Anda di halaman 1dari 12

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Rumah Tangga Sehat
II.1.1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
a. Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran
sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri
dalam hal kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan
di masyarakat.
Sedangkan PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk
memberdayakan anggota rumah tangga agar memahami dan mampu
melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta berperan aktif dalam
Gerakan Kesehatan di masyarakat.
1

b. Manfaat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Menerapkan beberapa indikator perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) khususnya pada tingkatan rumah tangga, memerlukan upaya yang
berkesinambungan. Program PHBS mesti dilaksanakan secara terpadu oleh
seluruh lapisan masyarakat dengan instansi kesehatan, sebagai sektor
pelopor. Jika masyarakat telah berhasil mewujudkan suatu pola hidup bersih
dan sehat dalam tatanan rumah tangga, sehingga menjadi rumah tangga
sehat, maka banyak manfaat yang akan bisa dirasakan pada masa kini dan
ke masa depan, baik di tingkat rumah tangga maupun di tengah-tengah
kehidupan bermasyarakat.
5


1. Manfaat Bagi Rumah Tangga :
Setiap anggota keluarga menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit.
Anak-anak akan tumbuh sehat dan cerdas, sehingga kualitas generasi
penerus lebih bermutu.
Anggota keluarga lebih giat bekerja, berarti produktivitas kerja bisa
ditingkatkan.
5

Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi
keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan
keluarga.

2. Manfaat Bagi Masyarakat :
Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat secara mandiri
dan menyeluruh
Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan disekitarnya
Masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan kesehatan yang
ada.
Masyarakat mampu mengembangan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan
jamban, ambulans desa dan lain-lain.

II.1.2. Faktor yang Mempengaruhi
Hal-hal yang mempengaruhi PHBS sebagian terletak di dalam diri
individu itu sendiri, yang disebut faktor internal, dan sebagian terletak di
luar dirinya yang disebut faktor eksternal (faktor lingkungan).
1. Faktor Internal
a. Keturunan
Seseorang berperilaku tertentu karena memang sudah demikianlah
diturunkan dari orangtuanya. Sifat-sifat yang dimilikinya adalah sifat-
sifat yang diperoleh dari orang tua atau neneknya dan lain sebagainya.
b. Motif
Manusia berbuat sesuatu karena adanya dorongan atau motif tertentu.
Motif atau dorongan ini timbul karena dilandasi oleh adanya
kebutuhan, yang oleh Maslow dikelompokkan menjadi kebutuhan
biologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan rohani.



6

2. Faktor Eksternal
Faktor-faktor yang ada di luar diri individu bersangkutan. Faktor-
faktor ini mempengaruhi individu sehingga di dalam diri individu timbul
unsur-unsur dan dorongan untuk berbuat sesuatu.
a. Unsur-unsur perilaku bagi individu, meliputi pengertian atau
pengetahuan tentang apa yang akan dilakukannya, keyakinan atau
kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang
dilakukannya, sarana yang diperlukan untuk melakukannya, serta
dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan
yang dirasakannya.
b. Unsur-unsur perilaku bagi individu sebagai anggota kelompok,
meliputi pengertian atau pengetahuan tentang apa yang akan
dilakukannya, keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan
kebenaran dari apa yang dilakukannya, sarana yang diperlukan untuk
melakukannya, dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi
oleh kebutuhan yang dirasakannya, serta norma atau dukungan
kelompok bahwa apa yang akan dilakukan itu benar atau bisa diterima
oleh kelompoknya. Kamisah Sualman. PHBS Tatanan rumah tangga.
6


II.1.3. Sasaran PHBS
Sasaran PHBS di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga
secara keseluruhan dan terbagi dalam;
1. Sasaran primer
Sasaran utama dalam rumah tangga yang akan dirubah perilakunya
atau anggota keluarga yang bermasalah (individu dalam keluarga yang
bermasalah).
2. Sasaran sekunder
Sasaran yang dapat mempengaruhi individu dalam keluarga yang
bermasalah misalnya, kepala keluarga, ibu, orang tua, tokoh keluarga,
kader, tokoh agama, tokoh masyarakat, petugas kesehatan dan lintas
sektor terkait, PKK.
7

3. Sasaran tersier
Sasaran yang diharapkan dapat menjadi unsur pembantu dalam
menunjang atau mendukung pendanaan, kebijakan, dan kegiatan untuk
tercapainya pelaksanaan PHBS misalnya, kepala desa, lurah, camat,
kepala Puskesmas, guru, tokoh masyarakat dll. Perilaku hidup bersih dan
sehat.
7

II.1.4. Langkah-Langkah Pembinaan Program PHBS
Langkah-langkah kegiatan pembinaan program PHBS di tatanan
rumah tangga oleh petugas kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota dan
Kecamatan secara umum sebagai berikut:
1. Melakukan diseminasi informasi PHBS kepada petugas di Tingkat
Kecamatan/Puskesmas, Lintas Program dan Lintas Sektoral serta mitra
kerja di Tingkat Kabupaten/Kota.
2. Mengarahkan dan memfasilitasi pelaksanaan pengkajian.
3. Memfasilitasi proses penyusunan rencana kegiatan PHBS.
4. Membantu proses penilaian PHBS di tatanan rumah tangga.
5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan PHBS.
1


II.1.5. Pola Pembinaan
1. Tahap Persiapan
Langkah-langkah yang harus diperhatikan meliputi sosialisasi dan
advokasi kesehatan, persiapan sarana, persiapan administrasi serta
persiapan pelaksana.
2. Tahap Pengkajian
Tahap ini dilakukan terhadap masalah penyakit, sumber daya, dan
perilaku (PHBS).
3. Tahap Perencanaan
Perencanaan berbasis data akan menghasilkan prioritas, penentuan
tujuan, jenis kegiatan dan intervensi, serta jadwal kegiatan.
8

4. Tahap Penggerakan Pelaksanaan
Penggerakan pelaksanaan adalah upaya yang dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah dibuat, dan kegiatannya merupakan
implementasi dari intervensi yang terpilih.
5. Tahap Pemantauan dan Penilaian
Pemantauan dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh suatu
program telah berjalan dan memberikan hasil seperti yang diharapkan.
Penilaian menggunakan instrument dilakukan setiap 1 tahun sekali
dengan cara melakukan kompilasi melalui pengkajian seperti pada tahap
pertama, hasil pengkajian akhir tahun dibandingkan dengan hasil
pengkajian sebelumnya.
1

II.1.6. Indikator PHBS
Indikator PHBS tatanan rumah tangga adalah suatu alat ukur atau
merupakan suatu petunjuk ysng membatasi fokus perhatian untuk menilai
keadaan atau permasalahan kesehatan rumah tangga. Indikator PHBS
tatanan rumah tangga diarahkan pada aspek program prioritas yaitu KIA,
gizi, kesehatan lingkungan, gaya hidup, dan upaya kesehatan masyarakat.
Indikator PHBS tatanan rumah tangga yang digunakan di Jawa
Tengah terdapat 16 variabel yang terdiri atas 10 indikator nasional dan 6
indikator lokal Jawa Tengah.
1


Indikator nasional PHBS di Rumah Tangga, yaitu;
1

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
Keluarga yang memiliki ibu hamil punya akses pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan (bidan/dokter).
Bagi keluarga yang tidak atau belum pernah hamil, maka digali
dengan pertanyaan mengenai pengetahuan dan sikapnya tentang
persalinan oleh tenaga kesehatan.

9

2. Memberi ASI ekslusif
Bayi memperoleh ASI Eksklusif sejak usia 0 s/d 6 bulan (hanya diberi
ASI saja, tanpa makanan tambahan lain termasuk susu formula).
Bagi keluarga yang tidak atau belum pernah memiliki bayi, maka
digali dengan pertanyaan mengenai pengetahuan dan sikapnya tentang
ASI Eksklusif.

3. Menimbang bayi dan balita
Keluarga yang meiliki balita menimbangkan secara teratur (dilakukan
satu bulan sekali atau minimal 8 kali/tahun di sarana kesehatan (PKD,
Posyandu, dan Puskesmas).
Bagi keluarga yang tidak atau belum pernah memiliki balita, maka
digali dengan pertanyaan mengenai pengetahuan dan sikapnya tentang
penimbangan balita.

4. Makan buah dan sayur setiap hari (Gizi)
Semua anggota Keluarga mengkonsumsi beranekaragam makanan
dalam jumlah cukup untuk memenuhi dengan gizi seimbang dan bebas
pencemaran (bahan dicuci, tertutup, tanpa bahan tambahan makanan
yang berbahaya).

5. Menggunakan air bersih
Semua anggota keluarga menggunakan/memanfaatkan air bersih
untuk keperluan sehari-hari (memasak, mandi, mencuci, dan yang untuk
diminum dimasak dulu/kemasan).

6. Menggunakan jamban sehat
Semua anggota keluarga menggunakan jamban sehat. Rumah yang
ditempati keluarga responden sudah menggunakan jamban keluarga yang
baik, sesuai dengan syarat kesehatan (kakus cemplung tanpa leher angsa
yang tertutup saat tidak sedang digunakan, atau kaskus dengan leher
10

angsa, sudah menggunakan septic-tank yang berjarak minimal 10 meter
dengan peresapan sumber air bersih).

7. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
Seluruh anggota keluarga terbiasa atau secara rutin mencuci tangan
menggunakan sabun sebelum makan dan setelah BAB.

8. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Rumah yang ditempati secara rutin dilakukan pembersihan dan
gerakan 3M, yaitu menguras/membersihkan dan menutup tempat-tempat
penampungan air, serta mengubur barang-barang bekas yang tidak
terpakai.

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
Anggota rumah tangga yang berusia > 10 tahun secara rutin
melakukan aktifitas fisik/olahraga secara terukur selama 30 menit, dan
dilakukan 3-5 kali dalam seminggu.

10. Tidak merokok di dalam rumah
Menanyakan apakah ada anggota keluarga yang merokok dalam 1
bulan terakhir. Hal ini didukung dengan melihat ada/tidaknya asbak yang
terpakai di dalam rumah.

Namun untuk Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menambahkan
6 indikator sehingga menjadi 16 indikator PHBS, yaitu :
1
11. Memiliki tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat
Menanyakan apakah keluarga membuang sampah pada tempatnya.
a. Sampah ditampung dan dibuang setiap hari di tempat pembuangan
yang memenuhi syarat.
b. Tempat sampah tidak berserakan, baik di dalam maupun di luar rumah
11

12. Luas ruangan rumah untuk masing-masing penghuni minimal 9 m
2
.
Jumlah penghuni rumah responden, dan luas rumah yang ditempati
KK tersebut. Kepadatan hunian dinilai dari luas rumah dibagi jumlah
penghuni.

13. Tempat tinggal berlantai kedap air (bukan tanah) dalam keadaan bersih.
Menanyakan dan melihat kondisi lantai rumah responden. Harus
sudah menggunakan bahan yang tidak rembas air (plester semen, ubin,
keramik, marmer) pada seluruh permukaan lantai di dalam rumah.

14. Menggosok gigi minimal 2 kali sehari
Secara rutin anggota keluarga membersihkan gigi dan mulut
(menyikat gigi) sebanyak 2 kali setiap hari.

15. Memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Keluarga tersebut (atau ada anggota keluarga) yang menjadi
anggota dana sehat / JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) yang
dibuktikan dengan adanya kartu keanggotaan. Yang dimaksud dengan
dana sehat / JPK seperti ASKES, ASTEK/JAMSOSTEK dan sejenisnya.

16. Tidak mengkonsumsi narkoba dan minuman keras
Ada anggota keluarga yang minum minuman keras yang
mengandung alkohol (miras), dan/atau melakukan penyalahgunaan napza
(narkotika, psikotropika, dan zat aditif).

Cara penilaian yaitu jika ya diberi nilai 1(satu) dan jika tidak diberi
nilai 0 (nol), kemudian dimasukan ke strata dengan pembagian :
1. Strata Pratama : apabila jumlah nilai keluarga 1-5
2. Stara Madya : apabila jumlah nilai keluarga 6-10
3. Strata Utama : apabila jumlah nilai keluarga 11-15
4. Strata Paripurna : apabila jumlah nilai keluarga 16

12

II.1.7. Peran Kader
8
KADER sebagai ujung tombak terdepan dalam Upaya Kesehatan
Berbasis Masyartakat (UKBM) memegang peranan penting untuk
menggerakkan partisipasi masyarakat supaya hidup bersih dan sehat. Salah
satu tugas utama kader adalah bagaimana bisa memberdayakan pola hidup
bersih dan sehat itu dalam tatanan rumah tangga di lingkungan terdekat
tempat tinggalnya. Ada lima peran (5 P) kader dalam mewujudkan Rumah
Tangga Sehat, yang disadur dan diolah kembali dari beberapa sumber,
menurut opini penulis, seperti berikut ini;
1. Pendataan:
Melakukan pendataan rumah tangga yang ada di wilayahnya
dengan menggunakan Kartu PHBS atau Pencatatan PHBS di rumah
tangga pada buku kader. Pendataan bisa dilakukan secara terpadu dengan
petugas kesehatan atau pamong praja, aparat pemerintahan di wilayah
tempat tinggalnya.
2. Pendekatan:
Melakukan pendekatan kepada kepala desa/lurah dan tokoh
masyarakat untuk memperoleh dukungan dalam pembinaan PHBS di
Rumah Tangga. Pendekatan dilaksanakan secara personal dan persuasif
guna mendapatkan dukungan optimal yang berkelanjutan.
3. Pemberdayaan:
Memberdayakan keluarga untuk melaksanakan PHBS melalui
penyuluhan personal, kelompok, penyuluhan massa dan penggerakan
masyarakat. Sosialisasi PHBS di Rumah Tangga ke seluruh rumah
tangga yang ada di desa /kelurahan melalui kelompok dasawisma.
4. Pengembangan:
Mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mendukung terwujudnya
Rumah Tangga Sehat. Kegiatan yang dikembangkan disesuaikan dengan
kreatifitas dan kemapanan dari warga masyarakat setempat, misalnya:
Lomba Rumah Tangga Sehat, dll.
13

5. Pemantauan:
Memantau kemajuan pencapaian Rumah Tangga sehat di
wilayahnya setiap tahun melalui pencatatan PHBS di Rumah Tangga.
Pemantauan tersebut bisa dilaporkan secara terkoordinir dengan petugas
kesehatan di wilayah kerja puskesmas setempat.

II.2. Analisis Penyebab Masalah
Dalam melakukan analisis masalah tersebut digunakan metode
pendekatan sistem untuk mencari kemungkinan penyebab.
8
Dari pendekatan
sistem ini dapat ditelusuri hal-hal yang mungkin menyebabkan munculnya
permasalahan di Dusun Manurojo Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang. Adapun sistem yang diutarakan disini adalah sistem
terbuka pelayanan kesehatan yang dijabarkan sebagai berikut :














Gambar 1. Analisis Masalah Berdasarkan Pendekatan Sistem

II.3. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah
Langkah pertama dalam siklus pemecahan masalah adalah melakukan
identifikasi masalah kemudian dianalisis dan menentukan penyebab masalah
INPUT

Man,
Money,
Method,
Material,
Machine
PROSES

P1
P2
P3
OUTPUT

Cakupan
Program
LINGKUNGAN
Fisik
Kependudukan
Sosial Budaya
Sosial Ekonomi
Kebijakan
14

yang dapat digali dari data maupun kepustakaan, dapat juga dibantu dengan
menggunakan diagram tulang ikan (Fish Bone)
9
Langkah selanjutnya adalah mencari penyebab yang paling mungkin
dengan cara mengkonfirmasi kemungkinan penyebab yang ditemukan ke
bagian program masalah tersebut. Setelah menemukan penyebab yang
paling mungkin, dilakukan penanggulangan penyebab masalah dengan
menyusun alternatif pemecahan masalah tersebut. Selanjutnya adalah
menetapkan pemecahan masalah terpilih dengan menggunakan kriteria
matriks. Setelah menemukan urutan prioritasnya maka langkah selanjutnya
menyusun Plan Of Action (POA).
9














Gambar 2. Siklus Pemecahan Masalah

Keterangan :
a. Identifikasi Masalah
Menetapkan keadaan spesifik yang ingin dicapai, menetapkan
indikator tertentu (SPM) sebagai dasar pengukuran kinerja.
Mempelajari keadaan dengan menghitung skor hasil pencapaian.
Membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi dengan keadaan
tertentu yang diinginkan, indikator yang sudah ditentukan.
Identifikasi Masalah
Penentuan
Prioritas Masalah
Penentuan
Penyebab Masalah
Memilih Penyebab
yang paling
mungkin
Menentukan
Alternatif
Pemecahan Masalah
Monitoring dan
Evaluasi
Penyusunan
Rencana
Penetapan
Pemecahan
Masalah Terpilih
15

b. Penentuan Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah adalah suatu proses untuk menentukan
urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan yang kurang
penting.
c. Penentuan Penyebab Masalah
Digali berdasarkan data atau kepustakaan. Penetuan penyebab
masalah hendaknya jangan menyimpang dari masalah. Untuk membantu
menentukan kemungkinan penyebab masalah dapat dipergunakan
diagram tulang ikan (Fish Bone Diagram).
d. Memilih Penyebab yang Paling Mungkin
Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebab-
sebab yang didukung oleh data atau konfirmasi.
e. Menentukan Alternatif Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab
yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas, maka dapat
langsung pada alternatif pemecahan masalah.
f. Menetapkan Pemecahan Masalah Terpilih
Apabila didapatkan beberapa alternatif pemecahan masalah, maka
digunakan metode Kerangka Matriks untuk menentukan/memilih
pemecahan masalah yang efektif dan efisien .
g. Penyusunan Rencana Penerapan
Setelah pemecahan masalah terpilih ditentukan, langkah
selanjutnya menentukan kegiatankegiatan dalam rangka pemecahan
masalah. Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk
PoA (Plan of Action).
h. Monitoring dan Evaluasi
Ada dua segi pemantauan :
Apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah sudah diterapkan
dengan baik
Apakah masalah sudah dapat dipecahkan