Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH BIOLOGI SEL DAN MOLEKULER

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM ANTIBODI (IMMUNOGLOBULIN)

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 7:
1.
2.
3.
4.
5.

Tri Widayanti
Asyifatul Madinah
Hana Widiyanti
Yuniar Kurnia Widasari
Irfan Hanis Presetya

(13308141059)
(13308141063)
(13308144006)
(13308144009)
(13308144015)

PRODI BIOLOGI E 2013


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
ANTIBODI
(IMMUNOGLOBULIN)

A. Pengantar
Manusia dan Vertebrata lainnya memiliki sistem pertahanan tubuh yang berperan
untuk melindungi dirinya dari serangan agen-agen penyebab penyakit. Sistem pertahanan
tersebut dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
1. Pertahanan nonspesifik yang memiliki sifat alami (innate) artinya sudah ada sejak
organisme itu lahir dan berlaku bagi semua agen infeksi, dan
2. Pertahanan spesifik atau disebut juga pertahanan perolehan (acquired) karena pertahanan
ini diperoleh setelah adanya rangsangan oleh benda asing (agen infeksi). Pertahanan
spesifik merupakan tanggungjawab dari klone-klone sel limfosit B yang masing-masing
spesifik terhadap antigen. Adanya interaksi antara antigen dengan klone limfosit B akan
merangsang sel tersebut untuk berdiferensiasi dan berproliferasi sehingga didapatkan sel
yang mempunyai ekspresi klonal untuk menghasilkan antibodi.
Ilmu yang mempelajari sistem kekebalan tubuh (imunitas) disebut Imunologi.
B. STRUKTUR ANTIGEN
Antigen

Antigen adalah semua benda asing yang menginvasi (menginfeksi) ke dalam tubuh
suatu organisme seperti: protein asing, virus, bakteri, protozoa, jamur, cacing, dsb. Perlu
dibedakan antara antigen dengan imunogen karena tidak semua antigen dapat bersifat
imunogen.
Imunogen adalah semua benda asing yang apabila berada dalam tubuh organisme
akan merangsang timbulnya respon imun (reaksi kekebalan).
Hapten adalah antigen yang memiliki berat molekul sangat kecil sehingga tidak dapat
merangsang terjadinya respon imun, akan tetapi apabila hapten tersebut digabungkan dengan
molekul protein yang lebih besar (karier), maka akan bersifat imunogen.
Setiap imunogen memiliki bagian yang karakteristik yang merupakan penentu antigen
atau yang disebut antigen determinant (epitope). Antigen determinan merupakan molekul

glikoprotein yang menempel pada membran sel dan berperan sebagai penentu terbentuknya
molekul imunoglobulin (antibodi).
Berdasarkan jumlah epitope yang terdapat pada permukaan sel antigen, maka dapat
dibedakan menjadi :
1. Antigen polivalen jika memiliki banyak epitope
2. Antigen oligovalen jika memiliki sedikit epitope
3. Antigen monovalen jika hanya memiliki satu epitope.
Konsep Antigen

Reaksi antigen-antibodi ditentukan oleh jumlah epitop yang dimiliki oleh


dikenali oleh antibodi atau valensi antigen

C. MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI


Teori Pembentukan Immunoglobulin

antigen yang

Teori Pembentukan Immunoglobulin

Molekul immunoglobulin (Antibodi) dihasilkan oleh sel limfosit B yang telah


berdiferensiasi menjadi sel plasma. Molekul Ig disekresikan langsung ke cairan tubuh dan
sirkulasi darah, oleh karena itu disebut sebagai kekebalan humoral. Selain itu, limfosit B juga
akan berdiferensiasi menjadi sel memori yang mampu menyimpan ingatan terhadap antigen
sejenis.
Pada dasarnya ada 2 sistem pertahanan tubuh dalam mencegah infeksi virus yaitu
innate immune system dan adaptive immune system. Diantara komponen innate immune
response akibat infeksi virus pada manusia adalah INF-/. Efek utama induksi IFN-/
setelah berikatan dengan reseptor adalah signal STAT1 dan STAT2 yang akan berakibat pada
aktivasi 2-5(A) synthetase/ENAse L dan p68 kinase, yang akan menimbulkan blocking
replikasi virus.
Protein nonstruktural dapat berperan dalam resistensi terhadap antiviral tersebut.
Resistensi ini diduga ditentukan oleh asam amino 92 protein NS. Apabila posisi asam amino
92 protein NS berupa glutamat akan menyebabkan VAI tersebut resisten terhadap IFN dan
TNF-. Sedangkan apabila posisi 92 berupa asam aspartat, maka VAI menjadi sensitif
terhadap IFN dan TNF-. Analisis protein asam amino glutamat pada posisi 92 (Nidom,

2005: 6). Data ini memberikan indikasi adanya potensi yang perlu diwaspadai, meskipun
faktor virulensi VAI tidak hanya ditentukan oleh protein NS semata.

Menurut Roitt (1988) terdapat 2 teori mengenai mekanisme pembentukan antibodi


yaitu:
1

Teori instruktif (oleh Erlich). Menurut teori ini, pada setiap organisme memiliki
prekursor limpfosit B yang hanya sejenis. Antigen akan memerintahkan prekursor
limfosit B tersebut untuk menyesuaikan dengan antigen yang masuk yang kemudian
berkembang menjadi sel plasma untuk membentuk antibodi. Teori instrukstif saat ini
telah ditinggalkan oleh para ahli.

Teori selektif (oleh Jerne & Burnet). Pembentukan antibodi berdasarkan clonal
selection theory sebagai berikut: pada setiap organisme terdapat berjuta-juta prekursor
limfosit B. Oleh Jerne & Burnet (1978) dikatakan ada sekitar 10 8-1012 jenis sel
limfosit B. Dengan adanya antigen yang masuk ke dalam tubuh suatu organisme,

maka akan merangsang interaksi antara antigen determinan (epitope) dengan sel
limfosit B yang sesuai yang kemudian akan memacu diferensiasi dan proliferasi dari
sel tersebut menjadi sel plasma yang memiliki kemampuan menghasilkan antibodi
(immunoglobulin).

D. Molekul Immunoglobulin (Ig)


1. Struktur molekul immunoglobulin
Molekul Ig merupakan molekul glikoprotein yang tersusun atas asam amino dan
karbohidrat. Antara asam amino satu dengan lainnya dihubungkan oleh ikatan peptida dengan
gugus karboksil (COOH-) sebagai ujung karboksil dan gugus amina (NH 3+) sebagai ujung
amina. Secara sederhana molekul Immunoglobulin dapat digambarkan menyerupai huruf Y
dengan engsel (hinge).

Molekul antibodi tersusun dari 2 rantai ringan (pendek) dan 2 rantai berat (panjang).
Pada bagian 2 ujung lengan terdapat sisi pengikatan antigen yang terusun oleh urutan asam
amino yang bervariasi (Fab), dan bagian kaki merupakan bagian terkristalisasi (Fc) yang
susunan asam aminonya relatif konstan.
Molekul Ig dapat dipecah oleh enzim papain atau pepsin (protease) menjadi 2 bagian
yakni Fab (fragment antigen binding) yaitu bagian yang menentukan spesifitas antibodi
karena berfungsi untuk mengikat antigen, dan Fc (fragment crystalizable) yang menentukan
aktivitas biologisnya dan yang akan berikatan dengan komplemen. Sebagai contoh
immunoglobulin G mempunyai kemampuan menembus membran plasenta.

2. Kelas-kelas molekul immunoglobulin


Kelas Imunglobulin
Berdasarkan jenis rantai-H yang dimiliki, maka pengklasifikasian kelas Imunoglobulin adalah
sebagai berikut :

1. ImunoglobulinG (IgG)
Adalah reaksi imun yang diproduksi terbanyak sebagai antibodi utama dalam
proses sekunder dan merupakan pertahanan inang yang penting terhadap bakteri yang
terbungkus dan virus. Mampu menyebar dengan mudah ke dalam celah ekstravaskuler
dan mempunyai peranan penting menetralisir toksin kuman, serta melekat pada kuman
sebagai persiapan fagositosis.
Merupakan proteksi utama pada bayi terhadap infeksi selama beberapa minggu
pertama setelah lahir, dikarenakan mampu menembus jaringan plasenta. IgG yang
dikeluarkan melalui cairan kolostrum dapat menembus mukosa usus bayi dan menambah
daya kekebalan.
IgG mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang sama (divalen) dan dikenal 4
subkelas, yaitu IgG1 IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4. Perbedaannya terletak pada rantai-H
dengan beberapa fungsi biologis serta jumlah dan lokasi ikatan disulfida. IgG1
merupakan 65% dari keseluruhan IgG. IgG2

berguna untuk melawan antigen

polisakarida dan menjadi pertahanan yang penting bagi inang untuk melawan bakteri
yang terbungkus.
2. Imunoglobulin A (IgA)
Adalah Imunoglobulin utama dalam sekresi selektif, misalnya pada susu, air liur,
air mata dan dalam sekresi pernapasan, saluran genital serta saluran pencernaan atau usus

(Corpo Antibodies). Imunoglobulin ini melindungi selaput mukosa dari serangan bakteri
dan virus. Ditemukan pula sinergisme antara IgA dengan lisozim dan komplemen untuk
mematikan kuman koliform. Juga kemampuan IgA melekat pada sel polimorf dan
kemudian melancarkan reaksi komplemen melalui jalan metabolisme alternatif.
Tiap molekul IgA sekretorik berbobot molekul 400.000 terdiri atas dua unit
polipeptida dan satu molekul rantai-J serta komponen sekretorik. Sekurang-kurangnya
dalam serum terdapat dua subkelas IgA1 dan IgA2. Terdapat dalam serum terutama
sebagai monomer 7S tetapi cenderung membentuk polimer dengan perantaraan
polipeptida yang disintesis oleh sel epitel untuk memungkinkan IgA melewati permukaan
epitel, disebut rantai-J. Pada sekresi ini IgA ditemukan dalam bentuk dimer yang tahan
terhadap proteolisis berkat kombinasi dengan suatu protein khusus, disebut Secretory
Component yang disintesa oleh sel epitel lokal dan juga diproduksi secara lokal oleh sel
plasma.
3. Imunoglobulin M (IgM)
Imunoglobulin utama yang pertama dihasilkan dalam respon imun primer. IgM
terdapat pada semua permukaan sel B yang tidak terikat. Struktur polimer IgM
menurut Hilschman adalah lima subunit molekul 4-peptida yang dihubungkan oleh
rantai-J. Pentamer berbobot molekul 900.000 ini secara keseluruhan memiliki sepuluh
tempat pengikatan antigen Fab sehingga bervalensi 10, yang dapat dibuktikan dengan
reaksi Hapten. Polimernya berbentuk bintang, tetapi apabila terikat pada permukaan sel
akan berbentuk kepiting.
Disebabkan bervalensi tinggi, maka antibodi ini paling sering bereaksi di antara
semua Imunoglobulin, sangat efisien untuk reaksi aglutinasi dan reaksi sitolitik,
pengikatan komplemen, reaksi antibodi-antigen yang lain dan karena timbulnya cepat
setelah terjadi infeksi dan tetap tinggal dalam darah, maka IgM merupakan daya tahan
tubuh yang penting untuk bakteremia dan virus. Antibodi ini dapat diproduksi oleh janin
yang terinfeksi.
4. ImunoglobulinE (IgE)
Didalam serum ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah. IgE apabila
disuntikkan ke dalam kulit akan terikat pada Mast Cells dan Basofil. Kontak dengan
antigen akan menyebabkan degranulasi dari Mast Cells dengan pengeluaran zat amin
yang vasoaktif. IgE yang terikat ini berlaku sebagai reseptor yang merangsang
produksinya

dan

kompleks

antigen-antibodi

alergi Anafilaktik melalui pelepasan zat perantara.

yang

dihasilkan

memicu

respon

Pada orang dengan hipersensitivitas alergi berperantara antibodi, konsentrasi IgE


akan meningkat dan dapat muncul pada sekresi luar. IgE serum secara khas juga
meningkat selama infeksi parasit cacing.
5. ImunoglobulinD (IgD)
Antibodi ini fungsi keseluruhannya belum diketahui secara jelas. Dalam serum IgD
ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit dan IgD merupakan antibodi inti sel. Zat ini
juga terdapat pada sel penderita leukemia getah bening.
Telah dibuktikan pula bahwa IgD dapat bertindak sebagai reseptor antigen apabila
berada pada permukaan limfosit B tertentu dalam darah tali pusar janin dan mungkin
merupakan reseptor pertama dalam permulaan kehidupan sebelum diambil alih fungsinya
IgM dan Imunoglobulin lainnya, setelah sel tubuh berdiferensiasi lebih jauh.

3. Fungsi molekul immunoglobulin


Sifat biokimiawi molekul Antibodi adalah memiliki spesifitas yang tinggi sehingga
menjadi keunggulan yang kemudian dimanfaatkan menjadi suatu teknik untuk mendeteksi,
mengukur, dan mengkarakterisasi molekul antigen spesifiknya (Shupnik, 1999: 4).
Jalan masuk patogen
1. Melalui mata
2. Saluran respirasi
3. Saluran pencernaan
4. Saluran integumen
Lapisan pertahanan tubuh

A. Mekanisme Masuknya Antigen


zDalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang

bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat
pada protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut
dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non
spesifik (eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan
dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan antibodi. Contoh hapten dia
antaranya adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat (seperti penisilin), dan zat kimia
lainya yang dapat membawa efek alergik.

B. Keterkaitan Antigen dengan Pembentukan Antibodi

Antigen yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel limfosit
B. Pengikatan tersebut menyebabkan sel limfosit B berdiferensiasi menjadi sel plasma.
Sel plasma kemudian akan membentuk antibody yang mampu berikatan dengan antigen
yang merangsang pembentukan antibody itu sendiri. Antibodi (Imunoglobulin) adalah
protein yang disintesis oleh hewan atau manusia sebagai respon terhadap substansi asing.
Protein yang dapat larut ini merupakan elemen pengenalan pada respon kekebalan
humoral (humor adalah bahasa latin yang berarti cairan). Tiap antibodi mempunyai
afinitas spesifik terhadap materi asing sehingga memicu sintesis antibodi itu sendiri.
Suatu makromolekul asing yang mampu memicu pembentukan antibodi disebut antigen
(atau imunogen). Protein, polisakarida, dan asam nukleat pada umumnya merupakan
antigen yang efektif. Afinitas spesifik suatu antibodi tidaklah untuk seluruh permukaan
antigen makromolekul tetapi untuk suatu situs khusus pada makromolekul yang disebut
determinan antgenik atau epitop. Sehingga, tempat melekatnya antibodi pada antigen
disebut epitop, sedangkan tempat melekatnya antigen pada antibodi disebut variabel.
Antibodi mengidentifikasi zat asing dan meningkatkan aktivitas berbagai
pertahanan melalui :
1. Pengaktifan sistem komplemen
2. Peningkatan fagositosis
3. Stimulasi sel pembunuh
.

Gambar: Cara kerja sel B

C. Interaksi Antigen dan Antibodi


Secara garis besar, interaksi antigen-antibodi adalah seperti bagan berikut :

sistem

Antigen/hapten masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, udara, injeksi, atau


kontak langsung Antigen berikatan dengan antibody Histamine keluar dari sel mast
dan basofil Timbul manifestasi alergi.
Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer, sekunder,
dan tersier.
1. Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibody
pada situs identik yang kecil, bernama epitop.
2. Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a. Netralisasi
Adalah jika antibody secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen
menimbulkan effect yang merugikan.
Sebagai contoh, antibodi melekat pada molekul yang akan digunakan virus untuk
menginfeksi inangnya. Pada proses ini, antibodi dan antigen dapat mengalami
proses opsonisasi, yakni proses pelenyapan bakteri yang diikat antibodi oleh
makrofaga melalui fagositosis. Antibodi menonaktifkan antigen dengan
cara memblok bagian tertentu antigen. Antibodi juga menetralisasi virus dengan
cara mengikat bagian tertentu virus pada sel inang. Dengan terjadinya netralisasi
maka efek merugikan dari antigen atau toksik dari patogen dapat dikurangi.
b.

Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfuse darah yang
tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan.
Misalnya, IgG yang berikatan dengan dua sel bakteri atau virus secara bersamasama. Mekanisme yang sama juga terjadi pada cara berikutnya yakni presipitasi.
Presipitasi atau pengendapan merupakan pengikatan silang molekul-molekul
antigen yang terlarut dalam cairan tubuh. Setelah diendapkan, antigen tersebut
dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis. Selain berbagai cara tersebut,
pembuangan antigen dapat melalui fiksasi komplemen. Fiksasi komplemen
merupakan pengaktifan rentetan molekul protein komplemen karena adanya

infeksi. Prosesnya menyebabkan virus dan sel-sel patogen yang menginfeksi


bagian tubuh menjadi lisis.
c.

Presipitasi
Adalah jika complex antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar,
sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya
mengendap.

d.

Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibody yang berikatan dengan antigen mampu mengikat
reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang
mengandung antigen tersebut.

e.

Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibody ke antigen juga menginduksi serangan sel
pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell
kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibody sebelum
dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.

3.

Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologic dari interaksi
antigen-antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh
menguntungkan antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan

lain-lain. Sedangkan pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan
defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.
Mekanisme Imunitas terhadap Antigen yang Berbahaya
Ada beberapa mekanisme pertahan tubuh dalam mengatasi agen yang berbahaya
dilingkungannya yaitu :
1. Pertahan fisik dan kimiawi : kulit, sekresi asam lemak dan asam laktat melalui
kelenjar keringat dan sebasea, sekresi lendir, pergerakan silia, sekresi airmata, air liur,
urine, asam lambung serta lisosim dalam air mata.
2. Simbiosis dengan bakteri flora normal yang memproduksi zat yang dapat mencegah
invasi mikroorganisme seperti laktobasilus pada epitel organ.
3. Innate immunity
4. Imunitas spesifik yang didapat
Innate Immunity
Merupakan mekanisme pertahanan tubuh nonspesifik yang mencegah masuknya dan
menyebarnya mikroorganisme dalam tubuh serta mencegah kerusakan jaringan. Ada
beberapa komponen innate immunity yaitu :
1.
2.
3.
4.

Pemusnahan bakteri intraseluler oleh sel polimorfonklear (PMN) dan makrofag


Aktivitas komplemen melalui jalur alternatif
Degranulasi sel mast yang melapaskan mediator inflamasi
Proten fase akut : C-rective proten (CRP) yang mengikat mikroorganisme, selanjutnya

terjadi aktivitas komlemen melalui jalur klasik yang menyebabkan lisis organisme
5. Produksi interferon alfa (INF) oleh leukosit dan ineterferon beta (INF) oleh fibroblas
yang mempunyai efek antivirus
6. Pemusnahan mikroorganisme ekstraselular oleh sel natural killer ( sel NK) melalui
peepasa granula yang mengandung perforin
7. Pelepasan mediator eosinofil seperti major basic proten (MBP) dan protein kationik
yang dapat merusak membran parasit.
Prosesi Dan Presentasi Antigen
Respon imun tubuh dipicu oleh masuknya anigen atau mikroorganisme ke dalam
tubuh dan dihadapi oleh sel makrofag yang selanjutnya akan berperan sebagai antigen
presenting sel (APC). Sel ini akan menangkap sejumlah kecil antigen dan diekspresikan
ke permukaan sel yang dapat dikenali oleh sel limfosit T penolong (Th atau T helter). Sel
Th ini akan teraktivasi dan akan mengaktivasi limfosit lain seperti limfosit B atau limfosit
T sitotoksik.
Respon Imun

Terdapat 2 macam, yakni :

(Sumber: Color Atlas of Immunology, 2003)


1. Respon Imun Non Spesifik
Respon imun non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau
imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu
jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah ini sudah ada sejak
individu dilahirkan dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi, bukan
merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Dilihat dari caranya diperoleh,
respon imun non spesifik disebut juga respon imun alamiah. Respon imun non spesifik
pada tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta
kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel
makrofag, monosit) dan komplemennya, berperan pada respon imun non spesifik. Yang
termasuk respon Imun non spesifik ini adalah adanya peradangan (cedera jaringan oleh
fagositik, neutrofil, dan makrofag), interferon (protein yang menjaga tubuh dari infeksi),
sel natural killer (infeksi virus dan sel kanker), dan sistem komplemen (dapat diaktifkan
oleh benda asing dan antibodi).
2. Respon Imun Spesifik
Respon imun spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas didapat
adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena
itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Perbedaanya dengan pertahanan
tubuh non spesifik adalah pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan
terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh
non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen.
Bila respon imum non spesifik tidak dapat mengatasi invasi mikroorganisme
maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan (respon imun) spesifik

adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa
bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag. Dilihat dari caranya
diperoleh, maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat
(adaptive immunity).
Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang
merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori
imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpapar kembali dengan antigen yang
sama di kemudian hari. Pada respon imun spesifik akan terbentuk antibodi dan limfosit
efektor yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi
antigen.
Sel yang berperan dalam respon imun ini adalah sel yang mempresentasikan
antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel
limfosit T dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas
humoral. Sel limfosit T sebagai imunitas selular akan meregulasi respons imun dan
melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B sebagai imunitas humoral akan
berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan menetralkan
atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta
meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses
antibody dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC).
Antibodi Monoklonal
Merupakan antibodi monospesifik yang dapat mengikat satu epitop saja. Antibodi
monoklonal dapat dihasilkan dengan teknik hibridoma. Sel hibridoma merupakan fusi sel
dengan sel.
PembuatanAntibodi monoklonal
Pembuatannya menggunakan sel-sel tumor dan sel-sel limpa mamalia. Sel-sel tumor
memiliki kemampuan memperbanyak diri tanpa henti, sel-sel limpa sebagai antigen yang
akan menghasilkan antibodi. Hasil dari kedua sel ini dinamakan Sel Hibridoma.

Pembuatan sel hibridoma terdiri dari tiga tahap utama yaitu imunisasi, fusi, dan kloning.
Imunisasi dapat dilakukan dengan imunisasi konvensional, imunisasi sekali suntik intralimpa,
maupun imunisasi in vitro. Fusi sel ini menghasilkan sel hibrid yang mampu menghasilkan
antibodi seperti pada sel limpa dan dapat terus menerus dibiakan seperti sel myeloma.
Frekuensi terjadinya fusi sel ini relatif rendah sehingga sel induk yang tidak mengalami fusi
dihilangkan agar sel hasil fusi dapat tumbuh.
Frekuensi fusi sel dapat diperbanyak dengan menggunakan Polietilen glikol (PEG), DMSO,
dan penggunaan medan listrik. PEG berfungsi untuk membuka membran sel sehingga
mempermudah proses fusi. Sel hibrid kemudian ditumbuhkan pada media pertumbuhan.
Penambahan berbagai macam sistem pemberi makan dapat meningkatkan pertumbuhan sel
hibridoma.
Antibodi monoklonal mempunyai 4 jenis
a. Murine Monoclonal Antibodies
Antibodi ini murni didapat dari tikus dapat menyebabkan human anti mouse antibodies
(HAMA) nama akhirannya momab (ibritumomab) (Hanafi dan Syahruddin, 2012).
b.

Chimaric Monoclonal Antibodies

Antibodi ini dibuat melalui teknik rekayasa genetika untuk menciptakan suatu mencit atau
tikus yang dapat memproduksi sel hibrid mencit-manusia. Bagian variabel dari molekul
antibodi, termasuk antigen binding site berasal dari mencit, sedangkan bagian lainnya yaitu
bagian yang konstan berasal dari manusia. Salah satu contohnya antibodi monoklonal yang
struktur molekulnya terdiri dari 67% manusia adalah Rifuximab (Radji, 2010).
c.

Humanized Monoclonal Antibodies

Antibodi ini dibuat sedemikian rupa sehingga bagian protein yang berasal dari mencit hanya
terbatas pada antigen binding site saja. Sedangkan bagian yang lainya yaitu bagian variabel
dan bagian konstan berasal dari manusia. Antibodi monoklonal yang struktur molekulnya
terdiri dari 90% manusia diantaranya adalah Alemtuzumab (Radji, 2010).
d.

Fully Human Monoclonal Antibodies

Antibodi ini merupakan antibodi yang paling ideal untuk menghindari terjadinya respon imun
karena protein antibodi yang disuntikkan ke dalam tubuh seluruhnya merupakan protein yang
berasal dari manusia.
Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk merancang pembentukan antibodi ini adalah
dengan teknik rekayasa genetika untuk menciptakan mencit transgenik yang membawa gen
yang berasal dari manusia. Sehingga mampu memproduksi antibodi yang diinginkan (Radji,
2010). Pendekatan lainnya adalah merekayasa suatu binatang transgenik yang dapat
mensekresikan antibodi manusia dalam air susu yang dikeluarkan oleh binatang tersebut.

Antibodi poliklonal
Yaitu di dalam suatu populasi antibodi terdapat lebih dari 1 macam antibodi, atau campuran
antibodi

yang

mengenal

epitop

yang

berbeda

pada

antigen

yang

sama.

Proses yang terjadi pada antibodi poliklonal:


1. Diproduksi dengan imunisasi hewan dengan antigen yang tepat.
2. Imunisasi atau vaksinasi adalah suatu prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas
seseorang terhadap patogen tertentu atau toksin. Imunisasi yang ideal adalah yang
dapat mengaktifkan sistem pengenalan imun dan sistem efektor yang diperlukan. Hal
tersebut dapat diperoleh dengan pemberian antigen yang tidak patogenik.
3. Serum dari hewan terimunisasi dikumpulkan
4. Antibodi dalam serum dapat dimurnikan lebih lanjut.
5. Karena satu antigen menginduksi produksi banyak antibodi maka hasilnya berupa
polyclonal /campuran antibodi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim (-). Manual of Progesterone Enzyme Immunoassay Kit. USA: Cayman Chemical
Company.
-------- (1995). Instruction Manual OmniTags: Universal Streptavidin/Biotin Affinity
Immnunostaining Systems. USA: Lipshaw.
Artama, W.T. (1990). Teknik Hibridoma untuk Porduksi Antibodi Monoklonal. Makalah
Kursus Immuno-bioteknologi. Yogyakarta: PAU UGM.
Boenisch, T. (1989). Staining Methods. Dalam: Nais S.J., (ed.): Immunochemical Staining
Methods. USA: Dako Corps.
Heru Nurcahyo (1997). Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Berorientasi pada
Penguasaan Bioteknologi Cakrawala Pendidikan. Edisi Khusus Dies Mei , 1997.
-------, & Soejono, S.K. (2001). Pengaruh Curcumin dan Pentagamavunon-0 (PGV0)
terhadap Steroidogenesis yang Dihasilkan oleh Kultur Sel Granulosa Berbagai Ukuran
Folikel. Mediagama. Vol. III, No. 3. Hal.: 1-11.
Pelczar, M.J. & Chan, E.C.S. (1988). Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta.
Roitt, I.M. (1990). Pokok-pokok Ilmu Kekebalan. P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Shupnik, M.A. (1999). Introduction to Molecular Biology. In: Fauser, B.C.J.M., Rutherford,
A.J., Strauss, III., J.F., and Van Steirteghem, A. (eds.) Molecular Biology in
Reproductive Medicine. The Parthenon Publishing Group.
Takayama, K., Fukaya, T., Sasano, H., Funayama, Y., Suzuki, T., Takaya, R., Wada, Y., and
Yajima, A. (1996). Immunohistochemical Study of Steroidogenesis and Cell
Proliferation in Polycystic Ovarian Syndrome. Hum. Reprod. Vol. 11, No.7. pp.: 138792.
Yalow, R.S. (1998). Radioimmunoassay of Hormones. In: Wilson, J.D., & Foster, D.W. (eds.)
Williams Textbook of Endocrinology. 8th.ed. W.B. Saunders Company.