Anda di halaman 1dari 30

BAB I

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

1.1 JPKM
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945,
disebutkan bahwa tujuan nasional bangsa Indonesia adalah melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut,
diselenggarakan program pembangunan nasional yang berkesinambungan.
Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kehidupan masyarakat yang setinggi-tingginya.Pembangunan kesehatan di
Indonesia dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama
pada kelompok yang paling rawan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan bagi pada masa
perinatal.Hal ini ditandai oleh tingginya angka kematian ibu dan angka kematian bayi.Angka
kematian ibu memang sangat tinggi, terbukti WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu
meninggal saat hamil dan bersalin.(Syaifuddin, dkk, 2002).
Salah satu upaya pemerintah dalam menekan AKI adalah dengan mengadakan upaya
penjangkauan pelayanan kesehatan.Namun, adanya krisis multi dimensional berimbas juga
dalam bidang kesehatan yaitu semakin mahalnya pelayanan kesehatan.Oleh karena itu, peran
serta masyarakat diperlukan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam
upaya penjangkauan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil.Wujud peran serta
masyarakat salah satunya melalui Dana Sehat JPKM.JPKM merupakan metode
penyelenggaraan kesehatan yang dilakukan secara bersama-sama melalui pembiayaan praupaya.
Menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

571/MENKES/PER/VII/1993, yang dimaksud dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


Masyarakat (JPKM) adalah suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang
paripurna berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan, yang berkesinambungan dan
dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara pra-upaya.Program
JPKM adalah upaya pemeliharaan kesehatan untuk peserta suatu Badan Penyelenggara yang
pembiayaannya dilakukan secara pra-upaya dan dikelola berdasarkan jaminan pemeliharaan
kesehatan masyarakat.
1

JPKM merupakan model jaminan kesehatan pra bayar yang mutunya terjaga dan
biayanya terkendali. JPKM dikelola oleh suatu Badan penyelenggara (Bapel) dengan
merepakan jaga mutu dan kendali biaya. Badan Penyelenggara (Bapel) adalah badan yang
menyelenggarakan program JPKM. Badan penyelenggara harus telah memiliki izin
operasional sebagai penyelenggara program JPKM. Badan penyelenggara harus memberikan
informasi yang jelas mengenai isi paket pemeliharaan kesehatan sebelum kepesertaan
dimulai.Paket Pemeliharaan Kesehatan, yaitu suatu kumpulan pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara untuk kepentingan peserta dalam rangka
melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan. Paket pemeliharaan kesehatan dalam
penyelenggaraan program JPKM meliputi paket pemeliharaan kesehatan dasar (wajib diikuti
setiap peserta) dan paket pemeliharaan kesehatan tambahan (sesuai dengan kemampuan
usaha Badan Penyelenggara).Pemeliharaan kesehatan dalam program JPKM meliputi
pelayanan rawat jalan, rawat inap, penunjang (berupa pelayanan radiodiagnostik dan USG,
serta pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik), dan gawat darurat.Pelayanan rawat jalan
dalam paket pemeliharaan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan pencegahan;
penyuluhan kesehatan; pemeriksaan kesehatan, pengobatan, dan tidakan medis; serta
pelayanan pemulihan kesehatan. Pelayanan rawat jalan antara lain pemberian imunisasi dasar
sesuai ketentuan yang berlaku, pemberian pelayanan Keluarga Berencana sesuai ketentuan
yang berlaku, serta pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk persalinan sesuai ketentuan
yang berlaku. Khusus untuk pelayanan pertolongan persalinan dalam rangka paket
pemeliharaan kesehatan dasar hanya diberikan sampai dengan anak kedua.Bagi anak ketiga
dan selanjutnya masuk dalam paket pemeliharaan kesehatan tambahan.
Pada program JPKM, pemberi pelayanan kesehatan (PPK) adalah sarana pelayanan
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan pada peserta dalam penyelenggaraan
program JPKM.PPK merupakan bagian dari jaringan pelayanan yang dikontrak dan dibayar
pra-upaya/dimuka oleh Bapel, sehingga terdorong untuk memberikan pelayanan paripurna
yang terjaga mutu dan terkendali biayanya.PPK terdiri atas pelayanan tingkat pertama
(primer), sekunder, dan tersier. PPK I dapat berupa dokter umum/ dokter keluaraga, dokter
gigi, bidan praktek, puskesmas, balkesmas, maupun klinik yang dikontrak oleh bapel JPKM
yang bersangkutan. Jika diperlukan akan dirujuk ke tingkat sekunder (PPK II) yakni praktek
dokter spesialis, kemudian dapat dilanjutkan ke tingkat tersier (PPK III)yaitu pelayanan
spesialistik di rumah sakit untuk pemeriksaan atau rawat inap.
Peserta JPKM adalah setiap orang yang ikut dalam program JPKM, baik secara
berkelompok ataupun perorangan.. Peserta akan memperoleh pelayanan kesehatan paripurna
2

dan berjenjang dengan pelayanan tingkat pertama sebagai ujung tombak, yang memenuhi
kebutuhan utama kesehatannya dengan mutu terjaga dan biaya terjangkau.Kepesertaan setiap
orang dalam program JPKM dilakukan melalui pendaftaran peserta pada Badan
Penyelenggara.Kepesertaan melalui kelompok dilakukan oleh koordinator kelompok dengan
mencantumkan daftar anggota kelompok.Kepesertaan setiap orang dimulai pada saat
kesepakatan ditanda tangani.Setiap peserta wajib membayar beban biaya penyelenggaraan
pemeliharaan kesehatan dan mentaati segala kesepakatan yang telah dilakukan.Peserta berhak
untuk memperoleh pelayanan kesehatan dalam paket pemeliharaan kesehatan dasar dan paket
pemeliharaan kesehatan tambahan sesuai dengan kesepakatan.
Di negara-negara maju sering dikenal sebagai Manage Care, salah satu model
pelayanan yang dianggap paling efektif dan efisien dalam pemeliharaan kesehatan sesuai
dengan perkembangan jaman. Di Indonesia sistem JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat) secara prinsip merupakan adopsi dari manage care. Manage care adalah suatu
pelayanan kesehatan yang menyeluruh, yang dilaksanakan secara berjenjang dengan
pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai ujung tombak, serta didukung oleh pembiayaan
di muka (pre payment) dan pra upaya (prospective payment). (Kongsvedt_citJulita, 2001)
Program JPKM bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal melalui :
1) Pembudayaan perilaku hidup sehat
2) Penciptaan kemandirian masyarakat dalam memilih dan membiayai pelayanan kesehatan
yang diperlukan
3) Penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna dengan menggunakan upaya
peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
4) Pemberian jaminan kepada setiap peserta untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan
yang sesuai dengan kebutuhannya, bermutu, dan berkesinambungan
5) Penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna
Manfaat pra-upaya dari JPKM antara lain :
1) Terhindar dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berlebihan, tidak terencana
dan tidak tepat
2) Beban administrasi lebih ringan
3) Penghasilan lebih stabil dan merata
4) Mendorong pelayanan promosi dan prevensi penyakit
Konsep dasar JPKM antara lain :

1) JPKM adalah suatu cara penyelenggaraan pelayanan kesehatan, bukan sekedar variasi
dari model pelayanan kesehatan.
2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada JPKM bertujuan untuk memelihara kesehatan
para peserta, bukan hanaya sekedar penyembuhan penyakit.
3) Pelayanan kesehatan yang diselenggaraan pada JPKM bukanlah pelayanan kesehatan
yang parsial dan atau terkotak-kotak.
4) Mekanisme pembiayaan yang diterapkan pada JPKM bukanlah system pembayaran tunai
(fee for service) dan atau system tagihan (reimburstment), tetapi secara praupaya(prospektif payment).
Pembiayaan kesehatan di Indonesia 2,5% dari PDB ,70 % dari masyarakat dan 30%
dari pemerintah. Pengeluarannya kebanyakan hanya untuk upaya kuratif, hanya 3% dari
pengeluaran rumah tangga, 75% pengeluaran masyarakat merupakan pengeluaran langsung
(tunai). Berbagai perubahan semakin meningkatkan biaya kesehatan. Tiga hal yang
mempengaruhi peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan masyarakat:
1) Sistem pemeliharaan kesehatan masih berorientasi pada kuratif (belum paripurna)
2) Peran serta masyarakat dalam pembiayaan kesehatan kurang termobilisir dengan baik
3) Inefisiensi pengeluaran masyarakat, terbatasnya dana pemerintah, serta system
pembayarannya yang masih membebani perseorangan yang memerlukan perawatan di
saat sakit

1.2 Program KB di Indonesia


Pengertian:
KB

Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang


bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk


menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai
kontrasepsi.

WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk:


Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan
menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Program KB
Pengertian Program Keluarga Berencana menurut UU No 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan
(PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Program KB adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan
nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya
penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan
produksi nasional (Depkes,1999).
Program KB nasional berubah menjadi gerakan KB nasional yaitu gerakan
masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk
berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan NKKBS dalam rangka
meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. (Sarwono,1999).
Tujuan Program KB

Tujuan umum untuk lima tahun kedepan mewujudkan visi dan misi program KB yaitu
membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB di
masa mendatang untuk mencapai keluarga berkualitas tahun 2015.
5

Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial
ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu
keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,


peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan


kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk
menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan
pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka
kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:


1. Keluarga dengan anak ideal
2. Keluarga sehat
3. Keluarga berpendidikan
4. Keluarga sejahtera
5. Keluarga berketahanan
6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya
7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)
Sasaran Program KB
Sasaran program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung dan sasaran tidak
langsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Sasaran langsungnya adalah Pasangan
Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara
penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran tidak langsungnya adalah
pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui
pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang
berkualitas, keluarga sejahtera.
Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per
tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
6

3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran
berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4. Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
Program KB Nasional.
Strategi Pendekatan dan Cara Operasional Program Pelayanan KB
Strategi pendekatan dalam program keluarga berencana antara lain :
1.

Pendekatan kemasyarakatan (community approach).


Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat

(kepedulian) yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.


2.

Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach)


Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan keluarga

sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai kekuatan yang sinergik dalam
mencapai tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar.
3.

Pendekatan integrative (integrative approach)


Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong dan

menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga dapat menguntungkan
dan memberi manfaat pada semua pihak.
4.

Pendekatan kualitas (quality approach)


Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan (provider) dan

penerima pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi.

5.

Pendekatan kemandirian (self rellant approach)


Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat yang telah

mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab dalam pelaksanaan program
KB nasional.
6.

Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach)


Strategi tiga dimensi program KB sebagai pendekatan program KB nasional, dimana

program tersebut atas dasar survey pasangan usia subur di Indonesia terhadap ajakan KIE
yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
a.

15% PUS langsung merespon ya untuk ber-KB

b.

15-55% PUS merespon ragu-ragu untuk ber-KB

c.

30 % PUS merespon "tidak untuk ber-KB

Strategi tiga dimensi dibagi dalam tiga tahap pengelolaan program KB sebagai berikut :
a.

Tahap perluasan jangkauan


Pola tahap ini penggarapan program lebih difokuskan lebih kepada sasaran :
1)

Coverage wilayah

Penggarapan wilayah adalah penggarapan program KB lebih diutamakan pada


penggarapan wilayah potensial, seperti wilayah Jawa, Bali dengan kondisi jumlah penduduk
dan laju pertumbuhan yang besar
2)

Coverage khalayak

Mengarah kepada upaya menjadi akseptor KB sebanyak-banyaknya. Pada tahap ini


pendekatan pelayanan KB didasarkan pada pendekatan klinik
b.

Tahap pelembagaan
Tahap ini untuk mengantisipasi keberhasilan pada tahap potensi yaitu tahap perluasan

jangkauan. Tahap coverage wilayah diperluas jangkauan propinsi luar Jawa Bali. Tahap ini
inkator kuantitatif kesertaan ber-KB pada kisaran 45-65 % dengan prioritas pelayanan

kontrasepsi dengan metode jangka panjang, dengan memanfaatkan momentum-momentum


besar
c.

Tahap pembudayaan program KB


Pada tahap coverage wilayah diperluas jangkauan propinsi seluruh Indonesia.

Sedangkan tahap coverage khalayak diperluas jangkauan sisa PUS yang menolak, oleh sebab
itu pendekatan program KB dilengkapi dengan pendekatan Takesra dan Kukesra
Adapun kegiatan / cara operasional pelayanan KB adalah sebagai berikut :
1.

Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)


Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan dengan memberikan

penerangan konseling, advokasi, penerangan kelompok (penyuluhan) dan penerangan massa


melalui media cetak, elektronik.
Dengan penerangan, motivasi diharapkan meningkat sehingga terjadi peningkatan
pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam berKB, melalui pendewasaan
usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga sehingga tercapai Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS)
2.

Pelayanan kontrasepsi dan pengayoman peserta KB


Dikembangkan program reproduksi keluarga sejahtera. Para wanita baik sebagai calon

ibu atau ibu, merupakan anggota keluarga yang paling rentan mempunyai potensi yang besar
untuk mendapatkan KIE dan pelayanan KB yang tepat dan benar dalam mempertahankan
fungsi reproduksi.
Reproduksi sehat sejahtera adalah suatu keadaan sehat baik fisk, mental dan
kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi
serta proses reproduksi. Bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan serta
dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan
material, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan
seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan lingkungan.

Dalam mencapai sasaran reproduksi sehat, dikembangkan 2 gerakan yaitu:


pengembangan gerakan KB yang makin mandiri dan gerakan keluarga sehat sejahtera dan
gerakan keluarga sadar HIV/AIDS.
Pengayoman, melalui program ASKABI (Asuransi Keluarga Berencana Indonesia),
tujuan agar merasa aman dan terlindung apabila terjadi komplikasi dan kegagalan.
3.

Peran serta masyarakat dan institusi pemerintah


PSM ditonjolkan (pendekatan masyarakat) serta kerjasama institusi pemerintah (Dinas

Kesehatan, BKKBN, Depag, RS, Puskesmas).


4.

Pendidikan KB
Melalui jalur pendidikan (sekolah) dan pelatihan, baik petugas KB, bidan, dokter

berupa pelatihan konseling dan keterampilan.

Dampak Program KB
Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian
ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan
keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR;
Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi
manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

10

BAB II
PERMASALAHAN

2.1 Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)


Apabila laju pertumbuhan penduduk tidak dapat dikendalikan pada batas tertentu dan
tidak diimbangi pertumbuhan ekonomi yang memadai maka akan terjadi penurunan kualitas
hidup manusia. Konsekuensi pertumbuhan penduduk melebihi pertumbuhan ekonomi antara
lain:
a. Bertambahnya beban hidup keluarga, masyarakat dan bangsa.
b. Penyediaan fasilitas ekonomi harus lebih besar untuk dapat hidup dengan layak.
c. Bertambahnya angkatan kerja.
d. Tuntutan perluasan lapangan pekerjaan.
Dengan alasan tersebut maka program KB di Indonesia harus dilaksanakan secara
intensif untuk menanamkan fertilitas dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS).
Pelembagaan dan pembudayaan NKKBS di masyarakat memberikan Norma :
1. Norma jumlah anak yang sebaiknya dimiliki 2 (dua) anak.
2. Norma jenis kelamin anak, laki-laki atau perempuan sama saja.
3. Norma saat yang tepat seorang wanita untuk melahirkan, umur 20-30 tahun.
4. Norma pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
5. Norma usia yang tepat untuk menikah, untuk wanita, 20 tahun.
6. Norma menyusui anaknya sampai umur 2 tahun.
Perkembangan dan pembudayaan NKKBS memerlukan strategi yang tepat dengan
memperhatikan tipologi budaya dan karakteristik masyarakat sasaran. Akan tetapi dalam
masyarakat Indonesia masih terdapat beberapa hambatan dalam penerimaan program
NKKBS ini antara lain :
a. Alasan Agama.
Bagi para pemeluk agama merencanakan jumlah anak adalah menyalahi kehendak
Tuhan. Kita tidak boleh mendahului kehendak Tuhan apalagi mencegah kelahiran anak
dengan menggunakan alat kontrasepsi supaya tidak hamil. Langkah utama untuk mengatasi
hal ini adalah menemui tokoh-tokoh atau ulama dari agama tersebut untuk menjelaskan
bahwa merencanakan keluarga untuk membantu Keluarga Kecil adalah tidak bertentangan
dengan Agama.

11

b. Sosial Ekonomi.
Anak dipandang sebagai tenaga kerja yang dapat membantu meningkatkan ekonomi
keluarga sehingga mempunyai banyak anak akan banyak tambahan pendapatan yang akan
diperoleh. Hal ini memang suatu kenyataan dan benar, tetapi belum diperkirakan nasib anak
itu sendiri apakah anak itu memang bisa diharapkan pendidikannya dan masa depannya.
Kalan hal ini dipertimbangkan, mempunyai banyak anak malah menjadi beban dan
masalah.
c. Adat lstiadat.
Adat kebiasaan atan adat dari suatu masyarakat yang memberikan nilai anak laki-laki
lebih dari anak perempuan atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan satu keluarga
mempunyai banyak anak Bagaimana kalau keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki atau
perempuan tidak terpenuhi mungkin akan menceraikan istrinya dan kawin lagi agar terpenuhi
keinginan memiliki anak laki-laki ataupun anak perempuan. Disini norma adat istiadat perlu
diluruskan karena tidak banyak menguntungkan bahkan banyak bertentangan dengan
kemanusiaan.

2.2 Nilai Anak Dalam Keluarga


Tidak dapat dipungkiri bahwa anak mempunyai nilai tertentu bagi orang tua. Anak
yang diibaratkan sebagai titipan Tuhan bagi orang tua memiliki nilai tertentu serta mentutut
dipenuhinya beberapa konsekuensi atas kehadirannya. Latar belakang sosial yang berbeda
tingkat pendidikan, kesehatan, adat istiadat atau kebudayaan suafu kelompok sosial serta
penghasilan atau mata pencaharian yang berlainan, menyebabkan pandangan yang berbeda
mengenai anak.
Anak memiliki nilai universal namun nilai anak tersebut sangat dipengaruhi oleh
faktor sosio kultural dan lain-lain. Yang dimaksud dengan persepsi nilai anak oleh orang tua
adalah merupakan tanggapan dalam memahami adanya anak, yang berwujud suatu pendapat
untuk memiliki diantara pilihan-pilihan yang berorientasi pada suatu hal yang pada dasarnya
terbuka dalam situasi yang datangnya dari luar. Pandangan orang tua mengenai nilai anak dan
jumlah anak dalam keluarga dapat merupakan hambatan bagi keberhasilan program KB.
Di daerah pedesaan anak mempunyai nilai yang tinggi bagi keluarga. Anak dapat
memberikan kebahagiaan kepada orang tuanya selain itu akan merupakan jaminan di hari tua
dan dapat membantu ekonomi keluarga, banyak masyarakat di desa di Indonesia yang
berpandangan bahwa banyak anak banyak rejeki. Dari penelitian Mohamad Koesnoe di
daerah Tengger, petani yang mempunyai tanah luas akan mencari anak angkat sebagai
12

tambahan tenaga kerja. Studi lain yang dilakukan oleh proyek VOC (Value Of Children)
menemukan bahwa keluargakeluarga yang tinggal di pedesaan Taiwan, Philipina, Thailand
mempunyai anak yang banyak dengan alasan bahwa anak memberikan keuntungan ekonomi
dan rasa aman bagi keluarganya.
Salah satu dari tahap pertama proyek VOC adalah memperkembangkan sistem nitro
Hoffman dan Hoffman kedalam suatu kerangka kerja yang lebih luas yang memasukkan
semua dimensi nitro anak, termasuk manfaat dan beban ekonomi, biaya altematif, manfaat
dan beban psikologi atau emosional dan beban sosial. Juga dimasukkan pilihan antara jenis
kelamin, suatu dimensi penting yang sering dilupakan dalam penelitian-penelitian ekonomi.
Berbagai laporan menggali perbedaan-perbedaan antar sampel nasional dan juga antar
kelompok dalam setiap sampel itu. Secara umum disimpulkan bahwa orang tua desa lebih
menitikberatkan manfaat ekonomi dan kegunaan praktis (termasuk tunjangan hari tua) dari
anak-anak, sedangkan orang tua dikota (terutama yang berpendidikan tinggi) menekankan
aspek emosional dan psikologisnya. Pada negara berkembang didaerah pedesaan beban
ekonomi biasanya jauh lebih rendah bila anak tidak sekolah. Pada usia yang sangat dini anak
mulai dapat menyokong penghasilan keluarga dengan bekerja di sawah, mengembala ternak
dan mengerjakan pekerjaan lain. Dengan bertambahnya usia orang tua anak-anak dapat
memberikan bantuan ekonomi, mungkin dengan bekerja disawah milik orang tua.
Cadwell (1979) mengatakan hal ini dengan cara lain yaitu di negara maju, kekayaan
mengalir dari orang tua ke anak, sedangkan negara berkembang sebaliknya kekayaan
mengalir dari anak ke orang tua. Jika anak merupakan sumber utama jaminan ekonomi maka
masyarakat tersebut akan mengalami fertilitas yang tinggi.
Masri Singmimbun (1974) melakukan penelitian pada penduduk di sekitar
Yogyakarta menunjukkan bahwa jumlah anak yang dianggap ideal 4 dan 5 orang anak.
Motivasi untuk mempunyai jumlah anak yang sedikit dan nilai-nilai tentang anak merupakan
aspek yang penting. Kadang-kadang jumlah anak yang diinginkan lebih besar daripada
jumlah anak yang mampu dirawat dengan baik. Sementara itu Arnold dan Fawcett (1975)
sebagaimana dikutip oleh Jamaluddin Ancok (1985) konsep anak memiliki dimensi :
a. Manfaat Positif Umum (Manfaat).
1. Manfaat Emosional.
Anak membawa kegembiraan dan kebahagiaan ke dalam hidup orang tuanya. Anak adalah
sasaran cinta kasih, dan sahabat bagi orang tuanya.

13

2. Manfaat Ekonomi dan Ketenagaan.


Anak dapat membantu ekonomi orang tuanya dengan bekerja di sawah atau di perusahaan
keluarga lainnya. atau dengan menyumbangkan upah yang mereka dapat di tempat lain.
Mereka dapat mengerjakan banyak tugas dirumah (sehingga ibu mereka dapat melakukan
pekerjaan yang menghasilkan uang).
3. Memperkaya dan Mengembangkan diri sendiri.
Memperkaya memelihara anak adalah suatu pengalaIl1an belajar bagi orang tua. Anak
membuat orang tua lebih matang, lebih bertanggungjawab. Tanpa anak, orang yang telah
menikah tidak selalu dapat diterima sebagai orang dewasa dan anggota masyarakat
sepenuhnya.
4. Mengenali Anak.
Orang tua memperoleh kebanggaan dan kegembiraan dari mengawasi anakanak mereka
tumbuh dan mengajari mereka hal-hal baru, mereka bangga kalau bisa memenuhi kebutuhan
anak-anaknya.
5. Kerukunan dan Kelanjutan Keluarga.
Anak bisa membantu memperkuat ikatan perkawinan antar suami istri dan mengisi kebutuhan
suatu perkawinan. Mereka meneruskan garis keluarga, nama keluarga, dan tradisi keluarga.
b. Nilai Negatif Umum (Biaya).
1. Biaya Emosional.
Orang tua sangat mengkhawatirkan anak-anaknya terutama tentang prilaku anak-anaknya,
keamanan dan kesehatan mereka. Dengan adanya anak-anak, rumah akan ramai dan kurang
rapi. Kadang-kadang anak-anak itu menjengkelkan.
2. Biaya Ekonomi.
Ongkos yang harus dikeluarkan untuk memberi makan dan pakaian anakanak cukup besar.
3. Keterbatasan dan Biaya Alternatif
Setelah mempunyai anak kebebasan orang tua berkurang.
4. Kebutuhan Fisik.
Begitu banyak pekerjaan rumah tambahan yang diperlukan untuk mengasuh anak. Orang tua
mungkin lebih lelah.
5. Pengorbanan kehidupan pribadi suami istri.
Waktu untuk dinikmati oleh orang tua sendiri berkurang dan orang tua berdebat tentang
pengasuhan anak.
c. Nilai Keluarga Besar.
1. Hubungan Sanak Saudara.
14

Anak membutuhkan kakak dan adik (sebaliknya anak tunggal dimanjakan dan kesepian).
2. Pilihan jenis kelamin.
Mungkin orang tua mempunyai keinginan khusus untuk seorang anak laki -laki atau anak
perempuan, atau suatu kombinasi tertentu.
3. Kelangsungan Hidup Anak.
Orang tua membutuhkan banyak anak untuk menjamin agar beberapa anak akan hidup terus
sampai dewasa dan membantu mereka pada masa tua.
d. Nilai Keluarga Kecil.
1. Kesehatan Ibu.
Terlalu sering hamil tidak baik untuk kesehatan ibu.
2. Beban masyarakat.
Dunia ini menjadi terlalu padat. Terlalu banyak anak merupakan beban masyarakat.
Sementara itu Hoffman dan Hoffman (1973) dalam studinya tentang hal-hal yang memotivasi
seseorang sehingga ingin memiliki anak antara lain:
1. Ingin membuktikan bahwa ia seorang dewasa.
2. Memiliki beberapa perluasan pribadi dan mungkin dari seorang leluhur yang akan berakhir
pada suatu waktu.
3. Memuaskan sejumlah standard yang pasti oleh keluarganya sendiri maupun religi.
4. Menciptakan suatu kemesraan, afeksi dalam kehidupan kelompok melebihi dari sekedar
keluarganya sendiri.
5. Mengalami petualangan dari kemampuan memiliki anak dan membesarkan anak.
6. Menciptakan manusia baru.
7. Memiliki seseorang untuk bergantung dan merawat.
8. Untuk memmjukkan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu dibanding orang lain.
9. Memiliki anggota keluarga yang lain untuk berbagai kerja dan untuk menjamin di hari tua.
Masalah yang timbul dalam mencapai Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
sebagaimana diuraikan diatas adalah menekankan dan menggiring jumlah ideal ke arab
caturwarga ataupun keluarga dengan 2 anak. Dua anak dalam keluarga dua laki-laki, dua
perempuan atau satu laki-laki dan satu perempuan sudah cukup. Disini terdapat dua
permasalahan secara garis besar. yaitu:
a. Masalah memasyarakatkan Norma Keluarga Kecil atan Norma Keluarga dua anak yang
jelas rapat kaitannya dengan nilai-nilai sosial, ekonomi dan psikologi dari anak, begitu juga
dengan tingkat kematian yang relatif masih tinggi.

15

b. Bagaimana mencapainya secara teknis sekali norma itu sudah mulai berkembang. Dari
sudut teknologi kontrasepsi yang ada sekarang dan yang dapat diterima oleh masyarakat,
tidaklah begitu mudah untuk membatasinya pada 2 (dua) anak.
Bagaimanapun juga keputusan untuk menambah anak atau tidak terserah pada
keputusan pasangan suami istri dan keputusan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks
sosial budaya. Tetapi yang jelas, perubahan sosial mutlak diperlukan untuk mendukung
NKKBS yang dikampanyekan dalam program Keluarga Berencana di Indonesia.

2.3 Jenis-Jenis Kontrasepsi


A. KONTRASEPSI SEDERHANA TANPA ALAT

1. SENGGAMA TERPUTUS
Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana biasa, tetapi
pada puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan sperma
dikeluarkan di luar. Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu
tahu kapan spermanya keluar.

2. PANTANG BERKALA (SISTEM KALENDER)


Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur.
Selain sebagai sarana agar cepat hamil , kalender juga difungsikan untuk sebaliknya alias
mencegah kehamilan. Cara ini kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan
membutuhkan waktu lama untuk puasa. Selain itu, kadang juga istri kurang terampil dalam
menghitung siklus haidnya setiap bulan.

B. KONTRASEPSI SEDERHANA DENGAN ALAT


1. KONDOM
Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di
masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak
16

berpori, dipakai untuk menutupi penis yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam
liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat
mencegah

penularan

penyakit

seksual,

termasuk

HIV/AIDS.

Manfaat pemakaian kontrasepsi kondom :


1. Efektif bila digunakan dengan benar
2. Tidak mengganggu produksi ASI
3. Tidak mengganggu kesehatan klien
4. Tidak mempunyai pengaruh sistemik
5. Murah dan dapat dibeli secara umum
6. Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatah khusus
7. Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda
2. DIAFRAGMA
Diafrgma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks(karet) yang di insersikan
ke

dalam

vagina

sebelum

berhubungan

seksual

dan

menutup

serviks.

Jenis kontrasepsi diafragma :


1. Flat spring (flat metal band)
2. Coil spring (coiled wire)
3. Arching spring)
Cara kerja kontrasepsi diafragma :
Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas
(uterus dan tuba falopi) dan sebagai alat tempat spermisida.
Manfaat kontrasepsi diafragma :
1. Efektif bila digunakan dengan benar
2. Tidak mengganggu produksi ASI
3. Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam
sebelumnya
4. Tidak mengganggu kesehatan klien
5. Tidak mengganggu kesehatan sistemik

17

3.SPERMISIDA
Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menon-aktifkan
atau membunuh sperma.
Jenis kontrasepsi spermasida :
1. Aerosol
2. Tablet vaginal, suppositoria, atau dissolvablefilm
3. Krim
Cara kerja kontrasepsi spermisida :
Menyebabkan sel membrane sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma dan
menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
Manfaat kontrasepsi spermisida :
1. Efektif seketika (busa dan krim)
2. Tidak mengganggu produksi ASI
3. Bisa digunakan sebagai pendukung metode lain
4. Tidak mengganggu kesehatan klien
5. Tidak mempunyai pengaruh sistemik
6. Mudah digunakan
7. Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual
8. Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus

4. Kb Suntik
Kontrasepsi suntikan adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui
suntikan hormonal
1. Kb Suntik 1 bulan (kombinasi)
adalah 25 mg Depo medroksiprogestreon asetat dan 5 mg esestradiol sipionat yang diberikan
injeksi I.m sebulan sekali (Cyclofem). Dan 50 mg roretindron enantat dan 5mg Estradional
Valerat yang diberikan injeksi I.m sebulan sekali

18

Keuntungan menggunakan KB Suntik


- Praktis,

efektif

dan

aman

dengan

tingkat

keberhasilan

lebih

dari

99%.

- Tidak membatasi umur


- Obat KB suntik yang 3 bulan sekali (Progesteron saja) tidak mempengaruhi ASI dan cocok
untuk ibu menyusui

Kerugian menggunakan KB Suntik


- Di bulan-bulan pertama pemakaian terjadi mual, pendarahan berupa bercak di antara masa
haid, sakit kepala dan nyeri payudara
- Tidak melindungi dari IMS dan HIV AIDS
Indikasi:
- Wanita usia 35 tahun yang merokok aktif
- Ibu hamil atau diduga hamil
- Pendarahan vaginal tanpa sebab
- Penderita jantung, stroke, lever, darah tinggi dan kencing manis
- Sedang menyusui kurang dari 6 minggu
- Penderita kanker payudara
1. Kb Suntikan 3 bulan.
Depo Depo-provera ialah 6-alfa-metroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan
kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progesterone yang kuat dan sangat efektif. Obat ini
termasuk obat depot. Noristerat termasuk dalam golongan kontrasepsi ini. Mekanisme kerja
kontrasepsi ini sama seperti kontrasepsi hormonal lainnya. Depo-provera sangat cocok untuk
program postpartum oleh karena tidak mengganggu laktasi.

Keuntungan kb suntik 3 bulan


-

Resiko terhadap kesehatan kecil.

Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

Tidak di perlukan pemeriksaan dalam

Jangka panjang

Efek samping sangat kecil


19

Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

Kerugian kb suntik 3 bulan


1. Gangguan haid. Siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak
atau sedikit, spotting, tidak haid sama sekali.
2. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu
3. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering
4. Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
5. Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
6. Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan densitas tulang
7. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, dan jerawat.
5. KB PIL
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil
diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan
sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera
sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu
yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan
pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan
disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.

Jenis-jenis kontrasepsi Pil


1. Pil gabungan atau kombinasi
Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan
mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir
100% efektif bila diminum secara teratur.
Jenis jenis pil kombinasi:
1. monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif
estrogen/progesterone dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.
2. Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif
estrogen/progesterone dalam dua dosis yang berbeda adalah estrogen dan progesteron,
dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.
20

3. Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif
estrogen/progesterone dalam tiga dosis yang berbeda adalah mengandung berbagai
dosis progestin. Pada sejumlah jenis obat tertentu, dosis estrogen didalam ke 21 pil
aktif bervariasi. Maksud dari variasi ini adalah mempertahankan besarnya dosis pada
pasien serendah mungkin selama siklus dengan tingkat kemampuan dalam
pencegahan kehamilan yang setara
2. Pil khusus Progestin (pil mini)
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah
kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher
rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan
endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah
dibuahi.
Kontra indikasi Pemakaian Pil
Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh
darah, kanker payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises,
perdarahan abnormal melalui vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma),
penderita sesak napas, eksim, dan migraine (sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).

Efek Samping Pemakaian Pil


Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual,
bercak hitam di pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina
(candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan berat badan.

6. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)


AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi
yang terbaik. Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi
ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu
ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi
ini. Karena itu, setiap calon pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap
tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.

21

Jenis-jenis AKDR :
1. Copper-T
AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi
lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi
(anti pembuahan) yang cukup baik.

Copper-7

AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini
mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat
tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya
lilitan tembaga halus pada jenis Coper-T.

Multi Load

AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan
berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya
diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk
menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.

Lippes Loop

AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung.
Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis
yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang
biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30
mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang
rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang
menyebabkan

luka

atau

penyumbatan

usus,

sebab

terbuat

dari

bahan

plastik.

7. KONTRASEPSI IMPLANT
Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan atas, alat
kontrasepsi ini disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam .Bentuknya semacam
tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga dan ukurannya sebesar batang korek
22

api. Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul atau tergantung jenis susuk yang
akan dipakai. Di dalamnya berisi zat aktif berupa hormon. Susuk tersebut akan mengeluarkan
hormon sedikit demi sedikit. Jadi, konsep kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan
menghalangi migrasi sperma. Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun, 3 tahun, dan ada
juga yang diganti setiap tahun.

8. Kontrasepsi Tubektomi (Sterilisasi pada Wanita)


Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan
wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada
pria, yaitu vasektomi. Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi,
maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional. Cara kontrasepsi ini baik
sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali. Faktor yang paling penting
dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor. Dengan demikia, sterilisasi
tidak boleh dilakukan kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak
harmonis atau hubungan perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan
yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil
keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 2530
tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau lebih.

9. Kontrasepsi vasektomi
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan
melakukan oklusi vasa deferensia alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi
tidak terjadi.
Indikasi kontrasepsi vasektomi
Vasektomi merupakan upaya untuk menghenttikan fertilis dimana fungsi reproduksi
merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta
melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga.
Kondisi yang memerlukan perhatian khusus bagi tindakan vasektomi
1. Infeksi kulit pada daerah operasi
2. Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien
3. Hidrokel atau varikokel
4. Hernia inguinalis
5. Filarisasi(elephantiasis)
23

6. Undesensus testikularis
7. Massa intraskotalis
8. Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoaglansia
Penggunaan Kontrasepsi Menurut Umur

Umur ibu kurang dari 20 tahun:

1. Penggunaan prioritas kontrasepsi pil oral.


2. Penggunaan kondom kurang menguntungkan, karena pasangan muda frekuensi
bersenggama tinggi sehingga akan mempunyai kegagalan tinggi.
3. Bagi yang belum mempunyai anak, AKDR kurang dianjurkan.
4. Umur di bawah 20 tahun sebaiknya tidak mempunyai anak dulu.

Umur ibu antara 2030 tahun

1. Merupakan usia yang terbaik untuk mengandung dan melahirkan.


2. Segera setelah anak pertama lahir, dianjurkan untuk memakai spiral sebagai pilihan
utama. Pilihan kedua adalah norplant atau pil.

Umur ibu di atas 30 tahun

1. Pilihan utama menggunakan kontrasepsi spiral atau norplant. Kondom bisa


merupakan pilihan kedua.
2. Dalam kondisi darurat, metode mantap dengan cara operasi (sterlilisasi) dapat dipakai
dan relatif lebih baik dibandingkan dengan spiral, kondom, maupun pil dalam arti
mencegah
2.4 Ilustrasi Kasus
Data Administrasi Pasien
a. Nama / Umur

: Lidya / 29 tahun

b. No. register

: Posyandu Sido Urip

c. Status kepegawaian : d. Status sosial

: Menengah ke bawah

24

Data Demografis
a. Alamat

: Sido Urip

b. Agama

: Islam

c. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

d. Bahasa Ibu

: Indonesia

e. Jenis Kelamin

: Perempuan

Data Biologik
a. Tinggi Badan

: 155 cm

b. Berat Badan

: 54 kg

c. Habitus

: pasien tidak merokok, makan 4 sehat 5 sempurna

Data Klinis
a. Anamnesis

Keluhan Utama : Suntik KB

Riwayat Penyakit Sekarang :

Haid terakhir 2 hari yang lalu

Keluhan saat ini tidak ada

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien tidak pernah menderita penyakit jantung, penyakit paru, penyakit
ginjal, penyakit diabetes melitus dan hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, penyakit
menular dan penyakit kejiwaan.

Riwayat Menstruasi:
Menarche: 12 tahun, siklus haid tidak teratur, lamanya 5-6 hari, banyaknya
2x ganti duk/hari, nyeri haid (-).

Riwayat Perkawinan :
1 x tahun 2003

Riwayat Kehamilan / Abortus / Persalinan :


Pasien memiliki 2 orang anak dengan usia anak paling kecil 1 tahun 7 bulan

Riwayat Kontrasepsi : Suntik KB sekali 3 bulan sejak 1 tahun yang lalu tapi
sering tidak teratur
25

b. Pemeriksaan Jasmani
Tanda Vital :
- Kesadaran

: compos mentis cooperative

- TD

: 110/70 mmHg

- Nadi

: 79 x/menit

- Nafas

: 18 x/menit

- Suhu

: afebris

Status Generalisata :
- Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

- Leher

: JVP 5 2 cmH2O, kelenjer tiroid tidak membesar

- Thorax

: Jantung dan Paru dalam batas normal

- Abdomen

: dalam batas normal

- Genitalia

: dalam batas normal

- Ekstremitas

: edema -/- , reflek fisiologis ++/++ , reflek patologis -/-

Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
Anjuran Pemeriksaan Penunjang :
Tidak ada
Diagnosis
Pseudocyesis

26

BAB III.
PERENCANAAN DAN INTERVENSI

3.1 Perencanaan
Perencanaan intervensi dilakukan dengan metode penyuluhan berkelompok dengan
sasaran utama para ibu (PUS) di Posyandu yang belum maupun telah menjadi peserta KB
yang belum memiliki asuransi kesehatan. Penyuluhan dilakukan dengan diskusi 2 arah yang
berupa Tanya jawab antara peserta penyuluhan dengan presentan.

3.2 Intervensi
-

Menjelaskan tentang kegunaan dan meningkatkan sosialisasi program JPKM pada PUS pada

umumnya dan pada PUS peserta KB pada khususnya


- Menyaring PUS yang belum mengikuti program JPKM dan menyarankan untuk mengikuti program
JPKM tersebut

27

BAB IV.
PELAKSANAAN

Gambar 1 : Penyuluhan Pada Ibu-Ibu (PUS) di Posyandu Bayi dan Balita

Pasien dan keluarga diberi penjelasan mengenai pentingnya JPKM pada PUS agar dapat
memantapkan program KB yang ada sehingga target terbentuknya NKKBS dapat tercapai.
Segala masalah pembiayaan yang dihadapi oleh PUS untuk mendapat pelayanan KB bisa
diatasi dengan program JPKM. Tingginya resiko WUS untuk hamil harus dapat diintervensi
untuk menjarangkan kehamilan dan juga jika PUS sudah memiliki anak lebih dari dua orang.
Jika tidak cepat diintervensi maka program KB untuk mencapai NKKBS akan mengalami
kegagalan yang berujung pada pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

28

BAB V
MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan mendata jumlah PUS yang mengikuti program
KB dan terdaftar sebagai peserta JPKM. Peningkatan kunjungan peserta KB yang
menggunakan JPKM untuk mendapat pelayanan KB di Puskesmas Arga Makmur dan
tercapainya SPM KB 80% akan digunakan sebagai indikator keberhasilan intervensi masalah
ini. Indikator keberhasilan jangka panjang dapat dievaluasi dengan melihat peningkatan
jumlah keluarga yang memenuhi kriteria NKKBS.

29

DAFTAR PUSTAKA

1) Azwar Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi Ketiga, Jakarta : Binarupa
Aksara
2) Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. 2001. Profil PerkembanganJaminan
Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Tahun 2000. Jakarta : DirektoratJaminan
Pemeliharaan

Kesehatan

Masyarakat,

Direktorat

Jenderal

KesehatanMasyarakat.

Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI


3) Departemen Kesehatan RI. 2000. JPKM : Pembinaan, Pengembangan dan Pendorongan
JPKM. Jakarta
4) Departemen Kesehatan RI. 1999. Indonesia Sehat 2010. Jakarta
5) Hendrartini, J. 2001. Konsep Manage Care dan Aplikasinya di Indonesia. Modul
Manajemen Pembiayaan RS-MMR UGM. Jogjakarta
6) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Available at :
eprints.undip.ac.id/.../Jaminan_pemeliharaan_kesehatan_masyarakat.Accessed

on

th

January, 16 2013

7) Konsep JPKM dan Penyelenggaraannya. Available at :


http://medicine.uii.ac.id/upload/klinik/elearning/ikm/SNT. Accessed on January, 16th
2013
8) World Health Organization. 2000. The World Health Report. Health Systems :Improving
Performance. Geneva: WHO.
9) Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005.
10) BKKBN, 1999. Kependudukan KB dan KIA. Bandung, Balai Litbang.
11) NRC-POGI, 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana.
12) Suparmanto, Parman; Hubungan Persepsi Nilai Anak Oleh Orang Tua dengan Fertilitas
pada Suku Madura di Kamal, Bangkalan, Madura, 1984.
13) BKKBN; Informasi Gerakan KB Nasional, Sasaran Pembangunan Jangka Panjang I,
Jakarta; 1994

30