Anda di halaman 1dari 259

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.

com/

Pedang Bengis Sutera Merah


Karya : Tan Cheng In Terjemahan : Wang LC/Adhi Sumber : Lavilla ecersildejavu Edit dan ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/ http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

PEDANG TUNGGAL BAB 1 Sastrawan Pengecut Menurut pandangan orang, hidup sebagai seorang pesilat penuh dengan aneka ragam variasi, siapa yang tahu bahwa di bawah

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gemerlapannya baju ada tersimpan banyak kisah kesedihan dan kesusahan. Di sebuah jalanan, kendaraan berlalu lalang terus menerus, tapi ada juga yang tidak menggunakan kendaraan, mereka adalah pejalan-jalan kaki yang tidak mengunakan kendaraan. Sastrawan Berbaju Putih Pui Cie adalah salah satu diantara pejalan kaki yang banyak berlalu lalang, wajahnya muram dan kelihatan seperti sedang kesepian, seakan-akan di dunia ini dia hanya hidup seorang diri saja, dia sekarang sudah di lupakan orang, dia merasa hidup ini begitu sunyi dn sepi, meskipun sekarang dia berada di jalanan yang cukup ramai. Lie Se Kian yang seharusnya menjadi istrinya ternyata tidak berjodoh dengannya, Hie Ki Hong yang tidak terpikir sedikitpun didalam impiannya malah sekarang menjadi istrinya, semua ini terasa seperti mimpi yang sudah berlalu. Saudara kembarnya yang entah karena apa telah membuat rumah tangga dan perkawinannya berantakan, dia merasa sakit hati seumur hidupnya, kesedihan dan kekecewaannya serasa tidak bisa ditanggung, semua terasa menjdi hampa. Pui Cie berjalan tidak tahu arah tujuannya, didepannya sudah tidak ada lagi tempat persinggahan, malam ini dia tidak tahu akan berteduh dimana, pepatah mengatakan manusia punya rumah, burung punya sarang, tapi dia 'merasa tidak mempunyai tempat untuk singgah, dalam ingatannya dia merasa dia sebatang kara. Sudah dua bulan dia dalam keadaan sangat sedih dan kecewa, sehingga akhirnya dia meninggalkan keluarga Lie, sekarang dia merasa bingung, semua kegagahan dan kepintarannya hilang tidak berbekas. Dalam perjalanan yang dia lakukan tiba-tiba dari arah belakang terdengar suatu suara yang terasa nyaring yang menyapa, "Maaf, bisakah twako berhenti sebentar". Pui Cie pura-pura tidak mendengar, dia berjalan terus, suara itu menyapa lagi, "Twako Pui, berhentilah sebentar".

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Karena yang di panggil marganya mau tidak mau dia terpaksa berhenti, tapi dia tidak menoleh kebelakang dengan nada dingin dan ketus dia membalas, "Siapa itu". Satu bayangan bergerak mendatangi dari belakang, sesudah berada didepannya terlihat seorang anak muda yang masih belia dan berbaju biru berwajah tampan dan gagah, terlihat seperti memiliki ilmu silat yang tinggi tapi sangat asing, dia merasa belum pernah berjumpa dengan anak muda ini. Anak muda yang berbaju biru ini mengepalkan kedua tangannya lalu bersoja dan berkata, "Nama besar twako Pui sangat tersohor sekali, menyesal sekali siaute selama ini tidak ada kesempatan berkenalan, hari ini siaute bahagia sekali kebetulan bisa bertemu twako." Pui Cie yang hatinya dalam keadaan sedih dan kecewa, dia tidak mau banyak bergaul dengan siapapun, dengan angkuh dan dingin membalas menjawab, "Cayhe bukan bermarga Pui".Setelah berkata begitu dia berjalan lagi, kenyataan yang sebenarnya dia memang tidak bermarga Pui tapi bermarga Nan Kong, nama Pui Cie adalah pemberian satu tetua di dunia persilatan Ko Li Lang, dulu sewaktu memungutnya karena tidak tahu asal usulnya, hanya berdasarkan sebuah pek giok persegi yang dia pakai maka diberilah dia nama Pui Cie, demi membalas budi guru yang telah membesarkannya maka nama itu di pakainya terus, dia tidak mau lagi memakai marga aslinya Sekarang dia karena sedang kesal maka dipakailah nama aslinya, tapi bukan ingin menghapus nama pemberian sang tetuanya. Orang yang berbaju biru itu tidak marah dengan mencoba berjalan sejajar dia berkata, "Twako Pui janganlah menolak orang demikian rupa." Pui Cie bersuara cuek menjawab, "Kita kan tidak saling kenal." Pria berbaju biru tertawa, "Maaf. siaute salah, siaute lupa belum memperkenalkan diri. siaute marga Hu, bernama Seng Yi julukan 'Sastrawan Pengecut (Bo Tah Su Seng), siaute sudah lama mengagumi twako, baru sekarang bisa berkenalan dengan twako. "

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Julukan 'Sastrawan Pengecut' yang aneh ini membuat Pui Cie tergerak juga hatinya, dilihat wajahnya tidak seperti penjahat, kalau bukan karena amanat gurunya, dia jauh jauh hari sudah meninggalkan dunia persilatan. Sekarang kondisinya sedang tidak ada semangat untuk berkenalan, masih dengan wajah dingin dia berujar, "Maaf, cayhe hanya orang kecil di dunia persilatan, tidak pantas dikagumi." Sambil berkata begitu dia menambah cepat langkahnya. Kesabaran 'Sastrawan Pengecut' ini ternyata amatlah besar, dia mengejar dengan langkah cepat agar sejajar, "Apakah Twako merasa Siaute tidak pantas untuk berkenalan?" Pui Cie menatap lurus ke depan, berkata, "Cayhe memang tidak suka bergaul." 'Sastrawan Pengecut' tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Twako berbeda denganku, kalau aku, aku ingin mengenal habis semua orang di dunia ini." Pui Cie sebal juga dilibat terus oleh pria yang cerewet ini, kebetulan didepannya ada jalan bercabang, dia melirik lawan bicaranya dan langsung berbelok ke jalan kecil gerakannya seperti melayang, pergi secepat kilat. Setelah agak lama berlari dan merasa yakin sudah jauh meninggalkan orang tersebut, baru dia memperlambat langkahnya Tidak disangka, dugaannya ternyata meleset, Sastrawan Pengecut itu ternyata masih tetap bisa menguntil di belakangnya dia berkata, " Ilmu silat Twako benar hebat, tidak ada duanya di dunia ini". Pui Cie terkejut bukan kepalang dalam hatinya berpikir, "Tidak di sangka dia seperti roh yang bisa terus membuntutiku, ilmu silatnya tentu luar biasa, entah mempunyai maksud apa dia terus membuntutiku".hatinya terkejut tapi dia tetap menenangkan diri seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia menghentikan langkah kakinya dan membalikan badan kepada Sastrwan Pengecut yang sedang tersenyum-senyum, dengan ketus Pui Cie berkata, "Apa keinginanmu yang sebenarnya".

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sastrawan Pengecut bersoja seraya berkata, "Siaute hanya ingin berkenalan dengan Twako saja". "Sepertinya bukan itu saja." "Siaute bersungguh-sungguh." "Cayhe sudah berkata cayhe tidak suka berkenalan dengan sembarang orang." "Apakah Siaute tidak pantas?" Pui Cie marah dan dengan suara keras berkata, "Sobat, apa maksudmu yang sebenarnya, tolong jelaskan, aku paling tidak suka dibuntuti terus!" Sastrwan Pengecut dengan muka serius berkata, "Kalau Twako berkata begitu Siaute jadi malu, sebenarnya Siaute ada sesuatu keperluan ingin minta tolong kapada Twako karena tidak kenal jadi sulit diutarakan, maka siaute mencari kesempatan mendekati Twako." Hati Pui Cie agak tertegun, sudah terlalu banyak dia mengalami masalah, dan tahu kotornya dunia persilatan dia tidak lantas percaya dengan perkataan orang tersebut, dengan seksama dia memperhatikannya lagi sambil berkata, "Minta pertolonganku?" Dengan muka bersungguh-sungguh Sastrwan Pengecut berkata, "Betul," "Coba utarakan, aku ingin tahu." "Siaute minta bantuan Twako untuk menolong seseorang." "Menolong orang?" "Ya." "Ini kata bualan." "Maksud Twako....." "Melihat kemampuan ilmu silatmu, sudah begitu luar biasa, rasanya tidak perlu bantuanku lagi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sastrawan Pengecut tersenyum dan berkata, "Karena Siaute pengecut maka dengan rendah hati siaute minta bantuan Twako." Tidak masuk akal, Pui Cie dengan nada dingin berkata, "Maaf sobat aku tidak punya keahlian, carilah orang yang lebih mampu!" Sastrawan Pengecut dengan gelisah berkata, "Twako, tapi Siaute mengatakan yang sebenarnya, sama sekali tidak mengada-ada" Tiba-tiba wajahnya menjadi muram, "Siaute mau minta tolong Twako menolong ayah Siaute." "Apa..., ayahmu." "Ya." "Ayahmu sudah terkena musibah apa?" "Ah, kalau diceritakan malu juga, ayah Siaute sepuluh tahun terakhir demi sebuah cita-cita yang belum tercapai, hidup tanpa merasa gembira, Siaute tidak bisa berbuat banyak kecuali meminta bantuan Twako untuk menolongnya. "Cita-cita yang bagaimana?" "Ayah Siaute sudah sepuluh tahun menunggui sebuah lembah, maksudnya ingin bertemu dengan orang yang berada di dalamnya, tapi dia tidak bisa masuk kedalam lembah itu, juga tidak mau meninggalkan begitu saja." "Siapa yang berada didalam lembah itu?" "Tidak tahu, ayah Siaute tidak mau memberitahu." "Kenapa dia tidak bisa masuk kedalam lembah itu," "Karena ilmu silatnya terbatas." "Apakah kau mau menjadikan cayhe sebagai pembantu." "Tidak... hal ini bagi Twako hanya urusan sepele saja." "Melihat taraf ilmu silatmu ayahmu pasti bukan orang sembarangan, kan dirimu bisa bekerja sama dengan ayahmu..." "Siaute sudah bilang, Siaute seorang pengecut!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie jadi terpancing juga rasa ingin tahunya, ini adalah urusan yang tidak pernah terbayangkan dan tidak masuk akal, apa maksud sebenarnya? Dimana bisa ada urusan seaneh ini, dimana ada orang yang sudah belajar ilmu silat bisa menjadi seorang yang pengecut, sampai gelar yang disandangnya juga Sastrawan Pengecut. Sastrawan Pengecut berkata pula, "Bagaimana, apa Twako sudah menyanggupinya?" Pui Cie menggelengkan kepalanya berkata, "Sulit di percaya." "Sesudah berada di tempatnya Twako akan tahu bahwa perkataan Siaute semuanya benar." Pui Cie berpikir dalam hati dengan cepat, kalau ini semua adalah suatu siasat aku pasti akan terjebak, kalau sekarang tidak mengikuti kemauannya, mereka akan menyediakan perangkap lainnya, semua harus dibuktikan. Sekarang musuh nomor satunya adalah paman gurunya sendiri Phei Cen berikutnya adalah Shin Kiam Pangcu, Ke Co Ing, Ma Gwe Kiau, semua harus diselidiki keberadaannya, daripada mencari-cari tidak tahu arahnya lebih baik mencoba kesempatan ini, siapa tahu, ini adalah salah satu siasat dari musuhnya. Begitu hatinya sudah tetap dengan suara rendah dia berkata, "Baiklah, cayhe ingin melihat-lihat dulu." Sastrwan Pengecut merasa gembira seraya bersoja memberi hormat, "Terima kasih Twako, kalau berhasil Siaute tidak akan lupa jasa Twako seumur hidup." Sesudah merasa yakin Pui Cie berkata, "Ayo jalan." Satu berpakaian putih satu biru, kedua oarang satrawan ini mulai berangkat, hubungan mereka terasa aneh, memang hubungan manusia dalam dunia persilatan tidak bisa dipelajari dan diperkirakan dengan akal sehat. Setelah berjalan beberapa hari lamanya, suatu hari mereka memasuki daerah hutan pohon pinus, setelah bergaul beberapa hari Pui Cie merasa Sastrawan Pengecut adalah seorang yang pintar dan lurus tidak kelihatan watak curang sedikitpun, tapi dia merasa ada

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sedikit ngeri, sebab di dunia persilatan banyak orang yang lihai tapi tak mencurigakan sedikitpun, orang yang beginilah yang paling susah diatasi. Memandang gunung yang berlapis-lapis Pui Cie teringat akan orang yang dikasihi gurunya yaitu 'Bo Yu Sien Ce'fDewi Tidak Pernah Risau) yang telah membawa putra satu-satunya dari gurunya yaitu Khu Tian Can, ketika gurunya sedang bertapa di hutan pinus, tidak tahu kemana perginya mereka, seperti awan tebal entah dimana mereka berada sekarang. Melewati bukit yang berkelok, berputar, terjal dan datar sama sekali tidak kelihatan seorang pun, sampailah mereka di sebuah gunung yang sempit dan terjal. 'Sastrawan Pengecut' berhenti dan menunjuk ke depan, "Twako, di lembah depan itulah ayahku berada, ayahku keras kepala, tak mau dibantu oleh siapapun, jadi aku tak boleh menampakan diri, Twako jangan berkata diminta olehku untuk membantu kesini, hanya boleh berkata ingin bertemu orang dalam lembah ini, di tengah lembah ada sebuah batu penutup, dengan ilmu silat Twako yang hebat tentu dapat mematahkan batu yang seperti rebung itu, setelah patah aku akan datang." Dia bersoja lagi setelah habis berkata itu. Aneh sekali, minta bantuan hanya karena satu batu rebung saja, kenapa tidak dipahat saja? Pui Cie terus berfikir kalau ini suatu siasat busuk, benar-benar tidak mudah dihindari. 'Sastrawan Pengecut' berkata lagi, "Twako pasti curiga karena seperti tak masuk diakal, nantilah akan Siaute ceritakan semuanya. Siaute juga hanya tahu sedikit, tak tahu apa sebenarnya, nanti kita minta penjelasan ayahku." Pui Cie memandang dalam-dalam 'Sastrawan Pengecut' seraya berkata, "Benar-benar tak masuk diakal, tapi ada sepatah kata aku ingin bicara sebelumnya..." "Katakanlah!" "Kalau ternyata tdak sesuai dengan kenyataan, aku tak akan segan-segan membunuh orang!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tentu, Siaute maklum hal itu." Terlihat air mukanya tak ada yang mencurigakan. Dengan hati yang penuh dengan pertanyaan dan tak tenang dia melangkah menuju tempat yang ditunjuk, dia sudah memutuskan kalau keadaan tidak cocok dia tidak akan bertindak apa-apa tapi dia akan. berbalik membikin perhitungan dengan si 'Sastrawan Pengecut'. Dia merasa bodoh menerima pekerjaan yang seperti lelucon dan permainan anak-anak ini, tapi apa boleh buat, karena dia sudah datang, baik iatau buruk tentu harus dicoba. Sebuah celah sempit antara bukit telah berada di depan mata. Dari kejauhan memang terlihat sebuah batu besar seperti bambu muda baru keluar tanah menghadang di tengah-tengah celah itu. Di kiri kanan batu itu ada celah yang lebih kecil, kenapa harus membelah batu rebung itu baru bisa masuk ke dalam lembah? Sungguh tak masuk diakal, gunung batu begini tidak akan dapat menghalangi orang berilmu silat apalagi hanya batu seperti rebung ini? Sesudah jarak bertambah dekat, terlihat di belakang batu rebung terdapat banyak batu yang aneh-aneh dan beragam berserakan disana. Pui Cie merasa tempat ini sangat strategis, antik dan alami, seperti sudah ditata oleh manusia dan batu rebung ini jadi pusat strategisnya. Tiba di mulut lembah, Pui Cie melihat sekelilingnya, tiba-tiba dia menemukan sesuatu, di bawah batu menjorok keluar dekat sisi lembah yang terjal ada duduk seorang yang tua, rambut dan jenggotnyapun sudah memutih, panjang, menyatu, dan acak-acakan, umurnya terlihat sudah cukup tua. Orang aneh inikah ayah 'Sastrawan Pengecut? Mungkinkah dia memiliki anak semuda itu? Orang aneh ini duduk bersila, tidak bergerak sedikitpun tidak bicara seperti seorang hweshio yang sedang bertapa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan sendirinya Pui Cie menjadi tegang, dia mendekat sambil berdehem, aneh sekali, dia tidak bereaksi sama sekali, seperti tidak tahu ada orang mendekat, kedua matanya ditutup rapat-rapat. Pui Cie diam beberapa saat disitu, dia tidak berani menyentuh batu rebung itu sampai jelas semua keadaan ditempat itu. Matanya menatap semua rerumputan dengan seksama, dia mundur 2 langkah lalu dengan suara lantang dia berkata, "Tuan orang pandai dari manakah?" Tidak ada reaksi apa-apa, dia bingung dan bengong sejenak. 'Sastrawan Pengecut yang setelah menunggu sekian lama karena tidak mendapat reaksi apa-apa segera menyelinap masuk. Pui Cie yang sejak awal sangat hati-hati, begitu 'Sastrawan Pengecut' menyelinap masuk dia langsung tahu tetapi dibiarkan saja dengan tidak mengurangi kesiagaannya, sebab dia merasa urusan ini agak aneh sejak semula. "Ssstt!" Pui Cie membalikan badanya perlahan-lahan. 'Sastrawan Pengecut" sedang memberi isyarat menanyakan keadaan. Pui Cie mendekatinya dan berkata, "Aku sudah menyapa, tapi tidak ada reaksi apa-apa. Itukah... Ayahmu?" 'Sastrawan Pengecut' mengangguk, keningnya berkerut, "Kenapa tidak ada reaksi?" "Katanya ayahmu sudah menunggui tempat ini sudah sepuluh tahun?" "Ya!" "Siapakah orang yang berada di dalam lembah itu?" "Ayah Siaute tak pernah mau memberitahu." "Mengapa harus memecahkan batu rebung itu dulu?" "Samar-samar ayah pernah membocorkan, itu adalah perjanjian kedua belah pihak, kalau bisa memecahkan batu rebung itu baru

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ boleh bertemu, sebab lembah ini tertutup oleh sebuah pintu ajaib mata kuncinya ialah batu rebung ini..." "Mata kunci seharusnya berada di tengah-tengah baru betul." "Disinilah keanehannya, bertolak belakang dengan kebiasaan yang ada!" Dia berpaling lagi kepada orang aneh yang sedang bertapa itu dan menghela nafas, "Berdasarkan pengalaman dan usia ayah, ilmu silatnya sudah tidak mungkin bisa maju banyak lagi, kalau begini terus ayah akan meninggal dalam lembah ini. siaute sebagai anak tidak mau hal ini terjadi maka aku dengan sangat minta bantuan twako. Apa yang diucapkan oleh 'Sastrawan Pengecut' ini sangat menyentuh hati Pui Cie, Pui Cie memalingkan kepalanya menatap batu rebung itu, "Rasanya aku tak akan mampu untuk menolong." Dengan sedih 'Sastrawan Pengecut' berkata, "Kalau dengan kehebatan Twako saja tidak sanggup menghancurkan batu itu, siaute hanya bisa menerima nasib saja!" "Aku akan mencobanya, tetapi kenapa ayahmu tidak bereaksi sama sekali?" "Sastrawan Pengecut' berfikir sejenak, "Siaute periksa dulu, Twako tolong berjaga-jaga, takut terjadi apa-apa, dia menghampiri orang aneh itu dan memanggil "Ayah, ayah, ayah!" Orang aneh itu tetap tidak bergerak, matanya tertutup rapat duduk seperti semula. 'Sastrawan Pengecut' memanggil-manggil lagi, dia langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres, begitu disentuh, dia langsung menjerit dan menangis tersedu-sedu dan berlutut di hadapan ayahnya. Pui Cie kaget dan memburunya, ternyata orang aneh itu telah meninggal dunia. 'Sastrawan Pengecut' setelah agak reda kesedihannya berdiri sambil menghapus air mata dengan suara gemetar berkata, "Siaute mau membuka semua tabir rahasia itu, Twako bantu Siaute ya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan menganggukan kepala, Pui Cie busungkan dada menuju batu rebung, mengira-ngira kondisi batunya, kemudian mengambil ancang-ancang 2 telapak tangan diangkat.. "Berhenti!" terdengar suara bentakan keluar dari balik batu rebung. Pui Cie kaget bukan kepalang seraya mundur. 'Sastrawan Pengecut' juga menghampirinya. Suara itu datang lagi, "Kalian mau berbuat apa?" terdengar suara seorang perempuan. 'Sastrawan Pengecut' dengan suara keras berkata, "Untuk memenuhi janji memecahkan strategi ini dan masuk ke lembah, ayahku telah menunggu 10 tahun disini, sekarang beliau telah wafat, boleh tahu kau siapa? Apakah kau orang yang mengikat janji dengan ayahku? Wanita misterius itu malah balik bertanya, "Apakah Leng Oen sudah meninggal dunia?" "Iya!" "Dia pantas memdapat ganjaran ini!" "Apa katamu?" "Aku bilang, Leng Oen pantas mati! Matinya juga sesuai." Pui Cie terhenyak, dia seperti kenal benar suara ini, sedikitpun merasa tidak asing. Siapakah dia? Serasa mau pecah pembuluh darahnya, 'Sastrawan Pengecut' berkata dengan suara keras, " Apa... pantas mati?" "Kau anaknya?" "Betul!" "Kau tidak boleh ribut di tempat ini, cepat pergilah mengurus pemakamannya!" "Ayahku tidak boleh mati konyol. Siapa Tuan?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ayahmu tak pernah cerita?" "Tidak!" "Bagus! Seumur hidup dia sudah penuh dengan dosa, hanya kali ini dia berbuat benar." 'Sastrawan Pengecut' mengeluarkan suara keras, langsung menyerbu batu rebung itu, tapi tiba-tiba keluar angin keras yang menggulung-gulung. 'Sastrawan Pengecut' terdorong mundur kembali. Pui Cie dengan cepat berpikir, Aku telah menyanggupi Sastrawan Pengecut untuk membantu masalahnya, kini ayahnya sudah meninggal, aku harus berbuat sesuatu, berpikir sampai begitu dia berteriak dengan keras, "Mundurlah biar aku yang menghancurkan batu itu." Sastrawan Pengecut itu menurut dan mundur, Pui Cie mengangkat tangannya dan memasang kuda-kuda. "Pui Cie, kau berani kurang ajar?" Pui Cie kaget bukan kepalang, orang yang bersembunyi itu ternyata dapat langsung menyebut namanya, siapakah dia?suaranya terasa hafal dan sering mendengarnya entah di nama.... Suara itu terdengar lagi, "Pui Cie kau harus tahu nama yang benar dan mana yang salah, apa yang boleh dilakukan juga apa yang tidak boleh dilakukan, jangan melanggar pantangan dunia persilatan, jangan memalukan nama baik perguruan, hayo cepat mundur!" Pui Cie terhentak, dia seperti sudah tahu lawan bicaranya tapi belum yakin benar-benar, dengan membungkukkan badannya dia berkata, "Apa boleh aku bertemu muka dengan Cianpwe?" Sastrawan Pengecut terbelalak matanya, tidak menyangka Pui Cie bisa kenal dengan orang yang di dalam lembah ini. Orang dalam lembah ini ternyata adalah 'Bo Yu Sien Ce' dan seseorang yang hanya bisa mengeluarkan suara Vu wu, ya ya'. Ciri orang yang berhidung pesek dan bibir sumbing karena cacat alami,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ segera teringat oleh Pui Cie, dia adalah darah daging gurunya yang bernama Khu Tian Can, karena melahirkan anak yang memalukan *Bo Yu Sien Ce' kesal dan membawa anaknya pergi , tak disangka ibu dan anak ternyata mengasingkan diri disini. 0-0-0 BAB 2 Gadis manis bersutra merah Bo Yu Sien Ce' berkata, "Tak perlu bertemu, aku ibu dan anak bukan milik dunia ini." Suaranya penuh perasaan sedih dan tidak berdaya. Sastrawan Pengecut tercengang dan terharu dalam hati berpikir, "Siapakah yang didalam lembah ini." Karena persoalan ini menyangkut rahasia pribadi gurunya, Pui Cie tidak dapat mengutarakanmya. Sekarang, apa hubungan "Bo Yu Sien Ce' dengan Hu leng Oen dia juga belum jelas dengan susah dia berkata, "Maaf karena Cianpwe telah mengasingkan diri dilembah ini cayhe tidak akan membicarakannya lagi." Sastrawan Pengecut memandangi Pui Cie dengan suara gemetar berkata, "Kalau twako tidak bisa membuka tabir ini siaute juga tidak akan memaksa, tapi ayahku tidak boleh mati sia-sia, Siaute pasti akan cari tahu semua ini, kalau Siaute masuk ke dalam dan tidak keluar lagi harap twako bisa bantu menguburkan ayah Siaute, mati atau hidup Siaute pasti akan berterima kasih pada twako," selesai berbicara dengan mata memerah dia bersoya lagi. Pui Cie terpaku disana, dia tidak tega juga tidak enak ikut campur. Sastrawan Pengecut pernah mengatakan bahwa dia tidak punya nyali alias pengecut, sekarang sepertinya telah menjadi seorang yang pemberani, tidak takut soal hidup dan mati, yang dia kuatirkan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ adalah bagaimana nanti dia melabrak lembah itu, apa Bo Yu Sien Ce akan membunuhnya, apa hubungannya mereka ini?" Terdengar Bo Yu Sien Ce bersuara lagi, "Pui Cie apakah kau sudah menyelesaikan tugas yang dibebankan perguruan?" Yang dimaksud tugas perguruan adalah membersihkan perguruan dan menangkap Phei Cen. Pui Cie tergopoh-gopoh menjawab, "Belum, Wanpwe sedang berusaha." T3o Yu Sien Ce' berkata lagi, "Apa hubunganmu dengan anaknya Hu Leng Oen'. Pui Cie melirik Sastrawan Pengecut dan berkata, "Kami kebetulan bertemu, baru berkenalan, dia mengajak Wanpwe untuk membantu menolong ayahnya." "Menolong ayahnya? Ha...ha...ha...." "Apakah Cianpwe tahu almarhum menunggu disini sudah sepuluh tahun?" "Jangan ikut campur, "Ini...ya...tetapi...." ini tidak ada urusan denganmu."

"Dia telah mati sama dengan sudah menebus dosa, pergilah!" Suaranya langsung menghilang, entah sudah pergi, entah masih ada disitu. Sastrawan Pengecut bergerak merobah posisinya, bersiap-siap ingin menyerbu ke dalam lembah. Pui Cie menghalangi dengan badannya seraya berkata, "Saudara Hu pikirkan dulu masak-masak sebelum bertindak, jangan tergesagesa!" Sastrawan Pengecut dengan suara gemetar berkata, "Apakah twako merasa siaute jangan mencari tahu penyebab kematian ayah siaute." "Itu harus, tapi jangan ceroboh."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ceroboh." "Memang, kalau saudara Hu memaksa menerobos masuk, seperti laron menyerbu api, tidak ada gunanya." "Siaute sudah tidak pikir lagi hidup atau mati." "Saudara Hu kan tidak punya nyali." " ini...." "Pikirkan lagi saudara Hu." "Masa ayah Siaute mati tak jelas, Siaute harus pikir-pikir dulu." Karena sudah yakin orang yang berada di dalam lembah itu adalah Bo Yu Sien Ce, Pui Cie sudah tentu tidak bisa membantu lagi memecahkan batu, untuk masuk kedalam lembah. Masalah yang mengganjal adalah kenapa ayah Sastrawan Pengecut menunggu di mulut lembah sampai sepuluh tahun, Bo Yu Sien Ce mengatakan dia pantas mati dan pantas dapat ganjaran, pantas mendapat ganjaran seperti ini? Apa hubungan mereka? Setelah berpikir begitu dia membalikan badannya memandangi jenasah Hu Leng Oen, pandangan nya yang tajam juga menyapu batu gunung di samping jenasah, di batu gunung itu ternyata ada tulisan, dengan spontan dia berteriak. Sastrawan Pengecut terhenyak, dibatu itu tertulis 'meningalkan pesan' dia segera memburu kesana, Pui Cie pun mengikutinya. Sewaktu datang tadi mereka hanya memperhatikan baru rebung saja jadi tidak kelihatan semua pesan yang di tulis dengan jari tangan ini, dibatu itu tertulis, "seumur hidup ini dosaku sudah terlalu banyak dan berat, sudah terlambat untuk disesali, setelah mati kuburlah aku disini, untuk memenuhi hasrat yang belum tercapai" tertulis Hu Leng Oen. Perkataannya tidak jelas, apa penyebabnya pun tidak diceritakan. Pui Cie dengan penuh rasa curiga berpikir, "Hasrat apa yang belum tercapai"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan penuh air mata Sastrawan Pengecut terus memandangi tulisan ayahnya, "Siaute tidak tahu, ayah siaute tidak pernah menyinggung soal ini." Pui Cie berkata, "Dilihat dari pesannya sedikitpun tidak ada rasa dendam....kapan saudara Hu terakhir bertemu dengan ayahmu?" "Sebulan yang lalu." "Saudara Hu bersamanya....menunggu disini?" "Tidak, selama sepuluh tahun siaute belajar silat, hanya setahun sekali kesini menjenguknya." "O o..." "Kalau Twako kenal dengan orang yang berada didalam lembah ini bolehkah....tolong cari tahu penyebabnya?" "Ini.....ini harus menunggu kesempatan lain, kalau sekarang pasti ditolak." Pui Cie berhenti sejenak, "Sekarang kita harus menuruti keinginan ayahmu untuk menguburnya disini, supaya almarhum menjadi tenang. Sastrawan Pengecut mengangguk. Pui Cie dengan pedangnya membelah batu membuat peti mati, didepan mulut lembah itu membuat kuburan dan ditegakkanlah sebuah sebuah batu nisan, setelah semuanya selesai Sastrawan Pengecut memberi hormat pada Pui Cie berkata,' "Kita hanya berkenalan sebentar saja, Siaute sangat berterima kasih pada Twako atas bantuannya yang besar, siaute berencana menunggui kuburan ini untuk beberapa saat, sebagai seorang anak memberi penghormatan terakhir kepada ayahnya, silahkan Twako berangkat dulu, semoga kita nanti bisa bertemu kembali. Pui Cie tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama disitu, setelah bersoja lalu mereka berpisah. Setelah Pui Cie pergi datanglah seorang tua yang kurus kecil berambut putih, sepasang matanya terlihat berapi-api, mesti siang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hari masih bisa di rasakan sorot matanya yang tajam, sudah tentu ilmu silatnya telah mencapai tahapan yang luar biasa. Sastrawan Pengecut segera berlutut sampai ketanah dengan hormat berkata-kata, "Suhu, bagaimana suhu bisa berada disini?" Orang tua yang berambut putih itu melirik ke batu nisan berkata, "Kau menunggui kuburan disini?" Dengan suara sedih Sastrawan Pengecut mengangguk, "Ya, suhu." Orang tua berambut putih berkata, "Sebagai anak kau pantas berbakti pada orang tua, tapi jangan lupa masih ada tugas yang lebih berat menunggumu untuk diselesaikan." "Murid tidak berani melupakan!" "Sesudah tiga hari kau harus meninggalkan tempat ini." "Tiga hari?" "Ehm, kau hanya boleh menjaga kuburan saja, tidak boleh ceroboh masuk ke lembah itu!" "Apa suhu tahu jati diri orang dalam lembah itu?" "Bo Yu Sien Ce pernah dekat dengan Bu lim Ce Cun." "O, pantas Pui Cie mengenalnya , tapi ayahku...." "Jawaban teka teki ini akan terbuka oleh diri Pui Cie." "Kenapa suhu tidak mengijinkan murid mencari tahu sendiri kedalam lembah itu?" "Tidak boleh, didalam lembah itu telah ditata penuh dengan segala macam barisan yang aneh dan sukar, akupun tidak sanggup memecahkannya." "Suhu, bolehkah aku memecahkan batu rebung itu?" "Kau sudah lupa aturan yang digariskan kakek guru." "Masih ingat."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kalau ingat itu bagus, sesudah tiga hari kau harus pergi, dan dengan cara apapun kau harus mendekati Pui Cie, perhatikan gerak geriknya, berhubungan dengan siapa saja dan jangan sampai dia tahu jati dirimu yang sebenarnya." "Ya, suhu." "Suhu masih banyak urusan yang harus diselesaikan, ingat katakataku!" setelah berkata begitu sekelebat saja dia sudah menghilang. 0-0-0 Pui Cie langsung berjalan keluar gunung, sambil berjalan dia memikirkan ibu dan anak' Bo Yu Sien Ce dengan kematian ayah Sastrawan Pengecut 'Hu Leng Oen', Ada hubungan apakah mereka sebenarnya? Hu Leng Oen sudah menunggui lembah itu selama 10 tahun dan akhirnya meninggal, dalam pesannya meninggalkan penyesalan yang besar, "Bo Yu Sien Ce' sedikitpun tidak ada rasa kasihan, malah mengatakan dia pantas mati, dan harus mati, bagaimana ini semua? Hu Leng Oen juga menutup mulut rapat- rapat terhadap anaknya, benar-benar tidak habis pikir. Tang...Teng...Ting...Tung, tiba-tiba terdengar bunyi alat musik Pipha mengalun bersama hembuskan angin, begitu merdu terdengar dan sayu. Pui Cie tertegun, lalu berhenti, ditengah hutan belukar dari nama bisa terdengar suara Pipha. Suara alat musik itu masih terdengar, bersama angin gunung cepat dan lambat mengalun tinggi dan rendah, suaranya begitu merdu, orang yang tidak mengerti musik pun akan tahu suara ini keluar dari tangan tangan yang sangat mahir. Selidik punya selidik asal suara sepertinya datang dari puncak gunung yang tidak begitu jauh. "Biarkan saja!" Dia bergumam lalu pergi.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tapi suara pipha itu tak dapat ditahan, amat memikat, tidak mau didengar juga tetap terdengar, Pui Cie terpaksa berhenti lagi. Suara pipha tak putus-putus, suaranya jernih berdentingan diantara celah-celah gunung, mengambang di atas awan, begitu menyentuh perasaan hati. Segala sesuatu yang indah pasti disuka orang apalagi di alam seperti ini, selain memikat juga ditambah keingintahuan dan kemisteriusannya. Dengan tidak terasa, Pui Cie berjalan pergi menelusuri asal suara itu. Di atas puncak agak pojok di atas sebuah batu besar terlihat sebuah bayangan punggung yang memakai baju merah mencolok memeluk sebuah Pipha, menghadap ke jurang terjal, badannya dibalut selendang sutra merah yang melayang layang beterbangan ditiup angin, dibarengi suara Pipha seperti mau terbang ke angkasa dan naik ke surga. Dilembah sunyi dengan dentingan suara pipha, seorang gadis cantik dibalut sutra merah, keadaan yang sangat menggoda. Pui Cie berdiri dari kejauhan, dia seperti sudah lupa diri, tempat yang aneh, takjub, ajaib dan indah, bisa ada seorang wanita bermain Pipha sungguh kejadian yang luar biasa, apakah bukan karena susah mencari orang yang mengerti musik ataukah mau mencurahkan perasaan hati pada gunung dan air? Seorang wanita, seorang diri di tengah hutan puncak gunung, tak usah disangsikan lagi pasti dia orang dunia persilatan dan orang yang sangat mahir ilmu silatnya. Ting ting tung tung... Suara itu berbunyi terus seperti air mengalir dari atas gunung membuat orang lupa segala urusan, juga seperti salju putih di musim semi, membuat orang sangat nyaman dan lupa diri. Wanita bersutra merah masih terus bermain pipha, seperti tidak merasa ada tamu yang tak diundang sudah mendekat.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie sudah terbenam dalam alunan suara yang indah itu, sudah lupa dirinya berada dimana, dengan tanpa sadar dia berjalan mendekati wanita itu. Tiba-tiba suara pipha berhenti mendadak, Pui Cie seperti terbangun dari alam mimpi yang begitu indah didalam telinganya masih terasa suara merdu tadi. Terdengarlah suara gadis berbaju merah berkata, "Kau juga suka alunan musik ya? " Suaranya terdengar renyah seperti mutiara jatuh di atas piring giok. "Teng...".tergetarlah hati Pui Cie, ternyata dia sudah mengetahui kedatangan Pui Cie, mukanya terasa panas, dengan tersendat-sendat dia bertanya, "Musik ajaib nona, biarpun cayhe tidak paham betul, sedikit banyak bisa menikmati juga." Gadis berbaju merah tertawa renyah lagi, "Bukankah kau adalah Pui Cie yang bergelar 'Sastrawan Putih' sudah tersohor di seluruh dunia persilatan?" Pui Cie terkejut sekali, "Nona tahu darimana?" kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutnya. Gadis berbaju merah menjawab, "Dengan melihat penampilanmu, di dalam dunia persilatan tiada orang kedua lagi, ini hanya dugaanku saja." Pui Cie menghela nafas dalam-dalam, "Boleh tahu nama panggilan nona siapa?" Gadis berbaju merah terdiam sejenak lalu berkata, "Kau pasti bisa menebaknya.." Muka Pui Cie memerah, dengan tersendat dia berkata, "Maafkan, cayhe betul-betul tidak tahu." Gadis berbaju merah dengan sangat memukau tertawa lagi, "Yipha Yauci pernahkah mendengar?" Yipha Yauci', empat kata ini begitu terdengar, terkejutlah hati Pui Cie, semasa hidup gurunya pernah menyinggung nama Yipha Yauci

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ini, dengan sebuah lagu dia bisa mencabut nyawa, tapi dia seharusnya sudah lanjut usia mengapa didepannya malah berupa seorang gadis usia belia? Apakah dia memiliki ilmu merawat wajah? Atau... "Yipha Yauci", berkata lagi gadis itu, "Tidak pernah mendengar?" "Pernah. Tetapi..." "Masalah umur yang tidak cocok?" "Ya!" "Tidak apa-apa, wajah cantik dan rambut yang memutih itu hanya masalah waktu saja." Bingunglah Pui Cie, dia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, memanggil sebagai nona, dia sesepuh, memanggil Cianpwe umurnya sepantaran dengan dirinya. Yipha Yauci perlahan membalikkan badannya. Segera didepan matanya terlihat jelas, nafas Pui Cie menjadi sesak dan jantungnya seolah berhenti berdetak, matanya yang bening, giginya yang putih, betul-betul merupakan sebuah bibit unggul. Umurnya terlihat 20 lebih sedikit, dengan gelar Ratu Gaib terasa serasi sekali, dari pandangannya kelihatan ada sinar kegenitan, lekuk badannya yang tertutup sutra merah begitu indah, kulitnya putih seperti salju, disebut cantik memang ini adalah orang tercantik yang pernah dia lihat, karena sudah cukup dewasa rasanya lebih memikat lagi. Dibawah sinar matahari senja, sutra merah seperti segumpal api yang bisa melelehkan siapa saja. Sebagai manusia yang bukan terbuat dari kayu atau batu, timbulan pikiran aneh pada diri Pui Cie. Kalau dia memang telah berusia lanjut, dengan keadaan seperti ini betul-betul telah merubah karunia alam semesta.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci alisnya indah memikat, lirikan matanya sayu seperti riak bergelombang, sekujur tubuhnya penuh daya tarik yang tak dapat ditolak, Pipha Yauci betul-betul beda dari orang kebanyakan. Nafas Pui Cie menjadi lebih kencang... Yipha Yauci' juga menatap Pui Cie terus, wajahnya juga berubahubah, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan. Dengan suara halus Yipha Yauci berujar, "Apakah kau mau mendengar aku mainkan sebuah lagu?" Tak kuasa menolak, Pui Cie menganggukan kepala. Yipha Yauci dengan muka penuh senyum menggerakan jemarinya yang halus memainkan senar seolah membereskan rambutnya. Pui Cie seolah dibawa memasuki sebuah alam yang menakjubkan. Suara musik ini terdengar seperti hanya ada di langit. Di dunia ini tak mungkin bisa terdengar suara ini. Dua kata ini paling pas menyatakan suasananya. Pada saat itulah tampak tiga sosok bayangan seperti hantu muncul di belakang Pui Cue. Orang yang ditengah berjubah indah dan bertopeng, yang dikiri seorang terpelajar umur setengah baya bermuka sadis, yang dikanan seorang padri tua berjenggot panjang. Pui Cie yang sudah terbius oleh suara musik itu tidak menyadari, kecerdikannya yang biasa hebat seolah hilang sama sekali. Yipha Yauci berubah mukanya tetapi Pui Cie tetap tidak merasakan. Orang bertopeng berbaju indah itu mengangkat tangan, lalu didorongkan, sebuah tenaga dorongan yang luar biasa langsung menggulung dibelakang badan Pui Cie. Pui Cie yang sedang terbius oleh suara musik tidak keburu lagi bereaksi, badannya tersentak oleh tenaga bokongan, secara reflek badannya mencoba bergeser menghindar sambil mengangkat telapak tangan berbalik menyerang, tapi sudah terlambat setengah langkah,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tenaga dahsyat itu sudah melanda dirinya, dia terdorong kedepan empat sampai lima langkah. Bersamaan waktunya sesosok bayangan merah pun bergerak,"Yipha Yauci" sudah berada di samping belakang ketiga orang itu, di wajahnya sudah tidak ada senyum yang menawan, yang tampak hanya ada kegelisahan. Pui Cie berusaha menenangkan dirinya, terlihat jelas pembuluh darah di sekujur tubuhnya seolah-olah mau pecah, mukanya yang cakap menampilkan nafsu membunuh. Orang bertopeng yang berbaju indah ternyata adalah Shin Kiam Pangcu, ketua perkumpulan Pedang Iblis sedang di kiri kanannya berdiri seorang yang terpelajar setengah baya dan padri tua jengot panjang yang dia tidak kenal. Tipu daya! Tidak di sangka "Yipha Yauci bermain Phipa diatas puncak gunung merupakan siasat Shin Kiam Pangcu, kebencian baru dan dendam lama semua mendesak keulu hatinya "Berdebah" suaranya keluar dari celah celah giginya. Shin Kiam Pangcu tertawa berbahak-bahak sambil berkata, "Pui Cie, hari ini tibalah ajalmu". "Trang" terdengar suara Pa Kiam ( Pedang Bengis) di cabut Pui Cie dari sarungnya. Senja meninggalkan sedikit warna merah di ufuk sana, tirai malam mulai di turunkan, sorotan mata Pui Cie yang begitu gemas menyapu "Yipha Yauci" dia tidak bicara apa-apa tapi sudah tersirat jelas maksudnya. "Yipha Yauci "membalasnya dengan sebuah senyum aneh seperti tertawa tapi bukan tertawa. "Pedang Bengis tidak berampun," bersamaan dengan teriakan keras Pui Cie mengerakan Pedang Bengisnya, dengan suara menggelegar dia menyerang Shin Kiam Pangcu. Secepat kilat Shin Kiam Pangcu juga mencabut pedangnya untuk menahan serangan Pui Cie, terdengar suara bentrokan logam beradu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang memekakan telinga, kedua terdorong mundur selangkah. belah pihak masing-masing

Begitu Pui Cie mundur padri tua berjengot putih segera menggerakan tangannya melepaskan satu angin pukulan yang amat dahsyat dan menakutkan, Pui Cie mencoba memberi perlawanan tapi agak terlambat, tubuhnya terdorong jauh. Melihat ada kesempatan orang terpelajar setengah baya menggunakan kesempatan itu melepaskan satu pukulan pula, sehingga Pui Cie tak ada kesempatan berpikir dab menganti nafas lebih lanjut sudah terdorong lagi, ketika tubuhnya sempoyongan Shin Kiam Pangcu sudah menyerang lagi dan mengurungnya dengan menggerakan pedangnya.. Pui Cie dengan penuh amarah tergesa-desa mengangkat pedangnya menahan semua serangan, tapi karena tenaganya belum bisa terkumpul, kembali dia terdorong mundur tiga langkah besar sekarang tempat berdirinya berada di pinggir jurang yang dalam. Padri tua dan orang terpelajar setengah baya juga sudah mencabut pedangnya, tiga pedang berkilauan berbareng menyerang Pui Cie. "Yipha Yauci" hanya mengerutkan kening nya, dia tidak bergerak dia masih tetap berdiri ditempatnya semula. Pembuluh darah Pui Cie seolah-olah mau pecah menahan amarah akibat keroyokan ketiga lawannya, dengan mengatur nafasnya mengumpulkan tenaga Pui Cie bersiap-siap menyerang mempertaruhkan nyawa, bayangan orang berkelebatan, hawa pembunuhan terasa kental sekali. "Yeah" terdengar suara yang bergetar, tiga pedang menyerang bersamaan dari tiga penjuru. Untuk menghadapi seorang Shin Kiam Pangcu saja Pui Cie sudah kewalahan apalagi di tambah dua orang yang berilmu cukup hebat, dia menyadari keadaannya sangat gawat, segera dia memompa semua tenaganya yang tersimpan, dia mengeluarkan jurus-jurus Pedang Bengis yang pernah menggetarkan dunia persilatan,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terdengar suara beradu pedang yang bertubi-tubi hingga memekakan telinga, mereka kadang terlihat bergerak rapat kadang berjauhan. Muka Pui Cie mulai memerah, urat hijau di kening bermunculan. "Serang!" Shin Kiam Pangcu berteriak keras, tiga buah pedang menyerang bersamaan lagi, lebih ganas lagi, seperti angin puting beliung, bergulung-gulung memanjang ke langit. Keadaan menakjubkan ini hanya sebentar, Pui Cie sudah terdesak mundur jauh. Shin Kam Pangcu tertawa penuh kemenangan lalu berkata, "Pui Cie, mulai hari ini lenyaplah audah namamu di kalangan dunia persilatan!" Padri tua dengan suara seperti genta menggelegar juga menyahut, "Hong Shui disini juga baik sekali, tempat ideal untuk beristirahat selamanya." Orang terpelajar setengah baya dengan sinis berkata, "Pui Cie, kalau kau terjun sendiri ke jurang, mayatmu akan tetap lengkap." Pui Cie melototkan matanya seperti mau pecah, dalam keadaan hidup dan mati dia sedapat mungkin menahan diri, saat ini bila ada sedikit rasa gusar, maut akan langsung datang menghampirinya. Dalam kemilau sinar pedang, tiga mata pedang panjang sudah kembali menyerang laksana tiga gelombang laut. Tenaga tekanannya seperti gunung runtuh, Pui Cie terdesak mundur lagi tiga empat langkah. Sekarang tinggal sedikit lagi ke bibir jurang. Kemudian dalam teriakan yang gemuruh, gelombang, serangan keempat yang lebih dahsyat sudah dilancarkan. Pui Cie melawan sekuat tenaga tapi apa boleh buat menahan tiga pedang terlalu berat baginya, biar bagaimanapun hebat pedangnya, yang dulu bisa merajalela di dunia persilatan menghadapi tiga mata pedang yang telah bersatu, tekanannya sudah melebihi kemampuan yang dimiliki Pui Cie, dia tak kuasa menahan dan mundur terus.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci ikut menjerit sekuat tenaga. Langkah Pui Cie terakhir sudah tidak menginjak tanah, belum sempat menjerit badannya dengan cepat tergelincir jatuh ke dalam jurang. Shi Kiam Pangcu menengadahkan wajahnya ke langit sambil ketawa terus berkata, "Biang dendam telah dimusnahkan, aku sekarang bisa bernafas lega, tak disangka kali ini datang bertepatan dengan waktu yang baik bisa menyelesaikan masalah besar ini, atas bantuan anda bertiga aku mengucapkan banyak terimakasih!" selesai berkata itu dia tertawa lagi. Padri jenggot putih dan orang terpelajar setengah baya bersamasama berkata, "Pangcu jangan berkata begitu." Yipha Yauci diam tidak bersuara, dia termenung memandang kearah jurang yang tidak kelihatan dasarnya, seperti banyak persoalan yang dipikirkannya. Shin Kiam Pangcu dengan mata berbinar berkata, "Tetapi untuk urusan ini mohon anda bertiga merahasiakan dulu, sebab di belakang orang ini banyak kawannya yang sulit dihadapi." Waktu itu tiba-tiba muncul sebuah suara yang keras, "Kalau tidak mau orang lain tahu, janganlah melakukannya!" Empat orang ini kaget sekali, mereka saling berpandangan, kemudian memencar diri ke empat penjuru, tak lama kemudian setelah balik lagi ke tempat asal, dengan berat, Shin Kiam Pangcu berkata, "Aneh! Bayangannyapun tak terlihat.!" Padri tua dengan tersendat-sendat berkata, "Dengan keahlian kita berempat masih tak bisa menemukan bayangannya, berarti orang ini amat tangguh ilmu silatnya." Orang terpelajar setengah baya itu ikut menyambung, "Menurut pendapat Pangcu, siapakah kira-kira orang ini?" 0-0-0

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lolos dari tempat maut Shin Kiam Pangcu berkata, "Kalau mendengar suaranya umurnya tidaklah muda lagi, tapi sekarang belum bisa terpikirkan siapa dia..." "Creng!" tiba-tiba "Yipha Yauci" memetik senar sambil berkata, "Apakah perlu memeriksa mati hidupnya 'Pui Cie' dulu? Padri tua itu menyambung, "Di bawah patahan gunung ini adalah jurang terjal, tak ada jalan keluar, si keparat itu jatuh ke jurang pasti sudah hancur lebur, ada umur pun tak akan hidup lama, apalagi jurang ini dalamnya tak bisa diukur, bagaimana cara memeriksanya?" Orang terpelajar setengah baya dengan risau menyahut, "Sekarang yang perlu dikhawatirkan adalah si tua yang terdengar suaranya namun tidak terlihat bayangannya, masalah ini kalau sampai tersiar ke dunia persilatan akan mendatangkan banyak musuh bagi perkumpulan kita..." Tiba-tiba suara tua tapi kuat itu datang lagi, "Tidak itu saja, perkumpulan Shin Kiam Pang tidak akan luput dari nasib hancur lebur!" Suara ini seperti dekat tetapi jauh, seperti gema dari lembah gunung, sulit untuk menentukan orang itu darimana asalnya. Empat tokoh yang merasa wah ini saling berpandangan. Shin Kiam Pangcu dengan lantang, "Tuan jago darimana? silahkan keluarlah untuk bertemu!" Suara tua itu berkata, "Tidak perlu, aku orang tua tidak suka bertemu dengan orang asing, kita lihat saja permainan bagus ini di kemudian hari." Padri tua jenggot putih dengan suara keras berkata, "Berkata dengan sembunyi-sembunyi orang macam apa itu?" Tapi tidak ada reaksi atas omongannya, entah sudah pergi atau tidak mau menjawab. Shin Kiam Pangcu dengan tangan memanggil ketiganya untuk mendekat dengan suara yang amat rendah berkata, "Kita berpencar

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mencari, bagaimanapun juga harus ketemu, begitu bertemu langsung memberi tanda." Keempat orang itu melompat berpencar, perbukitan itu kembali sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dalam kegelapan malam, seseorang yang kurus kecil muncul di bibir jurang, melompat kebawah, menghela nafas sebentar kemudian menghilang. 0-0-0 Pui Cie yang terjatuh ke jurang setelah diserang tiga orang musuhnya, badannya meluncur lebih cepat seperti bintang yang jatuh, bagi seorang yang mahir ilmu silatnya, dia merasa ada semacam cara untuk menahan luncurannya, dengan menyepakan kaki bersalto beberapa kali untuk mengurangi kecepatan, tentu ini hanya gerakan reflek saja, hidup atau matinya tidak bisa ditentukan olehnya sendiri. "Plang!" Badannya terhempas di atas sebuah benda empuk, kemudian menggelinding ke bawah. Selanjutnya terdengar suara merintih yang rendah dan pendek. Ajaib! Tidak mati terjatuh sungguh ajaib, Pui Cie setelah menenangkan diri dan perlahan barulah dia duduk, begitu dilihat disisi badannya ada orang yang telungkup, sadarlah dia, ternyata dia jatuh menghantam badan orang ini sehingga terhindarlah dia dari maut, ini adalah suatu keajaiban, anugrah Tuhan. Seputar tempat ini penuh batu runcing, bergeser sedikit saja pastilah kepalanya hancur dan tulangnya remuk, tak mungkin lagi bisa hidup. Karena masih merasa ngeri, sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Siapakah dia? Kenapa bisa berada di dalam jurang ini? Setelah tenang, dia memeriksa sekelilingnya dengan mata dan menjipit, ternyata orang ini adalah Ke Co Ing yang membantu Shin

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kiam Pangcu menjadi pembunuh bayaran, juga sebagai kekasih gelap Ma Gwe Kiau, bagaimana dia bisa jatuh juga kesini? Kaki dan tangan Ke Co Ing bergoyang beberapa kali lalu dia membuka mulut dan berkata,"siapa yang mengejar kesini menemaniku?" Suaranya sangat lemah. Pui Cie berdiri, mengigit bibirnya kencang-kencang dengan suara menggigil berkata, "Ke Co Ing, di dunia ini jalanan lebar, tapi buat kau dan aku, jalanan itu terasa sempit sekali." Dengan membuka mata yang sayu dan berputar-putar Ke Co Ing tertawa, "Hebat! Pui Cie sungguh hebat!" "Benar hebat, menghemat tenagaku mencari dirimu!" "Kau., mau membunuh orang?" "Betul, kalau tidak membunuhmu, apa jadinya nanti?" "Bagus! Ini bisa., bisa mengurangi penderitaanku, tetapi kau juga tidak akan bisa hidup lama, ini adalah sumur raksasa alami.. Kecuali ketiakmu bisa tumbuh sepasang sayap, kalau tidak, kau takkan bisa terbang keluar." "Itu masalah lain, Ke Co Ing, kenapa Ma Gwe Kiau orang yang sadis itu tidak bersamamu? Kalian biasa bersama-sama sehidup semati." "Pui Cie, ada kau menemaniku disini, menyenangkan sekali." "Dengar, orang yang bermarga Ke, kenapa kau menyuruh orang mengembalikan buku pusaka?" "Aku., tidak membutuhkan!" "Setengah bukupun tidak mau?" "Kau., juga sudah tahu?" "Setengah buku lagi ada dimana?" "Tidak., tahu!" Dua matanya menutup lagi nafasnya seperti mau putus.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie memandang lagi ke atas, benar-benar seperti duduk di dasar sumur, hanya terlihat sekerat langit, diatas langit bintang berkelap kelip, empat sisi dindingnya licin seperti dipapas pisau, kaki dinding menyusut ke samping, benar-benar tempat yang strategis, ilmu setinggi langitpun takkan bisa keluar, hatinya jadi menciut, samar-samar dia seperti sudah bisa melihat nasibnya sendiri. Saat ini dia kalau mau membunuh Ke Co Ing adalah mudah sekali tetapi dia tidak tega, mereka sekarang senasib, menanti kematian. Ke Co Ing membuka lagi matanya, dengan susah dia berkata, "Pui Cie, kau masih., menunggu apa? Cepat lakukan..!" Pui Cie dengan gemas mengadukan giginya, bertanya, "Ke Co Ing, kenapa kau bisa jatuh kesini?" Ke Co Ing dengan nafas tersengal-sengal berkata, "Ini...adalah perbuatan... Shin Kiam Pangcu..." Pui Cie jadi gergetum, dia juga terkena siasat Shin Kiam Pangcu. Karena Ke Co Ing merebut istri Shin Kiam Pangcu yaitu Ma Gwe Kiau. Kemarahannya tentu saja membuat Shin Kiam Pangcu mesti membunuhnya, baru puas hatinya, kalau begitu, Ke Co Ing juga yang menjadi target Shin Kiam Pangcu, dirinya juga hanya kebetulan saja menjadi sasaran, berfikir sampai begitu dengan suara gemetar bertanya lagi, "Siapa Shin Kiam Pangcu yang sebenarnya? bagaimana asal usulnya?" "Kau., ingin tahu?" "Tentu" "Aku... tentu., akan beritahu padamu... supaya kau., mati bisa., dengan mata meram...!" Pui Cie gemetaran, dengan nada keras menyentak berkata, "Siapa dia?" Ke Co Ing berkata dengan terpatah-patah berkata, "Pedang Nomor Satu Phei Chen."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie seperti tersambar petir, badan sempoyongan dan menjerit, "jadi dia adalah Phei Cen!" Ke Co Ing dengan sinis berkata, "Kau... sekarang bisa...menutup matakah?" Pui Cie seperti sudah gila, dia menjerit mengangkat tangan langsung dipukulkan, terbang melayanglah badan Ke Co Ing, terhempas jauh seperti seekor anjing mati tidak bersuara lagi dia tadinya sudah sekarat, mana bisa tahan terkena pukulan Pui Cie yang seperti lagi kerasukan setan. "Duk" Pui Cie terduduk, sekujur tubuhnya terasa lelah sekali. Nama baik perguruannya masih belum pulih, tak disangka malah bertambah hancur di tangan si berdebah itu! Betul-betul matipun takkan menutup mata. Entah sudah berapa lama, Pui Cie menjerit sejadi-jadinya, "Phei Cen, aku akan membunuhmu!" Bergemalah suaranya di empat dinding itu, bunuh kau..bunuh kau... Sesudah agak tenang, dia berdiri lagi, memekik dengan gigi gemertakan, "Aku tak boleh mati aku harus keluar aku mau membersihkan nama baik perguruan dan menghukum Phei Cen sesuai dengan tata tertib perguruan!" Suara gemanya muncul lagi, tata tertib...tata tertib... seperti mempermalukan nasib, dia sedikit menyesal dia seharusnya lebih banyak menanyai Ke Co Ing, tetapi setelah dipikirkan kembali sepertinya berlebihan, sudah pasti diapun akan menemui ajal disitu, tahu banyak atau tahu sedikit pun tidak ada gunanya. Pelan-pelan dia tenang kembali, tapi bayangan maut masih menyelimuti hatinya terus, dia berpikir bolak balik masalah yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, mengingat setiap orang yang dia kenal, tidak ada sarupun yang dia rindukan saat menjelang kematianya, dia merasa sendirian dan kesepian, didunia ini siapa yang akan meratapi kehilangan nyawanya?Lie Se Kian hanya nama saja sebagai istri, hubungannya terputus setelah ibunya meninggal,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ istrinya yang sebenarnya ialah Hie Ki Hong. Mereka dinikahkan secara tidak wajar dipaksa oleh ayah angkatnya, San Chai Men Cu. Tapi hubungan mereka sebenarnya tidak dilandasi oleh kasih sayang. Kalau mau dibilang yang nanti betul-betul sedih akan kematianya adalah bibinya Nam Kong Phang Teng, tapi diapun seorang wanita yang bernasib tragis juga. Mempertahankan hidup adalah kemampuan yang dimiliki setiap manusia, biar bagaimanapun sebelum harapan itu benar-benar putus, orang tetap akan mencarinya. Pui Cie mulai berkeliling mencari harapan. Bersamaan waktunya di atas bukit jurang muncul sebuah bayangan aneh, seperti sebuah bola sedang menggelinding, pas berhenti di bibir jurang, bayangan aneh itu berobah menjadi seorang tua yang kurus, karena tubuhnya memanggul segulung besar rotan hutan maka kelihatan bayangannya agak aneh. Sekarang bila dilihat dari dekat ternyata dia adalah seorang tua berambut putih, dia muncul waktu Pui Cie terjatuh ke dalam jurang. Orang tua rambut putih itu berguman sendiri, "Dia tidak boleh mati begitu saja, terlalu kejam kalau dia harus mati dengan cara ini, tapi siapa yang tahu dia sekarang hidup atau mati? Biarkanlah saja kuda yang sudah mati, cobakah selamatkan kuda yang masih hidup. Setelah itu dia mengulurkan rotan hutan itu ke dasar jurang, segulung demi segulung sampai habis. Dia berguman lagi, "Entah cukup panjang tidak? Kalau orangnya masih hidup dia akan menemukan rotan yang menjuntai ini" Di dasar jurang saat itu Pui Cie sedang bimbang dan putus harapan, mendadak dia melihatkan sebuah benda seperti tali menjulur dari atas jurang ke bawah.tak terasa dia menjerit, "Wah!" Di tempat begini, selain ular, ada apa lagi? Benda yang seperti tali itu berhenti di tengah-tengah, jarak ke dasar jurang masih cukup jauh.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie tangannya sudah memegang pedang, dia melihat ke atas, benda itu terjuntai begitu saja tak bergoyang lagi. "Bruk" sebuah suara keras terdengar diikuti segumpal bola api, Pui Cie sangat kaget dia mencari tahu, ternyata sebuah batu besar jatuh dari atas. Batu itu tergelincir jatuh sendiri atau ada orang sengaja menjatuhkannya ke jurang ini?Atau terbawa jatuh oleh ular yang merayap itu? Pui Cie memutar otak terus, akhirnya dapatlah dia sebuah akal, benda panjang itu dilemparnya dengan, sebuah batu karena terkena lemparan barang itu goyang-goyang sebentar lalu diam lagi, kalau itu barang hidup tak mungkin tak bereaksi, tapi benda apakah itu? Berada di tempat yang tragis dengan harapan hidup tipis apalagi yang perlu ditakuti? Pui Cie sudah tak pikir banyak lagi dia mau lihat benda apa itu setelah, dia mengumpulkan semua tenaga, melompat ke atas kirakira 10 meteran dia memutarkan badan, kakinya menerjang dinding jurang, memutar lagi dan seterusnya sampai dia dapat meraih benda panjang itu, sekujur tubuhnya sekarang menggelantung di udara, yang dia raih ternyata adalah rotan gunung, senangnya bukan main harapan mencari kehidupan membara lagi, kedua tangannya bergantian mengikuti rotan itu naik ke atas. Sebuah keajaiban lagi, dia bisa keluar dari jurang dan menghirup udara bebas lagi. Tidak ada seorangpun di atas jurang, rotan itu diikat di sebuah batu yang menjorok ke luar. Karena kaget bercampur gembira gemetarlah seluruh badan Pui Cie, matanya menyapu empat penjuru. Dia berpikir, "Siapakah yang mengulurkan rotan untuk menolong dirinya? Kenapa orangnya tak ada disini?" selagi berfikir begitu dia tak terasa bertanya, "Siapakah yang menolongku?" Berturut-turut tiga kali dia bertanya, tapi tidak ada sahutan. Dia tidak habis pikir, orang ini menolong tapi tak mau menampakkan diri, orang ini bisa menolong dengan rotan pasti dia

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ melihat kejadian dirinya jatuh ke dalam jurang, mengumpulkan rotan lima puluh meteran bukan satu usaha yang mudah, apakah setelah mengulurkan rotan ke bawah karena tidak ada reaksi apa-apa, dikiranya usahanya sia-sia lalu di tinggal pergi, ini menurut perkiraannya yang masuk diakal. "Siapa ya? Siapa ya?...", Pui Cie bertanya dalam hati, tidak terpikirkan sedikitpun siapa orang yang menolongnya. Di ufuk timur langit mulai memutih, subuh segera tiba. Karena tak terpikir siapa yang menolong, teka teki ini sementara disimpan di lubuk hati. Teringat lagi kata-kata Ke Co Ing sebelum mati, darah dalam dadanya mulai bergejolak lagi, dengan tidak sengaja terbukalah tabir rahasia Shin Kiam Pangcu yang sebenarnya, sebuah hasil yang luar biasa. Banyak sekali kecurigaan yang dulu mengganjal sekarang sudah mendapatkan jawaban, pantas Shin Kiam Pangcu selalu memakai topeng untuk mengelabui orang, ternyata dia adalah pengkhianat perguruannya, selama duapuluh tahun ini tidak tercium jejaknya, begitu rapi dia menyimpan rahasia, sepertinya dari dulu tak ada orang seperti dia, dikemudian haripun takan ada orang yang dapat menyamainya. Pui Cie menggigit rapat-rapat mulutnya, dia berpikir lagi, "Phei Chen begitu melihatku, langsung tahu jati diriku dan memcoba membunuhku, aku yang tertipu dari awal sampai akhir tidak tahu bahwa Shin Kiam Pangcu adalah jelmaan Phei Chen. Demi mendapatkan sebuah buku ilmu silat yang tiada taranya, dia menyerang markas Khang-Khang Mui ketika anak buahnya sedang beristirahat, mereka diserang dan semuabta terbunuh, dia berhasil merebut setengah buku pusaka ilmu silat pada bagian belakang, kalau dia berhasil menguasainya dia akan seperti macan tumbuh sayap, nantinya untuk melawan dia amatlah sulit. Apakah sekarang dia masih berada di gunung ini...?" Berikir sampai disitu, dia menunda dulu penyelidikan bagaimana dia bisa tertolong, cepat-cepat dia meninggalkan bukit, berjalan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tanpa tujuan dengan harapan bisa menemukan jejak Phei Chen dan kawan-kawannya. Bayangan Yipha Yauci menghantuinya, dengan gemas dia berpikir,"Kalau bukan wanita siluman ini, aku takkan terjerumus ke dalam jurang dan hampir kehilangan nyawa, kalau ketemu dengannya lagi aku akan bunuhnya, dua orang lagi yang mencoba membunuh yaitu padri tua jenggot putih dan orang terpelajar setengah baya, mereka berilmu silat cukup hebat, tapi tidak tahu bagaimana asal usulnya, bagaimana mereka bisa diperalat oleh Phei Chen?" Sampai siang, dia sudah memeriksa beberapa puluh mil hutan pegunungan, sedikitpun tidak menemukan apa-apa, terpaksa dia putar haluan menuju keluar gunung. Sesudah keluar, yang pertama tama dia lakukan adalah mencari makanan dulu, masuklah dia ke kampung terdekat. Sambil makan dia berencana, apa langsung ke Cao Yang yang menjadi Pusat Perkumpulan Shin Kiam Pang nya Phei Chen? Sekarang langkahku sulit mengelabui intaiannya, harus menggunakan akal apa untuk mengelabui semua ini? Hatinya menjadi kesal dan kacau, sampai terasa ada seseorang yang begitu dikenal tiba didepan matanya, dengan perasaan senang dia menemuinya, "Tu Sing Sien" seorang cianpwe yang seangkatan dengan ayahnya. Pui Cie seperti menemukan kerabat di kampung orang, dia berdiri menyambut kedatangannya dan berkata, "Cianpwe, apa kabar? Senang berjumpa anda disini!" "Tu Sing Sien" mengangguk-anggukan kepalanya, langsung menuju meja dan duduk disebelah Pui Cie. "Kebetulan sekali bisa ketemu denganmu disini." Setelah pelayan mengantarkan sayur dan arak, orang muda dan orang tua itu mulai minum bersama. Tu Sing Sien minum terus tidak berkata-kata.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie tiba-tiba teringat belum lama ini telah ada orang yang menyamar sebagai dirinya, membunuh anak buah Ying Ce Jin, Saudara seperguruannya Tu Sing Sien , 5 orang tua dan 3 orang anak muda terbunuh, orang itu juga berhasil mencuri setengah buku pusaka yang tiada taranya, karena salah paham ini hampir terjadi pertumpahan darah dengan dirinya, diduga semua perbuatan ini adalah perbuatan Phei Cen dan anak buahnya. Pui Cie menjadi tidak enak berdiam diri terus, setelah berturutturut minum tiga cawan, dia mulai berkata, "Wanpwe sudah mengetahui dimana keberadaan Phei Cen?" Mata Tu Sing Sien berbinar ."Benar?" "Benar, sedikitpun tidak meleset!" "Bagaimana bisa mendapatkan beritanya?" "Yang mengatakannya ialah Ke Co Ing, dia menjabat sebagai pembunuh bayaran di Shin Kiam Pang dia bercerita semua sebelum ajalnya tiba. "Ow.. Coba ceritakan." Pui Cie mulai cerita dari ketika dia memenuhi permintaan Sastrawan Pengecut masuk gunung Pinus sampai terbujuk suara piphanya Yipha Yauci, terkena perangkap kemudian jatuh kejurang semuanya tidak ada yang terlewat. Setelah mendengar semuanya Tu Sing Sien dengan keras memukul meja dan berkata, "Tak disangka! Sungguh tak disangka! Phei Chen selama dua puluh tahun menyamar dan mengelabui semua orang, kalau bukan kebetulan kita tidak mungkin bisa membuka kedok dia, kalau begitu, kita harus... merubah semua strategi." Saat ini masuklah dua orang tamu yang penanpilannya seperti ayah dan anak, penanpilannya seperti orang kampung, orang yang lebih tua begitu melihat Pui Cie merasa kaget sekali, cepat-cepat dia menarik pemuda di sisinya, memberi isyarat dengan mata lalu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkata, "Nak, aku mendadak teringat sesuatu urusan, harus segera diselesaikan lain kali saja kita makan disini." Pemuda itu juga melihat Pui Cie, wajahnya ikut berubah, menjawab, "Ayah, ayo kita jalan lagi." Pui Cie sama sekali tidak melihat perubahan wajah sepasang ayah dan anak itu, dia berkata, "Cianpwe, anda barusan bilang..." Tu Sing Sien mengangkat tangannya berkata, "Tutup mulut dulu, ada apa-apa nanti kita bicarakan lagi." Pui Cie tercengang. Ayah dan anak itu melihat lagi kepada Pui Cie, kemudian pergi dengan tergesa-gesa. Tu Sing Sien memanggil pelayan dan membayar makanan, sambil berdiri dia berkata, "Ayo kita jalan!" Pui Cie dibuat bingung ikut-ikutan berdiri keluar warung, tapi dia tidak tahan bertanya," Cianpwe, ada apa ini?" "Ikuti sepasang ayah anak itu jangan sampai lepas." "Ini..." "Cepat!" Dua orang itu dari jauh membuntuti, tidak lama sampailah di sebuah tempat sepi di pinggir gunung, Tu Sing Sien berkata, "Cepat sedikit habisi kedua ayah dan anak itu!" Pui Cie berdebar hatinya, dengan suara gemetar, "Membunuh mereka?" 0-0-0 Menyamar Thu Sing Sien mengedipkan matanya, "Kenapa? Kau tidak berani membunuh? Hayo cepat! Jangan memberi mereka kesempatan untuk menyampaikan berita ini."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hati Pui Cie terguncang, "Menyampaikan berita?... Janganjangan.." Thu Sing Sien mendesak, "Mereka adalah mata-mata Shin Kiam Pangcu, mengerti?" Pui Cie begitu mendengar tidak banyak berfikir lagi, secepat angin dia mengejar dan menghadang di depan mereka. Si tua dan anak muda itu sama-sama menjerit kaget, muka mereka kelihatan ngeri dan takut, dengan suara gemetar si tua berkata, "Anak muda, mengapa menghalangi jalan kami ayah dan anak?" Pui Cie dengan dingin menjawab, "Bukankah kalian mau pergi melaporkan bahwa Pui Cie masih hidup?" Dua orang tua muda ini dengan muka pucat pasi mundur terus, yang muda berkata, "Orang muda, kami ayah dan anak., orang baikbaik... dalam gunung ini, kau... bilang apa... kami tidak mengerti.." Thu Sing Sien mendekat dan memotong perkataan, "Menjadi mata-mata Shin Kiam Pang yang sudah banyak melakukan kejahatan, sekarang mati juga tidak berlebihan." Habis bicara, dia menatap Pui Cie, "Apa yang masih kau tunggu?" Dua orang mata-mata tua dan muda melejit kesamping mencoba meloloskan diri.. Pui Cie merobah posisinya, jari jarinya bergerak seperti mengeluarkan aliran listrik, terdengar dua kali suara mengaduh, jatuhlah kedua orang itu ke tanah. Kata Thu Sing Sien, "Cepat seret ke pinggir hutan dan kuburkan!" Pui Cie menurut, ditariknya kedua mayat mata-mata itu ke pinggir hutan, lalu menggali lubang dan menguburnya, tanah di atasnya dirapikan lalu ditutupi dengan ranting-ranting kering dan dedaunan dengan cepat. Thu Sing Sien berdiri dipinggir dan mengacungkan jempol, "Nah, ini baru namanya bekerja!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie dengan pelan bertanya, "Cianpwe, kenapa., mereka tidak diinterogasi dulu?" Thu Sing Sien melongok keluar hutan berkata, "Di daerah ini sekarang banyak mata-mata, gerak gerik kita tidak boleh ketahuan mereka, apalagi tentang dirimu yang masih hidup." Pui Cie mengangguk-angguk dengan terharu, dia bertanya lagi, "Apakah rombongan Shin Kiam Pang masih berada disekitar sini?" "Ya, itu sudah pasti!" "Apa maksud tujuan operasi mereka ini?" "Mereka sedang mencari jejak Tuan Chang Hua Ma Gwe Kiau." "Ma Gwe Kiau bersembunyi di hutan pohon pinus ini?" "Sudah tentu, kalau tidak mana mungkin Ke Co Ing bisa mati didalam jurang?" "Cianpwe sudah., tahu semua?" "Tahu operasi mereka tapi tidak tahu ketua Shin Kiam Pang yang sakti adalah Phei Cen." "Tadi di warung Cianpwe bilang semua rencana harus diubah.." "Ya, kalau tidak bertemu dirimu, aku dapat sedikit kabar saja sudah puas, tapi sekarang setelah tahu Shin Kiam Pangcu adalah Phei Cen, urusan jadi lain persoalannya." Sesudah pikir bolak balik Pui Cie. berkata, "Maksud Cianpwe.. kita harus melakukan apa dulu?" Thu Sing Sien menggoyang-goyang tangan, "Jangan bilang kita berdua, yang bertindak adalah dirimu, aku hanya mendukung saja, tidak ikut-ikutan." Dengan ketawa kikuk Pui Cie berkata, "Wanpwe tahu peraturan Cianpwe tak boleh dilanggar, tapi Wanpwe ingin tahu siapa mereka yang menjadi pengikut Shin Kiam.."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tu Sing Sien mengangkat bahu, "Masalah kedua orang ini, orang terpelajar itu adalah Ti Kuang Beng dengan panggilan Kui Siu Chai (Sastrawan Iblis), di dunia persilatan selatan, tak ada orang yang mau berurusan dengan bajingan ini, dia bengis luar biasa, cerdik banyak akal, sedangkan Padri tua itu adalah Guan Cen Ce dari aliran Kong Tong yang sudah kesohor namanya sebagai Padri cabul, dia penjahat dari luar daerah, anak kecil kalau malam hari tak berani menangis bila mendengar namanya.." Pui Cie menghela nafas,"yang wanita itu.." "Yipha Yauci?" "Ya, menurut Wanpwe seharusnya umur dia sudah uzur.." "Kau salah, dia bukan Yipha Yauci yang sebenarnya, tapi penerusnya namanya Liu Siang E, tapi dia tetap memakai panggilan siluman tua itu." "O, begitu.." "Binatang sejenis selalu bersatu, serigala dan rubah sama saja." Terdiam sekian lama, Pui Cie bicara lagi, "Wanpwe tidak habis pikir, siapakah yang mengulurkan rotan untuk menolongku?" Thu Sing Sien dengan tenang berkata, "Kalau tidak terpikirkan biarkan saja nanti juga akan ketahuan, pokoknya tentu bukan musuh, kalau musuh tak mungkin mau menolong, sekarang kita bicarakan yang serius saja, asal usul Shin Kiam Pangcu yang tahu hanya kau dan aku, kau bisa lolos dari maut tidak ada orang ketiga yang tahu, makanya..." Pui Cie sudah tidak sabar, "Makanya bagaimana?" Thu Sing Sien bilang, "Sementara menyamar!" "Menyamar?" "Ya, kalau tidak percuma kau mati satu kali, juga jangan berharap bertemu dengan Phei Cen, asal dia tahu kau masih hidup, sulit dibayangkan dia akan bertindak seperti apa padamu."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ya, ini., sudah bisa ditebak, tapi bagaimana caranya merobah penampilan?" "Hei.. Hei.. ini kan keahlianku!" sambil merogoh baju depan mengeluarkan sebuah botol poselen kecil ditumpahkan keluar 2 butir pil sebesar biji lengkeng hitam dan putih, dia berkata, "Pil merobah warna ini tidak mudah didapat, seumur hidupku baru satu kali memakai 2 butir, sekarang sisa empat butir, untukmu dua butir, sisa 2 butir terakhir..." "Pil merubah warna?" "Eh! di dunia persilatan tidak banyak orang yang pernah mendengar barang ini, yang hitam begitu diminum, kulit langsung berobah, yang putih untuk kembali ke bentuk semula, setelah berubah tidak takut kena sinar matahari dan air, kehidupan seharihari tidak terganggu, ini teknik terbaik di bidang merobah wajah." "Sekarang kau minum yang hitam, yang putih disimpan baik-baik, kalau tidak seumur hidupmu jangan harap bisa kembali lagi kewajahmu seperti semula." Setelah diterima, Pui Cie ragu juga, tapi akhirnya dikunyah dan ditelan juga pil itu dengan air liur, yang putih dia simpan baik-baik dalam bajunya. Thu Sing Sien mengeluarkan sebuah baju sutra ungu, diberikannya kepada Pui Cie, "Coba pakai dulu baju ini, mungkin cocok dengan tubuhmu." Dengan kagum Pui Cie berujar, "Cianpwe... Sudah mempersiapkan semuanya?" Thu Sing Sien menjawabnya, "Cobalah dulu, ini tidak khusus untukmu." Pui Cie menerimanya dengan mencoba, ternyata pas sekali seperti dibuat menurut ukuran badannya, tiba-tiba dia melihat warna kulit kedua buah tangannya menjadi coklat, dan kulit wajahnya juga ikut berubah, dengan kaget dia berkata, "Benar-benar ajaib.." belum selesai dia berkata, suaranya menjadi serak-serak seperti suara orang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ lain, asing sekali rasanya, pil itu bukan saja telah merobah warna kulit dan mukanya, ternyata suaranya pun ikut berobah, luar biasa. Thu Sing Sien berseri-seri, "Berhasil!" katanya. Pui Cie dengan semangat tinggi berkata, "Kita bisa bergerak leluasa sekarang." Thu Sing Sien dengan tegas berkata, "Dengar! kau sekarang sudah jadi orang yang lain, baik-baiklah dengan jati dirimu ini, jangan bertindak sembarangan sebelum yakin benar, kalau gagal tidak ada kesempatan kedua kali, semua menjadi sulit, kalau mereka bertiga melawan dirimu lagi, jangan harap mendapat keberuntungan lagi." Pui Cie dengan cepat menjawab, "Terima kasih Cianpwe, atas nasihatnya." Thu Sing Sien mengangguk, "Sekarang kita berpisah, ingat, jangan bergaul dengan orang yang tidak kau kenal karena musuh masih berada dalam gunung pinus ini pergilah mengadu nasibl'dia berhenti sejenak lalu berkata lagi, "Jangan terlalu mengandalkan ilmu silat, jalan yang terbaik, gunakanlah kecerdasanmu dengan akal dan sedapat mungkin menguasai diri emosi sendiri, menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, tidak ceroboh, tidak serampangan, bisa menahan diri, kalau kau bisa melaksanakan semuanya kau akan mendapatkan hasil yang memuaskan, pergilah!" Pui Cie bersoja, "Kata-kata Cianpwe akan Wanpwe ingat selalu, dan Wanpwe juga sudah banyak mengerti sekarang, terimakasih Cianpwe, sampai jumpa!" "Tunggu!" "Cianpwe, masih mau pesan apa lagi?" "Masalah orang-orang perguruanku yang terbunuh, semuanya masih belum jelas, jangan lupa menyelidiki juga, harus ingat itu!" Pui Cie menarik nafas panjang, "Wanpwe takkan lupa semua!" Thu Sing Sien mengibas-ngibaskan lengannya, "Pergilah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie memberi lagi hormat, dia segera keluar hutan menuju jalan keluar gunung, petuah Thu Sing Sien banyak memberi inspirasi baginya, sekarang dia merasa lebih dewasa, perbuatannya yang sudah-sudah terasa sangat ceroboh, hanya mengandalkan tenaga dan keberanian saja mau jadi seorang pesilat sejati, masih terlalu jauh rasanya, dengan sedikit petuah tadi, dia merasa telah merobah semua emosi dirinya. Setelah memasuki daerah pegunungan tidak ada lagi tujuannya, karena dia tidak mendapatkan jejak lawan, dia hanya mengadu nasib saja. Menurut pendapat Thu Sing Sien, Phei Cen membawa banyak jagoan ke gunung ini tujuan utamanya untuk menangkap Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau. Sekarang Ke Co Ing sudah mati di jurang, sasarannya hanya tinggal Ma Gwe Kiau, yang aneh kenapa Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau bisa berpisah dan jalan sendiri-sendiri? Apa kedua belah pihak sudah berselisih, Ma Gwe Kiau karena tidak tahan terus ditinggal pergi? Tapi dia adalah seorang ahli racun, apa yang diandalkan Phei Cen dan kawan-kawannya?" Pui Cie melamun sendiri, "Aku bersumpah Ma Gwe Kiau juga merupakan sasaran diriku untuk dibunuh, sekarang bisa berhasil atau tidak susah ditentukan." Pui Cie jalan dan berjalan lagi, tiba-tiba ada suara dentingan phipa terdengar. Suara phipa pernah menarik dia masuk kejalan kematian, rasa kesal masih membara di dadanya, sekelilingnya di selidiki, dengan tidak sengaja dia berada lagi di depan puncak gunung tunggal, alamat yang sama tempat Yipha Yauci berphipa, untuk apa? Bersiasat lagi? Sasarannya siapa? Masih berfikir begitu dia sudah meluncur naik ke puncak gunung. Di atas puncak, dipinggir batu terjal, di atas batu yang sama, sesosok bayangan merah menyala sedang main phipa, suaranya begitu sedih dan menyayat, dalam terpaan matahari senja suasana begitu mengharukan. Pui Cie mengadukan gigi-giginya, dia berfikir di dalam hati. "aku akan membunuhmu!" tapi sekilas pikiran yang lain

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menghampirinya, Yipha Yauci bukan sasaran utamanya, kalau dibunuh bisa jadi masalah, sekarang wajahnya sendiri juga sudah berubah, untuk sementara lebih baik bersabar dulu, jika dirinya bisa memancing Phei Cen keluar, itu baru sukses. Sesudah pikir kesana baru berkurang rasa kesal dan dendamnya. Dia meneliti, memandang sekeliling, rotan yang melilit di batu itu sudah tidak ada. Suara phipa mendadak berubah menjadi keras, seperti hujan angin tiba, petir dan guntur bersahutan. Perasaan Pui Cie pun mulai gelisah, bergulung-gulung bersama alunan suara itu, seperti mau mendidih, darah seolah-olah mau menyembur, masih ada sedikit ingatan dia merasa ada yang tidak beres cepat-cepat dia menggunakan tenaga dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya, mengusir perasaan buruk, melawan suara phipa dengan kekuatan tenaga dalamnya. Kira-kira waktu seperminuman teh, suara phipa mendadak berhenti, sekujur tubuh Pui Cie sudah basah kuyup oleh keringat dingin, dia bergumam, "Alunan musik maut yang lihai sekali, kalau tenagaku kurang mantap pastilah akan mati karena darahnya bisa mengalir terbalik arah." Yipha Yauci pelan-pelan berdiri dan menoleh. Wajah yang penuh pesona, tubuh yang begitu indah, tergentarlah hati Pui Cie. Suaranya seperti anak burung sangat memikat, sepasang alis Yipha dikerutkan dan berkata, "Tenaga dalammu cukup mantap kau berasal darimana?" Pui Cie hampir lupa dirinya sudah berubah rupa, mulut sudah terbuka tapi segera sadar kembali, dengan dingin dia berkata, "Murid dan guru satu aliran, nona penerus Yipha Yauci kan?" Yipha Yauci dengan kaget berkata, "Luas juga pandanganmu!" dia berkata begitu berarti mengakui jati dirinya, sejenak kemudian dia berkata, "Tuan pasti bukan orang sembarangan."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie asal tertawa, "Nona keliru, aku orang kecil di dunia persilatan, belum punya nama apalagi gelar." Yipha Yauci pelan-pelan bergeser ke dekat Pui Cie, dia memandang sejenak, keningnya dikerutkan lagi. orang berbaju ungu dengan wajah gelap ini sungguh tak sedap dipandang, dengan wajah asam dia berkata, "Siapakah tuan sebenarnya?" Pui Cie berfikir sejenak berkata, "Si Baju Ungu." Yipha Yauci menyunggingkan mulutnya, "Belum pernah kudengar nama ini." Pui Cie seraya bilang, "Aku kan tadi sudah bilang, aku orang kecil yang tidak dikenal orang di dunia persilatan." "Tapi tenaga dalammu cukup bagus." "Terlalu memuji!" , "Mau apa kau kesini?" "Cari orang!" "Cari siapa?" Pui Cie sengaja mengangkat alis, "Pui Cie!" Yipha Yauci kaget sekali, "Tuan mau mencari Pui Cie?" "Betul!" "Ada apa?" "Mau menantangnya!" "Menantang?" "En!" "Kenapa begitu?" Pui Cie langsung membual, "Pui Cie selalu bilang Pa Kiam (pedang bengis) tidak ada lawannya, aku mau buktikannya sendiri." Yipha Yauci mula-mula tercengang lalu tertawa, "Bagus, ide yang bagus, jika bisa mengalahkan Pui Cie maka dalam semalam saja kau

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ akan langsung kesohor, Tuan ingin cepat punya nama besar di dunia persilatan, sayang hasrat Tuan takkan tercapai selamanya!" Pui Cie pura-pura terkejut, "Apa artinya nona berkata begitu?" Wajah Yipha Yauci muram, "Sayang dia sudah meninggal." "Apa? Dia.. Dia meninggal?" "Ya! Jenazahnya ada di bawah jurang ini." "Siapa., yang bisa mendesak Pui Cie jatuh ke dalam jurang?" "Tuan tak perlu tahu." "Sayang, em! Ini pasti siasat, mungkin nona yang.." Yipha Yauci membelalakan kedua bola matanya, ada keinginan membunuh tapi tak lama wajahnya muram lagi dan dengan lesu berkata, "Aku memang salah, seharusnya jangan menghiraukan yang lain tapi menolongnya, sekarang terlambat sudah..." Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang tidak pantas dikatakan dengan suara keras memekik, "Kenapa aku jadi berkata begini padamu.. Apa maksudmu sebenarnya?" Melihat wajahnya hati Pui Cie bergetar, dengan suara rendah dia berkata, "Aku tadi sudah berkata mau bertarung pedang dengannya." "Kenapa kau bisa datang ke gunung ini mencari dia?" "Aku dengar dia ada di gunung ini maka aku mencarinya?" "Begitukah?" "Aneh benar pertanyaan nona masa ada sebab yang lain? Orangnya juga sudah mati, apa yang mau dikatakan lagi? Tapi kenapa nona bermain phipa disini?" Yipha Yauci memalingkan badan menghadap kejurang, dengan sedih berkata, "Memainkan sebuah lagu untuknya, menyatakan hatiku yang berduka padanya." Hati Pui Cie tersentak lagi, pikirannya melayang, "Mungkin dia yang mengulurkan rotan hutan ke jurang untuk menolong diriku?

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mungkin setelah menurunkan rotan dia tidak melihat ada orang naik jadi dia lalu pergi, tapi diakan yang membikin perangkap sehingga aku terjebak, mengapa dia harus berbuat begitu?" setelah dia berfikir begitu lalu dia memancingnya, "Mendengar perkataan nona, sepertinya melihat sendiri dia jatuh ke jurang tetapi tidak keburu memberikan pertolongan, jatuh ke jurang tidak selalu mati, kenapa sesudah itu tetap tidak mengusahakan pertolongan?" Yipha Yauci mengeluh, "Jatuh ke jurang maut tentu hancur lebur mana bisa menolongnya?" Pui Cie tercengang lagi dalam hati berpikir, "Kalau begitu yang mengulurkan tali rotan menolong dirinya bukanlah dirinya, lalu siapa yang melakukannya?" Di tempat berdirinya dia memandang sekelilingnya, tiba-tiba dia melihat satu bayangan orang yang berlari ke atas bukit, begitu di teliti lagi muncul nafsu untuk membunuh. Yipha Yauci juga mengetahui kedatangannya, dengan membalikkan badan bertanya dengan keras, "Sudah mendapatkan keterangannya?" 0-0-0 BAB 5 Menggunakan taktik Yang datang ternyata adalah sastrawan setengah baya yang telengas yang waktu itu bersama-sama mendesak Pui Cie jatuh ke dalam jurang. Sastrawan setengah baya ini begitu melihat Pui Cie dengan wajah menyeramkan lalu bertanya, "Siapa dia?" Yipha Yauci menjawab, "Si Baju Ungu."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sastrawan setengah baya meneliti sekali lagi kepada Pui Cie, "Si Baju Ungu?... Mau apa kesini?" Yipha Yauci berkata, "Katanya, datang ke gunung ini untuk bertarung pedang dengan Pui Cie." Sastrawan setengah baya matanya menyorong, dengan kaget dia berkata, "Bertarung dengan Pui Cie? Sombong benar!" Pui Cie berfikir terus, Phei Cen masih belum muncul, sebaiknya sekarang jangan bertindak apa-apa dulu, perkataan Thu Sing Sien masih mengiang di telinganya. Kalau urusan kecil tidak bisa dikendalikan, akan merusak semua urusan yang besar, maka ditahanlah semua amarah yang timbul. Dia berkata, "Aku pikir Tuan tentu jagoan dunia persilatan bagian Selatan, Ti Kuang Beng dengan julukan "Sastrawan Iblis" yang begitu kesohor itukan?" Semua adalah keterangan dari Thu Sing Sien. Air muka Ti Kuang Beng berubah, "Sobat, apakah kita pernah bertemu?" Seperti tidak ada sesuatu ganjalan, dengan suara serak Pui Cie berkata lagi, "Belum pernah, tapi waktu aku pergi ke selatan ada temanku diam-diam mengenalkan tuan padaku." Ti Kuang Beng percaya juga, berputar bola mata dia berkata, "Jadi aku harus bagaimana memanggilmu?" "Si Baju Ungu!" "Aku tidak pernah dengar." "Ini dikarenakan aku jarang kemana-mana." "Boleh tahu asal-usulmu?" "Tidak perlu!" "Apa gara-garanya kau sampai mau bertarung pedang dengan Pui Cie?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku ingin mengukur kemampuanku sendiri." "Kenapa yang dicari harus Pui Cie?" "Sebab dia adalah ahli pedang yang hebat saat ini." Dengan sinis dan tidak senang Ti Kuan Beng menutup mulut, "Tidak juga!" Pui Cie menggunakan kesempatan ini memancing "Mendengar semua ini, sepertinya... tuan lebih hebat?" nya,

Air muka Ti Kuang Beng beberapa kali berubah, dengan suara tertawa dia berkata, "Boleh coba sekarang." Pui Cie mengangkat alis, "Maksud tuan... mau bertarung pedang denganku?" Dengan bangga dia berkata, "Benar, Aku ingin mencobamu." "Sudahlah." "Apa maksudmu?" "Aku tidak berminat." "Kenapa tidak katakan takut saja?" "Ha.. Ha.. Ha.. Takut? Yang mau kucari ialah Pui Cie..." "Menurut pendapatmu Pui Cie lebih hebat dariku?" "Dibanding ahli pedang yang lain memang begitu." "Dibandingmu bagaimana?" "Sesudah bergebrak nanti baru tahu." Ti Kuang Beng dengan kesal berkata, "Si Baju Ungu, kau terlalu sombong, jangan kau kira seluruh Tionggoan selain Pui Cie tidak ada ahli ahli pedang yang lain, nih kalau kau bisa lolos dari 10 jurus pedangku, kau akan terkenal di dunia persilatan." Pui Cie dengan dingin berkata, "Kau pernah bertanding dengan Pui Cie?" "Tentu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ou! Kalah atau siapa yang lebih hebat?" "Dia hanya sanggup bertahan sepuluh jurus." Pui Cie tidak tahan ingin tertawa, "Sastrawan Iblis, kematian sudah di depan mata masih berani berlaga." Dengan gemas dia berkata, "Kalau begitu... kau pantas menjadi ahli pedang no 1 di dunia persilatan." Ti Kuang Beng dengan bangga mengangkat kepala, "Aku tidak berani menyandang gelar ini, pelajaran ilmu silat sangat dalam seperti lautan masing-masing memiliki keahlian yang berbeda tidak berani disebut no 1." Pui Cie memuji dan mencibir, "Kalau begitu menduduki nomor dua saja!" Terdiam beberapa lama, Yipha Yauci pelan-pelan berkata, "Si Baju Ungu, tadi kau berkata kau mau bertanding melawan Pui Cie, aneh sekali bisa datang gunung ini!" lalu dia mengedip-ngedipkan mata. Pui Cie tadinya tercengang, akhirnya mengerti maksudnya, tadi Yipha Yauci secara tidak sengaja membuka rahasia mengatakan Pui Cie mati didalam jurang, sekarang dia berkata begitu untuk menutupi perkataan. Apa maksud sebenarnya? Dia mengambil bagian mendesak Pui Cie masuk ke dalam jurang, utang piutang ini hanya tinggal masalah waktu saja untuk membereskannya, dia terus berpura-pura tidak ingat, dia mau menunggu sampai nanti Phei Cen telah tertangkap baru dia akan membuat perhitungan, dengan tegas dia melirik lagi. Pui Cie tersenyum sedikit menahan keinginannya dan berkata, "Ini hanya menghemat waktu, cepat atau lambat akan dia akan kutemui juga." Yipha Yauci tersenyum, seolah-olah berterimakasih pada Pui Cie yang membantu dia menyembunyikan kebohongannya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng memandang dari kejauhan sepertinya sedang mengatur siasat, setelah lama baru berkata, "Si Baju Ungu, kau berani menerima tantangan 10 jurus pedangku?" Pui Cie dengan cepat berfikir, "Ini adalah kesempatan baik umtuk membunuhnya, sesudah itu baru aku akan membunuh yang wanita, tapi... kalau kulakukan begitu sudah pasti aku akan langsung berhadapan dengan Phei Cen bisa saja dia membikin perangkap secara diam-diam untuk tidak merusak rencananya. Ah.. Sebelum menemukan Phei Cen, lebih baik berhati-hati, jangan bertindak ceroboh." Pesan-pesan Thu Sing Sien dan kegagalan-kegagalan yang dia alami selama ini sudah membuatnya tambah dewasa, coba kalau dulu, dia langsung bertindak tanpa pertimbangan lagi. Ti Kuang Beng mendesak, "Bagaimana?" Karena sudah memastikan tak akan melukai orang, hanya akan membuat satu kesempatan menunjukkan kemanpuan dirinya, lalu dia berkata, "Sepuluh jurus terlalu banyak, satu jurus saja sudah cukup!" Ti Kuang beng membelalakan matanya, "Apa katamu?" "Aku bilang satu jurus saja sudah cukup!" "Apa artinya?" Diantara kita tidak ada dendam kita bertanding hanya ingin mencoba saja, tuan merasa ahli dihidang senjata pedang, tentu tahu sekali, dengan satu jurus saja sudah bisa mengukur tingkat keahlian seseorang." Ti Kuan Beng berfikir-fikir, "Bagus!" ayo cabut pedangmu!" Sekarang dalam hatinya sudah ada perhitungan yang lain. Dia tidak tahu seberapa lihay Si Baju Ungu ini, karena dia berpandangan jauh, maka harus hati-hati. Pui Cie pelan-pelan mencabut Pa Kiamnya, diangkat miring-miring. Ti Kuang Beng mengambil posisi, pedangnya dia cabut dan diacungkan kedepan. ,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dua belah pihak berhadapan, saling menatap, sebagai seorang yang ahli, sekali mengulurkan tangan sudah terasa ada tidaknya getaran pedang lawan, Ti Kuang Beng sekarang merasa si Baju Ungu merupakan lawan tangguh yang jarang ada dalam hidupnya. Rencana semula Pui Cie juga berubah, dia pikir ini adalah kesempatan yang baik, membunuh lawan yang barada dihadapannya, membunuhnya sama dengan memotong sayap Phei Cen... Segera dia mengerahkan tenaganya menyabetkan pedang, dia yakin Sastarwan Iblis pasti mati di tempat ini. Tiba-tiba Ti Kuang Beng mundur dan menyimpan pedang, dengan nada rendah dia berkata, "Sudahlah, tak perlu bertanding lagi!" Pui Cie merasa aneh dan langsung bertanya, "Kenapa?" Ti Kuang Beng dengan santai dan berlagak yakin berkata, "Mengukur kepandaian, kita masing-masing tahu, satu jurus tak mungkin bisa tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah, kenapa hanya demi sebuah nama harus bertarung mati-matian? Tidak ada kegunaannya, ini sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri, satu jurus gerakan pedang, akan menjadi jurus pedang yang tidak terhitung dan berakhir sampai ada kalah dan menang, atau sampai berubah jadi pertarungan hidup dan mati, untuk apa semua dilakukan?" Kalau baru pertama kali bertemu Pui Cie pasti tertarik oleh prilakunya yang palsu itu, sayang, sekarang dia sudah waspada dia memaki dalam hati, Sastrawan Iblis, kwalitet orangnya seperti gelarnya cara membualnya juga lebih hebat dari siapapun, dia bisa melihat angin bisa menghindar demi menjaga kebaikan diri sendiri. Berfikir sampai begitu dia berkata, "Bagiku, tak masalah!" "Kenapa?" "Satu jurus pedang pasti bisa tahu siapa menang siapa kalah." "Kau ingin cepat-cepat terkenal?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tuan yang tadi berkata ingin mencobaku." Ti Kuang Beng tertawa, "Itu hanya gurauan saja, aku malang melintang di dunia persilatan sudah dua puluh tahun selalu memandang enteng persoalan nama. Apa hebatnya suatu kemenangan? Kalah kenapa harus malu? kalah bisa membuktikan apa? Sekarang kita ada jodoh bisa bertemu, bukan lebih baik kita berkenalan dan berteman saja?" Bahasanya cukup gagah dan mantap, seseorang yang tidak tahu sifatnya pasti akan menggangap dia sebagai orang hebat, padahal sebenarnya orang ini harus dibunuh 100 kali. Berteman adalah ide yang lumayan inilah jalan terbaik untuk mendekati Phei Cen. Waktu itu juga dia memasukkan pedangnya ke dalam sarung sambil menekan semua kekesalannya, dia tersenyum berkata, "Pendapat yang bagus, tuan benar-benar sosok orang yang mengagumkan." Ti Kuang Beng tertawa lagi, "Adik berasal di perkumpulan atau dari aliran mana?" Tergerak hati Pui Cie, "Aku tidak ikut perkumpulan manapun juga tidak mempunyai aliran, aku biasa jalan sendiri." "Ow! Kalau begitu pesilat mengembara, hebat! Tapi aku ada sebuah anjuran..." "Apa itu?" "Melihat kepiawaian adik, kalau bisa bekerja di sebuah tempat akan lebih cepat dikenal orang, itu juga sebuah usaha yang bagus." "O! aku ingin tahu juga!" "Kalau adik berminat, nanti aku akan perkenalkan dengan seseorang." Perkataannya sudah sangat jelas, cocok dengan keinginan Pui Cie, tetapi demi gengsi dengan asal asalan dia berkata, "Aku sudah biasa bebas, mendadak terikat rasanya kurang leluasa."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng mengangkat alis, "Jadi adik menolak?" Pui cie berujar, "Beri aku waktu untuk berfikir, apa boleh tahu tuan disana berkedudukan sebagai apa?" Dengan bangga Ti Kuang Beng berkata, "Pengurus Utama Shin Kiam Pang," tidak meleset dari dugaannya, bahwa kedudukan Sastrawan Iblis di perkumpulan ini amatlah tinggi sebagai Pengurus Utama. Pui Cie menoleh Yipha Yauci, lantas berkata, "Nona ini sepertinya juga orang penting di perkumpulan.." "Sebagai Penasihat Utama." "Pui Cie dengan suara parau berkata, "Tidak terduga kalian berdua adalah orang terpenting di perkumpulan paling besar saat ini, senang sekali bisa berjumpa!" Perkataan ini entah memuji entah menejek susah ditebak. Ti Kuang Beng dan Yipha Yauci air mukanya berubah. Ti Kuang Beng berkata, "Tidak usah sungkan!" Saat ini, hari mulai gelap dimana tempat mereka berada cuaca mulai remang-remang. Tiba-tiba dikejauhan muncul sebuah sinar merah meroket ke langit. Ti Kuang Beng memberi isyarat kepada Yipha Yauci lalu berkata pada Pui Cie, "Lauwte, sampai jumpa lagi di lain kesempatan, yang dibicarakan tadi harap dipertimbangkan lagi." Habis berkata begitu dengan tergesa-gesa dia sudah melejit pergi. Setelah bayangan Ti Kuang Beng lenyap, Yipha Yauci dengan suara rendah berkata, "Si Baju Ungu, yang tadi aku bicarakan soal Pui Cie anggap saja aku tak pernah ngomong, lupakanlah saja! Kalau tidak kau akan menyesal." Setelah berkata begitu dia juga pergi secepatnya. Pui Cie tahu, sinar merah adalah tanda ada urusan penting, sekarang dia sedapat mungkin belajar menahan diri, kalau terburu-

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ buru tentu akan mencurigakan, sepintas seperti tidak ada apa-apa, dia tahu Phei Cen memanggil anak buah untuk berkumpul, tidak berapa lama dia segera mengejar. Malam itu di dalam gunung lebih kelam daripada di dataran, Pui Cie dengan kulit berwarna coklat dan baju ungu, badannya bergerak ringan seperti hantu, orang yang melihat juga susah melihatnya. Pui Cie seperti asap melayang menuju tempat yang mengeluarkan sinar merah. Diantara bebatuan diatas punggung gunung, tiga bayangan orang berkumpul, Yipha Yauci Liu Siang E, Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng, yang satu lagi si Tua Jenggot Putih Guan Cen Ce. Pui Cie menyembunyikan diri di belakang bebatuan, dengan tidak bersuara dia sudah mendekat ke tempat tiga orang itu berada, kirakira 10 meter jauhnya, Pui Cie kecewa berat sebab tidak kelihatan Phei Cen muncul. Hanya terdengar suara Guan Cen Ce dengan nada rendah berkata, "Pesan ketua, besok seputar 30 km carilah dengan teliti, bagaimanapun juga, harus menemukan siluman perempuan Ma Gwe Kiau supaya tidak menjadi masalah dikemudian hari." Ti Kuang Beng bertanya, "Mana ketua?" Guan Cen Ce menyahut, "Sudah berangkat, sekarang kira-kira sudah lebih 10 km jauhnya." Yipha Yauci dengan suara manja berkata, "Pegunungan sebesar ini mau mencari orang yang bersembunyi, seperti mencari jarum didalam lautan." Guan Cen Ce bilang, "40 orang pengawal tangguh besok akan menysul kesini dalam operasi penyisiran ini." Diam-diam dalam hati Pui Cie timbul nafsu membunuhnya, kalau ketiga orang laki laki dan perempuan ini bisa dihabisi sekarang, yang tertinggal hanya Phei Cen seorang, tapi setelah dipikir lagi, terasa kurang bagus, tiga orang yang berada di depan mata ini bukan orang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sembarangan kalau sampai lolos saja menggoyang rumput mengagetkan ular. satu, sama dengan

Sekali bergerak membunuh tiga orang ini, rasanya juga tidak mungkin, dengan menyisakan mereka bertiga pasti Phei Cen akan terpancing keluar, karena mereka sering berhubungan, berfikir sampai kesitu, terpaksa ditekan lagi nafsu untuk membunuhnya. Yipha Yauci mendadak memuutar topik pembicaraan, "Pengurus utama, apakah anda benar akan memperkenalkan Si Baju Ungu?" Guan Cen Ce merasa aneh lalu bertanya, "Siapa itu Si Baju Ungu?" Yipha yauci menjawab, "Seorang ahli pedang yang tidak jelas asal usulnya, dengan tegas berkata mau bertarung dengan Pui Cie." "O, begitu!" Guan Cen Ce menyahut. Ti Kuang Beng, "Menurut pandanganku, Si Baju Ungu adalah seorang ahli pedang yang jarang ada, kalau bisa diajak bergabung akan sangat membantu kita." Guan Cen Ce menyambung, "Orang yang hebat silatnya, pandangannya juga pasti sangat tinggi. Mungkinkah?" "Kita berusaha sedapat mungkin, kalau dia sampai diambil musuh, maka akan menjadi lawan kita yang menakutkan." "Si Baju Ungu, belum pernah kudengar nama ini, kalau dia masih berada dalam hutan ini, pasti kita bisa bertemu!" "Apakah dia tahu masalah Pui Cie?" "Kelihatannya sih belum tahu, kalau tidak kenapa mau bertanding dengannya? Kalau kita bisa menjaga mulut, didunia persilatan takkan ada yang tahu." Pui Cie ketawa sendiri dengan kesal. Yipha Yauci bicara dengan nada dingin, "Menurutku, Si Baju Ungu asal usulnya mencurigakan, mungkin dia mencari Pui Cie bertarung pedang hanya alasan, mungkin dia orangnya Ma Gwe Kiau.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kesatu, kalau dia jago kenapa belum pernah mendengar namanya, di seluruh Tionggoan tidak pernah ada orang yang menyinggung namanya? Kedua, dia datang ke hutan gunung ini hanya demi bertarung pedang dengan Pui Cie sepertinya tidak masuk diakal." Guan Cen Ce berujar, "Betul! Mungkin dia musuh kita, harus diselidiki dulu." Berhenti sejenak, dia berkata lagi, "Apa pendapat Pengurus Utama?" Ti Kuang Beng dengan nada seram berkata, "Cocok kita pakai, tidak cocok kita bunuh saja!" Menurut Yipha Yauci, "Menurut pendapatku... Kita tak boleh menyerempet bahaya ini!" "Maksud Penasihat Liu ialah..." Kata Guan Cen Ce. Yipha Yauci, "Hapus pendapat itu!" Ti Kuang Beng berkata, "Perkumpulan kita sekarang sedang membutuhkan orang-orang yang ahli, kalau dibunuh juga sayang, biar aku mencari tahu asalnya dulu." Masih tetap menggunakan istilah itu, "Cocok kita pakai, tidak cocok bunuh saja!" Yipha Yauci merobah posisi badan memandang empat penjuru, "Sekarang kita harus mencari tempat bermalam, aku tetap disini, kalian berdua mencari tempat yang cocok, pantau terus daerah ini." Guan Cen Ce menggangguk, lalu pergi bersama dengan Ti Kuang Beng. Pui Cie berfikir, "Aku harus ikuti terus Yipha Yauci, lambat atau cepat pasti ketemu Phei Cen." Yipha Yauci duduk di atas batu besar, sambil memeluk phipa miring-miring, sesudah duduk sejenak, lalu memetik dengan jarinya, keluarlah suara berdentingan. Gunung begitu kosong dan sunyi, alunan phipha begitu syahdu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie duduk tenang sambil mendengarkan tidak terasa sampai terlena, dalam keadaan bimbang, tiba-tiba pundak ditotok orang, ternyata ketika ingatan belum pulih kembali dia sudah terkena lagi dua totokan, dengan mengeluarkan sedikit suara dia langsung terjatuh. Yang berdiri di sampingnya ternyata Yipha Yauci, entah sejak kapan sudah tahu tempat persembunyiannya, karena ceroboh dia telah terpikat oleh suara phipha, sekarang menyesal juga sudah terlambat. Pui Cie yang tertotok tapi masih bisa bicara, "Nona, apa maksudnya ini?" Yipha Yauci dengan wajah sadis berkata, "Si Baju Ungu, aku harus membunuhmu!" Pui Cie marah dan menyesal bercampur aduk, coba kalau tidak banyak pertimbangan banyak kesempatan untuk membunuhnya. Sekarang malah dia yang terjatuh kedalam tangannya, tapi dengan tenang dia berkata, "Kau mau membunuhku, kenapa" Yipha Yauci menjawab, "Sebab kau sudah tahu bahwa Pui Cie mati didalam jurang, aku mau tak mau harus membungkam mulutmu!" Sambil mengigit-gigit bibirnya, Pui Cie berkata, "Itu kan kau yang membocorkan, Bukan..." Yipha Yauci, "Memang! Karena aku ceroboh aku jadi kelepasan bicara, sekarang aku terpaksa harus memunuhmu untuk menutup mulut!" Dengan keras Pui Cie berkata, "Begitu pentingkah rahasia itu sehingga nona harus membunuh orang untuk menutup mulut?" Kata Yipha Yauci, "Tentu penting, sekarang aku terus terang kepadamu supaya tidak mati penasaran, Pui Cie sangat erat hubungannya dalam dunia persilatan, dibelakangnya ada banyak orang tak boleh terganggu, kalau berita ini sampai bocor, akan mendatangkan banyak keruwetan bagi Shin Kiam Pang, karena dengan tidak sengaja aku telah membocorkannya, kalau ketahuan oleh ketua perkumpulan akibatnya akan fatal, maka dengan terpaksa aku harus membunuhmu."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie merasa geli, lalu berfikir, "Apakah aku harus membuka jati diriku yang sebenarnya? Menurutnya, main phipa di pinggir jurang untuk mengenang korbannya, mungkin dia sudah jatuh hati pada dirinya, kalau dia memperlihatkan jati dirinya, semuanya akan berubah tapi apa jadinya kalau seorang penerus Bu Lim Ce Cun mengemis pada seorang siluman wanita?" Belum selesai berfikir, Yipha Yauci sudah mengangkat tangan dan dengan lantang dia berkata, "Hai Si Baju ungu, terimalah nasibmu!" Pui Cie tidak berdaya seperti sudah mau mati, tidak bisa melawan sedikitpun, dengan suara gemetar dia berteriak, "Tunggu dulu!" Tangan halus Yipha Yauci yang sudah terangkat berhenti di tengah jalan, dengan suara nyaring berkata, "Masih mau berkata apa lagi?" Pui Cie tidak rela dirinya dibunuh dengan tidak jelas, saat dia mau berkata... Mendadak terdengar suara tertawa yang datang dari jauh, kemudian ada suara yang berkata, "Liu Siang E, mana boleh tidak ada sebab musabab membunuh orang?" Pui Cie tercengang, suara itu tidak asing. Yipha Yauci cepat-cepat menyembunyikan tangannya dan mundur dengan suara gemetar berkata, "Siapa kau?" Suara itu berkata, "Liu Siang E, suaraku saja kau tidak bisa membedakan, ai! begitu sungguh-sungguh burung mencari pasangan, sayang semua minat menjadi sia-sia, mimpi yang bagus dari dulu selalu cepat terbangun." Dengan suara yang sebenarnya dirimu?" keras, Yipha Yauci berteriak, "Siapa

Suara itu berucap lagi, "Senar sudah putus apa bisa disambung lagi?" Yipha Yauci gemas sekali secepat kilat dia memburu ke tempat asalnya suara.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siapakah yang berkata itu? Pui Cie bingung juga, apa pacar lama dari siluman perempuan ini? Belum habis pikir sebuah bayangan sudah menghampiri dari samping, tidak berkata-kata dengan cepat Pui Cie dikempitnya dandibawanya dia lari masuk kedalam hutan, gerakannya begitu cepat dalam menembus hutan Pui Cie sampai tidak sempat mengenalinya. Sesudah sekian lama, naiklah dia ke sebuah puncak, kemudian Pui Cie diletakkan dengan pelan-pelan. Dengan teliti Pui Cie memandang kemudian berseru, "Saudara Hu!" Dia menjerit kegirangan. Sastrawan Pengecut tersenyum-senyum berkata, "Sudah membuat Twako kaget ya!" Pui Cie dengan lirih bertanya, "Saudara Hu kenal dengan Yipha Yauci?" Sastrawan pengecut dengan santai menjawab, "Tentara jangan bosan dibohongi, Siaute memang pengecut, tapi masih mampu menggunakan sedikit taktik. " Pui Cie tiba-tiba merasa aneh, dirinya telah berrobah rupa, robah penampilan, suaranya juga berobah, kenapa dia bisa mengenali dirinya begitu saja sedikitpun tidak merasa janggal. Sastrawan Pengecut seperti bisa membaca isi hati orang, dengan santai menjawab, "Twako merasa aneh kan, kenapa Siaute bisa mengenali wajah Twako yang sebenarnya?" Pui Cie tercengang, "Betul! aku sedang bingung." Sastrawan Pengecut berkata, "Tak perlu dirahasiakan lagi, hanya Siaute dan tidak yang lain yang bisa-memahami teknik merebah rupa, perubahan wajah secara alamiah atau perubahan dengan alatalat dan obat-obatan, biarpun Twako telah robah rupa, warna dan suara, tapi potongan kondisi tubuh dan kebiasaan sehari-hari tak bisa berubah, sekali lihat saja Siaute sudah bisa menebaknya." Pui Cie dengan nada sedih, "Kalau begitu... Apa yang aku lakukan percuma saja?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sastrawan Pengecut dengan cepat menggoyangkan tangan, "Tidak juga, Twako tidak perlu banyak pikiran, teknik merobah warna dan merobah dengan alat dan obat-obatan aku jauh lebih baik, bukan sombong. Sekarang ini selain Siaute dan guru Siaute tak ada satu orangpun yang bisa mengenali Twako yang telah berobah wajah, tenang saja!" Pui Cie dengan tidak terasa berucap, "Siapakah gurumu?" Sastrawan Pengecut dengan nada tidak enak berkata, "Maaf, Siaute tidak bisa beritahu siapa dan apa sebutan guruku." Dalam hati Pui Cie penuh pertanyaan, tapi juga tidak enak mendesak karena dia telah menolong dirinya, dengan tersendatsendat berkata, "Terimakasih atas pertolongannya!" Dengan tertawa renyah Sastrawan Pengecut berkata, "tidak usah disebut lagi, ini hanya kebetulan saja." Berhenti sebentar dia berkata lagi, "Mendengar kata-kata siluman wanita itu, ada rahasia tentang diri Pui Cie, rahasia apa sebenarnya?" Terpaksa Pui Cie menceritakan semuanya. Sastrawan Pengecut menganggukan kepala, "Bagus! Twako akan lebih leluasa tampil dengan muka baru Si Baju Ungu, Twako dimana tempat yang terkena totokan? Biar Siaute..." Pui Cie memang bawaannya angkuh, cepat-cpat berkata, "Biar aku yang mencoba melepaskan sendiri saja!" Sambil membangunkan badan merobah menjadi posisi duduk, dengan percaya diri mau mencoba membuka totokan, tapi apa boleh dikata pernafasannya ternyata tak bisa naik, beberapa kali dia mencoba tetapi gagal, akhirnya dia mengeluh. 0-0-0 Bayangan mencurigakan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sastrawan Pengecut sekali melihat sudah mengerti Pui Cie tidak mampu membuka sendiri totokannya, dia duduk di dekatnya dan berkata, "Biar Siaute mencoba!" Pui Cie tak bisa berkata apa-apa, dibiarkan Sastrawan Pengecut meraba semua nadi yang terkena totokan. Sesudah sekian lama Sastrawan Pengecut baru berhenti dan berkata, "Aneh sekali cara totokan ini?" sepertinya dia juga tidak sanggup membukanya. Hati Pui Cie menciut, dalam keadaan begini tidak ada tempat untuk dimintai tolong lagi, untuk bergerak saja menjadi masalah, dan lagi aliran darah jika ditotok terlalu lama akan mengakibatkan kerusakan urat nadi dan bisa menjadi cacat seumur hidup. Masalah yang terjadi sangat diluar dugaan, untuk membuat perhitungan dengan Phei Cen sekarang hanya menjadi sebuah khayalan saja. Sastrawan Pengecut berdiri, menggosok tangan menggaruk pipi. Tiba-tiba memekik, "Hanya jalan ini yang bisa ditempuh!" Pui Cie kelihatan bermuram durja, dia berkata, "Jalan apa?" Sastrawan Pengecut berkata, "Kalau keluar gunung minta pertolongan tak mungkin dan terlalu jauh, Siaute tahu ada seorang ajaib di dunia persilatan yang sedang mencari obat-obatan dalam gunung ini, kalau nasib baik, Twakobisa bertemu dengannya masalah totokan akan segera teratasi, Siaute segera akan mencarinya besok tengah hari pasti kembali, kalau tidak menemukan, kita cari jalan lain." Pui Cie sempat terharu akan kebaikan Sastrawan Pengecut, menurut adatnya, dia tidak mau menerima kebaikan orang lain, tapi sekarang mau tidak mau mendapat pelajaran pahit bagi orang angkuh, sangat menyakitkan, dia menarik nafas, dengan terputusputus dia berkata, "Kalau begitu... sangat merepotkan saudara Hu!" Dengan sungguh-sungguh Sastrawan Pengecut berkata, "Jangan begitu, bisa berteman dengan Twako sungguh suatu kebanggaan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siaute seumur hidup, ini hanya sedikit bantuan belum bisa diharapkan, supaya tidak terlambat Siaute segera berangkat, disini tempat agak tersembunyi, sepertinya tidak akan terjadi apa-apa, harap Twako sabarlah menunggu." Habis berkata, dia bersoja lalu menghilang. Memandang ke langit, Pui Cie menjadi bertambah membenci Yipha Yauci sampai masuk ke tulang sumsum, dia bersumpah akan memenggal kepalanya kalau bertemu lagi. Malam panjang sekali, semenit demi semenit dia lalui, sedikitpun dia tidak bisa memejamkan mata. Dengan tidak mudah malampun berlalu, langit mulai terang, perasaan Pui Cie seperti sudah berdiam 10 tahun saja, apakah Sastrawan Pengecut akan menemukan orang ajaib yang sedang mencari obat-obatan? Harapannya sangat tipis. Matahari mulai terbit, memancarkan sinar yang menyilaukan mata, tapi dalam hati Pui Cie terasa gelap semua. Tiba-tiba, satu pemikiran aneh muncul di kepalanya, dia teringat kepada setengah buku ilmu campuran Buku Pusaka yang tidak ada taranya pemberian almarhun Pao Sen Cong, pembantu tua Raja Lima Pegunungan, buku itu berisi bermacam-macam ilmu campuran, siapa tahu di dalamnya ada ilmu mengurai mengenai totokan? Dia merasa sedikit bersemangat, cepat-cepat mengeluarkan setengah buku pusaka itu dari balik bajunya, tiap halaman dia baca dengan teliti, mencari bagian mengenai ilmu totokan, dia girang luar biasa, ternyata di dalamnya terdapat catatan pelajaran menolong diri sendiri sewaktu pernafasan tak bisa berkumpul, huruf per huruf dia baca terus menerus, segera diapun merasakan munculnya keanehan. Dia menghafal dengan seksama semua huruf, kata-katanya dia renungkan dan dia coba praktekan. Setengah jam kemudian pernafasannya mulai teratur, dia terus mengikuti rumusan ringkas mendobrak semua sumbatan-sumbatan di nadi-nadinya... 0-0-0

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sesosok bayangan biru bergerak naik ke puncak, ternyata Sastrawan Pengecut yang sedang mencari tabib. Mengikutinya muncul lagi sebuah bayangan, dia adalah seorang terpelajar setengah baya. , Sastrawan Pengecut yang merasakannya dia membalikan badan, begitu melihat mukanya berubah karena kaget, lalu dia bertanya, "Apa maksudmu mengikutiku?" Orang terpelajar setengah baya yang ternyata adalah Sastrawan Iblis dengan muka kecut menjawab, "Gerak gerikmu mencurigakan, terpaksa aku mengikutimu untuk mencari tahu." Pui Cie yang menempatkan diri di celah-celah bebatuan, sudah mendengar suara Sastrawan Pengecut dan Sastrawan Iblis, hatinya kaget sekali, menurut pembicaraan Sastrawan Pengecut, dia telah dibuntuti oleh Sastrawan Iblis, sekarang totokannya belum terbuka, dia sedang dalam keadaan yang menentukan, maka dia terpaksa tidak mempedulikan semua itu. Sastrawan Pengecut dengan pelan bertanya, "Coba anda jelaskan, gerak gerik mana yang mencurigakanmu?" Ti Kuang Beng dengan lagak memojokkan orang berkata, 'Sebutkan dulu asal usulmu.' "Aku Sastrwan Pengecut!" "Apa? Sastrawan... Pengecut?" "Ya. Boleh tahu anda...?" "Jangan urus dulu urusan orang lain kau hanya boleh menjawab pertanyaanku, untuk apa kau datang ke gunung ini?" "Ini... aku suka gunung dan air juga pemandangan indah, bisa menenangkan pikiran membuat dingin hati." "Didepan Budha tidak perlu membakar dupa palsu tidak perlu membuat kebohongan, katakan! Apa maksudmu kesini?" "Aku... kan sudah katakan tadi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Heh! Dikasih arak kehormatan tidak mau, Malah mau arak hukuman, ingat, kesabaran ku terbatas!" "Apakah dalam gunung terdapat larangan-larangan?" "Betul, ada larangan!" "Ini., aku., tidak menemukan tanda-tanda larangan, juga tidak..." Sekarang kau tahu juga tidak terlambat, cepat terangkan semuanya, tidak boleh ada yang ketinggalan, kalau tidak., kau menyesalpun sudah terlambat." Pui Cie sekuat tenaga menyelesaikan pengobatannya, sekarang tinggal satu nadi lagi yang terakhir yang belum terpecahkan. Sastrawan Pengecut dengan kaget memandang Ti Kuang Beng, agak gentar dia berkata, "Karena sedang bernafsu, tidak sadar masuk ke gunung ini untuk bermain, apakah salah?" Ti Kuang Beng dengan ketus berkata, "Pegunungan ini jauh dan sepi, tidak ada pemandangan yang indah juga tidak ada peninggalan purbakala, tak usah berpura-pura, cepat jelaskan kalau tidak, siapsiaplah mempertahankan nyawamu, aku tidak banyak waktu!" "Pertahankan nyawaku, apa kau mau...?" ""Iya, aku menginginkan nyawamu." "Tapi aku., tidak mau bertarung dengan siapapun." "Kalau begitu kau tutup mata dan tunggu mati saja!" "Kau.." "Lihat pukulan!" Dalam pikirannya sebuah pukulan sudah dia lepaskan. Sastrawan Pengecut terhempas jauh, dengan menggoyangkan tangan berkata, "Anda tanpa alasan yang jelas bertindak begini jauh padaku, apa tidak ada yang bisa dibicarakan lagi?" cepat sekali ilmu menghindarkan dirinya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng tertawa kecut, "Gerakan tubuhmu bagus, tapi kau takkan bisa lolos!" Sekali terdengar suara "Chiang!" Pedang sudah dicabut, melingkar, memanjang, secara ganas terus menggulung Sastrawan Pengecut. Sastrawan Pengecut tubuhnya seperti bayangan hantu, seperti kilat sudah meluncur menjauh, wajahnya seperti yang sangat takut, sudah tentu dia berpura-pura. Pui Cie sudah bisa berdiri setelah dia berhasil menembus totokan urat nadinya yang terakhir. Ti Kuang Beng marah sekali, lawannya bergerak aneh, tidak mau melawan, seperti takut, dia merasa dipermainkan, dia merubah posisi pedang dan tubuhnya, menyerang lagi sekejap saja dia sudah menusuk sebanyak 18 jurus, tapi Sastrawan Pengecut dengan santai saja menghindar dari kurungan pedang yang bertubi-tubi, baju birunya melambai-lambai gayanya pelan dan luwes benar-benar jarang bandingannya di dunia persilatan. Pui Cie melihatnya sampai silau, melihat gayanya, dia merasa kalah, hebat benar orang ini, sesuai dengan gelarnya yang Pengecut terdesak juga tidak melawan, benar-benar orang langka di dunia persilatan. Ti Kuang Beng setelah menyerang satu babak tiba-tiba melihat Pui Cie, "Eh! Si Baju Ungu!" Segera dia menyimpan pedang sambil berseru. Sastrawan Pengecut kaget sekali melihat Pui Cie sudah bisa berdiri dengan mantap, matanya berbinar, tapi dia diam saja, dia menatap Pui Cie dengan penuh pertanyaan. Pui Cie pelan-pelan mendekat, "Tuan keterlaluan sekali mendesak orang sampai begini." Muka Ti Kuang Beng berobah gelap terang tidak menentu, akhirnya dengan tersenyum berkata, "Lauwte dengan Sastrawan Pengecut ini sejalan?" Pui Cie menjawab dengan asal, "Ya! Kami berteman."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng melihat keduanya sekali lagi berkata, "kalau dia teman lauwte, aku mohon maaf!" Habis berkata dia menggenggam kedua tangannya sambil digoyang-goyang. Pui Cie secara dingin berkata, "Sudahlah!" Ti Kuang Beng mengangkat alisnya, lalu berkata, "Masalah yang pernah dibicarakan dengan lauwte apakah sudah dipikirkan?" Pui Cie dengan gemas berfikir sebentar dan menjawab, "Sudah aku pikirkan, kapan aku akan diperkenalkan?" Muka Ti Kuang Beng mendadak berubah menjadi berseri-seri, setelah berfikir sebentar lalu berkata, "Kalau begitu aku akan segera mengaturnya, selekasnya Lauwte memberi jawaban, kalau nanti tidak bisa bertemu di pegunungan ini lagi harap Lauwte menuju ke Cao Yang saja!" Pui Cie mengangguk, "Ya, begitu pun boleh!" Sinar gembira terlihat di wajah Ti Kuang Beng, "Aku akan secepat mungkin memperkenalkan Lauwte kepada rekan yang lain, harap sabar!" Habis berkata, matanya melirik Sastrawan Pengecut, lalu berkata, "Temanmu juga seorang yang hebat dan langka, kalau bisa nanti juga hadir, majikanku membutuhkan sekali orang-orang yang ahli pasti dia sangat senang menerima kalian berdua!" Sekarang aku ada urusan penting, aku permisi dulu!" dia mengangkat kedua belah tangan memberi hormat, lalu memutar badannya pergi. Pui Cie tahu dia cepat-cepat mau pergi berkumpul untuk mengepung Ma Gwe Kiau, kelihatannya dia tidak tahu perbuatan Yipha Yauci tadi malam. Sastrawan Pengecut berkata, "Twako, hati-hati terjebak oleh orang yang bermarga Ti itu, dia orang yang sangat keji!" Pui Cie menyunggingkan senyuman berkata, "Aku tahu!" Sastrawan Pengecut berkata, "Barusan dia berkata kau mau diperkenalkan, memang ada masalah apa?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pikiran Pui Cie berputar, "Ini masalah besar tidak boleh bocor, kalau bocor bisa berbahaya." Lalu dengan tidak enak dia berkata, "Adik Hu, sebenarnya ini tidak boleh dirahasiakan padamu, tapi karena ini masalah besar yang berhubungan dengan urusan pribadiku, aku takut diluar dinding ada kuping mendengar, nanti saja kalau sudah beres aku akan ceritakan semuanya kepadamu!" Sastrawan Pengecut berseri-seri, "Tidak apa-apa, aku hanya sambilan saja bertanya, Eh, Twako bagaimana kau bisa membuka totokan itu?" Ini juga masalah lain yang sukar dijawab juga, dia agak ragu, akhirnya dengan asal-asalan dia menjawab, "Kebetulan suhuku pernah memberi aku pelajaran membuka totokan, tak disangka ternyata sangat manjur." Sastrawan Pengecut dengan lantang berkata, "Bagus sekali, aku tidak berhasil bertemu tabib ajaib itu, sepanjang perjalanan terus berfikir harus berbuat bagaimana, sekarang hatiku sudah plong jadinya." Pui Cie merasa tidak enak hatinya, orang begitu tulus membantu dia sendiri membalasnya dengan cara begini, tapi apa boleh buat, keadaaan memaksa dia harus begitu, sesudah berdiam sejenak dia berkata, "Kakak Hu, aku masih ada urusan semoga di kemudian hari ada kesempatan kita minum arak sambil ngobrol, tidak masalah kan?" Sastrawan Pengecut dengan lapang dada, tidak berfikir panjang lagi menjawab, "Kalau ada urusan silakan jalan duluan, Siaute juga ada urusan, siapa tahu kita masih akan bertemu lagi dalam gunung ini, disana nanti kita bisa ngobrol lagi." Akhirnya mereka berdua berpisah juga. Pui Cie ingat urusan Phei Cen, sesudah turun gunung dia langsung masuk hutan belukar, dijalan dia banyak menemukan orang-orang Shin Kiam Pang, tentu saja dia tidak mau membuat keributan hanya

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ karena persoalan kecil, tidak terasa, dia sampai ke lembah tempat Bo Yu Sien Ce, anak dan ibu yang sedang bertapa. Dipandang dari kejauhan banyak orang sedang bergerak, tertarik hati Pui Cie, dari samping dia memutar mendekat. Di mulut lembah depan batu besar yang menjulang, ada Yipha Yauci dan biksu tua Guan Cen Ce, sepertinya ada komandan pasukan pengawal Shin Kiam Pang, tapi tidak terlihat Shn Kiam Pangcu Phei Cen dan Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng. Sedang apakah mereka? Apakah Phei Cen telah masuk ke dalam lembah? Ti Kuang Beng dari tadi mengapa belum tiba? Masih befikir begitu, kelihatan Guan Cen Ce mengangkat tangan memberi aba-aba, semua yang ada disana menepi masing-masing mencari tempat untuk bersembunyi, dilihat gelagatnya orang-orang Shin Kiam Pang pasti sedang membuat suatu gerakan. 0-0-0 Memperlihatkan Kemampuan Setelah semua orang menyibak kesamping, dengan pelan-pelan Guan Cen Ce mundur juga. Kebetulan sekali Yipha Yauci mundur, dan tempat dia mundur pas di tempat persembunyian Pui Cie, begitu dia melihatnya, dia langsung menjerit, karena kaget mukanya menjadi jelek sekali. Setelah bertemu dengan musuh yang luar biasa dibencinya, dengan pandangan penuh dendam Pui Cie menyorot muka Yipha Yauci. Suara jeritan tadi mengejutkan semua orang, mereka semua segera menuju ketempatnya Pui Cie. Guan Cen Ce yang pertama-tama tiba, dia kaget dan memekik, "Si Baju Ungu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yang lain juga ikut mengurung, tapi siapapun juga tidak ada yang kenal dengan Si Baju Ungu. Pui Cie tidak perduli orang lain, dia melototi Yipha Yauci dan dengan suara seram dia berkata, "Liu Kouwnio tidak terduga olehmu bukan?" Yipha Yauci matanya berputar dengan senyum terpaksa berkata, "Si Baju Ungu, apa kau kebetulan kesini?" Pedas juga perkataannya, juga kelihatan dia mencurigai Pui Cie, arti katanya mengisyaratkan bahwa Pui Cie muncul disini bukan disengaja. Pui Cie berkata dengan suara sangat dingin, "Apakah perlu aku kasih tahu semua orang bagaimana aku bisa berada disini?" Muka cantik Yipha Yauci berubah, tiba-tiba seperti orang baru ingat sesuatu dia berkata, "O., aku mengerti, ayo kita bicara disana!" habis berkata begitu dia langsung melayang pergi. Pui Cie terbengong-bengong, akhirnya mengikuti juga. Diluar hutan setelah tiga puluh meteran terkejarlah Yipha Yauci, Pui Cie dengan marah sekali berkata, "Aku tidak mati dicelakai olehmu, sekarang giliran dirimu bertanggung jawab!" Tangan kanannya sudah memegang pegangan pedang. Yipha Yauci masih bisa tertawa cekikikan berkata, "Si Baju Ungu, aku kan terpaksa berbuat begitu." Dengan mulut tersungging senyuman sinis Pui Cie berkata, "Aku sekarang juga terpaksa membunuhmu!" "Si Baju Ungu, kau kan masih hidup. Sudahlah..." "Sudah? Enak saja kau bicara!" "Kita bikin satu perjanjian yang jujur, kau pegang rahasia itu, kita., tidak saling mengancam." Pui Cie sudah tidak tahan lagi hatinya penuh dengan nafsu membunuh, Pa Kiamnya segera akan dicabut keluar dari sarungnya,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dengan menggigit bibir dia berkata, "Siapa yang mau berjanji denganmu? Aku hanya mau menbunuh orang!" Yipha Yauci mundur dua langkah berkata, "Si Baju Ungu, kau belum tentu bisa membunuhku, andai kau bisa membunuhku kau juga takkan bisa kabur dari sini, percaya tidak?" Dengan kecut Pui Cie bilang, "Aku tidak percaya!" Yipha Yauci gemertakan giginya katanya, "Kalau saja Pui Cie tidak mati, aku ingin sekali melihat kau mati roboh di bawah pedangnya!" Perkataan ini menyentuh hati Pui Cie, waktu mendesak dirinya jatuh ke jurang dia berlagak bodoh, sekarang dia seperti yang teringat selalu hati seorang wanita seperti jarum dalam lautan, susah diraba. Yipha Yauci memandang ke mulut lembah berkata, "Mereka sudah bergerak." Pui Cie mendadak teringat dengan masalahnya, orang dalam lembah Bo Yu Sien Ce adalah istri almarhum suhunya, dia menbawa Ku Tien Chan, adalah darah daging suhunya, apakah aku bisa berpangku tangan saja? Sesudah berfikir sejenak dia cepat-cepat bertanya, "Mau apa mereka?" Yipha Yauci berkata, "Membuka paksa pintu gerbang lembah dengan dinamit, kemudian masuk ke dalam menangkap orang." Pui Cie tidak berkata apa-apa dia segera membalikkan badannya secepat kilat mengejar kesana. Guan Cen Ce sesudah menyulut dinamit, orangnya segera meloncat menjauh. Sebaris asap dengan cepat menjalar ke batu besar di mulut lembah. Pui Cie melayangkan dirinya tepat di tempat itu. Guan Cen Ce dengan keras memekik, "Si Baju Ungu, mau apa kau!?" '

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie pura-pura tidak dengar, dia mendekat kebatu raksasa itu, dengan satu tangan membabat, batu dan tanahpun berhamburan, sumbu dinamit terputus, terlambat beberapa detik saja suasana sudah akan menjadi lain. Dalam suara pekikan, para satria yang tadinya bersembunyi sekarang mencabut pedang mendekat dan mengurung, Yipha Yauci juga sudah tiba di tempat itu. Pui Cie berdiri tegak dengan angkuhnya, bila pihak lawan mulai turun tangan, dia pun akan mulai membunuh. Semua orang yang ada ditempat tidak mengetahui Si Baju Ungu adalah Sastrawan Putih Pui Cie, dianggapnya dia adalah ahli pedang biasa saja maka mereka berlagak angkuh dan galak. Karena Guan Cen Ce adalah peminpin diantara orang orangnya maka dia yang memberi perintah, dia mengangkat tangan menghadang semua orang, lalu memandang Pui Cie dengan keji dengan penuh gejolak berkata, "Hai, Si Baju Ungu, kenapa kau merusak rencana kami semua?" Pui Cie balik bertanya, "Kalian kenapa merusak lembah ini?" Dengan tertawa cekakakan Guan Cen Ce berkata, "Waktu kau menampakkan diri, aku sudah curiga asal asulmu, sekarang ternyata kau sejalan dengan orang yang berada di dalam lembah ini. Bagus!" Pandangannya menggeser pada orang setengah baya berbaju indah dengan suara tinggi dia berteriak, "Komandan Siau!" Orang setengah baya berbaju indah itu segera menjawab, "Aku disini!" "Tangkap dia!" "Menurut perintah!" Pui Cie sedang berfikir, mengapa mereka bermusuhan dengan Bo Yu Sien Ce? Apakah juga ada hubungan dengan suhunya? Komandan bermarga mengancam Pui Cie. Siau sudah menghunus pedang dan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie segera mengeluarkan Pa Kiam( Pedang Bengis) sambil berfikir, "Kalau kejadian sudah begini sebaiknya menbunuh mereka seluruhnya! Masa Phei Cen tidak mau mengunjukkan dirinya?" Pa Kiamnya dia angkat miring-miring saja. Suasana di lapangan menjadi tegang, "Yeah!" Dalam suara yang riuh komandan Siau sudah mulai menyerang duluan. Pa Kiam yang berkilauan segera disabetkan hebat luar biasa, Pui Cie berfikir membunuh satu berkurang satu yang melawan, dengan sepenuh tenaga dia gunakan tenaganya, kekuatannya menakutkan, suara besi beradu memekakkan telinga dibarengi suara mengaduh, dada sebelah kiri komandan Siau sudah tertusuk berdarah seperti sekuntum bunga merah. Komandan Siau sebagai pemimpin pasukan pengawal berseragam indah ini sebenarnya ilmu silatnya amat tinggi. Tapi kali ini baru sekali bergebrak sudah terluka, berarti Si Baju Ungu yang tidak pernah dikenal orang ini ilmunya hebat sekali, yang berada disana semuanya terkesima. Guan Cen Ce jengkel sampai alisnya berdiri, dia maju sambil membawa pedang dengan memekik dengan keras, "Si Baju Ungu, akan kubunuh dirimu! Mampuslah!" pedang dan suaranya berbareng menyerang, kondisinya seperti naga yang kaget. Pui Cie teringat akan peristiwa yang paling mengenaskan, ketika dia terjatuh ke dalam jurang karena dikeroyok oleh tiga pedang bergabung oleh pihak lawan, nafsu membunuhnya bertambah membara, tangannya segera di gerakan dengan jurus mematikan menggenpur tempat yang lemah. Di dalam suara besi beradu yang bertubi-tubi Guan Cen Ce sudah terdesak mundur jauh, beberapa orang pengawal yang berseragam indah di belakang mencoba membantu menyerang sambil menjerit. Pui Cie memutarkan badan sambil mainkan pedang seperti roda bersinar menggelinding tapi begitu cepat.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dua orang pengawal terjungkal sambil meraung-raung. Satu orang pedang panjangnya terlepas. Yang satu lagi tunggang langgang. Semua orang terpana di tempatnya, tidak ada yang berani berbuat macam-macam lagi. Yipha Yauci yang berdiri jauh juga tidak berani bertindak, mukanya terasa berat seperti lempengan besi. Pui Cie melangkah kearah Guan Cen Ce.. Guan Cen Ce tahu dia tak kuat menahan serangannya, tapi dengan kedudukannya sekarang mau tidak mau mesti menghadapinya, tak bisa mundur lagi. Saat ini tiba-tiba terdengar suara, "Berhenti!" sebuah pekikan yang menggelegar bersuara dan orangnya muncul bersamaan, yang datang ternyata adalah Sastrawan Iblis Ti Kuang Beng. Kedua belah pihak menghentikan gerakan untuk menyerang. Ti Kuang Beng menyapu semua orang yang ada di lapangan dengan mata memelototi Pui Cie katanya, "Lauwte, kau ternyata berada di pihak yang berlawanan dengan perkumpulan kami?" Pui Cie menjawab dengan dingin, "Menjadi berlawanan juga disebabkan oleh perbuatan perkumpulan kalian." "Apa artinya?" "Kenapa mau meledakkan lembah ini?" "Lauwte mau mencegah?" "Ya!" Berubahlah air muka Ti Kuang Beng, dengan sadis dia bilang, "Ternyata kau adalah anak buah Ma Gwe Kiau?" Pui Cie bingung, tidak terasa dia bertanya, "Apa itu Ma Gwe Kiau?" Guan Cen Ce melotot, "Sudah tahu masih bertanya, memang ada berapa orang Chang Hua Ma Gwe Kiau?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie mengerutkan alis bertanya, "Kenapa Ma Gwe Kiau bisa bergabung dengan orang dalam lembah?" Guan Cen Ce dengan kecut menjawab, "Disini adalah sarang Ma Gwe Kiau, aku melihat sendiri dua orang Biauw masuk kedalam lembah, tak mungkin salah." Pui Cie menggelengkan kepala, "Tidak mungkin!" Ti Kuang Beng merasa aneh bertanya, "Kenapa tidak mungkin?" Pui Cie tiba-tiba sadar, mereka mau menggeledah dan membunuh Ma Gwe Kiau, dikiranya dia adalah anak buah Ma Gwe Kiau, tapi Guan Cen Ce melihat sendiri dua orang Biauw masuk ke dalam lebah, apa mungkin Bo Yu Sien Ce mau menanggung si permpuan sadis itu? Setelah dipikir dengan suara rendah, "Orang yang berada di dalam lembah itu adalah seorang Cianpweku, sudah dua puluh tahunan dia bertapa, tidak mungkin menampung orang luar!" "Ou.." Ti Kuang Beng aneh, "Siapa Cianpwe mu itu?" Pui Cie celetuk tanpa pikir lagi, "Maaf, aku tak bisa memberi tahu." Guan Cen Ce dengan kecut bertanya, "Aku lihat sendiri dua orang Biauw masuk ke dalam lembah, bagaimana kau menjelaskannya" Pui Cie langsung nyeletuk, "Aku akan masuk ke lembah memeriksanya." Sebenarnya dia bilang begitu hatinya masih ragu, batu besar menutup mulut lembah itu, dia sedikitpun tidak mengerti formasinya. Apakah Bo Yu Sien Ce mengizinkan dia untuk bertemu? Semua ini merupakan sebuah masalah yang belum bisa diketahui, tapi dia sendiri punya keinginan masuk, dia mau melihat kondisi di dalam, sebab kesatu, Ma Gwe Kiau adalah orang yang mau dia bunuh juga, kedua, dia mau cari tahu penyebab kematian ayah Sastrawan Pengecut. Bola mata Ti Kuang Beng berputar-putar bilang, "Baik! merepotkan lauwte masuk ke dalam untuk memeriksa, kami di luar akan menunggu satu jam, kalau dalam waktu itu kau tidak keluar, kami tetap akan menjalankan rencana semula."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie mengerti maksud perkataan mereka, kalau dalam satu jam dirinya tidak keluar, berarti dirinya sejalan dengan Ma Gwe Kiau. Sesudah berfikir, dengan enteng dia berkata, "Baik! satu jam sudah cukup." Guan Cen Ce dengan suara takut berkata, "Mau melepaskan macan kembali kesarangnya?" Ti Kuang Beng dengan suara mantap bilang, "Komandan tak usah kuatir, aku tidak akan melakukan apa-apa yang tidak yakin." Komandan, ternyata Guan Cen Ce telah diangkat oleh Shin Kiam Pangcu menjadi komandan gerakannya, Pui Cie memandang sinis padanya. Ti Kuang beng mengulapkan tangan, "Lauwte, silakan!" Ingin sekali Pui Cie bertanya keberadaan Phei Cen, tapi setelah dipikir-pikir kalau terburu-buru malah tidak akan kesampaian maksudnya, maka tidak boleh tergesa-gesa, barusan Ti Kuang Beng bilang tidak akan melakukan apapun kalau tidak yakin. Ini patut dipelajari, akhirnya, dia melangkah ke depan sampai di sisi batu besar tiba-tiba dirinya ingat telah berobah rupa Bo Yu Sien Ce pasti tidak mengenalinya, kalau sembarangan menerobos pasti akan terjadi salah paham. Tapi banyak orang di belakangnya menunggunya tak mungkin dia menyatakan jati diri yang sebenarnya masalahnya yang pelik, setelah berpikir lama lalu dia mengumpulkan tenaga dalamnya, dengan cara menyampaikan suara jarak jauh ke dalam lembah yang tidak bisa didengar oleh orang lain, "Wanpwe ada urusan penting ingin ketemu Sien Ce Cianpwe. dia tidak berani menyebutkan namanya, takut Ma Gwe Kiau benar ada di dalam, habis bicara, dengan langkah mantap dia mulai maju. Semula hanya terlihat pohon-pohon pendek dan batu-batu cadas, sesudah maju beberapa puluh meter, berobahlah pemandangan di depan mata, pohon besar menutup langit, puncak kecil malang melintang, sulit untuk menentukan arah, dia kaget bercampur kagum akan formasi yang menakjubkan ini.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie berdiri di tempat, tidak mau bergerak, sekali lagi menyampaikan suara jarak jauhnya, "Mohon bisa bertemu dengan Cianpwe!" ' Tiba-tiba sebuah barang yang lancip menotok nadi kematiannya, Pui cie merasa seluruh tubuh kesemutan, dia masih bisa bicara dan bilang, "Apakah Cianpwe, Twako apakah tahu cayhe?" Kata-katanya ternyata berpengaruh besar, terdengar suara Bo Yu Sien Ce menghardik, "Siapa kau?" Dengn gembira Pui Cie bilang, "Wanpwe Pui Cie terpaksa merobah wajah." Sebuah bayangan bergoyang, Bo Yu Sien Ce sudah di depan mata, tekanan di punggung Pui Cie mengendur, Ku Tien Chan tangannya yang memegang belati sudah memutar ke depan. Pui Cie masing-masing memberi hormat, dengan sopan berkata, "Wanpwe terpaksa begini merepotkan Cianpwe dan Twako." Ku Tien Chan berkata dengan tutur kata tidak jelas tapi masih dapat didengar, dengan suara Kua Kua Kua lalu melihat ke sekujur tubuh Pui Cie menganggukan kepala, menyatakan dia sudah terasa ini Pui Cie asli bukan tiruan. Bo Yu Sien Ce pesan pada Ku Tien Chan, "Anak, kau awasi terus mulut lembah!" Ku Tien Chan pergi menurut perintah. Bo Yu melangkah dan bilang, "Ikut aku, kita duduk disana untuk berbicara." 0-0-0 Di mulut lembah Shin Kiam Pangcu sudah hadir, dia mengumpulkan Guan Cen Ce, Ti Kuang Beng, Yipha Yauci, dan komandan pengawal berunding masalah penting. Ti Kuang Beng berujar dengan suara rendah, "Si Baju Ungu jagoan yang jarang ada, kalau bisa mendapatkannya perkumpulan kita akan bertambah jaya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan suara curiga Shin Kiam Pangcu berkata, 'Asal usulnya mencurigakan, beberapa tahun ini yang menonjol hanya Pui Cie, belum pernah mendengar nama yang satu ini, siapa orang yang sanggup mengajar orang sehebat begini?..." Guan Cen Ce menyahut, "Aku rasa kita harus kompromi lebih lanjut tentang masalah ini, orang yang hebat biasanya angkuh, kalau tidak kebetulan bukannya mendapatkan keuntungan malah sebaliknya." Kata Shin Kiam Pangcu, "Betul sekali pendapat pimpinan." Yipha Yauci dengan halus berkata, "Sekarang jati dirinya belum jelas, akan berbahaya sekali kalau dia sejalan dengan Ma Gwe Kiau." Shin Kiam Pangcu dengan mata berbinar berkata, "Kalau tidak bisa tahu asal usulnya, lebih baik dimusnahkan saja, perkumpulan kita seperti pohon besar banyak tertimpa angin, musuh juga tidak sedikit, kalau dia tidak bisa dipergunakan oleh kita, juga jangan sampai dipakai oleh orang lain." Ti Kuang Beng dengan pelan berkata, "Apa ketua bisa memberi kuasa padaku untuk mengurusnya?" Shin Kiam Pangcu terdiam sejenak, lalu mengangguk, "Boleh! Semua kuserahkan kau yang urus." Ti Kuang Beng membungkukkan badan menjawab, "Aku menerima perintah." Shin Kiam Pangcu menoleh, "Penasihat Liu!" Yipha Yauci membungkuk, "Aku disini!" Kau bantu Ti pengurus utama khusus masalah si Baju Ungu. "Ya!" "Peraturan tidak berubah, kalau tidak dapat digunakan oleh kita, sedapat mungkin dimusnahkan saja." "Ya!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Setelah itu mata Shin Kiam Pangcu memandang semua orang yang ada disitu, dengan suara keras dia berkata, "Rencana semula tidak berubah, gerakan ini tetap dipimpin oleh Komandan Guan." Habis berpesan begitu seperti terbang sekejap dia langsung menghilang. 0-0-0 Pui Cie duduk di hutan bebatuan dalam formasi bersama Bo Yu menanti perkataannya. Bo Yu dengan gemas berkata, "Shin Kiam Pangcu apakah betul Phei Cen?" "Ya!" "Bagaimana kau akan menghadapinya?" "Wanpwe berencana masuk ke perkumpulannya, menanti kesempatan menangkap hidup-hidup Phei Cen, menghukum berat sesuai dengan peraturan perguruan." "Kenapa tidak sekarang pancing dia masuk ke dalam lembah?" "Dia sangat licik dan banyak curiga, ini... susah memancing dia, Wanpwe sejak terjatuh ke dalam jurang sampai sekarang belum melihat dia kembali." Sebenarnya Pui Cie ingin sendirian menyelesaikan perintah perguruan, tidak mau dibantu oleh siapapun sebab dia adalah penerus ketua perguruan. < Ku Tien Chan datang kedepan mereka berdua, bicara dengan gaya kaki dan tangan, mulutnya mengeluarkan suara ,"Wu.. a., i., ya...!" tetapi Pui Cie tidak paham. Bo Yu Sien Ce berkata, "Katanya ada seorang berbaju indah bertopeng muncul lalu pergi lagi." Pui Cie menggigit bibir, "Itulah Phei Cen!" Bo yu Sien Ce mendadak berdiri, "Aku punya akal bisa menangkap dia."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ku Tien Cen sudah pergi lagi melihat keadaan di mulut lembah. Sepasang mata Pui Cie bersinar. Dia berkata, "Cian pwe, punya akal apa untuk menangkap Phei Cen?" Kata Bo Yu Sien Ce, "Dua orang Biauw mencoba masuk dan telah terkurung dalam formasi. Tadinya aku mau melepaskannya, kau sebagai utusan katakan bahwa Ma Gwe Kiau berada didalam lembah ini dan dia mau berunding dengan Phei Cen mengatasi segala persoalan. Aku nanti buka formasi dan membiar dia masuk setelah itu kita robah formasinya dan menangkapnya. Bagaimana?" Pui Cie pikir seksama, lalu dia berkata, "Menurut adatnya, dia tidak akan mudah mau mengambil resiko. Kalau siasat ini ketahuan olehnya, apa-apa yang telah aku rencanakan akan jadi sia-sia. Lebih baik lepaskan dua orang Biauw itu dulu sebagai tangga masuk ke perkumpulan mereka. Baru nanti cari kesempatan untuk membalas, sepertinya lebih aman." Bo Yu berpikir lagi sejenak, lalu bilang, "Baiklah! Terserah padamu. Aku sudah tidak bernafsu terhadap masalah dunia persilatan. Aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku disini. Anak dan ibu bertapa disini. Tidak mau tahu lagi masalah dunia luar." Bicaranya begitu tapi matanya jadi merah. Pui Cie sangat terharu. Ini adalah masalah cinta generasi terdahulu. Dia tidak mau pikir siapa betul siapa salah. Ini akan terlupakan seiring waktu yang berlalu. Dia berpikir-pikir lalu bilang, "Wanpwe, mau tanya sesuatu." "Masalah apa?" "Masalah Hu Leng Hun.." "Masalah ini kau jangan ikut campur!" "Aku berhutang budi pada anaknya, Hu Sing Yi. Dia telah menolongku dari malapetaka. Dan aku pernah mengiyakan mau mencari tahu masalah ini. Bukan mau ikut campur." Wajah Bo Yu berubah-ubah. Terakhir dia menghela nafas dan berkata, "Baiklah aku akan memberitahumu. Tapi kau harus jaga mulutmu tidak boleh bocor keluar." Pui Cie dengan sendirinya agak tegang. Dia mengangguk dan berkata, "Aku pasti bisa menjaga mulutku."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bo Yu dengan seperguruanku..." berat hati berkata, "Hu Leng Hun adik

Pui Cie sangat kaget, diluar dugaannya, matanya sampai membelalak besar. Boyu meneruskan, "Dia adalah satu-satunya murid pewaris yang diterima oleh almarhum ayahku. Ah! Ini sudah masalah puluhan tahun yang lalu. Tapi kejadian masih seperti di depan mata. Waktu itu dia belum dua puluh tahun. Silatnya sudah memandang tinggi. Umur muda sudah berhasil. Mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi dia jadi sombong. Kelakuannya di dunia persilatan tidak terkontrol dan memalukan perguruan. Karena dia menyukai seorang wanita yang jelek tabiatnya. Dia telah mencuri sebuah barang yang sangat dipusakakan oleh almarhum ayah. Ayah perintah aku untuk mencarinya..." "Belakangan bagaimana?" "Setelah bertemu, dia pura-pura menyesal dan mau berubah, dia menangis dan mengaku salah, aku kira dia sungguh-sungguh..." dalam mata Bo Yu terlihat kesal, sepertinya sangat dendam. Dia bercerita menyerangku..." "Ah!" "Waktu itu aku terluka parah. Hidup dan mati hanya dalam hitungan nafas, beruntung ditemukan oleh gurumu. Hu Leng Hun merasa takut dan melarikan diri. aku ditolong dengan susah payah oleh gurumu. Baru bisa mempertahankan nyawa ini. Untuk menyembuhkan lukaku, kami sering bersentuhan tubuh, maka..." Pui Cie menjadi mengerti, ternyata kejadian yang sebenarnya dengan gurunya adalah begitu. Rupanya Bo Yu sedih sekali, lama sekali dia baru bicara, "Aku memaksa gurumu. Belakangan... belakangan lahirlah Tien Chan. aku tahu suhumu telah berkeluarga, maka aku meninggalkannya. Aku mohon dalam setahun kami bertemu sekali. Dua puluh tahun sudah lagi, "Sewaktu aku lengah, dia mendadak

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berlalu, dia mendadak tidak datang lagi. Saya sangat dendam. Tidak disangka dia terkena malapetaka dan cerita selanjutnya kau sudah tahu semua..." "Ya!" "Sampai delapan tahun yang lalu, Hu Leng Hun benar-benar insyaf. Dia tahu sendiri dosanya tak dapat diampuni. Dia datang kesini minta aku mengampuninya, dan minta diterima kembali ke perguruan dengan menghukum diri di depan altar. Tapi aku tidak mengizinkannya. Dia... menunggu disini sampai mati. Inilah kejadiannya." "Bagaimana dengan pusaka yang dicuri Hu<Leng Hun?" "Sudah hilang. Dia tidak bisa mengembalikan pusaka itu makanya aku tetap tidak mengizinkan dia kembali ke perguruan." "Pusaka apakah itu?" "Sebilah Giok Ju Yi (belati terbuat dari giok)" "Giok Ju Yi?" "Betul, belati itu terbuat dari batu giok yang berumur ribuan tahun. Luka yang bagaimanapun beratnya kalau golok itu ditempelkannya dalam waktu sekian lama dibadan maka luka itupun akan segera sembuh. Itu adalah pusaka yang jarang ada di dunia persilatan" Saat itu Pui Cie terharu sekali. Dia teringat masalah 'pedang raja' yang asli dan palsu. Menurut penuturan Thu Sing Sien yang dia dengarkan, Shin Kiam Pang telah menyuruh orang mencuri Giok Ju Yi dari keraton, dan menyuruh 'San Yen Pi Hu Kui' mengawal pulang. Tapi malah dibawa kabur oleh Oey Thao yang juga terbunuh waktu itu. Belakangan Shin Kiam Pangcu memakai pedang palsu yang disebut 'Pedang Raja', untuk memancing pedang asli keluar. Pedang Raja akhirnya telah didapatkan oleh Tan Yang Ce Ayah ibuku meninggal karena kasus Pedang Raja'. Kebetulan diriku bisa

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ mendapat rahasia pedang itu, dan berhasil mendapatkan jurus maut Pa Kiam(pedang bengis). Sewaktu berfikir begitu, dia langsung berkata, "Belati Giok itu sudah jatuh ke tangan Phei Cen." Bo Yu kaget setengah mati, dengan suara gemetar bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu?" Pui Cie menceritakan kembali persoalan "Pedang Raja' itu. Bo Yu dengan suara gemetar bilang "Ini., dengan cara apapun Belati Giok itu harus didapatkan kembali." Bo Yu berfikir cukup lama, lalu dia berkata, "Aku sudah bersumpah tidak akan terjun lagi ke dunia persilatan. Masalah ini... kau harus membantuku menyelesaikannya. Kalau sudah mendapatkan belati itu suruh anak Hu Leng Un yang mengembalikan, selanjutnya akan kumohonkan ampun dari Couwsunya atas dosa-dosa Hu Leng Hun." Pui Cie mengangguk-angguk, melaksanakannya." "Wanpwe pasti akan

Sudut mata Bo Yu kelihatan seperti berair dia menghela nafas dan berkata, "Anak, apakah kau tetap akan menjalankan rencana ini menurut pemikiranmu?" Sepatah kata 'anak' ini menyentuh sekali hati Pui Cie. Dia merasa hangat hatinya. Dengan nada pasti dia berkata, "Ya, Phei Cen tidak saja mendapatkan Giok Ju Yi juga telah membunuh delapan orang anak buah Khang Khang Mui, mencuri setengah buku rahasia ilmu silat. Urusan ini mereka menuduh aku yang melakukannya maka Khang Khang Mui mau buat perhitungan denganku. Ini semua sekalian akan kuurus." Bo Yu dengan suara 'oh' dia berkata, "Baiklah, kau boleh bawa kedua orang biauw itu keluar. Kau jalankan saja semua rencanamu itu." Lalu dia membawa Pui Cie berputar-putar beberapa posisi dan menunjukan, "Orang yang terkurung didalam barisan." Dua Orang Biauw yang terperangkap dalam formasi itu sudah tidak berkutik. Mungkin sudah terlalu lama terkurung tenaganya

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menjadi habis. Sekarang mereka berdua bergelimpangan disitu. Melihat Pui Cie dan Bo Yu muncul, dengan perasaan takut mereka menggeliat mau bangun. Pui Cie membalikan dirinya dan berlutut pada Bo Yu berkata, "Wanpwe mau permisi!" setelah berkata begitu dia berdiri dan mencabut Pa Kiamnya menunjuk, "Jalan!" Dua orang Biauw itu menjadi pucat pasi. Karena biasanya mereka bersikap angkuh, tangan masing-masing memegang pisau .. Pui Cie berkata dengan suara dingin, "Kalau tidak ingin mati, hayilah keluar!" Salah seorang suku Biauw dengan suara keras bertanya, "Siapa kau?" "Si Baju Ungu!" "Kau mau apa?" "Sesudah keluar lembah kau akan tahu. Ayo jalan!" ujung pedangnya sudah menempel di tubuh mereka. Dua orang itu saling berpandangan, mereka mulai melangkah. Di bawah petunjuk Bo Yu mereka keluar dari barisan ajaib ini. Baru saja menampakan diri di sisi batu raksasa, ahli-ahli silat dari Shin kiam Pang sudah mengurung dua orang Biauw tadi. Melihat orang Shin Kiam Pang, mereka berdua takut setengah mati. Meraka berusaha menjauhkan diri mau... Jari Pui Cie segera bergerak menotok secepat kilat. Keduanya langsung roboh ditotoknya. Ti Kuang Beng dan kawan-kawannya semua terkaget-kaget memandang Pui Cie. Ti Kuang Beng ke depan dan berkata, "Adik, bagaimana sebenarnya masalahnya?" Dengan santai Pui Cie menjawab, "Kedua orang ini karena dikejar ketakutan, sembarangan menerobos masuk ke lembah, dan terperangkap disana, aku membawa keduanya keluar, setelah mendapat persetujuan Cianpwe yang ada di dalam. Masalah keberadaan Ma Gwe Kiau kau tanya saja sendiri!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang beng tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Bagus, sudah kuduga perkataan dan perbuatan anda sejalan." Guan Cen Ce memandang Pui Cie dan berkata, "Tadi aku semua curiga Siauhiap sealiran dengan Ma Gwe Kiau. Maafkan kelancanganku!" sambil membungkukkan badan sikapnya menjadi berubah sekali. Pui Cie mngangkat kedua belah tangan, "Tidak apa-apa!" dalam hati dia berkata, "Kalau saatnya telah tiba kalian satu persatu akan mati di bawah Pa Kiam ku!" Orang berbaju indah setengah baya mendekat ke depan dua orang Biauw itu, setelah melihat sebentar, berkata, "Mohon petunjuk Komandan, bagaimana mengatur mereka." Guan Cen Ce mengibaskan lengan jubahnya sambil berkata, "Bawalah dulu, nanti aku yang mengatur!" Orang baju indah setengah baya itu mengangkat tangannya, segera ada dua orang pengawal maju membawa kedua orang Biauw itu pergi. Ti Kuang Beng menunjuk orang baju indah setengah baya pada Pui Cie berkata, "Inilah Komandan pengawal Xiao Ta Chi. Kalian harus saling berkenalan." Xiao Ta Chi membalikan badan, belum lama ini dia terluka oleh Pa Kiamnya Pui Cie. Air mukanya masih ragu-ragu, dengan terpaksa mengangkat kedua belah tangan memberi hormat. Pui Cie juga menggenggam kedua belah tangan memberi hormat. Pui Cie juga mengangkat kedua belah tangannya membalas. Ti kuang Beng berkata, "Adik, mari kita pindah tempat untuk mengobrol." Pui Cie sudah menangkap apa maksud yang mau dibicarakan itu, dia mengangguk dan berkata, "Baik, silahkan!" Ti Kuang Beng mengangkat tangan, dan melirik Yipha Yauci dan berkata, "Penasihat Liu apakah juga mau ikut?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci juga mengangguk, dua laki-laki satu perempuan melangkah pergi. Di sisi lain, Guan Cen Ce bersama para pengawal membawa kedua Biauw sudah pergi jauh. Pui Cie, Ti Kuang Beng, dan Yipha Yauci bertiga sampai di sebuah bukit kecil. Mereka mencari tempat untuk duduk. Ti Kuang Beng tersenyum-senyum baru bicara dengan suara rendah dan pelan, "Adik, ketua kami sangat puas dengan kepiawaianmu. Mari kita bekerja sama menjayakan dunia persilatan. Tetapi..." Pui Cie asal bicara, "Tetapi apa?" Dengan muka tegas Ti Kuang Beng bicara, "Menurut peraturan dunia persilatan adik harus menerangkan dulu asal-usulmu." Pui Cie berpikir-pikir lalu berkata, "Guruku telah meninggal, tidak perlu lagi disebut-sebut." Ti Kuang Beng terdiam saja. Yipha Yauci menyambung, "Si Baju Ungu, air ada sumbernya Pohon berakar tidak bisa asal jadi saja. Hal yang lain jangan dibicarakan dulu, kau nama dan marga saja belum pernah menyebutkan..." Setelah berpikir sebentar, Pui Cie berkata, "Aku Ong Giok!" Ong Giok dua huruf, pecah dua dari huruf Cie. "Ong Giok!" "Kau jarang berkelana di dunia persilatan?" "Baru selesai menuntut ilmu." "Ooo!" "Apa artinya o ini? Aku tidak mengerti." Ti Kuang Beng berdiri dan berkata, "Aku pergi sebentar anda berdua silahkan ngobrol dulu!" habis bicara sekelebat badannya sudah menghilang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci menunggu bayangan Ti kuang Beng menghilang. Dengan dingin bertanya, "Benarkah namamu Ong Giok?" Pui Cie menyungging mulut berkata, "Lucu, apa nama dan marga bisa dipalsukan?" Yipha Yauci sedikit tersenyum, "Masalahnya bukan aku puas atau tidak. Mesti dilihat kepuasannya ketua. Kau sudah pastikan dirimu mau bergabung dengan perkumpulan kami?" Pui Cie berfikir, pura-pura mundur, tetapi kemudian maju berkata, "Tergantung, itu harus lihat syarat perkumpulan kalian. Aku sudah biasa hidup tidak dikekang. Sekarang harus diperintah orang... sepertinya susah juga beradaptasi." Berhenti sebentar dia mencoba memancing, "Kenapa tidak terlihat ketua perkumpulanmu?" Yipha Yauci dengan malas menjawab, "Kalau dia ada keperluan, dia akan datang menemuimu!" Bergejolaklah perasaan Pui Cie, jika dia sudah bertemu dengan Phei Cen akan langsung bertindak atau pelan-pelan tunggu waktu sampai saat paling menguntungkan? Sekarang orang-orang didalam gunung, semua merupakan musuh yang tangguh. Kalau mereka bergabung lagi menyerang dirinya akibatnya sulit dibayangkan. o-o-o Di tempat yang lain, dua orang Biauw sudah diikat di sebuah pohon. Komandan pengawal Xiao Ta Chi yang melaksanakan, dan Komandan Guan Cen Ce yang akan menghakimi. Dua orang Biauw itu sudah terluka sekujur tubuhnya, bajunya sudah compang camping, kulitnya terbuka, dagingnya kelihatan, tampaknya seperti menjadi dua manusia darah, pemandangan yang sangat memilukan. Guan Cen Ce dengan bengis menggertak, "Hayo katakan, dimana Ma Gwe Kiau bersembunyi?" Dua orang Biaw itu melotot dengan gemas sambil menggigit bibirnya. Sedikitpun tak mau mengeluh. Seorang pengawal membawa ranting-ranting kering ditumpuk dibawah kaki kedua orang ini.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Komandan Xiao Ta Chi dengan satu tangan menjambak rambut satu Biauw. Ditarik ke belakang. Secara sadis berkata, "Tidak mau bicara? Sekarang pandang dulu temanmu untuk contoh kau lihat." Lalu ia mengangkat tangan dan memekik, "Bakar!" Seorang pengawal mengeluarkan pematik api. Diketikan sambil digerak-gerakan. Sebentar kemudian keluar asap, api langsung menyala di tumpukan sebelah kiri. Saat itu tiba-tiba seorang pengawal lari ke depan, melemparkan sebungkus barang ke dalam api. "Pheng!" dengan suara keras. Asap hitam pun membumbung. Komandan Xiao Ta Chi memekik, "Apa yang telah kaulakukan?" Tapi pengawal itu sudah lari lagi memasuki hutan. Guan Cen Ce juga memekik, "Cepat kejar! Dia mata-mata!" Hampir bersamaan waktunya, bergulung-gulung asap keluar dengan tiupan angin yang kencang. Bunga api berterbangan. Asap menjalar kemana-mana. Asapnya membawa wewangian. Komandan Xiao Ta Chi sudah mengejar masuk ke hutan. Guan Cen Ce memekik dengan suara bergetar, "Cepat mundur! Asap beracun!" Semua terjadi begitu cepat dan begitu mendadak. Beberapa puluh pengawal yang belum keburu bertindak sudah rubuh. Guan Cen Ce meloncat sampai sempoyongan dia langsung terduduk. 20 meter lebih. Setelah

Dari tempat itu, suara jeritan yang mengerikan datang. Komandan Xiao Ta Chi lari terbirit-birit dari dalam hutan sambil menyeruduk kepada Guan Cen Ce, tapi sekitar lima meter dia sudah kehabisan tenaga dan terjatuh. Dia masih mencoba berkata, "Komandan... Mata-matanya ialah..." perkataannya belum habis, nafas sudah putus. Pengawal yang menaruh racun ke dalam bara api itu muncul lagi dan langsung memutuskan tali-tali yang mengikat 2 Biauw itu. Kedua

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tangannya menarik 2 orang itu menyembunyikan diri dalam hutan. Gerak geriknya begitu cepat dan tangkas. Kemudian muncul satu lagi bayangan orang menyemprot semacam cairan ke depan Guan Cen Ce. Guan Cen Ce menjerit-jerit, "Ternyata kau..." "Phing!" bersamaan dengan itu terdengar jeritan Guan Cen Ce yang kepalanya pecah, kening robek dan mati seketika. Bayangan orang itu segera menghilang, suasana tenang kembali. Terlihat mayat-mayat bergelimpangan Kira-kira setengah jam kemudian Pui Cie dan Yipha Yauci sampai ditempat itu. Mata meraka memandang seluruh lokasi. Dia menjerit. Dengan gemetar berkata, "Perbuatan siapa ini?" Pui Cie memeriksa beberapa orang pengawal terdekat dengan keras dia berkata, "Mati keracunan, ini pasti perbuatan Ma Gwe Kiau." Yipha Yauci memutar badan ke samping memandang Pui Cie dengan gemas, "Si Baju Ungu, kau harus menjelaskan!" Pui Cie melotot aneh, "Kita kan datang bersama, apa yang harus dijelaskan?" 0-0-0 BAB 8 Masalah bermunculan Yipha Yauci melihat sekali lagi mayat-mayat yang bergelimpangan terkena racun itu. Lalu dengan dingin berkata, "Si Baju ungu, dari sini ke lembah tidak jauh jaraknya. Kau bilang didalam lembah tidak ada Ma Gwe Kiau, kau tidak mendapat bukti-bukti yang nyata..." "Aku telah mengeluarkan 2 orang Biauw itu!" seperti kilat

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sekarang mana orangnya? pertanggungan njawabmu?" Sudah ditolong kembali, apa

"Aku tidak perlu memberi penjelasan, kau mau apa?" "Aku tidak mau apa-apa, nanti akan ada orang yang membuat perhitungan denganmu!" "Hah!" Sebuah bayangan orang tiba dengan cepatnya. Dia adalah pengurus utama Ti Kuang Beng. Dengan sangat mendongkol dia berkata," Kelakuan Ma Gwe Kiau sangat kejam. Sekali gerak telah membunuh beberapa jagoan perkumpulan kita" Yipha Yauci memandang sambil berkata, "Bapak pengurus, tadi anda kemana?" "Menemui ketua minta petunjuk mengenai urusan adik Ong yang ingin masuk perkumpulan." "Apa kata pangcu?" "Tidak ketemu. Pangcu telah membawa pengawal pergi mengurus masalah yang lebih penting." "Ow! Apakah Bapak pengurus sudah tahu apa yang terjadi disini?" "Aku mendengar suara teriakan, Selanjutnya pergi mengejar musuh." "Ada yang tertangkap?" "Lolos semua!" "Siapa?" "Mengapa Liu penasihat menanyakannya? sudah pasti ini adalah perbuatan Ma Gwe Kiau." "Kemana arah pihak lawan?" "Kabur ke sebelah Barat." kemudian mengejar kesini.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Pengurus utama bukankah sudah mempunyai cara yang sempurna untuk mengatasi Ma Gwe Kiau? Mengapa sampai dia bisa...?" "Dia membawa empat jagoan yang belum jelas dari mana. Aku..." waktu bicara mengangkat lengan terlihat bajunya yang robek, lengan atas kena tiga goresan pedang yang masih bercucuran darah. Pui Cie tergerak hatinya, rupanya Ma Gwe Kiau bermaksud melawan Phei Cen. Yipha yauci berpikir-pikir lalu memandang Pui Cie, dia berkata, "Menurutku, lembah misteri yang diblokir formasi aneh itu yang paling bermasalah." Ti Kuang Beng menurunkan lengannya. Dengan suara rendah dia berkata, "Aku yakin urusan ini tidak ada hubungannya dengan orang yang berada didalam lembah." "Berdasarkan apa bapak pengurus berkata begitu?" "Mata-mata perkumpulan kita disana sama sekali tidak melihat gerakan apa-apa." "Susah dikatakan!" "Kita harus memutuskan." "Yang ini..." "Sekalian ikut!" Pui Cie girang sekali. Ma Gwe Kiau sekali bikin keributan 2 orang musuh tangguh sudah terbasmi. Sekarang agak ringan tekanannya untuk melawan Phei Cen. Kalau ada kesempatan bisa menyingkirkan laki dan perempuan didepan mata ini, sudah tidak usah kuatir dengan pengawal elit yang tersisa. Hatinya berfikir begitu, mukanya sedikitpun tidak menunjukan apa-apa. Yipha Yauci mengerutkan dahi, "Bagaimana membereskan tempat ini?" segera menemui pangcu biar dia yang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng berfikir sejenak, "Nanti suruh yang lain kesini mengurusinya. Kita lebih penting bertemu pangcu untuk melaporkan kejadian ini semua." Yipha Yauci menghela nafas berkata, "Kalau begitu mari kita berangkat saja!" Ketiganya langsung menuju arah jalan keluar pegunungan. Yipha Yauci berjalan didepan kedua orang itu. Selendang sutra merahnya melambai-lambai tertiup angin. Gaya jalannya luwes seperti dewi turun dari khayangan. Sambil memeluk phipha, daya pikatnya sungguh luar biasa, penuh pesona. Pui Cie tidak ada hati menikmati ini semua. Dia sedang memperhitungkan apa langkah yang harus ditempuh setelah bertemu Phei Cen. Saat maghrib ketiganya segera naik ke atas puncak tunggal sewaktu Pui Cie didesak masuk kedalam jurang itu. Dia mendadak merasa terharu dengan tempat ini. Dalam hatinya timbul hasrat membunuh untuk membalas sakit hatinya. Kenapa datang ke tempat ini lagi? Kenapa tidak terlihat sosok Phei Cen dan para pengikutnya?" Yipha Yauci pelan-pelan jalan menuju bibir jurang. Diam bengong disana. Ti Kuang Beng dengan suara keras meledeknya, "Penasihat Liu, aku tahu kau sedang memikirkan apa." Yipha Yauci tidak menoleh. Pelan sekali dia menjawab, "Pikirkan apa?" Ti Kuang Beng berucap, "Kau sedang melamun Pui Cie..." "Teng" Hati Pui Cie bergetar, dia semula sudah merasa perasaannya. Tapi dia tak mau menghiraukan. Karena waktu dia jatuh ke dalam jurang justru Yipha Yauci yang membuat umpannya, sekarang Ti kuang Beng membuka rahasia, dia juga tak tahu bagaimana perasaan hatinya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci menoleh dan berkata, "Pengururs Utama, apa artinya perkataanmu itu?" Ti Kuang Beng bilang, "Apa yang ada dalam hatimu akan terpancar dari luar. Itu tak bisa disembunyikan dari pandangan orang lain. Orang selalu tidak merasa telah membocorkan rahasia isi hatinya, terlebih gadis yang penuh khayalan..." Yipha Yauci jalan lagi. Mata berbinar dan bilang, "Aneh, kau kenapa punya pemikiran seperti itu?" "He.. he.. he..", Ti Kuang Beng tertawa-tawa seenaknya terus berkata, "Sayang dia sudah mati, kalau dia didalam sana tahu, hatinya juga tentu akan tentram!" Alis mata Yipha Yauci ternangkat, "Kau cemburu?" Sikap dan gayanya yang begitu ceriwis, Pui Cie merasa muak. "Ha., ha., ha..", Ti Kuang Beng tertawa lagi, berkata, "Aku tidak akan cemburu terhadap orang yang telah mati. Sudahlah Penasihat Liu, jangan sampai ditertawakan oleh adik ini, Mari kita bicarakan pada persoalan yang serius saja. Kenapa Pangcu dan orang-orangnya semua belum kelihatan?" Saat itu juga seorang pengawal elit muncul dari kegelapan, dengan satu kaki melutut, menggenggam kedua tangannya sambil memberi hormat, "Hamba Peng Wei, menemui pengurus utama dan penasihat!" Ti Kuang beng mengangkat tangan, "Kepala bagian Peng. Bangunlah!" Peng Wei bangun lalu berdiri dengan sikap hormat, "Hamba mendapat perintah dari Pangcu, bahwa urusan dalam gunung ini harap ditangani oleh pengurus utama dan komandan, sedangkan Penasihat Liu harap segera pulang ke markas." Ti Kuang Beng mengerutkan kening, "Mana Pangcu?" Peng Wei menjawab, "Sudah kembali ke markas."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie menjadi lesu, tidak disangka Phei Cen sudah kembali kemarkasnya, sekarang untuk mencari dia kembali menjadi bertambah sulit, sangat mengecewakan. Kenapa dia mendadak tidak mau mengejar dan membunuh Ma Gwe Kiau lagi? Sepertinya dia belum tahu bahwa komandan Guan Cen Ce dan komandan pengawal elit Xiao Ta Chi sudah terbunuh. Ti Kuang Beng menghela nafas bertanya, "Apakah Pangcu masih ada pesan yang lain?" Peng Wei melirik-lirik Pui Cie, dengan tersendat-sendat dia bilang, "Ada yang berhubungan..." "Apa?" "Silakan, bisakah kita bicara disana." "Hm!" Ti Kuang Beng dan kepala bagian Peng itu bergeser menjauh, lebih 10 meteran jauhnya. Setelah berbisik-bisik sebentar kemudian berbalik lagi ke tempat semula. Ti Kuang Beng tersenyum-senyum pada Pui Cie dan berkata, "Adik, terpaksa pertemuanmu dengan pangcu harus ditunda. Setelah sepuluh hari kita bertemu lagi di Cao Yang dan kita berunding lagi disana. Bagaimana?" Pui Cie jadi curiga dalam hati berpikir. Apakah pihak lawan telah menemukan sesuatu yang tidak beres? Dengan asal asalan dia menjawab, "Bagaimana nanti saja!" Ti Kuang Beng memandangi Yipha Yauci dan berkata, "Penasihat Liu, harap laporkan pada pangcu apa yang telah terjadi sore tadi. Sekarang aku mau cari orang-orang untuk membereskan ini semua. Kita harus menunggu pangcu memberi perintah lebih lanjut." Yipha Yauci mengangguk, "Ya, nanti aku akan minta petunjuk pangcu!" Ti kaung Beng membalikkan kepalanya, berkata, "kepala bagian Peng!" "Hamba disini!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Dalam gunung masih ada berapa saudara-saudara kita?" "Dua belas orang!" "Bagus! Cepat kumpulkan semua dan tunggu perintah!" "Ya!" Kepala bagian bermarga Peng itu kemudian berlalu setelah memberi hormat. Pikiran Pui Cie terus berputar, "Saat ini adalah kesempatan yang paling baik untuk membasmi sepasang laki perempuan ini. Tapi... kalau dibunuh sekarang jalan untuk mendekati Phei Cen menjadi terputus... Ah,' lebih baik sabar dulu!" Yipha Yauci berjalan dengan langkah gemulai. Kemudian berkata, "Kalau begitu, aku berangkat dulu!" Ti Kuang Beng mengangguk sambil berkata, "Silakan penasihat Liu, sepuluh hari kemudian kita bertemu lagi di pusat perkumpulan!" Yipha Yauci memandang Pui Cie dan berkata, "Sampai ketemu lagi!" Selendang sutra merahnya melambai-lambai, dia sudah jalan pergi dikeremangan malam. Sekarang tinggal Ti Kuang Beng dan Pui Cie berdua di atas bukit tunggal itu. untuk membunuhnya menjadi sangat mudah. Ti Kuang Beng seperti bergumam, "Benar-benar tidak terduga!" Pui Cie dengan tidak mengerti bertanya, "Apa yang tidak terduga?" Ti Kuang Beng merendahkan suaranya berkata, "Sebenarnya aku tidak boleh berkata apa-apa tapi sekarang karena tinggal dirimu dan aku, pasti kau tidak bisa membayangkan, bahwa ternyata Pui Cie tidak mati!" Hati Pui Cie terguncang keras, sengaja bersuara kaget," apa... Pui Cie tidak mati?" "Ya!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bagaimana ceritanya?" Ti Kuang Beng tercengang, dia seperti tidak sengaja kelepasan bicara mengenai rahasia ini. Tentu saja mimpipun dia tak akan menyangka siapa orang didepannya ini. Karena dia sangat percaya diri, sangat cepat berpikir dengan suara berbisik dia berkata, "Sebenarnya rahasia ini tidak boleh bocor. Tapi aku percaya padamu, tidak mau membohongimu. Disinilah tempat Pui Cie terdesak jatuh kejurang..." Pui Cie mundur satu langkah besar, membelalakan sepasang matanya dan berkata, "Siapa yang berkemampuan begitu besar, bisa mendesaknya jatuh kejurang?" "Pangcu turun tangan sendiri." "Ow.. kemudian bagaimana dia bisa tahu tidak mati?" "Satu jam yang lalu, Pangcu menyuruh orang turun ke jurang untuk memeriksa, dan ternyata tidak menemukan mayatnya!" "Terjerumus ke dalam jurang tidak mati? Ajaib sekali!" "Benar-benar tidak bisa dipikirkan dengan akal!" "Kalau begitu., persoalan?" "Em!" "Seperti apa persoalannya?" "Itu persoalan lama, aku orang baru, tidak tahu detail-detailnya. Kabarnya... Dia banyak membunuh jagoan-jagoan perkumpulan kami, boleh dibilang air dan arang tidak bisa disatu tempat." Pui Cie merasa geli, dia memancing dan bertanya lagi, "Boleh tahu siapa nama pangcu anda?" Ti Kuang Beng tertawa dan dengan kikuk berkata, "Maaf, ini., lain kali aku kasih tahu." Berhenti sejenak, lalu memutar pokok pembicaraan. apakah perkumpulanmu dan Pui Cie ada

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Menurut berita, mata-mata kami pernah melihat jejak Pui Cie di luar gunung, maka pangcu kami cepat-cepat pulang ke markas mencari akal untuk mengatasi ini semua. 0-0-0 BAB 9 Dari Tamu Menjadi Tuan Rumah Pui Cie sengaja tertawa terbahak-bahak, dia berkata, "Kalau Pui Cie tidak mati, berarti keinginanku cepat lambat pasti bisa terlaksana!" "Kau tetap akan bertarung dengan Pui Cie?" "Ya!" Mulutnya berkata ya tapi dalam hatinya bergejolak terus, diluar gunung ini bisa menemukan jejak Pui Cie, siapa yang telah menyamar sebagai dirinya? Teringat akan anak buah Khang Khang Mui Ying Ce Jen' dan yang lain-lainbya, lima orang tua tiga anak muda semua yang sudah mati terbunuh, dan pembunuhnya telah membawa kabur setengah buku pusaka yang tak terhingga nilainya, apakah semua perbuatan si penyamar? Tadinya dia mencurigai perbuatan Phei Cen, tapi ternyata perkiraannya ternyata salah. Ti Kuang beng berkata lagi, "Adik, sepuluh hari kemudian kita bertemu di Cao Yang!" Pui Cie segera mengangguk, Phei Cen sudah pergi dia tak perlu berlama-lama lagi di dalam gunung ini, sekarang lebih penting adalah mencari orang yang menyamar dirinya. Kasus berdarah terbunuhnya Ying Ce Jen' dan anak buahnya, dia yang harus menanggung akibatnya, siapa tahu si penyamar ini akan melakukan sesuatu lagi?" Ti Kuang beng menggenggam kedua tangannya berkata, "Adik jaga diri baik-baik, aku mau pergi untuk berjaga-jaga." Pui Cie juga membalas hormat kembali, "Silahkan!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng sedikit menggerakan tubuhnya, orangnya sudah melayang pergi. Pui Cie memandangi bayangan punggung Ti Kuang beng yang menghilang, diam-diam dia berfikir dalam hatinya, "Sebenarnya kepandaian Ti Kuang Beng tidak lebih unggul dari Guan Cen Ce. Juga dengan komandan pengawal elit Xiao Ta Chi. Ma Gwe Kiau dan anak buahnya bisa dengan mudah membunuh mereka, kenapa tidak mampu menghadapi Ti Kuang Beng dan beberapa orang pengawalnya? Mereka bertahan di gunung ini apa yang diandalkan?..." Dalam kegelapan malam, Pui Cie bergerak menuju mulut gunung. Setengah jam kemudian kira-kira sudah menempuh sepuluh lie, tibatiba terdengar suara phipa yang begitu merdu. Hati Pui Cie tersentak dan terpaku di tempat/Dia berfikir, "Yauci sudah mendapat perintah pulang ke Cao Yang, ke pusat Shin Kiam Pang, kenapa sekarang di tengah jalan malah memetik phipa? Suara phipa begitu sendu penuh kedamaian, sepertinya bukan sedang menghadapi musuh." Sesosok bayangan berselendang merah telah muncul di alam pikirannya, Pui Cie mencoba tak mau pedulikan, tapi ternyata dia tak bisa mengabaikan perasaan aneh itu dalam hatinya. Dia mengamati arah datangnya suara phipa sepertinya datang dari tempat yang tidak begitu jauh, tidak terasa dia berjalan menuju kesana lagi. Sebuah aliran sungai kecil, turun dari bebatuan di atas lembah, samar-samar bisa terlihat pantulan sinar dari riak gelombang yang terpancar. Di atas batu sungai, Yipha Yauci duduk sambil memetik phipa, nada-nada yang merdu keluar dari jari jemarinya, mengalun di kegelapan malam siapapun yang mendengarnya akan merasa begitu tenang dan nyaman. Sebelum sampai dipinggir sungai, dia berhenti dan melamun sejenak, bola mata berputar, tiba-tiba dia melihat bayangan Yipha Yauci kira-kira sepuluh meteran di atas batu, dibelakangnya berdiri juga sebuah bayangan menusia yang berbaju putih bertutup muka, di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang mirip sekali dengan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dirinya sendiri, darahnya mendadak mendidih, dalam hatinya menjerit, "Itulah orang yang menyamar diriku!" Kebetulan sekali, tak usah bersusah payah lagi mencarinya!" Rasa ingin membunuh, mengalir kencang bersama dengan aliran darahnya. Suara phipa tiba-tiba berhenti mendadak, Yipha Yauci seperti merasa ada yang mengawasinya, pelan-pelan membalikkan badan menghadap orang berbaju putih, dan berkata dengan suara manja, "Pendekar muda Pui, apakah kau masih tidak mau memaafkan aku?" Orang berbaju putih dengan pelan berkata, "Jangan bicara soal maaf, aku orang yahg sudah berkeluarga, aku tidak bisa memenuhi keinginan nona." Dia terang-terangan mengaku dirinya sebagai Pui Cie. Suaranya juga mirip, juga berani berkata bahwa dia sudah berkeluarga. Pui Cie yang sebenarnya menjadi marah, emosinya tak tertahankan badannya sampai gemetaran, susah membendung rasa ingin membunuhnya! Yipha Yauci tertawa renyah lalu berkata, "Aku tak peduli kau sudah beristri atau belum, aku hanya ingin menjadi sahabatmu." Orang berbaju putih berkata lagi, "Kita sekarang kan sudah berteman. Di dunia persilatan kalau bukan musuh pasti teman." Yipha Yauci sudah tidak merasa malu lagi berkata, "Tidak! Yang aku maksud, teman yang lebih. Bukan teman yang seperti biasa!" "Apa maksudmu...?" "Teman yang bisa berbicara lebih dekat, bisa bicara dari hati ke hati." "Nona Liu, jangan lupa perkumpulanmu denganku seperti api dan air, tidak bisa hidup bersama!" "Aku bisa meninggalkan Shin Kiam Pang!" "Kenapa harus begitu?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Sebab... aku ingin berteman denganmu.." "Patut atau tidak itu hanya pendapat orang saja. Urusan dtinia ini kadang-kadang juga susah diberi kepastian!" Pui Cie sudah tidak tahan, sekali bergerak tubuhnya melayang turun diantara keduanya. Yipha Yauci segera turun dari atas batu tidak terasa memekik, "Si Baju Ungu!" Pui Cie memandangi terus si penyamar itu. Si baju putih tertawa renyah dan berkata, "Sobat, katanya kau mau bertarung denganku?" Pui Cie merasa geli juga mendongkol, dia bertanya, "Kau apakah benar Pui Cie?" Si baju putih tertawa, "Ha., ha., ha., lucu benar, apa artinya semua ini?" Pui Cie dengan kecut berkata, "Dalam hatimu kau sudah mengerti itu semua." "Aku tidak mengerti." Sambil berkata badannya sudah melayang turun dari batu. Kata Pui Cie, "Buka topengmu! Pui Cie selamanya tidak pernah memakai topeng." Si Baju Putih secara sadis berkata,"sobat, maksudmu mencariku adalah untuk bertarung pedang, urusan yang lain tidak perlu dibicarakan. Pertama, sebutkan dirimu dari mana, dan apa sebabnya mau bertarung pedang denganku?" Bertarung pedang, itu alasan yang dikarangnya setelah dia berobah rupa, tidak disangka sekarang benar-benar bertemu dengan orang yang menyamar sebagai dirinya sendiri, penyamarannya terpaksa sekarang harus dipertahankan dengan benar-benar. Karena pihak lawan sudah mengaku sebagai Pui Cie, jadi apa boleh buat biarkan saja kesalahan ini berlangsung terus, yang penting selidiki dulu kasus berdarah Khang Khang Mui, nanti baru menentukan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tindakannya. Sekarang karena sudah ada orang yang menyamar menggantikannya, semua malah bisa mengalihkan sasaran Shin Kiam Pang, tidak jelek malah ada baiknya untuk diri sendiri.? Sambil berfikir begitu dia sengaja dengan suara serak berkata,"Pui Cie, kita main-main dulu, urusan lain nanti dibicarakankan lagi." Si Baju Putih berkata, "Aku selalu tidak suka ribut dengan orang lain, apalagi terhadap masalah yang bukan-bukan, orang pintar tidak mau mencari banyak masalah!" "Enak kedengarannya, kau tidak berani?" "Tidak berani? Ha., ha., ha..!" "Cabutlah pedangmu!" "Sobat, kau ingin menjadi terkenal atau ada maksud lain?" "Anggaplah ingin terkenal. Hayo cabut pedangmu!" "Aku sudah bilang, tidak sembarangan menggunakan pedang." "Aku menantangmu!" "Aku tidak mau menerima tawaran yang tidak berguna!" Pui Cie bermaksud mendesaknya "Chiang!" pedang sudah dicabut, dengan asal-asalan pedangnya digoyangkan, "Tidak bertarung juga boleh, asal buang pedangmu dan mengaku kalah. Dari sekarang hapus namamu, aku tidak akan bikin perhitungan lagi!" Yipha Yauci dengan sinis berkata, "Si Baju Ungu, aku tidak percaya berapa besar kemampuanmu? Sombongnya sampai begitu. Sadarlah! Nyawa sangat berharga, jangan membodohi diri sendiri!" Pui Cie melihat dia sebentar, bertanya, "Nona Liu, kenapa? Apakah kau merasa sebal?" "Seperti nya." "Kalau begitu jangan turut campur!" "Kau berani benar ngomong begitu padaku!" "Aku sudah baik sekali kepadamu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa betul?" "Terus terang, sekarang kau tidak punya kesempatan bermain curang padaku." "Bagus! Sekarang mari kita bertarung.." dengan berjalan kehadapannya, phiphanya dipegang terbalik. Gayanya sangat aneh. Lantas dia bilang,"ayo silahkan menyerang dulu!" Dalam hati Pui Cie berkata, "Aku tidak membunuhmu karena takut menggangu urusan yang lebih penting. Kalau tidak kau sudah mati beberapa kali, aku akan menghancurkan phipa jelekmu, aku mau lihat kau akan seperti Sun Go Kong kehilangan pentungan emas, apa masih bisa bertingkah? Berfikir begitu, Pa Kiamnya tiba-tiba tidak terasa sudah diangkat, sorotan mata penuh kejengkelan. Saat itu juga mendadak datang beberapa bayangan orang. Pui Cie begitu menengok hatinya terguncang, nafaspun menjadi cepat. Orang-orang yang mendadak datang ternyata adalah Hie Ki Hong, yang telah resmi menjadi istrinya. Dia sekarang sudah tidak memakai baju putih, tapi diganti dengan dandanan kain tenunan keraton, yang datang bersama dengannya adalah ibu tetua Nenek Iblis Cakar Hantu, Kui Jauw Mo Pho. Dan dua orang dayang berbaju hijau. Mereka muncul pada saat ini adalah diluar dugaan Pui Cie. Sudah tentu setelah dia menyamar dan mengganti penampilan, saat ini dia adalah si Baju Ungu siapapun tidak akan mengenal dia. Kedatangan keempat orang ini juga diluar dugaan Yipha Yauci, dengan tidak terasa dia mengundurkan diri ke pinggir. Rombongan Hie Ki Hong langsung mendesak ke depan si Baju Putih. Kui Jauw Mo Pho membuka suara, "Pui Cie untuk menemukan dirimu ternyata sulit sekali, sekarang ayo pulang bersama kami. Kau tidak boleh begitu saja pergi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Si Baju Putih segera dengan kalem berkata, "Aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan!" Dia masih tetap berpurapura sebagai Pui Cie. Hati Pui Cie yang asli terasa mau meledak. Bagaimanapun juga, Hie Ki Hong istrinya, dia tidak rela kalau istrinya ditipu oleh si penyamar. Yipha Yauci secara kaku bertanya, "Apa hubungan kalian dengannya?" Hie Ki Hong membalikan badannya menatap beberapa kali kepada Yipha Yauci dan dengan dingin bertanya, "Kau siapanya dia?" Yipha Yauci dengan acuh saja berkata, "Sahabat yang baru kenal. Bagaimana?" Hie Ki Hong gemas sampai badannya bergetar, balik memelototi si Baju Putih. Kui Cau Mo Pho mendehem berkata dengan marah, "Hai, perempuan serigala, tinggalkan dia jauh-jauh. Kalau tidak kau akan menyesal." Yipha Yauci berkata, "Jangan asal buka suara menyakiti orang, kau nenek-nenek berdasarkan apa berani memerintahku?" Kui Jauw Mo Pho menjawab, "Tidak berdasarkan apa-apa, hanya kau tidak boleh menggaet laki-laki yang sudah beristri!" "Laki-laki beristri?" ' "Em!" "Ah! aku sudah mengerti, ternyata..." Pui Cie sudah tidak tahan lagi, sekali melangkah sudah sampai di depan si Baju Putih, dengan garang berucap, "Kalau kau masih tidak tahu diri, aku bisa buat mayatmu langsung terkapar disini." Si Baju Putih dengan sendirinya mundur dua lankah besar. Hie Ki Hong dengan marah memandang Pui Cie, menyentak keras, "Siapa kau?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sakit betul hati Pui Cie, ini istrinya atau musuhnya? Ayahnya adalah ketua perkumpulan San Chai Men, Hie Bun-Cun menggunakan siasat telah menyelenggarakan perkawinan yang tidak wajar, membuat Kim Hong Ni kesal dan membunuh diri. Secara tidak langsung korban lainnya adalah adik kandungnya, Lie Se Kian. Karena Li Se Kian terlebih dulu diakui sebagai istrinya yang resmi, drama keluarga tragis begini entah bagaimana nantinya? Kui Jauw Mo Pho menyentak bertanya, "Siapa kau?" Yipha Yauci menjawabkan, "Dia namanya si Baju Ungu. Ahli pedang yang merasa dirinya paling hebat. Mau bertarung dengan Pui Cie." Kui Jauw Mo Pho dengan sinis berkata, "Cari mati!" Pui Cie marah pada si Baju Putih, "Buka tutup mukamu, kalau tidak aku akan menyerang dirimu!" Kui Cai Mo Pho menyentak, "Kau benar-benar mau cari mati?" Keadaan jadi kalut, hanya si Baju Putih yang keadaan sebenarnya jelas bagi Pui Cie. Hati Pui Cie kusut sekali, kalau dia menyerang si Baju Putih, Kui Jauw Mo Pho pasti membelanya, akibatnya bisa fatal, yang paling susah yaitu bongkar rahasia si Baju Putih. Berfikir begitu, dia langsung bicara secara keras, "Apakah kau sudah yakin dia Pui Cie?" Kui Cai Mo Pho tercengang bertanya, "Apa artinya?" Pui Cie berkata, "Kenapa tidak suruh dia membuka penutup mukanya?" Hie Ki Hong sedikit curiga bertanya, "Apelkah.. Dia.. " Kui Cai Mo Pho langsung memotong, "Jangan dengarkan dia! aku kenal suaranya." Pui Cie mendongkol sampai keubun-ubunnya, tangannya langsung diangkat, "Aku lawan dirimu!" pedang di

Kui Jauw Mo Pho menghardik, "Berani kau!" sepasang jari tangan seperti kaitan halilintar langsung mencakar.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hie Ki Hong memakai pukulan tangan. Pui Cie tidak berani menggunakan pedang terhadap mereka berdua. Hanya secepat kilat dia menghindar. Badannya tidak berhenti di udara membuat gerakan setengah lingkaran. Pedang dalam genggaman cepat sekali menggulung ke si Baju Putih. Si Baju Putih ternyata gerakannya sangat menakjubkan dengan enteng saja dia sudah bisa keluar dari lingkaran pedang Pui Cie. Bersamaan itu, Kui Cai Mo Pho dan Hie Ki Hong memukulkan telapaknya masing-masing, kerasnya pukulan seperti angin puyuh menggulung, Pui Cie terkena getarannya sampai terhuyung-huyung. Yipha Yauci yang tepat berada di tempat mundurnya Pui Cie. Dia mengangkat phipha mencoba menghantam punggung Pui Cie. "Stop terdengar suara pekikan, segumpal angin keras melanda Yipha Yauci hingga terdorong mundur tiga langkah. Yang melakukan ternyata adalah si Baju Putih. Kata si Baju Putih, "Menyerang orang dalam keadaan tidak siap adalah tidak pantas!" Pui Cie kaget, tidak terpikirkan bahwa si Baju Putih dalam keadaan terdesak malah membantunya. Yipha Yauci dengan pipi menggembung mengomel, "Orang baik hati membantumu, malah disebut menggunakan kesempatan orang dalam bahaya.." Si Baju Putih tiba-tiba dengan suara keras berkata, "Si Baju Ungu, mari aku terima tantanganmu!" Pui Cie menarik nafas dalam-dalam, "Bagus!" "Tapi jangan disini!" "Pindah tempat?" "Betul, aku tidak suka ada orang ketiga yang turut campur!" Perkataan ini cocok dengan keinginan Pui Cie sehingga dia langsung menjawab, "Baik! dimana?" Kata si Baju Putih, "Ikutlah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kui Jauw Mo Pho memalingkan badannya berkata, "Tidak boleh pergi!" Si Baju Putih bertanya, "Kenapa?" "Selesaikan dulu semua persoalannya!" "Persoalan apa?" "Kau mau bagaimana mengatur dia?" yang dimaksud dia adalah Hie Ki Hong. "Bagaimana kalau nanti aja!" "Tidak ada nanti! Harus sekarang!" "Maaf, aku mau menentukan dulu siapa yang lebih jago dengan si Baju Ungu!" Habis bicara bayangan putih melesat sudah seperti hantu saja menghilang di kegelapan malam. Cepatnya tidak dapat dibayangkan. Yang ada di lapangan semua kaget. Pui Cie pun terkagum-kagum. Hie Ki Hong berkata dengan suara gemetar,"Lau-lau..Kita.. harus bagaimana?" "Tunggu dia di dalam gunung!" "Kita keluar gunung saja!" "Kenapa?" "Dia., tidak mau denganku lagi!" "Tidak mungkin begitu, kesatu aku tidak mengizinkan!" Hati Pui Cie tidak menentu rasanya, sesudah dipikir-pikir, lihat saja nanti belakangan. Begitu melompat langsung dia mengejar, dia tidak mau lawannya kabur. Kalau tidak dia nanti akan menemui kesulitan dikemudian hari. Diam-diam Yipha Yauci juga meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan Pui Cie berlari sekencang-kencangnya. Menyebrang gunung, membalik bukit dan menyebrang sungai, menerobos hutan. Tapi tidak terlihat bayangan si Baju Putih, dengan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membabi buta mengejar kira-kira tujuh sampai delapan mil, sesudah cukup lelah dia menghentikan larinya. Timbul perasaan kesalnya sampai giginya gemertakan. Gunung berderet-deret, sungai berbaris-baris. Hutan tiada tepi. Si Baju Putih badannya ringan seperti setan, untuk mencarinya bukan sebuah pekerjan yang mudah, kalau bukan karena kemunculan Hie Ki Hong urusan ini pasti sudah selesai. Pui Cie terbengong tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di depan mata bergoyang bayangan Hie Ki Hong yang susah dilupakan. Istrinya seperti orang asing, perkawinan apakah ini? Ingin melupakan! Tapi apa bisa dilupakan? Perasaan sedih mencengkram kencang hati Pui Cie. Tiba-tiba si Baju Putih seperti malaikat muncul di depan mata. Pui Cie tersentak. Pihak lawan ternyata masih berani menampakan dirinya. Benar-benar diluar dugaan. Beberapa saat mereka berdiam saling berpandangan, akhirnya Pui Cie berbicara duluan, "Saat ini hanya ada kau dan aku, terus terang sajalah siapa sebenarnya dirimu?" "Kau juga, siapa dirimu sebenarnya?" "Si Baju Ungu!" "Ha., ha., ha., kau boleh dipanggil si Baju Ungu tapi kenapa aku tidak boleh dipanggil Pui Cie?" "Lancang benar mulutmu!" "Kalau begitu, aku harus bagaimana?" "Cabut pedangmu! Pedang akan memberimu jawaban!" "Aku tidak mau bertarung denganmu!" "Omong kosong!" "Si Baju Ungu, kau lupa kalau tidak ada aku, Phiphanya Yauci sudah membekas di punggungmu?" "Aku tidak minta dirimu membantu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ha.. Ha., ha.." Si Baju Putih tertawa, "Aku juga tidak mau memjadi Pui Cie lagi! Sandiwara ini cukup sampai disini!" sambil bicara dia melepas baju putihnya, dan membuang pedangnya pula. Pui Cie membelalakan mata, tidak tahu pihak lawan mau berbuat apa. Si Baju Putih memegang saputangan penutup muka, tertawa-tawa bilang, "Bagaimana kalau kau tetap sebagai Pui Cie?" Pui Cie kaget bukan kepalang sepatah katapun tak bisa diucapkan.Saputangan lepas ditarik, muncul sebuah muka yang tidak asing. Yang menyamar sebagai Pui Cie ternyata adalah Bo Ta Su Sheng, Sastrawan Pengecut Hu Sing Yi, yang sudak kembali ke suara aslinya berkata, "Twako, aku terpaksa melakukan semua ini!" Pui Cie dengan suara bergetar bertanya, "Mengapa?" Sastrawan Pengecut merendahkan suaranya berkata, "Aku melihat sendiri ketua Shin kiam memakai tali menurunkan pendekar-pendekar kedalam jurang mencari Twako, kesimpulannya ternyata terbukti Twako tidak mati. Tentu sekarang mereka semua akan mengerahkan tenaga mencari Twako, aku pikir lebih baik aku menyamar sebagai Twako, suara maupun rupa. Dua kali menampakkan diri. Ini sangat membantu bagi jati diri twako sekarang. Mereka tidak akan menyangka dan mencurigai Twako lagi." Pui Cie teringat peristiwa berdarah Khang-Khang Mui dengan suara rendah berkata, "Adik Hu, apakah dulu juga pernah menyamar sebagi diriku?" Bo Ta Su Seng dengan sungguh-sungguh berkata, "Belum pernah! Ini pertama kali dan juga akan jadi terakhir kali." Pui Cie tidak langsung percaya lalu bertanya, "Adik Hu kenapa mau berbuat begitu?" "Membantumu!" "Apakah tidak takut bertemu dengan musuhku?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Masalah ini aku percaya, aku tak berani bertarung dengan orang lain. Tapi bila mencari jalan untuk kabur. Ini adalah kepandaianku yang paling istimewa, sampai sekarang tidak ada orang bisa menangkap aku." "Benar... begitukah?" "Tiap huruf itu semuanya benar." Pui Cie tidak bisa berkata apa-apa, kenyataannya tidak percaya pun harus percaya. Sastrawan pengecut berkata lagi, "Barusan yang memakai baju keraton apakah istri Twako?" Dengan nafas tersendat, Pui Cie mengatupkan giginya, "Aku tidak mau membicarakan soal ini." Sastrawan Pengecut berkata lagi, "Maaf, Siaute lancang bicara!" Suaranya mendadak jadi agak sedih, "Twako sudah mencoba mencari tahu bagaimana meninggalnya almarhum ayahku?" Pui Cie mendesah, hatinya berfikir, haruskah ceritakan saja sejujurnya? Kalau dia sudah tahu sebenarnya, bisa terjadi bagaimana? Akankah membalas dendam pada Bo Yu Sien Cie? Belum habis pikir, Sastrawan Pengecut dengan pelan berkata, "Ada orang datang, silahkan twako hadapi?" habis berkata itu dia langsung bergerak menghilang. Pui Cie mencoba mendengar, ternyata ada suara yang sangat ringan menerobos ranting menyisikkan daun-daun. Dia sangat memuji ketajaman pendengaran Sastrawan Pengecut, Dia berfikir lagi, kalau sekarang yang datang adalah istrinya Hie Ki Hong, harus bagaimana nanti menghadapinya?" Suara itu bertambah dekat, Pui Cie pikir lebih baik menghindar saja, tapi hatinya tak mengizinkan, setelah dipikir lagi, dengan terpaksa dihadapinyalah. Dia sengaja jalan dengan suara keras. Sesosok bayangan muncul, yang datang ternyata adalah Yipha Yauci, orang ini tidak jemu-jemunya mengejar.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie menghentikan langkah, Yipha Yauci sudah tidak sabar lagi, begitu bertemu langsung bertanya, "Pui Cie terkejar tidak?" Pui Cie menjawab dengan asal, "Sudah!" "Mana orangnya?" "Sudah pergi!" "Kalian sudah bertarung pedang?" "Em!" "Hasilnya bagaimana?" "Bertarung sepuluh jurus, tidak ada yang kalah dan menang!" "Artinya kau sama-sama kuat?" "Ya begitulah!" Yipha Yauci matanya berbinar, dengan suara keras berkata, "Aku tidak percaya!" Hati Pui Cie tergerak, "Kau tidak percaya? Kenapa?" Kata Yipha Yauci, "Kau sama sekali bukan tandingannya." 0-0-0 Menempuh bahaya Hati Pui Cie tergerak lagi, "Nona, berdasarkan apa kau berkata bahwa aku bukan lawan Pui Cie?" Yipha Yauci menyunggingkan bibirnya, "Tidak berdasarkan apaapa, aku bisa berpendapat kau bukan lawannya." Perkataannya memang sangat egois. Tapi hati Pui Cie malah jadi bergolak, perkataannya menyatakan bahwa dia sudah tidak malumalu dengan cintanya kepada Pui Cie. Wanita macam apapun kalau hatinya sudah terpaut cinta selalu bersikeras tidak bisa dirobah, karena itu dendam Pui Cie terhadap dirinya menjadi berkurang banyak. Saat itu dia sengaja asal berkata, "Boleh juga, tapi

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pertarungan malam ini hanya dibatasi sepuluh jurus saja. Mungkin lain kali... harus sampai menentukan siapa yang kalah dan menang." Yipha Yauci menghela nafas, "Kearah mana dia pergi?" Pui Cie dengan asal-asalan berkata, "Keluar gunung!" Yipha Yauci bergumam sendiri, "Aku tahu dia mau berbuat apa, aku mau menyusulnya." Tiba-tiba ada suara seorang perempuan mencibir, "Perempuan murahan! berdasarkan apa kau mau pergi mengejarnya?" Mendengar suara ini Pui Cie sudah tahu siapa yang datang. Dia ingin sekali menghindar... Tapi Hie Ki Hong telah muncul. Yipha Yauci berkata, "Oh, ternyata kau...kau memaki siapa?" Hie Ki Hong berkata, "Memaki dirimu! Karena kau tidak tahu malu!" Yipha Yauci karena marah malah balik tertawa, "Kau tahu malu, kau kebagian nomor ke berapa?" "Aku istrinya! Kau mau apa?" "Benarkah? Setahu aku bukan begitu!" "Apa maksudmu?" "Kalau kau istrinya, kenapa waktu di gunung fadi dia tidak mau menyapamu?" Perkataan ini seperti sebilah pisau menusuk hati Hie Ki Hong, betul, kelakuan Pui Cie tidak seperti suami terhadap istrinya. Kedua belah pihak telah bertemu tapi seperti orang yang tidak kenal sama sekali. Pui Cie sendiri merasa merinding, betul-betul tidak tahu harus berbuat bagaimana. Hie Ki Hong dengan gemas memandang Yipha Yauci dan berkata, "Masalah kami suami istri tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci sedikitpun tidak mau mengalah, lalu berkata, "Memang tidak ada sangkut pautnya denganku, tapi aku merasa lucu saja!" Hie Ki Hong dengan tajam berkata, "O, lucu? Aku mau sekarang kau menangis pun tak bisa!" Sebenarnya Yipha Yauci marah sekali, tapi setelah dipikir-pikir dia menahan diri. Dengan suara dingin dia berkata, "Sudahlah! Aku tidak mau ribut denganmu, memboroskan waktu saja!" habis berkata itu dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya melayang terbang kemudian menghilang. Hie Ki Hong memandang kemana hilangnya bayangan punggung Yipha Yauci, sambil menghentakkan kakinya dia terus memutar badan menghadap Pui Cie dan berkata, "Kau barusan berkata jurus pedangmu dengan Pui Cie hampir sama?" Pui Cie menggigit mulut, "Ya, memang begitu!" "Apakah dia benar sudah keluar gunung?" "Em!" "Dia... kenapa dia menghindariku?" Hie Ki Hong menggumam sendiri. Hati Pui Cie bergetar, dia sendiri berfikir, kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan sikapnya? Tapi setelah dipikir lagi, dia merasa kurang tepat waktunya. Sekarang masih ada tugas berat yang disandangnya. Jati diri tidak boleh dibuka dulu. Kalau istrinya mau membenci apa boleh buat. Hie Ki Hong memutar badannya lalu pergi dengan hati sedih. Tidak terasa Pui Cie menghela nafas sedih, dia sendiri adalah sebagai salah satu pemeran drama yang menyedihkan ini. Bo Ta Su Seng muncul lagi, dia tidak menanyakan masalah kedua perempuan tapi, dia langsung menyeletuk, "Twako, tolong kasih tahu cerita tentang almarhum ayahku."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie hatinya belum merasa tenang. Lama sekali baru dia berkata, "Masalah ini... aku.. entah harus bagaimana mengatakannya..." Sastrawan Pengecut memberi hormat lalu berkata, "Harap Twako jangan menutup-nutupi lagi. Kalau aku belum jelas dengan cerita yang sebenarnya, aku siang malam tidak bisa tenang!" Pui Cie tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu menceritakan kembali semua yang dia dengar dari Bo Yu Sien Ce tentang ayah Sastrawan Pengecut. Sesudah mendengar selesai cerita itu, Sastrawan Pengecut menengadahkan kepala memandang langit malam. Badannya tak henti-hentinya gemetaran. Manusia, semua ingin punya nama baik. Terutama orang tua. Di hati anak-anak selalu terlihat luhur, tidak mau ada kejelekan. Tapi kesalahan ayahnya semasa hidupnya sangat memalukan, memang sepuluh tahun kemudian dia sudah menyadari kesalahannya tetapi sudah terlambat. Siapa yang harus dia benci? Ayahnya? Bo Yu Sien Ce? Perguruan ayahnya? Semuanya tidak benar! Pui Cie bisa mengerti perasaan Sastrawan Pengecut tapi dia tidak punya kata-kata yang cocok untuk menghiburnya. Yang paling dia kuatirkan, Bo Ta Su Seng menjadi marah dan malu, lalu bermusuhan dengan Bo Yu Sien Ce, itu akan bertambah gawat. Lama sekali Bo Ta Su Seng baru berkata, "Terimakasih Twako telah mau memberitahuku semua ini!" Dia tidak menjelaskan isi hatinya, membuat orang menjadi kuatir. Pui Cie pelan-pelan berkata, "Adik Hu, orang bukan Tuhan. Mana ada yang tidak salah? Ayahmu terakhir bisa menyesali dan minta diampuni, itu perbuatan orang bijak. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Adik Hu jangan terlalu risau dan sedih lagi." Dengan tersendat-sendat Bo Ta Su Seng berkata, "Terima kasih Twako atas sarannya. Kita yang menjadi anak tidak berhak mengomentari mereka, hanya Twako tadi mengatakan mengenai Giok Ju Yi, adik akan cari kembali barang itu, meneruskan cita-cita

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ayah yang belum kesampaian, menyelesaikan tugas yang belum tercapai sebagai seorang anak berbakti." Muka Pui Cie berubah, dia berkata, "Aku sangat mengagumi kebijakan adik, mengenai masalah Giok Ju Yi, bagaimanapun juga aku akan bantu kakak, guruku dan ayahmu ada hubungan. Jadi kita berdua tidak termasuk orang luar." Bo Ta Su Seng mengangguk. Dengan suara yang rendah dia berkata, "Giok Yu Yi ada di Shin Kiam Pang, aku terikat perintah perguruan. Tidak bisa terus bersama Twako. Tapi aku bisa membantu secara tidak langsung. Sekarang perkumpulan itu ada maksud mengacaukan dunia persilatan, Twako, bagaimana rencanamu?" Dengan lantang Pui Cie berkata, "Aku mau menggunakan kesempatan ini untuk menyelidikinya." Bo Ta Su Seng setelah menghirup udara lalu berkata, "mata-mata perkumpulan itu ada dimana-mana, supaya urusan lancar, kita tidak boleh berhubungan dengan terang-terangan. Terpaksa secara sembunyi saja. Bagaimana kalau sekarang kita berpisah?" Pui Cie mangangguk, "Benar kata-kata adik, silahkan jalan duluanl" Bo Ta Su Seng memberi hormat dengan kedua belah tangannya, lalu melayang pergi. Pui Cie juga segera keluar gunung. 0-0-0 Di Cau Yang Pui Cie mencari losmen untuk tinggal sementara. Dia sedang menunggu kabar dari Ti Kuang Beng, dia bersiap masuk Shin Kiam Pang di bawah arahan Ti kuang beng, masuk ke perkumpulan itu, untuk mendekati Phei Chen. Menunggu kesempatan untuk menghukumnya dengan peraturan perguruan. Di daerah ini semua ada dalam kekuasaan Shin kiam Pang. Begitu Pui Cie tiba, pasti sudah ada mata-mata yang menyampaikan berita. Sekali menunggu, sampai tiga hari belum juga ada kabar apa-apa. Ti Kuang Beng sudah berjanji 10 hari lagi bertemu di Cau Yang. Tiga

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ hari sudah menunggu. Di dihitung-hitung dengan perjalanan sudah lewat sepuluh hari. Mungkinkah Ti Kuang Beng belum meninggalkan hutan pinus? Atau apakah terjadi sesuatu? Mereka berada di gunung untuk membasmi Ma Gwe Kiau, atau malah balik dibunuh oleh Ma Gwe Kiau...? Tengah malam, sinar bulan seperti lukisan. Pui Cie berdiri di atas loteng dari jendela memandangi bulan. Losmen ini adalah bangunan paling ujung, sejauh mata bisa memandang, kelap-kelip lampu rumah-rumah di bawah sinar rembulan membuat redup suasana. Tiba-tiba sesosok bayangan orang melayang seperti asap mendekat ke jendela. Hati Pui Cie kaget sekali, dia mundur dua langkah, bersiap-siap untuk bertarung. Orang itu berhenti di bawah jendela. Hanya bergelayutan saja, setelah dipandang dengan teliti yang datang ternyata adalah Bo Ta Su Seng alias Sastrawan Pengecut. Pui Cie baru bisa menghela nafas ringan berkata-kata, "Adik Hu, masuklah!" "Tidak, disini banyak mata-mata Shin Kiam Pang, siang malam mengawasi gerak-gerik Twako, aku tidak boleh masuk." "Ada kabar apa?" "Aku mendapat kabar, khusus kesini beritahu Twako supaya Twako ada persiapan." "Berita apa?" "Malam ini Ti Kuang Beng akan datang menemui Twako. membahas masalah masuk keperkumpulan, tapi mereka masih menyangsikan asal usul Twako. Kemungkinan akan menyelidikinya lagi, harap Twako bersiap diri menjawabnya." "O., terimakasih atas kabarnya." "Aku harus pergi, kalau ada masalah kita baru berhubungan lagi." Kemudian dia langsung menghilang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie tidak terlalu risau. Dia pikir berani mencoba, tidak masalah asal mereka tidak tahu dia sudah merobah rupa, entah dengan apa mereka mau menguji? Ketika sedang melamun, terdengar suara ketukan pintu, lalu pintu didorong. Masuklah seorang laki-laki tak dikenal, sesudah memberi hormat lalu berkata, "Aku sudah mendapat perintah dari pengurus utama kesini menjemput anda. Diluar sudah disiapkan kuda silakan tuan ikut aku berangkat." Pui Cie tegang sendiri, sekuat tenaga dia menenangkan diri. Lalu berkata, "Harap bawa jalan!" Dia mengikuti pesuruh Shin Kiam Pang itu, naik kuda di depan losmen, meninggalkan kota menuju arah barat. Pui Cie mengingatingat jalan yang menuju kepusat perkumpulan Shin Kiam Pang. Berjalan kira-kira empat lima mil di bawah sinar bulan, ada seseorang berdiri menghadang di tengah jalan. Hati Pui Cie bergetar. Sesudah jarak semakin dekat, jelas kelihatan orang itu berbaju hitam memakai topeng, tangannya memegang sebilah pedang yang berkilauan di bawah sinar rembulan. Orang yang membawa jalan itu memecut kudanya berlari kencang, setelah dekat dengan orang yang bertutup muka. Membentak dengan suara keras, "Siapa disitu?" Orang bertopeng itu balik bertanya,"Yang datang apakah orang Shin Kiam Pang?" Pesuruh itu menjawab, "Betul, sahabat dari golongan mana?" Orang bertopeng itu tidak menjawab. Tangan kanannya diangkat dihantamkan kepada orang di atas kuda itu. Angin dari pukulan itu menderu mengerikan, kudanya kaget, meringkik sehingga mengangkat kedua kakinya, orang di atas kuda terguncang dan terlempar dari pelananya. Jatuh di kejauhan 7 meteran, sedangkan kudanya sudah berlari pergi sekencang-kencangnya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie segera menarik kudanya, dia turun dari pelana. Melompat ke depan dengan suara masam, bertanya, "Sahabat, apa maksudmu berbuat demikian?" Orang bertutup muka dengan suara keji berkata, "Tidak perlu tanya, aku telah bersumpah mau membunuh habis semua penjahat persilatan, membalas dendam bagi teman-temanku yang telah mati konyol!" kata-kata belum habis, sinar pedang sudah berkelebat dan telah di tusukkan. Pui Cie manghindar, pedangnya juga sudah di tangan, dia berfikir dalam hati, "Kalau orang ini musuhnya Shin Kiam Pang, aku harus berhati-hati, jangan sampai melukainya." Orang yang bertopeng melihat serangan pertama meleset, langsung menggempur dengan jurus kedua, jurus pedangnya sangat hebat, tentu dia seorang ahli pedang. Pui Cie mangangkat pedang perguruannya segera dikeluarkan. menyongsongnya, jurus dari

Orang bertutup muka seperti menghadapi musuh bebuyutan, bergerak dengan ganas dan dengan jurus mematikan, tiap tusukan mengarah nadi utama, Pui Cie terpaksa menghadapinya dengan segenap kemampuan, tapi tidak berniat membunuh pihak lawan. Pesuruh Shin Kiam Pang yang tadi terjatuh dari kudanya berdiri di kejauhan, lukanya tidak ringan. Orang bertopeng itu gerakan pedangnya menakjubkan, karena Pui Cie tidak berniat melukai lawannya, tiap jurusnya sangat berhati-hati, menjadikan dia berada di pihak yang terdesak. Di dunia persilatan jarang ada jurus pedang sehebat ini, dia pasti ini bukan orang sembarangan. Pui Cie sambil bertarung sambil berkata, "Sahabat, sebutkan namamu!" Orang bertopeng dengan keras berkata, "Nama! Aku mau kau segera mati!" serangannya bertambah gencar, seperti angin kencang dibarengin petir.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie tak berdaya, sekarang dia tidak segan-segan lagi. Secara berturut-turut dia melancarkan 3 jurus mematikan, mencari kelemahan lawannya, tapi anehnya orang bertopeng ini seperti mengenali jurus-jurus pedangnya, menyerang dan menjaga diri sama sekali tidak kewalahan. Sekilas tiga puluh jurus sudah lewat. Pui Cie tambah merasa tidak tenang, dia berniat baik, pihak lawan malah menginginkan nyawanya, kalau begini terus dia bisa celaka. Hawa pedang bergulung-gulung naik keatas, dalam suara besi beradu yang memekakkan telinga, orang bertopeng itu terdorong mundur tiga meteran. Saat itu tiba-tiba seekor kuda tunggangan dengan kencang tiba, kuda belum sampai, orangnya melayang sudah meninggalkan pelananya terbang menuju ke tengah lapang. Pesuruh tadi cepat-cepat pergi memegang kudanya. Orang yang tiba-tiba datang itu ternyata adalah Ti Kuang Beng. Orang bertutup muka itu seperti tahu keadaan tiak menguntungkan baginya, tidak berbasa-basi lagi langsung kabur. Ti Kuang Beng dengan marah berkata, "Orang bertopeng ini sudah membunuh puluhan orang anak buah perkumpulan kita, cepat atau lambat harus ditangkap." Pui Cie menyimpan pedang lagi sambil berkata, "Siapakah pihak lawan itu?" Ti Kuang Beng berkata, "Tidak jelas, sejak kemunculannya sampai sekarang kira-kira sudah dua bulanan, terus bertentangan dengan perkumpulan kita." Berhenti sebentar, dia berkata lagi, "Dengan kepandaian adik seharusnya dia sudah dibunuh, kenapa..." Pui Cie menjawab dengan asal-asalan, berkata, "Kalau dia tidak kabur, mungkin." Ti Kuang Beng berkata, "Sudahlah, masih banyak kesempatan lagi nanti. Adik, Pangcu menyuruh aku menyampaikan selamat datang dan menyinggung terbunuhnya komandan pengawal Siau Ta Chi di

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ gunung pinus. Sekarang jabatan itu menjadi kosong, mungkin sementara boleh diisi oleh adik, sekarang kita naik kuda dulu, sesudah sampai di pusat perkumpulan, kita bahas lagi semua. Pui Cie senang sekali, bisa menjadi komandan pengawal tentu ada kesempatan mendekati Phei Chen. Ini benar-benar leluhur yang memberi restu, si pengkhianat sudah mendekati hari akhirnya. Dalam hatinya senang, di muka tidak tampak perubahan sedikitpun. Dengan suara rendah dia berkata, "Aku mana sanggup mendapat jabatan seberat itu?" Ti Kuang Beng tertawa terbaha-bahak. Lalu berkata ,"Adik pasti sanggup, Ayo naiklah ke kudamu!" Pesuruh itu segera membawakan kuda, mereka berdua naik kuda lalu pergi bersama, pesuruh itu berjalan kaki karena kudanya sudah lari karena ketakutan tadi. Di perjalanan, Pui Cie tegang sekali, sekarang dia mau memasuki sarang macan lubang buaya, hanya boleh berhasil, tidak boleh gagal, perkembangannya masih sulit ditebak. Sesudah masuk ke wilayah penting, penjagaan bertambah ketat sekali. Sampai di pusat perkumpulan, Pui Cie dipersilahkan masuk asrama di samping ruang eksekusi. Ti Kuang Beng cukup menghormatinya. Setelah istirahat tidak begitu lama, disiapkan makanan dan minuman untuk menyambut kedatangannya. Mereka makan sampai jam tiga subuh, tidak ada mengganggu mereka berdua. Pui Cie dalam hati merasa geli, dia sebenarnya tamu agung atau musuh bebuyutan? Keadaan ini benar-benar aneh.. Tiga hari berturut-turut Pui Cie tinggal dan dilayani dengan sangat baik. Pihak perkumpulan sama sekali tidak lagi mempersoalkan dia masuk perkumpulan dan menerima jabatan, juga dia tidak dipanggil menemui ketua perkumpulan. Dia merasa sangat gelisah tapi dia juga tidak enak bertanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Malam hari ketiga, rembulan terang seperti siang hari. Pui Cie mengikuti kakinya berjalan-jalan santai. Keluar dari pintu kecil di belakang sampailah di sebuah halaman kecil yang rimbun dengan pohon-pohon dan bunga-bunga, di belakangnya terdapat sebuah rumah mungil. Suasananya begitu nyaman adem. Ada lampu menyala dari rumah mungil itu. Rumah siapa itu, pasti pangkatnya tidak rendah. Pui Cie mondar-mandir di jalan kecil penuh bunga, tidak terasa sampailah di rumah mungil itu. Pintu di rumah mungil itu. setengah terbuka. Begitu matanya memandang dia terkejut sekali! Mukanya menjadi merah, hatinya berdebar, cepat-cepat dia membalikan badan dan pergi. Yipha Yauci ternyata yang berada dalam rumah mungil itu. Malam itu baru selesai menyelesaikan menghapus bedaknya, rambutnya terurai sebahu, mengenakan baju seadanya. Selendang tipis seperti sayap capung tidak terkecuali ada di atas pundaknya. Di bawah sinar lampu, kulitnya putih seperti salju, merah putih saling berlawanan, menyilaukan mata, membuat hati melayang, sangat menggoda sekali. Pui Cie baru jalan beberapa langkah, di belakang tiba-tiba terdengar suara Yipha Yauci berkata, "Siapa itu? Berhenti!" Pui Cie berhenti, hatinya berdebar-debar, dia menyesal sekali sembarangan berjalan sampai bisa tiba ke kamar wanita. Bau harum segera menyengat hidungnya. Pui Cie tahu dia sudah di belakangnya. Suara yang sangat manja berkata, "Ternyata kau. Mau apa kesini?" Pui Cie tidak membalikan badan, menjawab dengan tersendatsendat,"Maaf.. aku... karena terlalu kesal, melihat bulan begitu indah jadi keluar jalan-jalan. Tidak tahunya ini tempat tinggal kouwnio." "Kau tidak melihat di pojok pintu itu ada tempelan .Tidak diundang dilarang masuk'. "O! ini... aku teledor, aku tidak melihatnya.." "Tidak apa-apa., kebetulan aku mau mencarimu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ooo!" "Bagaimana kalau berbicara di dalam saja?" Pui Cie pelan-pelan membalikkan badan, nafas menjadi agak sesak. Dia tetap dengan dandanan semula yang begitu menggoda, tidak menambah satu potong baju luarpun. sangat berani, juga tidak tahu malu, benar-benar sesuai dengan namanya Yipha Yauci. Pui Cie tidak berani melihat langsung, dengan matanya lihat ke bawah berkata, "Bicara disini saja!" Yipha Yauci sedikitpun tidak merasa malu, seperti tidak merasa apa-apa dan berkata, "Aku ingin bertanya kepadamu satu persoalan, apakah Pui Cie benar-benar sudah menikah?" Hati Pui Cie tergerak, dia menjawab, "Ya, dia sudah berkeluarga." Yipha Yauci sepertinya sangat kecewa, dia menundukkan kepala, berfikir sesaat lalu dia berkata, "Waktu di dalam gunung aku melihat keadaan mereka sepertinya tidak harmonis..." Pui Cie tahu maksudnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab, "Masalah ini aku tidak jelas." Yipha Yauci menjawab, "Kau seharusnya tahui" Gentar hati Pui Cie, dia mengerutkan alisnya berkata, "Kenapa aku harus tahu?" 0-0-0 BAB 11 Menapak enteng menjelang yang dalam Yipha Yauci mengangkat tangannya meraba rambutnya yang terurai ke belakang. Genitnya bukan main, "Kau tidak bersedia beritahu aku?" Pui Cie asal-asalan menjawab, "Aku hanya bisa bertarung pedang, untuk membuktikan keahlianku, tidak ada pembicaraan, masalah dia

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ berkeluarga hanya sebatas tahu saja. Soal masalah pribadinya aku sama dengan kouwnio, sama sekali tidak tahu." Yipha Yauci mememiringkan kepala berkata, "Betulkah begitu?" Pui Cie merasa curiga, aneh sekali perkataan Yipha Yauci, Apakah dia telah menemukan sesuatu yang mencurigakan? Tapi tak mungkin. Dia tidak mencurigai dirinya sebagai Pui Cie. Hanya dia merasa dirinya ada hubungan dengan Pui Cie. semua harus dijelaskan, kalau tidak bisa-bisa mengganggu urusan besarnya. Sesudah berfikir sebentar, dia berpura-pura kaget, berkata, "Aku sama sekali tidak mengerti maksud kouwnio." Yipha Yauci dengan sikap dingin berkata, "Menunggu kau mengerti, semua sudah terlambat." Perkataan ini lebih sulit dimengerti. Tidak tahu apa maksudnya, sepertinya mengandung suatu arti yang dalam. Apa maksudnya? Sekarang dia dalam sarang macan segala tindakannya harus luar biasa hati-hati dan cermat, tiap langkahnya harus diperhitungkan. Pui Cie langsung pura-pura bingung berkata, "Aku bertambah tidak mengerti, kouwnio bisakah menerangkan dengan lebih jelas?" Saat ini tiba-tiba terdengar suara lonceng. Yipha Yauci melambaikan tangannya, "Silakan kau pergi! Pangcu ada urusan mengumpulkan semua anak buahnya!" Hati Pui Cie mendadak tegang, dia spontan merasakan telah terjadi penting, masalah seperti apa dia tidak bisa membayangkan, sesudah beri hormat dia cepat-cepat pergi, ketika sampai kekamarnya, Ti Kuang beng sudah menunggu, hatinya tambah terguncang, langsung berkata, "Pengurus utama malam-malam begini datang kesini. Ada urusan apakah?" Ti Kuang Beng tertawa-tawa, "Selamat dik! Ada kabar gembira!" Pui Cie tercengang berkata, "Kabar gembira? Kabar gembira apakah?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng mengangkat alisnya, "Pangcu sudah peintahkan semua anak buah hadir menyaksikan adik menerima pengangkatan jabatan malam ini, sebagai komandan pengawal, apa ini bukan suatu kabar gembira?" Dengan menahan perasaan yang bergejolak Pui Cie berusaha menenangkan diri. Dengan suara rendah dia berkata,"A...aku merasa kurang mampu menerima tugas berat ini!" Ti Kuang Beng berkata, "Adik tak usah sungkan-sungkan, Pangcu sangat mengerti menggunakan orang sesuai kemampuannya, tidak akan salah. Tapi ada satu hal yang harus dijelaskan dulu kepada adik..." Pui Cie diam-diam menggerakan gigi-giginya dan berkata, "Silakan memberi petunjuk!" Ti Kuang Beng matanya bersinar berkata, "Menurut aturan perkumpulan kami, sebelum acara serah terima jabatan dimulai, harus melihat merah dulu." Hati Pui Cie bergetar, dia lalu berkata, "Melihat merah? Apa itu melihat merah?" "Melihat darah perkumpulan." artinya, menyatakan kesetiaan masuk

"Ini., bagaimana caranya?" "Adik harus mengeksekusi seorang narapidana." Pui Cie dengan suara gemetar berkata, "Aku harus membunuh orang?" Ti Kuang Beng dengan sikap dingin berkata, "Mengeksekusi orang hukuman tidak sama dengan membunuh orang, ini disebut menjalankan tugas." Pui Cie sedapat mungkin menenangkan diri. Lalu dia bertanya, "Orang hukuman, orang yang macam apa?" "Musuh yang mencoba menerobos masuk ke perkumpulan kami."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Oo!" "Adik rapikan dulu pakaianmu, kita segera ke ruang eksekusi!" Masuk perkumpulan, menerima jabatan harus membunuh orang dulu, aturan darimana? kurang ajar, Phei Chen selalu melanggar peraturan alam dan agama. Orang begini matipun tak perlu dikasihani, untung hari akhirnya sudah dekat, hanya tidak tahu yang bakal jadi korban ini siapa? Yang berani menyerang perkumpulan dan bermusuhan dengan Shin Kiam Pang, tentu bukan orang sembarangan, mungkin orang dari golongan lurus, hati Pui Cie menjadi kusut, demi mencapai maksudnya membasmi kejahatan, apalah harus mengalirkan dulu darah orang yang tidak berdosa? Ti Kuang Beng mendesak, "Adik, hayo cepat sedikit! Tidak enak teman-teman terlalu lama menunggu!" Pui Cie segera merapikan baju dan mengencangkan tali pinggang, lalu dia berkata, "Ayolah!" Dalam ruangan eksekusi, ada lampu yang sangat terang menyoroti segala macam alat eksekusi yang masih ada bercak-bercak darah, alat-alat itu terlihat sangat mengerikan. Delapan orang pengawal berjajar dikiri kanan, masing-masing berdiri dekat pintu keluar, membelakangi meja sidang. Di sebuah bangku besar yang spesial, diikat seseorang membelakangi berbaju compang-camping, tubuhnya penuh bercak-bercak darah, sekali pandang sudah kelihatan pernah disiksa, kepala orang tua itu ditutupi sehelai kain merah, seperti seekor kambing yang hendak disembelih, dua orang algojo yang kekar besar berdiri di dua sisi bangku kayu itu. Diatas meja sidang ada sebuah baki bercat merah, terdapat sebuah pisau penebang kayu yang berkilau . Di kiri kanan ruangan masing-masing berdiri berderetan laki-laki dan perempuan tua muda. Yipha Yauci juga berdiri dalam barisan sebelah kanan paling depan, semua hening dan tertib, tidak kalah dengan gaya persidangan pemerintah. Dibelakang meja sidang ada

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebuah bangku yang bersandaran tinggi yang saat masih kosong, di belakang banyak bangku tertutup tirai kain. Pui Cie dan Ti Kuang Beng tiba di depan pintu, segera delapan pengawal itu memberi hormat. Ti Kuang Beng memiringkan badan berkata,"Silakan masuk kedalam ruangan!" ke samping dan

Pui Cie belum pernah menerima kehormatan seperti ini, sedapat mungkin menenangkan hati, tetapi tetap tak bisa menguasai perasaan yang terus bergelora, apalagi maksud dia datang adalah untuk membunuh, dia melangkah masuk, matanya ditujukan dulu ke orang hukuman yang sepertinya dia mengenalinya, dari cara berpakaiannya, bisa dipastikan dia adalah seorang tua. Ti Kuang Beng hanya mengantar ke dalam dua langkah, dengan suara halus dan kecil berbisik, "Silakan menunggu perintah!" Mata Pui Cie memandang semua orang didalam ruangan itu, sengaja dia memandangi Yipha Yauci lebih lama, terlihat mukanya dingin tanpa ekspresi, seperti tertawa tapi tidak tertawa, di bawah selendang merah yang melilit tubuhnya telah ditambah sebuah baju, rambutnya terurai hanya diikat asal-asalan. Yipha Yauci setiap saat selalu menebarkan pesona yang menggiurkan setiap laki-laki yang melihatnya. Pandangannya kembali ke orang hukuman. Siapakah dia? Siapa dia... Pui Cie terus menerus bertanya dalam hati, hatinya berdebardebar terus, sulit diatasi. Saat ini masuk seorang tua, bertubuh tinggi, sorotan matanya tajam, dengan langkah perlahan masuk ke dalam ruangan, menuju langsung ke belakang meja sidang dan berdiri disana, pelan-pelan dia memandang sekeliling ruangan. Bertambah hebat berdebarnya jantung Pui Cie. Siapakah orang tua ini? meliihat potongan tubuhnya tidak mirip dengan Phei Chen...

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tangan orang tua tadi sudah menggenggam sebuah belati kecil. Laki perempuan yang berbaris di kedua sisinya membungkukkan badan memberi hormat. Orangtua itu berkata, "Perintah pangcu, supaya pendekar yang baru diangkat sebagai komandan yang bernama Ong Giok, menurut aturan segera mengeksekusi terpidana, sebagai sumpah darah kesetiaan, laksanakan segera!" suaranya tidak besar tapi agak sedikit memekakkan telinga, kelihatan kungfunya sangat tinggi. Hati pui Cie tambah tenggelam, tidak disangka Phei Chen tidak hadir memimpin upacara yang sadis ini. Salah satu dari dua orang algojo itu memberi hormat, lalu kedua tangannya mengangkat baki pisau di atas meja, dam berjalan ke depan Pui Cie, dengan hormat berkata,"Silakan terima pisau eksekusi!" Pui Cie menggigit bibirnya kemudian dia mengambil pisau itu, algojo itu pun mundur kembali, tangan Pui Cie kembali bergetar, dua tidak boleh jadi pembunuh, tapi bagaimana harus bertindak? Oang tua segera memberi perintah dengan suara keras berseru, "Buka topeng merahnya!" Salah satu algojo membuka kain merah penutup muka terpidana. Dua mata terpidana tertutup rapat, kepalanya menunduk ke atas dada. Tergetar hati Pui Cie seiring dibukanya penutup muka itu, begitu matanya memandang, membuat darah disekujur tubuhnya berhenti berputar, nafasnya seakan terhenti, dia hampir mau menjerit sekeras-kerasnya. Orang yang mau dihukumnya ternyata adalah Thu Sing Sien, bagaimana dia bisa jatuh ke tangan orang Shin Kiam Pang? Orang tua yang memberi perintah memekik keras, "Laksanakan hukuman!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kedua algojo di pinggir bangku itu mundur 3 langkah. Ti Kuang Beng dengan suara rendah berbisik pada Pui Cie, "Berdirilah dibelakang bangku, potong kepalanya." Pui Cie tidak bergerak, badannya mengigil, dia seperti sudah mau gila, bagaimana tidak? Menolong Thu Sing Sien saat ini pasti tidak mungkin, dia sendiri bisa lolos dari sarang macan ini masih menjadi teka-teki. Lawan. Perubahan yang drastis mimpipun tidak bisa terbayang, perencanaan yang begitu rumit semua menjadi sia-sia, seluruh pandangan mata yang hadir tertuju pada diri Pui Cie. Orang yang beri perintah sekali lagi memekik, "Laksanakan hukuman!" Ti Kuang Beng membantu berkata, "Ong Giok! Cepat, laksanakan perintah!" Pui Cie menggertak giginya dengan keras, baru terlontar sebuah kata, "Tidak!" Satu kata tidak' membuat orang dalam ruangan seluruhnya merubah air muka. Hati Pui Cie kusut seperti tali jerami, terpikir olehnya setengah jam yang lalu pertanyaan aneh dari Yipha Yauci. Ternyata dia sudah tahu semua urusan dalam ini. Apakah Thu Sing Sien sudah disiksa habishabisan dan sudah mengaku? Ti Kuang Beng dengan suara seram berkata, "Ong Giok, apa maksudmu? Apa mau melawan perintah." Pui Cie mendadak membuat keputusan. Bunuh! Habisi pusat perkumpulan Shin Kiam, cuci dengan darah! Thu Sing Sien pelan-pelan mengangkat kepalanya, sepasang mata sangat lesu, dia memandangi muka Pui Cie, dengan lemas berkata, "Ong Giok, kau mau membunuhku?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie bibirnya bergetar, tak bisa berkata-kata, orang tua yang memberi perintah menaruh belati emas dan menggertak, "Ong Giok, kau mau melawan perintah?" Pui Cie teringat nasihat gurunya semasa hidup, dalam situasi genting harus bertambah tenang. Setelah berusaha menekan emosi dia berkata lagi, "Aku tidak berani membunuhnya!" "Kenapa?" "Dia adalah sahabatkul" "Sahabat macam apa?" "Hubungan yang lama, sahabat sehidup semati!" "Ooo! Kau., tidak berani melakukan?" "Ya!" "Kau relakan lepaskan hakmu untuk masuk perkumpulan?" perkataan ini diutarakan oleh pihak mereka, tentu saja Pui Cie merasa girang, tidak dipikir lagi dia langsung menjawab, "Ya!" Orang tua yang memberi perintah dengan suara datar berkata, "Persoalan ini harus diajukan, biar Pangcu yang ambil keputusan." Pui Cie sudah membikin perhitungan terburuk, tapi belum sampai waktu untuk menyerang secara mendadak. Dia mengharap Phei Chen bisa segera muncul. Dia bersiap-siap setiap saat mencabut pedang. Thu Sing Sien yang tenaganay sudah berkurang tapi dengan keras berkata, "Ong Giok, aku orang tua... menerima nasib., kau..." Saat itu seseorang bertopeng berbaju indah dengan tidak bersuara tiba-tiba telah berada di belakang Pui Cie. Dia adalah ketua Shin Kiam Pang Phei Chen, karena Pui Cie dalam keadaan kalut dan tegang, maka dia tidak merasakan ada orang menghampirinya. Orang tua pemberi perintah dengan suara rendah berkata, "Baiklah, hamba segera pergi, mohon petunjuk!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mendadak Shin Kiam Pang Cu seperti kilat mengeluarkan jarinya menotok, jaraknya hanya beberapa senti dari tubuh Pui Cie, umpana Pui Cie seperti dewa mau menghindar juga sudah tidak mungkin, hanya mengeluarkan sedikit suara mengaduh dia sudah roboh. Kesal, benci, marah, dan lain-lain perasaan sekejap saja lewat. Dia sudah tidak sadarkan diri. Dalam kurungan gelap bawah tanah, tubuh Pui Cie tergeletak di lantai. Ingatannya sedikit demi sedikit mulai kembali. Pertama-tama yang dia rasakan ilmu silatnya sudah lenyap. Dendam dan kekesalan bercampur putus asa masuk kedalam sanubarinya. Dia lebih suka tadi dia dibunuh mereka, dia sekarang sudah tidak mempunyai jalan lain. Banyak sekali masalah yang harus diselesaikannya, dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Otaknya terasa kosong melompong . Phei Chen telah membunuh gurunya, meracuni kakak seperguruannya, sekarang dia bisa menawan satu-satunya musuh yang paling menakutkannya yaitu keponakan seperguruannya?dia tidak mau banyak berpikir lagi, tapi setelah agak lama pikiran itu datang kembali semua. Dia tidak mungkin untuk tidak berpikir. Dia meronta-rinta berusaha duduk, sambil meraba-raba dia berhasil duduk di tepi tembok, dia sudah beberapa kali menghadapi maut, mengalami ancaman maut semuanya bisa lolos, tapi dia berpikir kali ini tidak mungkin menemukan keajaiban lagi. Yang tidak dia mengerti, sekarang dirinya menyamar sebagai si Baju Ungu, kenapa bisa dicurigai pihak lawan? Anggaplah Thu Sing Sien tertangkap, tapi kenapa pihak lawan bisa terpikir dan memaksa untuk mencari tahu jati dirinya. Tiba-tiba terpikir satu permasalahan ketika berada di ruang eksekusi itu. Thu Sing Sien menyebut dirinya Ong Giok. Nama ini sebenarnya dikarang sendiri sewaktu dia masih di dalam gunung dan yang tahu hanya Ti Kuang beng saja. Thu Sing Sien sendiri tidak mungkin tahu, dia juga tidak menyebut nama Pui Cie. Kenapa dia tidak mau mengaku? Apakah ini hanya kecurigaan pihak lawan saja? Terpikir olehnya sewaktu kejadian di gunung, dia ditolong orang dari dalam jurang dengan memakai rotan liar. Siapa yang menolong

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ itu? Teka teki ini akan terkubur dalam tanah bersama dirinya. Ada lagi urusan Hie Ki Hong dengan dirinya tidak berkesudahan dan akan selesai dengan sendirinya... Semua pikiran ini masuk kedalam lamunannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Karena ilmusilat sudah lenyap pandangan matanya juga berkurang. Hanya bisa membedakan suara langkah kaki itu lebih dari satu orang. Saat ini, dia malah jadi tenang, perasaan khawatirpun hilang semua, mendadak lampu bertambah terang. Dia menjadi susah melihat, dia memejamkan sebentar lalu membukanya lagi, sekarang pandangan matanya menjadi jelas Yang datang ternyata adalah Shin Kiam Pangcu, Yipha Yauci dan Ti Kuang Beng. Melihat Shin Kiam Pangcu, dendamnya bergelora lagi didalam dadanya, hatinya seperti tercabik-cabik oleh pisau tajam. Didalam ruangan penjara itu ada satu meja, satu bangku, satu dipan. Shin Kiam Pangcu segera duduk di bangku, Ti Kuang Beng dan Yipha Yauci berdiri disampingnya. Tiga manusia dengan enam mata masing-masing memandang Pui Cie dengan sinar yang berbeda. Shin Kiam Pangcu tetap bertopeng, sorotan mata yang keluar dari lobang kecil di mukanya tajam seperti pisau. Gigi Pui Cie gemeretukan, kekesalan dan kemarahan membuat dia menjadi sesak nafas. Shin Kiam Pangcu membuka mulut, berkata, "Ong Giok, apa hubunganmu dengan Pui Cie?" Ini adalah pertanyaan yang diluar dugaan Pui Cie. Ternyata identitas dirinya yang asli masih belum ketahuan. Sulit dipercaya. Ti Kuang Beng dengan sinis berkata, "Hayo jawab pertanyaan Pangcu!" Karena identitas dirinya belum terbongkar, Pui cie memperhitungkan lagi keadaannya, sesudah berpikir beberapa kali, dan memandang musuhnya. Dengan suara gemetar dia berkata, "Dari mana datangnya perkataan ini?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Shin Kiam Pangcu mendehem berkata, "Menyangkal juga tidak ada gunanya, apa kau juga penerus Ko Liang? Pertanyaan ini lebih aneh lagi. Pui Cie menghela nafas dan berkata dengan gemas, "Kenapa kau bisa menghubungkan aku pada orang teragung dari persilatan?" "Kau tidak mau bicara?" "Aku tidak bisa menjawabnya!" "Apakah kau mau bukti?" "Bukti?" "Ya!" Pui Cie menarik nafas dengan suara gemetar berkata, "Bukti apa?" Shin Kiam Pangcu pelan-pelan mengangkat tangannya, terlihat kedua tangan sudah menjepit sepotong papan nama hitam. Pui Cie mendadak terkejut, papan nama hitam itu adalah bukti *Bu Wei Wen' siapapun yang memilikinya adalah sama dengan hadirnya sang Couwsu, Tidak disangka Phei Cen telah menggeledah dirinya. Ini adalah bukti yang jelas, sama sekali tidak bisa dibantah. Pui Cie meraba sakunya, ternyata yang hilang bukan hanya papan nama hitam itu saja, tapi juga setengah buku pusaka yang tiada taranya dan pedangnya, semuanya sudah disita. Semua sudah jatuh ke tangan Phei Cen, sehingga akan menambah kejahatannya. Sekarang dia mati juga tidak akan bisa menutup mata. Phei Cen menyimpan papan nama hitam itu, sambil tertawa sinis berkata, "Tidak disangka ahli waris Ko Liang tidak hanya seorang, ternyata kau juga penerusnya." Pui Cie merasa kesal dan marah bercampur aduk. Dengan mengeluarkan suara, "Wah!" menyemburlah darah dari mulut. Shin Kiam Pangcu berkata lagi, "Ong Giok, kau berpura-pura mau bertarung pedang dengan Pui Cie untuk menutupi dirimu yang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sebenarnya, kemudian sebenarnya mau apa?" menyusup masuk ke perkumpulanku,

Pui Cie hampir saja mau menyumpahi Phei Cen. Tapi setelah dipikir lagi perkataan yang sudah sampai ketenggorokan akhirnya ditelan lagi. Identitas musuh dia sudah tahu dari Ke Co Ing ketika menjelang ajal. Musuhnya tidak tahu bahwa rahasianya sudah bocor. Sekarang lebih baik jangan diungkap dulu, siapa tahu urusan ini ada perubahan lain yang masih bisa diandalkan. Sesudah berpikir begitu dengan gemas dia berkata, "Hanya mengandalkan sepotong papan nama, bagaimana bisa memastikan persoalan?" "Kau menyangkal?" "Aku kan belum pernah mengakui?" "Kalau begitu kau dapat darimana barang-barang itu?" "Aku dapat memungutnya, aku sama sekali tidak tahu dari mana asalnya." 0-0-0 BAB 12 Siasat dilawan siasat "Ha.. Ha.. Ha., kujelaskan padamu, supaya kau tidak mati penasaran. Sebelum masuk perkampungan ini, ditengah jalan bukankah ada seseorang berbaju hitam memakai topeng bertarung denganmu, kau menggunakan jurus pedang apa?" Gemetarlah seluruh tubuh Pui Cie, udara dingin terasa menguap dari dalam hatinya. Kelicikan Phei Cen sampai begini dalam, ternyata orang yang bertopeng itu adalah dirinya. Pantas ilmusilatnya begitu lihay. Dia langsung teringat nasihat Sastrawan Pengecut yang mengatakan bahwa pihak lawan memcurigai asal usulnya dan akan akan dicobanya. Dan tidak disangka dicoba dengan cara yang seperti itu. Dia terlalu ceroboh tidak menyadari ada siasat seperti ini. Sekarang menyesal pun sudah terlambat.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Shin Kiam Pangcu berkata lagi, "Kau masih mau berkata apalagi?" Pui Cie berkata dengan suara menggila, "Ada satu patah kata, benci. Aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri." Shin Kiam Pangcu dengan suara bengis berkata, "Nanti kalau kau sudah mati baru kebencianmu hilang., ha..ha..ha... kalau bukan aku yang teliti semua akan terkecoh olehmu. Sekarang kau terus terang saja menceritakan semuanya, kalau tidak mau tubuhmu akan tersiksa!" Pui Cie menunjuk Shin Kaim Pangcu, "Phei Cen, kau bisa mengelabui mata telinga orang didunia persilatan tetapi tidak bisa lari dari hukuman alam dan keadilan. Kau akan memdapat ganjaran!" Sesudah membuka diri Phei Cen yang sebenarnya, Yipha Yauci dan Ti Kuang Beng menjadi kaget. Shin Kiam Pangcu tiba-tiba berdiri, menendang meja dan bangku berteriak dengan suara keras. "Kau sudah tahu diriku yang sebenarnya?" "Memang!" "Bagaimana bisa tahu?" "Kau tidak perlu tahu! Perbuatan jahatmu membuat langit menjadi marah dan orangpun menjadi benci. Hari kematianmu sudah tidak lama lagi." "Hahaha.." dalam gemuruh suara ketawanya dia melepas selendang penutup mukanya. Berkata lagi, "Boleh kau lihat wajah asliku, supaya matipun kau akan puas. Hahaha.." Pertama kali ini Pui Cie melihat wajah asli si pengkhianat. Kelihatan umurnya antara empat puluh lima lebih lima puluh kurang. Selain sorotan matanya yang tajam, ada sedikit kebengisan, panca indera normal, romannya lumayan, bisa termasuk lelaki tampan. Yipha Yauci dan Ti Kuang Beng bersama-sama mengkerutkan keningnya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Mata Shin Kiam Pangcu mengeluarkan sinar iblis dan dia berkata, "Aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku!" Pui Cie dengan geram berkata, " Bunuhlah! Aku adalah generasi ketiga yang menjadi korban keganasanmu. Arwah couwsu akan mengawasimu!" Itulah rahasia perguruan. Orang luar luar pasti tidak mengerti. Yipha Yauci dan Ti Kuang Beng wajahnya terlihat bimbang, bingung oleh perkataan si Baju Ungu. Shin Kiam Pangcu mulai menggerakkan kaki... Ilmu silat Pui Cie sudah lenyap, sama sekali tidak bisa mengadakan perlawanan, hanya bisa pasrah menunggu mati. Tiba-tiba luar penjara datang suara berkata, "Lapor!" Shin Kiam Pangcu berhenti berjalan, dipasang lagi penutup mukanya. Ti Kuang Beng bertanya dengan suara keras, "Siapa itu?" Suara di depan pintu itu menjawab, "Penguus Utama, perkumpulan kita bagian luar Lao Cao ada urusan penting mau melapor ke Pangcu!" Shin Kiam Pangcu dengan suara rendah berkata, "Suruh dia masuk!" Seorang laki setengah baya masuk dengan langkah besar setelah memberi hormat lalu berkata, "Salam untuk Pangcu!" Pui Cie melihat orang setengah baya ini adalah orang yang datang ke losmen menjemput dirinya kemudian ditengah jalan dijatuhkan dari kudanya itu, tak disangka dia menjabat sebagai Pengurus Utama juga. Shin Kiam Pangcu bertanya, "Urusan penting apa?" Pengurus Utama cabang yang bermarga Lao Cao itu membungkukkan badan berkata, "Menurut berita dari anak buah, Pui Cie telah muncul di Cao Yang."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie terharu hatinya, dia tahu ini pasti perbuatan Bo Ta Su Seng. Shin kiam Pangcu mengibaskan tangannya berkata, "Ya, sudah tahu pergilah! Perintahkan awasi dia dengan cermat!" Pengurus Utama cabang Lao Cao berlalu dengan hormat,"Terima perintah!" Yipha Yauci matanya bersinar, mukanya berobah tapi orang lain tidak memperhatikannya. Pui Cie yang duduk bersandar tepat di depannya bisa melihat semua itu. Shin Kiam Pangcu memandang Ti Kuang Beng, berkata, "Pengurus Utama!" "Hamba disini!" "Segera atur! Siapkan operasi malam." "Menurut perintah!" Sorotan mata Shin Kiam Pangcu yang bengis memandang Pui Cie yang sedang duduk bersandar di tembok, dengan suara menyeramkan dia berkata, "Pergilah selangkah lebih dulu dari Pui Cie!" Seraya mengangkat tangannya. Pui Cie sepasang mata melotot, tidak berkedip dengan amat benci dan dendam dia memandang musuhnya. Yipha Yauci matanya berputar, dengan cepat-cepat berkata, "Pangcu! Jangan bunuh dulu dia sekarang!" Shin Kiam Pangcu memutar kepalanya berkata, "Kenapa?" "Aku ada sebuah akal." "Penasihat Utama ada akal apa?" "Pangcu silakan kemari! Aku akan katakan!" Shin Kiam Pangcu menurunkan telapak tangannya. Dia berjalan ke tepi pintu penjara, Yipha Yauci mendekat dan berbisik di tepi

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ telinganya. Shin Kiam Pangcu merenung agak lama baru berkata, "Ini terlalu beresiko." Yipha Yauci ketawa dan berkata, "Aku yakin, ini tidak akan meleset, dijamin!" Shin Kiam Pangcu terdiam lama, matanya memandang Pui Cie, Lalu dia menganggukan dan berkata, "Baiklah! Penasihat Utama boleh mencoba, tapi hati-hati." Yipha Yauci tertawa menjalankan tugas ini." dan berkata, "Hamba akan hati-hati

Shin Kiam Pangcu mata berkedip-kedip dengan suara rendah berkata, "Orang ini aku serahkan padamu!" habis bicara, dia angkat kaki meninggalkan tempat itu. Pui Cie bingung sekali. Entah siasat apa yang disusun Yipha Yauci. Karena ilmu silatnya sudah lenyap, dan dirinya berada dalam tahanan bawah, banyak berpikir juga percuma. Yipha Yauci menutup rapat-rapat pintu penjara, lalu membalikan badan mendekati Pui Cie. Dengan suara kecil berkata, "Si Baju Ungu, kelihatannya kau seperguruan dengan Pui Cie?" Hati Pui Cie tergugah, dia langsung bilang, "Ya!" Yipha Yauci matanya berputar, mengerutkan kening mengangguk, lalu berkata, "Apakah kau tahu, kau mau dihukum mati?" Pui Cie menggigit bibir berkata, "Apakah artinya mati, aku sudah tidak perduli." Yipha Yauci alis halusnya terangkat. Berkata dengan suara yang lebih rendah lagi, "Aku bisa menolongmu, asal kau mau membantu aku menyelesaikan sebuah urusan." Mencari kesempatan hidup adalah watak setiap manusia. Apalagi bagi seorang pesilat, mati juga harus pada tempatnya, mendengar perkataan Yipha Yauci tergerak juga hati Pui Cie. Dia berpikir, barusan dia berbisik-bisik dengan Shin Kiam Pangcu mungkin mau

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menjalankan suatu siasat. Dia berkata dengan suara masam, "Kau mau melakukan permainan apalagi?" "Perkataan yang benar!" "Aku bukan anak umur tiga tahun!!" "Kau sekarang adalah kura-kura dalam guci, takut apa untuk bertaruh nyawa sekali lagi? Anggap saja berjudi, kau sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk kalah. Bukankah begitu?" Betul juga, orang sudah pasti harus mati, apalagi yang harus ditakuti? Setelah dipikir-pikir lalu Pui Cie berkata, "Baiklah, katakan saja apa yang kau inginkan?" "Bawa aku menemui Pui Cie!" "Kau mau bertemu dengan Pui Cie?" "Emm!" "Kenapa?" "Sebab... aku..." "Kau bisa berjasa luar biasa membantu perkumpulan Shin Kiam Pang, melenyapkan satu musuh kuat." "Kau salah. Aku., beritahumu sebenarnya, aku belum pernah jatuh cinta pada seseorang, tapi begitu aku bertemu dengan Pui Cie, aku... tak bisa menahan perasaanku. Aku suka padanya." Hati Pui Cie bergetar keras, dinilai dari perbuatannya dan pertama sampai sekarang, perkataannya bisa dipercaya, niat untuk mencari jalan hidup bertambah lagi. Dia bukan takut mati, tapi belum boleh mati, sesudah berfikir begitu, dengan perlahan dia berkata, "Bagaimana caramu menolongku?" Sepasang mata Yipha Yauci bersinar, dengan sangat girang dia berkata, "Kau setuju mempertemukan aku dengan Pui Cie?" Dengan tidak ragu-ragu Pui Cie menjawab, "Bisa!" Tentu bisa sebab yang diinginkannya adalah dirinya sendiri.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sepasang mata Yipha Yauci bersinar indah, ditarik-tariknya selendang sutra merah di pundaknya, dia berkata dengan genit, "Kau juga harus beritahu tentang masalah perkawinannya..." Ini seperti duri menusuk tempat sakitnya Pui Cie, dengan menggigit bibir berkata, "Tidak ada apa-apa yang bisa diberitahu padamu, perkawinnanya hanyalah sebuah sandiwara yang menyedihkan." "Sandiwara menyedihkan?" "Ya!" "Kalau begitu dia tidak mencintai istrinya?" "Aku hanya bisa berkata begitu saja." Yipha Yauci menengadah kepalanya, berpikir dengan serius, dibawah sorotan lampu, potongan wajahnya sangat memikat, boleh dibilang salah satu perempuan cantik di dunia persilatan. Tidak terasa hati Pui Cie ikut melamun, lama sekali Yipha Yauci memandang Pui Cie dengan tegas berkata, "Disini kita tidak boleh berkata banyak, sekarang aku pulihkan dulu ilmu silatmu..." Pui Cie merasa senang sekali., selagi mau bicara Yipha Yauci dengan isyarat tangannya melarang, secepat kilat dia menjulurkan jarinya, ditotoknya beberapa kali tubuh Pui Cie. Segera udara pernafasan yang utama mulai berputar tenaga murninya sudah pulih, Pui Cie senang luar biasa. Dengan suara amat kecil, Yipha Yauci berkata, "Ingat, kau tidak boleh menunjukan bahwa tenaga dalammu sudah pulih, harus berpura-pura seperti yang masih le,mah, tetapi harus terus waspada, sedikitpun tidak boleh kecolongan sekali gagal habislah semua. Sekarang kau tunggu sebentar, aku mau mengatur dulu semua!" habis berkata dia membuka pintu penjara lalu pergi. Orangnya sudah menghilang, tapi bau wanginya masih tersisa. Pui Cie merasa semua diluar dugaan, tapi hati juga kusut, Yipha Yauci berbuat begitu karena cinta. Apakah dirinya bisa menerima

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ cintanya? Apakah akibatnya? Diri sendiri sudah menikah, meskipun melakukan perkawinan yang menyedihkan. Tapi nama suami istri tetap ada. Bagaimana menyelesaikannya? Kalau dia ditolak, harapan hidup di depan mata hilang, harapan almarhum suhu dan janjijanjinya dengan orang lain semua tak akan terlaksana... Semua bertentangan, dipecahkannya. kesusahannya tidak akan dapat

Di dunia ini untung dan rugi, baik dan buruk sama seperti satu barang dua muka menyatu. Susah dinilai juga susah dibuang dan diambil. Dalam keadaan melamun, sesosok bayangan muncul. Dia ketua Shin Kiam Pang, Phei Cen. Darah Pui Cie mendadak menjadi bergolak, dia ingin sekali menyergap Tapi setelah dipikir lagi dengan mengandalkan tangan kosong mana bisa menangkap musuhnya? Thu Sing Sien masih di tangan musuh, adalagi Pa kiam, papan nama hitam kecil, buku pusaka, Giok Ju Yi semua, tentu sulit diambil kembali. Ada pepatah mengatakan, selama gunung masih hijau tidak takut kehabisan kayu bakar. Urusan kecil tidak bisa disisihkan, pasti akan merusak semua urusan besar, pesan Yipha Yauci masih mengiang di telinganya. Akhirnya dia bisa menahan diri dengan terpaksa, pura-pura seperti bodoh. Shin Kiam Pangcu mendekat, memandang Pui Cie lama sekali. Kemudia Pangcu mengangguk, dia merasa puas. Balik badan dan pergi. Pui Cie geram sampai hampir menyemburkan darah, untung semua masih bisa teratasi. Sejam kemudian Yipha Yauci yang pergi sudah kembali lagi, dia sudah berganti pakaian. "Aktingmu bagus sekali!" katanya. Yipha Yauci menyodorkan Pa kiam berkata, "Pasangkan, kita pergi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie memasang pedangnya di pinggang, tegang, terharu juga ada sedikit penyesalan sebab dirinya membohongi Pipha Yau Ci. Pipha Yayci berkata lagi, "Kalau kau keluar harus bunuh satu orang!" Pui Cie spontan terperanjat berkata dengan suara bergetar "Bunuh satu orang?" "Ya!" "Siapa?" "Thu Sing Sien!" Pui Cie membelalakan mata menyorotkan sinar yang menakutkan. Dengan kesal berkata ,"Tidak bisa!" 'Jangan keras-keras! Kau mau merusak rencana? Suruh kau membunuh itu hanya pura-pura seolah-olah kau masih dalam genggamanku..." "Bunuh Thu Sing Sien tidak bisa!" "Dia bukan Thu Sing Sien sebenarnya!" "Apa? Dia..." "Dia adalah anak buah yang melanggar aturan didandan seperti Thu Sing Sien, waktu kau masuk keruang sidang, Pertunjukan itu hanya mau mengujimu saja!" Satu lagi kejadian yang diluar dugaan, Pui Cie pelan-pelan bertanya, "Benarkah?" Yipha Yauci berkata lagi, "Ini tidak bohong. membohongimu apakah Pui Cie akan memaafkanku?" Kalau aku

Pui Cie menghela nafas dalam-dalam dari perbuatan ini, bertambah kelihatan betapa keji dan kurang ajarnya Phei Cen itu, dia langsung mengangguk, "Ya, bagaiman kau saja!" Yipha Yauci berkata, "Ingat, kau hanya boleh mendengar perintahku saja. Aku bilang apa kau lakukan saja."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie mengatupkan gigi, "Aku sudah mengerti!" Dia membuntuti Yipha Yauci keluar dari penjara bawah tanah, naik ke tangga, diluar sana ternyata adalah ruang sidang, ternyata Thu Sing Sien gadungan masih seperti semula terikat, di bangku kayu dijaga oleh dua orang algojo. Karena sudah tahu keadaan sebenarnya, terlihatlah dia hanya dirias saja. Pui Cie teringat kejadian tiga hari yang lalu pada saat itu Thu Sing Sien menyebut dirinya Ong Giok. Ternyata dari Phei Cen sampai bawahannya tidak ada yang tahu jati dirinya. Waktu itu dia merasa aneh ternyata hanya begitu saja kejadiannya. Yipha Yauci berkata, "Si Baju Ungu, bunuhlah dia!" tangannya menunjuk Thu Sing Sien gadungan di atas bangku kayu. Pui Cie sama sekali tidak ragu lagi dia mencabut Pa Kiam nya. Thu Sing Sien gadungan tidak berekspresi, mungkin dia telah ditotok. Pui Cie angkat pedang langsung ditusukkan ke ulu hatinya, tidak ada suara mengerang. Ketika pedang dicabut, darah menyembur seperti pancuran, pedang sudah dimasukkan lagi ke dalam sarungnya. Peristiwa ini dari mula sampai akhir hanya berlangsung dalam sekejap mata saja. Air muka Pui Cie pun tidak berubah sama sekali karena yang dia bunuh adalah orang Shin Kiam Pang. Terdengar suara Shin Kiam Pangcu dari balik tirai kain, "Bagus, jalankan rencara seperti semula!" Yipha Yauci mengangkat muka, memberi aba-aba supaya Pui Cie mngikutinya. Diluar sudah disiapkan dua ekor kuda, dengan seorang satu tunggangan,, mereka secepatnya meninggalkan perkampungan Shin Kiam Pang, sinar bintang di langit sudah teringgal sedikit sekali, sekarang sudah mendekati waktu subuh. Sepanjang jalan Pui Cie merasa kesal dan benci campur aduk. Tadinya permainan catur yang bagus sudah diatur, tak disangka masuk gunung, pusaka hilang, pulang dengan tangan hampa, dengan kondisi yang begini, selanjutnya entah bagaimana..

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Keluar dari persimpangan sungai sampai di jalan umum, di ufuk timur mulai memutih, hari mulai terang. Yipha Yauci berkata, "Mulai sekarang gerak gerik kita diawasi, Pui Cie sebenarnya ada dimana?" Sudah dipikir-pikir Pui Cie berkata,"Belum tahu, harus mencari orang yang bisa menghubunginya." Yipha Yauci bierkata lagi, "Baiklah! Sekarang kita cepat-cepat menuju ke Utara, Nanti baru belok ke kiri, kita lihat apa bisa menghindar dari orang-orang yang membuntuti." 0-0-0 Gurauan menjadi serius Pui Cie dan Yipha Yauci melarikan diri beberapa puluh li ke Utara, kemudian mereka berbelok ke Barat, Tengah hari, sampailah di sebuah kota kecil di tepi sungai Tang. Yipha Yauci kemudian membuat rencana. Dua ekor kudanya diikat di depan sebuah toko besar dijalan utama, dengan cara diam-diam pergi ke ujung kota, mereka berdua pergi dengan berjalan kaki. Setelah mereka berdua jauh meninggalkan kota, masuklah kedalam kota tiga ekor kuda dengan penumpang satu orang tua dan dua orang anak muda, orang tua itu memberi isyarat menyuruh dua anak muda itu turun terlebih dahulu. Dia menunjuk kedua ekor kuda yang diikat di depan sebuah toko, kemudian mengangguk dan langsung masuk kedalam kedai kopi untuk mengintai, mereka memilih tempat didepan pintu agar mudah melihat sasarannya. Setengah jam kemudian orang tua itu memukul meja, dan berkata, "Celaka, kita telah terkecoh." Dua anak pemuda itu terkesiap, hampir bersamaan berkata, "Terkecoh?" Orang tua dengan muka penuh kemarahan berkata, "Di depan penginapan itu bukan kedai kopi, hanya sebuah toko keperluan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ sehari-hari tidak mungkin mereka membeli barang-barang keperluan seperti itu, kita sudah tertipu siasat keong melepas cangkang! Tentu mereka sudah kabur!" Salah satu pemuda itu berkata, "Mana mungkin! Itu penasihat..." Orang tua itu berkata lagi, "Aku semalam dapat kabar kilat dari pusat, bahwa harus berhati-hati dengan Penasihat Liu, tidak disangka benar-benar terjadi!" Salah satu pemuda dengan perasaan tegang berkata, "Kepala cabang... Mungkinkah?" Orang tua itu melotot, berkata, "Bukan soal mungkin tak mungkin, kenyataan sudah terjadi di depan mata., dua jam yang lalu mereka tiba-tiba merubah arah perjalanan tanpa meninggalkan tanda, Sudah tentu mereka ingin lolos dari pantauan kita..." Pemuda yang satu lagi berkata, "Ini... apakah Penasihat Liu menyukai si Arang Hitam itu?" Orang tua dengan geram berkata, "Kau tahu apa? Si Baju Ungu memang seperti arang hitam tapi adik seperguruannya Pui Cie tampan luar biasa!" Si pemuda menjadi kuatir, bertanya, "Sekarang kita harus bagaimana?" Orang tua itu berfikir sejenak lalu berkata lagi, "Kalian berdua salah seorang menuju ke Utara, satu lagi ke Barat terus mengejar, aku akan mengirim berita darurat dulu ke pusat, nanti baru menuju ke Selatan, ingat jangan menggoyang rumput mengagetkan ular, kalau ada titik terang, kirim berita secara rahasia! Sekarang langsung berangkat." 0-0-0 Pui Cie dan Yipha Yauci setelah menyebrang sungai Tang terus membelok menuju ke Utara, mereka memilih jalan yang kecil dan sunyi, matahari sudah turun ke Barat, di depan mata mereka terlihat sebuah kelenteng yang sudah terlantar. Yipha Yauci menunjuk ke

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ depan dan berkata, "Kita tak perlu lari membabi buta lagi, istirahatlah dulu di dalam kelenteng." Pui Cie mau tidak mau mengangguk. Mereka berdua segera masuk ke dalam kelenteng, terlihat rumput ilalang tumbuh setinggi orang, semua terlihat sangat terlantar, ruang utamanya penuh dengan sarang laba-laba, keadaan di dalam juga terlihat sangat parah, tidak ada tempat untuk berteduh, mereka berdua hanya bisa duduk-duduk saja di tangga. Yipha Yauci tertawa-tawa dan berkata, "Kelenteng ini kelenteng Budha lapar atau Dewa Miskin?" Pui Cie tidak ada selera untuk bercanda, hatinya terasa tertekan, tindakannya kali ini telah gagal total, ditambah lagi hutang budi kepada Yipha Yauci, yang mau tidak mau harus diterimanya, dia merasa tidak tahu harus berbuat bagaimana. Yipha Yauci berkata lagi, "Si Baju Ungu, bagaimana caranya mencari Pui Cie?" Pui Cie dengan pelan menjawab, "ini... sekarang aku belum bisa memberitahu nona." Yipha Yauci berujar lagi, "Kalau begitu bukankah aku menjadi bunga dalam kaca bulan dalam air?" Pui Cie berkata, "Tidak juga begitu, malah., nona demi diriku telah mengkhianati Shin Kiam Pang.." Yipha Yauci dengan kalem berkata, "Bukan demi dirimu, tapi demi diri Pui Cie." Kata-kata yang blak-blakan ini membuat muka Pui Cie menjadi panas. Tiba-tiba Yipha Yauci memukul Phipanya dengan keras, "Kita telah bebuat salah!" Pui Cie terkejut, "Apa yang salah?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kita tidak boleh terlalu cepat menhindari orang yang membuntuti kita!" kata Yipha Yauci. "Pangcu sebenarnya mau bunuhmu, berhubung pengintai berkata bahwa di Cao Yang telah menemukan Pui Cie, maka aku memutar otak dan memberi ide memakai dirimu untuk memancing Pui Cie dan membiarkan dirimu pergi melawan Pui Cie. Jago-jago di Shin Kiam Pang semua sudah setuju dan akan memberi bantuan dalam gerakan ini. Waktu kita berangkat pergi semua sebenarnya hanya sandiwara saja, dan sekarang malah terjadi yang sebenarnya. Begitu kita meloloskan diri dari penguntip, mereka akan segera menyadari dan akan memburu kita sekuat tenaga..." "Aku malah takut pihak musuh tidak muncul!" "Mata-mata musuh ada di mana-mana, kemana pun kita pergi kita akan tertekan. Bagaimana bisa mencari Pui Cie?" "Jangan khawatir!" Yipha Yauci tiba-tiba berdiri, dengan geram berkata, "Apa kau sedang membohongiku?" Pui Cie balik perkataanmu?" terkejut, "Membohongimu? Apa maksud

Yipha Yauci dengan wajah dingin berkata, "Aku ingat, sewaktu di penjara bawah tanah kau menyanggupi membawaku menemui Pui Cie, Pui Cie telah muncul di Cao Yang, kau juga mengiyakan, sekarang kita malah berjalan kearah yang berlawanan. Apa maksudmu?" Pui Cie berdiri perlahan-lahan, dia ingin menjelaskan semuanya tapi kata-katanya susah diucapkan. Sastrawan Pengecut yang sengaja muncul sebagai Pui Cie maksudnya tentu untuk membingungkan pandangan dan pendengaran musuh sehingga dirinya leluasa menjalankan rencana. Rahasia ini mana boleh diberitahu? Berpikir sejenak dia lalu berkata, "Aku jamin diriku sama sekali tidak membohongi nona!" Yipha Yauci sama sekali tidak mau mengerti, "Baiklah! Kita segera balik ke Cao yang!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Bukankah kau berkata tidak perduli!" "Memang, tapi di Cao Yang pun belum1 tentu bisa bertemu dengan Pui Cie.." "Pui Cie musuh bebuyutan Shin Kiam Pang, Cao Yang markasnya Shin Kiam Pang, jika Pui Cie muncul disana pasti ada sebabnya, dia tak mungkin berlama-lama disana..." "Perkataanmu ini tidak masuk diakal. Dia muncul di Cao Yang pasti ada mauya. Mana mungkin cepat-cepat pergi lagi, kau jangan asal bicara saja, aku tidak ngerti apa maksudmu..?" Pui Cie tidak bisa menjawab memang apa yang dia katakan bukan alasan yang tepat, hatinya sedang mempertimbangkan apakah harus membuka jati diri yang sebenarnya? Tapi kalau jati dirinya sudah terbuka, harus bagaimana menghadapinya? Dia begitu mencintai Pui Cie. Kalau tidak ada hutang budi atas pertolongannya, tentu dia tidak perduli, tapi...sekarang tidak boleh... Yipha Yauci mendekati Pui Cie, menengadahkan lehernya dan bertanya, "apakah kau benar tidak membohongi aku?" nafasnya begitu dekat. Suaranya yang mendesah begitu membingungkan. Pui Cie pelan-pelan berkata, " Nona Liu, aku harus berkata apa supaya kau baru per..." perkataaan belum habis, dia merasa tulang rusuknya kesemutan, "bluk" dia terjatuh, peristiwa lama terulang lagi, tenaga dalamnya sudah tersumbat lagi, hati dan perasaan Pui Cie tersentak, dia sama sekali tidak berpikir Yipha Yauci bisa bertindak begitu tiba-tiba, dengan suara yang bergetar dia berkata, "Nona liu, kau., kau apa-apaan?" Yipha Yauci ketawa kecut beberapa kali lalu berkata, "Si Baju Ungu, aku telah membohongimu. Aku menempuh bahaya, menolongmu dikarenakan mau bertemu Pui Cie. mati hidupmu tidak ada sangkut pautnya denganku, karena kau tidak menepati janjimu, lebih baik kau kubawa pulang lagi dan kuserahkan kepada pihak musuh." Urusan sudah memdesak, rasanya tidak mungkin lagi tidak membuka rahasia dirinya, kalau tidak ada bukti yang nyata, biar lidah

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tergantung bunga terataipun dia tidak akan percaya. Setelah menghela nafas, Pui Cie terpaksa bertanya, "Nona Liu, apakah kau pernah memdengar sebuah barang yang namanya pil pengubah rupa?" Perkataan dari Si Baju Ungu membuat Yipha Yauci menjadi bingung, sambil mengurut jidat dia berkata, "aku pernah mendengar, apa maksudnya berkata begitu?" "Aku sedang menyamar!" "Ow! Kau... benar sedang menyamar?" "Aku... adalah Pui Cie!" Yipha Yauci yang berbadan mungil tergetar hebat, dia mundur beberapa langkah, dengan suara gemetar dia berkata, "Aku tidak percaya!" "Betul!" "Suaramu..." "Berubah karena obat juga!" "Yipha Yauci melangkah lagi ke hadapannya, meneliti beberapa kali pada Pui Cie, dengan terharu dia berkata, "Melihat romannya sih mirip. Tapi... tapi aku tidak percaya!" "Harus bagaimana baru kau percaya ?" "Yang muncul di Cao Yang apakah rohmu?" "Ini... perbuatan temanku, dia sengaja berdandan miripku dan menampakan dirinya dengan maksud untuk mengelabui identitasku." "Benarkah begitu?" "Sedikitpun tidak bohong." "Buktikan padaku!" Pui Cie memasukkan tangannya ke dalam kantong baju mencaricari, syukurlah... dia masih dilindungi oleh Thian, Pil Putih untuk mengembalikan wajah aslinya tidak hilang, pil itu tidak ikut disita oleh

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Phei Chen. Pil itu diambilnya lalu langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Yipha Yauci yang berdiri di sisi melihat dengan seksama dengan tertegun. Bulan sudah mulai mnampakkan dirinya dari balik genting kelenteng, cahayanya menyinari halaman yang terlantar. Hanya sebentar saja, Yipha Yauci menjadi girang sekali dan berseru, "Benar ternyata dirimu!" Pui Cie manghela nafas, "Cepat buka totokan nadiku!" Yipha Yauci sepasang mata indahnya bersinar-sinar, diam-diam memandangi muka Pui Cie yang terlihat sangat tanpam, perasaan dan pandangan matanya yang bergelora hampir tidak terlampiaskankan, lama sekali. Baru bertanya dengan suara manja, "Perlahan saja, aku mau bertanya dulu sepatah kata denganmu!" Yipha Yauci menggigit bibir bawahnya, dengan suara yang bisa mengundang orang terpesona dia bertanya, "Kau suka aku tidak?" Hati Pui Cie melayang, lama tak bisa menjawab, saat itu mendadak muncul satu suara yang amat dingin berkata, "Nona Liu, kau benar-benar tidak tahu malu!" Pui Cie dan Yipha Yauci bersamaan tersentak, Yipha Yauci menyentak berkata, "Siapa itu?" Pui. Cie segera merasa keadaan menjadi tidak beres, dengan suara mendesak berkata, "Cepat buka totokanku!" Yipha Yauci juga segera sadar, dia memutar badannya mengulur tangan... dalam waktu yang bersamaan segulung angin dari telapak tangan yang amat keras menerjang, Yipha Yauci terdorong sampai beberapa langkah, Pui Cie ikut terguling ke bawah tangga. Sesosok bayangan orang muncul dari dalam ruangan kelenteng yang butut itu, seorang tua berambut putih yang bermuka sadis, sepasang matanya bersinar seperti aliran listrik. Yipha Yauci merasa terkejut dan memekik, "Penasihat Utama!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Orang tua berambut putih itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Liu Siang E, tidak disangka kau adalah perempuan yang begitu murahan! Berani sekali mengkhianati perkumpulan, kalau aku tidak membawa kau pulang untuk dihukum sesuai dengan aturan perkumpulan, anggota yang lain tentu tidak akan bisa menerima!" Muka Yipha Yauci menjadi amat jelek, badannya yang mungil bergoncang keras, dia mendekati Pui Cie ingin mencoba membuka totokannya, tapi orang tua berambut putih itu dengan satu tangan mendorong sambil memekik, "Kembali!" Terdengar suara angin telapak tangan bercampur suara gemuruh, sangat menakutkan, Yipha Yauci terhempas dan terguling kembali. Pui Cie cemas sekali, totokannya tidak bisa terbuka, dia tidak bisa menolong Yipha Yauci, juga tidak bisa menolong dirinya sendiri. Dalam suara angin yang menderu beberapa puluh orang seperti kilat telah tiba, mereka segera berpencar mengepung, Ti Kuang Beng juga berada disana. Diantara orang yang datang ada juga seorang yang seperti orang terpelajar, begitu masuk Pui Cie langsung dicengkramnya. Yipha Yauci sekali lagi mencoba memburu. "Pang", terdengar suara mengaduh, Yipha Yauci sudah dihempas lagi oleh satu dorongan tangan orang tua berambut putih. Dua orang pengawal segera maju, kesebelah kiri dan kanan mengapit Pui Cie di kedua sisi. Pui Cie cemas dan marah bercampur aduk, hampir dia pingsan. Yipha Yauci segera memetik phipanya. Suara phipa segera terdengar memekakkan telinga dan mengalun disekitar tempat itu. Selain si tua berambut putih, semua muka orang ditempat itu menjadi pucat, suara phipa begitu cepat dan keras, seperti hujan angin tiba, juga seperti gelombang air laut yang menggulung.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Orang tua berambut putih itu memekik keras, "Hentikan suara phipa bututmu!" berbareng itu sepasang tangannya mendorong seperti gelombang ganas memecah pantai. Terdengar suara mengaduh suara phipa pun berhenti mendadak, tubuh Yipha Yauci pun kembali terhempas dilantai. Orang tua berambut putih itu memekik lagi, "Cepat bawa tawanan yang penting itu, Pengurus Bu, kau yang bertanggung jawab." Orang terpelajar yang menangkap Pui Cie, segera maju mengapit Pui Cie keluar pintu kelenteng. Hati Pui Cie seperti mau hancur, tapi dia tidak bisa berbuat apaapa. Yipha Yauci segera bangun dan duduk lagi, suara phipa yang memekik dengan keras berbunyi lagi, suaranya lebih kencang lebih memekakkan seperti mau memisahkan roh orang dari badannya masing-masing, orang tua berambut putih itu segera memberi perintah darurat lagi, "Semua cepat-cepat mundur!" Bersama Ti Kuang Beng semua orang mundur keluar, ada tiga orang pengawal yang tenaga dalamnya masih kurang, langsung bergelimpangan rubuh di tempat itu. Orang tua berambut putih itu langsung duduk, mengerahkan tenaga dalam untuk melawan suara phipa. Pui Cie dibawa kepala cabang Bu ke dalam hutan kira-kira setengah lie dari kelenteng rusak itu, didalam hutan itu terikat puluhan ekor kuda tunggangan yang ditunggangi mereka sewaktu datang ketempat itu, kepala cabang bermarga Bu itu melemparkan Pui Cie di tanah lalu diikat dengan seutas tali, dengan wajah dingin berkata, "Pui Cie, sekarang kau harus terima nasib!" Pui Cie tidak peduli dengannya, dia sedang mencari akal untuk menolong dirinya, pengalaman terakhir yang dia alami adalah dia bisa memakai ilmu istimewa membuka totokan urat nadi seperti yang tercantum dalam buku pusaka yang tidak ada taranya, sekarang yang diperlukan hanya waktu saja.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sebuah bayangan manusia menyelinapi masuk ke hutan itu, segera kepala cabang Bu menghardik, "Siapa?" "Aku." "Ow! Pengurus Utama, bagaimana keadaan dalam kelenteng?" "Penasihat Utama sedang menghadapi si wanita murahan itu." "Pengurus Utama ada petunjuk apa?" "Ada perintah rahasia, mendekatlah kemari!" "Ya!" Terdengar suara mengaduh keluar, pengurus cabang marga Bu ternyata sudah jatuh terjungkal. Pui Cie kaget sekali, kenapa Ti Kuang Beng membunuh orangnya sendiri? Ti Kuang Beng mendekati Pui Cie, kemudian menggunakan jarinya memutuskan tali pengikat dirinya dan berkata, "Pui Cie, cepat lari!" Habis berkata begitu dia langsung pergi. Pui Cie heran luar biasa, kenapa Ti Kuang Beng membunuh anak buahnya sendiri dan menolong dirinya? Karena tidak bisa dipecahkan teka-teki ini maka dia tidak mau banyak memikirkan lagi. Dia harus cepat membuka totokan untuk menolong dirinya dan Yipha Yauci, dia tidak boleh diam berlama-lama disitu, kalau ada orang yang datang lagi, bagi dia sama dengan sebuah jalan kematian. Ilmu silatnya belum pulih tapi tenaga untuk berjalan masih ada. Pui Cie berusaha berdiri dengan sempoyongan dia meninggalkan tempat ini masuk ke rimbunan pohon, mencoba membuka totokan. Didalam kelenteng, orang tua berambut putih itu hampir berhasil mengalahkan Yipha Yauci, keringat bercucuran seperti hujan, mukanya terlihat pucat. Muka Yipha Yauci juga terlihat menderita, kedua sisi mulutnya mengalir darah segar, suara phipa sudah menjadi pelan dan lemas, tenaga dalamnya sudah terlihat habis.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kalau dilihat situasi pertarungan, orang tua berambut putih tampaknya mempunyai tenaga dalam lebih tinggi. Yipha Yauci segera akan mati karena kehabisan tenaganya. Dia telah mempertaruhkan nyawanya demi Pui Cie, tapi Pui Cie sejak semula tak pernah menyatakan cinta padanya. Pantaskah dia? Di luar kelenteng, Ti Kuang Beng dengan puluhan jagoan, merasa suara phipa sudah hilang kemampuan membunuhnya, mereka beramai-ramai masuk ke dalam kelenteng, dari jauh-jauh mengurung Yipha Yauci. Pui Cie telah berhasil membuka totokannya, tenaga dalamnya sudah pulih, tanpa sadar dia mencopot baju ungunya, langsung terlihatlah baju putihnya, lalu dia langsung memburu ke dalam kelenteng rusak itu. Orang tua berambut putih itu bersiul keras, lalu dia berdiri, suara phipa juga sudah berhenti. Yipha Yauci mennyemburkan darah lagi. Orang tua berambut putih tenaga dalamnya juga sudah terkuras banyak, badannya oleng, dengan mengangkat tangan dia berkata, "Bawa pulang perempuan hina ini ke markas!" Terdengan suara jawaban, dua orang prajurit dengan langkah besar mendekat ke tempat robohnya Yipha Yauci. Tapi tiba-tiba didepan badan Yipha Yauci muncul seseorang yang berbaju putih. Terdengar seruan kaget muncul disana sini. "Pui Cie!" "Pui Cie!" "Pedang bengisku tidak mengenal ampun!" terdengar suara pekikan, sinar pedang yang angker memecah angkasa, sesaat kemudian terdengar jeritan yang memilukan. Satu suara, dua suara... bayangan orang-orang pun berhamburan... Pui Cie sekali gerak sudah membinasakankan enam orang pengawal, sisanya segera melarikan diri, Pui Cie membalikkan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ badannya untuk membereskan orang tua berambut putih itu, tapi ternyata sudah melarikan diri, dengan geram sampai mengigit mulut, dia kembali ke sisi Yipha Yauci, begitu melihat, hatinya menjadi sakit, hampir dia meneteskan air mata. Orang cantik itu seperti telah menjadi hantu. Yipha Yauci yang terhempas ke sudut, mulut dan dadanya semua terlihat berwarna merah, bergelimpangan di lantai, mukanya pucat seperti kertas. Sekujur tubuh Pui Cie menjadi gemetaran, telinganya berdenging, dengan gemetar dia memanggil, "Nona Liu, Nona..." Tidak ada reaksi. Apakah dia sudah meninggal dunia? Hanya karena cinta sepihak, bayaran yang dia keluarkan terlalu mahal. Mata Pui Cie mulai basah, mukanya buram sepasang kakinya menekuk, dia duduk berlutut dan memanggil dengan suara sedih, "Nona Liu.. kau tidak boleh mati begitu saja., kau tidak..." 0-0-0 Dapat besar balas kecil Pui Cie segera mengangkat tangan Yipha Yauci dan memeriksa, terasa nadinya sangat lemah dan terputus-putus. Apakah bisa hidup masih belum pasti. Karena lukanya bukan dari luar, tapi karena melawan musuh sampai kehabisan tenaga. Tangannya begitu halus mulus, empuk seperti tidak bertulang, untuk pertama kali Pui Cie menyentuh kulitnya. Tapi keadaan itu sedikitpun tidak menimbulkan pikiran yang bukan-bukan. Kalau dipikir-pikir terasa aneh sekali, Yipha Yauci pernah melawan dirinya bersama Phei Cen dan kawan-kawannya, sampai berniat membunuhnya. Tapi sekarang dia malah bertarung mempertaruhkan nyawanya untuk membela dirinya. Dulu Pui Cie berniat

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ membunuhnya, tapi sekarang malah berniat menolongnya. Urusan di kolong langit selalu berubah-ubah dan tidak abadi! Kalau sampai tidak bisa menolongnya Pui Cie akan menyesal seumur hidup, sebab dia telah menolong Pui Cie keluar dari cengkeraman Phei Cen sekarang demi Pui Cie juga dia berada diantara hidup dan mati. Apa yang harus di perbuat? Luka semacam ini Pui Cie belum sanggup mengobatinya, kalau bertindak sembarangan malah akan mempercepat kematiannya, sebab nafasnya sudah teramat lemah, setiap saat bisa putus. Dan yang pasti Phei Cen segera akan mengumpulkan lagi jagoan-jagoan dari Shin Kiam Pang. Pui Cie merupakan duri ditubuhnya, bila tidak bisa membunuhnya hidupnya tidak akan tenang. Kalau bukan Yipha Yauci terluka parah dan terancam jiwanya, Pui Cie ingin sekali menunggu mereka kembali. Tapi karena sekarang dia harus menolongnya dia tak ingin terganggu. Pui Cie bersikap sangat tegas. Pedangnya disimpan. Alat musik phipa dia pungut dan disandang miring diatas pundak. Lalu dia menggendong badan Yipha Yauci yang mungil keluar kelenteng menysuri sungai terus pergi. Bulan begitu indah, tapi hati Pui Cie begitu kelam, dia tidak tahu harus bagaimana menolong perempuan yang sedang mabuk cinta ini. Badannya yang lemah berada dalam pelukan. Dia tidak bereaksi apaapa, seperti sudah mati saja rasanya. Berlarian kira-kira satu jam Yipha Yauci tetap tidak hidup tidak mati. Sama sekali tidak ada perubahan. Kemudian sampailah dia di sebuah cekungan sungai. Air yang mengalir menjadi satu kubangan besar, disisi cekungan itu ada satu rumah gubuk, dengan tiang-tiangnya setengah terendam dalam air, kelihatan seperti barak ikan, tubuh Pui Cie mulai terasa lelah, jika berlari terus juga tidak baik, dengan adanya gubuk ini, sangat baik untuk tempat istirahat. Pui Cie menggendong Yipha Yauci mendekat ke dalam gubuk itu, gubuk itu tidak ada pintu di dalamnya kosong, hanya ada sebuah

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ dipan yang terhampar, rumput kering yang terhampar diatas dipan itu sudah hancur, tapi kondisinya cukup memuaskan, segera Pui Cie membaringkan Yipha Yauci di atas dipan itu. Apa yang harus diperbuat sekarang ?Orangnya tidak bisa tidak harus ditolong... Dalam kerisauan ini membuat keningnya berkeringat, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan sama sekali tidak berdaya terpaksa dia mencoba-coba dengan cara yang umum, badan mungil itu dia putarkan kesamping supaya miring, kemudian dia duduk dipinggir dipan itu, namanya juga dipan hanya ada sekadar 2 batang kayu sebagai palang diatasnya, tingginya kira-kira setengah meteran, setelah duduk terasa pas sekali. Pui Cie menjulurkan tangannya ditempelkan di urat nadi mati hidup, bersiap-siap menyalurkan tenaga dalamnya supaya Yipha Yauci mendapatkan kembali kesadarannya, kalau dia sudah bisa siuman, yang lain akan menjadi lebih mudah. Sewaktu dia mau menyalurkan tenaga dalamnya saat itulah muncul sebuah suara yang berkata, "Jangan mengusiknya dulu!" Pui Cie terkejut, segera menarik tangannya dan membalikkan badan, tangannya juga sudah memegang tangkai pedang. Seorang sastrawan berbaju biru berdiri di pintu tempat masuk rumah gubuk, ternyata dia adalah Sastrawan Pengecut. Pui Cie mendapatkan kebahagiaan dari langit. Tidak tahan berkata, "Adik Hu! Bagus sekali kau datang!" Bo Ta Su Seng lihat ke dalam ruangan, memandang Yipha Yauci dan berkata, "Siaute mendengar Shin Kiam Pang sedang mengumpulkan jagoan-jagoannya untuk mengepung twako kemari, semua kejadian itu siaute tahu!" "Oh!" "Twako tahukah siapa orang tua berambut putih yang melukai dia?" "Siapa?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Penasihat Utama Shin Kiam Pang namanya Mei Ang San, bergelar Thong Tih Chiu (Tangan mencapai langit)." "Dewa Ling Nan ini kungfunya tidak kalah dari almarhum gurumu, paling lebih rendah sedikit saja." "Darimana dia?" "Em! Aku nanti akan membikin perhitungan dengannya. Barusan adik Hu mencegah..." "Ya! Jangan apa-apakan dia!" "Kenapa?" "Dia melawan Mei Ang San dengan suara phipanya, karena tenaga dalamnya kalah setingkat, jadi melukai dirinya sendiri, aku mencuri dengar si tua itu berkata, darahnya sudah mengalir berbalik arah sehingga menggempur jantungnya. Dewapun tak akan sanggup menolongnya..." Pui Cie membelalakkan matanya, berkata dengan gemetar, "Kalau begitu kita harus bagaimana?" Kata Bo Ta Su Seng, " Keadaan darurat begini mau mencari tabib sakti sangat susah. Hanya satu cara..." "Cara apa?" "Mohon pertolongan suhunya!" "Suhunya?" "Ya. Yipha Yauci yang tulen." "suhunya tinggal dimana?" "Thi Ceng Tong!" "berapa jauh jaraknya dari sini?" "Siang malam tanpa berhenti, dua hari dua malam sampai!" Pui Cie menarik nafas dalam-dalam, dengan menggelenggelengkan kepalanya berkata, "Dia tak bisa menunggu begitu lama!" Kata Bo Ta Su Seng, "Tapi tidak ada jalan lain!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie dengan susah berkata, "Kuatkah dia menahan goncangan selama dua hari dua malam?" Bo Ta Su Seng mengerutkan alisnya berpikir keras, "Begini saja, aku pergi menemui suhunya, twako tetap disini menunggu, dalam empat hari aku pasti kembali. Selain ini tidak ada jalan lain, aku punya beberapa butir pil untuk menjaga jantung dan nadi supaya jangan melemah. Sehari satu butir, semoga dia tahan sampai aku kembali." Dengan gugup Pui Cie berkata, "Apakah suhunya pasti bisa menolongnya?" Bo Ta Su Seng menjawab, "Sepertinya dia sanggup, aku pernah mendengar orang tua itu berkata, "Yipha Yauci yang asli adalah kakak seperguruannya Kong Sun Bo Wei, seorang yang ahli dalam ilmu pengobatan yang mempunyai gelar Tangan Suci, jadi dia pun pasti paham ilmu pengobatan." Pui Cie menggigit mulutnya berkat, "Kalau begitu jalankan saja rencana kita!" Bo Ta Su Seng mengeluarkan empat butir pil kepada Pui Cie, sesudah itu dia berkata lagi, "Aku bawa phipanya sebagai bukti!" Pui Cie mengangguk, "Baik, kalau... dia sampai tidak bisa disembuhkan, phipa ini sama dengan kembali ketangan pemiliknya." Bo Ta Su Seng mengambil phipa itu dan berangkat. Pui Cie mengantar Bo Ta Su Seng, setelah itu dia segera balik ke sisi dipan, memberi satu butir pil ke dalam mulut Yipha Yauci, diusapnya urat nadi leher supaya pil itu lancar turun ke perut. Empat hari betul-betul waktu yang cukup lama, apa boleh buat, dia harus menunggu, yang sangat dikuatirkan adalah apakah dia bisa bertahan selama empat hari? Bulan dan bintang mulai menghilang. Langit sudah memutih. Angin yang bertiup membuat badan terasa dingin. Pui Cie tiba-tiba terpikir masalah makanan selama empat hari ke depan, dia sama sekali tidak boleh meninggalkan.tempat ini. Dan gubuk ini bukan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tempat yang tidak bertuan, hari sudah terang si pemilik gubuk pasti datang, rahasia tempat dia bersembunyi apabila sampai diketahui oleh kaki tangan Shin Kiam Pang akan banyak mendapat kerepotan, disekitar ini adalah hutan belantara yang belum dibuka, kalau dia berganti tempat terlalu jauh, Bagaimana bila Bo Ta Su Seng kembali? Hari sudah terang, Pui Cie mencelupkan sapu tangannya dengan air sungai, kemudian membersihkan bercak darah di mulut Yipha Yauci agar bersih. Matahari sudah terbit, dipermukaan sungai tampak seperti sisik emas berkilauan. Dalam suara riak air sungai terdengar suara mengayuh perahu, dengan perlahan-lahan mendekat ke gubuk yang ditempati Pui Cie. Pui Cie menjulurkan kepala memandang kepada sebuah perahu yang sudah sampai di tiang gubuk tersebut, seorang tua berbaju hitam dengan topi hijau sedang mengikatkan perahunya. Pikiran Pui Cie secepat kilat berputar, "Bagaimana mengatur cerita kepada nelayan ini?" Nelayan tua setelah menambatkan perahunya dia meloncat ke atas tiang, menutar badan lalu masuk kedalam. Begitu dia melihat apa yang berada didalam dia memekik, "Siapa kalian...kenapa begini...?" Pui Cie mau berkata... Nelayan tua itu memutar kepalanya memandang Pui Cie, mukanya tiba-tiba berubah, mulut dan jenggotnya terus bergetar. Pui Cie membungkukan badannya dan memberi hormat, dengan tidak perasaan tidak enak bertanya, "Apakah gubuk ikan milik bapak?" Nelayan tua itu mengangguk dan berkata, "Ya, gubuk ini punyalu." Pandangannya seketika berubah ketika memandang Yipha Yauci yang berada diatas dipan. Pui Cie dengan malu-malu dan tertawa berkata, "Maaf, aku tadi liwat didaerah sini karena kemalaman jadi..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nelayan tua dengan wajah dingin memotong perkataan Pui Cie, "Wanita ini siapamu?" "Sahabat!" "Ada apa dengannya?" "Dia... sedang sakit!" "Sakit?... bukan, di badannya ada noda darah..." "Oh! Ini... dia terluka." "Baiklah kalian istirahatlah, tidak apa-apa, aku harus pergi memasang jala." "Terimakasih pak!" Nelayan tua itu memutar badannya, lalu membuka tali dan pergi. Pui Cie menghela nafas, lalu memandangi Yipha Yauci terlihat kaki dan tangannya bergetar berapa kali, mulutnya buka tutup seperti mau berkata-kata. Pui Cie cepat-cepat mendekat dan memanggil, "Nona Liu, nona liu..." Yipha Yauci mengeluarkan suara seperti mimpi, "Aku... apakah aku sudah mati?" suaranya lemah dan kecil seperti suara nyamuk. Pui Cie terduduk dilantai dan berkata, "Nona Liu, kau belum mati, aku., sudah menyuruh orang pergi mencari tabib." Kulit mata Yipha Yauci bergerak-gerak, lalu membuka, sepasang mata yang lesu berhenti di muka Pui Cie, lama sekali baru mengeluarkan suara, "Kau... kau Pui Cie?" "Iya!" "Phi.. phipa..." "Phipa kenapa?" "dalam... ada obat.." hati pui cie tergetar. Dengan suara cemas berkata, "Didalam phipha ada obat?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan suara lemah sekali Yipha Yauci berkata, "Ya, ada obat., pil ajaib... perguruanku... yang membuat." Tercenganglah Pui Cie, bagaimanapun juga dia tdak berpikir di dalam phipa ada obat yang tersembunyi, sekarang barangnya sudah dibawa Bo Ta Su Seng sebagai barang bukti. Orangnya juga sudah berada beberapa puluh mil jauhnya. Tak mungkin dikejar kembali, bagaimana? Kalau sampai dia tidak tertolong, siapa yang berdosa? Yipha Yauci seperti merasakan ada yang kurang beres, dengan susah berkata,"Phipanya... hilang?" Pui Cie dengan muka susah berkata.'aku melihat luka nona sangat parah sudah tidak ada jalan, kebetulan sahabatku datang, maka... aku minta tolong membawa phipa sebagai bukti untuk mencari gurumu menolongmu. Ini..." Bibir Yipha Yauci yang pucat terus bergetar, matanya membuka dan menutup berkata, "Celaka! Guruku... sudah meninggal..." Seperti petir di siang hari bolong seluruh badan Pui Cie gemetaran, suaranya juga bergetar, "Gurumu telah meninggal?" "Ya!" "Ini... bagaimana bagusnya? sahabatku dalam empat hari baru bisa kembali..." "Empat... hari?" Ya! Sekarang nona merasa bagaimana?" "Saya... tak bisa bertahan empat hari. Lukanya terlalu parah, aku., sudahlah, ini mungkin sudah nasib... aku tidak menyalahkanmu, tempat apa ini?" "Sebuah gubuk ikan di pinggir sungai Tang." Sekian lama Yipha Yauci terdiam, dengan tersendat-sendat dia berkata, "Kamu... mau menemaniku... sampai detik-detik terakhir?" Pikiran Pui Cie kalut, dia tidak bisa begitu saja membiarkan Yipha Yauci mati, tapi dia tidak punya cara yang lain untuk menolongnya,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ setengah berteriak berkata, "Nona Liu, aku., bagaimana juga ingin kau tetap hidup!" mukanya tampak berkerut dengan sedih melanjutkan, "Kau bisa, kau pasti bisa tunggu sampai sahabatku pulang." Tidak... aku tahu, aku... tidak bisa bertahan satu hari lagi!" "Aku bisa menolongmu dengan tenaga dalam..." "Tidak mungkin, aku... tidak bisa menerima tenaga dari luar, jantungku bisa terguncang... bisa putus." "Begini... nona Liu, aku akan menyesal seumur hidup." "Jangan menyalahkan diri sendiri, ini... nasib!" "Kalau bukan demi menolongku, kau takkan menjadi begini." "Sudah nasib, waktu itu aku... tidak boleh menotok urat nadimu, kejadiannya terlalu cepat, aku... tidak sempat membuka totokanmu, aku kira kau sudah terkena musibah. Yang salah... seharusnya aku." "Nona..." "Kau... bisakah kau merubah... panggilan padaku!" Mata Ku Cie memerah, digenggamlah sepasang tangan halus itu, dengan amat terharu berkata, "Siang E, adik E., aku.." Dalam mata yang buram muncul secercah cahaya kegembiraan, juga tersungging senyum kebahagiaan. Di waktu biasa senyum ini sangat menawan, tapi sekarang terlihat amatlah menyedihkan. Yipha Yauci berusaha bersemangat berkata, "Kakak Cie, aku., harap... bisa meninggal dalam pelukanmu., aku., tidak penasaran lagi aku marasa puas. Aku... tidak pernah mencintai orang lain, juga tidak pernah benar-benar dicintai seseorang. Sebab., aku Yipha Yauci. Katakanlah bahwa kau juga mencintaiku, agar aku bisa membawa kata-kata ini... masuk ke liang kubur!" Pui Cie ingin sekali nangis sekeras-kerasnya. Tiba-tiba muncul sebuah bayangan mungil di depan mata.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Begitu Pui Cie mengangkat kepalanya, hati Pui Cie terhenyak, yang datang ternyata adalah istrinya, Hie Ki Hong. Terlihat mukanya serius, sorotan matanya penuh dengan rasa cemburu. Kenapa dia bisa datang kemari? Dengan gereget Hie Ki Hong berkata, "Pui Cie, tidak disangka kau adalah seorang yang hina dan tidak tahu malu. Kau..." Pui Cie melepaskan tangan Yipha Yauci, dia berdiri. Pelan-pelan angkat bicara dengan sangat terpaksa, "Ki Hong, kalau bicara jangan keterlaluan!" Hie Ki Hong geram sampai geregetan, dengan keras berkata,"Mau bagaimana? Apa aku harus menyanjungmu? menyebutmu jagoan yang romantis? Sebut kau..." "Ki Hong..." "Aku benci dirimu, benci dirimu!" "Teruskan kebenciannya!" "Aku akan membunuhmu dulu bani perempuan murahan..." "Ki Hong, kau tidak boleh..." "Sakit hatimu? Kau tidak rela dia mati?" seraya mengangkat tangan halusnya. Pui Cie cemas dan marah, dengan memekik keras dia berkata, "kau tidak boleh mengusiknya!" Hie Ki Hong terengah-engah berkata, "Bunuhlah aku dulu kalau mau mencegah!" Karena terganggu keributan, Yipha Yauci pingsan lagi. Pui Cie menggigit mulut berkata, "Dia terluka begini berat adalah demi diriku, dia sudah menolong nyawaku, tentu saja aku harus mengurusnya." "Memalas budi dengan dirimu?" "Terserah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau mau mengaku aku sebagai istrimu?" "Aku tidak pernah menyangkal!" "Dimana tanggung jawabmu?" "Itu adalah urusan belakangan, sekarang aku mau menolong orang dulu." "Aku mau kau jelaskan dulu!" "Tidak bisa!" "Baik!" tangan yang halus melayang kepada Yipha Yauci yang tidak sadarkan diri. Buat Yipha Yauci, sekarang jangankan terkena pukulan tangan, terkena jari telunjuk saja nyawanya bisa melayang. Tidak sempat untuk berpikir, Pui Cie menghalangi dengan badan. "Plak!" tamparan tangan Hie Ki Hong mengenai dada Pui Cie, dia terjungkal hampir menindih badan Yipha Yauci. Dengan sekuat tenaga Pui Cie menahan dirinya, tapi mulutnya sudah mengeluarkan darah. Hie Ki Hong menjerit, "Kau tidak menyayangi nyawamu untuk melindungi perempuan yang tak tahu malu ini?" Pui Cie menghapus bercak darah di mulutnya dengan mata terbelalak berkata, "Jangan terlalu mendesakku!" "Bagaimana, apa., kau mau membunuhku?" "Aku tidak mengijinkan kau melukainya." "Kau mencintai dia begitu dalam?" "Ini adalah moril, manusia memiliki prikemanusiaan. aku tidak akan membiarkan dia mati karenaku." Tiba-tiba muncul tiga bayangan manusia secara berbarengan, yang satu adalah nelayan tua, yang dua lagi adalah pelayan Hie Ki Hong, hati Pui Cie masih curiga. Siapakah nelayan tua ini?

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nelayan tua itu berkata, "Majikan muda jangan keliwat emosi. Berkatalah pelan-pelan." Mata Hie Ki Hong memerah, berkata, "Tetua Han, anda jadi saksi, aku mau orang yang tidak berbudi ini memberi penjelasan." Pui Cie terkejut, tidak disangka nelayan tua ini adalah Han Shi Wei. Satu di antara 8 tetua San Chai Mui. Dia pernah mendengar 8 tetua itu tapi belum pernah melihat orangnya. Ternyata gerakan San Chai Mui cukup rahasia. Han Shi Wei memandangi Pui Cie dengan sorotan mata yang aneh berkata, "Tuan, Tuan berbuat begini., apakah pantas?" Pui Cie mendesah lalu berkata, "Tetua Han, seorang lelaki harus bisa membedakan budi dan dendam dengan jelas. Jangan terlalu terdesakku." Hie Ki Hong marah sekali, berkata, "Pui Cie jelaskan padaku, sepatah kata saja sudah cukup." Terpancing juga rasa marah dihatinya, Pui Cie dengan suara kecut berkata, "Bagaimana jika kau jelaskan masalah Li Se Kian?" Hie Ki Hong terhenyak, dengan keras berkata, "Kau masih belum bisa melupakan masalah Lie Se Kian?" "Tentu tak bisa dilupakan begitu saja, bukankah aku sudah kawin pula dengannya." "Kau..." "Kamu pulang tanyakan meninggalnya ibumu?" kepada ayahmu, bagaimana

Hie Ki Hong kaget sekali, dia sampai mundur tiga langkah kebelakang, dengan memekik berkata, "Pui Cie, apa artinya perkataanmu ini?" Pui Cie dengan wajah dingin berkata, "Tanyakan saja kepada ayahmu, beliau pasti akan memberimu jawaban yang memuaskan." Hie Ki Hong merasa marah sampai berobah mukanya. Dia menghentakkan kaki memutar badannya langsung pergi. Dua

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pelayannya mengikuti. Nelayan tua yang bermarga Han tetap diam di tempat, mukanya cemberut. Pui Cie menggeleng kepala kemudian melihat kepada Yipha Yauci yang tertutup sepasang matanya. Di sudut matanya mengambang dua butir air mata. Entah masih pingsan entah sudah siuman. Pui Cie menarik napas panjang, memanggil dengan suara halus, "Siang E!" Yipha Yauci pelan-pelan membuka mata, lalu menutup lagi, dengan suara bergumam berkata, "Aku... rasannya sudah tidak kuat ber...napas... sudah tidak kuat." Hati Pui Cie merasa sedih dan berkata, "Siang E, kau harus bertahan, kau jangan.." Dia tidak sanggup meneruskan. Saat ini yang ingin dia pikirkan adalah hidup matinya Yipha Yauci yang lain tidak perduli. Han Shi Wei pelan-pelan bertanya, "Tuan anda sudah tidak mau Majikan muda?" Pui Cie angkat kepala, "Tetua Han, pertanyaanmu harus ditanya oleh tetua perguruan." Habis bicara pandangannya balik lagi ke Yipha Yauci, hatinya kacau betul. Han Shi Wei berkata lagi, "Tuan muda, aturan suami istri termasuk ke lima hukum, harap anda ingat." Pui Cie bukan tidak tahu, dia bukan orang tidak berbudi, kebahagiaannya dengan Li Se Kian menjadi hilang karena ketua San Chai Mui telah memakai cara keji menjodohkan perkawinannya. Kemarahannya belum bisa hilang sampai sekarang dan tidak bisa dilupakan, dia mengambil sikap begini kalau diurut dari asalnya, Hie Ki Hong tidak salah, dia juga perempuan yang jadi korban. Dengan sikap dingin dia berkata, "Tetua tahu asal mula masalah ini?" Han Shi Wei pelan-pelan berkata, "ini., aku..." Pui Cie manghembuskan napas dari hidungnya, "Kalau begitu aku tidak usah bicara lagi." Tiba-tiba Han Shi Wei menunjuk kekejauhan berkata, "Ada yang datang, sepertinya orang dunia persilatan!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hati Pui Cie kaget, Cepat dia melihat kearah yang di tunjuk, Terlihatlah beberapa orang sedang menyusur jalan setapak menuju ketempatnya. Ada yang dipundaknya memikul barang, ada pula yang punggungnya memanggul barang. Seperti tukang jual beli mau ke pasar, dengan sendirinya Pui Cie bertanya, "Bagaimana tetua tahu mereka orang persilatan?" Han Shi Wei dengan tangan mengusap jenggot putihnya, berkata, "Tidak akan salah, dalam radius lima lie semua orang-orang itu berkumpul, mungkin ada maksudnya." Hati Pui Cie mengerti, tetua San Chai Mui, Han Shi Wei disini menyamar sebagai nelayan, sudah tentu mereka disini mempunyai cabang perkumpulan yang rahasia. Dia pasti sudah dapat berita dari anak buahnya, melihat penanpilan orang yang datang, kemungkinan besar mata-mata Shin kiam Pang yang sedang mencari dirinya dan Yipha Yauci. Dia tidak mau terganggu juga tak mau didekati. Setelah dia berpikir dan memutuskan, dia memandangi Han Shi Wei bertanya, "Apakah tetua bisa tolong menjagakan nona ini?" ' Han Shi Wei mengangguk, "Boleh, bagaimana tuan muda?" Pui Cie berkata, "Kalau pihak lawan datang mencariku pasti banyak jago-jagonya, aku harus melawannya." Dia membalik wajahnya melihat Yipha Yauci, berkata, "Siang E, kau istirahatlah. Aku pergi sebentar!" Menyesal Seumur Hidup Yipha Yauci hanya berputar bola matanya, tapi tidak berkata apaapa. Orang yang datang jaraknya bertambah dekat. Pui Cie tidak berani lengah, segera pergi dari sisi gubuk menyusuri sungai yang beralang-alang lebat, berjalan membuat setengah lingkaran, memutar menuju ke ujung jalan kecil dibagian sana, dengan sengaja memekik dengan keras, "Pa Kiam ( Pedang Bengis )tidak ada ampun."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pekikan keras ini bisa terdengar sampai setengah lie jauhnya, rombongan yang penampilannya seperti pedagang menjadi kalang kabut, beramai-ramai berlari kembali secara terpencar, selanjutnya tanda api roket yang mengudara, terbukti mereka betul mata-mata. Pui Cie matanya memeriksa sekelilingnya, dia menemukan sebuah bukit kecil di kejauhan yang menyolok sekali. Dia merasa disana jauh dan lebih baik dari gubuk ikan. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia lari menuju bukit itu. Berdiri di ketinggian bukit dengan baju putih yang disorot sinar matahari, sehingga dari jauhpun bisa terlihat. Terdengar suara keluar dari balik bukit tempat dimana Pui Cie berdiri, "Pui Cie, kau masih mau melawan?" Diam-diam Pui Cie kaget sekali, pelan-pelan dia memutar badannya. Begitu memandang, hati bergetar keras, di dalam semaksemak pohon dibalik bukit, berdirilah seorang terpelajar setengah baya, ternyata dia adalah Pengurus Utama Shin Kaim Pang Kui Si Chai Ti Kuang Beng. Dalam hatinya timbul nafsu membunuh, tapi berhasil ditekan kembali, terpikir olehnya, tadi malam di dalam hutan, di luar kelenteng, Ti Kuang Beng telah membunuh seorang kepala cabang, dan melepas dirinya kabur, teka teki ini masih belum terpecahkan, spontan dia bertanya, "Pengurus Utama, aku mau bertanya satu masalah.." "Masalah apa?" "Semalam di dalam hutan, sewaktu aku terikat..." "Jangan menyinggung urusan itu lagi." "Kenapa?" "Kau tentu bisa berpikir posisiku." Perkataan tidak jelas membuat Pui Cie bingung, ketika di pegunungan pinus dia ikut memukul jatuh Pui Cie ke dalam jurang, tapi tadi malam menolong dirinya dengan mengkhianati perkumpulannya musuh atau bukan susah dibedakan. Kenapa? Apakan dia yang diam-diam melemparkan batu ke dalam jurang untuk menolong dirinya juga?

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ti Kuang Beng berkata lagi, "Jago-jago yang mau mengepungmu segera tiba, kau sebaiknya bersiap-siap. Aku tak bisa banyak bicara, oya, bagaimana nasib Yipha Yauci?" Pui Cie spontan menjawab, "Dia masih hidup." "Dimana orangnya?" "Maaf, aku tak bisa beritahu." "Dengar, kalau kau bisa membunuh penasihat utama si Tangan Mencapai Langit' Mei Ang San, dari badannya kau mendapatkan sebuah pusaka ajaib yang merupakan hadiah pangcu sebagai imbalan dia membantu pekerjaan perkumpulan, setelah berkata begitu dia segera menghilang. Pui Cie terharu sekali, pusaka apa yang berada di badan si tua itu? Tapi dia tidak bisa berpikir lama, karena dalam waktu sekejap saja telah ada seseorang mendekat, yang pertama naik ke bukit itu adalah Thong Tih Ciu, si Tangan Mencapai Langit. Pui Cie berdiri kokoh seperti gunung, dengan mata melotot melihat pihak lawannya. "Ha.. Ha.. Ha...! Pui Cie, akhirnya kutemukan juga dirimu!" Thong Tih Ciu ketawa sinis. Pui Cie dengan sikap dingin berkata, "Orang yang bermarga Mei, kau membantu orang berbuat kejahatan, apa benar-benar tidak takut hukumannya!" Seketika pihak lawan yang lain berangsur-angsur tiba, mereka mengurung bukit. Ti Kuang Beng juga datang kembali. Pui Cie memandang semua orang yang mengepung, terutama lama sekali memandangi Ti Kuang beng. Thong Tih Ciu dengan mata berbinar berkata, "Pui Cie, perempuan hina yang main phipa itu sudah dikubur?" Pui Cie tertawa dengan sikap dingin berkata, "Dia baik-baik saja sedang mencari waktu untuk membalasmu! Sayang dia sudah tak

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ ada kesempatan lagi, sebab Pa Kiam ku sudah tidak tahan ingin meminum darahmu, tua bangkai" Thong Tih Ciu dengan murka berkata, "Jangan terlalu sombong! Hari ini aku akan membawa kepalamu pulang." < Pui Cie menyungging bibirnya sambil mencibir, "apakah cukup tajam pedangmu?" Thong Tih Ciu melotot, "Silahkan coba, nanti kau bisa tahu pedangku tajam atau tidak." "Chiang!" dengan suara keras kedua belah pihak telah mencabut pedang. "Pa Kiam tidak ada ampun!" itulah kebiasaan Pui Cie memekik. Kedua belah pihak mengambil posisi, memasang kuda-kuda. Juga mengeluarkan pedang menunggu kesempatan bagus. Pui Cie berpikir cepat, "Orang Tua ini menjabat sebagai Penasihat Utama pasti kungfunya hebat sekali, sudah terbukti sewaktu dia melawan Yipha Yauci di kelenteng. Pertarungan kali ini adalah melawan jago-jago, jangan berlama-lama lebih cepat lebih baik." Sesudah berpikir begitu dia memekik. Pa Kiamnya dengan segala kecepatan dan keganasannya telah disabetkan. Saat Pui Cie mau mennyabetkan pedang, keadaan di lapangan sudah amat menegangkan. Dalam suara beradunya besi dengan besi ke dua belah pihak yang sudah menjauh, mendekat lagi. Kepandaian pedang Thong Tih Chiu amatlah tinggi, seimbang dengan kemampuan Pui Cie, sudah tiga jurus belum jelas siapa menang atau kalah, Pui Cie melakukan pertarungan kilat supaya cepat selesai. Dia memekik lagi dikeluarkanlah jurus-jurus istimewa Pedang bengisnya. Dalam suara besi beradu yang begitu kerap, Thong Tih Chiu, sudah mundur tiga langkah besar. Pui Cie seperti bayangan mendesak terus, sebuah jurus mematikan dilancarkan. Terdengar suara ,"Sssett!" lengan baju Thong Thih Chiu sudah robek besar darah pun bercucuran.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bisa menghadapi dua jurus maut Pedang Bengis tanpa cedera pertanda ilmunya cukup hebat. Thong Tih Chiu yang menjabat sebagai Penasihat Utama di jurus kelima dia mulai merasa terdesak, karena merasa malu, dengan memekik kuat, dia menyerang dengan sebuah jurus aneh yang amat keras. Pui Cie dengan sekuat tenaga melawan serangannya dengan pukulan, dalam hembusan angin yang menderu dan kilauan pedang, dua belah pihak terdorong mundur lagi. Ada dua buah pedang panjang mengunakan kesempatan ketika Pui Cie mundur, menyerang dari samping. Pui Cie segera membalikan pedangnya kembali menyapu, terdengar suara mengaduh. Seorang korban yang membokong roboh. Yang satunya lagi pedangnya putus menjadi dua. Secepat kilat dia mundur. Dengan ada bantuan anak buahnya meskipun hanya sekejap saja. Thong Thih Chiu kembali dapat menyerang secara cepat dari depan. Dalam suara yang hiruk pikuk jagoan-jagoan yang lain semua terjun kedalam kancah petarungan dengan mengeroyok. Pui Cie dengan pedangnya melancarkan kepada Thong Tih Chiu, dia tidak berani lengah sedikitpun. Badannya berputar mengikuti arah Pa Kiamnya kembali, ada seorang tua tepat terkena tajamnya pedang, dengan mengeluarkan suara menjerit kepalanya telah melayang. Thong Tih Chiu menggunakan kesempatan itu menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Pui Cie merobah siasat cara lain, badannya cepat berputar tidak pedulikan Thong Tih Chiu, dia menyerang orang yang mengeroyok, mengerikan sekali seorang lagi terjungkal sudah tiga orang pengawal yang mati konyol. Karena ada perbedaan tenaga dalam yang besar, kerja sama yang tidak teratur. Yang membantu mengeroyok malah menggangu serangan Thong Tih Chiu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie sengaja mengubah-ubah posisinya. Dia bermaksud menghilangkan dulu tekanan-tekanan yang membantu menyerangnya, ini adalah siasat yang paling pintar. Darah mengalir lagi.orang yang mengeroyok menjadi gentar. Ti Kuang Beng ikut menyerang dari sisi, meskipun ilmunya di bawah Thong Tih Chiu tapi tidak bisa dipandang remeh. Pui Cie cepat-cepat menggunakan kesempatan sebelum Thong Tih Chiu tiba, sekuat tenaga dia menyerang Ti Kuang Beng, Pui Cie sebenarnya tidak bermaksud membunuhnya, tapi tetap harus menghadapinya. Dalam suara besi yang beradu keras, Ti Kuang Beng mengaduh, dirinya cepat-cepat mundur, dada kanannya telah berdarah. Terlihat serangan pedang Thong Tih Chiu menggulung. Pui Cie menghadapi dengan sekuat tenaga. Sekarang yang bantu mengeroyok tersisa tiga orang, tidak ada kesempatan bagi mereka menyerang karena ilmu mereka yang terbatas. Siapapun tidak ada yang tahu bahwa Ti Kuang Beng berpura-pura, tapi dia memang mendapat cedera yang tidak ringan, dia terduduk disitu. Pa Kiamnya Pui Cie dahsyat sekali, serangannya yang bertubi-tubi membuat Thong Tih Chiu kalang kabut, maut terus mengintainya. < Tiba-tiba Thong Thih Chiu mengundurkan diri keluar dari lingkaran pedang. Pedangnya dimasukkan dalam sarung, sepasang telapak tangan mengibas, rambutnya putih beterbangan mendadak menghempas, timbul angin yang sangat keras bergulung-gulung. Pui Cie segera menghindar kesamping. Terdengar suara jeritan yang memecahkan keheningan, dua orang pengawal yang berada di belakang Pui Cie, menjadi korban tergulung angin, terbang meninggalkan tanah, terhempas belasan meter jauhnya, mengikuti lereng gunung menggelinding jatuh ke bawah.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thong Tih Chiu telah salah membunuh orangnya sendiri. Dia menjadi marah besar. Pui Cie setelah menjauh sekarang membawa pedangnya masuk lagi ke gelangang. Thong Tih Chiu setelah menarik lagi sepasang telapak tangannya, kembali menyerang diri Pui Cie,ternyata ilmu telapak tangannya lebih hebat dari permainan pedangnya. Ini adalah bukan pertarungan silat atau mengadu tenaga, tentu saja Pui Cie tidak mau melayani keras lawan keras, badan menepi dan menghindar lagi dari serangan lawan, tapi karena menghindar terus badannya menjadi tidak mantap, terdorong oleh pukulan yang terus-menerus, sampai kepalanya terasa pusing. Tenaga telapak tangan Thong Tih Chiu memang dahsyat, tapi tenaga dalam yang terkuras juga tidak sedikit, dia akhirnya berhenti dengan terengah-engah, waktu yang sesaat ini bagi orang ahli seperti Pui Cie merupakan kesempatan untuk menyerang. Pedang berkilau di bawah sorotan matahari seperti satu rambang kilau mengurung Thong Thih Chiu. Thong Tih Chiu mencoba melayangkan tangannya, sayang tenaganya belum sempat keluar dengan sempurna kilauan pedang sudah tiba, satu suara jeritan terdengar dia sudah terdorong mundur tujuh delapan langkah, baju bagian dadanya sudah sobek, darahpun bercucuran. Pui Cie mengayunkan pedang, menyerang lagi... Thong Tih Chiu meluncurkan badannya cepat-cepat melarikan diri, lari menuruni bukit. Ti Kuang Beng diam-diam juga sudah kabur. Pui Cie memekik,"Mau lari kemana?" dia menggerakankan badannya cepat-cepat mengejar Thong Thih Chiu, hanya dua kali loncatan dia sudah menghadang di depannya. Pedangnya segera digerakkan lagi. Pui Cie memang punya keinginan memusnahkan semua tenaga yang membantu Phei Cen.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Untung Thong Tih Chiu tersandung batu sehingga terguling sepuluh meteran jauhnya, begitu bangun lagi dan dia cepat-cepat melesat kabur. Tiba-tiba Pui Cie melihat di tanah ada sebuah bungkusan barang, dia teringat Ti Kuang Beng pernah berkata di badan Thong Thih Chiu ada sebuah pusaka, cepat-cepat dipungut bungkusan itu, ketika mengangkat kepala lagi, Thong Tih Chi sudah kabur entah kemana. Dia menghela nafas, begitu barang itu dia buka, matanya menjadi terbelalak, isinya ternyata adalah sebilah Giok Ju Yi. Pui Cie terharu sampai bergetar, Giok Ju Yi tidak salah lagi terjatuh dari badan Thong Tih Chiu. Phei Cen tidak sayang memberikan Giok Ju Yi demi mendapatkan bantuannya. Ayah Bo Ta Su Seng gara-gara Giok Ju Yi sampai diusir dari perguruannya, pada akhirnya mati di depan lembah pertapaan Bo Yu Sien Ce. Dengan hasil yang diluar dugaan ini, telah meringankan banyak pekerjaan, janji pada Bo Yu Sien Ce sudah terlaksana. Dimainkannya Giok Ju Yi itu, hatinya riang bukan main. Di kejauhan asap hitam mengepul, Pui Cie angkat kepalanya melihat, tempat asap mengepul itu tepat di gubuk tempat Yipha Yauci bersembunyi, dia tersentak, hatinya berdebar-debar, Giok Ju Yi segera disimpannya dia langsung memburu ke gubuk itu. Betul saja gubuk ikan itu sudah terbakar. Saat ini sudah memjadi gumpalan api yang besar, mata Pui Cie berkunang-kunang, dia mempercepat langkah mendekat. Gubuk itu setengahnya sudah roboh ke dalam air. Api masih menyala, gubuk terbakar hampir habis sama sekali tidak bisa ditolong, apalagi ini sudah terlambat. Pui Cie berdiri terpaku dan gemetaran. Tumpukan kayu sudah terbakar habis, sisa kepulan asap tertiup angin sungai. Pui Cie seperti bangunan tinggi kehilangan topangan., rohnya terasa melayang-layang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Siapa yang membuat kebakaran ini? Bagaimana hidup dan matinya Yipha Yauci dan tetua Han? Tiba-tiba tercium bau tutung daging terbakar, menyengat hidung, badan Pui Cie menjadi seperti yang kedinginan. Apakah... dia tidak berani memikir lagi. Memandangi puing-puing yang tersisa ternyata ada dua bangkai tutung manusia, rambut dan baju tidak tersisa, mukapun sudah tidak bisa dibedakan, entah wanita entah ^laki-laki. Saat ini pikiran Pui Cie menjadi kosong, perasaan apapun tidak ada. Langit dan bumi seperti berputar, badannya menjadi bergoyanggoyang, dia seperti mau terjungkal. Siapa yang berbuat sekeji ini? Han Shi Wei adalah tetua San Chai Mui, apakah tidak bisa menjaga satu orang saja? Yipha Yauci dalam kondisi sekarat tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi kenapa tetua Han kenapa bisa ikut terbakar? Gubuk hanya sebesar begitu, diluar adalah air sungai, apa tetua Han tidak mampu kabur? Sehingga mereka berdua mati bertumpuk. Benar-benar tidak habis pikir. Kecuali bertemu musuh yang tangguh dan terluka atau terbunuh lalu dibakar pemikiran ini lebih wajar. Siapa musuh yang begitu hebat? Pui Cie terpikir lagi Phei Cen, selain dia siapa lagi yang bisa sekeji itu bunuh orang lalu membakar jasadnya. Betul! Phei Cen tidak muncul di bukit, pasti dia disini membuat pekerjaan yang tidak berperikemanusiaan. Yipha Yauci telah mengkhinati perkumpulan pasti dia membencinya sampai masuk ke sumsum. Dua jasad kering yang bertumpuk bisa saja adalah tetua Han yang tidak mau mengecewakan dirinya atas titipannya jadi mati terbunuh, kalau begitu dirinya menanggung dosa yang besar, tambah dipikir teori ini terasa sangat betul. Perahu yang tadinya diikat di tiang gubuk mungkin tali nya putus terbakar, perahunya pergi mengikuti arus. Kesal, merasa bersalah, menyesal, Pui Cie hampir menjadi gila, bayangan mungil yang memakai selendang merah bergoyang-goyang di depan matanya, semua yang terjadi hanya dalam waktu setengah

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ jam saja, kejadian yang menyedihkan ini telah terjadi, dia sudah terbebas sekarang, tidak perlu mencari tabib lagi, gubuk ikan itu bertutup alang-alang, rangkanya semua dari kayu, setengahnya terendam air, untuk keperluan menambatan perahu dibuat tiang yang amat kokoh, begitu terbakar pasti apinya sangat besar, bau hangus tercium sampai jauh. Pui Cie mengepalan tanganna sambil memekik sekuatnya, "Bunuh! Bunuh! Bunuh!" BASMI HABIS Memandangi sisa kebakaran dan jasad kering dalam hati Pui Cie ada semacam keinginan membunuh dan cucuran darah. Yipha Yauci dan Tetua Han berduanya terpanggang api sama sekali luar dugaan. Akan munculkah Phei Cen? Dia sedang berpikir, utang darah harus dibayar dengan darah, darah orang tidak berdosa harus dibayar darah orang jahat, perguruannya merasa amat sial karena mempunyai seorang pengkhianat seperti Phei Cen. Ini juga malapetaka bagi dunia persilatan, berdiri di pihak manapun demi pribadi atau umum Shin Kiam Pang harus dimusnahkan. "Bunuh!" dia memekik lagi dengan suara keras. Dia memikir kembali, Yipha Yauci demi cinta rela mengkhianati perkumpulan hingga mempersembahkan nyawanya, begitu pendek, begitu tiba-tiba seperti kembang api yang muncul sesaat saja, termasuk kategori cinta apa ini? Dia tahu laki-laki itu beristri tapi tetap tidak perduli, dan secara secara sepihak mencintainya. Imbalan apa yang dia dapatkan? 0-0-0 Cabut kuku putuskan gigi Berdiri lama tanpa perasaan, Pui Cie akhirnya sadar harus beresberes, dari gulungan gelombang air sungai, muncul sebuah perahu mengayun melawan arus, yang mendayung ternyata adalah Han Shi Wei, tetua San Chai Mui. Pui Cie girang bukan kepalang, ternyata

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ yang terpanggang api bukan tetua Han, dia langsung bertanya, "Mana Yipha Yauci?" Han Shi Wei tidak menjawab malah memanggil dari atas perahu, "Tuan muda, cepatlah naik perahu!" Pui Cie segera melompat, tubuhnya enteng seperti kapas, melayang turun di atas perahu, dia langsung melihat Yipha Yauci sedang terbaring di dalam, hatinya yang penuh rasa cemas mulai mereda, perahu kecil itu dibawa Han Shi Wei masuk ke dalam alangalang. "Tuan muda, dia... sudah sangat kritis!" Hati Pui Cie menjadi dingin, dia duduk termenung, butir-butir keringat bermunculan di dahinya. Dia tidak mati terpanggang, tapi tetap susah mempertahankan hidupnya. Bo Ta Su Seng dalam dua hari lagi baru kembali, tapi sekarang nyawanya sudah sangat kritis, bagaimana harus bertindak? Dengan pelan dia mencoba memanggil, "Siang E!...Siang E!.." Tidak ada reaksi, ketika dipegang nadinya seperti ada seperti tidak, dia betul-betul sudah gawat. Han Shi Wei menghela nafas dan berkata, "Api dekat tidak bisa dipadamkan dengan air jauh, mana bisa tertolong? Kalau Mui Cu ada disini, mungkin bisa diminta bantuannya.." Tiba-tiba Pui Cie teringat Giok Ju Yi yang didapat dari Thong Tih Chiu, menurut cerita Bo Yu Sien Ce, Giok Ju Yi ini dibuat dari giok yang berumur puluhan ribu tahun, khasiatnya bisa menyembuhkan yang orang yang dalam keadaan kritis. Apakah betul begitu? Harus dicoba juga, segera dia mengeluarkan Giok Ju Yi, di tempelkan di dada Yipha Yauci. Han Shi Wei merasa aneh bertanya, "Untuk apa itu?" Pui Cie menceritakan tentang keajaiban giok itu dan kegunaannya. Han Sih Wei mengangguk sambil mengusap jenggot berkata, "Mungkin sudah takdir, belum sampai harus mati, mau bagaimana juga tak akan mati!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie memandang Yipha Yauci lalu bertanya, "Tetua Han, waktu gubuk terbakar ada dua jasad terpanggang, bagaimana ceritanya?" Han Shi Wei menghela nafas berkata, "Ada dua orang pengawal Shin Kiam Pang menemukan nona ini, langsung mau dibawa pergi, aku tak berbuat bisa apa-apa terpaksa menghajarnya, tak disangka dia bawa petasan yang mau dilempar untuk minta bantuan tidak tahu bagaimana, malah menyala didalam, berita tidak terkirim, gubuknya yang terbakar, aku mau tak mau membawanya ke perahu untuk menghindar sementara." Pui Cie menghela nafas, "O, begitu, aku kira kalian berdua yang terkena musibah." Han Si Wei bertanya dengan muka serius, "Tuan muda, apakah kau benar menyukai wanita yang bermarga Liu ini?" Pui Cie ketawa kecut, "Tetua, di dunia persilatan budi dan dendam harus jelas dan harus diutamakan. Ada dendam boleh tidak dibalas tapi kalau ada budi harus dibalas. Nona Liu telah menolong jiwaku, budi ini harus dibayar!" Han Shi Wei tak mau mengendur terus bertanya, "Kalau begitu maksud tuan muda hanya membalas budi saja? Yang lain tidak?" Pui Cie berkata lagi,"Maksudku memang begitu." "Kalau dia?" "Dia punya pandangan sendiri, aku tidak bisa campur tangan." "Menurut pengamatanku, dia sangat mencintai Tuan Muda." "Itu., itu urusan dia." "Kalau begitu tuan muda tidak akan meninggalkan San Mui Cu?" Terkorek lagi luka hati Pui Cie, dengan sikap dingin berkata, "Sekarang aku tidak mau membicarakan soal ini!" Han Shi Wei dengan rasa sayang berkata, "Tuan muda, perkawinan itu amat sakral, aku harap bisa abadi selamanya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sikap Pui Cie hatinya menjadi dingin, berkata, "kalau yang jadi korban adalah dirimu , apa kau bisa berkata begitu?" Han Shi Wei mengerutkan dahi, "siapa yang jadi korban?" Pui Cie berkata, "Mui Cu hatinya tentu mengerti, .kalau sampai terjadi apa-apa yang salah bukan dipihakku." Han Shi Wei seperti tahu urusan ini, maka selesai Pui Cie berkata begitu, dia bungkam terus. Pui Cie dengan penuh perhatian memandangi Yipha Yauci, terlihat mukanya mulai memerah, nafasnya terdengar mulai teratur, bahan dari langit, pusaka dari bumi benar-benar barang ajaib, hasil penyembuhan luka oleh giok Ju Yi sudah terlihat. Tidak disangsikan lagi nyawa Yipha Yauci sudah terselamatkan. Pui Cie tiba-tiba terpikir, kalau Yipha Yauci betul-betul sembuh, rasa cintanya tentu tidak berkurang, dia sendiri sudah berkeluarga, bagaimana menyelesaikannya? Sesudah dipikir berulang-ulang hatinya menjadi tetap, dia berkata, "Tetua , bolehkah aku menitipkan sesuatu padamu?" "Masalah apa?" "Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, tidak bisa berlama-lama disini, kalau nona Liu sudah sembuh, tolong simpankan Giok Ju Yi nya. Dua hari kemudian bila ada seorang yang pakai baju biru bernama Bo Ta Su Seng datang, dia sahabatku, harap giok Ju Yi ini diserahkan kepadanya." "Boleh, tapi..." "Tapi apa?" "Kalau nona Liu bertanya mengenai dirimu, bagaimana aku menjawabnya?" "Ini... katakan saja aku pergi ada urusan penting, tetua tolong sampaikan ucapan terima kasihku padanya." "Baik!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kalau begitu, merepotkan tetua!" "Tidak apa-apa, sudah selayaknya aku membantu, terakhir maafkan aku berkata sekali lagi, harap tuan muda mengingat hubungan suami istri, bisa bersatu itu jodoh dari sana." Pui Cie mengangguk dengan berat, bersoja dengan kedua belah tangan, lalu melayang ke darat.tujuannya adalah kota Cau Yang, dia tidak percaya Phei Cen tidak mau muncul untuk menghadapi dirinya, kali ini Thong Tih Chiu kembali gagal, pasti dia sakit hati. Cara dia meninggalkan Yipha Yauci dalam hati Pui Cie merasa penuh penyesalan tapi sudah tidak ada jalan lain lagi. Sesudah sembuh bagaimana dia? Pui Cie tidak berani pikir lebih jauh lagi. Siapa bilang dicintai itu paling bahagia? Pui Cie sekarang sedang pusing karena dicintai banyak wanita. Sinar bulan seperti perak, Pui Cie mondar mandir di jalan raya, dia tidak berani menyatakan dirinya menyayangi Yipha Yauci, tapi Yipha Yauci malah menyukai orang yang sudah beristri, hal itu sama dengan bikin jaring mengikat diri sendiri, demi cintanya sampai mempertaruhkan nyawa sebagai imbalan, itu adalah cinta buta. Pui Cie sebagai orang yang menanggung, merasa dipotong tak mau putus, diurus malah tambah kusut. Sebuah bayangan dengan sangat cepat melintas di depan sana, di bawah sinar bulan seperti seekor burung abu-abu terbang. Hati Pui Cie tersentak, tapi dia tidak mau mencampuri urusan orang lain, dia tetap saja berjalan, berjalan tidak begitu jauh dari hutan dipinggir jalan muncul suara tertawa mengejek, didepan dan dibelakang tak ada orang, tujuannya pasti pada dirinya, mau tak mau harus dilayani, dia menghentikan langkah dengan sikap dingin bertanya, "Siapa yang di dalam hutan?" Suara tertawa mengejek itu muncul lagi. Pui Cie sudah tidak tahan dia melayang masuk ke dalam hutan, dikejauhan terlihat sebuah bayangan masuk ke dalam hutan, Pui Cie tambah cepat mengejar, bayangan itu sebentar tampak sebentar

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menghilang, selalu tidak jauh jaraknya di depan karena hutan lebat pohonnya padat, jadi sulit mengejarnya, tidak lama kemudian dia sudah keluar hutan, di depannya tampak hamparan ladang terlantar, ditengah ladang ada sebuah rumah tani yang tidak beratap. Dindingnya sudah compang camping terkena angin dan hujan, ada berdiri seseorang di lapangan depan dinding, melihat potongan badannya bukan orang yang kejar-kejar tadi. Jelas sekali ini adalah sebuah jebakan, pasti ada kawanan lainnya bersembunyi, Pui Cie berdiri di pinggir hutan, sedang menganalisa keadaan bagaimana yang akan muncul. Bayangan orang tadi berkata, "Pui Cie, aku menunggumu sudah lama." Suaranya terasa tidak asing, sinar bulan terang sekali, dengan teliti dia mencoba mengenali. Ternyata dia adalah Penasihat Umum Shin Kiam Pang, Thong Tih Chiu Mei Ang San, pembuluh darah Pui Cie seperti mau pecah bagaikan air mengalir, awan melayang dia mengejar sampai beberapa meter lagi, setelah dekat dengan mata melotot dengan sikap dingin sekali dia berkata, "Kau masih penasaran?" Dengan geram, Thong Tih Chiu berucap, "Sebelum membunuhmu hatiku belum puas!" "Sama sama!" "Apakah barangku dibawa?" ' "Ow, Giok Ju Yi! Maaf, sudah dikembalikan pada pemiliknya." "Kau., apa? Kembali kepada pemiliknya?" "Tidak usah aku katakan, pokoknya begitu kenyataannya." "Kau berani menelan barangku?" "Ha..ha., ha..! tidak lucu! Itu mana boleh dihitung barang milikmu! Kau jangan menganggap semua barang yang bisa dirampok bisa menjadi milikmu?" Thong Tih Chiu mencabut pedangnya, memekik dengan keras, "aku akan membunuhmu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie dengan tenang mengeluarkan Pa Kiamnya, pikirnya dalam hati, "Kalau sekarang Phei Cen mengintai didalam kegelapan, nanti dia pasti muncul. Inilah yang kutunggu.." Sesudah berpikir begitu, dengan sengaja dia berkata keras-keras, "Pangcu kalian pintar bersembunyi, seperti kura-kura tidak berani keluar, hanya bisa menjual nyawa kalian, sungguh memalukan." Thong Tih Chiu melayangkan pedangnya dengan suara keji berkata, "Pangcu sedang menunggu kepalamu!" Pui Cie mengangkat pedangnya berkata, "Ayo, majulah! masih tunggu apa lagi?" Thong Tih Chiu marah, maju sambil memekik. Pedang panjangnya langsung menyerang, tenaganya dikeluarkan seluruhnya. Terjadi pertempuran yang sengit, seru dan menakutkan, Pui Cie tahu banyak pesilat tangguh mengintai di kegelapan, mereka tidak mau mengulang mengeroyok, mereka memancingnya kesitu pasti sudah siap sedia, bersikap lemah pada musuh akan merugikan dirinya sendiri, sesudah tujuh jurus berlalu, dia mulai mengeluarkan jurus-jurus yang ampuh, Thong Tih Chiu didesak, mundur dan mundur terus, mundur sampai ke dinding. Thong Tih Chiu yang merasa terdesak terus menjadi marah sambil memekik dia berseru, "Berdebah! Matilah!" Bersamaan pekikannya dia mengeluarkan satu jurus ajaib dengan sekuat tenaga, gayanya hebat membuat orang merasa ngeri melihat pertarungan yang mengadu nyawa. Pui Cie terdesak mundur satu langkah, Thong Tih Chiu tidak melanjutkan serangannya lagi. Tiba-tiba Pui Cie mengempos semua tenaga yang ada membalasnya, sebuah jurus maut Pa kiam seperti gelombang dahsyat menggulung dan memecah. Dalam suara gemuruh terdengar suara mengaduh, Thong Tih Chiu sempoyongan tiga empat langkah, dadanya sudah bercucuran darah. Pui Cie membawa pedangnya maju lagi...

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thong Tih Chiu memekik sekuat tenaga, "Kenapa masih belum turun tangan?" Pui Cie terperanjat, si tua ini menyuruh siapa segera turun tangan? Apa ada orang mencoba membokong? Pikirannya seperti kilat berputar, dia tak boleh menunggu lawan menggunakan siasat. Cabut kuku putuskan gigi, ini sebuah resep mujarab, memusnahkan macan atau serigala, "Yeah!" dengan suara yang bergetar Pa Kiamnya sudah menyerang lagi dengan jurus yang lebih ganas dan tak pernah dikeluarkan sebelumnya. Terdengar lagi suara mengaduh, Thong Tih Chiu segera tersungkur, tapi cepat-cepat berdiri lagi. Bahu dan tangan baju sobek dagingnya terbelah, darah segera membuat merah setengah badannya, dia lebih keras lagi memekik, "Kau mau pinjam pisau membunuh orang?" Hati Pui Cie tergetar lagi, pinjam pisau bunuh orang? Apa maksudnya? Binatang bisa diadu, apalagi ini seorang pesilat tangguh. Dalam suara yang memilukan, Thong Tih Chiu menyerang secara bertubi-tubi sama sekali tidak menyisakan jalan mundur untuk diri sendiri rupanya dia sudah nekad, terjadi pergumulan yang mematikan. Manusia mempertaruhkan menakutkan. nyawa, keadaannya sangat

Dengan sendirinya hati Pui Cie juga sedikit ngeri, tapi pedang di tangannya sama sekali tidak mengendur, setelah memecahkan beberapa jurus, tiba-tiba dia mengerahkan semua tenaga yang ada, Pa Kiam seperti geledek menyerang. "Wa..!" terdengar jeritan memecah langit. Thong Tih Chiu sudah terjungkal, tapi dia mencoba berdiri dengan kondisi bergoyanggoyang, mukanya berubah rupa seperti hantu yang menyeringai, jubahnya sudah basah semua terkena darah, digerakkan lagi pedang di tangannya, tapi semua sudah tidak berupa jurus lagi. Terlihat ini adalah tenaga terakhir yang masih tersisa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Trang!" suara terdengar, pedang panjang Thng Tih Chiu sudah terlepas jatuh, dia mundur terus beberapa langkah akhirnya jatuh tersungkur. Pui Cie pelan-pelan mendekat. Thong Tih Chiu mulutnya sudah berbusa darah. Setengah hati dia menjerit. "Ti Kuang Beng kau ini... benar-benar., kurang ajar..." badannya berkelojotan, lalu terdiam selamanya. Hati Pui Cie bergetar keras, dia bingung lihat keadaan Thong Tih Chiu yang bekerja sama dengan Ti Kuang Beng membuat siasat mau menghabisi dirinya, Tapi Ti Kuang Beng ternyata tidak bertindak apaapa. Kenapa? Pertama, Ti Kuang Beng tidak segan-segan membunuh teman sendiri agar dirinya selamat. Kedua, dia diam-diam menunjukkan bahwa di badan Thong Tih Chiu ada Giok Ju Yi. Sekarang ketiga kalinya. Dia membiarkan Thong Tih Chiu terbunuh, sebenarnya ada maksud apa? Satu bayangan seperti roh melayang keluar dari balik dinding yang roboh, tidak salah lagi dialah cendekiawan hantu Ti Kuang Beng, sebagai ketua umum Shin Kiam Pang, mengapa dia berbuat begini? Pui Cie tidak kedip-kedip memandangnya. Ti Kuang Beng sepatah katapun tidak bicara. Dia memutar badan kesamping, melambaikan tangannya, tampak sebuah barang lonjong model seperti Pui Piau (senjata lempar seperti mata tombak) dilemparkan ke dinding sebanyak tiga buah yang dilemparkan belakangan malah sampai duluan 'phiang! Phiang! Phiang!' terdengar tiga bunyi berturut-turut, batu, tanah dinding berhamburan, munculah tiga lubang besar di dinding akibat ledakan tadi. Kecutlah hati Pui Cie, inilah angi yang bisa meledak? Kalau terkena senjata rahasia ini mengenai tubuh manusia pasti orangnya akan hancur berantakan, Ti Kuang Beng tertawa dengan suara serem secepat kilat sudah pergi menghilang. Pui Cie terpana di tempatnya berdiri kalau tadi ketika dirinya sedang bertarung dengan Thong Tih Chiu, Ti Kuang Beng menggunakan Angi yang sangat berbahaya ini

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ pasti dirinya sulit menggunakannya? untuk lolos. Tapi kenapa dia tidak

Teka-teki! Benar-benar teka-teki yang sulit dipecahkan. Dengan matinya Thong Tih Chiu sama dengan dicabutnya sebuah kuku tajam Phei Cen. Mengapa Phei Cen tidak menampakan diri? Kalau Phei Cen mengetahui Ti Kuang Beng sudah memberontak bagaimana dia akan menghadapinya? Gumpalan awan menutupi terangnya bulan, bumi ini nampak lebih gelap. Thong Tih Chiu memang membantu orang berbuat jahat, tapi dia juga pesilat yang tangguh di dunia persilatan. Orang sudah mati jangan lagi diingat kejahatannya. Pui Cie dengan aturan persilatan menggali lubang mengubur mayatnya Thong Tih Chiu supaya tidak dilahap srigala, setelah itu dia meninggalkan lokasi itu melalui hutan menuju jalan raya. Sesudah berjalan ke depan terlihatlah ada lampu-lampu yang sedang bersinar, jumlahnya banyak tapi agak jarang, sepertinya itu adalah sebuah dusun, Pui Cie berpikir agak lama masuk keperkampungan untuk menginap dan beristirahat." Di pinggir jalan berhentilah sebuah pedati yang bertutup, kusirnya duduk di depan sambil hisap pipa rokok yang berkelip kilau. Ketika Pui Cie melewati pedati itu, si kusir mendadak meloncat ke tanah, dengan suara mantap berkata, "maukah tuan berhenti sebentar!" Pui Cie berhenti, dilihatnya si kusir adalah seorang tua yang masih sehat, berbaju kulit terbalik, kepalanya memakai topi rumput, rumputnya tidak teratur terlihat agak aneh. Dengan sikap acuh tak acuh Pui Cie berkata, "Anda memanggil aku ada persoalan apa?" Orang tua itu ketawa sambil berkata, "Tuan muda, sudah tidak kenal hamba lagi?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie terkejut, dia melihat lagi dengan teliti, ternyata dia pernah ketemu waktu dia berada di San Chai Mui, dia adalah pengurus umum yang namanya Chin Chen, dia merasa di luar dugaan dan berkata, "Ooo... ternyata pengurus umum Chin, senang sekali bisa bertemu!" Pengurus umum Chin dengan mata berbinar berkata, " Silakan Tuan ke hutan belakang pedati, Mui Cu ingin bertemu dengan Tuan!" Pui Cie kaget tidak kepalang, tidak terduga San Chai Men Cu sekarang mau bertemu dengan dirinya disini. Tentu ini adalah urusan Hie Ki Hong, bagus juga, dua belah pihak bisa berhadapan membicarakan masalahnya supaya jelas. Sesudah berpikir sebentar dia berjalan ke belakang pedati. Di bawah bayangan pohon berdiri ketua San Chai Mui, Hie Bun Cun, sesuai aturan yang harus dijalankan, Pui Cie maju lagi beberapa langkah, dia bersoja memberi hormat, dengan sopan berkata, "Mantu memberi hormat pada bapak mertua!" San Chai Men Cu mengangkat tangan, dengan suara dan sikap yang dingin berkata, "Pui Cie, apa dimatamu masih ada aku sebagai bapak mertua? Pui cie merasa sesak dadanya, dengan pelan-pelan dia berkata, "Bapak mertua silahkan memberi petunjuk?" "Apakah kau sudah bersiap-siap mau memceraikan Hie Ki Hong?" "Tidak." "Tapi mengapa kau tidak mau meladeni dia." "Ini., sebab aku sedang membereskan urusan pribadi." "Katanya kau sudah mendapat lagi pacar baru yang bernama Yipha Yauci, Liu Siang E?" Pui Cie bernapas dalam-dalam, lalu berkata, 'Nona itu telah menolong jiwaku, jadi aku harus membalas budinya.'

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan sorot mata seperti aliran listrik San Chai Men Cu langsung memandang muka Pui Cie, kemudian dengan suara rendah bertanya, "Sebatas itukah?" Pui Cie tidak berpikir lagi langsung menjawab, "Ya!" San Chai Men Cu mendehem pelan lalu berkata, "Itu sudah melebihi batas-batas antara laki-laki dan perempuan." Pui Cie terpikir masalah Kim Hong Ni dan Li Se Kian, sepasang ibu dan putrinya, kekesalan yang sudah terpendam menjadi timbul lagi, mukanya berubah lalu berkata, "Bapak mertua apakah tidak lelah jauh-jauh kemari hanya untuk menegurku?" 0-0-0 BAB 17 Khawatir San Chai Men Cu berobah mukanya dengan marah sekali berkata, "Kurang ajar!" Pui Cie juga bersikap dingin dan mengangkat kepala tidak bicara. San Chai Men Cu dengan suara rendah berkata, "apa aku tidak boleh bertanya?" "Silahkan." "Kalau begitu jawablah, bagaimana kau mengatur Ki Hong?" "Tidak ada yang perlu diatur!" "Aku hanya punya anak perempuan satu-satunya. Aku mau dia hidup bahagia. Aku tidak mengizinkan siapapun merusak kebahagiannya." Pui Cie tertawa dalam hatinya, dengan sikap dingin berkata, "Hm, bapak mertua, maafkan kalau aku bicara kurang mengenakkan. Kim Hong Ni karena merasa kesal sampai meninggal. Meninggalkan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ seorang anak piatu Li Se Kian, kebahagiaan ibu dan putri ini direnggut oleh siapa?" Mata San Chai Men Cu membelalak, dia mundur selangkah besar dengan suara gemetar berkata, "Apa maksudmu berkata begitu?" Pui Cie dengan sikap dingin berkata, "Bapak mertua tentu mengerti, apa mantu harus menceritakan kembali?" San Chai Men Cu dengan gentar berkata, "Maksudmu kau mau membatalkan perkawinan ini?" Agak sewot Pui Cie berkata, "Aku tidak bilang begitu. Ki Hong dan Se Kian adalah saudara kandung seibu. Tapi perkawinanku dengan Se Kian terjadi lebih dulu..." dengan emosinya yang bergelora, dia berkata lagi, "Karena diatur oleh orang, saudara sedarah menjadi berpencar, mantu mau numpang tanya, bagaimana mengaturnya?" San Chai Men Cu mundur lagi matanya bersinar, sepertinya mau bertindak... Pui cie pura-pura tidak melihat dia berkata lagi, "Bapak mertua apa tidak perduli terhadap kesengsaraan Se Kian ibu dan putrinya?" San Chai Men Cu menyentak keras, "Tutup mulutmu!" Pui Cie malah meneruskan, "Buktinya sudah nyata, aku tidak bisa berdiam begitu saja." Sa Chai Mui Cu berkata, "kau mau berbuat bagaimana?" Pui Cie tidak mau mengalah, malah balik bertanya, "Menurut pendapat bapak mertua harus bagaimana?" Pandangan San Chai Men Cu tidak garang lagi, seperti ayam jago yang kalah beradu, tampak lemas. Pui Cie mencecar terus sedikitpun tak mau mengalah, "Kalau Ki Hong tahu masalah dirinya, apa yang akan diperbuat? Bapak mertua bagaimana menjelaskannya?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ San Chai Men Cu menjadi tidak tahan, berkata, "Sudah! Jangan bicara lagi!"Dengan bermuram durja berkata lagi, "Pui cie, kau sudah tahu semua kejadiannya?" Pui Cie berkata, "Sangat jelas!" San Chai Men Cu bergumam sendiri, "Mimpi selalu harus terjaga, kalau itu memang sebuah mimpi yang tidak nyata, begitu terjaga harus tidak berbekas. Bagus juga begitu... sayang, ini bukan mimpi. aku., apa sebenarnya telah kudapatkan?" Dia begitu merasa bersalah, terharu atau menyesal. Tidak ada orang yang tahu. Pui Cie juga tidak tahu. Dia mendadak seperti menjadi tua, pikirannya sudah tahan menanggung beban lagi, yang dikorbankan sudah menjadi korban, yang mati sudah terjadi, yang hidup masih harus menanggung segala kesusahan. Pui Cie tidak mau menyela, bagaimana pun juga lawan bicaranya adalah orang tua, sakit hatinya memang tidak bisa dihindari. Bagi Hie Ki Hong perkawinannya tak bisa dibatalkan. Bagi Li Se Kian juga tidak bisa diatur dengan sempurna. Kalau diurut dirinya juga korban secara tidak langsung. Suasana membisu seperti tak ada napas kehidupan. Saat ini Pengurus umum Chin yang menyamar sebagai tukang kusir mendekat tergopoh-gopoh berkata, "Lapor, Mui Cu, San Min Cu telah pergi." Pui Cie menjadi kaget, tak disangka Hie Ki Hong juga berada disini. San Chai Men Cu dengan suara gemetar berkata, "Apa? San Min Cu.." "Ya! Dia baru saja pergi!" "Kapan dia datang?" "Sudah agak lama, dia tidak mengizinkan hamba melapor." "Dia... tentu sudah mendengarkan pembicaraan aku dengan Tuan muda?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Ya. San Min Cu juga sedih dan menangis." "Begitu., kemana dia bakal pergi?" "Dia tidak bilang." Pui Cie baru mengerti. Hie Ki Hong telah datang sendiri, secara kebetulan mendengar pembicaraan dirinya dengan ayahnya, sepertinya dia sekarang baru tahu rahasia asal usulnya. Apa yang bakal dia lakukan? San Chai Men Cu dengan kesal berkata, "Pengurus Chin, seharusnya kau beritahu kehadiran San Min Cu, sekarang.." Pengurus umum membungkukan badannya bawahan., ceroboh. Harap Mui Cu maafkan." berkata, "Ya,

Pui Cie dengan dingin memotong, "Ayah mertua seharusnya sedari dulu memberitahu dia rahasia ini. Biarpun bersalah, harus menghadapi kenyataan dan menyelesaikannya. Kertas itu tak bisa membungkus api.." San Chai Men Cu menghela nafas keras-keras berkata, "tidak usah bicara lagi. Pengurus Chin, beritakan ke seluruh cabang awasi gerak gerik San Min Cu, begitu tahu dimana keberadaanya segera lapor!" Pengurus umum Chin Chen menyahut, "Turut perintah!" segera dia memutar badannya pergi tergesa-gesa. San Chai Men Cu sudah kehilangan ketenangan dan kewibawaan biasanya, kedua alisnya berkerut berkata, "Ki Hong pergi begitu tergesa-gesa, aku takut dia bertindak yang bukan-bukan! AiiL.dua puluh tahun berlalu hanya sekejap. Waktu itu... permainan ini sudah berjalan salah. Aku bisa bilang apa?" dengan menggelengkan kepala, dan membelalakkan biji matanya dia berkata lagi, "Pui Cie, kalau kau merasa kau adalah suami istri dengan Ki Hong, kau pergilah cari dia." Pui Cie pelan-pelan berkata, "Ya, memang aku mau memcari dia, tapi.." "Tapi apa?" "Sesudah menemukannya, terus bagaimana?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Kau mau melepaskannya?" "Tidak!" "Kalau begitu carilah dia. Lalu katakan... aku menyayanginya selamanya. Tidak perlu memaafkanku, hanya.. mohon., dia jangan dendam padaku. Aku., merasa bersalah padanya. Juga bersalah padamu., terutama bersalah pada., ibu kandungnya." Kata-katanya penuh dengan penyesalan dan menyalahkan dirinya. Pui Cie menghela napas dalam-dalam, berkata, "Aku tahu kemana mencarinya. Aku pasti menemukannya." Kota Siang Yang! Go Li Kio (jembatan lima lie) rumah Li! Pui Cie tiba di depan pintu, ada sedikit rasa takut. Dia secara bernafsu mengejar kesini. Sekarang baru merasa ada kesulitan. Hie Ki Hong benar kesini atau tidak masih dalam dugaan saja. Tapi begitu masuk ke dalam sini dan bertemu dengan Li Se Kian dia harus berkata apa? Dulu dia mengira Hie Ki Hong adalah Li Se Kian, dengan diatur oleh Hie Bun Cun dia akhirnya menikahi Hie Ki Hong. Sampai Kim Hong Ni memutuskan membunuh diri, semuanya baru menjadi jelas. Hie Ki Hong dan Li Se Kian adalah kakak beradik kembar. San Chai Men Cu karena cintanya ditolak oleh kakak sepupunya Kim Hong Ni jadi merasa kesal. Dengan mengambil kesempatan sewaktu dia melahirkan di perjalanan dan tidak sadarkan diri, Hie Bun Cun berhasil membawa kabur salah satu bayinya, dan memelihara dan memberi nama Ki Hong. semua tragedi ini, orang yang paling besar dosanya adalah San Chai Men Cu. Mereka berdua adalah saudara sekandung tapi dua-duanya mempunyai hubungan perkawinan dengan dirinya, harus bagaimana dia menyelesaikan masalah besar dan pelik ini? Menantu sejelek apa juga harus menemui ayah< ibu mertua. Setelah memberanikan diri dia maju mengetuk pintu. Begitu pintu depan dibuka oleh seorang pelayan kecil. Pui Cie pelan-pelan memanggil, "Ing Chun."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ing Chun begitu melihat Pui Cie, mukanya menjadi cemberut, dia tidak memberi salam, seperti melihat orang asing saja. Pui Cie langsung merasakan suasana yang tidak mendukung. Dia bertanya lagi, "Ing Chun, apakah nona ada?" Mata Ing Chun memerah, dengan memonyongkan bibirnya berkata, "Nasib nona kami kurang beruntung, masih beruntung Tuan muda masih ingat dia, dan masih mau pulang melihatnya." Pui Cie berusaha menahan emosinya, berkata, "Sebenarnya keadaan nona bagaimana?" "Sedikit lagi akan menyusul ibunya kesana." "Apa? Dia.." "Bunuh diri tidak berhasil, masih hidup." "Ada yang pernah datang?" "Ada. Bayangan diri nona." "Teng!" hati Pui Cie tersentak. Benar-benar Hie Ki Hong pernah kesini, dengan tergesa-gesa dia bertanya, "Sekarang mereka dimana?" Ing Chun menggosok-gosok matanya menjawab, "Di Ruang belakang, tetapi..." Pui Cie sudah berjalan, berhenti lagi, "Tapi apa?" Ing Chun dengan sikap dingin berkata, "Tuan muda, aku adalah pelayan, orang bawah, banyak kata-kata yang tidak boleh diucapkan, tapi tidak tahan ingin dikeluarkan. Nona-nona mungkin tidak mau menemui tuan muda." Pui Cie dengan mata terbelalak bertanya, "Kenapa bisa begitu?" Bibir Ing Chun menyungging lagi berkata, "Tuan muda cakep dan ganteng, tersohor di dunia persilatan, tempat yang disinggahi Tuan muda pasti banyak wanita cantik yang mendekati. Nona kami dulu pernah berkata, dia tidak sepadan dengan Tuan." Pui Cie merasa sesak nafasnya, dia langsung merasa yang dimaksud pastilah soal Yipha Yauci, Liu Siang E, kabar ini pasti dari

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hie Ki Hong. Tapi masalah ini tidak perlu dibahas dengan Ing Chun, dengan menggigit bibir dia mengangkat kaki berjalan menuju ke halaman belakang. Baru masuk pintu pojok, sudah terdengar suara tangisan yang amat sedih dari ruangan tengah, ciutlah hati Pui Cie, langkahnyapun menjadi perlahan, selangkah demi selangkah mendekat ke pintu ruangan, tak bisa digambarkan bagaimana perasaanya. Sampai didepan pintu, keringat didahi sudah bercucuran, entah karena tegang atau terharu, sejauh mata memandang seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik dan menjadi kesemutan. Dia merasa tak ada keberanian untuk masuk ke dalam pintu. Di tengah-tengah ruangan ada meja sembahyangan papan nama almarhum Kim Hong Ni dikiri kanan terbakar dua lilin putih, mengepul asap dari dupa. Li Se Kian dan Hie Ki Hong berdua bersama-sama berlutut di depan meja sembahyang dan menangis tersedu-sedu. Pengurus rumah tangga Tu Toa Nio dipinggir juga sedang menghapus air matanya. Suasana sangat mencekam dan menyedihkan. Pui Cie terbengong-bengong berdiri di depan pintu ruangan. Tu Toa Nio mengangkat kepala melihat Pui Cie, spontan berkata, "Tuan muda tidak disangka Tuan masih mau pulang!" kata-katanya sedikit menusuk kuping. Li Se Kian dan Hie Ki Hong sama-sama berdiri, memutar badannya, wajahnya serupa benar. Matanya berair juga sama, hanya pakaian yang dipakai saja tidak sama. Li Se Kian terlihat lebih pucat dan lesu, dipandang sepintas sulit bisa membedakannya. Pui Cie merasa sulit sekali mengangkat kakinya, dengan pelanpelan dia masuk ke dalam ruangan, dia tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan. Kelihatanya sepasang saudari kembar kemalangan ini sudah saling memahami. yang mengalami

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Li Se Kian bercucuran air mata, pelan-pelan mulai berkata, "Kabarnya kau tergila-gila pada seorang wanita persilatan yang genit, apa betul?" Pui Cie menghela nafas dalam-dalam berkata, "Ini adalah salah paham, aku hanya ingin membalas budi baiknya." Hie Ki Hong menghapus air mata, meninggikan alis sambil berkata, "Aku melihat sendiri kau bermesraan dengan perempuan itu dan juga penuh perhatian." Pui Cie goyang-goyang kepala berkata, "kau mau berkata begitu juga aku tidak bisa apa-apa, tapi kalau bukan Yipha Yauci yang menolongku, mungkin aku sudah mati di penjara bawah tanah Shin Kiam Pang, demi aku dia mengkhianati perkumpulannya. Demi aku dia dikejar-kejar mau dibunuh, apa aku yang menerima budinya tidak boleh membalas?" Tu Toa Nio dengan sikap dingin menyambungi, "Tuan muda, membalas budi jangan dicampur aduk dengan masalah cinta laki dan perempuan." Pui Cie dengan tegas berkata, "Tua nio, aku bisa bawa diri, tidak akan menyeleweng." Li Se Kian berkata, "artinya... tidak ada masalah?" Pui Cie dengan tegas berkata, "Tidak ada!" Mata Li Se Kian berputar, "Baiklah, aku percaya. Kau pulang tepat pada waktunya. Sekarang di hadapan papan nama ibu, aku mohon kau untuk menjaga Ki Hong, ibu semasa hidup sudah berharap kalian rukun selamanya." Pui Cie membelalakan matanya, lama sekali tidak bisa berkatakata. Hie Ki Hong mengigit bibir berkata, "kakak, aku tidak mau!" Li Se Kian dengan susah berkata, "Ki Hong, kami sudah sepakat. Kau dan dia sepasang suami istri yang resmi. Nama dan kenyataan sesuai..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tidak, aku tidak bisa.." "Tidak bisa apa?" "Aku., merasa malu pada ibu yang telah tiada juga merasa utang budi padamu..." "Aku pernah bilang, aku sudah tidak tertarik pada dunia ini. Aku mau menjadi murid Budha tua didalam vihara. "Aku juga!" "Apa kau mau ibu di alam sana menjadi risau?" "Pokoknya aku orang yang penuh dosa." "Aku tidak mengizinkan kau berbuat begitu semua sudah menjadi nasib, kau tidak bersalah, sandiwara penuh duka ini sudah selesai. Yang sudah mati ya sudah. San Chai Men Cu memang yang paling bersalah. Tapi dia juga ada jasanya membesarkanmu..." Hie Ki Hong menjerit, "Aku benci dia!" Pui Cie merasa merinding, babak kesedihan yang baru sudah dimulai lagi, sangat menyedihkan, mengapa manusia harus berbuat sesuatu yang merugikan orang lain tapi tidak bisa menguntungkan diri sendiri? Ketua San Chai Mui, Hie Bun Cun sebenarnya bukan orang jahat, juga bukan orang bodoh, kenapa bisa terjebak di dalam masalah ini? Li Se Kian pendapatmu?" memandang Pui Cie bertanya, "Bagaimana

Hati Pui Cie bergetar terus bibirnya tidak bisa berkata-kata, dalam hatinya semua terasa kusut. Tu Toa Nio dengan sedih berkata, "Se Kian, kau masih mempunyai nenek, dia tidak akan mengijinkan kau bertindak seperti itu? Kau dan Pui Cie atas perintah ibumu telah bersembahyang menjadi suami istri, ada saksi comblangnya. Kalian kakak adik sekandung kenapa tidak..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Li Se Kian angkat tangan melarang Tu Toa Nio berkata terus, dengan suara keras dia berkata, "Tua Nio, niatku sudah bulat, tidak bisa dirubah lagi, aku sudah menerima nasib." Hie Ki Hong menyambung, "Aku juga tidak akan merubah pikiran, aku., bernasib buruk, juga bukan anak yang berbakti, aku harus menanggung resiko hari ini. Kakak.." Li Se Kian meneteskan air mata, "kau mau berbuat bagaimana?" Hie Ki Hong melirik papan nama Kim Hong Ni lalu berkata, "aku ingin selamanya menemani arwah ibu." Li Se Kian berkata, "ibu tidak bermaksud begitu." "Jangan memaksaku!" "Aku tidak memaksamu!" "Kalau begitu tak usah bicara apa-apa lagi!" "Dia bagaimana?" matanya memandang Pui Cie. "Tadinya dia kan kakak ipar!" "Kami bukan suami istri betulan..." "Sekarang juga belum terlambat." Pui Cie sedang gemetar, dia tidak tahu dengan cara apa mereka mengatur dirinya. Perkawinan ini dari pertama sudah salah, bibinya Nam Kong Phang Teng tentu menyesal waktu itu membuat keputusan. Ing Chun diam-diam masuk berdiri di belakang Li Se Kian, mukanya penuh amarah. Air muka Li Se Kian berubah, tiba-tiba dia membalik badan berlutut sambil melepaskan ikatan rambutnya. Tangan kirinya memegang rambut sedangkan tangan kanan mengambil gunting yang sudah disiapkan dalam pelukan. Hie Ki Hong dan Ing Chun menjerit. Paras muka Pui Cie berubah. Tu Toa Nio dengan gemetar berkata, "Se Kian, kau mau berbuat apa?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hie Ki Hong menjulurkan tangan mau merebut gunting. Tapi terlambat setengah langkah. Guntng dengan cepat menotong segenggam rambut yang sudah di dalam tangan kiri Li Se Kian. Semua orang menjadi bengong. Li Se Kian memegang rambutnya yang sudah terputus, lalu bangun dan berdiri, air matanya mengalir. Tu Toa Nio dengan suara sedih berkata, "Se Kian, kau., kenapa berbuat begitu?" Gunting yang tajam sudah memotong rambut, sudah menyatakan keteguhan hatinya, kenyataan sudah tak bisa ditarik kembali. Pui Cie terharu, tak disangka kesudahannya menjadi begini, tragedi perkawinan ini sudah selesai. Apa masih ada tragedi yang satunya lagi? Dia seperti sebuah perahu diombang ambing gelombang dahsyat dan ketakutan yang tidak menentu. Siapa yang berbuat menjadi begini? Siapa penyebabnya? Apakah semua memang nasib atau perbuatan manusia? Hie Ki Hong dengan sepasang mata melelehkan air mata, menjerit terharu, "Kau berbuat begitu apakah mau menbuat aku sengsara seumur hidup. Aku tidak mau menerima budimu. Li Se Kian saat ini malah dengan tenang menjawab, "aku tidak suruh kau menerima budi, tapi inilah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ing Chun sambil menghapus air mata dengan marah-marah berkata,"nona, anda salah. Ibu di dalam sana juga tidak akan merasa tenang." Li Se Kian menggelengkan kepala berkata, "Ing Chun, kau belum ngerti." Ing Chun menjawab, "Memang, pelayan tidak mengerti apa-apa." Li Se Kian mendekat kepada Hie Ki Hong berkata, "Ki Hong, ini adalah rumahmu. Kau dan.. Pui Cie tinggallah disini, sambil menjaga dupa ayah dan ibu."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Hie Ki Hong tiba-tiba menjerit, "aku tidak punya rumah, di dunia ini aku juga tidak punya famili..." Tu Toa Nio terharu berkata keras-keras, "Tuan muda, kau harus buka suara." Saat itu juga, seorang tua dengan seluruh badannya yang berlumuran darah dengan sempoyongan datang ke depan pintu ruangan lalu terjatuh. Semua yang ada di tempat itu menjadi kaget sampai mukanya pucat. Tu Toa Nio menjerit lari menghampiri. Pui Cie dan Li Se Kian dan lain-lain memburu ke pintu masuk. Pesuruh laki perempuan semua datang mendekat. Tu Toa Nio terduduk, setengah menggendong orang tua yang terluka, mukanya mengencang. Luka orang itu sangat parah, mulutnya mengeluarkan buih darah. Nafas terasa sesak. Li Se Kian dengan suara gemetar berkata, "Ini.. bukankah ini Tu Lau Tie?" Tu Lau Tie, apakah dia itu suaminya Tu Toa Nio? Pui Cie merasa seperti kenal dengan nama ini, Dia berpikir terus. Tu Toa Nio bercucuran air mata dengan keras berkata, "Siapa yang berbuat sekeji ini?" Tu Lau Tie meronta sekuat tenaga hanya bisa mengeluarkan tiga hururf, "Kui.. Siu Chai!" kerongkongan mengeluarkan suara berdahak. Tu Toa Nio memekik dengan suara bergetar, "Kui Siu Chai?" Pui Cie terperanjat. Kui Siu Chai adalah Pengurus Utama Shin Kiam Pang, kenapa dia membunuh orang tua ini? Berpikir begitu spontan dia bilang, "Kui Siu Chai!" Tu It He matanya mendadak melotot, terputus-putus mulut bersuara, "Yang paling keji., hati., perempuan!" kerongkongan berbunyi, kepalanya menjadi miring ke sisi. Kemudian meninggal, semua orang yang ada disana hati serasa dipukul keras-keras.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tu Toa Nio setelah menjerit menjadi terdiam, mukanya berubah rupa, air matanya bercucuran tapi sudah tidak bersuara, kelihatannya dia keliwat sedih, rupanya menjadi sangat menakutkan. Pui Cie mengerutkan dahi sedang berpikir-pikir, "Tu It He sepertinya dilukai oleh Ti Kuang Beng, dia terakhir berkata, paling keji hati wanita, apa artinya? Apakah ada kaitannya dengan wanita?" Tu Toa Nio menggunakan tangannya menutup mata Tu It He. Mulutnya sambil bergmam, "Pak, kau sekarang sudah meninggal. Aku., tidak tidak marah padamu lagi. Sebagai suami istri tapi berjalan masing-masing, akhirnya seperti daun jatuh ke akar juga, kau., tidak mati di sel atau di pinggir jalan, tapi mati di pelukanku, Pak, ada pepatah berkata, tidak ada jodoh tapi ada jodoh. Sayang., terlalu singkat., juga terlalu menyedihkan. Kenapa tidak lebih awal menemuiku? Aku., tidak sungguh-sungguh membencimu! Hanya., tidak mau mengalah saja.." Kata-kata yang tulus tapi menyedihkan, dalam pikiran Pui Cie masih terbayang Ti Kuang Beng, perempuan.. Ing Chun maju ke depan berjongkok di samping Tu Toa Nio, dengan suara sedih berkata, "Tua Nio, menangislah! menangislah sepuas-puasnya! Tapi Tu Toa Nio tidak menangis, air matapun tidak mengalir lagi, malah Ing Chun yang menangis tersedu-sedu. Hidung Pui Cie merasa panas, dengan murung dia berkata, "Tua Nio, aku pernah bertemu dengan Tua Lau Tie sekali. Waktu itu saya ditolong orang bertopeng berbaju abu-abu bersamanya ada Ke Co Ing, ditempat Lau Tie aku dirawat sampai sembuh." "Ke Co Ing adalah adik seperguruannya.!" Pui Cie kaget, tak disangka, Tu Lau Tie dan Ke Co Ing adalah saudara seperguruan, pantas saja Shin Kiam Pang mengutus orang membunuhnya. Ke Co Ing mati di jurang gunung pinus, saat ajal menjemput dia mengungkap jati diri Shin Kiam Pangcu Phei Cen. Ke Co Ing memancing istri Pangcu Ma Gwe Kiaw, pantas dibunuh sesuai dengan dosanya. Tapi Tu Lau Tie? Apa karena ada hubungan dengan Ke Co Ing jadi terkena akibat? Sesudah berpikir begitu dengan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ terharu dia berkata, "Tua Nio, aku akan membantu Lau Tie membikin perhitungan terhadap musuhnya!" Tu Toa Nio mengangkat kepala, dan membelalakan matanya berkata, "Siapa itu Kui Siu Chai?" "Pengurus utama Shin Kiam Pang!" "Shin Kiam Pang.. kenapa membunuh orang?" "Mungkin karena Ke Co Ing ada perselisihan dengan Shin Kiam Pangcu." "Utang darah., harus dibayar darah!" Mendadak Ing Chun terkejut dan menjerit, "Kemana perginya nona?" Semua orang kaget, Pui Cie baru tahu Li Se Kian sudah tidak berada di tempat, keadaan begini dia sebagai tuan rumah seharusnya mengurus soal Tu Lau Tie. Tak mungkin diam-diam meninggalkan tempat. Ing Chun tergopoh-gopoh lari ke kamar di ruangan belakang, kemudian lari lagi ke depan, dengan gemetar dia berkata , "Nona sudah pergi." Semua orang membelalakan mata. Pui Cie mendekat ke sisi Ing Chun bertanya, "Apakah benar nona sudah meninggalkan rumah?" Ing Chun mengangkat ke atas tangannya berkata, "Nona meninggalkan pesan, rumah ini diserahkan pada nona kedua dan Tuan muda." Pui Cie merasa sekujur tubuhnya kesemutan, tiba-tiba dia merasa bumi dan langit berputar. Hie Ki Hong sekonyong-konyong menjerit histeris, "Aku tak punya rumah, ini bukan rumahku!" suara belum habis, orang sudah lari pergi. Semua orang di rumah menjadi tercengang. Pui Cie berdiri seperti patung, daging di pipinya sering bergetar. Tu Toa Nio masih memeluk mayat Tu Lau Tie, dengan serak berkata, " Inilah namanya

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ orang mati, rumah hancur. Ya Tuhan! Keluarga Li kenapa begitu sial, sebelum lahir apa kita pernah berbuat dosa?" Ing Chun menutup mukanya menangis, lalu memekik, "Semua ini dicelakai oleh sepupu ibu San Chai Men Cu." Pui Cie menggerakkan kakinya keluar pintu. Tu Toa Nio berkata dengan suara gemetar, "Tuan muda, anda juga mau pergi?" Pui Cie murung sekali berkata, "Tua Nio, aku., apa masih ada alasan untuk tetap tinggal disini?" Tu Toa Nio menjawab, "Kenapa tidak? Bukankah Tuan adalah mantu keluarga Li. Coba Tuan katakan di depan papan nama ibu mertua. Dari aturan rumah tangga apa Tuan tidak ingin bertanggungjawab terhadap keluarga ini?" Ing Chun tangannya memegang meja sembahyang sambil menangis berkata, "Majikan, Tuan..kenapa tidak menjaga keluarga ini? tegakah? Siapa yang akan menjaga dupa Tuan besar nanti? Ohl Waktu itu kau yang yang menentukan perkawinan ini. Kau.." Pui Cie hatinya terasa kusut sekali. Seolah-olah mau gila rasanya. Ing Chun berjalan ke pinggir pintu, dengan sedih berkata, "Tuan muda, kami., disini semua orang luar. Orang bawahan, kalau Tuan tidak disini, kami harus bagaimana?" Pui Cie berpikir keras, entah jodoh entah dosa, nama keluarga sudah disandangnya, dia harus menerima nasib. Tidak ada jalan lain. Dia dengan mantap berkata, "Rumah ini harap Tua Nio dan kalian semua bantu mengurusnya. Aku akan pergi mengejar nona kembali." Setelah berkata itu tidak memperdulikan apa-apa lagi dia tergesagesa pergi. Sesudah keluar pintu Pui Cie merasa bingung, hati Li Se Kian sudah teguh tak dapat diubah lagi. Sekarang dia hanya bisa mencari istri yang sebenarnya dulu Hie Ki Hong. Apakah dia mau kembali mengakui keluarga Li? Tadi dia pergi dan marah, rasanya dia tak mungkin kembali lagi ke San Chai Mui. Harus kemana mencari dia?

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Orang hidup kenapa banyak sekali masalah? Hari sudah sore Pui Cie seperti manusia yang tak berjiwa, berjalan sendiri tak ada tujuan, pandangannya kosong. Entah harus bagaimana dan kemana, hati menjadi bimbang otak terasa kosong. Tengah dia berjalan, terdengar suara phipa yang begitu merayu. Pui Cie seolah-seolah tersadar dari kebimbangannya. Dia begitu terkejut dan gembira, sewaktu meninggalkan sungai Tang Yipha Yauci tinggal di perahu dengan tetua San Chai Mui Han Shi Wei sedang melakukan pengobatan menggunakan Giok Ju Yi. Dia saat itu sedang tak sadarkan diri. Kenapa tiba-tiba bisa muncul disini? Phipanya dibawa pergi Bo Ta Su Seng dari mana dia bisa mendapat phipanya lagi? Didengar dari suara phipanya, pasti dia yang sedang memetiknya. Tapi di dalam suara phipa itu membawa hawa membunuh. Ini pertanda bahwa dia sedang bertarung dengan musuhnya. Dia ingin melupakannya, dia tidak boleh bertemu dengannya lagi. 0-0-0 Belum bisa tenang Demi menghindari tumbuhnya benih cinta lagi, Pui Cie sudah memutuskan dalam hati, mencari jalan lain pergi menjauh. Tapi tak berapa lama, dia berhenti lagi, terpikir olehnya, "Aku tidak boleh begini, dia sudah berhutang budi kepadanya yang telah menolong jiwanya, sekarang sudah bertemu kalau menghindar bukankah sangat keterlaluan. Masalah Giok Ju Yi, apakah sudah diberikan kepada tetua Han untuk disampaikan pada Bo Ta Su Seng untuk memenuhi janji dengan Bo Yu Sien Ce.." akhirnya dia balik kembali, lari menyusuri suara yang terdengar. Tiba-tiba suara phipa berhenti. Dia berlari menuju arah sungai Tang mengira-ngira tempat dalam rimba yang gelap.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tampak Yipha Yauci berdiri memeluk phipa. Yang berhadapan dengannya adalah San Chai Men Cu Hie Bun Cun. Mereka berhadapan kira-kira lima meteran. Di tanah sudah bergelimpangan beberapa mayat, ada juga tanda Shin Kiam Pang. Begitu tiba Pui Cie diam-diam melihat situasi dan cepat-cepat menyembunyikan diri. Mengapa San Chai Men mencari Yipha Yauci? Selendang merah membungkus badan yang mungil terlihat kulitnya yang mulus. Tidak terasa hati Pui Cie berteriak. San Chai Men Cu dengan sikap yang dingin bertanya, "Nona Liu, sudah terpikir belum?" Yipha Yauci dengan suara nyaring menjawab, "Sudah!" "Bagaimana?" "Suruh aku melepas Pui Cie. Tidak bisa!" "Kau benar-benar mau merusak rumah tangga orang?" "Apakah Pui Cie mencintaimu?" "Aku tidak perduli. Aku hanya tahu aku mencintainya. Tidak mau tahu dia bagaimana terhadapku." "Kau.." "Kau tak mungkin bisa membereskan persoalan ini." Pui Cie menggigil di kegelapan. Ternyata San Chai Men Cu demi Hie Ki Hong melarang Yipha Yauci mencintai dirinya, dan tidak disangka Yipha Yauci begitu teguh hatinya. Percintaan abnormal ini kalau dibiarkan berkembang akibatnya bisa fatal. Orang bukan Tuhan. Mana bisa tidak berperasaan. Memang susah menahan budi wanita cantik. Pui Cie juga dari semula bukan tidak tertarik.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ San Chai Men Cu mukanya berubah lalu berkata, "Nona Liu, katakata baik sudah habis aku ucapkan. Kalau kau masih tidak mau sadar.." "Bagaimana?" "Demi kebahagiaan putriku, aku akan bertindak." "Mau membunuh?" "Mungkin saja!" "Silahkan coba." Pui Cie menjadi gelisah. Yipha Yauci bagaimanapun juga bukan lawan San Chai Men Cu. Tadi dia telah mendengarkan Yipha Yauci memainkan phipa. San Chai Men Cu matanya bersinar-sinar dengan suara rendah berkata, "Nona Liu, pikirkan baik-baik, ini bukan urusan main-main." San Chai Men Cu mendehem dan berkata, "Dua puluh tahun yang lalu aku pernah mendengar gurumu memainkan Tai Si San Thie, kalau nona merasa merasa kehebatan musiknya melebihi gurumu, boleh coba memainkan, kalau tidak, kau akan menyesal seumur hidup." Yipha Yauci mulai berubah wajahnya.. Dia tidak tertawa lagi, dengan keras dia berkata, "Siapa sebenarnya dirimu?" San Chai Men Cu dengan sikap dingin berkata, "Kau tidak perlu tahu." Yipha Yauci berpikir sebentar, dengan mengigit bibir dia berkata, "Aku tak percaya kau sanggup menahannya!" "Baik, silahkan mulailah! Keluarkan semua kepandaianmu, jangan ada yang disisakan." "Kalau... aku menang gimana?" "Dengan sendirinya aku akan membatalkan pernikahan putriku dengan Pui Cie. Sama sekali tidak akan campur tangan lagi, kalau tenagamu tidak cukup, ilmu silatmu akan kumusnahkan."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie kesal karena Yipha Yauci, San Chai Men Cu adalah pewaris orang aneh masa itu Tien Ji Ce, kehebatan sulit diukur. Kalau dia sudah berkata begini pasti ada dia ada kemampuan seratus persen. Yipha Yauci kalau tahu San Chai Men Cu yang sebenarnya mungkin takkan berani begitu. Yipha Yauci sama sekali tidak perhitungkan untung ruginya lalu menjawab, "Baik" Dia langsung duduk disitu. Phipa disandarkan miring di bahunya, mukanya tampak serius, jarinya terlihat enteng.. Satu getaran suara terdengar nyaring "Ting Tung!" Hati Pui Cie jadi menciut, suara phipa mengalun berangsur meninggi, seperti tidak ada habisnya seperti sungai yang panjang datang bergulung-gulung. Kenyataannya suara phipa itu kerasnya tidak seperti yang dibayangkan, Pui Cie tidak mengerti dimana letaknya keistimewaan suara phipa itu? San Chai Men Cu dengan tenang bernafas, tegap berdiri seperti gunung. Suara phipa itu sebenarnya khusus ditujukan pada San Chai Men Cu, jadi Pui Cie merasakan tidak ada yang istimewa pada suara phipa itu Yipha Yauci pelan-pelan menutup matanya. Jari-jari tangannya beraturan kesana kemari berloncatan di atas senar. Suara phipa dari pelan menjadi kencang, tubuhnya juga ikut bergetar. Teng!" seperti hujan keras mendadak berhenti. Senarnya sudah putus, putus di tengah, muka Yipha Yauci berubah berdiri sambil melotot, badannya gemetaran, terlihat kemampuan San Chai Men Cu jauh lebih tinggi daripadanya. "Ha.. Ha.. Ha..* San Chai Men Cu tertawa, "Nona Liu, apa yang ingin kau katakan sekarang?" Yipha Yauci dengan gemetar berkata, "Silahkan musnahkanlah ilmu silatku!" "Aku tidak mau berlebihan, kalau kau menyanggupi meninggalkan Tiong Guan, memutuskan hubunganmu dengan Pui Cie, aku akan memberi dirimu satu jalan kehidupan."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tak mungkin!" "Apa? kau.." "Kau boleh musnahkan ilmu silatku, tapi untuk aku putuskan hubunganku dengan Pui Cie aku tidak mau!" "Rupanya sebelum melihat peti kau tidak bisa mengeluarkan airmata?" "Mungkin!" "Pikirkan sekali lagi, setelah ilmu silatmu dimusnahkan, kau akan menjadi orang biasa. Bagaimana nanti sikap Pui Cie kepadamu?" "Itu urusanku!" "Dapatkah Shin Kiam Pang membebaskan dirimu?" Yipha Yauci tidak ragu-ragu berkata, "Orang hidup di dunia harus punya cita-cita, berkorban demi cita-cita kenapa harus menyesal?" San Chai Men Cu termenung sebentar berkata, "apakah citacitamu adalah menghancurkan rumah tangga orang lain." Yipha Yauci tidak gentar menjawab, "kalau aku sudah cinta, apapun akan kulakukan!" San Chai Men Cu dengan suara jadi ketus berkata, "kalau begitu jangan salahkan aku berbuat kasar!" Yipha Yauci dengan keras berkata, "Silahkan." "Kau tidak akan menyesal?" "Tidak ada yang patut disesalkan." "Baiklah, aku sudah cukup bijaksana, semua adalah kau yang cari!" Suara hati Pui Cie serasa terbetot tentu dia tidak bisa tinggal diam saja melihat ilmu silat Yipha Yauci dimusnahkan. Jangan dikatakan lagi dia berbuat begini karena cinta yang sangat dalam, hatinya yang bersikeras begini karena dimabuk cinta.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ San Chai Men Cu pelan-pelan maju., keadaan di tempat itu sangat menegangkan. Yipha Yauci memalangkan phipanya, gemertak gigi sambil menjerit, "Aku mau mengadakan perlawanan!" San Chai Men Cu secara kejam berkata, "Tentu kau boleh melawan, tapi akan percuma saja." Jarak antara keduanya tinggal dua meter lagi. Pui Cie gemertakan giginya, dia sudah mau.. Tiba-tiba muncul suara bentakkan, "Tunggu dulu!" Mulut Pui Cie sudah terbuka hanya belum bersuara. Begitu kaget langsung mulutnya dikatubkan lagi, San Chai Men Cu kenal suara yang muncul ini, dia langsung mundur tiga langkah besar, air mukanya berubah tajam. Seorang wanita cantik Ternyata dia Hie Ki Hong. dengan dandanan keraton muncul.

Pui Cie terharu luar biasa, benar-benar diluar dugaan, ayah dan putrinya yang bukan sebenarnya ini harus menyelesaikan semua masalah. Langit sudah gelap sama sekali, tapi di mata pesilat, dalam kegelapan ini masih bisa membedakan peubahan di wajah seseorang. San Chai Men Cu dengan suara gemetar memanggil,"Ki Hong!" Yipha Yauci berdiri bengong, dia diam saja melihat perubahan keadaan. Hie Ki Hong memandangi Yipha Yauci dengan pandangan dingin seperti es berkata, "kau tahu siapa aku?" "Tahu. Kau istrinya Pui Cie!" "Kau mencintainya?" "Aku tidak menyangkal!" "Apakah dia mencintaimu?" "Itu urusannya. Aku hanya tahu aku mencintai orang yang aku suka, dia suka atau tidak padaku., aku tidak perduli, semua tidak bisa dipaksakan." "Kau pasrah sekali?" "Aku tidak ingin berdebat." Hati Pui Cie seperti bercampur lima macam botol bumbu. Entah apa rasanya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ 0-0-0 Rintangan tak berujung Hie Ki Hong diam beberapa saat tiba-tiba dengan suara gemetar berkata, "Baiklah, cintailah dia, aku tidak akan melarangmu." Yipha Yauci bengong oleh perkataan yang diluar dugaan ini, dia menjadi salah tingkah, lalu berkata, "Kau., apa artinya ini?" Hie Ki Hong tertawa, suaranya amat menyedihkan, "Liu Siang E, kata kataku tulus, aku tidak mau meneruskan perkawinan yang menyedihkan ini." Yipha Yauci spontan berkata, "Kalian berdua... tidak harmonis?" Hie Ki Hong tidak berpikir lagi langsung berkata, "kau benar, perkawinanku dengan Pui Cie adalah sebuah kekeliruan!" San Chai Men Cu dengan suara gemetar memekik, "Ki Hong, kau., sembarangan!" Hie Ki Hong tidak membantah perkataan San Chai Men Cu, dia terus berkata dengan Yipha Yauci, "Kau boleh pergi!" San Chai Men Cu marah-marah dan memekik, "Tidak boleh, aku harus memusnahkan ilmu silatnya!" Hie Ki Hong pura-pura tidak mendengar, sambil mengibaskan tangan berkata, "Pergilah!" Yipha Yauci dengan tidak percaya memandangi Hie Ki Hong, dia membalikan badannya dan melangkah.. San Chai Men Cu seluruh tubuh gemetar, matanya mengeluarkan sinar yang menakutkan badan sudah bergerak.. Hie Ki Hong secepat kilat menghadang dengan suara gemetar berkata, "Biarkan dia pergi!" San Chai Men Cu dengan marah berkata, "Kau., kau sudah gila.."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci mempercepat langkahnya, sebentar saja sudah menghilang, Pui Cie terpaku di kegelapan, berdiri pun sudah tidak mantap, Hie Ki Hong tiba-tiba bersujud marah bercampur sedih berkata, "Ayah, putrimu disini mengucapkan terimakasih atas budimu yang telah membesarkan. Ini adalah kali terakhirnya aku memanggilmu ayah..." San Chai Men Cu badan sempoyongan, mukanya berdenyutdenyut. Hie Ki Hong meneruskan bicara, "Mulai sekarang kita putus hubungan untuk selamanya!" San Chai Men Cu memegang jidatnya, dengan kesal berkata, "Ki Hong, aku., tahu aku telah berbuat kesalahan besar dan susah untuk menebusnya. Tapi aku., sudah menganggap kau seperti anakku sendiri..." Hie Ki Hong menggigit bibir berkata dengan suara tangisan, "Karena itu,., aku tak berani berkata benci!" sambil berkata, dia berdiri dan beri hormat lagi. San Chai Men Cu, badannya bergoyang seperti mau roboh. Dengan suara sedih berkata, "Ki Hong, kau., benar begitu tega memutuskan tali kasih hampir dua puluh tahun ini... Ki Hong, kau tidak bsia maafkan kesalahan ayah?" Hie Ki Hong terus-terusan mengemertak gigi, lama sekali baru berkata, "Ibuku., meninggal karena dendam dan menanggung malu, kakakku memotong rambut pergi meninggalkan rumah keluarga Li.. sekarang semua menjadi hancur lebur, aku darah daging keluarga Li. Aku., apa bisa tidak sedih? Apa bisa tidak mendendam? Tapi., aku harus dendam sampai bagaimana?" habis berkata begitu sambil menutup muka dia lari pergi. Pui Cie ingin sekali mengejar, tapi kedua kakinya seperti berakar, tidak bisa diangkat. Tangan San Chai Men Cu sudah diangkat, tapi diturunkan lagi, dia bergumam sendiri, "Habis, semua habis seperti mimpi, akhirnya hanya mimpi, apa yang aku dapatkan? Orang yang berbuat salah memang harus menanggung resiko.. Ki Hong, aku tidak

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ menyalahkanmu, juga tidak membencimu. Aku., hanya membenci diri sendiri." habis berkata dia menarik nafas panjang melihat ke langit, lalu dengan sempoyongan pergi. Pui Cie juga keluar, jalan ke tempat tadi San Chai Men Cu berdiri, pikirannya merasa risau, semua sudah selesai. Tapi belum tamat. Hubungan ayah dan putri boleh dibilang sudah putus. Bagaimana selanjutnya? Ada semerbak bau wangi masuk ke hidungnya. Hati Pui Cie berteriak, satu bayangan manusia berwarna merah sudah berdiri di depan matanya. Pui Cie berseru ,"Oh, kau!" Ternyata dia adalah Yipha Yauci Liu Siang E yang tadi sudah pergi kembali lagi. Yipha Yauci tertawa renyah, ketika aku pergi aku melihat kau sembunyi di sini, maka aku tidak jadi pergi. "Ow!" "Kenapa kau tidak mau keluar menemui istrimu?" "Kau tidak suka dia?" "Siang E, ini bukan urusanmu!" "Baiklah, kita jangan membicarakannya. Kakak Cie, pertama-tama aku mau berterimakasih kepadamu yang telah menolong jiwaku." "O, bagaimana dengan Giok Ju Yi nya?" "Kau kan meninggalkan pesan diserahkan kepada orang tua itu, kebetulan sahabatmu di tengah jalan balik lagi.." "Sudah diserahkan kepadanya?" "Aku langsung serahkan padanya. Kalau tidak, dapat dari mana phipa ini?" "Bagus! Eh, kau kenapa bisa ada disini?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci dengan gaya merayu dan santai berkata, "setelah lukaku sembuh, ternyata kau sudah pergi, aku sangat sedih, aku mencarimu tapi tidak tahu kau pergi ke arah mana, akhirnya aku sembarangan jalan saja. akhirnya menemuimu juga. Tuhan berbaik hati," dia tersenyum lagi, menyambung lagi berkata,"Kenapa dengan mertuamu?" Muka Pui Cie jadi asam, "Jangan bicarakan dia!" Yipha Yauci tercengang, tak lama kembali dia tersenyum seperti bunga bermekaran, lalu berkata, "Baik, kita jangan bicarakan dia." lalu mendekat pada Pui Cie. Saking dekatnya nafasnya sampai terdengar, dia berkata lagi, "Kakak Cie, aku mau bertanya, tapi kau harus jujur menjawab.." Dengan sendirinya hati Pui Cie melayang, dan menjawab, "Apa pertanyaannya?" Yipha YauCi mengadahkan mukanya berkata, "Apakah kau menyukaiku?" Sudah diduga, dia pasti akan mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Pui Cie tiba-tiba terasa muka panas jantungnya berdebar, bukan terharu karena kecantikannya, tapi terharu oleh tekadnya dan ketulusannya. Kalau dia berkata tidak suka itu berarti membohong pada diri sendiri. Kalau bilang suka, masalah cinta akan berlarut-larut karena dia sendiri sudah berkeluarga... Yipha Yauci berkata lagi, "Kakak Cie, jawablah ya atau tidak, jangan dipaksa, keluarkankan isi hatimu!" Pui cie terpaksa dengan pelan berkata ."Siang E, aku., aku memang suka padamu..* Yipha Yauci memegang tangan Pui Cie, dia merasa gembira sekali seperti tidak percaya, "Benar?" "Benar. Tetapi.." "Tetapi apa?" "Kaukan tahu aku sudah menikah."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tidak apa-apa, aku tidak membutuhkan status." "Maksudmu?" Yipha Yauci dengan serius pelan-pelan berkata, "Aku hanya membutuhkan perkataanmu ini aku sudah puas. Aku.. tahu mencintaimu sama degan mengikat diri sendiri. Tapi aku tidak tahan, aku seumur hidup baru pertama kali mencintai seseorang, aku serahkan hatiku. Kakak Cie, harap kau menyayangi hati adik yang tulus ini untuk selamanya.. ?" Hati Pui Cie berbunga-bunga, kalau mau berkata dia betul-betul mencintai wanita, Yipha Yauci yang didepan matanya adalah orang yang pertama, dulu terhadap Li Se Kian, Hie Ki Hong perasaan ini seperti antara ada dan tiada. Spontan dia berkata, "Perkenalan kita sudah terlambat rasanya!" Yipha Yauci memutar badannya yang mungil, menyandar di depan dada Pui Cie, bergumam seperti mimpi, "Tidak terlambat, tidak terlalu terlambat!" Badannya mungil sintal, hangat dan wangi. Pui Cie tidak tahan memeluknya dengan tangan gemetaran berkata, "Siang E, sudah terlambat, aku tidak punya., sesuatu yang baik untukmu lagi." Yipha Yauci berkata, "aku tidak ingin mendapatkan apa-apa, aku hanya ingin memberi, dan kau dapat menerima. Itu sudah cukup." Pui Cie mabuk dalam kata-lata cinta yang indah ini. Tapi masih tercampur sedikit sedih, dia bukan bangsa bufiya, dia punya perasaan, dia sudah tidak berhak mencintai lagi wanita lain. Bagaimanapun juga dia sudah mempunyai istri. Suara batuk kering tiba-tiba mambangunkan mimpi indah yang tidak bertepi ini, kedua orang ini tiba-tiba memisahkan diri. Tamu yang tidak diundang ini ternyata adalah Thu Sing Sien. Muka Pui Cie terasa panas, dengan memberi hormat dengan malu berkata, "Ternyata Cianpwe. Apa kabar?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thu Sing Sien mendehem, matanya bolak balik memandangi kedua orang ini lama sekali. Baru berkata, "Kelakuanmu sangat memalukan!' Pui Cie tersegak, dengan amat kikuk dia berkata, "Cianpwe, Wanpwe.. tidak melakukan apa-apa.." Thu Sing Sien lalu berkata, "Apa mata kakekmu sudah buta, sehingga salah lihat?" Yipha Yauci dengan sikap dingin berkata, "Cinta bisa terjadi dimana saja, asal hati tetap suci, yang dilihat mata belum tentu benar, anda juga tidak perlu menuding sampai begitu." Habis berkata itu mulutnya tersenyum. Thu Sing Sien menarik nafas berkata, "Liu Siang E, kau pintar sekali bicara!" Yipha Yauci dengan santai berkata, "Apakah anda adalah pencuri ulung Thu Sing Sien yang kesohor itu?" Mata Thu Sing Sien bercahaya, "Betul akulah orangnya!" habis berkata begitu dia memandang Pui Cie, secara ketus berkata, "Pui Cie, pikir-pikirlah akibatnya, kalau kau tidak mau namamu hancur dan memalukan leluhurmu!" Pui Cie menggigit giginya berkata, "Wanpwe bisa menjaga diri. Jangan kuaur." Thu Sing Sien seperti marah sekali dengan suara ngap-ngapan berkata, "Harap kau jangan bermain api yang bisa membakarmu sendiri." Yipha Yauci berkata, "Aku bukan api, Pui Cie juga bukan orang yang suka main api." Pui Cie menyambung, "Berawal dari kasih sayang berakhir dengan peraturan, semua Wanpwe masih ingat." Thu Sing Sien berkata, "Didunia ada berapa banyak orang yang tahu aturan? Kalau dari awal tidak dicegah, akan seperti api besar yang tak bisa dipadamkan lagi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Tu Sing Sien adalah teman karib ayahnya semasa hidup, Pui Cie mendengar nasihat, yang dikatakan Thu Sing Sien memang masuk akal. Perasaan memang aneh, sekali mulai sulit diakhiri. Pui Cie tidak mengerti aturan ini. Thu Sing Sien berkata lagi, "Orang bukan rumput bukan kayu, mana bisa tidak berperasan, di dunia ini yang paling susah diprediksi adalah cinta. Kau sudah melihat dan mendengar banyak percintaan yang kusut sukar di atasi. Masa belum cukup untuk dibuat contoh? Pui Cie bergidik, cerita yang dekat dan yang terjadi didepan mata, San Chai Men Cu dan Kim Hong Ni gara-gara cinta terjadi tragedi yang menyedihkan. Pui Cie segera membungkukkan badan berkata, " Wanpwe menerima nasihat!" Thu Sing Sien mulut berbunyi, "Hem", langsung mengganti topik pembicaraan "Kali ini persoalanmu yang gagal dengan menyamar masuk ke Shin Kiam Pang, aku sudah tahu semua. Sekarang timbul masalah yang lebih membingungkan. Nona Liu pernah menjadi penasihat Shin Kiam Pang, mungkin bisa memberi penjelasan?" Yipha Yauci masih kesal atas nasihat yang panjang lebar dari Pencuri Ulung, maka secara dingin menjawab, "Coba anda ceritakan!" Thu Sing Sien lihat sana sini, dengan suara rendah berkata, "Bagiaman asal usul Pengurus Utama Shin Kiam Pang, yaitu Kui Siu Chai Ti Kuang Beng?" Yipha Yauci berpikir sebentar berkata, "Ti Kaung Beng adalah salah satu jagoan dari daerah selatan. Tahun lalu dengan cara terkutuk telah membunuh raja pejagal Law Cong dengan dua belas anak buahnya yang tangguh. Karena penampilannya menonjol, dia terbujuk dan masuk menjadi pengurus Shin Kiam Pang. Pui Cie diam-diam menagngguk, pejagal Law Cong pernah membantu merampas Pedang Raja, waktu itu dia dihantam sampai cedera oleh orang bertopeng, si baju abu-abu Ke Co Ing, bersumpah mau membalas, tidak disangka malah mati ditangan Ti Kuang Beng.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thu Sing Sien berkata, "Yang aku maksud dengan asal usulnya, apa dia ada sangkut pautnya dengan salah satu perkumpulan di dunia persilatan?" "Kalau soal ini aku tidak tahu menahu." Pui Cie menyambung, "Kenapa Cianpwe mau menyelidik asal-usul Ti Kuang Beng?" Thu Sing Sien dengan nada rendah berkata, "Menurut berita pasti yang aku dapat belum lama, perkumpulan itu sewaktu mengejar tuan Chang Hua Ma Gwe Kiaw dan Ke Co Ing di pegunungan pinus. Ti Kuang Beng diam-diam membunuh Guan Cen Ce yang menjabat sebagai komandan. Yipha Yauci dengan kaget berkata, "Ada kejadian begitu? Shin Kiam Pangcu mengira itu adalah perbuatannya Ma Gwe Kiaw..." Thu Sing Sien berkata, "Menurut penilaianku, semua mungkin karena perebutan kekuasaan atau dendam pribadi." Tergerak hati Pui Cie, dengan spontan berkata,"Banyak yang bisa dipelajari." Thu Sing Sien terkejut, lalu bertanya ."Bagaiman menurut pikiranmu?" Peui Cie menceritakan kembali bagaimana Ti Kuang Beng membunuh kepala cabang dan menolong dirinya. Diam-diam beritahu bahwa Penasihat Utama Thong Tih Chiu membawa pusaka, diluar rumah petani sengaja melanggar janji membantu Thong Thih Chiu sehingga akhirnya terbunuh. "Wanpwe sampai sekarang belum mengerti mengapa Ti Kuang Beng makan dalam bantu luar. Apa maksudnya?" Yipha Yauci bengong karena kaget, semua kejadian aneh ini diluar dugaan. Thu Sing Sien menarik napas dan berkata, "Benar-benar aneh, dan di luar dugaan kita, kenapa Ti Kuang Beng berbuat begini?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sesudah berpikir-pikir Pui Cie berkata, "Mungkin dia adalah utusan musuh Shin Kiam Pang yang menjadi mata-mata?" Yipha Yauci berkata, "Shin Kiam Pangcu orangnya sangat cerdik, tidak begitu gampang tertipu." Thu Sing Sien memandangi Pui Cie lalu berkata, "Anak muda, hayo ikut aku untuk mengurus suatu urusan." Hati Pui Cie tersentak, berkata, "Urusan apa?" Thu Sing Sien berkata, Rahasia langit tidak boleh bocor, pokoknya urusan besar. Sampai waktunya nanti aku baru akan memberitahumu. Sekarang mari kita berangkat." Yipha Yauci mukanya berubah, "Bagaimana dengan bagianku?" Thu Sing Sien berkata, "Maaf, ini adalah urusan pribadi." Mata Yipha Yauci berkedip-kedip berkata, "Apakah anda sengaja mau memisahkan kami?" "Ha., ha., ha..", Thu Sing Sien berkata, "Kakek tidak pernah mencurangi anak kecil, sama sekali tidak, kau jangan kuatir." Hati Pui Cie sedikit risau, pelan-pelan berkata, "Siang E, kalau begitu., kita bertemu di lain waktu." Tentu saja Yipha Yauci seratus kali tidak mau, tapi dia tidak bisa menahan Pui Cie, juga tidak bisa memaksa ikut, dengan susah dia berkata, "Kita., kapan bisa bertemu lagi?" Pui Cie juga sangat berat berpisah, "Waktu bertemu masih banyak..." Yipha Yauci dengan sedih berkata, "Siapa yang tahu lain kali kita bertemu seperti apa?' Thu Sing Sien mendesak berkata, "Ayolah jalan, kalau terlambat bisa celaka." Sambil berkata begitu badannya mulai bergerak. Pui Ciemengigit bibir berkata, "Siang E, kau hati-hati ya! Habis berkata dia ikut lari pergi.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci tinggal sendiri didalam hutan yang kosong. Bingung. Bengong sendiri. Saat ini mendadak muncul satu bayangan orang. Seperti roh muncul di belakang Yipha Yauci. 0-0-0 Cinta membawa sengsara Saat itu Yipha Yauci sedang sedih dan merenung, dia sama seklai tidak mengetahui sudah ada orang di belakang badannya. Yang datang adalah seorang wanita setengah baya. Saat ini kalau dia mau mencabut nyawa Yipha Yauci sangat mudah sekali. Tangannya sudah diangkat, tapi dia tunda lagi. Secara dingin berkata, "Liu Siang E, putar badanmu kemari!" Hati Yipha Yauci kaget luar biasa, sebagai seorang pesilat selalu mempunyai cara tersendiri terhadap sesuatu yang mendadak, badan langsung menghindar, lompat sampai sejauh empat meteran baru membalikan badannya. Phipa di tangannya siap dipukulkan. Mulut menggertak, "Siapa?" Orang yang muncul ternyata adalah bibi perempuan Pui Cie yang bernama Nam Kong Phang Theng dengan penampilan dingin seperti es Nam Kong Theng berkata, "Kau tak usah tahu aku siapa. Aku khusus kemari mau beritahumu supaya menjauh dari Pui Cie." Mula-mula Yipha Yauci terkejut, berikutnya dia tertawa geli, "Lucu, kau., apa dasarnya?" Secara ketus Nam Kong Phang Theng berkata, "Karena aku adalah angkatan tua Pui Cie!" "Angkatan tua?" "Ya!" Keinginanmu bagaimana?" "Aku tidak mau lihat dia hancur di tanganmu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Lucu benar, aku., bisa menghancurkan dia?" "Kau tahu dia sudah berumah tangga, kenapa masih mau menggangunya?" "Itu urusan pribadiku." "Liu Siang E, kita sama-sama perempuan, bertindak apa-apa harus ada batas-batasnya, melihat wajahmu tidak usah takut tidak mendapat jodoh, kenapa mau menjadi wanita murahan?" "Murahan?" "Kau menyukai orang yang sudah beristri, selain merusak kebahagiaan orang lain, apa yang bisa kau dapatkan?" Yipha Yauci alisnya terangkat berkata, "Kau juga wanita, kalau kau sudah jatuh cinta kepada seseorang, kau akan tahu apa itu cinta." Nam kong Phang Theng dengan kecut berkata, "Aku tidak mau berdebat denganmu, aku hanya mau menasehatimu, kalau kau tetap bersikeras begitu, nanti kau akan menyesal." Yipha Yauci tertawa berturut-turut. Lalu berkata, "Hatiku ada didalam, aku cinta siapa. Siapapun tidak bisa melarang." Dengan sikap amat dingin Nam Kong Phang Theng berkata, "Kalau kau tetap menganggu Pui Ciu, aku akan bertindak." Yipha Yauci berkata, "Kenapa tidak sekarang saja mencobanya?" Dalam hati Nam Kong Phang Theng muncul hasrat untuk membunuh, berkata, "Kalau kau belum melihat besarnya sungai kuning (Huang Hoo)hatimu tentu penasaran?" Yipha Yauci sedikitpun tidak mau mengalah, berkata, "Ya, Aku tidak percaya." Nam Khong Phang Theng berkata, "Aku bisa membuatmu percaya!"tangannya yang putih dengan jari tengahnya menunjuk kepada Yipha Yauci. Aneh. Tidak ada suara desisan diudara. Yipha Yauci bukan orang sembarangan. Hatinya berpikir dengan reflek langsung menjaga ulu hatinya dengan phipanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Suara 'Chiang' terdengar keluar. Yipha Yauci terdorong mundur dua langkah besar, hatinya menjadi gentar sekali. Dia memekik, "Bo Ya Chai!" (Jari Tanpa Bayangan) Nam Khong Phang Theng berkata, "kau sudah mengenalinya. Ayo silahkan coba lagi!" kata-kata belum habis dua telapak tangannya sudah melayang. Membuat lingkaran dan menggaris orangnya aneh sekali. Memukau dan menakutkan. Hati Yipha Yauci sangat gentar, dia mengumpulkan semua tenaga pada phipanya .menggoyang, menyetem, mengayun dan memercik, menyerang yang harus diserang. "poopp! Poopp!" dua kali getaran terjadi. Angin keras menyebar ke empat penjuru. Yipha Yauci terdorong mundur lagi dua langkah. Sekarang dia harus mengambil inisiatif. Badannya digoyangkan. Phipanya langsung dihantamkan. Sesudah di tengah jalan dia segera merobah posisinya menjadi menyilang. Gayanya aneh dan keras, sangat menakutkan. Pesilat yang biasa-biasa saja pasti tak mampu menghadapinya. Nam kong Phang Theng adalah penerus orang yang paling menakutkan, yaitu Pek Bo Tan (Bunga Botan Putih), kekebatan ilmunya sudah tak perlu dikatakan lagi, badannya berputar berturutturut sudah menyerang tiga kali, gerakan dan posisinya semua diluar dari kebiasaan seorang pesilat. Dari posisi yang sama sekali tidak mungkin, menyerang bagian-bagian yang tidak terduga. Yipha Yauci kewalahan, tidak terasa mundur terus. Nam Kong Phang Theng tidak mau mengalah. Seperti barang dengan bayangan menjulurkan lagi lima jari-jarinya. Terdengar suara mengaduh, Yipha Yauci sudah terduduk di tanah. Nam kong Phang Theng telapak tangan sudah berada di atas kepala Yipha Yauci dengan sikap yang sangat dingin berkata, * Liu Siang E, sekali aku mengeluarkan tenaga, kau tahu akibatnya apa?" Pucat sekali muka Yipha Yauci mengigit bibir dia berkata, "Lakukanlah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Aku akan melepaskan kau bila kau menyanggupi aku satu syarat." "Syarat apa?" "Jangan menggangu Pui Cie lagi!" "Tidak bisa!" "Kalau begitu kau lebih suka mati dengan kepala pecah?" Yipha Yauci berkata keras, "Manusia hidup harus ada cita-cita, mati karena cita-cita kenapa harus disesalkan?" Nam Kong Phang Theng berkata lagi, "Menggangu laki-laki yang sudah beristri, inikah cita-citamu?" Yipha Yauci berkata, "Aku hanya tahu aku cinta apa yang aku suka, yang lain aku tidak perduli." Nam Kong Phang Theng dengan suara gemetar, "Kalau sudah kehilangan nyawa apa masih bisa mencintai apa yang kau suka?" "Aku takkan meminta ampun supaya kau tidak membunuh aku. Tapi aku juga takkan melepas cita-citaku." "Kalau begitu kau memaksa aku membunuhmu?" "Tidak apa-apa karena ilmu silatmu lebih hebat." "Kau benar-benar tidak takut mati?" "Aku hanya ingin ketenangan hati, yang lain tidak perlu aku takuti." Pantaskah?" "Tentu saja pantas, apa yang wanita kejar? Kalau tidak dapat diraih, hidup dan mati tidak ada bedanya." Nam Kong phang Theng pelan-pelan mengeluarkan tenaga, mendesak nadi di atas kepala. Mengalirlah darah dari mulut Yipha Yauci. Nam kong Phang Theng dengan suara keras bertanya, "Mau tidak menerima tawaranku?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yipha Yauci menjerit, "Tidak, tidak bisa!" Guguplah Nam Kong Phang theng. Dia juga seorang perempuan, dia bisa merasakan bila seorang perempuan mencintai laki-laki hasratnya sulit digoyahkan, tapi dia adalah bibinya Pui Cie, dia memaksa menjodohkan Pui Cie dan Li Se Kian akhirnya menjadi tragedi yang menyedihkan, dia menyesal sekali., dia tidak bisa tidak perduli. Kalau tidak Hie Ki Hong akan seperti Li Se Kain lagi, dia mengambil keputusan berkata, "Kau yang mendesak aku membunuhmu!" Yipha Yauci dengan sedih berkata, "Asal Pui Cie tahu saja kenapa aku mati, aku cukup puas." Nam Kong Phang Theng tersentak, kalau dia membunuhnya apa reaksi dari Pui Cie? Jangan-jangan malah bertambah salah, malah akan menjadikan perpecahan antara Pui Cie dengan Hie Ki Hong. Dia mulai goyah... Yipha Yauci berkata, "Kau berkata kau angkatan tuanya?" "Ya!" "Angkatan bagaimana?" "Aku bibinya." "Ow! bibi., bagus, kau boleh mulai membunuhku!" "Kau sampai matipun tak mau berubah?" "Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi!" Saat itu, muncullah seorang yang mungil dan cantik. Nam Kong Phang Theng melihatnya, dengan terharu berkata, "Mirip sekali dengan Li Se Kian. Kau tentu Hie Ki Hong?" "Li Ki Hong, aku sekarang tidak bermarga Hie!" "Ya, kau., memang bermarga Li. Kita baru pertama kali bertemu, dulu aku mengira kau Li Se Kian. Ki Hong, apa kau kenal aku?" "Aku harus panggil anda bibi, harap lepaskanlah dia."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Apa?" Bibi tidak boleh membunuhnya!" "Kenapa?" "Dia mencintai Pui Cie. Pui Cie juga mencintainya." "Ki Hong, kau., kaukan istrinya Pui Cie?" , Li Ki Hong mengeleng-gelengkan kepala, dengan muram berkata, "Tidak, itu hanya nama saja. Dia membenciku..." Nam Kong Phang Theng dengan suara gemetar berkata, "Tidak mungkin, dulu memang banyak salah paham maka jadi begini, sekarang asal usulmu sudah jelas, dia tidak mungkin membencimu lagi!" Li Ki Hong menggelengkan kepala lagi, "Semua tidak ada yang berobah, dia tetap membenciku malah, seharusnya dia., harusnya milik kakakku!'' Li Ki Hong menarik nafas, "Ki Hong, apa kau mau ibumu mati penasaran?" Li Ki Hong memelas, dari sudut matanya mulai berair, sedapat mungkin mengigit bibir, lalu berkata, "Bibi, sudahlah!" Nam Kong Phang Theng terpaksa menarik tangannya, dan mundur beberapa langkah. Yipha Yauci pelan-pelan bangun, menghapus nda darah di bibirnya, sambil mengigit bibir bawah dia berkata, "Aku tidak akan merebut suamimu, harap kau tahu." Pelan-pelan Li Ki Hong berkata, "Aku pernah berkata kepadamu, kalau kau mencintainya, teruskan saja mungkin kau bisa memberinya kebahagiaan!" Nam Kong Phang Theng menyentak dengan keras, "Ki Hong, kau gila! Apa artinya kau berbuat begini?" Li Ki Hong berkata, "Bibi, aku tidak gila. Aku., hanya menerima kenyataan, tidak mau membohongi diri sendiri."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Theng dengan kesal berkata, "Jangan tolol, kau adalah menantu keluarga Nam Kong. Kenyataan ini tidak bisa dibantah." Air mata Li Ki Hong akhirnya jatuh ke pipi, dia memutar badannya kepada Yipha Yauci berkata, "Kenapa kau masih belum mau pergi?" Bibir mungil Yipha Yauci bergerak, mau berkata tapi tidak jadi, sampai terakhir tetap tidak berkata apa-apa, badannya sekali melenting masuk dalam kegelapan malam. Pergi melalui hutan. Nam Kong Phang Theng maju memegang pundak Li ki Hong dengan suara gemetar berkata, "Kau salah! Kau tidak boleh begitu!" Li Ki Hong dengan penuh air mata berkata sambil ketawa kecut, "Semua sudah nasib, tidak menerima juga tidak boleh. Bibi, aku., harus mencari kakak." Nam Kong Phang Theng mengangguk, "Mari kita pergi mencari bersama-sama, aku., aih.. aku malu terhadap ibumu, oya, kau masih kembali ke San Chai Mui?" Li Ki Hong mengigit mulut berkata, "Aku tak bisa membalas dendam kepada Hie Bun Cun, tapi budi dan dendam ini tak bisa dihilangkan begitu saja. Aku sudah ganti marga, sudah putus hubungan dengan San Chai Mui. Nam Kong Phang Theng mengangguk lalu berkata, "Mari kita berangkat!" 0-0-0 Thu Sing Sien dan Pui Cie pergi bersama, diperjalanan Pui Cie mengingat suara Li Ki Hong yang berkata kepada Yipha Yauci,".. kau cintailah dia, aku takkan melarang... aku sudah tidak mau meneruskan perkawinan yang menyedihkan ini., perkawinanku dengan Pui Cie adalah sebuah kekeliruan..." kesusahan yang tidak jelas mencekamnya dalam-dalam, tidak terasa dia menghela nafas. Thu Sing Sien dengan keras berkata, "Mengapa menghela napas? Masih tidak bisa melupakan wanita siluman itu?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie sengaja membelokan perkataan,"Cianpwe kita mau pergi mengurus apa?" "Sebuah urusan besar!" "Urusan besar apa?" "Menyelesaikan perkara Lau Hou Ji tentang terbunuhnya lima tua dan tiga muda dari perkumpulan kami!" Darah Pui Cie tiba-tiba terasa mengalir lebih cepat. Amat gelisah gara-gara pusaka tak terhingga anak buah kelas atas Khang Khang Mui Yi Ce Jen dibunuh masai. Pembunuhnya melakukan dengan memakai nama Pui Cie. Mencelakai dirinya menanggung beban ini. Berpikir begitu bersuara keras bertanya ,"sudah ketemu pembunuhnya?" "boleh dibilang begitu." "siapa dia?" "sesudah melihat kamu pasti tahu!" "kalau begitu., kecurigaan dihapus?" "hem!" jam empat subuh sudah mau liwat. Di jalan tidak ada orang. Dari kejauhan sudah terdengar ayam berkokok yang bersahut-sahutan. Di depan mata sekarang terlihat sebuah pekuburan yang tidak teratur. Kunang-kunang terlihat beterbangan yang menjadikan tempat itu menjadi begitu seram. Dibagian tengah tempat yang agak tinggi, berdiri sebuah kelenteng kecil. Thu Sing Sien menunjuknya, ",Itu di kelenteng kecil." Hati Pui Cie menggerutu, kenapa mengunakan tempat seperti ini?" Berdua mereka melalui kuburan yang tidak beraturan, akhirnya sampailah mereka di depan kelenteng kecil. Sebuah papan nama butut yang sudah terkelupas cat emasnya, samar-samar masih bisa terbaca Ling Kuan Bio tiga huruf. Didepan pintu terdapat dua pohon kering, tidak berdaun, dibawah sinar bulan yang hampir tenggelam, terhadap Wanpwe sudah boleh

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kelihatan sangat menyedihkan, pintunya terbuka tapi tak ada satu manusiapun. Siapa yang mau tinggal di tempat seperti ini seperti bertetangga dengan hantu. Begitu masuk ke dalam ada satu ruangan utama dan satu ruangan lain di dalam. Thu Sing Sien langsung masuk ke ruangan dalam. Pui Cie juga mengikutinya. Begitu masuk dalam hatinya timbul perasaan ngeri, didalam ruangan penuh dengan sarang laba-laba. Ada juga beberapa buah peti mati yang terbuat dari kayu putih, entah titipan atau menunggu untuk dikubur tidak ada yang tahu. Dengan dingin Thu Sing Sien berkata, "Peti mati ini semua kosong, sumbangan dari orang baik hati yang disimpan khusus untuk mengubur mayat-mayat yang tidak ada keluarganya. Sekarang, kau buka peti kedua di sebelah kanan." Ceritanya memang begitu, tapi orang tetap merasa tidak nyaman melihatnya. Pui Cie tidak mau banyak bertanya, dia menurut saja pergi membuka tutup peti, yang hanya diletakan begitu saja tutupnya sedikitpun tidak susah untuk dibuka, begitu melihat Pui Cie mundur tiga langkah sambil memekik dengan keras, "Kenapa seorang nenek tua?" Thu Sing Sien terkejut, dengan suara gemetar dia bertanya, "Apa katamu?" "Yang berbaring dalam peti itu adalah seorang nenek tua." "Nenek tua? Tidak mungkin!., coba kau lihat lagi yang jelas!" "Jelas sekali, sedikitpun tak salah!" Thu Sing Sien sekali loncat sampai disisi peti itu, begitu melihat dia tersentak. Pui Cie dengan aneh bertanya, "Cianpwe, bagaimana ini?" Thu Sing Sien dengan gemas berkata, "Kenapa bisa jadi seorang nenek tua? Kemana Orangnya?" Pui Cie dengan bingung bertanya, "Orangnya! Memang tadinya siapa disitu?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thu Sing Sien berkata, "Orang muda bertopeng berbaju putih, mengaku dirinya Pui Cie." Pui Cie terkaget, spontan berkata, "Mungkin dia Bo Ta Su Seng!" Thu Sing Sien tidak pikir lagi langsung menjawab, "Bukan dia!" Bukankah Bo Ta Su Seng pergi ke Tian Ceng Tong mencari obat untuk Yipha Yauci, jika dihitung waktunya tidak mungkin begitu cepat kembali. Pui Cie tidak dipikir lagi langsung berkata. Begitu dengar Thu Sing Sien menjawab dia merasa aneh, bukankah mereka sama sekali belum pernah bertemu, dengan mata membelalak dia bertanya, "Apakah Cianpwe juga kenal dengan Bo Ta Su Seng?" Thu Sing Sien terdiam sebentar berkata, "Pernah bertemu!" "Siapa yang ditangkap Cianpwe dalam peti mati itu?" "Dia mengaku sebagai Pui Cie." "Karena ini urursan yang aneh, maka aku sudah menangkapnya dan mencarimu untuk menjernihkan kebenarannya." "Kenapa disebut urusan aneh?" "Dia membawa barang bukti." "Barang bukti?" "Ya! Kau lihat sendiri!" sambil mengambil sesuatu dalam bajunya, lalu diberikan kepada Pui Cie. Pui Cie menerima barang itu dan diletakan di dalam telapak tangannya, begitu dilihat dia menjadi kaget luar biasa. Seperti pembuluh darahnya membuka, terharu sampai gemetaran. Thu Sing Sien bertanya, "Bagaimana?" 0-0-0 BAB 21 Mencari musuh mengejar pembunuh

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Barang bukti itu ternyata papan agung Bok Yang Mui. Pui Cie terharu sampai tak bisa berkata-kata. Lama sekali baru berkata, "Ini siasat Shin Kiam pangcu Phei Cen!" Thu Sing Sien mata bersinar-sinar, "Darimana kelihatannya?" Pui Cie berkata, "Waktu itu Wanpwe menyamar menjadi si Baju Ungu, menyelinap masuk ke markas Shin Kiam Pang tapi ketahuan dan ditangkap, papan nama ini digeledah Phei Cen dan dirampas. Jadi ini tentu siasat Phei Chen, melihat gelagatnya, pasti ada maksudnya." Thu Sing Sien menghentakaan kaki berkata, "Aku sangat bodoh! Orang tua dibohongi anak-anak yang mengaku adik seperguruanku!" Pui Cie menggertak giginya berkata, "Wanpwe mengerti Phei Cen ingin membuat lagi seorang anak didik Bu Lim Ce Cun agar orangorang di persilatan menjadi bingung, dia ingin mengganti posisiku. Agar dikemudian hari bila dia muncul dengan wajah asli tidak menjadi masalah." Dengan marah Thu Sing Sien berkata, "Siasat jahat dan kejam!" Mata Pui Cie memandang ke peti mati dan berkata, "Kenapa bisa menjadi nenek tua?" Thu Sing Sien mendekat ke peti mati itu setelah diteliti lalu memekik, "Ini Tua Nio pengurus rumah tangga Li!" Seperti dipentung, badan Pui Cie jadi gontai. Tangannya memegang peti mati. Betul, ternyata betul Tua Nio. Tangannya sudah keras dan dingin, kemarahannya seperti mau meledakkan dadanya. Tu Lau Tie baru dibunuh Ti Kuang Beng. Tu Toa Nio juga bernasib sama. Thian tidak adil. Tu Toa Nio berjanji mau menjagakan rumah keluarga li. Kenapa sekarang bisa terbunuh disini? Orang yang menyamar sebagai Pui Cie sudah tertangkap sekarang kenapa masih bisa kabur?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Thu Sing Sien yang cerdik dan banyak akal. Sekarang menjadi bengong, dengan mata penuh air berkata, "aku telah salah bertindak. Seharusnya yang menyamar ditindak langsung saja!" Pui Cie dengan gemetar berkata, "Kenapa Tu Toa Nio bisa celaka disini? Heran.." Langit sudah terang, tapi hati Pui Cie tetap gelap gulita. Thu Sing Sien dengan suara terbatuk berkata, "Kita kubur dulu yang sudah meninggal, nanti baru mencari tahu apa sebenarnya terjadi!" Pui Cie dengan gereget berkata, "Tidak salah lagi. Ini pasti perbuatan Shi Kiam Pang. Cianpwe apakah baru-baru ini pernah ke rumah keluarga li di Siang Yang?" Thu Sing Sien menggelengkan kepala berkata, "Tidak, kenapa?" Lalu Pui Cie menceritakan soal Tu Lau Tie yang datang kerumah Li dan meninggal itu. Thu Sing Sien berpikir dan berkata, "Pantas Tu Toa Nio ingin membalas dendam suaminya, dan meninggalkan rumah keluarga Li, hanya sayang dia bernasib sial. Tapi siapakah yang membunuh dan yang menolong orang yang berada di dalam peti?" Pui Cie berkata, "Cianpwe kapan menangkap orang yang menyamar Wanpwe itu?" "Kemarin sore." "Kalau waktu itu diinterogasi dulu..." "Celakanya karena papan nama hitam ini, aku sampai percaya dia adalah adik seperguruanmu. Hai! Siapa yang sangka! Tempat yang seram begini bisa ada orang!" Memdapatkan kembali papan namanya, adalah hasil besar luar dugaan Pui Cie. Tapi semuanya kemudian terhapus oleh dendam terbunuhnya Tu Toa Nio. Ti Kuang Beng membunuh Tu Lau Tie motifnya belum jelas, Tu Lau Tie terakhir sebelum mati berkata, yang paling jahat adalah hati wanita. Perkataan ini tidak ada ujung ada pangkalnya juga merupakan sebuah teka-teki. Tu Lau Tie adalah

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ kakak seperguruan Ke Co Ing. Ke Co Ing dan Phei Cen ada ganjelan karena merebut istri. Ini dan itu semua berkaitan dengan Phei Cen. Tapi Ti Kuang Beng diam-diam membunuh orang sendiri bagaimana ceritanya?" Dua orang itu bekerja sama, di belakang kelenteng menggali dan menguburkan Tu Toa Nio dengan alat yang ada. Sesudah selesai hari sudah tampak sore. Pui Cie memikir ulang semua kejadian, lalu berkata, "Cianpwe, menurut pandangan Wanpwe mereka setelah berbuat begini tentu akan datang lagi melihat hasilnya. Cianpwe pergilah ke dekat-dekat sini dengan meninggalkan jejak, Wanpwe mengintip disini. Mudahmudahan ada titik terang." Thu Sing Sien mengangguk dan berkata, "Ini ide yang cukup bagus, Biaklah, aku segera pergi." Sesudah Thu Sing Sien berkata, dia langsung berjalan pergi. Pui Cie kembali lagi ke dalam kelenteng menyembunyikan diri di ruangan besar menunggu sesuatu yang belum pasti. Diluar dan di dalam sunyi senyap. Pui Cie dengan sabar menunggu, pikiran melayang. Dia terpikir lagi Yipha Yauci, Li Se Kian, dan yang sudah merobah marga aslinya Li Ki Hong satu persatu dipikirnya, semangkin dipikir semangkin bertambah kusut hatinya dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi tiga wanita yang berbeda keinginan ini. Matahari masih menyorot shingga berkurang rasa serem dalam kelenteng itu. Waktu terasa panjang, perutnya mulai terasa lapar. Pui Cie sudah merasa tidak tahan. TiBa-tiba dia melihat bayangan orang sekelebat lewat. Bayangannya tersorot matahari terlihat di dinding kelenteng, hati mendadak bergetar. Dia tahu sudah ada orang datang, dia segera mendekat ke jendela dari lubang yang kertasnya sobek dia melihat keluar. Begitu melihat darah seperti mendidih, nafsu untuk membunuh bergelora.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Yang muncul ternyata Pengurus Utama Shin Kiam Pang Kui Siu Chai Ti Kuang Beng. Dia sedang berdiri diluar pintu ruangan dalam, mukanya penuh perasaan aneh. Hanya Ti Kuang Beng seorang? Alangkah baiknya kalau Phei Cen juga muncul. Belum habis berpikir terlihat satu orang kampung berlari-lari masuk ke dalam kelenteng seraya bersoja pada Ti Kuang Beng lalu berkata, "Hamba Yi Ping Nam memberi hormat kepada Pengurus Utama!" Ti Kuang Beng menggoyangkan tangannya berkata, "Tidak usah memberi hormat, kau penanggung jawab daerah sini?" "Ya!" "Kemana peti matinya?" "Dikubur orang!" "Siapa?" "Pui Cie dan seorang tua yang kurus." Ti Kuang Beng terkejut. Dengan suara gemetar berkata, "Pui Cie sudah kesini?" "Ya!" "Mana orangnya?" "Mungkin sudah pergi!" "Mungkin., apa artinya?" "Maafkan Pengurus Utama, hamba ceroboh, hamba hanya melihat yang tua pergi. Sudah ada setengah hari tidak ada perubahan apaapa. Mungkin Pui Cie pergi kearah yang lain. Tidak usah ditanya, orang kampung tadi adalah mata-mata Shin kiam Pang. Tak disangka pihak lawan masih belum mau melepaskan pengawasan terhadap daerah ini. Pui Cie sekali meluncur sudah muncul diluar ruangan utama. Ti Kuang Beng dan mata-mata itu sama-sama memekik, "Pui Cie!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie mendekat kehadapannya kira-kira tiga meteran. Dengan sikap amat dingin berkata, "Orang yang bermarga Ti, selamat bertemu lagi." Mata-mata yang bernama Yi Ping Nam itu merasa takut sekali dan mundur terus sampai punggungnya menempel ke pintu ruangan. Ti Kuang Beng berusaha tenang dan berkata, "Ha., ha., ha., kebetulan sekali!" Mata-mata tadi tiba-tiba meluncurkan tubuhnya.. Pui Cie siap-siap mau menghalangi... "Aa..!" berbarengan dengan pekikan itu. Mata-mata yang tadi mau kabur sudah roboh di halaman, yang melakukan adalah Ti Kuang Beng. sadis sekali. Orang itu belum sempat bersuara sudah putus napas. Pui Cie tercengang sekali, dia memandang Ti Kuang Beng tidak berkata apa-apa. Ini adalah ketiga kalinya Ti Kuang Beng membunuh orang sendiri. Kenapa? Ti Kuang Beng melihat lagi mayat itu dengan santai berkata, "Ada petunjuk apa?" Pui Cir berusaha menenangkan diri baru berkata, "Mengapa harus membunuhnya?" Ti Kuang Beng berkata, "Biar kita lebih leluasa bicara!" Pui Cie diam-diam merasa ngeri sendiri. Panjangnya pikiran, jahatnya perbuatan. Kejinya hati susah dicari tandingannya. Dia spontan berkata, "Anda tidak satu kali saja menghabisi orang sendiri. Apa maksud sebenarnya?" Ti Kuang Beng dengan sikap dingin berkata, "Demi keselamatan diri sendiri kadang-kadang tidak boleh terlalu baik." "Aku tidak mengerti." "Kau tidak perlu menegrti." "Kalau perbuatan anda diketahui oleh orang satu perkumpulan.."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Itu urusanku." Pui Cie menghela nafas, dia merasa kesal. Dengan suara rendah berkata, "Baiklah, kita bicarakan yang penting saja. Kita selesaikan satu persatu, kau membunuh orang tua yang bernama Tu Yi He (Tu Lau Tie)?" Ti Kuang Beng dengan lantang menjawab, "Ya!" "Apa sebabnya?" "Sebabnya tak perlu tahu, aku menjalankan perintah atasan membasmi pengkhianat." "Betul sekali!" Pui Cie juga merasa kaget, tidak disangka Tu Lau Tie juga orang Shin kiam Pang. Apa betul yang dikatakannya? perbuatan Ti Kuang Beng yang mengkhianati. Dia malah dikatakan menjalankan peraturan perkumpulan. Dia sebenarnya orang yang bagaimana? Lalu dengan kecut dia bertanya lagi, "Persoalan ini sementara ditunda dulu. Kalau Tu Toa Nio yang ditaro dalam peti mati itu siapa yang membunuhnya?" Ti Kuang Beng menjawab, "Itu bukan perbuatan aku. Aku tak bersedia untuk menjawab." Mata Pui Cie bersinar bertanya, "lalu perbuatan siapa?" "Tidak tahu. Aku tidak ada di tempat wakti pembunuhan terjadi." "Benar?" "Benar!" "Bagus. Aku tanya lagi padamu siapa yang membawa papan nama hitam untuk mengaku seperguruanku?" "Orang kepercayaan Pangcu!" "Apa maksud mereka?" "Harus tanya Pangcu pribadi." "Siapa yang menolong anak itu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Tidak ditolong, masih ada disni tapi sudah tidak bisa bicara." "Dimana?" "Didalam peti mati dalam ruangan." "Pui Cie kaget, dengan mengigit bibirnya, dia mencabut Pa Kiam dengan keras berkata, "Buka petinya. Buktikan!" Ti Kuang Beng mengangkat bahunya, membalik badannya menuju ruangan dalam, membuka tutup peti. Pui Cie mengikuti teus dibelakang. Begitu dilihat memang terbaring. Seorang penuda umur dua puluhan. Berbaju putih. Ti Kuang Beng berkata ."Betulkan?" "Siapa yang membunuhnya?" "Orang-orang pengawas, sebab dia gagal menjalankan tugas." "Kejam benar, orang sendiripun tak ada pengecualian! Aku tanya lagi yang terakhir kalinya, dulu di Lau Hou Ji ada lima orang tua dan tiga anak muda yang dibunuh menggunakan namaku. Siapa yang berbuat?" Muka Ti Kuang Beng berobah, tapi segera kembali lagi jadi dingin, dia menggelengkan kepala berkata, "Aku sama sekali tidak tahu tentang urusan ini." Saat ini muncul sebuah suara yang keras,"Kui Siu Chai, bagus benar kau membantahnya. Tapi sayang bagaimanapun rapinya perbuatanmu, tetap ada mata-mata yang mengetahui perbuatanmu!" Suaranya yang sudah tak asing. Pui Cie sangat terharu. Dia segera teringat orang tua yang hanya terdengar suaranya tapi orangnya tak pernah muncul, tak disangka dia muncul disini saat ini. Muka Ti Kuang Beng berobah, dengan suara gemetar bertanya, "Siapa?" Orang tua itu berkata, "Kau belum pantas bertanya aku siapa. Dua orang tua keluarga Tu dan anak dalam peti mati semuanya dibunuh olehmu, kau jangan menyangkal!" Badan Ti Kuang Beng bergerak.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie mengangkat Pa Kiam, memekik keras, "Jangan harap lolos!" Ti Kuang Beng sekarang mundur kesebelah dinding, bagaimanapun kejamnya dia, sekarang dia juga merasa panik. Gemas sekali Pui Cie berkata, "Ti Kuang Beng, hayo katakan yang sebenarnya!" Ti Kuang Beng yang licin, memekik keras, "Kalau berani keluarlah untuk berhadapan!"menyerang orang dari belakang bukan ciri seorang jagoan!" Orang itu berkata, "Kui Siu Chai, apa perlu aku ceritakan semuanya?" Suaranya terasa sangat jauh tidak tahu datang dari arah mana. Ti Kuang Beng dengan gemas berkata, "Ceritakanlah! Suara itu tertawa, "Ha., ha., ha..!" Orang itu lalu berkata, "Dengarkan baik-baik, anak itu menerima tugas menyamar sebagai penerus Bu Lim Ce Cun dan sengaja memperlihatkan barang bukti Bok Yang Mui, dan mengaku dirinya adik seperguruan Pui Cie. Kau secara diam-diam telah mengaturnya, tapi dia gagal dan tertangkap dibawa ke kelenteng Kuan Im Bio ini. Kebetulan kau juga mengikuti Tu Toa Nio yang datang mau membalas dendam atas kematian suaminya, kau kemudian membunuh Tu Toa Nio juga. Sayang nenek Tu beburu mati. Aku tak keburu untuk menolongnya.." Ti Kuang Beng berkata, "Omong kosong!" Suara orang tua itu terus berkata, "Apa maksudmu yang sebenarnya? Setelah menotok nadi matinya lalu menukar mayatnya. Kau tidak menyangkal kenyataan ini kan?" Pui Cie melayangkan Pa Kiamnya dengan nafsu membunuh yang bergelora berkata, "Hai orang yang bermarga Ti, cepat katakan yang sebenarnya atau aku tidak seji lagi padamu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Kulit muka Ti Kuang Beng mengkerut, dengan keras berkata, " Pui Cie, jangan lupa budiku, kalau bukan aku yang diam-diam menolongmu apa kau masih bisa hidup sampai sekarang?" Pui Cie terdiam, apa yang dikatakan Ti Kuang Beng memang kenyataan, pertama, saat Pui Cie tiba-tiba ditotok Yipha Yauci dan tidak keburu dibuka tatakannya dan tertangkap. Dia telah membunuh seorang ketua cabang menolongnya lolos, kedua kali. Dia sengaja tidak membantu Thong Tih Chiu mengeroyok dirinya, apa sebabnya tidak diketahui, tapi tak bisa disangkal. Berpikir begitu dia spontan berkata, "Aku tidak menyangkal, tapi apa tujuanmu berbuat begitu?" Ti Kuang Beng melihat hati Pui Cie sudah goyah, dengan suara rendah dia berkata, "Kau tak perlu tahu apa maksudku, tapi budi baikku menolongmu itu kenyataan." Suara orang tua berkata, "Niat srigala sulit ditebak, Pui Cie, kau harus tegas jangan seperti perempuan. Ada orang datang." Hati Pui Cie tersentak, dia melihat keluar, beberapa orang melompat ke dalam kelenteng. Yang pertama baju indah bertopeng. Ternyata dialah orang yang dicari-cari selama ini, Shin Kiam Pangcu Phei Cen. Di belakangnya ada tujuh atau delapan orang tua muda jagoan tangguh yang mengikutinya. Mendadak Pui Cie merasa pembuluh darahnya membesar, kebenciannya naik sampai ubunubun. "Phang!" Ti Kuang Beng sudah menerobos jendela belakang dan melayang pergi. Sekarang Pui Cie tidak perduli lagi dengan Ti Kuang Beng, dengan membawa Pa Kiam dia keluar ruangan. "Pui Cie!" anak buah pengikut Phei Cen berseru. Phei Cen menengadah ketawa terbahak-bahak. Pembuluh darah disekujur tubuh Pui Cie seperti mau pecah. Mukanya yang tampan menjadi kebiru-biruan, tubuhnya karena mendongkol menjadi gemetaran.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ 0-0-0 Hari akhir sang jagoan Phei Cen sudah berhenti ketawa dan berkata, "Pui Cie, hari ini semua urusan harus dibereskan." Sepasang mata Pui Cie menjadi merah. Dengan gemes sekali dia berkata, "Phei Cen, Couwsu memberkati. Hari ini adalah hari terakhirmu!" Para pengikut yang tangguh-tangguh segera berpencar dan berjaga-jaga, diatas wuwung rumah, diatas pagar tembok, tiba-tiba bermunculan orang-orang yang banyak sekali, seluruh kelenteng sudah dikepungnya. Pui Cie sama sekali tidak perduli dengan keadaan sekitarnya, tujuannya adalah Phei Cen. Ti Kuang Beng juga sudah kembali masuk dari pintu kelenteng, berkumpul dengan para pengawal yang tangguh. Pui Cien dengan sinis berkata, "Pui Cie, kau berani kurang ajar pada orang yang lebih tua?" Mata Pui Cie menyorot dan berkata,"kurang ajar pada yang lebih tua? Ha., ha., ha.. " dia tidak tahan menjadi tertawa. Phei Cen memekik keras, "Berhenti! Apanya yang lucu?" Pui Cie berhenti tertawa dengan gemas berkata, "Menggelikan sekali, kata-kata ini bisa keluar dari mulut orang membunuh guru sendiri!" Phei Cen berkata lagi,"Pui Cie, kau sudah dipengaruhi oleh guru keparat itu, sehingga percaya saja kata-kata putih menjadi hitam. Betul menjadi salah. Dialah yang membunuh guru.." Pui Cie marah sampai mukanya yang tampan jadi membiru, dia memekik dengan keras, "Phei Cen, kau orang yang tidak berprikemanusiaan, kau bukan orang! Kau binatang!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Phei Cen menjadi marah juga menggertak, "aku sebagai sesepuhmu, aku berhak menghukummu karena bersikap kurang ajar!" Phei Cen dengan seenaknya balik-balikan salah dan benar membuat Pui Cie gemes luar biasa. Diayunkan Pa Kiamnya dengan keras berkata, "Phei Cen, aku hendak memakai darahmu untuk mencuci dosamu yang sudah setinggi gunung!" Phei Cen dengan sikap dingin berkata,"tunggu dulu!" dia lalu mencari Ti Kuang Beng dan berkata, "Pengurus Utama!" Ti Kuang Beng dengan membungkukan badan berkata, "Hamba disini!" Phei Cen berkata Mengapa utusan khususku belum muncul?" Pui Cie merasa aneh. Utusan khusus? Siapa gerangan? Ti Kuang Beng melirik kepada Pui Cie, lalu baru dengan nada sengit berkata, "Lapor Pangcu, utusan khusus sudah mati terbunuh, mayatnya ada didalam peti mati, di ruangan dalam." Pui Cie mengerti, yang dimaksud utusan khusus adalah anak yang menyamar sebagai adik seperguruannya, tampaknya Phei Cen belum tahu anak itu telah dibunuh Ti Kuang Beng. Pui Cien sangat kaget dan memekik,"Mati?... perbuatan siapa?" Ti Kuang Beng berkata,"Pui Cie!" Mata Pui Cie terbelalak bersinar-sinar penuh emosi melotot kepada Ti Kuang Beng. Dia betul-betul tidak mengerti orang yang kejam ini, sebenarnya apa yang dikehendak? Sudah berbuat jahat malah terang-terangan menuding di depan orangnya, berkata bohong sedikitpun tidak malu! Phei Cen memandang mayat mata-mata yang tergeletak di tanah berkata, "Apakah ini juga perbuatannya?" Ti Kuang Beng berkata, "Ya!" mata Phei Cen dengan kejam berkata, "Kau sendiri tidak cedera?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Ternyata Pangcu Shin Kiam Pang ini jalan pikirannya sangat teliti, Ti Kuang Beng membungkukkan badan berkata, "Tadi hamba sedang menghadapinya, untung Pangcu cepat datang." Pui Cie mendehem, dia malas membongkar kebohongannya. Phei Cen mencabut pedang panjangnya, dan berseru, "Serang!" Ti Kuang Beng bersama sembilan orang jagoan tangguh maju, masing-masing mengeluarkan senjata, mengambil posisi untuk menyerang bersama. Nafsu membunuh Pui Cie sudah penuh sekali. Mengambil pengalaman ynag telah lama dia tidak mau berada di posisi bertahan, dia harus bergerak cepat kalau tidak dia akan didahulu orang. Hati berpikir mulut bersuara. Pa Kiam nya langsung menyerang Phei Cen. Terdengar suara besi beradu, kedua belah pihak masing-masing terdorong mundur satu langkah. Tiba-tiba Pui Cie sadar ada sesuatu yang tidak beres, dia melihat posisi kesembilan jagoan yang mengurung berdiri dengan teratur, mereka telah menyusun barisan pedang. Semua tidak memberikan dia banyak berpikir. Phei Cen kembali sudah menggerakan pedang menyerang. Phei Cen pernah menyandang gelar Pedang Nomor Satu. Tentu saja ilmu pedangnya tidak sembarangan. Gerakan pedangnya begitu dimainkan seperti air sungai besar bergulung-gulung. Sangat menakutkan arahnya sukar diduga. Pa kiamnya Pui Cie juga beda dengan aliran biasa, memang hanya satu jurus tapi perubahannya banyak sekali. Dua orang ahli pedang yang luar biasa, mulai melakukan pertarungan hidup dan mati. Yang satu menjalankan tugas amanah perguruan untuk menertibkan anggotanya yang menyeleweng, yang satu lagi ingin mencabut duri yang menusuk, pedang bergerak ganas, tiap pukulan mendebarkan. Setiap gaya menakutkan. Dua belah pihak hanya berambisi menang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Barisan pedang belum bergerak, sepertinya sedang menunggu kesempatan. Suasana keras dan mengerikan angin berlapis-lapis muncul. Mengikat kencang hati semua orang yang berada disitu. Pui Cie tahu ini adalah pertarungan yang menentukan hidup dan mati, "musuh banyak aku sendiri, maka harus hati-hati menghadapinya." Menuggu kesempatan menggunakan jurus aneh baru bisa meraih kemenangan. Setelah tiga puluh jurus berlalu, Pui Cie mulai tidak sabar karena tenaganya terus terkuras, akibatnya tentu akan fatal. Karena ini bukan pergumulan satu lawan satu, gerakan pedang Phei Cen sangat cermat dan tajam, sementara belum ada kelemahan yang bisa dimanfaatkan. Barisan pedang sudah dibentukkan, tapi belum juga digerakkan. Phei Cen dengan kedudukannya yang tinggi dan bernama besar. Di bawah sorotan mata banyak orang bagaimanapun juga harus menjaga gengsi dirinya, sebelum keadaan terlalu mendesak, dia takkan menggunakan barisan pedangnya. Ilmu silat kedua orang ini seimbang. Pui Cie, kalah karena pihak lawan unggul dalam jumlah, jika kedua belah pihak tenaganya sudah terkuras habis, Phei Cen pasti akan memerintah anak buahnya untuk menyerang bersamasama. Sebentar saja sepuluh jurus berlalu lagi. Pui Cie merasa semua ini tidak boleh ditunda lagi. Kondisinya tambah tidak menguntungkan seiring dengan waktu yang berjalan. Dia merubah jurusnya, dengan sekuat tenaga dia mengeluarkan jurus yang menentukan. Keadaan yang mengerikan segera muncul, seperti bara api dibolak balik dan diaduk-aduk sinar pedang menyorot kemana-mana. Terdengar suara pedang beradu terus menerus dan sambung menyambung.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dalam satu serangan pedang kedua belah pedang sudah bentrok puluhan kali. Sekarang mulai masuk jurus kedua. Orang-orang yang menonton dilapangan bernafaspun terasa sulit. Menyambung lagi ke jurus ketiga. Orang melihat sinar pedang seperti mau putus, tiba-tiba muncul teriakan keras. Penutup muka Phei Cen robek dan tersingkap. Orangnya terdorong kebelakang keluar dari barisan pedang. Pui Cie sedikitpun tidak mempunyai waktu untuk menarik nafas, segera setelah Phei cen mundur, barisan pedang pun mulai bergerak. Sinar pedang yang menakjubkan terbang berseliweran. Kerjasamanya begitu kompak, maju mundur cepat lambat, seperti biji bunga kapas berterbangan ditiup angin kencang. Pui Cie mengayunkan satu sabetan, ditahan oleh tiga buah pedang, pedang-pedang lawan yang lain menyerang dari posisi yang berbeda. Posisi yang mungkin diserang semua diserang, sebentar saja posisi Pui Cie menjadi gawat. Barisan pedang mengutamakan kekompakan isi atau kosong, saling mengisi saling bertahan, sembilan orang itu bisa menggerakan pedang dengan otomatis. Pui Cie sedikitpun tidak boleh lengah. Kalau tidak dia bisa cedera atau mati. Barisan pedang yang terdiri dari Ti Kuang Beng dan kawankawannya sangat tangguh, kehebatannya sudah tak perlu diragukan lagi. Pertarungan sengit berjalan terus. Pui Cie dilibat dalam gelombang pedang yang dahsyat. Pelan-pelan posisinya menjadi bertahan, gerakan pedangnya tak bisa dikembangkan lagi. Kesal dan marah menggangu pikirannya. Kondisi ini membuat dia bertambah tidak menguntungkan. Manusia hanya terdiri darah dan daging. Memerlukan tenaga dan bernatas, bisa ditebak akhirnya dia akan mati kelelahan.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Bertambah, waktu bahaya semakin mendekat. Pui Cie sudah berada di posisi tersulit. Bajunya sudah basah kuyup oleh keringat. Mukanya yang tampan menjadi merah. Mati. sedikitpun dia tak takut. Tapi dia tidak bisa menerima cara mati konyol seperti ini. Dalam kondisi yang gawat, tiba-tiba terdengar suara dentingan phipa yang cukup nyaring memecah di udara, seperti suara geledek yang menakutkan. Mendengar suara phipa itu semangat Pui Cie menjadi terpacu, dia melihat Yipha Yauci telah datang, hal ini memberi dorongan yang luar biasa, tenaganya yang terkuras habis mendadak seperti muncul lagi, gerakan Pa kiamnya menjadi hebat lagi. Pengawal yang berilmu biasa dari Shin Kiam Pang yang barada dibagian garis luar tidak tahan dengan suara phipa yang menusuk hati menggetarkan jiwa, semua menjadi gaduh, dari atap rumah dan atas tembok pagar satu persatu roboh berjatuhan, barisan pedang pun menjadi kacau balau. Phei Cen segera mengejar ke arah suara... "Aa... terdengar suara jeritan yang memilukan hati, seorang jagoan tangguh dari barisan pedang tidak tahu kenapa sudah roboh terjungkal. Dalam kesempatan yang langka ini. Pui Cie menggunakan semua tenaganya menyabetkan Pa Kiamnya. Suara jeritan menggoyahkan lapangan. Dua orang jagoan patah tangan, yang satu kepala nya terbang, barisan pedangpun menjadi hancur. Suara phipa tiba-tiba berhenti, tapi tidak ada orang yang muncul. Pui Cie tidak ada waktu memkikir yang lain. Pa Kiamnya langsung ditodongkan pada Kui Siu Chai Ti Kuang Beng yang mencoba membalikan badan berusaha kabur, terdengar suara rintihan yang memilukan dari Ti Kuang Beng yang melarikan diri. Sisa hempasan Pa Kiam tadi masih mengena seorang jagoan. Tajamnya seperti pisau mengenai dadanya. Dia roboh dan memuncratkan darah segar.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Seluruh lapangan seperti mendidih. Orang berseliweran lari mencari keselamatan. Ti Kuang Beng benar-benar cerdik, dalam kondisi kacau itu entah dia sudah lari kemana. Pui Cie tiba-tiba menemukan Phei Cen sudah tidak ada di tempatnya. Dia merasa risaunya luar biasa, kalau dia kabur lagi untuk menemukannya lagi sulit sekali. Jerit kesakitan yang memilukan berulang lagi. Dua orang lagi tumbang, tapi aneh tidak tampak siapa yang melakukan. Semua pikiran Pui Cie hanya terpusat pada Phei Cen, dia segera melompat naik ke atas genteng kelenteng, melihat sekelilingnya. Selain pesilat yang lari tidak karuan tidak tampak bayangan Phei Cen, apakah dalam sekejap saja dia naik ke langit? Di hari yang masih terang semua yang ada di atas bukit sekali lihat tampak semua... Di halaman jeritan masih ada, orang masih berliaran keluar pintu kelenteng, sekejap yang bisa bergerak sudah pergi semua. Yang tersisa hanya dua puluh mayat. Pui Cie sedang bingung belum mendapat akal. Tiba-tiba terdengar suara orang tua misteri yang keras itu, "Anak muda, hayo cepat turun! Orangnya berada di ruangan dalam!" Tanpa berpikir panjang Pui Cie langsung melayang ke dalam halaman, sekejap suda berada di depan pintu ruangan dalam. "Kembalilah! bersayap pun kau takkan bisa kabur lagi!"terdengar suara bentakan seorang perempuan keluar dari ruangan dalam. Berikut terdengar suara barang yang beradu. Pui Cie merasa kaget, dengan membawa pedang menerobos masuk ke ruangan dalam. Dari jendela yang bolong pertama yang dia lihat adalah muka seorang wanita, Ternyata itu adalah Nam Kong Phang Teng. Dia segera sadar tadi yang diam-diam yang menolong dia membunuh pengikut Phei Cen adalah bibinya. Jendela bolong itu baru saja pecah karena diterjang oleh Ti Kuang Beng waktu kabur.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Teng berteriak, "Awas sebelah kirimu!" Begitu Pui Cie melirik ke kiri, pembuluh darah sekujur tubuhnya seperti mau pecah. Di belakang peti mati sebelah kiri muncul setengah badan Phei Cen, memang tidak salah orang tua itu menyampaikan suara. Bajingan ini memang belum kabur. Phei Cen dengan muka bengis melotot kepada Pui Cie. Pui Cie mengigit bibirnya berkata, "Phei Cen, hari ini aku akan menghukummu sesuai dengan peraturan. Intik perbuatanmu mati seratus kalipun tidak cukup unutk membayarnya!" Phei Cen ketawa aneh lalu berkata, "Kau bermimpi!" Nam Kong Phang Teng masuk menerobos jendela, berdiri disamping Pui Cie sambil menunjuk Phei Cen, "Kau sampah persilatan orang hina, orang kecil, aku mau mencincangmu menjadi berpuluh ribu potong, membakar tulangmu menjadi abu!" suaranya begitu menyayat hati. Kulit muka Phei Cen mengkerut berkata," siapa dirimu?" "Dengar yang jelas!" Nam Kong Phang Teng memekik, "Kau dulu dengan cara yang keji menggunakan perempuan yang tidak patut Chu Ni Hiang, membujuk Toa Hong Kim, Ke Chu Hun mencuri buku ilmu pedang gurunya, yaitu Guan Thong Kao Teng, sampai akhirnya kau mendapatkan gelar Pedang Pertama Sejagat. Mencelakai guru Chu Hun dan muridnya mati secara mengenaskan di gunung Bu Tong.." Dua mata Phei Cen melotot, dengan suara gemetar memekik, "Sebenarnya kau siapa?" Nam Kong Phang Teng matanya seperti mau pecah berkata, "Aku adalah istrinya Chu Hun!" Badan Phei Cen gemetar, dengan kejam berkata, "Kau mau membalas dendam suamimu?" Dengan gemas Nam Kong Phang Teng berkata, "Sedikitpun tidak salah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie dengan membereskannya!" terharu berkata, " Bibi, "Lucu! biar aku yang kau

Phei Cen mendadak keponakannya!" Phei Cen memkik ditendangnya.

ketawa

keras,

Ternyata

Pui Cie bawa pedang mendesak ke depan... keras, "Jangan bergerak!" peti mati

Pui Cie tersentak, ketika mata dia memandang, hati dan pikirannya bergetar, mukanya menjadi pucat. Yipha Yauci duduk mematung di depan Phei Cen. barusan tidak kelihatan karena terhalang oleh peti mati. Dia terkejut. Tidak disangka Phei Cen telah menyandera Yipha Yauci. Ternyata dia mainkan phipanya di ruangan dalam. Phei Cen melintangkan pedang di leher Yipha Yauci dengan keji berkata, "Bagaimana, mau membicarakan syaratnya?" Nam Kong Phang Teng dengan keras berkata, "Keji, hina! Pedang pertama Nonor SatuShin Kiam Pangcu, ternyata perbuatannya begitu kotor! Silahkan kau bunuh, tidak ada yang perlu dibicarakan." Phei Cen dengan sinis berkata, "Belum tentu, ada orang yang berhutang budi ingin menolong nyawanya. Tak mungkin mau mengorbankannya.." Pui Cie marah besar, sekujur tubuhnya bergetar terus, seperti mau menyemburkan darah. Seorang pesilat sejati, yang mempunyai nama baik tentu tahu aturan persilatan dia berutang budi jiwa atas pertolongan Yipha Yauci. Tentu saja dia tidak bisa melihat dia begitu saja menjadi korban. Tapi Phei Cen bagaimanapun juga tak akan melepaskan dia begitu saja. Berpikir begitu, dia menggigit mulut berkata, "Apa syaratnya?" Phei Cen mengangkat alisnya berkata, "Gampang saja, dia antar aku keluar kelenteng. Kalian berdua tetap di tempat."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Teng dengan kecus berkata, "Pui Cie, kalau kau menerimanya, aku takkan memaafkanmu!" Pui Cie mengigit mulut lagi, dia tidak bisa ambil keputusan. Nam Kong Phang Teng dengan keras berkata, "Mari kita maju, Pui Cie! Jangan Kau membela seorang wanita siluman melepaskan setan ini! Dia sudah tidak ada kesempatan lolos lagi. Kau tidak mau menyesal seumur hidup, kan?" Pui Cie tersentak lagi. Benar, nanti mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi! Phei Cen pelan-pelan berkata, "Ayolah jangan ragu-ragu majulah, bila kubunuh dia juga tetap bisa lolos dengan sempurna, kalau tidak percaya coba saja. Semua pikiran Pui Cie menjadi kusud. Hidup mati Yipha Yauci hanya tergantung pada putusannya. Bukan karena cinta juga bukan karena kecantikannya, tapi dia tidak mau menjadi orang yang tidak tahu membalas budi. Hari ini Yipha Yauci datang untuk membantunya. Kalau dia tidak perduli semuanya, apa bedanya dia dengan Phei Cen? Saat ini dia sangat mengharapkan munculnya orang tua yang misterius, yang bersuara tanpa ada orangnya untuk menolong kesulitannya, tapi ini hanya angan-angan saja, dari pengalaman yang sudah-sudah orang tua tidak pernah muncul. Nam Kong Phang Teng menggerakkan kaki... Mata Phei Cen menyorot sinar nafsu membunuh pedang di tangan seperti mau bergerak. Pui Cie spontan berteriak, "Nanti dulu!" Nam Kong Phang Teng berhenti dengan geram melolot Pui Cie dan berkata, "Kau benar tidak tega terhadap perempuan siluman itu? Pui Cie kau mengecewakan banyak orang!" Pui Cie berteriak setengah memekik, "Bibi, biarkan aku berpikir lagi!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Teng dengan tegas berkata, "Kau pikir saja sendiri. Kita ambil jalan masing-masing jalan. Pamanmu sedang menunggu bajingan ini menyerahkan kepalanya." Sesudah itu dia melangkah lagi. Pui Cie ingin melarang tapi tidak digubris, Yipha Yauci akan menjadi korban sia-sia... Saat ini tiba-tiba sebuah bayangan seperti kilat melayang masuk ke ruangan dalam mendarat di sisi Phei Cen dan berkata, "Pangcu! Ini hamba!" Tadinya Phei Cen mau mengayunkan pedang, mendengar suara itu menjadi berhenti, tapi tangannya tetap menekan di atas leher Yipha Yauci. Pui Cie juga terkejut, bayangan orang yang datang ternyata adalah Kui Ciu Chai Ti Kuang Beng. Nam Kong Phang Teng juga kaget dan berhenti mendesak. Ti Kuang Beng memandang Nam Kong Phang Teng dan Pui Cie, dengan pelan berkata, "Pangcu, bawalah sandera, hamba yang menahan serangan sesudah keluar ruangan baru bicara lagi." Mata Phei Cen berputar, dengan keji berkata,"Orang ini tak perlu dibawa, bunuh saja! Kita lawan mereka!" "Peng!" pada saat yang menegangkan tiba-tiba satu pukulan Ti Kuang Beng mengenai Phei Cen. Sesudah membokong dia langsung menjauhkan diri. Perubahan yang mendadak ini di luar dugaan siapapun. Ti Kuang Beng terang-terangan memberontak. Phei Cen mimpipun tidak menduga Ti Kuang Beng bisa melakukan hal begini pada dirinya. Dengan spontan dia mengayunkan pedang menusuk... Ti Kuang Beng menjauhkan diri sampai tiga meteran. Sambil berteriak, "Cepat tolong orangnya!" Nam Kong Phang Teng yang paling dekat dengan Phei Cen segera mengangkat sepasang telapak tangannya seperti kilat memukul, terdengar suara mengaduh, Phei Cen terdorong gelombang pukulan sampai kepinggir tembok.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie juga bergerak reflek sekali, badannya bergerak sambil melayangkan pedangnya kepada Phei Cen yang tubuhnya belum tetap, secepat kilat pedangnya tahu-tahu sudah sampai di depan mata, dengan tergesa-gesa dia mengangkat pedangnya menangkis. Dalam suara gemuruh besi beradu, Phei Cen terdorong lagi. Ditambah lagi dia sudah terkena satu pukulan dari Nam Kong Phang Teng. Suara mengaduh terdengar lagi, tubuh Phei Cen sudah limbung. Ti Kuang Beng sudah kabur entah kemana. Kungfu Phei Cen memang hebat dalam keadaan limbung ujung kakinya sekuat tenaga menjejak, badannya seperti roket meluncur keluar ruangan. Pui Cie dengan memegang Pa Kiam memburu, tapi meleset. "Chass!" pedang menghantam peti mati yang menjadi sontak sisinya. Nam Kong Phang Teng secepat kilat mengejar, dia melirik Yipha Yauci yang belum sempat terbuka totokannya, Phei Cen jadi tertahan oleh Nam Kong Phang Teng, Pui Cie pun langsung menyerangnya. Phei Cen memekik keras lalu mengeluarkan satu serangan aneh untuk menahan pedang Pui Cie, dia sama sekali tidak ragu-ragu lagi, secepat kilat meluncurkan badannya ingin melarikan diri. Nam Kong Phang Teng melihat Pui Cie menyabetkan pedang karena takut menghalangi gerakan pedang dia sudah mundur semeteran, kekosongan ini memberi Phei Cen kesempatan untuk kabur. Bibi dan keponakan sama-sama mengejar. Siang hari keadaan jelas. Diatas bukit tidak ada pohon menghalangi. Kaki Phei Cen bergerak menginjak nisan kuburan, begitu menginjak langsung meluncur lagi. Sekali meluncur bisa menjauh beberapa meter, seperti roket meluncur menurun bukit. Bibi dan keponakan itu terus mengejar, seperti bintang menyusul bulan. Setelah turun dari bukit tidak berapa jauh ada sebuah sungai melintang di depan mata. Phei Cen menjadi menemui jalan buntu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ tapi dia tidak ada pilihan lain, dia langsung melompat mencoba menyeberangi sungai. Tapi sungai terlalu lebar dia tidak bisa menjangkau ke seberang, diapun jatuh ke dalam air, begitu bangkit dari air dia lari ke tepi sungai. Tapi pedang di tangannya sudah terjatuh ke dalam air. Waktu bersamaan Pui Cie juga melintas sungai, dia juga tidak bisa menjangkau tepi sungai, dia mendarat di pinggir sungai yang dangkal tapi tidak jatuh selangkah di belakang Phei Cen yang sedang naik ke darat. Nam Kong Phang Teng lebih berpikir panjang, dengan melawan arus dia lari beberapa meter, mencari jarak yang paling dekat baru meloncat, aksinya belakangan tapi malah sampai duluan. Phei Cen belum sempat menarik napas sudah kembali terhadang. Pui Cie juga tiba, dia mengambil posisi diujung. Sekujur tubuh Phei Cen basah kuyup. Seperti ayam masak kuah, karena jatuh ke sungai jadi dia terbatuk-batuk oleh air yang masuk ke tenggorokan. Napasnya menjadi sesak karena batuk terus-terusan. Pui Cie mengayunkan pedang mendesak sampai tiga meter didekatnya. Dengan suara keras dia berkata, "Phei Cen! ajalmu hanya sampai disini!" Phei Cen yang kehilangan pedang sudah tentu bukan lawannya Pui Cie, apalagi ada Nam Kong Phang Teng sebagai ahli waris Pek Bo Tan, orang yang paling menakutkan ketika sedang berjaya di dunia persilatan, bayangan kematian sudah memenuhi hatinya. Tapi jagoan dunia persilatan ini menpunyai semacam keangkuhan. Mana mau hanya diam menunggu mati? Mata berputar-putar cepat-cepat mencari akal untuk meloloskan diri. Pui Cie berkata lagi, "Phei Cen, kau membunuh kakek guru, meracuni guru. Dosanya tak dapat diampuni. Sekarang aku menjalankan perintah almarhum guru menghukum orang yang melanggar peraturan perguruan, apa masih ada yang mau kau sampaikan?

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Sepertinya Phei Cen sudah tahu untuk lolos sudah tidak ada harapan lagi, dia melolong keras menubruk Pui Cie. Maksudnya ingin bergumul mati-matian. Pui Cie mengayunkan Pa Kiamnya. Phei Cen tidak berani menghadapi tajamnya pedang Pui Cie, dengan gerakan aneh dia berputar. Pui Cie seperti bayangan mengikuti terus gerakannya, jurus mautnya dikeluarkan lagi. Serangan Pa Kiam sejak dulu sudah terkenal kedahsyatannya. Phei Cen tidak keburu menghindar. Punggungnya tergores sekitar tiga puluh senti menjadikan sebuah lubang yang besar, darah segar segera mengalir keluar, dia membalikan badannya, kedua telapak tangannya langsung memukul. Pui Cie melompat kesamping sambil menyimpan pedang. Mengangkat telapak tangannya dan berkata, "Aku akan menghukummu dengan ilmu silat perguruanku sendiri!" Kedua belah pihak maju dan melayangkan telapak tangan Chiet Kim Cang (Telapak Tangan Pemotong Emas) Nam Kong Phang Teng tidak ikut campur, dia berdiri di pinggir kalangan dengan gemas, dia berjaga-jaga agar Phei Cen tidak dapat meloloskan diri lagi. . "Phang!" terdengar satu suara keras, kedua belah pihak mundur selangkah. Tapi begitu berpisah segera mendekat lagi. pertarungan dengan tangan kosong ini adalah ilmu tingkat tinggi di dunia persilatan dan terlihat sangat mengerikan. Tubuh Phei Cen yang cedera oleh sabetan pedang, darahnya tidak berhenti terus, hanya karena hawa nafsu saja dia dapat terus melawan, tapi walau bagaimana juga dia tidak bisa terus bertahan 1 "Phang" kembali terdengar kedua belah tangan beradu, kali ini dibarengi dengan suara rintihan. Mulut Phei Cen telah menyembur darah, dia jatuh tertelungkup, dia menahan diri, mencoba bangun lagi. Mukanya sudah tak berbentuk seperti hantu, Pui Cie menghantam lagi dengan satu pukulan, dengan mengaduh lagi Phei Cen terjungkal kembali.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie dengan gemas memandanginya. Bangun, jatuh lagi. Sepertinya dia sudah lemas dan tidak bisa bangun lagi. 0-0-0 BAB 23 Semua pasti Nam Kong Phang Teng menghampiri dengan suara keras berkata, "Kau mau dia mati secara perlahan-lahan!" sambil mendekati. Pui Cie cepat-cepat menghadang berkata, "Bibi, mohon ijinkan keponakan untuk menghukumn dia sesuai dengan aturan perguruan." Mendengar itu Phei Cen memekik keras, dia mengangkat tangan ingin memukul kepala sendiri.. Pui Cie segera menotoknya, tangan Phei Cien yang sudah menjulur kembali turun ke bawah. Pui Cie mengeluarkan papan nama hitam dari balik bajunya. Diangkatnya lebih tinggi dari atas kepala, dengan berlutut ke arah utara, berkata, "Arwah kakek guru dan guru, murid hari ini akan menyelesaikan perintahmu, menghukum Phei Cen si pengkhianat, harap maklum dan bisa diterima!" Selesai berdoa dia bangun mukanya berat seperti besi. Dengan gemes Nam Kong Phang Teng berkata, "Kau tidak mengizinkan aku membunuhnya?" Pui Cie berkata, "Bibi, orang mati hanya satu kali biarpun dia telah berbuat dosa sebanyak apapun dengan mati, dosanya akan terhapus semua. Dia murid Pek Bo Tan angkatan kedua, mohon mengizinkan keponakan menjalankan tugas perguruan, agar tidak diejek orang didunia persilatan. Keponakan tahu dendam dalam hati Bibi. Tidak usah berebut turun tangan, menyaksikan juga sama saja."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Teng terdiam, sepertinya bisa menerima sarannya. Pui Cie memandang tegas Phei Cen berkata, "Phei Cen, dosamu terlalu banyak susah disebut satu persatu. Biarpun memilih yang manapun kau tetap tidak akan bisa membayarnya. Sayang kau hanya bisa mati satu kali, kalau tidak kau...?" Phei Cen masih meronta ingin bangun. Tapi tenaganya sudah tidak bisa mengikuti keinginan, hanya bisa bangun setengah lalu terduduk kembali, dari mulutnya menyemburkan darah segar. Kulit muka terus-terusan mengerut. Keangkuhannya mulai lenyap, terakhir dengan lesu dia berkata, "Dosa yang telah kuperbuat adalah tanggung jawabku sendiri, aku hanya minta satu, jangan merusak mayatku, kuburkanlah aku di sekitar sini. Silahkan bertindak!"" Pui Cie dengan mata berkaca-kaca berkata, "Kau di Lau Hou Ci membunuh lima orang tua tiga orang anak muda, merampok buku pusaka ilmu silat yang tiada tara, buku keduanya juga kau rampas dari tubuhku, Kau harus menyerahkannya kembali. Sebelum membereskan permasalahan ini!" Sepasang mata Phei Cen membelalak, dengan pedih berkata, "Pembunuhan lima orang tua dan tiga anak muda di Lao Hou Ci adalah perbuatan Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau. Jangan diperhitungkan denganku. Buku kedua ada disini, ambilah!" dari balik baju dia mengeluarkan setengah buku ilmu silat lalu dia melemparkan ke tanah. Pui Cie mengambilnya dan memasukan kedalam sakunya, dengan suara keras berkata, "Apakah benar semua adalah perbuatan Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau?" "Ya!" "Tapi Ke Co Ing telah kau dorong masuk jurang dan mati disana.." "Ma Gwe Kiau masih hidup!" Pui Cie gigit mulut berkata, "Aku akan mencarinya!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Phei Cen menengadah ke langit sambil tertawa keras lalu badannya gemetar keras. Nam Kong Phang Teng menjerit dan berkata, "Dia sudah memutuskan urat nadinya!" Pui Cie juga tahu kejadian ini tapi sudah tidak keburu mencegah. Mulut dan hidung Phei Cen sudah mengeluarkan darah, tubuhnya kemudian jatuh tertelungkup dan tidak bergerak lagi untuk selamalamanya. Nam Kong Phang Teng tiba-tiba melayangkan tangan, "Aku mau menghancurkan tulangnya untuk dihancurkan menjadi abu!" Pui Cie menahan dengan badannya, "Bibi, jika orang sudah mati maka utang piutangpun menjadi impas, keponakan tadi sudah menyetujui dia mati dengan tubuh utuh." Nam Kong Phang Teng mendongkol sekali. Karena tidak dapat turun tangan. Pui Cie menggunakan tenaga dalamnya, membuat sebuah lubang yang cukup besar di tempat itu untuk mengubur Phei Cen, kuburannya tidak dibuatkan nisan. Sebab seorang pengkhianat dalam aturan perguruan tidak boleh meninggalkan nama. Nam Kong Phang Teng menangis karena sedih, matanya menatap langit dan bergumam sendiri, "kakak Hun, urusan sudah selesai, sekarang kau sudah bisa tenang di alam sana!" habis berkata itu, tiba-tiba dia membalikan badannya kepada Pui Cie, berkata, "Aneh, kenapa Ti Kuang Beng memberontak kepada Phei Cen? Kalau tidak ada bantuannya kita belum tentu bisa berhasil menangkap Phei Cen, sedikitnya Yipha Yauci akan menjadi korban.." Dahi Pui Cie bergerak seperti berpikir, berkata, "Aku juga tidak habis pikir, dia sudah beberapa kali diam-diam membantu aku." Nam Kong Phang Teng berkata, "hanya ada satu kemungkinan, dia masuk ke Shin Kiam Pang mungkin untuk membalas dendam. Tapi dendam ini tidak langsung berhubungan dengan dia. Maka Phei Cen tidak mencurigainya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie berpikir lalu berkata, "Aku harus kembali ke Kuan In Bio. Berbahaya sekali meninggalkan Yipha Yauci yang totokannya belum dibuka, kalau ada orang Shin Kiam Pang datang, dia tak bisa hidup..." Saat ini ada seseorang orang dengan gerakan cepat mendatangi, sesudah dekat baru kelihatan yang datang ternyata adalah Tu Sing Sien. Pui Cie yang merisaukan hidup matinya Yipha Yauci sudah tidak tahan berlama-lama di tempat itu cepat-cepat berkata, " Bibi, aku mau pergi dulu sebentar..." Kuan In Bio sekarang sudah kembali tenang seperti semula lagi, hanya masih banyak mayat-mayat yang tidak terurus di tempat itu. Pui Cie tergesa-gesa menerobos masuk ke ruangan dalam, begitu masuk dia menjadi bengong. Yipha Yauci, Liu Siang E ternyata sudah tidak berada disana, apakah dia sudah bisa membuka totokannya sendiri atau sudah mendapat kecelakaan? Sebuah bayangan biru muncul depan pintu. Pui Cie dapat merasakan, kontan dia mengangkat kepalanya sampai terkejut, berkata, "Oo!" ternyata yang muncul adalah Bo Ta Su Seng, cepat-cepat mendekat, mengangkat tangan dan bersoja, "Adik, kenapa bisa ada kesini?" Bo Ta Su Seng balas bersoja, "Siaute merasa Twako pasti kembali lagi, maka siaute menunggu terus disini!" Pui Cie sudah tidak sabar bertanya, "Aku mau menanyakan tentang nona Liu Siang E?" "Dia sudah pergi!" "Dia tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa." "Apakah adik yang membukakan totokannya?" "O, bukan, tapi seorang Cianpwe yang menolongnya."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Pui Cie spontan terbayang orang tua misterius yang suaranya setiap saat terdengar tapi orangnya tidak pernah muncul itu. Dengan sendirinya dia bertanya, "Cianpwe itu seperti apa?" Bo Ta Su Seng tidak menjawab malah bertanya, "Apakah Twako dan bibi berhasil menggejar Shin Kiam Pangcu?" Pui Cie terkejut berkata, "Bagaimana kau bisa tahu?" Bo Ta Su Seng balik bertanya, "Bagaimana hasilnya?" Pui Cie menghela napas dalm-dalam dengan berat berkata, "Mulai sekarang dunia persilatan takkan ada lagi orang yang disebut Pedang Pertama Sejagat." Bo Ta Su Seng mengangkat alis bertanya, "Bagaimana dengan peristiwa pembunuhan di Lau Hou Ji?" Pui Cie terkejut dengan mata membesar memandang Bo Ta Su Seng lama sekali baru dengan suara keras bertanya, "Adik kau sebenarnya siapa?" Bo Ta Su Seng dengan raut muka menjadi serius berkata, "Twako Pui, siaute akan berterus terang. Pembunuhan yang terjadi di Lau Hou Ji bukankah Twako yang menjadi tersangka. Aku diperintah guruku untuk untuk menyelidiki kasus ini dan mencari pembunuh yang sebenarnya." Berhenti sebentar berkata lagi, "Harap Twako memberi tahu hasilnya." Pui Cie baru sadar ternyata Bo Ta Su Seng sengaja merendahkan diri dan berkenalan dengan dirinya demi menyelidik kasus berdarah ini. Spontan dia bertanya, "Apakah kau murid Khang-Khang Mui?" "Ya!" "Siapa gurumu?..." "Beliau adalah ketua yang sekarang, kakak tentd tidak asing dengan suara orang tua itu." "O!.. Jadi Cianpwe misterius yang hanya terdengar suaranya, tidak tampak orangnya itu.."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ "Benar, ketika Twako didesak oleh Shin Kiam Pangcu sampai jatuh ke jurang, gurulah yang telah mengulurkan rotan." Pui Cie sangat terharu, pelan-pelan berkata, "Tidak disangka... yang menolongku keluar dari jurang adalah gurumu., siapa namanya?" Bo Ta Su Seng tersenyum-senyum berkata, "Maaf, karena terikat oleh peraturan perguruan aku tidak bisa memberi tahu. Masalah.." Pui Cie menarik napas panjang, kemudian menceritakan apa yang dikatakan Phei Cien waktu sekarat. Bo Ta Su Seng dengan mata bersinar lalu berkata, "Orang yang mau mati biasanya berkata jujur, kalau itu benar perbuatan Ke Co Ing dan Ma Gwe Kiau, berarti peristiwa itu memang tidak ada hubungan dengan twako, jadi kami akan urus sendiri." Pui Cie hatinya merasa lega dan berkata, "Betul, Giok Ju Yi itu.." Bo Ta Su Seng dengan wajah muram berkata, "Sudah siaute kembalikan kepada paman gurumu Bo Yu Sien Ce!" Saat itu ada dua orang berturut-turut masuk ke halaman kelenteng. Pui Cie dan Bo Ta Su Seng segera menghampirinya, ternyata yang datang adalah Thu Sing Sien, Nam Kong Phang Teng. Thu Sing Sien berkata-kata dengan keras, "Aku orang tua berlari sampai mau putus rasanya kaki ini demi mencari orang. Lumayan, sekarang semuanya sudah beres!" Pui Cie memberi salam pada tiap orang. Yan Phei Ling maju ke depan berkata, "sute, kau pergilah mengurus masalahmu dengan bibi Theng." Pui Cie tersentak, "Masalah apa?" Nam Kong Phang Teng berkata, "Ada kabar penting yang didapat Suci mu, kita segera berangkat kalau tidak, bisa terlambat." Pui Cie tidak tahu ada masalah penting apa tapi dia terpaksa berpamitan pada semua orang kemudian pergi mengikut Nam Kong Phang Teng. Di jalan Pui Cie tidak tahan bertanya lagi.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Nam Kong Phang Teng yang terdesak menjawab, "Kita pergi menemui Se Kian!" Perasaan Pui Cie mendadak menjadi risau sekali, dengan tidak tenang dia berkata, "Pergi menemui Se Kian?" "Ya!" "Dimana?" "Kho Tek An, kau pun pernah kesana!" Kho Tek An! mukanya Pui Cie mengambang perasaan yang susah, "Apa mungkin.. Se Kian.." "Dia sudah menjadi biarawati, rambutnya sudah habis." Hati Pui Cie sakit seperti tertusuk, Li Se Kian memotong rambutnya lalu pergi meninggalkan rumah. Ternyata benar-benar dia masuk ke biara, drama kesedihan tidak terhindarkan. Apakah ini kesedihannya atau aku? 0-0-0 Kho Tek An, adalah sebuah biara, keadaannya tetap seperti dulu ketika Pui Cie pernah datang, kalau ada perbedaan hanya perasaan orang saja yang berbeda. Bibi dan keponakan itu sudah berdiri di depan biara. Perasan Pui Cie dari kacau menjadi seperti orang linglung, dia merasa takut menemui Li Se Kian. kalau boleh tidak bertemu saja? Dia ingin sekali bersembunyi, bersembunyi di tempat yang tidak ada orang. Setelah mengetuk pintu terdengar ada jawaban dari dalam biara "Krak!" pintu biara terbuka, seluruh tubuh Pui Cie menjadi gemetar. Dari dalam biara keluarlah seorang biarawati muda, yang menundukkan kepala. Kedua belah telapak tangannya menempel di depan dadanya sambil berkata, "Amitaba!" Nam Kong Phang Teng dengan sedih berkata, "Se Kian!" suara menjadi tersendat.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Lie Se Kian menundukkan kepalanya berkata, "Aku sudah menjadi biarawati!" Suara yang gemetar, tiap patah kata seperti jarum menusuk hati Pui Cie. Lie Se Kian pelan-pelan mengangkat kepala memandang kepada Pui Cie. Empat mata bentrok. Roh Pui Cie seperti melayang keluar dari badannya, dia gemetar mulutnya seperti tersumbat. Pandangan yang mengharukan. Dengan suara yang lirih Nam Kong Phang Teng berkata, "Aku yang salah., telah., mencelakai kalian!" Mata Lie Se Kian air matanya mengambang. Dia menahan diri dengan sekuat tenaga, pelan-pelan dia berkata, "Semua sudah menjadi takdir, siapapun tidak dapat disalahkan, kalian berdua sudah datang, kalau aku berkata terus mengenai persoalan lama, tentu tidak akan selesai-selesai. Li Ki Hong juga bernasib buruk, harap tuan muda Nam kong membuka hati menuruti pesan almarhum ibu untuk tinggal selamanya dengan dia. Apakah tuan muda setuju?" Pui Cie terdiam, setelah mencapai suatu keputusan bulat, tidak terasa lagi dia mengangguk. "Amitaba, urusan duniawi sekarang sudah selesai, aku akan merasa tenang menjalani hidup ini." Pintu biara ditutup lagi, orangnya pun menghilang. Pui Cie terhuyung-huyung sepertinya sudah tidak bisa menampung kesedihan yang menimpanya. Orang, kalau sudah masuk biara menjadi beginilah Lama sekali Nam Kong Phang Teng menghela napas, dengan bercucuran air mata berkata, "Anak, Li Ki Hong sudah pulang ke Siang Yang, kau., sekarang juga harus pulang." Dengan tidak ada semangat Pui Cie berkata, "Pulang?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Dengan suara keras Nam Kong Phang Teng berkata, "Kuberitahu padamu sesuatu hal, sebenarnya sekarang Li Ki Hong sekarang sudah hamil dan itu adalah darah daging dari keluarga Nam Kong!" Pui Cie seperti tersambar petir, badannya bergoyang-goyang bergumam, "Apa dia., sudah hamil?..." Saat itu sebuah bayangan manusia muncul, kecil mungil berbaju merah, perlahan-lahan berjalan keluar dari balik pepohonan bambu. Yipha Yauci Liu Siang E, dengan wajahnya yang cantik tampak senyum menyedihkan, dia kelihatan pucat dan lesu. Dia berdiri berhadapan dengan Pui Cie, hati dan tubuh Pui Cie seperti melayang. Untuk apa dia datang? Dengan wajah dingin Nam Kong Phang Teng menyentak, "Liu Siang E, aku pernah mempermgatimu. Kalau kau.." Yipha Yauci seperti mau marah, tapi akhirnya dapat menahan diri, dia berkata, "Bertemu muka satu kali saja apa tidak boleh?" Dengan kasar Nam Kong Phang Teng berkata, "Kalau kau mau menggangu dia lagi aku tidak akan memaafkanmu!" Yipha Yauci memandang Pui Cie berkata, "Kakak Cie, kau pernah berkata menyukaiku. Aku akan ingat selamanya perkataanmu, percintaan kita hanya ada di awal..." Nam Kong Phang Teng menggertak, "Tutup mulutmu, berani benar kau.." Yipha Yauci tidak perduli, dia meneruskan perkataannya, "Entah kapan kita bisa bertemu lagi, semoga bayangan diriku selalu berada didalam hatimu, kuharap kau memberikan satu sisi tempat khusus untuk bayanganku. Jaga dirimu, aku., mau pergi!" Habis berkata, pelan-pelan dia membalikan badannya melangkah pergi. Air mata sudah jatuh sewaktu dia mulai menggerakan kakinya. Pui Cie tidak melihatnya dia menangis, dia ingin sekali memanggilnya, tapi itu hanya ada dalam pikirannya saja. dia tidak punya keberanian, rasanya juga lebih baik begitu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/ Selendang sutra merah melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya yang munggil, akhirnya menghilang di balik pohon bambu. Pui Cie spontan bergumam, "Cinta ada permulaan.. tapi tiada akhir." Nam Kong Phang Teng menghela napas berkata, "Anak, mari kita pulang ke Siang Yang." Pui Cie mengangguk dengan tidak bersemangat. Akhirnya mereka berdua pergi juga. Meninggalkan pintu biara yang sunyi dengan seorang gadis yang tidak beruntung yang telah melepaskan kebahagiaan dunianya. TAMAT Bandung, 25 Mei 2006 Salam hormat ( See Yan Tjin Djin )

http://ebook-dewikz.com/