Anda di halaman 1dari 5

HANYA SEBUAH KADO TITIPAN TUHAN

Karangan ; Rizky Fathurahman S


Kelas :XI-Mipa 4

Pagi seperti biasanya, Putri langkahkan kaki menelusuri lorong lorong koridor sekolah
menapaki jejak menuju kelas. Saat itu hanya ada beberapa siswa yang hilir mudik berjalan santai
menuju kelas masing masing. Terik matahari yang mulai meninggi. Namun, pagi itu tampak
sepi. Langkah Putri yang perlahan berjalan santai agak lambat seakan akan tak berpijak lagi
pada sang bumi. Tibalah Putri dikelas hanya seorang diri lalu segera duduk dikursinya yang
berada di pojok belakang. Matanya agak terlihat sembab, sipit seperti anak cina. Tanpa kata
hanya diam dalam berjuta bahasa. Namun matanya yang berbicara dengan apa yang telah terjadi,
matanya sekali lagi menerawang waktu itu, sebelum terjadi sesuatu yang membuatnya jadi
seperti ini, seperti kehilangan arah untuk hidup, seakan bila awan mendung yang berada di langit
yang memuntahkan air matanya tak lagi menghadirkan cahaya cerahnya mentari, bahkan di saat
air mata langit mulai mereda menetespun tak akan bisa ditemui lagi pelangi, serta waktu pun
mungkin tak terasa berjalan lagi, dan satu hal yang ingin Putri inginkan hanyalah ingin pergi
bersamanya... menyusulnya.... “ huft “ hela nafas Putri.
Masih jelas memori ingatan seperti apa masa masa indah bersamanya, semua tampak begitu
indah, keceriaan yang menghiasi kebersamaan mereka, dan apabila ada duka yang menghampiri
tetap akan hadir keceriaan lagi. Putra, satu nama yang telah beberapa tahun belakangan ini
mengisi hari hari yang Putri lalui. Tapi seketika ibarat pelangi tertutup kabut awan kelabu tanpa
pernah lagi warna warna itu muncul, semenjak bermula satu minggu lalu dimana hari itu telah
terjadi sesuatu pada Putra kekasihnya, Putra mengalami sebuah kecelakaan tertabrak bus yang
sedang melintasi jalan yang mengakibatkan seketika itu juga menghembuskan nafas terakhir,
pergi berada kealam yang berbeda. Putra telah pergi untuk selamanya tanpa pernah ada
kesempatan untuk kembali.
Tanpa Putri sadari, dua sosok cowok sedari tadi telah memperhatikan Putri, salah satu dari
mereka menghampiri Putri sementara yang satunya masih tetap berdiri memantau dari kejauhan.
“ hai ! “ sapa cowok misterius menghampiri Putri.
Tersentak dari lamunan, Putri menatap asal suara dan tanpa di sadari, satu sosok cowok telah
berada duduk disampingnya.
“ kamu siapa ? “ mulai berbicara , Tanya Putri yang agak terkejut akan kehadiran cowok itu.
Sambil tersenyum cowok itupun menjawab. “ aku Rizky, kamu tentu sangat mengenalku Putri. “
Tersentak dari satu sosok yang berada di sebelahnya itu, Putri berusaha mengingat “ siapa dia ?
mengapa bisa mengenal ku ? “ Tanya Putri pada dirinya. “ ah entahlah ! “ Putri pun
membuyarkan fikirannya seakan ingatannya buntu untuk mengingat ingat apapun yang ada.
“ aku mengerti perasaan mu, kehilangan itu satu hal yang menyedihkan. “ ucapnya lembut.
Putri merasa heran dengan sosok cowok tersebut. Seakan cowok itu tahu semua tentang Putri. “
Tapi siapa ? “ satu tanda Tanya yang muncul di dalam benak Putri.
“ apa yang harus kamu mengerti tentang aku ? diri ku dan keadaan ku ? “ ucap Putri agak sinis.
“ karena aku sama seperti mu Putri. Aku pun kehilangan ! “ raut wajah Rizky berubah muram,
Rizky menunduk, Rizky pun mulai bercerita lagi. Sontak membuat Putri menjadi merasa
bersalah atas ucapan yang baru saja Putri lontarkan.
“ aku juga seperti mu Put, aku juga turut merasakan apa yang Ia rasakan, kehilangan..... ! aku tak
bisa mengelak kenyataan. takdir memang terkadang tak seirama dengan apa yang kita inginkan.
Aku tak bermaksud meninggalkannya. Andai dia tahu, aku tak sanggup melihat Ia menangis.
Ingin aku memeluknya, menenangkannya, menghapus kesedihannya dan satu hal yang aku ingin
lakukan. Aku ingin membuat Ia tersenyum. Tapi, hal itu tak bisa tuk aku lakukan untuknya.
Sikapnya seperti kamu saat ini Put, Membuat aku tidak tenang meninggalkannya pergi jauh ! “
ucap Rizky bercerita menerawang lurus kedepan.
“ kenapa kau harus meninggalkannya, jika kau tak ingin melihat kesedihannya ?. “ Tanya Putri
merasa heran.
“ Put, kau tentu akan mengerti dengan sendirinya maksud dari kata yang baru saja aku lontarkan.
“ nada Rizky yang misterius.
Tampak dari kejauhan satu sosok cowok yang melihat Putri dan Rizky. Ia ingin rasanya pergi
mendekat menghampiri lalu memeluk Putri, ada rasa kesedihan yang memilukan melihat Putri
yang seperti itu. Namun dari luar muncul dua cewek masuk kekelas yang sedang tengah
berbincang bincang satu sama lain. Melihat Putri yang sedang duduk, mereka pun menghampiri.
“ Putri ! “ sapa De Pipit lalu mendekat menghampiri Putri. Sontak Putri pun tersentak dan
memandang mereka.
“ kamu yang sabar ya, gak terasa sudah satu minggu kamu baru masuk ke sekolah. Kami kangen
sama kamu, tau...!. “ ucap Rena agak centil mencoba menghibur Putri sambil memeluk
sahabatnya itu.
“ gak ada yang kan abadi Put ! meski dia telah tiada, percayalah ! dia pasti gak akan inginkan
orang yang Ia tinggalkan seperti kamu ini Put, murung gak habis habisnya ! masih ada warna
lain dari cinta yaitu kita sahabat kamu. “ Ucap De Pipit secara hati hati berusaha menghibur.
“ iya Sob, mungkin aku hanya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. “ ucap Putri
menenangkan diri.
Teringat Putri akan sosok Rizky. Putri menelusuri sudut pandangnya kesegala arah. Tampak
bingung raut wajahnya mencari cari satu sosok yang beberapa waktu lalu menemani Putri dan
secepat kilat tanpa disadari dengan waktu yang bersamaan datangnya De Pipit & Rena masuk
kekelas menghampiri Putri. Sosok Rizky telah raib, ditelan bumi hilang entah kemana.
Meninggalkan tanda Tanya yang menggantung.
“ ada apa Put ? apa yang sedang kamu cari ? “ Tanya Rena agak heran.
“ aku mencari Rizky, Ren ! tadi sebelum kalian berada di sini, dia ada. Kalian ada gak ngeliat
dia pergi ? “ Tanya Putri.
“ Rizky ? siapa dia ? kita hanya bertiga dikelas ini, gak ada yang lain. “ jawab Rena
“ ye…….. kamu ini Put, ngelawak ya ? gak lucu deh,,,,, masih pagi tau ! “ celoteh De Pipit.
Putri tak menghiraukan ocehan De Pipit, Putri malah merasa bingung, heran dan terus berusaha
mencari sosok Rizky yang misterius. Datang secara tiba tiba dan pergi tanpa di duga. Putri
melangkahkan kaki keluar teras kelas dari kejauhan Putri melihat Rizky dan satu sosok cowok,
mereka menoleh kearah Putri dengan memandang tanpa ekspresi. Tak ada tawa maupun air
mata. Tatapan yang tak bisa dijelaskan. Perlahan sosok mereka pergi semakin menjauh
menghilang di lorong lorong kelas.
“ hei ! “ sapa De Pipit mengejutkan.
“ oh ya, kenapa ? “ Putri terkejut.
“ masuk yuk, ada sesuatu yang pengen aku sampein nih... “ menarik Putri yang di teras luar
menuju kedalam kelas.
“ Put. “ dengan hati hati kini De Pipit berkata. “ dua hari yang lalu, teman yang di bonceng oleh
Putra meninggal setelah koma beberapa hari di rumah sakit akibat kecelakaan itu. “
“ apa ? “
Putri tak mengetahui tentang hal itu, yang Ia tahu hanyalah kekasihnya. Putri shock pada berita
meninggalnya kekasihnya. Semenjak saat itu tak ada lagi yang Putri tahu, Putri hanya
mengurung dirinya di kamar tanpa mengetahui lagi tentang dunia luar. Baru seminggu setelah
kejadiaan itu Putri pun berhenti menyendiri dan hingga tiba saat ini baru Putri melangkahkan
kaki kesekolah.
“ temannya itu sama seperti kamu Put, Ia punya kekasih. Dan seperti sama yang kamu rasa. “
sambung De Pipit bercerita lagi.
“ aku gak tau tentang temannya itu De, siapa namanya ? “ tanya Putri masih dalam berduka
“ seingat aku Rizky gitu deh namanya… aku juga kurang tahu banyak sih, tapi ets….. tunggu
bentar ! “ De Pipit mengeluarkan hanphone dari saku bajunya lalu mengotak atik dan
memperlihatkan sebuah foto dan menunjuk salah satu dari mereka yang ada didalam foto itu. “
ini dia “ telunjuk tangan De Pipit menunjuk satu sosok yang ada didalam foto tersebut.
Oo..o…,, Putri sontak lagi lagi terkejut, hari yang aneh penuh dengan kejadian yang
membingungkan dengan misteri teka teki penuh tanda Tanya. Foto yang di tunjuk oleh Nindi tak
lain ialah Rizky yang baru beberapa waktu lalu hadir disini menemui Putri. Sosok yang
misterius meninggalkan tanda Tanya di kepala Putri kini sudah terjawab siapa dia. Putri hanya
menahan air mata yang seakan memang telah habis terkuras kering tak berair. Terang saja, hal
ini yang membuat matanya sembab. Keadaan hening walau secara normal suasana saat itu telah
riuh. Tanpa di sadari bel pun telah berbunyi menandakan jam pelajaran pertma akan segera di
mulai.
*****
“ aku juga seperti mu Put, aku juga turut merasakan apa yang Ia rasakan, kehilangan..... ! aku tak
bisa mengelak kenyataan. takdir memang terkadang tak seirama dengan apa yang kita inginkan.
Aku tak bermaksud meninggalkannya. Andai dia tahu, aku tak sanggup melihat Ia menangis.
Ingin aku memeluknya, menenangkannya, menghapus kesedihannya dan satu hal yang aku ingin
lakukan. Aku ingin membuat Ia tersenyum. Tapi, hal itu tak bisa tuk aku lakukan untuknya.
Sikapnya seperti kamu saat ini Put. Membuat aku tidak tenang meninggalkannya pergi jauh ! “
Ucapan Rizky yang pagi tadi masih terngiang di telinga Putri. Entah mengapa, seakan kata kata
itu menyiratkan punya pesan tersendiri untuk Putri. Putri melihat bintang dari jendela kamarnya
menyendiri terus memandangi langit. “ engkau pasti berada di antara bintang itu, Putra. “ ucap
Putri. Tatapan yang merasakan kesepian. Rasa kehilangan itu sampai detik ini pun masih terasa.
Baru saja Putri bersama sama tertawa namun karena waktu, kini Putra pun telah tiada.
Malam pun semakin larut. Jam dinding telah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun rasa
kantuk belum juga menyerang mata Putri. Putri masih menatap langit dengan tatapan hampa
terpaku menerawang dimensi lalu saat saat indah bersama Putra sang kekasihnya. Hingga Putri
pun mulai lelah, beranjak menutup jendela. Putri pun merebahkan badannya di kasur dan mulai
berkelana kealam bawah sadarnya.
Saat itu di mimpinya, Putri tengah berada di taman yang indah, tampak sebuah telaga dan ada
sebuah kursi kecil di tepi telaga, tampak satu sosok cowok yang tak asing lagi bagi Putri. Putri
sangat mengenalnya. Ya, itu adalah Putra kekasihnya. Putri pun berlari menghampiri Putra yang
menyambut kedatangan Putri dengan sunyuman. “aku merindukan mu, aku kesepian tanpa
kehadiran mu.” Sapa manja Putri sambil memeluk Putra.
“aku juga merindukan mu.” Membalas pelukan Putri.
“aku tak ingin melihat kau larut dalam kesedihan, maukah kau berjanji satu hal untuk aku ?
Tanya Putra.
“ apa itu ? “
“ aku ingin kau selalu tersenyum meski tanpa ada aku menemani mu di samping mu ?
berjanjilah pada ku jika kau memang mencintai ku. “ ucap lembut Putra.
“ aku tak bisa Putra, aku tak bisa !. “ air mata Putri perlahan mulai menetes.
“ kamu pasti bisa ! mengertilah tentang hidup. Sadari keadaan ! apa yang ada di dalam hidup ini
hanyalah sebuah titipan, tanpa kita sadari, Tuhan bisa saja mengambilnya. “ kata Putra lembut
menjelaskan.
“ apa ini memang harus aku lakukan Putra ? “
“ iya sayang, tersenyumlah. Aku akan tenang berada diatas sana. Percayalah, aku selalu
mengingatmu. Aku akan merasa sedih jika kau selalu menangis karena kepergian ku. Aku ingin
kamu bisa jadi sosok yang tegar meski tanpa aku. Memang aku tak inginkan adanya perpisahan
di antara kita. Namun, waktulah yang telah memanggil ku sayang…”
Dengan berat hati “ Putra, aku akan mencoba ! .” ucap Putri sambil berusaha menampakkan
senyumannya.
“ aku ingin hati mu rela agar aku bisa tenang sayang. “ kata Putra.
Dari telaga itu, berlabuh sebuah kapal besar entah berasal dari mana. Tampak di atas kapal
terlihat Rizky yang melambaikan tangan kearah Putri dan Putra.
“ sayang aku akan pergi, waktu ku telah menjemput ! ingat pesan ku.”
“ aku ingin ikut bersamamu Putra. Jangan tinggalkan aku,..” rengek Putri.
“ jangan sekarang sayang, percaya yakinkan aku di sana akan selalu menunggu mu.” Putra
kecup kening Putri sebelum beranjak melangkah kan kaki kekapal.
“ sayang, biarkan aku tenang diatas sana tanpa kau usik dengan kesedihan mu karena aku. “ ucap
Putra terakhir kalinya.
Kapalpun perlahan menjauh membawa Putra dan Rizky pergi, ada rasa enggan di hati namun
Putra tak bisa berbuat apa apa terhadap keadaan. Ada tampak kesedihan diraut wajah putra.
Sementara itu Putri dari pinggir telaga terus menerus memanggil manggil Putra “ jangan
tinggalkan aku Putra…… jangan ……….! “ terus saja berteriak hingga Putri pun tersadar
terbangun dari mimpinya itu. Tampak sepucuk surat telah tergeletak berada di sampingnya.
Surat yang entah dari mana, Putri pun membuka untuk segera membacanya.
*****
Putri,,,,,
Terus tampakan selalu senyum mu untuk ku………
Ku tak kan ingin air mata mu menetes memancarkan kesedihan karena diri ku…..
Aku memang bukan jodoh mu di dunia ini,
yakinkanlah ada sesuatuu yang lebih indah dari aku di depan sana menunggu untuk mu……..
Aku mungkin bisa pergi meninggalkan mu……
Tapi tidak cinta ku….
Cinta ini akan tetap ada menanti mu di alam sana…..
Putra
****

Anda mungkin juga menyukai