Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Permintaan masyarakat akan gula terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan karena perkembangan penduduk dan semakin maraknya industri yang menggunakan bahan baku gula. Peneliti dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia Aris Taharisman menyatakan bahwa produksi rata-rata gula adalah 2,26 juta ton per tahun, sedangkan konsumsi sekitar 5,10 juta ton per tahun yang menyebabkan angka produksi dan konsumsi gula menunjukkan kesenjangan tinggi. Hal ini dapat dilihat dari ketergantungan terhadap gula impor masih cukup besar yakni lebih dari 2,5 juta ton per tahun. Peningkatan produksi gula dapat dilakukan dengan dua langkah, pertama penerapan intensifikasi dari seluruh pabrik gula yang telah ada guna peningkatan produktivitas. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan mesin-mesin modern dalam proses pembuatan gula. Penggunaan mesin ini menyebabkan pembuatan gula tidak lagi dilakukan secara tradisional, produksi meningkat dan kualitas semakin baik, tetapi tetap saja produksinya belum memenuhi permitaan pasar dalam negeri. Kedua, ekstensifikasi dengan pembangunan 10-15 pabrik gula baru. Hal ini dilakukan selain untuk meningkatkan produsi gula dalam negeri, tetapi juga untuk meratakan sebaran pabrik gula yang kebanyakan berada di daerah Lampung, Jawa Timur, dan Gorontalo. Masalah yang timbul dalam langkah ini adalah soal-soal administratif seperti penyediaan lahan dan kurangnya lahan. Oleh karena ini, perlu adanya pendesainan tata letak pabrik gula dengan alat modern sehingga penggunaan sumber daya dapat diminimalkan, seperti bahan, tenaga kerja, lahan dan produksi gula dapat dimaksimalkan guna memenuhi kebutuhan gula dalam negeri.

B. Tujuan
a. b. Membuat rancangan pabrik dalam industri gula tebu dan mengetahui proses, serta komponen alat-alat yang berperan di dalamnya. Mengkaji hubungan antar ruang dalam pabrik sehingga aliran bahan, orang dan informasi menjadi lancar.

C. Ruang Lingkup
Makalah ini mencangkup berbagai aspek dalam desain pabrik gula, meliputi : proses pengolahan, mesin yang digunakan, penentuan lokasi pabrik, hubungan keterkaitan antar ruang, layout pabrik, dan kebutuhan luas pabrik. Penentuan lokasi pabrik dikaji berdasarkan faktor penentuan lokasi berdasarkan ketersediaan bahan baku, lokasi pasar, pajak, ketersediaan tenaga kerja, dan lain-lain. Hubungan keterkaitan antara ruang di kaji berdasarkan kelancaran aliran bahan, orang, dan infomasi, minimasi biaya dan resiko kerja. Kebutuhan luas pabrik dikaji berdasarkan kebutuhan mesin, tenaga kerja, kapasitas produksi, dan lain-lain. Asumsi yang digunakan dalam makalah ini adalah pemasangan konveyor termasuk dalam luasan kelonggaran.

BAB II PEMBAHASAN
A. Tebu
Tebu ( Sacharum officinarum L.) merupakan salah satu anggota familia rumput-rumputan. Tanaman perkebunan ini memiliki umur tanam kurang lebih 12 bulan yang kandungan niranya sangat dipengaruhi oleh jenis tanah. Tanaman tebu dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: akar, batang, daun dan bunga. Jenis perakaran tebu adalah serabut yang dibedakan menjadi dua bagia yaitu akar primer dan sekunder. Ruas-ruas pada tebu dapat berbuku ataupun lurus. Bentuk ruas tebu dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu: silider, tong, kelos, konis, konis terbalik dan cembung cekung. Daun tebu terdiri atas dua bagian yaitu helei daun dan pelepah daun. Helai daun berbentuk pita yang panjangnya 1-2 cm, lebar 2-7 cm. Bunga tersusun atas malai yang tersusun setelah pertumbuhan vegatatif. Bunga berkembang pada pagi hari dengan jangka waktu pembungaan pada satu malai berlangsung beragam antara 5 sampai 12 hari. Memiliki tipe bunga sempurna. Tangkai sari dan tepung sari menjurai keluar setelah bunga cukup matang. Kepala putik berambut yang umumnya berwarna keunguan. Buahnya termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satu berukuran kecil memiliki panjang antara 1,0-1,5 mm dan lebar 0,5 mm (Setyamidjaja dan Azharni, 1992). Tanaman tebu tumbuh baik pada daerah tropis dan sub tropis dengan suhu rata-rata tahunan di atas 210C. Curah hujan tahunan yang dikehendaki adalah 1500-2500 mm per tahun dengan penyebaran merata. Kelembaban yang baik bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah 63-85%. Penyinaran matahari penting bagi tanaman tebu untuk pembentukan gula, tercapainya kadar gula yang tinggi pada batang, dan mempercepat proses pemasakan. Menurut Setyamidjaja dan Azharni (1992) kadar sukrosa terrtinggi dapat dicapai pada penyinaran matahari selama 7-9 jam per hari. Ketinggian tempat yang memenuhi syarat pertumbuhan tebu adalah tidak lebih dari 600 dpl maka dari itu di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di dataran rendah. Tebu cocok ditanam pada tanah dengan kisaran pH 5.5-7.0. Pada pH di bawah 5.5 dapat menyebabkan perakaran tanaman tidak dapat menyerap air sedangkan apabila tebu ditanam pada tanah dengan pH di atas 7.0 tanaman akan sering kekurangan unsur P (fosfor) (Sudiatso, 1999). Tanaman tebu selain mengandung gula, juga mengandung berbagai bahan lain. Secara lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Kandungan dalam tebu Bahan Sukrosa Gula Reduksi Serabut (serat) Abu Bahan Organik lain Komposis (%) 8-16 0.5-2 8-16 0,3-0,8 0.5-1

Gula Reduksi Air

0,2-0,5 69-75

Tanaman tebu dapat memiliki berbagai manfaat dan dapat diolah menjadi berbagai produk baik pangan maupun non-pangan. Produk-produk olahan tebu dapat lebih jelas dilihat dalam pohon industri dibawah ini:

Bagan 1. Pohon industri tebu


Utilization as fuel Electricity Charcoal Briquette Methane & Producer gas Pulp Paperboard & cardboard Fiber board Particle board Moulded board Furfural & derivatives Alpha cellulose Carboxymethyl cellulose Xylitol Diacetyl Plastics Ethanol Amonia Poultry litter & mulch Bagasse concrete Soil amendment Animal feed Exportation Fertilizer Dehydrated molasses Animal feed Rum Ethyl alcohol Rectified spirits Anhydrous alcohol Alcohol derivatives Vinegar Acetone-Butanol Citric acid Lactic acid Glycerol Yeast Single cell protein Aconitic acid Monosodium glutamate L-lysine Xanthan gum Itaconic acid Linolenic acid

Fibrous products Bagasse

Flue gases

Cane Tops and Leaves Miscellaneous

Fertilizer Animal feed Wax and fats

Filter mud

Sugar Cane

Sugar

Furnace Ash

Direct utilization

Molasses Protein from cane juice Distilling

Other fermentation industries

Miscellaneous

Sumber : Anonim, 2011

B. Gula
Gula telah banyak dikenal sebagai bahan pemanis alami, baik untuk minuman ataupun makanan dalam kehidupan sehari-hari. Di alam, terdapat berbagai tanaman yang menjadi sumber utama penghasil gula antara lain, tebu, beet dan kelapa aren (enau). Untuk daerah tropis, tanaman penghasil gula yang paling dikenal adalah tebu. Tanaman tebu termasuk jenis rumput-rumputan yang bisa dipanen kurag lebih dari setahun. Di indonesia tebu banyak dibudidayakan dan diolah menjadi gula di pulau Jawa dan Sumatera. Di lingkungan internasional tanaman tebu lebih dikenal dengan nama ilmiahnya Saccharum officinarum L. Secara morfologi tanam tebu dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu batang, daun, akar dan bunga. Tanaman tebu mengandung hidrokarbon karena proses fotosintesis yang terjadi dalam tanaman. Karbohidrat-karbohidrat ini terdiri dari monosakarida (glukosa, fruktosa), disakarida (sukrosa), dan polisakarida (selulosa).

Pembuatan gula dari tebu merupakan proses pemisahan sukrosa yang terdapat dalam batang tebu dan zat-zat lain seperti air, zat organik, dan sabut. Dalam proses pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dikristaliasi dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90%, dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi. Gula pasir adalah gula yang diperoleh dari batang tebu, warnanya putih dan butiran kasar. Gula pasir yang berwarna kecoklatan dikenal dengan istilah demarara banyak digunakan untuk cake buah. Gula pasir dengan butiran halus dikenal dengan granulated sugar, biasanya digunakan dalam masakan dan kue. Gula pasir dengan butiran sangat halus sering disebut dengan caster sugar, biasa digunakan untuk kue yang dipanggang.

C. Proses Pembuatan Gula Tebu


Bagan 2. Proses pembuatan gula tebu

a.

Ekstrasi

Tahap pertama pembuatan gula tebu adalah ekstrasi jus atau sari tebu. Dalam tahap ini batang tebu diproses pada penggilingan yang sangat besar untuk mengekstrasi cairan manis yang terdapat di dalamnya, sehingga terpisah antara antara ampas tebu dengan cairannya. Cairan tebu kemudian dipanaskan dengan boiler. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor karena adanya sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun dan kulit tanaman. Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar 50% air serta pasir dan batubatu kecil dari lahan yang terhitung sebagai abu. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap 100 ton tebu atau 10 ton gula.

Gambar 1. Proses penggilingan tebu b. Pengendap Kotoran dangan Kapur (Liming) Pada proses ini jus tebu dibersihkan dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran yang sebelumnya jus hasil ekstraksi dipanaskan untuk mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki pengendap gravitasi: sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih. Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis. Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses. Dalam proses ini dilakukan juga proses pemurnian gula. Proses ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu proses defeksi, proses sulfitasi, dan proses karbonat. Proses defeksi yaitu cara pemurnian yang paling sederhana, bahan pembantu hanya berupa kapur tohor. Kapur tohor hanya digunakan untuk menetralkan asam-asam yang terdapat dalam nira. Nira yang telah diperoleh dari mesin penggiling diberi kapur sampai diperoleh harga pH sedikit alkalis (pH 7,2). Nira yang telah diberi kapur kemudian dipanaskan sampai mendidih. Endapan yang terjadi dipisahkan. Proses sulfitasi yaitu proses pemberian kapur berlebih. Kelebihan kapur ini dinetralkan kembali dengan gas sulfite. Penambahan gas SO2 menyebabkan SO2 bergabung dengan CaO membentuk CaSO3 yang mengendap. SO2 memperlambat reaksi antara asam amino dan gula reduksi yang dapat mengakibatkan terbentuknya zat warna gelap. SO 2 dalam larutan asam dapat mereduksi ion ferrri sehingga menurunkan efek oksidasi. Proses karbonat, Cara ini merupakan yang paling baik disbanding dengan kedua cara diatas. Sebagai bahan pembantu untuk pemurnian nira adalah susu kapus dan gas CO 2. Pemberian susu kapur berlebihan kemudian ditambah gas CO2 yang berguna utnuk menetralkan kelebihan susu sehingga kotoran-kotoran yang terdapat dalam nira akan diikat. Evaporasi Proses selanjutnya, setelah nira tebu telah melalui proses pemurnian adalah proses penguapan atau evaporasi untuk menghilangkan kadar air yang terdapat pada nira hasil pemurnian. Penguapan adalah suatu proses menghilangkan zat pelarut dari dalam larutan dengan menggunakan panas. Zat pelarut dalam proses penguapan nira adalah air. Akibat penguapan, nira yang terbentuk akan menjadi kental. Sumber panas yang digunakan adalah uap panas. Sistem penguapan yang dipakai perusahaan gula adalah penguapan efek banyak. Nira yang sudah jernih mengandung sekitar 15% gula tetapi cairan (liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi) memiliki kandungan gula hingga 80%.. Evaporasi dilakukan dalam evaporator majemuk dengan menggunakan cara steam. Hasil dari proses evaporasi adalah sirup gula yang mendekati kejenuhan.

c.

d.

Pendidihan/Kristalisasi Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam wadah yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam wadah ini air diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai. Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan. Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali. Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak mungkin lagi dilanjutkan. Ekstrak jusa yang tidak dapat mencapai 100% menyebabkan terbentuknya produk samping (byproduct) yang manis yaitu molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol (etanol) . Belakangan ini molases dari tebu di olah menjadi bahan energi alternatif dengan meningkatkan kandungan etanol sampai 99,5%.

PETA ALIRAN PROSES


KEGIATAN RINGKASAN SEKARAN USULAN G JM WK JM WK L T L T 9 2 6 TRANSPORTASI MENUNGGU PENYIMPANAN
WAKTU (menit)

BEDA JM L WK T PEKERJAAN : PEMBUATAN GULA KRISTAL NOMOR PETA: ORANG SEKARANG BAHAN USULAN

OPERASI PEMERIKSAAN

130 40 25

DIPETAKAN OLEH: KELOMPOK 9 TANGGAL DIPETAKAN: 6 OKTOBER 2012 LAMBANG ANALISA


CATATAN

JARAK TOTAL (meter)

JARAK (meter)

JUMLAH (Kg)

TINDAKAN
UBAH PERBAIKI GABUNG URUTAN TEMPAT RUANG ORANG

DIMANA

KAPAN

URAIAN KEGIATAN

Pengangkutan bahan baku dari gudang ke ruang produksi Sortasi bahan baku di ruang penanganan awal Pemindahan ke ruang penggilingan Penggilingan Pemindahan cairan tebu ke ruang pemurnian Pengendapan(pemurnian)

1 0

2 5 2 5

5 1 5 5 1 0

1 0

1 0

5 1 5 1 5 1 0

Evaporasi Penguapan kembali Pemindahan ke ruang pemasakan Pencampuran nira dengan sejumlah Kristal Pemisahan Kristal campur dengan larutan induk Pengeringan dengan steam Pemindahan ke ruang pengemasan Pengemasan dan pemeriksaan
1 0

1 0

1 0 1 0 1 5 5

3 0

SIAPA

APA

Penyimpanan

DIAGRAM ALIRAN Pekerjaan Nomor Peta Sekarang Dipetakan Oleh Tanggal Dipetakan : Aliran pembuatan gula Kristal : Usulan : Kelompok 9 : 6 Oktober 2012

D. Pemilihan Lokasi Industri


Pabrik gula merupakan salah satu pabrik hasil olahan bahan baku pertanian yang telah memiliki nilai tambah dan telah dapat digunakan. Pabrik gula merupakan satu dari banyaknya pabrik produksi skala besar dimana dalam pembuatan gula dibutuhkan bahan baku yaitu tebu dan proses pengolahan

dengan menggunakan mesin-mesin besar agar didapat produksi gula yang memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam pendirian pabrik gula ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi pabrik yang juga akan mempengaruhi biaya produksi dan kelancaran dalam memproduksi produk. Dalam pelaksanaannya, industri membutuhkan fasilitas fisik, bangunan, instalasi permesinan, perlengkapan dan faktor lingkungan kerja. Dari seluruh fasilitas fisik tersebut, lokasi merupakan faktor penentu sebelum kegiatan industri berlangsung. Penentuan lokasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor kritis, faktor objektif dan faktor subjektif : FAKTOR KRITIS :

1.

Ketersediaan Bahan Baku Bahan baku pada umumnya merupakan barang yang mudah rusak seperti halnya tebu. Untuk itu, bahan baku harus segera diolah agar tidak meningkatkan biaya produksi yang dikeluarkan akibat bahan yang diproduksi tidak sebanding dengan kapasitas produksi pabrik. Dengan kata lain bahwa bahan baku yang ada lebih kecil dibandingkan kapasitas produksi pabrik tersebut disebabkan oleh bahan baku yang telah rusak sehingga jumlahnya akan semakin berkurang. Lokasi bahan baku yang dekat dengan pabrik juga akan memperkecil biaya transpotasi atau pengangkutan bahan. Selain itu, lokasi pabrik yang dekat dengan bahan baku akan memperkecil biaya penangan terhadap bahan baku, karena bahan baku tidak perlu dtangani dengan penangan ekstra sehingga dapat langsung diproses untuk memproduksi produk. Pembuangan limbah Pabrik-pabrik yang melakukan proses produksi pada umumnya akan mengeluarkan limbah yang merupakan sisa dari proses produksi yang telah dilakukan. Limbah untuk setiap industri berbeda, terdapat limbah yang jika dibuang kelingkungan begitu saja dia akan merusak lingkungan sehingga diperlukan penanganan terlebih dahulu, namun juga terdapat limbah yang aman bagi lingkungan. Oleh karena itu, dalam pendirian pabrik perlu diperhatikan tempat pembuangan limbahnya agar tidak merusak lingkungan dan juga menjadi sumber wabah penyakit bagi penduduk sekitarnya. Pada pabrik gula tempat limbah harus berada di dekat pabrik dimana limbah tersebut juga dapat diolah dengan baik dan tidak mencemari lingkungan. Namun, pada umumnya kolam limbah pabrik makanan atau sejenisnya dapat menadi tempat hidup baru bagi ikan-ikan karena tidak mengandung senyawa kimia berat yang dapat mematikan ikan-ikan tersebut. Selain itu, lokasi penanganan limbah juga harus diperhatikan dimana penanganan limbah umumnya berda dibelakang pabrik sehingga tidak mengganggu aktivitas transportasi dan juga pendistribusian produk serta bahan bakunya.

2.

FAKTOR OBYEKTIF

1.

Ketersediaan Infrastruktur Pabrik gula memerlukan infrastruktur yang baik untuk melakukan proses produksi gula. Infrastruktu dalam hal ini adalah ketersediaan sumber energi berupa listrik, ketrsediaan air, dan bahan bakar. Pada umumnya penggunaan mesin pembangkit atau sumber energi ini akan

menjaga stabilitas mesin yanga ada. Dapt diketahui boiler merupakan salah satu sumber tenaga dari mesin yang ada dan sangat dibutuhkan, oleh karena itu, agar proses produki berjalan denan lancar, boiler ini membutuhkan air yang cukup agar dapat terus beroperasi. Umumnya pabrik yang telah memproduksi gula skala besar akan memproduksi selama 24 jam sehari yang berarti sumber energi yang dibuthkan juga akan semakin berlimpah. Selain itu, infrastruktur yang dibutuhkan adalah jalan yang baik untuk memudahkan kelancaran transportasi ke pabrik baik dalam pendistribusian bahan bakar maupun dan pendistribusian produk serta bahan baku. 2. Lokasi Pasar Proses produksi gula juga membutuhkan beberapa bahan tambahan lainnya yang umumnya dapat diperoleh dipasar. Semakin dekat lokasi pasar dengan pabrik gula juga akan melancarkan baik dalam produksi gula maupun dalam pendistribusian produk. Lokasi pasar yang dekat sangat mempengaruhi dalam pemsaran produk, dimana produk akan lebih mudah dipasarkan juga memperkecil biaya transportasi yang dikeluarkan. Selain itu juga akan mempermudah dalam mebdapatkan gula baik bagi konsumen maupun bagi industri-industri lain yang membuthkan gula sebagai salah satu bahan tambahannya. Dengan ini, dapat diketahui lokasi pasar juga berperan penting dalam penentuan lokasi dari pabrik. Pajak, regulasi dan administrasi Pendirian pabrik membutuhkan keabsahan dari pemerintah setempat dimana dalam pendiriannya harus diperhatikan proses administrasi yang ada didaerah setempat. Hal ini dilakukan untuk melindungi pabrik dan juga memudahkan dalam akses distribusi dan penggunaan fasilitas yanga ada. Sebagai warga negara yang baik, sebuah industri juga wajib untuk membayarkan pajakke negara sebagai salah satu bentuk pengabdian dari industri tersebut. Selain itu, juga akan meningkatkan jumlah investor dari dalam maupun luar daerah. Untuk itu, kelengkapan administrasi sangat perlu diperhatikan dimana kelegkapan ini akan menjadi penunjang untuk kelengkapan fasilitas yang didapat baik dari fasilitas fisik maupun non-fisik Ketersediaan tenaga kerja Lokasi pabrik pada umumnya akan berada disekitar pemukiman dimana juga akan menyerap tenaga kerja dari daerah tersebut, namun terdapat beberapa kendala dimana akan mininya tenaga ahli karena penduduk didaerah sekita masih kurang dan minim pengetahuan akan produksi gula skala besar. Oleh karena itu, tenaga ahli dapat didatangkan dari luar daerah atau lokasi pabrik yang diletakkan tidak didaerah terpencil agar akses ke pabrik juga lebih mudah. Pendirian pabrik akan semakin melatih warga sekitar untuk berkembang dan kemudian dapat dilatih agar tenaga kerja yang ada dapat menjalankan pekerjaan sesuai standar operasional dan mendapatkan tenaga ahli baru yang dapat membantu dalam proses produksi dan peningkatan produk.

3.

4.

FAKTOR SUBYEKIF

1.

Komunitas Kesamaan antara tenaga kerja, fasilitas, keadaan iklim dan juga ketersediaan sumber daya alam sangat dibutuhkan. Dimana dengan adanya kesamaan maka akan terciptanya

keseimbangan didalam pabrik dimana setiap fasilitas, tenaga kerja dan sumber daya akan saling melengkapi untuk mendapatkan produksi produk yang sesuai dengan harapan yang ada. Selain itu, kesamaan visi dan misi tenaga kerja dapan membangun team work yang baik didalam sebuah industri agar dapat semakin berkembang

2.

Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Salah satu faktor penting dalam penentuan lokasi pabrik adalah melihat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Kondisi sosial penting untuk diperhatikan karena akan lebih mudah untuk masuk kemasyarakat dan jika terjadi masalah akibat limbah atau hal lainyya yang berasal dari pabrik maka proses mediasi dan perundingan dengan masyarakat juga akan semakin mudah. Keadaan ekonomi masyarakat perlu diperhatikan hal ini bermanfaat untuk membantu dalam proses pemasran produk dan juga biaya operasional yang akan dikeluarkan oleh pabrik sehingga dalam prosesnya juga akan mempermudah pabrik dalam pendistribusian dan pengangkutan bahan serta produknya. Keadaan alam Kondisi alam yang dimaksudkan adalah keadaan iklim, cuaca dan geografis lokasi pembangunan pabrik. Kondisi alam dapat menjadi faktor penghambat dan juga faktor pendukung untuk pabrik tersebut, salah satunya jika kondisi alam yaitu iklim didaerah tersebut panas, maka untuk memperoleh air bagi pabrik juga akan semakin sulit, namun jika curah hujan baik, maka akan memperlancar dalam proses produksinya. Selain itu, keadaan topografi tanah juga perlu diperhatikan karena hal ini dapat membantu dalam pertumbuhan bahan baku yang baik.

3.

Penetapan lokasi bagi industri gula ini didasarkan atas penetapan dan perhitungan dengan Brown and Gibson. Terdapat tiga pilihan lokasi untuk industri ini yaitu lampung, jawa timur dan jawa tengah. Perhitungan dengan metode Brown and Gibson akan menentukan lokasi mana yang terbaik yang dapat dijadikan lokasi untuk industri gula tebu ini. a. Evaluasi Faktor kritis Pada daerah lampung, ketersediaan bahan baku sangat banyak dimana terdapat perkebunan tebu terbesar begitu pula dengan daerah jawa timur dan jawa tengah terdapat perkebunan tebu yang dapat mendorong aktivitas produksi Selain itu, juga terdapat faktor kritis lainnya yaitu pembuangan limbah. Pembuangan limbah harus diperhatikan karena pengelolaan pembuangan limbah yang buruk akan mempengaruhi lingkungan industri tersebut dan akan memepengaruhi kegiatan produksinya, untuk pembuangan limbah, disemua lokasi yang ada hal ini merupakan yang paling penting. FAKTOR KRITIS Ketersediaan bahan baku Pembuangan Limbah UFK Lampung 1 1 1 Jawa Timur 1 1 1 Jawa Tengah 1 1 1

b.

Evaluasi Faktor Objektif Faktor objektif dihitung berdasarkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam kegiatan produksi atau dalam menunjang kegiatan lainnya. Lokasi Ketersediaan Infrastruktur Lokasi Pasar Ketersediaan tenaga Kerja Pajak, regulasi dan administrasi 7.500.000 7.000.000 7.000.000

Lampung Jawa Timur Jawa Tengah

12.000.000 10.000.000 10.000.000

7.500.000 6.000.000 7.500.000

15.000.000 20.000.000 18.000.000

Lokasi Lampung Jawa timur Jawa Tengah Total

TBFO 42.000.000 43.000.000 42.500.000

1/TBFO 2.381 x 10-8 2.325 x 10-8 2.353 x 10-8 7.059 x 10-8

TBFO x 1/TBFO 2.965 3.035 3.000

UFO 0.337 0.330 0.333 1

c.

Evaluasi Faktor Subjektif Faktor subjektif yang dilihat adalah komunitas, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dan kondisi alam. Faktor komunitas sama pentingnya dengan keadaan alam namun, tidak lebih penting dari faktor lainnya. Faktor sosial dan ekonomi masyarakat sangat penting dari faktor komunitas dan keadaan alam. Dan faktor keadaan alam tidak terlalu penting untuk diperhatikan. Faktor Komunitas 0 FAKTOR SUBJEKTIF 0 1 1 TOTAL PFS 1 0.25 2 0.5 1 1 0 1 0.25 Faktor sosial dan ekonomi masyarakat Faktor keadaan alam

Selain melihat secara keseluruhan pentinya faktor tersebut, juga dilihat dari tingkat kemudahan pemenuhan dari tiap lokasi. Pada daerah lampung, Faktor sosial dan ekonomi masyarakat lebih baik dibandingkan dengan dua lokasi lainnya dan faktor komunitasnya sama baiknya dengan daerah jawa tengah, namun faktor lainnya kurang baik. Pada daerah jawa timur keadaan alam

jauh lebih baik daripada lampung namun sama baiknya dengan jawa tengah dan faktor komunitas lebih baik dari pada dua daerah lainnya. Untuk jawa serta keadaan alam dan sosial ekonomi sama baiknya dengan jawa timur. Namun faktor komunitasnya jauh lebih buruk dari jawa timur dan sama dengan lampung. Lampung 0 FAKTOR KOMUNITAS 1 1 Total PFS 1 0.25 2 0.5 Jawa Timur 1 1 0 1 0.25 Jawa Tengah

Lampung FAKTOR SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT 1 1

Jawa Timur 0

Jawa Tengah

0 1 1 1 0.25

Total PFS

2 0.5

1 0.25

Lampung 0 FAKTOR KEADAAN ALAM 0

Jawa Timur 1

Jawa Tengah

1 1 0 2 0.5

Total PFS

0 0

2 0.5

Perhitungan faktor subjektif FAKTOR Lampung SUBJEKTIF Faktor komunitas 0.25 Faktor sosial dan ekonomi masyarakat Faktor keadaan alam 0.5

Jawa Timur 0.5 0.25

Jawa Tengah 0.25 0.25

PFS umum 0.25 0. 5

0.5

0.5

0. 25

UFS

0.313

0.375

0.313

Diketahui bahwa faktor objektif 2 kali lebih penting dibandingkan faktor objeltif X = 2/3 = 0.67 LOKASI Lampung Jawa Timur Jawa Tengah UFK 1 1 1 UFO 0.337 0.330 0.333 UFS 0.313 0.375 0.313 X 0.67 0.67 0.67 1-X 0.33 0.33 0.33 UL 0.329 0.345 0.326

Berdasarkan perhitungan tersebut didapat bahwa lokasi yang paling baik adalah di jawa timur.

E. Diagram Keterkaitan Aktivitas


Didalam suatu industri, terdapat sejumlah kegiatan atau aktivitas yang menunjang jalannya industri tersebut. Pada pabrik gula misalnya. Terdapat tahapan proses dalam memproduksi gula. Setiap tahapan proses produksi menjadi menjadi acuan dalam menentukan departemen. Penentuan departemen ini nantinya akan digunakan dalam menuyusun tingkat keterkaitan antar departemen sehingga dapat dijadikan acuan ketika menyusun tata letak ruang pada pabrik. Tidak hanya tahapan proses pembuatan gula, namun setiap aktivitas yang terkait dan berpengaruh dalam produksi gula juga dilihat keterkaitannya. Setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan atau berinteraksi antara satu dengan lainnya dan yang paling penting diketahui adalah bahwa setiap kegiatan tersebut tentunya memiliki tempat atau ruang pelaksanaannya. Penilainan terhadap tingkat keterkaitan antar aktivitas inilah yang diperlukan dalam menyusun ruang pelaksanaan aktivitas untuk memperoleh tata letak ruang yang efektif dan efisien terhadap proses produksinya sendiri. Untuk mengetahui keterkaitan antar aktivitas dapat ditentukan melalui diagram keterkaitan aktivitas. Diagram keterkaitan aktivitas adalah diagram yang menggambarkan secara kualitatif besarnya aliran (flow) antara departemen yang terkait. Flow atau aliran yang dimaksud dapat berupa informasi, manusia, peralatan, atau uang (modal). Hasil yang diperoleh digunakan sebagai input untuk menentukan tata letak departemen dan fasilitas. Diagram keterkaitan aktivitas ini menggunakan skala prioritas untuk mengukur flow antar departemen secara kualitatif menurut kriteria tertentu dan sebagai landasan bagi penyusunan tata letak ruang pada pabrik. Berikut adalah kriteria yang dapat digunakan untuk melakukan analisa keterkaitan antar aktivitas: 1. Hubungan antar aktivitas atau departemen dapat ditunjukkan dengan tingkat kepentingan hubungan antar aktivitas atau departemen tersebut, yang dikonversikan dalam bentuk simbol (huruf). Dibawah ini adalah ketentuan simbol untuk keterkaitan antar aktivitas: Simbol A E I Keterangan Absolutely necessary Especially important Important

O U X 2.

Ordinary closeness Unimportant Undesirable

Dalam penyusunan diagram keterkaitan aktivitas, perlu ditentukan alasan yang mendukung setiap keterkaitannya (Apple, 1977).

Berdasarkan tahapan proses produksi gula serta memperhatikan kegiatan penunjang atau terkait terhadap proses produksi, diperoleh beberapa departemen, yaitu : 1. Kantor bagian operasi 7. Ruang kristalisasi dan sentrifugasi 2. 3. 4. 5. 6. Tempat loading bahan baku Tempat loading bahan jadi Gudang bahan jadi Ruang pengepresan tebu Ruang penjernihan nira, evaporasi dan penguapan air 8. 9. 10. 11. 12. Sumber air Tempat pembuangan limbah Ruang pengeringan kristal Ruang pengemasan Kamar mandi (toilet)

Semua departemen yang ada kemudian dianalisis tingkat keterkaitannya. Tingkat keterkaitan ini disimbolkan dengan huruf seperti yang telah dijabarkan sebelumnya. Keseluruhan tingkat keterkaitan dianalisis secara kualitatif dengan alas an sebagai berikut.

Keterkaitan 1 dan 2 X

Alasan keterkaitan suara bising, terdapat bahan bahan kasar, polusi udara dari mesin dapat mengganggu kinerja bagian kantor operasi penting karena dalam prosesnya memerlukan koordinasi antara bagian operasi akan proses yang baik dalam loading bahan jadi tidak penting dan tidak boleh berdekatan karena dapat mengganggu aktivitas dari kantor saat proses pengpresan tebu terdapat beberapa kegiatan mesin dalam memproses tebu dan menimbulkan suara bising sehingga jika ruangannya berdekatan dengan kantor, dapat mengganggu aktivitas yang terjadi dikantor dapat mengganggu aktivitas dalam kantor karena suara bising dan polusi udara

1 dan 3

1 dan 4

1 dan 5

1 dan 6

1 dan 7

dapat mengganggu aktivitas dalam kantor karena suara bising dan polusi udara tidak terlalu dibutuhkan, boleh berdekatan boleh tidak karena bau limbah di pembuangan limbah bisa mengganggu pekerja di kantor bagian operasi kedua ruangan ini harus diletakkan mencegah adanya kebisingan berjauhan untuk

1 dan 8 1 dan 9

U X

1 dan 10

1 dan 11

kedua ruangan ini harus diletakkan berjauhan untuk mencegah adanya kebisingan sangat penting karena toilet sangat dibutuhkan oleh pekerja dibagian kantor dari suatu perusahaan, sehingga harus diletakkan berdekatan menghindari kontaminasi dari bahan awal, menghindari tabrakan aliran, agar tidak terjadi pencampuran data menghindari kontaminasi dari bahan awal, menghindari tabrakan aliran, tidak terjadi pencampuran data memperpendek jarak aliran, informasi dan pendataan mudah, pengontrolan mudah dilakukan, gerakan pekerja minimal tidak perlu dijauhkan karena tidak terganggu saat loading bahan baku, pengecekan mudah dilakukan tidak berhubungan langsung dengan bahan baku, tidak ada aliran informasi yang diperlukan dan tidak ada aliran pekerja yang berkaitan memperpendek jarak suplai air bersih untuk mencuci bahan baku, mempermudah pengecekan jika terjadi kejadian suplai air tidak terpenuhi menghindari kontaminasi cemaran, menghindari bau yang tidak enak tercampur, juga membuat nyaman pegawai agar gula kering tidak terkena air pencucian atau uapnya, menghindari kontraminasi fisik dari bahan baku, aliraninformasi atau pegawai tidak diperlukan menghindari kontaminasi yang masuk dalam kemasan, menghindari kebisingan yang terjadi yang dirasakan pegawai, aliran informasi dan pegawai tidak ada

1 dan 12

2 dan 3

2 dan 4

2 dan 5

2 dan 6

2 dan 7

2 dan 8

2 dan 9

2 dan 10

2 dan 11

2 dan 12

menghindari kontaminasi yang masuk dalam kemasan, menghindari kebisingan yang terjadi yang dirasakan pegawai, aliran informasi dan pegawai tidak ada sebagai tempat penyimpanan dan memperlancar aliran bahan, sehingga penting untuk berdekatan tidak berdekatan darena ruang pengepresan akan menghasilkan limah yang dapat mengkontaminasi bahan jadi tidak memiliki keterkaitan dalam prosesnya, sehingga tidak boleh berdekatan dan ruang evaporasi bersuhu tinggi akan merusak bahan jadi dalam proses kristalisasi menggunakan bahan kimia yang tidak baik jika tercampur dengan bahan jadi penting, karena ketersediaan air dalam prosesnya membutuhkan

3 dan 4

3 dan 5

3 dan 6

3 dan 7

3 dan 8

3 dan 9

karena limbah mengandung zat-zat berbahaya tercampur dengan bahan jadi akan merusak bahan

jika

3 dan 10

tidak boleh berkaitan karena dalam prosesnya pengeringan akan menghasilkan limbah yang dapat masuk ke bahan jadi tidak memiliki keterkaiatan dengan proses loading bahan jadi tidak penting, hanya diperlukan oleh pekerja dihindari untuk berdekatan karena untuk mempermudah aliran bahan, antara kedua ruang ini tidak memiliki hubungan sama sekal, sisa-sisa ampas akan mengotori dan tempat bias lembab. hubungan yang biasa-biasa saja, bias ditaruh berdekatan atau berjauhan tidak member efek berarti. Ruanga n yang digunakan merupakan dua jenis ruangan yang berbeda, hasil dari penjernihan nira harus mengalami beberapa proses lagi sampai akhirnya menjadi gula jadi memiliki hubungan yang biasa-biasa saja, tidak ada keterkaitan khusus ruang gudang jadi tidak begitu membutuhkan supplai air bersih, walaupun diperlukan mungkin untuk kebutuhan pegawai

3 dan 11

3 dan 12 4 dan 5

U X

4 dan 6

4 dan 7

4 dan 8

4 dan 9

ruang gudang bahan jadi menghasilkan sedikit bahkan tidak sama sekali limbah, jadi tidak ada hubungan dengan tempat pembuangan limbah. Demi masalah kebersihan pula, memang sangat dianjurkan ruang bahan jadi tidak dekat dengan tempat kotor dan sumber kontaminasi seperti limbah kedua ruang ini bisa diletakkan berjauhan ataupun berdekatan. Setelah pengeringan akhir ini, gula masih harus mengalami proses terkahir yaitu pengemasan. Data yang didapat diruangan ini akan dilanjutkan ke ruangan pengemasan dan penyimpanan kedua ruang ini harus diletakkan secara berdekatan untuk mempermudah laju aliran bahan. Selain itu juga data yang didapat dari ruang pengemasan akan digunakan sebagai informasi di gudang penyimpanan bahan jadi sehingga peletakan yang berdekatan akan membuat lagu informasi dan aliran bahan lancar ruangan ini tidak diperbolehkan untuk saling berdekatan karena kamar mandi merupakan tempat yang kotor dan lembab yang dapat mengontaminasi gudang bahan jadi dengan bakteri atau bau-bau tidak sedap. harus saling berdekatan dengan ruang penjernihan nira, hal ini disebabkan oleh proses pengolahan yang mempengaruhi dimana setelah didapatkan nira dari hasil pengepresan akan dilanjutkan ke proses penjernihan tidak berkaitan khusus dan dapat berdekatan harus berdekatan dengan suber air karena dalam prosesnya membutuhkan air terkait dengan ruang pengpresan tebu karena ruang pengepresan akan menghasilkan ampas yang dapat mengkontaminasi saat pengkristalan selain itu, sisa ampas dapat masuk kedalam gula kristal tidak penting karena tidak berkaitan dengan proses pengepresan tidak penting karena tidak berkaitan dengan proses pengepresan kristalisasi dan sentrifugasi merupakan tahap lanjutan dari proses penjernihan nira, evaporasi, dan penguapan air, sehingga antar ruang harus saling bersebelahan agar

4 dan 10

4 dan 11

4 dan 12

5 dan 6

5 dan 7 5 dan 8

I E

5 dan 9 5 dan 10

X X

5 dan 11

5 dan 12

6 dan 7

mengefisienkan waktu dan jarak perpindahan bahan 6 dan 8 I penjernihan nira, evaporasi, dan penguapan air tentunya membutuhkan air sebagai pendukung utama dalam prosesnya sehingga letaknya harus berdekatan dengan sumber air tempat pembuangan limbah seharusnya tidak berdekatan dengan ruang produksi untuk menghindari pencemaran yang tidak diinginkan poses pengeringan dan penjernihan nira tidak berkaitan secara langsung (tidak berurutan), sehingga letak ruang nya juga tidak harus saling berdekatan pengemasan dan penjernihan nira tidak berkaitan secara langsung, namun tidak harus saling berjauhan (boleh berdekatan) toilet dan ruang penjernihan nira seharusnya tidak berdekatan karena tidak memiliki kaitan sama sekali dalam proses produksi tidak terlalu penting karena kristalisasi tidak memerlukan air, bahkan menghilangkan air dari bahan tidak saling berhubungan menghasilkan limbah karena kristalisasi tidak

6 dan 9

6 dan 10

6 dan 11

6 dan 12

7 dan 8

7 dan 9

7 dan 10

tidak ada hubungannya karena masih ada beberapa proses yang harus dilalui setelah kristalisasi dan sentrifugasi produk dari proses kristalisasi dan sentrifugasi belum menghasilkan produk akhir harus berdekatan karena bisa saja operator tiba-tiba ingin membuang hajat ke toilet menghindari terjadinya cemaran pada air bersih

7 dan 11

7 dan 12

8 dan 9

8 dan 10

agar kelembaban yang ditimbulkan sumber air tidak membuat gula basah; agar lingkungan kering tecapai tidak ada aliran proses yang berkaitan memudahkan aliran pegawai. dalam proses pengkristalan akhir juga termasuk kedalam proses yang penting, dan langsung bersentuhan dengan

8 dan 11 8 dan 12 9 dan 10

I I X

produk atau bahan, jadi tidak boleh dekat dengan limbahnya. 9 dan 11 X karena dengan ruang pengemasan juga tidak baik dekat dengan limbah, karena mengganggu para pekerjanya. karena toilet tidak ada kaitannya dengan pembuangan limbah, malah membuat tidak nyaman bila toilet dekat dengan pembuangan limbah. karena dengan ruang pengemasan juga tidak baik dekat dengan limbah, karena mengganggu para pekerjanya. karena toilet tidak ada kaitannya dengan pembuangan limbah, malah membuat tidak nyaman bila toilet dekat dengan pembuangan limbah. karena toilet tidak ada kaitannya dengan pembuangan limbah, malah membuat tidak nyaman bila toilet dekat dengan pembuangan limbah.

9 dan 12

10 dan 11

10 dan 12

11 dan 12

Keterangan : Ruang 1 Ruang 2 Ruang 3 Ruang 4 Ruang 5 Ruang 6 Ruang 7 Ruang 8 Ruang 9 Ruang 10 Ruang 11 Ruang 12 Kantor bagian operasi Tempat loading bahan baku Tempat loading bahan jadi Gudang bahan jadi Ruang pengepresan tebu Ruang penjernihan nira, evaporasi, dan penguapan air Ruang sentrifugasi dan kristalisasi Sumber air Tempat pengolahan limbah Ruang pengeringan kristal gula Ruang pengemasan Kamar mandi (toilet)

Keterkaitan antar departemen dalam proses produksi gula dapat dituangkan dalam diagram keterkaitan seperti dibawah ini.

Setelah menentukan tingkat hubungan antar departemen seperti yang tergambar pada diagram diatas, maka dapat dihitung Total Closeness Rating (TCR) pada masing-masing departemen. TCR adalah jumlah dari nilai numeric yang mewakili tia-tiap derajat kedekatan (A=6, E=5, I=4, O=3, U=2, X=1) antara satu departemen dengan departemen lainnya. (Anonim, 2011). TCR ini dapat digunakan dalam menentukan skala prioritas antar departemen yang terlebih dahulu dimasukkan kedalam penyusunan layout (tata letak) pabrik. TCR dengan nilai paling tinggi dapat diartikan menjadi pusat produksi dan paling berpengaruh terhadap departemen lainnya dalam pelaksanaan proses produksi. Perhitungan TCR dilakukan menggunakan closeness rating tiap simbol keterkaitan Closeness Rating : A=6, E=5, I=4, O=3, U=2, X=1

Ruang 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Score 9 1 27 9 81 9 3 1 1 81 81 9 1 81 3 3 3 3 81 9 3 27 9 27 1 1 3 3 9 81 9 1 3 1 27 9 9 3 27 9 3 9 3 9 9 3 1 9 3 81 1 3 3 9 81 27 1 1 1 1 9 3 -

Total 37 121 100 91 174 77 109 65 18 16 178 42

Rangking 178 174 121 109 100 91 77 65 42 37 18 16

Keterangan :

TCRi

j 1, j i

V r
M ij

r ij : hubungan Pusat Aktifitas ke-i dan ke-j. V (r ij ) : suatu fungsi nilai yang ditetapkan untuk r ij , misalkan:

V (rij = A) = 34 = 81 V (rij = E) = 33 = 27

V (rij = I) = 32 = 9 V (rij = O) = 31 = 3

V (rij = U) = 30 = 1 V (rij = X) = - 243.

Berdasarkan perhitungan Total Closeness Rating yang diperoleh, didapatkan bahwa ruang pengemasan memiliki nilai closeness rating tertinggi. Hal ini menandakan bahwa ruang pengemasan menjadi pusat aktivitas dan merupakan departemen yang menjadi acuan dalam menyusun layout pabrik yang dibuat. Berdasarkan pertimbangan nilai total closeness rating, dapat dibentuk susunan tata letak ruang sebagai berikut.
Gerbang Keluar

10

11

12

Gerbang Masuk

F. Alokasi Area
a. Penentuan Luas Ruang. Penyusunan luas ruang yang dibutuhkan pabrik gula ini, didasarkan pada aliran proses yang dijalankan dan juga mesin mesin yang terlibat dalam prosesnya. Operator yang menangani tiap proses juga diperhitungkan dalam menentukan luas ruang tiap departemen. Alat penanganan bahan juga menjadi salah satu aspek dalam pengukuran luas ruangan yang dibutuhkan. Dalam sebuah pabrik, luas ruang yang telah dihitung juga membutuhkan faktor kelonggaran yang dijadikan sebagai deviasi dalam menentukan luas ruang. Artinya adalah luasan yang didapat dari perhitungan juga dipertimbangkan untuk lorong, jalur pegawai, faktor kenyamanan pegawai dan juga

standar yang telah ditetapkan bagian yang berewenang (missal : kebijakan pemerintah) sehingga luasan yang didapat ditambahkan dengan Allowance sebesar 150%. Dari alur proses pengolahan tebu menjadi gula, telah ditetapkan luasan ruangan berdasarkan kebutuhan mesin, pegawai, alat penanganan bahan, dan peralatan tambahan serta allowance yang diperhitungkan sebagai berikut. (Tabel kebutuhan luas ruang dan digram keterkaitan aktivitas antar ruang dilampirkan). Untuk penentun luas gudang, diperhitungakn dari kapasitas mesin produksi yang dimiliki dan juga penyesuaian dengan kotak pengemasan yang digunakan.Perhitungannya adalah sebagai berikut : Target produksi 17280 kg/hari dengan ukuran kardus pengemas 80 x 25 x 30 cm dan gula akan dibungkus ukuran 1 kg, maka, 1 kardus = 6x8 bungkus = 48 bungkus = 48 kg 1 pallet = 36 kardus = 36x48 = 1728 kg Target produksi 17280 kg/hari, maka : Dibutuhkan 10 pallet dari 1,2x1 m, maka luasan 10 pallet = 10 x 1,2 m = 12 m2 Lorong untuk forklift = 1,5x11 = 16,5 m2 , Allowance = 150% Total luas gudang = 16,5+12 = 28,5 m2x1,5 = 42,75 m2 b. Denah Lokasi

Hasil penentuan luas ruang yang telah diperhitungkan, kemudian dapat digambarkan kedalam sebuah denah, untuk keperluan para pekerja konstruksi dalam membangun pabrik gula ini. Proses penggambaran denah, dapat dilakukan pada kertas grafik atau dengan menggunakan program seperti Corel Draw atau pun AutoCAD. Denah awal yang telah dibuat berdasar dari metode TCR (Total Closeness Rating) adalah sebagai berikut :

Gambar Denah Awal Rancangan Pabrik Gula


Sebelum dibuat denah, terlebih dahulu dibuat ukuran template yang akan mewakili tiap ukuran tiap ruangan dalam denah pabrik yang akan dibuan. Template yang digunakan adalah 1 template mewakili luasan 25 m2 . Berdasarkan luasan tiap ruangan yang telah dibuat, didapatkan kebutuhan template masing masing ruang departemen seperti tabel di bawah ini :

No. Ruangan 1 2 3 4 5

Ruangan Kantor Bagian Operasi Parkir Mobil (Truk Tebu) Parkir Mobil (Truk Pengangkut Gula) Gudang Ruangan Pengepresan Tebu

Luas Ruangan 24 197,64 85,14 42,75 69,364944

Template yang dibutuhkan 0,96 7,9056 3,4056 1,71 2,77459776

Ruang Penjernihan nira, evaporasi, dan penguapan air Ruang Kristalisasi dan Sentrifugasi Sumber Air Pengolahan Limbah Ruang Pengeringan Kristal Akhir Ruang Pengemasan Kamar Mandi Total template yang dibutuhkan

61,60725 44,7573 24 18,6858 186,429 38,08296 7

2,46429 1,790292 0,96 0,747432 7,45716 1,5233184 0,28 31,98

7 8 9 10 11 12

Ukuran template masing masing ruangan telah diketahui berdasarkan dari tabel di atas, sesuai dengan kebutuhan luas ruang yang telah di hitung. Tahapan selanjutnya adalah membuat design tata letak pabrik sesuai dengan template yang telah dirancang. Design yang akan dibuat, tentunya dengan memperhatikan ruangan yang boleh berdekatan dan ruangan yang tidak boleh berdekatan.

Gambar Denah Pabrik Berdasarkan Template (Design 1)

Gambar Denah Pabrik Berdasarkan Template (Design 1)

G. Material Handling (Alat Penanganan Bahan)

Alat penanganan bahan (material handling) yang dibutuh kan industri gula Kristal ini adalah berupa bak penampung dan conveyor. Bak penampung yang dimaksud adalah berupa bak besar yang digunakan untuk menampung nira hasil pengepresan tebu. Selain itu digunakan juga bak penampung untuk limbah, dimana yang dimaksud limbah adalah yang bukan merupakan hasil dari pemurnian nira. Selanjutnya masing-masing dari bak penampung ini akan dialirkan ke ruang untuk dilakukan proses pengolahan selanjutnya. Conveyor digunakan untuk bahan-bahan yang akan mengalami pengolahan menuju ke proses selanjutnya dalam suatu tahapan operasi. Jenis conveyor yang digunakan adalah conveyor dengan system belt dimana bahan- bahan Selanjutnya setelah produk dihasilkan terdapat juga material handling yang dibutuhkan dari jenis industrial truck seperti pallet jack untuk mengangkut produk gula Kristal yang telah melewati tahap pengemasan untuk selanjutnya dibawa ke gudang bahan jadi. Dibawah ini adalah contoh sebuah konveyor jenis belt (conveyor belt atau) terdiri dari dua atau lebih puli. Salah satu atau mempunyai katrol yang menggerakkan sabuk(belt) sehingga material yang ditempatkan diatasnya dapat dipindahkan.

Sumber: Anonim, 2010

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah makalah ini akhirnya selesai dibuat, maka kami sebagai penulis dapat menyimpulkan, dari hasil proses pembuatan makalah ini kami telah dapat mengetahui bagaimana membuat perencanaan sebuah pabrik gula tebu. Diketahui bahwa pabrik gula tebu adalah sebuah pabrik dimana terjadi proses industri dengan menggunakan alat-alat industri seperti mesin-mesin, truk, conveyor dan sebagainya, yang mengolah bahan baku tebu untuk dijadikan produk berupa gula kristal dengan berbagai proses seperti pencacahan tebu, evaporasi, pengkristalan, dan sebagainya yang memerlukan perencanaan matang untuk membuatnya. Dimulai dari bagaimana mencari atau memilih lokasi yang tepat untuk pabrik gula dengan memperhatikan factor kritis, objektif, dan factor subjektifnya, kemudian bagaimana cara mencari kebutuhan luas ruang dengan mencari lebih dahulu mesin-mesin apa saja yang diperlukan untuk pabrik gula dan juga material handling apa saja yang dipergunakan, lalu bagaimana cara untuk menyusun aliran bahan yang baik sampai ditemukannya aktifitas antar ruang yang baik dengan mencari Total Closenes Rating, sampai terbentuknya sebuah rancangan pabrik gula yang baik dengan aturan standar yang berlaku dan mengefisien proses produksi sehingga meminimumkan biaya dan memaksimumkan keuntungan.

B. Saran
Perencanaan pembuatan pabrik ini mulai dari pemilihan lokasi sampai terbentuknya sebuah pabrik itu memerlukan beberapa metode, seperti pemilihan lokasi saja contohnya bisa dengan beberapa metode perhitungan, saran dari penulis bila kita sudah menggunakan metode yang sudah ada maka perhitungan itu pasti benar jadi tergantung kita memilih menggunakan metode yang mana. Yang terpenting adalah bagaimana kita pintar-pintar memilih sehingga terbentuk rancangan sebuah pabrik yang dapat mengefisiensikan proses produksi dan juga meminimumkan biaya produksi dan memaksimumkan keuntungannya. Karena perancangan sebuah pabrik gula dibuat itu berguna meminimumkan hal yang tidak terlalu perlu sehingga kita bisa memprediksikan berapa biaya yang seminimum mungkin kita perlukan untuk membuat pabrik yang menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Conceyor. [terhubung berkala]. http://imgs.materialflow.net/images/part_class_images/thumbs/tseries-400-heavy-duty-plasticbelt-conveyor1847-14494.jpg (25 November 2012) Anonim. 2011. Tata Letak Pabrik. [terhubung http://http://id.scribd.com/doc/49898753/BAB-II (24 November 2012). Anonim. 2011. Pohon Industri Tebu. [terhubung http://www.ipard.com/image/clip_image002_0023.gif (24 November 2012). berkala].

berkala].

Apple, James M. 1977. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan Edisi ke-3. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Apple, M.James. 1977. Tata letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Judul Asli : Plant Lay out and Material Handling 3rd edition. Penerjemah : Ir. Nurhayati dan M.T. Mardiono, MSc. Bandung : Penerbit ITB Jenie, Betty Sri Laksmi 2010. Lecturer Material 5B : Construction and Design Building and Facilities. Fateta : IPB. Setyamidjaja, D dan Azharni. 1992. Tebu Bercocok Tanam dan Pasca Panen. Jakarta: CV Yasaguna. Sudiatso. 1999. Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen Tanaman Obat. Jakarta: Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional badan Litbang Kesehatan.

MAKALAH TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN ( PABRIK GULA TEBU )

HELDINNIE GUSTY ATIQAH (F34100012) EKA NURAZMI YUNIRA (F34100026) AMILIYA ROMDHANI (F34100039) RAHMI ARDANI (F34100051) FLENI AYU KENIA HAQUE (F34100065) MUHAMMAD RIFQI (F24100109) ABDU SYAKIR (G74100028)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012