Anda di halaman 1dari 107

MODEL PERENCANAAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN INDRAGIRI HULU

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan derajat sarjana S-2

Minat Utama Perilaku dan Promosi Kesehatan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu-Ilmu Kesehatan

Ilmu K esehatan Masyarakat Jurusan Ilmu-Ilmu Kesehatan Diajukan oleh; Ibrahim Alimin 07/261296/PKU/9593 Kepada

Diajukan oleh;

Ibrahim Alimin

07/261296/PKU/9593

Kepada

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2009

ii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta,

2009.

orang lain, kecuali yang secara tertulis dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Yogyakarta, 2009.

Kata Pengantar

Alhamdulillahirabbilalamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Tesis ini merupakan salah satu prasyarat dalam menyelesaikan studi pada Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Minat Perilaku dan Promosi Kesehatan Universitas Gadjah Mada Yogjakarta. Pada kesempatan ini izinkanlah penulis dengan kerendahan hati menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tulus kepada Bapak dr. Andung Prihadi Santosa, M.Kes, selaku pembimbing I, dan Bapak M. Agus Priyanto, SKM, M.Kes, selaku pembimbing II, atas bantuan serta bimbingan yang telah diberikan sejak awal dan sampai selesainya penulisan tesis ini. Selanjutnya, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

2. Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ketua Minat Utama Perilaku dan Promosi Kesehatan berserta staf pengajar yang telah banyak memberikan bantuan maupun bimbingan kepada penulis selama menuntut ilmu.

3. Gubernur Provinsi Riau yang telah memberikan izin dan bantuan untuk mengikuti pendidikan di Universitas Gadjah Mada.

4. Bapak Bupati Indragiri Hulu beserta jajarannya, yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama proses pendidikan di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini.

5. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, Kasubdin Promosi Kesehatan dan pengelola program promosi serta Tim perencana Dinas Kesehatan.

6. Kepala Desa dan informan lainnya, yang telah banyak membantu memberikan informasi selama pengumpulan data.

7. Seluruh teman karyasiswa Magister Perilaku dan Promosi Kesehatan angkatan 2007 serta semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Secara khusus, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ibunda dan seluruh keluarga, teristimewa, isteri tercinta Mimi Novalia, anak ayah yang tersayang (Reyhan dan Nayla) yang selama ini berdoa dan memberikan motivasi, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Penulis menyadari banyak kesalahan baik di sengaja maupun tidak selama mengikuti pendidikan di Universitas Gadjah Mada ini. Untuk itu melalui tulisan ini, dari lubuk hati terdalam penulis haturkan maaf sebesar- besarnya dan semoga segala amal kebaikan, bimbingan, bantuan dari semua pihak dapat bermanfaat dan menjadi amal saleh yang diterima Allah SWT. Akhir kata semoga karya yang masih jauh dari kesempurnaan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan pemerhati masalah perencanaan program kesehatan.

Yogyakarta, September 2009.

Penulis,

IBRAHIM ALIMIN

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

PERNYATAAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR TABEL

x

DAFTAR LAMPIRAN

xi

INTISARI

xii

ABSTRACT

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

7

C. Tujuan Penelitian

7

D. Manfaat Penelitian

7

E. Keaslian Penelitian

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

10

A.

Telaah Pustaka

10

1. Program promosi kesehatan

10

a. Definisi promosi kesehatan

10

b. Strategi promosi kesehatan

11

c. Promosi kesehatan di Kabupaten/Kota

12

d. Perencanaan program promosi kesehatan

13

e. Perencanaan dan penganggaran

15

f. Model perencanaan promosi kesehatan

17

g. PRECEDE/PROCEED model

22

2. Kebijakan penganggaran

24

a. Definisi Anggaran

24

b. Fungsi anggaran

24

c.

Peranan legislatif dalam penyusunan anggaran

25

d.

Sistem penganggaran

25

4. Kebijakan kesehatan

28

B. Landasan Teori

28

C. Kerangka Konsep

29

D. Pertanyaan Penelitian

30

BAB III METODE PENELITIAN

31

A. Jenis Penelitian

31

B. Lokasi Penelitian

31

C. Subjek Penelitian

31

D. Subjektivitas Peneliti

32

E. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

33

F. Definisi Operasional

34

G. Jalannya Penelitian

36

H. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

38

I. Analisis Data

38

J. Etika Penelitian

39

K. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian

39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

41

A. Hasil Penelitian

41

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

41

2. Gambaran Subjek Penelitian

41

3. Pemahaman Tentang Promosi Kesehatan

43

4. Pengkajian Kebutuhan

44

5. Perencanaan Program Promosi Kesehatan

49

6. Evaluasi Program Promosi

57

B. Pembahasan

59

1. Pemahaman Tentang Promosi Kesehatan

60

2. Pengkajian Kebutuhan

60

3. Perencanaan Program

64

4. Evaluasi Program

72

5. Model Perencanaan Program Promosi Kesehatan Kabupaten

Indragiri Hulu

73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

77

A. Kesimpulan

77

B. Saran

78

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

 

halaman

Gambar 1

Alur Perencanaan dan Penganggaran APBD

16

Gambar 2

Alur Pembuatan Targeted Assessment

18

Gambar 3

Level Evaluasi

21

Gambar 4

Model Perencanaan Promosi Kesehatan

39

Gambar 5

Kerangka Konsep Penelitian

30

Gambar 6

Alur Perencanaan Program Promosi Kesehatan

54

Gambar 7

Model Perencanaan Program Promosi Kesehatan di

73

Dinas Kesehatan

DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 1

Persentase Anggaran Program Promosi Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu dari tahun 2004 s/d 2008 tehadap Total Anggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

4

Tabel 2

Karakteristik Subjek Penelitian

42

Tabel 3

Dasar Melakukan Penentuan Target Program Promosi Kesehatan Menurut Subjek Penelitian

48

Tabel 4

Dasar Merancang Program Promosi Kesehatan Menurut Subjek Penelitian

50

Tabel 5

Matriks Persamaan Dan Perbedaan Model Perencanaan Promosi Kesehatan Menurut Dignan & Carr dengan Model Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

76

DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1

Pengantar Daftar Pertanyaan Penelitian

85

Lampiran 2

Pernyataan Kesediaan Menjadi Informan Penelitian

86

Lampiran 3

Pedoman Wawancara Mendalam

87

Lampiran 4

Pertanyaan Wawancara Mendalam Kasubdin Penyuluhan & Penunjang Medik, Kasi PSM, Kasi Penyuluhan dan Kasi Gizi

88

Lampiran 5

Pertanyaan Wawancara Mendalam Kadis, Kasubdin Perencanaan, Kasi Penyusunan Program, Kabid Sosial Budaya & Kesehatan Bappeda

91

Lampiran 6

Pertanyaan FGD Kepala Desa

93

Lampiran 7

Keterangan Kelaikan Etik (Ethical Clearance)

95

Lampiran 8

Foto Kegiatan

96

Lampiran 9

Keterangan Izin Penelitian

99

INTISARI

Latar belakang: Perubahan sistem penyelenggaraan pembangunan dari sentralisasi ke desentralisasi memberi peluang bagi daerah dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia yaitu kesehatan. Perubahan tersebut didukung dengan perubahan paradigma pembangunan kesehatan yang lebih menekankan kepada aspek preventif promotif. Namun demikian dalam pelaksanaannya masih banyak kendala yang menyebabkan program promosi kesehatan belum merupakan program yang prioritas. Salah satu gambaran adalah kecilnya bahkan tidak adanya peran dan alokasi anggaran promosi kesehatan di berbagai daerah. Salah satu daerah yang tidak memiliki alokasi anggaran untuk program promosi kesehatan adalah di Kabupaten Indragiri Hulu. Rendahnya peran dan alokasi anggaran Dinas Kesehatan untuk aspek promotif dipengaruhi oleh kemampuan SDM dalam mengelola, merencanakan, mengevaluasi dan advokasi yang belum baik.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gambaran pengelolaan perencanaan program promosi kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu.

Metode Penelitian: Penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Subjek utama penelitian yaitu 8 orang pejabat yang berkaitan langsung dengan perencanaan dan penganggaran program promosi kesehatan. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, penelaahan dokumen dan FGD. Keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber data, triangulasi metode.

Hasil penelitian: Beberapa subjek penelitian mempunyai pemahaman yang salah terhadap promosi kesehatan. Promosi kesehatan diartikan sebagai penyampaian informasi tentang program-program kesehatan. Tahapan perencanaan program promosi kesehatan di Kabupaten Indragiri Hulu tidak berbentuk siklus karena beberapa tahapan tidak berkaitan. Sumber data pengkajian kebutuhan yaitu, data profil, laporan bulanan dan hasil survei PHBS. Fokus program tidak berdasarkan hasil pengkajian kebutuhan tetapi berdasarkan keterjangkauan target program, trend di masyarakat, pedoman Depkes dan berdasarkan ketersediaan waktu penerima pogram. Perencanaan program tidak berdasarkan kebutuhan masyarakat, tetapi berdasarkan anggaran, perencanaan tahun sebelumnya, pedoman dari Depkes dan trend di masyarakat, sehingga perencanaan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perencanaan evaluasi tidak terdapat dalam perencanaan program, hal ini menyebabkan evaluasi tidak terdokumentasi.

Kesimpulan: Tahapan perencanaan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu tidak sama dengan dengan model perencanaan Dignan dan Carr, pada tiap-tiap tahapan terdapat perbedaan pelaksanaannya.

Kata Kunci: Perencanaan, Program Promosi kesehatan

ABSTRACT

Background: The change in the system of development management from centralized to decentralized approach has given opportunities for the local government in the fulfillment of basic human need, i.e. health. This change is supported by new paradigm of health development that puts more priority on promotive preventive aspect. However there are some constraints in the implementation that cause the program of health promotion to be a non-priority program. One of the examples is small quantity of budget allocation for health promotion in some areas such as District of Indragiri Hulu. Minor role and limited budget allocation of health office in promotive aspect are affected by low capacity of human resources in managing, planning, evaluating and advocacy.

Objective: To get an overview of the mana gement of health pr omotion program planning at Indragiri Hulu District Health Office.

Method: This qualitative study used a cross sectional design. The main subject of the study were 8 officials directly related to the planning and budgeting of health promotion program. Data were obtained through indepth interview, document study and focus group discussion. Data validity was maintained through data resource and method triangulation.

Result: Some subjects of the study had wrong perception about health promotion. Health promotion was perceived as the dissemination of information on health programs. Stages of health promotion program planning at District of Indragiri Hulu did not form a cycle because some stages were not interrelated. Source of data for need assessment consisted of profile, monthly report and the result of clean and healthy life behavior survey (PHBS). Focus of the program was not based on the result of need assessment but on feasibility of program target, trend in the community, guideline of the Ministry of Health and availability of program receivers. Program planning was not based on need of the community but on budget, planning of the previous year, guideline of the Ministry of Health and trend in the community so that planning was not relevant with the need of the community. Evaluation planning was not included in the program planning; consequently evaluation was not documented.

Conclusion: Stages of planning at Indragiri Hulu District Health Office were dissimilar with planning model development by Dignan and Carr; there was difference in each stage of implementation.

Keywords: planning, health promotion program

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Terbitnya Undang-undang (UU) nomor 32 dan 33 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah berdampak kepada penyelenggaraan otonomi daerah di bidang kesehatan. Otonomi di bidang kesehatan pada hakikatnya merupakan pemberian kewenangan kepada daerah untuk merumuskan dan mengembangkan sistem kesehatan di daerah yang bersangkutan, sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat setempat serta kondisi dan kemampuan daerah (Trisnantoro, 2001). Konsekuensi perubahan di bidang kesehatan dapat dilihat dari perubahan paradigma sakit ke paradigma sehat, dari bisnis sakit ke bisnis sehat, dari pendekatan individual menjadi pendekatan sistem, dari perencanaan kesehatan ke perencanaan pembangunan kesehatan (Amirudin, 2007a). Perubahan tersebut berarti mengubah pola dari mengutamakan bisnis orang sakit ke bisnis yang orientasinya adalah ke kelompok sehat atau ke bisnis promotif, preventif dan perlindungan khusus (Junadi, 2005). Diperkirakan penduduk di Indonesia yang mempunyai penyakit mencapai 15%, artinya bahwa yang tidak sakit adalah 85%. Namun demikian yang selama ini terlihat justru perhatian jauh lebih besar ditujukan kepada mereka yang sakit. Untuk itu, dalam penyusunan prioritas anggaran, peletakan perhatian dan biaya sebesar 85% seharusnya diberikan kepada 85% masyarakat sehat yang perlu mendapatkan upaya promosi kesehatan (Depkes R.I., 2005a). Paradigma baru pembangunan kesehatan difokuskan kepada upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya-upaya penanggulangan atau penyembuhan dan pemulihan. Selain itu, pengukuran derajat kesehatan masyarakat tidak semata-mata dilihat dari penurunan kesakitan/kematian, tetapi lebih ditekankan pada pencapaian hasil

1

peningkatan pada angka kesehatan yang diperoleh sebagai dampak upaya promotif yang telah dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dan didukung besarnya penempatan biaya upaya promotif yang sesuai (Amirudin, 2007b). Tenaga kesehatan yang profesional harus mempunyai beberapa kompetensi. Ewles dan Simnett (1994) menyatakan bahwa kompetensi inti dari pengelola promosi kesehatan adalah: 1) Mengelola, merencanakan dan mengevaluasi, 2) Komunikasi, 3) Menyuluh, 4) Pemasaran dan publikasi, 5) Memfasilitas dan jaringan, dan 6) Mempengaruhi kebijakan dan publik. Jika kompetensi ini tidak dimiliki oleh tenaga promosi kesehatan, akibatnya program promosi kesehatan tidak dapat berjalan dengan baik. Pemberlakuan otonomi daerah telah membuka kesempatan baru bagi perkembangan program promosi kesehatan. Setiap daerah, khususnya kabupaten/kota, memiliki kewenangan yang lebih baik untuk mengembangkan programnya sesuai dengan potensi wilayahnya. Tantangan yang muncul terkait dengan perubahan tersebut adalah kemampuan daerah untuk menterjemahkan kondisi wilayah dengan tepat, sehingga dapat menyusun perencanaan program dengan tepat sesuai kondisi dan kemampuan wilayahnya. Perencanaan merupakan salah satu inti manajemen. Perencanaan dan perancangan program yang baik seharusnya berbasis bukti/data (evidence based). Pada kenyataanya, perencanaan program promosi kesehatan banyak yang belum dijalankan dengan baik. Produk perencanaan program promosi kesehatan hanya dilakukan dengan menyesuaikan atas program dan kegiatan pada tahun sebelumnya. Sebagaimana disampaikan Wildavsky (1946, cit. Winarno, 2002), perencanaan yang dibuat cenderung hanya melakukan penyesuaian dengan perencanaan penganggaran sebelumnya karena alternatif yang terbatas. Alternatif yang terbatas salah satunya disebabkan oleh kemampuan pengelola dalam mengembangkan perencanaan yang berbasis bukti. Perencanaan yang tidak berdasarkan data mengakibatkan kurangnya kepercayaan pembuat kebijakan untuk memberikan anggaran, sehingga

anggaran yang diberikan menjadi kecil yang pada akhirnya berimbas kepada semakin kecilnya peran promosi dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di samping itu, menurut Gani (2001, cit. Sukarna, 2006), sektor kesehatan selama ini dipandang sebagai sektor konsumtif dengan indikator keberhasilan program yang sulit terukur. Akibatnya dana cenderung lebih besar dialokasikan pada kegiatan fisik dan administrasi. Menurut World Health Report 2006, persentase anggaran kesehatan Indonesia adalah yang terkecil dibanding anggota ASEAN lainnya. Anggaran kesehatan Indonesia hanya 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dari Birma (2,3), Philipina (3,3), Singapura (3,4), Laos (3,6), Malaysia (4,3), Kamboja (6,0) dan Vietnam (6,6). Meskipun ada kenaikan anggaran kesehatan dari 5,8 triliun pada 2005 menjadi 16 triliun pada tahun 2008, dan dianggarkan 19,3 triliun untuk tahun 2009, angka tersebut tetap saja masih jauh dibawah standar perencanaan WHO yaitu pengeluaran untuk sektor kesehatan sebesar 5% dari PDB. Informasi tentang besarnya anggaran maupun pengeluaran sektor kesehatan ini, memperlihatkan kecilnya perhatian pemerintah untuk sektor kesehatan (Safawi, 2009). Proses penyusunan anggaran dalam penganggaran kinerja dimulai dari seluruh satuan kerja yang ada di Pemerintah Daerah (Pemda), melalui dokumen usulan anggaran yang disebut Rencana Kerja Anggaran (RKA). RKA kemudian diteliti oleh tim anggaran eksekutif untuk dinilai kelayakannya (berdasarkan urgensi dan ketersediaan dana), diakomodasi dalam RAPBD yang akan disampaikan kepada legislatif. RAPBD kemudian dipelajari oleh panitia anggaran legislatif dan direspon oleh semua komisi dan fraksi dalam pembahasan anggaran. Dalam pembahasan anggaran, eksekutif dan legislatif membuat kesepakatan melalui bargaining (dengan acuan Arah Kebijakan Umum) sebelum anggaran ditetapkan sebagai suatu peraturan daerah. Anggaran yang telah ditetapkan menjadi dasar bagi eksekutif untuk melaksanakan aktivitasnya dalam pemberian pelayanan publik dan acuan bagi legislatif untuk melaksanakan fungsi pengawasan dan penilaian kinerja eksekutif dalam hal pertanggungjawaban kepala daerah.

Berdasarkan laporan Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan

Kabupaten Indragiri Hulu, anggaran program promosi kesehatan dari tahun

ketahun cenderung menurun. Bahkan pada tahun 2008 anggaran untuk

promosi kesehatan (Seksi Pemberdayaan) tidak mendapat persetujuan dari

DPRD dan Tim Anggaran Eksekutif, seperti terlihat pada pada Tabel 1.

Tabel 1 Persentase Anggaran Program Promosi Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu dari Tahun 2004 s/d Tahun 2008 terhadap Total Anggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

     

Total anggaran/tahun (dalam jutaan)

 

No

Uraian anggaran

2004

2005

2006

2007

2008

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

 

% Jumlah

%

1.

Promosi

100

3

146

3

172

2

147

 

1 0

-

 

kesehatan

2.

Angaran

Dinas

3.869

 

5.285

 

8.363

 

12.053

 

8.919

 

Kesehatan

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu 2008

Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor K157/Menkes/SK/X/2003

dan indikator SPM menetapkan bahwa indikator program promosi kesehatan

adalah: 1) Rumah tangga sehat dengan target 65%, 2) Bayi yang

mendapatkan ASI eksklusif 80%, 3) Desa dengan garam beryodium baik

90%, dan 4) Posyandu Purnama 40%. Sementara laporan Dinas Kesehatan

Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2007 dan laporan kajian keluarga sadar

hidup sehat menunjukkan bahwa pencapaiannya masih jauh dari yang

diharapkan. Rumah tangga sehat di kabupaten ini baru mencapai 63,33%

sementara Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif (52%). Desa dengan

garam beryodium baru mencapai 85% dari target 90% dan Posyandu

Purnama yang diharapkan telah mencapai 40% baru mencapai 8,3%. Untuk

mencapai target tersebut, tentu saja banyak program dan kegiatan

pendukung yang seharusnya dibuat.

Kegagalan dalam mengupayakan anggaran yang lebih besar menurut

Sukarna (2006) dimungkinkan karena : 1) Rendahnya pengetahuan tim

anggaran eksekutif tentang program kesehatan, 2) Ketidakmampuan SDM

perencana Dinas Kesehatan dalam meyakinkan eksekutif tentang pentingnya

pengalokasian anggaran untuk kegiatan tersebut. Pendapat tersebut

diperkuat oleh Amirudin (2007a), yang menyatakan bahwa para penentu kebijakan banyak yang beranggapan bahwa sektor kesehatan lebih merupakan sektor konsumtif daripada sektor produktif sebagai penyedia sumber daya manusia yang berkualitas. Gani (2001, cit. Sukarna, 2006) menyampaikan, pembiayaan kesehatan di Indonesia masih mengalami permasalahan yaitu, jumlahnya yang kecil, kurangnya biaya promotif, kurangnya biaya operasional, pembiayaan yang tidak dikaitkan dengan kinerja dan inefisiensi. Lebih lanjut disampaikan, anggaran kesehatan direncanakan secara historikal dan besarnya tergantung pada plafon anggaran yang dari tahun ke tahun tidak banyak berubah. Hal ini juga tidak terlepas dari sistem penganggaran yang dianut. Di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu sistem penganggaran menggunakan sistem incramental, yaitu penganggaran yang berdasarkan pada anggaran tahun sebelumnya tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang ada di masyarakat. Menurut Halim (2007) sistem ini sering digunakan di daerah karena dianggap paling mudah dilaksanakan untuk mengatasi rumitnya proses penyusunan anggaran dan paling aman. Peran pengelola program yang dianggap lemah dalam meningkatkan porsi anggaran adalah dalam melakukan advokasi kepada pengambil kebijakan. Banyak faktor yang ikut berpengaruh didalamnya diantaranya perencanaan tidak berbasis bukti, pengetahuan terhadap program rendah, latar belakang pendidikan yang tidak sesuai, mutasi pegawai, indikator yang tidak jelas. Sukarna (2006) menyampaikan, ada hubungan positif antara peningkatan pengetahuan dengan mutu perencanaan program yang dibuat. Sementara Gani (2001, cit. Sukarna, 2006), menyampaikan bahwa pelaksanaan kebijakan memerlukan tenaga profesional. Tanpa tenaga profesional yang baik, perencanaan program tidak dapat dijamin berjalan dengan baik pula. Keterbatasan anggaran bukan merupakan satu-satunya yang menyebabkan pencapaian target program promosi tidak tercapai. Permasalahan lain yang juga menjadi kendala adalah pola penyelenggaraan

promosi kesehatan yang tidak terkoordinasikan dengan baik di banyak unit /seksi/bagian lain, menyebabkan arah kebijakan promosi kesehatan menjadi kabur dan tidak menyatu. Sebagaimana disampaikan oleh Dewi (2006) program-program lain merasa telah melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat, sehingga mempertanyakan peran program promosi kesehatan. Pengelolaan kegiatan perencanaan program promosi yang baik dapat ditinjau dari setiap tahapannya. Menurut Dignan dan Carr (1992), tahapan perencanaan program promosi kesehatan merupakan suatu siklus yang dimulai dari pengkajian kebutuhan, pengkajian target, perencanaan program, implementasi dan evaluasi. Aktifitas yang dilaksanakan pada tahap pengkajian kebutuhan, merupakan kunci bagi penentuan tahap-tahap selanjutnya. Tahap ini merupakan tahap kritis dan sangat membutuhkan data-data yang berkualitas. Pada tahap ini kualitas pengelola dan penyelenggaraan menjadi sangat penting. Permasalahan epidemiologi, sosial dan manajemen (termasuk kebijakan organisasi) seharusnya terangkum pada tahapan ini dan menjadi data dasar untuk tahap perencanaan selanjutnya. Pada tahap ini pula kelemahan banyak terjadi karena analisis jarang dilakukan. Mengacu permasalahan dalam tahapan pengkajian kebutuhan, penetapan target-target program pada akhirnya juga menjadi tidak tepat lagi karena tidak mampu untuk mengidentifikasi permasalahan yang sebenarnya baik dari sisi epidemiologi, sosial, manajemen maupun organisasi. Produk- produk perencanaan pada tahap perencanaan akan menjadi produk yang tidak memiliki pondasi yang kuat karena hanya mengandalkan kepada penyesuaian atas program-program yang diselenggarakan di tahun sebelumnya tanpa inisiasi untuk melakukan analisis yang semestinya. Berdasarkan kajian permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai model perencanaan program promosi kesehatan yang selama ini dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu perumusan masalah penelitian yaitu : Bagaimana model perencanaan program promosi kesehatan yang telah dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum Untuk mengetahui gambaran

model perencanaan program-program

promosi kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu.

2. Tujuan khusus

a. Memperoleh gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap pengkajian kebutuhan (community analysis dan targeted assessment) di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

b. Memperoleh gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap perancangan program/kegiatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

c. Memperoleh gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap evaluasi pelaksanaan kegiatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

d. Memperoleh gambaran perbandingan pelaksanaan tahapan-tahapan perencanaan program promosi kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu terhadap model perencanaan menurut Dignan dan Carr.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Bagi Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu, hasil penelitian ini dapat

dimanfaatkan untuk menentukan kebijakan dalam perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran program promosi kesehatan.

2. Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi pengelola program khususnya program promosi kesehatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian model perencanaan program promosi kesehatan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu sebelumnya belum pernah dilakukan, tetapi ada beberapa penelitian yang berhubungan dengan variabel yang peneliti lakukan, di antaranya adalah:

1. Adam (2004), melakukan penelitian dengan judul Evaluasi Proses Penyusunan Perencanaan Kota Gorontalo. Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan pada metode penelitian, yaitu kualitatif, dan objek penelitian yaitu tentang penyusunan perencanaan. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan pada subjek penelitian yaitu pengelola perencanaan Dinas Kesehatan , dan lokasi penelitian. 2. Azwani (2007), melakukan penelitian berjudul Evaluasi Sistem Perencanaan Program Dinas Kesehatan Kota Pangkal Pinang Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Persamaam dengan penelitian ini adalah pada metode penelitian, yaitu kualiatif dan subjek penelitian yaitu Kepala Dinas Kesehatan dan serta kepala bidang. Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada objek penelitian yaitu penelitian lebih difokuskan pada penganggaran dan lokasi penelitian. 3. Widayati (2008), melakukan penelitian berjudul Analisis Kebutuhan Dalam Pengemangan Program Promosi Kesehatan Terhadap Penyakit Hipertensi di RSU Imanuel Bandar Lampung. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan pada metode penelitian, yaitu kualitatif dan sama-sama meneliti tentang perencanaan program promosi kesehatan. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan pada subjek penelitian yaitu pasien Hipertensi dan dokter yang merawat pasien hipertensi dan lokasi penelitian.

4. Kani (2008), melakukan penelitian berjudul Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. Persamaan dengan penelitian yang dilakukan pada metode penelitian, yaitu kualitatif. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan pada objek penelitian yaitu lebih difokuskan pada penganggaran dan lokasi penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.Telaah Pustaka

1. Program promosi kesehatan Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dari konsep pendidikan kesehatan, yang berlangsung sejalan dengan perubahan paradigma kesehatan masyarakat. Perubahan paradigma kesehatan ini juga ikut mengubah definisi, strategi dan lain-lain yang berkenaan dengan promosi kesehatan.

a) Definisi promosi kesehatan Menurut WHO, promosi kesehatan adalah proses mengupayakan individu-individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan (Depkes R.I., 2005a). Menurut Depkes R.I. (2005b), promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong diri sendiri serta mengembangkan kegiatan bersumber daya masyarakat, sesuai dengan sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menurut Davies dan Macdowall (2006), promosi kesehatan adalah proses yang memungkinkan masyarakat meningkatkan kontrol terhadap determinan kesehatan dan cara memperbaiki kesehatan mereka. Kesimpulan ke tiga definisi di atas adalah bahwa promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan mereka dengan mengunakan sumber daya yang ada di masyarakat dan didukung oleh kebijakan yang berwawasan kesehatan. Artinya, promosi kesehatan lebih menekankan pada partisipasi masyarakat.

10

b) Strategi promosi kesehatan Menurut Depkes R.I., (2005.b), strategi promosi kesehatan disingkat dengan ABG (advokasi, bina suasana dan gerakan pemberdayaan). Adapun strategi tersebut adalah:

1) Advokasi Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen serta dukungan dari pihak- pihak yang terkait (stakeholders). Advokasi diarahkan untuk menghasilkan dukungan berupa kebijakan (misalnya dalam bentuk peraturan perundang-undangan), dana, sarana, dan lain-lain. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu :

a) Mengetahui atau menyadari adanya masalah.

b) Tertarik untuk ikut mengatasi masalah

c) Peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah

d) Sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah

e) Memutuskan tindak lanjut kesepakatan. Dengan demikian, maka

advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat, dan tepat. 2) Bina suasana Bina suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk bersedia melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk bersedia melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di manapun dirinya berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan lain- lain, dan bahkan masyarakat umum) memiliki opini yang positif terhadap perilaku tersebut (Depkes R.I., 2005.b).

3) Gerakan pemberdayaan Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran serta proses membantu sasaran, agar sasaran berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice). Sasaran utama pemberdayaan adalah; individu, keluarga dan kelompok masyarakat (Depkes R.I., 2005.b).

c) Promosi kesehatan di kabupaten/kota 1) Promosi kesehatan oleh puskesmas Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, puskesmas harus

selalu berupaya agar individu, keluarga dan masyarakat memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk melayani diri sendiri dan masyarakat di bidang kesehatan. Pemberdayaan di puskesmas dapat dilakukan pada:

a) Pemberdayaan individu. Metode yang digunakan adalah dialog, demonstrasi, konseling dan bimbingan.

b) Pemberdayaan keluarga. Metode yang digunakan adalah dialog, demonstrasi, dan bimbingan.

c) Pemberdayaan masyarakat umum. Metode yang digunakan

adalah dialog, demonstrasi, dan bimbingan. Selain pemberdayaan masyarakat, puskesmas dapat melakukan bina suasana dan advokasi. Advokasi yang dilakukan puskesmas dapat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten (Depkes R.I.,

2005.b).

2) Promosi kesehatan oleh Dinas Kesehatan Menurut Depkes R.I., (2005.b), promosi kesehatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bersifat mendukung kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan di

puskesmas serta sarana pelayanan kesehatan lainnya, serta

mempunyai tugas fungsi koordinasi dan integrasi di antaranya:

a) Menetapkan urutan prioritas masalah-masalah kesehatan setempat yang akan ditangani.

b) Menetapkan waktu pelaksanaan promosi kesehatan dan difokuskan pada masalah prioritas.

c) Melatih, mengawasi, membimbing dan mengevaluasi petugas- petugas kesehatan di unit-unit operasi dalam melaksanakan pemberdayaan untuk substansi program kesehatan prioritas.

d) Membantu petugas kesehatan kesehatan dengan menyediakan sarana promosi kesehatan.

e) Melaksanakan bina suasana dan advokasi.

d) Perencanaan program promosi kesehatan Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen, karena semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanaan tersebut memungkinkan para pengambil keputusan dapat memanfaatkan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guna. Untuk mendukung keberhasilan pembaharuan kebijakan pembangunan, telah disusun sistem kesehatan nasional yang baru yang mampu menjawab dan merespon berbagai tantangan pembangunan kesehatan masa kini maupun untuk masa mendatang. Penyelenggaraan sistem kesehatan dituangkan dalam berbagai program kesehatan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta pertanggungjawaban secara sistematis, berjenjang dan berkelanjutan (Amirudin, 2007a). Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan akan menjadi efektif jika perumusan

masalah sudah dilakukan berdasarkan fakta-fakta dan bukan berdasarkan emosi atau angan-angan saja. Fakta-fakta diungkap dengan menggunakan data untuk menunjang perumusan masalah (Amirudin,

2007a).

Perencanaan juga merupakan proses pemilihan alternatif tindakan yang terbaik untuk mencapai tujuan. Perencanaan juga merupakan suatu keputusan untuk mengerjakan sesuatu di masa akan datang, yaitu suatu tindakan yang diproyeksikan di masa yang akan datang. Salah satu tugas manajer yang terpenting di bidang perencanaan adalah menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek organisasi berdasarkan analisis situasi di luar (eksternal) dan di dalam (internal) organisasi (Amirudin, 2007a). Keberhasilan suatu kegiatan, seberapapun besarnya, sangat tergantung pada perencanaan yang seksama. Artinya, merencanakan segala sesuatunya sebelum mulai, memikirkan tindakan secara terus- menerus, mengubah rencana apabila perlu, dan menilai seberapa efektif kegiatan yang akan dilakukan. Perencanaan program merupakan suatu proses merencanakan intervensi untuk membantu memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di masyarakat (McKenzie, Pinger dan Koteck, 2003). Jadi, perencanaan program kesehatan adalah proses merencanakan intervensi kesehatan dalam rangka penanggulangan masalah kesehatan pada kelompok yang memerlukannya. Suatu rencana harus memberikan jawaban terhadap 3 hal: apa yang ingin dicapai, apa yang ingin dikerjakan dan bagaimana seseorang menjadi tahu apakah berhasil atau tidak? Jika ketiga hal ini dapat dijawab, maka akan didapatkan kegiatan promosi kesehatan yang efektif dan efisien (Ewles dan Simnett, 1994). Menurut Kemm dan Close (1995), perencanaan program promosi kesehatan terdiri dari: 1) Menilai kebutuhan promosi kesehatan, 2) Indentifikasi sumber daya yang tersedia dan rintangan yang mungkin

muncul, 3) Prioritas masalah, 4) Membuat tujuan, 5) Merencanakan implementasi dan kriteria evaluasi.

e) Perencanaan dan penganggaran Perencanaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya kesalahan ketika melakukan tindakan. Selama ini perencanaan dibuat bersifat top down, sehingga rancangan yang dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan. Semenjak reformasi terjadi perubahan paradigma pembangunan, meletakkan pemerintah dari posisi dan fungsi sebagai provider (penyedia) menjadi enabler (pemberdaya). Perubahan konsepnya sangat mudah, namun penerapannya membutuhkan waktu yang panjang (Amirudin, 2007b). Usaha yang dilakukan pemerintah untuk mendapat perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat adalah dengan menyelenggarakan Musyawarah Perenanaan Pembangunan (Musrenbang). Musyawarah Perenanaan Pembangunan (Musrenbang) merupakan sarana bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi aktif pada perencanaan partisipatif yang berkelanjutan. Menurut UU 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, Musrenbang di bagi menjadi 5, yaitu Musrenbang Desa, Musrenbang Kecamatan, Musrenbang Kabupaten, Musrenbang Propinsi dan Musrenbang Nasional. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan, perencanaan dan penganggaran di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu dilakukan dari pengusulan dimulai dari tataran terendah dalam jajaran birokrasi Dinas Kesehatan yaitu setingkat seksi. Setiap seksi merancang usulan berdasarkan kajian dan pertimbangan teknis sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dari setiap seksi selanjutnya usulan diakumulasi di tingkat Sub Dinas dan dibahas dalam kerangka tugas pokok dan fungsi Sub Dinas. Draft usulan dari setiap Sub Dinas selanjutnya diakumulasi oleh perencana kecil yang terdiri dari masing-masing Sub Dinas dan

Kepala Dinas yang membahas dan mempersiapkan draft untuk rapat prioritas perencanaan penganggaran. Draft yang telah direvisi sesuai dengan prioritas permasalahan oleh tim perencanaan diajukan ke Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) melalui Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kabid Kesra) dan Penyusunan Program yang menangani usulan pembangunan kesehatan. Usulan ini selanjutnya dibahas di Bappeda untuk dijadikan draft Musrenbang. Draft yang dihasilkan dari Musrenbang tersebut selanjutnya diajukan ke Bupati melalui beberapa tahapan, yaitu melalui Bagian Keuangan Daerah, Sekretaris Daerah. Berbagai pertimbangan kembali dilakukan dalam proses legalisasi di tingkat pemerintah daerah ini termasuk pertimbangan keuangan daerah, politis dan lain sebagainya. Setelah draft disetujui oleh Bupati, maka Bappeda selanjutnya mempersiapkan bahan yang akan diajukan kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan akhir atas program-program pembangunan pada tahun anggaran yang bersangkutan. Draft akhir tersebut disebut dengan RAPBD. Draft akan resmi menjadi APBD setelah memperoleh persetujuan dari DPRD setempat berupa Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (PERDA APBD). Alur perencanaan disajikan pada Gambar 1.

Seksi SubDin Subdin Kadinkes Perencanaan Kabag Musrenbang Bappeda: Tim Kecil Keuangan Kabupaten Kabid
Seksi
SubDin
Subdin
Kadinkes
Perencanaan
Kabag
Musrenbang
Bappeda:
Tim Kecil
Keuangan
Kabupaten
Kabid Penyusunan
Program Kesra
Perencanaan
Daerah
Dinas
Sekda
Bupati
DPRD
Gambar 1. Alur Perencanaan dan Pengangaran APBD

f) Model perencanaan promosi kesehatan Menurut Dignan dan Carr (1992), perencanaan promosi kesehatan merupakan suatu siklus yang dimulai dari analisis kebutuhan masyarakat (community analysis), pengkajian target (targeted assessment), perencanaan program (program plan development), pelaksanan (implementation) dan evaluasi (evaluation), disajikan pada Gambar 4. 1) Analisis kebutuhan masyarakat (community analysis) Community analysis merupakan bagian dari need assessment atau pengkajian kebutuhan, yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang kebutuhan masyarakat. Keberhasilan perencanaan program pada program pomosi kesehatan tergantung dari terkumpulnya data tentang individu, kelompok dan sistem yang akan menjadi fokus program. Pengkajian kebutuhan merupakan proses yang kompleks dan rumit, karena kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak ada batasnya, dan hanya ketersediaan sumber saja yang dapat membatasinya (Ewles dan Simnett, 1994). Menurut Ewles dan Simnett (1994), terdapat 4 macam kebutuhan dalam perencanaan promosi kesehatan yaitu:

a) Kebutuhan normatif, yaitu kebutuhan yang ditetapkan oleh

seorang ahli atau seorang profesional sesuai dengan baku dirinya.

b) Kebutuhan yang dirasakan, yaitu kebutuhan yang diidentifikasi orang-orang sebagai apa yang mereka inginkan.

c) Kebutuhan yang dinyatakan, yaitu apa yang orang katakan mereka butuhkan atau kebutuhan yang telah diubah menjadi permintaan yang terungkap (demand).

d) Kebutuhan komparatif, yaitu kebutuhan yang ditetapkan dengan membandingkan kebutuhan pada kelompok-kelompok yang sama. Menurut Dignan dan Carr (1992), pengkajian kebutuhan dapat

dilakukan dengan mengumpulkan data:

a) Data umum (data geografi, demografi dan struktur sosial politik)

b) Status kesehatan masyarakat (statistik vital, morbiditas, faktor

risiko, umur harapan hidup dan lain-lain).

c) Sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

2) Pengkajian target (targeted assessment)

Setelah dilakukan pengkajian kebutuhan, langkah selanjutnya

adalah pengkajian target program. Hasil pengkajian kebutuhan

dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan selanjutnya data

tersebut menjadi dasar untuk menjadikan target dari program yang

akan dibuat. Isu kesehatan masyarakat Hasil dari pengkajian Pengkajian kebutuhan Masalah Pelayanan target Masalah
akan dibuat.
Isu kesehatan
masyarakat
Hasil dari
pengkajian
Pengkajian
kebutuhan
Masalah Pelayanan
target
Masalah Populasi

Gambar 2. Alur pembuatan targeted assessment diadaptasi dari Dignan dan Carr (1992)

Program promosi kesehatan difokuskan pada: individu, kelompok,

masyarakat dan kebijakan publik. Target perubahan yang akan

dilakukan pada individu adalah pengetahuan, perilaku, keterampilan,

konsep diri, dan lain-lain. Target perubahan pada kelompok adalah

jaringan sosial, teman sebaya, social support dan lain-lain. Pada

kebijakan publik, target perubahan yang akan dilakukan adalah

peraturan, kebijakan dan lain-lain.

3) Perencanaan program (program plan development)

Pada tahap ini komponen yang harus ada adalah tujuan program,

objektivitas program, metode dan tindakan yang akan dilakukan,

sumber dan keterbatasan yang ada, rencana evaluasi dan rencana

tindakan. Adapun

pelaksanaan program adalah:

langkah

yang

dilakukan

pada

perencanaan

a) Merencanakan personil yang akan melaksanakan program.

b) Menentukan tujuan program.

c) Menentukan objektivitas dari tujuan program.

d) Menggali sumber dan keterbatasan yang ada.

e) Melakukan seleksi metode dan tindakan yang akan dilakukan.

f) Merencanakan tindakan.

g) Merencanakan evaluasi

4) Pelaksanaan (implementation)

aplikasi perencanaan program dalam

tindakan yang nyata. Tindakan yang dilakukan harus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Menurut Central Sydney Area Health Service (1994), implementasi mempunyai beberapa tahap, yaitu:

a) Tahap 1:

Implementasi

adalah

i. Meyakinkan kualitas pelaksanaan program.

ii. Menindaklanjuti peluang tambahan.

iii. Mendokumentasikan dan mengkomunikasikan kemajuan program secara efektif.

b) Tahap 2

i. Melakukan identifikasi peluang untuk meningkatkan peran program.

ii. Memelihara dukungan terhadap program.

iii. Melakukan identifikasi peluang untuk memperluas dampak program.

c) Tahap 3

i. Mendokumentasikan kemajuan program.

ii. Mengkomunikasikan kemajuan program.

5)

Evaluasi (evaluation)

Menurut Ewles dan Simnett (1994), evaluasi adalah proses menilai apa yang telah dicapai dan bagaimana hal tersebut dapat

dicapai. Hal ini berarti bahwa kegiatan evaluasi adalah melihat secara kritis program yang sedang atau yang telah dilaksanakan, membuat penilaian apa yang baik dan apa yang buruk pada program, dan bagaimana program tersebut dapat diperbaiki. Ada 2 cara untuk melakukan evaluasi. Pertama, hanya membuat suatu keputusan tentang suatu program yang memungkinkan seseorang dapat berkata ini adalah program yang baik. Cara lain adalah dengan mengumpulkan data tentang program dan menggunakan data tersebut untuk menentukan keputusan. Menurut Dignan dan Carr (1992), evaluasi adalah proses pemeriksaan terhadap performa atau capaian program. Definisi ini mengandung 3 konsep dasar. Pertama, evaluasi adalah pemeriksaan bukan ucapan, dikontrol dengan aturan yang tidak luwes. Kedua, evaluasi difokuskan pada capaian kerja, capaian program dapat didefinisikan dalam bermacam-macam cara tergantung dari program dan motivasi untuk melakukan evaluasi. Ketiga, evaluasi biasanya berdasarkan standar perencanaan perbandingan. Agar evaluasi menjadi efektif harus fokus pada indikator yang jelas dari keberhasilan atau kegagalan program. Evaluasi secara normal dipahami sebagai cara mengukur kualitas produk dibandingkan standar perencanaannya: tetapi bergantung atas sudut pandang seseorang. Menurut Dignan dan Carr (1992), ada enam level evaluasi. Level tersebut dirangkai dalam urutan kesulitannya, dan juga dalam urutan kedalaman assessment (penilaian) dan ketuntasan program (Gambar 3). Level 1, meliputi pengumpulan bukti yang mendemonstrasikan apakah program berjalan (bekerja). Pada level ini, evaluasi berfokus atas apakah personil, ada ditempatnya untuk menjalankan program dan apakah aktifitas yang diperlukan. Level evaluasi ini, sering digunakan dalam menilai apakah program tengah diimplementasikan

menurut jadwal (rencana) dan lebih ditekankan pada aktifitas program. Level 2. Pada level ini, memenuhi standar perencanaan, evaluasi berusaha menentukan apakah program berfungsi sebagaimana didisain menurut standar perencanaan. Standar perencanaan yang digunakan dalam penilaian pada level evaluasi ini, biasanya membawa pada pertimbangan aksesibilitas program terhadap populasi target, kontrol atas biaya, dan kriteria lain yang mengukur penyampaian layanan.

Peningkatan kompleksitas Level 6 evaluasi semakin banyak Kesesuaian program dengan program lain kebutuhan
Peningkatan
kompleksitas
Level 6
evaluasi
semakin
banyak
Kesesuaian program
dengan program lain
kebutuhan sumberdaya.
Level 5
Validitas outcome
Level 4
Efektifitas
Level 3
Efisiensi operasi
Level 2
Memenuhi standar perencanaan minimum
Level 1
Aktifitas

Gambar 3. Level Evaluasi. (Dignan dan Carr, 1992).

Level 3, adalah assessment (penilaian) efisiensi program. Efisiensi adalah ukuran biaya yang diperlukan per unit produk. Dalam program pendidikan kesehatan, efisiensi ditentukan oleh penyediaan layanan education terencana untuk jumlah memadai dari klien, dengan mendayagunakan sumberdaya dan personil yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertanyaan dasar yang perlu dijawab pada level evaluasi ini adalah, apakah mendapatkan sesuatu dari pengeluaran biaya untuk program. Apakah personil berfungsi dengan baik pada level dimana manfaat yang diharapkan? Apakah dan bagaimana efisiensi dapat diperbaiki? Level 4. Efektifitas program dinilai pada level ke empat, apakah program dapat memberikan dampak pada target yang telah ditentukan. Jika evaluasi dilakukan sepenuhnya, dan hasil evaluasi bakal menjadi pedoman, maka evaluasi level 4 harus dipilih.

Evaluasi level 4 berusaha menjawab seberapa baik program menghasilkan hasil yang dikehendaki. Level 5, meliputi pengukuran validitas outcome, yaitu, sejauh mana program dengan sukses menangani permasalahan kesehatan komunitas sebagaimana program didisain. Level evaluasi ini, benar- benar refleksi pemahaman akan permasalahan dalam komunitas dan menanyakan apakah program menghasilkan apa yang diharapkan. Level 6, bertujuan melihat kesesuaian program dengan program lainnya (appropriateness) dalam sistem kesehatan. Level evaluasi ini adalah mengkaji hal-hal yang berkenaan dengan seberapa besar program cocok dengan program lain yang goalnya serupa, seberapa bagus program cocok dengan sistem program kesehatan dalam komunitas, dan sejauh mana goal program adalah sesuai bagi masyarakat. Level-level evaluasi tersebut, berkisar dari sederhana hingga kompleks dalam penuntasannya, dari spesifik hingga secara umum dalam arti penekanan atas aktifitas program, dan dari sederhana hingga komplek dalam menilai aktifitas program. Level-level tersebut tidak dimaksudkan untuk digunakan secara khusus satu terhadap lainnya; dalam faktanya, kebanyakan program pendidikan komunitas dievaluasi secara informal pada semua level, meskipun fokus evaluasi formal adalah hanya satu atau dua level.

g) PRECEDE/PROCEED model Ada beberapa model efektif yang dikembangkan untuk membantu dalam menyusun atau mengembangkan suatu program promosi kesehatan. Salah satunya adalah PRECEDE/PROCEED model. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Green. Pada tahun 1980 Green telah mengembangkan suatu model pendekatan yang disebut dengan PRECEDE (Donovan & Henley, 2003)

Donovan & Henley (2003), PRECEDE adalah singkatan dari Predisposing, Reinforcing dan Enabling. PRECEDE ini lebih memfokuskan pada outcome daripada input, menekankan kepada tenaga kesehatan untuk menilai proses perencanaan dari hasil akhir. PRECEDE mempunyai 5 fase, yaitu: diagnosis sosial, diagnosis epidemiologi,

diagnosis perilaku dan lingkungan, diagnosis pendidikan dan organisasi dan diagnosis administrasi dan kebijakan, yang meliputi:

1. Diagnosis sosial adalah penentuan persepsi masyarakat atau terhadap kualitas hidupnya dan aspirasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya melalui partisipasi dan penerapan berbagai informasi yang didisain sebelumnya. Dapat dilakukan dengan focus group dicussion (FGD) atau nominal group survey.

2. Diagnosis epidemiologi. Masalah kesehatan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi masalah kesehatan meliputi, siapa, kelompok apa yang terkena (umur, jenis kelamin, lokasi, suku dan lain-lain), akibat yang ditimbulkan (mortalitas,

morbiditas, disability dan lain-lain), dan bagaimana mengatasinya.

3. Diagnosis perilaku dan lingkungan. Meliputi diagnosa perilaku yang mempengaruhi masalah kesehatan sekaligus masalah lingkungannya (fisik dan sosial), sebagai berikut:

a) Pemanfaatan pelayanan kesehatan (utilization).

b) Upaya pencegahan (preventive action).

c) Pola konsumsi (consumption pattern)

d) Kepatuhan (compliance)

e) Upaya memelihara kesehatan sendiri (self care)

4. Diagnosis pendidikan dan organisasional

5. Diagnosis administratif dan kebijakan. Pada fase ini dilakukan analisis kebijakan, sumber daya dan peraturan yang berlaku yang dapat memfasilitasi atau menghambat pengembangan promosi kesehatan.

Tahun 1991 Green menyempurnakan kerangka tersebut menjadi PRECEDE/PROCEED. PROCEED adalah singkatan dari Policy (kebijakan), Regulatory (peraturan), Organizational construct. PROCEED memasukkan mobilisasi dan evaluasi sumber daya dan hal ini merupakan kolaborasi dan perluasan dari fase diagnosis administrasi dari PRECEDE. Penambahan PROCEED pada model aslinya memberikan penekanan yang lebih besar terhadap kontribusi faktor-faktor strukural dan proses organisasi komunitas untuk implementasi program (Donovan & Henley, 2003). PRECEDE/PROCEED harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam proses perencanaan, implementasi dan evaluasi. PRECEDE digunakan pada fase diagnosis masalah, penetapan prioritas masalah dan tujuan program. PROCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan kriteria kebijakan, serta implementasi dan evaluasi.

2. Kebijakan penganggaran

a. Definisi anggaran Menurut Welsch (1996, cit. Halim, 2007), anggaran adalah suatu bentuk statement dari rencana dan kebijaksanaan manajemen yang digunakan dalam periode tertentu sebagai petunjuk dalam periode itu. Menurut Marsono (1996, cit. Halim, 2007), anggaran adalah suatu rencana pekerjaan yang pada suatu pihak mengandung jumlah pengeluaran yang setinggi-tingginya yang mungkin diperlukan untuk membiayai kepentingan negara pada suatu masa depan, dan pihak lain perkiraan pendapatan yang mungkin akan dapat diterima dalam masa tersebut.

b. Fungsi anggaran Menurut Halim (2007), fungsi anggaran adalah:

1) Instrumen politik. Anggaran adalah suatu instrumen formal yang mewujudkan tawar-menawar eksekutif dengan legislatif.

2)

3) Instrumen perencanaan. Pada dokumen anggaran disebutkan

tujuan yang ingin dicapai, biaya dan hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan pada masing-masing unit kerja. Instrumen pengendalian.

4)

Instrumen kebijakan fiskal.

c. Peranan legislatif dalam menyusun anggaran Alokasi anggaran setiap program di masing-masing unit kerja pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh kesepakatan antara legislatif dan eksekutif. Prioritas dan pilihan pengalokasian anggaran pada tiap unit kerja dihasilkan setelah koordinasi di antara bagian dalam eksekutif dan legislatif. Dalam usaha mencapai kesepakatan, seringkali keterkaitan antara kinerja dan alokasi anggaran menjadi fleksibel dan longgar. Hyde & Shafritz (1978 cit. Abdullah, 2006) menyatakan bahwa penganggaran adalah sebuah proses legislatif. Apapun yang dibuat eksekutif dalam proses anggaran, pada akhirnya tergantung pada legislatif karena legislatif mempunyai kekuasaan untuk mengesahkan atau menolak usulan anggaran yang diajukan eksekutif. Abdullah (2006) menemukan bahwa DPRD mempunyai preferensi berbeda dengan eksekutif atas jumlah anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan pekerjaan umum. Anggaran belanja bidang pekerjaan umum diusulkan lebih tinggi, sementara belanja pendidikan dan kesehatan lebih rendah.

d. Sistem penganggaran Menurut Halim (2007), sistem penganggaran adalah suatu tatanan yang logis, sistematis dan baku yang terdiri dari tata kerja, pedoman kerja dan prosedur kerja untuk menyusun anggaran dan saling berkaitan serta saling keterkaitan.

Jenis sistem penganggaran terdiri dari:

1) Line item budgeting Line item budgeting adalah penyusunan anggaran yang dilaksanakan kepada dan dari mana anggaran tersebut berasal (pos-pos penerimaan) dan untuk apa dana tersebut digunakan (pos-pos pengeluaran). Karakteristik dari sistem penganggaran ini adalah titik berat perhatian pada segi pelaksanaan dan pengawasan, penekanan hanya pada segi administrasi. Namun, sistem ini tidak memiliki alasan yang rasional dalam menetapkan target penerimaan dan pengeluaran. 2) Incremental budgeting Sistem ini menggunakan revisi anggaran pendapatan dan belanja tahun berjalan untuk menentukan anggaran tahun yang akan datang. Sekali suatu pos pengeluaran muncul di dalam anggaran, maka selamanya pos tersebut ada pada anggaran periode berikutnya dengan perubahan/kenaikan yang didasarkan dari jumlah yang dianggarkan pada periode sebelumnya. Titik perhatian adalah marginal atau selisih incremental antara anggaran tahun ini dan tahun sebelumnya, bukan pada anggaran secara menyeluruh. Alasan diterapkannya sistem anggaran incremental ini adalah bahwa seluruh kegiatan yang dilaksanakan pada tahun anggaran yang sebelumnya merupakan kegiatan yang harus diteruskan pada tahun berikutnya. Keunggulannya sistem ini adalah, membantu mengatasi rumitnya proses penyusunan anggaran, tidak memerlukan pengetahuan yang terlalu tinggi untuk memahami program-program baru, dan dapat mengurangi konflik 3) Planning programing budgeting system (PPBS) Planning programing budgeting system (PPBS) adalah suatu proses perencanaan, pembuatan program dan penganggaran yang terikat dalam suatu sistem sebagai satu kesatuan yang bulat

dan tidak terpisah-pisah dan di dalamnya terkandung identifikasi tujuan organisasi, permasalahan yang mungkin timbul dalam pencapaian tujuan, proses pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengawasan terhadap semua kegiatan yang diperlukan dalam pencapaian tujuan dan proses pertimbangan implikasi keputusan terhadap berbagai kegiatan di masa yang akan datang. Keunggulannya adalah: dapat menggambarkan tujuan organisasi dengan lebih nyata, dapat menghindarkan adanya overlapping program dan pertentangan di antara program, dan dapat memungkinkan alokasi sumber daya secara lebih efisien dan efektif berdasarkan analisis manfaat dan biaya untuk mencapai tujuan. Kelemahannya adalah: terlalu sukar untuk diterapkan baik secara teknis maupun praktis, sehingga sulit diterapkan khususnya di negara-negara berkembang, merupakan proses yang multikompleks dan memerlukan banyak perhitungan dan analisis, dan memerlukan kualitas pengelolaan yang sangat tinggi. 4) Zero base budgeting (ZBB) Zero base budgeting adalah anggaran yang dibuat berdasarkan pada sesuatu yang sedang dilakukan atau dilakukan dan merupakan sesuatu yang baru, dan tidak berdasarkan pada hal-hal yang telah dilakukan di masa lalu. Setiap kegiatan dilihat sebagai sesuatu yang mandiri dan bukan merupakan kelanjutan dari yang sudah dilakukan. Kelemahan sistem ini adalah:

memerlukan keterampilan khusus dalam menganalisis dan menentukan prioritas/ranking, memerlukan data yang lebih banyak dan diperlukan dukungan analisis yang cukup kuat. 5) Performance Budgeting System (PBS) Performance Budgeting System adalah cara penyusunan anggaran berdasarkan pertimbangan beban kerja dan yang berorientasi kepada pendayagunaan dana yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal dari kegiatan yang dilaksanakan.

Sistem penyusunan ini tidak hanya didasarkan kepada apa yang dibelanjakan saja, tetapi juga didasarkan kepada tujuan- tujuan/rencana-rencana tertentu yang untuk pelaksanaannya perlu disusun oleh suatu anggaran biaya yang cukup dan biaya/dana yang dipakai tersebut harus dijalankan secara efektif dan efisien.

3. Kebijakan kesehatan Kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan seorang pelaku atau sejumlah pelaku dalam mengatasi suatu masalah atau persoalan. Menurut Winarno (2002), kebijakan adalah keputusan-keputusan yang dibuat pejabat pemerintah yang mengesahkan atau memberikan arah atau substansi. Milio (1987, cit. Jones 1997) menyatakan bahwa kebijakan kesehatan publik harus berlandaskan lingkungan, lintas sektoral dan strategi pemberdayaan. Selanjutnya dikatakan juga bahwa kebijakan kesehatan publik mempunyai karakteristik. a. Pendekatan multi sektor yang berdasarkan pada emphasi (physiological response) yang ditimbulkan oleh pengetahuan, tingkat dan latar belakang pendidikan dan jabatan pelaku kebijakan. b. Intervensi legislatif yang diadvokasi oleh kelompok atau masyarakat dalam penyusunannya sebelum menjadi kebijakan kesehatan.

B. Landasan Teori Menurut Dignan dan Carr (1992), tahapan perencanaan promosi kesehatan dimulai dari pengkajian kebutuhan, pengkajian target, pengembangan perencanaan program, implementasi dan evaluasi. Perencanaan promosi kesehatan merupakan suatu siklus, sehingga tidak berhenti pada satu tahapan saja. Perencanaan menjadi efektif dan efisien apabila tahapan perencanaan dilakukan dengan benar, seperti terlihat pada Gambar 4.

Community analysis Targeted assesment Evaluation Program plan development Implementation
Community analysis
Targeted assesment
Evaluation
Program plan
development
Implementation

Gambar 4. Model Perencanaan Promosi Kesehatan Sumber: Dignan And Carr (1992)

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan landasan teori di atas, dibuat

kerangka konsep penelitian tentang model perencanaan program promosi

kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu. Standar

perencanaan yang dipakai adalah model perencanaan Dignan dan Carr

(1992), model ini digunakan karena sederhana dan model yang paling sering

digunakan untuk perencanaan dan implementasi. Tahapan perencanaan

promosi kesehatan di mulai dari tahapan analisa kebutuhan, pengkajian

target, pengembangan perencanaan program, implementasi dan evaluasi,

seperti terlihat pada Gambar 5.

Standar perencanaan

Pelaksanaan

Pengkajian kebutuhan:

(community analysis dan targeted assessment)

kebutuhan: (community analysis dan targeted assessment) Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi
Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi
Perencanaan program
promosi kesehatan
Implementasi
Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi :
Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi :

Evaluasi program promosi:

Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi :
Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi :
Perencanaan program promosi kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi :
kesehatan Implementasi Evaluasi program promosi : Perencanaan program promosi kesehatan di Dinas Kesehatan

Perencanaan program promosi kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten

Indragiri Hulu tahun 2007 dan

2008

Gambar 5. Kerangka konsep penelitian

Keterangan:

dan 2008 Gambar 5. Kerangk a konsep penelitian Keterangan: = Tidak diteliti D. Pertanyaan Penelitian a.

= Tidak diteliti

D. Pertanyaan Penelitian

a. Bagaimanakah gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap pengkajian kebutuhan (community analysis dan targeted assessment) yang dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

b. Bagaimanakah gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap perencanaan program yang dilaksanakan di Dinas KesehatanKabupaten Indragiri Hulu

c. Bagaimanakah gambaran model perencanaan program promosi kesehatan pada tahap evaluasi pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu

d. Bagaimanakah gambaran perbandingan pelaksanaan tahapan-tahapan perencanaan program promosi kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu terhadap model perencanaan menurut Dignan dan Carr.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan rancangan studi kasus yaitu suatu penelitian yang berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti dengan tujuan memberikan gambaran yang lengkap dan mendalam (Mulyana, 2006). Rancangan ini dipilih untuk dapat mengetahui dan menggali secara mendalam model perencanaan program promosi kesehatan oleh Dinas kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu terhadap tahapan pengkajian kebutuhan (community analysis dan targeted assessment), pengembangan perencanaan program, dan evaluasi.

Pengumpulan data menggunakan konsep emergence design, artinya rencana dan cara pengumpulan informasi dapat mengalami perubahan dan berkembang berdasarkan fakta di lapangan (Sukmadinata, 2005).

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu dengan pertimbangan: belum pernah dilakukannya penelitian tentang model perencanaan promosi di Dinas Kesehatan Kabupaten Indagiri Hulu, masih rendahnya kualitas perencanaan di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu. Jika dilihat dari dokumen perencanaan yang ada, alokasi anggaran pelaksanaan kegiatan program promosi kesehatan tidak lebih dari 3% dari anggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, bahkan pada tahun 2008, alokasi anggaran program promosi kesehatan tidak ada sama sekali dan belum adanya produk hukum berupa perda, SK Kepala Dinas, yang mendukung pelaksanaan program promosi kesehatan.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian diambil secara purposive sampling (sampling yang bertujuan), yaitu pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan dan Pemerintah

31

Kabupaten yang memiliki keterkaitan dan berperan dalam menghasilkan kebijakan program promosi kesehatan di Kabupaten Indragiri Hulu. Pengambilan sampel cara purposive ini dilakukan karena pertimbangan kekayaan informasi yang dimiliki, kemampuan dan kewenangan subjek dalam pembuatan kebijakan. Dengan demikian penetapan sampel tidak didasarkan atas keterwakilan dalam hal jumlah responden (besar sampel), tetapi berdasarkan kualitas atau ciri-ciri responden yang ingin diwakili (Patton, 2006). Subjek utama penelitian ini adalah 8 orang yang berkaitan langsung dengan perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran program promosi kesehatan. Mereka adalah Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Penyuluhan dan Penunjang Medik Kepala Seksi (Kasi) Peran serta Masyarakat dan Kasi Penyuluhan dan Penunjang Medik, Kasi Penyusunan program, Kasi Gizi, Kasubdin Perencanaan dan Bina Program, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Sosial Budaya dan kesehatan Bappeda. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui apakah perencanaan program promosi sesuai dengan standar perencanaan. Triangulasi sumber adalah orang yang berkaitan langsung dengan pembuatan perencanaan di tingkat desa/kelurahan, yaitu 5 orang Kepala Desa daerah perkotaan dan 4 orang Kepala Desa yang berada di daerah pedesaan. Data diambil dengan focus group discussion (FGD), ini dilakukan untuk mengetahui apakah Dinas Kesehatan melakukan langkah-langkah perencanaan program promosi sesuai dengan standar perencanaan. Triangulasi metode dilakukan dengan penelaahan dokumen. Penelaahan dokumen dilakukan dengan melihat dokumen Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kegiatan promosi kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu serta laporan pelaksanaan kegiatan.

D. Subjektivitas Peneliti

Peneliti adalah karyasiswa Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Minat Perilaku dan Promosi Kesehatan tahun 2007. Peneliti bekerja

sebagai staf di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu Subdin Perencanaan selama 6 tahun, pernah mengikuti pelatihan tentang perencanaan dan penganggaran serta mengetahui/memahami dengan jelas proses perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran di Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu. Peneliti juga mengetahui adat istiadat dan bahasa yang ada di Kabupaten Indragiri Hulu. Peneliti dibantu oleh 1 orang asisten peneliti, yang telah bekerja di Subdin Perencanaan selama 3 tahun. Asisten peneliti berlatar belakang pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Peran asisten peneliti adalah membantu dalam kegiatan wawancara mendalam dan pelaksanaan FGD dan mempersiapkan semua perlengkapan serta bertugas melakukan perekaman dan pengambilan gambar.

E. Instrumen, Teknik dan Pedoman Pengumpulan Data

1. Instrumen penelitian Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu oleh

1 orang asisten peneliti. Asisten peneliti diperlukan untuk membantu dalam melakukan wawancara mendalam dan FGD. Alat yang digunakan berupa pedoman wawancara mendalam, catatan lapangan dan tape recorder atau alat perekam digital.

2. Teknik pengumpulan data

a. Wawancara mendalam Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam pada pejabat yang berkaitan langsung dengan perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran program promosi kesehatan. Subjek yang dimaksud adalah Kasubdin Penyuluhan dan Penunjang Medik Kasi Peran serta Masyarakat dan Kasi Penyuluhan dan Penunjang Medik, Kasi Penyusunan program, Kasi Gizi, Kasubdin Perencanaan dan Bina Program, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Sosial Budaya dan kesehatan Bappeda. Wawancara mendalam ini digunakan untuk mengungkap model perencanaan program promosi kesehatan apakah sesuai

dengan standar perencanaan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu. Wawancara dilakukan dengan mendatangi langsung subjek penelitian, dan setiap kali wawancara direkam menggunakan alat perekam berupa tape recorder atau perekam digital serta dilakukan pencatatan untuk dapat menangkap fenomena yang ada pada saat wawancara dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kegagalan alat perekam. Perekaman wawancara ini dilakukan dengan sepengetahuan dan izin responden.

b.

Focus group discusion (FGD) FGD dilakukan kepada Kepala Desa, meliputi Kepala Desa daerah perkotaan dan Kepala Desa daerah pedesaan. FGD dilakukan untuk melakukan klarifikasi langkah-langkah Dinas Kesehatan dalam perencanaan program promosi yang sesuai dengan standar perencanaan.

c.

Penelaahan dokumen

Dokumen diambil dari Subdin Penyuluhan dan Penunjang Medik dan Subdin Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu. Dokumen yang diambil meliputi rencana kegiatan anggaran dan dokumen pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan serta dokumen- dokumen pendukung lainnya. Dokumen juga diambil dari Bappeda yaitu dokumen Musrenbang Kabupaten dan Kecamatan.

3. Pedoman pengumpulan data Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara yang berisi garis besar pertanyaan saja. Pertanyaan akan dikembangkan oleh peneliti dengan cara probing sesuai dengan situasi dan kondisi saat melakukan wawancara. FGD menggunakan pedoman FGD.

F. Definisi Operasional

1. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran,

atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. 2. Standar perencanaan adalah model perencanaan atau langkah-

langkah yang harus dilakukan ketika membuat perencanaan program promosi kesehatan yaitu model perencanaan menurut Dignan dan Carr (1992) yang terdiri dari pengkajian kebutuhan masyarakat (community analysis), pengkajian target (targeted assessment), perencanaan program (program plan development), dan Implementasi (implementation).

3. Model perencanaan adalah bentuk dari tahapan perencanaan, apakah berbentuk siklus atau tidak, dikatakan berbentuk siklus apabila ada keterkaitan pada setiap tahapan.

4. Pengkajian kebutuhan masyarakat (community analysis) adalah tahapan pengkajian sumber-sumber dan kebutuhan masyarakat yang harus dilakukan ketika membuat perencanaan program, apa saja yang dilakukan pada tahapan ini dan alasan kenapa tidak dilakukan, secara garis besar pertanyaan yang diajukan pada tahapan ini adalah, bagai mana: cara mengumpulkan data, identifikasi sumber- sumber data, data apa saja yang diperlukan dan hambatan ketika mengumpulkan data. Informasi tentang pengkajian kebutuhan masyarakat diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam kepada orang yang membuat perencanaan secara langsung, untuk crosscheck data dilakukan dengan penelahaan dokumen dan FGD kepada Kepala Desa.

5. Pengkajian target (targeted assessment) adalah tahapan untuk menentukan fokus program, apakah individu, kelompok, masyarakat atau advokasi tentang kebijakan publik, apakah tahapan ini dilakukan dan alasan kenapa tidak dilakukan, secara garis besar yang akan ditanyakan pada tahapan ini adalah apa dasar fokus program, data apa saja yang diperlukan. Informasi tentang pengkajian target program ini diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam

kepada orang yang membuat perencanaan secara langsung, untuk crosscheck data dilakukan dengan penelahaan dokumen dan FGD kepada Kepala Desa. 6. Perencanaan program (program plan development) adalah kegiatan merancang kegiatan sesuai dengan pengkajian kebutuhan dan pengkajian target program, pada tahap ini yang akan ditanyakan adalah apa dasar pembuatan perencanaan program, darimana sumber datanya, kapan dilakukan dan siapa yang melakukan. Informasi pada tahapan ini digali dengan wawancara mendalam, FGD kepada Kepala Desa dan penelaahan dokumen. 7. Evaluasi (evaluation) adalah menilai apa yang dicapai dan bagaimana hal tersebut dicapai. Apakah melakukan evaluasi, apa saja yang dievaluasi, setelah dilakukan evaluasi apa langkah selanjutnya dan kapan dilakukan evaluasi. Informasi pada tahapan ini digali dengan wawancara mendalam, FGD kepada Kepala Desa dan penelaahan dokumen.

G. Jalannya Penelitian

Penelitian

dilakukan

berikut:

1. Tahap persiapan

dengan

melalui

beberapa

tahapan

sebagai

a. Menyusun pedoman wawancara mendalam dan pembuatan pedoman penelaahan dokumen, dikonsultasikan saat pembimbingan dan perbaikan pedoman pengumpulan data penelitian.

b. Pengurusan surat izin penelitian.

c. Melakukan pendekatan awal dengan menemui informan/subjek penelitian untuk memperoleh persetujuan dan jadwal wawancara.

d. Persiapan alat bantu wawancara: tape recorder, kamera dan buku catatan.

2.

Pelaksanaan

a. Pengambilan data sekunder dimulai dari pengumpulan dokumen yang berhubungan dengan program promosi kesehatan di Kabupaten Indragiri Hulu.

b. Pengambilan data primer melalui wawancara mendalam dengan informan penelitian.

c. Peneliti melakukan wawancara pada responden teknis atau Dinas Kesehatan yaitu KaSubdin Penyuluhan dan Penunjang Medik Kasi Peran serta Masyarakat dan Kasi Penyuluhan dan Penunjang Medik,

Kasi Gizi, karena peneliti menilai bahwa responden inilah yang membuat perencanaan. Selanjutnya mewawancarai Kasi Penyusunan program, Kasubdin Perencanaan dan Bina Program, Kepala Dinas Kesehatan, sekaligus crosscheck data pengajuan rencana program promosi kesehatan serta pengajuan anggarannya.

d. Selanjutnya melakukan wawancara dengan Kepala Bidang Sosial Budaya dan Kesehatan Bappeda.

e. Untuk melihat apakah informasi yang diberikan oleh pemegang

program telah lengkap, maka dilakukan FGD kepada 9 orang kepala desa, 5 orang kepala desa daerah perkotaan dan 4 orang kepala desa daerah pedesaan.

3. Pengolahan data Pengolahan data merupakan kegiatan persiapan untuk memasuki tahap analisis data. Kegiatan ini dilakukan dengan cara setiap selesai

wawancara dan FGD segera dilakukan transkrip. Setiap bagian akhir transkrip yang telah selesai diberi komentar, yaitu komentar substantif, metodologis dan analitik. Setelah semua informasi selesai dianalisis, selanjutnya peneliti melakukan penyusunan laporan penelitian berupa

tesis.

H. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Strategi yang digunakan pada penelitian kualitatif untuk membuktikan

reliabilitas, validitas dan objektivitas data adalah dengan trustworthiness. Teknik yang dilakukan untuk pemeriksaan keabsahan data tersebut, adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2006). Triangulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Triangulasi sumber: Yaitu pemeriksaan infomasi melalui sumber lain, peneliti membandingkan informasi yang diperoleh dari subjek utama penelitian dibandingkan dengan informasi dari subjek pendukung penelitan yaitu Kepala Desa.

2. Triangulasi Metode. Yaitu pemeriksaan melalui metode lain, di antaranya membandingkan data hasil in-depth interview dengan hasil penelaahan dokumen.

I. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis tema (thematic analysis), yaitu menganalisis dari domain (tema) gambaran objek penelitian ke tema penelitian (Liamputtong & Ezzy, 2005), dengan tahapan sebagai berikut:

1. Mentranskrip data hasil wawancara mendalam dan FGD dari rekaman atau catatan yang ada.

2. Mengkoding data, yaitu menganalisis transkrip yang dibuat untuk menjadi unit yang lebih kecil dengan cara mengambil data transkrip yang bermakna.

3. Mengkategorikan data (open codes), yaitu mengembangkan kategori dengan cara mengelompokkan kode-kode yang dihasilkan dari proses koding.

4. Melakukan core kategori, yaitu memberikan tema (core) dengan cara mengelompokkan beberapa kategori yang telah dibuat.

5. Mengeksplorasi hubungan antara core kategori (tema) agar dapat

memberikan penjelasan yang menyeluruh dari hasil yang diteliti. 6. Menarik kesimpulan dan verifikasi, yaitu menyimpulkan hasil penelitian dengan membandingkan antara pertanyaan penelitian dengan hasil

penelitian.

J. Etika Penelitian Informan atau subjek penelitian diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian sebelum penelitian dilakukan. Selain itu, ditegaskan kepada informan bahwa semua informasi atau data yang diperoleh hanya dipergunakan untuk keperluan penelitian dan dijaga kerahasiaannya, informasi yang diperoleh tidak akan ditambah atau dikurangi serta informan tidak bertanggung jawab terhadap informasi yang diberikan. Sebagai pernyataan bahwa informan bersedia menjadi subjek penelitian, maka perlu adanya persetujuan tertulis dari informan (informed consent).

K. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian

1. Kesulitan penelitian

a. Subjek penelitian sulit mengatur waktu untuk wawancara, karena penelitian dilakukan diakhir tahun anggaran.

b. Salah seorang subjek penelitian, membawa anaknya ketika wawancara sehingga mengganggu kelancaran wawancara.

c. Sangat sulit mengatur waktu Kepala Desa untuk dilakukan FGD, sehingga beberapa kali ditunda, sehingga diperlukan penjadwalan ulang.

d. Kurang lengkapnya laporan pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan, sehingga peneliti kesulitan melakukan penelaahan dokumen, tetapi hal ini dapat diatasi dengan melihat laporan kegiatan yang ada di Seksi data.

2. Kelemahan penelitian a. Tidak dilakukannya penggalian informasi dari petugas promosi kesehatan di puskesmas, sehingga informasi yang didapat kurang lengkap. b. Tidak dilakukannya penggalian informasi tentang pengaruh kemampuan petugas perencanaan program promosi kesehatan, sehingga tidak diketahui pengaruh kemampuan petugas perencana terhadap perencanaan yang dibuat.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Indragiri Hulu sejak tahun 1999 secara resmi dimekarkan menjadi 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi. Setelah pemekaran tersebut luas daerah Kabupaten Indragiri Hulu menjadi 8.198,26 Km² atau 819.826 Ha. Penduduk Kabupaten Indragiri Hulu berjumlah 312.910 jiwa, dari jumlah tersebut terdapat 31,44 % tergolong masyarakat miskin.

Saat ini Kabupaten Indragiri Hulu mempunyai 14 kecamatan dan 194 desa dan sebagian besar desa yang ada berada di sepanjang aliran sungai Indragiri, dengan batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara

b. Sebelah Selatan

c. Sebelah Timur

d. Sebelah Barat

Jumlah sarana pelayanan kesehatan yaitu puskesmas telah tersedia di seluruh kecamatan, bahkan di beberapa kecamatan memiliki dua puskesmas. Jumlah puskesmas sejak tahun 2008 adalah sebanyak 16 puskesmas yang didukung dengan 85 unit puskesmas pembantu.

: Kabupaten Pelalawan.

: Propinsi Jambi

: Kabupaten Indragiri Hilir

: Kabupaten Kuantan Singingi

2. Gambaran subjek penelitian Subjek penelitian utama berjumlah 8 orang, terdiri dari Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Seksi Penyuluhan dan Pendidikan Kesehatan, Kepala Seksi Gizi, Kepala Sub Bidang Promosi Kesehatan, Kepala Seksi Perencanaan, Kepala Sub Bidang Perencanaan, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Sosial Budaya dan Kesehatan Bappeda. Subjek pendukung penelitian adalah 5 orang

41

Kepala Desa daerah perkotaan dan 4 orang Kepala Desa yang berada di daerah pedesaan. Karakteristik subjek penelitian selengkapnya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Subjek Penelitian

No

Karakteristik

Subjek

Subjek

Jumlah

Utama

Pendukung

1

Umur :

     
 

a. 25 – 35 thn

0

1

1

 

b. 36 – 46 thn

6

6

12

 

c. 47 – 57 thn

2

2

4

2

Pendidikan :

     
 

a. SD

0

1

1

 

b. SLTP

0

0

0

 

c. SLTA/sederajat

0

7

7

 

d. D-1

1

0

1

 

e. S-1

4

1

5

 

f. S-2

3

0

3

3

Lama menduduki jabatan :

     
 

a. 0 – 3 thn

3

4

7

 

b. 4 – 6 thn

3

4

7

 

c. 7 – 10 thn

2

0

2

 

d. 11 thn – keatas

0

1

1

4

Jenis kelamin

     
 

a. Perempuan

4

0

4

 

b. Laki-laki

4

9

13

 

JUMLAH

8

9

17

Pendidikan subjek penelitian cukup bervariasi mulai dari SD sampai Strata 2 (S2). Subjek penelitian perempuan berjumlah 4 orang dan laki-laki 13 orang. Umur subjek penelitian yang termuda 35 tahun dan yang tertua 57 tahun. Lama menduduki jabatan rata-rata 4 tahun. Semua subjek utama penelitian pernah mendapatkan materi tentang perencanaan program dan mengikuti pertemuan perencanaan program yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten maupun Dinas Kesehatan Propinsi. Tetapi tidak semua subjek utama penelitian pernah mengikuti pelatihan perencanaan dan mendapatkan sertifikat telah mengikuti pelatihan perencanaan.

3.

Pemahaman tentang promosi kesehatan

Informasi yang diperoleh dari subjek penelitian tentang

pemahaman terhadap promosi kesehatan sangat berbeda antara yang

satu dengan lainnya. Umumnya subjek penelitian mendefinisikan promosi

kesehatan secara sederhana dan masih banyak yang menterjemahkan

promosi kesehatan sebagai hanya penyuluhan. Subjek tersebut

memberikan definisi promosi kesehatan sebagai kegiatan memberikan

informasi kepada masyarakat tentang program-program Dinas

Kesehatan.

program promosi kesehatan adalah kita memperkenalkan produk-produk atau hasil kegiatan dari Dinas Kesehatan kepada masyarakat. Itu yang saya tahu baik itu penyuluhan, pelayanan semuanya kita kenalkan kepada masyarakat. Kalau masyarakat membutuhkan ini yang kita berikan …. (K-4)

bagaimana kita itu mempromosikan apa saja yang ada di Dinas Kesehatan khususnya disini bidang saya Pemberdayaan. Bagaimana kita itu memberdayakan masyarakat itu untuk

mendukung kegiatan kita di kesehatan

(K-2)

Dari ungkapan tersebut terlihat bahwa subjek menempatkan

promosi kesehatan sebagai alat untuk menyampaikan informasi dari

program yang dilaksanakan dinas kesehatan. Subjek tidak menjelaskan

keterkaitan dengan pendidikan. Sementara dari ungkapan subjek kedua

terlihat bahwa subjek telah mendefinisikan dengan lebih jauh dikaitkan

dengan fungsi untuk mendidik masyarakat.

Beberapa subjek penelitian mampu memberikan penjelasan

dengan lebih lengkap dengan mendefinisikan manfaat dari promosi

kesehatan. Subjek menyatakan promosi kesehatan adalah upaya

pendidikan untuk merubah pengetahuan, sikap dan keterampilan dan

upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

suatu upaya untuk merubah pengetahuan, sikap dan

keterampilan masyarakat kearah yang positif di bidang

adalah

kesehatan

(K-5)

untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, namanyakan

promosi itu. Cuma ada strategi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat itu, ada advokasi, bina suasana, penggerakan atau

pemberdayaan masyarakat ya upaya, yaitu tadi ABG itu tadi

itulah tujuannya untuk itu melalui

(K-1)

upaya

4. Pengkajian kebutuhan

Tahapan pertama kali yang harus dilakukan sebelum membuat

perencanaan program adalah melakukan pengkajian kebutuhan. Pengkajian

kebutuhan dibagi menjadi dua bagian yaitu analisa kebutuhan masyarakat

dan pengkajian target.

a. Analisa kebutuhan masyarakat.

Informan menyampaikan bahwa sumber data yang digunakan

untuk pengkajian dalam perencanaan program promosi kesehatan adalah

data Profil Kesehatan Kabupaten, laporan bulanan dan wawancara

langsung kepada petugas kesehatan di puskesmas serta survei PHBS.

Hasil verifikasi terhadap sumber-sumber data tersebut memperlihatkan

bahwa banyak diantara data yang tidak valid dan tidak update yang diakui

oleh informan. Walaupun data dari sumber tersebut sudah diketahui

kurang akurat, tetapi informan tetap menjadikannya sebagai acuan

karena tidak adanya sumber data lain.

Kalau data dapat didapatkan dari beberapa ya, kita disini ada di subdin perencanaan kita lihat (profil kesehatan), di tingkat puskesmas ada petugas promkes, mungkin kita dapat minta

kepada mereka seperti survei PHBS

kalau

(K-3)

yang

langsung

mengambil

data

kita

karena kita tidak punya data lainnya, walaupun mungkin ada

kelemahan-kelemahannya, mau tidak mau kita harus percaya

walaupun kita tahu

bahwa data itu tidak terlalu akuratlah

dengan data kita sendiri, gimana pulak ya

Ya,

(K-5)

Permasalahan yang ada ternyata tidak hanya disebabkan oleh

ketersediaan data yang terbatas dan kurang akurat, tetapi bahkan

seringkali untuk menyusun sebuah rencana program yaitu pada tahapan

analisis, seringkali data yang ada tidak digunakan. Proses analisis hanya

berdasarkan trend. Informan menyampaikan bahwa hal tersebut terjadi

karena data yang ada seperti profil Dinas Kesehatan, datanya sangat

standar dan kurang spesifik serta karakter data dalam profil tersebut tidak

sesuai dengan kebutuhan untuk merancang kegiatan promosi kesehatan.

saya tidak.

terus terang saja belum berdasarkan data

Kalau

Untuk profil itu nggak banyak saya pakai, karena memang tidak spesifik, karena di saya ini, kalau di profilkan inikan lebih banyak misalnya struktur masyarakat, apa fasilitas pelayanan kesehatan, itu ajakan jadi kemudian untuk menggambarkan segmen yang akan saya capai itu sendiri nggak ada. Misalnya PNS berapa, terus anak sekolah juga nggak ada juga diprofil inikan, kalau diprofil ini hanya semata-mata hanya SDM kesehatan saja yang nampak (K-1)

Kendala terbesar yang disampaikan oleh informan adalah bahwa

tidak ada tenaga khusus yang bertugas sebagai pengumpul data. Dengan

tidak adanya petugas khusus untuk mengelola data, maka menjadikan

data menjadi tidak tersedia dan terkelola dengan baik. Kebutuhan-

kebutuhan data hanya diperoleh sangat tergantung kepada dari sumber

profil kesehatan.

Kegiatan analisis untuk penyusunan rencana program promosi

kesehatan dilaksanakan bersama-sama oleh Kepala Seksi, staf dan

petugas puskesmas serta staf yang mempunyai waktu luang. Kegiatan

analisis dinilai bukanlah fase strategis dan hanya besifat seremonial.

Dalam hal ini, ada atau tidaknya analisis bukan menjadi penentu apakah

program dapat diusulkan dan disetujui atau tidak. Tidak ada tugas khusus

dan skenario (standard operating procedure / SOP) yang digunakan

untuk melaksanakan kegiatan analisis tersebut. Hal tersebut tergambar

dari pernyataan informan sebagai berikut :

Kami

turun

lowong saja

bersama-sama,

(K-2)

siapa

yang

mempunyai

waktu

Dukungan dana, menurut subjek penelitian diperlukan untuk

tahapan analisis data misalnya yang digunakan untuk mengakumulasikan

data. Kegiatan pengumpulan data adalah sebuah kegiatan yang

membutuhkan dana, hal tersebut sebagaimana terlihat dari ungkapan

subjek penelitian berikut :

dimintakan tanpa uang, mestinyakan data mahal, tapi gak

ada dananya

pernah (tertawa), gimana mau mengusulkan usulan

tahun kemaren saja hilang

2)

Kebutuhan dana untuk analisis tersebut belum tersedia. Subjek

(K-

Data

Belum

(K-2)

iakan tapi gak ada sama sekali

menyampaikan anggaran dana untuk analisis tidak tersedia karena para

pembuat perencanaan tidak menyetujui usulan anggaran untuk analisis

kebutuhan. Alasan yang disampaikan diantaranya adalah analisis

kebutuhan (pengkajian data) masih dianggap kegiatan yang tidak penting,

dan pertimbangan bahwa pengajuan dana untuk pengkajian tersebut

kemungkinan tidak akan disetujui.

Beberapa subjek penelitian menyatakan bahwa, khusus untuk

survei PHBS tersedia dana yang bersumber dari APBD dan APBN, dana

ini dianggarkan setelah ada dukungan argumentasi yang kuat oleh tim

anggaran Dinas Kesehatan dalam penyampaian usulan anggaran baik di

Bappeda maupun di DPRD.

dulunya biasanya dari propinsi, dan APBN, kemudian

sudah 2 tahun ini sukurnya memang dapat dana itu, memang sempat kita berargumentasi memang, kalau ini tidak dibuat PHBS itu masuk dalam SPM rumah tangga sehatkan, sementara untuk

kajian, untuk apa itu PHBS itu minimal 3 tahun berturut-turut, kalau itu sampai putus data yang 2 tahun sebelumnya tidak ada artinya begitulah, mungkin karena argumen kita tahun ini kita dapat lagi,

nggak tahu tahun depan

Kalau

(K-1)

Jika dalam kegiatan perencanaan dilakukan analisis, data-data

pokok yang akan dimanfaatkan untuk analisis menurut subjek penelitian

meliputi : data cakupan hasil kegiatan, struktur penduduk, laporan

kegiatan, hasil survei, kegiatan tahun lalu dan angka kesakitan. Data-data

tersebut dinilai oleh subjek penelitian telah mencukupi untuk menjadi

dasar membuat perencanaan program promosi kesehatan.

kan merupakan data juga, kalau gak dari situ dari mana kita

tahu berapa desa yang belum desa siaga dan berapa desa yang

Itu

(K-2)

mungkin

data-data rumah tangga suatu tempat, kita lakukan

pengkajian, untuk kegiatan PHBS

kelamin, banyak perempuan atau anak-anak

status maksudnya jenis

(K-3)

Perencanaan

tahun sebelumnya itu bagus juga dijadikan

masukan sebagai bahan evaluasi, sebagai bahan evaluasi untuk

data-data itu

berangkat dari isu-isu sentral, isu sentral itu mengemuka saat ini. Fenomena dapat berdasarkan pola penyakit ya dapat, pengaruh- pengaruh barangkali migran karena penyakit ini (K-6)

menyusun perencanaan yang akan datang

Data yang penting untuk dianalisis sebenarnya bukan saja data

epidemiologi, statistik vital, struktur penduduk, tetapi masih banyak data

yang penting untuk dianalisis. Data mengenai kebijakan yang berlaku,

baik internal seperti dokumen Renstra dan lain-lain, serta data kebijakan

daerah belum diperhitungkan.

b. Pengkajian target.

Menurut subjek penelitian, tahapan lanjutan dalam proses

perencanaan adalah untuk menentukan target. Untuk menetapkan target

program, pertimbangan mendasar yang digunakan adalah aspek

keterjangkauan atau jarak, pedoman dari Depkes/pusat dan pedoman

dari provinsi jika tersedia, trend perkembangan di masyarakat dan

masyarakat yang mempunyai waktu luang. Selengkapnya disajikan pada

Tabel 3 berikut :

Tabel 3. Dasar melakukan penentuan target program promosi kesehatan menurut subjek penelitian

Dasar penentuan target progam

Pernyataan subjek penelitian

 
 

Cuma

bedanya kitakan, kalau kebanyakan

Keterjangkauan

target program

penyuluhan inikan keterjangkauan kita hanya

masyarakat yang masih di perkotaan, sementara data itu lebih banyak di desa. Sebenarnya kita mau

menjangkau kesitu

(K-1)

Trend di

terus

saya lihat terd peningkatan penyakit

masyarakat

hipertensi, stroke, DM, karena itu saya masukkan itu dan mungkin kecendrungan dari penyakit sehari- harilah, apakah dari data penyakit, melihat dari pekembangan kemajuan pembangunan kesehatan (K-1)

 

Inikan merupakan strategi dari pusat promosi

kesehatan, apa yang harus di iniin

Kan

kita juga

Pedoman Depkes

sudah ada program untuk promkes ke beberapa

tatanan rumah tangga, industri dan tatanan ditingkat

 

kesehatan sendiri

(K-3)

 

Ya,

pertama kalau ke PNS itukan dia lebih

Target yang mempunyai waktu luang

terorganisir, sehingga untuk menjangkau mereka lebih mudah, kalau kita mau masuk kemasyarakat pasar, terbentur karena mereka mau mencari duit, kadang nanti mengumpulkan mereka lebih sulit, karena pengalaman dahulu tahun 96/97, penyuluhan HIV/AIDS penyuluhan seluruh segmen masyarakat di jangkau, keburuh jadi waktu itu kita beri materi siang tapi semua, karena siang-siang itu truk pada datangkan, jadi mereka langsung bubar, ini jam cari duitni, banyak yang hilang waktu itu. (tertawa) (K-1)

Dikaitkan dengan target sasaran promosi kesehatan, subjek

penelitian mendefinisikan kelompok target program promosi kesehatan

dalam beberapa kelompok yaitu individu, kelompok dan masyarakat

rentan. Belum ada satupun subjek yang menjelaskan target program

pada aspek kebijakan yaitu para pembuat kebijakan dan aspek

institusional seperti kelompok-kelompok institusi. Dari gambaran tersebut

terlihat bahwa subjek telah memiliki target sasaran yang cukup lengkap

meskipun belum sampai kepada aspek kebijakan.

meningkatkan sasaran yang paling rentan itukan anak

sekolah, generasi muda, terus generasi wanita itu bahwa, ya

sebenarnyakan dalam unit terkecil wanita itulah yang sangat

berusaha

berperan dalam kesehatan jadi bagaimana wanita itu benar-benar diberdayakan, tentu mereka diberikan informasi kesehatan yang

lebih banyak

(K-1)

5. Perancangan program promosi kesehatan

Subjek penelitian mengungkapkan bahwa pertimbangan utama

dalam membuat rancangan program promosi kesehatan adalah Visi dan

Misi Dinas Kesehatan Kabupaten, data yang ada di profil Dinas

Kesehatan, pedoman Depkes/pusat, berdasarkan trend yang ada di

masyarakat, dan berdasarkan ketersediaan anggaran. Salah satu

pertimbangan penting lain adalah ada atau tidaknya program

sebelumnya. Program-program yang telah dijalankan pada tahun

sebelumnya memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk diusulkan

kembali pada tahun berikutnya. Selengkapnya disajikan pada tabel 4

sebagai berikut :

Tabel 4. Dasar Rancangan program Promosi Kesehatan

Dasar Rancangan

 

Pernyataan subjek penelitian

 

Visi dan misi pembangunan kesehaan

kalau

dasarnya secara garis besar tentu dari visi

dan misi pembengunan kesehatan dimana visi kita itu salah satunya adalah mewujudkan lingkungan

 

yang sehat

(K-5)

Profil Dinas

Yang

diambil dari profil Dinas Kesehatan. Yang

Kesehatan

diminta misalnya jumlah desa itu diambil dari profil

Dinas Kesehatan

(K-2)

Pedoman dari

Inikan

merupakan

strategi

dari

pusat

promosi

pusat/Depkes

kesehatan, apa yang harus di iniin

(K-3)

 

kita

dapat melihat trennya kemana, kalau yang

Trend di

untuk bersifat umum atau sosialisasi, mungkin ada juga yang melihat ke tahun lalu, dan juga mungkin data yang terjadi sekarang. Mungkin anak-anak sekolah yang banyak trend merokok atau apa, kita dapat juga melihat itu, jadi nanti kedepannya, dengan keterbatasan anggaran kita kemana, tidak

masyarakat

semua kita lakukan

(K-3)

 

untuk

masuk ketahap-tahapan kegiatan itu

Anggaran

mungking akhir atau finisingnya pada saat setelah anggaran/dana itu keluar baru kita dapat cocokkan kembali perencanaan kita. Karena kita dibatasi oleh anggaran, dapat jadi nanti diawal sudah di iniin (direncanakan), tiba-tiba nanti dalam suatu atau hearing dengan stake holdernya kegiatan itu

 

dihilangkan itu dapat terjadi mungkin. Diawal sudah

mulai dilakukan

(K-3)

 

karena

masalah yang kita hadapi itu kadang-

kadang tidak sama setiap tahun, jadi tentu seperti

Perencanaan tahun sebelumnya

yang saya katakan tadi kita melihat kepada, mungkin masalah yang terjadi pada tahun sebelumnya serta juga program-program prioritas bidang kesehatan yang akan kita laksanakan ditahun yang akan datang. Jadi itulah hendaknya yang menjadi dasar pada rencana promosi kesehatan bukan sama

dengan yang tahun lalu saja

(K-5)

Hasil penelaahan terhadap dokumen perencanaan program

pemberdayaan memperlihatkan bahwa belum banyak program baru atau

inovatif yang dikembangkan. Dari dokumen yang dikaji terlihat bahwa

hanya terdapat perencanaan untuk program desa siaga dan posyandu,

sementara UKBM lain tidak terlihat demikian pula untuk program inovatif

lainnya. Seringkali subjek memberikan alasan yang sangat sederhana

misalnya tidak adanya tuntutan yang mengharuskan untuk mengusulkan

misalnya dalam kaitannya dengan tidak adanya program di dalam format

laporan wajib maka disimpulkan berarti progam tidak penting. Salah satu

contoh yang diungkapkan oleh subjek adalah tidak adanya perencanaan

UKBM lain (Pos Obat Desa / POD, Tanaman Obat Keluarga/TOGA)

adalah karena POD dan TOGA tidak termasuk dalam format laporan

bulanan puskesmas.

Sebenarnya ini kayak apa

apa na