Anda di halaman 1dari 18

DEEP SOIL MIXING (DSM) - METODE PERBAIKAN/STABILISASI

TANAH
Deep Soil Mixing (DSM) adalah teknologi perbaikan tanah yang digunakan untuk
membangun cutoff atau dinding penahan dan memperlakukan tanah, in-situ.
(DSM) adalah stabilisasi tanah dimana tanah dicampur dengan bahan reagen
semen dan / atau lainnya. Reagen disuntikkan melalui kelly bar berongga yang
berputar, dengan beberapa jenis peralatan pemotong di bagian bawah. Kelly bar di
atas alat dapat memiliki auger tambahan diskontinu dan / atau paddles pencampur
atau pisau. Beberapa nama-nama lainnya yang digunakan untuk menggambarkan
metode ini adalah Cement Deep Soil Mixing (CDSM), Deep Mixing Method
(DMM), atau Soil Mix Wall (SMW). Perbaikan tanah dengan DSM dicapai
dengan serangkaian kolom tumpang tindih tanah stabil (biasanya 36-inci diameter
biasanya 36-inci).
Pencampuran shaft yang diposisikan untuk tumpang tindih satu sama lain
dan membentuk campuran terus kolom tumpang tindih.

Ketika desain kedalaman tersebut tercapai, augers ditarik dan proses


pencampuran diulang dalam perjalanan ke permukaan. Waktu di belakang menjadi
stabil memiliki kolom DSM berikut (properti / kekayaan): (permeabilitas yang
rendah, peningkatan kapasitas bantalan, atau kekuatan geser, tak bisa bergerak

kontaminan bahwa ketika diperkuat, yang mampu menahan tanah diferensial dan
hidrostatik loading).
METODE
Ascolumn Metode (metode pencampuran dalam)

Ascolumn metode adalah untuk membangun tanah stabil kolom semen di


dalam tanah dengan menggunakan semen bubur stabilizer in-situ dan
pencampuran dan mengagitasi tanah dan stabilizer dengan menggunakan forwardreverse agitator berputar, kemudian menarik. Solidifikasi di lapangan / stabilisasi
tanah yang terkontaminasi dapat dicapai dengan menggunakan teknologi Cement
Deep Soil Minxing (CDSM) dimana bahan pencampur yang digunakan adalah
semen. Pada tanah yang dalam pencampuran, augers yang kuat kuat digunakan
untuk mencampur bubur aditif possolanic ke tanah, sehingga menstabilkan tanah
tersebut untuk tujuan konstruksi.
Pola Perlakuan Dasar DSM

Deep Soil Mixing (DSM) konvensional

Deep Soil Mixing adalah teknologi perbaikan tanah yang digunakan untuk
memperbaiki tanah dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi
kompresibilitas. Proses ini melibatkan pencampuran nat atau pengikat dengan
tanah untuk menghasilkan sementasi tanah atau perbaikan tanah. Metode basah
adalah metode dimana pengikat yang dimasukkan dalam bentuk basah, yang
bertentangan dengan metode kering di mana bahan pengikat dimasukkan dengan
udara. Dalam pencampuran basah, pengikat yang paling umum digunakan adalah
semen.
Aplikasi Pencampuran Tanah

DSM adalah pengobatan tanah dimana tanah dicampur dengan bahan


reagen semen dan / atau lainnya untuk mengobati tanah untuk meningkatkan
kekuatan dan mengurangi kompresibilitas. Kolom DSM biasanya dipasang di
tanah lunak di mana penurunan harus dikurangi dan stabilitas meningkat. Aplikasi
DSM juga telah digunakan untuk memperbaiki tanah yang terkontaminasi,
sedimen, dan lumpur di proyek remediasi. Tanah pencampur telah digunakan
untuk mengobati tanah, sedimen, dan lumpur. Teknologi ini terbukti efektif untuk
pemulihan tanah yang mengandung baik organik dan anorganik. Pemilihan teknik
yang tepat tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis kendala geoteknik,
karakteristik tanah, dan hasil akhir yang diinginkan. Sementara yang paling umum
digunakan dalam tanah kohesif, mereka juga memiliki aplikasi pada media pasir
padat - longgar dimana biaya sementasi rendah yang mereka berikan dapat
menghindari liquifafaksi pada tanah (tanah loose). Skala penuh S / S dan proyek
DSM telah memperlakukan konstituen anorganik termasuk timbal, arsen
kadmium, dan kromium dan konstituen organik, termasuk ter batubara, limbah
kilang, kreosot, lainnya polisiklik hidrokarbon aromatik dan polychlorinated
biphenyls

(PCB).

TAHAP-TAHAP PENGEBORAN
Pengeboran persiapan :
berfungsi untuk memecah tanah , terutama jika digunakan bubur pelumas,
mengurangi gesekan sehingga pengeboran akhir mungkin menjadi lebih cepat.
pengeboran Final
dibagi menjadi ke bawah dan ke atas fase. Entah pengerasan atau nonpengerasan bubur dapat diperkenalkan dan konsolidasi dengan tanah selama fase
ke bawah, tetapi hanya pengerasan bubur biasanya digunakan pada akhir fase ke
atas pengeboran. Teknik ini menghasilkan lebih cepat dan lebih homogen
campuran bubur dan tanah dan memungkinkan lubang bor lebih dalam.

Deep Soil Mixing meliputi:

Konstruksi dinding cut-off untuk mengontrol air tanah dan kontaminan,

Meningkatkan daya dukung subgrade untuk struktur,

Enkapsulasi (kapsulasi) polutan / kontaminan kimia sebagai perbaikan.

Mengontrol permukaan tanah lunak, di dasar penggalian,

Support Excavasi pemasangan dinding penahan sementara atau permanen,

beban merata dan beban terpusat struktural,

Seismik yang disebabkan penurunan / penyebaran lateral partikel tanah


dan mitigasi terhadap potensi liquifaksi tanah
Likuifaksi sering terjadi pada tanah berpasir lepas dan jenuh air bila terjadi

gempa bumi. Akibat kehilangan kuat geser akibat gempa dapat menyebabkan
terjadinya tanah longsor, kehilangan kuat dukung pada fondasi, dan penurunan
fondasi yang berlebihan. Sebagai kelanjutannya akan terjadi kerusakan pada
struktur bangunan diatasnya. Gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa
Tengah pada 27 Mei 2006 telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan
kerugian baik materi maupun jiwa manusia. Berdasarkan kajian awal
(reconnaissance) kelompok geoteknik Taiwan Tech diketahui bahwa lebih dari 27
lokasi telah terjadi peristiwa sand-boiling selama gempa tersebut (Lee, Hwang dan
Muntohar, 2006). Sand-boiling merupakan indikasi terjadinya peristiwa likuifaksi
(liqeufaction) akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah
tersebut. Salah satu lokasi terjadinya sand-boiling ini adalah di Kampus Terpadu
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diikuti dengan retaknya
permukaan tanah.

BAHAN
Bentonite
Bentonite

terbentuk

dari

abu

vulkanik,

Unsur

(Na,Ca)0.33(Al,Mg)2Si4O10(OH)2(H2O). Sifat materialnya tidak menyerap air.


Banyak digunakan sebagai bahan kosmetik, keramik, semen, adhesives, cat dan
lain sebagainya. Selain di Indonesia banyak terdapat di Amerika Utara, Australia,
Afrika dan banyak negara lainya.
Aditif
keuntungan

Metode yang efektif untuk Kontrol terhadap settlement tanah, mitigasi


liquifaksi tanah, dan remediasi tanah yang terkontaminasi.

Mengurangi getaran - getaran, Metode ini menginduksi getaran yang


sangat rendah sehingga mengurangi potensi dampak terhadap sarana di
dekatnya.

Mengurangi masalah pembuangan ke luar lokasi.

Hemat Waktu - proses cepat, dan kekuatan dicapai dalam kondisi tanah
yang sulit. Kemampuan untuk membangun kolom tanah berdiameter besar,
di lingkungan yang lebih bersih.

Batasan-batasan DSM
Faktor-faktor yang dapat membatasi penerapan dan efektivitas di lapangan
mencakup:

Kedalaman kontaminan dapat membatasi beberapa jenis proses aplikasi.

Penggunaan lokasi pada masa mendatang, bahan mempengaruhi


kemampuan untuk mempertahankan imobilisasi kontaminan.

Beberapa proses menghasilkan peningkatan signifikan dalam volume


(sampai dua kali lipat volume asli).

Limbah tertentu sesuai dengan variasi dari proses ini. Studi Treatability
umumnya dibutuhkan.

pengiriman Reagen dan efektifitas pencampur lebih sulit daripada untuk


aplikasi di luar lokasi.

Seperti semua dalam perawatan lokasi, konfirmasi pengambilan sampel


dapat lebih sulit daripada untuk perawatan ex situ.

Bahan dipadatkan dapat menghalangi menggunakan lahan di masa


mendatang.

Pengolahan kontaminasi bawah water table mungkin memerlukan


dewatering.

PERBAIKAN TANAH LUNAK


Umumnya jenis tanah yang mengalami konsolidasi berlebihan adalah
lempung lunak jenuh. Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan guna
perbaikan tanah lunak terhadap penurunan yang berlebihan (settlemen) dan secara
garis besar dapat dikelompokan dalam tiga kategori : pertama dapat dilakukan
dengan memasang vertical drain, kedua dengan menggunakan cerucuk atau
corduroy serta yang ketiga dengan menggunakan pondasi tiang.

Pertama memasang vertical drain, tanah lempung lunak jenuh adalah


tanah dengan rongga kapiler yang sangat kecil sehingga proses konsolidasi saat
tanah dibebani memerlukan waktu cukup lama, sehingga untuk mengeluarkan air
dari tanah secara cepat adalah dengan mebuat vertical drain pada radius tertentu
sehingga air yang terkandung dalam tanah akan termobilisasi keluar melalui
vertical drain yang telah terpasang. Vertical drain ini dapat berupa stone column
atau menggunakan material fabricated yang diproduk oleh geosinindo atau pabrik
yang lainnya. Pekerjaan vertical drain ini biasanya dikombinasikan dengan
pekerjaan pre-load berupa timbunan tanah, dengan maksud memberikan beban
pada tanah sehingga air yang terkandung dalam tanah bisa termobilisasi dengan
lebih cepat.
Kedua dengan menggunakan cerucuk bamboo atau corduroy, prinsip
kerjanya sebelum dilakukan penimbunan terlebih dahulu memasang bantalan baik
yang terbuat dari bamboo (cerucuk) atau dari kayu gelondongan (corduroy)
sehingga saat tanah dihampar tidak bercampur dengan tanah asli dibawahnya dan
tanah timbunan tersebut membentuk satu kesatuan yang mengapung diatas tanah
aslinya semacam pontoon yang mengapung diatas air. Terdapat pondasi cerucuk
bamboo yang telah dimodifikasi dan dipatentkan oleh Pak Mansyur Irsyam (dosen
ITB) yang telah diaplikasikan pada bebepara daerah diindonesia serta telah
terbukti mamfaatnya.
Ketiga dengan menggunakan taing pancang, bisa berupa bore pile atau
PC spun pile, sehingga struktur yang akan kita bangun diatas tanah tersebut tidak
lagi menumpuh pada tanah lunak tersebut akan tetap menumpu pada lapisan tanah
keras dibawahnya. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merencanakan pondasi
tiang pancang pada tanah lunak adalah negative skin friction. Dua metode
perbaikan tanah lunak yang saya sebutkan pertama cocok diaplikasikan pada
pekerjaan jalan, yard penumpukan barang pada dermaga dll. Sementara untuk
untuk pondasi dari struktur atau proses equipment yang tepat diguanakan adalah
menggunakan pondasi tiang pancang.

Pile raft foundation, adalah pondasi yang sering digunakan untuk pondasi
tangki pada tanah lunak. Prinsip kerjanya seperti deck on pile dimana tangki
duduk pada pile cap yang ditopang oleh sejumlan pile dan saya selalu
menggunakan metode seperti ini dalam merencanakan pondasi equipment dengan
pertimbangan : penurunan yang diijinkan terhadap pondasi equipment sangat
kecil, karena equipment ini tersambung dengan equipment proses lainnya melalui
pipa baja yang cukup kaku
Ring foundation juga sering digunakan untuk pondasi tangki refer to API
650, akan tetapi pada kondisi tanah lunak tentunya sudah tidak cocok sebab
apabila terjadi settlement yang tidak merata akan menyebabkan pondasi miring
dan crack, dan ini merupakan awal kegagalan dari pondasi.
Ring foundation juga sering digunakan untuk pondasi tangki refer to API 650,
akan tetapi pada kondisi tanah lunak tentunya sudah tidak cocok sebab apabila
terjadi settlement yang tidak merata akan menyebabkan pondasi miring dan crack,
dan ini merupakan awal kegagalan dari pondasi.
METODE PERBAIKAN UNTUK TANAH GAMBUT
Metode perbaikan tanah gambut (terutama untuk tanah gambut berserat)
secara garis besar dibedakan menjadi 2 (dua) metode yaitu : Metode Mekanis dan
Metode Stabilisasi. Metode mekanis meliputi : replacement soil (pengantian tanah
dengan kualitas yang lebih baik), Corduroy (gelar kayu), preloading+surcharge
dengan atau tanpa kombinasi dengan lapisan geosynthetics, cerucuk kayu (micro
pile), kolom pasir serta penggunaan tiang pancang. Sedangkan Metode stabilisasi
merupakan metode penambahan zat kimia pada tanah gambut untuk
meningkatkan sifat fisik dan tekniknya.
1. Metode Mekanis
Cara yang paling mudah dan sering dilakukan yaitu dengan mengganti
lapisan tanah gambut tersebut jika ketebalan lapisannya kecil dan diurug dengan
tanah kualitas lebih bagus, sehingga mampu menahan beban yang besar dan
9

pemampatan yang terjadi kecil. Namun hal ini memerlukan volume tanah galian
yang cukup besar sehingga akan merusak ekosistem tambang galian selain polusi
lalulintas yang ditimbulkan akibat lalu lintas kendaraan pengankut material.
Metode replacement pada tanah gambut dalam volume besar juga memerlukan
tempat yang cukup luas untuk menimbunnya dan dampak dari timbunan gambut
yang kering akan mudah terbakar dan menghasilkan asap yang lebih banyak dan
lebih sulit dipadamkan. Jangkauan asap yang diakibatkan oleh kebakaran gambut
di Indonesia

Metode lainnya yaitu dengan memberi timbunan/surcharge

(preloading) di atas lapisan tanah gambut. Prinsip kerja preloading adalah


memampatkan lapisan tanah gambut dengan cara memberi beban awal yang
berupa

timbunan

tanah

sebelum

pembangunan

konstruksi

permanent

dilaksanakan. Dengan memampatnya lapisan tanah gambut tersebut maka lapisan


yang bersangkutan menjadi lebih padat yang berarti kemampuan mendukung
beban meningkat dan hampir tidak terjadi lagi pemampatan. Metode perbaikan ini
biasanya dikombinasi dengan pemasangan geosynthetics mengingat daya dukung
lapisan tanah gambut sangat kecil dan juga untuk menjaga agar tanah timbunan
tidak tercampur dengan tanah gambut yang berada dibawahnya. Namun
pemampatan yang terjadi pada tanah gambut akibat preloading masih cukup besar
dan berlangsung sangat lama.
Pemasangan galar kayu atau corduroy merupakan metode perbaikan tanah
gambut yang dilakukan dengan cara meletakkan satu lapis kayu dengan diameter
8.0 - 10.0 cm melintang jalan. Diatasnya, kemudian diletakkan tanah timbunan
sebagai tubuh jalan. Galar kayu berfungsi untuk meningkatkan daya dukung,
meratakan penurunan/pemampatan, dan sebagai jalan kerja saat pekerjaan
pembuatan tubuh jalan. Hanya saja, metode ini telah banyak diaplikasikan pada
pembangunan jalan di Pontianak, Kalimantan Barat, seperti jalan Tol KapuasLandak, jalan Sungai Durian - Rasu Jaya, dan jalan Naga Kalis Putussibau
(Pasaribu, 1998). Metode ini tidak bisa digunakan lagi mengingat kebutuhan kayu
yang sangat besar sehingga akan merusak hutan yang ada.

10

Pemakaian cerucuk atau dolken untuk peningkatan daya dukung lapisan


tanah gambut juga telah banyak diimplementasikan di pembangunan jalan di
Pontianak, Kalimantan Barat, seperti: Pontianak-Supadio Jalur II, jalan Arteri
Siantar, dan Arteri Pontianak-Supadio Jalur I (Pasaribu, 1998). Pemasangan
cerucuk atau dolken tersebut dimaksudkan untuk membuat lapisan gambut
menjadi lebih kaku oleh cerucuk sehingga hampir tidak ada pemampatan di
lapisan gambut yang bersangkutan. Disamping itu, cerucuk juga berfungsi
meneruskan beban konstruksi ke lapisan tanah yang lebih kuat. Untuk menjaga
agar tanah timbunan yang diletakkan di muka tanah tidak bercampur dengan tanah
dasar/tanah gambut, dan agar beban timbunan dapat diteruskan secara merata ke
lapisan tanah dasar, maka bagian atas cerucuk dipasang papan dengan ukuran 20
cm x 20 cm dan tebal 3 cm; cerucuk jenis ini dinamakan cerucuk dengan tiang
sayap.

Pemasangan kolom-kolom pasir pada lapisan tanah gambut juga


merupakan alternatif metode perbaikan yang banyak dipilih. Hal ini dapat
dilakukan dgn cara meletakkan pasir di muka tanah gambut setebal 1 meter
kemudian di tumbuk dengan berat tertentu yang dijatuhkan dari ketinggian
tertentu (Heavy Tumping). Jarak kolom pasir dibuat berdasarkan kebutuhan.
Dengan metode ini maka lapisan tanah gambut menjadi padat karena adanya

11

kolom-kolom pasir yang berarti daya dukungnya naik dan pemampatannya


menjadi sangat kecil. Hanya saja, penggunaan kolom pasir untuk areal yang luas
akan menimbulkan kerusakan lingkungan pada tempat penambangan pasir sebagai
akibat jumlah pasir yang diambil sangat besar. Penggunaan Tiang pancang baja
maupun beton biasa dilakukan pada tanah gambut dengan tebal lapisan lebih dari
6 meter. Namun perlu diketahui bahwa, tanah gambut mempunyai sifat asam
dengan pH yang rendah dan berdampak pada bahan baja dan beton cepat rusak
(bersifat korosif).

Menghitung Daya Dukung Tanah

12

Banyak rumus yang dapat dipakai untuk mendisain Pondasi. Pilihan yang
dipakai sangat tergantung dari kebiasaan seseorang dalam perencanaan pondasi
dan data-data tanah yang tersedia. Kami hanya akan membatasi pada rumus
pondasi dangkal dan pondasi dalam tunggal. Kedua jenis pondasi ini sering
ditemui di lapangan.
Peck dkk membedakan pondasi dalam dan pondasi dangkaldari nilai kedalaman
(Df/B):

v Df/B > 4 : Pondasi dalam

v Df/B 1 : Pondasi Dangkal

Dimana
Df : Nilai Kedalaman Pondasi
B : Lebar Pondasi
1. Menentukan daya dukung pondasi Dangkal
Daya dukung ultimit (ultimit bearing capacity/qult)didefinisikan sebagai beban
maksimum per satuan luasdimana tanah masih dapat mendukung beban
tanpamengalami keruntuhan.
- Rumus Terzaghi
(Bila memakai data pengujian Laboratorium)
qult = C.Nc + b.Nq.Df + 0,5.b.B.N
dimana :

13

qult = Daya Dukung Ultimit Pondasi


C = Cohesi Tanah
b = Berat Volume Tanah
Df = Kedalaman Dasar Pondasi
B = Lebar Pondasi dianggap 1,00 meter
Nc, Nq, N = Faktor daya dukung Terzaghi ditentukan oleh besar sudut geser
dalam
Setelah kita mendapatkan nilai daya dukung Ultimit Tanah (qult) , Langkah
selanjutnya menghitung daya dukung ijin Tanah yaitu :

q = qult / Sf
dimana :
q = Daya Dukung ijin Tanah
qult = Daya Dukung Tanah Ultimit
Sf = Faktor Keamanan biasanya nilainya diambil 3

Tabel. 2.1.1 Nilai Faktor Daya Dukung Terzaghi

Nc
Nq
N
Nc'

Nq'

N'

5,7

1,0

0,0

5,7

7,3

1,6

0,5

6,7

1,4

0,2

10

9,6

2,7

1,2

1,9

0,5

15

12,9

4,4

2,5

9,7

2,7

0,9

20

17,7

7,4

5,0

11,8

3,9

1,7

25

25,1

12,7

9,7

14,8

5,6

3,2

14

30

37,2

22,5

19,7

19

8,3

5,7

34

52,6

36,5

35,0

23,7

11,7

35

57,8

41,4

42,4

25,2

12,6

10,1

40

95,7

81,3

100,4

34,9

20,5

18,8

45

172,3

173,3

297,5

51,2

35,1

37,7

48

258,3

287,9

780,1

66,8

50,5

60,4

50

347,6

415,1

1153,2

81,3

65,6

87,1

-- Rumus Meyerhof
Bila memakai data pengujian Sondir
qult = qc. B. (1 + D/B). 1/40

Dimana :
qult = Daya Dukung Ultimit Tanah
qC = Nilai Conus
B = Lebar Pondasi (dianggap 1 meter)
D= Kedalaman Dasar Pondasi
Setelah kita mendapatkan nilai daya dukung UltimitTanah (qult) , Langkah
selanjutnya menghitung dayadukung ijin tanah yaitu :
q = qult / Sf
dimana :
q = Daya Dukung ijin tanah
qult = Daya Dukung Tanah Ultimit
Sf = Faktor Keamanan biasanya nilainya diambil 3
Daya dukung ijin tanah dapat juga dihitung langsungdengan cara :
15

q = qc/40 (untuk besaran B sembarang)


dimana :
q = Daya Dukung ijin tanah
qc = Nilai Konus
Menentukan daya dukung pondasi Dalam
Daya dukung pondasi dalam merupakan penggabungan dua kekuatan daya
dukung, yaitu daya dukung ujung (qe) dan daya dukung lekatan (qs)

Rumus Daya Dukung ujung tiang


P = qc. A/3. + JHF. O /5
dimana :
P = Daya Dukung Tiang
qc = Nilai Konus
A = Luas Penampang Tiang
JHF = Nilai Hambatan Lekat per pias
O = Keliling Tiang
3 & 5 = Koefisien Keamanan
Rumus Daya Dukung ujung tiang metode LCPC, 1991
qe = qc. Kc. Ap
dimana :
qe = Daya Dukung ujung tiang
qc = Nilai Konus

16

Kc = Faktor Nilai Konus (lihat tabel 2.2.1)


Ap = Luas penampang ujung tiang
a) Rumus Daya Dukung lekatan (qs)
qs = .JHp. As
dimana :
qs = Daya Dukung lekatan
JHP = Nilai Hambatan Pelekat (dari uji Sondir)
As = Selimut tiang
b) Rumus Daya Dukung Batas dan Daya dukung ijin
qult = qe +.qs
Dimana :
qult = Daya Dukung Tanah Ultimit
qe = Daya Dukung Ujung Tiang
qs = Daya Dukung Lekatan
Setelah kita mendapatkan nilai daya dukung UltimitTanah (qult) , Langkah
selanjutnya menghitung dayadukung ijin tanah yaitu :
q = qult / Sf
dimana :
q = Daya Dukung ijin tanah
Sf = Faktor Keamanan biasanya nilainya diambil 3

Tabel 2.2.1. Nilai Kc (Titi dan Abu Farsakh 1991)


Jenis Tanah

Faktor qonus Ujung Tiang


Drilling Pile

Driven Pile

Clays dan Silts

0,375

0,600

Sands dan Gravels

0,15

0,375

Chalk

0,200

0,400

17

18