Anda di halaman 1dari 15

SISTEM INSTRUMENTASI

TERMOKOPEL

DISUSUN OLEH:

NAMA : HADYAN GILANG KURNIA NIM : 21060111120001

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERESITAS DIPONEGORO 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa berkembang pesat terutama di bidang otomtisasi. Perkembangan ini tampak jelas terutama di industri manufaktur, di mana sebelumnya banyak pekerjaan menggunakan tangan manusia, kemudian beralih menggunakan mesin, berikutnya dengan electro-mechanic (semi otomatis) dan sekarang sudah menggunakan robotic (full automatic). Model apapun yang digunakan dalam sistem otomatisasi industri sangat tergantung kepada keandalan sistem kendali yang dipakai. Hasil penelitian menunjukan secanggih apapun sistem kendali yang dipakai akan sangat tergantung kepada sensor dan transduser yang digunakan. Sensor dan transudser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Bisanya besaran masukan pada kebanyakan sistem kendali bukan merupakan besaran listrik. Umumnya besaran tersebut adalah besaran fisik, kimia, mekanis dan sebagainya. Untuk merubah ke dalam besaran listrik pada sistem, biasanya besaran-besaran tersebut diubah terlebih dahulu menjadi suatu sinyal listrik melalui sebuah alat yang disebut sensor dan transduser. Salah satu sensor yang umum digunakan adalah sensor suhu. Sensor ini sangat sering digunakan dalam proses manufaktur terutama yang berkaitan dengan proses pemanasan maupun pendinginan. Sensor tersebut bertugas untuk mengetahui kondisi lingkungan atau sebuah sistem yang digunakan sebagai input agar dapat ditindaklanjuti dalam sebuah proses atau pengendalian sistem. Beberapa sensor suhu yang umum digunakan antara lain termokopel.

1.2 TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk lebih memahami tentang sensor termokopel, konstruksi sensor termokopel, operasi sensor temokopel dan aplikasi dari sensor termokopel

1.3 BATASAN MASALAH Pada Penulisan Makalah ini hanya akan membahas mengenai : Pengertian Sensor Suhu termokopel Cara Kerja Sensor Suhu termokopel Aplikasi Sensor Suhu termokopel dalam Kehidupan Sehari-Hari

BAB II TERMOKOPEL
2.1 Pendahuluan Pada dunia elektronika, termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahantegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 C

. Gambar 2.1 Diagram skematik thermocouple

Dua termoelemen A dan B dihubungkan dan jika temperatur antara junction pertama (cold junction) dan kedua (hot junction) berbeda maka akan timbul arus akibat gaya gerak listrik (EMF).

Gambar 2.4. Pengukuran EMF

Jika cold junction open circuit dan dihubungkan dengan voltmeter dengan impedansi yang tak terhingga (besar sekali), seperti yang terlihat pada gambar 2, maka akan terbaca tegangan pada voltmeter, tegangan tersebut dikenal sebagai tegangan Seebeck. Jika thermocouple digunakan untuk mengukur temperatur hot junction maka tegangan Seebeck pada cold

junction, hot junction serta temperatur cold junction harus diketahui terlebih dahulu. EMF, sebenarnya timbul karena gradien temperatur sepanjang kawat yang menghubungkan hot junction dan cold junction. Dengan mengasumsikan kawat thermocouple homogen maka EMF didapat akibat perbedaan temperatur hot junction dan cold junction. Hubungan tegangan antara termoelemen A dan B dengan perbedaan temperatur adalah: = Dimana : EAB(T) adalah tegangan Seebeck S(T) adalah koefisien Seebeck, T adalah perbedaan temperatur antara hot junction dengan cold junction.

2.2

Prinsip Kerja Termokopel Termokopel adalah sebuah alat yang dibuat dari dua jenis kawat dari

logam yang berbeda dan disatukan pada salah satu ujungnya. Ujung ini disebut dengan istilah junction end atau ujung sambungan dan dapat disebut juga ujung pengukuran (T2). Dua kawat tersebut disebut thermoelement yang merupakan kaki-kaki dari termokopel. Keduanya dibedakan menjadi kaki positif dan kaki negatif. Kemudian, ujung laun dari masing-masing kawat disebut dengan tail end (ujung ekor) atau reference end (T1). Junction end adalah ujung yang digunakan untuk mengukur panas dari media yang hendak diukur, misalkan ruangan tungku atau oven dengan suhu 200C sedangkan tail end adalah ujung yang kita sambungkan dengan rangkaian elektronika dan berada pada suhu ruang, katakanlah 28C. Tail end mempunyai dua kutub untuk pengukuran, yaitu positif dan negatif. T1 dan T2 adalah suhu masing-masing pada posisi tail end dan junction end. Perbedaan suhu antara T1 dan T2 tersebut dapat diukur pada kedua kutup positif dan negatif. Oleh karena itu termokopel adalah termasuk temperaturevoltage transducer. Termokopel adalah penghasil tegangan yang dapat diukur pada kedua kutub tail end yang terjadi akibat perbedaan suhu pada T1 dan T2. Jadi tinggal diukur dengan voltmeter digital. Besarnya tegangan keluaran pada termokopel ditentukan dengan rumus: Vout = Vh - Vc Keterangan : Vnet = tegangan keluaran thermokopel Vh = tegangan yang diukur pada suhu tinggi Vc = tegangan referensi

Tegangannya terlalu kecil sehingga harus diamplify terlebih dulu. Selain itu nilai yang terbaca oleh voltmeter juga bukan merupakan ekspresi langsung dari temperature dan masih diperlukan konversi.

Untuk mempermudah konversi maka dapat menggunakan table hubungan tegangan dengan teneprature, sebagai berikut :

Gambar 2. Tabel referensi tegangan ke temperature

Dalam pengukuran tegangan pada termokopel ada beberapa syarat yang ahrus terpenuhi agar tegangan yang didapat tidak nol. Adapaun syarat-syaratnya sebagai berikut : 1. Jika kedua kawat atau thermoelement terbuat dari material yang sama sehingga menyebabka tidak ada perbedaan suhu dianatara kedua ujung kawat. 2. Suhu T1 sama dengan T2 sehingga menyebabkan termokopel tidak dapat mengukur suhu ruang karena kedua ujungnya ada pada temperatur yang relatif sama, yaitu berada pada suhu ruang. Oleh karena itu, kita tiba pada kondisi tidak mudahnya karena pada dasarnya temperatur pada reference end atau tail end haruslah relatif tetap. Hal yang tidak mungkin tentunya sehingga ada istilah cold junction compensation untuk menkompensasi kondisi ini. Sebuah IC seperti misalnya MAX667 bisa dipergunakan untuk kompensator.

2.3 Konstruksi Termokopel Untuk skonstruksi sederhana termokopel diperlihatkan oleh gamabar dibawah ini : .

Gambar 2. Sirkuit sederhana termokopel

Gambar 2.11 kontruksi dalam Termokopel

Pada konstruksi termokopel terdapt dua buah kawat yang terbuat dari amterail yang berbeda, salah satunya digunakan sebagai measuring junction (hot) dan reference junction (cold). Pada kawat rerfernce junction tidak akan mengalami perubahan dan akan tetap pada suhu reference. Pada pengukuran perbedaan potensial dari kedua kawat akan menggunakan voltmeter dan sebelumnya akan di amplify dahulu agar dapat terbaca oleh voltmeter karena tegangan yang dihasilkan terlalu kecil. Pengukuran panas saluran Thermokopel

menghasilkan tegangan yang lebih besar dari tegangan saluran referensi. Perbedaan antara dua tegangan itu sebanding dengan perbedaan suhu.

2.4 Karakteristik Termokopel

2.4.1 Beberapa jenis thermocouple berdasarkan aplikasi penggunaannya 1. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy) Thermocouple untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu 200 C hingga +1200 C.

Gambar 2.2 NiCr-NiSi (Tipe K)

2. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy)) Tipe E memiliki output yang besar (68 V/C) membuatnya cocok digunakan pada temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.

Gambar 2.3 NiCr CuNi (Tipe E)

3. Tipe J (Iron / Constantan) Rentangnya terbatas (40 hingga +750 C) membuatnya kurang populer dibanding tipe K. Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 V/C.

Gambar 2.4 Fe-CuNi (Tipe J)

4. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy)) Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 C. Sensitifitasnya sekitar 39 V/C pada 900 C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N merupakan perbaikan tipe K

Gambar 2.5 Nicrosil-Nisil (Tipe N)

5. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh) Cocok mengukur suhu di atas 1800 C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu 0 C hingga 42 C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50 C.

Gambar 2.6 Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh)

6. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)

Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.

Gambar 2.7 Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)

7. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium) Cocok mengukur suhu di atas 1600 C. sensitivitas rendah (10 V/C) dan biaya tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas (1064.43 C).

Gambar 2.8 Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)

8. Type T (Copper / Constantan) Cocok untuk pengukuran antara 200 to 350 C. Konduktor positif terbuat dari tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43 V/C.

Gambar 2.9 Type T (Copper / Constantan)

Gambar 2.10 karakteristik bahan termokopel yang digunakan bersama platinum

2.4.2 Adapun kelebihan dan kekurangn dari termokopel adalah sebagai berikut : kelebihan dari termokopel adalah: a. Mudah dibaca, karena memiliki layar yang tidak mudah keruh dan skala yang jelas b. Respon cepat untuk setiap adanya perubahan suhu c. Akurasi yang tepat dalam pengukuran suhu d. Baik digunakan untuk pengukuran variasi suhu dengan jarak kurang dari 1 cm e. Termokopel tidak mudah rusak dan tahan lama

Sementara itu, termokopel juga memiliki kekurangan dalam pemakaiannya, yakni: a. Kalibrasi yang sulit, saat termokopel dinyalakan, suhu yang tertera adalah suhu pada ruangan tersebut b. c. Hanya dapat digunakan untuk mengukur perbedaan suhu Termokopel membutuhkan perlengkapan tambahan yang harganya biasanya cukup mahal

2.5 APLIKASI TERMOKOPEL Thermocouple cocok untuk mengukur rentang suhu yang besar, sampai 2300C. Mereka kurang cocok untuk aplikasi di mana perbedaan suhu lebih kecil harus diukur dengan akurasi yang tinggi, misalnya rentang 0-100C dengan 0,1C akurasi. Contoh Penggunaan Thermocouple yang umum yaiutu pada industry besi dan baja yang dalam pengoperasiannya menggunakan suhu yang sangat tinggi.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN


3.1 KESIMPULAN 1. Sensor termokopel dapat digunakan sebagai pengukur suhu 2. Sensor termokopel bekerja dengan membandingkan perbedaan

potensial yang terjadi di kedua ujung termoelemen akibat perbedaan panas dikedua ujungnya. 3. Terdapat beberapa jenis termokopel diantara a. Tipe E (kromel-konstantan) b. Tipe J (besi-konstantan) c. Tipe K (kromel-alumel) d. Tipe R-S (platinum-platinum rhodium) e. Tipe T (tembaga-konstantan) 4. Hubungan tegangan antara termoelemen A dan B dengan perbedaan temperatur adalah : =

5. Termokopel cocok untuk mengukur rentang suhu yang besar, sampai 2300C. Mereka kurang cocok untuk aplikasi di mana perbedaan suhu lebih kecil harus diukur dengan akurasi yang tinggi, misalnya rentang 0100C dengan 0,1C akurasi.

3.2

SARAN Penggunaan termokopel dalam pengukuran suhu yang tinggi sudah sangat mumpuni dalam hal instreumentasi terlihat dari banyaknya kelebihan dari sensor tersebut. Namun ada pula kekurangan dari termokopel yaittu kalibrasi yang sulit dan perlengkapan tambahan yang harganya cukup mahal.

DAFTAR REFERENSI
[1] http://elektronika-dasar.web.id/komponen/sensor-tranducer/sensor-suhu-rtd[2] http://www.momentous-inst.com/news-detail/kelebihan-dan-kekurangan-daritermokopel [3] http://onnyapriyahanda.com/prinsip-kerja-thermocouple/ [4] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18446/3/Chapter%20II.pdf [5] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28656/3/Chapter%20II.pdf