Anda di halaman 1dari 30

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang Praktik lapangan merupakan suatu bentuk kelanjutan studi akademis yang merupakan sebuah media pembelajaran dan penambahan wawasan bagi mahasiswa sebagai tindak lanjut dari apa yang telah dipelajari didalam perkuliahan sehingga dapat diterapkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Praktik lapangan dapat memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk memahami keadaan atau permasalahan yang berada di lapangan dalam hal ini adalah industri. Air merupakan materi yang sangat penting bagi kehidupan. Kebutuhan akan air khususnya air bersih dapat dikatakan sebagai kebutuhan mutlak. Air adalah komponen terbesar dalam sel-sel makhluk hidup. Air memegang peranan penting dalam kebutuhan pokok manusia seperti kebutuhan makan dan minum. Keberadaannya adalah kebutuhan banyak makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Kebutuhan akan air minum di masyarakat adalah kebutuhan akan air bersih khususnya air minum. Maraknya industri yang bergerak dalam air minum seperti air minum dalam kemasan membuat hal ini sangat penting diperhatikan. Banyaknya industri air minum dalam kemasan yang beredar membuat teknologi pengolahan air minum merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam menghasilkan produk air minum yang berkualitas. Sistem manajemen pengawasan mutu produk dari suatu industri sangat penting untuk diterapkan sebuah perusahaan khususnya perusahaan air minum yang merupakan kebutuhan dan konsumsi masyarakat luas. Teknologi proses produksi merupakan salah satu aspek penting terutama mengenai jaminan kualitas air minum yang merupakan kebutuhan dan derajat kesehatan masyarakat luas. Aspek manajemen kualitas ini juga menjamin perusahaan yang menerapkannya merupakan perusahaan yang berdedikasi tinggi untuk pendidikan dan masyarakat. Tidak semua daerah memiliki sumber air yang baik. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di muara sungai atau di tengah lautan lepas merupakan daerah yang sangat miskin dengan air bersih sehingga pemenuhan akan kebutuhan air bersih sering menjadi permasalahan. Untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersih tersebut diperlukan penerapan teknologi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber air baku, kondisi sosial budaya, ekonomi, dan sumber daya manusia masyarakat setempat. Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi yang tergolong dalam wilayah pesisir pantai. Masyarakat Bangka Belitung biasanya mendapatkan air untuk keperluan minum hasil memasak sendiri dari air sumur atau air tanah yang kualitasnya belum tentu terjamin dan belum tentu terhindar dari cemaran mikroba ataupun logam-logam. Dengan demikian pembuatan air minum dalam kemasan dengan teknologi proses pengolahan air yang sesuai serta mutu yang terjamin dapat menjadi solusi akan permasalah tersebut. PT. Duta Putra Lexindo adalah sebuah perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan dengan jumlah produksi terbesar di provinsi Bangka Belitung. saat ini sebagian rumah penduduk didaerah Bangka Belitung mengkonsumsi air minum dalam kemasan dengan merk BOLESA yang

dikeluarkan oleh perusahaan ini. Selain itu perusahaan ini juga memasok permintaan akan air minum dalam kemasan disejumlah tempat-tempat seperti tempat hiburan keluarga, tempat rekreasi, bank, hotel dan restoran di daerah Bangka Belitung. Tingkat produksi yang sedemikian besar menjadikan PT. Duta Putra Lexindo merupakan salah satu tempat representatif bagi mahasiswa untuk melaksanakan praktik lapangan dalam mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai penerapan ilmu pengetahuan yang dipilih, melalui latihan kerja dan pengamatan teknik-teknik yang diterapkan khususnya tentang proses produksi dan pengawasan mutu air minum dalam kemasan. Tujuan Secara umum tujuan Praktik Lapangan adalah : a. Tujuan Instruksional 1) Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mahasiswa melalui latihan kerja dan aplikasi ilmu yang telah diperoleh sesuai dengan bidang keahliannya. 2) Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan permasalahan sesuai dengan bidang keahliannya di lapangan secara sistematis dan interdisiplin. b. Tujuan Institusional Memperkenalkan dan mendekatkan IPB, khususnya Fakultas Teknologi Pertanian IPB dengan masyarakat, dan mendapatkan masukan bagi penyusunan kurikulum dan peningkatan kualitas pendidikan yang sesuai dengan kemajuan IPTEK dan kebutuhan masyarakat pengguna. Adapun tujuan khusus dari kegiatan Praktek Lapangan ini yaitu : Mempelajari aspek teknologi produksi dan manajemen jaminan kualitas produk air minum dalam kemasan di PT. Duta Putra Lexindo, Bangka Belitung. Memperoleh pengalaman kerja sesuai dengan bidang profesi yang ditekuni dan pengetahuan yang diterima dibangku kuliah. Terutama sesuai dengan topik yang diangkat. Melatih kemampuan mahasiswa dalam menganalisis, melakukan observasi dan diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah yang ada di PT. Duta Putra Lexindo, Bangka Belitung berdasarkan disiplin ilmu yang telah dipelajari. Menjalin hubungan yang baik antara mahasiswa dengan pihak industri. Waktu dan Lokasi Pelaksanaan Kegiatan Praktik Lapangan ini dilaksanakan selama dua bulan (40 hari kerja efektif) antara tanggal 24 Juni sampai dengan 30 Agustus 2013. Tempat pelaksanaan kegiatan ini adalah di PT. Duta Putra Lexindo, Bangka Belitung. Adapun alamat perusahaan PT. Duta Putra Lexindo adalah Jalan Raya Batu Nirwana 1 nomor 264 Kelurahan Semabung Lama, kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang. Metode Pelaksanaan

1. 2.

3.

4.

Pelaksanaan Praktik Lapangan ini mencakup beberapa metode yang akan digunakan untuk menghasilkan data dan analisa yang tepat dan berkualitas, yaitu : 1. Penjelasan Singkat Penjelasan singkat dari pembimbing lapangan atau wakil dari perusahaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan wacana awal. 2. Pengamatan di Lapangan Pengamatan langsung di lapangan terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan proses produksi yang berlaku di perusahaan dan pengawasan mutu yang diterapkan di perusahaan tersebut. 3. Pengukuran Pengukuran dilakukan untuk mengetahui secara langsung segala aspek yang menjadi ukuran dalam setiap kegiatan produksi dan pengolahan limbah dari hasil produksi. 4. Wawancara dan Diskusi Wawancara dilakukan sebagai upaya pengumpulan informasi dan data serta untuk mengklarifikasi masalah yang terjadi di lapangan dengan menanyakan langsung kepada pihak yang berkepentingan terkait dengan topik yang ada. 5. Praktik Langsung Kegiatan praktik langsung dilakukan untuk memperoleh pengalaman di dunia kerja dan mempelajari kesesuaian antara teori dengan praktik di lapangan mengenai hal yang berkaitan dengan aspek proses produksi serta hal-hal lain yang terkait. 6. Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi dan literatur yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan, baik berasal dari studi pustaka maupun data dan informasi yang diperoleh dari industri. 7. Pengolahan dan Analisa Data Dilakukan dengan mengolah data yang didapat dari praktik lapangan dan kemudian dilakukan analisis data sehingga diperoleh informasi yang dapat dimanfaatkan. 8. Pembahasan dan Penulisan Laporan Laporan dibuat dengan menganalisis data dan informasi yang diperoleh dan dituangkan secara sistematis dan jelas dalam bentuk laporan praktik lapangan.

TINJAUAN UMUM PT. DUTA PUTRA LEXINDO


Profil dan Ruang Lingkup Perusahaan PT. Duta Putra Lexindo adalah perusahaan yang bergerak dalam memproduksi air minum dalam kemasan dengan jumlah produksi terbesar di provinsi Bangka Belitung. Produk air minum dalam kemasan yang diproduksi perusahaan ini adalah air minum demineral yang diproses dengan sistem reverse osmosis meliputi air minum dalam cup 250ml, air minum dalam botol 600ml, air minum dalam botol 1500ml dan air minum dalam botol 5 gallon 19L. Produk air minum dalam kemasan yang diproduksi oleh perusahaan ini didaftarkan dan dipasarkan dengan merk BOLESA. Kandungan air baku yang ada di Pulau Bangka kadar keasamannya sangat tinggi. Hal ini tidak hanya terdapat pada air tanah, tetapi juga terdapat pada air

sungai/kolong dengan jumlah kandungan cemaran cukup tinggi (contoh:sisa aktifitas Tambang yang mengalir ke Sungai). Hal ini secara bertahap sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat di pulau ini. Namun pengelolaan air di rumah yang mampu mengurangi kadar keasaman serta menaikan PH sampai pada nilai yang memenuhi persyaratan air minum tidaklah mudah dan masih jauh dari jangkauan masyarakat di Pulau Bangka umumnya. Mengingat hal tersebut diatas, maka pada bulan Agustus 1998 PT.Duta Putra Lexindo yang berkedudukan di jalan Batu Nirwana 1 No.264, Semabung Lama Pangkalpinang dengan luas tanah 30.000 m dan luas bangunan 1.600 m, dengan badan hukum berbentuk Perseroaan Terbatas melalui survey kurang lebih 2 tahun, akhirnya Pemegang saham PT. Duta Putra Lexindo berkesimpulan bahwa produk air kemasan lokal masih berpeluang untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal masyarakat bangka. PT. Duta Putra Lexindo didirikan oleh Ibu Melvina Rusli dengan awalnya hanya memproduksi air minum dalam kemasan botol 5 gallon. Mulanya perusahaan ini bekerjasama atau dibawah pengawasan perusahaan air minum kemasan merk Osmosis yang berlokasi di Jakarta. Satu tahun kemudian PT. Duta Putra Lexindo merintis pengolahan air minum dalam kemasan yang diproses dengan sistem Reserve Osmosis. Pada tahun 2003 perusahaan ini berkembang dengan melakukan produksi air minum dalam kemasan cup 250ml, dan sekitar 3 tahun setelahnya telah mulai memproduksi dalam bentuk botol 600ml dan 1500ml. Jadi PT.Duta Putra Lexindo memproduksi 4 (empat) bentuk produk air minum dalam kemasan yaitu galon 19 liter/5 galon, cup 250 ml, botol 600 ml serta botol 1500 ml. Untuk memproduksi keempat produk tersebut dan kemudian memasarkannya perusahaan telah melakukan suatu analisa lingkungan maupun pasar terutama mengenai persaingan (produk lain), kebutuhan konsumen, harga yang layak dan sebagainya. Analisa ini sendiri bertujuan untuk mengukur tingkat produksi untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen sehingga apa yang diharapkan perusahaan untuk mendapatkan sesuatu demi dapat tercapainya tujuan Perusahaan. Hingga sekarang perusahaan ini telah berkembang sebagai perusahaan air minum dalam kemasan dengan tingkat permintaan terbesar di provinsi Bangka Belitung yaitu sekitar 10000 produksi botol 5 galon dalam sehari, 9000 air minum dalam kemasan cup 250ml. Air minum dalam kemasan botol 600ml dan 1500ml diproduksi tidak tetap sesuai dengan tingkat permintaan. Selain itu perusahaan ini juga memproduksi air minum dalam kemasan atas permintaan sejumlah tempat-tempat hiburan keluarga, hotel, bank, restoran dan lain-lain. Dengan tingkat produksi yang demikian tentunya berbagai macam produk air minum tersebut diproduksi oleh tenaga perkerja yang profesional dan teknologi proses pengolahan yang sesuai dengan standar. Sebagai jaminan mutu dan untuk memenuhi kebutuhan konsumennya, PT. Duta Putra Lexindo telah mendapatkan sertifikat-sertifikat yang terstandar baik terhadap proses pengolahan maupun produk yang dihasilkan. Sampai saat ini perusahaan telah terdaftar dan mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SNI 01-3553-1996, memiliki sertifikat halal dan nomor MD dari BPOM. PT. Duta Putra Lexindo juga sering melaksanakan bantuan terhadap masyarakat sosial seperti pemberian Santunan fakir miskin dan yatim piatu

kepada masyarakat sekitar pabrik dan pemberian bantuan sembako setiap menjelang hari raya idul fitri, serta pemberian bantuan daging kurban setiap hari raya idul adha. Perusahaan ini juga sering mendapatkan penghargaan pemerintah setempat atas partisipasinya dalam memberikan sponsor seperti dalam acara festival serumpun sebalai Bangka Belitung , Putra Putri Pangkalpinang , dan sejumlah acara lainnya. Dengan melihat uraian diatas, maka timbul suatu keoptimisan bagi perusahaan untuk mengembangkan usaha ini terutama untuk dimasa yang akan datang dengan didukung oleh seluruh karyawan dan masyarakat pada umumnya. Pengembangan usaha ini dapat memeberikan sumbangan terhadap masyarakat dan pemerintah daerah untuk kemajuan pengembangan sektor industri di wilayah provinsi Bangka Belitung dan menambah peluang pekerjaan untuk masyarakat sekitar. Visi dan Misi Perusahaan Dalam menjalankan kegiatannya setiap perusahaan memiliki visi dan misi yang akan dicapai. Visi dan misi tersebut merupakan salah satu bagian perencanaan perusahaan untuk mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi dan lebih baik dari sebelumnya. Visi dan misi merupakan acuan atau pedoman bagi PT. Duta Putra Lexindo dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi, wewenang dan tanggung jawabnya dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Adapun visi pokok perusahaan adalah tercapainya kepuasan pelanggan dalam hal pelayanan yang merupakan kunci menuju keberhasilan suatu usaha, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah tepat serta berkesinambungan untuk meningkatkan berbagai aspek demi terciptanya kepuasan pelanggan tersebut. Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa visi dari perusahaan adalah sebagai berikut: a. Mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar (market leader). c. Mewujudkan perusahaan setara kelas atas. d. Sumber daya yang profesional. e. Aktivitas usaha ramah lingkungan. Pada umumnya yang menjadi misi suatu perusahaan adalah terus meningkatnya volume penjualan produknya guna peningkatan laba yang optimal dan menerapkan partisipasi di bidang penjualan yang melibatkan seluruh karyawan, serta mewujudkan kepercayaan dan loyalitas terhadap produk yang dipasarkan.

Adapun misi dari perusahaan ini adalah sebagai berikut : a. Menjadikan perusahaan local terkemuka dengan memproduksi air minum kemasan merek Bolesa sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). b. Memberikan kontruksi dalam pembangunan nasional. c. Melakukan usaha sesuai kaidah ekonomi yang sehat. d. Menjaga kualitas produk. e. Memenuhi keinginan pelanggan berorientasi kepada kepuasan pelanggan. Lokasi dan Letak Geografis Perusahaan

PT. Duta Putra Lexindo berlokasi di Jl. Batu Nirwana No 264 Kelurahan Semabung Lama kecamatan Bukit Intan Pangkalpinang Bangka Belitung. lokasi ini merupakan lokasi yang sesuai yaitu masih berada di jangkauan daerah perkotaan namun jarang rumah penduduk. Lokasi ini berada sekitar 500m dari jalan raya. Pemilihan lokasi perusahaan di kota Pangkalpinang ini didasarkan pada kondisi Pangkalpinang yang merupakan ibukota provinsi Bangka Belitung sehingga dengan letak yang strategis dapat mempermudah proses pemasaran dan distribusi produk. Lokasi yang jarang rumah penduduk ini juga merupakan bahan pertimbangan untuk mendapatkan air baku yang sesuai untuk diproses menjadi air minum dalam kemasan. Struktur Organisasi Adanya struktur organisasi akan menunjang keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya apabila struktur organisasi tersebut bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya. Pada hirarki tertinggi PT.Duta Putra Lexindo adalah direktur yang berperan dalam merencanakan, mengkoordinasi dan mengontrol seluruh kegiatan perusahaan agar tercapai sasaran yang ditetapkan pemegang saham. Dibawah posisi direktur tedapat wakil direktur yang bertugas membantu tugas-tugas direktur dalam menjalankan perusahaan. Selanjutnya terdapat general manager yang bertanggung jawab terhadap kelancaran kerja maupun dalam menjalankan garis kebijakan direktur perusahaan Di perusahaan ini terdapat beberapa bagian yang menguatkan struktur perusahaan yaitu bagian quality control yang berperan dalam menjamin kualitas produk sesuai dengan ketentuan. Bagian quality control terdiri dari kepala bagian dan didukung oleh staff quality control lapangan yang bertugas dalam menjamin kualitas produk yang ada di lapangan dan staff analist bertugas menganalisa parameter yang ada baik secara fisik, kimia, dan mikrobiologi. Selanjutnya terdapat bagian produksi yang terdiri dari kepala bagian produksi didukung dengan staff teknik mekanik, staff water treatment, staff perencanaan produksi dan staff administrasi produksi. staff water treatment berperan dalam proses produksi pengolahan dari air baku hingga didapatkan air jadi. Staff teknik mekanik bertugas dalam menjamin seluruh mesin proses, produksi, dan peralatan lain yang berkaitan dengan pabrik dapat berjalan lancar. Kepala bagian produksi tentunya bertanggung jawab terlaksananya proses produksi dan ikut terlibat dalam proses perencanaan dan pengaturan jadwal produksi yang dilakukan oleh staff perencanaan produksi. Selanjutnya terdapat bagian personalia yang bertanggung jawab atas pembinaan serta pemilihan tenaga kerja dan fasilitas umum di lingkungan pabrik. Bagian ini sama halnya dengan bagian human resource and development disuatu perusahaan. Bagian ini terdiri dari staff umum rumah tangga dan staff administrasi personalia. Staff umum rumah tangga berperan dalam mengurusi pembinaan dan pemilihan tenaga kerja serta mengurusi fasilitas umum di lingkungan pabrik. Sedangkan staff administrasi bertugas dalam hal administrasi termasuk mengurusi absensi atau kehadiran karyawan. Dalam bidang pemasaran, perusahaan ini memiliki bagian khusus yang menanganinya yaitu bagian pemasaran yang terdiri dari kepala bagian pemasaran didukung oleh ordering penjualan dan surveyor analist market (riset pasar). Sesuai dengan namanya bagian ini bertugas dalam bidang pemasaran yaitu menjamin

terlaksananya pemasaran produk jadi. Sub bagian riset pasar berperan dalam melakukan analisa pasar. Hal ini berhubungan dengan sub bagian perencanan produksi dalam bagian produksi yaitu menentukan jumlah permintaan pasar yang akan disesuaikan dengan jumlah produksi. pada ordering penjualan juga terdapat sub bagian lagi yaitu cassier dan kerani. Cassier bertanggung jawab secara langsung kapada bagian administrasi dan keuangan mengenai penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan. Kerani bertugas dalam melakukan penerimaan kedatangan barang serta kelengkapan jumlah barang dari supplier. Didalam kerani terdapat bagian armada/ekspedisi yang bertugas mengontrol jumlah barang/produk yang akan didistribusikan ke konsumen. Selanjutnya terdapat bagian administrasi dan keuangan yang tentunya mengurusi semua proses administrasi dan keuangan secara umum termasuk mengurusi rencana keuangan. Bagian ini terdiri dari inkasso dan administrasi arsip. Secara khusus, sub bagian inkasso bertugas dalam proses terjasinya piutang penjualan. Struktur organisasi di PT Duta Putra Lexindo ini juga ditunjang oleh bagian pengawasan intern dan bagian humas. Bagian pengawasan intern terdiri dari gudang dan akuntan. Tim gudang berperan khusus dalam mengelola seluruh bahan-bahan penolong termasuk barang-barang operasional perusahaan. Tugas bagian pengawasan intern juga mencakup avluasi hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan perusahaan yang secara khusus dijalankan oleh tim akuntan. Sebagai pelengkap kokohnya perusahaan ini terdapat bagian humas yang bertugas melakukan komunikasi serta berinteraksi dengan konsumen maupun masyarakat sebagai bentuk informasi bagi perusahaan. Bagian ini juga berperan dalam menjaga hubungan baik dengan relasi perusahaan. Struktur organisasi PT. Duta Putra Lexindo dapat dilihat pada lampiran 1. Ketenagakerjaan Karyawan di PT. Duta Putra Lexindo berjumlah 221 karyawan yang terdiri dari karyawan tetap dan tidak tetap. Sampai saat ini karyawan tetap berjumlah 116 karyawan sedangkan karyawan tidak tetap berjumlah 105 karyawan. Karyawan tidak tetap adalah karyawan yang dikontrak dengan masa kontrak selama 2 tahun. Jika kinerja karyawan dinilai baik selama masa 2 tahun itu maka bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Riwayat pendidikan yang dimiliki oleh pekerja memiliki kualifikasi yang ditunjukkan oleh tabel berikut: Tabel 1 Data Kualifikasi sumber saya manusia PT. Duta Putra Lexindo No 1 2 3 4 5 Kualifikasi Sarjana D3 SMA SMP SD Jumlah 46 34 69 40 32

Waktu kerja karyawan diperusahaan ini dibagi menjadi beberapa shift. Bagian produksi terdiri dari 3 shift kerja. Shift pagi (7.00-13.00), sore (15.0022.00), dan shift malam (22.00-06.30). Bagian pemasaran terdiri dari dua shift

yaitu shift pagi (07.00-15.00) dan shift malam (21.00-05.00). Pekerja yang masuk pada hari minggu dan tanggal merah akan dihitung sebagai lembur. Kerja lebih dari 40 jam dalam seminggu juga dihitung sebagai lembur. Setiap karyawan memiliki jatah cuti 12 hari kerja selama 1 tahun. Misal, cuti diajukan bulan febuari 2011, maka untuk cuti tahun 2012 juga harus diajukan pada bulan febuari untuk menggenapi waktu 1 tahun. Lewat dari bulan itu masa cuti memiliki masa tenggang selama 6 bulan terhitung dari bulan jatah cuti. Selain itu, cuti yang tidak diambil tidak dapat diakumulasikan untuk tahun berikutnya. Apabila karyawan tidak masuk karena sakit, maka harus ada surat keterangan dari dokter. Untuk ijin tidak masuk akibat keperluan mendesak, karyawan harus memberikan kabar dalam bentuk lisan maupun tulisan. Karyawan yang tidak masuk tanpa memberikan kabar akan dianggap absen. Dalam 1 bulan setiap karyawan mendapat jatah 6 gallon dengan sistem hangus, lebih dari itu akan dipotong dari gaji sesuai dengan harga per gallon yang berlaku. Selain itu, karyawan juga mendapat fasilitas pengobatan dan pemeriksaan dari Jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek). Untuk sistem gaji karyawan, administrasi setiap bagian bekerja sama dengan bagian personalia. bagian personalia akan menghitung absensi karyawan sampai tanggal 27 (selebihnya masuk bulan depan), kemudian penghitungan besar gaji dan pemotongan kasbon akan dilakukan oleh bagian ini. Kasbon berasal dari karyawan yang meminjam uang kepada pihak perusahaan atau dari kelebihan gallon yang dijatahkan. Gaji dibagikan melalui rekening bank BRI. Bagi karyawan yang tidak bisa membuka rekening bank ini (banyak karyawan yang merupakan pendatang dan tidak memilki KTP setempat) maka gaji akan dibagikan secara tunai. Produk Produk yang dihasilkan PT. Duta Putra Lexindo adalah empat jenis produk air minum dalam kemasan yang terjamin kualitasnya sesuai dengan syarat SNI 013553-2006.

PENGAMATAN TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI


Bahan Baku Produksi Bahan baku utama dalam membuat air minum dalam kemasan di PT. Duta Putra Lexindo adalah air tanah disertai sifat lain seperti berbau, keruh dan masih mengandung beberapa unsur logam. PT. Duta Putra Lexindo memiliki sumur bor yang terdiri dari lima sumur yang kedalamannya 100-120 meter dari permukaan tanah, dengan konstruksi Chassing Stainless stell 6 inch serta memakai pompa submersible yang mendorong air dari dalam tanah ke permukaan. Lima sumur bor ini terletak dikawasan pabrik PT. Duta Putra Lexindo. Namun diantara kelima sumur bor tersebut hanya tiga sumur bor yang digunakan. Bahan tambahan yang digunakan adalah Natrium Bikarbonat (NaHCO3) yang berguna untuk menaikkan pH air produk. Bahan penolong dan pengemas didapat dari supplier. Bahan penolong terdiri dari sabun pencuci bagian dalam galon dan sabun pencuci bagian luar galon. Bahan pengemas terdiri dari gelas cup, lead cup, preporm botol 600ml, preporm botol 1500ml, galon, cap galon, label badan botol, tutup botol, plastik tutup botol, label galon, karton cup, karton

botol 600ml, karton botol 1500ml, dan layer pembatas untuk karton cup. Namun untuk saat ini perusahaan ini sedang mengembangkan memproduksi sendiri cup dan botol gallon. Proses produksi cup ini terdapat di gedung baru yang masih terletak dikawasan pabrik. Produksi kemasan cup dapat dikatakan berhasil dengan konsistennya kualitas hasil produksi setelah dua bulan. Keberhasilan produksi kemasan cup sendiri ini menghasilkan berkurangnya jumlah pembelian cup kepada supplier. Namun untuk produksi gallon , belum didapatkan formulasi pembuatan yang pas sehingga kualitas botol gallon yang dihasilkan belum berhasil dan tidak layak dipakai. Sarana Produksi Sarana Penunjang produksi adalah fasilitas, tempat, atau alat khusus yang keberadaannya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kelancaran proses produksi. Sarana Produksi yang digunakan PT. Duta Putra Lexindo terbagi dalam peralatan dan mesin produksi dan stasiun instrumen listrik. Peralatan dan Mesin Produksi Peralatan yang digunakan pada proses ini adalah, tangki penampung air dari 3 sumur bor sebanyak 3 tangki dengan kapasitas air berjumlah 50 ton, tangki pasir kuarsa sebanyak 8 tangki, tangki karbon aktif sebanyak 8 tangki, pompa water treatment, tangki filter catridge sebanyak 4, (ukuran catridge masingmasing berukuran 10m ), tangki bag filter sebanyak 4 tangki dan 3 tangki penampung produk setengah jadi dengan kapasitas masing-masing 20 ton. Dari tangki ini air diproses dengan sistem RO (Reverse Osmosis). Pada sistem reverse osmosis terdapat dua mesin RO yaitu mesin RO 2 dan mesin RO 3. Pada awalnya terdapat mesin RO 1 namun mesin RO 1 ini jarang digunakan. Saat ini yang digunakan hanya mesin RO 2 dan 3. Kemudian terdapat tangki stainless steel berkapasitas 30 ton air yang menampung air produk untuk selanjutnya dialirkan ke masing-masing line produksi. Pada proses pengisian di line produksi air minum dalam kemasan cup terdapat mesin pengisian dan press cup otomatis. Pada line produksi air minum dalam kemasan botol terdapat mesin pengisian botol otomatis. Sedangkan pada line produksi air minum dalam botol 5 gallon terdapat mesin pengisian air gallon otomatis. Sebelum ke mesin pengisian, pada line produksi air minum dalam kemasan botol 5 gallon terdapat mesin pencuci gallon otomatis. Di setiap line produksi terdapat conveyor untuk mendistribusikan produk dari proses pengisian ke proses pengemasan. Pada proses pengemasan terdapat alat karton sealer. Pada proses distribusi terdapat beberapa alat penanganan bahan yaitu pallet jack, conveyor dan truck. Berikut adalah beberapa peralatan penunjang proses produksi Air minum dalam kemasan di perusahaan ini.

10

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 1 (a) tangki penampung ;(b) tangki pasir kwarsa dan tangki karbon; (c) tangki filter cartridge; (d) mesin reverse osmosis (sumber : PT.Duta Putra Lexindo,2013) Stasiun Instrument Listrik Power House merupakan pusat pembangkit tenaga listrik yang digunakan untuk memasok listrik pada peralatan motor berbasis tenaga listrik dan penerangan. Tenaga listrik yang digunakan di seluruh kawasan pabrik PT. Duta Putra Lexindo berasal dari sumber PLN dengan kapasitas 250.000 watt. Pembangkit listrik ini disuplai langsung oleh PLN dengan menggunakan satu travo tersendiri khusus untuk perusahaan. Selain itu juga digunakan alternator diesel jika terjadi pemadaman listrik oleh PLN. Diesel alternator adalah pembangkit tenaga listrik dengan penggerak mesin diesel. Diesel alternator di perusahaan ini juga memiliki kapasitas 250.000 watt. Pembangkit tenaga listrik dari PLN dan dari mesin diesel dapat diatur pada panel distribusi. Panel distribusi ini juga merupakan pusat untuk mengatur semua aktivitas pemakaian tenaga dalam pabrik maupun kantor. Listrik yang dihasilkan dari sumber PLN dan diesel

11

alternator ini digunakan untuk kebutuhan proses produksi seperti menggerakkan motor-motor di setiap line produksi maupun menjalankan pompa-pompa di pabrik serta untuk keperluan penerangan di PT. Duta Putra Lexindo. Berikut adalah gambar panel distribusi di PT. Duta Putra Lexindo.

Gambar 2 panel distribusi tenaga listrik dan diesel (sumber : PT. Duta Putra Lexindo, 2013) Proses Produksi Proses produksi adalah suatu kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin-mesin, bahan-bahan dan dan peralatan ) yang ada. Proses produksi ini merupakan bagian yang sangat penting bagi perusahaan dalam kegiatannya untuk menciptakan produk yang berkualitas sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan proses produksi yang dilakukan oleh PT.Duta Putra Lexindo Pangkalpinang adalah memproduksi air mineral dalam kemasan yang terdiri dari empat jenis yaitu Botol 5 gallon, cup 250 ml, botol 600 ml serta botol 1500 ml. Proses produksi air minum dalam kemasan di PT. Duta Putra Lexindo terdiri dari berbagai tahapan yaitu persiapan bahan baku berupa air baku dan bahan-bahan penolong, proses water treatment yang terdiri dari penyaringan dengan pasir kwarsa, penyaringan dengan karbon aktif dan penyaringan dengan cartridge. Proses selanjutnya dan merupakan proses paling utama yaitu proses pemurnian air menggunakan sistem reverse osmosis. Selanjutnya adalah proses pengisian, pengemasan,distribusi dan transportasi. Secara umum diagram alir proses produksi yang dilakukan oleh PT. Duta Putra Lexindo dapat dilihat pada lampiran 2. Persiapan Bahan Baku dan Bahan Penolong Sebelum proses produksi dimulai bahan baku dan bahan penolong dipersiapkan terlebih dahulu. Bahan penolong didapatkan dari pembelian oleh bagian gudang. Bahan penolong atau barang yang datang akan disortir terlebih dahulu oleh bagian gudang dan beberapa sampel di cek oleh bagian Quality control. Hal ini untuk mendapatkan bahan-bahan yang memenuhi standar dan spesifikasi sehingga kualitas produk terjamin. Setelah selesai penyortiran bahanbahan penolong kemudian disimpan digudang dan diberi tanda identifikasi sebagai tanda yang menunjukkan bahan-bahan tersebut telah diidentifikasi dan

12

bisa langsung digunakan sehingga memudahkan bagian produksi untuk memakai bahan-bahan penolong yang dibutuhkan. Proses water treatment Proses water treatment terdiri dari proses pompanisasi dan penyaringan air dengan pasir kwarsa, karbon dan cartridge. Pada proses penyaringan dengan pasir kwarsa didapatkan air yang berkurang nilai kekeruhannya. Pasir kwarsa didapatkan dari supplier di Bangka Belitung. Proses penyaringan dengan karbon dilakukan untuk menghilangkan klorin, bau dan rasa. Karbon yang digunakan PT. Duta Putra Lexindo adalah karbon jenis batu bara yang didapat impor dari amerika. Karbon dan pasir kwarsa diganti dengan periode 6 bulan sekali. Proses penyaringan dengan cartridge dilakukan untuk menyaring partikel yang lebih kecil sehingga didapatkan air yang lebih murni sebelum ke tahap reverse osmosis. Hal ini dilakukan juga untuk memudahkan perawatan mesin RO. Selain cartridge juga digunakan sistem bag filter. Cartridge dan bag filter diganti selama 2 minggu sekali namun saat musim hujan dimana jumlah air yang diproses meningkat biasanya diganti seminggu sekali. Secara garis besar tahapan dalam proses water treatment adalah sebagai berikut : Pompanisasi Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperoleh bahan baku berupa air tanah dari kedalaman 100 120 meter dengan jumlah sumur sebanyak 3 buah sumur yang memakai submersible Pump pada masing-masing sumur bor sehingga kualitas air bakunya baik. Keadaan disekitar pompa terisolasi, jauh dari hewan seperti anjing dan jauh dari tempat pembuangan sampah. Strorage Tank I Kegiatan ini berupa penampungan bahan baku ke dalam Strorage Tank I sebanyak 3 tangki dengan kisaran volume masing-masing antara 10-20 ton. Waktu yang diperlukan untuk penyiapan bahan baku minimal 30 menit. Filterisasi Proses Pada proses ini terdapat 3 penyaringan yang dilakukan : 1. Penyaringan Pasir Kuarsa adalah proses penyaringan atau kekeruhan air. 2. Penyaringan Carbon adalah proses penghilangan bau dan rasa. 3. Penyaringan Catridge 10 m adalah proses filtrasi dengan ukuran catridge 10 m nominal. Air dari Strorage Tank I selanjutnya dialirkan ke tangki pasir kwarsa sebagai penyaringan pertama untuk dihilangkan lumpurnya sehingga mengurangi tingkat kekeruhannya. Pasir kwarsa yang digunakan, sebelumnya harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar pasir kwarsa yang digunakan bersih dan halus. Selanjutnya, air dialirkan kembali menuju penyaringan kedua yaitu dengan karbon aktif. Sebelum digunakan karbon aktif yang diambil dari aktivitas batu bara ini juga dicuci terlebih dahulu. Tangki pasir kwarsa dan tangki karbon aktif ini dipasang secara paralel. Sebelum proses produksi dimulai tangki pasir kwarsa dan tangki karbon aktif harus di lakukan backwash terlebih dahulu agar hasil air yang dialirkan ke penyaring cartridge lebih jernih dan sedikit kontaminan. Selanjutnya penyaringan dilanjutkan ke tangki cartridge dimana air akan disaring oleh cartridge berukuran 10 m. Penyaringan ini bertujuan untuk menghilangkan

13

kontaminan yang lebih kecil lagi. Agar tidak tersumbat perawatan filter cartridge ini harus rutin yaitu diganti setiap dua minggu sekali Storage Tank II Setelah disaring pada penyaring cartridge atau bag filter , maka hasilnya ditampung dalam storage tank II sebanyak 3 tangki yang totalnya memiliki daya tampung 60 ton air. Storage tank II ini adalah tempat penampungan air setengah jadi. Air dari tangki penyimpanan ini dimanfaatkan untuk keperluan pabrik seperti air keran, air untuk wudhu. Dari tempat penampungan ini selanjutnya air setengah jadi dialirkan ke mesin reverse osmosis untuk melewati proses reverse osmosis. Proses Reverse Osmosis Proses reverse osmosis ini pada dasarnya adalah proses pemurnian air dengan memanfaatkan membran semi permeabel dan tekanan tinggi. Tekanan diberikan pada larutan konsentrasi tinggi, molekul air dari larutan tersebut memasuki membran sedangkan molekul yang berbobot lebih tinggi seperti garamgaram tidak bisa melewati membran sehingga hasil yang didapatkan adalah air hampir murni. Peralatan utama untuk proses ini adalah mesin RO (Reverse Osmosis). Alat ini menekan air dengan tekanan tinggi (300 psi) sehingga dapat menembus membran semi permeabel ukuran 10-4 m yang berlapis. Air melewati membran ini secara bolak balik. Selain itu, terdapat 1 tangki catridge berisi 5 catridge berukuran 10 m untuk menjamin kualitas air produk yang dihasilkan. Air produk dari RO optimalnya menghasilkan 50% air buangan (digunakan untuk air pencucian kemasan galon) dan 50% air produk. Namun saat produksi meningkat dapat diubah menjadi 40% air buangan dan 60% air produk atau 30% air buangan dan 70% air produk. Pengaturan ini dilakukan dengan memutar recovery valve. Terdapat beberapa parameter untuk mengontrol kerja RO. Terdapat filter in pressure dan filter out pressure untuk melihat tekanan air yang masuk dan keluar dari RO. Apabila perbedaan tekanan terlalu jauh terdapat kemungkinan RO atau komponennya mengalami penyumbatan. Terdapat RO system pressure yang menunjukkan besar tekanan dalam RO yaitu kisaran 100-300 psi. Kemudian terdapat HP pump out pressure yang menunjukkan besarnya tekanan air yang keluar dari bak penampung ke RO. Untuk menunjukkan jumlah air produk dan air buangan terdapat tabung permit (air produk) dan concentrate (air buangan). Air produk ditampung dalam tangki stainless steel yang berada diatas. Sebelum ke tangki penampungan air produk ini terdapat juga tangki NaHCO3 yang berfungsi sebagai tempat melarutkan NaHCO3 dan kemudian diijeksikan kembali ke tangki stainless. Dari tangki stainless steel, air produk dialirkan ke line produksi cup, botol 600ml dan 1500ml, serta botol 5 gallon.

MANAJEMEN JAMINAN MUTU


Manajamen jaminan mutu yang diterapkan oleh PT.Duta Putra Lexindo tercakup dalam sistem mutu perusahaan yang terdiri dari pedoman mutu, prosedur operasi dan instruksi kerja yang harus didokumentasikan dalam suatu catatan mutu. Pedoman mutu menjelaskan kebijakan perusahaan secara garis besar. Prosedur operasi merupakan penjelasan yang lebih rinci dari pedoman mutu.

14

Instruksi kerja pada dasarnya adalah penjelasan secara rinci dari isi prosedur yang menjelaskan bagaimana, dengan apa dan siapa yang bertanggung jawab melakukan kegiatan tersebut. Pada dasarnya manajemen jaminan mutu yang diterapkan PT. Duta Putra Lexindo menjelaskan tentang bagaimana jaminan mutu dilakukan yaitu pada saat persiapan bahan baku, proses produksi dan penerapan jaminan mutu pada produk jadi. Jaminan Mutu Bahan Baku Jaminan mutu merupakan aspek yang sangat penting bagi suatu perusahaan khususnya perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan yang saat ini adalah kebutuhan masyarakat luas. Bahan baku yang digunakan PT. Duta Putra Lexindo dalam memproduksi air minum dalam kemasan adalah air tanah atau air artesis yang berasal dari sumur bor dengan kedalaman 100m yang selanjutnya disebut air baku. Selain air baku ,bahan baku pada pembuatan produk air minum dalam kemasan ini juga meliputi bahan-bahan penolong dan bahan penolong pengemas. . Manajemen jaminan mutu yang diterapkan di PT. Duta Putra Lexindo mengenai air baku mengacu pada keputusan menteri kesehatan tentang syarat lokasi air baku yaitu lokasi sumber air baku yang berasal dari air tanah atau air permukaan harus memenuhi kriteria radius jarak dari sumber pencemaran sekurang-kurangnya sebagai berikut : a. Lima belas meter dari saluran air limbah yang kedap air b. Tiga puluh meter dari septic tank atau saluran limbah lain yang tidak kedap air c. Enam puluh meter dari lubang sumur, lapangan penimbunan limbah, kandang/tempat tinggal hewan. Selain itu, sebelum proses produksi dilakukan sampel air baku harus diuji terlebih dahulu. Pengujian sampel air baku meliputi uji organoleptik, fisiko kimia, mikrobiologi dan radiologi. Parameter fisika dan kimia dilakukan setiap hari pada saat produksi akan dimulai. Parameter mikrobiologi dilakukan uji analisa koliform seminggu sekali. Analisa radiologi dilakukan satu kali ketika menggunakan air sumber di lokasi yang baru. Parameter fisika meliputi warna, rasa dan bau. Parameter kimia meliputi pH, TDS, conductivity, dan turbidity. Bahan penolong seperti sabun pencuci bagian dalam galon (larutan LOC) dan sabun pencuci bagian luar galon (larutan sabun meltosa). LOC dan Meltosa yang digunakan sebelumnya diidentifikasi apakah memenuhi standar yang dipersyaratkan yaitu harus grade food jika kontak dengan produk langsung yang dibuktikan dengan sertifikat analisa quality control perusahaan supplier. Bahan penolong pengemas terdiri dari gelas cup, lid cup, preporm botol 600ml, preporm botol 1500ml, galon, seal galon, label badan botol, tutup botol, plastik tutup botol, label galon, karton cup, karton botol 600ml, karton botol 1500ml, dan layer pembatas untuk karton cup. Bahan-bahan penolong pengemas harus memenuhi persyaratan nasional kemasan air minum dalam kemasan yaitu kemasan air minum dalam kemasan harus terbuat dari kaca , polipropilen, polietilen terephtalat, poli vinil klorida/ poli carbonat. Untuk kemasan kaca harus sesuai dengan SNI 12-0037-1987. Di PT. Duta Putra Lexindo, Kemasan cup 250ml terbuat dari PP (Polipropilene), botol 600ml dan 1500ml tebuat dari

15

PET(polietilen terephtalat), sedangkan botol 5 gallon terbuat dari PC (poli carbonat). Selain itu peralatan atau mesin-mesin yang digunakan juga berdasarkan standar yaitu seluruh mesin dan peralatan yang kontak langsung dengan air terbuat dari bahan yang tara pangan (food grade) , tahan korosi dan tidak bereaksi dengan bahan kimia. Pengecekan spesifikasi bahan penolong dilakukan oleh staff QC analist berdasarkan sampel dari bagian gudang saat bahan-bahan baru datang dari supplier. Bahan penolong yang tidak memenuhi standar atau tidak sesuai dengan spesifikasi akan ditahan terlebih dahulu dan selanjutnya dipulangkan pada supplier. Bahan penolong yang baru datang wajib diidentifikasi terlebih dahulu. Identifikasi ini meliputi tanggal datang, jenis barang, jumlah barang, asal supplier, dan via pengiriman. Identifikasi barang ini dilakukan pada setiap barang yang datang dan dilakukan oleh staff gudang. Setelah sesuai dengan spesifikasi dan standar, bahan-bahan penolong disimpan di gudang bahan penolong dan siap untuk dipergunakan. Berikut adalah spesifikasi dari beberapa bahan penolong. Tabel 2 Spesifikasi Bahan Penolong proses produksi air minum dalam kemasan Nama bentuk Warna Keterangan Bahan Granular Hitam Food Grade (mempunyai sertifikat Activated analisa) carbon Granular Coklat Food Grade (mempunyai sertifikat Manganese analisa) Cairan Bening Food grade Sabun (HVF) transparan meltosa Cairan bening Food grade LOC Sodium bikarbonat Pasir kwarsa Tepung/ butiran halus Butiran kasar dan halus (kerikil) Putih Food grade (sertifikat halal)

Putih

Sertifikat halal

Tabel 3 Spesifikasi Bahan Penolong kemasan produk air minum dalam kemasan Nama Bahan Warna dasar berat Volume Tinggi DP DB Gelas cup Putih 3,914 250 ml 10,1 7,4cm 4,6 bening gr cm cm Jaminan Mutu Proses Produksi Manajemen jaminan mutu proses produksi bertujuan untuk mengontrol jalannya proses produksi sehingga kualitas produk air minum yang dihasilkan baik dan mutunya terjamin. Adapun prosedur yang dilakukan selama proses produksi di PT. Duta Putra Lexindo terangkum dalam pengendalian proses produksi. Pengendalian proses produksi dilakukan pada setiap tahapan proses produksi. Sebelum produksi dimulai ruangan produksi botol 5 gallon, cup dan

16

botol 600ml dan botol 1500ml terlebih dahulu harus dibersihkan dengan menggunakan larutan sanitizer dan setelah itu AC dihidupkan. Selain sanitasi ruangan, mesin produksi juga perlu disanitasi. Mesin cup disanitasi dengan cara dibersihkan pocket/ mould atau conveyor dan body mesin dengan menggunakan larutan sanitizer. Pada mesin botol 600ml, 1500ml dan botol 5 gallon bagian conveyor, body mesin dan nozel filling dibersihkan dengan larutan sanitizer. Tangki penampungan juga disanitasi maksimal satu bulan sekali dengan larutan sanitizer. Tangki stainless steel atau tangki penampungan air jadi minimal 3 bulan sekali dengan larutan sanitizer. Selain itu karyawan atau personil yang berhubungan langsung dengan produk jadi juga harus diperhatikan. Standar operasional prosedur yang diterapkan di PT. Duta Putra Lexindo adalah membersihkan tangan dan kaki sebelum bekerja menggunakan alkohol, memakai baju kerja, memakai tutup kepala, memakai tutup mulut (masker), menggunakan sarung tangan,tidak memakai arloji,gelang, cincin dan aksesori lainnya, memakai sepatu bot dan tidak dalam keadaan sakit. Pada proses pengisian air minum dalam kemasan cup,botol 600 ml, botol 1500ml dan botol 5 gallon, karyawan dan operator yang akan masuk ruangan produksi harus menerapkan standar operasional prosedur yang berlaku tersebut. Sebelum pengisian dimulai kemasan yang akan diisi dibilas dengan air produksi terlebih dahulu. Setelah diisi, pengamatan secara visual dilakukan pada akhir conveyor untuk melihat apakah ada benda asing yang ikut terisi. Untuk menjamin lancarnya proses produksi dan terjaminnya mutu air minum dalam kemasan, sejumlah peralatan atau mesin-mesin yang digunakan di PT. Duta Putra Lexindo mengalami perawatan secara rutin. Filter carbon dan pasir kwarsa dibersihkan setiap pagi dan sore dengan cara membalikkan posisi 6 valve yang ada pada filter carbon dan pasir kwarsa. Setelah air yang keluar benarbenar bersih ,posisi valve dikembalikan lagi ke posisi semula. Membran pada mesin reverse osmosis diganti setahun sekali atau jika mengalami penyumbatan. Jaminan Mutu Produk Produk jadi sebelum dipasarkan harus dilakukan inspeksi terlebih dahulu untuk menjamin mutunya baik dipasaran. Inspeksi dan pengujian produk jadi meliputi uji parameter fisika (bau, rasa, dan warna), pH, kimia (TDS, conductivity, dan turbidity) dan mikrobiologi uji koliform. Inspeksi dan pengujian dilakukan dengan cara mengambil tiga sampel dimana satu satu sampel untuk diuji pada saat itu, satu sampel untuk arsip dan satu sampel lainnya diuji pada hari keenam. Sampel yang diuji pada hari keenam ini untuk melihat bagaimana kondisi dan mutu produk air minum dalam kemasan yang berada setelah beberapa hari di pasaran. Selain itu seluruh parameter yang teruji dalam SNI 01-3553-2006 dilakukan uji di laboratorium yang ditujukan oleh Menperindag atau terakreditasi KAN. Pengawasan mutu produk jadi juga mencakup pengendalian atas produk yang tidak sesuai. Produk air minum dalam kemasan cup, botol 5 gallon, botol 600ml dan 1500ml yang bocor atau tidak terisi penuh air harus dipisahkan dari ruang produksi untuk dilakukan penanganan. Seluruh produk yang mengalami ketidaksesuaian harus diidentifikasi dan diselidiki penyebabnya. Penyebab terjadinya ketidaksesuaian biasanya disebabkan berbagai faktor seperti mesin

17

ataupun perlakuan personal karyawan yang menanganinya. Setelah penyebab ketidaksesuaian ditelusuri selanjutnya akan dilakukan tindakan koreksi. Langkahlangkah ini perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu produk selain itu juga untuk meningkatkan efektivitas produksi. Berikut ini adalah data-data tindakan koreksi yang dilakukan selama bulan Juli 2013. Tabel 4. Tindakan koreksi atas produk yang tidak sesuai No 1 2 3 Penyebab Ketidaksesuaian Bau pelumas pada gallon Produk kemasan cup banyak bocor Terdapat benda asing pada produk Tindakan Koreksi Penggantian aquamatic Memperbaiki proses sealing Dilakukan pengamatan visual pada akhir proses pengisian

Jaminan mutu produk jadi ini juga tercakup dalam proses pengemasan, penyimpanan dan penanganan produk jadi. Bagian produksi melakukan pengemasan cup ke dalam dus yang telah disediakan. Jumlah per dus 48 cup dan terdiri dari dua lapisan yang dibatasi dengan dua layer, perlapisan 24 cup. Pada pengemasan botol 600ml, jumlah perdus 24 botol dan terdiri dari 1 lapisan tanpa layer. Untuk botol 1500ml jumlah perdus adalah 12 botol dan terdiri dari 1 lapisan tanpa layer. Pada tahap penyimpanan juga menentukan kualitas produk jadi. Produk jadi hasil produksi yang telah dikemas disusun diatas pallet dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Botol 5 gallon: Penyusunan dilakukan 2 lapisan yang jumlahnya 36 botol 5 gallon. Lapisan bawah 20 botol 5 gallon dan lapisan atas 16 botol 5 gallon. 2. Botol 600ml : Penyusunan dilakukan 8 lapisan. Adapun setiap lapisan jumlahnya 14 dus untuk lapisan bagian atas hanya 2 dus sehingga jumlahnya 100 dus 3. Botol 1500ml : penyusunan dilakukan 8 lapisan adapun setiap lapisan jumlahnya 14 dus untuk lapisan atas hanya 2 dus sehingga jumlahnya 100 dus. 4. Cup : penyusunan dilakukan 8 lapisan adapun setiap lapisan jumlahnya 14 dus untuk lapisan atas hanya 2 dus sehingga jumlahnya 100 dus. Selanjutnya produk jadi diinspeksi untuk selanjutnya diserahkan ke bagian penggudangan. Berikut ini adalah gambar penyimpanan produk jadi pada perusahaan ini.

18

Gambar 3 penyimpanan produk jadi (PT. Duta Putra Lexindo, 2013)

PEMBAHASAN
Teknologi Proses Produksi Bahan Baku Selama ini air yang digunakan makhluk hidup terdiri dari berbagai jenis berdasarkan sumbernya. Salah satu jenis air yang biasanya digunakan untuk keperluan minum adalah air tanah. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Lapisan ini biasa disebut akuifer yaitu lapisan batuan jenuh tanah yang dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup dan ekonomis. Air tanah sering disebut air tawar karena tidak berasa asin. Air tanah terbagi menjadi dua macam yaitu air tanah preatis dan air tanah artesis. Air tanah preatis adalah air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada di atas lapisan kedap air / impermeable. Sedangkan Air tanah artesis adalah air tanah yang letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada di antara dua lapisan kedap air. Air tanah yang jauh dari permukaan tanah didapatkan dari sumur gali atau sumur bor. Air tanah pada umumnya paling sedikit mengandung mikroorganisme dan air tanah yang terdapat pada bagian yang dalam sekali hampir tidak mengandung mikroorganisme (Dwijoseputro,1989). Selain air tanah , masih banyak terdapat jenis air lainnya. Salah satu jenis air lainnya adalah jenis air permukaan. Air pemukaan adalah air yang berada di permukaan tanah dan dapat dengan mudah dilihat oleh mata kita. Air permukaan terbagi lagi menjadi dua macam yaitu air perairan darat dan air perairan laut. Air perairan darat adalah air permukaan yang berada di atas daratan misalnya seperti rawa-rawa, danau, sungai, dan lain sebagainya. Air Perairan laut adalah air permukaan yang berada di lautan luas. Contohnya seperti air laut yang berada di laut. Air permukaan tanah sering dicemari oleh sampah keluarga, kotoran hewan, limbah industri dan limbah domestik. Air permukaan sering banyak mengandung mikroorganisme dari tanah dan dari organisme yang terdapat di danau-danau dan sungai-sungai. Keberadaan mikroorganisme dalam air ada yang bersifat merugikan dan menguntungkan (dwijoseputro,1989). Dalam memproduksi air minum dalam kemasan , jenis air yang akan digunakan untuk diproses disebut dengan istilah air baku. Air baku yang digunakan PT. Duta Putra Lexindo dalam memproduksi air minum dalam kemasan adalah jenis air tanah artesis yang berasal dari 5 sumur bor dengan kedalaman 100-120 meter. Kualitas air bersih dapat ditinjau dari segi fisik, kimia dan biologis. Kualitas fisik terdiri dari bau, rasa, dan warna. Kualitas kimia dapat diteliti melalui pengamatan tentang kesadahan, pH, kandungan ion dan sebagainya. Sedangkan ada atau tidaknya mikroorganisme penyebab penyakit pada air merupakan syarat biologi air bersih. Sumber air yang ada di permukaan bumi dapat diolah menjadi air minum dengan berbagai teknik yang telah berkembang,

19

sehingga kebutuhan air minum yang memenuhi persyaratan dapat terpenuhi bagi seluruh lapisan masyarakat. Persyaratan standar air bersih menurut peraturan menteri kesehatan nomor 416 tahun 1990 terdapat pada lampiran 3. Hasil pemeriksaan air baku di PT. Duta Putra Lexindo oleh laboratorium dinas kesehatan kota juga terdapat pada lampiran 3. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut didapatkan bahwa semua parameter yang dipersyaratkan sudah memenuhi standar yang berlaku untuk air bersih. Proses Produksi Menurut SNI 01-3553-2006, air minum dalam kemasan yaitu air baku yang telah diproses, dikemas dan aman diminum mencakup air mineral dan air demineral. Secara umum tahapan-tahapan dalam mengolah air minum dalam kemasan adalah proses water treatment yaitu proses penyaringan, proses desinpeksi dan proses pengisian. Penyaringan dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran, lumpur dan bau ataupun logam-logam yang terkandung dalam air. Proses desinpeksi bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar mikroba dan membunuh bakteri patogen dalam air serta menghilangkan kontaminankontaminan lain yang lebih kecil agar air yang dihasilkan lebih murni. Proses pengisian merupakan tahap akhir berupa pengisian air diikuti dengan pengemasan air yang telah diproses. Tujuan pengolahan air adalah untuk menghilangkan bahan pengotor yang ada dan secaraefisien memproduksi air yang jernih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, aman dan menyegarkan serta dapat memberikan manfaat ekonomis dan sosial. Pengotor air dapat digolongkan menjadi tigakelompok yaitu bahan tersuspensi/koloid, bahan terlarut dan mikroorganisme. Berdasarkan fungsi utama, satuan operasi dalam pengolahan air dapat digolongkan menjadi operasi untuk menghilangkan bahan partikel, disinpeksi, dan / atau untuk menghilangkan bahan terlarut. Unit operasi atau unit proses untuk menghilangkan masing-masing bahan pengotor tersebut dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5.Berbagai jenis operasi / unit proses dalam pengolahan air bersih (sumber : Suprihatin, 2001) Fungsi Unit Proses Penyaringan Penghilangan Partikel/koloid Sedimentasi Koagulasi/flokulasi Filtrasi/membran filtrasi Penghilangan Bahan terlarut Aerasi Ozonisasi Pelunakan Adsorpsi Reverse Osmosis Klorinasi Ozonisasi Radiasi dengan UV Filtrasi membran

Desinfeksi

20

Di PT. Duta Putra lexindo proses water treatment terdiri dari tahapan penyaringan dengan pasir kwarsa, penyaringan dengan karbon aktif lalu penyaringan dengan cartridge dan bag filter. Setelah melewati proses water treatment tersebut, air ditampung dalam tangki penampungan air setengah jadi untuk kemudian masuk ke proses inti yaitu proses pemurnian dengan sistem reverse osmosis. Penyaringan dengan pasir kwarsa ini merupakan penyaringan tahap awal dilakukankan karena pasir kwarsa atau pasir silika (SiO2) yang digunakan berfungsi untuk menyaring partikel besar seperti endapan, lumpur dan tanah yang terdapat dalam air baku. Dengan demikian penyaringan ini dapat memperbaiki kualitas fisik air seperti kekeruhan. Proses penyaringan selanjutnya adalah dengan menggunakan karbon aktif. Karbon aktif dapat berasal dari arang hasil pembakaran, batu bara, lignit, produkproduk kayu, batok kelapa, dan lainnya. Di PT. Duta Putra Lexindo, karbon yang digunakan adalah karbon jenis batu bara yang didapatkan impor dari Amerika. Karbon aktif mempunyai ukuran pori yang sangat banyak. Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel yang sangat halus maupun molekul organik yang besar seperti rasa, warna, maupun bau dan menjebaknya disana. Karbon aktif memiliki jaringan pori yang sangat luas dan berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul kontaminan baik besar maupun kecil. Pori karbon aktif diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan diameter pori. Pada proses penyaringan dengan karbon ,molekul kontaminan akan ditarik oleh permukaan partikel karbon. Penyaringan dengan karbon adalah metode yang sering digunakan dalam mengolah air karena kemampuannya dalam menghilangkan rasa dan bau termasuk klorin. Efisiensi proses penyaringan dengan karbon ini dipengaruhi oleh karakteristik karbon itu sendiri seperti ukuran partikel, ukuran pori, luas permukaan, densitas, dan kekerasan. Selain itu juga dipengaruhi oleh karakteristik kontaminan seperti konsentrasi, kelarutan kontaminan dan penarikan kontaminan ke permukaan karbon (Sudrajat dan Salim, 1994). Setelah melewati proses penyaringan dengan karbon , air yang akan diolah disaring kembali dengan penyaring cartridge atau bag filter. Kedua jenis penyaringan ini dipasang secara paralel. Pada mesin RO 3 digunakan penyaring bag filter sedangkan pada mesin RO 2 digunakan penyaring cartridge. Pada filter cartridge air masuk melewati bagian samping atas tangki dan keluar pada bagian samping bawah dengan arah sebaliknya pada tangki. Sedangkan pada bag filter air masuk dari atas dan keluar pada bagianbawah tangki seperti halnya menyeduh teh. Hal ini menunjukkan bahwa penyaringan dengan bag filter dirasa lebih efisien karena air seluruhnya dapat tersaring pada selongsong bag filter sedangkan pada filter cartridge terdapat kemungkinan air tidak melewati cartridge namun turun dibagian samping langsung menuju ke tempat keluar. Proses pemurnian yang dilakukan di PT. Duta Putra Lexindo adalah pemurnian dengan sistem reverse osmosis. Proses reverse osmosis adalah salah satu jenis teknologi pengolahan air yang saat ini banyak diminati. Proses ini menggunakan sistem membran dan membutuhkan tekanan yang relatif tinggi, walaupun pada beberapa kasus dapat digunakan dalam tekanan rendah. Proses ini sering dikatakan sebagai proses pengolahan air yang hemat energi dan menghasilkan air olahan yang dapat menyaring zat dengan molekul terkecil sekalipun. Pada dasarnya sistem reverse osmosis didasarkan pada prinsip osmosis. Dalam osmosis, membran semipermeabel memisahkan dua larutan dengan jumlah

21

kandungan zat terlarut yang berbeda, dengan kata lain kedua larutan tersebut memiliki konsentrasi yang berbeda. Membran semipermeabel melewatkan air dan senyawa lain berbobot molekul rendah dan menahan senyawa dengan bobot molekul tinggi seperti senyawa-senyawa organik dan kompleks logam. Dengan demikian sistem RO memiliki keuntungan diantaranya mampu menghilangkan senyawa-senyawa anorganik maupun senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam air, mampu menghilangkan parasit dan mikroorganisme seperti virus, mampu menghasilkan air lebih murni dibandingkan dengan sistem lainnya. Namun, sistem RO juga memiliki beberapa kerugian diantaranya output air yang dihasilkan setelah treatment lebih sedikit dan memerlukan perawatan membran yang intensif serta tanki penyimpanan harus dikontrol secara periodik. Selain itu, pada sistem RO kerusakan membran sulit dideteksi (PT. Duta Putra Lexindo, 2013). Air yang telah ditreatment dengan RO tergantung pada beberapa faktor, diantaranya tipe dan kondisi membran, kondisi operasi (seperti laju alir dan tekanan) dan kualitas air baku (seperti konsentrasi kontaminan, suhu, dan pH). Hasil pengukuran RO dapat dinyatakan sebagai % Recovery dan % Rejeksi. Persen recovery menunjukkan bagian air yang melewati RO dan keluar sebagai air bersih (air yang telah ditreatment), sedangkan persen rejeksi menunjukkan bagian air yang melewati RO dan keluar sebagai air buangan. Di PT.Duta Putra Lexindo terdapat 3 mesin RO namun hanya dua yang digunakan yaitu mesin RO 2 dan mesin RO 3. Mesin RO 2 dapat menghasilkan air produk sebesar 11 gallon/menit dengan kecepatan alir 8 meter kubik per jam sedangkan mesin RO 3 memiliki kapasitas yang lebih besar lagi yaitu dengan kecepatan 17-19 meter kubik per jam. Perkiraan nilai ini didapatkan dengan persen recovery 50%. Jika permintaan pasar banyak maka PT. Duta Putra Lexindo menambah persen recovery menjadi 60%. Manajemen Jaminan Mutu Standar Air Minum Dalam Kemasan Syarat air minum untuk keperluan minum menurut ketentuan WHO adalah harus memenuhi persyaratan fisik, kimia dan mikrobiologi. Persyaratan fisik berupa jernih,bersih, tidak berbau, tidak berasa dan sejuk. Persyaratan kimia berupa tidak mengandung senyawa beracun, senyawa ataupun materi yang membahayakan kesehatan konsumen. Sedangkan persyaratan mikrobiologi adalah tidak mengandung kelompok mikroba pathogen (salmonella, shigella, clostridium), penyebab disentri, kholera, serta kelompok mikroba pencemar (bakteri kolifform). Di Indonesia perusahaan air minum dalam kemasan harus sesuai dengan standar nasional yang berlaku yaitu SNI 01-3553-2006. Dalam standar tersebut juga mencakup persyaratan fisik,kimia dan mikrobiologi yang harus dipenuhi. Di PT. Duta Putra Lexindo dilakukan uji-uji sampel produk harian seperti uji pH, TDS, Turbidity, dan conductivity untuk memenuhi standar yang berlaku tersebut. Uji mikrobiologi dilakukan sekali dalam seminggu. Uji mikrobiologi yang dilakukan adalah uji ALT (angka lempeng total) dan uji bakteri koliform. Selain itu seluruh parameter yang teruji dalam SNI 01-3553-2006 dilakukan uji di laboratorium yang ditujukan oleh Menperindag atau terakreditasi KAN.

22

Pengujian TDS (total Dissolve solvent) dilakukan untuk mengetahui jumlah padatan terlarut yang terdapat pada air yang diuji. TDS di uji secara digital menggunakan TDS-meter dimana hasilnya telah terukur dalam satuan part per million (ppm) atau mg/L. Semakin tinggi nilai TDS semakin tinggi pula jumlah padatan yang terlarut dalam produk. Padatan disebabkan adanya seyawa anorganik atau senyawa organik dalam bentuk suspensi. Pengujian pH dilakukan menggunakan pH meter. Nilai pH yang dihasilkan menunjukkan derajat keasaman air yang diuji. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman air tersebut. Nilai pH yang kecil menyebabkan korosi pada pipa air dan menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun. Pengujian turbidity dilakukan untuk melihat kekeruhan pada air. Kekeruhan ini biasanya karena adanya bahan dalam bentuk koloid dari partikel yang kecil, dan atau adanya pertumbuhan mikroorganisme. Pengujian conductivity merupakan uji untukmengetahui sifat daya hantar listrik yang dimiliki air tersebut. Air baku memili daya hantar listrik yang lebih besar dibanding dengan air yang telah diolah. Hal ini disebabkan oleh kandungan air mineral yang mengalami proses penurunan setelah di proses. Pada pengukuran conductivity atau daya hantar listrik, hanya bahan terionisasi yang dapat terukur, molekul-molekul organik dan kandungan lain yang larut tanpa proses ionisasi tidak akan terukur (Hasunia, 2006). Nilai-nilai ini harus berada pada rentang dan nilai standar yang berlaku agar kualitas produk air minum dalam kemasan dapat terjamin dan tidak membahayakan. SNI yang berlaku untuk air minum dalam kemasan terdapat pada SNI 01-3553-2006. Nilai standar tentang persyaratan fisik air minum dalam kemasan adalah pada tabel berikut : Tabel 6 Persyaratan beberapa parameter air minum dalam kemasan (sumber : SNI 01-3553-2006) Parameter Bau pH Kekeruhan Zat yang terlarut Standar air mineral Tidak berbau 6,0-8,5 Maks 1,5 Maks 500 Standar air demineral Tidak berbau 5,0-7,5 Maks 1,5 Maks 10 Satuan NTU Mg/l

Pengujian pH, TDS, turbidity, dan conductivity merupakan uji yang rutin dilakukan setiap hari di tiap awal shift pada air baku,air tampung setengah jadi, dan air produk masing-masing lini produksi. Selain sebagai parameter untuk menjaga kualitas tetap baik, uji ini juga dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan dan dikeluarkan dari pabrik aman dikonsumsi. Jika didapatkan hasil yang melewati nilai standar , produksi dapat dihentikan. Data hasil pemeriksaan laboratorium dinas kesehatan kota dan data nilai standar menurut peraturan menteri kesehatan mengenai air minum dalam kemasan dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5. Berdasarkan data hasil pemeriksaan laboratorium dinas kesehatan kota didapatkan bahwa parameter yang diuji sudah memenuhi standar. Data hasil pengamatan sampel sehari-hari terdapat pada lampiran 6. Pada pengamatan setiap uji harian yang dilakukan juga didapatkan hasil yang memenuhi standar.

23

Selain pengujian pH, TDS dan kekeruhan pengujian mikrobiologi merupakan parameter yang sangat mempengaruhi air minum dalam kemasan yang layak dikonsumsi. Hal ini karena di tengah ketergantungan warga terhadap air minum dalam kemasan, kandungan bakteri dapat dikatakan sebagai salah satu penentu kualitas air minum dalam kemasan yang patut dicermati. Rendahnya kualitas mikrobiologis air minum dalam kemasan dapat berasal dari sumber air ataupun proses produksinya. Selain itu jumlah mikroba pada air minum dalam kemasan juga dapat bertambah akibat penanganan yang tidak tepat. Misalnya akibat terpapar sinar matahari, tidak layaknya kondisi penyimpanan ataupun rusaknya kemasan, yang dapat memacu perkembangan mikroba. Mengingat bahwa air minum yang digunakan kemungkinan mengandung bakteri pathogen, maka harus dilakukan pemeriksaan secara mikrobiologi di laboratorium. Dengan pengujian ini akan diketahui apakah air minum dalam kemasan layak dikonsumsi atau tidak. Di PT Duta Putra Lexindo parameter mikrobiologi yang diuji antara lain adalah penentuan Angka Lempeng Total (ALT) dan penentuan keberadaan bakteri bentuk koli. Nilai angka lempeng total yang diperoleh adalah sebagai gambaran awal keadaan mikrobiologis air minum dalam kemasan, sedangkan bakteri bentuk koli diuji sebagai indikator pencemaran karena jumlahnya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri pathogen. Menurut SNI 01-3553-2006 tentang air minum dalam kemasan, batas angka lempeng total awal maksimum 100 koloni/ ml dan bakteri bentuk koli <2 APM/ 100 ml. Pengujian mikrobiologi bakteri koliform adalah untuk melihat adanya pertumbuhan bakteri koliform pada sampel yang akan di uji. Coliform adalah kelompok bakteri gram negatif berbentuk batang yang pada umumnya menghasilkan gas jika ditumbuhkan dalam medium laktosa. Gas ini merupakan ekskret yang dihasilkan bakteri koliform. Bakteri coliform berdasarkan asal dan sifatnya dibagi menjadi : 1. Coliform fecal, seperti Escerichia coli 2. koliform nonfekal misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanam-tanaman yang telah mati (Fardiaz, 1993 ). Jadi, adanya Escherichia coli dalam air minum menunjukkan bahwa air minum itu pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin dapat mengandung patogen usus. Oleh karena itu standar air minum mensyaratkan jumlah E. Coli dalam air minum harus bernilai nol. Untuk mengetahui jumlah koliform di dalam contoh digunakan metode Most Probable Number ( MPN ). Kehadiran bakteri coli dari air dilakukan berdasarkan penggunaan medium kaldu laktosa yang ditempatkan di dalam tabung reaksi berisi tabung durham (tabung kecil yang letaknya terbalik, digunakan untuk menangkap gas yang terjadi akibat fermentasi laktosa menjadi asam dan gas). Tergantung kepada kepentingan, ada yang menggunakan sistem 33-3 (3 tabung untuk 10 ml, 3 tabung untuk 1,0 ml, 3 tabung untuk 0,1 ml) atau 55-5 . Uji kualitatif koliform secara lengkap yang terdiri dari 3 tahap yaitu uji penduga (presumptive test), uji penguat (confirmed test) dan uji pelengkap (completed test). Uji cemaran mikrobiologi koliform di PT duta Putra Lexindo hanya dilakukan uji penduga dan penguat. Uji penduga (presumptive test)

24

merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 350C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN. Uji penguat (confirmed test) adalah hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh ber-warna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya. Uji pelengkap (completed test) adalah pengujian selanjutnya menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan jarum inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakteri Escherichia coli menunjukkan Gram negatif berbentuk batang pendek. Untuk membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 370C (untuk golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 420C (untuk golongan koli fekal). Bakteri golongan koli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C, sedangkan golongan koli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C. Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Dengan demikian jika terdapat E.coli pada sampel air minum maka dapat dipastikan sampel tersebut tidak memenuhi satndar kesehatan dan tidak layak dikonsumsi. Berdasarkan hasil pengamatan uji mikrobiologi koliform yang dilakukan setiap minggu untuk sampel produk air minum dalam kemasan PT. Duta Putra Lexindo didapatkan nilai koliform tinja nol dalam 100 ml air. Hasil pemeriksaan oleh laboratorium dinas kesehatan juga menunjukkan hasil yang sama. Hasil pengamatan pengujian produk air minum sudah menunjukkan hasil uji negatif saat uji penduga. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa produk air minum dalam kemasan yang dihasilkan oleh PT. Duta Putra Lexindo bebas dari cemaran mikroba patogen dan terjamin kualitasnya. Pengujian yang dilakukan selanjutnya adalah perhitungan jumlah bakteri dengan metode angka lempeng total. Prinsip pengujian angka lempeng Total adalah pengujian mikrobiologi untuk menghitung jumlah pertumbuhan bakteri

25

mesofil aerob setelah sampel diinkubasikan dalam pembenihan yang sesuai selama 24-48 jam pada suhu 37oC. Perhitungan angka lempeng total digunakan untuk menghitung bakteri dengan ketentuan satu koloni bakteri dihitung satu sel bakteri hidup, satu sel hidup dari sampel akan mampu membentuk koloni bakteri dalam cawan petri dish, jumlah koloni dihitung antar 25-250 koloni. Apabila kurang maka dihitung jumlah koloni yang ada, sedang apabila lebih dari 250 maka perlu dilakukan pengenceran. Sebelumnya mikroorganisme ditumbuhkan pada suatu media agar, maka mikroorganisme tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dengan membentuk koloni yang dapat langsung dihitung. Penentuan Angka Lempeng Total (ALT) dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan metode agar tuang (pour plate) yaitu dengan menanamkan contoh ke dalam cawan petri terlebih dahulu kemudian ditambahkan media agar, kedua metode agar sebar (spread plate) yaitu dengan menuangkan terlebih dahulu media agar ke dalam cawan petri kemudian contoh diratakan pada permukaan agar dengan menggunakan batang penyebar. Di laboratorium PT. Duta Putra Lexindo, metode yang dilakukan adalah metode agar tuang. Data hasil pengamatan uji angka lempeng total dapat dilihat pada lampiran 7. Berdasarkan data pengamatan didapatkan bahwa untuk sampel air minum dalam cup ,galon dan produk botol koloni yang tumbuh rata-rata didapatkan lebih kurang dari 25 koloni. Hasil ini menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan yang dihasilkan PT. Duta Putra Lexindo aman dari cemaran mikroba. Upaya Analisis Bahaya Setiap Tahapan Proses Produksi Untuk perusahaan pangan peningkatan kualitas dapat dilakukan dengan mengontrol segala macam bahaya yang terjadi akibat aktivitas yang dilakukan perusahaan yaitu mulai dari bahan baku diterima hingga produk jadi dihasilkan. Dengan demikian setiap tahapan proses produksi harus sering ditinjau agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang diinginkan. Salah satu metode yang sering digunakan adalah dengan pencegahan terjadinya bahaya potensial dalam bahan baku, proses produksi, penyimpanan produk, distributor dan petunjuk penggunaan konsumen untuk menjamin mutu dan keamanan produk. Deskripsi Produk Tahap pertama yang dilakukan dalam mencegah terjadinya bahaya pada produk adalah dengan mendeskripsikan produk itu sendiri. Produk yang dihasilkan oleh PT. Duta Putra Lexindo adalah air minum dalam kemasan. Air baku yang digunakan adalah jenis air tanah dari sumur bor dengan kedalaman 100-120 meter. Secara garis besar proses produksi yang berlangsung di PT. Duta Putra Lexindo adalah penerimaan bahan baku dan bahan penolong, proses water treatment, proses pengisian, proses pengemasan,proses distribusi dan pemasaran. Berikut adalah tabel deskripsi produk air minum dalam kemasan yang dihasilkan oleh PT. Duta Putra Lexindo. Tabel 7 Deskripsi Produk (Sumber : PT. Duta Putra Lexindo, 2013)
Nama produk Asal Bahan Baku Air minum dalam kemasan Air tanah sumur bor kedalaman 100-120 meter

26

Merk produk Komposisi produk Karakteristik produk akhir Metode pengolahan Metode pengawetan Pengemas primer Pengemas sekunder Kondisi penyimpanan Umur simpan Metode distribusi Petunjuk pelabelan khusus Pengawasan khusus dalam distribusi

Bolesa Air pH = 6,5 ; TDS < 50 ppm ; turbidity < 5 npu Water treatment dan Reverse Osmosis Pengemasan Plastik PET (cup dan botol) ; plastik PP (gallon) Karton Suhu ruang (28-30oC) 2 tahun Diangkut dengan menggunakan truk pengangkut produk Keterangan kondisi dan cara penyimpanan Pemberian alas berupa pallet pada dasar tumpukan, maksimal 8 tumpukan, dihindarkan dari benda yang berbau tajam, dan dihindarkan dari tempat lembab Warung, restoran, pasar tradisional, swalayan Cara penyimpanan produk

Lokasi produk yang akan dijual Petunjuk penggunaan

Analisis Bahaya Analisis bahaya merupakan suatu tindakan evaluasi secara sistematik pada produk dan bahan baku untuk menentukan resiko dan merupakan suatu prosedur yang dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya yang ada pada produk dan bahan-bahan yang digunakan. Untuk pembuatan produk air minum dalam kemasan analisa bahaya dilakukan dengan membuat diagram proses untuk menggambarkan urutan produksi dan distribusi, kontaminasi dan ketahanan mikroorganisme yang dapat menyebabkan bahaya jika mengkonsumsi produk tersebut. Dalam melakukan analisa bahaya, hal yang penting yang perlu dipertimbangkan yaitu mengenai semua kemungkinan bahaya yang ada pada bahan baku, bahan pembantu, setiap langkah dalam proses, penyimpanan produk dan distribusi, penyiapan akhir dan penggunaan oleh konsumen. Terdapat tiga bahaya hazard yang dapat menyebabkan makanan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi, yaitu hazard fisik, kimia dan biologi (Taheer,2005). Dari hasil pengamatan lapangan di PT. Duta Putra Lexindo beberapa tahapan sudah di lakukan analisa bahaya baik dari penerimaan bahan baku hingga menjadi produk akhir. Adapun hasil analisis bahaya sebagaimana terlihat pada tabel analisis bahaya yang ada pada lampiran. Identifikasi Masalah Dan Solusi

27

Pada setiap tahapan proses peroduksi sangat penting untuk dijamin bahwa prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi kerja telah dilaksanakan dengan benar karena umumnya setiap perusahan telah menetapkan standar prosedur operasi (SOP) dan instruksi-instruksi kerja untuk dilaksanakan. Pelaksanaan nyata yang sesuai dengan standar yang telah diputuskan tersebut tentunya memberikan keuntungan tersendiri untuk perusahaan dalam rangka menghasilkan produk yang unggul dan berkualitas. Permasalah yang timbul adalah banyaknya produk yang mengalami reject. Walaupun perusahaan telah menetapkan standar jumlah produk reject tidak boleh lebih dari 2,5%, namun standar tersebut dirasa cukup besar untuk produk yang dalam jumlah ribuan. Apalagi produk reject ini seringkali didapatkan karena proses penanganannya yang kurang tepat. Penanganan produk jadi yang kurang baik merupakan salah satu faktor yang paling mempengaruhi penurunan rendemen produk seperti adanya lid yang tidak terpasang sempurna dan cup yang terpasang dobel sehingga produk tersebut dinyatakan reject. Hal ini tentunya dapat diatasi dengan pemantauan ulang oleh operator dan asisten operator saat memasukkan lid dan cup. Selain itu seringnya terjadi keterlambatan pengambilan produk cup saat proses pengemasan juga menjadi faktor produk jadi yang didapatkan berkurang. Hal ini disebabkan oleh pergerakan konveyor yang cepat sehingga produk yang terlambat diambil jatuh diujung konveyor. Solusi yang dapat dilakukan mengenai permasalahn ini adalah mangatur kecepatan konveyor dan memberi penampung tambahan diujung konveyor sehingga jika produk tidak terambil oleh pekerja, produk tidak akan jatuh namun tertampung di ujung konveyor tersebut. Hal ini dapat meminimumkan produk yang pecah karena jatuh. Selain itu produk reject juga sering ditemukan karena kebocoran atau basahnya produk yang sudah dikemas sekunder dalam kardus. Pecahnya satu cup air minum dapat menyebabkan produk yang sudah dikemas dalam kardus reject semua sehingga harus disortir dan dikemas ulang secara manual untuk produk yang masih bisa dipasarkan. Pecahnya cup yang sudah berisi air minum ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengaturan suhu untuk menekan lid pada saat proses pengisian yang terlalu tinggi sehingga tidak kuat pada bagian pinggir lingkaran cup ditambah lagi dengan penanganan bahan yang kurang tepat seperti pelemparan kardus saat proses distribusi. Selain itu juga didapatkan produk yang dikomplain oleh konsumen karena beberapa hal seperti terdapatnya benda asing dan adanya bau tidak sedap seperti bau oli pada produk galon. Penyebab produk yang mengalami ketidaksesuaian ini haruslah ditelusuri ulang agar didapatkan hasil yang akurat mengenai penyebab terjadinya ketidaksesuain tersebut. Dengan demikian dapat dihasilkan tindakan koreksi yang tepat agar tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Pencegahan kejadian ini dapat dilakukan dengan pengawasan kegiatan visual di lini produksi air minum dalam kemasan gallon oleh bagian quality control dalam suatu rentang waktu tertentu agar kelalaian pekerja dapat diminimalisir. Permasalahan lain yang timbul adalah pada pengawasan mutu bahan penolong di gudang. Sesuai dengan pengamatan yang dilakukan masih terlihat bahan-bahan yang disimpan dekat dengan kamar kecil dan ada yang tidak disusun diatas pallet. Faktor-faktor tersebut dapat menurunkan mutu bahan penolong karena kontaminasi bisa saja terjadi karena sistem penggudangan yang kurang baik. Bahan-bahan yang akan digunakan untuk proses produksi harus dijamin

28

mutunya dari saat barang datang sampai digunakan .hal ini karena bahan-bahan yang digunakan tersebut berperan dalam menjaga kualitas produk jadi. Bahanbahan yang disimpan seharusnya diletakkan dengan rapi, jauh dari lokasi kamar kecil dan disusun diatas pallet. Dengan demikian untuk mengantisipasi penurunan mutu bahan penolong saat proses penggudangan perlu dilakukan penyortiran terdahulu agar bahan-bahan yang masuk dan disimpan tersebut benarbenar baik mutunya. Hal utama yang harus dilakukan adalah dengan menerapkan sistem penggudangan yang baik seperti pertimbangan jarak lokasi gudang dengan kamar mandi, penyusunan bahan-bahan diatas pallet agar tidak kontak langsung dengan lantai dan penerapan sistem FIFO (first in first out) pada bahan-bahan tersebut. Pada saat proses pengisian disetiap ruang produksi juga masih terdapat operator ataupun asisten operator yang tidak menerapkan standar operasional prosedur yang telah disepakati. operator dan asisten operator sering tidak menggunakan sarung tangan dan masker yang telah disediakan. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan karena dapat menyebabkan kontaminasi pada produk dan mengakibatkan menurunnya kualitas produk. Dengan demikian, agar tidak terjadi lagi kelalaian seperti itu, maka operator dan asisten operator harus diberikan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kualitas produk. Setelah itu penerapannya perlu diawasi lagi.

PENUTUP
SIMPULAN Berdasarkan hasil praktik lapangan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa proses produksi air minum dalam kemasan merupakan proses yang saling berkaitan dari penerimaan bahan baku, proses water treatment, proses pemurnian, proses pengisian, proses pengemasan, proses distribusi dan transportasi. Sekarang ini kebutuhan akan air minum dalam kemasan dapat dikatakan sebagai kebutuhan yang mutlak. Hal ini karena krisisnya opini masyarakat terhadap kebutuhan air bersih, terutama untuk kebutuhan air minum pada masyarakat umum. Selain itu juga karena meningkatnya gaya hidup masyarakat yang membutuhkan segala sesuatu dengan instan dan cepat termasuk kebutuhan air minum. Pada dasarnya proses produksi air minum dalam kemasan adalah proses pengolahan air baku yang didapatkan dari berbagai sumber air yang terdapat di alam kemudian diolah dengan teknologi tertentu sehingga bisa langsung diminum. Karakteristik air baku yang berbeda disetiap daerah merupakan salah satu pertimbangan untuk memilih teknologi apa yang sesuai untuk mengolah air baku tersebut. pemilihan teknologi yang tepat tersebut juga disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi pada daerah tersebut. Bangka Belitung merupakan daerah pesisir yang miskin akan sumber air bersih selain itu juga terkenal dengan kandungan timah yang tinggi. Dengan dasar tersebut PT. Duta Putra Lexindo yang merupakan salah satu perusahaan air minum dalam kemasan di wilayah Bangka Belitung memilih teknologi reverse osmosis untuk mengolah air baku tersebut. air baku yang digunakan adalah air tanah yang diambil dari sumur bor

29

dengan kedalaman 100-120 meter. Sistem reverse osmosis adalah sistem yang menggunakan membran dan membutuhkan tekanan yang relatif tinggi. Pada dasarnya sistem reverse osmosis didasarkan pada prinsip osmosis. Dalam osmosis, membran semipermeabel memisahkan dua larutan dengan jumlah kandungan zat terlarut yang berbeda, dengan kata lain kedua larutan tersebut memiliki konsentrasi yang berbeda. Membran semipermeable melewatkan air dan senyawa lain berbobot molekul rendah dan menahan senyawa dengan bobot molekul tinggi seperti senyawa-senyawa organik dan kompleks logam. Pada tahap water treatment, PT. Duta Putra Lexindo melakukan teknik pengolahan penyaringan dengan pasir kwarsa, karbon dan cartridge. penyaringan dengan pasir kwarsa adalah penyaringan tahap awal untuk memperbaiki sifat fisik air seperti kekeruhan. Proses penyaringan karbon aktif dilakukan untuk menghilangkan rasa, bau serta klorin. Penyaringan dengan cartriddge berukuran 10 m berfungsi untuk menyaring kontaminan yang lebih kecil lagi sehingga air yang masuk dalam sistem RO tidak terlalu kotor sehingga perawatan pada mesin RO mudah dilakukan. Perawatan mesin dan peralatan di perusahaan ini rutin dilaksanakan yaitu penggantian bag filter dan filter cartridge dua minggu sekali, pembersihan tangki-tangki air disetiap tahapan proses setiap seminggu sekali. Penggantian membran RO dilakukan setahun sekali. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pengujian mikroba koliform dan angka lempeng total didapatkan bahwa air minum dalam kemasan yang dihasilkan oleh PT. Duta Putra Lexindo tidak tercemar oleh mikroba. Selain itu beberapa pengujian lainnya seperti fisik dan kimia, telah sesuai dengan syarat SNI 01-35532006. Jaminan mutu yang diterapkan oleh perusahaan ini sudah cukup baik namun untuk jaminan mutu yang lebih baik lagi perlu dilakukan beberapa perbaikan seperti peningkatan sanitasi pekerja, penambahan alat-alat laboratorium, penerapan sistem penggudangan yang lebih baik dan upaya untuk menerapkan sistem yang terstruktur seperti analisis bahaya dalam setiap tahapan proses produksi. SARAN Sesuai dengan hasil identifikasi masalah yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebaiknya solusi yang telah diberikan dapat dijalankan agar masalah-masalah yang terjadi dapat diminimalisir sehingga produk yang dihasilkan sangat terjamin mutunya. Selain itu penambahan alat-alat di laboratorium perlu dilakukan seperti penambahan alat hitung koloni (koloni counter), pipet-pipet mikro 1 ml untuk penanaman sampel, serta alat pengaduk otomatis. Penambahan miksoskop juga dirasa penting dilakukan. Laboratorium yang terstandar tentunya dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Selain itu guna sanitasi pekerja agar tidak mengkontaminasi produk , perlu ditambahkan bak klorin untuk mensterilkan sepatu boot pekerja di setiap lini proses yang kontak dengan produk.

30

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standardisasi Nasional. 2006. Air Minum dalam Kemasan. No. 01-35532006. Jakarta. BSN Dwijoseputro. 1989. Dasar-dasar Mikrobiologi, Penerbit Djambatan : Jakarta Fardiaz. 1993. Mikrobiologi Pangan. Penuntun Praktek-Praktek Laboratorium. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor Gabriel, 2001 . fisika lingkungan. Penerbit Hipokrates.Jakarta Gause, G. F. 1946 Litmocidin, a new antibiotic substance produced by roactinomyces cyaneus. J. Bacteriol., 51 Hasunia, Ahda Megawati. 2006. Analisa Kualitas Air Layak Minum di Kampus ITB, Tugas Akhir S1, Prodi Teknik Lingkungan, ITB. Sudrajat dan Salim. 1994. Petunjuk Teknis Pembuatan Arang Aktif. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor Suprihatin. 2001. Teknologi Pengolahan Air Bersih. Jurusan Teknologi Pertanian IPB Thaheer, Hermawan. 2005. Sistem Manajemen HACCP (Hazard Analysis Critical Control Points). Jakarta : Bumi Aksara.