Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN FIELDTRIP TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN HORTIKULTURA

Oleh: Indanus Faried Nugroho Bagus Harits Arga P.H. Chaerunnisa Rahadyan Rizki Indrawan 0910483016 105040200111001 105040200111002 105040201111003

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN MALANG 2013

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Seperti yang kita ketahui, tanaman hortikultura merupakan salah satu komoditas tanaman unggulan di Indonesia. Kontribusi tanaman hortikultura ini terhadap manusia tidak dapat dipandang sebelah mata. Manfaat tanaman hortikultura tidak hanya sebagai sumber pangan dan gizi akan tetapi juga sebagai pendapatan keluarga, mempunyai nilai estetika, terdapat konservasi genetik yang sekaligus berperan sebagai penyangga kelestarian alam. Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal sebagai negara yang mempunyai beragam plasma nutfah, juga termasuk di dalamnya mempunyai berbagai jenis tanaman hortikultura, yaitu meliputi Sayuran, buah-buahan dan tanaman hias. Berbagai jenis tanaman hortikultura ini kebanyakan dinikmati dalam keaadaan segar (fresh) seperti buah-buahan dan sayuran. Begitupun tanaman hias, tanaman hias ini dinikmati dalam keaadaan yang masih segar kebanyakan daun dan bunga. Pada fieldtrip kali ini ada 4 komoditas yang diamati yaitu apel, jamur, terong belanda dan tanaman hias. Dari semua komoditas tersebut yang kami amati adalah teknis budidaya dari keempat komoditas tersebut. Informasi yang didapatkan dengan melakukan wawancara dengan pihak yang bersangkutan atau petani.

1.2. Tujuan Mengetahui teknik budidayadari komoditas apel Mengetahui teknik budidayadari komoditas jamur Mengetahui teknik budidayadari komoditas terong belanda Mengetahui teknik budidayadari komoditas tanaman hias

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teknik Pemeliharaan Tanaman Apel Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini. Oleh karena itu apabila ingin memperoleh hasil/ produksi yang maksimal, pertanaman apel memerlukan pemeliharaan yang optimal. Beberapa perlakuan pemeliharaan apel dapat dicermati pada tahapan berikut ini : Penyulaman Dilakukan pada tanaman yang mati atau dimatikan karena tidak menghasilkan buah. Caranya dengan menanam tanaman baru atau menyulam tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan. Penyiangan Dilakukan apabila di sekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dapat mengganggu tanaman. Penyiangan juga tergantung dari jarak tanam apel. Pada kebun apel dengan jarak tanam yang rapat ( 3m x 3 m), penyiangan hampir tidak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh. Sedangkan jarak tanam apel yang agak luas (lebih dari 3 m x 3 m), penyiangan dilakukan bila gulma benar-benar mengganggu pertumbuhan dan keindahan. Pembumbunan Biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan dimana penyiangan diikuti dengan pembumbunan tanah. Pembumbunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah di sekitar tanaman apel agar tidak tergenang air dan juga untuk menggemburkan tanah. Pembumbunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dengan pemupukan. Pemangkasan/perompesan Dilakukan apabila benih sudah tumbuh setinggi 80 cm atau tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, selain itu pemangkasan dilakukan pada, tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk 4 - 6 mata dan bekas tangkai buah kanopi yang tidak subur, cabang yang

berpenyakit dan tidak produktif, cabang yang menyulitkan pelengkungan ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yang diinginkan (4 tahun - 5 tahun). Perompesan dilakukan untuk mematahkan masa dorman di daerah beriklim sub tropis/ sedang. Di daerah tropis perompesan dilakukan untuk menggantikan musim gugur di daerah iklim sub tropis. Perompesan dilakukan baik secara manual oleh manusia menggunakan tangan 10 hari setelah panen maupun dengan menyemprotkan bahan kimia seperti urea 10 % ditambah ethrel 5000 ppm yang diberikan 1 minggu setelah panen 2 kali dengan selang satu minggu. Drainase dan Penyiraman Untuk pertumbuhannya, tanaman apel memerlukan pengairan yang memadai sepanjang musim. Pada musim penghujan masalah kekurangan air tidak ditemui tetapi harus diperhatikan jangan sampai tanaman terendam air. Karena itu perlu drainase yang baik. Sedangkan pada musim kemarau masalah kekurangan air harus diatasi dengan cara menyirami tanaman sekurang-kurangnya 2 minggu sekali dengan cara dikocor. Pelengkungan Cabang Setelah dirompes dilakukan pelengkungan cabang untuk meratakan tunas lateral dengan cara menarik ujung cabang dengan tali dan diikatkan ke bawah. Tunas lateral yang rata akan memacu pertumbuhan tunas yang berarti memacu terbentuknya buah. Penjarangan Buah Penjarangan dilakukan untuk meningkatkan kualitas buah yaitu besar buahnya seragam, kulit baik, dan sehat. Caranya dilakukan dengan membuang buah yang tidak normal (terserang hama penyakit atau kecil-kecil). Untuk mendapatkan buah yang baik satu ranting hendaknya berisi 3 - 5 buah. Pembelongsongan buah/Penutupan Buah Pembelongsongan atau penutupan buah dilakukan 3 bulan sebelum panen dengan menggunakan kertas minyak berwarna putih sampai ke abu-abuan/ kecoklatcoklatan yang bawahnya berlubang. Tujuannya agar buah terhindar dari serangan burung dan kelelawar serta menjaga warna buah agar tetap mulus.

(Purwanti, 2006)

2.2 Macam Pengolahan Hasil Apel 2.1.1. Dodol Apel Apel (Malus sylvestris Mill) adalah tanaman tahunan yang berasal dari daerah subtropis. Pada industri pengolahan sari apel, biasanya akan didapatkan limbah padat sari apel yang tidak termanfaatkan. Pemakaian gula merah dalam pengolahan ini diharapkan selain dapat memberikan rasa manis, aroma harum, gula merah juga dapat memberikan sumbangan warna yang menarik sesuai untuk produk dodol apel di pasaran (kecoklatan). Pada pengolahan dodol limbah padat sari apel ini, tepung ketan digunakan sebagai bahan campuran dan pengikat agar diperoleh tekstur plastis yang dikehendaki. Untuk itu, tepung ketan digunakan sebagai salah satu perlakuan. Adapun tujuan yang diinginkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara penambahan gula merah yang berbeda dan proporsi limbah padat sari apel : tepung beras ketan yang berbeda terhadap kualitas dodol apel. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing perlakuan terhadap kualitas dodol apel. ( Wijaya, 2006 )

2.1.2. Keripik Apel Salah satu produk olahan buah segara yang banyak dijumpai di pasaran adalah keripik buah. Keripik buah adalah makanan ringan yang memiliki kadar air rendah, renyah, serta memiliki cita rasa buah yang menjadi bahan baku utamanya. Keripik apel adalah keripik hasil olahan buah apel yang digoreng dengan cara khusus, biasanya menggunakan mesin penggoreng hampa. Jika menggunakan cara penggorengan biasa yakni dengan menggunakan kuali/wajan buah apel tidak akan menjadi keripik karena buah akan rusak terkena suhu panas yang berlebih. Dengan menggunakan mesin penggoreng hampa buah apel

digoreng dengan suhu yang lebih rendah sekitar 50-60C sehingga tidak merusak buah apel tersebut (wiki, 2011) 2.3 Teknik Budidaya Terong Belanda Umumnya budidaya terong belanda banyak ditumpang sarikan dengan tanaman jeruk, kopi dan cabai. Petani melakukan penanaman secara tumpangsari degan tujuan untuk memperoleh pendapatan tidak hanya dari satu jenis tanaman saja. Umur produktivitas yang rendah membuat tanaman terong belanda ini sering ditumpang sarikan dengan tanaman lainnya. Teknik budidaya yang dilakukan oleh petani dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu: Penyiapan Bibit dilakukan penyemaian benih terong pada seedling tray atau polybag hingga umur 1 bulan kemudian dipindahkan ke lapangan karena sudah mempunyai perakaran yang cukup kuat. Pengolahan Tanah ditujukan untuk menciptakan kondisi pertanaman yang ideal bagi tanaman itu sendiri, yakni lahan yang gembur sehingga memnerikan kemudahan bagi tanaman dalam menyerap unsur hara dari dalam tanah. Lahan yang akan digunakan dibersihkan dari gulma/tanaman yang berpotensi mengganggu prtumbuhan Terong Belanda. Tahapan selanjutnya yaitu menggemburkan tanah dengan dicangkul. Setelah gembur dan terbebas dari gumpalan-gumpalan tanah, akar pohon dan bebatuan serta kotoran lainnya, tanah dirasakan dan kemudian dibuat bedengan. Tujuan dari pembedengan untuk mengalirkan air hujan agar tanaman tidak tergenang dan di setiap bedengan diberi jarak sebagai jalan. Pembuatan Lubang Tanam ukuran lubang tanam Terong Belanda adalah 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 2 x 3 meter untuk monokultur. Jumlah dalam 1 bedengan sebanyak 45 lubang. Bagi pembudidayaan yang dilakukan secara tumpang sari, maka di antara lubang tanam Terong Belanda akan dibuat lubang tanaman lainnya dan diberi jarak tanam tertentu. Hal ini dilakukan untuk memberi jarak bagi kedua tanaman agar tidak terjadi persaingan dalam memperoleh air, makanan dan pupuk. Pembuatan lubang tanam dilakukan sebelum proses pemasangan mulsa plastik.

Pemasangan Mulsa bertujuan untuk menutupi permukaan tanah bedengan, terbuat dari plastik dengan warna perak di atas dan hitam di bawah. Dengan menggunakan mulsa maka diharapkan tanah dan tanaman akan memperoleh keuntungan sebagai berikut: Erosi dapat dikurangi karena air hujan yang jatuh tidak langsung mengeai butiran-butiran tanah Suhu dan kelembapan tanah terjaga teratur karena tidak terjadi perubahan secara drastis Gangguan gulma dapat dikurangi Pemasangan musa sepanjang 90 meter per bedengnya dilakukan dengan cara menutupi tanah dengan mulsa dan di setiap sudut bedengan diberi ajir untuk menahan mulsa, setelah itu dilakukan pelubangan mulsa. Cara pelubangannya dengan alat kayu yang ujungnya telah diberi kaleng (bentuk lingkaran) dengan diameter 10-12 centimeter. Kaleng harus dipanaskan terlebih dahulu lalu dicapkan pada lembaran plastik yang telah digelar diatas bedengan. Penanaman dilakukan pada umur tanaman 3 bst. Pemindahan tanaman dari polybag ke lubang tanaman diusahakan tidak menyebabkan kerusakan pada perakaran tanaman. Setelah peanaman dilakukan, sebagian daun dikurangi yang bersisa adalah daundaun pada bagian pucuk, tujuannya untuk mengurangi aju transpirasi. Waktu penanaman yang terbaik dilakukan pada pagi hari. Pemasangan Ajir/Penyangga ajir dipasang terbuat dari bambu dengan ukuran 1 meter, tujuannya untuk menghindari patahnya batang tanaman bahkan robohnya tanaman karena tanaman Terog Belanda merupakan tanaman dengan perakaran yang kurang kuat sehingga terkadang mudah roboh karena terpaan angin. Tanaman yang telah dewasa akan diikat pada ajir dengan menggunakan seutas tali plastik. Pengairan Tanaman Terong Belanda tidak terlalu memutuhkan banyak air, asalkan tanah tidak sampai kering ataupun tergenang. Pengairan yang dilakukan tergantung pada kondisi cuaca, apabila musim hujan maka pengairan hanya berasal dari air hujan. Pemupukan pemberian pupuk dasar yang diberikan dalam lubang tanaman terdiri dari pupuk kandang 1kg, TSP, ZA dan KCL dengan takaran 50 gram/lubang tanaman. Dilakukan setiap 3 bulan sekali. Dosis pemberian setelah 3 bulan pertama yaitu pupuk

kandang 2kg, Urea 100 gram dan TSP, ZA, KCL sebanyak 100 gram/tanaman. Berikutnya diberikan dengan dosis pupuk kandang 2kg dan TSP, ZA, KCL sebanyak 200 gram/tanaman. DIberikan dengan sistem tugal dengan pupuk diberikan melingkar sekeliling pangkal batang. Pembuatan lubang lingkaran menggunakan kayu atau bamboo yang telah diruncingkan, kemudian tanah ditutup kembali agar pupuk tidak terikut air pada saat hujan ataupun menguap saat terkena sinar matahari langsung. Penyiangan berfungsi untuk mengurangi efek negatif gulma, berkaitan dengn persaingan unsur hara, air dan cahaya matahari tanaman budidaya dengan gulma yang dapat mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh optimal yang pada akhirnya berakibat pada produktivitas tanaman yang rendah. Teknik penyiangan dilakukan menggunakan tangan atau sabit bergerigi. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama yang sering menyerang tanaman terong belanda adalah kutu daun (Aphis cucurbtii), kutu thrips (Thrips tabaci) dan ulat pemakan daun, sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah busuk leher akar yang menyebabkan pangkal batang menjadi busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan aplikasi pestisida Antrocol, Kocide 55, Meotrin dan Curacron. Panen dan Pasca Panen Panen pertama dilakukan pada saat tanaman telah berumur 9 bulan. Buah yang siap dipanen ditandai dengan kulit buah yang berwarna merah kekuningan atau ungu tua dengan teksur agak lunak bila ditekan dengan jari tangan. Pemanenan dilakukan dengan memetik langsung dengan tangan, sedangkan peralatan beko digunakan untuk membawa hasil panen dari pohon ke tempat pengumpulan buah. Jika buah yang akan dipanen sulit dijangkau maka digunakan alat pengait untuk menggapainya. Harus dilakukan dengan hati-hati sebab batang tanaman ini mudah sekali patah. Buah yang sudah dipanen kemudian disortasi terlebih dahulu sebelum dipasarkan. Setelah panen, buah terong belanda ditempatkan ke dalam kerung goni ataupun kardus dan tidak melakukan proses pembersihan. Khusus untuk pengemasan kardus harus diberikan lapisan Koran sebagai alas dasar kotak, tujuannya untuk mengurangi potensi kerusakan yang dialami buah selama proses penyimpanan dan pengiriman produk. (Soetasad dan Muryanti, 2003; Wahyuni, 2007)

2.5 Teknik Pengelolahan Pasca Panen Bunga Potong Tahapan pengelolaan pasca panen tanaman hias bunga potong untuk mengurangi tingkat kerusakkan. 1. Pemanenan Waktu panen yang paling baik adalah pada pagi hari, pukul 06.00-08.00. Panen bunga juga bisa dilakukan pada sore hari akan tetapi bunga yang telah dipotong sebaiknya diperlakukan secara khusus, yaitu pangkal tangkai bunga harus direndam di dalam air yang dicampur dengan suatu bahan nutrisi tanaman, misalnya gula (glukosa), agar bunga tidak cepat layu.

2. Pengumpulan bunga yang telah dipotong Bunga-bunga yang telah dipotong langsung dikumpulkan di dalam wadah (tempat bunga) yang sesuai dengan kebutuhan setiap jenis bunga. Tempat bunga tersebut hendaknya disimpan pada suatu tempat yang teduh dan aman, terhindar dari percikan air atau kotoran lainnya, sehingga bunga terjaga dari kerusakan yang dapat menurunkan kualitas bunga.

3. Pengangkutan ke Tempat Sortasi Setelah selesai dikumpulkan, bunga diangkut ke tempat sortasi untuk disortir dan diseleksi. Di tempat sortasi, bila waktu untuk melakukan sortir bunga masih lama, sebaiknya pangkal tangkai bunga direndam dulu di dalam bak berisi air bersih agar bunga tidak cepat layu.

4. Pembungkusan dibungkus dengan kertas atau plastik pembungkus sesuai dengan jenis bunga yang akan dibungkus. Pembungkusan ini bertujuan untuk menjaga agar bunga terhindar dari kerusakan (lecet-lecet) sehingga kualitas bunga tetap terjaga.

5.Perendaman dengan Larutan Sebagai Pengawet Pengawetan bertujuan untuk memperpanjang kesegaran bunga potong. Zat pengawet digunakan pada empat macam perlakuan yaitu : conditioning, pulsing, holding, dan pembukaan kuncup. 6.Penyimpanan Penyimpanan sementara dilakukan untuk penyimpanan bunga dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 hari) bunga bisa disimpan pada suhu ruang dengan merendam pangkal tangkainya di dalam bak berisi air bersih. Penyimpanan untuk persediaan (stok) dilakukan untuk jangka waktu yang agak lama bunga harus disimpan di dalam ruang penyimpanan berpendingin (cold storage) dengan temperatur sekitar 50C dan kelembaban udara yang tinggi, sekitar 90%.

7. Pengepakan Untuk pengiriman ke tempat penjualan, bunga harus dikemas dalam kardus/karton atau kontainer plastik yang berukuran sesuai dengan panjang maksimal bunga, sehingga bunga bisa diatur rapi dan tetap terjaga kualitasnya. (Tri ari listiani , 2013) 2.6 Teknik Budidaya Jamur 2.6.1 Persiapan Penanaman Jamur Tiram Sebelum melakukan penanaman, hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus sudah tersedia, diantaranya rumah kumbung baglog, rak baglog, bibit jamur tiram, dan peralatan budidaya. Usahakan budidaya jamur tiram menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaat peralatan dapur. Untuk mengoptimalkan hasil dalam usaha budidaya jamur tiram di dataran rendah dapat dilakukan dengan modifikasi terhadap bahan media dan takarannya, yakni dengan menambah atau mengurangi takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Dalam usaha skala kecil, eksperimen dalam menentukan takaran bahan media merupakan hal yang sangat penting guna memperoleh takaran yang pas. Hal ini mengingat jamur yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh berbeda tentu membutuhkan nutrisi dan media yang berbeda pula tergantung pada

kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing. Sebagai media tumbuh jamur tiram, serbuk gergaji berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi jamur. Kayu yang digunakan sebaiknya kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen jamur tiram. Hal ini karena kayu keras banyak mengandung selulosa yang dibutuhkan oleh jamur. Jenis-jenis kayu keras yang bisa digunakan sebagai media tanam jamur tiram antara lain sengon, kayu kampung, dan kayu mahoni. Untuk mendapatkan serbuk kayu pembudidaya harus memperolehnya ditempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media biasanya sebuk kayu harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan serbuk kayu dilakukan dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama 1-2 hari. Pengomposan berlangsung dengan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50 derajat C. Alternatif bahan yang bisa digunakan untuk mengganti serbuk kayu adalah berbagai macam ampas, misal ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, dan ampas teh. Namun, berdasarkan pengalaman petani jamur tiram di dataran rendah, media yang baik untuk digunakan tetap serbuk gergaji kayu. Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Sebelum membeli dedak dan tepung jagung, sebaiknya pastikan dahulu bahan-bahan tersebut masih baru. Jika memakai bahan yang sudah lama dikhawatirkan sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat pada tumbuhnya jenis jamur yang tidak dikehendaki. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun teung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut mirip. Namun, penggunaan dedak dianggap lebih efisien karena bisa memangkas biaya dan cenderung mudah dicari karena banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kapur (CaCo3) berfungsi sebagai sumber mineral dan pengatur pH. Kandungan Ca dalam kapur dapat menetralisir asam yang dikeluarkan meselium jamur yang juga bisa menyebabkan pH media menjadi rendah. Wadah yang digunakan untuk meletakkan campuran media adalah kantong plastik bening tahan panas (PE 0,002) berukuran 20 cm x 30 cm. Adapun komposisi media semai adalah serbuk

gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10 kg; kompos 0,5 kg; kapur (CaCo3) 0,5 kg; dan air 50-60%. Ada dua hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman bibit jamur, yaitu sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog.

2.6.2 Sterilisasi Bahan Sebelum dicampur dengan media lain, serbu kayu dan dedak disterilisasi terlebih dahulu menggunakan oven selama 6-8 jam pada suhu 100 derajat C. Dengan sterilisasi tersebut selain mengurangi mikroorganisme penyebab kontaminsasi juga menguranngi kadar air pada serbuk gergaji kayu. Dengan demikian, media menjadi lebih kering. Kedua bahan tersebut kemmudian dicampur dan diberi air sekitar 5060% hingga adonan menjadi kalis dan bisa dikepal. Air berfungsi dalam penyerapan nutrisi oleh miselium. Air yang digunakan harus air bersih untuk mengurangi resiko kontaminasi organisme lain dalam media. Dalam memasukkan media ke dalam plastik, media harus benar-benar padar agar jamur yang dihasilkan bisa banyak. Jadi pastikan bahwa bahan-bahan telah cukup padat di dalam plastik dengan cara menekannekan adonan hingga benar-benar padat, kemudian bagian atas kantong dipasang cincin paralon dan selanjutnya kantong plastik ditutup dengan sumbat kapas dan diikat dengan karet.

2.6.3 Sterilisasi Baglog Sterilisasi baglog dilakukan dengan cara memasukkan baglog ke dallam autoclave atau pemanas/steamer dengan suhu 121 derajat C selama 15 menit. Untuk mengganti penggunaan autoclave atau streamer, dapat menggunakan drum dengan kapasitas besar atau mampu menampung sekitar 50 baglog dan dipanasi di atas kompor minyak atau dapat juga menggunakan oven. Memang, sterilisasi baglog menggunakan drum memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar 8 jam, tetapi dianggap lebih menghemat biaya. Setelah proses sterilisasi selesai, baglog kemudian didinginkan, yakni dengan mematikan alat sterilisasi dan membiarkan suhunya turun sedikit demi sedikit. Setelah proses pendinginan, baru kemudian dilakukan penanaman bibit jamur. 2.6.4 Penanaman Dan Pemeliharaan Jamur Tiram Salah satu penentu keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kebersihan dalam melakukan proses budidayanya, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Hal ini karena

kebersihan adalah hal yang mutlak harus dipenuhi. Untuk itu, tempat untuk penanaman sebaiknya harus dibersihkan dahulu dengan sapu, lantai dan dindingnya dibersihkan menggunakan disinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan di atas api lilin. Selain itu, selama melakukan penanaman para pekerja juga idealnya menggunakan masker. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kontaminasi. Dalam budidaya jamur tiram hal yang juga harus diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembaban ruang agar tetap pada standar yang dibutuhkan. Jika cuaca lebih kering, panas, atau berangin, tentu akan mempengaruhi suhu dan kelembaban dalam kumbung sehingga air cepat menguap. Bila demikian, sebaiknya frekuensi penyiraman ditingkatkan. Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban kurang, bisa membuat tubuh jamur sulit tumbuh atau bahkan tidak tumbuh. Oleh karena itu, atur juga sirkulasi udara di dalam kumbung agar jamur tidak cepat layu dan mati. Pengaturan sirkulasi dapat dilakukan dengan cara menutup sebagian lubang sirkulasi ketika angin sedang kencang. Sirkulasi dapat dibuka semua ketika angin sedang dalam kecepatan normal. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai jamur kekurangan udara segar.

2.6.5 Pengendalian Hama Penyakit Pada Budidaya Jamur Tiram Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram tentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan maupun jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.Hama dan Penyakit Jamur tiram antara lain ;

Ulat Ulat merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur tiram. Ada tiga faktor penyebab kemunculan hama ini yaitu faktor kelembaban, kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur dan jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tida bersih. Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu, hama ulat sering dijumpai ketika musim hujan. Pencegahan menjadi solusi terbaik untuk mengatasi

hama ini adalah dengan mengatur sirkulasi udara. Caranya dengan membuka lubang sirkulasi dan untuk sementara proses penyiraman keumbung dihentikan. Pangkal jamur yang tertinggal di baglog saat pemanenan dapat menimbulkan binatang kecil seperti kepik. Kepik inilah yang menjadi penyebab munculnya hama ulat. Sementara jamur yang tidak terpanen kemungkinan terjadi karena jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat. Sebaiknya, ketika melakukan pemanenan baglog telah dipastikan kebersihannya sehingga tidak ada pangkal atau batang dan jamur yang tidak terpanen. Ulat bisa saja muncul karena rumah kumbung ataupun sekitar kumbung tidak berseih. Misalnya adanya kandang ternak atau tanaman di sekitar rumah kumbung. Untuk mencegah dan mengatasi serangan hama ulat, lakukan pembersihan rumah kumbung dan sekitar rumah kumbung dengan melakukan penyemprotan formalin. Semut, Laba-laba, dan Kleket (sejenis moluska) Secara mekanis hama semut dan laba-laba dapat diatasi dengan membongkar sarangnya dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sedangkan secara kemis hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Cara ini merupakan cara terakhir dan usahakan untuk menghindari penggunaan insektisida jika serangan tidak parah karena produk jamur merupakan produk organik. Keuntungan jika pemberantasan hama serangga dilakukan dengan cara mekanis antara lain, dapat memangkas biaya selama perawatan dan juga ramah lingkungan. Sementara itu hama kleket kerap dijumpai pada mulut baglog. Untuk mengendalikannya juga dilakukan dengan cara mekanis, yaitu mengambilnya dengan tangan.

Tumbuhnya Cendawan atau Jamur Lain Jamur lain yang kerap mengganggu jamur tiram adalah Mucor sp., Rhizopus sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. pada substrat atau baglog. Serangan jamur-jamur tersebut bersifat patogen yang ditandai dengan timbulnya miselium berwarna hitam, kuning, hijau, dan timbulnya lendir pada substrat. Miselium-miselium tersebut mengakibatkan pertumbuhan jamur tiram terhambat atau bahkan tidak tumbuh sama

sekali. Penyakit ini dapat disebabkan karena lingkungan dan peralatan saat pembuatan media penanaman kurang bersih atau karena lingkungan kumbung yang terlalu lembab. Untuk mengatasi penyakit ini, lingkungan dan peralatan ketika pembuatan media dan penanaman perlu dijaga kebersihannya. Kelembaban di dalam kumbung juga diatur agar tidak berlebihan. Penyakit ini dapat menyerang baglog yang sudah dibuka ataupun masih tertutup. Jika baglog sudah terserang maka harus segera dilakukan pemusnahan dengan cara dikeluarkan dari kumbung kemudian dibakar. Tangkai Memanjang. Penyakit ini merupakan penyakit fisiologis yang ditandai dengan tangkai jamur memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara yang kurang sempurna. Agar tidak terserang penyakit ini harus dilakukan pengaturan ventilasi dalam kumbung seoptimal mungkin.

2.6.6 Panen dan Pasca Panen Pemanenan merupakan kegiatan budidaya yang selalu dinantikan oleh pelaku usaha. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka penanaman selama panen dan pasca panen harus dilakukan dengan baik.Terdapat langkah pengelolaan pasca panen jamur antara lain ; Waktu dan Cara Panen Jamur Tiram Jamur tiram termasuk jenis tanaman budidaya yang memiliki masa panen cukup cepat. Panen jamur tiram dapat dilakukan dalam jangka waktu 4o hari setelah pembibitan atau setelah tubuh buah berkembang maksimal, yaitu sekitar 2-3 minggu setelah tubuh buah terbentuk. Perkembangan tubuh buah jamur tiram yang maksimal ditandai pula dengan meruncngnya bagian tepi jamur. Kriteria jamur yang layak untuk dipanen adalah jamur yang berukuran cukup besar dan bertepi runcing tetapi belum mekar penuh atau belum pecah. Jamur dengan kondisi demikian tidak mudah rusak jika dipanen. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika produk dipasarkan, misalnya keseragaman berat dan ukuran jamur tiram.

Penanganan Pasca Panen Jamur Tiram Penanganan yang dilakukan usai pemanenan jamur tiram bertujuan untuk menciptakan hasil akhir yang berkualitas sehingga sesuai dengan permintaan pasar. Berikut beberapa tahapan agar produk jamur tiram yang dihasilkan berkualitas baik.

Penyortiran Jamur yang telah dipanen harus segera dicuci dengan air bersih, kemudian bagian tubuh buahnya dipisahkan deri pangkalnya. Proses pencucian dan pemisahan ini penting untuk dilakukan karena bila selama proses budidaya petani menggunakan pestisida, biasaya racun pestisida akan mengendap pada bagian pangkal dan masih memungkinkan terdapat residu yang tertinggal pada tubuh buah. Setelah diyakini kebersihannya, proses sortasi dilakukan untuk mengelompokkan jamur tiram berdasarkan bentuk dan ukurannya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh hasil yang seragam sehingga akan menarik minat konsumen saat dipasarkan.

Pengemasan dan Transportasi Hasil Panen Jamur Tiram Pengemasan jamur tiram segar biasanya menggunakan plastik kedap udara. Semakin sedikit udara yang ada di dalam plastik, jamur tiram semakin tahan lama untuk disimpan. Namun, idealnya penyimpanan dengan plastik kedap udara hanya dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2-4 hari. Oleh karena itu, agar jamur tiram segar yang dijual tetap dalam kondisi baik, proses pengangkutan/transportasi tidak boleh terlalu lama dari proses pengemasannya. Seandainya jarak pengangkutan cukup jauh, sebaiknya alat transportasi dilengkapi dengan ruangan berpendingin.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous

a.

2013.

Teknik

Pemeliharaan

Tanaman

Apel.

http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/pemeliharaan-tanaman-p-e-l. diakses pada tanggal 23 april 2013. Anonymous, 2013. Petunjuk Budidaya. Budidaya jamur

http://petunjukbudidaya.blogspot.com/2012/10/budidaya-jamur.html Ir. Sri Purwanti, MS. 2006. Pemeliharaan Tanaman Apel. Pusat Peyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. Jakarta Soetasad, A. dan S, Muryanti. 2003. Budidaya Terung Lokal dan Terung Jepang, Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta Tri ari listiani, 2013. Forum Diskusi http://elearning.unsri.ac.id/mod/forum/discuss.php?d=705 Wahyuni, Enda. 2007. SKRIPSI: Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Terong Belanda. IPB. Bogor Wijaya, Benny Swaan. 2006. Pemanfaatan Padatan Hasil Samping Pengolahan Sari Apel Sebagai Bahan Baku Pengolahan Dodol Apel (Kajian Penambahan Gula Merah Dan Padatan Sari Apel Dengan Tepung Beras Ketan). Department Of Agroindustry Universitas Muhammadiyah Malang : Malang. Wiki. 2011. Keripik Apel [terhubung berkala] http://id.wikipedia.org/wiki/Keripik_apel [23 April 2013]