Anda di halaman 1dari 31

BAB II PEMBAHASAN

A. Anatomi Lutut 1. Tulang pembentuk sendi lutut Tulang yang membentuk sendi lutut antara lain: Tulang femur distal, tibia proximal, tulang fibula, dan tulang patella. a. Tulang Femur (Tulang paha) Tulang femur termasuk tulang panjang yang bersendi ke atas dengan pelvis dan ke bawah dengan tulang tibia. Tulang femur terdiri dari epiphysis proximal diaphysis dan epiphysis distalis. Pada tulang femur ini yang berfungsi dalam persendian lutut adalah epiphysis distalis. Epiphysis distalis merupakan bulatan sepasang yang disebut condylus femoralis lateralis dan medialis. Di bagian proximal tonjolan tersebut terdapat sebuah bulatan kecil yang disebut epicondylus lateralis dan epicondylus lateralis. Pandangan dari depan, terdapat dataran sendi yang melebar ke lateral yang disebut fades patellaris yang nantinya bersendi dengan tulang patella. Dan pandangan dari belakang, diantara condylus lateralis dan medialis terdapat cekungan yang disebut fossa

intercondyloidea. b. Tulang patella (Tulang tempurung lutut) Tulang patella merupakan tulang dengan bentuk segitiga pipih dengan apeks menghadap ke arah distal. Pada permukaan depan kasar sedangkan permukaan dalam atau dorsal memiliki permukaan sendi yaitu fades articularis lateralis yang lebar dan fades articulararis medialis yang sempit. c. Tulang tibia (tulang kering) Tulang tibia terdiri dari epiphysis proximalis, diaphyysis distalis. Epipysis proximalis pada tulang tibia terdiri dari dua bulatan yang disebut condylus lateralis dan condylus medialis yang atasnya terdapat

dataran sendi yang disebut facises articularis lateralis dan medialis yang dipisahkan oleh ementio intercondyloidea. Lutut merupakan sendi yang bentuknya dapat dikatakan tidak ada kesesuaian bentuk, kedua condylus dari femur secara bersama-sama membentuk sejenis katrol (troclea), sebaiknya dataran tibia tidak rata permukaanya, ketidak susuaian ini dikompensasikan oleh bentuk meniscus. Hubungan-hubungan antara tulang tersebut membentuk suatu sendi yaitu : antara tulang femur dan patella disebut articulatio patella femorale, hubungan antara tibia dan femur disebut articulatio tibio femorale. Yang secara keseluruhan dapat dikatakan sebagai sendi lutut atau knee joint. d. Tulang fibula Tulang fibula ini berbentuk kecil panjang terletak disebelah lateral dan tibia juga terdiri dari tiga bagian yaitu: epiphysis proximalis. Diaphysis dan epipyhisis distalis. Epiphysis proximalis membulat disebut capitulum fibula yang ke proximalis meruncing menjadi apex capitulus fibula. Pada capitulum terdapat dua dataran yang disebut facies articularis capituli fibula untuk bersendi dengan tibia. Diapysis mempunyai empat crista lateralis, crista medialis, crista lateralis dan facies posterior. Epiphysis distalis ke arah lateral membulat disebut maleolus lateralis (mata kaki luar).

2.

Ligamentum, kapsul sendi dan jaringan lunak sekitar sendi lutut a. Ligamentum Ligamentum extracapsular 1) Ligamentum Patellae Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini

sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah

bursa yang kecil. Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.

2) Ligamentum Collaterale Fibulare

Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m. poplitei. 3) Ligamentum Collaterale Tibiae Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae.

Ligamentum ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon m.

semimembranosus dan a. inferior medialis genu . 4) Ligamentum Popliteum Obliquum Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus. 5) Ligamentum Transversum Genu Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus , terdiri dari jaringan connective, ligamentum ini tertinggal dalam kadangkadang

perkembangannya , sehingga

sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

Ligamentum Intra Capsular

Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum ini merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae. 1) Ligamentum Cruciata Anterior Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior penting karena

tibiae dan berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan sempurna. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur. 2) Ligamentum Cruciatum Posterior Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area

intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan

lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior akan mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi

tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi , ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior. b. Kapsul sendi Kapsul sendi lutu terdiri dari dua lapisan yaitu 1) Stratum fibrosum yang merupakan lapisan luar yang berfungsi sebagai penutup atau selubung 2) Stratum synovial yang bersatu dengan bursa suprapatellaris, stratum synovial ini merupakan lapisan dalam yang berfungsi

memproduksi cairan synovial unutk melicinkan permukaan sendi lutut. Kapsul sendi lutut ini termasuk jaringan fibrosus yang avascular sehingga jika cedera sulit unutk proses penyembuhan. c. Jaringan lunak 1) Meniscus Meniscus meerupakan jaringan lunak, meniscus pada sendi lutut adalah meniscus lateralis, adapun fungsi meniscus adalah a) Penyebaran pembebanan b) Peredam kejut (shock absorber) c) Mempermudah gerakan rotasi d) Mengurangi gerakan dan stabilisator setiap penekanan akan diserap oleh mensicus dan diteruskan ke sebuah sendi. 2) Bursa Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membran synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara lain: (1) bursa popliteus, (2) bursa supra pateliaris (3) bursa infra paterallis (4) bursa sulcutan prapateliaris (5) bursa sub patelliaris.

3) Otot-otot penggerak sendi lutut Disini penulis ingin membahas tentang otot-otot yang bekerja pada sendi lutut termasuk didalamnya perlekatan dan persyarafan serta fungso dari otot tersebut a) Bagian anterior adalah m. Rectus femoris, m. Vastus lateraliis, m. Vastus medialis, m. Vastus intermedialis. b) Bagian posterior adalah m. Bicep femoris, m.

Semitendinosis, m. Semimembranosis, m. Gastrocnemius. c) Bagian medial adalah m. Sartorius d) Bagian lateral adaalh m. Tensorfacialatae

3.

Sistem persyarafan Pada regio lutut, tungkai mendapat persyarafan dari nervus ischiadicus yang berasal dari serabut lumbal ke-4 sampai dengan sacrum ke-3. Ini merupakan serabut yang terbesaar di dalam tubuh yang keluar dari foramen ischiadicus mayor, berjalan terus disepanjang permukaan posterior paha ke ruang poplitea, lalu syaraf ini membagi dua bagian yaitu nervus peroneus communis dan nervus tibialis. Nervus peroneus communis pada dataran lateral capitulum fibula akan pecah menjadi nervus superficialis.

4.

Sistem peredaran darah a. Sistem peredaran darah arteri 1) Peredaran darah yang akan dibahas adalah sistem peredaran darah yang menuju ke tungkai dan vena yang juga memelihara darah sekitar sendi lutut, arteri yang memelihara sendi lutut: a) Arteri femoralis Merupakan lanjutan dari arteri iliaca external yang keluar dari cavum abdominalis lacuna vasorum lalu berjalan ke lateral dari venanya kemudian ke bawah menuju keadalam fossa illipectiana kemudian masuk ke canal addectorius sehingga arteri poplitea masuk ke fossa poplitea disisi medial femur, lalu arteri femoralis bercabang menjadi cabang arteri superficial dan cabang profunda. b) Arteri poplitea Pada umunya peredaran darah vena berdampingan dengan pembuluh darah arteri. Pembuluh darah vena pada tungkai sebagian besar bermmuara ke dalam vena femoralis. Venavenna itu adalah Vena shapena parva berjalan di belakang maleolus lateralis berlanjut ke Vena poplitea dan mengalirkan terus ke Vena shapena magna dan bermuara ke dalam

b.

Vena femoralis

Sistem peredaran darah vena Pada umumnya peredaran darah vena berdampingan dengan

pembuluh darah arteri. Pembuluh darah vena pada tungkai sebagian besar bermuara ke dalam vena femoralis. Vena-vena itu adalah: 1) Vena shapena parva, berjalan di belakang maleolus lateralis berlanjut ke 2) Vena poplitea dan mengalirkan terus ke 3) Vena saphena magna dan bermuara ke dalam 4) Vena femoralis. . B. Definisi Osgood_schalatters disease

Osgood schlatter merupakan sebuah akibat dari tarikan yang berlebihan pada lempeng pertumbuhan yang lunak di depan tulang kering di bawah lutut. Penyakit Osgood-Schlatte rmenggambarkan apophysitis sudut proksimal tulang kering (Tibia) atau nekrosis avascular, yang terjadi saat remaja, masingmasing pada saat pertumbuhan yang nyata. Merupakan sebuah necrosis avascular dan inflamasi aseptik dipicu oleh

stress berulang sebagai sebuah hasil dari tarikan yang dipengaruhi tendo patela yang immatur, apophysis masih tersusun oleh kartilago. Ini terjadi selama fase terutama kuatnya aktifitas pertumbuhan (pubertas). book

Osgoog_schalatters disease terjadi pada usia muda dan merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mendiskribsikan nyeri pada suatu area pertumbuhan yaitu dii bawah lutut pada tulang kering .brimingham childrens hospital Osgoog_schalatters disease adalah sebuah kondisi yang biasanya secara fisik aktif dan pada suatu dorongan pertumbuhan. Ini ditandai oleh rasa sakit dan bengkak di atas bejolan (tuberosity) dekat puncak tulang kering (tibia) diketahui sebagai tuberositas tibia. Tuberositas tibia mungkin juga bertambah ukurannya sebagai kondisi yang progresif, dan dapa mempengaruhi satu atau kedua ekstrimitas bawah.specialist knee surgey, sports injury dan consultation C. Epidemiologi Osgood schlatters disease secara khas mempengaruhi anak laki-laki dan perempuan pada akhir masa kanak-kanak atau masa remaja awal, dan itu telah ditunjukkan bahwa ini paling sering antara usia 11-15 tahun, sebagai area yang terutama sekali mudah diserang untuk terjadinya fraktur avulsi pada kelompok usia ini. Ini disebabkan oleh penggunaan yang lebih dan berlebihan memaksa suatu tindakan pada tuberositas tibia, dan ini lebih sering pada atlet. Pada sebuah penelitian retrospektif pada atlet muda, menunjukkan bahwa 21.2% dari atlet telah menderita osgood-schlatter disease, sebagai perbandingan pada 4.5% kelompok non-atlet, dan kondisi yang menunjukkan pada 12.9% dari seluruh orang-orang yang dilibatkan dalam penelitian. Olahraga banyak membutuhkan lari, melompat, jongkok atau berlutut yang terutama sekali berhubungan dengan osgood schlatter disease, dan atlet sering terlibat pada football, basketball, gymnastic,cataucballet. http://www.medic8.com/healthguide/articles/osgoodschlatter.html D. Etiologi dan Patofiologi Selama pertumbuhan tulang mungkin tumbuh lebih cepat kemudian otot menghasilkan otot menjadi ketat. Ini dapat berakibat pada tarikan atau menarik paksa dimana otot attaches pada tulang. Tendon patella masuk pada teberositas tibia dan melalui penggunaan yang berlebihan dapat menarik jauh tulang menyebabkan inflamasi.

Aktivitas yang membutuhkan sebuah kekuatan kontraksi dari otot quadricep dapat meningkatkan tarikan paksa dan memperburuk gejala sepaerti berlari, melompat dan jongkok. specialist knee surgey, sports injury dan consultation Penyakit ini kemungkinan timbul akibat adanya trauma mikro (biasanya cedera ringan yang tidak terlalu dihiraukan akibat pemakaian berulang), yang terjadi sebelum tuberkulum tibialis anterior benar-benar matang. Tuberkulum tibialis anterior adalah persambungan antara tendon tempurung lutut (tendon patella) dengan puncak tibia. Meskipun penyebab Osgood-Schlatter (OSD) tidak diketahui, namun, teori menyatakan bahwa kondisi ini adalah hasil dari ekstensi lutut yang mengalami kontraksi berulang, mekanisme tersebut yang menyebabkan avulsi sebagian atau microavulsi dari tuberkulum tibialis chondrofibro-osseous. OSD biasanya terjadi pada orang yang terlibat dalam olahraga yang mengharuskan berlari dan melompat. Selama berlari, senam, dan olahraga lain yang membutuhkan kontraksi berulang dari paha depan, beban yang berlebihan menimbulkan mikroavulsi. Daerah proksimal dari insersi tendon patela terpisah, sehingga menimbulkan elevasi dari tuberkulum tibialis. Selama fase reparatif, terjadi pembentukan tulang baru dalam ruang avulsi, yang dapat mengakibatkan tuberkulum tibialis

menyimpang dan menonjol. Ketika seorang individu dengan tuberkulum tibialis terluka, tetapi terus berolahraga, microavulsi akan terus berkembang, dan proses reparatif dapat mengakibatkan penonjolan yang nyata pada tuberositas tibia, dalam jangka panjang menimbulkan masalah kosmetik dan fungsional. Sebuah fragmen terpisah dapat berkembang pada insersi tendon patela dan dapat menyebabkan nyeri kronis, jenis non-union. Dalam sebuah studi magnetic resonance imaging (MRI) dari 20 pasien dengan OSD, tendon patela tercatat melampirkan lebih proksimal dan di daerah yang lebih luas ke tibia pada pasien dengan OSD4. Sekitar 50% dari pasien dengan OSD berhubungan dengan riwayat trauma. Selain dari hal di atas, Beberapa penyebab telah dihipotesiskan. Penyebab yang paling mungkin adalah bahwa apophysis rentan terhadap traksi selama masa remaja, yang dapat mengakibatkan microfractur. Apophysis tuberositas tibialis

muncul pada anak usia 7-9 tahun. Biasanya, apophysis berkembang ke arah proksimal menuju epiphysis dan epiphysis tumbuh distal menuju apophysis tersebut. Traksi berulang dari tendon patela dapat menyebabkan microfractur di apophysis tersebut, seperti yang ditunjukkan oleh Lazerte dan Rapp ketika mereka memeriksa spesimen operasi reseksi dari pasien OSD9. Spesimen ini menunjukkan fraktur avulsi dari bagian tuberkulum tibialis distal. Ehrenborg secara histologis memeriksa tulang yang telah dipotong dari tuberkulum tibialis dan menemukan bahwa tulang cancellous utuh tanpa bukti nekrosis atau peradangan10,11. Woolfrey percaya ini adalah karena perubahan ujung bawah tendon patela dan pembentukan tulang sekunder baru.16 Ogden menunjukkan bahwa perubahan apophysis tibialis dari fibrocartilage ke tulang rawan hialin, sehingga rentan terhadap cedera.17 Rosenberg et al terakhir dengan scan nuklir 16, CT scan 34, MRI 27 pada pasien dengan diagnosis ini18. Mereka menemukan bahwa 100% persen dari pasien memiliki ukuran tendon normal, redaman menurun, dan sebuah penanda yang meningkat. Tiga puluh dua persen dari pasien memiliki tulang yang kecil. Rosenberg percaya temuan yang paling konsisten dengan tendinitis patella. Secara ringkas dapat ditunjukkan pada skema berikut :

Skema patofisiologi Osgood-Schlatter Disease Penelitian histologi mengusulkan sebuah etiologi traumatik untuk osgood schlatter disease. Pertumbuhan tulang lebih cepat dari pada pertumbuhan jaringan lunak, yang mungkin mengakibatkan tendon otot keketatan melewati sendi dan kehilangan fleksibelnya. http://emedicine.medscape.com/article/827380-overview#a0199 Selama periode pertumbuhan cepat, stres dari kontraksi otot quadricep ditransmisikan melalui tendo patela ke dalam sebuah bagian kecil secara parsial berkembangnya tuberositas tibia. Ini mungkin akibat pada sebuah fraktur avulsi parsial melalui pusat ossifikasi. Secepatnya, pembentukkan tulang hipertropik sekunder terjadi pada tendon dekat insersinya, menghasilkan sebuah

pembengkakan yang tampak. Kira-kira 25% pasien mempunyai lesi bilateral. E. Gejala Biasanya keluhannya adalah nyeri benjolan di bawah lutut. Orang tua atau anak-anak mungkin memberitahukan tulangnya membesar pada puncak tulang kering. Pincang saat berjalan , nyeri biasanya diperburuk dengan berolahraga

tetapi aktivitas lain dapat juga menjadi menyakitkan seperti saat berjalan, naik turun tangga, duduk dengan kaki bersila dalam waktu yang lama. Nyeri biasanya akan tenang saat istirahat. brimingham childrens hospital

Ini barangkali juga menjadi mungkin untuk menimbulkan nyeri dengan memperluas lutut melawan resistensi. Pembengkakkan, secara umum tidak disertai dengan adanya inflamasi, juga kadang-kadang diobservasi di area tuberositas tibia. Riwayat dan pemeriksaan biasanya meninggalkan tidak ada keraguan tentang diagnosis. Lateral x-ray merupakan tidak spesifik pada beberapa kasus, walaupun fragmentasi dari tuberositas tibia kadang-kadang diamati. Mungkin sebagai sebuah akibat dari usaha perbaikan setelah kejadian mikrotrauma. Pada tangan yang lain, fragmentasi apophysis juga kadang-kadang teerlihat secara lengkap pada pasien asimptomatik. Beberapa investigasi pencitraan yang luas tidak diperlukan. Book

F. Diagnosis dan diagnosis Banding Riwayat individu dan pemeriksaan fisik biasanya cukup untuk membuat diagnosis dari Osgood-Schlatter (OSD). Nyeri lutut biasanya adalah gejala yang sering muncul. Pasien biasanya melaporkan bahwa nyeri lutut terjadi selama aktivitas seperti berlari, melompat, berjongkok, dan naik atau turun tangga. Nyeri sering reda dengan istirahat dan modifikasi aktivitas. Atlet yang terlibat dalam sepak bola, basket, senam, dan balet yang paling sering terkena. Gejala sering tidak jelas dan onset yang intermiten. Gejala dapat berkembang tanpa trauma atau sebab yang jelas lainnya, meskipun sekitar 50% dari pasien memberikan riwayat trauma. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Rontgen tulang bisa normal atau akan tampak adanya pembengkakan jaringan lunak, penebalan ligamen serta adanya pecahan-pecahan tulang di sekitar tuberkulum anterior. Lateral radiografi dari lutut menunjukkan fragmentasi tuberkulum tibialis dengan pembengkakan jaringan lunak diatasnya. a. Pemeriksaan fisik sangat spesifik, pada palpasi didapatkan daerah yang lembut dan lunak di atas tuberkulum tibialis. Temuan kemungkinan lain dari pemeriksaan fisik adalah sebagai berikut: Pembengkakan dan nyeri tekan daerah proksimal tibia Pembesaran atau penonjolan dari tuberkulum tibialis Terasa nyeri jika dilakukan tekanan langsung atau melompat (kontraksi quadriceps femoris) Nyeri dengan tahanan saat ekstensi lutut Gerakan lutut terasa penuh Tidak ada tanda-tanda efusi atau meniscus Drawer tes negatif (tidak ada ketidakstabilan lutut) Tidak ada kelainan pada pemeriksaan neurovaskuler Tidak ada kelainan pada sendi pinggul dan pergelangan kaki

Massa yang lembut ataupun terfiksir dapat saja teraba. Pada beberapa pasien, eritema pada tuberositas tibia dan atrofi paha depan dapat terjadi. b. Pertimbangan diagnosis

Perangkap medikolegal paling signifikan gagal untuk mendiagnosa kondisi lain yang dapat mengakibatkan kerusakan jangka panjang permanen (misalnya, tumor, osteochondritis dissecans). Sebagian besar kondisi lain memiliki pemeriksaan klinis dengan riwayat lebih memprihatinkan. Oleh karena itu, selalu memperoleh radiografi alih dan mempertimbangkan dari pinggul.

kemungkinan

sindrom

nyeri

Kondisi yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial dari Osgood-Schlatter (OSD), selain yang di bagian berikutnya, meliputi: c. Sinding-Larson-Johans

Radiografi Tidak semua pasien dengan penyakit Osgood-Schlatter (OSD) perlu

radiografi, karena dapat didiagnosis secara klinis. Namun, foto polos sangat membantu untuk mengesampingkan etiologi lainnya, seperti neoplasma, fraktur tibialis apophyseal akut, dan infeksi. Selain itu, radiografi dapat menunjukkan : Tulang kecil pada superficial tendon patela Pengerasan irregular tuberositas tibia proksimal Pengapuran dalam tendon patela Penebalan tendon patela Edema pada jaringan lunak tuberositas tibialis proksimal

Lesi Osgood-Schlatter yang terbaik terlihat pada tampilan lateral, dengan lutut di rotasi internal sedikit 10-20. Ketika radiograf diperoleh, temuan yang paling umum adalah bahwa foto lutut normal, terutama jika anak berada dalam tahap preossifikasi.

Fase akut OSD dapat mengungkapkan tuberkulum tibialis menonjol dan meninggi dengan pembengkakan jaringan lunak anterior. Dalam kasus yang parah, radiografi dapat mengungkapkan fragmen radiodense atau ossicles terpisah dari tuberositas tibialis. Radiografi seorang pasien yang telah mengalami pematangan tulang. Perhatikan bahwa tuberkulum tibialis diperbesar dan ada tulang yang kecil. Radiografi dapat mengungkapkan ketidakteraturan, fragmentasi, atau

meningkatkan kepadatan pengerasan dari tuberkulum tibialis. Pola ini mungkin varian normal pada anak-anak tanpa gejala. Radiograf seorang pasien yang belum mengalami pematanngan tulang. Tuberkulum ini memanjang dan terfragmentasi.

Radiografi tulang immature, tampak tuberkulum memanjang dan fragmentasi tulang

Radiografi tulang matur, tampak tuberkulum membesar da tulang kecil, bursa terdapat diatasnya d. Pencitraan lainnya Ultrasonografi dapat mengungkapkan tuberkulum normal dan perubahan sinyal konsisten dengan penebalan (lebih echogenic) dalam tendon patela dan daerah hypoechoic dari jaringan lunak yang berdekatan7,8. Computed tomography (CT) scan atau MRI dapat mengungkapkan perubahan pada insersi dari tendon patela. MRI dapat membantu dalam diagnosis dari presentasi atipikal. Akhirnya mungkin memainkan peran dalam pementasan penyakit dan prognostik perjalanan klinis. Namun, peran MRI dalam diagnosis, ramalan, dan manajemen saat ini terbatas.6

pencitraan MRI

G. Penatalaksanaan Pada anak-anak mungkin butuh istirahat atau melakukan aktivitas yang tidak menyebabkan nyeri lutut. Kompres es disarankan diletakkan pada lutut selama 2030 menit setiap 3-4 jam selama 2-3 hari atau hingga nyeri menghilang. Jika lutut bengkak, maka harus ditinggikan dengan menempatkan sebuah bantal di bawahnya. Dokter anak mungkin meresepkan penahan kaki khusus. Dokter

mungkin merokemndasikan unutk mengkonsumsi anti-inflammatory obat nyeri seperti ibuprofen atau mungkin resep obat yang lain. Keberhasilan dari rehabilitasi adalah kembalinya untuk berolahraga atau beraktivitas segera yang mungkin dengan aman. Jika anak kembali terlalu cepat luka mungkin memburuk, yang mana dapat menyebabkan kerusakan permanen. Setiap orang pulih dari luka dengan kecepatan yang berbeda-beda. Pediatric clinic patient education handouts Penanganan yang paling penting adalah istirahat dan pembatasan olahraga. Knee pad atau immobiliser dikombinasikan dengan sebuah program pelatihan isometrik, dimana sendi tidak bergerak, mungkin juga membantu. Itu juga dapat membantu untuk melakukan latihan untuk meningkatkan fleksibelitas dari otot lutut dan quadriceps. Gejala mungkin terjadi lagi ketika tuberkel tibia sedang sembuh, sebuah proses yang dapat berlangsung selama 18-24 bulan untuk

melengkapi. Es atau terapi dingin dapat membantu nyeri inflamasi. Dukungan lutut dapat membantu dengan mengurangi tegangan pada lutut. Jika gejalanya tidak berkurang, dilakukan imobilisasi tungkai yang terkena dengan memasang gips atau brace sampai terjadi pemulihan (selama 6-8 minggu). Untuk mengurangi beban pada tungkai yang terkena jika penderita berjalan, bisa digunakan tongkat penyangga. Pada beberapa kasus dilakukan beberapa tindakan berikut: 1. Penyuntikan hidrokortison langsung ke dalam daerah yang membengkak 2. Pengeboran tulang untuk merangsang penyembuhan 3. Pencangkokan tulang. Terapi biasanya terbatas pada penggunaan obat anti inflamasi dan kompres es setelah olahraga. Istirahat dan menahan diri dari olahraga mungkin diperlukan selama rekuensi penyakit (flare up). Kadang-kadang pembedahan dapat dilakukan apabila kondisi parah atau tampak dipersulit oleh perkembangan fragmen tulang pada tendon patella. a. Perwatan awal Perawatan awal meliputi penerapan es selama 20 menit setiap 2-4 jam. Analgesik dan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) dapat diberikan untuk menghilangkan rasa sakit dan mengurangi peradangan lokal. Namun, NSAID belum terbukti memperpendek perjalanan OSD. Suntikan steroid tidak boleh digunakan. Informasikan pada pasien untuk menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan rasa sakit (misalnya, olahraga yang melibatkan jumlah kelebihan jumping). Penggunaan immobilizer lutut selama beberapa hari dapat meningkatkan kepatuhan pasien, terutama dalam kasus yang lebih parah. Setelah gejala akut telah mereda, lakukan latihan otot quadriceps dengan peregangan, termasuk melakukan pergerakan ekstensi lengkap dari mekanisme ekstensor, dapat dilakukan untuk mengurangi ketegangan pada tuberkulum tibialis. Latihan peregangan untuk paha belakang, yang biasanya ketat, juga dapat dilakukan. Selain adanya tulang kecil yang menyebabkan rasa sakit dengan berlutut, tidak ada kelainan jangka panjang atau masalah yang terkait dengan kondisi ini.

b.

Medikamentosa Obat-obatan yang hanya perlu diresepkan adalah obat anti-inflammatory

drugs (NSAIDs) untuk menghilangkan rasa sakit dan mengurangi peradangan lokal (NSAID apapun dapat digunakan). Namun, salah satu penulis

menyimpulkan bahwa anti-inflammatory drugs tidak terlalu menguntungkan dalam pengelolaan Osgood-Schlatter. Kelas obat anti-inflamasi nonsteroid Jangka pendek (NSAID) dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Steroid tidak dianjurkan untuk digunakan dalam kondisi ini. NSAID memiliki analgesik, kegiatan anti-inflamasi, dan antipiretik. Mekanisme aksi mereka tidak diketahui, tetapi mereka dapat menghambat aktivitas siklooksigenase dan sintesis prostaglandin. Mekanisme lain mungkin ada juga, seperti penghambatan sintesis leukotriene, pelepasan enzim lisosomal, aktivitas lipoxygenase, neutrofil agregasi, dan fungsi berbagai sel membran. NSAID biasanya digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang. Meskipun efek dari NSAID dalam pengobatan nyeri cenderung spesifik pasien, ibuprofen biasanya sebagai drug of choice untuk terapi awal. Pilihan lain termasuk naproxen, flurbiprofen, dan ketoprofen. Ibuprofen (Motrin, Advil, Ultraprin) Ini adalah obat pilihan untuk pasien dengan nyeri ringan sampai sedang. Ini menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi sintesis

prostaglandin. Ketoprofen digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang dan peradangan. Dosis kecil pada awalnya diindikasikan pada pasien kecil dan orang tua dan pada mereka dengan ginjal atau penyakit hati. Dosis lebih dari 75 mg tidak meningkatkan efek terapi. Administer dosis tinggi dengan hati-hati, dan cermat mengamati pasien untuk nya atau tanggapannya. Naproxen (Naprelan, Anaprox, Aleve, Naprosyn) Obat ini digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang. Ini menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan mengurangi aktivitas cyclo-oxygenase, yang menghasilkan penurunan sintesis prostaglandin. Flurbiprofen dapat menghambat enzim siklooksigenase, yang pada gilirannya menghambat biosintesis prostaglandin. Efek ini dapat mengakibatkan analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi kegiatan. c. Intervensi bedah Intervensi bedah dilakukan Jika pengobatan konservatif gagal, eksisi bedah dari tulang kecil yang menyakitkan dianjurkan. Penghapusan fragmentasi tulang kecil pada pasien dewasa dengan apophysis tidak disatukan harus didekati dengan hati-hati, sebagai deformitas recurvatum resultan dapat terjadi karena prematur fusi dari tuberkulum tibialis3. Avulsi tuberkulum tibialis kadang-kadang bisa terjadi karena kontraktur dari mekanisme ekstensor. Reseksi terbuka dan fiksasi internal (ORIF) biasanya dianjurkan, tergantung pada ukuran dan perpindahan fragmen serta fase penutupan apophyseal. Dalam sebuah studi tentang pengobatan bedah Osgood-Schlatter (OSD), Pihlajamki et al menyimpulkan bahwa pada orang dewasa muda baik untuk hasil fungsional dapat dicapai dengan pengobatan bedah OSD terselesaikan12. Para peneliti memeriksa klinis pascaoperasi, karakteristik radiografi, dan hasil jangka panjang dari merekrut 107 militer (117 lutut) yang dioperasi karena kondisi. Data hasil Fungsional dikumpulkan dari catatan medis, wawancara, kuesioner, dan pemeriksaan fisik dan radiografi. Pada akhir periode (median) 10-tahun tindak lanjut, 93 pasien (87%) melaporkan bahwa mereka bisa berpartisipasi tanpa pembatasan dalam kegiatan sehari-hari dan pekerjaan, dan 80 pasien (75%) telah kembali tingkat pra operasi mereka kegiatan olahraga. Selain itu, 41 pasien (38%) melaporkan kemampuan untuk

berlutut tanpa rasa sakit. Komplikasi pascaoperasi minor terjadi pada 6 pasien, dan 2 pasien membutuhakn operasi ulang. Dalam penelitian dari serangkaian pasien yang dirawat bedah, Binazzi et al menemukan bahwa prosedur yang paling banyak digunakan adalah eksisi seluruh tulang intratendinous, dengan atau tanpa pengangkatan sebagian dari tuberkulum tibialis menonjol13. A dari 2 kelompok individu, 1 dengan 15 orang diobati dengan eksisi ossicles dan 1 dengan 11 orang diobati dengan berbagai metode sebelum tahun 1975, jelas menunjukkan bahwa hasil eksisi sederhana dari ossicles yang lebih baik. Dalam studi lain, pasien yang dirawat bedah mungkin ditemukan tidak lebih dibandingkan pasien dirawat secara konservatif untuk menghilangkan rasa sakit atau mengalami peningkatan dari penampilan kosmetik. Indikasi operasi untuk mengobati OSD jarang dilakukan. Kadang-kadang, orang dewasa memiliki tulang kecil yang besar dan bursa di atasnya, yang dapat menyebabkan rasa sakit dengan berlutut. Jika demikian, pengobatan terdiri dari eksisi bursa, tulang kecil, dan setiap penonjolan14. perawatan bedah jarang, jika pernah, dilakukan pada anak-anak. Kontraindikasi pembedahan masih diperdebatkan untuk pasien yang sedang tumbuh, karena gejala OSD dapat mereda dengan sendirinya. Percobaan terakhir 2 kelompok pasien dengan gejala OSD setelah dilakukan tindak lanjut selama 4-5 tahun15, Satu kelompok diperlakukan dengan pembedahan sequestrectomy tibialis, dan lainnya dikelola secara konservatif. Terapi bedah tidak ditemukan memberikan manfaat yang signifikan dibandingkan perawatan konservatif. Selain itu, tingkat komplikasi yang signifikan telah diidentifikasi dengan sequestrectomy tibialis. Komplikasi pada terapi setelah reseksi tulang kecil, komplikasi termasuk nyeri lanjutan dan penampilan kosmetik yang buruk. Dalam suatu penelitian, 55% dari pasien memiliki tonjolan tulang yang jelas pasca operasi. Sepertiga dari penonjolan cukup merepotkan.15 Patu pasien kehilangan 10 fleksi, dan pasien lain memiliki 10 dari recurvatum. Komplikasi lain yang mungkin terjadi termasuk bekas luka tak sedap dipandang, anestesi lateral bekas luka, dan munculnya sequestra. pendekatan Pertimbangan The American Academy of

Orthopaedic

Surgeons

dan

American

Academy

of

Family

Practice

merekomendasikan pembatasan aktivitas, es, anti-inflamasi, padding pelindung, penguatan hamstring, dan waktu dalam pengelolaan Osgood-Schlatter (OSD). Namun, tidak ada studi-studi prospektif mengevaluasi intervensi pengobatan OSD, termasuk perawatan konservatif yang disarankan. Suntikan kortikosteroid tidak dianjurkan karena laporan kasus komplikasi, terutama yang berkaitan dengan atrofi subkutan. Jangka panjang imobilisasi biasanya kontraindikasi, karena dapat menyebabkan kekakuan lutut peningkatan dalam kasus-kasus ringan, sehingga predisposisi atlet untuk tambahan terkait cedera olahraga. Namun, jika pasien patuh, dokter dapat merekomendasikan imobilisasi dalam penjepit lutut selama minimal 6 minggu. Fiksasi harus dilepas setiap hari, tapi hanya untuk peregangan dan latihan penguatan.

The fixation with screw d. Rehabilitasi dan pencegahan Beberapa teknik dapat direkomendasikan oleh ahli terapi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah kambuhnya penyakit. Rekomendasi pengobatan tergantung pada tingkat keparahan kondisi. Berikut yang dapat di lakukan semala fase akut

Sebuah tali infrapatellar mungkin dianjurkan selama aktivitas olahraga. Istirahat dianjurkan bila nyeri timbul. Es harus diterapkan ke daerah selama 20 menit setelah aktivitas. Peregangan paha depan dan otot hamstring membantu mencegah perkembangan OSD. Jangka pendek istirahat dan imobilisasi lutut mungkin diperlukan. Kawat untuk fiksasi lutut digunakan untuk jangka panjang dalam imobilisasi (6 minggu) pada kasus yang berat (misalnya, nyeri berlangsung lama lebih dari 24 kegiatan berikut h olahraga dan atau kegiatan limit harian) atau untuk pasien patuh dengan gejala meningkat.

Untuk membantu mencegah terjadinya penyakit ini, sebaiknya sebelum dan sesudah berolah raga dilakukan peregangan. Untuk mencegah memburuknya keadaan penyakit, Pasien harus diberikan informasi tentang keadaan yang dapat memperburuk penyakit Osgood-Schlatter. Osgood-Schlatter bisa sulit untuk dicegah. Yang paling penting adalah untuk membatasi aktivitas jika dia mengalami sakit di bagian atas lutut, untuk tidak terlalu sering dan berlebihan menggunakan lututnya. Namun, harus mengambil beberapa tindakan pencegahan, seperti: pemanasan yang baik, mempelajari teknik-teknik khusus untuk masing-masing olahraga, melakukan latihan relaksasi pada akhir sesi dan, dalam beberapa jenis olahraga harus menggunakan alat pelindung lutut.

Osgood-Schlatter biasanya sembuh sendiri dalam jangka waktu 12 sampai 18 bulan dan gejalanya benar-benar menghilang ketika anak mencapai struktur dewasanya, yaitu berhenti tumbuh. Rasa sakit jarang berlanjut setelah masa ini. Osgood-Schlatter mungkin sulit untuk dicegah. Yang paling penting untuk dilakukan adalah membatasi aktivitas segera setelah terelihat benjolan yang menyakitkan di bagian atas tulang kering. Latihan pemanasan dan peregangan yang tepat otot paha, hamstring dan betis dapat membantu mencegah penyakit Osgood-Schlatter.

Anda dapat memulai peregangan otot-otot pada bagian belakang kaki menggunakan latihan 1 dan 2 segera. Bila hanya memiliki sedikit

ketidaknyamanan di bagian atas dari tulang kaki bagian bawah (tibia), Anda dapat melakukan latihan 3, 4 dan 5. 1. Hamstring stretch: Berbaring telentang dengan bokong dekat dengan jalan pintu dan memperpanjang kaki lurus di depan sepanjang lantai naikkan kaki cedera dan beristirahat melawan dinding dan di samping kusen pintu. Tahan posisi ini selama 30 sampai 60 detik. Anda akan merasakan peregangan di bagian belakang paha Anda. Ulangi 3 kali 2. Calf stretch: Menghadap dinding dan menempatkan tangan Anda di dinding di sekitar tingkat mata. Jauhkan kaki terluka ke belakang, kaki sehat ke depan, dan tumit kaki terluka di lantai. Putar kaki yang terluka sedikit ke dalam (seolah-olah berjari merpati) ketika perlahan-lahan bersandar ke

dinding sampai merasakan peregangan di betis belakang. Tahan selama 30 detik. Ulangi 3 kali 3. Quadriceps strech: Berdiri dengan lengan panjang menjauh dari dinding, menghadap lurus ke depan. Jepit diri dengan menjaga tangan pada sisi yang tidak cedera melawan dinding dinding. Dengan tangan yang lain, pegang pergelangan kaki yang terluka dan tarik tumit ke arah bokong. Jangan melengkungkan atau memuntir punggung Anda. Tahan posisi ini selama 30 detik. Ulangi 3 kali. 4. Kaki lurus mengangkat: Duduklah di lantai dengan kaki yang cedera lurus dan kaki lainnya ditekuk dengan kaki rata di lantai. Pindahkan jari-jari pada kaki yang cidera ke arah anda sejauh yang Anda bisa, sambil menekan bagian belakang lutut ke bawah dan mengencangkan otot-otot di bagian atas dari paha. Angkat kaki Anda 6 sampai 8 inci dari lantai dan tahan selama 5 detik. Perlahan-lahan turunkan kembali ke lantai. Ulangi 10 kali. Lakukan 3 set 10. 5. Prone hip extension: Berbaring pada perut. Rapatkan bokong dan angkat kaki yang cidera 5 sampai 8 inci dari lantai. Jaga punggung lurus. Tahan kaki Anda selama 5 detik dan kemudian turunkan. Ulangi 10 kali. Lakukan 3 set 10.

Tujuan dari rehabilitasi adalah untuk mengembalikan anak untuk melakukan olahraga atau kegiatanya sesegera mungkin dengan aman. Jika anak kembali terlalu cepat cedera dapat memburuk, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen. Semua orang pulih dari cedera pada tingkat yang berbeda. Kembali ke olahraga atau kegiatannya akan ditentukan oleh seberapa cepat lutut anak anda pulih, bukan oleh berapa har iatau minggu sejak cederaterjadi. Secara umum, semakin lama gejala sebelum memulai pengobatan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan yang lebih baik. Anak dengan aman dapat kembali ke olahraga atau kegiatannya ketika mulai dari bagian atas dari daftar dan berkembang sampai akhir, masing-masing berikut ini benar: Tuberositas tibialis anak Anda tidak lagi lembut/nyeri Cedera lutut dapat sepenuhnya diluruskan dan ditekuk tanpa rasa sakit Lutut dan kaki telah dengan kekuatan yang normal kembali dibandingkan dengan lutut dan kaki yang terluka Anak Anda mampu berlari lurus ke depan tanpa pincang Anak Anda mampu melakukan pemotongan 45 derajat Anak Anda mampu melakukan pemotongan 90 derajat Anak Anda mampu melakukan 20 yard angka delapan berjalan Anak Anda mampu melakukan 10 yard angka delapan berjalan Anak Anda mampu melompat dengan kedua kaki tanpa rasa sakit, dan melompat pada kaki terluka tanpa rasa sakit. H. Komplikasi Kondisi ini biasanya memiliki rentang waktu tertentu. Nyeri kadang-kadang dapat berlanjut hingga pubertas akhir. Bagi kebanyakan anak, Osgood-Schlatter tidak menimbulkan masalah abadi: rasa sakit hilang pada saat anak selesai masa pertumbuhan. Pembedahan jarang dibutuhkan, tetapi dapat dipertimbangkan jika masalah dengan Osgood-Schlatter berlanjut.

I.

Prognosis2,6 Osgood-Schlatter merupakan kondisi penyakit yang dapat sembuh sendiri

yang tidak meninggalkan sisa kecacatan. Bagaimanapun itu bisa dengan mengharuskan mengurangi kegiatan lari dan melompat untuk 1-2 musim sampai tingkat pertumbuhan telah melambat. Sekitar 5% dari anak-anak dengan OsgoodSchlatter daerah kalsium dapat bertahan pada masa remaja di bagian atas tulang kering. Hal ini dapat menyebabkan nyeri terus-menerus, terutama dengan tekanan langsung dan berlutut. Jika gejala ini merepotkan dan menetap, daerah kalsifikasi mungkin membutuhkan eksisi bedah. Kebanyakan penyakit ini akan sembuh secara spontan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Membatasi aktivitas penderita bisa mempercepat pemulihan. Pada beberapa kasus, gejalanya bersifat hilang-timbul, tetapi pada akhirnya pada saat pertumbuhan anak berakhir, penyakit ini akan menghilang. Osgood Schlatter syndrome merupakan sebuah tarikan apophysis tuberositas tibia berhubungan dengan penegangangan berulang pada pusat osifikasi sekunder dari tuberositas tibia. Perubahan radiografi termasuk irregular dari apophysis dengan ppemisahan tuberositas tibia pada sadium awal dan fragmentasi di stadium akhir. Kira-kira 90% dari pasien berespon baik terhadap nonoperative treatment termasuk istirahat, kompres es, modifikasi aktivitas dan latihan rehabilitas. Pada kasus yang jarang surgical excision ossicle dan atau pembebasan kartilago mungkin memberi hasil baik pada pasien dengan skelet yan matur, yang menimbulkan gejala sisa walaupun telah melakukan pengobatan konservatif.

BAB III KESIMPULAN

Osgood-Schlatter disease merupakan suatu penyakit akibat terpisahnya sebagian apofisis tibialis dari tuberositas tibia. Hal ini dapat terjadi karena adanya stress fisik berulang pada lutut, yang sering terjadi pada remaja muda berusia antara 8-15 tahun yang gemar berolahraga seperti sepak bola dan basket yang mengharuskan berlari dan melompat. Pada usia remaja, tulang dalam keadaan mengalami pertumbuhan cepat, oleh karena itu apofisis tibialis sangat rentan terhadap trauma maupun stress fisik berulang. Gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri lutut bagian depan diatas tulang tibia yang disertai pembengkakan. Umumnya pasien dapat di diagnosis dengan mudah berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik. Terapi konservatif berupa istirahat fisik yang melibatkan lutut, kompresi es dan medikamentosa sangat membantu mengatasi gejala Osgood-Schlatter Disease. Terapi pembedahan dapat dilakukan jika berdasarkan indikasi seperti alasan kosmetik maupun nyeri kronis. Pencegahan Osgood-Schlatter Disease yaitu dengan melakukan pemanasan sebelum memulai olahraga, mempelajari teknik-teknik khusus untuk bidang olahraga masing-masing, melakukan relaksasi setelah selesai olahraga dan dapat juga dipertimbangkan penggunaan alat pelindung lutut pada berbagai jenis olahraga. Osgood-Schlatter Disease biasanya sembuh sendiri dalam jangka waktu 12 sampai 18 bulan dan gejalanya benar-benar menghilang ketika anak mencapai struktur dewasanya, yaitu berhenti tumbuh. Rasa sakit jarang berlanjut setelah langkah ini.