Anda di halaman 1dari 6

Hiperemi Pulpa

Posted on April 17, 2011 by Dokter Gigi

Hiperemi pulpa adalah penumpukan darah secara berlebihan pada pulpa, yang disebabkan oleh kongesti vaskular. Hiperemi pulpa ada dua tipe: 1. Arteri (aktif), jika terjadi peningkatan peredaran darah arteri. 2. Vena (pasif), jika terjadi pengurangan peredaran darah vena. Jadi, hiperemi pulpa merupakan penanda bahwa pulpa tidak dapat dibebani iritasi lagi untuk dapat bertahan sebagai suatu pulpa yang tetap sehat. Hiperemi pula dapat disebabkan oleh: 1. Trauma, seperti oklusi traumatik, syok termal sewaktu preparasi kavitas, dehidrasi akibat penggunaan alkohol atau kloroform, syok galvanik, iritasi terhadap dentin yang terbuka di sekitar leher gigi. 2. Kimiawi, seperti makanan yang asam atau manis, iritasi terhadap bahan tumpatan silikat atau akrilik, bahan sterilisasi dentin (fenol, H2O2, alkohol, kloroform). 3. Bakteri yang dapat menyebar melalui lesi karies atau tubulus dentin ke pulpa, jadi dalam hal ini sebelum bakterinya masuk ke jaringan pulpa, tetapi baru toksin bakteri. Gejala Hiperemi pulpa bukanlah penyakit, tetapi merupakan suatu tanda bahwa ketahanan pulpa yang normal telah ditekan sampai kritis. Hiperemi pulpa ditandai dengan rasa sakit yang tajam dan pendek. Umumnya rasa sakit timbul karena rangsangan air, makanan, atau udara dingin, juga karena makanan yang manis atau asin. Rasa sakit ini tidak spontan dan tidak berlanjut jika rangsangan dihilangkan. Diagnosis Hiperemi pulpa didiagnosis melalui gejalanya dan pemeriksaan klinis. Rasa sakit tajam dan berdurasi pendek, berlangsung beberapa detik sampai kira-kira 1 menit, umumnya hilang jika rangsangan disingkirkan. Pulpa yang hiperemi, peka terhadap perubahan temperatur, terutama rangsangan dingin. Rasa manis umumnya juga menyebabkan rasa sakit. Pemeriksaan visual dan riwayat sakit pada gigi tersebut harus diperhatikan, misalnya apakah terdapat karies, gigi pernah ditumpat, terdapat fraktur pada mahkota gigi, atau oklusi traumatik. Pada pemeriksaan perkusi, gigi tidak peka walaupun kadangkadang ada respons ringan. Hal ini disebabkan oleh vasodilatasi kapiler di dalam pulpa.

Terhadap tes elektrik, gigi menunjukkan kepekaan yang sedikit lebih tinggi daripada pulpa normal. Gambaran radiografi menunjukkan ligamen periodontal dan lamina dura yang normal dan pada gambaran ini dapat dilihat kedalaman karies. Hiperemi pulpa harus dibedakan dengan hipersensitivitas dentin walaupun keduanya termasuk pulpitis reversibel. Hipersensitivitas dentin disebabkan oleh dua faktor, yaitu: a. Transmisi rasa sakit melalui tubulus dentin yang terbuka. b. Ambang rasa sakit yang rendah akibat vasodilatasi kapiler yang kronis atau peradangan lokal. Hipersensitif dentin, kadang-kadang disebut juga dengan iritatio pulpa.

Pulpitis
Posted on May 5, 2011 by Dokter Gigi

Pulpitis merupakan kelanjutan dari hiperemi pulpa, yaitu bakteri telah menggerogoti jaringan pulpa. Menurut Ingle, atap pulpa mempunyai persarafan terbanyak dibanding bagian lain pada pulpa. Jadi, saat melewati pembuluh saraf yang banyak ini, bakteri akan menimbulkan peradangan awal dari pulpitis akut. Secara hematogen, pulpitis juga dapat terjadi karena tuberkulosis, sifilis, dan lain-lain yang disebut anachorese. Berdasarkan sifat eksudat yang keluar dari pulpa, pulpitis terbagi atas: 1. Pulpitis akut. Secara struktur, jaringan pulpa sudah tidak dikenal lagi, tetapi selselnya masih terlihat jelas. Pulpitis akut dibagi menjadi pulpitis akut serosa parsialis yang hanya mengenai jaringan pulpa di bagian kamar pulpa saja dan pulpitis akut serosa totalis jika telah mengenai saluran akar. 2. Pulpitis akut fibrinosa. Banyak ditemukan fibrinogen pada pulpa. 3. Pulpitis akut hemoragi. Di jaringan pulpa terdapat banyak eritrosit. 4. Pulpitis akut purulenta. Terlihat infiltrasi sel-sel masif yang berangsur berubah menjadi peleburan jaringan pulpa. Bergantung pada keadaan pulpa, dapat terjadi pernanahan dalam pulpa: a. Pada beberapa bagian terjadi peleburan jaringan pulpa sehingga terbentuk abses. b. Pernanahan terjadi berkesinambungan sehingga terjadi flegmon pada pulpa yang menghancurkan keseluruhan jaringan pulpa. Berdasarkan ada atau tidak adanya gejala, pulpitis terbagi atas:

1. Pulpitis simtomatis. Pulpitis ini merupakan respons pe-radangan dari jaringan pulpa terhadap iritasi, dengan proses eksudatif memegang peranan. Rasa sakit timbul karena adanya peningkatan tekanan intrapulpa. Rasa sakit ini berkisar antara ringan sampai sangat hebat dengan intensitas yang tinggi, terus-menerus, atau berdenyut. Yang termasuk dalam pulpitis simtomatis adalah: - Pulpitis akut - Pulpitis akut dengan periodontitis apikalis akut/kronis - Pulpitis subakut. Gambaran radiografi memperlihatkan adanya karies yang luas dan dalam, kadangkadang terjadi sedikit pelebaran ligamen periodontal. Pada pulpitis simtomatis yang disertai periodontitis apikalis terjadi kepekaan terhadap perkusi. Rangsangan panas akan menyebabkan rasa sakit, sebaliknya rasa sakit berkurang dengan adanya rangsangan dingin. Pada stadium awal, gigi menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap tes elektrik, selanjutnya kepekaan ini berkurang sejalan dengan keparahan penyakit. 2. Pulpitis asimtomatis. Merupakan proses peradangan yang terjadi sebagai mekanisme pertahanan dari jaringan pulpa terhadap iritasi dengan proses proliferasi berperan di sini. Tidak ada rasa sakit karena adanya pengurangan dan keseimbangan tekanan intrapulpa. Yang termasuk pulpitis asimtomatis adalah: - Pulpitis kronis ulseratif - Pulpitis kronis hiperplastik - Pulpitis kronis yang bukan disebabkan oleh karies (prosedur operatif, trauma, gerakan ortodonti). Berdasarkan gambaran histopatologi dan diagnosis klinis, pulpitis terbagi atas: 1. Pulpitis reversibel, yaitu vitalitas jaringan pulpa masih dapat dipertahankan setelah perawatan endodonti. Yang termasuk pulpitis reversibel adalah: - Peradangan pulpa stadium transisi

- Atrofi pulpa - Pulpitis akut. 2. Pulpitis ireversibel, yaitu keadaan ketika vitalitas jaringan pulpa tidak dapat dipertahankan, tetapi gigi masih dapat dipertahankan di dalam rongga mulut setelah perawatan endodonti dilakukan. Yang termasuk pulpitis ireversibel adalah: - Pulpitis kronis parsialis tanpa nekrosis - Pulpitis kronis parsialis dengan nekrosis - Pulpitis kronis koronalis dengan nekrosis - Pulpitis kronis radikularis dengan nekrosis - Pulpitis kronis eksaserbasi akut. Pulpitis Akut Berdasarkan durasi dan keparahan rasa sakit, pulpitis akut dapat dibagi menjadi: 1. Pulpitis akut serosa. Pulpitis akut serosa adalah peradangan akut pada pulpa gigi yang ditandai dengan sakit paroksimal hilang-timbul yang terjadi terus-menerus. Jika dibiarkan, hal ini akan berlanjut menjadi pulpitis supuratif akut yang kemudian menyebabkan nekrosis pulpa. Gejala pulpitis akut serosa adalah sakit paroksimal yang ditimbulkan oleh perubahan suhu mendadak, terutama karena dingin, makanan yang manis atau asam, masuknya makanan ke dalam kavitas, isapan, juga keadaan berbaring yang menyebabkan terjadinya kongesti pembuluh darah pada pulpa. Nyeri sering menetap sesudah penyebabnya dihilangkan dan hilang-timbul secara spontan tanpa sebab yang jelas. Jika yang terkena adalah gigi atas, rasa sakit dapat berpindah (reffered) ke gigi di sebelahnya, ke daerah pelipis, dan sinus, sedangkan jika gigi belakang bawah yang terkena rasa sakit, rasa sakitnya dapat berpindah ke telinga. Pada tahap ini dapat dilihat ada-nya eksudat yang bersifat serosa. Gejala lain yang paling penting adalah adanya penurunan respons terhadap dingin dan bertambahnya respons terhadap panas. Pada tahap lanjut akan timbul rasa sakit juga nyeri jika diperkusi atau dipalpasi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala di atas, respons terhadap tes termal dan elektrik, anamnesis, serta inspeksi. Adanya kavitas yang besar, restorasi yang besar, restorasi yang bocor, pulpa yang terbuka, ataupun riwayat trauma, akan membantu diagnosis.

2. Pulpitis akut supuratif. Pulpitis akut supuratif adalah peradangan pulpa akut yang ditandai dengan pembentukan abses pada permukaan pulpa atau di dalam pulpa. Gejalanya berupa rasa sakit sangat hebat dan umumnya menusuk-nusuk, berdenyut, atau seperti gigi yang ditekan dengan kuat sekali. Pasien sering terbangun tengah malam karena sakitnya dan selalu marah dengan tindakan apa pun yang dilakukan terhadapnya. Rasa sakit bertambah dengan adanya rangsangan panas, kadang-kadang dapat berkurang oleh rangsangan dingin, kemudian rasa sakit akan timbul kembali dan bertambah hebat. Jika absesnya superfisial dan dentin yang karies dibuang dengan ekskavator, tetesan pus (nanah) akan terlihat melalui kavitas tersebut sesudah tetesan darah, tindakan ini dapat mengurangi rasa sakit. Jika absesnya terletak lebih dalam, dapat dilakukan eksplorasi permukaan pulpa dengan instrumen yang tajam tanpa rasa sakit karena ujung saraf telah mati. Jika proses ini dilanjutkan sampai instrumen mencapai pulpa bagian dalam, rasa sakit akan timbul yang diikuti dengan aliran darah bercampur nanah. Ulserasi umumnya terletak superfisial. Bakteri yang membentuk nanah akan mencairkan jaringan pulpa dan mengubahnya menjadi nanah yang akhirnya akan mendorong terjadinya degenerasi total dan kerusakan pulpa. Pada tahap awal, keadaan ini hanya mengenai tanduk pulpa saja. Pulpitis Subakut Merupakan eksaserbasi akut yang ringan dari pulpitis kronis. Ditandai dengan rasa sakit yang sedang dan hilang-timbul. Istilah subakut digunakan pada kasus yang sulit dikategorikan akut atau kronis. Pulpitis Kronis Pulpitis kronis dapat dibagi menjadi: 1. Pulpitis kronis ulseratif. Ditandai dengan pembentukan ulkus pada permukaan pulpa di daerah yang terbuka. Keadaan ini umumnya terjadi pada pulpa muda atau pulpa tua yang sanggup menahan proses infeksi subklinis. Gejalanya adalah rasa sakit yang biasanya tidak begitu hebat, bahkan tidak ada rasa sakit sama sekali, kecuali ada makanan masuk ke dalam kavitas. Selain itu, respons terhadap tes termal dan elektrik akan menurun. Biasanya terdapat pada pulpa yang terbuka dan akan tetap dalam fase kronis selama kavitas tetap terbuka.

2. Pulpitis kronis hiperplastik. Merupakan peradangan pulpa yang terbuka, ditandai dengan terjadinya jaringan granulasi dan epitel karena adanya iritasi yang ringan dalam waktu lama. Terlihat di sini bahwa jumlah dan besar sel juga bertambah. Keadaan ini disebut juga polip pulpa. Gejalanya biasanya tidak jelas, kecuali waktu menelan ketika tekanan gumpalan makanan akan menyebabkan rasa sakit. Respons terhadap perubahan termal lemah atau tidak ada sama sekali, kecuali pada rangsangan dingin yang ekstrem, misalnya etil klorida.