Anda di halaman 1dari 36

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu 1 Said Djandan Mufti dengan NIM 0671500569.

Judul Skripsi Pengaruh Tayangan Program Acara the Master RCTI Terhadap Minat Belajar Sulap di Smu Nusantara 1 Tangerang. 2 Sherly Maulana dengan NIM 0771503028. Judul Skripsi Pengaruh Tayngan Iklan Provider XL di Televisi Terhadap Minat Penggunaan Layanan Internet XL pada Mahasiswa (Studi Kuantitatif pada Fikom Prof Dr Moestopo (Beragama) Angkatan 2009 Jakarta). 3 Febri Noviyanti dengan Nim 0771507238 Pengaruh Downcard Communication Terhadap Kinerja Pegawai (Survei di Media Cetak Harian Seputar Indonesia Sirkulasi Daerah Barat).

2.2.

Kajian Teori Pada sub bab ini dipaprkan teori-teori serta pustaka yang digunakan dalam

penelitian. Teori tersebut diambil dari buku literature dan skripsi. Teori-teori yang dibahas adalah komunikasi, komunikasi massa, ciri-ciri komunikasi massa, fungsi komunikasi massa, umpan balik komunikasi massa, efek pesan media massa, efektifitas, pendekatan terhadap efektifitas, masalah dalam pengukuran efektifitas, E-Paper, hal-hal yang mendasari penggunaan E-Paper, hal-hal yang menarik dalam tren E-Paper, perkembangan E-Paper di Indonesia, dampak perkembangan E-Paper

10 Universitas Budi Luhur

11

terhadap Koran cetak. 2.2.1. Komunikasi 2.2.1.1 Pengertian Komunikasi Istilah komunikasi diambil dari bahasa Yunani, yaitu Common yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Shared by all alike. Itulah sebabnya pada prinsipnya komunikasi harus bersifar dua arah dalam rangka pertukaran (idea) dan informasi menuju pada terbentuknya pengertian bersama. (Kuswandi, 1996:16). Komunikasi memiliki banyak definisi sesuai dengan persepsi ahli-ahli komunikasi yang memberikan batasan pengertian. Seperti yang dikemukakan Cherry, Stuart (1983), dalam (Cangara, 2005:18). Istilah komunikasi dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi berasal dari perkataan Latin Communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari akar kata dalam bahasa Latin Communico yang artinya membagi.. Pengertian komunikasi secara umum dapat dilihat dari dilihat dua segi, yaitu : a. Pengertian Komunikasi Secara Etimologis Secara etimologis (asal katanya), komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communication, bersumber dari kata communis yang berarti sama, dalam hal ini berarti membuat kebersamaan makna dalam suatu hal antara dua orang atau lebih. Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat

Universitas Budi Luhur

12

dalam proses komunikasi itu terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi sudah berlangsung. Namun jika seseorang tidak mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka hal tersebut bukanlah suatu komunikasi. b. Pengertian Komunikasi Secara Terminologis Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyatakan seseuatu kepada orang lain. Onong Uchyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, mengatakan komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan. Sebuah definisi yang dibuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (human communication) bahwa komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (1) membangun hubungan antar sesama manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (Cangara, 2002 : 19).

Universitas Budi Luhur

13

Banyak sekali definisi komunikasi yang berbeda-beda yang disampaikan oleh para ahli komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan suatu proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. Sementara Berelson dan Steiner (1964) mendefinisikan komunikasi sebagai penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbolsimbol, seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain. Purba dkk, (2006: 32-33). mengatakan bahwa komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima Suatu proses komunikasi tidak hanya berupa memberitahukan dan mendengarkan saja, namun didalam suatu proses komunikasi harus mengandung pembagian ide, pikiran, fakta, ataupun pendapat dari satu orang kepada orang lain. Dari definisi-definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian komunikasi adalah seni menyampaikan informasi (pesan, ide, sikap, gagasan) dari komunikator untuk merubah serta membentuk perilaku komunikan (pola, sikap, pandangan dan pemahamannya) ke pola dan pemahaman yang dikehendaki komunikator. Wilbur Schramm mengatakan dalam karyanya Communication Research in the United States bahwa komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan ( frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang pernah diperoleh komunikan (Effendy, 2003 : 13).

Universitas Budi Luhur

14

Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif dapat dijelaskan dengan menjawab pertanyaan dari paradigma Lasswell yang dikemukanan oleh Harold D.Lasswell, (1990) yaitu: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect ? Paradigma Lasswell ini menunjukkan bahwa ada lima unsur dasar dalam komunikasi, yakni : a. Who (Siapa) : Komunikator, orang yang menyampaikan pesan.

b. Says What (Mengatakan Apa) : Pesan, pernyataan yang diukung oleh lambang, dapat berupa ide atau gagasan. c. In Which Channel (Saluran): Media, sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya. d. To Whom (Kepada Siapa) : Komunikan, orang menerima pesan.

e. With What Effect (Dampak): Efek, dampak sebagai pengaruh dari pesan atau dapat juga dikatakan sebagai hasil dari proses komunikasi. Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut dapat dikaji model komunikasi yaitu :

Sender

Message

Media

Receiver

Effect

Feedback

Universitas Budi Luhur

15

Sender Message Media Receiver Effect

: Komunikator (pengirim informasi) yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang : Pesan yang merupakan seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh ko munikator : Saluran komunikasi tempat berlalunya pesan komunikator kepada komunikan. : Komunikan (orang) yang menerima pesan yang dari dari

komunikator : Perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh komunikan sebelum dan sesudah menerima

Feedback

pesan : Umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator

Fungsi komunikasi adalah : a. Menyampaikan informasi (to inform). b. Mendidik (to educate). c. Menghibur (to entertain). d. Mempengaruhi (to influence). Tujuan komunikasi adalah : a. Mengubah sikap (to change the attitude). b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion). c. Mengubah perilaku (to change the behavior). d. Mengubah masyarakat/perubahan sosial (to change the society). 2.2.2. Komunikasi Massa 2.2.2.1 Pengertian Komunikasi Massa Pengertian komunikasi massa, merujuk pada pendapat Tan dan Wright,

Universitas Budi Luhur

16

merupakan bentuk komunkasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004 : 3). Menurut Bittner, komunikasi massa adalah penyampaian pesan, informasi, gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media massa. Dari definisi tersebut jelaslah bahwa komunikasi massa harus menggunakan media massa, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri olah ribuan bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukanlah komunikasi massa. Ahli komunikasi lainnya, Joseph A.Devito merumuskan komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ia juga mengatakan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau visual (Effendy, 2000 : 21). Dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media modern yang ditujukan kepada massa yang abstrak, yakni sejumlah orang yang tidak tampak oleh si penyampai pesan, misalnya pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi dan film. Mempelajari komunikasi massa tidak ada gunanya tanpa mengkaitkan peran medianya, bahkan bisa dikatakan media massa menjadi alat utama dalam proses komunikasi massa. 2.2.2.2 Ciri-Ciri Komunikasi Massa

Universitas Budi Luhur

17

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat kita simpulkan beberapa karakteristik dari komunikasi massa, yaitu : a. Komunikasi massa bersifat satu arah Komunikasi massa bersifat satu arah, artinya setiap pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak diketahui apakah pesan itu dapat diterima dan dimengerti dengan baik oleh komunikan atau tidak. Dalam komunikasi massa, komunikator tidak tahu sama sekali apakah komunikasinya berhasil atau gagal. Umpan balik terhadap pesan yang disampaikan itu tidak langsung saat ia berkomunikasi, akan tetapi jauh sesudah pesan itu disampaikan (sifatnya tertunda/delayed feedback). Artinya, komunikan tidak dapat secara langsung memberikan umpan balik atas pesan yang disampaikan oleh komunikator. b. Komunikator pada komunikasi massa melembaga Komunikator dalam komunikasi massa itu bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud disini menyerupai sebuah sistem. Di dalam komunikasi massa, yang namanya komunikator itu lembaga media massa itu sendiri. Dalam sebuah sistem ada interdependensi, artinya adanya interaksi, saling keterkaitan dan saling ketergantungan antara komponen-komponen didalamnya. Jadi apabila ada satu komponen yang tidak bekerja akan mempengaruhi kinerja komponen yang lainnya.

Universitas Budi Luhur

18

c. Pesan pada komunikasi massa bersifat massa Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesannya ditujukan pada khalayak yang plural. Oleh karena itu, pesan-pesan yang

disampaikanpun tidak boleh bersifat khusus. Khusus disini artinya pesan itu memang tidak disengaja untuk golongan tertentu. Misalnya, televisi. Karena televisi ditujukan dan untuk dinikmati oleh orang banyak, maka pesannya harus bersifat umum. Misalnya dalam pilihan kata-katanya, sebisa mungkin memakai kata-kata popular bukan katakata ilmiah. Sebab kata ilmiah itu hanya dapat dimengerti oleh kelompok tertentu. d. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas. Dalam komunikasi massa, komunikasi yang banyak itu secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula. Effendy mengartikan keserempakan media massa itu ialah keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah. e. Komunikan komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan

Universitas Budi Luhur

19

(anonim), karena komunikasinya menggunakan media massa dan tidak tatap muka. Dalam komunikasi massa, komunikannya juga heterogen karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda. Baik dari segi usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, tingkat ekonomi dan lainlain. f. Stimuli alat indera terbatas Karakteristik komunikasi massa lainnya yang dapat dianggap salah satu kelemahannya adalah stimuli alat indera yang terbatas. Pada komunikasi antar pribadi yang bersifat tatap muka., maka seluruh alat indera pelaku komunikasi (komunikator dan komunikan) dapat digunakan secara maksimal. Kedua belah pihak dapat melihat, mendengar secara langsung, bahkan mungkin merasa. Dalam komunikasi massa, stimuli alat indera bergantung pada jenis media massanya. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat, pada media televisi dan film, kita menggunakan indera penglihatan dan pendengaran, sedangkan pada media radio kita menggunakan indera pendengaran.

Universitas Budi Luhur

20

g. Umpan balik pada komunikasi massa tertunda (delayed) Ciri ini berhubungan dengan ciri komunikasi massa yang bersifat satu arah. Umpan balik (feedback) merupakan faktor penting dalam bentuk komunikasi apa pun. Pada komunikasi massa, umpan baliknya bersifat tertunda (delayed), artinya komunikan tidak dapat secara langsung memberikan respon terhadap pesan yang telah diterimanya dari komunikator (media). 2.2.2.3 Fungsi Komunikasi Massa Wilbur Schramm menyatakan komunikasi massa berfungsi sebagai decoder, interpreter dan encoder. Komunikasi massa men-decode lingkungan sekitar untuk kita, mengawasi kemungkinan timbulnya bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan juga efek-efek dari hiburan. Komunikasi massa menginterpretasikan hal-hal yang di decode sehingga dapat mengambil kebijakan terhadap efek, menjaga berlangsungnya interaksi serta membantu anggotaanggota masyarakat menikmati kehidupan. Komunikasi massa juga meng-encode pesan-pesan yang yang memelihara hubungan kita dengan masyarakat lain serta menyampaikan kebudayaan baru kepada anggota-anggota masyarakat. Pendapat Schramm pada dasarnya tidak berbeda dengan pendapat Harold D.Lasswell yang menyebutkan fungsi-fungsi komunikasi massa sebagai berikut : a. Surveillance of the environment Fungsinya sebagai pengamatan lingkungan, yang oleh Schramm disebut sebagai decoder yang menjalankan fungsi The Watcher.

Universitas Budi Luhur

21

b. Correlation of the parts of society in responding to the environment Fungsinya menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungan. Schramm menamakan fungsi ini sebagai interpreter yang melakukan fungsi The Forum. c. Transmission of the social heritage from one generation to the next Fungsinya penerusan atau pewarisan sosial dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Schramm menamakan fungsi ini sebagai encoder yang menjalankan fungsi The Teacher. Lasswell tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai fungsi-fungsi yang ia kemukakan itu, sehingga terbuka kesempatan terhadap berbagai spekulasi dan penafsiran. Seorang ahli sosiologi, Charles R.Wright, menambahkan fungsi keempat, yaitu entertainment dan ia memberikan penjelasan keempat fungsi tersebut sebagai berikut : a. Surveillance Menunjuk pada fungsi pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar maupun di dalam masyarakat. Fungsi ini berhubungan dengan apa yang disebut Handling of News. b. Correlation Meliputi fungsi interpretasi pesan yang menyangkut lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian. Untuk sebagian, fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi editorial atau propaganda.

Universitas Budi Luhur

22

c. Transmission Menunjuk pada fungsi mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya dari satu generasi ke generasi yang lain atau dari anggota-anggota suatu masyarakat kepada pendatang

baru. Fungsi ini di- identifikasikan sebagai fungsi pendidikan. d. Entertainment Menunjuk pada kegiatan-kegiatan komunikatif yang dimaksudkan untuk memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu (Wiryanto, 2000 : 10-12). 2.2.2.4 Umpan Balik Komunikasi Massa Dalam proses komunikasi massa dikenal istilah feedback atau umpan balik yaitu reaksi (tanggapan) yang diberikan oleh penerima pesan atau komunikan kepada penyampai pesan atau komunikator/sumber. Selain itu, umpan balik juga dapat berupa reaksi yang timbul dari pesan kepada komunikator (Ardianto, 2004 : 45-47). a. Internal Feedback Internal feedback adalah umpan balik yang diterima oleh komunikator bukan dari komunikan, akan tetapi datang dari pesan itu atau dari komunikator itu sendiri. Ketika menyampaikan pesan, komunikator menyadari telah melakukan kesalahan/kekhilafan, kemudian ia meminta maaf dan memperbaiki kesalahan tersebut. b. Eksternal Feedback External feedback adalah umpan balik yang diterima oleh

Universitas Budi Luhur

23

komunikator dari komunikan. External feedback ini sifatnya bisa langsung dan bisa juga tidak. 1) Umpan balik langsung Umpan balik yang sifatnya langsung yaitu reaksi yang dapat segera ditangkap oleh komunikator, misalnya anggukan kepala pertanda komunikan mengerti atau setuju terhadap pesan yang diterimanya atau komunikan

menggelengkan kepala yang mengandung arti bahwa pesan yang diterimanya tidak dimengerti atau dipahami oleh komunikan. 2) Umpan balik tertunda Umpan balik yang sifatnya tidak langsung (delayed feedback) adalah umpan balik yang datang kepada komunikator (sumber) setelah melewati suatu rentang waktu (selang waktu), contohnya rubrik Surat Pembaca pada surat kabar dan sejenisnya. c. Representative Feedback Sesuai dengan karakteristik komunikasi massa yang komunikannya bersifat heterogen, maka tidak mudah untuk mengukur umpan balik yang dari semua komunikan. Karena itu umpan balik yang datang biasanya merupakan representative (wakil) sampel, sehingga

walaupun yang ditanggapi hanya satu atau dua komunikan, namun hal tersebut sudah dianggap dapat mewakili sejumlah komunikan yang lainnya. d. Cumulative Feedback Cumulative feedback adalah umpan balik yang datang kepada

Universitas Budi Luhur

24

komunikator dihimpun dahulu dan tidak segera diubah dalam pesan berikutnya, karena komunikator harus mempertimbangkannya dahulu untuk dapat membuat kebijaksanaan selanjutnya. e. Quantitative Feedback Quantitative feedback adalah umpan balik yang datang pada umumnya diukur dengan jumlahnya (kuantitas). f. Institutionalized Feedback Institutionalized Feedback adalah umpan balik yang terlembagakan, artinya umpan balik yang diupayakan oleh lembaga, yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung khalayak untuk mengumpulkan pendapatnya, kemudian dianalisis oleh lembaga tersebut. 2.2.2.5 Efek Pesan Media Massa a. Efek Kognitif Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Efek kognitif ini membahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Melalui media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, orang, atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara langsung. b. Efek Afektif Efek ini kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang

Universitas Budi Luhur

25

sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaaan senang, marah, sedih dan sebagainya. Misalnya dengan melihat situs dpreview.com akan timbul perasaan senang melihat tampilan kamera DSLR. c. Efek Behavioral Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Dewasa ini, media massa telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi khalayak. Contohnya adalah berbagai jenis buku, majalah ataupun surat kabar yang telah membahas berbagai macam keterampilan. Dengan demikian, media massa tersebut dapat dijadikan atau digunakan sebagai media pendidikan (Ardianto, 2004 : 52-56). 2.2.3 Efektivitas

2.2.3.1 Pengertian Efektifitas Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan dalam setiap organisasi. Efektivitas disebut juga efektif, apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditemukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat soewarno yang mengatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Caster I. Bernard, efektivitas adalah tercapainya sasaran yang telah disepakati bersama (Bernard, 1992:207). Menurut Cambel J.P, Pengukuran efektivitas secara umum dan yang paling menonjol adalah :

Universitas Budi Luhur

26

a. Keberhasilan program b. Keberhasilan sasaran c. Kepuasan terhadap program d. Tingkat input dan output e. Pencapaian tujuan menyeluruh (Cambel, 1989:121) Sehingga efektivitas program dapat dijalankan dengan kemampuan operasional dalam melaksanakan program-program kerjayang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, secara komprehensif, efektivitas dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan suatu lembaga atau organisasi untuk dapat melaksanakan semua tugas-tugas pokonya atau untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya (Cambel, 1989:47). Sementara itu, menurut Richard M. Steers, efektivitas merupakan suatu tingkatan kemampuan organisasi untuk dapat melaksanakan seluruh tugas-tugas pokoknya atau pencapaian sasarannya. Efektivitas dalam dunia riset ilmu-ilmu social dijabarkan dengan penemuan atau produktivitas, dimana bagi sejumlah sarjana social efektivitas seringkali ditinjau dari sudut kualitas pekerjaan atau program kerja. Dari pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan pengertian efektivitas, yaitu keberhasilan suatu aktivitas atau kegiatan dalam mencapai tujuan (sasaran) yang telah ditentukan sebelumnya. Mengingat keanekaragaman pendapat mengenai sifat dan komposisi dari efektivitas, maka tidaklah mengherankan jika terdapat sekian banyak pertentangan pendapat sehubungan dengan cara meningkatnya, car mengatur dan bahkan cara menentukan indicator efektivitas, sehingga, dengan demikian akan lebih sulit lagi

Universitas Budi Luhur

27

bagaimana cara mengevaluasi tentang efektivitas. Pengertian yang memadai mengenai tujuan ataupun sasaran organisasi, merupakan langkah pertama dalam pembahasan efektivitas, dimana seringkali berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam usaha mengukur efektivitas yang pertama sekali adalah memberikan konsep tentang efektivitas itu sendiri. Dari beberapa uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas suatu lembaga secara fisik dan non fisik untuk mencapai tujuan srta meraih keberhasilan maksimal. 2.2.3.2 Pendekatan Terhadap Efektivitas Pendekatan efektivitas dilakukan dengan acuan berbagai bagian yang berbeda dari lembaga, dimana lembaga mendapatkan input atau masukan berupa berbagai macam sumber dari lingkungannya. Kegiatan dan proses internal yang terjadi dalam lembaga mengubah input menjadi output atau program yang kemudian dilemparkan kembali pada lingkungannya. a. Pendekatan sasaran (Goal Approach) Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai. Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkatan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut (Price, 1992:15).

Universitas Budi Luhur

28

Sasaran yang penting diperhatikan dalam pengukuran efektivitas dengan pendekatan ini adalah sasaran yang realistis untuk memberikan hasil maksimal berdasarakan sasaran resmi Official Goal dengan memperhatikan permasalahan yang ditimbulkannya, dengan

memusatkan perhatian terhadap aspek output yaitu dengan mengukur keberhasilan programdalam mencapai tingkat output yang

direncanakan. Dengan demikian, pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana organisasi atau lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai. b. Pendekatan Sumber (System Resource Approach) Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu lembaga dalam mendapatkan berbagai macam sumber yang

dibutuhkannya. Suatu lembaga harus dapat memperoleh berbagai macam sumber dan juga memelihara keadaan dan system agar dapat menjadi efektif. Pendekatan ini didasarkan pada teori mengenai keterbukaan sistem suatu lembaga terhadap lingkungannya, karena lembaga mempunyai hubungan yang merata dalam lingkungannya dimana dari lingkungan diperoleh sumber-sumber yang terdapat pada lingkungan seringkai bersifat langka dan bernilai tinggi. c. Pendekatan Proses (Internal Process Approach) Pendekatan proses menganggap sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif,

Universitas Budi Luhur

29

proses internal berjalan dengan lancer dimana kegiatan bagian-bagian yang ada berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki lembaga, yang menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan lembaga. 2.2.3.3 Masalah dalam Pengukuran Efektivitas Efektivitas selalu diukur berdasarkan prestasi, produktivitas dan laba. Seperti ada beberapa rancangan tentang memandang konsep ini dalam kerangka kerja dimensi satu, yang memusatkan perhatian hannya kepada satu kriteria evaluasi (contoh, produktivitas). Pengukuran efektivitas dengan menggunakan sasaran yang sebenarnya dan memberikan hasil daripada pengukuran efektivitas berdasarkan sasaran resmi dengan memperhatikan masalah yang ditimbulkan oleh beberapa hal berikut: a. Adanya macam-macam output Adanya bermacam-macam output yang dihasilkan menyebabkan pengukuran efektivitas dengan pendekatan sasaran menjadi sulit untuk dilakukan. Pengukuran juga semakin sulit jika ada sasaran yang saling bertentangan dengan sasaran lainnya. Efektivitas tidak akan dapat diukur hannya dengan menggunakan suatu indikator atau efektivitas yang tinggi pada suatu sasaran yang seringkali disertai dengan efektivitas yang rendah pada sasaran lainnya.

Universitas Budi Luhur

30

Selain itu, masalah itu juga muncul karena adanya bagian-bagian dalam suatu lembaga yang mempunyai sasaran yang berbedabedasecara keseluruhan, sehingga pengukuran efektivitas seringkali terpaksa dilakukan dengan memperhatikan bermacam-macam secara simultan. Dengan demikian, yang diperoleh dari pengukuran efektivitas adalah profil atau bentuk dari efek yang menunjukkan ukuran efektivitas pada setiap sasaran yang dimilikinya. Selanjutnya hal lain yang sering dipermasalahkan adalah frekuensi penggunaan criteria dalam pengukuran efektivitas seperti yang dikemukakan oleh R.M Steers yaitu bahwa kriteria dan penggunaan hal-hal tersebut dalam pengukuran efektivitas adalah : 1) Adaptabilitas dan Fleksibilitas 2) Produktifitas 3) Keberhasilan 4) Keterbukaan dalam berkomunikasi 5) Keberhasilan pencapaian program 6) Pengembangan program (Steers,1995:546) b. Subjektifitas dalam adanya penelitian Pengukuran efektivitas dengan menggunakan pendekatan sasaran seringkali mengalami hambatan, karena sulitnya mengidentifikasi sasaran yang sebenarnya dan juga karena kesulitan dalam pengukuran keberhasilan dalam mencapai sasaran. Hal ini terjadi karena sasaran yang sebenarnya dalam pelaksanaan. Untuk itu ada baiknya bila

Universitas Budi Luhur

31

meninjau pendapat G.W England, bahwa perlu masuk kedalam suatu lembaga untuk mempelajari sasaran yang sebenarnya karena informasi yang diperoleh hannya dari dalam suatu lembaga untuk melihat program yang berorientasi ke luar atau masyarakat, seringkali dipengaruhi oleh subjektifitas. Untuk sasaran yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, unsure subjektif itu tidak berpengaruh tetapi untuk sasaran yang harus dideskripsikan secara kuantitatif, informasi yang diperoleh akan sangat tergantung pada subjektifitas dalam suatu lembaga mengenai sasarannya. Hal ini didukung oleh pendapat Richard M Steers yaitu bahwa lingkungan dan keseluruhan elemen-elemen kontekstual berpengaruh terhadap informasi lembaga dan menentukan tercapai tidaknya sasaran yang hendak dicapai (Steers, 1995:558).

2.2.4

E-Paper

2.2.4.1 Pengertian e-paper E-paper adalah electronic paper atau electronic ink display, adalah salah satu technology display yang dirancang memang untuk membuat tampilan seperti tinta yang tercetak diatas kertas. Berbeda dengan display lain yang ditujukan untuk menampilkan video yang lebih aktif berubah, e-paper tidak membutuhkan waktu refresh dengan respons cepat. Yang diutamakan adalahkemampuan menampilkan teks dan gambar, dan kebutuhan daya minimal. Peyampaian berita

Universitas Budi Luhur

32

yang mendalam, akurat dan terpercaya serta ketepatan koran yang tepat waktu ketangan pembaca menjadikan bacaan yang bergengsi bagi pembacanya 2.2.4.2 Hal-hal yang mendasari penggunaan e-paper Realitas sosial menunjukkan perkembangan teknologi dan informasi semakin mengaburkan batas akses terhadap informasi. Berbagai inovasi teknologi pada dasarnya muncul untuk memudahkan dan memanjakan masyarakat dunia dalam mengakses informasi secara global. (McQuail, 2002 : 388). Dalam dunia surat kabar/mass media, inovasi koran elektronik ( e-paper) muncul sebagai bentuk inovasi pelayanan kepada masyarakat pengguna internet. Saat ini masyarakat lebih termanjakan dengan kemudahan mengakses informasi dan menikmati tampilan koran cetak secara online tanpa harus repot membeli koran cetak. Keuntungan yang diperoleh perusahaan media dengan format e-paper diantaranya dapat memperluas jaringan konsumen/promosi produk yang dapat menjangkau pengguna internet di seluruh dunia. Selain itu e-paper juga dapat diakses dengan mudah dan murah dalam situasi dan kondisi apapun. Hal inilah yang kemudian menarik kalangan pengusaha untuk ramai-ramai beriklan secara online, dengan anggapan ketepatan strategi promosi yang mampu menjangkau audience secara global. Dengan demikian perusahaan media jelas mendapatkan keuntungan perluasan konsumen media hingga keuntungan secara finansial. 2.2.4.3 Hal-hal yang menarik dalam tren e-paper Inovasi transformasi koran cetak ke bentuk digital merupakan fenomena yang menarik. Sebelum kemunculan e-paper, masyarakat penggila informasi

Universitas Budi Luhur

33

harus bersusah payah membeli koran cetak keluar rumah. Selain itu masyarakat pembaca juga cenderung memiliki kesibukan sehingga waktu untuk membaca pun minim. Dengan munculnya format e-paper, masyarakat penggila informasi khususnya pengguna internet semakin dimanjakan dengan bentuk koran yang praktis, menarik, murah serta mudah diakses secara online. Selain itu e-paper juga dilengkapi dengan fitur-fitur penunjang seperti fitur print, thumbnail, pengiriman koran dalam e-mail, hingga fitur pencarian arsip pemberitaan. 2.2.4.4 Perkembangan e-paper di Indonesia Perkembangan perusahaan media cetak di Indonesia sudah memasuki era baru, yaitu era koran digital. Harian Kontan merupakan media cetak pertama di Indonesia yang mempunyai edisi digital sejak tanggal 1 Juli 2008. Dua hari kemudian, pada tanggal 3 Juli 2008, Harian Kompas mulai tampil dalam bentuk digital. Sampai saat ini trend penggunaan format e-paper semakin banyak digunakan oleh perusahaan pers baik nasonal maupun koran lokal. Sebagai contoh Koran Tempo, Suara Pembaruan, Tribun Lampung , Radar Lampung dsb. 2.2.4.5 Dampak perkembangan e-paper terhadap koran cetak Muncul persepsi dan kekhawatiran bahwa masyarakat tidak lagi membeli koran cetak, karena bisa mendapatkan beritanya di internet. Namun hal ini akhirnya bergeser, karena media internet dipandang sebagai pelengkap, yang justru bisa menjadi sumber keuntungan. Realitas sosial menunjukkan kehadiran koran digital (e-paper) tidak akan

Universitas Budi Luhur

34

mengikis edisi cetak, namun justru menambah peluang pembaca baru. Target pembaca e-paper mampu menjangkau seluruh pengguna internet di berbagai belahan dunia. Hadirnya koran digital juga justru menggairahkan budaya baca. Koran jenis baru ini akan menjadi mitra strategis untuk mengembangkan koran cetak sehingga tidak ditinggalkan pembacanya. Dimana anak-anak muda yang tidak begitu senang membaca koran tradisional berbentuk kertas, dapat memperoleh informasi melalui koran digital. Jadi dapat disimpulkan bahwa pesatnya perkembangan penggunaan koran digital tidak akan terlalu berpengaruh pada tingkat penjualan koran cetak. Hal ini dikarenakan pemasaran e-paper dengan koran cetak memiliki target atau sasaran konsumen dalam berbagai dimensi yang berbeda. Dengan semakin murahnya koneksi internet, informasi menjadi sangat mudah didapat. Bahkan media elektronik seperti Televisi kadang kalah cepat dalam memberitakan suatu peristiwa yang penting. Selain itu, sumber berita dari internet juga bisa dikatakan tidak terbatas. Hanya kadang kita perlu menyaring, berita dari sumber mana yang dapat kita percaya.

2.2.5

Minat Membaca

2.2.5.1 Pengertian Minat Membaca Minat merupakan faktor paling penting jika ingin mengingat hal-hal tertentu. Secara garis besar minat berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Sedangkan baca atau yang dikenal dengan membaca ialah serangkaian kegiatan pikiran

Universitas Budi Luhur

35

seseorang yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memahami sesuatu keterangan yang disajikan kepada indra penglihatan dalam bentuk lambang huruf dan tanda lainnya. Jadi, minat baca ialah keterlibatan sepenuhnya seseorang dengan segenap kegiatan membaca secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang berbagai bidang ilmu

pengetahuan yang dituntutnya. Apabila minat baca di khususkan kepada mahasiswa, berarti kegiatannya tersebut untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap bidang pengetahuan ilmiah yang dituntutnya di perguruan tinggi. Hurlock (1993) menjelaskan bahwa minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan ketika bebas memilih. Ketika seseorang menilai bahwa sesuatu akan bermanfaat, maka akan menjadi berminat, kemudian hal tersebut akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya juga akan menurun. Sehingga minat tidak bersifat permanen, tetapi minat bersifat sementara atau dapat berubah-ubah. Tampubolon (1993) mengemukakan bahwa minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Hal senada juga dikemukakan oleh Sandjaja (2006) bahwa suatu aktivitas akan dilakukan atau tidak sangat tergantung sekali oleh minat seseorang terhadap aktivitas tersebut, disini nampak bahwa minat merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas. Meichati (Sandjaja, 2006) mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas.

Universitas Budi Luhur

36

Aiken (Ginting, 2005) mengungkapkan definisi minat sebagai kesukaan terhadap kegiatan melebihi kegiatan lainnya. Ini berarti minat berhubungan dengan nilai-nilai yang membuat seseorang mempunyai pilihan dalam hidupnya, hal tersebut diungkapkan oleh Anastasia dan Urbina (Ginting, 2005). Selanjutnya Ginting (2005) menjelaskan, minat berfungsi sebagai daya penggerak yang mengarahkan seseorang melakukan kegiatan tertentu yang spesifik, lebih jauh lagi minat mempunyai karakteristik pokok yaitu melakukan kegiatan yang dipilih sendiri dan menyenangkan sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan dalam diri seseorang. Sutjipto (2001) menjelaskan bahwa minat adalah kesadaran seseorang terhadap suatu objek, orang, masalah, atau situasi yang mempunyai kaitan dengan dirinya. Artinya, minat harus dipandang sebagai sesuatu yangsadar. Karenanya minat merupakan aspek psikologis seseorang untuk menaruh perhatian yang tinggi terhadap kegiatan tertentu dan mendorong yang bersangkutan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Sementara itu (Sutjipto, 2001) mendefinisikan bahwa minat sebagai kecenderungan seseorang terhadap kegiatan tertentu di atas kegiatan yang lainnya. Sedangkan (Sutjipto, 2001) mengemukakan bahwa minat seseorang terhadap sesuatu akan lebih terlihat apabila yang bersangkutan mempunyai rasa senang terhadap objek tersebut. Hurlock (1993) mengemukakan bahwa minat merupakan hasil dari pengalaman belajar, bukan hasil bawaan sejak lahir. Hurlock (1993) juga menekankan pentingnya minat, bahwa minat menjadi sumber motivasi kuat

Universitas Budi Luhur

37

bagi seseorang untuk belajar, minat juga mempengaruhi bentuk dan intensitas aspirasi seseorang dan minat juga menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni seseorang. Hurlock (1993) juga menjelaskan bahwa secara keseluruhan, pada masa anak-anak, minat memberikan sebuah kekuatan untuk belajar. Anakanak yang berminat dalam sebuah aktivitas, berada dimanapun, akan memberikan usaha empat kali lipat untuk belajar dibandingkan anak-anak yang minatnya sedikit atau mudah merasa bosan. Jika pengalaman belajar menimbulkan kesan pada anak-anak, maka akan menjadi minat. Hal tersebut adalah sesuatu yang dapat diasah dengan proses pembelajaran. Di masa yang akan datang, minat sangat berpengaruh pada bentuk dan intensitas dari citacita pada anak. Pintrich dan Schunk (2002) juga menyebutkan bahwa minat merupakan sebuah aspek penting dari motivasi yang mempengaruhi perhatian, belajar, berpikir dan prestasi. Dari beberapa definisi minat di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai minat, bahwa minat merupakan sebuah motivasi intrinsik sebagai kekuatan pembelajaran yang menjadi daya penggerak seseorang dalam melakukan aktivitas dengan penuh ketekunan dan cendrung menetap, dimana aktivitas tersebut merupakan proses pengalaman belajar yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan mendatangkan perasaan senang, suka dan gembira. Minat merupakan salah satu dimensi dari aspek afektif yang banyak berperan juga dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam kehidupan

Universitas Budi Luhur

38

belajar seorang murid. Aspek afektif adalah aspek yang mengidentifikasi dimensi-dimensi perasaan dari kesadaran emosi, disposisi, dan kehendak yang mempengaruhi pikiran dan tindakan seseorang (Stiggins, 1994: 310). Dimensi aspek afektif mencakup tiga hal penting, yaitu (1) berhubungan dengan perasaan mengenai objek yang berbeda. (2) Perasaanperasaan tersebut memiliki arah yang dimulai dari titik netral ke dua kubu yang berlawanan, titik positif dan titik negatif. (3) Berbagai perasaan memiliki intensitas yang berbeda, yang dimulai dari kuat ke sedang ke lemah (Stiggins, 1994: 312). Ginting (2005) menyebutkan bahwa membaca merupakan proses ganda meliputi proses penglihatan dan proses tanggapan. Proses penglihatan dijabarkan oleh Wassman & Rinsky (Ginting, 2006), sebagai proses penglihatan, membaca bergantung pada kemampuan melihat simbol-simbol, oleh karena itu, mata memainkan peranan penting. Dan sebagai proses tanggapan dijabarkan Ahuja (Ginting, 2006), membaca menunjukkan interpretasi segala sesuatu yang kita persepsi. Proses membaca juga meliputi identifikasi simbol-simbol bunyi dan mengumpulkan makna melalui simbolsimbol tersebut. Broughton (Gunting, 2006) mengemukakan membaca merupakan keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order). Secara operasional Lilawati (1999) mengartikan minat membaca anak adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan anak untuk

Universitas Budi Luhur

39

membaca dengan kemauannya sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca oleh anak. Berdasar pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong anak untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. 2.2.6 Surat Kabar

2.2.6.1 Pengertian Surat Kabar Media cetak atau surat kabar merupakan media massa tertua dibanding media-media lain. Media cetak (surat kabar) adalah media massa bersifat visual yang mampu menyajikan informasi secara lengkap, jelas, beragam dan terperinci sehingga memikat pembaca untuk mengetahui suatu peristiwa secara jelas. Surat kabar merupakan salah satu sumber informasi yang terdiri dari lembaran-lembaran yang berisi artikel, berita, opini, iklan, dan masih banyak jenis tulisan yang lainnya. Saat ini surat kabar telah mengalami perkembangan yang pesat, di mana surat kabar tidak hanya memuat hal-hal yang sifatnya berita saja, namun surat kabar telah mengembangkan hal-hal lainnya seperti cerpen, puisi, dan lain-lain. Menurut Djuroto (2000), surat kabar adalah kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit secara teratur, bisa setiap hari atau seminggu sekali. Adapun pengertian

Universitas Budi Luhur

40

surat kabar menurut Hans dalam Diktat Dasar Jurnalistik (1999:14), sebagai berikut: Surat kabar merupakan salah satu jenis media massa yang memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, surat kabar merupakan salah satu alat untuk menghubungkan antara satu individu dengan individu yang lain. Perkembagan dunia dan segala sesuatu yang terjadi didalamnya dapat dilihat melalui surat kabar, sehingga kedudukan surat kabar memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Surat kabar merupakan media yang dapat dijadikan sumber informasi untuk mengetahui kedalaman dari suatu berita. 2.2.6.2 Karakterisktik Surat Kabar Elvinaro dan Lukiati (2005) mengatakan, bahwa untuk mendapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup. a. Publisitas Menurut Effendy (1999), publisitas atau publicity adalah penyebaran pada publik atau khalayak. b. Periodesitas Menunjukkan pada keteraturan terbitnya, harian, mingguan, atau dwi mingguan.

Universitas Budi Luhur

41

c. Universalitas Menunjukkan kepada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dari seluruh dunia. Dengan demikian surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. d. Aktualisasi Menurut Effendy (1999), aktualisasi dalam kata asalnya yang berarti kini dan keadaan sebenarnya e. Terdokumentasi Dalam buku Jurnalistik Praktis (2004:104-105), terdokumentasi dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan. Menurut Effendy (1999), surat kabar dalam penerbitannya dibagi dalam kelompok-kelompok tersendiri berdasarkan waktu terbitnya adalah sebagai berikut. 1) Surat kabar harian (Daily newspaper) Surat kabar yang mempunyai waktu terbit setiap hari (surat kabar umum), misalnya: yang terbit pagi dan sore hari. 2) Surat kabar mingguan Surat kabar yang terbit satu minggu sekali. 3) Surat kabar dua

minggu/bulanan Surat kabar yang terbit dua minggu sekali atau setiap bulan sekali 4) Tabloid Surat kabar yang berukuran format lebih kecil dari ukuran yang biasa atau standar.

Universitas Budi Luhur

42

2.3 Teori Stimulus-Organisme-Respon (S-O-R) Menurut Dennis McQuail & Suen Windahl, Prinsip dasar teori stimulus respon adalah efek merupakan reaksi terhadap stimulus (respon) tertentu, sehingga orang dapat menduga atau memperkirakan adanya hubungan isi pernyataan dengan reaksi audiensi.(McQuail & Windahl, 46) Model SR mencakup bebrapa hal utama yaitu : 1. Isi pernyataan disiapkan dan didistribusikan dengan cara-cara sistematis dan dalam skala yang besar. Isi pertanyaan dibuat untuk dikonsumsi oleh orang banyak, tidak diarahkan untuk orang tertentu saja 2. Teknologi reproduksi dan distribusi bersifat netral (diharapkan

memaksimalkan penerima responnya) 3. Semua komunikan dari isi pertanyaan dinilai sama sederajat kecuali bebereapa pihak tertentu 4. Kontak dengan media yang berkaitan dalam beberapa hal dengan efektif, artinya kontak dengan media cenderung dianggap sebagai efek dalam tingkatan tertentu dan mereka yang tidak menerima pesan dianggap tidak terpengaruh (Ibid, 49) Menurut Onong Uchjana Effendy yang mengutip pernyataan dari Profesor Marat dalam bukunya Sikap Manusia yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada 3 variabel penting, yaitu perhatian, pemahaman, dan penelitian.

Universitas Budi Luhur

43

Tabel S-O-R

Organisme Stimulus
Perhatian Pemahaman penerimaan

Respon
( Perubahan Sikap)

Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan, mungkin diterima atau mungkin ditolak, komunikasi akan berlangsung bila ada perhatian dari komunikan Proses berikutnya komunikan mengerti (dapat mengartikan pesan). Komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya Setelah komunikan mengolah pesan (informasi/instruksi/perintah) yang

disampaikan dan menerima pesan tersebut, komunikan akan mengubah sikap komunikan tersebut. (Effendi Onong, 255-256)

Universitas Budi Luhur

44

2.4

Kerangka Pemikiran Efektivitas adalah apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah

ditemukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat soewarno yang mengatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas tidak akan dapat diukur hannya dengan menggunakan suatu indikator atau efektivitas yang tinggi pada suatu sasaran yang seringkali disertai dengan efektivitas yang rendah pada sasaran lainnya Electronic paper atau electronic ink display, adalah salah satu technology display yang dirancang memang untuk membuat tampilan seperti tinta yang tercetak diatas kertas. Berbeda dengan display lain yang ditujukan untuk menampilkan video yang lebih aktif berubah, e-paper tidak membutuhkan waktu refresh dengan respons cepat Dari beberapa uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas suatu lembaga secara fisik dan non fisik untuk mencapai tujuan serta meraih keberhasilan maksimal. Sedangkan minat merupakan faktor paling penting jika ingin mengingat hal-hal tertentu. Minat berfungsi sebagai daya penggerak yang mengarahkan seseorang melakukan kegiatan tertentu yang spesifik, lebih jauh lagi minat mempunyai karakteristik pokok yaitu melakukan kegiatan yang dipilih sendiri dan menyenangkan sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan dalam diri seseorang

Universitas Budi Luhur

45

Dari beberapa definisi minat di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai minat, bahwa minat merupakan sebuah motivasi intrinsik sebagai kekuatan pembelajaran yang menjadi daya penggerak seseorang dalam melakukan aktivitas dengan penuh ketekunan dan cendrung menetap, dimana aktivitas tersebut merupakan proses pengalaman belajar yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan mendatangkan perasaan senang, suka dan gembira. Berdasarkan uraian diatas pembahasan yang akan dilakukan dalam penelitian ini berkenaan dengan permasalahan yang dihadapi adalah antara variable bebas dan terikat dengan gambar kerangka berpikir sebagai berikut:

Gambar 2.2. Kerangka Berpikir

Efektivitas E-paper

Minat Baca

2.4.1

Hipotesis Berdasarkan kerangka berpikir sebagaimana diuraikan pada halaman-

halaman sebelumnya, maka hipotesis penelitian disusun sebagai berikut: H0: Diduga terdapat pengaruh efektivitas e-paper terhadap minat baca karyawan pada PT. Bussan Auto Finance H1: Diduga tidak terdapat pengaruh efektivitas e-paper terhadap minat baca karyawan pada PT. Bussan Auto Finance

Universitas Budi Luhur