Anda di halaman 1dari 20

5

BAB I
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny.P
Jenis Kelamin
: Perempuan
Usia
: 48 th
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Jawa
Alamat
: Sukaraja tengah rt 04/rw 03
Tanggal Periksa
: 11 September 2014
No. CM

: 000-806-57

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Gatal di perut sebelah kiri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Onset
6 hari yang lalu
b. Lokasi
Bagian perut sebelah kiri
c. Faktor Memperberat
d. Faktor Memperingan
e. Kronologi
Pasien mulai merasakan gatal di bagian perut sebelah kiri sejak
enam hari yang lalu. Awalnya, pasien merasakan pegel di perut,
dan keesokan harinya pasien mengeluh gatal. Demam muncul
dihari ketiga setelah pegal dan gatal-gatal. Dua hari setelah demam
muncul kulit berwarna merah disertai benjolan-benjolan kecil
berkelompok berisi air disekitar perut bagian kiri. Benjolan
tersebut sekarang ada yang besar.
f. Gejala penyerta
nyeri dikulit sekitar perut bagian kiri
3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengaku belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya.


Pasien juga tidak memiliki riwayat alergi obat atau alergi makanan.
Pasien mengaku pernah terkena cacar air waktu kecil.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti pasien.
Riwayat alergi pada keluarga juga tidak ada.
5. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan dan
keluarga anaknya yang berjumlah 3 orang.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaram
: Compos mentis
Tanda Vital

Tekanan Darah
Nadi
Respiration rate
Suhu

Tinggi badan
Berat badan
Kesan gizi

: 120/80 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36,5

: 155 cm
: 48 kg
: cukup

Status Generalis
Kepala : Simetris, mesochepal, venektasi temporal (-/-)
Mata : OD: Konjungtiva anemis ( -), sklera ikterik ( -)
OS: Konjungtiva anemis ( -), sklera ikterik ( -)
Hidung: Discharge (-), deviasi septum (-)
Mulut : Lidah sianosis (-), atrofi papil lidah (-)
Telinga: Kelainan bentuk (-), discharge (-)
Leher : Deviasi trakhea (-), KGB tidak teraba
Thorax : simetris
Pulmo: SD vesikuler (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)
Cor: S1>S2 reguler, M (-), G (-)
Abdomen : datar, BU (+) N, timpani, supel
Ekslremitas : superior: edema (-/-), RF(+/+),RP (-/-)
inferior : edema (-/-), RF(+/+),RP (-/-)
akral : hangat di keempat extremitas
Status Lokalis Dermatologi
Lokasi
: Regio Lumbalis sinistra
Efloresensi
: Tampak makula eritematosa dengan diatasnya terdapat
vesikel

berkelompok, dan bullae, dermatom unilateral

thorakal costae 8-9

D. RESUME
Pasien datang ke poli kulit kelamin RSMS dengan keluhan gatal di bagian
kiri perut pasien. Pasien mulai merasakan gatal di bagian perut kiri sejak 6
hari yang lalu. Awalnya, satu hari sebelum pasien merasakan gatal, pasien
mengeluh demam selama dua hari disertai nyeri atau pegel di bagian perut
kemudian kulit disekitar perut kiri memerah dan banyak terdapat benjolanbenjolan kecil berisi cairan, terasa gatal dan perih. Pada pemeriksaan
status

generalis

dalam

dermatologikus, lokasi di

batas

normal.

Pada

pemeriksaan

status

region lumbalis sinistra tampak makula

eritematosa dengan beberapa vesikel berkelompok dan bullae dengan


dermatom unilateral.
E. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Apusan Tzank
2. Tes serologi
F. DIAGNOSIS
1. Diagnosis Klinis
Herpes zoster regio lumbalis sinistra
2. Diagnosis Banding
a. Varisela
b. Impetigo vesikobulosa
G. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
a. Sistemik
Antiviral : Acyclovir 5x800 mg/hari, peroral selama 7 hari
Analgetik : Asam mefenamat 3x500 mg/ hari, peroral
b. Topikal :
Untuk area kulit diberikan krim natrium fusidat (Fuson ),

dioleskan 2x sehari.
Untuk menghindari infeksi sekunder diberikan bedak salisil

2%.
2. Non medikamentosa
a. Istirahat, tirah baring
b. Diet tinggi kalori tinggi protein
c. Usahakan tidak menggaruk luka, agar vesikel yang masih ada tidak
pecah dan terjadi infeksi sekunder.

H. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad sanasionam
Quo ad fungsionan
Quo ad cosmeticam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam
: dubia ad bonam

Effloresensi Pada Pasien Ny.D

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas berupa vesikelvesikel yang tersusun berkelompok, unilateral di sepanjang persarafan
sensorik kulit sesuai dengan dermatom (Handoko, 2005).
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang
oftalmikus saraf trigeminus (N.V)

yang ditandai adanya erupsi herpetik

unilateral pada kulit (Sanjay et al , 2011).


B. Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) yang
tergolong virus berinti DNA, virus ini berukuran 140-200 nm dan termasuk
subfamili

alfa

herpes

viridae.

Berdasarkan

sifat

biologisnya

VVZ

diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa, beta dan gamma. VVZ dalam
subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel
epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer,
infeksi oleh virus herpes alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam
neuron dari ganglion. Virus yang laten ini pada saatnya akan menimbulkan
kekambuhan secara periodik. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai
jajaran penjamu yang relatif luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek
serta mempunyai enzim yang penting untuk replikasi meliputi virus spesifik
DNA polimerase dan virus spesifik deoxypiridine (thymidine) kinase yang
disintesis di dalam sel yang terinfeksi (Hartadi, 2006).

10

Gambar 2.1 Struktur Virus Varicella Zoster (Medscape, 2011)


C. Epidemiologi
Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi
oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka
kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan
peningkatan usia. Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia
dan 10 % diantaranya adalah herpes zoster oftalmikus. Di negara maju seperti
Amerika, penyakit ini dilaporkan sekitar 6% setahun, di Inggris 0,34% setahun
sedangkan di Indonesia kurang lebih 1% setahun (Sanjay et al, 2011; Sjamsoe,
2005).
Herpes zoster oftalmika sering menyerang usia tua (90%), dimana specific
cell mediated immunity pada umumnya menurun seiring dengan bertambahnya
usia, atau pasien yang mengalami penurunan system imun seluler. Morbiditas
kebanyakan terjadi pada individu dengan imunosupresi (HIV/AIDS), pasien
yang mendapat terapi dengan imunosupresif dan pada usia tua (Sanjay et al,
2011; Sjamsoe, 2005).
D. Patogenesis dan Patofisiologi
Infeksi primer dari VVZ ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring.
Disini virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi
viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Keadaan ini

11

diikuti masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang


kemudian mengadakan replikasi kedua yang sifat viremia nya lebih luas dan
simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagian virus
juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris
dan berdiam diri atau laten didalam neuron. Selama antibodi yang beredar
didalam darah masih tinggi, reaktivasi dari virus yang laten ini dapat
dinetralisir, tetapi pada saat tertentu dimana antibodi tersebut turun dibawah
titik kritis maka terjadilah reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster
(Timur, 2009).

Gambar 2.3 Patogenesis Virus Varisela Zoster ( Medscape, 2008)

E. Manifestasi Klinis
ejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa sakit dan parestesi pada
dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa hari menjelang timbulnya
erupsi. Gejala konstitusi, seperti sakit kepala, malaise, dan demam, terjadi
pada 5% penderita (terutama pada anak-anak) dan timbul 1-2 hari sebelum

12

terjadi erupsi.
Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata
dan unilateral. Jarang erupsi tersebut melewati garis tengah tubuh. Umumnya
lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh salah satu ganglion saraf
sensorik.
Erupsi mulai dengan eritema makulopapular. Dua belas hingga dua puluh
empat jam kemudian terbentuk vesikula yang dapat berubah menjadi pustula
pada hari ketiga. Seminggu sampai sepuluh hari kemudian, lesi mengering
menjadi krusta. Krusta ini dapat menetap menjadi 2-3 minggu.Keluhan yang
berat biasanya terjadi pada penderita usia tua. Pada anak-anak hanya timbul
keluhan ringan dan erupsi cepat menyembuh. Rasa sakit segmental pada
penderita lanjut usia dapat menetap, walaupun krustanya sudah menghilang.
Frekuensi herpes zoster menurut dermatom yang terbanyak pada dermatom
torakal (55%), kranial (20%), lumbal (15%), dan sakral (5%).
F. Pemeriksaan kulit

Menurut lokasi lesinya, herpes zoster dibagi menjadi:


1. Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari
cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik
unilateral pada kulit.
Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah
disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala prodromal
berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul. Fotofobia,
banyak kelar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka.

13

Gambar 1. Herpes zoster oftalmikus sinistra.


2. Herpes zoster fasialis
Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis
(N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 2. Herpes zoster fasialis dekstra.


3. Herpes zoster brakialis
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral
pada kulit.

14

Gambar 3. Herpes zoster brakialis sinistra.


1. Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral
pada kulit.

Gambar 4. Herpes zoster torakalis sinistra.


5. Herpes zoster lumbalis
Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral
pada kulit.

15

6. Herpes zoster sakralis


Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral
pada kulit.

Gambar 5. Herpes zoster sakralis dekstra.


G. Pemeriksaan Penunjang
Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan diagnosis.
Akan tetapi pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksaan
penunjang antara lain:
1.

Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan


mikroskop elektron.
Secara laboratorium, pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck
membantu menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti
banyak. Demikian pula pemeriksaan cairan vesikula atau material
biopsi dengan mikroskop elektron, serta tes serologik. Pada
pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel limfosit yang
mencolok, nekrosis sel dan serabut saraf, proliferasi endotel pembuluh
darah kecil, hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. Partikel
virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan antigen virus herpes
zoster dapat dilihat secara imunofluoresensi (Mansjoer et al, 2010).

2.

Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen

3.

Test serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik.

16

H. Diagnosis
a. Anamnesis
Diagnosis herpes zoster pada anamnesis didapatkan keluhan berupa
neuralgia (nyeri) beberapa hari sebelum atau bersama-sama dengan
timbulnya kelainan kulit. Seringkali sebelum timbul kelainan kulit
didahului gejala prodromal seperti demam, pusing dan lemas
b. Pemeriksaan kulit
Karakteristik dari erupsi kulit pada herpes zoster terdiri atas vesikelvesikel berkelompok, dengan dasar eritematosa, unilateral, dan
mengenai satu dermatom.
I. Diagnosis Banding
Diagnosis banding herpes zoster oftalmikus antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Luka Bakar
Keratitis herpes simpleks
Bells palsy
Episkliritis
Erosi kornea persisten pada herpes simpleks
Manifestasi occular HIV (Timur, 2009).

J. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk:
a. Mengatasi infeksi virus akut
b. Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster
c. Mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetic (Roxas, 2009)
1. Non Medikamentosa
Selama fase akut, pasien dianjurkan tidak keluar rumah, karena dapat
menularkan kepada orang lain yang belum pernah terinfeksi varisela dan
orang dengan defisiensi imun. Usahakan agar vesikel tidak pecah,
misalnya jangan digaruk dan pakai baju yang longgar. Untuk mencegah
infeksi sekunder jaga kebersihan badan (Saad and Christopher, 2010).
2. Medikamentosa
a. Sistemik

17

1) Obat Antivirus
Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya,
misalnya valasiklovir dan famsiklovir. Asiklovir bekerja sebagai
inhibitor DNA polimerase pada virus. Asiklovir dapat diberikan
peroral ataupun intravena. Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari pertama
sejak lesi muncul. Dosis asiklovir peroral yang dianjurkan adalah
5800 mg/hari selama 7 hari, sedangkan melalui intravena biasanya
hanya digunakan pada pasien yang imunokompromise atau penderita
yang tidak bisa minum obat. Obat lain yang dapat digunakan sebagai
terapi herpes zoster adalah valasiklovir. Valasiklovir diberikan 31000
mg/hari selama 7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain
itu famsiklovir juga dapat dipakai. Famsiklovir juga bekerja sebagai
inhibitor DNA polimerase. Famsiklovir diberikan 3200 mg/hari
selama 7 hari (Saad and Christopher, 2010; Hodge, 2006).
2) Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang ditimbulkan
oleh virus herpes zoster. Obat yang biasa digunakan adalah asam
mefenamat. Dosis asam mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikan
sebanyak 3 kali, atau dapat juga dipakai seperlunya ketika nyeri
muncul (Saad and Christopher, 2010; Hodge, 2006).
3) Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt.
Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis.
Yang biasa diberikan ialah prednison dengan dosis 320 mg/hari,
setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis
prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik
digabung dengan obat antivirus (Saad and Christopher, 2010; Hodge,
2006).
b. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium
vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah
pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif

18

diberikan kompres terbuka. Jika terjadi ulserasi dapat diberikan salap


antibiotic (Saad and Christopher, 2010; Hodge, 2006).

K. Komplikasi
1. Neuralgia paska herpetik
Neuralgia paska herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan. Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan sampai
beberapa tahun. Keadaan ini cenderung timbul pada umur diatas 40 tahun,
persentasenya 10 - 15 % dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Semakin tua
umur penderita maka semakin tinggi persentasenya.
2. Infeksi sekunder
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi.
Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi H.I.V., keganasan,
atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering manjadi ulkus
dengan jaringan nekrotik.
3. Kelainan pada mata
Pada herpes zoster oftatmikus, kelainan yang muncul dapat berupa: ptosis
paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioratinitis dan neuritis optik.
4. Sindrom Ramsay Hunt
Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan
otikus, sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell),
kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo,
gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan.
5. Paralisis motorik
Paralisis motorik dapat terjadi pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat perjalanan
virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang
berdekatan. Paralisis ini biasanya muncul dalam 2 minggu sejak munculnya
lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi seperti: di wajah, diafragma, batang
tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus. Umumnya akan sembuh spontan.
L. Prognosis
Prognosis bonam bila ditatalaksana secara cepat dan adekuat.

19

BAB III
PEMBAHASAN

Anamnesis

Pasien datang ke poli kulit kelamin RSMS dengan keluhan gatal dan nyeri di
perut kiri sejak enam hari yang lalu.

Pasien mulai merasakan gatal di bagian perut sebelah kiri sejak enam hari
yang lalu. Awalnya, pasien merasakan pegel di perut, dan keesokan harinya
pasien mengeluh gatal. Demam muncul dihari ketiga setelah pegal dan gatalgatal. Dua hari setelah demam muncul kulit berwarna merah disertai
benjolan-benjolan kecil berkelompok berisi air disekitar perut bagian kiri.
Benjolan tersebut sekarang ada yang besar.
Sesuai dengan Handoko Pada Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin FKUI bahwa:

20

Penderita herpes zoster awalnya mengalami gejala prodormal seperti


demam dan prodormal lokal sepert gatal, pegal atau nyeri..

Lokasi
Efloresensi

: Regio lumbalis sinistra


: Tampak makula eritematosa

dengan

beberapa

vesikel

berkelompok, bullae dengan dermatom unilateral.


Sesuai dengan Handoko Pada Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin FKUI, Ilyas dan
Siregar , Pada atlas berwarna Saripati Penyakit Kulit bahwa:

Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang
lokalisata dan unilateral. Jarang erupsi tersebut melewati garis tengah
tubuh. Umumnya lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh

salah satu ganglion saraf sensorik.


Erupsi mulai dengan eritema makulopapular, lalu 12-24 jam kemudian
terbentuk vesikula yang dapat berubah menjadi pustula pada hari ketiga.
Seminggu sampai sepuluh hari kemudian, lesi mengering menjadi krusta.

Krusta ini dapat menetap menjadi 2-3 minggu.


Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita usia tua. Rasa sakit
segmental pada penderita lanjut usia dapat menetap, walaupun krustanya

sudah menghilang.
Keluhan kulit yang dialami pasien berupa makula eritema dengan pustula
dan erosi berkelompok dengan krusta, menunjukan penyakit yang
dialaminya telah berjalan selama kurang lebih 2 minggu dan masih
mengalami fase aktif dengan masih munculnya lesi berupa pustula yang
berkelompok. Beberapa erosi yang dialami pasien disebabkan karena
kebiasaan pasien yang sering menggaruk daerah lesi.
3. Medikamentosa
c. Sistemik
Antiviral : Acyclovir 5x800 mg/hari, peroral selama 7 hari
Analgetik : Asam mefenamat 3x500 mg/ hari, peroral
d. Topikal :
Untuk area kulit diberikan krim natrium fusidat (Fuson ),

dioleskan 2x sehari.
Untuk menghindari infeksi sekunder diberikan bedak salisil
2%.

21

4. Non medikamentosa
d. Istirahat, tirah baring
e. Diet tinggi kalori tinggi protein
f. Usahakan tidak menggaruk luka, agar vesikel yang masih ada tidak
pecah dan terjadi infeksi sekunder.
Sesuai Roxas, Handoko dan Siregar :
Secara umum penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk mengatasi infeksi virus
akut, mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster serta
mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetic. Penatalaksanaan medikamentosa
yang diberikan berupa :
1) Obat Antivirus Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya,
misalnya valasiklovir dan famsiklovir.
2) Analgetik asam mefenamat
3) Pengobatan topicalkrim natrium fusidat (Fuson ) untuk mencegah infeksi
sekunder bakteri pada lesi dan daerah erosif pada kulit. Dan Untuk
menghindari infeksi sekunder diberikan bedak salisil 2%.
Prognosis untuk penyakit Herpes zoster beresiko menjadi lebih berat pada pasien
telah berusia > 40 tahun sehingga lebih besar beresiko mengalami Neuralgia pasca
herpetic

22

BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
1. Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang
mengenai bagian

saraf interkostalis yang ditandai adanya erupsi

herpetik unilateral pada kulit


2. Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ).
3. Diagnosa herpes zoster dapat ditegakkan dengan mudah melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik.
4. Karakteristik dari erupsi kulit pada herpes zoster terdiri atas vesikelvesikel berkelompok, dengan dasar eritematosa, unilateral, dan
mengenai satu dermatom.
5.

Pada umumnya penyakit herpes zoster dapat sembuh sendiri (self


limiting disease), tetapi pada beberapa kasus dapat timbul komplikasi.
Semakin lanjut usia, semakin tinggi frekuensi timbulnya komplikasi.

23

B. Saran
1. Memberikan edukasi yang jelas kepada pasien tentang penyakitnya untuk
mencegah penularan dan mempercepat penyembuhan.
2. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan
hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Clause, W et al., 2007., Fitzhpatricks Color Atlas and Synopsys of Clinical
Dermatology. Philadelphia: Mc GrawHill Company
Handoko. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: edisi IV. Jakarta : Fakultas
kedokteran universitas Indonesia
Hartadi, Sumaryo S. 2006. Infeksi Virus dalam Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta:
Hipokrates; 92-4
Roxas, M. 2009. Herpes zoster and Post Herpetic Nauralgia: Diagnosis and
Therapeutic Consideration Herpes Zoster Information. Diakses dari :
http://www.emedicinehealth.com/articles pada tanggal 28 Juni 2013
Siregar. 2006. Herpes Zoster Ophtalmika. Dalam : Atlas Beerwarna Saripati
Penyakit Kulit: edisi II. Jakarta: EGC; 86
Sjamsoe E.S . 2005. Penyakit Kulit yang Umum Di Indonesia. Medical
Multimedia Indonesia. Pt-Mmi@Medical-E-Book.Com
Timur F. J. 2009. Herpes Zoster. www.e-medicine.com /zoster/herpes/521145

24