Anda di halaman 1dari 3

Buku Evaluasi Program

Pelaksanaan Dokter
Internship Indonesia








Oleh :



Peserta Internship Wahana Kabupaten Blora
Periode Maret 2013 Maret 2014
Komite Internship Dokter Indonesia
Program Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.
2014
I. Latar Belakang
II. Pelaksanaan di Wahana
Pelaksanaan Program Internship di Kabupaten Blora terutama
RSUD Dr. R. Soetijono Blora dan Puskesmas Cepu memiliki beberapa poin
manfaat dan kendala.
a. Manfaat/Keunggulan di RSUD Dr. R. Soetijono Blora
Di RSUD Memiliki dokter spesialis yang bersedia untuk
berbagi ilmu dengan Peserta Internship maupun Praktisi
Medis Definitif yang ada di wahana. Contoh: Tentiran.
Peserta Internship diberi kesempatan untuk
mengaplikasikan ilmu kedokteran yang sudah didapat selama
pendidikan dokter.
Komite Medis selalu merangkul peserta internship jika ada
acara yang bersifat terbuka untuk peserta. Sehingga peserta
ikut merasakan kegiatan yang diadakan komite medis.
Contoh: inhouse training.
Dokter pendamping selalu memotivasi peserta untuk selalu
menyelesaikan tugas tugas peserta internship
Jika SIP sudah dikeluarkan oleh Dinkes, peserta diberi
kewenangan untuk menganamnesis, memeriksa,
menginstruksikan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi,
mendiagnosis dan menatalaksana pasien dengan
sepengetahuan Praktisi Medis Definitif.
Tenaga Medis di RSUD menghargai peserta internship
layaknya praktisi medis definitif.
Memiliki rumah dinas yang bisa dipakai
b. Kendala/Kekurangan di RSUD Dr. R. Soetijono Blora
Muncul membenarkan yang biasa, contohnya setiap pasien
masuk dari IGD ke bangsal, sebaiknya dilakukan
pemeriksaan penunjang sesuai indikasi, namun tidak
dilakukan karena bangsal saja yang mengambil sampel
darah. Hal tersebut karena ada masalah di pihak instalasi
penunjang.
Beberapa praktisi medis definitif memiliki sifat yang kurang
mengenakkan bagi peserta. Semisal dalam hal menegur
membenarkan terapi yang dipakai, pemilihan bahasa kurang
pas.
Kurangnya pemberitahuan di awal bahwa di pihak RS
mempunyai rumah dinas yang bisa dipakai peserta.
Akses jalan yang sangat parah rusaknya, dari dan ke Blora
Tidak adanya dokter spesialis anestesi, padahal angka
operasi tinggi.
Kurang baiknya manajemen instalasi farmasi RS, sehingga
Pasien Rawat jalan tidak harus menebus obat di farmasi RS.
Kemudian ada dokter yang dispensing obat di poliklinik
rumah sakit dengan suatu alasan.
Beberapa praktisi medis definitif sering meninggalkan IGD
disaat shift jaga. Sehingga kadang peserta internship harus
memberi keputusan medis terhadap pasien gawat di IGD
secara mandiri tanpa pengawasan.
c. Manfaat/Keunggulan di Puskesmas Cepu
Beberapa obat tambahan terapi terdapat di puskesmas
Paramedis puskesmas terbuka terhadap peserta internship
Akses menuju cepu dari ngawi dan bojonegoro bagus.
Praktisi medis definitif sangat terbuka dan menghargai
peserta internship sehingga membuat peserta merasa
nyaman bekerja di lingkungan puskesmas
Terdapat beberapa fasilitas olahraga yang dapat
dipergunakan setelah pelayanan terhadapa pasien telah usai.
Banyak program yang bisa diikuti peserta internship, seperti
kesling, penyuluhan, siaran radio, dll.
d. Kendala/Kekurangan di Puskesmas Cepu
Tidak ada pemberitahuan saat pembekalan internship bahwa
puskesmas ada di Kecamatan Cepu. Pemberitahuan saat
pengarahan dari Dinkes Blora.
Akses perjalanan yang rusak parah dari blora dan
randublatung ke Cepu.
Kurang/keterbatasan kuota obat penyakit kronis.
Sering banjir di Cepu jika hujan deras atau sungai Bengawan
Solo meluap.
III. Usulan
IV. Penutup