Anda di halaman 1dari 21

2.

1 Pengertian media tanam


Media tanam adalah media / bahan yang digunakan sebagai tempat
tumbuh dan berkembangnya tanaman, baik berupa tanah maupun non
tanah
Fungsi media tanam, meliputi :
2.2 pengertian bahan tanam
Bahan Tanam merupakan bagian tanaman yang digunakan untuk
memulai/ mengawali budidaya tanaman Bahan Tanam : bagian tanaman
yang digunakan untuk memulai/ mengawali budidaya tanaman. Semua
organ tanaman dapat digunakan sebagai bahan tanam, namun harus
efisien, tersedia dan berpotensi produksi tinggi. Bahan Tanam sangat
menentukan produktifitas tanaman (+ > 50 %) baik kuantitas/kualitas
sifat genetis dan daya tumbuh yang baik
2.3 macam-macam media tanam non tanah

2.3.1 media tanam orgNIk


1. Arang
Arang adalah bagian tanaman seperti batang, batok kelapa atau
sekam padi yang dibakar pada panas tertentu sehingga tidak
sampai menjadi abu.

Media arang bersifat bufer (penyangga) dan

tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur atau cendawan


yang dapat merugikan tanaman. Media arang cenderung miskin
akan unsur hara, oleh karena itu perlu ditambahkan unsur hara.
Sebelum digunakan sebagai media tanam, media arang dipecah
menjadi potongan kecil terlebih dahulu sehingga memudahkan
penempatan di dalam pot.

2. Batang Pakis

Batang pakis berasal dari tanaman pakis yang sudah tua. Batang
pakis lazim digunakan sebagai media tanam anggrek. Kelemahan
dari lempengan batang pakis ini adalah sering dihuni oleh semut
atau binatang kecil lain.
Keunggulan media batang pakis,

mudah mengikat air, memiliki

aerasi dan drainase yang baik, serta bertekstur lunak sehingga


mudah ditembus oleh akar tanaman.

3. Kompos
Kompos adalah media tanam yang berasal dari proses fermentasi
tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput,
dan sampah kota. Kelebihan kompos mampu mengembalikan
kesuburan tanah melalui perbaikan sifat tanah, baik fisik, kimiawi,
maupun biologis.

4. Moss
Moss berasal dari akar paku-pakuan atau kadaka yang banyak
dijumpai di hutan. Moss sering digunakan sebagai media tanam
untuk persemaian hingga pembungaan. Media ini mempunyai
banyak rongga sehingga memungkinkan akar tanaman tumbuh dan
berkembang dengan leluasa. Media moss mampu mengikat air
dengan baik serta memiliki sistem drainase dan aerasi yang baik.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, moss dikombinasikan

dengan media tanam organik lainn, seperti kulit kayu, tanah


gambut, atau daun kering.

5. Pupuk kandang
Pupuk kandang berasal dari kotoran hewan, mengandung

unsur

hara makro seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) dan
unsure hara mikro. Pupuk kandang juga memiliki kandungan
mikroorganisme yang mampu merombak bahan organik.

6. Sabut kelapa (coco peat)


Sabut kelapa atau coco peat berasal dari kulir luar buah kelapa atau
biasa disebut sabut kelapa. Sabut kelapa mampu mengikat dan
menyimpan air, mengandung unsu hara esensial, seperti kalsium
(Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P). Sabut
kelepa

juga

mengandung

tannin

yang

dapat

menghambat

pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Media tanam cocopeat


sanggup menahan air hingga 73%.

7. Sekam padi

Sekam padi adalah kulit biji gabah tanaman padi. Sekam padi bisa
berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar) yang
memiliki tingkat porositas sama. Penggunaan sekam bakar untuk
media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen
telah mati selama proses pembakaran. Sekam bakar juga memiliki
kandungan karbon (C) yang tinggi Sekam mentah sebagai media
tanam mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber
kalium (K) yang dibutuhkan tanaman dan tidak mudah menggumpal
t sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna.

8. Humus
Humus adalah hasil pelapukan bahan organik oleh Jasad mikro dan
merupakan sumber energi jasad mikro tersebut. Humus sangat
membantu

dalam

proses

penggemburan

tanah

dan

memiliki

kemampuan daya tukar ion yang tinggi.

2.3.4 media tanam anorgNIk


1. Gel
Gel atau hidrogel adalah kristal polimer yang sering digunakan
sebagai media tanam bagi tanaman hidroponik. Penggunaan media
jenis ini sangat praktis dan efisien karena tidak perlu diganti,
disiram atau diupuk.

2. Pasir
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk
menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan
sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih,
pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman.
Pasir memiliki pori berukuran besar (makro) oleh karena itu mudah
basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan
konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat
kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Media pasir lebih
membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif.

3. Kerikil
Kerikil sering digunakan sebagai media untuk budi daya tanaman
secara

hidroponik.

Penggunaan

media

ini

akan

membantu

peredaran larutan unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak
menekan pertumbuhan akar. Kerikil memiliki kemampuan mengikat
air yang relatif rendah sehingga mudah basah dan cepat kering jika
penyiraman tidak dilakukan secara rutin.
Saat ini banyak dijumpai kerikil sintesis yang menyerupai batu
apung, yakni memiliki rongga udara sehingga memiliki bobot yang
ringan. Kelebihan kerikil sintesis adalah cukup baik dalam menyerap
air. Selain itu, sistem drainase yang dihasilkan juga baik sehingga
tetap dapat mempertahankan kelembapan dan sirkulasi udara
dalam media tanam.

4. Pecahan batu bata


Pecahan batu bata juga dapat dijadikan alternatif sebagai media
tanam. Ukuran batu-bata yang akan digunakan sebagai media
tanam dibuat kecil, seperti kerikil, dengan ukuran sekitar 2-3 cm.
Ukuran yang semakin kecil juga akan membuat sirkulasi udara dan
kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik.
Media pecahan batu bata tidak mudah melapuk, cocok digunakan
sebagai media tanam di dasar pot karena memiliki kemampuan
drainase dan aerasi yang baik.

5. Spons (floralfoam)
Spons sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan
ditempatkan di mana saja. Walaupun ringan, media jenis ini tidak
membutuhkan pemberat karena setelah direndam atau disiram air
akan menjadi berat
Media tanam spons mudah menyerap air dan unsur hara esensial
yang diberikan dalam bentuk larutan. Media ini tidak tahan lama
karena mudah hancur. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan
tersebut, spons sering digunakan sebagai media tanam untuk
tanaman hias bunga potong (cutting flower)

7. Vermikulit dan perlit


Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan dari
pemananasan kepinga mika serta mengandung potasium dan
Halium.

Vermikulit

merupakan

media

tanam

yang

memiliki

kemampuan kapasitas tukar kation tinggi, terutama dalam keadaan


padat dan pada saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat
jenis, dan meningkatkan daya serap air jika digunakan sebagai
campuran media tanaman. Jika digunakan sebagai campuran media
tanam, vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan
daya absorpsi air sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar
tanaman.
Perlit merupakan produk mineral berbobot ringan serta memiliki
kapasitas tukar kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai
campuran media tanam, fungsi perlit sama dengan Vermikulit, yakni
menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya serap air.
Penggunaan vermikulit dan perlit sebagai media tanam sebaiknya
dikombinasikan dengan bahan organik untuk mengoptimalkan
tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara.

8. Gabus (styrofoam)
Styrofoam

merupakan

bahan

anorganik

yang

terbuat

dari

kopolimerstyren yang dapat dijadikan sebagai alternatif media


tanam. Styrofoam yang digunakan berbentuk kubus jengan ukuran
(1 x 1 x 1) cm.

2.4 fungsi media tanam


Fungsi media tanam, meliputi :
Tempat tumbuh dan berkembangnya akar tanaman
Penopang tanaman dan bonggol agar tumbuh secara baik
Penyedia unsur hara bagi tanaman
Penyedia air bagi tanaman

2.5 pengertian perkecambahan dan proses pemecahan dormansi secara


alami dan kimiawi
Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan,
khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang
semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan
fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda.
Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponenkomponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal
menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah
yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod
Sudjadi, 2006)

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan


embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari
dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula
tumbuh dan berkembang menjadi batang, dan radikula tumbuh dan
berkembang menjadi akar. (Istamar Syamsuri, 2004)

Perkecambahan

merupakan

suatu

proses

dimana

radikula

(akar

embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala


morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologibiokemis

yang

kompleks,

dikenal

sebagai

proses

perkecambahan

fisiologis. (Salisbury, 1985)

Perkecambahan biji berhubungan dengan aspek kimiawi. Proses tersebut


meliputi beberapa tahapan, antara lain imbibisi, sekresi hormon dan
enzim, hidrolisis cadangan makanan, pengiriman bahan makanan terlarut
dan hormon ke daerah titik tumbuh atau daerah lainnya, serta asimilasi
(fotosintesis). (Bagod Sudjadi, 2006)
Proses pemecahan dormansi secara alami :
Proses pemecahan dormansi secara kimia :
Perlakuan kimia
Perlakuan dengan menggunakan bahan kimia sering pula dilakukan untuk
memecahkan dormansi pada benih. Seperti contoh: asam sulfat dan asam
nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak
sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah
2.6 macam-macam tipe perkecambahan dan penjelasan+gambar
Macam-macam Perkecambahan pada Biji:
1.Perkecambahan

hipogeal:

apabila terjadi pembentangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga


daun lembaga tertarik keatas tanah tetapi kotiledon tetap di dalam tanah.
Contoh: perkecambahan pada biji kacang tanah dan kacang kapri

2.Perkecambahan

epigeal:

apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau


hipokotil

sehingga

mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas tanah.


Contoh: perkecambahan pada biji buncis dan biji jarak.

2.7 pengertian perbanyakan vegetatif dan generatif

Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara


perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan
bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun,
umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama
dengan induknya.

Perbanyakan vegetatif mempunyai pengertian perbanyakan tanaman


dengan menggunakan organ vegetatif tanaman seperti batang yang
mempunyai tunas samping (aksilar/lateral) dan mata tunas dari induk
yang terpilih. Induk terpilih misal mempunyai warna dan corak bunga
yang indah dan belum pernah ada, warna daun bervariasi.

Kemudian

teknik memperbanyak tanaman tersebut dengan cara stek batang,


cangkok, sambung (grafting) dan okulasi.

Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang


dihasilkan dari penyerbukan antara bunga jantan (serbuk sari) dan
bunga betina (kepala putik). Secara alami proses penyerbukan terjadi
dengan bantuan angin atau serangga. Namun, saat ini penyerbukan
sering dilakukan manusia, terutama para pemulia tanaman untuk
memperbanyak atau menyilang tanaman dari beberapa varietas yang
berbeda

2.8 macam-macam perkembangbiakan vegetatif


Perkembangbiakan vegetatif ada 2 macam yaitu vegetatif alami dan
vegetatif buatan.
1. Perkembangan vegetatif alami
Perkembangbiakan vegetatif alami adalah perkembangbiakan makhluk
hidup/tumbuhan yang terjadi tanpa melalui bantuan manusia, jadi
dilakukan oleh tumbuhan itu sendiri. Perkembangbiakan secara vegetatif
terdiri dari pembentukan tunas, rizoma (akar tinggal/ akar rimpang), umbi
lapis, umbi batang, geragih atau stolon, umbi akar, tunas adventif, spora
dan membelah diri.
a. Pembentukan Tunas
Tunas biasanya tumbuh disamping induknya, induk dengan tunas yang
masing-masing dianggap induvidu baru dan akan membentuk rumpun
dan tunas tersebut berasal dari tunas ketiak bagian tumbuhan didalam
tanah.
Contoh tumbuhan bertunas pakis haji (cycas rumphii), bamboo (bambusa
sp), pisang (musa paradisiaca), nanas, palem, dan tebu (saccharum
officinarum).
b. Rizoma (akar tinggal/akar rimpang)

Akar tinggal adalah bagian batang yang tumbuh mendatar didalam tanah
dan menyerupai akar. Batang-batang beruas-ruas dan disetiap ruas dapat
tumbuh tunas.
Akar tinggal mempunyai ciri-ciri:
1) bentuk seperti akar, tetapi berbuku-buku seperti batang.
2) pada ujung terdapat kuncup.
3) pada setiap buku/ruas terdapat daun yang berubah menjadi sisik.
4) di setiap ketiak sisik terdapat mata tunas.
Contoh tumbuhan rizoma lengkuas (alpina officinarum), jahe (zingiber
officinale), kunyit ( curcuma domestica), kencur (kaempferia galangal),
temulawak, dan lidah mertua (sansivera sp).
c. Umbi Lapis
Umbi lapis adalah umbi yang berlapis-lapis dan ditengahnya tumbuh
tunas.
Pada permukaan atas dari setiap buku, tumbuh daun yang tebal dengan
satu atau dua kuncup ketiak yang letaknya berdekatan sehingga seperti
berlapis-lapis.
Contoh tumbuhan yang umbi lapis yaitu bawang merah (allium cepa),
bawang putih (allium sativum), bawang daun (allium fistulosum), bunga
bakung (crinum asiaticum), dan bunga tulip.
d. Umbi Batang
Umbi batang adalah batang yang tumbuh ke dalam tanah, ujung batang
tersebut menggembung membentuk umbi untuk menyimpan cadangan
makanan.
Umbi batang merupakan batang yang menggembung karena berisi
cadangan makanan dan pada permukannya terdapat daun yang berubah
menjadi sisik. Pada ketiak sisik terdapat mata tunas sebagai calon individu
baru
Contoh tumbuhan umbi batang yaitu kentang (solanum tuberrodum), ubi
jalar

(ipomoea

batatas),

(dioscorea aculata).

gadung

(dioscorea

hispida),

dan

gambili

e. Geragih/Stolon
Geragih merupakan batang yang menjalar diatas permukaan tanah dan
apabila batang tersebut tertimbun tanah akan tumbuh menjadi tanaman
baru
Contoh tanaman geragih diatas permukaan tanah yaitu pegagan (centella
asiatica),

arbei,

dan

semanggi.

Geragih

yang

menjalar

dibawah

permukaan tanah dan disebut stolon. Contoh tumbuhan bergeragih


dibawah permukaan tanah adalah rumput teki (cyperus rotundus) dan
rumput pantai (spinifex sp).
f. Umbi Akar
Umbi akar adalah akar yang berubah fungsi sebagai penyimpan cadangan
makanan dan hanya dapat tumbuh menjadi individu baru apabila ditanam
bersama sedikit batang yang bertunas. Ciri-ciri umbi akar adalah umbi
tidak berbuku-buku, umbi tidak mempunyai kuncup dan daun, dan umbi
tidak

mempunyai

mata

tunas.

Contoh tumbuhan umbi akar adalah singkong (manihot utilissima), dahlia


dan wortel.
g. Tunas Adventif
Tunas adventif adalah tunas yang tumbuh pada bagian-bagian tertentu
seperti pada akar, daun, dsb. Tunas adventif yang dipisahkan dari
induknya dapat tumbuh membentuk individu baru.Contoh tunas adventif
pada akar adalah kersen (muntingia calabura), sukun (arthocarpus
communis), kesemek (dyospiros knaki), jambu biji (psidium guavajava)
dan cemara. Contoh tumbuhan tunas daun yaitu cocor bebek dan
begonia.
h. Spora
Tumbuhan yang berkembang biak dengan spora antara lain tumbuhan
paku, jamur, dan ganggang. Bentuk spora seperti biji, tetapi sangat kecil
sehingga tidak dapat dilihat dengan mata saja. Spora dapat digunakan

dengan

menggunakan

mikroskop.

Spora dibentuk dan disimpan di dalam kotak spora yang disebut


sporangium.
i. Membelah Diri
Tumbuhan tingkat rendah berkembang biak dengan membelah diri.
Tumbuhan tingkat rendah itu terdiri atas satu sel, misalnya ganggang
hijau.

Jadi,

ganggang

hijau

memperoleh

keturunan

dengan

cara

membelah diri sel tubuhnya menjadi dua.


2. Perkembangbiakan Vegetatif Buatan
Perkembangbiakan vegetatif secara buatan adalah perkembangbiaknya
tumbuhan tanpa perkawinan, dengan bantuan campur tangan manusia.
a. Mencangkok
Mencangkok adalah suatu cara mengembangbiakkan tumbuhan dengan
jalan menguliti batang yang ada lalu bungkus dengan tanah agar akarnya
tumbuh. Jika akar sudah muncul akar yang kokoh, maka batang tersebut
sudah bisa dipotong dan ditanam di tempat lain. Pengambilan batang
tanaman yang sudah tumbuh akarnya, dapat dilakukan pada tanaman:
dikotil, berkambium, bergetah, berkayu.
Contoh: mangga, jeruk, jambu air, rambutan, sawo.
Keuntungan

mencangkok

antara

lain

lebih

cepat

berbuah,

cepat

berkembangbiaknya, batang pendek, mempunyai sifat yang sama dengan


induknya. Sedangkan kerugiannya antara lain perakaran tidak kuat, induk
cepat mati jika banyak dicangkok, hasil lebih sedikit.
b. Stek
Adalah menanam bagian tertentu tumbuhan tanpa menunggu tumbuhan
akar baru terlebih dahulu. Bagian yang distek adalah: batang, tangkai,
dan daun.
Stek batang : ketela pohon, tebu, sirih.
Stek daun : cocor bebek, begonia, sansivera.

Stek tangkai : kembang sepatu, mawar.


c. Okulasi/menempel
Adalah dengan cara menempelkan mata tunas dari satu tumbuhan ke
batang tumbuhan lain yang sejenis. Tujuannya menggabungkan dua sifat
baik

pada

tumbuhan

sehingga

didapatkan

tanaman

baru

yang

mempunyai sifat lebih baik dari tanaman induk. Contoh: mangga,


belimbing. Alpukat.
d. Sambung Pucuk/Enten
Adalah menyatukan pucuk dengan batang bawah dari tumbuhan yang
sejenis. Tujuannya menggabungkan dua sifat baik pada tumbuhan
sehingga didapatkan tanaman baru yang mempunyai sifat lebih baik dari
tanaman induk. Contoh: kembang sepatu, durian, kopi, jambu.
e. Runduk
Adalah dengan cara mengerat sedikit batang kemudian merundukkan ke
dala
m tanah. Ini dapat dilakukan pada batang tanaman yang panjang dan
lentur. Contoh: melati, alamanda, apel, dan mawar pagar.
f. Kultur Jaringan
Yaitu mengambil jaringan tertentu (tunas, daun, akar) dan dikembangkan
dalam media khusus. Contoh: kelapa sawit, anggrek.

2.8.1 stek(batang, akar, daun) :corm : stolen

2.9 keuntungan dan kerugian perbanyakan generatif dan vegetatif

Perbanyakan generatif (biji)

Keuntungan :
(1) sistem perakarannya kuat, (2) masa produktif lebih lama, (3)
lebih mudah diperbanyak, (4) tahan penyakit yang disebabkan oleh
tanah, dan (5) memiliki keragaman genetik yang digunakan untuk
pemuliaan tanaman
Kelemahan :
1. waktu untuk mulai berbuah lebih lama
2. sifat turunan tidak sama dengan induk
Keuntungan :
1. lebih cepat berbuah
2. sifat turunan sesuai dengan induk
3. dapat digabung sifat-sifat yang diinginkan
Kelemahan :
1. perakaran kurang baik
2. lebih sulit di kerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu
3. jangka waktu berubah menjadi pendek

2.10 faktor yang mempengaruhi keberhasilan perbanyakan vegetatif


1. Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan
tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman.
Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai
dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas
normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau
berhenti
2. Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara

Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta


perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi
tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta
berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel
yang lebih cepat.
3. Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat
melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman
kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan
warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru
sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
4.

Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam
proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk
membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan
pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan
hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.
(Rochiman.1973)
Faktor Intern :
1. dormansi bahan tanam (dapat dipecahkan dengan pemberian kelembaban tinggi)
2. ZPT (dapat memacu pertumbuhan akar dan tunas)
Faktor Ekstern:
1. suhu (bahan tanam tidak tahan dengan suhu tinggi)
2. kelembaban (pada awal masa tanam dibutuhkan kelembaban yang tinggi)
3. cahaya (pada awal pertumbuhan tunas dan akar dibutuhkan cahaya yang tidak banyak,
maka perlu diberi naungan)

4. jamur dan bakteri (biasanya sangat peka terhadap keadaan yang lembab, bahan tanam
yang terlukai sangat rawan terhadap serangan jamur dan bakteri sehingga
menyebabkan kebusukan)

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press.


Jakarta.
Hartmann, H.T., and D.E. Kester. 1997. Plant Propagation Principles and
Practices. 6th ed. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New York.
Jaenicke, J. and Beniest, J. 2002. Vegetative Tree Propagation in
Agroforestry. ICRAFT. Nairobi. Kenya.
Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Kanisius.
Yogyakarta
Raharja, PC. dan Wiryanta, W. 2003. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman.
Agro Media Pustaka. Jakarta.
Toogood, A. 1999. Plant Propagation : The Fully Illustrated Plant-by-Plant
Manual of Practical Techniques. DK Publishing Inc. New York

Rahadja, P.C., Wahyu. W. 2007. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. Jakarta: Agromedia
Pustaka.

DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha, H. A. 2011. Pengaruh umur pohon induk umur tunas dan jenis media terhadap
pertumbuhan stek pucuk sukun. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan 5 : 3132.
Adriance, G. and F. R. Brison. 1995. Propagation of Holticultural Plants. Mc-Hill Book Company,
New York.
Govinden-Soulange J. 2009. Vegetative propagation and tissue culture generation of hibiscus
sabdarifa L. (rosella). Word Journal of Agriculture Science 5 : 651661.
Jawal, M. 2010. Penggunaan jenis entries, posisi sambungan, dan posisi penyisipan entries pada
batang bawah terhadap keberhasilan penyambungan dan pemacuan pertumbuhan bibit
manggis. Jurnal Hortikultura 352 - 354.
Leopold, A. C. and P. E. Kriedemann. 1975. Plant Growth and Development. Mc-Grow Hill Book Co,
New York.
Prastowo. 2006. Tehnik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. World Agroforestry
Center (ICRAF) dan Winrock Internasional, Bogor.
Suwandi. 2008. . Diakses pada 3 Maret 2012