Anda di halaman 1dari 42

KONJUNGTIVITIS Definisi Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi,

atau Radang pada selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis di bedakan menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia.

Anatomi Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari berakhir pada daerah transparan pada mata yaitu kornea. Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas bagian yaitu konjungtiva palpebra dan membran mukosa

tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung melapisi permukaan bola mata dan

konjungtiva bulbaris. !amun, secara letak areanya, konjungtiva ibagi menjadi " area yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal. Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea pada limbus.#ada

konjungtiva palpebra, terdapat dua lapisan epithelium dan menebal secara bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk epithelium berlapis tanpa keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva palpebralis terdiri dari epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. $iba%ah epitel tersebut terdapat lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdiri dari leukosit. Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan bagian bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang dekat pada daerah kornea. &erikut adalah gambaran anatomi dari konjungtiva . 'ambar .(. )natomi Konjungtiva

)liran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan * bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikut i pola arterinya * membentuk jaringjaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. #embuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak.

Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik) nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. +ungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata, dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitas lakrimasi, dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa ekanisme imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk ,g) #ada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua grup besar yaitu -. #enghasil musin a. Sel goblet. terletak diba%ah epitel dan paling banyak ditemukan pada daerah inferonasal. b. Crypts of Henle. terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis superior dan sepanjang sepertiga ba%ah dari konjungtiva tarsalis inferior. c. Kelenjar Manz. mengelilingi daerah limbus. . Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause dan kelenjar /olfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam diba%ah substansi propria. #ada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun karena suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain itu, air mata bukan merupakan medium yang baik. Etiologi Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat0 1 ,nfeksi olah virus atau bakteri 1 Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang 1 ,ritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya. sinar ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari.

Klasifikasi Konjungtivitis, terdiri dari0 -. Konjungtivitis bakterial )kut . Konjungtivitis virus )kut 2. Konjungtivitis alergi 3. Konjungtivitis !eonatorum (. Konjungtivitis iritasi atau kimia Konjungtivitis Bakterial Akut $efinisi #eradangan pada konjungtiva yang disebabkan 4leh Streptokokus, 5orynebacterium diptherica, #seudomonas, neisseria, dan hemophilus.

6erdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial0 akut (dan subakut) dan menahun. #enyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus, Pneumococcus, dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. 7amanya penyakit dapat mencapai memadai. minggu jika tidak diobati dengan

Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. #engobatan dengan salah satu dari sekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa hari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini, $iagnosis 8iperemi Konjungtiva 9dema kelopak dengan kornea yang jernih Kemosis 0 pembengkakan konjungtiva :ukopurulen atau #urulen

#emeriksaan #emeriksaan tajam penglihatan #emeriksaan segmen anterior bola mata Sediaan langsung (s%ab konjungtiva untuk pe%arnaan garam) untuk mengindentifikasi bakteri, jamur dan sitologinya. ,nfeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan. ,nfeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan kuman seperti seprei, kain, dll. #emeriksaan 7aboratorium #ada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui dengan pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan pulasan 'ram atau 'iemsa. pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil polimorfonuklear.Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen, bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik, namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. &ila hasil sensitifitas antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan.

6erapi #rinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. #ada 3 jam pertama obat diteteskan tiap jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 3 kali sehari selama - minggu. #ada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan 6erapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen

mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai dengan terapi topical antimikroba. #ada setiap konjungtivitis purulen, harus dipilih antibiotika yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N meningitides. 6erapi topical dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah materi untuk pemeriksaan laboratorium telah diperoleh. #ada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus dibilas dengan larutan garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. ;ntuk mencegah penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan secara khusus hygiene perorangan. #erjalanan dan #rognosis Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat berlangsung selama -<--3 hari. jika diobati dengan memadai, --2 hari, kecuali konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia dan meningitis. Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan. #encegahan Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudahmembersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

;sahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit. =angan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.

Konjungtivitis Gonore :erupakan radang konjungtiva akut dan hebat disertai dengan sekret purulen. 'onokok merupakan kuman yang sangat patogen, virulen dan bersifat invasif, sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat. ,nfeksi pada neonatus terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran, sedang pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang menderita penyakit tersebut. 'ejala Konjungtiva yang kaku, dan sakit saat perabaan Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar di buka. 6erdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior, sedangkan konjungtiva bulbi merah. #ada stadium supuratif terdapat sekret yang kental.

#emeriksan dan diagnosis #emeriksaan sekret dan pe%arnaan metilen blu dimana dapat terlihat diplokok di dalam sel leukosit. #engobatan #enisilin Salep dn Suntikan pada bayi diberikan (<.<<< ;>kg&& selama ? hari.

konjungtivitis Angular Konjungtivitis )ngular terutama didapatkan di daerah kantus interpalpebra. $isebabkan oleh &asil :ora@ella )@enfeld.

'ejala 9kskoriasi kulit di sekitar daerah meradang Sekret mukopurulen #asien sering mengedip

#engobatan 6etrasiklin dan basitrasin Konjungtivitis muko urulen Konjungtivitis mukopurulen merupakan konjungtivitis dengan gejala umum

konjungtivitis kiataral mukoid yang disebabkan oleh Staphylococcus atau basil Koch /eeks. 'ejala 8iperemi konjungtiva Sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata melekat terutama saat bangun pagi. Konjungtivitis Virus Konjungtivitis !olikuler Virus Akut a"# Demam !aringokonjungtival 6anda dan gejala $emam +aringokonjungtival ditandai oleh demam 2A,2-3< 5, sakit tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. +olikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. :ata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadangkadang sedikit kekeruhan daerah subepitel. Bang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).

7aboratorium $emam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 2 dan kadang * kadang oleh tipe 3 dan C. Dirus itu dapat dibiakkan dalam sel 8e7a dan ditetapkan oleh tes netralisasi. $engan berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara serologic dengan meningkatnya titer antibody penetral virus. $iagnosis klinis adalah hal mudah dan jelas lebih praktis. Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak-anak daripada orang de%asa dan sukar menular di kolam renang berchlor. 6erapi 6idak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri, umumnya dalam sekitar -< hari.

$"# Keratokonjungtivitis E i%emika 6anda dan gejala Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. )%alnya sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. #ada a%alnya pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam (--3 hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Sensai kornea normal. !odus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. 9dema palpebra, kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut. +olikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 3A jam. $apat membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan symblepharon. Konjungtivitis berlangsung paling lama 2-3 minggu. Kekeruhan subepitel terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-bulan namun menyembuh tanpa meninggalkan parut. Keratokonjungtiva epidemika pada orang de%asa terbatas pada bagian luar mata. !amun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare. 7aboratorium Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe A, -E, E, dan 2C

(subgroub $ dari adenovirus manusia). Dirus-virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuclear primer. bila terbentuk pseudomembran, juga terdapat banyak neutrofil. #enyebaran 6ransmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. 7arutan mata, terutama anestetika topical, mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia. Dirus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber penyebaran.

#encegahan &ahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan memakai penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. 5uci tangan secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu keharusan. 6onometer aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati. 6erapi Sekarang ini belum ada terapi spesifik, namun kompres dingin akan mengurangi beberapa gejala. kortikosteroid selama konjungtivitis akut dapat memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari. )gen antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial. &"# Konjungtivitis Virus 'er es Sim leks 6anda dan gejala Konjungtivitis virus herpes simple@ biasanya merupakan penyakit anak kecil, adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. #ada kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik). Konjungtivitisnya folikuler. Desikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. 7aboratorium 6idak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. =ika konjungtivitisnya folikuler, reaksi radangnya terutama mononuclear, namun jika pseudomembran, reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari tempat nekrosis. ,nklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea, jika dipakai fiksasi &ouin dan pulasan #apanicolaou, tetapi

tidak terlihat dengan pulasan 'iemsa. $itemukannya sel * sel epithelial raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic. Dirus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering di atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan. 6erapi =ika konjungtivitis terdapat pada anak di atas - tahun atau pada orang de%asa, umunya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. !amun, antivirus local maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. ;ntuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain kering, meneteskan obat antivirus, dan menutupkan mata selama 3 jam. )ntivirus topical sendiri harus diberikan C * -< hari0 trifluridine setiap jam se%aktu bangun atau salep vida rabine lima kali jam di sehari, atau ido@uridine <,- F, - tetes setiap jam se%aktu bangun dan - tetes setiap selama -< hari atau dengan acyclovir oral, 3<< mg lima kali sehari selama C hari. ;ntuk ulkus kornea, debridmen kornea dapat dilakukan. 7ebih jarang adalah pemakaian vidarabine atau ido@uridine. )ntivirus topical harus dipakai C--< hari. #enggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan, karena makin memperburuk infeksi herpes simple@ dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh sendiri yang singkat menjadi infeksi yang sangat panjang dan berat. %"# Konjungtivitis 'emoragika Akut 9pidemiologi Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic besar konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. #ertama kali diketahui di 'hana dalam tahun -E"E. Konjungtivitis ini disebabkan oleh co@ackie virus ) 3. :asa inkubasi virus ini pendek (A3A jam) dan berlangsung singkat ((-C hari).

%aktu malam. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep acyclovir 2F lima kali sehari

6anda dan 'ejala :ata terasa sakit, fotofobia, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air mata, merah, edema palpebra, dan hemoragi subkonjungtival. Kadang-kadang terjadi kemosis. 8emoragi subkonjungtiva umumnya difus, namun dapat berupa bintik-bintik pada a%alnya, dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar ke ba%ah. Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati preaurikuler, folikel konjungtiva, dan keratitis epithelial. ;veitis anterior pernah dilaporkan, demam, malaise, mialgia, umum pada (F kasus. #enyebaran Dirus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh fomite seperti sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan air. #enyembuhan terjadi dalam (-C hari 6erapi 6idak ada pengobatan yang pasti. (#) Konjungtivitis Imunologik *Alergik" Reaksi 8ipersensitivitas 8umoral 7angsung (#+ Konjungtivitis Ato ik 6anda dan gejala Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. 6epian palpebra eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. 6erdapat papilla halus, namun papilla raksasa tidak berkembang seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior. &erbeda dengan papilla raksasa pada keratokonjungtivitis vernal, yang terdapat di tarsus superior. 6anda-tanda kornea yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulangkali. 6imbul keratitis perifer superficial yang diikuti dengan vaskularisasi. #ada kasus berat, seluruh kornea tampak kabur dan bervaskularisasi, dan ketajaman penglihatan.

&iasanya ada ri%ayat alergi (demam jerami, asma, atau ecGema) pada pasien atau keluarganya. Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopic sejak bayi. #arut pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering ditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung berlarut-larut dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi. Seperti keratokonjungtivitis vernal, penyakit ini cenderung kurang aktif bila pasien telah berusia (< tahun. 7aboratorium Kerokan konjungtiva menampakkan eosinofil, meski tidak sebanyak yang terlihat sebanyak pada keratokonjungtivitis vernal. 6erapi )tihistamin oral termasuk terfenadine ("<-- < mg @ sehari), astemiGole (-< mg empat kali sehari), atau hydro@yGine ((< mg %aktu tidur, dinaikkan sampai << mg) ternyata bermanfaat. 4bat-obat antiradang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan iodo@amid, ternyata dapat mengatasi gejala pada pasien-pasien ini. #ada kasus berat, plasmaferesis merupakan terapi tambahan. #ada kasus lanjut dengan komplikasi kornea berat, mungkin diperlukan transplantasi kornea untuk mengembalikan ketajaman penglihatannya.

(#, Konjungtivitis Iatrogenik -em$erian O$at To ikal Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik infiltrate, yang diikuti pembentukan parut, sering kali terjadi akibat pemberian lama dipivefrin, miotika, ido@uridine, neomycin, dan obat-obat lain yang disiapkan dalam bahanpenga%et atau vehikel toksik atau yang menimbulakan iritasi. #erak nitrat yang diteteskan ke dalam saccus conjingtiva saat lahir sering menjadi penyebab konjungtivitis kimia ringan. =ika produksi air mata berkurang akibat iritasi yang kontinyu, konjungtiva kemudian akan cedera karena tidak ada pengenceran terhadap agen yang merusak saat diteteskan kedalam saccus conjungtivae.

Kerokan konjungtiva sering mengandung sel-sel epitel berkeratin, beberapa neutrofil polimorfonuklear, dan sesekali ada sel berbentuk aneh. #engobatan terdiri atas menghentikan agen penyebab dan memakai tetesan yang lembut atau lunak, atau sama sekali tanpa tetesan. Sering reaksi konjungtiva menetap sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya setelah penyebabnya dihilangkan. (#+#( alergi. Konjungtiva banyak sekali mengandung sel dari sistem kekebalan (mast sel) yang melepaskan senya%a kimia (mediator) dalam merespon terhadap berbagai rangsangan (seperti serbuk sari atau debu tungau) . :ediator ini menyebabkan radang pada mata, yang mungkin sebentar atau bertahan lama. Sekitar <F dari orang memiliki tingkat mata merah alergi. $iagnosis $itemukan adanya tanda-tanda radang konjungtiva $itemukan adanya giant papil pada konjungtiva palpebra superior $itemukan adanya tantras dot pada limbus kornea Kadang disertai shield ulcer &ersifat kumat-kumatan Konjungtivitis Vernalis suatu inflamasi mata bagian luar yang bersifat musiman dan dianggap sebagai suatu

'ejal dan6anda 0 6erapi :ata merah (biasanya rekuren) Kadang disertai rasa gatal yang hebat )danya ri%ayat alergi )danya hipertrofi papil difus pada konjungtiva tersal terutama superior )danya penebalan limbus dengan tantras dot $ischarge mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder

Kasus ringan 0 terapi edukasi (menghindari allergen, kompres dingin, ruangan sejuk, lubrikasi, alomide) Kasus sedang-berat 0 mast cell stabiliGer (cromolin sodium 3F alomide), antiinflamasi steroid topika (ketorolac <,(F), kortikosteroid topical atau agen modulator siklosporin. #ada pasien denga sheld ulcer bias diberikan sikloplegik yang agresif (atropine -F, homatropin (F, atau skopolamin <, (F) dan antibiotic topikal $apat diberikan antihistamin sistemik. (#+#. Konjungtivitis -ekerjaan ole/ Ba/an Kimia %an Iritans )sam, alkali, asap, angin, dan hamper setiap substansi iritan yangmasuk ke saccus conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. &eberapa iritan umum adalah pupuk, sabun, deodorant, spray rambut, tembakau, bahan-bahan make-up, dan berbagai asam dan alkali. $i daerah tertentu,asbut (campuran asap dan kabut) menjadi penyebab utama konjungtivitis kimia ringan. ,ritan spesifik dalam asbut belum dapat ditetapkan secara positif, dan pengobatannya non-spesifik. 6idak ada efek pada mata yang permanen, namun mata yang terkena seringkali merah dan terasa mengganggu secara menahun. #ada luka karena asam, asam itu mengubah sifat protein jaringan dan efek langsung. )lkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat menyusup kedalam jaringan dan menetap di dalam jaringan konjungtiva. $isini mereka terus menerus merusak selama berjamjam atau berhari-hari lamanya, tergantung konsentrasi molar alkali tersebut dan jumlah yang masuk. #erlekatan antara konjungtiva bulbi dan palpebra dan leokoma kornea lebih besar kemungkinan terjadi jika agen penyebabnya adalah alkali. #ada kejadian manapun, gejala utama luka bahan kimia adalah sakit, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan blefarospasme. Ri%ayat kejadian pemicu biasanya dapat diungkapkan. #embilasan segera dan menyeluruh saccus conjungtivae dengan air atau larutan garam sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara mekanik. =angan memakai antidotum kimia%i. 6indakan simtomatik umum adalah kompres dingin selama < menit setiap salep mata), pemberian antihistamin (topical levokabastin, emestadine), vasokonstriktor (phenileprine, tetrahidroloGine), mast cell stabiliGer (cromolin sodium 3F

jam, teteskan atropine -F dua kali sehari, dan beri analgetika sistemik bila perlu. Konjungtivitis bacterial dapat diobati dengan agen antibakteri yang cocok. #arut kornea mungkin memerlukan transplantasi kornea, dan symblepharon mungkin memerlukan bedah plastic terhadap konjungtiva. 7uka bakar berat pada kojungtiva dan kornea prognosisnya buruk meskipun dibedah. !amun jika pengobatan memadai dimulai segera, parut yang terbentuk akan minim dan prognosisnya lebih baik.

-TE0IGIU1 I# DE!ENISI #terigium merupakan kelainan yang paling sering terjadi pada mata yang patogenesisnya masih belum jelas.#terigium (7. #terygion H sayap) adalah suatu proses degeneratif dan hiperplastik dengan fibrovaskular berbentuk segitiga (sayap) yang muncul pada konjungtiva, tumbuh terarah dan menginfiltrasi permukaan kornea antara lain lapisan stroma dan membrana &o%man.#terigium pertama kali ditemukan oleh Susruta (,ndia) dokter ahli bedah mata pertama di dunia -<<< tahun sebelum masehi.#terigium dapat bervariasi bentuknya dari yang kecil, lesi atrofi sampai lesi fibrovaskular besar yang tumbuh agresif dan cepat yang dapat merusak topografi kornea, dan yang selanjutnya, mengaburkan bagian tengah optik kornea. $ulu penyakit ini dianggap sebagai suatu kondisi degeneratif, pterigium juga menampilkan ciri-ciri seperti tumor, seperti kecenderungan untuk menginvasi jaringan normal dan tingkat rekurensi yang tinggi setelah reseksi, dan dapat hidup berdampingan dengan lesi premalignan sekunder.&anyak literatur melaporkan faktor-faktor etiologi berikut yang mungkin menjadi penyebab terjadinya pterigium0 radiasi ultraviolet (;D), radang mata kronis, efek toksik Gat kimia. &aru-baru ini, beberapa virus juga memiliki kemungkinan sebagai salah satu faktor etiologi. II# E-IDE1IO2OGI DAN INSIDENS #terigium merupakan kelainan mata yang umum di banyak bagian

dunia, dengan prevalensi yang dilaporkan berkisar antara <,2F- EF. Studi epidemiologis menemukan adanya asosiasi terhadap paparan sinar matahari yang kronis, dengan meningkatnya prevalensi geografis dalam peri-khatulisti%a garis lintang 2C< utara dan selatan khatulisti%a Isabuk pterigiumI. 8al yang jarang terjadi untuk seseorang menderita pterigium sebelum usia < tahun. #asien lebih dari dari 3< tahun memiliki prevalensi tertinggi untuk terjadinya pterigium, sementara

pasien berusia <-3< tahun dilaporkan memiliki insiden tertinggi terjadinya pterigium.8al yang berbeda dengan beberapa studi dimana pterigium ditemukan lebih banyak pada laki-laki. III# ANATO1I KONJUNGTIVA Konjungtiva adalah membran mukosa tembus cahaya yang melapisi permukaan aspek posterior dari kelopak mata dan anterior bola mata. !ama konjungtiva (conjoin0 bergabung) diberikan kepada membran mukosa ini karena fakta bah%a ia menhubungkan bola mata dengan kelopak mata. :embentang dari pinggir kelopak mata ke limbus, dan membungkus ruang kompleks yang disebut sakus konjungtiva yang terbuka di depan fisura palpebral. Konjungtiva dapat dibagi menjadi 2 bagian ('am. -)0 Konjungtiva al e$ralis. &agian ini melapisi permukaan dalam kelopak mata dan melekat kuat pada tarsus. Konjungtiva palpebralis terbagi 2 yakni konjungtiva marginal, tarsal, orbital.Konjungtiva membentang dari tepi kelopak mata sekitar marginal mm pada bagian belakang kelopak sampai ke alur

dangkal, yakni sulkus subtarsalis. &agian ini sebenarnya Gona transisi antara kulit dan konjungtiva lebuih tepatnya. Konjungtiva tarsal tipis, transparan dan banyak mengandung vaskular. &agian ini melekat kuat pada seluruh tarsal kelopak mata atas. #ada kelopak mata ba%ah, hanya melekat pada setengah bagian tarsal. Konjungtiva orbital terletak longgar antara tarsal dan forniks. Konjungtiva $ul$aris. melekat longgar pada sclera dan melekat lebih erat pada limbus kornea. $i sana epitel konjungtiva bergabung dangan epitel kornea.bagian ini dipisahkan dari sklera anterior oleh jaringan episcleral dan kapsul 6enon. 6erdapat sebuah dataran tinggi 2-mm dari konjungtiva bulbaris sekitar kornea disebut konjungtiva limbal. Konjungtiva forni3, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. 7ain halnya dengan konjungtiva palpebra yang melekat erat pada struktur sekitarnya, konjungtiva forni@ ini melekat secaralonggar dengan struktur diba%ahnya yaitu fasia muskulus levator palpebra superior serta muskulus rektus. Karena perlekatannya bersifat longgar, maka konjungtiva forni@ dapat bergerak bebas bersama bola mata ketika otot-otot tersebut berkontraksi. Secara histologis, konjungtiva terdiri dari tiga lapisan yaitu epitel, lapisan adenoid, dan lapisan fibrosa.

-.

E itel# 7apisan sel epitel di konjungtiva bervariasi pada masing-masing daerah dan dalam bagian-bagian sebagai berikut0 Konjungtiva marginal memiliki ( lapis epitel sel gepeng bertingkat. Konjungtiva tarsal memiliki lapis epitel0 lapisan superficial terdiri dari sel-sel silinder dan lapisan dalam terdiri dari sel-sel datar. Konjungtiva forniks dan bulbaris memiliki 2 lapis epitel0 lapisan superfisial terdiri dari sel silindris, lapisan tengah terdiri dari sel polyhedral dan lapisan dalam terdiri dari sel kubus. 7imbal konjungtiva memiliki lagi lapisan yang banyak (( sampai " lapis) epitel berlapis gepeng.

2a isan a%enoi%. 7apisan ini disebut juga lapisan limfoid dan terdiri dari jaringan ikat halus dengan jerat dimana terdapat perkembangannya di forniks. 7apisan

retikulum

limfosit. 7apisan ini paling pesat

ini tidak ditemukan ketika bayi lahir tapi akan

berkembang setelah 2-3 bulan a%al kehidupan. 8al ini menjelaskan bah%a peradangan konjungtiva pada bayi tidak menghasilkan reaksi folikuler. 2. 2a isan fi$rosa. 7apisan ini terdiri dari serat kolagen dan serat elastis. 7apisan ini lebih tebal dari lapisan adenoid, kecuali di daerah konjungtiva tarsal, di mana lapisan ini sangat tipis. 7apisan ini mengandung pembuluh dan saraf dari konjungtiva. 7apisan ini bersatu dengan mendasari kapsul 6enon di daerah konjungtiva bulbar. Konjungtiva berisi dua jenis kelenjar, yakni kelenjar sekresi musin dan kelenjar lakrimalis aksesoris. Kelenjar ini terdiri dari sel goblet (kelenjar uniseluler yang terletak di dalam epitel), 5rypts of 8enle (terdapat di konjungtiva tarsal) dan kelenjar :anG (ditemukan dalam konjungtiva limbal). Kelenjar-kelenjar ini mensekresi mucus yang penting untuk membasahi kornea dan konjungtiva. Kelenjar lakrimalis aksesoris terdiri dari0 Kelenjar Krause (terdapat pada jaringan ikat subconjunctival forniks, sekitar 3 buah di atas forniks dan A buah di ba%ah forniks) dan kelenjar /olfring (terdapat di sepanjang batas atas tarsus superior dan sepanjang batas ba%ah tarsus inferior).

Gam$ar 4# Konjungti a terdiri dari !onjungti a bulbaris, !onjungti a forni!s, !onjungti a palpebralis.

Gam$ar (# "as!ularisasi Konjungti a #lica semilunaris merupakan lipatan seperti bulan sabit ber%arna merah muda dari konjungtiva yang terdapat di kantus medial. &atas bebas lateralnya berbentuk cekung. Korunkula

adalah massa kecil, oval, merah muda, terletak di canthus bagian dalam. #ada kenyataannya, massa ini merupakan potongan modifikasi kulit dan ditutupi dengan epitel gepeng bertingkat dan berisi kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan folikel rambut. )rteri yang memperdarahi konjungtiva berasal dari tiga sumber yakni arkade arteri perifer palpebra, arkade arteri marginal kelopak mata, dan arteri ciliaris anterior ('am. ). Konjungtiva palpebralis dan forniks diperdarahi oleh cabang-cabang dari arkade arteri perifer dan marginal palpebra. Konjungtiva bulbar diperdarahi oleh dua set pembuluh darah yaitu0 arteri konjungtiva posterior yang merupakan cabang dari arteri kelopak mata, dan arteri konjungtiva anterior yang merupakan cabang dari arteri ciliaris anterior. 5abang terminal arteri konjungtiva posterior membentuk anastomosis dengan arteri konjungtiva anterior dan membentuk arkade pericorneal. Dena konjungtiva bermuara ke dalam vena pleksus kelopak mata dan beberapa mengelilingi kornea dan bermuara ke vena ciliaris anterior. Sistem limfatik konjungtiva tersusun dalam dua lapisan, yakni superficial dan profunda. Sistem ini dari sisi lateral bermuara ke limfonodus preaurikuler dan sisi medial bermuara ke limfonodus submandibular. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit. IV# ETIO2OGI 9tiologi pterigium sepenuhnya diketahui. 6etapi penyakit ini lebih sering pada orang tinggal di iklim panas. 4leh karena itu, anggapan yang paling mungkin adalah pengaruh efek berkepanjangan faktor lingkungan seperti terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet), panas, angin tinggi dan debu. &aru-baru ini, beberapa virus juga memiliki disebut-sebut sebagai faktor etiologi mungkin. 9fek merusak dari sinar ;D menyebabkan penurunan sel induk limbal pada kornea, yakni menyebabkan terjadinya insufisiensi limbal. 8al ini mengaktifkan faktor pertumbuhan jaringan yangmenginduksi angiogenesis dan proliferasi sel. Radiasi cahaya ;D tipe& menjadi faktor lingkungan yang paling signifikan dalam patogenesis pterigium. #enelitian terbaru pterigium. telah melaporkan bah%a gen p(2 dan human papillomavirus dapat juga terlibat dalam patogenesis

V#

K2ASI!IKASI #terigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe, stadium,

progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera, yaitu0 -. &erdasarkan tipenya pterigium dibagi atas 20 6ipe ,0 #terigium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. 7esi meluas J mm dari kornea. Stoc!er#s line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. 7esi sering asimptomatis, meskipun sering mengalami inflamasi ringan. #asien yang memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat. 6ipe ,,0 disebut juga pterigium tipe primer advanced atau pterigium rekuren tanpa keterlibatan Gona optic. #ada tubuh pterigium sering nampak kapiler-kapiler yang membesar. 7esi menutupi kornea sampai 3 mm, dapat primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmat. 6ipe ,,,0 pterigium primer atau rekuren dangan keterlibatan Gona optic. :erupakan bentuk pterigium yang paling berat. Keterlibatan Gona optic membedakan tipe ini dengan tipe yang lain. 7esi mengenai kornea K3mm dan mengganggu aksis visual. 7esi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan.

. &erdasarkan stadium pterigium dibagai ke dalam 3 stadium yaitu0 Stadium - 0 invasi minimum, pertumbuhan lapisan yang transparan dan tipis, pertumbuhan pembuluh darah yang tipis hanya terbatas pada limbus kornea. Stadium 0 lapisan tebal, pembuluh darah profunda tidak kelihatan dan menginvasi kornea tapi belum mencapai pupil. Stadium 20lapisan tebal seperti daging yang menutupi pupil, vaskularisasi yang jelas Stadium 30 pertumbuhan telah mele%ati pupil. yaitu0

2. &erdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi

#terigium progresif0 tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrate di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium) #terigium regresif0tipis,atrofi, sedikit vaskular. )khirnya menjadi bentuk membrane, tetapi tidak pernah hilang.

3. &erdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus diperiksa dengan slitlamppterigium dibagi 2 yaitu0 VI# 6-(atrofi)0pembuluh darah episkleral jelas terlihat. 6 (intermediet)0pembuluh darah episkleral sebagian terlihat. 62(fleshy,opaLue)0pembuluh darah tidak jelas.

-ATO!ISIO2OGI :eskipun paparan sinar ultraviolet kronis memainkan peran utama, patogenesis

pterigium belum sepenuhnya dipahami. ,nfeksi virus, mekanisme imunologi, remodeling matriks ekstraseluler, faktor pertumbuhan, sitokin, antiapoptotic mekanisme, dan faktor angiogenik berbagai semuanya telah terlibat dalam pathogenesis.#atogenesis pterigium ditandai dengan degenerasi kolagen dan elastotic proliferasi fibrovaskular yang menutupi epitel.Radiasi sinar ;D dapat menyebabkan mutasi pada gen seperti gen supresor tumor p(2, sehingga berakibat pada terekspresinya gen ini secara abnormal pada epitel pterigium. 6emuan ini menunjukkan bah%a pterigium bukan hanya lesi degeneratif, tetapi bisa menjadi manifestasi dari proliferasi sel yang tak terkendali. :atriks metalloproteinase (::#) dan jaringan inhibitor ::#s (6,:#s) pada pinggir pterigium mungkin bertanggung ja%ab untuk proses inflamasi, tissue remodeling, dan angiogenesis yang menjadi ciri pterigium, serta perusakan lapisan &o%man dan invasi pterigium ke dalam kornea.Sinar ;D menyebabkan mutasi pada gene suppressor tumor 6#(2 di sel basal limbal dan fibroblast elastic gene di epitel limbal (gambar 2). Karen kerusakan pada program apoptosis p(2 oleh sinar ;D, mutasi juga terjadi pada gen lainnya. 8al ini menyebabkan multistep perkembangan pterigium dan tumor sel limbal oleh ekspresi p(2 pada sel epitel limbal. :utasi pada gen 6#(2 atau family 6#(2 pada sel basal limbal juga menyebabkan terjadinya produksi berlebih dari 6'+-M melalui jalur p(2-Rb-6'+-M. 4leh karena itu, pterigium merupakan tumor secreting $%&'(. &anyaknya sekresi 6'+-M oleh sel pterigium dapat menjelaskan macam-macam perubahan jaringan dan ekspresi ::# yang terjadi pada pterigium. #ertama, sel pterigium (sel epitel basal limbal) menghasilkan peningkatan ::#- , ::#-E,

:6,-::#, dan :6 -::#, yang menyebabkan terputusnya perlekatan hemidesmosom. )%alnya, sel pterigium akan bermigrasi secara sentrifugal ke segala arah menuju ke adjacent dan limbal corneal, limbus, dan membrane konjungtiva. Karena produksi 6'+-M oleh sel ini, terjadi penipisan jumlah lapisan pada daerah di atas, dan tidak ada massa tumor yang nampak tapi sebagai tumor yang tidak kelihatan. Selanjutnya, setelah perubahan pada seluruh sel basal limbus berkembang dan semua hemidesmosom lepas dari sel-sel ini, terjadi migrasi sel ke kornea diikuti oleh epitel konjungtiva, yang mengekspresikan " jenis ::# dan berkontribusi terhadap penghancuran lapisan bo%man pada kornea. Sebagai tambahan, 6'+-M yang diproduksi oleh sel pterigium menyebabkan peningkatan monosit dan pembuluh darah kapiler dalam lapisan epitel dan stroma. Kemudian, sekelompok fibroblast normal berkumpul diba%ah invasive epitel limbus di depan tepi yang rusak dari lapisan &o%man dan diaktivasi oleh jalur 6'+-M-b+'+ untuk memproduksi ::#-- dan ::#-2 yang juga membantu dalam penghancuran lapisan bo%man. &eberapa sitokin-sitokin ini mengaktivasi fibroblast untuk bermigrasi untuk membentuk pulau kecil fibroblast yang memproduksi ::# - dan juga berperan dalam penghancuran membran bo%man.Semua proses di atas dapat dilihat pada gambar. 3.

Gam$ar .. Kemung!inan jalur yang berperan dalam proses munculnya pterigium

Gam$ar 5# Patogenesis in asif pterigium 6seng dkk juga berspekulasi bah%a pterigium mungkin dapat terjadi pada daerah yang kekurangan limbal stem cell. 7imbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. #ada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi conjungtivaliGation pada permukaan kornea. 'ejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi inflamasi kronis, kerusakan membrane mbuhan jaringan fibrotic. 6anda ini juga ditemukan pada pterigium dan karena itu banyak penelitian menunjukkan bah%a pterigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localiGed interpalpebral limbal stem cell. Kemungkinan akibat sinar ;D terjadi kerusakan stem cell di daerah interpalpebra.

Gam$ar 6# ). Patogenesis pterigium* !erusa!an limbal fo!al oleh !arena sinar +" memicu migrasi mutasi limbal stem cell !e central !ornea. ,. defisiensi limbal stem cell menyebab!an conjungti alization !ornea dari segala arah #atogenesis pterigium bisa bisa melibatkan respon inflamasi, seperti sejumlah besar limfosit infiltrasi sebagian besar sel-6 (5$2 N), ditemukan di substantia propria spesimen pterigium. 8asil ini menunjukkan bah%a mekanisme imunologi, mungkin dari tipe hipersensitivitas -, 2 dan 3 dapat berkontribusi pada patogenesis pterigium. VII# GA1BA0AN K2INIS #terigium lebih sering terjadi pada pria tua yang melakukan pekerjaan di luar rumah. #trygium mungkin terjadi unilateral atau bilateral. #enyakit ini muncul sebagai lipatan segitiga konjungtiva yang mencapai kornea, biasanya di sisi nasal. tetapi juga dapat terjadi di sisi temporal. $eposisi besi kadang-kadang terlihat pada epitel kornea anterior disebut garis Stocker. #terigium terdiri dari tiga bagian )peks (bagian apikal pada kornea), 5ollum (bagian limbal), dan 5orpus (bagian scleral) membentang antara limbus dan yang canthus

#terigium hanya akan bergejala

ketika bagian kepalanya menginvasi bagian tengah

kornea. Kekuatan tarikan yang terjadi pada kornea dapat menyebabkan astigmatisme kornea. #terigium lanjut yang menyebabkan skar pada jaringan konjungtiva juga dapat secara perlahanlahan mengganggu motilitas okular, pasien kemudian akan mengalami penglihatan ganda atau diplopia.

Gam$ar )# Pterigium VIII# DIAGNOSIS Anamnesis #ada anamnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah, gatal, mata sering berair, gangguan penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya ri%ayat mata merah berulang, ri%ayat banyak bekerja di luar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi, serta dapat pula ditanyakan ri%yat trauma sebelumnya. -emeriksaan fisik #ada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskuler pada permukaan kojungtiva. #terigium dapat memberikan gambaran vaskular dan tebal tetapi ada juga pterigium yangb avaskuler dan flat. #terigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea nasal, tetapi dapat pula ditemukan pterigium pada daerah temporal.

-emeriksaan enunjang

#emeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme ireguler yang di sebabkan oleh pterigium. I7# -ENATA2AKSANAAN Karena kejadian pterigium berkaitan dengan aktivitas lingkungan, penanganan pterigium asimptomatik atau dengan iritasi ringan dapat diobati dengan kacamata sinar ;D-blockking dan salep mata. )njurkan pasien untuk menghindari daerah berasap atau berdebu sebisa mungkin. #engobatan pterigium yang meradang atau iritasi dengan topikal dekongestan atau kombinasi antihistamin dan atau kortikosteroid topikal ringan empat kali sehari. &edah eksisi adalah satu-satunya pengobatan yang memuaskan, yang dapat diindikasikan untuk0 (-) alasan kosmetik, ( ) perkembangan lanjutan yang mengancam daerah pupil (sekali pterigium telah mencapai daerah pupil, tunggu sampai melintasi di sisi lain), (2) diplopia karena gangguan di gerakan okular. 6ujuan utama pembedahan adalah untuk sepenuhnya mengeluarkan pterigium dan untuk mencegah terjadinya rekurensi.&erbagai teknik bedah yang digunakan saat ini untuk pengelolaan pterigium. -. ,are sclera 0 bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva dengan permukaan sclera. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat mencapai 3<-C(F. . Simple closure0 menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka, dimana teknik ini dilakukan bila luka pada konjungtiva relative kecil. 2. Sliding flap 0 dibuat insisi berbentuk huruf 7 disekitar luka bekas eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap. 3. -otational flap0 dibuat insisi berbentuk huruf ; disekitar luka bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi. (. Conjungti al graft0 menggunakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior, dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan.

Rekurensi menjadi masalah setelah dilakukan bedah eksisi yakni sekitar 2<-(<F. 6api hal ini dapat di minimalisir dengan cara berikut0 -. #enggunaan mitomicin 5 intra dan post operasi . #ost poerasi beta iradiasi 2. 5onjungtival autograft 3. 7imbal and limbal*conjunctival transplantation (. )mniotic membrane transplantation ". 5ultivated conjunctival transplantation C. 7amellar keratoplasty A. +ibrin glue 7# DIAGNOSIS BANDING #terigium harus dibedakan dari pseudopterigium. #seudopterigium

adalah lipatan konjungtiva bulbar yang melekat pada kornea. 8al ini terbentuk karena adhesi dari konjungtiva bulbar dengan ulkus kornea marjinal. 8al ini biasanya terjadi pada luka bakar akibat Gat kimia pada mata. Selain itu pterigium juga didiagnosis banding dengan pingekulum yang merupakan lesi kuning keputihan pada konjungtiva bulbar di daerah nasal atau temporal limbus. 6ampak seperti penumpukan lemak bisa karenairitasi maupun karena air mata yang kurang baik. #ada umumnya tidak diperlukan terapi tetpi pada kasus tertentu dapat diberikan steroid topikal. 7I# KO1-2IKASI Komplikasi pterigium meliputi iritasi, kemerahan, diplopia, distorsi penurunan visus dan skar pada konjungtiva , kornea dan otot rektus medial. Komplikasi pasca operasi termasuk infeksi, diplopia dan terbentuknya jaringan parut. Retina detachment, perdarahan vitreous dan perforasi bola mata meskipun jarang terjadi. Komplikasi pasca operasi akhir radiasi beta pterygia dapat meliputi0 Scleral dan > atau kornea yang menipis atau ektasia dapat muncul beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun setelah pera%atan. &eberapa kasus bisa sangat sulit untuk ditangani.

Komplikasi yang paling umum dari operasi pterigium adalah rekurensi. &edah eksisi sederhana memiliki tingkat rekurensi tinggi sekitar (<-A<F. 6ingkat rekurensi telah berkurang menjadi sekitar (--(F dengan penggunaan autografts konjungtiva > limbal atau transplantasi membran amnion pada saat eksisi.#ada kesempatan langka, degenerasi ganas dari jaringan epitel yang melapisi sebuah pterigium yang ada dapat terjadi. 7II# -0OGNOSIS #englihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Kebanyakn pasien dapat beraktivitas lagi setelah 3A jam post operasi. #asien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva auto graft atau transpalantasi membrane amnion.

-E0DA0A'AN SUBKONJUNGTIVA

A# Definisi #erdarahan subkonjungtiva adalah perdarahan akibat rapuhnya pembuluh darah konjungtiva.$arah terdapat di antara konjungtiva dan sklera. Sehingga mata akan mendadak terlihat merah dan biasanya mengkha%atirkan bagi pasien.

Gam$ar .# -er%ara/an su$konjungtiva B# Sinonim &eberapa istilah lain untuk perdarahan subkonjungtiva adalah0
1. bleeding in the eye 2. eye injury 3. ruptured blood vessels 4. blood in the eye 5. bleeding under the conjunctiva 6. bloodshot eye 7. pinkeye

8# E i%emiologi $ari segi usia, perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi di semua kelompok umur, namun hal ini dapat meningkat kejadiannya sesuai dengan pertambahan umur.#enelitian epidemiologi di Kongo rata * rata usia yang mengalami perdarahan subkonjungtiva adalah usia 2<.C tahun.#erdarahan subkonjungtiva sebagian besar terjadi unilateral (E<F). #ada perdarahan subkonjungtiva tipe spontan tidak ditemukan hubungan yang jelas dengan suatu kondisi keadaan tertentu ("3.2F). Kondisi hipertensi memiliki hubungan yang

cukup tinggi dengan angka terjadinya perdarahan subkonjungtiva (-3.2F). Kondisi lainnya namun jarang adalah muntah, bersin, malaria, penyakit sickle cell dan melahirkan. #ada kasus melahirkan, telah dilakukan penelitian oleh oleh Stolp / dkk pada 2(3 pasien postpartum dengan perdarahan subkonjungtiva. &ah%a kehamilan dan proses persalinan dapat mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva. D# 1anifestasi klinis er%ara/an su$konjungtiva Sebagian besar tidak ada gejala simptomatis yang berhubungan dengan perdarahan subkonjungtiva selain terlihat darah pada bagian sklera. Sangat jarang mengalami nyeri ketika terjadi perdarahan subkonjungtiva pada permulaan. Ketika perdarahan terjadi pertama kali, akan terasa tidak nyaman, terasa ada yang mengganjal dan penuh di mata. 6ampak adanya perdarahan di sklera dengan %arna merah terang (tipis) atau merah tua (tebal). 6idak ada tanda peradangan, kalaupun adanya biasanya peradangan yang ringan. #erdarahan akan terlihat meluas dalam 3 jam pertama setelah itu kemudian akan berkurang perlahan ukurannya karena diabsorpsi. E# -atofisiologi Konjungtiva adalah selaput tipis transparan yang melapisi bagian putih dari bola mata (sklera) dan bagian dalam kelopak mata. Konjungtiva merupakan lapisan pelindung terluar dari bola mata. Konjungtiva mengandung serabut saraf dan sejumlah besar pembuluh darah yang halus. #embuluh-pembuluh darah ini umumnya tidak terlihat secara kasat mata kecuali bila mata mengalami peradangan. #embuluh-pembuluh darah di konjungtiva cukup rapuh dan dindingnya mudah pecah sehingga mengakibatkan terjadinya perdarahan subkonjungtiva. #erdarahan subkonjungtiva tampak berupa bercak ber%arna merah terang di sclera. Karena struktur konjungtiva yang halus, sedikit darah dapat menyebar secara difus di jaringan ikat subkonjungtiva dan menyebabkan eritema difus, yang biasanya memiliki intensitas yang sama dan menyembunyikan pembuluh darah. Konjungtiva yang lebih rendah lebih sering terkena daripada bagian atas. #endarahan berkembang secara akut, dan biasanya menyebabkan kekha%atiran, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. )pabila tidak ada kondisi trauma mata

terkait, ketajaman visual tidak berubah karena perdarahan terjadi murni secara ekstraokulaer, dan tidak disertai rasa sakit. Secara klinis, perdarahan subkonjungtiva tampak sebagai perdarahan yang datar, ber%arna merah, di ba%ah konjungtiva dan dapat menjadi cukup berat sehingga menyebabkan kemotik kantung darah yang berat dan menonjol di atas tepi kelopak mata. #erdarahan subkonjungtiva dapat terjadi secara spontan, akibat trauma, ataupun infeksi. #erdarahan dapat berasal dari pembuluh darah konjungtiva atau episclera yang bermuara ke ruang subkonjungtiva. .&erdasarkan mekanismenya, perdarahan subkonjungtiva dibagi menjadi dua, yaitu 0 4# -er%ara/an su$konjungtiva ti e s ontan Sesuai namanya perdarahan subkonjungtiva ini adalah terjadi secara tiba * tiba (spontan). #erdarahan tipe ini diakibatkan oleh menurunnya fungsi endotel sehingga pembuluh darah rapuh dan mudah pecah. Keadaan yang dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rapuh adalah umur, hipertensi, arterisklerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian antikoagulan dan batuk rejan. #erdarahan subkonjungtiva tipe spontan ini biasanya terjadi unilateral. !amun pada keadaan tertentu dapat menjadi bilateral atau kambuh kembali. untuk kasus seperti ini kemungkinan diskrasia darah (gangguan hemolitik) harus disingkirkan terlebih dahulu. (# -er%ara/an su$konjungtiva ti e traumatik $ari anamnesis didapatkan bah%a pasien sebelumnya mengalami trauma di mata langsung atau tidak langsung yang mengenai kepala daerah orbita. #erdarahan yang terjadi kadang * kadang menutupi perforasi jaringan bola mata yang terjadi. !# Etiologi -. ,diopatik, suatu penelitian oleh #armeggiani + dkk di ;niversitas +erara ,tali mengenai kaitan genetik polimorfisme faktor O,,, Dal237eu dengan terjadinya perrdarahan subkonjungtiva didapatkan kesimpulan baik homoGigot maupun heteroGigot faktor O,,, Dal237eu merupakan faktor predisposisi dari perdarahan subkonjungtiva spontan, alel 7eu23 diturunkan secara genetik sebagai faktor resiko perdarahan subkonjungtiva terutama pada kasus yang sering mengalami kekambuhan.:utasi pada faktor O,,,

Dal237eu mungkin sangat berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya episode perdarahan subkonjungtiva. . :anuver Dalsalva (seperti batuk, tegang, muntah * muntah, bersin) 2. 6raumatik (terpisah atau berhubungan dengan perdarahan retrobulbar atau ruptur bola mata) 3. 8ipertensi (. 'angguan perdarahan (jika terjadi berulang pada pasien usia muda tanpa adanya ri%ayat trauma atau infeksi), termasuk penyakit hati atau hematologik, diabetes, S79, parasit dan defisisensi vitamin 5. ". &erbagai antibiotik, obat !S),$, steroid, kontrasepsi dan vitamin ) dan $ yang telah mempunyai hubungan dengan terjadinya perdarahan subkonjungtiva, penggunaan %arfarin. C. SeLuele normal pada operasi mata sekalipun tidak terdapat insisi pada konjungtiva. A. &eberapa infeksi sistemik febril dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtiva, termasuk septikemia meningokok, demam scarlet, demam tifoid, kolera, riketsia, malaria, dan virus (influenGa, smallpo@, measles, yello% fever, sandfly fever). E. #erdarahan subkonjungtiva telah dilaporkan merupakan akibat emboli dari patahan tulang panjang, kompresi dada, angiografi jantung, operasi bedah jantung. -<. #enggunaan lensa kontak, faktor resiko mayor perdarahan subkonjungtiva yang diinduksi oleh penggunaan lensa kontak adalah konjungtivakhalasis dan pinguecula. --. Konjungtivokhalasis merupakan salah satu faktor resiko yang memainkan peranan penting pada patomekanisme terjadinya perdarahan subkonjungtiva. G# Diagnosis %an emeriksaan $iagnosis dibuat secara klinis dan anamnesis tentang ri%ayat dapat membantu penegakan diagnosis dan terapi lebih lanjut. Ketika ditemukan adanya trauma, trauma dari bola mata atau orbita harus disingkirkan. )pabila perdarahan subkonjungtiva idiopatik terjadi untuk pertama kalinya, langkah-langkah diagnostik lebih lanjut biasanya tidak diperlukan. $alam kejadian kekambuhan, hipertensi arteri dan kelainan koagulasi harus disingkirkan.

#emeriksaan fisik bisa dilakukan dengan memberi tetes mata proparacaine (topikal anestesi) jika pasien tidak dapat membuka mata karena sakit. dan curiga etiologi lain jika nyeri terasa berat atau terdapat fotofobia. :emeriksa ketajaman visual juga diperlukan, terutama pada perdarahan subkonjungtiva traumatik. Salah satu studi mengenai perdarahan subkonjungtiva traumatik dan hubungannya dengan luka > injuri lainnya oleh 7ima dan :orales di rumah sakit =uareG :eksiko tahun -EE" * <<< menyimpulkan bah%a sejumlah pasien dengan perdarahan subkonjungtiva disertai dengan trauma lainnya (selain pada konjungtiva), ketajaman visus J ">" meningkat dengan adanya kerusakan pada selain konjungtiva. :aka dari itu pemeriksaan ketajaman visus merupakan hal yang %ajib pada setiap trauma di mata sekalipun hanya didapat perdarahan subkonjungtiva tanpa ada trauma organ mata lainnya. Selanjutnya, periksa reaktivitas pupil dan mencari apakah ada defek pupil, bila perlu, lakukan pemeriksaan dengan slit lamp. 5urigai ruptur bola mata jika perdarahan subkonjungtiva terjadi penuh pada 2"<P. =ika pasien memiliki ri%ayat perdarahan subkonjungtiva berulang, pertimbangkan untuk memeriksa %aktu pendarahan, %aktu prothrombin, parsial tromboplastin, dan hitung darah lengkap dengan jumlah trombosit. '# Diagnosis $an%ing -. Konjungtivitis, hal ini dikarenakan memiliki kesamaan pada klinisnya yaitu mata merah. . Konjungtivitis hemoragik akut 2. Sarcoma kaposi I# -enatalaksanaan #erdarahan subkonjungtiva biasanya tidak memerlukan pengobatan. #engobatan dini pada perdarahan subkonjungtiva ialah dengan kompres dingin. #erdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam -minggu tanpa diobati. #ada bentuk-bentuk berat yang menyebabkan kelainan dari kornea, dapat dilakukan sayatan dari konjungtiva untuk drainase dari perdarahan. #emberian air mata buatan juga dapat membantu pada pasien yang simtomatis. $ari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dicari penyebab utamanya, kemudian terapi dilakukan sesuai dengan penyebabnya. 6etapi untuk mencegah

perdarahan yang semakin meluas beberapa dokter memberikan vasacon (vasokonstriktor) dan multivitamin. )ir mata buatan untuk iritasi ringan dan mengobati faktor risikonya untuk mencegah risiko perdarahan berulang. #erdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke spesialis mata jika ditemukan kondisi berikut ini 0 -. !yeri yang berhubungan dengan perdarahan. . 6erdapat perubahan penglihatan (pandangan kabur, ganda atau kesulitan untuk melihat) 2. 6erdapat ri%ayat gangguan perdarahan 3. Ri%ayat hipertensi (. Ri%ayat trauma pada mata.

J# Kom likasi #erdarahan subkonjungtiva akan diabsorpsi sendiri oleh tubuh dalam %aktu - * minggu, sehingga tidak ada komplikasi serius yang terjadi. !amun adanya perdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke dokter spesialis mata jika ditemui berbagai hal seperti yang telah disebutkan diatas. #ada perdarahan subkonjungtiva yang sifatnya menetap atau berulang (kambuhan) harus dipikirkan keadaan lain. #enelitian yang dilakukan oleh 8icks $ dan :ick ) mengenai perdarahan subkonjungtiva yang menetap atau mengalami kekambuhan didapatkan kesimpulan bah%a perdarahan subkonjungtiva yang menetap merupakan gejala a%al dari limfoma adneksa okuler. K# -rognosis Secara umum prognosis dari perdarahan subkonjungtiva adalah baik. Karena sifatnya yang dapat diabsorpsi sendiri oleh tubuh. !amun untuk keadaan tertentu seperti sering mengalami kekambuhan, persisten atau disertai gangguan pandangan maka dianjurkan untuk dievaluasi lebih lanjut lagi.

AB0ASI KO0NEA A# Definisi 6rauma tumpul kornea dapat menimbulkan kelainan kornea mulai dari erosi kornea sampai laserasi kornea. &ilamana lesi terletak dibagian sentral, lebih-lebih bila mengakibatkan pengurangan ketajaman penglihatan. &enda asing dan abrasi di kornea menyebabkan nteri dan iritasi yang dapat dirasakan se%aktu mata dan kelopak digerakkan. #ada trauma tumpul mata, kornea diperiksa untuk mencari apakah terdapat kehilangan lapisan epitel (abrasi), laserasi dan benda asing. )brasi kornea merupakan terkikisnya lapisan kornea (epitel) oleh karena trauma pada bagian superfisial mata. )brasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata. )da kategori pada abrasi kornea yaitu abrasi superfisial, hanya sebatas lapisan epitel saja dan arbrasi profunda, abrasi yang terjadi hingga pada membran descemen tanpa disertai ruptur pada membran tersebut. )brasi dapat diakibatkan oleh karena benda asing, lensa kontak, pengusap pipi untuk make-up, ranting kayu dan tertusuknya mata oleh jari. B# Anatomi $inding bola mata bagian depan ialah kornea yang merupakan jaringan yang jernih dan bening, bentuknya dan bening, bentuknya hampir sebagai lingkaran dan sedikit lebih lebar pada arah transversal (- mm) dibanding arah vertikal. Kornea disisipkan ke sklera di limbus. Kornea de%asa rata-rata mempunyai ketebalan <,(3mm di tengah, sekitar <,"( mm di tepi dan diameternya sekitar --,( mm. $ari anterior ke posterior, kornea mempunyai ( lapisan yang berbeda-beda.$imulai dari lapisan epitel, membran &o%man, stroma, membran descemen dan lapisan endotel.

8# Diagnosis #ada abrasi kornea, diagnosa dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan oftamologi yang tepat. #ada anamnesis yang didapatkan adanya ri%ayat trauma tumpul dengan gejala-gejala seperti rasa nyeri pada mata, fotopobia, rasa mengganjal, blefarospasme, pengeluaran air mata berlebihan dan visus yang menurun. #ada pemeriksaan slit lamp adanya defek yang terjadi pada lapisan epitel bersamaan dengan adanya edema kornea. #ada kasus berat, dengan edema yang berat harus diperhatikan pada lapisan membran descemen juga. $engan tes fluoresensi, daerah defek>abrasi dapat dilihat pada daerah yang ber%arna hijau. :isalnya pada gambar berikut 0

6ampak lima lapisan kornea D# -enatalaksanaan )brasi kornea umumnya sembuh dengan cepat dan harus diterapi dengan salep antibiotik dan pelindung mata. $ilatasi pupil dengan siklopentolat -F dapat membantu menghilangkan nteri yang disebabkan oleh spasme otot siliar. Kornea memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, dimana pengobatan bertujuan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. =ika abrasi yang terjadi ringan, maka terapi yang diberikan hanyalah lumbrikasi pada mata yang sakit dan kemudian dilakukan follo%-up untuk hari berikutnya. #enyembuhan ini dapat berlangsung selama hari ataupun dalam %aktu seminggu. &agaimanapun untuk menghindari infeksi, pemberian antibiotik dianjurkan. !amun tak lepas dari pengobatan, seorang dokter harus tetap melakukan follo% up utnuk meyakinkan bah%a tidak terjdi inefeksi nantinya. Sebagai langkah a%al, diberikan pengobatan yang berisifat siklopegi seperti atropine -F pada kasus yang berat, hematropine (F pada kasus sedang dan cyclopentolate -F untuk pasien dengan abrasi yang ringan. )njuran selanjutnya yaitu pada obat topical antibiotic yang terdiri dari polytrim, gentamycin dan tombramycin. Selain itu, pasien dianjurkan untuk istirahat total

(bed'rest) diharapkan tidak adanya pergerakkan pasien secara aktif. )pabila pasien merasa nyeri, diberikan pengobatan topical nonsteroid anti inflamasi ("oltaren, )cular atau .cufen). E# Kom likasi Komplikasi yang terjadi apabila penyembuhan epitel tidak terjadi secara baik atau minimal sehingga kerusakan lapisan kornea bisa terjadi hingga pada daerah membrane descemen. $engan keadaan seperti itu, maka akan terjadi pelepasan pada lapisan kornea hingga terjadi -ecurrent Corneal /rosions (R59) dalam beberapa bulan atau hingga beberapa tahun. !# -rognosis #ada pengobatan topical umumnya dengan prognosis yang baik. #enyembuhan pada lapisan kornea ini dapat terjadi dalam beberapa hari. #ada abrasi yang terjadi agak dalam dapat terjadi penyembuhan dengan jaringan sikatriks berupa nebula, makula ataupun leukoma kornea. :eskipun abrasio kecil mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus, abrasio yang lebih besar biasanya diobati selama beberapa hari dengan antibiotik topikal untuk mencegah infeksi dan kadang-kadang cycloplegic topikal untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Sebuah studi besar tunggal oleh =ohn / Raja, et al.. :enunjukkan bah%a hanya <,CF dari abrasio kornea benar-benar menjadi terinfeksi tanpa tetes antibiotik, mempertanyakan perlunya praktik seperti cycloplegic juga dapat mengurangi peradangan sekunder iris dikenal. sebagai suatu iritis Qkutipan diperlukanR. Sebuah tinjauan <<< namun tidak menemukan bukti yang baik untuk mendukung penggunaan cycloplegics > mydriatics .8al ini sering percaya bah%a mata bantalan digunakan dalam Spatch tekananS dapat meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan penyembuhan dengan mencegah berulang. kelopak mata berkedip yang dapat menyebabkan distruption fisik lebih lanjut ke kornea. studi 6erkendali memiliki namun tidak didukung pernyataan ini.