Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

Urbanisasi merupakan suatu proses yang terjadi pada suatu wilayah menjadi perkotaan atau lebih bersifat kekotaan. Proses urbanisasi yang terjadi di Indonesia sebagian besar terjadi pada kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan Medan. Proses tersebut terjadi pada kota-kota atau wilayah yang berbatasan langsung dengan kota besar. Kota yang berbatasan langsung dengan kota besar DKI Jakarta seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Kota yang berbatasan dengan kota Semarang seperti kota Demak dan Ungaran, serta Kota yang berbatasan dengan kota Surabaya seperti Gresik dan Sidoarjo. Pada umumnya urbanisasi yang terjadi di kota besar atau sekitar kota besar merupakan sesuatu yang biasa terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Perkembangan proses urbanisasi tidak hanya terjadi di kota besar dan di sekitar kota besar. Urbanisasi di negara berkembang juga terjadi di wilayah yang jaraknya cukup jauh dari kota besar. Fenomena Urbanisasi yang terjadi di sekitar kota kecil dan menengah ini terus berlangsung dan dikenal dengan urbanisasi wilayah (regional based urbanization). Urbanisasi yang terjadi di kota kecil dan menengah ini salah satu indikasinya ditunjukkan dengan pertambahan dan pertumbuhan penduduk. Kota kecil merupakan suatu wilayah perkotaan yang jumlah penduduknya kurang dari 100.000 jiwa (Rondinelli, 1983). Menurut Jayadinata, Kota kecil juga merupakan suatu wilayah yang memiliki jumlah penduduk antara 50.000-100.000 jiwa (pulau Jawa) atau 20.000-100.000 jiwa (luar pulau Jawa). Ciri khas penduduk pada kota kecil adalah bermata pencaharian sebagai petani dan profesi yang masih berhubungan dengan pertanian. Terdapat fenomena menarik yang terjadi pada beberapa kota kecil dan menengah di Indonesia. Kota kecil dan menengah tadi, walaupun relatif jauh jaraknya dari kota besar, menunjukkan gejala-gejala urbanisasi yang unik. Kota

kecil yang secara administratif termasuk dalam wilayah kabupaten justru memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih pesat dibandingkan pada pusat kotanya. Penelitian tentang urbanisasi yang berlangsung di kota kecil seperti penelitian yang dilakukan oleh Tommy Firman (1992). Penelitian ini berisi tentang pola spasial pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tahun 1980-1990. Pola spasial pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera tahun 1990-2000 juga dibahas dalam penelitian Firman (1993). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat indikasi terjadinya urbanisasi wilayah di beberapa kabupaten di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, dimana indikasi tersebut diperlihatkan oleh meningkatnya jumlah penduduk perkotaan di beberapa kabupaten dengan tingkat pertambahan dan

pertumbuhan absolut yang lebih tinggi daripada yang terjadi di wilayahwilayah kotanya. Aspek kesehatan lingkungan merupakan salah satu hal yang secara implisit termaksud dalam Millenium Development Goals (MDGs). MDGs, kesepakatan yang lahir pada tahun 2000 dan diprakarsai oleh 189 negara PBB, melingkupi delapan agenda, yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan, mewujudkan pendidikan dasar bagi semua, mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lain, menjamin kelestarian lingkungan, dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Berdasarkan agenda MDGs terlihat bahwa permasalahan kesehatan lingkungan termasuk dalam lingkup tujuan pembangunan milenium. Berdasarkan hal ini, penulis tertarik untuk mengangkat topik tentang Dampak Urbanisasi bagi Kesehatan Perkotaan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 URBANISASI DEFINISI Urbanisasi memiliki pengertian yang berbeda-beda tergantung sudut pandang yang di ambil. Jika dilihat dari segi Geografis, urbanisasi ialah sebuah kota yang bersifat integral, dan yang memiliki pengaruh atau merupakan unsur yang dominan dalam sistem keruangan yang lebih luas tanpa mengabaikan adanya jalinan yang erat antara aspek politik, sosial dan aspek ekonomi dengan wilayah sekitarnya. Berdasarkan pengertian tersebut, urbanisasi memiliki Pandangan inilah yang mejadi titik tolak dalam menjelaskan proses urbanisasi. Urbanisasi dikenal melalui empat proses utama keruangan (four major spatial processes), yaitu: 1) Adanya pemusatan kekuasaan pemerintah kota sebagai pengambil keputusan dan sebagai badan pengawas dalam penyelenggaraan hubungan kota dengan daerah sekitarnya. 2) Adanya arus modal dan investasi untuk mengatur kemakmuran kota dan wilayah disekitarnya. Selain itu, pemilihan lokasi untuk kegiatan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap arus bolak-balik kota-desa. 3) Difusi inovasi dan perubahan yang berpengaruh terhadap aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik di kota akan dapat meluas di kota-kota yang lebih kecil bahkan ke daerah pedesaan. Difusi ini dapat mengubah suasana desa menjadi suasana kota. 4) Migrasi dan pemukiman baru dapat terjadi apabila pengaruh kota secara terus-menerus masuk ke daerah pedesaan. Perubahan pola ekonomi dan perubahan pandangan penduduk desa mendorong mereka memperbaiki keadaan sosial ekonomi.

FAKTOR FAKTOR URBANISASI Menurut Whyne (dalam Daldjoeni, 1998) terdapat faktor faktor yang dapat mendorong urbanisasi, yaitu : 1. Kemajuan di bidang pertanian. Adanya mekanisasi di bidang pertanian mendorong dua hal; pertama tersedotnya sebagian tenaga kerja agraris ke kota untuk menjadi buruh industri; kedua, bertambahnya hasil pertanian untuk menjamin kebutuhan penduduk yang hidupnya dari pertanian. 2. Industrialisasi. Karena industri industri bergantung kepada bahan mentah dan sumber tenaga (misalnya batubara di abad yang lalu), maka pabrik pabriknya didirikan di lokasi di sekitarnya; ini demi murahnya penglolaan. Sekaligus diperlukan tenaga buruh yang banyak, mereka bawa dan bekerja di situ; akhirnya lahir kota yang baru. 3. Potensi pasar. Berkembangnya industri ringan melahirkan kota kota yang menawarkan diri sebagai pasaran hasil diteruskan kepada kawasan pedesaan. Kota kota perdagangan tersebut lalu menarik pekerja pekerja baru dari pedesaan dengan begitu kota bertambah besar. 4. Peningkatan kegiatan pelayanan. Industri tersier dan kuarter tumbuh dan meningkatkan perdagangan, taraf hidup dan memacu munculnya organisasi ekonomi dan sosial. Berbagai jenis jasa tumbuh di perkotaan; hiburan, catering, tata usaha perkantoran dan sebagainya 5. Kemajuan transportasi. Bersama kemajuan komunikasi ini mendorong majunya mobilitas penduduk, khususnya dari pedesaan ke kota kota di dekatnya. 6. Tarikan sosial dan kultural. Di kota banyak hal yang menarik, seperti museum, bioskop, mall dan tempat rekreasi. 7. Kemajuan pendidikan. Tak hanya sekolah sekolah yang menarik kaum muda untuk pindah ke kota. Juga media komunikasi massal yang berpusat di kota seperti surat kabar dan siaran radio makin menyadarkan

masyarakat pedesaan akan pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk sukses dalam usaha 8. Pertumbuhan penduduk alami. Di samping penduduk kota bertambah oleh masuknya urbanisasi, angka kelahiran di kota lebih tinggi dibanding pedesaan; ini akibat kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

2.2 WILAYAH PERKOTAAN (URBAN) DEFINISI Dalam sudut pandang geografi, Bintarto (dalam Djaljoeni, 1998) mengatakan bahwa kota merupakan suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya materialistis. Di samping itu ia juga menulis bahwa kota dapat diartikan sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur unsur alami dan non alami dengan gejala gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan kehidupan yang sifatnya heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah. Indonesia memiliki kriteria tersendiri untuk mendefinisikan suatu wilayah perkotaan, yaitu yang telah dilakukan oleh BPS, dengan melakukan sistem skoring dalam menentukan wilayah perkotaan. Ada tiga persyaratan suatu wilayah (lokalitas) dijadikan sebagai daerah perkotaan, yaitu : 1. 2. 3. Kepadatan penduduk 5000 orang/mm2 Jumlah rumah tangga pertanian 25% Memilki 8 fasilitas perkotaan. Jenis fasilitas untuk menentukan kriteria adalah : Sekolah dasar sederajat, sekolah menengah pertama dan sederajat, sekolah menengah atas dan sederajat, bioskop, rumah sakit, rumah bersalin, puskesmas / klinik, jalan dapat dilalui kendaraan roda empat, telepon / kantor pos, pasar bangunan permanen, pusat perbelanjaan, bank, pabrik, restoran, listrik dan persewaan alat untuk pesta.

MENILAI KEPADATAN PENDUDUK Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan timbulnya masalah permukiman. Masalah permukiman lebih terasa di daerah perkotaan daripada di daerah perdesaan. Masalah perumukiman perkotaan di Indonesia pada saat ini di antaranya adalah tempat tinggal serta lingkungan yang pada umumnya jauh dari syarat-syarat kehidupan keluarga yang layak. Permasalahan permukiman perkotaan yang terjadi terdapat pada kota-kota besar yang dapat menarik tingginya jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang semakin besar mengakibatkan tingginya beban permukiman terhadap kota penyangga. Indikator kepadatan penduduk mempunyai manfaat untuk mengetahui kepadatan penduduk. Yang di interpretasikan sebagai semakin meningkatnya kepadatan penduduk dapat menyebabkan kurangnya keseimbangan antara penduduk dan lingkungan yang mengakibatkan sanitasi lingkungan kurang baik dan penularan penyakit bertambah cepat. Kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi jenis, yaitu kepadatan penduduk kasar, kepadatan penduduk fisiologis, dan kepadatan penduduk agraris. Kepadatan Penduduk Aritmatika (Kasar) Kepadatan penduduk aritmatika adalah jumlah rata-rata penduduk setiap kilometer persegi. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut. Jumlah penduduk suatu wilayah : Luas wilayah = Kepadatan penduduk

Kepadatan Penduduk Fisiologis Kepadatan penduduk fisiologis adalah jumlah penduduk setiap kilometer persegi tanah pertanian. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut. Jumlah penduduk suatu wilayah : Luas tanah pertanian = Kepadatan penduduk fisiologis

Kepadatan Penduduk Agraris Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah penduduk petani setiap kilometer persegi tanah pertanian. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

Jumlah petani suatu wilayah:Luas tanah pertanian = Kepadatan penduduk

2.3 SEHAT DEFINISI Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994) : 1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. 2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal. 3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup. Sehat menurut DEPKES RI, sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Setiap pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.

2.4 DAMPAK URBANISASI BAGI KESEHATAN PERKOTAAN Salah satu isu kependudukan yang penting dan mendesak untuk segera ditangani secara menyeluruh adalah urbanisasi. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Memang, harus diakui, tidak ada negara di era industrialisasi ini dapat mencapai pertumbuhan ekonomi berarti tanpa urbanisasi. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, kesehatan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Namun tidak dapat dipungkiri pula, dampak urbanisasi menciptakan masalah kemiskinan beragam, antara lain tidak tersedianya lapangan pekerjaan, ketidaksiapan infrastruktur, perumahan dan layanan publik. Jumlah penduduk yang semakin meningkat dan penyebaran yang relatif tidak merata membawa pengaruh besar bagi terjadinya perpindahan penduduk antarwilayah. Urbanisasi dapat menambah polusi di daerah perkotaan. Masyarakat yang melakukan urbanisasi baik dengan tujuan mencari pekerjaan maupun untuk memperoleh pendidikan, umumnya memiliki kendaraan. Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang terus menerus membanjiri kota, menimbulkan berbagai pencemaran seperti polusi udara dan polusi suara. Selain itu urbanisasi juga dapat menjadi penyebab bencana alam. Kaum urban yang tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal biasanya menggunakan lahan kosong di pusat kota maupun di pinggiran daerah aliran sungai (DAS) untuk mendirikan bangunan liar, baik untuk pemukiman maupun lahan berdagang. Keadaan ini bisa menjadi salah satu penyebab banjir. Dampak urbanisasi yang biasanya menjadi perhatian adalah masalah kemiskinan dan kesehatan kota. Yang digambarkan melalui wajah perkotaan, dengan sudut-sudut pemukiman kumuh. Dampak yang terkait kesehatan adalah

masalah air bersih dan sanitasi. Berdasarkan laporan UNESCAP, ternyata dua dari tiap lima penduduk kota tinggal di kawasan kumuh atau sekitar empat puluh persen warga di tiap kota. Indonesia bersama Cina dan Filipina adalah tiga negara yang mengalami penurunan secara signifikan, tingkat ketersediaan air bersih bagi warga kota. Dan jelas, akan mengakibatkan kehiduapan yang tidak sehat sehingga rentan terhadap penyakit. Yang paling merasakan dampak ini adalah kaum miskin kota. Berbagai program pemerintah yang ada sebenarnya cukup baik. Akan tetapi, terkadang masih muncul kesan adanya kurang koordinasi antarlembaga yang ada. Meningkatnya urbanisasi menyebabkan lebih dari 43 persen penduduk Indonesia kini tinggal di perkotaan. Diperkirakan angka itu akan meningkat menjadi 60 persen pada tahun 2025. Akibatnya, semua kota kini dan di masa mendatang harus menghadapi beban yang semakin berat dan berbagai dampak negatif urbanisasi berupa antara lain : lingkungan kumuh dan perumahan yang tidak sehat, pencemaran udara, gizi buruk, perilaku tidak sehat, meningkatnya kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit menular, penyakit tidak menular, dan kecelakaan, serta menurunnya kapasitas pelayanan publik, termasuk pelayanan kesehatan. Sementara perkiraan UN Habitat (United Nations Human Settlemen Programme) bahwa 38% dari populasi penduduk perkotaan di negara berkembang tinggal di lingkungan kumuh atau slums area yang notabene adalah keluarga miskin. Total populasi penduduk di negara berkembang (Asia, Afrika dan Amerika Latin) yang tinggal di slums area adalah 126 juta jiwa di benua Afrika, 433 juta jiwa tinggal di benua Asia, dan 87 juta jiwa tinggal di wilayah Amerika Latin (Herr dan Karl, 2002; Herr dan Mboup, 2003; dalam Montgomery, 2004). Berdasarkan sudut pandang kemiskinan perkotaan, kemiskinan dan kesehatan lingkungan merupakan dua buah aspek yang saling terkait. Kemiskinan mengakibatkan kerentanan pada kesehatan lingkungan, dan rendahnya kualitas kesehatan lingkungan mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk lepas dari belenggu kemiskinan yang dideritanya.

Kecenderungan berdasarkan studi Mantra (2002) dengan acuan data sensus penduduk 1990 2000 terlihat bahwa di daerah perkotaan angk pertumbuhan penduduk sebesar 3,67% setiap tahun. Sebaliknya di desa sebesar 0,13% setiap tahun. Ini menunjukkan pertumbuhan daerah perkotaan jauh lebih tinggi dibanding pedesaan. Fenomena ini diduga karena peranan urbanisasi. Pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan dampak negatif yaitu menimbulkan kemiskinan yang akhirnya memberikan konsekuensi terhadap pola kehidupan perkotaan yang jelek seperti pemukiman kumuh dan perilaku hidup sehat. Proses urbanisasi dan krisis ekonomi ternyata juga menyebabkan bertambahnya daerah daerah kumuh (slums). Lingkungan dan pola hidup tidak sehat menyebabkan pertambahan penularan prevalensi penyakit seperti ISPA, diare dan penyakit kulit lainnya. Sebelum terjadinya urbanisasi besar besaran atau sebelum krisis (1997 1998) di Palembang jumlah penderita ISPA 97.900 penderita. Itu naik menjadi 139.026 penderita periode 1998 1999 (sesudah krisis). Kecenderungan ini juga sama terjadi untuk jenis penyakit diare. Sebelum terjadinya urbanisasi besar besaran atau sebelum krisis (1997 1998) di Palembang jumlah penderita diare 22.695 penderita. Itu naik menjadi 28.815 penderita atau sekitar 23,87% pada periode 1998 1999 (sesudah krisis). Memburuknya lingkungan sosial selama urbanisasi dan krisis juga telah menciptakan tempat tempat baru terjadinya wabah demam berdarah (DBD). Namun demikian, walaupun secara faktual telah terjadi kenaikan penderita penyakit (ISPA, diare, dan DBD) ternyata penurunan akses pelayanan kesehatan, karena sulitnya menjangkau daerah daerah kumuh tersebut. Urbanisasi dan krisis ekonomi ternyata juga menyebabkan penurunan konsumsi makanan dan merubah pola makan penduduk, khususnya keluarga miskin.

BAB III KESIMPULAN

1. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. 2. Urbanisasi telah merubah aspek aspek kehidupan masyarakat 3. Dampak urbanisasi menciptakan masalah kemiskinan beragam, antara lain tidak tersedianya lapangan pekerjaan, ketidaksiapan infrastruktur, perumahan dan layanan publik. Jumlah penduduk yang semakin meningkat dan penyebaran yang relatif tidak merata membawa pengaruh besar bagi terjadinya perpindahan penduduk antarwilayah. 4. Urbanisasi dapat menambah polusi di daerah perkotaan dengan semakin banyaknya pengguna kendaraan bermotor di perkotaan. 5. Urbanisasi juga dapat menyebabkan bencana alam seperti banjir karena semakin sedikitnya lahan kosong di perkotaan dan rumah-rumah yang saling berdempetan. 6. Urbanisasi menyebabkan telah terjadinya kenaikan penderita penyakit (ISPA, diare, dan DBD) karena penurunan akses pelayanan kesehatan, yang sulit menjangkau daerah daerah kumuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. Andiantara, Galih. 2010.Urbanisasi dan Dampak Negatif Lingkungan Kota. (Online) (http://galihwe.blogspot.com/2010/01/urbanisasi-dan-dampak-

negatif.html, diakses 28 April 2011) 2. Anggigeo. 2010. Upaya Penanganan Urbanisasi. (Online)

(http://anggigeo.wordpress.com/2010/10/06/upaya-penanganan-urbanisasi/, Diakses 28 April 2011) 3. Jayadinata, T., Johara. 1999. Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan Pedesaan. Penerbit ITB, Bandung. 4. Tjiptoherijanto, Prijono. 2007. Urbanisasi, Mobilitas dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia. (Online) (http//Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia INDONESIA TANAH AIR BETA.htm, diakses 17 Maret 2011) 5. Vina, Ramitha. 2011. Visi Ekonomi Indonesia 2025; Urbanisasi Super Cepat. inilah.com. (Online), (http//Urbanisasi%20Super%20Cepat%20%20ekonomi.inilah.com.htm, diakses 17 Maret 2011) 6. Wikipedia. 2010. Urbanisasi. (Online),

(http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi diakses 28 April 2011) 7. 2009. Urbanisasi dan Morfologi. Semarang: Penerbit Graha Ilmu.