Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

Praktek Lapangan Asuhan Gizi Klinik 3


Trauma, Alergi dan Kritis

TATA LAKSANA DIET PADA PASIEN


PAPO (Penyakit Arteri Perifer Oklusif) Antebrachialis Sinistra
AFRVR (Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Response)

Disusun Oleh :
Grace Marselina Datu Tasik
11/317318/KU/14555

Program Studi Gizi Kesehatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
2014

BAGIAN 1. ASSESSMENT GIZI


A. Anamnesis
1. Identitas Pasien
Nama
Ny. SW
Umur
83 tahun
Sex
Perempuan
Pekerjaan
IRT
Pendidikan SLTP

No RM
Ruang
Tanggal Masuk
Tanggal Kasus
Alamat

Agama

Diagnosis Medis

Katholik

591110
IMC 331
07 Oktober 2014
08 Oktober 2014
Panjen, Wedomartani
PAPO Antebrachialis Sinistra
AFRVR

2. Berkaitan dengan Riwayat Penyakit


Keluhan Utama
Ujung jaritangan kiri sianosis sejak sore dan saturasi kelima jari
tidak normal
Riwayat Penyakit
Tiba-tiba pusing dan terasa berputar serta badan lemas
Sekarang
Riwayat Penyakit
Stroke, HT
Dahulu
Riwayat Penyakit
Keluarga
3. Berkaitan dengan Riwayat Gizi
Data Sosio Ekonomi
Penghasilan : Jumlah anggota keluarga : 4
Suku : Jawa
Aktifitas Fisik
Jumlah Jam kerja : Jumlah tidur sehari : 9-10 jam
Jenis olahraga
: Sudah tidak kuat berolahraga
Aktivitas harian
: nonton TV
Frekuensi olahraga : Alergi makanan
Makanan : Penyebab : Jenis diet khusus : Alasan : Yang menganjurkan : Masalah
Nyeri ulu hati (tidak), Mual (tidak), Muntah (tidak), Diare (tidak),
Gastrointestinal
Konstipasi
(tidak),
Anoreksia
(tidak)
Perubahan
pengecapan/penciuman (tidak)
Penyakit kronik
Jenis penyakit : Stroke, hipertensi
Modifikasi diet : Jenis dan lama pengobatan : Kesehatan mulut
Sulit menelan (tidak), Stomatitis (tidak), Gigi lengkap (tidak)
Pengobatan
Vitamin/mineral/suplemen gizi lain : Frekuensi dan jumlah : Riwayat obat HT : Tidak diketahui
Perubahan berat
Bertambah/berkurang : Keluarga pasien tidak dapat
badan
mengidentifikasi mengalami penurunan berat badan atau tidak
Jangka waktu : Tidak diketahui
,
disengaja /tidak : Tidak diketahui

Mempersiapkan
makanan
Riwayat/ pola makan

Fasilitas memasak : Disiapkan oleh pengasuh


Fasilitas menyimpan makanan : Refrigerator
Pola makan teratur (3 x/hari)
Makanan pokok : nasi putih/oatmeal (3 x/hari) @1 centong
(dikukus)
Lauk hewani : ikan 2-3x/minggu @1 ptg (digoreng/dibraising), telur
1-2x/minggu @1btr (direbus/digoreng)
Lauk nabati : tempe, 1-2x/hari, setiap hari @1-2 ptg (digoreng)
Sayuran : brokoli, bayam, kangkung (konsumsi sayur 3x/hari), sup
sayur (wortel,buncis,kol,kubis)
Buah : anggur, 4-6x/minggu, hampir setiap hari @1piring kecil
Selingan : jajanan pasar
Minuman : air putih

Pembahasan Anamnesis
Seorang pasien perempuan berinisial Ny.M berusia 73 tahun didiagnosis medis PAPO
(Penyakit Arteri Perifer Oklusif) Antebrachialis Sinistra AFRVR, dimana terjadi penyumbatan
pembuluh darah arteri perifer pada bagian anterior brachialis sinistra yang pada akhirnya
mempengaruhi irama detak jantung dan frekuensi laju jantung per menit. Pada kasus ini,
berdasarkan hasil EKG, pasien termasuk AFRVR (Atrial Fibrilasi Rapid Ventricular Response).
dimana laju jantung lebih dari 100 kali/menit.
Beberapa jam sebelum dirujuk ke rumah sakit, pasien merasakan ujung jari tangan kiri
sianosis sejak sore dan saturasi kelima jari tidak normal. Adapun keluhan yang dirasakan
pasien saat di rumah sakit adalah kepala terasa pusing dan berputar serta badan terasa lemas.
Menurut data pada rekam medis pasien memiliki riwayat stroke dan hipertensi.
Sementara itu, menurut keterangan keluarga, pasien memiliki nafsu makan yang baik. Keluarga
pasien memaparkan bahwa pasien memiiki pola makan yang teratur dan gemar mengkonsumsi
lauk nabati yaitu tempe. Pada setiap menu di pagi, siang dan sore hari, selalu terdapat lauk
tempe. Selain itu, setiap pagi pasien juga suka mengkonsumsi oatmeal sebagai sarapan
Penyakit Arteri Perifer Oklusif atau yang dikenal dengan istilah PAPO merupakan suatu
kondisi adanya penyumbatan pembuluh darah arteri perifer yang menyebabkan penyempitan
aliran darah yang menyuplai darah menuju kepala, tangan, perut, dan kaki. Pembuluh darah
arteri yang paling sering terkena adalah arteri di kaki (arteri femoral bagian distal). Sumbatan
tersebut paling sering disebabkan oleh proses aterosklerosis, meskipun dapat disebabkan oleh
penyebab lainnya, seperti tromboemboli dan vaskulitis (Lilly, 2011).
Secara klinis PAPO ditandai dengan penyempitan dan pembuntuan pembuluh arteri di
ekstrimitas karena proses proses radang, tromboangitis obliterans atau penyakit kologen.
Penyakit ini merupakan masalah utama bagi pederitanya, karena menyebabkan morbiditas
bersifat terus menerus, baik berupa luka yang lama sembuh, gangguan trofik ada jari kaki
maupun tangan, rasa nyeri waktu berjalan maupun istirahat, sembab kaki dan tungkai. Bahkan

banyak kasus dari penyakit ini berakhir dengan dilakukannya amputasi sebagian jari kaki,
tungkai bawah maupun tungkai atas (Arifin, 2000)
Penyakit arteri oklusif merupakan komplikasi ateroseklerosis yang sering dijumpai.
Mekanisme oklusifnya bisa bersifat endogenus yang disebabkan oleh pembentukan emboli
atau trombus, atau eksogenus, yang disebabkan oleh trauma atau fraktur. Faktor predisposisi
bagi penyakit arteri oklusif meliputi kebiasaan merokok, pertambahan usia, keadaan seperti
hipertensi, hiperlipidemia serta diabetes dan riwayat gangguan vaskuler, infark miokard atau
stroke dalam keluarga (Matthies, 2003).
.Pada kasus ini, pasien yang sudah berusia sangat lanjut ini, memiliki riwayat stroke dan
hipertensi. Faktor predisposi terjadinya PAPO terkait kasus yang dialami pasien antara lain
pertambahan usia, terutama setelah mencapai usia 60 tahun ke atas untuk wanita, dan riwayat
penyakit jantung atau stroke serta hipertensi (Anonim, 2011; Husin et al., 2006). Mendukung hal
tersebut, Rubenstein, et al. (2007) mengemukakan fibrilasi atrium (Atrial Fibrilation/AF) pada
umumnya merupakan penyakit pada manula, mengenai 0,2% pria berusia 47-56 tahun dan 3%
pria berusia 77-86 tahun (Penelitian Farmingham, 1949) .

B. Antropometri
BB

TB

50 kg

158 cm

Kesimpulan =
IMT
= 50 / (158)2
= 20 kg/m2
Berdasarkan hasil perhitungan IMT, diperoleh status gizi pasien menurut klasifikasi untuk
orang Asia adalah normal. Menurut IOTF, WHO 2000 risiko comorbiditas untuk orang asia
dengan status gizi normal adalah rata-rata.

C. Pemeriksaan Biokimia
Pemeriksaan
urin/ Darah

Satuan/ Nilai
Normal

Tanggal
07/10/14

KET

Tanggal
08/10/14

KET

SGPT
SGOT
Amilase
Lipase
Globulin
Na

32 u/l
31 u/l
28-100 u/l
13-60 u/l
3,2-3,9 g/dl
136-145 mmol/L

148

Tinggi

21,5
16,8
-

Normal
Normal
-

K
Cl
Mg
Ca total
Glukosa darah

3,5-5,1 mmol/L
98-107 mg/dl
1,9-2,5 mg/dl
8,2-9,6 mg/dl
70-110 mg/dl

2,9
112
2,23
9,3
-

Rendah
Tinggi
Normal
Normal
-

Hb
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Eosinofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
MCH
MCH
MCHC
W-CV

12 15,5 g/dl
4-11x103 uL
3,8-5,8x106 uL
37-47 %
150-450 x103 uL
1-6 %
1-2 %
40-80 %
20-40 %
2-10 %
80-96 fl
27-31 pg
32-36 g/dL
11,6-14,8 %

14,6
-

Normal
-

12,6
5,07
43,0
193
0,1
0,2
78,3
16,3
4,9
84,8
28,8
34
14,2

Tinggi
Normal
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Kesimpulan :
Hasil pemeriksaan biokimia pada awal masuk RS menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan natrium dan klorida serta rendahnya kadar kalium dalam darah pasien. Pada
pemeriksaan keesokan hari, diukur kadar komponen darah lainnya. Maka hasil menunjukkan
bahwa kadar leukosit cukup tinggi dari batas normal. Didukung pula dengan rendahnya kadar
eusinofil, basofil dan limfosit.

D.

Pemeriksaan Fisik Klinik


1. Kesan Umum
2. GCS

: Compos Mentis, sedang

: 456

3. Keadaan

: Pasien tampak bingung dan gelisah, turgor kulit baik, sianosis perifer

4. Vital Sign

: - Tensi : 149/94 mmHg


- Nadi : 197x/menit

5. Kepala/ abdomen/extremitas dll :


Abdomen

: Tidak ada edema

Ekstremitas

: Atas

:Kanan : Kontraktur (+)


Kiri

Bawah

:Kanan: Kontraktur (+)


Kiri

Anemis

: (-)

Sklera

: (-)

: Kontraktur (+)
: Kontraktur (+)

- Respirasi

: 18x/menit

- Palpasi Ringan: 142x/menit

Pulmo

: Bising (-)

Kesimpulan :
Berdasarkan pemeriksaan vital diperoleh hasil bahwa tekanan darah pasien yaitu 149/94.
Menurut JNC (Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and the
Treatment of High Blood Pressure) nilai tersebut termasuk dalam kategori hipertensi stage I.
Adapun hasil pemeriksaan nadi pasien berada jauh diatas normal yakni 197x/menit. Menurut
Pearce (2009) nadi normal untuk usia >14 tahun adalah 60-100x/menit. Depkes (2007) juga
menetapkan nadi normal untuk usia lanjut adalah 60-70x/menit sehingga lebih dari kisaran
tersebut termasuk dalam kategori takikardi. Gangguan irama jantung (disritmia atau aritmia)
tidak hanya terbatas pada denyut jantung yang tidak teratur, tetapi juga termasuk kecepatan
denyut jantung yang abnormal dan gangguan konduksi. Sinus takikardi adalah sinus yang
kecepatannya lebih dari 100 kali per menit (Trisnohadi, 2009).
Sementara itu, hasil pengukuran respirasi dan palpasi pasien masih dalam batas normal
yaitu 18 kali/menit dan 142 kali/menit. Menurut Effendi (2014), dalam beberapa kasus takikardi
tidak menimbulkan komplikasi. Nilai normal pada respirasi pasien ini dimungkinkan
menunjukkan bahwa kondisi pernapasan pasien maish cukup baik. Effendi (2014)
mengemukakan nafas pendek,batuk,perubahan kecepatan / kedalaman pernafasan; bunyi
nafas tambahan (krekels,ronki,mengi) dimungkinkan menunjukan komplikasi pernafasan
seperti pada gagal jantung kiri ( edema paru ) atau fenomena tromboembolitik pulmonal.
Pasien juga mengalami sianosis perifer namun dengan saturasi oksigen normal yaitu
98%. Menurut Fox (2002) kisaran normal saturasi O2 adalah >95%. Penyebab sianosis perifer
paling sering yaitu vasokonstriksi normal akibat udara atau air dingin. Vasokonstriksi terjadi
sebagai kompensasi dari penurunan curah jantung sehingga darah lebih dialirkan ke organorgan vital daripada ke kulit. Hal terseut menyebabkan adanya sianosis pada ekstremitas
walaupun saturasi oksigennya baik (Cox dalam Friedman, 2001).
Sianosis perifer disebabkan oleh menurunnya kecepatan aliran darah dan ekstrasi
oksigen yang berlebih dari darah ke arteri. Hal tersebut diakibatkan oleh vasokonstriksi kapiler
yang dapat dipengaruhi oleh penurunan curah jantung,

gagal jantung kongestif, penyakit

vaskuler perifer dan obstruksi arteri atau vena. Adanya obstruksi atau konstriksi arteri pada
ekstremitas menyebabkan kulit pucat, dingin, dan sianosis (Fauci, 2008).
Pasien juga mengalami kebingungan dan kekakuan pada ekstremitas atas dan bawah.
Menurut Cox dalam Friedman (2001) hal tersebut merupakan tanda dan gejala dari sianosis
perifer. Selain itu tanda dan gejala dari sianosis perifer adalah takikardi, ekstremitas dingin,
penurunan output urin, dan tanda-tanda shock. Terkait kodisi takikardi yang dialami pasien,

menurut Muttaqin (2009) manifestasi klinis dari takikardi adalah kebingungan, gelisah, dan
kontraktur pada ekstremitas. Hal ini dipengaruhi oleh detak jantung yang terlalu cepat
menyebabkan kerja jantung tidak efektif memompa darah ke seluruh tubuh sehingga
mengurangi asupan oksigen ke organ dan jaringan.
Pasien juga merasa badan terasa lemas. Hal ini merupakan tanda khas insufiensi arteri
perifer dimana terjadi klaudikasi intermitten. Nyeri ini datang mendadak dan dapat dirasakan
ebagai ngilu, kram, kelelahan atau kelemahan (Cox dalam Friedman, 2001).

E. Asupan Zat Gizi


Hasil Recall 24 jam diet : Rumah Sakit
Tanggal

: 8 Oktober 2014

Diet RS

: DJ II/Saring/Oral (siang hari)

Implementasi
Asupan oral
Asupan Enteral
Parranteral
Kebutuhan
% Asupan
Kesimpulan :

Energi (kal)
1096,75
1459,4
75,2 %

Protein (gr)
45
40
112,5 %

Lemak (gr)
23,27
40,5
57,45 %

KH (gr)
177
233
75,96%

Berdasarkan hasil recall diketahui bahwa asupan energi, lemak dan karbohidrat pasien
masih kurang yaitu 75,2%, 57,4% dan 75,96%. Namun, asupan protein sudah memenuhi
standar asupan yaitu 112 %. Menurut McGuire dan Beerman (2012) negative energy balance
merupakan hasil dari kurangnya asupan energi, kelebihan energi ekspenditur, atau keduanya.

Pemeriksaan Penunjang
EKG ; Radiologi ; BNO/IVP ; USG ; CT scan dan lain-lain
Tanggal
08 Oktober
2014

Pemeriksaan
AFRVR
EKG

08 Oktober
2014

Ro Thorax

Hasil

AP view, simetris, inspirasi dan kondisi cukup.


Tampak bercak infiltrat dengan gambaran mild fibrosis
suprahiler dextra sinus cortofrenicus dextra et sinistra lancip

F. Terapi Medis
Jenis Obat/
Tindakan

Dosis
& Cara
Pemberian

Fungsi

Interaksi dengan Zat


Gizi

Solusi

Cordarone

Secara
intravenus
melalui kateter
vena sentral,
5 mg/kg dalam
250ml dextrose
5 % selama 20
-120 menit
dengan EKG di
monitor

Nama generic cordarone


ialah amiodarone dimana
berfungsi sebagai obat
antiaritmia yang
mempengaruhi irama
detak jantung.
Amiodarone digunakan
untuk membantu menjaga
jantung berdetak secara
normal pada orang
dengan gangguan irama
jantung yang mengancam
jiwa dari ventrikel
Amiodarone juga
digunakan untuk
mengobati takikardia
ventrikel atau fibrilasi
ventrikel.
Heparin adalah
antikoagulan (pengencer
darah) yang mencegah
pembentukan gumpalan
darah.

Heparin

Amlodipin

Diovan

100 unit/ml tiap


6-8 jam

Pada pasien
usia lanjut,
dosis yang
dianjurkan pada
awal terapi 2,5
mg satu kali
sehari
80 mg satu kali
sehari dan
dapat
ditingkatkan
sampai 160
mg/hari atau
dapat ditambah
diuretik jika
tekanan darah
belum dapat
terkontrol

Heparin digunakan untuk


mengobati dan mencegah
pembekuan darah di
pembuluh darah, arteri,
atau paru-paru. Heparin
juga digunakan sebelum
operasi untuk mengurangi
risiko penggumpalan
darah.
Digunakan untuk
pengobatan angina, arteri
koroner, raynaulds
syndrome (PAPO), gagal
jantung
Memiliki nama generic
yaitu hydrochlorothiazide
and valsartan. Obat ini
membantu mencegah
tubuh dari menyerap
terlalu banyak garam,
yang dapat menyebabkan
retensi cairan.
Kombinasi hidroklorotiazid
dan valsartan digunakan
untuk mengobati tekanan
darah tinggi (hipertensi)

Amiodarone dapat
dikonsumsi sebelum
atau sesudah maka
atau bersamaan
dengan makanan.
Grapefruit bisa
meningkatkan kadar
amiodarone dalam
tubuh dan
menyebabkan efek
samping yang
berbahaya. Hal ini
dapat mempengaruhi
irama jantung Anda

Hindari
mengkonsum
si grapefruits
(sejenis jeruk
bali) dan jus
jeruk saat
mengkonsum
si
amiodarone.

Penggunaan heparin
merupakan
kontraindikasi pada
pasien dengan
perdarahan aktif tak
terkendali.
Perdarahan dapat
terjadi pada hampir
semua situs pada
pasien yang
menerima heparin.
Heparin juga
bertentangan pada
kondisi hiperkalemia.

Tidak
mengkonsum
si makanan
tinggi kalium
dalam jumlah
banyak
sesaat
sesudah
konsumsi/inje
ksi heparin

Amlodipine tidak
menimbulkan
perubahan kadar
lemak plasma dan
dapat digunakan pada
pasien asma,
diabetes serta gout
Konsumsi kalium
pada pasien yang
sedang dalam
pengobatan diovan
dapat memicu
hiperkalemia

Menghindari
asupan
sedang
maupun
tinggi kalium.
Pasien perlu
menerima
konsultasi
diet dan
disarankan
untuk tidak
mengkonsum

si garam
kalium

Ketorolac

Injeksi bolus
intravena
diberikan dalam
waktu minimal
15 detik.
Pemberian
intramuskular
dilakukan dalam
dan perlahan.
Pengobatan
intramuskular
jangka pendek,
diberikan dosis
30-60 mg, dan
kemudian
dengan dosis
15-30 mg/6 jam,
jika diperlukan

Ketorolac berada dalam


kelompok obat yang
disebut obat anti-inflamasi
nonsteroid (NSAID).
Ketorolac bekerja dengan
mengurangi hormon yang
menyebabkan peradangan
dan nyeri dalam tubuh.
Ketorolac digunakan
jangka pendek (5 hari atau
kurang) untuk mengobati
nyeri sedang sampai
berat.

Alkohol dapat
meningkatkan risiko
perdarahan lambung
yang disebabkan oleh
ketorolac

Tidak
mengkonsum
si alkohol
ketika
sedang
mengkonsum
si ketorolac.
Konsultasi
dengan
dokter
bilamana
tetap ingin
mengkonsum
si alkohol

(www.drugs.com)

BAGIAN 2. DIAGNOSIS GIZI

NI.-5.4
Penurunan kebutuhan nutrisi spesifik yaitu kolesterol berkaitan dengan adanya PAPO
(Penyakit Arteri Perifer Oklusif) dan gangguan elastisitas pembuluh darah dibuktikan oleh
nilai tekanan darah 149/94 mmHg, nadi 197x/menit (takikardi), hasil EKG AFRVR, dan
riwayat penyakit stroke serta hipertensi
NI-2.1
Asupan oral inadekuat berkaitan dengan keadaan fisiologis pasien terkait Penyakit Arteri
Perifer Oklusif (PAPO) dibuktikan oleh pasien bingung, gelisah, penurunan nafu makan
dan hasil recall untuk asupan energi, karbohidrat dan lemak < 80%

BAGIAN 3. INTERVENSI GIZI


A. PERENCANAAN
1. Tujuan Diet
a. Membantu memenuhi kebutuhan zat gizi dan mencegah penurunan status gizi
b. Membantu mencegah progresivitas PAPO
c. Membantu mengendalikan tekanan darah
2. Syarat/Prinsip Diet
a. Energi cukup berdasarkan kebutuhan basal dan faktor aktivitas serta faktor stress
b.

Karbohidrat cukup yaitu 60% dari total kalori

c.

Protein cukup yaitu 0,8 g/kgBB

d.

Lemak cukup yaitu 25 % dari total kalori dengan mengutamakan lemak tidak jenuh
MUFA maupun PUFA dan menghindari SFA

e.

Pembatasan asupan kolesterol sebesar 200mg/hari

f.

Menghindari makanan tinggi kandungan SFA dan kolesterol seperti daging babi, daging
sapi muda, daging ham, es krim, keju, susu whole cream

g.

Pembatasan natrium yaitu 1000-1200 mg/hari

h.

Pada pengolahan makanan diperbolehkan menggunakan 1 sdt garam dapur (4 gram)

i.

Menghindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya seperti makanan kaleng,
burger, nugget, sosis, keju, dll.

3. Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi


1.

Perhitungan kebutuhan energi dan zat gizi:


a. Kebutuhan Energi
BEE Harris Benedict
= 655 + (9,6 x 50) + (1,7 x 158) (4,7x83)
= 1013,5 kcal
TEE Harris Benedict
= BEE x FA x FS
= 1013,5 x 1,2 x 1,2
= 1459,4 kcal
b. Kebutuhan Protein
Protein

= 0,8 g x 50 kg
= 40 gram

= 15 % dari total kalori


c. Kebutuhan Lemak
Lemak

= 25% x 1459,4 kkal


= 364,85 kkal = 40,5 gram

d. Kebutuhan Karbohidrat
Kebutuhan KH
= 60 % x 1459,4 kkal
= 934,55 kkal = 233 gram

4. Terapi Diet (Bentuk Makanan dan Cara Pemberian)


a. Jenis Diet
= Diet Jantung II, Rendah Garam III
b. Bentuk makanan

= Saring

c. Cara Pemberian

= Oral

Pembahasan Preskripsi Diet :


Kebutuhan energi disesuaikan dengan kebutuhan pasien yaitu cukup, sehingga tidak
memperberat kerja jantung. Perhitungan yang digunakan menggunakan rumus Harris
Benedict dengan memperhatikan faktor aktivitas dan faktor stress.
Menurut Astuti (2013) untuk diet jantung koefisien untuk faktor aktivitas sekitar 1,1-1,3
dan koefisien faktor stress untuk pasien jantung dengan bedrest total adalah 1,1 dan
koefisien 1,2 untuk pasien yang masih dapat duduk di ranjang. Dalam kasus ini, meskipun
dalam keadaan tirah baring, pasien masih dapat bergerak dan duduk di ranjang, maka dipilih
faktor aktivitas sebesar 1,2.
Kebutuhan protein yanng diberikan yaitu sekitar 0,8 g/kgBB atau sekitar 15% dari total
kebutuhan kalori. Nilai ini dipilih berdasarkan penyakit pasien terkait jantung dan mengingat
usia pasien yang sudah sangat lanjut.
Menurut Mahan (2008) komposisi zat gizi sebagai terapi nutrisi klinis dalam kasus-kasus
terkait jantung maupun infark miokard, dibutuhkan protein cukup sekitar 15 % dari total
kalori, lemak 25-30% dengan mengutamakan asupan PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid)
maupun MUFA (Mono Unsaturated Fatty Acid) serta membatasi asupan SFA. Selain itu,
perlu pembatasan asupan kolesterol yaitu sebesar 200 mg/hari.
Pembatasan asupan SFA (Saturated Fatty Acid) yang banyak terdapat dalam daging
babi, daging sapi, daging sapi muda, keju, susu full cream, penting untuk dilakukan dalam
rangka menjaga kadar profil lipid dalam darah. Asupan tinggi SFA meningkatkan kadar
kolesterol total dan kolesterol-LDL. (Tuminah, 2009).

Dalam rangka memenuhi kebutuhan lemak, pasien dapat meningkatkan asupan PUFA
maupun MUFA. Tuminah (2009) mengemukakan bahan makanan tinggi MUFA dapat
diperoleh dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti minyak zaitun, minyak kacang tanah, dan
kacang tanah. Sedangkan bahan makanan tinggi PUFA dapat diperoleh dari minyak ikan,
minyak safflower, dan minyak kacang kedelai. Beberapa penelitian menunjukkan,
mengutamakan konsumsi PUFA dan MUFA dalam memenuhi kebutuhan lemak dalam tubuh
dapat mengurangi kadar kolesterol secara signifikan. Selain itu, konsumsi MCT (Medium
Chain Triglyceride) juga penting untuk diberikan, agar kalori yang cukup dapat diberikan
tanpa memberoskan banyak energi untuk menyerap unsur-unsur tersebut.
Selain itu, pembatasan natrium juga dilakukan terkait tekanan darah pasien yang
berada di atas normal. Menurut Almatsier (2006), batas konsumsi natrium untuk pasien
dengan hipertensi ringan (stadium 1) adalah 1000-1200 mg/hari. Dimana pada pengolahan
makanan, jumlah garam yang dapat ditambahkan sekitar 4 gram yaitu 1 sendok teh.
5. Rencana Monitoring dan Evaluasi
Anamnesis

Yang Diukur

Antropometri
Biokimia
Klinis
Dietary

BB
Na, K, Cl, Mg, Ca
total
- Keluhan
Asupan makan

Pengukuran
(Jangka Waktu)
Bila pasien dapat
ditimbang
Menyesuaikan
dokter/medis
Setiap hari, selama
3 hari
Setiap hari, selama
3 hari

Evaluasi/ Target
Tetap
Normal
- Keluhan berkurang
80 %

6. Rencana konsultasi gizi


Masalah Gizi :
Pengaturan dan pola diet yang kurang baik terkait penyakit arterial perifer dan riwayat
stroke dan hipertensi yang dialami pasien
Tujuan konseling :
a. Membantu pasien untuk meningkatkan asupannya khususnya asupan energi dan
karbohidrat dalam rangka pemenuhan kebutuhan zat gizi
b. Pengaturan diet yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien terkait PAPO
(Penyakit Arteri Perifer Oklusif) dan hipertensi stage I serta riwayat stroke

Materi konseling gizi :


a.

Edukasi kepada keluarga pasien mengenai pengaturan dan komposisi diet


rendah kolesterol dan rendah natrium

b.

Edukasi dan motivasi terhadap keluarga pasien mengenai pentingnya bagi


pasien untuk meningkatkan asupan oral khususnya makanan tinggi energi dan
karbohidrat

c.

Edukasi kepada keluarga pasien mengenai makanan yang dianjurkan dan tidak
dianjurkan serta pengolahan masakan yang baik untuk pasien hipertensi (rendah
garam) dan pemilihan makanan kaya lemak PUFA dan MUFA serta MCT

B. IMPLEMENTASI
1. Kajian Terapi Diet Rumah Sakit
Terapi Diet
- Jenis Diet/ Bentuk Makanan/ Cara Pemberian : DJ II RG III/Saring/Oral
- Peranteral Gizi : D5% 155 ml

Standar diet RS
Kebutuhan
(planning)
% standar/
kebutuhan

Energi (kal)
1268,6

Protein (gr)
51,4

Lemak (gr)
27,7

KH (gr)
206

1459,4

40

40,5

206

86,92 %

128,5 %

68,4 %

88,4 %

Pembahasan Terapi Diet Rumah Sakit


Berdasarkan terapi diet rumah sakit yang diberikan kepada pasien menunjukkan
bahwa pemenuhan energi dan karbohidrat telah mencapai batas minimal kebutuhan
pasien yaitu >80% sekitar 86,92% dan 88,4%. Sementara itu kebutuhan akan lemak
belum mencapai batas minimal dengan kisaran pencapaian hanya 68,4%. Sebaliknya,
kebutuhan akan protein telah melebihan batas maksimal yaitu mencapai 128,5%.
Oleh karenanya, di perlukan modifikasi diet untuk memenuhi kebutuhan zat gizi
pasien dalam batas yang ditentukan (80%-100%). Perubahan diet juga memperhatikan
penggunaan garam. Pasien hipertensi stage I, pembatasan natrium perlu dilakukan,
namun tidak terlalu ketat, yaitu sekitar 1000-1200 mg. Pasien dapat diberikan diet
rendah garam III yaitu sekitar 4 gram/hari. Pada pengolahan makanan, garam yang
dapat ditambahkan sekitar 1 sendok teh.
Selain itu, bentuk makanan pasien adalah saring. Dalam bentuk ini, pihak rumah
sakit biasanya lebih dapat mengontrol pembatasan asupan garam.
2. Rekomendasi Diet
Standar Diet RS
Jenis Diet
Bentuk Makanan

= DJ II RG III
= DJ II RG III
= Saring

STANDAR DIET RS

REKOMENDASI STANDAR
DIET

Selingan pagi 06.00

Teh manis

Teh manis

Saring 500 g

Saring 500 g

AKH 200 cc

AKH 200 cc

Makan Pagi
- Nasi
- Lauk hewani
- Lauk nabati
- Sayur
- Susu/teh
Selingan pagi 10.00
Makan siang
- Nasi
- Lauk hewani
- Lauk nabati
- Sayur
- Susu/teh
Selingan sore 16.00

Saring
Buah

500 g
100 g

Susu skim

100 g

Saring

550 g

Buah

100 g

Saring

500 g

Buah

100 g

Puding/Agar-agar 100 g

Makan sore 18.00


-

Nasi
Lauk hewani
Lauk nabati
Sayur
Susu/teh

Selingan malam 19.00

Saring

500 g

Buah

100 g

NILAI GIZI DIBANDINGKAN KEBUTUHAN PASIEN


Kebutuhan pasien :
E = 1459,4 kcal

Energi:1268,6 kkal (86,92 %)

Energi: 1347,6 kkal (95 %)

P = 40 g

Protein: 51,4 g (128,5 %)

Protein: 46,9 g (117 %)

Lemak: 27,7 g (68,4 %)

Lemak: 33,69 g (95,5 %)


Karbohidrat: 221,5 g (95 %)

L = 40,5 g
KH = 233 g

Karbohidrat: 206 g ( 88,4 %)

a) Penerapan diet Berdasarkan Rekomendasi


Pemesanan diet

: DJ II, RG III

Tanggal

: 8 Oktober 2014

Bentuk/Cara pemberian : Saring, oral

Diet yang dipesan adalah Diet Jantung II yang dimodifikasi bentuknya berupa
makanan saring dan diberikan secara oral. Diet ini memperhatikan kadar garam dalam
masakan yaitu rendah garam III, sehingga pada sayuran dan lauk nabati serta hewani
tidak diberikan garam. Selingan yang diberikan adalah susu skim. Namun, praktikan
menganjurkan dalam rekomendasi diet untuk digantikan dengan agar-agar. Hal ini juga
menyesuaikan dengan daya terima pasien dimana hasil recall menunjukkan puding
yang diberikan habis dimakan dibanding bubur saring.

b)
a.
b.
c.
d.
e.

Penerapan Konseling
Sasaran : Pasien dan anggota keluarga
Waktu
: Saat di bangsal
Tempat : Bangsal
Media
: Lisan
Metode
:Konsultai gizi (Konseling) dilakukan saat recall, tidak dilakukan

f.

konsultasi khusus setelah monev hari ketiga


Faktor Penghambat
: Tidak dapat diajak berkomunikasi
Masalah Gizi :
Pengaturan dan pola diet yang kurang baik terkait penyakit arterial perifer dan
riwayat stroke dan hipertensi yang dialami pasien
Tujuan konseling :

a.

Membantu pasien untuk meningkatkan asupannya khususnya asupan energi dan


karbohidrat dalam rangka pemenuhan kebutuhan zat gizi

b. Pengaturan diet yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien terkait PAPO
(Penyakit Arteri Perifer Oklusif) dan hipertensi stage I serta riwayat stroke
Materi konseling gizi :
a. Edukasi kepada keluarga pasien mengenai pengaturan dan komposisi diet rendah
kolesterol dan rendah natrium
b. Edukasi dan motivasi terhadap keluarga pasien mengenai pentingnya bagi pasien
untuk meningkatkan asupan oral mengingat asupan oral pasien yang semakin
menurun drastis dibanding pada hari pertama recall
c. Edukasi kepada keluarga pasien mengenai makanan yang dianjurkan dan tidak
dianjurkan serta pengolahan masakan yang baik untuk pasien hipertensi (rendah
garam) pemilihan makanan kaya lemak PUFA dan MUFA serta MCT

BAGIAN 4.
TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit arteri perifer oklusif (PAPO) merupakan suatu kondisi adanya penyumbatan
pembuluh darah arteri perifer yang menyebabkan penyempitan aliran darah yang menyuplai
darah menuju kepala, tangan, perut, dan kaki. Pembuluh darah arteri yang paling sering
terkena adalah arteri di kaki (arteri femoral bagian distal). Sumbatan tersebut paling sering
disebabkan oleh proses aterosklerosis, meskipun dapat disebabkan oleh penyebab lainnya,
seperti tromboemboli dan vaskulitis (Lilly, 2011).
Penyakit arteri perifer mengenai 4% orang usia 40 hingga 70 tahun dan 15 hingga 20%
pada orang usia lebih dari 70 tahun. Proses perjalanan penyakit PAPO akibat aterosklerosis ini
sama seperti penyakit arteri koroner yang melibatkan proses penebalan lapisan intima dan
pembentukan plak. Faktor risiko penyakit arteri koroner juga menjadi faktor risiko PAPO, seperti
tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan merokok. Oleh karena itu, terdapat sekitar 40%
penderita PAPO yang juga mempunyai penyakit arteri koroner (Wibowo & Zulmiyusrini, 2014).
Penderita PAPO memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dua hingga lima
kali lipat lebih tinggi dibandingkan denganorang yang tidak menderita PAPO (Hirsch, 2005).
Menurut Lilly (2011) penyumbatan pada PAPO dapat terjadi melalui proses penyempitan
secara bertahap maupun penyumbatan secara tiba-tiba. Penyempitan secara bertahap
biasanya paling sering disebabkan oleh aterosklerosis. Hallett (2008) menambahkan penyebab
lainnya yang lebih jarang adalah fibromuskular displasian, vaskulitis, kista, atau sebab lainnya.
Sementara itu, penyumbatan tiba-tiba terjadi saat terbentuknya trombus pada arteri yang sudah
mengalami penyempitan sebelumnya atau saat gumpalan trombus lepas menjadi menjadi
emboli (tromboemboli)
Mekanisme terjadinya PAPO melibatkan proses terbentuknya aterosklerosis. Terjadinya
aterosklerosis diawali dengan terjadinya gangguan fungsi sel endotel (sel pelapis pembuluh
darah) yang disertai dengan pembentukan plak pada dinding pembuluh darah. Gangguan
fungsi pada endotel juga mengakibatkan berkurangnya

produksi dan terganggunya

bioavailabilitas mediator yang berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah (vasodilator).


Mediator untuk vasodilator yang dihasilkan oleh pembuluh darah adalah Nitric Oxide (NO).
Selain berperan sebagai vasodilator, NO juga berperan sebagai antiaterogenik, mengatur

inflamasi vaskuler, fungsi platelet, pembentukan pembuluh darah baru, dan respirasi selular
(Maiorana, 2003 & Allen, 2012)
Selain gangguan fungsi sel endotel, penyakit arteri perifer juga disebabkan oleh
terakumulasinya metabolit yang beracun di dalam tubuh dan terjadinya stres oksidatif yang
diperantarai oleh NOX2, enzim yang menghasilkan spesies oksigen reaktif dan memiliki efek
sebagai vasokonstriktor. Spesies oksigen reaktif akan mengganggu pelebaran (vasodilatasi)
pembuluh darah yang diperantarai aliran darah. Dalam sebuah penelitian, kadar NOX2
ditemukan meningkat pada orang dengan penyakit arteri perifer dan berkontribusi dalam
menurunkan vasodilatasi pembuluh darah yang diperantarai aliran darah (Loffredo, 2011).
Pada orang sehat dalam kondisi istirahat, kecepatan aliran darah ke otot ekstremitas
adalah sekitar 300400 mm/min. Saat tubuh melakukan aktivitas atau latihan, curah jantung
meningkat dan terjadi vasodilatasi di jaringan sehingga alirah darah meningkat sekitar 10 kali.
Vasodilatasi pembuluh darah terjadi karena terdapat beberapa senyawa, termasuk NO, yang
dikeluarkan oleh pembuluh darah sebagai respon tubuh terhadap aktivitas atau latihan
(Maiorana, 2003 & Rowe, 2014).
Namun, pada penderita PAPO, pembuluh arteri perifer mengalami ateroskleoris sehingga
mengalami penyempitan lumen. Penyempitan lumen pembuluh darah mengakibatkan
perubahan tekanan pada distal pembuluh darah dan perubahan aliran darah menuju jaringan.
Oleh karena itu, meskipun pada kondisi istirahat aliran darah yang menuju jaringan relatif stabil,
pada kondisi beraktivitas atau latihan aliran darah tidak bisa meningkat secara maksimal
karena adanya penyempitan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah karena
aterosklerosis diperparah dengan kurangnya kadar NO sebagai vasodilator dan meningkatnya
stres oksidatif yang diperantarai NOX2 sebagai vasokonstriktor (Allen, 2012).
Loffredo (2013) menjelaskan akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara meningkatnya
kebutuhan oksigen di jaringan karena meningkatnya aktivitas (seperti saat jalan kaki jauh atau
olahraga)

dan

menurunnya

suplai

oksigen

karena

penyempitan

pembuluh

darah.

Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan suplai oksigen ke jaringan di perifer, seperti otot,


tidak adekuat dan hal itu akan memunculkan gejala nyeri. Namun, saat aktivitas dihentikan
(keadaan istirahat) dan kebutuhan oksigen kembali menurun, nyeri tersebut akan membaik.
Karakteristik nyeri tersebut disebut nyeri klaudikasio intermiten (Klabunde, 2011).
Gejala yang muncul tergantung dari pembuluh arteri mana yang terkena, seberapa besar
penyumbatan yang terjadi, dan apakah penyumbatan terjadi secara bertahap atau tiba-tiba.
Pembuluh darah yang paling sering terkena PAPO adalah arteri di kaki, termasuk arteri femoral

(paha), popliteal (lutut), tibial dan peroneal (betis). Pembuluh arteri di tangan bagian bahu dan
lengan juga dapat terkena PAPO, meskipun kejadiannya lebih jarang. Penyumbatan juga harus
terjadi sekitar 70% untuk dapat memunculkan gejala. Penyumbatan yang terjadi secara
bertahap biasanya memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan penyumbatan yang terjadi
secara tiba-tiba (Hallet, 2008).Jika sumbatan terjadi dalam jangka waktu yang lama dan parah,
bisa terjadi pengecilan otot, munculnya warna kebiruan, kerontokan rambut, hingga gangren
pada jari-jari (Boggs, 2006).
Pemeriksaan yang diperlukan untuk check up pada penderita PAPO antara lain
pengukuran rasio tekanan darah kaki dan tangan atau sering disebut dengan Ankle-Brachial
Index (ABI) dan pemeriksaan Dopler untuk mendeteksi adanya aliran darah. USG Duplex
merupakan salah satu metode noninvasif yang bisa digunakan untuk melihat dan menilai
besarnya sumbatan dan aliran darah. Pemeriksaan yang lebih canggih lagi seperi MRI
angiography, CT angiography atau intraarterial contrast angiography biasanya dilakukan jika
akan dilakukan tindakan untuk melebarkan kembali pembuluh darah yang tersumbat tersebut
(Wibowo & Zulmiyusrini, 2014).
Perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor risiko merupakan hal terpenting dalam
pengobatan PAPO, selain pengobatan dengan obat-obatan pencegah jendalan darah. Obatobatan pencegah jendalan darah memang belum terbukti dapat mengurangi gejala nyeri akibat
PAPO, namun obat-obatan tersebut dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit
kardiovaskular. Program latihan juga penting untuk meningkatkan efisiensi metabolisme pada
otot sehingga bisa menggunakan oksigen lebih efektif. Beberapa obat yang berfungsi untuk
melebarkan pembuluh darah dapat meningkatkan kapasitas latihan pada penderita PAPO,
namun belum terbukti efektif dalam mengurangi nyeri klaudikasio (Wibowo & Zulmiyusrini,
2014).
Pasien juga didiagnosis mengalami AFRVR. Gambaran elektrokardiogram atrial fibrilasi
adalah irama umumnya tidak teratur dengan frekuensi laju jantung bervariasi (bias
normal/lambat/cepat). Jika laju jantung kurang dari 60 kali permenit disebut atrial fibrilasi slow
ventricular respons (AFSVR), jika laju jantung 60-100 kali permenit disebut atrial fibrilasi normo
ventricular respon (AFNVR) sedangkan jika laju jantung lebih dari 100 kali permenit disebut
atrial fibrilasi rapid ventricular respon (AFRVR). Kecepatan QRS biasanya normal atau cepat
dengan gelombang P tidak ada atau jikapun ada menunjukkan depolarisasi cepat dan kecil
sehingga bentuknya tidak dapat didefinisikan (Chuchum, 2010).
Banyak faktor risiko yang menyebabkan berkembangnya kejadian atrial fibrilasi terutama
dengan semakin meningkatnya usia semakin meningkat pula risiko kejadian atrial fibrilasi

(National Collaborating Center for Chronic Condition, 2006). Faktor risiko lainnya dapat
dibedakan berdasarkan faktor kondisi jantung dan non jantung. Selain faktor usia, faktor risiko
yang berasal dari non-cardiac adalah penyakit diabetes, penipisan elektrolit, kelainan tiroid, dan
emboli pulmonal. Sedangkan faktor risiko yang berasal dari jantung sendiri adalah atrial septal
defect, post operasi jantung, kardiomiopati, gagal jantung, hipertensi, penyakit jantung iskemik,
dll (Berry and Padgett, 2012).

BAGIAN 5. MONITORING DAN EVALUASI


Assessment
Tanggal
MONEV 1
9-Oktober2014

Diagnosis
PAPO
Antebrachialis
Sinistra
AFRVR

Antropo
metri
-

Biokimia

Klinis

SGOT : 21,5

T: 130/80

SGPT : 16,8

N: 82x /menit

Leukosit:

R: -

12,6 ()

S: 36,5C

Eusinofil: 0,1

Tampak lebih

()

Dietary
Asupan oral :

KESIMPULAN & TINDAK LANJUT (ASSESMEN


DIAGNOSIS GIZI, INTERVENSI GIZI)
Assesmen Gizi :
A: Data antropometri tidak dapat diukur pada monev

E : 404,4 kcal

pertama

(27,7%)

B: Terdapat pengukuran biokimia terbaru pada monev

P : 13,85 g

pertama yang dilakukan oleh tim medis yaitu SGPT, SGOT,

tenang,

(34,6%)

profil sel darah putih dan MCV,MCH,MCHC serta W-CV.

Basofil: 0,2

rileks, akral

L : 7,1 g

Pemeriksaan menunjukkan nilai normal kecuali leukosit,

()

hangat (+)

(17,5%)

eusinofil dan basofil

KH : 71,1 g

C: Tekanan darah pasien sedikit diatas normal, sedangkan

(30,5%)

suhu dan nadi pasien normal. Pasien mulai tampak lebih

Tidak
terdapat data

tenang dan rileks dibanding hari pertama pengambilan

biokimia

kasus

profil lipid

D: Asupan makan pasien menurun dibanding hari ertama

pasien

pengambilan

kasus.

Keluarga

pasien

mengemukakan

bahwa pasien hanya mampu menghabiskan bubur saring


sekitar 3-4 sendok.
Diagnosis gizi :
(NI-2.1) Asupan oral inadekuat berkaitan dengan penurunan
nafsu makan dibuktikan oleh hasil recall 24 jam yang tidak
mencapai batas minimal

(NI-5.4) Penurunan kebutuhan nutrisi spesifik yaitu natrium


berkaitan dengan adanya PAPO (Penyakit Arteri Perifer
Oklusif)

dan

gangguan

elastisitas

pembuluh

dibuktikan oleh nilai tekanan darah 130/80 mmHg

darah
(pre

hipertensi) dan riwayat penyakit stroke

MONEV II
10Oktober2014

Diagnosis
tambahan :
ISK

Na : 144
mg/dl
(normal)
K : 2,5
mmol/L ()
Cl : 115
mmol/L ()
Ca total : 8
mg/dl ()
Mg : 3,2
mg/dl ()

Asupan oral :
T: 138/75

Assesmen Gizi :
A: Data antropometri tidak dapat diukur pada monev kedua

N: 88x /menit

E : 254 kcal

B: Terdapat pengukuran biokimia terbaru pada monev

S: 36C

(17,4%)

kedua yaitu nilai elektrolit diukur kembali dimana kadar

Akral hangat

P : 2,4 g (6%) kalium dan Ca total rendah serta kadar klorida meningkat.

(+)

L:-

Kemudian terdapat pengukuran albumin, ureum dan asam

Rileks,

KH : 71,85 g

urat serta pengukuran profil lipid. Pengukuran menunjukkan

tenang

(30,8%)

nilai yang normal.


Terdapat penurunan kadar natrium hingga mencapai batas
normal.

Sebaliknya,

kadar

magnesium

yang

pada

pemeriksaan awal masuk rumah sakit masih dalam batas


normal, kini mengalami peningkatan melebihi nilai rujukan
RS.
C:

Tekanan

darah

pasien

tergolong

pre

hipertensi.

Sementara itu, suhu dan nadi pasien normal. Pasien

tampak rileks, tenang dan dapat diajak berkomunikasi


meskipun mengalami kesulitan berbicara
D: Asupan makan pasien masih belum mencapai batas
minimal dibanding hari pertama pengambilan kasus. Selain
itu, diet pasien yang pada walnya merupakan diet saring
DJII berubah menjadi DIET Tim DJ II saat pasien
dipindahkan ke perawatan/stase bedah.
Keluarga pasien mengemukakan bahwa pasien hanya
mampu menghabiskan bubur saring sekitar 3-4 sendok.
Namun, pasien mampu menghabiskan buah-buahan yang
diberikan di rumah sakit.
Diagnosis gizi :
(NI-2.1) Asupan oral inadekuat berkaitan dengan penurunan
nafsu makan dan kesulitan mengunyah dan menelan
dibuktikan oleh hasil recall 24 jam yang tidak mencapai
batas minimal
(NI-5.4) Penurunan kebutuhan nutrisi spesifik yaitu lemak
dan natrium berkaitan dengan adanya PAPO (Penyakit
Arteri Perifer Oklusif) dan gangguan elastisitas pembuluh
darah dibuktikan oleh nilai tekanan darah 138/75 mmHg
(pre hipertensi) dan riwayat penyakit stroke

Assesmen Gizi :
A: Data antropometri tidak dapat diukur pada monev ketiga
B: Tidak ada pengukuran biokimia pada monev ketiga
C: Tekanan darah pasien tergolong pre hipertensi. Adapun
KU : CM

Asupan oral :

T: 130/80
N: 88x /menit
S: 37C
-

Akral hangat
(+)

MONEV III
11Oktober2014

Tampak
sakit, lemas,
rileks

suhu, respirasi dan nadi pasien normal. Pasien tampak sakit


dan lemas namun tetap rileks.

E : 547,35
kcal (37,5%)
P : 18,5 g
(46,3%)
L : 11,53
(28,5%)
KH : 95,1 g
(40,8%)

D: Asupan makan pasien rendah. Namun, asupan ini tidak


dapat digunakan untuk menilai daya terima pasien sebab
pada malam hingga pagi hari pasien dalam keadaan
dipuasakan.
Diagnosis gizi :
(NI-5.4) Penurunan kebutuhan nutrisi spesifik yaitu lemak
dan natrium berkaitan dengan adanya PAPO (Penyakit
Arteri Perifer Oklusif) dan gangguan elastisitas pembuluh
darah dibuktikan oleh nilai tekanan darah 130/80 mmHg
(pre hipertensi) dan riwayat penyakit stroke

BAGIAN 6. KESIMPULAN DAN SARAN

A.

KESIMPULAN
1. Berdasarkan assesmen antropometri pasien memiliki status gizi normal; hasil
assesmen biokimia menunjukkan terdapat ketidakseimbangan kadar natrium,
klorida dan kalium; hasil assesmen fisik klinis menunjukkan manifestasi klinis dari
Penyakit Arteri Perifer Oklusif (PAPO); dan hasil assesmen dietary asupan
makan menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi lemak, karbohdrat dan
energi masih dibawah standar minimal 80%
2. Berdasarkan diagnosis medis pasien mengalami peripheral arterial disease atau
Penyakit Arteri Perifer Oklusif (PAPO)
3. Hasil assesmen menunjukkan diagnosis gizi pasien yaitu NI-5.4 Penurunan
Kebutuhan Lemak dan Natrium
4. Intervensi gizi yang diberikan adalah Diet Jantung II, bentuk makanan saring dan
cara pemberian oral

B.

SARAN
1. Untuk pasien
Pasien perlu menerapkan pola makan yang baik dan menghindari beberapa
makanan yang sesuai dengan pengaturan diet yang telah dianjurkan. Selain itu,
diperlukan kemauan dari pasien untuk meningkatkan asupan makan
2. Untuk keluarga pasien
Sebaiknya

keluarga

pasien

terus

mendukung,

memperhatikan

dan

memotivasi pasien untuk menerapkan pola diet yang sesuai dengan kebutuhan
dan kondisi pasien saat ini
3. Diperlukan kolaborasi medis terkait penanganan kondisi pasien

DAFTAR PUSTAKA

Allen JD, Giordano T, Kevil CG. Nitrite and nitric oxide metabolism in peripheral artery
disease. Nitric Oxide. 2012;26(4):217-22.
Almatsier Sunita. 2006. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia
Anonim. 2011. Penyakit Arteri Perifer. Tersedia dalam: http://www.astellas.co.id [Diakses
pada 31 Oktober 2014]
Arifin, M. 2000. Peranan Obat Vasoaktif terhadap Peningkatan Efek Hemodinamik pada
Peripheral Occlusive Arterial Disease (POAD)
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Semarang : Bagian Ilmu Bedah

Astuti, Tina. 2013. Cara Pintar Diet Panduan Lengkap Secara Alami dan Medis. Oryza :
Jakarta Selatan
Berry. A and Padgett, H. (2012). Management of patients with atrial fibrillation: Diagnosis and
Treatment. Nursing Standard/RCN Publishing. 26 (22), 47.
Bina Gizi Masyarakat
Boggs WM. 2006. Chronic Peripheral Arterial Occlusive Disease Peripheral Arterial
Disease.
Tersedia
dalam:
http://www.medicineonline.com/topics/c/2/ChronicPeripheral-Arterial-Occlusive-Disease/Peripheral-Arterial-Disease.html.
[Diakses
pada 10 Oktober 2014]
Chuchum S. (2010). Cara Praktis Membaca Elektrokardiogram EKG. Jakarta: Surya
Gemilang
Cox P.M., Schwarz. Cyanosis. Dalam: Friedman H.H., Editor. Problem Oriented Medical
Diagnosis. Ed ke-7. Philadelphia: Lippincott; 2001;h:146-148
Depkes RI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat
edition. Wadsworth Cengage Learning, Belmont.
Effendi, Zogie. 2014. Sinus Takikardi. Tersedia dalam: <http:// zhoghyearhye.blogspot.com>
[Diakses pada 31 Oktober 2014]
Fauci, A.S., Kasper, D.L., Longo, D.L.,Braunwald, E., Hauser, S.L., Jameson,J.L., et al.
Harrison's Principle Internal Medicine. Ed ke-17. Philadelphia: McGraw-Hill; 2008
Hallett

JW. 2008. Occlusive Peripheral Arterial Disease. Tersedia dalam:


http://www.merckmanuals.com/home/heart_and_blood_vessel_disorders/peripheral_
arterial_disease/occlusive_peripheral_arterial_disease.html. [Diakses pada 10
Oktober 2014]

Hirsch AT, Haskal ZJ, Hertzer NR, Bakal CW, Creager MA, Halperin JL, et al. ACC/AHA
2005 Practice Guidelines for the management of patients with peripheral arterial
disease (lower extremity, renal, mesenteric, and abdominal aortic): a collaborative

report from the American Association for Vascular Surgery/Society for Vascular
Surgery, Society for Cardiovascular Angiography and Interventions, Society for
Vascular Medicine and Biology, Society of Interventional Radiology, and the
ACC/AHA Task Force on Practice Guidelines (Writing Committee to Develop
Guidelines for the Management of Patients With Peripheral Arterial Disease):
endorsed by the American Association of Cardiovascular and Pulmonary
Rehabilitation; National Heart, Lung, and Blood Institute; Society for Vascular
Nursing; TransAtlantic Inter-Society Consensus; and Vascular Disease Foundation.
Circulation. 2006;113(11):e463-654.
Husin, W., Hudaja, O., Kristianto W. 2006. Oklusi Arteri Perifer pada Ekstremitas Inferior.
JKM. Vol 6 No.1
Klabunde RE. Cardiovascular Physiology Concepts. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2011.
Lilly L. Pathophysiology of Heart Disease : A Collaborative Project of Medical Students and
Faculty. 5th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2011.
Loffredo L, Carnevale R, Cangemi R, Angelico F, Augelletti T, Di Santo S, et al. NOX2 upregulation is associated with artery dysfunction in patients with peripheral artery
disease [Abstract]. Int J Cardiol. 2013;165(1):184-92.
Loffredo L, Carnevale R, Perri L, Catasca E, Augelletti T, Cangemi R, et al. NOX2-mediated
arterial dysfunction in smokers: acute effect of dark chocolate. Heart.
2011;97(21):1776-81.
Loffredo L, Perri L, Catasca E, Pignatelli P, Brancorsini M, Nocella C, et al. Dark chocolate
acutely improves walking autonomy in patients with peripheral artery disease. J Am
Heart Assoc. 2014;3(4).
Maiorana A, ODriscoll G, Taylor R, Green D. Exercise and the nitric oxide vasodilator
system [Abstract]. Sports Med. 2003;33(14):1013-35.
Matthies, R. Who and How to Make the Dignosis of Peripheral Arterial Disease. J Cardiol
2003;10:142-5
McGuire, M & Beerman, K.A. (2011) Nutritional sciences: From fundamentals to food, 2nd
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler
dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika
National Collaborating Center for Chronic Condition. (2006). Atrial fibrillation. London.
National Clinical Guidline for Management in Primary and Secondary Care. Royal
College of Physicians. Tersedia dalam : www.escardio.org [Diakses pada 16 Oktober
2014]
Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Rowe VL. 2008. Peripheral Arterial Occlusive Disease: Pathophysiology. Tersedia dalam:
http://emedicine.medscape.com/article/460178-overview#aw2aab6b2b2.
[Diakses
pada 10 Oktober 2014]

Trisnohadi, H.B. 2009, Angina Pektoris tidak Stabil, dalam Sudoyo, A.W.,Setyohadi, B.,
Alwi, I., Simadibrata, M. dan Setiati, S., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi V,
Jakarta, InternaPublishing, hal. 1728-1731
Tuminah, S. Efek Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh "Trans" Terhadap
Kesehatan. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Volume XIX Tahun
2009, Suplemen II, hal 813-820
Wibowo, R.A., Zulmiyusrini, P. 2014. Cokelat Hitam Membantu Mengurangi Nyeri
Klaudikasio pada Penderita enyakit Arteri Perifer Oklusif. Tersedia dalam:
<http://kardiopdrscm.com> [Diakses pada 10 Oktober 2014]

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Hasil Recall Pasien


Recall 1 Diet RS
Terapi diet/cara pemberian : DJ II/saring/oral
Tanggal

: 07/10/2014 - 08/10/2014

Waktu

: 13.30 WIB

Waktu

Menu & sisa makanan

06.00 WIB
Pagi
08/10/2014
08.00 WIB
Selingan
10.00 WIB
Siang
08/10/2014
13.00 WIB
Selingan
16.00 WIB
Sore
07/10/2014
Selingan

Teh manis (sisa 25%)

Energi
(kkal)
30,45

Saring DJ II 350 g (sisa 25%)

253,05

AKH 200 cc (sisa 0 %)

60,8
337,4
40

Saring DJ II 350 g ( sisa 0%)


Buah 100 g (sisa 0%)
Susu skim

Saring DJ II 350 g (sisa 25%)


Buah 100 g (sisa 0%)
Total Asupan
Standar Rumah sakit (Saring DJ II)
% Asupan/Standar
Hasil Perhitungan Kebutuhan Pasien
% Asupan/Kebutuhan
Asupan cairan

75
253,05
47
1096,75
1268,6
86,5 %
1459,4
75,2 %

Asupan Parenteral

Lemak
(g)
-

11,1

6,92

37,35

15

14,8
-

9,23
-

49,8
10,8

10

Protein (g)

11,1
6,92
1
0,2
45
23,27
51,4
27,7
87,5 %
84 %
40
40,5
112 %
57,4 %
Infus NaCl 20 tpm
D5% 155 ml

31

KH (g)
7,5

37,35
9,2
177
206
85,9 %
233
75,96 %
7,75

Monev 1 Recall ke 2
Terapi diet/cara pemberian : DJ II/Saring/Oral
Tanggal

: 08/10/2014 - 09/10/2014

Pukul

: 13:20 WIB

Waktu

Menu & sisa makanan

06.00 WIB
Pagi
09/10/2014

Teh manis (sisa 50%)


Saring DJ II 350 g ( sisa 75%)

Energi
(kkal)
20,3
84,35

Protein (g)

Lemak (g)

KH (g)

3,7

2,3

5
12,45

08.00 WIB
Selingan
10.00 WIB

AKH 200 cc (sisa 25%)

45,6

Siang
09/10/2014
13.00 WIB

Saring DJ II 350 g (sisa 75%)


Buah 100 g (sisa 0%)

84,35
40

Susu skim (sisa 75%)

18,75

Selingan
16.00 WIB
Sore
08/10/2014

Saring DJ II 350 g (sisa 75%)


Buah 100 g (sisa 0%)
Total Asupan
Standar Rumah sakit (Saring DJ II)
% Asupan/Standar
Hasil Perhitungan Kebutuhan Pasien
% Asupan/Kebutuhan
Asupan cairan

84,35
47
404,4
1268,6
31,8 %
1459,4
27,7%

11,25

3,7
-

2,3
-

12,45
10,8

1,75

2,5

3,7
2,3
1
0,2
13,85
7,1
51,4
27,7
26,9 %
25,6 %
40
40,5
34,6 %
17,5 %
Infus NaCl 20 tpm

12,45
9,2
71,1
206
34,8 %
233
30,5 %

Monev 2 Recall ke 3
Terapi diet/cara pemberian : DJ II/Saring/Oral
Tanggal

: 09/10/2014 - 10/10/2014

Pukul

: 13:50 WIB

Waktu

Menu

06.00 WIB

Teh manis (sisa 25%)


Tim DJ III 200 g (sisa 80%)
LH 50 g (sisa 100%)
Sayur 100 g (100%)
Minyak 5 g

Energi
(kkal)
30,45
22,5
-

Selingan
10.00 WIB

AKH 200 cc (sisa 25%)

45,6

Siang
10/10/2014
13.00 WIB

Tim DJ III 300 g (sisa 80%)


LH 50 g (sisa 100%)
LN 50 g (sisa 100%)
Sayur 100 g (100%)
Minyak 5 g
Buah 100 g (sisa 0%)

22,5
40

Selingan
16.00 WIB

Teh Manis (sisa 25%)

Sore
09/10/2014

Tim DJ III 300 g (sisa 80%)


LH 50 g (sisa 100%)
LN 50 g (sisa 100%)
Sayur 100 g (100%)
Minyak 5 g
Buah 100 g (sisa 0%)

Pagi
10/10/2014
08.00 WIB

Protein (g)

Lemak (g)

KH (g)

0,8
-

7,5
8
-

11,25

0,8
-

8
10,8

30,45

7,5

22,5
40

0,8
-

8
10,8

Total Asupan
Standar Rumah sakit (Tim DJ III)
% Asupan/Standar
Hasil Perhitungan Kebutuhan Pasien
% Asupan/Kebutuhan
Asupan cairan

254
1533
16,5 %
1459,4
17,4 %

2,4
63,2
35,1
3,79 %
0%
40
40,5
6%
0%
Infus NaCl 20 tpm

71,85
245,6
29,3 %
233
30,8 %

Monev 3 Recall ke 4
Terapi diet/cara pemberian : DJ II/Saring/Oral
Tanggal

: 10/10/2014 - 11/10/2014

Pukul

: 13:20 WIB

Waktu

Menu & sisa makanan

Energi
(kkal)

Protein (g)

Lemak (g)

KH (g)

Siang
11/10/2014

Saring DJ II 350 g (sisa 75%)


Buah 100 g (sisa 0%)

84,35
40

3,7
-

2,3
-

12,45
10,8

Selingan
Pagi
11/10/2014
Selingan
06.00

AKH 200 cc (sisa 25%)

45,6

11,25

PUASA

PUASA

Sore
10/10/2014

Saring DJ II 350 g ( sisa 0%)


Buah 100 g (sisa 0%)

337,4
40

14,8
-

9,23
-

49,8
10,8

Selingan

Total Asupan
Standar Rumah sakit (Makanan Biasa)
% Asupan/Standar
Hasil Perhitungan Kebutuhan Pasien
% Asupan/Kebutuhan
Asupan cairan

547,35
1268,6
43,1 %
1459,4
37,5 %

18,5
11,53
51,4
27,7
36 %
41,6 %
40
40,5
46,3 %
28,5 %
Infus NaCl 20 tpm

95,1
206
46,2 %
233
40,8 %

TUGAS TAMBAHAN

1.

Jelaskan interaksi obat antara obat antikoagulan dengan vitamin K, vitamin C,


vitamin E, dan alkohol!
Jawab :
a.
Antikoagulan dengan vitamin K
PentIng untuk menghindari atau melakukan pembatasan ketat pada makanan
yang banyak mengandung vitamin K (seperti bayam, brokoli, selada) karena vitamin K
akan menghasilkan senyawa yang dapat menyebabkan terjadinya gumpalan/bekuan
darah sehingga efek antikoagulan akan berkurang.
Antikoagulan oral berkompetisi dengan suplai normal vitamin K untuk
mengurangi sintesis faktor pembekuan darah oleh hati. Jika asupan vitamin K tinggi,
sintesis faktor pembekuan, secara noral akan menurunkan efek antikoagulan dari obat
yang dikonsumsi.
b. Antikoagulan dengan vitamin C
Efek antikoagulan dapat berkurang. Konsumsi vitamin C bersamaan dengan
terapi antikoagulan dapat mengurangi efek pembekuan darah dari warfarin maupun
hepari
c.

Antikoagulan dengan vitamin E


Efek antikoagulan dapat meningkat. Dapat meningkatkan risiko perdarahan.

d.

Antikoagulan dengan Alkohol


Efek antikoagulan dapat meningkat bila konsumsi alkohol tetap dilakukan.
Antikoagulan digunakan untuk mengencerkan darah dan mencegah pembekuan
darah. Akibatnya risiko perdarahan meningkat. Membatasi minum alcohol sampai
jumlah sesedikit mungkin akan mengurangi kemungkinan interaksi ini. Tetapi, pada
peminum berat, alcohol dalam jumlah sedang pun dapat menurunkan efek
antikoagulan, sehingga tekanan obat perlu diatur.

2.

Pada penggunaan heparin dan diovan dikatakan menghindari asupan tinggi


kalium. Sebagai nutrisionis rekomendasi diet berkaitan dengan interaksi obat
dan kalium pada pasien ini, yang kondisinya hipokalium?
Jawab :
Terkait dengan nilai biokimia pasien, yaitu rendahnya kalium pada pemeriksaan
hari pertama maupun hari ketiga, maka pembatasan ketat terhadap kalium tidak
dianjurkan. Oleh karenanya, pasien yang dalam kondisi hipokalemia masih boleh
mengkonsumsi kalium dari kacang hijau atau buah-buah segar yang diberikan oleh

rumah sakit. Namun, sebaiknya menghindari konsumsi pisang karena tinggi kadar
kalium yang terkandung.