke BK

BK menerima sejumlah pengaduan dari
masyarakat di sepanjang Periode 2004-2009.
Berikut ini adalah beberapa dari pengaduan
yang masuk tersebut, terutama yang sempat
menarik perhatian masyarakat.

Tahun Sidang 2004-2005
• Pengaduan mengenai kericuhan dalam Rapat
Paripurna DPR tanggal 15-16 Maret 2005. BK
menerima sejumlah pengaduan dari:
- Emilia Puspita, surat diterima tanggal 2
Maret 2005
- Pinping Wiranata, Rudi Sugianto dan

Rohmadi, surat diterima 16 Maret 2005
- Lingkar Studi Indonesia Maju, surat
diterima tanggal 18 Maret 2005
- Perempuan FPD, surat diterima tanggal
21 Maret 2005
- Aliansi Pemuda Peduli Parlemen, surat
diterima tanggal 24 Maret 2005
• Pengaduan dari Lembaga Advokasi
Reformasi Indonesia mengenai dugaan
korupsi dan penyelundupan beras 60.000
Metrik Ton asal Vietnam yang melibatkan
anggota DPR, surat diterima tanggal 2
Maret 2005
• Pengaduan dari Staf Pemda Pesisir Selatan
mengenai kunjungan kerja beberapa
anggota DPR yang telah menguras uang
daerah sebesar Rp 100 juta
• Pengaduan dari Amalya Murad mengenai
penyalahgunaan status keanggotaan oleh
anggota DPR dalam pemeriksaan di Polda
• Pengaduan dari Sutardjo dan Chafd Masjkur
mengenai penggunaan ijazah palsu dalam
pencalonan sebagai anggota DPR
• Pengaduan dari DPC PAN Pesisir Selatan
mengenai pelanggaran oleh anggota DPR
dalam Pilkada

BK telah membahas dan menindaklanjuti
seluruh pengaduan yang masuk. Dalam hal ini,
salah satu pengaduan yang dinilai cukup banyak
diketahui oleh masyarakat adalah kericuhan
di Rapat Paripurna tanggal 15-16 Maret

Pertemuan Pimpinan

Badan Kehormatan,

2005

BADAN-BADAN

131

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

2005. BK telah memanggil pengadu, teradu
dan pihak-pihak yang terkait untuk dimintai
keterangan. Setelah melakukan penyelidikan,
verifkasi dan mengumpulkan bukti-bukti
yang dianggap cukup, maka BK mengambil
keputusan dengan membuat Surat Keputusan
tentang Teguran Tertulis kepada anggota DPR
yang terlibat. Keputusan tersebut disampaikan
kepada Pimpinan DPR dan Pimpinan Fraksi
yang bersangkutan.

Tahun Sidang 2005-2006
• Surat dari Pimpinan DPR RI Nomor
KD.02/5857/DPR RI/2005, tanggal 5
September 2005, perihal isu negatif
terhadap anggota DPR; surat ini menjadi
dasar bagi BK untuk menindaklanjuti
pengaduan tersebut;
• Pengaduan dari Bupati Semeulue mengenai
dugaan pemerasan yang dilakukan anggota
DPR, surat diterima tanggal 9 Februari
2006;
• Pengaduan dari Aliansi Mahasiwa &
Masyarakat Riau dan Yusri Sabri mengenai
dugaan keterlibatan seorang anggota DPR
dalam peristiwa pemboman di Provinsi
Kepulauan Riau, surat diterima tanggal 23
Februari 2006;
• Pengaduan dari anggota DPD mengenai
permintaan pengembalian uang sewa-
menyewa rumah dinas Blok E/412, Kalibata,
surat diterima tanggal 5 April 2006;
• Surat dari Pimpinan DPR RI Nomor
KD.02/4000/DPR RI/2006, tanggal 31 Mei
2006, perihal Tindak Lanjut Laporan Uang
Pansus RUU tentang Pemerintahan Aceh;
• Pengaduan dari Sekretariat Bersama
Pokja Petisi 50, Komite Waspada Orde
Baru (TEWAS ORBA), Gerakan Rakyat
Marhaen (GRM) dan Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) mengenai kasus percaloan
di pemondokan haji dan katering, surat
diterima tanggal 12 Juni 2006.

BK telah membahas dan menindaklanjuti
pengaduan-pengaduan

tersebut

dengan
memanggil pengadu, teradu serta pihak terkait.

Tahun Sidang 2006-2007, BK tetap melakukan
tugas dan wewenangnya, di antaranya tetap
melakukan sejumlah rapat BK (penyelidikan dan
verifkasi) untuk setiap pengaduan yang masuk
pada tahun sebelumnya dengan mengundang
pengadu terlebih dahulu dan teradu.

Kasus yang cukup menarik perhatian adalah
laporan ICW tentang kasus dugaan aliran dana
non-bujeter DKP senilai Rp 1 miliar ke anggota
DPR. Kasus ini telah ditindaklanjuti dan diputus
melalui proses hukum.

Selama tahun sidang 2007-2008, BK menerima
sedikit pengaduan, antara lain dari Koalisi
Penegak Citra DPR RI mengenai kasus dugaan
aliran dana BI ke DPR yang diterima pada 20
Agustus 2007 serta pengaduan dari Masyarakat
Profesional Madani pada 13 November 2007
terkait skandal keuangan antar lembaga negara.

BK menindaklanjuti pengaduan ini, termasuk
pengaduan dari tahun sebelumnya yang belum
selesai penanganannya, dengan mengundang
berbagai pihak, termasuk pelapor, dan
mendengarkan masukan dari sejumlah
instansi yang memiliki kompetensi di bidang-
bidang terkait dugaan perkara.

Tindak lanjut yang dilakukan BK adalah:
• Mengundang pengadu dan teradu dalam
rangka mediasi mengenai pengembalian
sertifkat tanah;
• Mengundang anggota DPR dalam rangka
pemberian nasihat;
• Mengundang anggota DPR dalam rangka
meminta keterangan terkait dugaan
penggunaan ijazah palsu;
• Mengundang pengadu untuk dimintai
keterangan terkait pengaduannya mengenai
adanya intervensi hukum dari anggota DPR
terhadap kasus penganiayaan;
• Terkait dugaan aliran dana BI ke DPR:
- Mengundang pengadu untuk dimintai
keterangan;
- Mengundang Ahli Tingkat Madya dari
BPK untuk memperoleh pemahaman

BADAN-BADAN

132

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

mengenai prosedur pengelolaan di
bidang keuangan pada lembaga-
lembaga negara;
- Mengundang Direktur Penyelidikan
KPK untuk konsultasi mengenai kasus
dugaan aliran dana BI ke DPR;
- Mengundang tiga pejabat BI untuk
dimintai keterangan dalam penanganan
kasus
• Mengundang Staf BNP2TKI bersama kuasa
hukumnya untuk dimintai keterangan
atas pengaduannya terhadap anggota
DPR mengenai tindakan pemukulan yang
dilakukan anggota DPR;
• Mengundang kuasa hukum Syamsir
Siregar untuk permintaan keterangan
atas pengaduan terhadap anggota DPR
mengenai pencemaran nama baik dan
ftnah yang dilakukan oleh anggota DPR
terhadap pengadu;
• Mengundang Kader Muda Demokrat untuk
permintaan keterangan atas pengaduannya
terhadap anggota DPR yang dianggap
melecehkan Presiden RI di depan pers dan
kebohongan publik;
• Mengundang Masyarakat Peduli Pajak untuk
permintaan keterangan atas pengaduannya
terhadap anggota DPR mengenai dugaan
penggelapan pajak dan perbuatan tidak etis
oknum yang dilakukan anggota DPR yang
merusak citra DPR.

BK juga melakukan kunjungan ke sejumlah
daerah dalam rangka mencari data/bukti
terkait penanganan pengaduan pada Tahun
Sidang 2006-2007. Kunjungan dilakukan ke:
• Provinsi DI Yogyakarta dalam kasus
percaloan dana bencana alam
• Semarang dalam kasus pengaduan dari
Abdul Aziz Bahlmar terhadap anggota DPR
mengenai tindakan ikut campur dalam
pengadilan
• Provinsi Jawa Timur dalam kasus ijazah
palsu atas nama anggota DPR
• Provinsi Sulawesi Selatan dalam kasus
ijazah palsu atas nama anggota DPR

Pada Tahun Sidang 2008-2009 pengaduan yang
muncul dan cukup menonjol adalah ketika ICW
mengirim pengaduan atas dugaan pelanggaran
Tatib oleh Ketua DPR pada saat memimpin
Rapat Paripurna Pengambilan Keputusan
atas Rancangan Undang-undang tentang
Mahkamah Agung tanggal 18 Desember 2008.

Terkait pengaduan ini, BK memanggil sejumlah
pihak terkait, antara lain Sekjen DPR dan
Deputi Sekjen Bidang Persidangan dan KSAP.
Setelah dilakukan verifkasi oleh BK, maka
BK memutuskan bahwa Ketua DPR tidak
melanggar peraturan tatib.

Sanksi

Setelah melakukan penyelidikan dan verifkasi
dengan memanggil pengadu, teradu dan saksi-
saksi yang terkait, BK mengadakan rapat
internal untuk mengambil keputusan dengan
menetapkan sanksi bagi teradu. Sanksi yang
dijatuhkan sebagaimana diatur dalam Pasal
41 Tata Beracara Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang Badan Kehormatan DPR RI adalah
Teguran Lisan, Teguran Tertulis, Pemindahan
keanggotaan di AKD, Pemberhentian dari
jabatan Pimpinan DPR atau Pimpinan AKD,
dan Pemberhentian sebagai anggota DPR.

Namun, apabila anggota DPR tidak terbukti
melanggar, maka BK dapat menetapkan
rehabilitasi yang diumumkan dalam Rapat
Paripurna DPR.

Terkait penyelidikan dan verifkasi yang telah
dilakukan, selama Periode 2004-2009, BK telah
memberikan sanksi berupa teguran tertulis
maupun lisan, baik melalui pemanggilan
langsung oleh BK ataupun melalui pimpinan
fraksi dari anggota yang melanggar Tata Tertib
dan Kode Etik DPR, antara lain:
• Surat teguran tertulis kepada tiga orang
anggota yang terlibat pelanggaran pada
peristiwa kericuhan Rapat Paripurna
tanggal 15-16 Maret 2005;
• Teguran lisan terkait kasus percaloan dana

BADAN-BADAN

133

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

bencana alam; kunjungan kerja teknis luar
negeri ke Mesir; pencemaran nama baik dan
ftnah terhadap Kepala BIN; dan pemukulan
yang dilakukan oleh anggota DPR;
• Teguran tertulis terkait kasus percaloan
dana bencana alam; kunjungan kerja teknis
luar negeri ke Mesir; dugaan pemerasan
oleh anggota DPR; perkara sewa-menyewa
rumah dinas di Kalibata; uang Pansus RUU
tentang Pemerintahan Aceh; pelecehan
dan pencemaran nama baik Presiden RI;
penelantaran rumah tangga; dan kasus
intervensi yang dilakukan anggota DPR
terhadap proses hukum;
• Pemberhentian anggota DPR terhadap Kasus
Percaloan Pemondokan Haji dan Katering;
• Pemberhentian sebagai anggota DPR
terkait kasus foto asusila anggota DPR yang
tersebar di media massa dan pelanggaran
terhadap tatib;
• Rehabilitasi terkait kasus dugaan
pelanggaran Tata Tertib dan Kode Etik DPR
dan gratifkasi dalam penyelenggaraan
haji;
• Pemindahan keanggotaan di AKD terkait
kasus penyelewengan dana block grant

dari Direktorat Pembinaan dan Pendidikan
Luar Biasa dan tindakan penzaliman;
• Putusan Perkara Etik yang menyatakan bahwa
anggota DPR yang diadukan tidak terbukti
melanggar Tata Tertib dan Kode Etik.

Penerimaan Konsultasi DPRD

Sebagai badan yang menjaga nilai etika
dan tatib anggota, BK banyak menerima
kunjungan dari DPRD dalam rangka diskusi
dan sosialisasi Peraturan Tata Tertib dan
Kode Etik DPR, pelaksanaan tugas-tugas BK,
serta mendengarkan pengalaman BK dalam
menangani pengaduan. Selain kunjungan
dari DPRD atau BK DPRD, BK DPR RI juga
menerima sejumlah lembaga dalam negeri.

Rekapitulasi Anggota DPR

Di samping menindaklanjuti pengaduan yang
masuk, BK juga menangani pelanggaran kode
etik berupa ketidakhadiran anggota DPR dalam
rapat-rapat DPR. Sesuai ketentuan dalam Pasal
6 kode Etik DPR RI, anggota DPR yang tidak
hadir sebanyak tiga kali secara berturut-turut
dalam rapat sejenis tanpa izin dari pimpinan
fraksi dinyatakan melanggar kode etik.

Pimpinan Badan

Kehormatan

mengadakan

konferensi pers di

DPR, 2008

BADAN-BADAN

134

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Pelanggaran tersebut tidak memerlukan
pengaduan. BK menugaskan sekretariat untuk
membuat rekapitulasi dan melakukan verifkasi
terhadap kehadiran anggota DPR dalam setiap
masa sidang untuk mencari anggota DPR yang
tidak hadir tiga kali berturut-turut dalam rapat
sejenis tanpa izin dari pimpinan fraksi.

Pada Tahun Sidang 2004-2005, terdapat
satu anggota DPR yang tiga kali berturut-
turut tidak hadir dalam rapat-rapat DPR
sejenis tanpa izin dari pimpinan fraksi.
Anggota tersebut mendapat sanksi berupa
teguran tertulis. Pada Tahun Sidang 2005-
2006, terdapat 24 anggota DPR yang tiga kali
berturut-turut tidak hadir dalam rapat-rapat
DPR sejenis tanpa izin dari pimpinan fraksi.
Mereka mendapatkan teguran tertulis.

Kunjungan Kerja Dalam dan Luar
Negeri

BK telah melakukan sejumlah kunjungan ke dalam
maupun luar negeri. Kunjungan dalam negeri
bertujuan mendiskusikan dan mensosialisasikan
Kode Etik dan Tata Beracara Pelaksanaan Tugas
dan Wewenang Badan Kehormatan, sedangkan
kunjungan kerja teknis luar negeri bertujuan
mendapatkan masukan tentang Kode Etik dan
Kode Perilaku di negara lain.

Pada Tahun Sidang 2006-2007, untuk menggelar
diskusi dan pengenalan Peraturan Tata Tertib
dan Kode Etik DPR RI, BK mengunjungi
sejumlah provinsi antara lain Provinsi Jawa
Timur, Papua, NAD, Sulawesi Utara, Sulawesi
Selatan, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau,
Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Madiun.

Sementara pada 2007-2008, BK mengirim
delegasi ke sejumlah daerah dalam rangka
mendiskusikan

dan

mensosialisasikan
Peraturan Tata Tertib dan Kode Etik DPR
dan Tata Beracara Pelaksanaan Tugas dan
Wewenang BK serta menjelaskan Tugas
dan Wewenang dan pengalaman BK dalam
menangani pengaduan.

Dalam kunjungan-kunjungan ini delegasi
DPRD meminta BK DPR RI agar meninjau
ulang keberadaan PP Nomor 53 Tahun 2005
tentang Perubahan atas PP Nomor 25 Tahun
2004 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan
Tata Tertib DPRD yang dianggap telah
mengurangi peran BK DPRD. Salah satu pasal
menyebutkan bahwa Rapat Paripurna DPRD
dapat menolak hasil rekomendasi BK DPRD
mengenai hasil penelitian dan pemeriksaan
yang telah dilakukan atas dugaan pelanggaran
yang dilakukan anggota DPRD. Terkait hal ini,
BK mengunjungi DPRD Provinsi Kalimantan
Barat, Bali, dan Gorontalo. Beberapa DPRD
yang dikunjungi BK dalam rangka kunjungan
kerja dalam negeri pada tahun sidang ini
adalah DPRD Provinsi NTB, Sumatera Utara,
dan Kalimantan Tengah.

Pada Tahun Sidang 2008-2009, BK melakukan
kunjungan kerja ke sejumlah DPRD, antara lain
DPRD Provinsi Riau, NAD, dan Sulawesi Utara.

Untuk kunjungan kerja luar negeri, pada 2006-
2007 BK melakukan serangkaian kunjungan
kerja teknis ke Amerika Serikat, Afrika Selatan,
dan Spanyol untuk mendapat masukan
mengenai kode etik/kode perilaku anggota
parlemen di negara tersebut. Demikian juga
pada Tahun Sidang 2007-2008, dalam rangka
mencari masukan mengenai BK dan kode etik/
kode perilaku yang diterapkan di parlemen
negara lain, BK melakukan kunjungan kerja ke
Belgia dan Perancis. Sedangkan pada Tahun
Sidang 2008-2009, hingga semester pertama
tahun 2009, BK telah melakukan kunjungan
kerja teknis luar negeri ke Chekoslowakia,
Inggris, dan Argentina untuk mendapatkan
masukan tentang hal-hal terkait kode etik.

BADAN-BADAN

135

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

BURT dibentuk oleh DPR, yang susunan
keanggotaannya

ditentukan

menurut
perimbangan dan pemerataan jumlah
anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa
keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang.
Penggantian anggota BURT dapat dilakukan
oleh fraksi masing-masing anggota, apabila
anggota dari fraksi tersebut berhalangan tetap
atau fraksinya memiliki pertimbangan lain.

Dalam menjalankan tugasnya, BURT
bertanggung jawab kepada Pimpinan DPR.
Sebagai AKD, BURT bertugas membantu
pimpinan

DPR

dalam

menentukan

kebijaksanaan

kerumahtanggaan

DPR,
termasuk bidang kelembagaan, kesejahteraan,
anggaran dan kesekretariatan. BURT juga
membantu Pimpinan dalam mengawasi
pelaksanaan dan pengelolaan anggaran DPR.

Bidang Anggaran

Di bidang anggaran, BURT bertugas
merencanakan dan menyusun anggaran Dewan
dan anggaran Setjen DPR yang telah disiapkan
AKD dan Setjen DPR. Anggaran DPR dibagi dua
DIPA, yaitu anggaran Dewan dan anggaran Setjen.
Dalam menjalankan tugasnya, BURT bekerja
sama dengan Setjen DPR. Laporan ini tidak
membahas rincian dan besaran anggaran setiap
AKD yang dibahas di BURT, namun memaparkan
sejumlah kegiatan yang menonjol.

• Anggaran Tenaga Ahli

BURT merekomendasikan Pimpinan
DPR pada Tahun Anggaran 2005-2006
untuk mengalokasikan anggaran DPR
untuk membiayai penambahan beberapa
tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu
sesuai bidang komisi. Rekomendasi
ini merupakan hasil dari kunjungan
kerja teknis luar negeri yang dilakukan
BURT, antara lain ke Thailand dan Korea
Selatan. BURT dalam RKA-K/L DPR Tahun
Anggaran 2008 juga mengalokasikan

anggaran untuk perekrutan tenaga ahli
bagi anggota. Dengan demikian, setiap
anggota memiliki satu orang tenaga ahli.
Pelaksanaan teknis perekrutan tenaga ahli
dilaksanakan oleh Setjen DPR.

• Pedoman Penyusunan Anggaran

Dalam rapat dengan Setjen pada Semester
I Tahun 2005, BURT merekomendasikan
agar penyusunan Anggaran Tahun 2006 dan
seterusnya didahului dengan penjabaran
arah dan kebijakan pengelolaan anggaran
DPR. Format penyajian Usulan Anggaran
agar dibuat terarah untuk memudahkan
kontrol serta menjadi tolok ukur terhadap
pelaksanaan anggaran tersebut dan
pengelolaan anggarannya berbasis kinerja.

• Grand Design DPR

BURT menyetujui anggaran untuk kegiatan
awal penataan ulang (Grand Design) komplek
MPR, DPR, dan DPD pada Tahun 2008.
Penataan ulang ini bertujuan memperkuat
monumentalitas dan integritas Master Plan
komplek MPR, DPR, DPD memperjelas
ruang-ruang publik dan privat untuk
keamanan dan kenyamanan serta menata,
mengefektifkan, mengefsienkan ruangan
yang ada menjadi lebih terintegrasi. Selain
itu, penataan ulang ini juga dimaksudkan
untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah
anggota dan tenaga ahli.

• APBN-P

Pembahasan APBN-P Tahun Anggaran
2006 bersama-sama dengan pimpinan
Panggar, pimpinan AKD dan Setjen DPR,
memutuskan:
- Setjen DPR agar melakukan sinkronisasi
terhadap besaran anggaran dan
pelaksanaan APBN-P secara realistis dan
proporsional dengan mempertimbangkan
skala prioritas program dan kegiatan,
serta memperhatikan jangka waktu

5. Badan Urusan Rumah Tangga

BADAN-BADAN

136

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

pelaksanaan APBN-P yang relatif
pendek;
- Setjen DPR agar melakukan optimalisasi
dan efsiensi terhadap pelaksanaan DIPA
Tahun Anggaran 2006 dalam kaitan dengan
APBN-P DPR. Hal ini dimaksudkan agar
hasil optimalisasi dan efsiensi anggaran
yang telah dilaksanakan dalam DIPA
tersebut segera direvisi dan dimanfaatkan
kembali untuk keperluan kegiatan DPR.

• Otonomi Anggaran DPR

BURT dalam kunjungan kerja teknis ke Kanada
dan Rumania pada Tahun Sidang 2007-2008
merekomendasikan anggaran DPR bersifat
otonom dan dikontrol oleh masyarakat. Pada
saat penulisan laporan ini, masalah otonomi
pengelolaan anggaran DPR telah diakomodasi
dalam Rancangan Undang-Undang tentang
Susunan dan Kedudukan.

Tujuan otonomi anggaran adalah untuk
menciptakan kemandirian dalam proses
pembuatan kebijakan-kebijakan terkait
pengelolaan anggaran, baik dalam penyusunan,
pelaksanaan maupun pengawasannya yang
ditempuh melalui perubahan paket peraturan
perundang-undangan keuangan negara.

BURT

juga

merekomendasikan

diterapkannya

sistem

transparansi
dalam pengelolaan anggaran, baik dalam
penyusunan, pelaksanaan, pengawasan
maupun pertanggungjawabannya, sehingga
masyarakat

mengetahui

kebutuhan
DPR dalam melaksanakan tugas-tugas
konstitusionalnya. Pelaksanaan tahap
pertama dari sistem transparansi tersebut
diawali dengan penyusunan format
laporan keuangan yang mudah dibaca dan
dipahami.

• Penyusunan SOP

Bersama Setjen, pada Tahun Sidang
2007-2008, BURT berhasil menyusun
beberapa standard operating procedures
(SOP) dan Pedoman, antara lain tentang

Pedoman Pengelolaan Anggaran DPR, Hak
Keuangan/Administratif, dan Perjalanan
Dinas Pimpinan dan Anggota DPR. Selain
itu, pada Tahun Sidang 2008-2009, BURT
bersama Setjen DPR telah menyusun
pedoman keamanan kawasan gedung DPR
dan perumahan Anggota Dewan. Pedoman
pengelolaan kehumasan dan pengelolaan
informasi masih dalam pembahasan.

• Nomenklatur Baru Penganggaran DPR
Tahun 2009

BURT bersama Setjen pada Tahun Sidang
2007-2008 menyiapkan usulan nomenklatur
baru tentang struktur anggaran sesuai
karakteristik, tugas, fungsi dan wewenang
lembaga legislatif yang telah dibahas
bersama dengan Bappenas, Ditjen Anggaran,
dan Ditjen Perbendaharaan Negara.
Kesimpulannya, DPR dapat melakukan
perubahan Nomenklatur Program dan
Kegiatan DPR Tahun 2009 dengan terlebih
dahulu mengevaluasi RKA-K/L/DIPA Tahun
2008 serta mengajukan program/kegiatan/
sub-kegiatan yang dilengkapi keluaran
(output) dan hasil (outcome) dan sasaran
sesuai PP Nomor 20 dan 21 Tahun 2004.

• Klasifkasi Anggaran

Pengklasifkasian anggaran di setiap
fungsi Dewan sangatlah penting untuk
mencegah terjadinya ketimpangan dalam
pengalokasian anggaran. Oleh karena itu,

BURT saat menerima

delegasi dari

House Democracy

Assistance

Commission (HDAC),

Juli 2009

BADAN-BADAN

137

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

dalam rapat evaluasi DIPA Tahun Anggaran
2007 Triwulan I, BURT mendesak agar
penggunaan anggaran diklasifkasikan
sesuai fungsi Dewan, yaitu fungsi legislasi,
anggaran, dan pengawasan.

Pada Tahun Sidang 2007-2008, BURT
meminta Setjen DPR untuk lebih intensif
dalam menyempurnakan dan menertibkan
administrasi, lebih efsien dan transparan
dalam penggunaan APBN sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku agar
tercapai penggunaan anggaran yang
tepat sasaran dan tepat guna baik secara
kuantitas maupun kualitas.

Bidang Pengawasan

Dalam bidang pengawasan, BURT mengawasi
pelaksanaan dan pengelolaan anggaran DPR
maupun pelaksanaan dan pengelolaan lain
yang dilakukan Setjen DPR. Berikut ini adalah
kegiatan pengawasan menonjol yang dilakukan
BURT selama Periode 2004-2009.

• Penyerapan Anggaran

Penyerapan Anggaran Setjen DPR
Semester I Tahun 2005 belum optimal
sehingga diperlukan mekanisme yang
terukur untuk penggunaan Anggaran Tahun
2005 agar Anggaran Tahun 2005 dapat
diserap secara efektif, efsien, dan dapat
dipertanggungjawabkan.

• DIPA Bertanda Bintang

Mengenai beberapa kegiatan dalam DIPA
DPR dan Setjen DPR pada Tahun Anggaran
2006 yang mendapat tanda bintang, BURT
telah menyelesaikan permasalahan ini
dengan Depkeu. Tanda bintang dalam
alokasi anggaran adalah anggaran yang
pada prinsipnya sudah disetujui, namun
memerlukan pendukung dan/atau landasan

hukum untuk merealisasikannya.

Bidang Kesejahteraan

BURT membantu Pimpinan DPR dalam

menentukan

kebijaksanan

terkait
kerumahtanggaan DPR, termasuk kesejahteraan
anggota DPR dan pegawai Setjen DPR. Berikut
ini adalah sejumlah kegiatan, keputusan dan
rekomendasi dari BURT mengenai kesejahteraan
selama Periode 2004-2009.

Take Home Pay

BURT membentuk Tim Perancang Take
Home Pay
pada Tahun Sidang 2004-2005
yang bertugas mengkaji, mengevaluasi,
dan membuat rencana strategi untuk
memperjuangkan kesejahteraan anggota
DPR dan pegawai Setjen, serta merancang
agenda-agenda yang lebih komprehensif
untuk tahun-tahun berikutnya.

• Rumah Jabatan Anggota

BURT dalam rapatnya tanggal 23-25 Juni
2006 telah memutuskan untuk membuat
surat kepada pimpinan DPR mengenai
keberadaan Kompleks Rumah Jabatan
Anggota di Kalibata yang sudah tidak layak
huni bagi pejabat negara. Dengan demikian,
diperlukan keputusan politik dan teknis
pelaksanaan perubahan keberadaan Rumah
Jabatan Anggota (RJA). Keputusan politik
tersebut disampaikan ke pimpinan Dewan
untuk dibahas lebih lanjut dengan pimpinan
fraksi-fraksi. Setjen diminta menindaklanjuti
hasil keputusan tersebut. Pada Tahun Sidang
2007-2008, BURT menyetujui perbaikan
menyeluruh RJA Kalibata dengan mengacu
kepada Hasil Keputusan Rapat Konsultasi
Pimpinan DPR dengan pimpinan fraksi-fraksi
serta pimpinan BURT tanggal 2 Oktober
2007. Perbaikan RJA mulai dilaksanakan
pada Tahun Sidang 2008-2009. Dengan
dilaksanakannya pembangunan tersebut
maka para anggota Dewan yang menempati
RJA tersebut diberikan bantuan akomodasi
sebesar Rp 15 juta per bulan sebelum
dipotong pajak.

• Asuransi Kesehatan

Dalam rapat-rapat dengan PT Askes
diputuskan sebagai berikut:

BADAN-BADAN

138

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

- Untuk Tahun Anggaran 2007 perlu
peningkatan

fasilitas

pelayanan
ansuransi kesehatan bagi nggota DPR
beserta anggota keluarganya melalui
pengalokasian anggaran yang memadai
sehingga dapat mengakomodasikan
pelayanan kesehatan di dalam maupun
di luar negeri;
- Sistem pelayanan asuransi kesehatan
memerlukan berbagai terobosan yang
dapat memberikan kepastian dan
kemudahan, antara lain surat rujukan,
pemenuhan obat-obatan, dan pelayanan-
pelayanan yang dibutuhkan seperti
Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan
CAT Scan;
- Dalam evaluasi pelaksanaan Program
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Anggota DPR Beserta Anggota
Keluarganya Tahun 2007 diputuskan,
antara lain:
~ Setjen khususnya Unit Pelayanan
Kesehatan

(YANKES)

agar
menyediakan obat-obatan di
luar Daftar Plafon Harga Obat
(DPHO) yang dibutuhkan anggota
DPR sesuai indikasi medis; dan
bersama-sama PT ASKES (Persero)
memperbaiki

administrasi

pembayaran klaim;

~ PT ASKES (Persero) agar
menyediakan sistem pelayanan
khusus bagi Anggota DPR sebagai
pemegang Kartu Platinum dan
Rumah Sakit Provider memiliki
database peserta PT ASKES,
khususnya pemegang Kartu
Platinum.
- Pada Tahun Sidang 2008-2009, BURT
menyetujui perpanjangan kontrak
antara Sekjen DPR dan PT ASKES dalam
rangka peningkatan pelayanan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi anggota
Dewan beserta anggota keluarganya.

Kunjungan Kerja Teknis Luar
Negeri BURT

BURT melakukan sejumlah kunjungan
kerja teknis ke luar negeri pada Periode
2004-2009 dalam rangka mencari masukan
untuk perbaikan mekanisme kerja di BURT
dan peningkatan kinerja DPR. Negara yang
dikunjungi antara lain Thailand, Korea Selatan,
Qatar, Mesir, Finlandia, Jepang, Kanada,
Rumania, Australia, Afrika Selatan, Irlandia,
Hongaria, Rusia, dan Amerika Serikat.

Anggota BURT saat

bertemu dengan

Ketua Partai

Demokrat, Juni 2009

H. PIMPINAN DPR

139

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Pimpinan DPR merupakan satu kesatuan
pimpinan yang bersifat kolektif yang terdiri
atas satu (1) orang Ketua dan tiga (3) orang
Wakil Ketua, yang semuanya dipilih dari dan
oleh anggota dalam Rapat Paripurna. Untuk
Periode 2004-2009, Pimpinan DPR RI diketuai
oleh H.R. Agung Laksono dari unsur FPG,
sedangkan Wakil Ketua DPR adalah Soetardjo
Soerjogoeritno dari unsur FPDIP, A. Muhaimin
Iskandar dari unsur FKB, dan Zainal Ma’arif
dari unsur FBR.

Jajaran pimpinan ini dibagi berdasarkan tugas
masing-masing:
• Ketua H.R. Agung Laksono mempunyai
tugas yang bersifat umum dan mencakup
semua bidang koordinasi;
• Wakil Ketua Soetardjo Soerjogoeritno
mempunyai tugas sebagai Korpolekku yang
membidangi ruang lingkup tugas Komisi I,
Komisi II, Komisi III, Komisi XI, BKSAP, dan
Panggar;
• Wakil Ketua A. Muhaimin Iskandar
mempunyai tugas sebagai Koordinator
Bidang Industri Perdagangan dan
Pembangunan (Korindagbang) yang
membidangi ruang lingkup tugas Komisi
IV, Komisi V, Komisi VI, Komisi VII dan
Badan Legislasi;
• Wakil Ketua Zainal Ma’arif, adalah Korkesra
yang membidangi ruang lingkup tugas

Komisi VIII, Komisi IX, Komisi X, BURT, dan
Badan Kehormatan. Pada tahun sidang
ketiga, posisi ini dikosongkan menyusul
dilakukannya PAW kepada Zainal Ma’arif;

Secara umum, tugas para Pimpinan DPR
adalah memimpin sidang-sidang dan
menyimpulkan hasil sidang untuk diambil
keputusan; menyusun rencana kerja dan
mengadakan pembagian kerja antara Ketua
dan Wakil Ketua; menjadi juru bicara DPR;
melaksanakan

dan

memasyarakatkan
keputusan DPR; berkonsultasi dengan
Presiden dan Pimpinan Lembaga Negara
lainnya sesuai keputusan DPR; mewakili DPR
dan/atau AKD di pengadilan; melaksanakan
keputusan DPR berkenan dengan penetapan
sanksi atau rehabilitasi anggota sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; menetapkan arah, kebijakan umum
dan strategi pengelolaan anggaran DPR; dan
mempertanggungjawabkan

pelaksanaan

tugasnya dalam Rapat Paripurna DPR.

Rapat Paripurna

Sebagaimana diketahui, tugas ketua lebih
bersifat umum dan mencakup semua bidang
koordinasi. Salah satu tugas utamanya pada
setiap masa sidang adalah memimpin Rapat
Paripurna pembukaaan dan penutupan masa
persidangan yang rutin dilaksanakan empat

Wakil Ketua DPR

Muhaimin Iskandar

menerima delegasi

dari negara sahabat,

2005

PIMPINAN DPR

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

140

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

kali setiap Tahun Sidang, Rapat Paripurna HUT
DPR/MPR RI setiap tanggal 29 Agustus, setiap
awal Tahun Sidang, Rapat Paripurna Hasil
Pemeriksaan Semester (Hapsem) BPK. Dalam
memimpin Rapat Paripurna, Ketua DPR kerap
kali didampingi para Wakil Ketua lainnya yang
tidak jarang juga menggantikan peran Ketua
DPR dalam memimpin Rapat Paripurna.

Kunjungan Kerja Teknis Dalam
Negeri

Kunjungan kerja di dalam negeri sering dilakukan
pimpinan Dewan ke berbagai daerah. Hal
tersebut dilakukan antara lain untuk memperoleh
masukan, memantau dampak bencana alam atau
memantau dampak kebijakan Pemerintah yang
menimbulkan gejolak di masyarakat. Kunjungan
juga dimaksudkan untuk melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan UU.

Kunjungan Luar Negeri

Selama Periode 2004 – 2009 pimpinan Dewan
telah melakukan kunjungan muhibah maupun
menghadiri konferensi regional/internasional
ke beberapa negara. Kunjungan tersebut
antara lain menghadiri Sidang Umum AIPO di
Vientiane-Laos, Sidang Umum IPU di Geneva-
Swiss, Indonesian Forum of Parliamentarians
on Population and Development (IFPPD),
Sidang Umum AAPP di Thailand, kunjungan
Muhibah DPR RI ke China, Muhibah ke Iran dan
Emirat Arab, Muhibah ke Kamboja, Muhibah ke
Malaysia dan Brunei Darussalam, Muhibah
ke Republik Korea, Sidang IPU di Nairobi,
dan Muhibah ke Rusia, ke Arab Saudi untuk
memimpin Tim Pengawas Pelaksanaan Ibadah
Haji, dan ke Kanada dalam rangka Kunjungan
Tim Peningkatan Kinerja DPR.

Menerima Tamu dan Delegasi
dari Dalam dan Luar Negeri

Pimpinan DPR selama Periode 2004-2009
telah menerima berbagai delegasi tamu
baik dari dalam negeri maupun dari luar
negeri. Kedatangan delegasi tamu dari dalam

negeri biasanya dilakukan dalam kerangka
menyampaikan aspirasi baik merupakan
tuntutan maupun dukungan kepada Pimpinan
Dewan. Delegasi tamu tersebut bisa datang
dari kelompok atau lembaga masyarakat.

Selain tamu dalam negeri, Pimpinan DPR
menerima berbagai delegasi dari berbagai
negara sahabat dengan berbagai macam
agenda. Selama 2004-2009 kunjungan dari
luar negeri antara lain kunjungan kehormatan
Delegasi Parlemen Malaysia; kunjungan
kehormatan Parlemen Iran; delegasi Eropa
yang tergabung dalam Delegation for Relations
with the Countries of ASEAN
; kunjungan Ketua
Persatuan Umat Islam Internasional, Sheik
Dr. Yusuf Qardhawi; delegasi Parlemen Timor
Leste; kunjungan utusan khusus PBB Pelapor
Anti-Penyiksaan Manfred Nowak; kunjungan
Presiden Hungaria; kunjungan Pimpinan Hanns
Seidel Foundation; delegasi dari Lembaga Kerja
Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-
Cina; delegasi Parlemen Australia; delegasi
Perwakilan World Bank di Indonesia; dan
kunjungan kehormatan Parlemen Australia.

Wakil Ketua DPR

Bidang Korkesra

Zainal Ma’arif

menerima delegasi

dari PGRI Sejateng,

2007

141

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

Sejak digulirkannya reformasi, DPR
berperan sebagai rumah rakyat. Masyarakat
menganggap lembaga DPR sebagai tempat
memperjuangkan

kepentingan

mereka
karena DPR bagi mereka merupakan upaya
terakhir untuk menyampaikan aspirasi dan
permasalahan yang dihadapi. Artinya, masih
ada kepercayaan dan harapan masyarakat
terhadap lembaga perwakilan rakyat untuk
memperjuangkan aspirasi mereka.

DPR dan publik perlu menjalin komunikasi dua
arah karena kedua pihak saling membutuhkan.
Di satu sisi, DPR adalah penyambung lidah
masyarakat dan di sisi lain masyarakat menaruh
harapan besar kepada lembaga negara ini.
Apabila aspirasi masyarakat ini tidak ditangani
secara sungguh-sungguh, maka kredibilitas
dan kinerja DPR sebagai lembaga perwakilan
rakyat akan dipertanyakan masyarakat, dan
hal ini merupakan ujian bagi eksistensi Dewan
dalam menangani aspirasi masyarakat. Untuk
itu diperlukan mekanisme dan sistem yang
mengatur hal tersebut.

Pada dasarnya, kegiatan DPR selama ini
sudah mencerminkan pemenuhan tuntutan
akan keterbukaan. DPR baik secara individu
maupun lembaga memiliki peran yang
sangat penting dalam menampung dan
menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan

masyarakat, sebagaimana diatur dalam Pasal
164 Peraturan Tata Tertib DPR RI serta Pasal
26 dan 29 Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD.

Untuk menampung aspirasi masyarakat, DPR
melakukan:
1. Kunjungan kerja yang dilakukan pada masa
reses yang terdiri dari:
a. Perseorangan, yaitu kunjungan yang
dilakukan anggota ke daerah pemilihannya
untuk berkomunikasi dengan konstituen;
b. Kelompok, yaitu kunjungan kerja yang
dilakukan komisi, gabungan komisi,
Pimpinan DPR, dan AKD lainnya.
2. RDPU, yaitu rapat antara komisi atau
gabungan komisi, Baleg, Panggar, atau
Pansus dengan perseorangan, kelompok,
organisasi atau swasta, baik atas
undangan pimpinan atau permintaan yang
bersangkutan.

Selain mekanisme di atas, publik juga bisa
menyampaikan aspirasi terkait hal khusus.
Aspirasi yang terkait perundang-undangan bisa
disampaikan melalui anggota DPR yang berada
di komisi, Pansus, Baleg, fraksi, atau Deputi
Bidang Perundang-undangan Setjen. Sementara
aspirasi terkait pengaduan pelanggaran etika
Dewan dapat disampaikan ke BK.

I. Partisipasi Publik dan Pembinaan
Hubungan Dewan dengan Publik

Penyampaian aspirasi

masyarakat yang

dilakukan dengan

menggelar aksi di

depan kompleks

Gedung DPR RI

Laporan Lima Tahun DPR RI 2004-2009

142

Mengemban Amanat dan Aspirasi Rakyat

a. Pengaduan Secara Langsung

Masyarakat yang akan menyampaikan
aspirasi/pengaduan secara langsung dapat
menghubungi Bagian Humas DPR RI pada
hari kerja pukul 09.00-16.00 WIB dengan
jumlah perwakilan delegasi maksimal 50
orang.

Delegasi masyarakat yang langsung datang
ke DPR dan diterima Pimpinan Dewan untuk
menyampaikan aspirasinya selama Periode
2004-2009 terbagi atas beberapa bidang
dan asal delegasi. Jumlah yang datang
pada periode lima tahun terakhir relatif
berfuktuatif seperti terlihat dalam tabel 1
berikut ini.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa kasus
yang paling sering disampaikan secara
langsung ke gedung DPR adalah masalah
politik, termasuk pemekaran daerah. Daerah
asal delegasi yang paling sering mendatangi
langsung gedung Dewan adalah dari DKI
Jakarta dan Jawa Barat.

Akses Bagi Publik

DPR membuka kesempatan luas bagi publik
untuk mendapatkan informasi. Untuk itu Setjen
telah menyediakan media informasi publik
melalui situs www.dpr.go.id yang berisi antara
lain sejarah DPR, tatib, berita terbaru, jadwal
sidang, profl anggota, AKD, hingga risalah
sidang. Situs ini sebagian sudah dilengkapi
dengan bahasa Inggris. Publik juga dapat
mengikuti persidangan yang sifatnya terbuka,
yakni rapat kerja komisi, secara langsung.
Publik yang berminat mengikuti persidangan-
persidangan di DPR dapat meminta keterangan
lebih lanjut mengenai jadwal dan informasi
lainnya ke Bagian Hubungan Masyarakat
(Humas) DPR di telepon (021) 5715346/5715349

Pengaduan Publik

Ada dua jenis pengaduan yang dikelola DPR,
yaitu pengaduan langsung dan pengaduan
tertulis.

BIDANG

Jumlah Kasus

ASAL

2004-
2005

2005-
2006

2006-
2007

2007-
2008

2008-
2009*

Total
2004-
2009

Politik

10

14

11

10

2

47

DKI, Batam, Irjabar, Aceh,
Banten, Porong Sidoarjo,
Surakarta, Papua, Maluku
Utara, Kab Tan Toraja,
kab Rokan Hulu, Timika,
Kab Ala dan Abas, Buton,
Forum Perjuangan Kaukus
Nusantara

Ekonomi

8

0

1

1

1

11

LSM Peduli Tani Nasional

Pendidikan

5

4

4

1

0

14

DKI Jakarta, Jateng Sulut,
Universitas Nasional

Sosial/
Budaya

3

5

3

2

1

14

DKI, Jateng, Sulawesi
Tengah, Jatim, DIY, Jabar

Hukum

1

4

3

0

0

8

DKI

Agama

0

1

1

1

0

3

Jatim, DKI Jakarta, Forum
Umat Islam

Jumlah

27

28

23

15

4

97

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->